Jurnal Abdikemas Vol. 7 Nomor 2. Desember 2025 DOI: 10. 36086/abdikemas. ISSN: 1978-1520 PELATIHAN PENANGANAN GAWAT DARURAT DI LINGKUNGAN PELATIHAN PENANGANAN GAWAT DARURAT DI LINGKUNGAN SEKOLAH SMAN 3 KOTA PRABUMULIH TAHUN SEKOLAH SMAN 3 KOTA PRABUMULIH TAHUN mergency handling training in the school environment of sman 3 kota prabumulih in EMERGENCY HANDLING TRAINING IN THE SCHOOL ENVIRONMENT Received: 02 Desember 2025 Revised: 10 Desember 2025 Accepted: 24 Desember 2025 Suryanda1. Nelly Rustiati2 2 Poltekkes Kemenkes Palembang. Sumatera Selatan. Indonesia e-mail: suryanda@poltekkespalembang. id1,nellyrustiati@poltekkespalembang. Abstract Knowledge aid for can affect the injury, if inappropriate Knowledge and skillsin in for victims the of of the even if aid effortsfirst Every is required to have efforts the can victim. the student. Every is required to have in handling this do not time,place, or even and skills in handling this do place, not respect Theavailable. training aims of students of SMAN 3 Kota or even the The to the skills of students ofPrabumulih SMAN 3 first aid inemergency their immediate The training uses counseling. Kota Prabumulih in providing first aid in their immediate The discussion, training uses Participants post-tests counseling, discussion, and demonstration methods. Participants were given pre- and post-tests using Participantstheir to 30 people. The results ofwere the activity the importance of of to determine of understanding. Participants to 30 people. The results of various elements of high school in reducing the activity indicate the importance of the of various of society, can certainly be widely publicizedThis as an that can beasdeveloped and is students, inThis the number of casualties. certainly intervention be widely publicized an alternative intervention that can be developed and is dynamic. Keywords: Keywords: Traffic Traffic accidents, accidents, skills, skills, victim victim handling Abstrak Pengetahuan dan keterampilan dalam pertolongan pertama gawat darurat pada korban dapat mempengaruhi. tingkat keparahanbahkan akibat upaya pertolongan yang tidak tepat, hal ini justru membahayakan korban. Setiap siswa tanpa terkecuali wajib memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam penanganan kondisi gawat darurat karena kondisi seperti ini tidak memandang tempat, waktu bahkan sehebat apapun teknologi yang ada. Pelatihan bertujuan sebagai suatu upaya meningkatkan keterampilan siswa SMAN 3 Kota Prabumulih dalam melakukan pertolongan pertama gawat darurat dilingkungan terdekatnya. Pelatihan menggunakan metode penyuluhan dan diskusi serta demonstrasi. Para peserta diberikan pre test dan post test menggunakan kuestioner untuk mengetahui tingkat pemahaman peserta. Peserta dibatasi 30 orang. Hasil kegiatan mengindikasikan pentingnya partisipasi berbagai elemen masyarakat khususnya siswa SMA dalam menekan angka korban jiwa. Hal ini tentu saja dapat dipublikasikan secara luas sebagai salah satu alternative intervensi yang dapat dikembangkan dan dinamis. Kata kunci: Pelatihan, gawat darurat, siswa SMA PENDAHULUAN Pendidikan dan kesehatan adalah dua tiang utama dalam mengembangkan sumber daya manusia yang berkualitas. Di sekolah, kemungkinan terjadinya keadaan darurat, baik yang disebabkan oleh cedera ringan, kondisi medis yang tiba-tiba, maupun keadaan mendesak lainnya, tidak bisa dihindari. Kecepatan dan akurasi dalam menangani kasus darurat sangat penting karena dapat mempengaruhi hasil akhir bagi korban, bahkan berpotensi menyelamatkan nyawa. Sayangnya, banyak anggota komunitas sekolah yang belum memiliki pengetahuan dan keterampilan dasar yang cukup untuk memberikan pertolongan pertama yang efektif sebelum bantuan medis profesional datang. SMAN 3 Kota Prabumulih, sebagai lembaga pendidikan yang berkomitmen untuk memastikan keselamatan dan kesejahteraan siswanya, memiliki kebutuhan yang mendesak untuk meningkatkan kemampuan dalam menangani keadaan darurat. Siswa, khususnya yang terlibat dalam kegiatan P-ISSN 2829-5838 | E-ISSN 2829-2669 uly201x : first_pageAeend_page Suryanda. Nelly Rustiati ekstrakurikuler atau organisasi seperti Palang Merah Remaja (PMR), merupakan pihak yang paling mungkin berada di tempat kejadian saat insiden terjadi. Oleh karena itu, memberikan pelatihan kepada mereka adalah langkah yang sangat strategis. Berdasarkan pengamatan awal, mayoritas siswa di SMAN 3 Kota Prabumulih belum menguasai dengan baik prinsip-prinsip fundamental dalam penanganan situasi darurat . eperti Bantuan Hidup Dasa. , pengenalan tanda-tanda bahaya, dan prosedur pertolongan pertama yang sesuai dengan standar Kurangnya pemahaman dan kemampuan ini dapat mengakibatkan kesalahan dalam penanganan awal yang malah dapat memperburuk keadaan korban. Pengebdian kepada masyarakat melalui pelatihan penanganan gawat darurat ini bertujuan untuk meningkatkan wawasan siswa SMAN 3 Kota Prabumulih tentang pengenalan kondisi darurat dan dasar-dasar keselamatan. Para siswa diharapkan mendapatkan pengetahuan tambahan dan keterampilan yang memadai khususnya dalam pertolongan bagi diri sendiri, keluarga, teman dan orang-orang dekatnya. Siswa diharapkan memiliki pula keberanian dan tanggungjawab yang lebih besar dalam upaya menyelamatkan nyawa orang lain Selain itu dengan adanya keterampilan dari para siswa terkait metode-metode pertolongan pertama untuk situasi darurat yang sering muncul di area sekolah contohnya, pingsan, tersedak, luka, dan cedera akibat olahraga, maka dapat mencegah resiko yang lebih besar dari cedera dan termasuk juga hal yang mengancam nyawa. Untuk lingkungan sekolah sendiri diharapkan terbentuknya kelompok siaga/respon cepat di antara siswa yang memiliki kemampuan dasar dalam penanganan situasi darurat di lingkungan Sekolah mampu memberikan lingkungan yang aman dan nyaman bagi siswa, guru dan semua orang yang berada dalam lingkungan sekolah. Sekolah menjadi institusi yang tanggap terhadap kondisi gawat darurat yang mengancam keselamatan seluruh anggotanya. Pada akhirnya sekolah juga mampu membuat perencanaan dan upaya mitigasi terhadap bencana dengan baik. METODE Tahap awal dalam kegiatan ini adalah survey lokasi dan kebutuhan pengguna yang dilakukan pada awal bulan maret 2025 melibatkan tim pengabdian masyarakat dengan pihak pelaksana teknis kesehatan UPT Puskesmas di Kota Prabumulih. Hasil diskusi dan wawancara dan dikaitkan dengan unggulan Poltekkes Kemenkes Palembang tahun 2025-2030, maka disepakati focus kegiatan, subjek penelitan, waktu dan lokasi penelitan. Setelah prososal diajukan dan disetujui selanjutnya Tim pengabdian masyarakat mengajukan permohonan penelitian pada SMAN 1 Kota Prabumulih dan membuat surat penugasan tim. Kegiatan pelatihan yang dilakukan oleh tim pengabdian masyarakat Poltekkes Palembang Prodi keperawatan Baturaja dilakukan dengan memanfaatkan waktu yang bersamaan dengan masa orientasi sekolah pada tanggal 12 -14 Juni 2025, sehingga tidak mengganggu proses belajar mengajar. Adapun pengabdian kepada Masyarakat di SMAN 3 Kota Prabumulih dilakukan oleh Tim dosen yang diikuti oleh 30 orang siswa. Kegiatan ini berlokasi di gedung aula SMAN 3 Kota Prabumulih. Pelatihan ini menggunakan metode ceramah, diskusi. Tanya jawab dan demonstrasi dengan media brosur, poster dan bahan presentasi. Sedangkan untuk demonstrasi, tim pengabdian masyarakat menggunakan boneka phantom dan scoup atau LSB. Kegiatan dihari pertama sebelum kegiatan, setiap peserta diminta untuk menjawab pertanyaan yang disediakan dalam form kuestioner yang berisi pertanyaan terkait pengetahuan siswa sebelum diberikan intervensi. Selanjutnya sesi materi teori meliputi pengetahuan tentang managemen pernafasan dan jalan nafas pada kasus tersedak. Resusitasi, pembalutan dan pembidaian pada kasus luka benda tajam dan tumpul, dan evakuasi serta mobilisasi korban di tempat sempit atau daerah terjal. Mengakhiri sesi hari pertama dilakukan diskusi dan Tanya jawab dengan para peserta pelatihan. Hari kedua mulai melakukan praktek secara bergantian, meliputi praktek maneuver hamlich, membersihkan jalan nafas dan pemberian ventilasi. Selajutnya peserta diberikan pemahaman tentang tekhnik dan penatalaksanaan Resusitasi jantung Paru dan prakteknya menggunakan bonek phantom. Materi selanjutnya adalah cara menghentikan pendarahan dan mengurangi nyeri dengan pembalutan luka dan pembidaian. Bahan yang digunakan adalah kain segitiga . Para peserta diajarkan cara pembalutan mitela di kepala dan tangan, serta pembidaian di bagian tangan dan kaki. Beberapa peserta diminta juga bersedia menjadi klien model untuk demonstrasi tersebut. Materi terakhir hari kedua P-ISSN 2829-5838 | E-ISSN 2829-2669 Jurnal Abdikemas Vol. 7 Nomor 2. Desember 2025 DOI: 10. 36086/abdikemas. ISSN: 1978-1520 adalah mobilisasi dan evakuasi korban. Para peserta diajarkan bagaimana cara mengangkat, memindahkan atau melakukan evakuasi korban kecelakaan lalulintas. Menutup sesi hari kedua dibuka Tanya jawab dan diskusi antara peserta dengan tim Pengabdian masyarakat. Pada hari ketiga peserta melakukan simulasi kegiatan dengan menggunakan scenario kasus yang sudah dibuat oleh tim pengabdian masyarakat. Masing-masing peserta diminta memahami dan mempelajari terlebih dahulu scenario tersebut, selanjutnya dibagi dalam beberapa kelompok sesuai dengan tugas dan tanggung jawabnya, antara lain : penolong pada korban dengan henti nafas akibat tersedak, penolong dengan korban luka atau perdarahan di kepala, kaki, tangan dan dada serta perut. Selanjutnya kelompok yang akan melakukan evakuasi, baik manual maupun menggunakan alat Setiap kegiatan diarahkan dan di evaluasi langsung oleh tim pengabdian masyarakat. Setelah acara simulasi selesai, para peserta diminta mengisi kembali post test sebagai evaluasi pencapaian hasil kegiatan ini. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil kegiatan pengabdian masyarakat adalah sebagai berikut: Tabel 1. Pengetahuan Siswa SMAN 3 Kota Prabumulih sebelum pelatihan. Pengetahuan Jumlah Persentase Baik 13, 4 Kurang Jumlah Hasil penilaian pre test yang menunnjukkan bahwa nilai pengetahuan siswa SMAN 3 Kota Prabumulih pada tindakan kegawatdaruratan masih relative rendah, yaitu dari 30 peserta hanya 4 . ,4%) orang yang nilainya baik sedangkan 26 orang . ,6%) tingkat pengetahuanya masih Hal ini terjadi karena masih kurangnya paparan informasi terkait tindakan tersebut, menurut Notoadmojo, 2003 mengatakan bahwa pengetahuan adalah merupakan hasil dari tahu dan ini setelah orang melakukan pengindraan terhadap obyek tertentu. Pengindraan terjadi melalui panca indera manusia, yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Oleh karena itu keputusan untuk memberikan pelatihan pada siswa SMAN 3 Kota Prabumulih menjadikan hal yang mendasar untuk dapat meningkatkan pengetahuan siswa. Tabel 2. Pengetahuan Siswa SMAN 3 Kota Prabumulih setelah pelatihan. Pengetahuan Jumlah Persentase Baik Kurang Jumlah Tabel 2 yang menunjukkan perbedaan hasil signifikan setelah dilakukannya pelatihan pada Siswa SMAN 3 Kota Prabumulih. Terlihat bahwa pengetahuan siswa meningkat, jumlah siswa yang nilainya baik menjadi 22 orang . ,4 %), meskipun masih terdapat pengetahuan siswa yang masih kurang sebanya 8 orang . ,6%). Mengingat pengetahuan seseorang itu juga bias dipengaruhi oleh beberapa factor, menurut Sukmadinata, 2003 faktor itu adalah faktor internal yaitu segala sifat dan kecakapan yang dimiliki atau dikuasai individu dalam perkembangannya, diperoleh dari hasil keturunan dan faktor eksternal yang merupakan segala sesuatu penerimaan individu dari Menurut Notoadmojo, 2007 bahwa seseorang dikatakan mengerti suatu bidang P-ISSN 2829-5838 | E-ISSN 2829-2669 uly201x : first_pageAeend_page Suryanda. Nelly Rustiati tertentu apabila orang tersebut dapat menjawab secara lisan atau tulisan. Sekumpulan jawaban verbal yang diberikan orang tersebut dinamakan pengetahuan . Grafik. 1 Perbandingan nilai Pengetahuan siswa Pre dan Post test Grafik Hasil Pre dan Post Pelatihan 43 45 43 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 Nilai Pre test Nilai Post test Grafik 1 diatas menunjukan perbandingan hasil penilaian antara pre test dan post test secara langsung dengan interval yang cukup rapat tetapi menunjukkan gambaran bahwa hasil dari analisis pre dan post test didapatkan adanya kemajuan yang berarti dalam pengetahuan siswa SMA terkait tindakan gawat darurat setelah mereka mengikuti pelatihan. Ini menunjukkan bahwa pelatihan yang dilakukan tersebut berhasil dalam meningkatkan pengetahuan dan pemahaman siswa menghadapi situasi darurat. Dengan demikian, program pelatihan ini diyakini bisa dijadikan sebagai contoh pendidikan pencegahan yang bermanfaat di lingkungan sekolah. Tabel 3. Keterampilan Siswa SMAN 3 Kota Prabumulih setelah pelatihan Rata rata Nilai Manuver Hamlich Head tild Chin Lips Memeriksa denyut Nadi Menghitung pernafasan Menghitung Nadi Memasang mitela dikepala Memasang mitela di tangan Memasang biday Manual RJP Recovery position Mengangkat korban Mengangkat korban lebih dari 1 penolong Mengangkat menggunakan tandu atau Scoop /LSB Persentase Tabel 3. diatas menunjukkan bahwa dari 30 orang peserta berhasil didapatkan rata-rata nilai untuk tiap item keterampilan yang diberikan dengan skala penilaian 10 Ae 100. Didapatkan hasil adalah item yang rata-rata nilainya paling tinggi adalah menghitung pernafasan atau respiratory rate adalah dengan nilai 96,1 dan rata rata nilai yang paling rendah adalah item penilaian keterampilan P-ISSN 2829-5838 | E-ISSN 2829-2669 Jurnal Abdikemas Vol. 7 Nomor 2. Desember 2025 DOI: 10. 36086/abdikemas. ISSN: 1978-1520 pemasangan bidai, yaitu 76,1. Secara keseluruhan penilaian tiap item adalah baik bahkan beberapa itim menunjukkan sangat baik. Hal ini menunjukaan bahwa kegiatan pelatihan telah mampu meningkatkan pengetahuan dan keterampilan peserta. Metode pelatihan cukup efektif dalam meningkatkan pemahaman siswa SMAN 3 Kota Prabumulih. Bila membandingkan dengan penilaian pengetahuan siswa SMAN 3 Kota Prabumulih setelah diberikan pelatihan gawat darurat yang menunjukkan perbedaan yang cukup signifikan dengan sebelum diberikan pelatihan maka menurut Supriyanto, 2016 mengatakan bahwa dalam penguasaan keterampilan seseorang dipengaruhi oleh pengetahuan, pengalaman, dan keinginan atau motivasi. Tentu saja siswa SMAN 3 Kota Prabumulih memerlukan lebih banyak lagi pengalaman selain keinginan yang kuat untuk belajar dan motivasi dari orang tua, guru, teman dan tentu saja semua pihak yang peduli dengan dengan generasi muda, generasi penerus bangsa ini. Gambar 1. Foto tim Pengabdian Masyarakat . Gambar 2. Demonstrasi . Pembidaian . RJP P-ISSN 2829-5838 | E-ISSN 2829-2669 uly201x : first_pageAeend_page Suryanda. Nelly Rustiati KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Berdasarkan hasil pelaksanaan Pelatihan Penanganan Gawat Darurat di Lingkungan Sekolah SMAN 3 Kota Prabumulih Tahun 2025, dapat disimpulkan beberapa hal utama: Terdapat perbedaan yang nyata antara hasil pre-test dan post-test, yang menunjukkan bahwa siswa peserta pelatihan mengalami peningkatan pemahaman terhadap konsep dasar, identifikasi, dan langkah-langkah awal dalam menangani situasi darurat. Hasil post-test yang lebih baik menegaskan keberhasilan metode pengajaran yang dipakai, seperti ceramah dan diskusi, dalam memindahkan ilmu kepada siswa. Dalam hal keterampilan menunjukkan peningkatan yang signifikan saat melakukan simulasi penanganan keadaan darurat, seperti maneuver Haemlich saat korban tersedak, penanganan luka dengan mitela, dan evakuasi korban baik sendirian atau menggunakan alat bantu. Hal ini menunjukkan bahwa metode pelatihan langsung yang diterapkan berhasil mengubah pengetahuan teori menjadi kemampuan praktik yang nyata. Saran Perlunya Pelatihan Penyegaran Berkala Disarankan agar SMAN 3 Kota Prabumulih melaksanakan pelatihan penyegaran setidaknya satu kali dalam setahun. Hal ini diperlukan untuk menjaga dan mempertajam kembali keterampilan yang telah diperoleh, mengingat bahwa keterampilan dalam penanganan situasi darurat cenderung dapat hilang jika tidak dilatih secara rutin. Pembentukan Tim Respon Darurat Sekolah: Sekolah dianjurkan untuk secara resmi membentuk tim utama respon darurat yang terdiri dari siswa yang mengikuti pelatihan ini, dilengkapi dengan kotak P3K standar, serta menyediakan jadwal latihan rutin yang akan dibimbing oleh guru dan tim kesehatan. Integrasi Materi Kesehatan ke dalam Kurikulum: Sangat dianjurkan agar bahan ajar mengenai penanganan keadaan darurat dan keselamatan dapat dimasukkan minimal ke dalam program rutin atau dalam kegiatan ekstrakurikuler, khususnya PMR, sehingga pendidikan ini dapat berlanjut untuk generasi siswa selanjutnya. Pengawasan dan Penilaian Jangka Panjang: Diperlukan pengawasan serta penilaian jangka panjang untuk mengevaluasi dampak nyata dari pelatihan ini, misalnya dengan melakukan simulasi kasus nyata di lingkungan sekolah, untuk memastikan bahwa keterampilan yang telah diajarkan dapat diterapkan saat dibutuhkan. UCAPAN TERIMA KASIH Penulis mengucapkan terima kasih kepada kepala sekolah dan dewan guru SMAN 3 Kota Prabumulih yang telah berkenan mengizinkan kegiatan pengabdian masyarakat ini. DAFTAR PUSTAKA