J A S 10 . Journal of Animal Science International Standard of Serial Number 2502-1869 Efektifitas Tepung Temulawak (Curcuma zanthorriz. sebagai Fitobiotik terhadap Performa dan Kualitas Karkas Broiler Muhammad Nur Hidayat* dan L. Ramadhani Jurusan Ilmu Peternakan. Universitas Islam Negeri Alauddin Makasasar *Corresponding Author: muhammad. nurhidayat@uin-alauddin. Article Info Abstrak Article history: Received 13 November 2024 Received in revised form 15 Maret 2025 Accepted 05 Mei 2025 Fitobiotik merupakan senyawa bioaktif yang berasal dari tanaman herbal maupun tanaman lain sebagai imbuhan pakan . eed additiv. pada ternak. Tujuan penelitian ini untuk mengkaji efektifitas tanaman obat temulawak sebagai fitobiotik terhadap performa dan kualitas karkas broiler. Rancangan penelitian menggunakan rancangan acak lengkap dengan 3 perlakuan, masing-masing perlakuan terdiri 5 ulangan yang terdiri 3 ekor broiler DOI: setiap ulangan. Varibel penelitian meliputi konsumsi pakan, pertambahan bobot badan, https://doi. org/10. 32938/ja. konversi pakan, konsumsi air minum, persentase karkas, persantase karkas. Bobot dan Keywords: persentase boneless, serta rasio boneless dan tulang. Hasil penelitian menunjukaan tidak Broiler ada pengaruh yang nyata (P>0,. pada variabel yang diukur. Penggunaan tepung Boneless temulawak level 1% hingga 2% pada pakan bukan level optimal dalam meningkatkan Fitobiotik performa dan kualitas karkas broiler. Terdapat kecenderungan penurunan bobot badan dan Kualitas Karkas persentase boneless serta rasio boneless dan tulang karkas dengan meningkatnya dosis Temulawak temulawak, walaupun secara statistik tidak berpengaruh nyata dengan perlakuan tanpa Performa penggunaan tepung temulawak. Penggunaan tepung temulawak level 1% hingga 2% pada pakan tidak mempengaruhi performa dan kualitas karkas broiler selama 28 hari. PENDAHULUAN Diperkiraan jumlah populasi manusia akan mencapai sekitar 9,3 miliar pada tahun 2050 (Krysiak & Konkol, 2. Hal ini akan diikuti peningkatan kebutuhan manusia akan pangan, seperti susu, daging dan Kebutuhan manusian akan daging produk peternakan sangat penting karena merupakan sumber protein hewani untuk pertumbuhan, perkembangan dan kecerdasan. Selain sebagai sumber protein, daging broiler juga memiliki kandungan nutrisi lain eperti, vitamin dan mineral. Oleh karena itu ternak broiler memiliki nilai yang strategis sebagai pangan sumber gizi terutama protein. Daging Broiler merupakan alternatif sumber protein untuk meningkatkan konsumsi protein hewani per kapita. Dalam merespon permintaan pasar global dan organisasi kesehatan internasional tentang keamanan pangan, maka industri perunggasan sedang mencari feed additive alternatif pengganti antibiotik yang layak secara ekonomis dan dapat mempertahankan performa unggas (Alkhalf et al. , 2. Selama beberapa dekade terakhir, antibiotik dalam pakan telah digunakan pada dosis sub-terapeutik dalam produksi unggas untuk mengendalikan bakteri patogen dan meningkatkan performa dan kualitas produk ternak (Jazi et al. , 2. Namun dalam penggunaanya menimbulkan beberapa masalah yang berpotensi merugikan kesehatan konsumen, seperti ditemukannya residu antibiotik dalam daging. Hal ini menyebabkan penggunaan antibiotik sebagai pemacu pertumbuhan (AGP) dilarang dalam nutrisi unggas (Shirani et al. , 2. Di Indonesia sejak tahun 2018 telah dikeluarkan aturan larangan penggunaan antibiotik sebagai AGP pada ternak unggas (Hidayat, et al. , 2. Oleh karena itu sangat dibutuhkan pengembangan alternatif feed additive yang aman sebagai penggati fungsi AGP untuk ternak sebagai penghasil pangan sumber protein. Salah satu dari banyak tanaman obat yang berpotensi untuk digunakan sebagai feed aditive pakan alami untuk ayam, yaitu temulawak. Temulawak (Curcuma zanthorriz. termasuk tanaman herbal yang mengandung beberapa senyawa metabolit sekunder yang memiliki sifat biologis penting dan terbanyak dari senyawa tersebut, yaitu kurkuminoid dan terpenoid (Zhang et al. , 2. Senyawa kurkumin memberikan efek positif terhadap pertumbuhan populasi bakteri baik, seperti Lactobacilli dan Bifidobacterial, serta menghambat perkembangan bakteri patogen, seperti Coriobacteriaceae. Enterobacteria. Enterococcus dan Prevotellaceae (Rahmat et al. , 2. Disamping itu kurkumin dapat memperbaiki tampilan limfosit darah, meningkatkan nafsu makan, memperbaiki fungsi hati dan meningkatkan sekresi empedu (Sutarto & Nuryati, 2. Manfaat kurkumin tersebut diharapkan pertumbuhan broiler menjadi optimal dan akhirnya menghasilkan karkas yang berkualitas. MATERI DAN METODE PENELITIAN Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan dilakukan dikandang percobaan Jurusan Peternakan Fakultas Sain dan Teknologi Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar. Hidayat M. N & L. Ramadhani. / Journal of Animal Science 10 . J A S 10 . Journal of Animal Science International Standard of Serial Number 2502-1869 Alat dan Bahan Bahan penelitian yang digunakan meliputi pakan komersil BP-11, rimpang temulawak, vaksin newcastle disease (ND-Lasot. dan desinfektan. Sedangkan alat-alat yang digunakan yaitu, kandang unit percobaan, tempat pakan dan minum, gasolek, lampu, spray gun, neraca digital. Metode Penelitian Sebanyak 45 ekor broiler berumur satu hari ditempakan di dalam 15 unit percobaan . endang percobaa. berukuran 80 x 60 x 60 cm . anjang x tinggi x leba. selama 28 hari. Setiap unit kendang percobaan dilengkapi tempat minum, tempat pakan dan litter. Desain peneitian menggunakan rancangan acak lengkap dengan 3 perlakuan, 5 ulangan yang diisi 3 ekor broiler. Perlakuan yang dicobakan, meliputi: T1 . T2 . epung temulawak 1%). T3 . epung temulawak 2%). Prosedur Penelitian Broiler dipilih berdasarkan keseragaman bobot badan setelah masa brooding . untuk ditempatkan ke dalam unit percobaan dan diberikan perlakuan selama 28 hari. Pakan dan air minum diberikan secara ad-libitum. Penerangan dimatikan pada malam hari pada pukul 22. 00 hingga pukul 05. Vaksinasi new castle desease (ND) diberikan pada umur 4 hari . etes mat. dan umur 21 hari . ir minu. Komposisi pakan komersil yang digunakan meliputi bungkil kelapa, jagung, bungkil kacang tanah, bungkil kedelai, dedak, tepung daging dan tulang, kanola, tepung daun, vitamin, pecahan gandum, tarace mineral, fosfat, enzim, dan kalsium. Pakan komersial yang digunakan ditambahkan dengan tepung temulawak sesuai level perlakuan penelitian. Pakan komersial yang ditambahkan tepung temulawak dihomogenkan dengan cara diaduk secara merata pada talang plastik. Pakan penelitian diberikan secara adlibitum. Kandungan nutrsi pakan komersil disajikan pada Tabel 1. Tabel 1. Kandungan Nutrisi Pakan Komersial Jenis Kandungan Protein Kasar (%) Serat Kasar (%) Kalsium (%) Posfor (%) Aflatoxin (AAg/k. Kadar Air (%) Lemak (%) Abu (%) Energi Metabolis (Kkal/k. Sumber: Pakan Komersial BP-11 Jumlah 20,0-23,0 Min. 0,8-1,10 Min. 0,50 Max 50 Maks. Min. Maks. Min. Variabel Penelitian 1 Performa Pada penelitian varibel performa meliputi pertambahan bobot badan, konsumsi air minum dan pakan, dan konversi pakan: A Konsumsi pakan diukur berdasarkan selisih jumlah sisa pakan akhir penelitian dengan jumlah pemberian pakan pada awal perlakuan diberikan. A Pertambahan bobot badan diperoleh dengan menghitung selisih bobot akhir dengan bobot awal. A Konversi pakan diukur dengan membandingkan jumlah konsumsi pakan dengan pertmabahan bobot A Konsumsi air minum diukur berdasarkan selisih air minum yang tersisa dengan pemberian air minum diawal. 2 Kualitas Karkas Kualitas karkas yang diukur meliputi persentase karkas, bobot dan persentase boneless, dan rasio bone dengan tulang. A Persentase karkas (%) diperoleh dengan membandingkan bobot karkas . dengan bobot akhir atau bobot panen . dikali 100% pada akhir penelitian A Bobot boneless . diperoleh setelah dipisahkan dengan tulang pada akhir penelitian A Persentase boneless diperoleh dengan membandingkan bobot bonoeless dengan bobot karkas . dikali 100%. A Rasio daging dan tulang diperoleh dengan membandingkan daging tanpa tulang . dengan tulang karkas dikali 100%. Analisis Data Analisis data dilakukan secara statistik menggunakan analysis of varians (ANOVA) atau anaisis ragam. Apabila perlakuan berpengaruh nyata (P<0,. atau sangat nyata (P<0,. dilanjutkan dengan uji Duncan untuk mengetahui perbedaan secara statistik antara perlakuan. Hidayat M. N & L. Ramadhani. / Journal of Animal Science 10 . J A S 10 . Journal of Animal Science International Standard of Serial Number 2502-1869 HASIL DAN PEMBAHASAN Performa Nilai rataan hasil penelitian yang diperoleh terhadap performa broiler yang meliputi konsumsi pakan, pertambahan bobot badan, konversi pakan dan konsumsi air minum yang diberikan temulawak (Curcuma xanthorrhiz. disajikan pada Tabel 2. Tabel 2. Nilai Rataan Konsumsi Pakan. Pertambahan Bobot Badan. Koneversi Pakan dan Konsumsi Air Minum Broiler yang Dipelihara selama 28 Hari. Perlakuan Variabel Konsumsi Pakan . /ekor/mingg. 623,08A26,74 567,75A32,03 549,25A3,57 Pertambahan Bobot badan . /ekor/mingg. 408,33A31,58 372,91A33,32 358,33A43,33 Konversi Pakan 1,55A0,08 1,53A0,35 1,59A0,01 Konsumsi air minum . L/ekor/mingg. 296,52A28,15 310,80A33,83 247,90A39,20 Hasil penelitian menunjukkan perlakuan tepung temulawak yang dicampur pakan tidak berpengaruh nyata (P>0,. terhadap komsumsi pakan. Nilai rataan konsumsi pakan berada pada kisaran 549,25 g/ekor/minggu sampai 623,58 g/ekor/minggu. Konsumsi pakan broiler cenderung berkurang dengan meningkatnya level pemberian tepung temulawak melalui pakan dibandingkan tanpa diberikan temulawak . Peningkatan tepung temulawak ditingkatakan dari 1% menjadi 2%, konsumsi pakan berkurang 3,47%. Konsumsi pakan berkurang sekitar 5,66% saat diberikan temulawak 2% (T. dibandingkan kontrol (T. Rasa pahit yang ditimbulkan tepung temulawak dapat mengurangi palatabilitas pakan, sehingga diduga sebagai faktor yang menyebabkan konsumsi pakan rendah. Kandungan minyak atsiri temulawak yang memiliki rasa tajam dan bau khas yang kuat dapat menjadi salah satu faktor menurunnya palatabilitas pakan, sehingga memberikan dampak terhadap kurangnya konsumsi pakan (Jumiati et al. Salah satu faktor yang dapat menurunkan konsumsi pakan dan bobot badan, yaitu rasa pahit yang ditimbulkan dari pakan yang dikonsumsi ayam (Khajali et al. , 2. Ini menunjukkan bahwa, indra pengecapan pada ayam merupakan salah satu indra terpenting dalam memperoleh dan memilih pakan (Yoshida et al. , 2. Level pemberian temulawak yang ditingkatkan menjadi 2% pada penelitian ini menyebabkan konsumsi pakan semakin berkurang. Hal ini diduga adanya rasa pahit yang ditimbulkan pakan dengan meningkatnya level tepung temulawak. Rasa pahit pada temulawak berasal senyawa kurkumin, namun senyawa ini tidak bersifat toksik (Rosidi, 2. Selain itu senyawa kurkumin juga menyebabkan temulawak memiliki warna kuning (Syamsudin et al. , 2. Kurkumin pada temulawak termasuk ke dalam golongan kurkuminoid yang merupakan salah satu senyawa aktif yang sangat berkhasiat. Pada penelitian ini konsumsi pakan broiler lebih rendah pada pemberian temulawak baik pada 1% maupun 2% dibandingkan broiler yang tidak diberikan temulawak . Hal ini menunjukkan bahwa pemberian temulawak harus dipertimbangkan penggunaanya pada broiler karena dapat menurunkan konsumsi pakan. Reseptor rasa pahit pahit pada ayam diekspresikan dalam jaringan ekstra pada mulut bagian langitlangit mulut, dasar rongga mulut dan pangkal lidah (Kawabata & Tabata, 2. Rasa pahit bagi ayam dianggap sebagai alarm atau indikator peringatan untuk tidak mengkosumsi bahan tersebut, karena ayam menganggap itu sesuatu yang membahayakan bagi dirinya (Kawabata & Tabata, 2. Indikasi rasa ini telah dikaitkan dengan identifikasi, pengenalan, dan penghindaran pakan (Hamdard et al. , 2. Oleh karena itu reseptor rasa pahit pada ayam diduga berperan besar dalam penginderaan rasa dan sistem fisiologis lainnya (Kawabata & Tabata, 2. Nilai rataan pertambahan bobot badan pada penelitian ini berada kisaran 358,33 g/ekor/ minggu sampai 408,33 g/ekor/minggu. Perlakuan pemberian tepung temulawak hingga 2% (P. cenderung mengurangi pertambahan bobot badan. Perlakuan tanpa pemberian tepung temulawak memiliki pertambahan bobot badan broiler paling tinggi, yaitu 401,375 g/ekor/minggu (P. Hasil penelitian sebelumnya juga menunjukkan, bahwa pemberian temulawak dari 1% hingga 3% yang dikombinasikan mineral zink cenderung memiliki pertambahan bobot badan lebih rendah dibandingkan broiler yang tidak diberikan tepung temulawak, bahkan pertambahan bobot badan menurun seiring meningkatnya level temulawak (Masti et al. , 2. Namun berbeda dengan penelitian yang menggunaan ekstrak temulawak 0,75 g/L melalui air minum mampu meningkatkan pertambahan bobot badan lebih baik, yaitu 514,85 g/ekor/minggu dibadingkan dengan perlakuan yang yang tidak diberikan temulawak hanya 442,33 g/ekor/minggu (Sutarto & Nuryati, 2. Adanya perbedaan hasil penelitian sebelumnya dengan hasil penelitian ini menujukkan, bahwa metode pemberian temulawak akan memberikan respon yang berbeda terhadap pertambahan bobot badan. Pemberian temulawak dalam bentuk ekstrak lebih baik dibandingkan dalam bentuk tepung. Level pemberian temulawak 1% hingga 2% dalam bentuk tepung menurunkan konsumsi pakan yang akhirnya berdampak pada permbahan bobot badan broier. Konsumsi pakan yang rendah pada perlakuan penambahan tepung temulawak dapat disebabkan rasa pahit yang ditimbulkan sehingga mengurangi palatabilatas pakan. Rasa pahit bagi ayam merupakan pengganggu rasa biologis yang paling penting dalam mengkonsumsi pakan (Hamdard et al. , 2. Hidayat M. N & L. Ramadhani. / Journal of Animal Science 10 . J A S 10 . Journal of Animal Science International Standard of Serial Number 2502-1869 Perlakuan pegunaan tepung temulawak terhadap konversi pakan tidak berpengaruh nyata (P>0,. Konversi pakan berkisaran 1,53 hingga 1,59. Konversi pakan secara numerik menunjukkan perlakuan penggunaan tepung temulawa 1% (T. lebih baik baik diantara semua perlakuan karena mimiliki konversi pakan paling rendah. Nilai konversi pakan yang menunjukkan tidak ada perbedaan nyata (P>0,. diantara perlakuan disebabkan nilai pertambahan bobot badan dan konsumsi pakan yang juga tidak ada perbedaan nyata (P>0,. Konversi pakan dipengaruhi oleh pertambahan bobot badan dan konsumsi pakan. Faktor utama yang berpengaruh terhadap pertambahan bobot badan dan konversi pakan pada broiler, yaitu konsumsi pakan (Ferket & Gernat, 2. Berdasarkan dari hasil analisis ragam diketahui bahwa penggunaan tepung temulawak melalui pakan pada broiler tidak ada pengaruh yang nyata (P>0,. pada konsumsi air minum. Konsumsi air minum berkisaran 247,90 mL/ekor/hari sampai 310,80 mL/ekor /hari atau 1. 170,88 mL/ekor/minggu sampai 244,72. mL/ekor/minggu. Konsumsi air minum lebih tinggi pada perakuan penggunaan temulawak dibandingkan yang tidak diberikan. Konsumsi air minum tertinggi pada perlakuan tepung temulawak 1%, namun cederung berkurang pada saat level 2%. Hal ini menunjukkan bahwa level 1 % merupakan level Kualitas Karkas Nilai rataan hasil penelitian yang diperoleh terhadap kulaitas karkas broiler yang meliputi persentase karkas, persentase dan bobot boneless . aging tanpa tulan. serta rasio boneless dengan tulang karkas yang diberikan temulawak (Curcuma xanthorrhiza Rox. disajikan pada Tabel 3. Tabel 3. Nilai rataan kualitas karkas broiler yang dipelihara selama 35 hari Variabel Persentase Karkas (%) Bobot Boneless . Persentase Boneless (%) Rasio Boneless dengan Tulang 66 A0,1 711A4,1 69,1A1,4 2,6A0,1 Perlakuan 65A1,2 669A3,3 67,7A0,1 2,3A0,2 65A0,1 638A2,3 66,6A0,1 2,2A0,2 Hasil penelitian menunjukkan perlakuan pemberian tepung temulawak melalui pakan tidak berpengaruh nyata (P>0,. terhadap persentase karkas, bobot dan persentase boneless, dan rasio boneless dengan tulang karkas. Persentase karkas tertinggi pada perlakuan tanpa pemberian temulawak (T. , yaitu Sedangkan persentase karkas perlakuan pemberian tepung temulawak pada level 1%(T. dan 2% (T. masing-masing 65%. Nilai rataan persentase karkas pada penelitian ini lebih rendah dibandingkan penelitian penggunaan tepung temulawak 1% hingga 3% pada broiler yang dipelihara 35 hari . yang menghasilkan bobot badan akhir 1707,13 g/ekor sampai 1867,25 g/ekor dengan persentase karkas 75,83% hingga 76,95% (Jumiati et al. , 2. Hal ini menunjukkan, bahwa perbedaan level pemberian temulawak dapat mempengaruhi persentase karkas broiler. Broiler yang dipelihara lebih lama memungkinkan pertumbuhan otot terus bertambah, sehingga menghasilkan bobot akhir . obot pane. lebih tinggi dan akhirnya mempengaruhi persentase karkas. Bobot boneless tertinggi . ,0 . pada penelitian ini terdapat perlakuan tanpa penambahan tepung temulawak (T. , sedangkan boneless teredah . terdapat pada perlakuan penggunaan tepung temulawak 2% (T. Rasio boneless dengan tulang tertinggi 2,6 pada perlakuan kontrol (T. dan terendah . pada perlakuan penggunaan tepung temulawak 2% (T. Pada perlakuan tanpa penggunaan tepung temulawak (T. menunjukkan memiliki boneless lebih banyak pada karkas persatuan tulang. Hal ini dapat dilihat pada bobot dan persentase boneless serta rasio boneless dengan tulang. Diduga pemberian tepung temulawak selama 28 hari pada penelitian tidak sesuai level untuk mengoptimalkan pembentukan otot Bobot akhir broiler pada saat dipotong akan mempengaruhi persentase karkas, yaitu meningkatnya persentase boneless karkas. Disisi lain terdapat hubungan yang negatif antara persentase tulang dengan bertambahnya bobot badan (Patriani & Hafid, 2. Hal ini terlihat pada perlakuan tanpa penggunaan tepung temulawak (T. yang memiliki bobot badan panen yang lebih tinggi . ata tidak disajika. juga memiliki bobot dan persentase boneless serta rasio boneless dengan tulang yang lebih baik diantara perlakuan lainnya. SIMPULAN Penggunaan tepung temulawak level 1% hingga 2% pada pakan tidak mempengaruhi performa dan kualitas karkas broiler selama 28 hari. PUSTAKA