Volume I No. 2 (Juli 2. : SRODJA Penerapan Proses Pembelajaran Pada Tk Ganesha Selama Setahun Terakhir Dilihat Dari Perspektif Pedagogi Kritis Oleh: Mila Rosa. Widyadhari Rizky Ariani Program Studi Ilmu Adminitrasi Negara. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Universitas Moch. Sroedji Jember. Indonesia 22140912186@umsj. Abstrak Banyaknya faktor-faktor eksternal yang dapat menggangu kegiatan proses pembelajaran dapat berakibat pada tidak optimalnya kegiatan pendidikan. Melalui pembelajaran pedagogi kritis sebagai sebuah gagasan dalam proses pembelajaran. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis Penerapan Proses Pembelajaran Pada TK GANESHA Selama Setahun Terakhir Dilihat Dari Perspektif Pedagogi Kritis. Menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan studi kasus jenis Subjek penelitian yaitu seluruh guru TK Ganesha Jember yang berjumlah 4 orang. Teknik pengumpulan data yang digunakan peneliti adalah metode observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa TK Ganesha tergolong sebagai sekolah yang menyelenggarakan proses pembelajaran proyek kolaborasi Leadership. Al-QurAoan. Science Innovation and Character (PROLASIC) yang memiliki kesesuaian proses pembelajaran dari perspektif pedagogi Setiap peserta didik dapat memilih apa yang akan dipelajari dan bagaimana cara peserta didik belajar. Kata Kunci: proses pembelajaran. taman kanak-kanak. pedagogi kritis Abstract The many external factors that can interfere with learning process activities can result in non-optimal educational activities. Through critical pedagogy learning as an idea in the learning process. The aim of this research is to analyze the implementation of the learning process at GANESHA Kindergarten over the past year from a critical pedagogy perspective. Using a descriptive quantitative approach with a case study type of research. The research subjects were all 4 Ganesha Jember Kindergarten teachers. The data collection techniques used by researchers are observation and interview methods. The research results show that Ganesha Kindergarten is classified as a school that organizes the Leadership. Al-Qur'an. Science Innovation and Character (PROLASIC) collaboration project learning process which has appropriate learning processes from a critical pedagogy perspective. Each student can choose what to learn and how students learn. Keywords: learning process. critical pedagogy Pendahuluan Pendidikan merupakan suatu perangkat bagi manusia dalam meningkatkan kesadaran kritis. Munculnya integrasi dalam diri manusia berawal pada kemampuan manusia dalam penyusaian diri dengan realitas, serta mengubah realitas dengan kemampuan kritis. Oleh sebab itu, landasan untuk mencapai taraf hidup yang lebih baik berada pada pendidikan. Pendidikan memiliki dua dimensi yang saling bersinergi, pertama yaitu pendidikan adalah hak asasi manusia dan kedua pendidikan adalah proses (Bakhshi et al. , 2. Pondasi terkuat untuk mengembangkan potensi sumber daya manusia ialah melalui pendidikan (Hermawati & Purnama, 2. Pendidikan merupakan hak dasar manusia, tanpa melalui proses pendidikan manusia tidak dapat mewujudkan hak nya sebagai manusia yang utuh (Budijanto & Rahmanto, 2. Hak asasi manusia berarti pendidikan boleh mengikut sertakan siapa saja tanpa terkecuali. Proses yang dimaksud merupakan suatu proses kebersamaan dengan sesama manusia. Hal tersebut mengingat bahwa tujuan pendidikan ialah mewujudkan pengembangan potensi yang ada dalam diri manusia tersebut (Sudarsana, 2. Melalui pendidikan manusia dapat mengumpulkan berbagai pengalaman, atau dapat membagikan potensi pengetahuan tersebut secara sistematis, karena di dalam pendidikan terdapat aktivitas membimbing dan membantu manusia mengembangkan segala bentuk potensi diri. Realitanya pendidikan hanya sebagai kebutuhan bangsa dalam berpolitik (Sitepu, 2016. Sutrisman, 2. Realita yang seperti ini sangat bertolak belakang terhadap kepercayaan masyarakat yang berasumsi bahwa pendidikan ialah sarana untuk menata dan memperbaiki masa depan putra putri mereka. Cara pandang yang seperti inilah membuat sejumlah lembaga pendidikan menjadikan pendidikan sebagai sarana untuk kepentingan ekonimis dan politis. Idealnya pemerintah merancang pendidikan dengan dua aspek yaitu asek psilokogis dan sosiologis. Aspek psikologis dipersiapkan untuk pembentukan mental rasional anak, sementara aspek sosiologis merupakan pertimbangan empirikal yang membantu proses pembentukan mental Dengan demikian, fungsi pendidikan berubah alih menjadi sarana pengukuhan kekuasaan, atau sebagai media kebutuhan politisi, dan bisa menjadi lahan garapan Menurut Prof Kurt singer mengatakan bahwa realita kondisi pendidikan saat ini adalah sekolah tidak lagi tempat nyaman bagi anak anak, dengan system pendidikan mau tak mau guru menjadi agen mengawasi, menindas dan dan merendahkan martabat siswa, sehingga mengakibatkan kegelisahan dan ketakutan itu sebagai pedagogik hitam (Artika, 2. Oleh sebab itu timbullah paradigma pedagogic kritis yang selalu membela peserta didik untuk menghadapi system tersebut. Menurut (Wattimena, 2. mengatakan bahwa rendahnya nilai kompetensi pendidik dikarenakan oleh pedagogik kritis yang kurang dipahami oleh pendidik itu sendiri, beranggapan pendidikan membentuk manusia kantoran yang harus patuh terhadap peraturan tidak dapat mengenal dirinya dengan baik. Berdasarkan hasil pengamatan peneliti di lapangan bahwa . dalam proses pembelajaran di kelas ada beberapa hambatan yang dihadapi oleh pendidik dan peserta didik, yaitu proses pembelajaran yang monoton sehingga kelas tidak kondusif. masih kurangnya penggunaan metode dialog antar pendidik dan peserta didik dalam membantu proses pembelajaran bersama dari masalah- masalah yang dialaminya di dalam kehidupan sehari hari. masih ada peserta didik tidak berani dalam mengungkapkan ide pikirannya. Sekolah bukan hanya sekedar untuk menyampaikan pengetahuan dan nilai- nilai kehidupan, namun tempat untuk menanyakan asal pengetahuan yang berkaitan dengan kekuasaan di masyarakat yang menciptakan pengetahuan dan nilai- nilai. Permasalahan pendidikan di Indonesia menurut Darmaningtyas bukan berbicara rendahnya anggaran dan infrastruktur namun pemasalahan itu terdapat pada beban ideologis dan politik yang dipangku dalam pendidikan nasional sehingga sangat terasa berat proses pencerdasan itu sendiri (Cahyani, 2016. Rahman et al. , 2. Praktik-praktik penyimpangan yang bermunculan pada pendidikan akan berpengaruh pada pembelajaran. Pembelajaran memiliki arti sebagai penyelenggara terwujudnya pendidikan. Definisi dari pembelajaran ialah upaya untuk membelajarkan peserta didik atau siswa. Hal serupa juga diperjelas oleh Sugiharto bahwa pembelajaran ialah aktivitas mengorganisasikan antar lingkungan dan menghubungkannya kepada peserta didik sehingga terjadilah proses pembelajaran. Harapan untuk dapat melahirkan manusia dewasa berpikir kritis dan bersikap kreatif, hanya mungkin terwujud melalui sebuah proses pembelajaran yang memiliki goals memanusiakan manusia (Ainia, 2020. Bagir, 2. Tahap- tahap dalam pembelajaran perspektif pedagogi kritis memiliki tiga tahapan yaitu tahap perencanaan pembelajaran, tahap pelaksanaan pembelajaran, dan tahap evaluasi hasil pembelajaran (Gunawan, 2. Pedagogi dogma sebagai tiang pendidikan tidak dapat memberikan kemampuan (Muhammadiah et al. , 2. Pendidikan yang seharusnya bisa memberikan proses pendewasaan berubah peran hanya sebagai proses transfer ilmu pengetahuan(Achmad. Pendidikan yang menutupi ruang dialog siswa cenderung berpontensi menjarakkan antara peserta didik dengan ilmu pengetahuan. Keterbatasan dalam berdialog dalam ruang diskusi mematahkan pemahaman siswa yang ingin mengeksplor ilmu pengetahuan peserta didik lebih dalam lagi. Pendidikan bukanlah hanya sebatas aksesoris rasionalitas kemanusiaan. Karena pendidikan tidak cukup hanya di daur ulang oleh tenaga pendidik namun perlu evaluasi secara mendalam pada seluruh elemen pendidikan. Pedagogi kritis berisikan kesadaran dialogis dengan senantiasa menyediakan serta memperluas ruang dialog untuk pemberoleh kebenaran (Burbules, 2. Berdasarkan uraian di atas, penelitian ini meneliti terhadap Penerapan Proses Pembelajaran Pada TK Ganesha Selama Setahun Terakhir Dilihat Dari Perspektif Pedagogi Kritis, karena menerapkan kekhasan kurikulum yang berbeda pada sekolah lainnya yaitu proyek kolaborasi Leadership. Al-QurAoan. Science Innovation and Character . urikulum PROLASIC). Penelitian ini menggunakan perspektif pedagogi kritis dalam menelaah proses pembelajaran. Pedagogi kritis ialah yang mengkonsep pendidikan sebagai upaya pembebasan dengan menumbuhkan kesadaran kritis untuk mewujudkan kemanusiaan. Penelitian Terdahulu Berdasarkan hasil kajian pada beberapa penelitian sebelumnya yang berkaitan dengan pembelajaran pedagogi kritis di dapatkan hasil sebagai berikut . Tabel. 1 Hasil Kajian Penelitian Author Tahun Judul Jurnal Hasil Penelitian Budi Hendrawan. Kajian Aplikatif ELSE Jurnal Penanaman (Elementary Anggi Suci Nilai-Nilai Karakter School Pratiwi, dan Siti Siswa Education nilai-nilai Gerakan Literasi di Journa. Sekolah Jurnal Berdasarkan Pendidikan Perspektif Pedagogik Kritis. Pembelajara Komariah Melalui Dasar Sekolah Dasar Penulis dalam upaya positif pada siswa SD. Lutfi Nur Suyato Aini Pedadogi Kritis Jurnal Penelitian Dalam Pembelajaran Pendidikan ini mengkaji PPKN Kewarganeg SMA No Author Tahun Judul Jurnal Hasil Penelitian Negeri Se-Kabupaten Sleman Dari Perspektif Pemahaman Guri Babang Robandi. Rusman. Ocih Setiasih. Wawan Setiawardani Pedagogik Kritis Berbasis Digital Learning danBig Data Meningkatkan Literasi Digital Pendidik Kabupaten Indramayu. Hukum SMA di Kabupaten Sleman terkait kritis dalam PPKn. Hasilnya yang beragam kalangan guru Jurnal literasi digital pendidik di Kabupaten Indramayu Jurnal Abdimas Siliwangi No Author Tahun Judul Jurnal Hasil Penelitian kritis berbasis digital learning danbig data. Tujuannya an teknologi Ine Nuzulaeni. Dampak Kompetensi Jurnal Penelitian Ratnawati Pedagogik Pedagogi ini mengkaji Susanto Kemampuan Berpikir Kritis Pembelajara pada Siswa Kelas V kelas V SD. Hasilnya No Author Tahun Judul Jurnal Hasil Penelitian berpikir kritis Berdasarkan tabel 1, penelitian Hendrawan et al. , . menyatakan bahwa nilai karakter siswa dapat ditingkatkan melalui pembelajaran pedagogi kritis. Selanjutnya penelitian (Aini, 2. menyatakan bahwa terdapat tingkat pemahaman yang berbeda-beda pada guru SMA Negeri Se-Kabupaten Sleman mulai dari rendah hingga sangat tinggi pada pembelajaran PPKn. Pada penelitian Robandi et al. , . menyatakan bahwa wawasan dan kemampuan literasi digital pendidika mengalami peningkatkan dalam pembelajaran pedagogi kritis. Terkahir, berdasarkan hasil penelitian (Nuzulaeni & Susanto, 2. terdapat hubungan antara kemampuan kompetensi pedagogi dengan kemampuan berpikir kritis. Berdasarkan hasil kajian penelitian tersebut diatas, penulis ingin mengetahui proses pembelajaran Taman Kanak-kanak dari perspektif pedagogi kritis. Hal ini dilakukan untuk melihat apakah pembelajaran pedagogi kritis pada Taman kanakkanak dapat efektif dalam menumbuhkan kesadaran kritis untuk mewujudkan Kajian Pustaka Penerapan proses pembelajaran pada TK Ganesha selama setahun terakhir dilihat dari perspektif pedagogi kritis dapat dikaji dari beberapa aspek penting. Pertama, bagaimana kurikulum dan materi ajar yang diberikan memungkinkan siswa untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan mempertanyakan status quo. Pedagogi kritis menekankan pentingnya membangun kesadaran kritis siswa terhadap isu-isu sosial, politik, dan budaya yang ada di sekitar mereka (Freire, 1. Selain itu, perlu dikaji sejauh mana metode pengajaran yang digunakan oleh guru-guru di TK Ganesha melibatkan dialog terbuka, diskusi, dan pertukaran ide yang memungkinkan siswa untuk mengekspresikan pemikiran mereka secara bebas (Giroux, 1. Kedua, perlu dilihat apakah lingkungan belajar di TK Ganesha memberikan ruang yang aman dan inklusif bagi semua siswa untuk berpartisipasi secara aktif dalam proses pembelajaran. Pedagogi kritis menekankan pentingnya menciptakan lingkungan belajar yang menghargai keragaman dan memberikan kesempatan yang sama bagi setiap siswa untuk berkembang . ooks, 1. Oleh karena itu, perlu dikaji bagaimana TK Ganesha menangani isu-isu seperti diskriminasi, bias gender, atau ketidaksetaraan dalam proses pembelajaran. Ketiga, perlu diteliti sejauh mana TK Ganesha melibatkan orang tua dan masyarakat dalam proses pembelajaran. Pedagogi kritis menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat dalam pendidikan untuk memastikan bahwa proses pembelajaran sejalan dengan nilai-nilai dan kebutuhan masyarakat (McLaren, 2. Oleh karena itu, perlu dikaji bagaimana TK Ganesha berkolaborasi dengan orang tua dan masyarakat untuk menciptakan kurikulum dan metode pengajaran yang relevan dengan konteks lokal. Metodologi Jenis penelitian ini deskriptif dan pendekatan kuantitatif yaitu membedah dan mendeskripsikan suatu masalah dalam proses pembelajaran di Tk Ganesha Baratan. Subjek penelitiannya dalam penelitian ini adalah guru Tk Ganesha. Lokasi penelitian dilakukan di Tk Ganesha Baratan. Sumber data dalam penelitian ini yaitu guru pendidik berjumlah 4 responden. Waktu penelitian Maret 2024 sampai selesai. Sumber data lainnya juga peneliti menambah data-data dari artikel atau tulisan, buku, dan jurnal sebagai pendukung sumber sekunder. Teknik pengumpulan data yang peneliti lakukan yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi. Ada tiga tahapan dalam penelitian yaitu tahap persiapan, tahap pelaksanaan, dan tahap pelaporan: tahap pertama persiapan yaitu peneliti melakukan rancangan penelitian dengan menyiapkan perlengkapan penelitian, persoalan etika penelitian, tahapan kedua pelaksanaan yaitu observasi langsung melalui pengamatan secara langsung terhadap implementasi proses pembelajaran Tk Ganesha. dari hasil pengamatan tersebut peneliti tuangkan pada catatan lapangan yang dikumpulkan secara sistematis. Kemudian peneliti melakukan wawancara kepada guru pendidik menggunakan wawancara terstuktur yang dimana peneliti sudah menyiapkan beberapa pertanyaan yang sudah disiapkan dalam instrumen sebagai pedoman wawancara. Hasil dari wawancara tersebut peneliti kumpulkan dengan alat tulis dan buku untuk mencatat hasil wawancara yang Selanjutnya tahap terakhir peneliti melakukan dokumentasi sebagai bentuk kelengkapan dalam sebuah penelitian. Dokumentasi peneliti lakukan guna untuk mendokumentasi implementasi pembelajaran di Tk Ganesha yang sedang Miles dan Huberman menjadi teknik untuk menganalisis data yang digunakan oleh peneliti (Sugiyono, 2. Tahap ketiga yaitu pelaporan dengan mereduksi data, reduksi data yang dilakukan dengan merangkum, memilah hal pokok dan berfokus pada hal penting saja. Setelah data di reduksi kemudian data disajikan dalam berupa tabel maupun grafik. Dan langkah terakhir yaitu melakukan penarikan Penarikan kesimpulan dilakukan atas data yang terverifikasi sesuai dengan bukti yang kuat dan kredibel. Triangulasi sumber peneliti gunakan untuk menguji keabsahan data. Dari berbagai sumber yang diteliti diharapkan mendapatkan data jenuh. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa tahap-tahap dalam penelitian ini yakni melalui proses tahap persiapan, tahap pelaksanaan, dan tahap pelaporan. Analisis Pembahasan Penerapan proses pembelajaran di TK Ganesha dalam setahun terakhir, jika ditinjau dari sudut pandang pedagogi kritis, menunjukkan beberapa aspek yang menarik untuk dibahas. Pedagogi kritis, yang berpijak pada pemikiran Paulo Freire, menekankan pentingnya pendidikan sebagai alat pembebasan dan pemberdayaan. Dalam konteks TK Ganesha, perlu dievaluasi sejauh mana proses pembelajaran telah mendorong anak-anak untuk berpikir kritis dan mengembangkan kesadaran akan lingkungan sosial mereka. Apakah metode pengajaran yang diterapkan telah melampaui model "banking" pendidikan tradisional, di mana guru hanya "menyetor" pengetahuan ke dalam pikiran anak-anak? Penting untuk menganalisis apakah kurikulum dan aktivitas pembelajaran di TK Ganesha telah memfasilitasi dialog antara guru dan murid, serta mendorong anak-anak untuk mengekspresikan pemikiran mereka secara bebas. Pedagogi kritis juga menekankan pentingnya menghubungkan pembelajaran dengan realitas sosial anak-anak. Dalam hal ini, perlu dilihat apakah TK Ganesha telah mengintegrasikan isu-isu sosial yang relevan dengan kehidupan anak100 anak ke dalam proses pembelajaran. Aspek lain yang perlu diperhatikan adalah sejauh mana TK Ganesha telah memberdayakan anak-anak untuk menjadi agen perubahan dalam lingkungan mereka, meskipun dalam skala kecil. Apakah anak-anak didorong untuk mengambil tindakan dan membuat keputusan yang bermakna dalam konteks pembelajaran mereka Hasil dan Pembahasan Berdasarkan pada penelitian yang sudah peneliti lakukan di peroleh data berupa profil singkat sekolah TK Ganesha dan data berupa penerapan proses pembelajaran di TK Ganesha. Adapun hasil penelitian tersebut peneliti menjabarkan sebagai berikut: Profil TK Ganesha Penelitian ini dilakukan di TK Ganesha yang berlokasi di Baratan. Kabupaten Jember. Jawa Timur. Pendirian TK Ganesha atas dasar tuntutan dan desakan masyarakat khusunya orang tua di sekitar lokasi tersebut. TK Ganesha berdiri pada tahun 1999 yang dipimpin oleh Siti Zaenab yaitu Kepala Sekolah Tk Ganesha serta dibantu oleh operator yakni Ibu Erlina Sulistiyorini dibawah naungan Yayasan. Awal pendirian TK Ganesha tidak langsung mendapatkan banyak murid. Pertama kali buka ajaran baru TK Ganesha hanya memiliki lima anak didik yang mendaftar di TK A dan 10 anak didik di TK B. Seberjalannya waktu berlalu TK Ganesha mengalami peningkatan peserta didik setiap tahunnya. Sehingga diresmikan pembangunan gedung baru oleh pihak yayasan untuk Taman Kanak-kanak pada tahun 1999. Yayasan meresmikan bangunan yaitu: ruang kantor, tempat wudhu, lima buah ruang kelas, kamar mandi, dan tempat bermain. Semakin membaiknya sarana dan prasarana di TK Ganesha di setiap tahunnya maka pihak TK Ganesha mengusulkan izin operasional sekolah kepada kementrian pendidikan Jember . Pada tahun 2022 TK Ganesha mendapatkan izin operasional sekolah kemudian mengajukan akreditasi TK pada tahun 2022 dengan mendapatkan nilai B TK Ganesha adalah lembaga Taman Kanak-Kanak Islam yang bergerak dalam naungan Kementerian Pendidikan Nasional. Kurikulum yang digunakan TK Ganesha ialah menggunakan kurikulum PROLASIC. TK Ganesha memiliki program unggulan yang menjadikan kekhasan dalam pembelajaran di lingkungan TK Ganesha yaitu Leadership (Kepemimpina. Al-QurAoan. Science (Ilmu Pengetahua. Innovation (Berinovas. and Character (Berkarakte. Pengembangan pembelajaran TK Ganesha mengedepankan keIslaman, berkarakter, serta kebebasan dalam memperoleh pengetahuan diri peserta didik. Standar tingkat pencapaian perkembangan anak didorong dan didukung melalui kegiatan pembiasaan dan keteladanan. TK Ganesha menggunakan delapan sentra sebagai tempat pembelajaran. Adapun untuk anak dengan rentang usia 3-4 tahun tergolong dalam kelompok bermain, untuk anak dengan rentang usia 4-5 tahun tergolong dalam kelompok A, dan rentang usia 5-6 tahun tergolong pada kelompok B. Waktu pembelajaran di TK Ganesha berlangsung selama 5 hari kerja yaitu senin-jumat. Pembelajaran dimulai dari puku 07. 00 Ae pukul 12. WIB. Taman Kanak-kanak Ganesha menggunakan model pembelajaran BCTT ( Beyond Centre and Circle Tim. yang mana peran pendidik sebagai motivator dan fasilitator memberikan pijakan-pijakan . Penggunaan sistem model pembelajaran BCTT( Beyond Centre and Circle Tim. ataupun berbasis sentra yang didirikan oleh Dokter Pamella Phekl berasal dari Florida Amerika Serikat, sentra yang digunakan di TK Ganesha terdiri dari sentra persiapan, sentra Al- QurAo an, sentra bermain peran, sentra olah badan, sentra bahan alam, sentra balok, sentra memasak, serta sentra seni. Pendidik menggunakan metode pembelajaran yang bervariasi seperti metode bercerita, demonstrasi, bercakap-cakap, pemberian tugas, bermain kedudukan, karyawisata, projek, serta eksperimen. Metode ini dirancang dalam aktivitas bermain yang bermakna serta mengasyikkan untuk anak. Adapun program pengembangan Taman Kanak- kana Ganesha terdiri dari beberapa aspek, yaitu: . Nilai moral dan Agama: mengnenal agama yang dianut, melaksanakan ibadah, prilaku jujur, menolong, sopan santun, menghormati, sportifitas, menjaga lingkungan dan kebersihan diri, memahami hari besar agama, toleransi antar agama, . Motorik: motorik kasar, motorik halus, menjaga kesehatan dan kebugaran serta perilaku keselamatan, . Kognitif: belajar dalam memecahkan masalah, berfikir logis dan berfikir simbolik, . Bahasa: memahami . bahasa, ekspresi bahasa, serta keaksaraan, . Sosial- emosional: kesadaran diri, tanggung jawab pada diri sendiri dan orang lain, serta berperilaku prososial, dan . Seni: eksplorasi dan ekspresi diri, imaginasi melalui gerakan, musik, drama, dan bidang seni lainnya seperti seni lukis, seni rupa,dan kerajinan, serta dapat mengapresiasi karya seni. Kegiatan pendukung terdiri dari pembelajaran makan setiap hari, pembelajaran manasik haji, pembelajaran qurban, kunjungan edukasi . uting clas. sebagai penunjang tema/materi, adapun program orang tua yaitu pengajian, parentingAos day, konsultasi orang tua, dan orientasi orang tua serta melakukan kegiatan esktrakurikuler seperti tahfidz, mewarnai/menggambar. Futsal, sains qurAoan. Pembelajaran dari Perspektif Pedagogi kritis Suardi membelajarkan siswa (Suardi, 2. , definisi ini bermakna pembelajaran harus memilih, menetapkan serta mengembangkan strategi yang optimal agar tercapai hasil pembelajaran yang diinginkan, kegiatan inilah yang sebenarnya inti dari kegiatan pembelajaran (Gasong, 2. Sedangkan (Oemar, 2. menyebutkan pembelajaran merupakan kombinasi yang sudah tersusun meliputi unsur Sebagai menghasilkan situasi yang mampu mendukung subjek . untuk belajar. Memberikan pengalaman tentang pengetahun dan identitas merupakan hal penting bagi pedagogi kritis (Kanpol, 1. Pengetahuan dan identitas dikelola di dalam dan di antara setting relasi sosial yang berbeda di dalam lingkungan sekolah. Ungkapan dari Toto Suharto mengenai tujuan pedagogi kritis ialah merebut kembali kemanusian setelah mengalami dehumanisasi (Suharto, 2. Pembelajaran pedagogi kritis menggunakan pendekatan student centered hal ini yang membedakan dengan karakteristik pembelajaran konvensional (Sofiah et al. , 2. Adapun pembelajaran dari perspektif pedagogi kritis terbagi menjadi beberapa komponen karakteristik diantaranya yaitu tujuan pembelajaran, peserta didik, pendidik, materi pembelajaran, dan lingkungan. Tujuan pertama pembelajaran dari perspektif pedagogi kritis merupakan untuk meningkatkan keaktifan pembelajaran serta partisipasi pembelajaran sehingga dapat terwujud manusia yang mampu menemukan pengetahuan serta aktif, tujuan kedua adalah critical thinking dibangun atas dasar agar manusia mampu mempertanyakan serta mengkritisi, dan tujuan terakhir ialah melahirkan praksis pendidikan yang demokratis, egaliter serta humanis yang berbasiskan critical thingking pada kalangan peserta didik (Hapudin, 2. Atas tujuan dasar tersebutlah dapat diketahui sebab diselenggarakannya kegiatan pembelajaran. Tahap-Tahap Pembelajaran Pedagogi Kritis Tahap- tahap dalam pendidikan pedagogi kritis terdiri atas 3 fase. Fase awal ialah sesi perencanaan pendidikan. Sesi perencanaan pendidikan ialah sesi penataan kegaiatan pendidikan yang hendak dicoba. Sesi perencanaan ini dicoba atas bawah biar aktivitas dalam pendidikan bisa berjalan secara efisien serta efektif. Sesi perencanaan pendidikan pada biasanya di kemas dengan dalam wujud silabus ataupun RPP (Rencana Pelakasanaan Pembelajara. RPP disusun sesuai dengan ketentuan standar pembelajaran yang ditempuh. Kemudian Tahap pelaksanaan terjadi atas dasar tahap perencanaan yang sebelumnya telah dibuat. Tahap pelaksanaan pembelajaran terdiri dari tiga bagian yang pertama pendahuluan. Kegiatan pendahuluan yang dilakukan yaitu meliputi pembukaan pelaksanaan pembelajaran guru melakukan ice breaking guna untuk mengajak anak menjadi lebih semangat dalam belajar. Kegiatan pendahuluan dari perspektif pedagogi kritis menempatkan guru sebagai fasilitas untuk mengajak peserta didik aktif dalam belajar dengan melakukan tanya jawab bisa berkaitan bagaiman kabarnya hari ini. Kedua, kegiatan inti yaitu merupakan kegiatan yang berisikan tentang eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi. Kegiatan inti merupakan kunci atas keberhasilannya suatu pembelajaran. Dalam kegiatan inti guru melakukan perannya untuk mendampingi peserta didik supaya kegiatan inti dapat dilakukan dengan interaktif, menyenangkan, peserta didik aktif sehingga dapat menghasilkan aspek perkembangan yang baik bagi peserta didik. Ketiga, kegiatan penutup merupakan kegiatan akhir dalam pembelajaran. Kegiatan penutup dilakukan untuk merefleksi terhadap kegiatan yang sudah dilaksanakan. Guru biasanya suka menanyakan kembali kepada anak kegiatan apa yang sudah dilakukan pada hari ini. Hal tersebut merupakan kegiatan umpan balik untuk merangkum kegiatan pada hari tersebut sehingga bisa diambil sebuah kesimpulan bagi guru untuk dijasikan sebuah laporan kedepannya. Selanjutnya tahap evaluasi hasil pembelajaran. Tahap ini ialah tahap hasil atas kegiatan-kegiatan yang sudah peserta didik lakukan selama menempuh pembelajaran disekolah seharian. Tahap evaluasi hasil pembelajaran dilaksanakan secara konsisten, terprogram serta sistematis melalui tes dan non tes dalam bentuk lisan maupun tulisan, pengukuran sikap, penilaian hasil karya, pengamatan kinerja, proyek ataupun produk, penilaian diri serta portopolio (Arifin, 2009. Elis Ratna Wulan & Rusdiana, 2. Apapun pada semua bentuk penilaian yang dilakukan, pada pandangan pedagogi kritis harus didasarkan pada kesepakatan pembelajaran antara pelajar dan guru. Melalui sebuah pembalajaran yang sudah disepakati, maka berhak bertanggungjawab terhadap penilaian yang sudah dipilih (Rusman, 2. Ada lima lima kontribusi dalam praktik pedagogik kritis sebagai solusi Freire terhadap kritiknya terhadap sistem bank (Iko, 2. yaitu : . Proses pembelajaran yang menjadikan peserta didik sebagai subjek aktif, penekanannya pada metode . Pembelajaran focus pada tataran praktis. Penyadaran terhadap realitas dan fenomena social yang dihadapi oleh peserta didik. Proses pembelajaran terhadap pengalaman hidup peserta didik, . Proses pembelajaran terhadap pengalaman hidup peserta didik sebagai kritis membuat kritik dari perkembangan proses pembelajaran sistem bank. Penerapan Proses Pembelajaran di TK Ganesha Pembelajaran yang diterapkan TK Ganesha miliki perbedaan pada sekolah formal pada umumnya. Penerapan pembelajaran seperti yang sudah peneliti jelaskan di atas bahwa TK Ganesha mengkolaborasikan antara inovasi. Al- QurAoan, sains, kepemimpinan dan karakter sebagai pondasi tujuan dari pembelajaran yang dilakukan. Sesuai dengan prinsip-prinsip pada umumnya sekolah TK Ganesha menggunakan proses pembelajaran terdiri dari perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, dan evaluasi hasil pembelajaran. Pertama, perencanaan pembelajaran dilakukan sesuai dengan kesepakatan kepala sekolah dengan guru. Rencana pembelajaran yang di laksanakan di TK Ganesha mengacu pada kurikulum PROLASIC. Kekhasan pada kurikulum mengunggulkan Leadership. Al-QurAoan. Science Innovation and Character. Kedua, pelaksanaan pembelajaran di lakukan 70% dalam ruangan dan 30% di luar ruangan dengan prinsip Leadership. Al-QurAoan. Science Innovation and Character tetap TK Ganesha melakukan pelaksanaan pembelajaran mengikuti Rencana Pembelajaran Harian yang sudah dibuat oleh guru. Kegiatan belajar mengajar dilakukan dari hari senin-jumat. TK Ganeaha memiliki ketentuan dalam aktivitas pembelajaran yang dibagi dalam ketentuan sebagaimana pada tabel 2. Tabel 2. Rencana AoKegiatanAoHarian Sentra TK Ganesha Hari / Tanggal: Rabu, 24 April 2024 Kelompok Usia : 3-6 Tahun Jumlah Peserta Didik : 34 siswa Waktu Kegiatan 07:00 - 07:30 Persiapan masuk kelas ( jurnal pagi dan ikrar ) 07:30 - 08:00 Sholat dhuha dan iqroAo ( murojaah surat pendek, hadist, dan doa harian 08:00 - 09:00 Berdoa dan persiapan penyampaian kegiatan inti 09:00 - 11:00 Kegiatan Inti : Pijakan lingkungan Pijakan sebelum bermain Pijakan saat bermain Pijakan setelah bermain 11:00 - 11:30 Istirahat 11:30 - 12:00 Kegiatan penutup 12:00 - 12:30 Pulang Ketiga, evaluasi hasil pembelajaran merupakan kegiatan yang dilakukan untuk merangkum hasil belajar anak dari satu hari, satu minggu satu bulan hingga enam Hasil evaluasi dilakukan bersama guru dan anak. Namun evaluasi juga dilakukan guru bersama guru untuk merefleksi kegiatan yang sudah selesai dilakukan. Evaluasi pembelajaran bisa langsung dilakukan hari itu juga saat kegiatan penutup tetapi bisa juga dilakukan melalui pembagian rapot di setiap semesternya. Evaluasi yang dilakukan TK Ganesha apabila dilakukan diakhir kegiatan selalu melibatkan antara guru dengan peserta didik. Hal tersebut disampaikan oleh Ibu Meri : AuSetelah semua kegiatan selesai guru-guru tidak lupa untuk mengevaluasi hasil belajar anak. Evaluasi yang dilakukan berupa tanyaa jawab kepada anak-anak bagaimana pembelajaran hari ini apakah menyenangkan atau tidak. Selain itu guru-guru juga selalu menanyakan sudah belajar apa saja hari Hal itu dilakukan sebagai bentuk bahwa anak apakah paham atas apa yang dipelajarinya hari ini. Tapi tidak menutup kemungkinan pasti ada satu atau dua anak tidak senangAy Dari pernyataan di atas dapat diketahui bahwa evaluasi pembelajaran selalu dilakukan diakhir kegiatan pembelajaran. Hal tersebut menunjukkan bahwa evaluasi penting untuk dilakukan. Adapun kegiatan pekanan, bulanan, dan tahunan yang disampaikan oleh ibu Meri: AuKegiatan pekanan diantaranya adalah bersama-sama melakukan senam, mengunjungi masjid, mengunjungi perpustakaan, bercerita/ story telling, dan ekstrakurikuler. Kegiatan bulanan terdiri dari: adanya puncak tema, perayaan hari besar islam, dan parenting. Sedangkan untuk kegiatan tahunanyaitu: Out bond atau outing class, market day dan renangAy. Penerapan Proses Pembelajaran Pada TK Ganesha Selama Setahun Terakhir Dilihat Dari Perspektif Pedadogi Kritis Pembelajaran dalam perspektif pedagogi kritis ialah memperjuangkan untuk melawan dan menindas ideologi dominan yang dapat menimbulkan terjadinya pergeseran transformasi sosial (Mirabella & Nguyen, 2. Melalui pembelajaran yang diwadahkan dalam pendidikan perlu menciptakan ruang yang dapat menambahkan sikap kritis masyarakat atas tidak adanya ketidakadilan sistem maupun struktur yang diciptakan oleh ideologi dominan tersebut agar terwujudnya sebuah transformasi sosial. Transformasi sosial dalam hal ini dalam rangka mewujudkan kehidupan manusia yang lebih baik sebagai bagian dari implikasi pendidikan (Rahardhian, 2. Dalam perspektif pedagogi kritis pendidikan berusaha untuk memberdayakan mereka yang tertindas oleh sistem serta struktur yang menindas buat mempraktikkan pergantian sosial ke sistem serta struktur yang lebih adil (Tapung, 2. Manusia yang mengalami dehumanisasi tidak dapat berperan aktif dalam mengubah dunia sebab mereka memiliki pemahaman magis bukan pemahaman kritis (Datungsolang. Oleh karena itu, pembelajaran dalam suatu pendidikan bisa dikatakan sebagai sifat liberatif/pembebasan serta emansipatoris bagi manusia jika terlepas dari jeratan ketidakadilan yang menjadikan manusia sebagai dehumanisasi. Pembelajaran sifatnya harus membebaskan, pembelajaran yang membebaskan dapat menjauhkan manusia dari praktik-praktik yang tidak adil seperti penipuan, penindasan, dan ketidakmampuan (Adila, 2. Seiring dengan semakin kritisnya manusia, berpikir bebas, mengungkapkan pendapatnya secara bebas, setara dan mencita-citakan kesejahteraan warganya, mereka ingin menciptakan makna dalam Kemampuan berpikir kritis sendiri merupakan kemampuan dalam megoptimalkan kemampuan siswa dalam analisa, menalar, inferensi, membandingkan, menyusun hipotesa, mencipta, dan menuyusan kesimpulan secara menyuluruh (Rahardhian, 2. Untuk mencapai hal tersebut, pedagogi kritis mendorong pembelajaran untuk memposisikan manusia sebagai subjek yang aktif dalam pencarian pengetahuan (Rohman & Mukhibat, 2. Manusia yang mampu menciptakan pengetahuannya sendiri. Hal ini menunjukkan bahwa pedagogi kritis menolak pola pendidikan konvensional yang mengutamakan satu hubungan antara guru dan siswa. Pedagogi Kritis menawarkan pendidikan alternatif yang mendorong diskusi antara manusia sebagai agen aktif dan pendidikan yang menghadapkan siswa dengan kenyataan (Giroux, 2. Sekolah TK Ganesha mengadvokasi kritik terhadap pembelajaran resmi yang dikira tidak berdaya serta malah menjauhkan manusia dari kehidupan. Sekolah TK Ganesha berpandangan kalau sekolah hanya mengutamakan aspek kognitif saja serta melupakan integrasi yang sepatutnya dibentuk antara sekolah, siswa serta lingkungan. Berangkat dari perihal tersebut. TK Ganesha menyelenggarakan pembelajaran berbasis kehidupan dengan tingkatkan 4 perspektif: pangan, lingkungan, kesehatan, dan sosial budaya. TK Ganesha telah berusaha mengintegrasikan pendidikan dengan aspek-aspek yang ada dalam kehidupan yang lain. TK Ganesha menyelenggarakan pembelajaran alternatif dan mirip dengan pedagogi kritis yang memerangi pandangan ideologi dominan yang ditatap menindas serta menghasilkan aplikasi pembelajaran Sebagai pelopor pedagogi kritis. Paulo Freire ( 1984: . , menerangkan kalau jadi manusia berarti menjalakan ikatan dengan manusia serta dunia. Sehingga dengan pedagogi kritis dapat mendorong terciptanya dampak positif perubahan sosial agar terciptanya manusia yang terbuka, bebas, dan adil (Fitramadhana, 2. Upaya ini sedang diupayakan oleh TK Ganesha. Pedagogi Kritis merupakan upaya manusia guna hadapi dunia selaku realitas, yang bersumber pada riset serta ulasan tentang proses pendidikan. Berdasarkan pada hasil penelitian dan pembahasan mengenai proses pembelajaran TK Ganesha dari perspektif pedagogi kritis, dapat diketahui bahwa TK Ganesha melakukan proses pembelajaran yang dimulai dari perencanaan hingga evaluasi hasil pembelajaran yang hal tersebut sudah sesuai dengan perspektif pedagogi kritis. Menurut Uhar Suharsaputra menyatakan bahwa ada empat konsep penting yang menjadi bagian dari pedagogi kritis yaitu: constructivisme, banking concept of education, problem posing education, dan dialogical method. Berbasis student-center menempatkan peserta didik sebagai subjek pembelajaran, sehingga peserta didik tidak hanya mendapatkan konsep-konsep yang diberikan oleh pendidik dalam proses pembelajaran. Pembelajaran menjadikan seluruh peserta didik ikut serta aktif dalam mendapatkan pengetahuan dengan berbagai strategi dan metode agar peserta didik dapat menghadapi permasalahan yang dialami atau ditemui dimasyarakat. Pembelajaran dalam perspektif pedagogi kritis yaitu adanya komunikasi dua arah antara pendidik dengan peserta didik. Pembelajaran akan efektif dan benar sebab sesuatu yang disampaikan oleh pendidik akan dapat diserap secara baik oleh peserta didik dalam proses pembelajaran (Pernantah, 2. Adapun persamaan konsep pedagogi kritis dan TK Ganesha peneliti jabarkan dalam tabel 3. Tabel 1. 2 Persamaan Konsep Pedagogi Kritis Dan TK Ganesha Pedadogi Kritis TK Ganesha Mengangkat peran Peserta didik diberikan kebebasan untuk bergerak manusia sebagai subjek aktif dan berkreasi sesuai dengan kemampuan motorik dalam maupun kognitif anak. Anak diberikan kebebasan untuk mengembangkan kreatifitas yang dimilikinya. pengetahuannya sendiri. Manusia belajar dari pengalaman realitas Peserta didik di TK Ganesha selalu belajar dari kehidupan kontekstual. Hal kompetensi indikator yang harus tercapai. No Pedadogi Kritis TK Ganesha Pembelajaran tidak harus selalu dari guru namun dari teman sebaya maupun dari orang lain, hal ini dapat dijadikan sebuah pembelajaran dengan mereka saling tukar pengalaman. Memperoleh tugas dari Peserta didik dalam pelaksanaan pembelajaran selalu yang diberikan tugas oleh guru. Tugas tersebut berupa kegiatan yang dapat menghasilkan hasil karya. Contoh tugas sederhana yang peneliti amati saat penelitian yakni peserta didik di minta untuk membuat bangunan apapun di sentra balok. Kemudian dengan kreatifitas anak membuat miniature tersebut seolah-olah mereka sedang membangun untuk diri mereka sendiri. Ada yang membuat bangunan rumah, sekolah, lapangan, gedung tinggi, dsb. Mengedepankan sikap Peserta didik di TK Ganesha sudah terbiasa belajar dan dengan bentuk kelompok. Semua aktivitas kegiatan dalam dilakukan secara bersama-sama dan dievaluasi secara bersama- sama. Menghargai perbedaan- Guru-guru Ganesha individu pengetahuan anak untuk sama dengan teman sebaya dalam maupun gurunya. Tingkat perkembangan pengetahuan bidang yang diminati setiap anak pastilah berbeda-beda. Peserta didik di berikan kebebaskan untuk menuangkan kreatifitasnya tanpa batas pada setiap kegiatan maupun tugas yang diberikan guru. Karena apabila hal tersebut dibatasi akan mempengaruhi pengetahuan anak dalam dunia nyata juga. Tabel 3 menjelaskan bahwa prinsip dan konsep pembelajaran di TK Ganesha identik dengan pembelajaran. Pembelajaran pedagogi kritis memiliki tahapantahapan yang harus dipenuhi yakni perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil pembelajaran. Atas dasar tahapan-tahapan tersebut harus terpenuhi agar bisa dikatakan sebagai pembelajaran berbasis perspektif pedagogi kritis. TKGanesha telah menerapkan tahapan-tahapan tersebut sehingga bisa dikatakan bahwa implementasi pembelajaran TK Ganesha dari perspektif pedagogi kritis sudah sesuai. Penelitian ini berhubungan dengan penelitian yang diriset oleh Lestari (Lestari, 2. bahwa dalam pembelajaran anak usia dini diperlukan kebebasan untuk belajar mengajar. Menurut (Fadhila Ramadhani, 2. dari hasil penelitiannya menyatakan bahwa seorang pendidik harus memiliki kualitas dan pedagogic kritis agar dapat memahami peserta didik dengan baik. Sedangkan menurut (Wattimena, 2. menyatakan bahwa Selama ini peserta didik dianggap sebagai anak yang polos dan tidak tau apa-apa serta dipaksa untuk mengikuti apa yang guru inginkan. Peserta didik bukan robot yang harus taat dan hanya mendengarkan perintah guru dalam proses pembelajaran. Jadi dapat disimpulkan bahwa dalam proses pembelajaran, materi pelajaran harus berhubungan dengan kehidupan nyata peserta didik agar dapat membangun pengetahuan, memotivasi dan hasil belajar. Para pendidik harus mengamati aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik pada peserta didik, agar dapat terwujud apa bila pendidik melaksanakan kegiatan mengajar yang sesuai sehingga terbukti dapat menghasilkan peserta didik aktif dalam proses pembelajaran. Kesimpulan Penerapan Proses Pembelajaran Pada TK Ganesha Selama Setahun Terakhir Dilihat Dari Segi Perspektif Pedadogi Kritis terlihat bahwa peserta didik sebagai subjek aktif dalam mencari pengetahuan untuk dirinya sendiri. Dalam implementasi pembelajaran pedagogi kritis terdapat tahap- tahap yang terpenuhi yakni perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelejaran, dan evaluasi hasil pembelajaran. Tahaptahap tersebut berhasil terpenuhi sehingga implemntasi proses pembelajaran di TK Ganesha dikatakan sesuai dengan perspektif pedagogi kritis. TK Ganesha tergolong sebagai sekolah yang menyelenggarakan proses pembelajaran proyek kolaborasi Leadership. Al-QurAoan. Science Innovation and Character (PROLASIC) dan memberikan kesempatan kepada setiap peserta didik untuk memilah apa yang akan peseerta didik pelajari dan bagaimana cara peserta didik akan belajar. Saran Dengan adanya program pembelajaran yang sudah berhasil diterapkan pada di TK Ganesha, diharapkan program tersebut dipertahankan guna melatih anak-anak untuk berpikir kritis dan menambah kreativitas sejak dini. Dengan program pembelajaran tersebut terus di jalankan diharapkan juga bisa menjaga akreditasi TK Ganesha. Program pembelajaran ini sangatlah efektif sehingga diharapkan bisa di terapkan pada TK lainnya. Ucapan Terimakasih Kami selaku peneliti mengucapkan banyak terima kasih kepada guru-guru TK Ganesha yang telah membantu memberikan data dan informasinya dalam menyelasaikan penelitian ini. DAFTAR PUSTAKA