JEMI JURNAL EDUKASI PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH Vol. No. Maret 2026 ISSN: 3048-197X https://ejournal. id/index. php/jemi PENERAPAN PEMBELAJARAN FLIPPED CLASSROOM TERHADAP KEAKTIFAN PESERTA DIDIK PADA MATERI PECAHAN DI KELAS i SDN KRAMAT 01 BANGKALAN Yuliana Alfiyatin Institut Bahri Asyiq Galis Bangkalan Vivialvi8@gmail. Ibnu Amiruddin Institut Bahri Asyiq Galis Bangkalan Ibnuamiruddin4@gmail. Abstract Mathematics requires students to be active in applying different things to meet their learning needs. Therefore, active learning is very necessary to help them listen, see, ask questions about certain lessons, and discuss them with others. Active learning is still difficult to implement by teachers, especially teachers at SDN Kramat 01 Bangkalan. Based on interviews conducted by researchers with mathematics teachers at SDN Kramat 01 Bangkalan, teachers also stated that during lessons, many students still discuss topics outside the scope of the lesson and are passive in the learning process. Flipped classroom learning is expected to overcome this problem. This type of learning requires students to be active in meeting their learning needs. Flipped classroom learning is a model in which the learning process does not take place as usual, namely in the learning process, students study the subject material at home before class begins, and teaching and learning activities in class consist of doing assignments and discussing material or problems that students do not yet understand. The purpose of this study is to describe the implementation of Flipped Classroom learning and whether or not Flipped Classroom learning has an effect on student activity in learning fractions in the third grade at SDN Kramat 01 Bangkalan. The method used in this study was quantitative research using questionnaires and observation instruments to determine whether there was an effect between the application of the Flipped Classroom learning method and whether there was an effect of the Flipped Classroom learning method on student activity in fraction material in class i at SDN Kramat 01 Bangkalan, using product moment analysis. The calculated rxy result was 0. 703 and the r table at a significance level of 5% was 0. The calculated r was 703, which was then compared with the table r of 0. 433, showing that the calculated r was greater than the table r, meaning that H1 was accepted and H0 was rejected, thus proving that there was an effect of the implementation of flipped classroom learning on student activity in learning fractions in grade i at SDN Kramat 01 Bangkalan. Keywords: Flipped Classroom learning, activity, fractions Abstrak Matematika menuntut keaktifan peserta didik menerapkan sesuatu yang berbeda dalam memenuhi kebutuhan belajarnya. Maka pembelajaran aktif sangat perlu diadakan untuk membantu mendengarkannya, melihatnya, mengajukan pertanyaan tentang pelajaran JEMI JURNAL EDUKASI PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH Vol. No. Maret 2026 ISSN: 3048-197X https://ejournal. id/index. php/jemi tertentu, dan mendiskusikannya dengan yang lain. Pembelajaran aktif masih sulit direalisasikan oleh guru khususnya guru di SDN Kramat 01 Bangkalan. Berdasarkan wawancara yang dilakukan peneliti dengan guru mata pelajaran matematika di SDN Kramat 01 Bangkalan. Guru juga menyatakan saat pembelajaran berlangsung masih banyak peserta didik yang berdiskusi diluar pembahasan dan pasif dalam proses Pembelajaran Flipped Classroom diharapkan mampu mengatasi permasalahan tersebut. Pembelajaran ini menuntut peserta didik untuk aktif dalam memenuhi kebutuhan belajarnya. Pembelajaran Flipedd classroom adalah model dimana dalam proses pembelajaran berlangsung tidak seperti pada umumnya, yaitu dalam proses pembelajaran peserta didik mempelajari materi pelajaran dirumah sebelum kelas dimulai dan kegiatan belajar mengajar dikelas berupa mengerjakan tugas, berdiskusi tentang materi atau masalah yang belum dipahami peserta didik. Tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan Penerapan pembelajaran Flipped Classroom serta ada tidaknya pengaruh Pembelajaran Flipped Classroom terhadap keaktifan peserta didik pada materi pecahan di kelas i SDN Kramat 01 Bangkalan. Metode dalam penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan menggunakan instrumen angket dan observasi yang kemudian untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh antara Penerapan pembelajaran Flipped Classroom serta ada tidaknya pengaruh Pembelajaran Flipped Classroom terhadap keaktifan peserta didik pada materi pecahan di kelas i SDN Kramat 01 Bangkalan yaitu menggunakan analisis product moment. Diperoleh hasil rxy hitungnya adalah adalah 0,703 dan r table pada taraf signifikan 5% adalah 0,433. r hitung diperoleh 0,703 yang kemudian dibandingkan dengan r tabelnya diperoleh 0,433 menunjukkan bahwa lebih besar r hitung dibandingkan r table, artinya H1 diterima dan H0 ditolak, maka ada pengaruh Penerapan pembelajaran flipped classroom terhadap keaktifan peserta didik pada materi pecahan di kelas i SDN Kramat 01 Bangkalan. Kata kunci : Pembelajaran Flipped Classroom, keaktifan, pecahan Pendahuluan Pendidikan. usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan. suasana belajar dalam proses pembelajaran agar siswa secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk kekuatan spiritual keagamaan, keperiadian, kecerdasan, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat. Dalam proses pendidikan, kegiatan pembelajaran merupakan kegiatan paling pokok secara keseluruhan1 Seiring perkembangan tekhnologi, pendidikan juga mengalami perubahan yang amat Berbagai cara atau metode baru yang telah diperkenalkan serta digunakan supaya Pramita Sylvia Dewi. AuPerspektif Guru Sebagai Implementasi Pembelajaran Inkuiri Terbuka Dan Inkuiri Terbimbing Terhadap Sikap Ilmiah Dalam Pembelajaransains,Ay Jurnal Tadris: Jurnal Keguruan Dan Ilmu Tarbiyah 1, no. 179Ae86. JEMI JURNAL EDUKASI PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH Vol. No. Maret 2026 ISSN: 3048-197X https://ejournal. id/index. php/jemi pembelajaran menjadi lebih berkesan dan bermakna. Kini sumber belajar dapat diperoleh melalui berbagai media maupun internet. Peserta didik dapat mengakses internet, dan belajar melalui media dimanapun dan kapanpun. Dengan demikian waktu belajar tak hanya terbatas disekolah bersama guru saja. Sejak beberapa tahun terakhir pembelajaran berbantuan media telah diperkenalkan dan semakin mendapat perhatian banyak kalangan. Beberapa mata pelajaran di sekolah telah menggunakan media sebagai alat bantu pembelajaran untuk meningkatkan keaktifan dan hasil belajar peserta didik khususnya mata pelajaran matematika. Matematika merupakan salah satu pelajaran yang memiliki peran penting dalam dunia Soedjadi menyatakan bahwa matematika sebagai wahana pendidikan yang tidak hanya dapat digunakan untuk mencapai satu tujuan yaitu mencerdaskan peserta didik, tetapi dapat pula untuk membentuk kepribadian siswa serta mengembangkan keterampilan tertentu yang mengarahkan perhatian kepada pembelajaran nilai-nilai dalam kehidupan melalui matematika2 Matematika menuntut keaktifan peserta didik menerapkan sesuatu yang berbeda dalam memenuhi kebutuhan belajarnya. Maka pembelajaran aktif sangat perlu diadakan untuk membantu mendengarkannya, melihatnya, mengajukan pertanyaan tentang pelajaran tertentu, dan mendiskusikannya dengan yang lain. Belajar aktif meliputi berbagai cara untuk membuat peserta didik aktif sejak melalui aktivitas-aktivitas yang membangun kerja kelompok dan dalam waktu singkat membuat mereka berpikir tentang materi pelajaran. Namun, tidak mudah bagi seorang guru membiasakan peserta didik untuk menerapkan hal yang baru dalam memenuhi kebutuhan belajarnya. Pembelajarran aktif masih sulit direalisasikan oleh guru khususnya guru di SDN Kramat 01 Bangkalan. Berdasarkan wawancara yang dilakukan peneliti dengan guru mata pelajaran matematika di SDN Kramat 01 Bangkalan. Guru juga menyatakan saat pembelajaran berlangsung masih banyak peserta didik yang berdiskusi diluar pembahasan dan pasif dalam proses pembelajaran. Ketika diberikan tugas individu maupun kelompok tidak terlihat kondisi peserta didik dalam mencari jawaban, siswa hanya berharap pada teman mereka yang sudah selesai Masalah lain yaitu peserta didik masih kesulitan dalam mengiterpretasikan kalimat yang dimaksud oleh guru dan waktu yang tersedia untuk pelajaran matematika di sekolah sangat terbatas sehingga tidak memungkinkan untuk guru menjelaskan materi tersebut berulang kali. Soedjadi R. Kiat Pendidikan Matematika di Indonesia: Konstatasi Keadaan Masa Kini Menuju Harapan Masa Depan. (Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, 2. JEMI JURNAL EDUKASI PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH Vol. No. Maret 2026 ISSN: 3048-197X https://ejournal. id/index. php/jemi Hal ini menyebabkan pembelajaran peserta didik cenderung pasif karena peserta didik hanya menerima materi yang diberikan oleh guru saja. Pada saat pembelajaran berlangsung peneliti mendapati dari 21 peserta didik di kelas i dimana hanya 5 peserta didik memperhatikan penjelasan guru, tak ada satupun peserta didik yang bertanya, saat diberikan soal latihan hanya 5 peserta didik yang terlihat mencari jawaban. Sementara peserta didik lain hanya sibuk berbicara dengan teman sebangku, dan mengganggu temannya. Selain itu tidak terlihat peserta didik yang mau maju untuk mengerjakan soal di papan tulis. Dari observasi yang dilakukan peneliti menemukan kurangnya keaktifan belajar peserta didik khususnya pada pembelajaran Pembelajaran seharusnya bukan hanya sekedar mentrasfer ilmu saja, tetapi dituntut agar terjadi interaksi aktif antara peserta didik dengan guru dan peserta didik dengan peserta didik lain. Pembelajaran yang menuntut keaktifan peserta didik, bukan dominasi guru sehingga proses pembelajaran berpusat pada peserta didik . tudent cente. Pembelajaran yang diterapkan dengan tepat diharapkan sebagai suatu cara yang dapat meningkatkan keaktifan peserta didik serta untuk mengefisienkan waktu dalam memahamkan materi pada peserta didik. Pembelajaran Flipped Classroom diharapkan mampu mengatasi permasalahan tersebut. Pembelajaran ini menuntut peserta didik untuk aktif dalam memenuhi kebutuhan belajarnya. Pembelajaran Flipedd classroom adalah model dimana dalam proses pembelajaran berlangsung tidak seperti pada umumnya, yaitu dalam proses pembelajaran peserta didik mempelajari materi pelajaran dirumah sebelum kelas dimulai dan kegiatan belajar mengajar dikelas berupa mengerjakan tugas, berdiskusi tentang materi atau masalah yang belum dipahami peserta Dalam proses mempelajari materi pelajaran dirumah sebelum kelas dimulai dengan berbantuan media digital berupa video pembelajaran dan kegiatan belajar mengajar dikelas berupa mengerjakan tugas, berdiskusi tentang materi atau masalah yang belum dipahami peserta didik dari video pembelajaran yang ditonton saat di rumah. Dengan mengerjakan tugas di sekolah diharapkan ketika peserta didik mengalami kesulitan dapat langsung bertanya kepada temannya atau dengan guru sehingga permasalahannya dapat langsung dipecahkan. Fradila Yulietri dan Mulyoto Mulyoto. AuModel Flipped Classroom dan Discovery Learning Pengaruhnya Terhadap Prestasi Belajar Matematika Ditinjau Dari Kemandirian Belajar,Ay Teknodika 13, no. : 5. JEMI JURNAL EDUKASI PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH Vol. No. Maret 2026 ISSN: 3048-197X https://ejournal. id/index. php/jemi Memahami dari permasalahan di atas, maka penulis akan melakukan penelitian yang berjudul AuPenerapan pembelajaran flipped classroom terhadap keaktifan peserta didik pada materi pecahan di kelas SDN Kramat 01 BangkalanAy. Pada dasarnya, konsep pembelajaran Flipped Classroom adalah ketika pembelajaran yang seperti biasa dilakukan di kelas dilakukan oleh peserta didik dirumah, dan pekerjaan rumah yang biasa dikerjakan dirumah diselesaikan disekolah 4. Flipped Classroom merupakan suatu cara yang dapat diberikan oleh guru dengan meminimalkan jumlah instruksi langsung dalam praktek mengajar mereka sambil memaksimalkan interaksi satu sama lain. Sehingga hal ini pemanfaatan teknologi ditambahkan untuk mendukung materi pembelajaran bagi peserta didik yang dapat diakses peserta didik secara Online maupun offline. Hal ini membebaskan waktu kelas yang sebelumnya telah digunakan untuk pembelajaran. Pembelajaran Flipped Classroom bukan hanya sekedar belajar menggunakan video pembelajaran, namun lebih menekankan tentang memanfaatkan waktu di kelas agar pembelajaran lebih bermutu dan bisa meningkatkan pengetahuan peserta didik. Langkah Ae langkah pembelajaran Flipped Classroom adalah sebagai berikut : Sebelum tatap muka, peserta didik diminta untuk belajar mandiri dirumah mengenai materi untuk pertemuan berikutnya, dengan menonton video pembelajaran karya guru itu sendiri ataupun video pembelajaran dari hasil upload orang lain. Pada pembelajaran dikelas, peserta didik dibagi menjadi beberapa kelompok . Peran guru pada saat kegiatan belajar berlangsung adalah memfasilitasi berlangsungnya diskusi. Di samping itu, guru juga akan menyiapkan beberapa pertanyaan . dari materi tersebut. Guru memberikan kuis atau tes sehingga peserta didik sadar bahwa kegiatan yang mereka lakukan bukan hanya permainan, tetapi merupakan proses belajar, serta guru berlaku sebagai fasilitator dalam membantu peserta didik dengan materi5 Adapun Kelebihan Pembelajaran Flipped Classroom: Peserta didik memiliki waktu untuk mempelajari materi pelajaran dirumah sebelum guru menyampaikannya di dalam kelas sehingga peserta didik lebih mandiri. Ibid, 7 http://nurfitriyanaulmafath. com/2014/01/05/strategi-flipped-classroom/ JEMI JURNAL EDUKASI PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH Vol. No. Maret 2026 ISSN: 3048-197X https://ejournal. id/index. php/jemi Peserta didik dapat mempelajari materi pelajaran dalam kondisi dan suasana yang nyaman dengan kemampuannya menerima materi. Peserta didik mendapatkan perhatian penuh dari guru ketika mengalami kesulitan dalam memahami tugas atau latihan. Peserta didik dapat belajar dari berbagai jenis konten pembelajaran baik melalui video / buku / website. Peserta didik dapat mengulang-ulang video tersebut hingga ia benar-benar paham materi, tidak seperti pada pembalajaran biasa, apabila peserta didik kurang mengerti maka guru harus menjelaskan lagi hingga peserta didik dapat mengerti sehingga kurang efisien. Peserta didik dapat mengakses video tersebut dari manapun asalkan memiliki koneksi internet yang cukup. Keaktifan peserta didik menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam proses pembelajaran peserta didik. Keaktifan berasal dari kata aktif dan mendapatkan imbuhan ke-an yang mempunyai arti dalam kamus Besar Bahasa Indonesia adalah giat . Jadi dapat dinyatakan bahwa keaktifan adalah keadaan dimana peserta didik bekerja beruasaha menjadi aktif. Keaktifan menurut Ahmadi & Supriyono adalah kegiatan yang bersifat fisik maupun mental, yaitu berbuat dan berfikir sebagai suatu rangkaian yang tidak dapat dipisahkan. Peserta didik aktif adalah peserta didik yang terlibat secara intelektual dan emosional dalam kegiatan Keaktifan Menurut Karwati adalah kegiatan atau aktivitas segala sesuatu yang dilakukan yang terjadi baik secara fisik maupun non fisik. Keaktifan yang dimaksud disini penekanannya adalah pada peserta didik, karena dengan aktifnya peserta didik dalam proses pembelajaran akan tercipta situasi belajar yang aktif. Menurut Sardiman keaktifan adalah kegiatan yang bersifat fisik maupun mental, yaitu berbuat dan berfikir sebagai rangkaian yang tidak dapat dipisahkan. Dalam mencapai keberhasilan belajar ada berbagai macam aktivitas yang harus dilalui, baik aktivitas fisik maupun psikis. Aktivitas fisik yaitu kegiatan yang aktif dengan anggota badan, membuat sesuatu, bermain Ahmadi. Abu & Widodo Supriyono. Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka Cipta. Karwati dan Priansa. Manajemen Kelas. Bandung: Alfabeta. JEMI JURNAL EDUKASI PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH Vol. No. Maret 2026 ISSN: 3048-197X https://ejournal. id/index. php/jemi maupum bekerja, ia tidak hanya duduk dan mendengarkan, melihat atau hanya pasif. Sedangkan aktivitas psikis adalah jika daya jiwanya berfungsi dalam rangka pembelajaran. Menurut Sugandi keaktifan peserta didik dalam proses pembelajaran dapat dilihat pada dimensi peserta didik yaitu pembelajaran yang berkadar peserta didik aktif akan terlihat pada diri peserta didik akan adanya keberanian untuk mengungkapkan pikiran, perasaan, keinginan dan Dalam dimensi peserta didik ini nanti pada akhirnya akan tumbuh dan berkembang kemampuan kreativitas peserta didik. Melalui pembelajaran aktif ini, peserta didik diajak untuk turut serta dalam proses pembelajaran, tidak hanya mental tetapi melibatkan fisik. Dengan cara ini biasanya peserta didik akan merasakan suasana yang lebih menyenangkan sehingga hasil belajar dapat dimaksimalkan. Keterlibatan peserta didik dalam proses belajar mengajar dan diharapkan dalam pembelajaran peserta didik harus bersikap aktif sesuai dengan peran siswa sebagai subjek pembelajaran. Keaktifan peserta didik dalam kegiatan belajar adalah untuk mengkontruksi pengetahuan mereka Keaktifan dapat membangun pemahaman atas persoalan atau segala sesuatu yang mereka hadapi dalam proses pembelajaran. Indikator keaktifan siswa berdasarkan jenis aktivitasnya dalam proses pembelajaran, yaitu sebagai berikut (Dedrich dalam Sardima. :10 Visual (Visual activitie. : Membaca, melihat gambar-gambar, mengamati eksperimen, demonstrasi, dan mengamati orang lain. Lisan (Oral activitie. : Mengemukakan suatu fakta atau prinsip, menghubungkan suatu kejadian, mengajukan pertanyaan, memberi saran, mengemukakan pendapat, wawancara, diskusi dan interupsi. Mendengarkan (Listening activitie. : Mendengarkan penyajian bahan, mendengarkan percakapan atau diskusi kelompok, mendengarkan pidato. Menulis (Writing activitie. : Mengarang, membuat makalah, karangan, membuat surat. Menggambar (Drawling activitie. : Menggambar, memebuat grafik, diagram, peta. Sardiman. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Rajawali Pers. Sugandi. Ahmad. Teori Pembelajaran. Semarang: UPT MKK Universitas Negeri Semarang. Ibid. JEMI JURNAL EDUKASI PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH Vol. No. Maret 2026 ISSN: 3048-197X https://ejournal. id/index. php/jemi Motorik (Motor activitie. : Melakukan percobaan, memilih alat-alat, merangkai alat, dan melakukan pengukuran. Mental (Mental activitie. : Merenung, memecahkan masalah, menganalisis, dan membuat keputusan. Emosional (Emotional activitie. : merasa bosan, gembira, semangat, bergairah berani, tenang, gugup dan lain-lain. Keberanian dan ketenangan peserta didik dalam merespon pertanyaan atau mengajukan pertanyaan serta mengemukakan pendapat Salah satu penilaian proses pembelajaran adalah melihat sejauh mana keaktifan peserta didik dalam mengikuti proses pembelajaran. Menurut Sudjana, peserta didik dikatakan aktif dalam pembelajaran bila terdapat ciri-ciri sebagai berikut:11 Turut serta dalam melaksanakan tugas belajar Terlibat dalam pemecahan masalah Bertanya kepada peserta didik yang lain atau kepada guru apa bila tidak mengalami persoalan yang dihadapinya. Berusaha mencari berbagai informasi yang diperlukan untuk pemecahan masalah Melaksanakan diskusi kelompok Menilai kemampuan dirinya dan hasil yang diperolehnya Melatih diri dalam memecahkan soal atau masalah Kesempatan menggunakan atau menerapkan apa yang telah diperolehnya dalam menyelesaikan tugas atau persoalan yang dihadapinya. Sedangkan menurut Salasih, indikator keaktifan belajar sebagai berikut: 12 Antusias peserta didik dalam mengikuti pembelajaran. Keaktifan belajar dapat dilihat dari antusias peserta didik dalam mengikuti pembelajaran. Meliputi keaktifan dalam memperhatikan penjelasan guru, tidak mengerjakan pekerjaan lain, spontan bekerja apabila diberi tugas, tidak terpengaruh situasi di luar kelas. Interaksi peserta didik dengan guru. Interaksi siswa dengan guru meliputi keaktifan bertanya kepada guru, menjawab pertanyaan guru, memanfaatkan guru sebagai narasumbeer dan fasilitator. Sudjana. Nana. Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algensindo. Salasih. Sintha Muning. Meningkatkan Keaktifan Belajar Siswa Menggunakan Model Quantum Teaching Pada Siswa Kelas V SD Negeri Sangon Kokap Kulon Progo. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta. JEMI JURNAL EDUKASI PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH Vol. No. Maret 2026 ISSN: 3048-197X https://ejournal. id/index. php/jemi Kerjasama kelompok. Kerjasama kelompok meliputi keaktifan membantu teman dalam kelompok yang menjumpai masalah, meminta bantuan kepada teman jika mengalami masalah, mencocokkan jawaban atau konsepsi dalam satu kelompok dan pembagian tugas dalam kelompok. Keaktifan siswa dalam kelompok. Keaktifan peserta didik dalam kelompok meliputi keaktifan mengemukakan pendapatnya, menanggapi pertanyaan/pemdapat teman dalam kelompoknya, mengerjakan tugas kelommpok dan menjelaskan pendapat atau Partisipasi peserta didik dalam menyimpulkan hasil pembahasan. Partisipasi peserta didik dalam menyimpulkan hasil pembahasan meliputi keaktifan mengacungkan tangan untuk ikut menyimpulkan, merespom pertanyaan atau simpulan teman, menyempurnakan simpulan yang dikemukakan oleh teman dan menghargai pendapat Keaktifan belajar suatu individu berbeda dengan individu lainnya. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor yang menyebabkan perbedaan tingkat keaktifan seseorang. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi timbulnya keaktifan peserta didik dalam proses pembelajaran. Menurut Gagne & Briggs . alam Martinis Yami. faktor-faktor tersebut diantaranya:13 Memberikan dorongan atau menarik perhatian peserta didik, sehingga mereka dapat berperan aktif dalam kegiatan pembelajaran. Menjelaskan tujuan intruksional . emampuan dasar kepada peserta didi. Mengingatkan kompetensi belajar kepada peserta didik. Memberikan stimulus . asalah, topik dan konsep yang akan dipelajar. Memberi petunjuk kepada peserta didik cara mempelajarinya. Memunculkan aktivitas, partisipasi siswa dalam kegiatan pembelajaran. Memberi umpan balik . eed bac. Melakukan tagihan-tagihan kepada peserta didik berupa tes, sehingga kemampuan peserta didik selalu terpantau dan terukur. Menyimpulkan setiap materi yang disampaikan di akhir pelajaran. Menurut Sanjaya Keaktifan belajar peserta didik dipengaruhi oleh enam faktor yaitu:14 Yamin. Martinis. Profesional Guru & Implementasi KTSP. Jakarta: Gaung Persada Press. Sanjaya. Wina. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana. JEMI JURNAL EDUKASI PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH Vol. No. Maret 2026 ISSN: 3048-197X https://ejournal. id/index. php/jemi Adanya keterlibatan peserta didik baik secara fisik, mental, emosional maupun intelektual dalam setiap proses pembelajaran. Peserta didik belajar secara langsung. Adanya keinginan peserta didik untuk menciptakan iklim belajar yang kondusif. Keterlibatan peserta didik dalam mencari dan memanfaatkan setiap sumber belajar yang tersedia yang dianggap relevan dengan tujuan pembelajaran. Adanya keterlibatan peserta didik dalam melakukan prakarsa. Terjadinya interaksi yang multi arah, baik antara peserta didik dengan peserta didik atau antara peserta didik dengan peserta didik atau antara guru dengan peserta didik. Metode Penelitian Dalam penelitian ini peneliti menggunakan jenis penelitian kuantitatif dengan metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen. Tempat penelitian dilakukan disekolah MI Al-Falah Kecamatan Socah Kabupaten Bangkalan. Waktu penelitian dilakukan disemester Ganjil tahun pelajaran 2025-2026. Subjek penelitian dalam penelitian ini adalah semua peserta didik SDN Kramat 01 kelas i yaitu sebanyak 21 Peserta didik. Adapun rancangan penelitian pada penulisan karya ilmiah ini menggunakan desain oneshot case study yaitu pola X adalah treatment atau perlakuan. 0 adalah hasil observasi setelah treatment. Adapun uji hipotesis sebagai berikut: H: Adanya pengaruh Penerapan Pembelajaran flipped classroom terhadap keaktifan peserta didik pada materi pecahan di kelas SDN Kramat 01 Bangkalan Ho: Tidak adanya pengaruh Penerapan Pembelajaran flipped classroom terhadap keaktifan peserta didik pada materi pecahan di kelas SDN Kramat 01 Bangkalan. Untuk mempermudah proses penyajian dan analisis data yang terarah dan sistematis penulis menggunakan metode penyebaran angket, observasi, dan dokumentasi. Dengan penjelasan sebagai Metode angket JEMI JURNAL EDUKASI PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH Vol. No. Maret 2026 ISSN: 3048-197X https://ejournal. id/index. php/jemi Metode angket atau yang biasa disebut dengan koesioner merupakan tehnik pengumpulan data yang di lakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis terhadap responden untuk dijawabnya. Sedangkan metode yang digunakan peneliti saat ini adalah metode angket tertutup. Responden hanya bisa menjawab pertanyaan yang telah di sediakan oleh peneliti dalam angket tersebut. Subyek penelitian hanya diminta untuk memilih salah satu jawaban yang sesuai dengan dirinya. Dalam penelitian ini, alternatif jawaban yang digunakan terdiri dari 2 alternatif jawaban yaitu ya dan tidak adapun skor untuk setiap butir soal adalah sebagai Tabel Pedoman Pensekoran Angket Respon Siswa Skor Pertanyaan Positif Kategori Jawaban Tidak Skor Pertanyaan Negatif Metode observasi Metode observasi ini merupakan teknik pengumpulan data yang mempunyai ciri yang spesifik bila dibandingkan dengan tehnik yang lain, yaitu wawancara dan koesioner. wawancara dan koesioner selalu berkomunikasi dengan orang, maka observasi tidak berbatas pada orang, tetapi juga obyek-obyek alam yang lain. Dalam hal ini yang peneliti teliti adalah proses pembelajaran yang berlangsung dengan menggunakan pembelajaran flipped classroom terhadap keaktifan peserta didik pada materi pecahan di kelas i SDN Kramat 01 Bangkalan. Dalam penelitian ini menggunakan 2 orang observer yang mengamati aktivitas peserta didik dengan disesusaikan berdasarkan indikatorindikator aktif dalam proses pembelajaran. Metode dokumentasi Sugiyono . Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif R dan D ( Bandung: Alfabeta, 2. , 142. Ibid, 145. JEMI JURNAL EDUKASI PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH Vol. No. Maret 2026 ISSN: 3048-197X https://ejournal. id/index. php/jemi Metode dokumentasi merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu yang berupa: Tulisan, gambar, atau karya karya yang lain. 17Metode ini dipakai untuk memperoleh data tentang penerapan pembelajaran flipped classroom dan hasil belajar peserta didik dan yang berkaitan dengan data SDN Kramat 01 Bangkalan. Analisis data dimaksudkan untuk mengkaji lebih dalam kaitannya dengan pengujian hipotesis penelitian yang telah dirumuskan. Data yang berhasil dikumpulkan selama penelitian diseleksi, dikelompokkan, disajikan, kemudian di analisis, untuk menganalisis data yang telah dikumpulkan peneliti menggunakan metode kuantitatif dan analisis statistik sebagai berikut: Analisis angket Untuk menjawab rumusan masalah pertama dari data yang diperoleh melalui penyebaran angket pada sejumlah responden, setelah hasil didapat maka akan digunakan rumusan prosentase sebagai berikut: X 100% Keterangan: f = Frekuensi yang sedang dicari persentasenya. N= Number of Case. umlah frekuensi/banyak individ. p = Angka persentase. Respons peserta didik dikatakan positif jika lebih dari atau sama dengan 75% dari keseluruhan siswa yang memilih jawaban AuYAAy. Selanjutnya. Arikunto menafsirkan hasil tersebut ditetapkan standar sebagai 76% - 100% tergolong baik 56% - 75% tergolong cukup 40% - 55% tergolong kurang Kurang dari 40% tergolong tidak baik19. Ibid, 240. Anas Sudjiono. Pengantar Statistik Pendidikan, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2. , 43. Suharsimi Arikunto. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik. (Jakarta: BumiAksara,1. , hal. JEMI JURNAL EDUKASI PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH Vol. No. Maret 2026 ISSN: 3048-197X https://ejournal. id/index. php/jemi Analisis Observasi Observasi yang dilakukan oleh 2 orang observer kemudian dalam daftar observasinya menggunakan skala likert yaitu nilai 5 untuk sangat sesuai, 4 untuk sesuai, 3 untuk cukup sesuai, 2 untuk kurang sesuai dan 1 untuk tidak sesuai. Observer akan mengamati aktivitas peserta didik dan mengisi kolom yang sesuai dengan kondisi peserta didik dan disesuaikan dengan indikator-indikator aktif dalam proses pembelajran kemudian masing-masing point indikator dan masing-masing pada point observer akan dijumlahkan kemudian dibagi 2. Kemudian angka itu akan dianalisis. Peserta didik dinilai aktif jika point yang diberikan oleh masing-masing observer adalah minimal cukup sesuai atau dalam hal ini bernilai 3. Sedangkan aktif secara klasikal tercapai jika pada kelas tersebut Ou 75% dari keseluruhan peserta didik. Rumus yang digunakan adalah rumus korelasi product moment: ycu ycu ycu Ocycu ycn=1 ycuycn yi Oe(Ocycn=1 ycuycn ) (Ocycn=1 yi ) ycu ycu ycu Oo( ycu Ocycu ycn=1 . ycuycn Oe ( Ocycn=1 . ycuycn ) ) . cu Ocycn=1 . ycycn Oe (Ocycn=1 . ycycn ) ) Keterangan : ycycuyc = koefisien korelasi ycu = variabel x yc = variabel y ycu = banyaknya peserta didik Hasil dan Pembahasan Hasil Angket Adapun yang dimaksud pada bagian ini adalah angket yang berisi pertanyaan tentang penerapan pembelajaran flipped classroom yang diperoleh dari hasil jawaban angket seluruh peserta didik kelas i SDN Kramat 01 yaitu berjumlah 21 peserta didik yang diberikan setelah proses pembelajaran dengan menggunakan pembelajaran flipped classroom. Tujuan dari hasil angket tersebut adalah untuk mengetahui respon peserta didik terhadap penerapan pembelajaran flipped classroom pokok bahasan pecahan kelas i yang telah diterapkan, maka peneliti melakukan penyebaran angket yang berisikan 13 pertanyaan dengan JEMI JURNAL EDUKASI PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH Vol. No. Maret 2026 ISSN: 3048-197X https://ejournal. id/index. php/jemi 2 . pilihan jawaban yaitu Ya tau Tidak kepada seluruh peserta didik yang berjumlah 21 peserta didik. Ketentuan nilai dari angket tersebut adalah jika responden menjawab AuYaAy maka bernilai 1 . , sedangkan jika menjawab AyTidakAy maka bernilai 0 . Hasil angket diperoleh terdapat 18 dari 21 peserta didik yang menjawab AuiyaAy dari total pertanyaan pada setiap peserta didik, dan secara klasikal menunjukkan terdapat 85,71%. Hasil tersebut menunjukkan bahwa peserta didik antusias dan menyukai penerapan pembelajaran flipped classroom pada materi pecahan, dan disalah satu point pertanyaan dalam angket yaitu Auapakah kamu mau pembelajaran flipped classroom diterapkan dalam pembelajaran matematika di materi lainnya?Ay dan keseluruhan peserta didik menjawab AuYaAy yang artinya mereka begitu senang dalam proses penerapan pembelajaran flipped classroom terutama pada materi pecahan. Hasil Observasi Hasil observasi yang dilakukan oleh 2 observer selama proses pembelajaran yang menerapkan pembelajaran flipped classroom terhadap keaktifan peserta didik kelas i SDN Kramat 01 yang berjumlah 21 peserta didik dengan disesuaikan indikator keaktifan yang berjumlah 10 indikator. Indikator-indikator tersebut antara lain: Turut serta dalam melaksanakan tugas belajar Terlibat dalam pemecahan masalah Bertanya kepada pesrta didik yang lain atau kepada guru apa bila tidak mengalami persoalan yang dihadapinya. Berusaha mencari berbagai informasi yang diperlukan untuk pemecahan masalah Melaksanakan diskusi kelompok Menilai kemampuan dirinya dan hasil yang diperolehnya Melatih diri dalam memecahkan soal atau masalah Kesempatan menggunakan atau menerapkan apa yang telah diperolehnya dalam menyelesaikan tugas atau persoalan yang dihadapinya. Aktif dalam tanya jawab diskusi Terlibat dalam membuat Kesimpulan JEMI JURNAL EDUKASI PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH Vol. No. Maret 2026 ISSN: 3048-197X https://ejournal. id/index. php/jemi Indikator-indikator tersebut tertuang dalam lembar observasi yang dipegang oleh dua observer untuk mengamati aktivitas peserta didik selama proses pembelajaran yaitu dalam proses menerapkan pembelajaran flipped classroom . Selama proses observasi yang berlangsung, nampak bahwa secara keseluruhan peserta didik terlibat secara langsung dalam proses pembelajaran terutama dalam memahami materi Adanya Kerjasama dalam kelompok dalam memecahkan masalah, serta presentasi dan diskusi yang aktif dalam mencari dan menyelesaikan masalah. Hal tersebut juga menjadi nuansa baru untuk suasana belajar terutama di kelas i SDN Kramat 01 Bangkalan, sebab yang sebelumnya pembelajaran matematika membosankan dan terasa materinya begitu sulit dipahami, kini menjadi pembelajaran yang menyenangkan serta cukup mudah untuk Peserta didik menjadi lebih aktif serta adanya proses yang komunikatif baik antar perserta didik maupun dengan guru sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna yaitu pembelajaran bukan hanya sistem mentrasnfer ilmu dan hafalan saja, namun peserta didik mampu memahami materi yaitu materi pecahan sehingga peserta didik juga mampu menyelesaikan masalah terutama dalam menyelesaikan soal-soal yang diberikan oleh guru dengan baik. Dari hasil observasi terdapat 17 peserta didik yang keseluruhan tiap point indikator yang memiliki nilai minimal 3 . Artinya terdapat 80,95% secara klasikal sudah mencapai indikator aktif. Hasil Analisis Data Untuk mengetahui respon peserta didik terhadap penerapan pembelajaran flipped classroom melalui hasil pengisian angket yang dilakukan oleh seluruh peserta didik kelas i SDN Kramat 01 Bangkalan maka dilakukan analisis terhadap hasil angket. Adapun analisis data tentang penerapan pembelajaran flipped classroom pada pokok bahasan pecahan melalui rekapitulasi hasil angket tersebut nampak bahwa terdapat 18 peserta didik yang menjawab AuiyaAy dari total pertanyaan pada setiap peserta didik, dan secara klasikal menunjukkan terdapat 85,71%. Dengan demikian penerapan pembelajaran flipped classroom pada pokok bahasan pecahan kelas i SDN Kramat 01 Bangkalan berkategori baik sebab berada padai rentang nilai 76% - 100%. JEMI JURNAL EDUKASI PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH Vol. No. Maret 2026 ISSN: 3048-197X https://ejournal. id/index. php/jemi Selanjutnya hasil tes yang telah dilaksanakan diakhir pelajaran yang merupakan rekapitulasi hasil dari 2 observer yang dilakukan selama proses pembelajaran pada pokok bahasan pecahan yang telah diperoleh menunjukkan bahwa hasil observasi yang dilakukan secara keseluruhan terdapat 17 peserta didik yang keseluruhan tiap point indikator yang memiliki nilai minimal 3 . Artinya terdapat 80,95% secara klasikal sudah mencapai indikator aktif. Untuk selanjutnya yaitu untuk mengetahui pengaruh Penerapan pembelajaran flipped classroom terhadap keaktifan peserta didik pada materi pecahan di kelas i SDN Kramat 01 Bangkalan dengan menggunakan rumus product moment yang selanjutnya akan dibandingkan dengan r tabel. Diperoleh hasil rxy hitungnya adalah 0,703 dan r table pada taraf signifikan 5% adalah 0,433. r hitung diperoleh 0,703 yang kemudian dibandingkan dengan r tabelnya diperoleh 0,433 menunjukkan bahwa lebih besar r hitung dibandingkan r table, artinya H1 diterima dan H0 ditolak, maka ada pengaruh Penerapan pembelajaran flipped classroom terhadap keaktifan peserta didik pada materi pecahan di kelas i SDN Kramat 01 Bangkalan. Dari pemaparan Analisa hasil di atas menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran flipped classroom dapat menjadi salah satu alternatif yang bisa dipakai dalam proses pembelajaran agar proses pembelajaran lebih aktif dan bermakna dimana proses pembelajaran bukan hanya mentrasnfer ilmu dan system hafalan saja, namun peserta didik juga diajak terlibat secara langsung dalam proses pembelajaran. Hal ini menjadikan peserta didik lebih aktif, komunikatif dan mampu menyelesaikan masalah dalam proses pembelajaran dengan baik, dengan catatan bahwa guru juga mampu menjadi fasilitator dan motifator yang komunikatif bagi peserta didik. Simpulan Proses pelaksanaan penelitian berjalan dengan baik yaitu penerapan pembelajaran flipped classroom sehingga memperoleh data yang kemudian analisis sehingga diperoleh hasil tentang Penerapan pembelajaran flipped classroom terhadap keaktifan peserta didik pada materi pecahan di kelas i SDN Kramat 01 Bangkalan, sebagai berikut: Dari hasil rekapitulasi angket terkait Penerapan pembelajaran flipped classroom terhadap keaktifan peserta didik pada materi pecahan di kelas i SDN Kramat 01 Bangkalan JEMI JURNAL EDUKASI PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH Vol. No. Maret 2026 ISSN: 3048-197X https://ejournal. id/index. php/jemi berkategori baik. Terdapat sebanyak 80,95% secara klasikal sudah mencapai indikator aktif. Dengan membandingkan antara r hitung dan r tabel disimpulkan bahwa ada pengaruh Penerapan pembelajaran flipped classroom terhadap keaktifan peserta didik pada materi pecahan di kelas i SDN Kramat 01 Bangkalan. Daftar Pustaka