EL HAYAH: Jurnal Studi Islam. Vol. 15 No. 1 Juni 2025 ISSN : 2086 - 4337 E-ISSN 2809-7920 Meningkatkan Pemahaman Nilai-Nilai Islam Melalui Evaluasi Berbasis Karakter Lilis Andria Ningsih Universitas PGRI Wiranegara lilisanddrianingsih@gmail. Amelia Nurul Fiqri Universitas PGRI Wiranegara amelianurulfiqri101@gmail. Abstract This article will discuss the importance of character-based evaluation in the context of Islamic education, as well as how this approach can help strengthen the understanding of Islamic values among the younger generation. understanding and implementing this evaluation, it is hoped that we can create a generation that not only understands religious teachings, but is also able to practice them in daily life. This research is a descriptive qualitative research with a literature review approach. This approach is used to analyze various articles relevant to the understanding of Islamic values and character-based evaluation. The source of data in this study is scientific articles published in accredited EL HAYAH: Jurnal Studi Islam. Vol. 15 No. 1 Juni 2025 ISSN : 2086 - 4337 E-ISSN 2809-7920 The data source criteria included articles that discussed Islamic values in education and that highlighted the application of character-based evaluation. Overall, character-based evaluation plays a significant role in improving the understanding and internalization of Islamic values in students. Through comprehensive and continuous assessment, educators can ensure that Islamic values are not only cognitively understood, but also manifested in real behavior, forming a generation of noble character in accordance with Islamic teachings. Future studies may explore more inclusive evaluation methods, such as collaboration between schools and communities, as well as examine the application of technology in character-based evaluation. This study emphasizes the importance of character-based education in forming a superior generation. Keywords: Based Evaluation. Islamic Values. Character Education. Abstrak Artikel ini akan membahas pentingnya evaluasi berbasis karakter dalam konteks pendidikan Islam, serta bagaimana pendekatan ini dapat membantu memperkuat pemahaman nilai-nilai Islam di kalangan generasi muda. Dengan memahami dan menerapkan evaluasi ini, diharapkan kita dapat menciptakan generasi yang tidak hanya paham akan ajaran agama, tetapi juga mampu mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi pustaka . iterature revie. Pendekatan ini digunakan untuk menganalisis berbagai artikel yang relevan dengan pemahaman nilai-nilai islam dan evaluasi berbasis karakter. Sumber data dalam penelitian ini artikel ilmiah yang dipublikasikan di jurnal terakreditasi. Kriteria sumber data mencakup artikel yang membahas tentang nilai-nilai Islam dalam pendidikan dan yang menyoroti penerapan evaluasi berbasis karakter. Secara keseluruhan. EL HAYAH: Jurnal Studi Islam. Vol. 15 No. 1 Juni 2025 ISSN : 2086 - 4337 E-ISSN 2809-7920 evaluasi berbasis karakter memainkan peran signifikan dalam meningkatkan pemahaman dan internalisasi nilai-nilai Islam pada siswa. Melalui penilaian yang komprehensif dan berkelanjutan, pendidik dapat memastikan bahwa nilai-nilai keislaman tidak hanya dipahami secara kognitif, tetapi juga diwujudkan dalam perilaku nyata, membentuk generasi yang berakhlak mulia sesuai dengan ajaran Islam. Evaluasi berbasis karakter efektif dalam mendukung internalisasi nilainilai seperti kejujuran, tanggung jawab, dan disiplin, serta relevan untuk menghadapi tantangan sosial dan moral dimasa modern. Studi mendatang dapat mengeksplorasi metode evaluasi yang lebih inklusif, seperti kolaborasi antara sekolah dan masyarakat, serta mengkaji penerapan teknologi dalam evaluasi berbasis karakter. Studi ini menegaskan pentingnya pendidikan berbasis karakter dalam membentuk generasi yang unggul. Kata Kunci: Evaluasi Berbasis Karakter. Nilai-Nilai Islam. Pendidikan Karakter. PENDAHULUAN Pendidikan memiliki peran penting dalam membentuk karakter siswa, terutama dalam menanamkan nilai-nilai Islam seperti kejujuran, tanggung jawab, keadilan, disiplin, dan kepedulian terhadap sesama. Tetapi, di era sekarang ini masih banyak siswa yang belum memahami menerapkan nilai-nilai tersebut dengan baik. Ada berbagai faktor yang mempengaruhi hal tersebut, termasuk metode evaluasi sekolah yang lebih menekankan aspek pengetahuan daripada aspek sikap dan tingkah laku. Di era modern yang penuh tantangan ini, masih banyak siswa yang belum memahami dan menerapkan nilai-nilai islam dengan Salah satu faktor yang mempengaruhi hal ini adalah metode evaluasi di EL HAYAH: Jurnal Studi Islam. Vol. 15 No. 1 Juni 2025 ISSN : 2086 - 4337 E-ISSN 2809-7920 sekolah yang lebih menekankan aspek pengetahuan daripada sikap dan perilaku. (Muhsinin, 2013, p. Kemerosotan moral atau akhlak ditunjukkan oleh peningkatan jumlah kejahatan, tawuran antar pelajar, dan peningkatan jumlah orang muda yang menggunakan narkoba terlarang. Oleh karena itu, sangat penting untuk membangun karakter dan kepribadian anak sesuai dengan nilai keagamaan dan nilai kemanusiaan. ( Fauzan, 2016, p. Selain itu, prinsip moral budaya nasional yang sangat penting telah diabaikan oleh globalisasi dan kurangnya penerapan nilai-nilai karakter di lembaga pemerintahan dan masyarakat. Akibatnya, tindakan yang tidak sesuai dengan norma semakin merasuk ke dalam masyarakat dan merusak kehidupan bangsa. Kunci utama dalam membentuk masyarakat yang berkualitas tinggi dan memajukan masyarakat secara berkelanjutan adalah pendidikan. Pendidikan semakin penting untuk mempersiapkan generasi mendatang untuk menghadapi berbagai masalah yang kompleks di era perubahan sosial, teknologi, dan ekonomi yang cepat ini. Selama bertahun-tahun, pendidikan seringkali fokus pada prestasi akademik dan mengabaikan aspek moral dan karakter. Oleh karena itu, sekarang diperlukan pendidikan yang mengutamakan pembentukan karakter dan integritas moral selain pencapaian akademik. (Salsabina, 2024, p. Dengan demikian, pendidikan berbasis karakter menjadi relevan sebagai respon terhadap kebutuhan orang untuk mereka yang tidak hanya mempunyai kemampuan akademik saja, akan tetapi juga memiliki moralitas. Peran guru yang kompeten sebagian besar mempengaruhi proses pembelajaran dan hasil belajar siswa. Akibatnya, guru yang berpengalaman akan lebih siap untuk membuat lingkungan belajar yang baik dan mengolah kelas EL HAYAH: Jurnal Studi Islam. Vol. 15 No. 1 Juni 2025 ISSN : 2086 - 4337 E-ISSN 2809-7920 mereka melalui cara yang paling relevan untuk memenuhi hasil belajar siswa (Nuraeni dkk, 2023, p. Tugas guru adalah mengevaluasi siswa selama proses belajar. Guru harus menjadi pemeriksa yang baik. Salah satu tujuan dari kegiatan evaluasi dalam pembelajaran adalah untuk memastikan apakah tujuan pembelajaran telah tercapai dan apakah materi telah disampaikan dengan benar. Semua pertanyaan akan dijawab melalui kegiatan evaluasi ini. Penelitian ini dilakukan karena adanya kesenjangan antara tujuan pendidikan Islam dalam membentuk karakter siswa dengan realitas yang terjadi di lapangan. Banyak lembaga pendidikan masih mengutamakan aspek kognitif atau akademik, sedangkan aspek afektif seperti sikap, moral, dan karakter seringkali terabaikan dalam proses evaluasi. Padahal, karakter merupakan salah satu inti dalam pendidikan Islam yang harus ditanamkan sejak dini agar peserta didik mampu menghadapi tantangan zaman dan menjadi pribadi yang berakhlak Selain itu, evaluasi pembelajaran selama ini lebih menekankan pada hasil belajar berupa nilai ujian dan kurang menyentuh aspek karakter siswa. Oleh karena itu, penelitian ini penting dilakukan untuk menganalisis sejauh mana nilai-nilai Islam dapat diterapkan dalam evaluasi berbasis karakter, serta bagaimana pendekatan tersebut dapat menjadi solusi dalam meningkatkan kualitas pendidikan karakter di Indonesia. (Miswanto, 2014, p. METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi pustaka . iterature revie. Data dikumpulkan melalui penelusuran artikel-artikel ilmiah yang relevan, yang diterbitkan dalam jurnal terakreditasi maupun buku-buku yang membahas nilai-nilai Islam dan evaluasi EL HAYAH: Jurnal Studi Islam. Vol. 15 No. 1 Juni 2025 ISSN : 2086 - 4337 E-ISSN 2809-7920 berbasis karakter. Sumber data dalam penelitian ini adalah data sekunder, yaitu informasi yang sudah tersedia dan dipublikasikan. Proses pengumpulan data dilakukan dengan memilih artikel atau buku yang memenuhi kriteria kesesuaian tema, kemudian dilakukan analisis isi . ontent analysi. Analisis ini mencakup identifikasi, klasifikasi, dan interpretasi poin-poin penting yang berkaitan dengan nilai-nilai Islam dalam pendidikan serta penerapan evaluasi berbasis karakter. Selanjutnya, hasil analisis disusun secara sistematis untuk ditarik kesimpulan. Metode penelitian yang digunakan dalam artikel ini adalah penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi pustaka . iterature revie. Artinya, penulis tidak mengumpulkan data primer melalui observasi langsung atau wawancara, melainkan mengkaji dan menganalisis data yang sudah tersedia. Sumber data yang digunakan adalah data sekunder, yaitu data yang sudah dipublikasikan sebelumnya dalam bentuk artikel ilmiah dan buku. Secara khusus: Artikel yang dipilih berasal dari jurnal terakreditasi, serta kriteria pemilihan artikel yang membahas nilai-nilai Islam dalam pendidikan dan menyoroti penerapan evaluasi berbasis karakter. Paparan data bersifat naratif dan analitis, dengan menyoroti poin-poin penting dari sumber literatur yang dikaji dan menyusunnya secara sistematis untuk mendukung argumentasi tentang pentingnya evaluasi berbasis karakter dalam pendidikan Islam. EL HAYAH: Jurnal Studi Islam. Vol. 15 No. 1 Juni 2025 ISSN : 2086 - 4337 E-ISSN 2809-7920 HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL Konsep nilai-nilai dalam pendidikan mencakup aspek keimanan, ibadah, dan akhlak. Pendidikan Islam bertujuan membentuk pribadi muslim yang utuh, mengintegrasikan nilai-nilai agama dalam perilaku sehari-hari. Menurut Al-Syaibhani, bahwa tujuan pendidikan Islam memiliki empat ciri . yang paling menonjol yaitu: Sifat yang bercorak agama dan akhlak Sifat komprehensif yang mencakup segala asfek pribadi pelajar . ubjek didi. dan semua asfek perkembangan dalam masyarakat Sifat keseimbangan, kejelasan, tidak adanya pertentangan antara unsur-unsur dan cara pelaksaannya Sifat realitis dapat dilaksanakan, penekanan dan perubahan yang di kehendaki pada tingkah laku dan pada kehidupan, memperhitungkan perbedaan perbedaan perorangan diantara individu, masyarakat dan kebudayaan dimana-mana dan kesanggupan untuk berubah dan berkembang bila di perlukan. (Mustofa, 2020, p. Pendidikan karakter dapat diterapkan tidak hanya dalam proses itu juga dapat diterapkan melalui perubahan budaya sekolah dan kegiatan pengembangan diri seperti kegiatan ekstrakurikuler. Menurut Elkind dan Sweet, mengubah budaya dan kehidupan sekolah adalah cara yang lebih efektif untuk menerapkan pendidikan karakter. Empat cara berbeda dapat digunakan untuk menerapkan budaya sekolah yang bertujuan untuk pengembangan diri: kegiatan rutin, kegiatan spontan. EL HAYAH: Jurnal Studi Islam. Vol. 15 No. 1 Juni 2025 Sekolah ISSN : 2086 - 4337 E-ISSN 2809-7920 pengetahuan, dan keterampilan siswa dengan menanamkan karakter dalam visi Penguatan Pendidikan Karakter bertujuan untuk menggabungkan, memperdalam, memperluas, dan menyelaraskan berbagai program dan kegiatan pendidikan karakter yang sudah ada. Integrasi ini melibatkan semua warga sekolah, keluarga, dan masyarakat, serta penyatuan kegiatan di dalam dan di luar (Salsabila et al. , 2024, p. Tujuan akhir dari Pendidikan Agama Islam adalah melahirkan generasi yang bertakwa kepada Allah SWT, berilmu pengetahuan, dan memiliki karakter yang kuat. Dalam era globalisasi dan kemajuan teknologi saat ini, pendidikan karakter melalui agama menjadi semakin penting untuk membentengi peserta didik dari pengaruh negatif lingkungan. Melalui pendekatan yang holistik dan berkesinambungan. Pendidikan Agama Islam dapat menjadi pondasi utama dalam membentuk pribadi yang utuh: cerdas secara intelektual, matang secara emosional, dan luhur secara spiritual. Sumber utama pendidikan Islam. Al-Qur'an dan Sunnah, berfungsi sebagai dasar utama. Al-Qur'an sangat memperhatikan masalah pendidikan karena itu diberikan kepada kita untuk dijadikan sebagai pedoman hidup manusia demi kebaikan dan kebahagian dirinya sendiri. Menurut Al-Qur'an, pandangan moral adalah dasar dari semua perilaku manusia. Al-Qur'an dan Sunnah adalah sumber informasi yang mencakup semua aspek kehidupan di alam, baik yang nyata maupun abstrak. Selain itu, sebagai perspektif tentang kehidupan manusia dan sebagai sumber ilmu pengetahuan, memiliki makna yang luas yang mencakup dan mencakup semua aspek EL HAYAH: Jurnal Studi Islam. Vol. 15 No. 1 Juni 2025 ISSN : 2086 - 4337 E-ISSN 2809-7920 kehidupan modern manusia. Kedua sumber dasar tersebut sangat fleksibel dan dapat disesuaikan dengan kebutuhan manusia dalam segala bidang kehidupan. Karakter adalah kumpulan sifat psikologis yang kompleks yang memungkinkan seseorang bertindak sebagai agen moral. Dengan kata lain, karakternya bervariasi. Ini berhubungan dengan fungsi moral. Untuk memberikan respons yang berkaitan dengan moralitas seseorang, karakter dikaitkan dengan kondisi psikologis yang dikenal sebagai identifikasi karakter, yang terdiri dari tindakan moral, nilai-nilai moral, kepribadian moral, emosi moral, penalaran moral, identitas moral, dan karakteristik dasar. Pendidikan karakter adalah upaya sengaja untuk meningkatkan moral dan intelektual di setiap tahap pendidikan. (Muhsinin, 2. Dalam tengah arus globalisasi yang terus mengalir dengan dinamika sosial, ekonomi, dan teknologi yang semakin kompleks, pentingnya evaluasi efektivitas pendidikan berbasis karakter semakin terang. Penelitian yang mendalam mengenai pendidikan karakter dapat memberikan wawasan yang mendalam tentang bagaimana pendekatan ini berdampak pada perkembangan siswa, baik dari segi akademis maupun sosial-emosional. Evaluasi yang hatihati juga menjadi kunci untuk mengidentifikasi strategi dan praktik terbaik dalam mengimplementasikan pendidikan karakter, sekaligus mengatasi berbagai tantangan yang mungkin timbul dalam prosesnya. Evaluasi berbasis karakter merupakan pendekatan penilaian yang menekankan perkembangan nilai-nilai moral dan kepribadian siswa selain capaian akademik. Dalam pembelajaran pendidikan agama Islam, implementasi evaluasi ini bertujuan untuk membentuk sikap dan perilaku sisa agar sesuai dengan nilai-nilai Islami, seperti kejujuran, disiplin, tanggung jawab, kerja sama. EL HAYAH: Jurnal Studi Islam. Vol. 15 No. 1 Juni 2025 ISSN : 2086 - 4337 E-ISSN 2809-7920 empati dan kepedulian. Nilai-nilai ini dapat diukur melalui berbagai metode, seperti pengamatan langsung oleh guru, refleksi diri siswa, penugasan berbasis proyek, dan evaluasi portofolio. Misalnya dalam materi shalat berjamaah, guru memberikan tugas kepada siswa untuk merancang dan melaksanakan kegiatan shalat berjamaah disekolah atau dilingkungan tempat tinggal mereka. Selama kegiatan tersebut, guru menilai aspek disiplin melalui keteraturan waktu pelaksanaan shalat, tanggung jawab dari kesadaran siswa dalam melaksanakan shalat tanpa paksaan, dan kerja sama melalui keterlibatan mereka dalam mengatur dan memimipin shalat berjamaah. Setelah kegiatan selesai, siswa diminta menulis refleksi tentang peran mereka dalam kegiatan tersebut serta pelajaran karakter yang mereka peroleh, seperti pentingnya kebersamaan dan kepatuhan kepada Allah SWT. Selain itu, guru dapat meminta orang tua memberikan umpan balik mengenai kebiasaan shalat siswa di rumah. Evaluasi ini bersifat komprehensif karena menggabungkan penilaian akademik dan pembentukan karakter. Dengan demikian, melalui pembelajaran PAI, siswa tidak hanya memahami materi secara teoritis tetapi juga menginternalisasi nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari, seperti kejujuran, kedisiplinan, dan kepedulian terhadap sesama. Secara keseluruhan, instrumen evaluasi dalam pendidikan berbasis karakter haruslah sesuai dengan tujuan pembelajaran karakter yang diinginkan dan harus mampu mengukur dengan akurat sejauh mana siswa telah mencapai tujuan tersebut. (Syalini et al. , 2024, p. Oleh karena itu, pemilihan dan pembuatan alat evaluasi yang tepat sangat penting untuk mengevaluasi seberapa efektif program pendidikan berbasis karakter. Ini juga memberi praktisi lapangan dan pengambil kebijakan pendidikan informasi yang bermanfaat. EL HAYAH: Jurnal Studi Islam. Vol. 15 No. 1 Juni 2025 ISSN : 2086 - 4337 E-ISSN 2809-7920 PEMBAHASAN Pendidikan berbasis karakter menggunakan berbagai pendekatan untuk membentuk moralitas dan karakter individu. Salah satu pendekatan yang paling umum digunakan adalah pendekatan pembelajaran langsung, yang mengajarkan nilai-nilai moral dan etika melalui kurikulum yang dirancang khusus. Dalam pendekatan ini, peserta didik diarahkan untuk memahami, menginternalisasi nilai-nilai karakter seperti empati, jujur, dan disiplin. Guru membantu siswa memahami dan menerapkan prinsip-prinsip ini dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan karakter berbasis Islam merupakan pendekatan yang menekankan pengembangan akhlak dan nilai-nilai moral yang sesuai dengan ajaran Islam. (Avicni Miramadhania, 2024, p. Pendidikan berbasis karakter Islam berlandaskan pada beberapa nilai utama yang menentukan terbentuknya karakter seorang muslim. Tujuan pendidikan karakter adalah untuk membangun individu yang tidak hanya memiliki pengetahuan tetapi juga memiliki karakter yang baik. Pendidikan karakter berfokus pada pengembangan moral dan etika individu selain aspek akademik, menurut pengertiannya. Dengan menekankan nilai-nilai positif, pendidikan karakter berperan dalam membentuk identitas sosial dan emosional siswa, yang sangat penting untuk interaksi masyarakat yang Pendidikan karakter juga mendorong siswa untuk merasa lebih bertanggung jawab dan peduli terhadap orang lain. Metode ini sangat relevan dalam dunia pendidikan saat ini, di mana tantangan moral dan sosial semakin Oleh karena itu, pendidikan karakter sangat penting untuk menghasilkan generasi yang lebih baik dan bermoral. (Azhari, 2024, p. Pendidikan karakter yang didasarkan pada nilai-nilai Islam merupakan bagian penting dari membangun generasi yang berakhlak mulia. Pendidikan karakter yang didasarkan pada nilai-nilai Islam tidak hanya meningkatkan EL HAYAH: Jurnal Studi Islam. Vol. 15 No. 1 Juni 2025 ISSN : 2086 - 4337 E-ISSN 2809-7920 pengetahuan seseorang, tetapi juga membentuk individu yang berakhlak mulia. Kepribadian dan prinsip moral peserta didik. Dalam konteks ini, berbagai penelitian menunjukkan bahwa pendidikan agama Islam memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pembentukan karakter siswa di berbagai jenjang pendidikan. Secara keseluruhan, pendidikan karakter yang didasarkan pada nilai-nilai Islam terbukti efektif dalam membentuk generasi berakhlak mulia. Pendidikan karakter yang didasarkan pada nilai-nilai Islam dapat diberikan dalam berbagai pendekatan, baik di sekolah formal maupun pesantren, dan dapat membantu siswa mengemban tanggung jawab moral. Oleh karena itu, sangat penting bagi institusi pendidikan untuk terus memasukkan nilai-nilai Islam ke dalam program pendidikan dan praktiknya. (Muharram, 2024, p. Ada beberapa indikator yang menjadi landasan dalam pembentukan karakter, yakni yang pertama, keimanan dan ketaqwaan, yang mana hal ini adalah fondasi utama dalam terbentuknya karakter sesorang dan menjadikannya motivasi dalam setiap langkahnya di kehidupan sehari-hari. Keyakinan mencakup keyakinan yang kuat terhadap Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari akhir, serta takdir-Nya. Sementara itu, ketaqwaan adalah kesadaran penuh untuk melakukan perintah Allah dan meninggalkan larangan-Nya, yang tercermin dalam perilaku sehari-hari, baik dengan Allah maupun dengan orang lain. Orang yang bertaqwa selalu berusaha menjalani kehidupan mereka dengan cara yang benar, jujur, dan penuh tanggung jawab. Nilai-nilai karakter Islam seperti kejujuran, sabar, syukur, kasih sayang, dan akhlak mulia tercermin dalam setiap tindakan dalam kehidupan yang berbasis iman dan taqwa. Iman dan taqwa tidak hanya menjadikan orang-orang menjadi baik, tetapi juga menjadikan sistem yang harmonis, baik, dan diridhoi oleh Allah. Pendidikan dalam Islam menekankan nilai keimanan dan ketakwaan kepada EL HAYAH: Jurnal Studi Islam. Vol. 15 No. 1 Juni 2025 ISSN : 2086 - 4337 E-ISSN 2809-7920 Allah SWT sebagai landasan utama. Setiap proses belajar diarahkan untuk mendekatkan diri kepada Allah dan meningkatkan kualitas ibadah. Kedua, kejujuran, kejujuran merupakan salah satu nilai yang paling penting dalam menciptakan integritas kepribadian yang tinggi. Kejujuran tidak hanya mencakup kebenaran dalam ucapan tetapi juga dalam tindakan dan niat. sifat shiddiq mengajarkan untuk selalu berbicara jujur, menjaga amanah, dan bertindak jujur dalam setiap aspek kehidupan, baik di hadapan Allah maupun sesama manusia. Ini adalah pilar penting dalam interaksi sosial. Kejujuran ini membangun hubungan yang saling percaya, membangun kedamaian, dan mencegah pertengkaran antar sesama. Seseorang yang memiliki sifat shiddiq selalu berusaha untuk tidak menyembunyikan kebenaran dalam kehidupan sehari-hari, bahkan dalam situasi yang sulit. Integritas pribadi tumbuh dengan kejujuran sebagai landasan, dan ini berdampak positif pada terbentuknya masyarakat yang adil, aman, dan harmonis. Hal ini sesuai dengan prinsip-prinsip Islam, yang memotivasi umatnya untuk hidup dengan penuh tanggung jawab dan Ketiga, amanah, amanah ini penting untuk ditanamkan sejak dini akan pentingnya rasa tanggung jawab atas segala tindakan yang telah dilakukan. Amanah disini mengandung konsep yang menuntun pribadi kita yang bisa bertanggung jawab dan dapat dipercaya kepada mereka dalam sesuatu yang kecil maupun besar. Amanah berarti menjaga kepercayaan, tidak menyalahgunakan posisi atau sumber daya, dan selalu berusaha memenuhi harapan. Amanah dalam Islam berarti menjaga kehormatan dan hak orang lain, serta tugas-tugas yang lain. Seseorang yang memegang amanah akan selalu berusaha bertindak jujur, tidak menipu orang lain, dan menyelesaikan setiap tugas dengan sebaik-baiknya. Dengan nilai amanah, seseorang menjadi orang yang dapat diandalkan dan membantu membangun masyarakat yang saling menghormati dan penuh EL HAYAH: Jurnal Studi Islam. Vol. 15 No. 1 Juni 2025 ISSN : 2086 - 4337 E-ISSN 2809-7920 tanggung jawab, sesuai dengan ajaran Islam yang mengutamakan kejujuran dan Keempat, keadilan. Islam juga mengajarkan nilai keadilan dan menghargai perbedaan. Dalam pendidikan, nilai ini berarti menghormati pendapat orang lain, bersikap adil terhadap teman, serta menghindari Semua murid, tanpa memandang latar belakang, berhak mendapatkan perlakuan yang sama dan kesempatan yang adil untuk berkembang. Keadilan bukan hanya memberikan hak kepada mereka yang berhak, tetapi juga berlaku secara universal tanpa memandang status, status, atau kekayaan Keadilan mengajarkan orang untuk tidak berpihak, mendengarkan dengan bijak, dan menimbang segala sesuatu berdasarkan fakta dan kebenaran. Keadilan juga memastikan bahwa keputusan yang dibuat selalu sesuai dengan kebenaran dan keadilan. Kelima, ihsan, ihsan mengajarkan orang untuk berbuat baik dan peduli pada orang lain. Ihsan mencakup sikap yang tulus dalam setiap tindakan, yang berarti bahwa seseorang berusaha untuk memberikan yang terbaik dalam segala hal, baik dalam hubungan dengan Allah maupun dengan sesama manusia. Mereka yang berperilaku ihsan melakukan hal-hal seperti mengetahui apa yang dibutuhkan orang lain dan mencoba membantu orang lain tanpa mengharapkan Dalam situasi yang penuh tantangan. Ihsan juga mengajarkan kita untuk tetap sabar, penuh kasih sayang, dan memaafkan. Dengan melakukan ihsan, seseorang tidak hanya memperbaiki dirinya sendiri, tetapi juga membantu membangun masyarakat yang damai, menghormati, dan penuh kasih sayang. Prinsip ihsan ini mengajak umat Islam untuk menjadi individu yang tidak hanya mengutamakan kepentingan diri sendiri, tetapi juga memperhatikan dan membantu orang lain. EL HAYAH: Jurnal Studi Islam. Vol. 15 No. 1 Juni 2025 ISSN : 2086 - 4337 E-ISSN 2809-7920 Karakter yang baik tidak terbentuk secara instan, melainkan melalui proses pembiasaan yang konsisten. Dalam konteks ini, nilai-nilai yang diajarkan dalam Pendidikan Agama Islam, seperti kejujuran, tanggung jawab, hormat kepada orang tua dan guru, serta tolong-menolong, harus dijadikan pedoman dalam bersikap dan bertindak. Guru, sebagai teladan utama di sekolah, memegang peranan penting dalam mengintegrasikan nilai-nilai tersebut ke dalam setiap aspek kegiatan pembelajaran dan interaksi sosial. Karakter seorang murid di zaman sekarang mencerminkan perpaduan antara nilai-nilai tradisional dan tantangan modern. Di tengah kemajuan teknologi dan keterbukaan informasi, murid masa kini dituntut untuk memiliki sikap tanggung jawab, jujur, serta mampu beradaptasi dengan cepat terhadap Nilai-nilai seperti disiplin, kerja keras, dan rasa hormat terhadap guru serta orang tua tetap menjadi fondasi utama dalam membentuk kepribadian yang Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa banyak murid zaman sekarang juga menghadapi tantangan dalam menjaga fokus dan konsistensi belajar. Paparan media sosial, hiburan digital, dan gaya hidup serba instan seringkali mempengaruhi cara berpikir dan bertindak. Oleh karena itu, karakter seperti kemandirian, kemampuan berpikir kritis, serta kesadaran terhadap waktu dan tanggung jawab menjadi sangat penting agar mereka tidak mudah terpengaruh oleh hal-hal negatif. Di sisi lain, murid zaman sekarang cenderung lebih terbuka, kreatif, dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Mereka lebih berani menyuarakan pendapat, aktif mencari solusi, dan tidak segan untuk mencoba hal-hal baru. Karakter ini merupakan potensi besar jika diarahkan dengan benar, sehingga mereka dapat tumbuh menjadi generasi yang cerdas secara intelektual. EL HAYAH: Jurnal Studi Islam. Vol. 15 No. 1 Juni 2025 ISSN : 2086 - 4337 E-ISSN 2809-7920 emosional, dan sosial. Pembentukan karakter yang baik perlu mendapat dukungan dari lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat secara menyeluruh. Integrasi nilai-nilai Islam dalam kurikulum merupakan upaya menyelaraskan pembelajaran di sekolah dengan prinsip-prinsip dan ajaran Islam. Pendekatan ini ditujukan untuk tidak hanya meningkatkan pengetahuan akademik siswa, tetapi juga membangun karakter yang sesuai dengan akhlak Islami. Nilai-nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, disiplin, toleransi, dan keadilan menjadi fondasi utama dalam membentuk individu yang unggul secara intelektual dan spiritual. Implementasi nilai-nilai Islam disekolah dapat dilakukan dengan berbagai cara, misalnya didalam pelajaran sains, fenomena alam yang luar biasa dapat dikaitkan dengan ayat-ayat Al-Qur'an yang menunjukkan kekuasaan Allah. Bisa juga dalam mata pelajaran bahasa, berbicara dengan baik dan benar dapat mengajarkan nilai-nilai seperti kejujuran, sopan santun, dan kasih sayang. Implementasi ini juga dapat diterapkan dalam kegiatan sekolah, pembiasaan kegiatan Islami seperti shalat berjamaah, membaca AlQurAoan sebelum pelajaran dimulai. Evaluasi berbasis karakter merupakan pendekatan yang menilai perkembangan karakter siswa melalui berbagai metode, bukan hanya mengandalkan ujian akademis. Pendekatan ini bertujuan untuk membentuk sikap positif, nilai moral, dan keterampilan sosial yang penting bagi kehidupan siswa. Tujuan evaluasi berbasis karakter disini adalah mengembangkan karakter yang mana membantu siswa menginternalisasi nilai-nilai seperti keterbukaan, disiplin, tanggung jawab dan empati serta untuk mendorong pembelajaran aktif yang mana siswa diharapkan terlibat dalam proses pembelajran yang berarti bukan hanya sekadar menerima informasi. Pendidikan agama Islam sering kali mengakomodaasi nilai-nilai karakter ke dalam kurikulum. Dengan demikian, evaluasi berbasis karakter dapat EL HAYAH: Jurnal Studi Islam. Vol. 15 No. 1 Juni 2025 ISSN : 2086 - 4337 E-ISSN 2809-7920 mencakup penilaian terhadap pemahaman siswa tentang nilai-nilai Islam dan bagaimana mereka menerapkannya. Implementasi evaluasi berbasis karakter melibatkan beberapa metode, yakni dengan melakukan observasi. Misalnya, guru mengamati siswa dalam berbagai konteks, seperti di kelas saat beraktivitas kelompok atau dalam situasi Observasi ini dilakukan bukan hanya untuk melihat hasil kerja, tetapi juga memantau bagaimana siswa tersebut berperilaku, berinteraksi, dan menyelaseaikan masalah yang dihadapi. Guru dapat mencatat bagaimana siswa menunjukkan kerjasama saat melakukan proyek kelompok atau bagaimana mereka mengatasi tantangan. Metode evaluasi selanjutnya adalah portofolio. Evaluasi ini dilakukan dengan cara meminta siswa mengumpulkan berbagai karya yang mencerminkan proses belajar mereka, seperti tugas, proyek dan jurnal Portofolio ini memungkinkan siswa untuk menunjukkan kemajuan mereka dari waktu ke waktu dan merefleksikan perjalanan pembelajaran mereka. Dalam portofolio, siswa bisa mencantumkan pengalaman yang menunjukkan nilai-nilai karakter, seperti kegiatan sukarela atau proyek yang menunjukkan Evaluasi berbasis karakter bukan hanya alat untuk menilai, tetapi juga merupakan strategi pembelajaran pembelajaran yang efektif. Dengan mendorong siswa untuk terlibat dalam proyek yang relevan dengan kehidupan yang nyata, mereka belajar untuk menerapkan nilai-nilai karakter dalam konteks yang nyata. Mislanya, siswa dapat terlibat dalam proyek lingkungan yang mengajarkan tanggung jawab sosial dan kepedulian terhadap lingkungan. Siswa didorong untuk berdiskusi tentang nilai-nilai dan sikap mereka melalui refleksi. Diskusi ini membantu siswa memahami sudut pandang orang lain dan mengembangkan Kemudian dilanjutkan dengan guru memberikan umpan balik yang EL HAYAH: Jurnal Studi Islam. Vol. 15 No. 1 Juni 2025 ISSN : 2086 - 4337 E-ISSN 2809-7920 membangun berdasarkan observasi dan portofolio, membantu siswa memahami kekuatan dan area yang perlu diperbaiki dalam perkembangan karakter mereka. Dengan menggunakan metode seperti observasi dan portofolio, evaluasi ini membantu siswa menginternalisasi nilai-nilai penting dan membangun keterampilan sosial yang diperlukan untuk kehidupan mereka. Dengan demikian, evaluasi berbasis karakter berkontribusi pada pengembangan individu yang utuh, siap menghadapi tantangan di masa depan. Penerapan evaluasi berbasis karakter dalam pendidikan Islam dilakukan melalui metode yang sistematis, misalnya dengan mengamati perilaku siswa dalam berbagai situasi, memberikan penilaian reflektif terhadap aktivitas keagamaan, dan menilai keterlibatan mereka dalam kegiatan sosial yang mencerminkan nilai-nilai Islam. Selain itu, proses evaluasi ini biasanya melibatkan kolaborasi antara guru, orang tua, dan komunitas untuk memberikan gambaran yang holistik mengenai karakter siswa. Evaluasi berbasis karakter ini mendorong siswa untuk lebih memahami nilai-nilai Islam secara kontekstual dan aplikatif. Pendekatan ini membantu siswa menyadari bahwa nilai-nilai seperti kejujuran dan tanggung jawab bukan sekadar teori, tetapi harus diterapkan dalan kehidupan. Misalnya, dalam bersikap kita harus adil, menjaga amanah, dan berperilaku baik kepada sesama. Evaluasi yang konsisten juga memperkuat akhlak mereka, karena siswa terbiasa dengan refleksi diri dan mendapat bimbingan untuk memperbaiki kekurangan yang ada pada Integrasi nilai-nilai keislaman dalam pendidikan karakter efektif dalam membentuk sikap dan perilaku positif siswa. Misalnya, studi di beberapa madrasah di Indonesia menemukan bahwa penerapan pendidikan karakter berbasis nilai-nilai Islam mampu meningkatkan pemahaman dan pengamalan nilai-nilai keislaman oleh siswa. Hal ini terlihat dari perubahan positif dalam EL HAYAH: Jurnal Studi Islam. Vol. 15 No. 1 Juni 2025 ISSN : 2086 - 4337 E-ISSN 2809-7920 perilaku sehari-hari mereka, seperti meningkatnya kedisiplinan, kejujuran, dan rasa tanggung jawab. Evaluasi berbasis karakter tidak hanya berfungsi sebagai alat ukur, tetapi juga sebagai sarana refleksi dan perbaikan dalam proses pendidikan, memastikan bahwa nilai-nilai Islam tertanam dengan baik dalam diri peserta didik. Evaluasi berbasis karakter dan pemahaman nilai-nilai Islam memiliki hubungan yang erat dalam konteks pendidikan. Keduanya berfokus pada pengembangan karakter siswa yang sesuai dengan prinsip-prinsip Islam, yang mencakup akhlak, adab, dan keteladanan. Proses ini membantu mereka tidak hanya untuk mengetahui teori-teori tentang akhlak tetapi juga untuk menginternalisasi nilai-nilai tersebut. Hubungan antara evaluasi berbasis karakter dan pemahaman nilai-nilai Islam sangat penting dalam membentuk generasi yang berakhlak mulia. Melalui pendidikan yang terintegrasi dengan nilai-nilai Islam dan evaluasi yang tepat, siswa dapat mengembangkan karakter yang kuat dan sesuai dengan ajaran agama. Hal ini pada gilirannya akan berkontribusi pada pembentukan masyarakat yang lebih baik dan harmonis. Penerapan evaluasi berbasis karakter dalam pendidikan memiliki tujuan yang mulia, yaitu menilai perkembangan sikap dan perilaku siswa dengan fokus pada nilai-nilai positif. Namun, meskipun pendekatan ini sangat penting, penerapannya tidak lepas dari berbagai tantangan yang harus dihadapi. Dalam pendidikan Islam, evaluasi berbasis karakter menghadapi banyak masalah. Tantangan ini berhubungan erat dengan pengembangan kompetensi guru, yang merupakan bagian penting dari keberhasilan pendidikan karakter. Beberapa masalah utama yang dihadapi adalah sebagai berikut: Pertama, kekurangan pelatihan guru. Tidak ada pelatihan yang memadai bagi guru untuk memasukkan pendidikan karakter ke dalam proses Menurut penelitian, meskipun pendidikan karakter sangat penting. EL HAYAH: Jurnal Studi Islam. Vol. 15 No. 1 Juni 2025 ISSN : 2086 - 4337 E-ISSN 2809-7920 banyak guru membutuhkan pelatihan khusus untuk menerapkan nilai-nilai karakter dengan baik. Tanpa pelatihan yang cukup, guru mungkin tidak memiliki pengetahuan atau keterampilan yang diperlukan untuk mengajarkan dan menilai karakter siswa dengan baik. Untuk memasukkan pendidikan karakter ke dalam kurikulum, guru harus memiliki pengetahuan dan kemampuan yang diperlukan. Karena keterbatasan ini, guru mungkin tidak dapat menggunakan strategi Sekolah seringkali tidak memiliki sumber daya yang diperlukan untuk menerapkan pendidikan karakter, seperti materi pembelajaran yang tidak sesuai dan sarana pendukung lainnya yang memadai untuk mendukung kegiatan yang berkaitan dengan pendidikan karakter. Tugas yang sulit adalah mengevaluasi perkembangan karakter siswa. Kedua, konsistensi dalam evaluasi. Menjaga penilaian karakter yang konsisten sepanjang proses pembelajaran adalah masalah yang sangat sulit. Untuk mencerminkan perkembangan siswa dengan akurat, penelitian menekankan bahwa penerapan penilaian karakter harus dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan. Tanpa pedoman dan petunjuk yang jelas, penilaian karakter dapat menjadi tidak standar dan menghasilkan hasil yang tidak dapat menjaga konsistensi dan kelanjutan dalam penerapan penilaian karakter sangat penting untuk hasil yang efektif. Ini karena penilaian karakter harus konsisten untuk mencerminkan perkembangan dan kemajuan siswa yang Ketiga, tekanan dari program studi atau kurikulum akademis. Guru menghadapi tekanan untuk memenuhi persyaratan akademik dan mencapai skor ujian yang tinggi, yang dapat mengalihkan perhatian dari pendidikan karakter karena fokus utama pada pencapaian akademik. Akibatnya, siswa mungkin tidak memiliki kesempatan untuk belajar dan menerapkan prinsip moral dalam EL HAYAH: Jurnal Studi Islam. Vol. 15 No. 1 Juni 2025 ISSN : 2086 - 4337 E-ISSN 2809-7920 kehidupan sehari-hari. Pendidikan berbasis karakter dapat terabaikan ketika sekolah dan guru ditekan untuk meningkatkan skor ujian dan pencapaian Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana mengimbangi prestasi akademik dengan pembentukan karakter di sekolah dengan waktu dan sumber daya yang terbatas. Keempat, penolakan dari berbagai pihak. Sangat penting bagi sekolah untuk berkomunikasi dengan semua pemangku kepentingan tentang manfaat pendidikan berbasis karakter. Ini karena beberapa orang tua, siswa, dan bahkan guru mungkin menentang penerapan pendidikan berbasis karakter. Untuk meyakinkan semua pemangku kepentingan bahwa pendidikan berbasis karakter membantu menghasilkan orang yang berkualitas dan bertanggung jawab, sangat penting bagi sekolah dan pengambil kebijakan pendidikan untuk berkomunikasi dengan mereka dulu sebelum mengambil kebijakan. Ini karena beberapa orang mungkin merasa bahwa pendidikan berbasis karakter melanggar batas antara pendidikan formal dan prinsip-prinsip yang seharusnya dipelajari di rumah atau di tempat ibadah. Tantangan lainnya adalah waktu dan sumber daya yang dibutuhkan untuk melakukan evaluasi berbasis karakter. Guru harus meluangkan waktu untuk melakukan observasi dan mengumpulkan portofolio, yang bisa mengganggu kegiatan pembelajaran lainnya. Selain itu, di banyak sekolah, terdapat tekanan yang besar untuk mencapai hasil akademis yang baik. Tekanan ini sering kali mengalihkan fokus guru dari pengembangan karakter siswa, sehingga mereka lebih cenderung menilai siswa berdasarkan nilai ujian, bukan sikap dan perilaku mereka. Untuk mengatasi tantangan-tantangan ini, penting untuk meningkatkan kompetensi guru dalam evaluasi berbasis karakter. Hal tersebut bisa dilakukan dengan mengadakan pelatihan dan workshop yang fokus pada evaluasi karakter EL HAYAH: Jurnal Studi Islam. Vol. 15 No. 1 Juni 2025 ISSN : 2086 - 4337 E-ISSN 2809-7920 dapat membantu guru memahami konsep dan teknik yang diperlukan untuk menerapkan pendekatan ini secara efektif. Misalnya, pelatihan tentang cara melakukan observasi yang baik dan mengembangkan portofolio siswa dapat meningkatkan keterampilan guru. Selain itu, penggunaan rubrik penilaian yang jelas dapat membantu dalam menilai karakter siswa secara lebih objektif, dengan indikator spesifik untuk setiap nilai yang ingin dikembangkan. Kolaborasi antar guru juga sangat penting. dengan berbagi pengalaman dan strategi, mereka dapat saling mendukung dalam penerapan evaluasi berbasis karakter. Secara keseluruhan, meskipun penerapan evaluasi berbasis karakter menghadapi berbagai tantangan, pengembangan kompetensi guru merupakan kunci untuk mengatasi masalah ini. Dengan pelatihan yang tepat dan dukungan yang memadai, guru dapat lebih efektif dalam menerapkan evaluasi berbasis karakter, yang pada gilirannya akan membantu siswa dalam mengembangkan sikap dan perilaku yang positif. Implikasi penerapan evaluasi berbasis karakter dalam pendidikan, utamanya dalam pendidikan Islam dapat meningkatkan pemahaman peserta didik akan nilai-nilai Islam serta mampu menginternalisasikan dalam kehidupan sehari-hari, seperti kejujuran, kesabaran, dan empati. Evaluasi ini juga dapat memfokuskan pada pengembangan karakter positif seperti integritas, disiplin dan tanggung jawab dan juga dapat memperbaiki kualitas pendidikan dengan pentingnya kemampuan sosial, emosional dan spiritual. Serta dengan adanya evaluasi berbasis karakter ini dapat membantu mengurangi perilaku negatif seperti bulying, kekerasan dan penyelewengan. Penerapan evaluasi berbasis karakter dalam pendidikan Islam memiliki dampak positif yang signifikan. Dampak emosionalnya, siswa menjadi lebih percaya diri, mengurangi stres dan kecemasan, serta mengembangkan kemampuan mengelola emosi. Prestasi siswa juga dapat meningkat karena sisa EL HAYAH: Jurnal Studi Islam. Vol. 15 No. 1 Juni 2025 ISSN : 2086 - 4337 E-ISSN 2809-7920 mengembangkan berpikir kritis dan evaluasi. Pada jangka panjang, evaluasi berbasis karakter membentuk generasi yang berkualitas dan berintegritas, mengembangkan pemimipin masa depan dan membangun karakter yang kuat dan Pada tingkat masyarakat, evaluasi berbasis karakter dapat menciptakan masyarakat yang lebih lebih harmonis dan toleran. Pendidikan karakter baik untuk lingkungan sekolah secara keseluruhan. Pendidikan berbasis karakter, mendorong prinsip-prinsip seperti kesetaraan, keragaman, dan inklusi, yang menghasilkan lingkungan yang ramah dan aman bagi semua siswa. Tetapi, perlu untuk diingat bahwa pengaruh pendidikan berbasis karakter tidak selalu terlihat langsung. Perubahan sikap, nilai, dan perilaku memerlukan waktu dan konsistensi. Pada dasarnya, program pendidikan berbasis karakter harus diterapkan dengan sabar dan konsisten oleh sekolah dan Untuk memastikan dampaknya benar-benar dirasakan oleh siswa dan lingkungan sekolah secara keseluruhan, mereka juga harus terus melakukan evaluasi dan penyesuaian. Semua orang yang terlibat dalam dunia pendidikan harus memahami dan memperhatikan faktor-faktor yang mendukung keberhasilan pelaksanaan evaluasi pendidikan berbasis karakter. Keberhasilan implementasi evaluasi berbasis karakter dipengaruhi oleh beberapa faktor penting. Pertama, komitemen seluruh pihak di sekolah, termasuk guru dan kepala sekolah, sangat diperlukan untuk memastikan bahwa nilai-nilai karakter menjadi bagian integral dari proses pembelajaran. Selanjutnya, guru perlu mendapatkan pelatihan agar mampu memahami dan menyusun instrumen penilaian yang sesuai, seperti rubrik observasi atau jurnal refleksi. Kurikulum juga harus mendukung integrasi nilai-nilai karakter, misalnya melalui pembelajaran berbasis proyek yang mendorong kerja sama dan tanggung jawab. Selain itu, lingkungan belajar yang positif, dimana siswa merasa dihargai dan EL HAYAH: Jurnal Studi Islam. Vol. 15 No. 1 Juni 2025 ISSN : 2086 - 4337 E-ISSN 2809-7920 didukung, memainkan peran penting dalam pengembangan karakter. Partisipasi orang tua juga tak kalah penting, karena kolaborasi dengan guru dapat memperkuat hasil evaluasi karakter siswa. Instrumen penilaian harus dirancang dengan objektif dan mencakup indikator spesifik yang mudah dipahami, sehingga proses evaluasi berjalan adil dan transparan. Pemantauan dan evaluasi berkelanjutan dibutuhkan memastikan efektivitas metode ini, dengan melibatkan umpan balik dari berbagai pihak. Terakhir, budaya apresiasi di sekolah, seperti memberikan penghargaan atas perilaku positif, dapat memotivasi siswa untuk terus mengembangkan karakter yang baik. Dengan semua faktor ini, evaluasi berbasis karakter dapat diterapkan secara optimal untuk mendukung pembentukan pribadi siswa yang berkarakter. Penanaman karakter sangat penting dalam pendidikan Islam. Pencapaian karakter memerlukan tujuan yang ideal untuk dicapai. Oleh karena itu, kurikulum dirancang, disusun, dan diproses menggunakan maksimal dilakukan untuk mencapai tujuan. Tentu saja, ada banyak tugas yang harus diselesaikan oleh pendidikan Islam, salah satunya adalah mengembangkan potensi fitrah manusia. Dalam hal pendidikan karakter, lembaga pendidikan pesantren telah menerapkan pendidikan karakter secara sistematis dan konsisten sejak lama. (Miswanto, 2014, p. KESIMPULAN Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti memiliki peran sentral dalam pembentukan karakter siswa, tidak hanya sebagai mata pelajaran yang menyampaikan pengetahuan, tetapi juga sebagai sarana menanamkan nilai-nilai moral dan spiritual yang harus terintegrasi dalam kehidupan sehari-hari. Nilainilai seperti kejujuran, tanggung jawab, hormat kepada orang tua dan guru, serta tolong-menolong perlu dijadikan pedoman hidup melalui pembiasaan yang EL HAYAH: Jurnal Studi Islam. Vol. 15 No. 1 Juni 2025 ISSN : 2086 - 4337 E-ISSN 2809-7920 Di era modern yang penuh tantangan seperti paparan media sosial dan gaya hidup instan, karakter seperti disiplin, kemandirian, kemampuan berpikir kritis, dan kesadaran tanggung jawab menjadi sangat penting. Peran guru sebagai teladan utama sangat menentukan dalam mengarahkan potensi siswa yang kreatif dan terbuka agar tumbuh menjadi pribadi yang kuat secara intelektual, emosional, dan sosial, dengan dukungan penuh dari lingkungan keluarga, sekolah Evaluasi berbasis karakter efektif dalam mendukung internalisasi nilainilai seperti kejujuran, tanggung jawab, dan disiplin, serta relevan untuk menghadapi tantangan sosial dan moral dimasa modern. Studi mendatang dapat mengeksplorasi metode evaluasi yang lebih inklusif, seperti kolaborasi antara sekolah dan masyarakat, serta mengkaji penerapan teknologi dalam evaluasi berbasis karakter. Studi ini menegaskan pentingnya pendidikan berbasis karakter dalam membentuk generasi yang unggul secara intelektual dan spiritual. Keterbatasannya meliputi kurangnya pelatihan guru untuk mengevaluasi karakter Perlu pengembangan pelatihan guru secara berkelanjutan serta integrasi teknologi dalam evaluasi. (Fadillah. Muhammad & Rizka, 2. DAFTAR PUSTAKA