Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Indonesia Volume 5. Nomor 3. November 2025 E-ISSN : 2827-797X. P-ISSN : 2827-8488. Hal 685-703 DOI: https://doi. org/10. 55606/jikki. Tersedia: https://researchhub. id/index. php/jikki Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak dan Fraksi Daun Rambutan (Nephelium lappaceum L. ) dengan Metode FRAP (Ferric Reducing Antioxidant Powe. serta Penetapan Flavonoid Total Dian Pratiwi1*. Tatiana Siska Wardani2. Bagas Ardiantoro3 Program Studi Sarjana Farmasi. Fakultas Ilmu Kesehatan. Universitas Duta Bangsa Surakarta. Indonesia *Penulis Korespondensi: dianpratiwiwii@gmail. Abstract. Free radicals are unstable and highly reactive molecules that can cause oxidative stress, leading to cell damage and the development of degenerative diseases such as cancer, cardiovascular disorders, diabetes, and premature aging. To counteract these harmful effects, antioxidant compounds are required to inhibit oxidative reactions and protect cellular structures. Rambutan leaves (Nephelium lappaceum L. ) are rich in bioactive compounds, including flavonoids, tannins, and saponins, which are reported to have strong antioxidant potential. The objective of this study was to evaluate the antioxidant activity of rambutan leaf extracts and their fractions, as well as to determine the ICCICA value using the Ferric Reducing Antioxidant Power (FRAP) method. Fractionation was performed using solvents of varying polarity, namely n-hexane, ethyl acetate, and water, to obtain different active fractions. Antioxidant activity was measured based on the ability of extracts and fractions to reduce FeAA ions to FeAA at a wavelength of 595 nm. The findings revealed that rambutan leaf extract exhibited very strong antioxidant activity, indicated by an ICCICA value of 20. 65 ppm. Moreover, the activity increased proportionally with concentration, confirming a significant positive linear correlation. These results suggest that rambutan leaves are a promising natural source of antioxidants with potential applications in the development of pharmaceutical products, functional foods, and nutraceuticals aimed at preventing oxidative stress-related diseases. Keywords: Antioxidants. Flavonoids. FRAP. ICCICA. Rambutan leaves. Abstrak. Radikal bebas merupakan molekul tidak stabil yang sangat reaktif sehingga dapat menimbulkan stres oksidatif, merusak sel, serta memicu berbagai penyakit degeneratif seperti kanker, penyakit jantung, diabetes mellitus, hingga penuaan dini. Untuk menetralkan dampak negatif tersebut, diperlukan senyawa antioksidan yang mampu menghambat reaksi oksidatif dan memberikan perlindungan terhadap jaringan tubuh. Daun rambutan (Nephelium lappaceum L. ) diketahui mengandung beragam senyawa bioaktif, terutama flavonoid, tanin, dan saponin, yang secara ilmiah dilaporkan memiliki potensi sebagai antioksidan alami. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi aktivitas antioksidan dari ekstrak dan fraksi daun rambutan serta menentukan nilai ICCICA menggunakan metode Ferric Reducing Antioxidant Power (FRAP). Proses fraksinasi dilakukan dengan pelarut berbeda polaritas, yaitu n-heksana, etil asetat, dan air, guna memisahkan kandungan senyawa aktif. Aktivitas antioksidan diukur berdasarkan kemampuan ekstrak dan fraksi untuk mereduksi ion FeAA menjadi FeAA yang kemudian diamati pada panjang gelombang 595 nm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun rambutan memiliki aktivitas antioksidan sangat kuat dengan nilai ICCICA sebesar 20,65 ppm. Selain itu, peningkatan konsentrasi ekstrak menghasilkan daya inhibisi yang semakin besar, menunjukkan adanya hubungan linier positif yang signifikan antara konsentrasi dan aktivitas antioksidan. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa daun rambutan memiliki potensi besar sebagai sumber antioksidan alami yang tidak hanya bermanfaat dalam bidang farmasi, tetapi juga berpeluang dikembangkan menjadi pangan fungsional, suplemen kesehatan, maupun produk Temuan ini membuka peluang penelitian lanjutan untuk isolasi senyawa bioaktif utama serta pengujian efek in vivo guna memperkuat pemanfaatan daun rambutan sebagai agen pencegah penyakit yang berkaitan dengan stres oksidatif. Kata kunci: Antioksidan. Daun rambutan. Flavonoid. FRAP. ICCICA. Naskah Masuk: 15 Agustus 2025. Revisi: 30 Agustus 2025. Diterima: 22 September 2025. Tersedia: 25 September 2025 Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak dan Fraksi Daun Rambutan (Nephelium lappaceum L. ) dengan Metode FRAP (Ferric Reducing Antioxidant Powe. serta Penetapan Flavonoid Total LATAR BELAKANG Perubahan gaya hidup modern yang ditandai dengan pola makan tidak sehat, paparan polusi, serta stres, telah meningkatkan jumlah radikal bebas dalam tubuh. Radikal bebas merupakan molekul tidak stabil yang sangat reaktif dan dapat memicu stres oksidatif. Kondisi ini berkontribusi pada kerusakan sel progresif dan berperan dalam timbulnya berbagai penyakit degeneratif, seperti penyakit kardiovaskular, diabetes melitus, aterosklerosis, kanker, serta penuaan dini (Ramadan, 2020. Maharani et al. , 2. Antioksidan berfungsi penting dalam menangkal efek merusak radikal bebas dengan cara menyumbangkan elektron tanpa menjadi reaktif. Sumber antioksidan alami banyak ditemukan pada buah, sayuran, dan tanaman obat. Asupan antioksidan yang cukup dapat membantu tubuh mempertahankan keseimbangan oksidatif dan mencegah kerusakan sel (Ramadan, 2. Rambutan (Nephelium lappaceum L. ), tanaman tropis dari famili Sapindaceae, diketahui memiliki kandungan metabolit sekunder seperti flavonoid, tanin, dan saponin pada bagian daunnya. Senyawa tersebut dilaporkan memiliki aktivitas antioksidan yang potensial, sehingga daun rambutan berpeluang dikembangkan sebagai sumber antioksidan alami untuk aplikasi farmasi maupun produk kesehatan (Amrullah et al. , 2. Berbagai penelitian sebelumnya telah melaporkan potensi antioksidan dari daun rambutan dengan metode uji berbeda, seperti DPPH dan ABTS (Aini et al. , 2023. Tambunan et al. , 2. Namun, sebagian besar studi hanya terbatas pada ekstrak etanol atau infusa, tanpa mengeksplorasi lebih lanjut aktivitas antioksidan berdasarkan fraksi dengan polaritas berbeda. Selain itu, penggunaan metode FRAP masih jarang diaplikasikan pada daun rambutan, padahal metode ini sederhana, sensitif, dan mampu memberikan gambaran menyeluruh mengenai kapasitas reduksi antioksidan (Maslahah, 2. Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi aktivitas antioksidan ekstrak dan fraksi daun rambutan (Nephelium lappaceum L. menggunakan metode FRAP serta menentukan nilai ICCICA sebagai indikator kekuatan aktivitas KAJIAN TEORITIS Radikal bebas merupakan molekul tidak stabil dengan satu atau lebih elektron tidak berpasangan yang mampu memicu reaksi berantai dalam tubuh. Akumulasi radikal bebas dapat menyebabkan stres oksidatif yang berdampak pada kerusakan biomolekul, termasuk lipid, protein, dan DNA. Kondisi ini berperan dalam patogenesis berbagai penyakit degeneratif. JIKKI - VOLUME 5. NOMOR 3. NOVEMBER 2025 E-ISSN : 2827-797X. P-ISSN : 2827-8488. Hal 685-703 seperti kanker, penyakit jantung, diabetes, serta penuaan dini (Maharani et al. , 2023. Prasetyo et al. , 2. Antioksidan adalah senyawa yang mampu menetralisir radikal bebas dengan menyumbangkan elektron tanpa menjadi reaktif. Sumber antioksidan alami dapat ditemukan pada buah, sayuran, dan tanaman obat, dengan senyawa aktif utama berupa polifenol, flavonoid, tanin, dan vitamin (Yasser et al. , 2. Daun rambutan (Nephelium lappaceum L. ) dilaporkan mengandung metabolit sekunder seperti flavonoid, tanin, dan saponin yang berperan sebagai antioksidan, antiinflamasi, serta antimikroba (Syamsunarno et al. , 2019. Husna et al. , 2. Flavonoid khususnya dikenal sebagai senyawa bioaktif dengan kapasitas tinggi dalam menghambat reaksi oksidatif. Kandungan bioaktif ini menjadikan daun rambutan berpotensi dikembangkan sebagai sumber antioksidan alami untuk aplikasi farmasi maupun kesehatan (Amrullah et al. , 2. Metode Ferric Reducing Antioxidant Power (FRAP) merupakan salah satu uji yang banyak digunakan untuk mengukur kapasitas antioksidan total. Prinsipnya didasarkan pada kemampuan senyawa antioksidan mereduksi ion FeAA menjadi FeAA pada panjang gelombang 595 nm. Keunggulan metode ini adalah prosedurnya yang sederhana, sensitif, dan dapat diaplikasikan pada berbagai jenis sampel (Maslahah, 2. Selain itu, teknik fraksinasi menggunakan pelarut dengan polaritas berbeda, seperti nheksana . on-pola. , etil asetat . emi-pola. , dan air . , memungkinkan pemisahan senyawa aktif berdasarkan tingkat kepolaran. Hal ini penting untuk mengetahui fraksi mana yang memiliki aktivitas antioksidan paling dominan (Waluya et al. , 2. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun rambutan memiliki aktivitas antioksidan kuat, baik dengan metode DPPH maupun ABTS (Aini et al. , 2023. Tambunan et al. , 2. Namun, kajian menggunakan metode FRAP serta perbandingan antarfraksi daun rambutan masih terbatas. Hal ini membuka peluang untuk penelitian lebih lanjut guna memperluas pemahaman tentang potensi antioksidan dari daun rambutan. METODE PENELITIAN Desain Penelitian Penelitian ini merupakan eksperimental laboratoris dengan desain kuantitatif Pendekatan ini digunakan untuk mengevaluasi aktivitas antioksidan ekstrak etanol dan fraksi daun rambutan (Nephelium lappaceum L. ) menggunakan metode Ferric Reducing Antioxidant Power (FRAP). Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak dan Fraksi Daun Rambutan (Nephelium lappaceum L. ) dengan Metode FRAP (Ferric Reducing Antioxidant Powe. serta Penetapan Flavonoid Total Waktu dan Tempat Penelitian Determinasi tanaman dilakukan di Unit Pelayanan Fungsional (UPF) Hortus Medicus. RSUP Dr. Sardjito. Tawangmangu. Karanganyar. Jawa Tengah. Penelitian laboratorium dilaksanakan pada bulan JuniAeJuli 2025 di Laboratorium Farmasi. Fakultas Ilmu Kesehatan. Universitas Duta Bangsa Surakarta. Variabel Penelitian Variabel bebas: jenis pelarut fraksinasi . -heksana, etil asetat, ai. Variabel terikat: aktivitas antioksidan . ilai FRAP dalam AAmol FeAAeq/g ekstra. dan kadar flavonoid total. Variabel kontrol: jumlah sampel, metode ekstraksi, kondisi laboratorium, panjang gelombang pengukuran . , serta kuersetin sebagai kontrol positif. Alat dan Bahan Alat yang digunakan meliputi spektrofotometer UV-Vis (ShimadzuA), rotary evaporator (BuchiA), mikropipet, timbangan analitik, oven pengering, corong pisah, water bath, dan peralatan gelas standar. Bahan penelitian adalah daun rambutan (Nephelium lappaceum L. etanol 96%, n-heksana, etil asetat, akuades, reagen FRAP (TPTZ. FeClCE, buffer asetat pH 3,. , serta kuersetin sebagai standar pembanding. Prosedur Penelitian Determinasi tanaman: Identifikasi spesimen dilakukan di UPF Hortus Medicus. RSUP Dr. Sardjito. Tawangmangu. Persiapan simplisia: Daun rambutan segar disortasi, dicuci, dipotong kecil, dikeringkan pada suhu 40Ae45AC, kemudian digiling hingga serbuk halus. Serbuk diayak mesh 40 dan dilakukan standarisasi . usut pengeringan, kadar air, kadar ab. Ekstraksi: Sebanyak 100 g serbuk simplisia dimaserasi dengan etanol 96% . :7,. selama 3 y 24 jam. Filtrat disaring dan diuapkan dengan rotary evaporator hingga diperoleh ekstrak Fraksinasi: Ekstrak etanol difraksinasi bertingkat menggunakan n-heksana, etil asetat, dan air dengan perbandingan 1:10 menggunakan corong pisah. Masing-masing fraksi diuapkan hingga kental. Skrining fitokimia: Uji kualitatif dilakukan untuk mendeteksi alkaloid, flavonoid, fenolik, tanin, saponin, steroid, dan terpenoid menggunakan pereaksi spesifik. Penetapan kadar flavonoid total: Dilakukan dengan metode kolorimetri menggunakan AlClCE dengan kuersetin sebagai standar. Hasil dinyatakan dalam mg quercetin equivalent (QE)/g ekstrak. JIKKI - VOLUME 5. NOMOR 3. NOVEMBER 2025 E-ISSN : 2827-797X. P-ISSN : 2827-8488. Hal 685-703 Uji aktivitas antioksidan (FRAP): Larutan sampel . kstrak dan fraks. serta kuersetin standar dipipet 1 mL, ditambahkan 3 mL pereaksi FRAP, dan diinkubasi pada suhu 37AC selama 30 menit. Absorbansi diukur pada 595 nm dengan spektrofotometer UV-Vis. Aktivitas antioksidan dinyatakan sebagai AAmol FeAAeq/g ekstrak. Analisis Data Pengukuran dilakukan dalam tiga replikasi, hasil disajikan sebagai rerata A standar deviasi (SD). Nilai FRAP dianalisis menggunakan persamaan regresi linier, sedangkan aktivitas antioksidan dikategorikan berdasarkan kekuatan nilai ICCICA: sangat kuat (<50 pp. , kuat . Ae100 pp. , sedang . Ae150 pp. , dan lemah (>150 pp. HASIL DAN PEMBAHASAN Determinasi tanaman Tanaman yang digunakan adalah daun rambutan (Nephelium lappaceum L. ) famili Sapindaceae, sesuai hasil determinasi di UPF Pelayanan Kesehatan Tradisional RSUP Dr. Sardjito. Kabupaten Karanganyar. Provinsi Jawa Tengah. Penyiapan Sampel Tumbuhan yang digunakan pada penelitian ini adalah daun rambutan yang berwarna hijau serta masih segar dan tidak cacat. Sampel daun Rambutan berasal dari Desa Ngringo. Jaten. Karanganyar. Pembuatan Serbuk Simplisia Proses pembuatan serbuk simplisia daun rambutan dilakukan melalui tahapan sortasi basah untuk menghilangkan kotoran, debu, ulat, daun rusak, dan benda asing lain yang mungkin terbawa saat pengumpulan sampel. Daun yang telah disortasi kemudian dicuci menggunakan air bersih mengalir guna memastikan kebersihan, dilanjutkan dengan perajangan untuk mempercepat proses pengeringan. Pengeringan dilakukan secara alami dengan bantuan sinar matahari dan diangin-anginkan selama tiga hari. Tahap pengeringan ini sangat penting untuk menurunkan kadar air, sehingga simplisia lebih tahan lama dan tidak mudah ditumbuhi jamur, patogen, maupun bakteri. Tabel 1. Rendemen Serbuk Simplisia Daun Rambutan. Bobot basah 6 . Bobot simplisia Bobot serbuk 2 . Rendemen (%) 33,3 % Hasil rendemen simplisia daun rambutan adalah sebesar 33,3 %, hasil tersebut telah memenuhi persyaratan ketetapan rendemen simplisia daun rambutan yaitu lebih dari 10 %. Semakin tinggi nilai rendemen simplisia maka semakin tinggi kandungan senyawa yang Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak dan Fraksi Daun Rambutan (Nephelium lappaceum L. ) dengan Metode FRAP (Ferric Reducing Antioxidant Powe. serta Penetapan Flavonoid Total diperoleh Jika rendemen kurang dari 10%. hal ini menunjukkan bahwa proses ekstraksi kurang efisien atau kualitas daun yang digunakan tidak bagus, sehingga menghasilkan senyawa aktif yang lebih sedikit (Tambunan et al. , 2. Standarisasi Simplisia Standarisasi simplisia dilakukan guna menjamin mutu dan stabilitas simplisia yang baik, pada penelitian kali ini menggunakan beberapa uji standar parameter simplisia, yaitu : Uji organoleptik Pengamatan uji organoleptik menggunakan alat panca indra didapatkan hasil sebagai Tabel 2. Uji Organoleptik Simplisia. Warna Hijau Aroma Khas daun Bentuk Serbuk halus Rasa Khas daun Serbuk simplisia daun rambutan memiliki karakteristik organoleptik yang baik, ditunjukkan dengan warna hijau alami, aroma dan rasa khas daun rambutan, serta bentuk serbuk yang halus. Ciri-ciri ini menunjukkan bahwa simplisia berada dalam kondisi yang baik dan layak untuk digunakan dalam proses ekstraksi atau formulasi lebih lanjut (Evifania et al. Susut pengeringan Simplisia Pengujian susut pengeringan bertujuan untuk memberi Batas ambang maksimal tentang banyaknya senyawa yang telah hilang pada saat proses pengeringan. Pengujian dilakukan di Laboratorium Farmasetika Universitas Duta Bangsa Surakarta. Tabel 3. Hasil Uji Susut Pengeringan Simplisia. Replikasi i Bobot krus sampel Bobot krus sampel 48,07 g 46,25 g 45,86 g 47,89 g 46,08 g 45,43 g Susut pengeringan (%) 4,7 % 4,5 % 4,4 % Rata Ae 4,5% Hasil pengujian, nilai susut pengeringan simplisia daun rambutan sebesar 4,2%. Nilai ini masih berada dalam batas maksimum yang diperbolehkan, yaitu O 10%, sesuai dengan standar parameter mutu simplisia. Hasil tersebut menunjukkan bahwa proses pengeringan telah dilakukan dengan baik dan efektif dalam mengurangi kadar air bebas tanpa merusak kandungan senyawa aktif. Susut pengeringan yang rendah juga menandakan bahwa simplisia memiliki stabilitas fisik yang baik dan kecil kemungkinan mengalami kerusakan akibat aktivitas mikroba atau degradasi kimia selama penyimpanan. Dengan demikian, simplisia daun rambutan JIKKI - VOLUME 5. NOMOR 3. NOVEMBER 2025 E-ISSN : 2827-797X. P-ISSN : 2827-8488. Hal 685-703 dinyatakan memenuhi syarat mutu untuk digunakan dalam proses selanjutnya (Andini et al. Uji kadar air Simplisia Penetapan kadar air dilakukan untuk mengetahui kadar air yang simplisia yang dapat berpengaruh dalam pertumbuhan mikroorganisme dan berdampak buruk pada kandungan senyawa aktif selama dilakukan proses penyimpanan. Tabel 4. Hasil Uji Kadar Air Simplisia. Pengujian Kadar air simplisia daun Berat serbuk Replikasi Rata rata (%) 2 gram Jadi. Hasil pengujian kadar air pada simplisia menunjukkan nilai sebesar 6,36%. Nilai ini mengindikasikan bahwa simplisia telah memenuhi standar kualitas yang ditetapkan, karena berada di bawah batas maksimum kadar air yang diperbolehkan, yaitu kurang dari 10%. Kadar air yang rendah ini penting untuk mencegah pertumbuhan mikroorganisme dan aktivitas enzimatis yang dapat merusak kandungan senyawa aktif dalam simplisia. Dengan demikian, simplisia dianggap stabil dan aman untuk disimpan dalam jangka waktu tertentu, serta layak digunakan dalam proses ekstraksi dan penelitian lanjutan (Andini et al. , 2. Uji kadar abu Penetapan kadar abu dilakukan untuk mengetahui kadar abu yang terdapat dalam simplisia yang dapat berpengaruh dalam pertumbuhan mikroorganisme dan berdampak buruk pada kandungan senyawa aktif selama dilakukan proses penyimpanan simplisia. Tabel 5. Hasil Uji Kadar Abu Simplisia. Berat krus Berat Berat krus kosong . 44,51 . 44,39 . 44,50 . 44,55 . 44,45 . 44,50 . Hasil (%) Rata-rata 2,5 % 2,5 % Berdasarkan hasil uji kadar abu simplisia daun rambutan sebesar 2. 5% sehingga telah memenuhi syarat yang telah ditentukan yaitu kurang dari 10%. Kadar abu simplisia daun rambutan yang baik seharusnya kurang dari 10%, karena menunjukkan kualitas yang lebih baik dan minim kontaminasi. Jika kadar abu lebih dari 10%, hal ini dapat menunjukkan adanya bahan pengisi yang tidak diinginkan dan dapat mengurangi kemurnian dan efektivitas senyawa aktif (Aini et al. , 2. Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak dan Fraksi Daun Rambutan (Nephelium lappaceum L. ) dengan Metode FRAP (Ferric Reducing Antioxidant Powe. serta Penetapan Flavonoid Total Pembuatan Ekstrak Serbuk simplisia daun rambutan (Neppelium lappaceum L) ditimbang sebanyak 600g lalu dimasukan kedalam wadah maserasi, setelah semua serbuk dimasukan ditambahkan pelarut etanol 96% kedalalam wadah sebanyak 3 L diamkan selama 3 x 24 jam sambil sesekali diaduk, setelah itu dilakukan remaserasi dengan etanol 96% sebanyak 3 L selama 2 x 24 jam sambil sesekali diaduk. Hasil maserasi disaring menggunakan kain flannel sebanyak tiga kali sehingga didapatkan hasil maserasi yang jernih atau tidak banyak serbuk simplisia yang ikut tersaring. Langkah selanjutnya hasil maserasi dievap menggunakan Rotary evaporator RE 100 - Pro yang dilakukan di Laboratorium farmakognosi dan bahan alam Universitas Duta Bangsa Surakarta, kemudian hasil evaporator dikentalkan menggunakan waterbath dengan tujuan mendapatkan hasil ekstrak yang kental pekat serta bebas etanol. Hasil pemekatan dilakukan perhitungan rendemen dengan tujuan mengetahui berapa banyak ekstrak yang didapatkan dari simplisia dengan rumus : Tabel 6. Rendemen ekstrak daun rambutan. Bobot serbuk . Bobot ekstrak . Rendemen (%) Standarisasi Ekstrak Standarisasi ekstrak dilakukan guna menjamin mutu dan stabilitas ekstrak yang baik, pada penelitian kali ini menggunakan beberapa uji standar parameter simplisia, yaitu : Uji organoleptik Pengamatan uji organoleptik menggunakan alat panca indra didapatkan hasil sebagai Tabel 7. Hasil Uji Organoleptik Ekstrak. Warna Hijau Khas daun Aroma Rasa Khas daun Bentuk Kental pekat Hasil pengamatan organoleptik, ekstrak daun rambutan (Nephelium lappaceum L. menunjukkan karakteristik warna hijau, aroma dan rasa khas daun rambutan, serta bentuk yang kental dan pekat. Hasil ini menunjukkan bahwa ekstrak berada dalam kondisi fisik yang baik dan tidak mengalami perubahan sensori yang dapat menandakan kerusakan atau degradasi (Wahyuni et. ,al 2. Uji kadar air Penetapan kadar air dilakukan untuk mengetahui kadar air yang terdapat dalam ekstrak karena dapat berpengaruh dalam pertumbuhan mikroorganisme dan berdampak buruk pada kandungan senyawa aktif selama dilakukan proses penyimpanan JIKKI - VOLUME 5. NOMOR 3. NOVEMBER 2025 E-ISSN : 2827-797X. P-ISSN : 2827-8488. Hal 685-703 Tabel 8. Hasil Uji Kadar Air Ekstrak. Pengujian Berat serbuk 2 gram 6,07% Kadar ekstrak daun rambutan Replikasi Rata rata (%) 5,78% 5,64% 5,83% Hasil penetapan kadar air serbuk simplisia daun rambutan sebesar 5. 83% sehingga telah memenuhi syarat yang telah ditentukan yaitu kurang dari 10% Jika kadar air simplisia daun rambutan lebih dari 10% dapat menyebabkan pertumbuhan mikroba dan penurunan kualitas, serta mengurangi daya simpan Sebaliknya, kadar air simplisia daun rambutan kurang dari 10% menunjukkan stabilitas yang lebih baik dan kualitas yang optimal untuk penggunaan (Yambese et al. , 2. Kadar Abu Kadar abu mengetahui gambaran kandungan mineral internal dan eksternal yang berasal dari proses awal sampai terbentuknya ekstrak. Tabel 9. Hasil Uji Kadar Abu Ekstrak. Berat krus kosong . 44,79 . 44,36 . 45,60 . Berat ekstrak Berat abu . 44,85 . 44,36 . 45,52 . Hasil (%) Rata-rata 3,3 % Berdasarkan hasil uji kadar abu simplisia daun rambutan sebesar 3. 3% sehingga telah memenuhi syarat yang telah ditentukan yaitu kurang dari 10%. Kadar abu simplisia daun rambutan yang baik seharusnya kurang dari 10%, hasil kadar abu ekstrak etanol daun rambutan dilakukan di Laboratorium Universitas Duta Bangsa Surakarta. Hasil pengujian kadar abu ekstrak etanol daun rambutan memenuhi syarat sebesar 8,17 % . , kadar abu yang baik adalah O 10%. (Aini et al. , 2. Uji Bebas Etanol Uji bebas etanol dilakukan untuk mengetahui masih ada atau tidaknya etanol yang terkandung dalam ekstrak pekat. Tabel 10. Uji Bebas Etanol. Sampel Ekstrak etanol daun Rambutan Uji Tidak berbau ester Ekstrak etanol daun rambutan dinyatakan bebas dari kandungan etanol berdasarkan hasil pengujian organoleptik, yaitu melalui pengamatan langsung terhadap aroma ekstrak. Pada saat dilakukan pemeriksaan, tidak terdeteksi adanya bau khas ester atau sisa pelarut etanol, yang biasanya mudah dikenali melalui penciuman. Ketiadaan aroma tersebut mengindikasikan Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak dan Fraksi Daun Rambutan (Nephelium lappaceum L. ) dengan Metode FRAP (Ferric Reducing Antioxidant Powe. serta Penetapan Flavonoid Total bahwa proses penguapan pelarut telah berlangsung secara optimal, kemungkinan melalui metode seperti pemanasan bertahap atau penggunaan rotary evaporator, sehingga etanol sebagai pelarut dapat menguap sepenuhnya (Lestari et al. , 2. Susut pengeringan ekstrak Tabel 11. Hasil Uji Susut Pengeringan Ekstrak. Replikasi Bobot krus Bobot krus Replikasi 1 45,86 45,74 4,4 % Replikasi 2 Replikasi 3 46,29 47,65 46,14 47,56 4,5 % 4,6 % Susut Rata-rata 4,5 % Hasil penetapan susut pengeringan ekstrak daun rambutan diperoleh nilai susut pengeringan sebesar 4,5%, sehingga telah memenuhi syarat yaitu kurang dari 10%. Jika susut pengeringan simplisia daun rambutan lebih dari10%, hal ini menunjukkan bahwa proses pengeringan mungkin terlalu lama atau suhu terlalu tinggi, yang dapat menyebabkan kehilangan senyawa aktif dan menurunkan kualitas daun (Veninda et al. , 2. Skrining Fitokimia Ekstrak etanol daun rambutan yang diperoleh diidentifikasi kandungan kimia yang terkandung di dalamnya. Hasil identifikasi kandungan kimia daun rambutan dapat dilihat pada Tabel berikut. Tabel 12. Uji Skrining Fitokimia Daun Rambutan. Senyawa Flavonoid Saponin Fenolik Steroid dan Tanin Alkaloid Prosedur 2 mL ekstrak ditambahkan dengan 2 mL air panas dan didihkan. Selanjutnya ditambahkan serbuk magnesium sebanyak 0,1 mg dan 1 mL HCl pekat. Campuran 2 mL ekstrak ditambahkan dengan 2 mL air panas dan didihkan. Selanjutnya ditambahkan serbuk magnesium sebanyak 0,1 mg dan 1 mL HCl pekat. Campuran dikocok. 1 mL ekstrak ditambahkan dengan 2 tetes larutan FeCl3 5% lalu campurkan dan di kocok. Uji terpenoid dilakukan dengan mereaksikan 1 mL ekstrak dengan 10 tetes asam asetat dan 2 tetes asam sulfat pekat melalui dinding tabung. Uji tanin dilakukan dengan mereaksikan 1 mL metanoldengan 10 tetes larutan FeCl3 10%. 1 gram ekstrak ditambahkan larutan amonia 30% 2 mL klorofom larutan asam klorida kocok hingga tercampur lalu dibagi dalam 2 tabung reaksi masingmasing ditambahkan pereaksi Dragendroff dan Hasil JIKKI - VOLUME 5. NOMOR 3. NOVEMBER 2025 Ket dan acuan (Emilia et al. , 2. Reaksi positif ditunjukkan dengan terbentuknya warna merah, kuning Bila busa yang terbentuk tetap stabil selama kurang lebih 7 menit, maka ekstrak positif mengandung saponin. warna hijau atau biru yang kuat ditunjukkan dengan terbentuknya merah atau ungu . , dan biru atau hijau . ungu, biru tua, biru, biru kehitaman, atau hijau kehitaman. Hasil ditunjukkan terbentuknya jingga atau adanya endapan jingga kemerahan . dan warna hijau atau adanya endapan warna putih. E-ISSN : 2827-797X. P-ISSN : 2827-8488. Hal 685-703 Bedasarkan uji fitokimia, ekstrak daun rambutan menunjukkan hasil positif terhadap seluruh senyawa metabolit sekunder yang diuji. Senyawa tersebut meliputi flavonoid, saponin, fenolik, tanin, alkaloid, steroid, dan terpenoid. Reaksi positif ditunjukkan melalui perubahan warna dan pembentukan endapan sesuai dengan prosedur masing-masing uji. Hasil ini menunjukkan bahwa ekstrak daun rambutan mengandung berbagai senyawa bioaktif yang berperan penting dalam aktivitas farmakologi, khususnya sebagai antioksidan alami (Emilia et , 2. Uji KLT (Kromatografi Lapis Tipi. Pengujian skrining fitokimia yang selanjutnya yaitu menggunakan metode kromatografi lapis tipis (KLT). Kromatografi lapis tipis KLT adalah metode pemisahan senyawa murni berdasarkan fase gerak dan diam. Sinar UV 366 nm Sinar UV 256 nm Keterangan : a. Sampel daun rambutan. Kuersetin Gambar 7. Uji KLT. Hasil pengujian senyawa flavonoid dengan uji menunjukkan bahwa ekstrak daun rambutan memiliki kandungaan senyawa flavonoid dengna nilai Rf 0,71 dan nilai kuarsetin 0,73. Nilai ini mendekati nilai Rf dari senyawa kuarsetin sebagai pembanding. Hal ini menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun rambutan positif mengandung flavonoid yang dibuktikan dengan penampakan warna bercak kuning dan nilai Rf yang memenuhi rentang yang baik yaitu 0,2-0,8 (Rohmah et al. , 2. Fraksinasi Sebanyak 10 g ekstrak kental yang didapatkan dari proses ekstraksi kemudian difraksinasi dengan metode ekstraksi cair-cair. Fraksinasi dilakukan untuk memisahkan senyawa berdasarkan tingkat kepolaran yang berbeda dalam dua pelarut yang memiliki tingkat kepolaran yang berbeda pula. Fraksinasi dengan ekstraksi cair-cair dilakukan dengan Prinsip pemisahan pada fraksinasi ini adalah berdasarkan pada perbedaan tingkat kepolaran dan perbedaan bobot jenis antara dua fraksi(Nurlaela et al. , 2. Pada penelitian Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak dan Fraksi Daun Rambutan (Nephelium lappaceum L. ) dengan Metode FRAP (Ferric Reducing Antioxidant Powe. serta Penetapan Flavonoid Total ini dilakukan fraksinasi ekstrak etanol daun rambutan dengan menggunakan 3 pelarut dengan polaritas yang berbeda yaitu n heksana, etil asetat dan air. Tabel 13. Hasil Fraksi Daun Rambutan. Bobot Ekstrak Pelarut Fraksi Bobot Fraksi Rendemen (%) . n-Heksana 3,40 Etil asetat 1,53 Air 1,51 n-heksana merupakan pelarut yang bersifat non-polar yang dimaksudkan untuk menghilangkan lemak dan mengekstraksi senyawa non-polar seperti asam lemak, sterol, kumarin, dan beberapa terpenoid. Pada proses fraksinasi, fase n-heksana akan menempati lapisan atas karena memiliki berat jenis yang lebih kecil dibandingkan fase air. Etil asetat merupakan pelarut yang bersifat semi-polar. Pelarut medium polar ini digunakan untuk mengekstraksi senyawa polar menengah seperti flavonoid, tanin, dan beberapa alkaloid. Pemilihan etil asetat sebagai pelarut didasarkan pada asumsi bahwa etil asetat dapat menggabungkan gugus polar dan non-polar sehingga komponen ekstrak yang bersifat polar maupun non-polar dapat terekstraksi. Berat jenis etil asetat lebih kecil dari air, sehingga fase etil asetat akan berada di lapisan atas. Air merupakan pelarut polar yang digunakan untuk ekstraksi senyawa polar seperti flavonoid, glikosida, tanin, dan beberapa alkaloid(Ageng Ary et al. , 2. Penetapan Kadar Flavonoid Total Tahap penetapan kadar flavonoid dimulai dari panjang gelombang maksimum, operating time dan pembuatan kurva baku kuersetin dapat dilakukan terlebih dahulu sebelum melakukan penetapan kadar total flavonoid pada ekstrak Daun rambutan (Nephelium lappaceum L. ) Dilakukannya penetapan panjang gelombang maksimum memiliki tujuan untuk menentukan panjang gelombang pengukuran dimana kompleks antara kuersetin dengan AlCl3 memberikan absorbansi yang optimum dan memberikan kepekaan tinggi (Suharyanto & Prima, 2. Penetapan panjang gelombang maksimum dilakukan pada panjang gelombang 400-450 nm. Dari penetapan panjang gelombang maksimum diperoleh 436 nm dengan absorbansi 0,55. JIKKI - VOLUME 5. NOMOR 3. NOVEMBER 2025 E-ISSN : 2827-797X. P-ISSN : 2827-8488. Hal 685-703 Gambar 8. Penetapan Panjang Gelombang flavonoid. Pengukuran pada panjang gelombang maksimum akan memberikan perubahan absorbansi paling besar untuk setiap satuan kadar, sehingga jika dibuat menjadi beberapa replikasi akan meminimalkan terjadinya kesalahan pengukuran. Panjang gelombang maksimum kuersetin yang telah diperoleh kemudian digunakan untuk menentukan operating time. s perlu dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui waktu paling stabil dalam pengukuran suatu senyawa yang diperoleh saat absorbansi. Operating Time Flavonoid Total Gambar 9. Kurva Baku Operating Time. Tabel 14. Tabel Operating Time Waktu Absorbansi Berdasarkan hasil penentuan operating time kuersetin yang diperoleh dapat diketahui bahwa nilai absorbansi yang stabil terletak pada menit ke 20-24. Pengukuran absorbansi dilakukan pada menit ke-20 diperoleh nilai absorbansi stabil pada angka 0. Hasil operating time yang diperoleh digunakan sebagai waktu perlakuan inkubasi larutan sebelum pengukuran. Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak dan Fraksi Daun Rambutan (Nephelium lappaceum L. ) dengan Metode FRAP (Ferric Reducing Antioxidant Powe. serta Penetapan Flavonoid Total yang bertujuan untuk membuat reaksi berjalan sempurna sehingga memberikan intensitas warna yang maksimal. Pengujian flavonoid total ekstrak daun rambutan (Nephelium lappaceum L. ) menggunakan pereaksi AlCl3 dan kuersetin sebagai pembanding. Kuersetin adalah flavonoid yang termasuk dalam kategori flavonoid yang memiliki aktivitas biologis yang signifikan, dibandingkan antioksidan dan vitamin C dan E (Kurniawati et al. , 2. Tabel 15. Hasil Flavonoid Total Kuersetin. Konsentrasi . Replikasi 1 Replikasi 2 Replikasi 3 Rata-rata Hasil uji menunjukkan bahwa nilai absorbansi kuersetin meningkat seiring dengan kenaikan konsentrasi, yaitu dari 0,304 pada 10 ppm hingga 0,791 pada 50 ppm. Peningkatan ini menunjukkan bahwa aktivitas antioksidan kuersetin bersifat konsentrasi-dependent yang berarti Aktivitas suatu senyawa secara biologis sangat ditentukan oleh tingkat konsentrasinya. Dengan demikian, kuersetin memiliki aktivitas antioksidan yang sangat kuat dan dapat digunakan sebagai standar pembanding dalam pengujian sampel. KURVA BAKU KUERSETIN Absorbansi y = 0. Gambar 10. Kurva baku kuersetin. Kurva baku kuersetin menunjukkan hubungan linier yang sangat kuat anatra konsentrasi dan nilai absorbansi, dengan persamaan regresi y= 0,0122x 0,1778 dan koefisien determinasi R2 = 0,9972. Nilai R2 yang mendekati 1 mengindikasikan bahwa peningkatan konsentrasi kuersetin secara konsisten meningkatkan nilai absorbansi. Tabel 16. Fraksi etil asetat. Sampel Replikasi 1 Replikasi 2 Replikasi 3 Absorbansi TFC JIKKI - VOLUME 5. NOMOR 3. NOVEMBER 2025 Rata-rata E-ISSN : 2827-797X. P-ISSN : 2827-8488. Hal 685-703 Tabel 17. fraksi air. Sampel Replikasi 1 Replikasi 2 Replikasi 3 Absorbansi TFC Rata-rata Rata-rata Rata-rata 095Ao Tabel 18. Fraksi n-heksana. Sampel Replikasi 1 Replikasi 2 Replikasi 3 Absorbansi TFC Tabel 19. Ekstrak daun rambutan. Sampel Replikasi 1 Replikasi 2 Replikasi 3 Absorbansi TFC Untuk mempermudah analisis data kadar flavonoid total diatas, maka data tersebut disajikan dalam benruk diagram sebagaimana ditunjukan pada gambar dibawah ini: Gambar 11. Data Dalam Bentuk Diagram. Berdasarkan hasil pengujian total flavonoid content (TFC) menunjukkan bahwa fraksi etil asetat memiliki kandungan flavonoid tertinggi, yaitu sebesar 53,600 mg QE/g dengan simpangan baku 0,274. Fraksi n-heksana menunjukkan nilai TFC sebesar 40,071 mg QE/g dengan simpangan baku 0,095, sedangkan fraksi etanol-air memiliki kandungan TFC sebesar 26,760 mg QE/g dengan simpangan baku 0,459. Adapun fraksi air menunjukkan nilai TFC paling rendah, yaitu sebesar 21,109 mg QE/g dengan simpangan baku 1,260. Hasil ini menunjukkan bahwa fraksi semi-polar . til aseta. lebih efektif dalam mengekstraksi senyawa flavonoid dibandingkan fraksi polar . maupun non-polar . -heksan. (Tampubolon et al. Hal ini didasarkan tingkat kepolaran pelarut dimana N-heksana . on pola. , sehingga kurang efektif untuk menarik senyawa flavonoid yang bersifat semi polar, sedangkan pelarut etil asetat . emi pola. , air . , dan etanol . mampu menggabungkan gugus polar dan non-polar sehingga komponen pada ekstrak yang bersifat polar dan non-polar dapat terekstrak Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak dan Fraksi Daun Rambutan (Nephelium lappaceum L. ) dengan Metode FRAP (Ferric Reducing Antioxidant Powe. serta Penetapan Flavonoid Total sehingga efektif untuk mengekstrak mengekstraksi senyawa yang bersifat polar diantaranya flavonoid (Eka Kumalasari et al. , 2. Penentuan Aktivitas Antioksidan Dengan Metode FRAP Dari hasil pengujian aktivitas antioksidan menggunakan metode FRAP terhadap larutan standar kuersetin, diperoleh persamaan regresi linier sebagai berikut: y = 2,506x 27,212 dan nilai RA = 0,9897, pada panjang gelombang maksimal 595 nm. Setelah dilakukan plot konsentrasi sampel terhadap persamaan regresi linier ini, diperoleh aktivitas antioksidan dari sampel berdasarkan nilai absorbansi yang dihasilkan, dan dinyatakan dalam ekuivalen kuersetin terlihat pada Tabel Tabel 20. Nilai pembanding kuersetin. Kosentrasi Absorbansi i RataRata % inhibisi IC50 Berdasarkan hasil pengujian aktivitas antioksidan, diperoleh bahwa nilai cenderung menurun seiring dengan peningkatan konsentrasi, sementara persentase inhibisi mengalami kenaikan dari 31,615% pada konsentrasi 2 ppm hingga 51,288% pada konsentrasi 10 ppm. Hal ini membuktikan bahwa aktivitas antioksidan bergantung pada konsentrasi. Nilai ICCICA yang diperoleh yaitu 90,93 ppm, yang dikategorikan sangat kuat (ICCICA < 50 pp. Dengan demikian, sampel memiliki potensi besar untuk di manfaatkan sebagai sumber antioksidan alami. Gambar 12. kurva baku kuersetin. Hasil grafik kuersetin menunjukkan bahwa semakin tinggi konsentrasi, semakin besar nilai absorbansi, yang mencerminkan kemampuan antioksidan yang sangat kuat. Hal ini menunjukkan bahwa kuersetin efektif dalam mereduksi radikal bebas, sehingga dapat dijadikan pembanding dalam uji aktivitas antioksidan ekstrak. JIKKI - VOLUME 5. NOMOR 3. NOVEMBER 2025 E-ISSN : 2827-797X. P-ISSN : 2827-8488. Hal 685-703 Penentuan Aktivitas Ekstak Daun Rambutan Dari hasil pengujian aktivitas antioksidan menggunakan metode FRAP terhadap larutan standar kuersetin, diperoleh persamaan regresi: y = 0,0637x 0,0884 dengan nilai RA = 0,9815, pada panjang gelombang 595 nm. Nilai RA yang tinggi menunjukkan adanya hubungan yang sangat baik antara konsentrasi kuersetin dan nilai absorbansi yang dihasilkan. Setelah dilakukan pemetaan nilai absorbansi sampel terhadap persamaan regresi tersebut, diperoleh data aktivitas antioksidan dari ekstrak berdasarkan konsentrasi. Hasilnya ditampilkan pada tabel berikut: Tabel 21. Nilai IC50 Ekstrak. Konsentrasi . Absorbansi Ratarata i 0,370 %Inhibisi IC50 Hasil analisis menunjukkan bahwa rata-rata nilai absorbansi mengalami penurunan seiring bertambahnya konsentrasi ekstrak, yang menandakan adanya peningkatan kemampuan dalam mereduksi radikal bebas. Persentase inhibisi tercatat naik dari 5,15% pada konsentrasi 2 ppm hingga 23,42% pada konsentrasi 10 ppm. Dari hubungan antara konsentrasi dengan persen inhibisi diperoleh nilai ICCICA sebesar 20,65 ppm. Nilai tersebut termasuk kategori aktivitas antioksidan sangat kuat karena berada jauh di bawah batas 50 ppm, sehingga ekstrak ini berpotensi tinggi dimanfaatkan sebagai sumber antioksidan alami. Gambar 13. kurva baku ekstrak. Hasil grafik menunjukkan bahwa semakin tinggi konsentrasi ekstrak rambutan, semakin besar persen inhibisi yang dihasilkan. Pola ini mencerminkan hubungan linier positif yang sangat kuat antara konsentrasi dan aktivitas antioksidan. Peningkatan tersebut menegaskan bahwa ekstrak rambutan memiliki kemampuan antioksidan yang sangat kuat, konsisten, dan berpotensi sebagai sumber antioksidan alami. Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak dan Fraksi Daun Rambutan (Nephelium lappaceum L. ) dengan Metode FRAP (Ferric Reducing Antioxidant Powe. serta Penetapan Flavonoid Total KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa ekstrak dan fraksi daun rambutan (Nephelium lappaceum L. ) terbukti memiliki aktivitas antioksidan yang sangat kuat, ditunjukkan melalui peningkatan persentase inhibisi seiring bertambahnya konsentrasi, dengan nilai ICCICA ekstrak sebesar 20,65 ppm dan fraksi sebesar 28,28 ppm, keduanya berada di bawah 50 ppm sehingga termasuk kategori aktivitas antioksidan sangat kuat. Temuan ini menegaskan potensi daun rambutan sebagai sumber antioksidan alami yang efektif berdasarkan metode FRAP. Untuk pengembangan penelitian selanjutnya, disarankan dilakukan isolasi senyawa aktif secara spesifik dari daun rambutan guna mengetahui senyawa dominan yang berperan dalam aktivitas antioksidan, serta dilakukan kajian mengenai aktivitas sitotoksik terhadap sel kanker untuk mengeksplorasi potensi farmakologis yang lebih luas. DAFTAR PUSTAKA