Journal of Divinity. Peace and Conflict Studies Volume 5 Nomor 1 (Januari-April 2. Eksistensi dalam Klik Fenomena AuApapun Demi KontenAy dalam Perspektif Homo Digitalis Budi Hardiman Thyra Josella Universitas Kristen Duta Wacana. Yogyakarta thyrajosella25@gmail. DOI: 10. 21460/aradha. Abstract The digital age has brought about fundamental changes in the way humans interact, communicate and express their existence. Social media such as TikTok and YouTube have become the main spaces for individuals to build their digital identities, often prioritizing engagement and economic benefits over ethical considerations. Based on Budi HardimanAos philosophical perspective, this paper examines how digital existence not only affects human identity, but also fundamentally shapes their mindset and behavior. The concept of Homo Digitalis shows how humans are now increasingly controlled by technology, not just using it. The phenomenon of Auanything for contentAy in the case of online begging & child exploitation trends reflects an over-reliance on digital technology to gain popularity and profit, which often unwittingly ignores ethical and social Through Budi HardimanAos four strategies for structuring digital communication, it is hoped that social media will not only become a tool for entertainment and monetization, but also a means to build better social awareness and human values. Keywords: homo digitalis, digital exploitation, digital ethics. Abstrak Era digital telah membawa perubahan mendasar dalam cara manusia berinteraksi, berkomunikasi, dan mengekspresikan eksistensinya. Media sosial seperti TikTok dan YouTube menjadi ruang Eksistensi dalam Klik: Fenomena AuApapun Demi KontenAy dalam Perspektif Homo Digitalis Budi Hardiman Volume 5 Nomor 1 (Januari-April 2. utama bagi individu untuk membangun identitas digital mereka, sering kali mengutamakan engagement dan keuntungan ekonomi dibandingkan pertimbangan etis. Berdasarkan perspektif filsafat Budi Hardiman, tulisan ini mengkaji bagaimana eksistensi digital tidak hanya memengaruhi identitas manusia, tetapi juga membentuk pola pikir dan perilaku mereka secara fundamental. Konsep Homo Digitalis menunjukkan bagaimana manusia kini semakin dikendalikan oleh teknologi, bukan sekadar menggunakannya. Fenomena Auapapun demi kontenAy dalam kasus tren mengemis online & eksploitasi anak mencerminkan ketergantungan berlebihan pada teknologi digital untuk meraih popularitas dan keuntungan, yang seringkali tanpa disadari mengabaikan aspek etis dan sosial. Melalui empat strategi penataan komunikasi digital oleh Budi Hardiman, diharapkan media sosial tidak hanya menjadi alat hiburan dan monetisasi, tetapi juga sarana untuk membangun kesadaran sosial dan nilai-nilai kemanusiaan yang lebih baik. Kata-kata kunci: homo digitalis, eksploitasi digital, etika digital. Pendahuluan Saat ini, dunia telah memasuki era modern yang ditandai dengan kemajuan pesat dalam teknologi komunikasi dan informasi. Perkembangan ini menjadikan internet sebagai sarana komunikasi utama yang banyak diminati, karena mampu memenuhi kebutuhan dan preferensi berbagai kalangan. Transformasi teknologi komunikasi dari model konvensional ke sistem digital berbasis internet semakin memperkuat peran media sosial dalam kehidupan sehari-hari. Media sosial berfungsi sebagai platform yang menitikberatkan pada eksistensi penggunanya, memberikan ruang untuk beraktivitas, berinteraksi, dan berkolaborasi. Dengan akses yang fleksibel dapat digunakan kapan saja dan di mana saja serta sumber daya yang hampir tak terbatas, media sosial menjadi sarana yang merangkul semua kelompok usia, mulai dari anakanak hingga individu dalam usia produktif. Revolusi digital telah membawa perubahan mendasar di berbagai aspek kehidupan. Banyak hal yang dulunya dianggap esensial kini mulai ditinggalkakertas, kanvas, uang tunai, ruang fisik seperti kampus, kapel, dan kantor, bahkan kehadiran fisik manusia dalam interaksi sehari-hari semakin tergerus. Komunikasi kini menjadi tanpa tubuh . , menjauhkan manusia dari pertemuan langsung dan menggantinya dengan perantara teknologi. Kita hidup di era digital yang penuh disrupsi, di mana perubahan terjadi begitu cepat. Mungkin kita tidak selalu memahami sepenuhnya apa yang tengah berlangsung, tetapi di sisi lain, kita juga tidak Thyra Josella Journal of Divinity. Peace and Conflict Studies ingin tertinggal informasi. Inilah pola baru yang mendominasi, keterpaparan informasi tanpa filter dan tanpa pertimbangan kritis. Penggunaan gawai membuat kita larut dalam perubahan tanpa sempat mempertanyakannya. Di Indonesia, dua platform media sosial yang paling populer saat ini adalah TikTok dan YouTube. Kedua platform ini tidak hanya berfungsi sebagai sumber informasi, tetapi juga menjadi wadah bagi masyarakat dari berbagai latar belakang ekonomi untuk mencari penghasilan, baik dari kalangan menengah ke bawah maupun menengah ke atas. Dalam proses ini, muncul bentuk kenaifan baru, bukan lagi rutinitas lama yang kita jalani sebelumnya, melainkan rutinitas baru yang dibentuk oleh teknologi digital. Sebagai makhluk yang mudah beradaptasi, kita cenderung menerima perubahan ini tanpa banyak berpikir. Namun, jika terlalu terbenam dalam arus digital tanpa refleksi, kita kehilangan kesadaran akan apa yang sebenarnya sedang berubah dan apakah perubahan itu benar-benar kita perlukan. Oleh karena itu, sikap reflektif menjadi penting bukan sekadar mengikuti arus, tetapi juga mempertanyakan secara mendalam makna dan dampaknya bagi kehidupan kita. 2 Fenomena Auapapun demi kontenAy mencerminkan hilangnya kesadaran etis dalam dunia digital. Banyak kreator konten lebih mengutamakan engagement dan keuntungan ekonomi daripada mempertimbangkan dampak psikologis dan sosial dari konten mereka. Penulis tidak bermaksud memberikan pandangan negatif ataupun bersikap diskriminatif terhadap para kreator di TikTok maupun platform media sosial lainnya. Penulis menyadari bahwa media sosial merupakan ruang yang membuka peluang bagi setiap individu untuk mengekspresikan kreativitas dan berinovasi sesuai dengan minat dan bakat masing-masing. Seiring dengan perkembangan teknologi, media sosial kini juga berfungsi sebagai salah satu sumber penghasilan, yang mendorong banyak orang untuk menciptakan konten yang mampu menarik perhatian khalayak luas. Namun demikian, melalui tulisan ini, penulis ingin menyoroti pentingnya sikap bijak dalam proses pembuatan konten, yaitu dengan menghadirkan konten yang tidak hanya bersifat menghibur, tetapi juga memiliki nilai edukatif. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji lebih dalam dinamika tersebut, khususnya fenomena Auapapun demi kontenAy, serta menelaah dampak dan implikasinya terhadap budaya digital dan nilai-nilai yang berkembang dalam kehidupan masyarakat saat ini. Reza A. A Wattimena. Memaknai Digitalitas : Sebuah Filsafat Dunia Digital (Yogyakarta : Kanisius, 2. , 6. Wattimena. Memaknai Digitalitas. Eksistensi dalam Klik: Fenomena AuApapun Demi KontenAy dalam Perspektif Homo Digitalis Budi Hardiman Volume 5 Nomor 1 (Januari-April 2. Permasalahan Dilematis Apakah kehadiran komunikasi digital benar-benar membuat kita lebih manusiawi dan mengurangi kecenderungan brutalitas dalam interaksi sosial? Ponsel pintar di tangan kita, yang berfungsi layaknya tongkat sihir, mampu menghadirkan berbagai layanan, dari makanan, transportasi, hingga jasa lainnya, dalam hitungan menit. Dalam hal ini, teknologi memang memberi kenyamanan dan kendali yang nyaris absolut bagi penggunanya, bahkan menjadikannya seolah-olah AudewaAy dalam dunia digital. Namun, hal yang sama belum tentu berlaku bagi mereka yang melayani di balik layar. Berbagai kajian terbaru mengenai media sosial dan internet mengungkapkan bahwa eksplorasi informasi digital membuka peluang besar bagi kita untuk mengikuti arus informasi global dengan lebih mudah. Namun, di balik manfaat tersebut, dampak ambivalen terhadap perilaku manusia sering kali terabaikan. Teknologi digital tidak hanya mempermudah hidup, tetapi juga dapat membentuk cara kita berinteraksi, merespons, dan memahami dunia, dengan segala konsekuensi yang belum sepenuhnya kita Fenomena mengemis online melalui siaran langsung di TikTok tengah menjadi perbincangan hangat di kalangan warganet. Sejumlah individu yang mengklaim dirinya sebagai kreator konten memanfaatkan fitur gift di TikTok dengan melakukan aksi-aksi ekstrem atau di luar kebiasaan saat live streaming. Harapannya, mereka bisa mendapatkan banyak gift dari penonton, yang kemudian dapat dikonversi menjadi uang. Beberapa aksi yang menarik perhatian publik antara lain live dengan berendam di air dalam waktu lama hingga mandi Fenomena ini tidak hanya dilakukan oleh satu atau dua orang, tetapi melibatkan banyak individu, termasuk lansia atau orang tua. 4 Maraknya tren ini menunjukkan bagaimana digitalisasi, terutama melalui media sosial, telah mengubah cara sebagian orang mencari penghasilan, meskipun dengan cara yang kontroversial. Penulis dalam makalah ini tidak hanya menyoroti fenomena mengemis online di Indonesia, tetapi juga sebuah kasus yang terjadi pada tahun 2017, yaitu kekerasan yang dialami oleh seorang YouTuber cilik asal Korea bernama Boram, yang berusia 9 tahun. Boram menjadi korban kekerasan dari orang tuanya, yang dilaporkan oleh mantan pegawai atau kameramennya karena memaksa Boram untuk tampil ceria dan tersenyum di depan kamera, meskipun ia tidak bahagia. Kasus ini kemudian dibawa ke pengadilan pada tahun 2018, dan Budi Hardiman. AuManusia Dalam Prahara Revolusi DigitalAy DISKURSUS : Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara 17 No. , 178. https://w. com/tren/read/2023/01/07/200000765/fenomena-mengemis-online-di-tiktok-dariberendam-hingga-mandi-lumpur?lgn_method=google&google_btn=onetap Thyra Josella Journal of Divinity. Peace and Conflict Studies orang tua Boram dinyatakan bersalah. Penulis menegaskan kembali bahwa tujuan mengangkat kasus ini bukan untuk memberikan penilaian etis mengenai tindakan tersebut, melainkan untuk memfokuskan perhatian pada hak individu dalam menggunakan media sosial. Penulis juga menekankan pentingnya sikap kritis terhadap sisi kemanusiaan di era digital ini, serta mengungkapkan kekhawatirannya bahwa perkembangan media sosial, yang bisa memberikan penghasilan melalui platform seperti TikTok dan YouTube, dapat mendorong orang untuk tanpa sadar melakukan tindakan kekerasan demi mendapatkan keuntungan. Sejalan dengan pemikiran Budi Hardiman tentang manusia dalam revolusi digital, ponsel pintar dan platform media sosial kini berperan layaknya tongkat sihir yang memberikan peluang instan untuk mendapatkan uang dan eksistensi sosial. Di era digital, batasan antara pekerjaan konvensional dan ekonomi digital semakin kabur. Jika dulu kerja identik dengan tenaga fisik atau keahlian profesional, kini kerja juga mencakup aktivitas yang menarik perhatian publik di media sosial dengan harapan untuk mengubah hidup. Fenomena Aumengemis onlineAy menunjukkan bagaimana manusia semakin bergantung pada eksistensi digital untuk bertahan hidup dan rela melakukan apapun untuk sebuah konten yang ekstrem demi donasi virtual. Dalam hal ini, penulis mencoba mengkaitkan fenomena ini dengan pertanyaan tentang identitas kita dan sisi humanis di era digital, dalam tulisannya Hardiman mempertanyakan Auapakah kita menjadi lebih manusiawi karena perkembangan komunikasi digital?Ay. Dengan pertanyaan tersebut penulis akan menjabarkan bagaimana perkembangan digital saat ini, dilanjutkan dengan pembahasan kebenaran di era perkembangan digital, dan sikap etis seperti apa yang seharusnya kita lakukan di tengah perkembangan digital. Manusia dalam Era Revolusi Digital: Perspektif Budi Hardiman Era disrupsi merupakan masa transisi yang ditandai dengan penyebaran informasi yang semakin cepat dan efisien melalui media sosial. Perubahan ini tidak hanya memperbarui cara manusia mengakses informasi, tetapi juga memberikan dampak besar yang sering kali terjadi tanpa disadari. Dalam menghadapi perkembangan teknologi yang semakin canggih, manusia perlu memiliki strategi yang tepat agar tetap mampu beradaptasi dengan perubahan yang terjadi. Era disrupsi ini mencerminkan fenomena pergeseran aktivitas dari dunia nyata ke dunia digital, di mana banyak aspek kehidupan mulai dari komunikasi, pekerjaan, hingga interaksi sosial, beralih ke ranah maya. Pergeseran ini tidak hanya mengubah pola kebiasaan manusia, tetapi juga menciptakan tantangan dan peluang baru dalam kehidupan modern. Yonathan Wingit Pramono & Aji Suseni. AuTantangan Humanisme dalam Era Disrupsi Sebagai Sosio-Plural- Eksistensi dalam Klik: Fenomena AuApapun Demi KontenAy dalam Perspektif Homo Digitalis Budi Hardiman Volume 5 Nomor 1 (Januari-April 2. Perubahan besar yang terjadi di era disrupsi ini tidak hanya mempengaruhi tatanan sosial dan budaya, tetapi juga mulai membentuk kembali cara manusia berpikir, merasakan, dan memahami dirinya sendiri. Dalam realitas digital yang terus berkembang, manusia perlahan mengalami transformasi identitas dan fungsi kognitif. Kalau dulu identitas kita lebih banyak ditentukan oleh apa yang kita pikirkan dan lakukan di dunia nyata, sekarang semuanya mulai bergeser ke dunia digital. Walaupun secara fisik manusia belum mengalami perubahan biologis yang mencolok, seperti mutasi atau evolusi bentuk tubuh, tapi cara hidup dan cara berpikir kita perlahan-lahan mulai berubah. Dulu manusia dikenal sebagai homo sapiens, makhluk yang mampu berpikir secara mandiri. Sekarang, kita mulai berubah menjadi homo digitalis, makhluk yang sangat bergantung pada teknologi terutama dalam hal berpikir dan mengingat. Ponsel pintar yang awalnya hanya alat komunikasi, sekarang sudah seperti Auotak tambahanAy bagi manusia. Banyak hal pribadi seperti detak jantung, pola tidur, bahkan pikiran dan perasaan semuanya tersimpan dalam perangkat digital. Karena semua informasi bisa dicari dengan cepat di internet, manusia jadi makin jarang memakai ingatan dan logika sendiri. Identitas manusia pun bergeser dari eksistensi fisik . ku-offlin. ke eksistensi digital . ku-onlin. Slogan AuAku berpikir, maka aku adaAy yang dikemukakan Descartes kini berubah menjadi AuAku klik, maka aku adaAy, menandakan bahwa keberadaan seseorang di era digital lebih ditentukan oleh aktivitasnya di dunia maya. Istilah homo digitalis bisa dianggap sarkastis, karena manusia bukan lagi dikenali sebagai makhluk yang bijaksana . , tetapi sebagai makhluk yang lebih banyak menggunakan jari . untuk mengklik daripada berpikir secara mendalam. Perubahan ini bukan hanya memengaruhi cara manusia berpikir dan mengingat, tetapi juga membentuk cara mereka hidup dan berinteraksi di ruang digital. Manusia homo digitalis menemukan dirinya berada dalam suatu dunia yang hampir tanpa batas dan tanpa aturan yang jelas, sebuah digital state of nature. Dalam kondisi ini, konsep keadilan dan ketidakadilan menjadi kabur, seolah tidak lagi relevan. Kecanggihan teknologi membuat para penggunanya tidak segera menyadari bahwa melalui pesan dan interaksi digital, mereka bisa menciptakan kekerasan atau agresi dalam bentuk baru. Dalam proses ini, homo digitalis berpotensi berubah menjadi homo brutalis, bukan karena pilihan sadar, tetapi sebagai hasil dari interaksi dengan algoritma media sosial. Algoritma ini dirancang untuk menarik dan mempertahankan perhatian pengguna, sehingga secara perlahan membentuk pola pikir, emosi, dan hasrat mereka agar selaras dengan kehendak kecerdasan buatan artificial intelligence. Dengan kata lain, manusia isme Iman KristenAy MIKTAB : Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani 1 no 2, . , 116. Budi Hardiman. Aku Klik Maka Aku Ada (Yogyakarta : Kanisius, 2. , 39. Thyra Josella Journal of Divinity. Peace and Conflict Studies digital tidak hanya menggunakan teknologi, tetapi juga secara tidak sadar dibentuk dan dikendalikan oleh teknologi itu sendiri. Hardiman menggambarkan manusia di era digital sebagai homo digitalis, yaitu individu yang eksistensinya bergantung pada interaksi digital. Fenomena ini menjadi nyata dalam beberapa praktik konten digital yang ekstrem, sebagaimana dijelaskan oleh Hardiman, bahwa konsep homo digitalis dan homo brutalis tidak hanya merupakan gambaran teoretis, tetapi telah mewujud dalam tindakan nyata seperti aksi mandi lumpur di TikTok dan eksploitasi anak demi konten. Dalam konteks mandi lumpur di TikTok dan eksploitasi anak, terdapat beberapa karakteristik homo digitalis yang terlihat, dimana sebagai manusia digital tidak hanya menggunakan teknologi, tetapi juga dikendalikan oleh teknologi. Kreator konten yang melakukan aksi ekstrem seperti mandi lumpur melakukannya bukan semata-mata karena keinginan pribadi, tetapi karena tekanan dari algoritma media sosial yang menuntut konten sensasional agar mendapat perhatian lebih besar. Orang tua atau kreator konten yang memanfaatkan anak kecil demi konten telah menunjukkan ciri homo brutalis yang dijelaskan oleh hardiman di atas. Mereka tidak lagi mempertimbangkan dampak psikologis terhadap anak, tetapi hanya melihat anak sebagai alat untuk meraih keuntungan digitalAU. Dari perspektif homo digitalis dan homo brutalis, fenomena mandi lumpur di TikTok dan eksploitasi anak menunjukkan bagaimana dunia digital dapat mendorong manusia ke dalam krisis moral. Dalam konteks ini, teknologi digital bukan lagi sekadar alat bantu, melainkan sebuah ruang eksistensial yang mengubah cara manusia berpikir, bertindak, dan berinteraksi. Dengan teknologi digital, manusia seolah mencapai impian lamanya, memori yang tidak pernah hilang . elalui arsip digita. , keberadaan di banyak tempat sekaligus . mnipresence melalui media sosial dan komunikasi darin. , serta kebebasan berbicara tanpa sensor. Namun, semua ini membawa konsekuensi yang tidak terduga. Ingatan yang abadi juga berarti kesalahan masa lalu bisa terus membayangi seseorang. Kebebasan berbicara sering kali berujung pada serangan brutal dari orang lain di dunia maya, sementara konektivitas tanpa batas justru mengikis kedekatan dan keintiman dalam hubungan manusia. Selain itu, batas antara profesi dan peran sosial menjadi semakin kabur. Seseorang yang hanya memiliki ponsel kini bisa berperan sebagai jurnalis, sutradara, atau penerbit tanpa perlu otoritas atau regulasi. Hal ini menimbulkan dilema etis, karena tidak ada sensor atau mekanisme yang jelas untuk memverifikasi kebenaran informasi yang disebarkan. 8 Peran ruang publik sebagai wadah yang memungkinkan opini publik beresonansi dan memengaruhi proses pengambilan keputusan Hardiman. Aku Klik Maka Aku Ada, 46. Hardiman. Aku Klik Maka Aku Ada, 51. Eksistensi dalam Klik: Fenomena AuApapun Demi KontenAy dalam Perspektif Homo Digitalis Budi Hardiman Volume 5 Nomor 1 (Januari-April 2. dalam birokrasi komunikasi. Namun, jika aspirasi masyarakat tidak dimobilisasi dengan baik melalui media massa, maka ruang publik dapat dengan mudah diselewengkan oleh interpretasi yang liar, naif, vulgar, dan penuh dramatisasi yang justru dapat merugikan salah satu pihak. Dalam pandangan Habermas, ruang publik yang ideal seharusnya berfungsi sebagai sounding board atau papan pembunyi, yang bukan sekadar menjadi arena debat bebas tanpa arah, tetapi sebagai tempat yang mampu merasakan, menginterpretasikan, dan menyalurkan permasalahan sosial dengan tujuan menciptakan nilai moral dan kebaikan bersama. Ruang publik yang sehat tidak boleh menjadi alat untuk mengalienasi atau menyingkirkan kelompok tertentu, melainkan harus menjadi sarana komunikasi yang inklusif dan reflektif untuk memperjuangkan kepentingan bersama secara rasional dan etis. Fenomena Auapapun demi kontenAy memperlihatkan bahwa proses digitalisasi dan pencarian keuntungan ekonomi dalam dunia maya seringkali mengabaikan pertimbangan sosial dan moral. Dalam transisi ini, kita mulai melihat pergeseran fokus dari sekadar mengatasi kesenjangan digital menuju inklusi sosial yang lebih luas. Ada tiga landasan utama yang mendasari peralihan ini: pertama, munculnya ekonomi informasi dan masyarakat jaringan baru. kedua, peran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) yang semakin dominan dalam seluruh aspek kehidupan ekonomi dan sosial dan ketiga, akses terhadap TIK yang, jika didefinisikan dengan lebih luas, dapat menentukan apakah seseorang terperangkap dalam marginalisasi atau bisa meraih inklusi dalam era sosio-ekonomi yang baru ini. 10 Fenomena di mana seseorang rela melakukan apa saja demi menghasilkan konten yang mendatangkan uang menunjukkan bahwa manusia semakin dikendalikan oleh teknologi. Alih-alih menggunakan media digital secara sadar dan bertanggung jawab, banyak kreator konten yang justru terjebak dalam logika algoritma dan tren viral tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjangnya, terutama bagi para penonton. Jika tujuan utama dalam membuat konten hanyalah keuntungan finansial tanpa memperhatikan konsekuensinya bagi masyarakat, maka ini menjadi bukti bahwa manusia telah kehilangan kendali atas penggunaan teknologi dan justru menjadi bagian dari sistem yang mengarahkan perilaku mereka. Seharusnya, media digital tidak hanya dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi semata, tetapi juga menjadi sarana untuk menghadirkan konten yang bersifat edukatif dan memberikan nilai positif bagi audiens. Fenomena tersebut memperlihatkan bahwa relasi antara manusia dan teknologi tidak lagi sesederhana alat dan pengguna, melainkan mencerminkan interaksi yang saling Alfredo Kevin. Analisis Fenomena Cancel Culture dalam Etika AuKlikAy Manusia di Era Digital Menurut F. Budi Hardiman. SOSMANIORA (Jurnal Ilmu Sosial dan Humanior. Vol. 2 No. , 199. Mark Warschauer. Technology and Social Inclusion : Rethingking the Digital Divide. (USA : Massachusetts Institute of Technology, 2. , 11. Thyra Josella Journal of Divinity. Peace and Conflict Studies Untuk memahami lebih jauh bagaimana seharusnya manusia bersikap dalam menghadapi dominasi teknologi ini khususnya dalam konteks media sosial, kita perlu melihat bagaimana nilai-nilai dibentuk dalam penggunaan teknologi sehari-hari serta bagaimana peran etis dapat dikedepankan dalam setiap interaksi digital. Sikap Etis Dalam Menggunakan Media Digital Teknologi tidak pernah dikembangkan atau dibeli tanpa tujuan. Di balik setiap inovasi teknologi, terdapat asumsi bahwa teknologi harus menciptakan atau mendukung penciptaan nilai bagi Namun, nilai ini bukanlah sesuatu yang inheren dalam teknologi itu sendiri, melainkan muncul melalui interaksi dan penggunaan teknologi dalam kehidupan seharihari. Dengan kata lain, teknologi hanya menjadi bermakna jika dapat membantu manusia memenuhi kebutuhan mereka. Nilai yang dihasilkan oleh teknologi didasarkan pada kebutuhan universal manusia, tetapi penerapannya tetap bersifat personal dan subjektif. Setiap individu menggunakan teknologi sesuai dengan kebutuhan, pengalaman, dan pemahamannya sendiri. Oleh karena itu, meskipun para desainer teknologi menciptakan produk atau layanan dengan logika dan tujuan tertentu, pengguna sering kali memberikan makna dan peran yang berbeda terhadap teknologi tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa hubungan antara manusia dan teknologi bersifat dinamis. Pengguna tidak hanya menerima teknologi secara pasif, tetapi juga menafsirkannya, menyesuaikannya, dan bahkan menggunakannya dengan cara yang mungkin tidak sesuai dengan maksud awal penciptanya. 11 Saat ini, kita memanfaatkan teknologi sebagai perantara utama dalam menjalin hubungan sosial dan berhubungan dengan lingkungan Tidak hanya itu, kita juga terlibat dalam interaksi langsung dengan teknologi itu sendiri misalnya saat bermain video game, menonton film, atau mendengarkan musik. Relasi ini mencerminkan kompleksitas, karena interaksi kita dengan teknologi bukan sekadar teknis, tetapi juga melibatkan dimensi emosional dan sosial. Sebagaimana manusia adalah makhluk yang kompleks, hubungan kita dengan teknologi pun menjadi tidak kalah rumit. Dengan demikian, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi membawa manusia ke dalam dilema yang kompleks. Seiring dengan berkembangnya inovasi, risiko kesalahan dan dampak negatif juga meningkat, terutama jika tidak diimbangi dengan sikap kehati-hatian Mannonen and Teras. AuTechnology Cultures and User Experience Ecosystems: User-centred View towards User-technology Relationships,Ay in Design Directions : The Relationship Between Humans and Technology, edited by Sylvia Tzvetanova Yung and Alise Piebalga. (UK : Cambridge Scholars Publishing, 2. , 12-14. Vance Ashley Woodward. AuTechnology and Human Relationships,Ay in Design Directions : The Relationship Between Humans and Technology, ed. Sylvia Tzvetanova Yung and Alise Piebalga (UK : Cambridge Scholars Publishing, 2. , 21. Eksistensi dalam Klik: Fenomena AuApapun Demi KontenAy dalam Perspektif Homo Digitalis Budi Hardiman Volume 5 Nomor 1 (Januari-April 2. dalam penggunaannya. Dengan kata lain, semakin maju teknologi, semakin besar pula potensi tantangan dan konsekuensi yang menyertainya. Persoalan etika dalam ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi semakin relevan karena perkembangan di bidang ini tidak bisa dipisahkan dari ideologi dan nilai-nilai masyarakat pada suatu zaman. Setiap kemajuan teknologi selalu lahir dalam konteks sosial tertentu dan sering kali mencerminkan kepentingan, kebutuhan, serta paradigma yang berlaku pada saat itu. 13 Oleh karena itu, hubungan antara sains, teknologi, dan etika tidak bisa diabaikan, karena keputusan dalam pengembangan dan penerapan teknologi akan selalu dipengaruhi oleh norma dan prinsip moral yang dianut oleh masyarakat. Tantangan utama yang dihadapi adalah bagaimana menyeimbangkan kemajuan teknologi dengan tanggung jawab etis, sehingga inovasi yang dihasilkan tidak hanya berorientasi pada keuntungan atau efisiensi, tetapi juga mempertimbangkan dampaknya terhadap kehidupan manusia, lingkungan, dan kesejahteraan sosial secara keseluruhan. Hardiman sendiri mengakui bahwa media sosial seperti Twitter. Facebook. WhatsApp. TikTok, dan Instagram telah merevolusi cara manusia bertukar informasi, mencerminkan kodrat sosial manusia dalam bentuk yang lebih modern. Namun, dalam analisisnya, media digital bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga memiliki potensi untuk mempengaruhi Jika manusia tidak menyadari fungsinya sebagai sarana, maka mereka berisiko menjadi objek yang dikendalikan oleh media itu sendiri. Hardiman menekankan bahwa ketika kesadaran manusia terhadap alat digital semakin melemah, ada bahaya besar di mana pengguna tidak lagi menjadi tuan atas teknologi, melainkan justru diperbudak oleh algoritma dan tren digital. Oleh karena itu, penting bagi setiap individu untuk mempertahankan kesadaran kritis terhadap setiap tindakan digitalnya. Saat ini, banyak pengguna gawai tidak lagi bertindak secara rasional, melainkan sekadar mengikuti tuntutan dan pola yang ditawarkan oleh internet. Dominasi internet terhadap persepsi dan pikiran manusia menciptakan standarstandar baru yang memaksa individu untuk menyesuaikan diri. Akibatnya, bukan hanya cara berpikir yang berubah, tetapi juga kesadaran moral akan baik dan buruk. Perlahan, manusia mulai kehilangan kendali atas nilai-nilai yang dahulu menjadi pedoman hidupnya, digantikan oleh realitas digital yang semakin mengatur cara mereka berpikir dan bertindak. Eka Darmaputra, sebagaimana dikutip oleh Supardan, mengajukan dua pertanyaan mendasar dalam memahami manusia: AuapaAy dan AusiapaAy manusia itu. Pertanyaan ini menjadi kunci dalam merumuskan etika bagi sains dan teknologi. Dengan memahami kedua aspek ini, manusia dapat menempatkan sains dan teknologi secara tepat, baik sebagai objek Supardan. Ilmu. Teknologi dan Etika (Jakarta : BPK Gunung Mulia, 1. , 1-2. Hardiman. Aku Klik Maka Aku Ada, 210. Thyra Josella Journal of Divinity. Peace and Conflict Studies yang dikembangkan maupun sebagai sarana pencerahan bagi kehidupan manusia. Dalam pandangannya, saintisme hanya melihat manusia dari sisi apa, yakni sebagai objek yang dapat dikaji secara ilmiah. Sementara itu, etika menempatkan manusia sebagai siapa, yaitu makhluk yang memiliki kesadaran dan pencarian makna. Manusia tidak hanya sekadar hidup, tetapi juga mempertanyakan asal-usul, tujuan, dan esensi kehidupannya. Makna hidup tidak datang secara otomatis dari keberadaan dunia ini, melainkan harus dicari dan dimanifestasikan oleh manusia itu sendiri. Karena itu, sains dan teknologi memiliki fungsi ganda: tidak hanya menjawab pertanyaan tentang AuapaAy manusia secara biologis dan material, tetapi juga berperan dalam membentuk pemahaman tentang AusiapaAy manusia dalam konteks moral dan eksistensialnya. Dengan demikian, etika sains dan teknologi harus berupaya memastikan bahwa perkembangan ilmu dan inovasi teknologi tidak sekadar mengedepankan aspek utilitarian, tetapi juga harus sejalan dengan pencarian makna dan manifestasi kemanusiaan yang lebih dalam. Artinya bahwa inovasi semestinya tidak boleh hanya dilihat dari segi fungsionalitasnya, tetapi bagaimana teknologi tersebut berdampak pada kehidupan manusia lain secara keseluruhan, baik dari segi eksistensial, sosial, maupun spiritual. Teknologi seharusnya menjadi alat yang mendukung pencarian makna hidup manusia, bukan justru mengalienasi atau menghilangkan nilai-nilai kemanusiaan. Teknologi, dalam konteks pemikiran Heidegger, dipahami sebagai Gestell, yang merujuk pada cara berada manusia dalam era teknologi dan sistem informasi. Gestell menggambarkan bagaimana teknologi tidak hanya berfungsi sebagai alat, tetapi juga membentuk cara berpikir dan eksistensi manusia. Dalam pandangan Heidegger, manusia menjadi AupersediaanAy bagi teknologi, di mana kita harus selalu tersedia dan terhubung untuk menjaga operasional sistem ICT (Information and Communication Technolog. Heidegger membedakan antara dua cara berpikir: das rechnende Denken . emikiran kalkulati. dan das besinnliche Denken . emikiran Pemikiran kalkulatif, yang didominasi oleh mekanisme dan rutinitas, membuat manusia terjebak dalam pola pikir yang tidak reflektif, sehingga kita merasa berpikir, padahal sebenarnya hanya mengikuti gerak mekanisme. Dalam era modern, seperti yang dijelaskan, banyak orang tidak lagi berpikir secara mendalam, melainkan hanya melakukan tindakan mekanis dan repetitif, seperti mengetik pesan di telepon genggam. Heidegger mengingatkan bahwa ketergantungan pada teknologi dapat mengubah jati diri manusia, menjadikannya Auhewan mekanisAy yang dikendalikan oleh alat-alatnya. 16 Maka dari itu. Hardiman mengusulkan gelassenheit sebagai solusi untuk menghadapi ketergantungan pada teknologi, yang berarti Supardan. Ilmu. Teknologi dan Etika, 5. Hardiman. Aku Klik Maka Aku Ada, 174. Eksistensi dalam Klik: Fenomena AuApapun Demi KontenAy dalam Perspektif Homo Digitalis Budi Hardiman Volume 5 Nomor 1 (Januari-April 2. bersikap ikhlas atau melepas. Konsep ini diambil dari pemikiran Heidegger, yang menekankan pentingnya menjaga hubungan yang sehat dengan teknologi, sehingga kita dapat menggunakan alat-alat tersebut tanpa diperbudak olehnya. Heidegger menjelaskan bahwa Gelassenheit bukanlah penolakan terhadap teknologi, melainkan kesadaran akan ketergantungan kita dan upaya untuk menjaga jati diri kita. Dengan bersikap Gelassenheit, kita dapat membiarkan teknologi tidak memengaruhi inti batiniah kita, sehingga kita tetap terbuka terhadap misteri 17 Pemikiran Heidegger tentang teknologi sebagai Gestell yang membentuk cara berpikir manusia menunjukkan bagaimana eksistensi dapat terjebak dalam pola mekanis tanpa refleksi mendalam. Aristoteles dalam Nicomachean Ethics memberikan analisis mendalam tentang tindakan moral, yang sangat relevan untuk memahami tindakan digital saat ini. Ia membedakan antara tindakan yang disengaja . dan tidak disengaja . , serta membedakan pelaku yang bertindak dengan kesengajaan . dan yang tidak . Tindakan moral, menurut Aristoteles, mencerminkan karakter pelakunya, di mana keputusan . menjadi cermin dari keutamaan seseorang. Dalam konteks komunikasi digital, klik atau ketikan pada layar sentuh dapat dianggap sebagai tindakan moral yang mencerminkan keputusan pelakunya, baik besar maupun kecil. Aristoteles menekankan bahwa keputusan bukanlah sekadar hasrat atau opini, melainkan melibatkan rasionalitas dan personalitas, yang menunjukkan bahwa tindakan moral harus dipertimbangkan dengan hati-hati sebelum dilakukan. Lebih lanjut. Aristoteles juga menggarisbawahi pentingnya kesadaran akan dampak dari tindakan yang dilakukan, di mana ketidaktahuan tentang konsekuensi dari tindakan dapat mengaburkan pertanggungjawaban moral. 18 Dalam konteks ini, analisis Aristoteles tentang tindakan moral menjadi penting untuk menyoroti bagaimana setiap tindakan, termasuk dalam ruang digital, tetap memerlukan kesadaran dan pertimbangan etis. Dalam kasus konten mandi lumpur dan konten yang melibatkan eksploitasi terhadap anak kecil, pelaku baik kreator konten maupun penonton yang mendukungnya dapat dikatakan membuat keputusan . yang tidak berdasarkan keutamaan . , tetapi lebih pada motif ekonomi atau popularitas. Selain itu, para penonton mungkin tidak menyadari bahwa klik mereka dalam bentuk gift atau komentar justru mendorong eksploitasi lebih lanjut. Tindakan ini tidak hanya merugikan subjek yang terlibat, tetapi juga menunjukkan kegagalan dalam membangun kebajikan moral. Aristoteles membedakan tindakan yang dilakukan secara sadar . dan yang tidak . Kreator konten yang memaksa anak-anak untuk tampil Hardiman. Aku Klik Maka Aku Ada, 177. Hardiman. Aku Klik Maka Aku Ada, 216. Thyra Josella Journal of Divinity. Peace and Conflict Studies di media sosial demi keuntungan finansial bertindak dengan kesengajaan penuh, yang berarti mereka bertanggung jawab secara moral atas eksploitasi yang terjadi. Demikian pula, mereka yang membuat atau mendukung konten mandi lumpur demi engagement digital juga dapat dianggap melakukan tindakan tidak bermoral dengan sadar. Tindakan tanpa refleksi moral menciptakan banalitas dari yang jahat. Orang-orang yang mendukung fenomena ini mungkin berpikir bahwa mereka hanya sekadar menonton atau memberi gift, tetapi mereka secara tidak langsung menjadi bagian dari sistem eksploitasi. Namun, ketidaktahuan ini tidak serta-merta menghapus tanggung jawab moral, terutama jika ada indikasi bahwa tindakan tersebut diambil demi keuntungan tanpa mempertimbangkan dampaknya pada pihak lain. Fenomena ini menunjukkan kegagalan dalam menerapkan kebajikan moral dalam komunikasi digital. Baik kreator maupun konsumen konten harus mengembangkan phronesis . ebijaksanaan prakti. dalam menilai tindakan mereka di dunia digital. Kesadaran akan konsekuensi dan pengambilan keputusan berdasarkan rasionalitas sangat penting untuk memastikan bahwa tindakan digital tidak hanya menguntungkan secara ekonomi, tetapi juga mencerminkan tanggung jawab etis terhadap sesama manusia. Menggunakan pendekatan etika Aristoteles, kita bisa menilai bahwa solusi terhadap fenomena ini adalah dengan mengembalikan kesadaran moral dalam tindakan digital, sehingga menciptkan konten digital yang bertanggung jawab. Pertama. Aristoteles menekankan konsep mesotes atau jalan tengah sebagai prinsip etika yang mengedepankan keseimbangan antara dua ekstrem. Dalam konteks tindakan moral. Aristoteles berargumen bahwa keutamaan terletak di antara dua keburukan, yaitu kekurangan dan kelebihan. Misalnya, keberanian adalah keutamaan yang terletak di antara ketakutan . dan kebodohan . 19 Keberanian yang dimaksud oleh Aristoteles ini penulis asumsikan sebagai berani untuk melaporkan dan mengkritik konten yang bersifat eksploitasi, tanpa melakukan serangan digital yang tidak produktif. Kedua, dalam Nicomachean Ethics. Aristoteles menekankan bahwa keputusan . mencerminkan karakter seseorang, dan keputusan yang baik harus dilatih melalui kebiasaan yang baik. Penulis asumsikan bahwa kesadaran moral yang dimaksud disini jika dihubungkan dengan fenomena Auapapun demi kontenAy, adalah kesadaran untuk mendukung konten yang edukatif dan beretika. Jadi klik bukan hanya gerakan jari, tetapi keputusan moral. Memahami pentingnya bersikap etis saat menggunakan media sosial adalah langkah awal yang penting untuk menghadapi tantangan di era digital ini. Tapi, kesadaran saja tidak Maka pertanyaannya sekarang: ke mana kita mau membawa arah komunikasi digital Hardiman. Aku Klik Maka Aku Ada, 239. Eksistensi dalam Klik: Fenomena AuApapun Demi KontenAy dalam Perspektif Homo Digitalis Budi Hardiman Volume 5 Nomor 1 (Januari-April 2. kita? Di sinilah kita perlu berhenti sejenak dan berpikir lebih dalam untuk bisa membentuk arah baru dalam komunikasi digital. Dalam bagian selanjutnya, penulis akan memaparkan satu refleksi tentang bagaimana kita bisa membangun dunia digital yang lebih manusiawi, bukan hanya berdasarkan pada kepentingan pribadi, tapi juga bermakna. Refleksi Kritis: Menuju Digital Humanism Dalam menghadapi fenomena Auapapun demi kontenAy, penulis menggunakan empat strategi penataan komunikasi digital yang ditawarkan dalam tulisan Budi Hardiman untuk dijadikan kerangka dalam mengendalikan dampak negatif revolusi digital. Pertama, juridifikasi menjadi langkah awal dalam menata ruang digital agar tidak menjadi wilayah tanpa hukum. Kasus mandi lumpur untuk gift atau eksploitasi anak demi konten menunjukkan celah regulasi yang memungkinkan penyalahgunaan media sosial tanpa batasan yang jelas. Perlu ada undang-undang yang lebih ketat untuk mengatur konten digital, terutama yang melibatkan eksploitasi manusia, serta sanksi bagi platform yang membiarkan praktik tersebut terus terjadi. Juridifikasi memastikan bahwa fenomena ini tidak hanya dianggap sebagai tren hiburan, tetapi sebagai tindakan yang dapat dikenai konsekuensi hukum. Kedua, moralisasi sangat diperlukan dalam membentuk kesadaran etika pengguna media sosial. Banyak pembuat konten tidak menyadari atau mengabaikan dampak moral dari tindakan mereka, seperti merendahkan martabat seseorang demi interaksi digital atau mengeksploitasi anak demi keuntungan pribadi. Dalam etika komunikasi digital, prinsip golden rule harus diterapkan, yaitu memperlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan. Jika nilai-nilai seperti kehormatan, rasa hormat, dan tanggung jawab ditekankan dalam budaya digital, maka perilaku yang merugikan orang lain demi konten dapat diminimalisir. Ketiga, solidarisasi diperlukan agar masyarakat digital dapat bersama-sama melawan tren yang merusak. Praktik eksploitasi dalam konten digital tidak akan berhenti jika hanya bergantung pada regulasi hukum atau kesadaran individu. Strategi debunking bisa digunakan untuk membongkar dampak negatif dari konten sensasional dan memberikan edukasi kepada Selain itu, cyberprotest dapat dilakukan dalam bentuk gerakan kolektif untuk melawan normalisasi eksploitasi digital, misalnya dengan mengkampanyekan unfollow terhadap akunakun yang mengeksploitasi orang lain demi konten atau mendesak platform digital untuk lebih bertanggung jawab terhadap isi yang mereka fasilitasi. Keempat, kepemimpinan pluralis dalam dunia digital harus diperkuat agar ruang digital Hardiman. Aku Klik Maka Aku Ada, 56-58. Thyra Josella Journal of Divinity. Peace and Conflict Studies tidak didominasi oleh figur-figur yang hanya mengejar popularitas tanpa mempertimbangkan dampaknya terhadap masyarakat. Jika influencer dan pemimpin opini publik di dunia maya lebih banyak mempromosikan nilai-nilai etis dalam pembuatan konten, maka akan terjadi perubahan budaya digital yang lebih manusiawi. Media sosial tidak boleh hanya menjadi ajang untuk menghasilkan uang dan eksploitasi, tetapi harus berfungsi sebagai alat untuk membangun kesadaran sosial yang lebih luas. Kesimpulan Perkembangan digital telah mengubah cara manusia berinteraksi dan mencari eksistensi dalam dunia maya, sebagaimana digambarkan dalam konsep Homo Digitalis oleh Budi Hardiman. Di tengah arus teknologi ini, muncul fenomena Auapapun demi kontenAy yang mencerminkan lunturnya kesadaran etis. Banyak kreator digital lebih mengutamakan popularitas dan keuntungan ekonomi daripada mempertimbangkan nilai moral dan dampak sosial dari konten yang mereka produksi. Kasus seperti eksploitasi anak dalam membuat konten dan tren mengemis online di TikTok menunjukkan bagaimana teknologi dapat mendorong manusia untuk melakukan tindakan yang kontroversial demi popularitas dan keuntungan finansial. Dengan mengacu pada pemikiran Aristoteles dan Heidegger, kondisi ini menuntut manusia di era digital untuk mengembangkan sikap reflektif dan kesadaran etis dalam berteknologi. Aristoteles menekankan pentingnya keputusan moral yang rasional dan bertanggung jawab, sementara Heidegger mengingatkan bahaya terjebak dalam cara berpikir mekanis yang dikuasai oleh teknologi. Oleh karena itu, diperlukan strategi yang mencakup regulasi hukum, moralisasi etika digital, solidaritas masyarakat, dan kepemimpinan pluralis dalam dunia maya. Dengan pendekatan tersebut, ruang digital diharapkan dapat menjadi tempat yang lebih manusiawi, etis, dan bertanggung jawab. Daftar Pustaka