Dinamika: Volume 9 . 2026 Jurnal Bahasa. Sastra. Pembelajarannya e-issn 2715-8381 Penggunaan Model Problem Based Learning Berbantuan Media TikTok dalam Meningkatkan Keterampilan Menulis Teks Eksposisi Eriska Febrianty*. Iis Ristiani, & Aan Hasanah Universitas Suryakanca. Cianjur, ndonesia eriskaofox@gmail. com, iisristiani@unsur. id, hasanah_aan@unsur. Dikirim: 23 Juli 2025 Direvisi: 27 Desember 2025 Diterima: 30 Desember 2025 Diterbitkan: 28 Februari 2025 How to Cite: Febrianty. Eriska, et. AuPenggunaan Model Problem Based Learning Berbantuan Media TikTok dalam Meningkatkan Keterampilan Menulis Teks EksposisiAy Dinamika: Jurnal Bahasa. Sastra, dan Pembelajarannya. Vol. 9, no. 1, 2026, pp. 76Ae85. Published by Program Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Universitas Suryakancana Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional. ABSTRACT This article will explain the effectiveness of the Problem-Based Learning (PBL) model supported by TikTok in developing expository writing skills in grade 10 students at MA Al-Falah Sukabumi. The background of this study is based on students' low writing skills, particularly in terms of text structure and use of linguistic rules. The approach used was a quasi-experimental with a pretestAeposttest control group design. A total of 40 students were sampled and divided into two groups: the experimental group and the control group. Data collection techniques included the use of learning modules, observations, tests, and questionnaires. The results showed a significant increase in posttest scores of students in the experimental group compared to the control group. The average pretest score of 20 increased to 98. 00 in the posttest, an increase of 22. The t-test results showed a significance value of 000 < 0. Thus, the TikTok-based PBL model proved effective in improving the expository writing skills of grade 10 students at MA Al-Falah. Keywords: writing. expository text. PBL. TikTok Artikel ini akan memaparkan efektivitas penerapan model Problem Based Learning (PBL) yang didukung media TikTok dalam mengembangkan kemampuan menulis teks eksposisi pada siswa kelas X MA Al-Falah Sukabumi. Latar belakang studi ini didasari oleh rendahnya keterampilan menulis siswa, khususnya dalam hal struktur teks dan penggunaan kaidah kebahasaan. Pendekatan yang digunakan adalah kuasi eksperimen dengan desain pretestAe posttest control group. Sebanyak 40 siswa dijadikan sampel dan dibagi ke dalam dua kelompok, yaitu kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Teknik pengumpulan data mencakup penggunaan modul pembelajaran, observasi, tes, dan angket. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan pada skor posttest siswa di kelompok eksperimen jika dibandingkan dengan kelompok kontrol. Nilai rata-rata pretest sebesar 80,20 meningkat menjadi 98,00 pada posttest, mengalami peningkatan sebesar 22,20%. Hasil uji-t menunjukkan nilai signifikansi 0,000 < 0,05. Dengan demikian, model PBL berbasis TikTok terbukti efektif dalam meningkatkan kemampuan menulis teks eksposisi siswa kelas X MA Al-Falah. Kata Kunci: menulis. teks eksposisi. PBL. TikTok Eriska Febrianty, dkk. : Penggunaan Model PBL Berbantuan Media TikTok dalam A PENDAHULUAN Pendidikan memainkan peran krusial dalam membentuk individu yang tidak hanya memiliki pengetahuan, tetapi juga terampil dalam menyampaikan ide secara efektif. Salah satu keterampilan dasar yang mendukung hal tersebut adalah menulis. Menulis merupakan bagian integral dari pembelajaran bahasa yang tidak hanya mencerminkan kemampuan berbahasa, tetapi juga kemampuan berpikir logis, sistematis dan juga kreatif. Oleh sebab itu, pengembangan keterampilan menulis menjadi hal krusial dalam dunia pendidikan. Menurut Siti dan Inung . , kemampuan berbahasa mencakup empat aspek yang saling terhubung, yaitu mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis. Keempat aspek tersebut merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam mewujudkan komunikasi yang efektif. Di antara semuanya, keterampilan menulis dipandang sebagai yang paling kompleks karena menuntut keterlibatan kemampuan kognitif tingkat lanjut. Pamuji . menyatakan bahwa keterampilan menulis memungkinkan individu untuk menyampaikan ide secara bebas dalam bentuk tulisan, khususnya dalam bentuk esai. Namun, proses menulis tidak hanya sekadar menuangkan gagasan, tetapi juga memerlukan struktur logis dan penggunaan bahasa yang tepat. Dalam hal ini, teks eksposisi merupakan salah satu bentuk tulisan yang menuntut siswa dalam berpikir kritis dan menyampaikan pendapat secara logis. Keraf . menerangkan bahwasanya teks eksposisi merupakan bentuk tulisan yang bertujuan untuk menjelaskan atau menguraikan isi dari suatu pokok pikiran agar pembaca mendapatkan pemahaman yang lebih luas. Teks ini menekankan penyampaian informasi secara lugas, objektif, dan logis, sehingga menjadi sarana yang efektif untuk mengembangkan keterampilan berpikir dan menulis siswa. Kurikulum Merdeka menekankan bahwa pendekatan kontekstual didalam pembelajaran Bahasa Indonesia, khususnya di kelas X SMA/MA/SMK. Dalam pendekatan ini, materi pembelajaran harus dikaitkan dengan pengalaman dan realitas kehidupan siswa, sehingga mereka mampu untuk menerapkan apa yang dipelajarinya ke dalam konteks yang nyata. Amir . menambahkan bahwa Kurikulum Merdeka menempatkan literasi sebagai tujuan utama pembelajaran Bahasa Indonesia, melalui pendekatan yang kontekstual dan fungsional. Menurut Kurikulum Merdeka, kemampuan menulis teks eksposisi yang harus dimiliki siswa mencakup tiga aspek utama, yaitu konten, struktur, dan kebahasaan. Dalam struktur teks eksposisi terdapat tiga bagian penting, yakni tesis, argumen, dan penegasan ulang pendapat. Selain itu, penggunaan bahasa dalam teks eksposisi mencakup penggunaan kata teknis, konjungsi kausal dan temporal, kata kerja mental, serta kata persuasif. Sayangnya, masih terdapat banyak siswa yang menghadapi kesulitan dalam menulis teks Kesulitan tersebut meliputi ketidakmampuan menentukan tema, menyusun kerangka tulisan, dan mengembangkan ide secara logis. Hal ini diperkuat oleh hasil penelitian Ayu Lestari . Trisnawati . , dan Muhammad Riyan . , yang menyatakan bahwa kemampuan siswa didalam menulis teks eksposisi masih tergolong rendah, terutama dalam hal merancang isi dan menerapkan kaidah kebahasaan yang benar. Rosmiati Ati . menambahkan bahwa banyak siswa kebingungan dalam menentukan ide dan topik saat menulis teks eksposisi, yang menyebabkan hasil tulisan mereka tidak fokus dan tidak sesuai dengan struktur teks eksposisi. Selain itu, juga masih terdapat siswa yang belum 78 Dinamika: Jurnal Bahasa. Sastra, dan Pembelajarannya Volume 9 . Februari 2026, halaman 76-85 mampu untuk membedakan teks eksposisi dengan jenis teks lainnya, sehingga struktur dan kaidah kebahasaan dalam tulisan mereka tidak sesuai. Melalui wawancara yang dilakukan penulis terhadap salah satu siswa pada kelas X di MA Al-falah Sukabumi, diperoleh data bahwa siswa tersebut mengalami berbagai kendala ketika menulis teks eksposisi. Beberapa kendala tersebut antara lain kesulitan menentukan tema, mengumpulkan bahan referensi, menyusun struktur tulisan, dan menggunakan tanda baca serta konjungsi yang tepat. Yunidar . menyebutkan bahwa menulis teks eksposisi merupakan tugas yang menantang karena teks ini bersifat nonfiksi dan sangat mematuhi aturan penulisan. Oleh sebab itu, diperlukan adanya pendekatan pembelajaran yang tepat agar siswa dapat menguasai struktur dan kebahasaan teks eksposisi dengan baik. Pembelajaran yang kurang variatif cenderung membuat siswa cepat bosan dan kesulitan memahami materi. Salah satu pendekatan pembelajaran yang dinilai mampu mengatasi permasalahan tersebut adalah model Problem Based Learning (PBL). Menurut Trianto . , model ini mendorong keterlibatan aktif siswa dalam proses belajar, mengembangkan kemampuan berpikir kritis, serta melatih mereka untuk menyelesaikan masalah secara mandiri. Dalam pembelajaran menulis, model ini memberikan ruang eksplorasi yang lebih luas bagi siswa. Model PBL juga mampu menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan dan Syahbaniar . menekankan bahwa Problem Based Learning (PBL) dapat membantu siswa didalam mengembangkan kecakapan, meningkatkan pemahaman dan juga pengetahuan, serta keaktifan dalam memperoleh informasi. Hal ini penting dalam konteks pembelajaran abad ke-21 yang menekankan pada kolaborasi, kreativitas, komunikasi, dan berpikir kritis. Arifin . mengemukakan bahwa suasana pembelajaran yang interaktif dan menyenangkan dapat mendorong peningkatan motivasi belajar siswa. Ketika motivasi tersebut tumbuh, siswa cenderung lebih antusias untuk terlibat dalam proses pembelajaran, termasuk dalam kegiatan menulis teks eksposisi. Oleh sebab itu, penting untuk merancang strategi pembelajaran yang mampu menggabungkan model PBL dengan media yang relevan dan sesuai dengan karakter siswa. Dalam penelitian ini, penulis mengintegrasikan model PBL dengan media sosial TikTok sebagai alat bantu pembelajaran. TikTok merupakan platform yang populer di kalangan remaja dan menyediakan fitur video pendek yang memungkinkan siswa untuk mengekspresikan ide secara kreatif. Nugroho . menyatakan bahwa penggunaan TikTok dalam pembelajaran dapat secara signifikan meningkatkan keterampilan berbicara dan menulis siswa. Menurut data dari tekno. com, pengguna aktif TikTok di Indonesia mencapai sekitar 10 juta, sebagian besar dari kalangan generasi Z. Hal ini menunjukkan bahwa TikTok memiliki potensi besar sebagai media pembelajaran yang menarik, terutama karena kemampuannya dalam merangsang kreativitas dan keaktifan siswa melalui format visual dan Media pembelajaran yang interaktif sangat penting untuk menciptakan pembelajaran yang bermakna. TikTok menyediakan kombinasi teks, gambar, audio, dan animasi yang mampu memvisualisasikan proses pembelajaran secara menarik. Dengan memanfaatkan TikTok dalam model PBL, siswa dapat mengekspresikan ide dalam bentuk konten digital yang menggambarkan proses berpikir mereka secara autentik dan kreatif. Eriska Febrianty, dkk. : Penggunaan Model PBL Berbantuan Media TikTok dalam A Beberapa penelitian sebelumnya telah membuktikan keefektifan model PBL dalam pembelajaran menulis. Seperti penelitian Nabila et al. Siti et al. , dan Mita Syukur & Syahrul Ramadhan . , yang menunjukkan bahsawanya model pembelajaran PBL mampu untuk meningkatkan keterampilan menulis teks eksposisi. Namun, belum ada penelitian yang secara spesifik menggabungkan model PBL dengan media sosial TikTok dalam konteks pembelajaran menulis. Berdasarkan teori yang ada dan fakta empiris, diketahui bahwa model Problem Based Learning (PBL) efektif dalam meningkatkan kemampuan menulis, sementara media sosial seperti TikTok memiliki daya tarik kuat bagi siswa generasi Z. Meskipun demikian, hingga kini belum ditemukan penelitian yang secara khusus mengombinasikan model PBL dengan pemanfaatan TikTok dalam proses pembelajaran menulis teks eksposisi. Kondisi ini menunjukkan adanya peluang untuk melakukan inovasi dalam merancang strategi pembelajaran yang mengintegrasikan pendekatan pemecahan masalah dengan media digital yang akrab bagi Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menguji sejauh mana efektivitas penerapan model PBL berbasis media TikTok dalam meningkatkan keterampilan menulis teks eksposisi pada siswa kelas X MA Al-Falah Sukabumi. Diharapkan hasil penelitian ini dapat memberikan kontribusi terhadap pengembangan pembelajaran Bahasa Indonesia yang lebih relevan, kreatif, serta selaras dengan kemajuan teknologi dan tuntutan kompetensi siswa di abad ke-21. METODE PENELITIAN Penelitian ini menerapkan metode kuasi eksperimen dengan rancangan pretest-posttest control group design. Sugiyono . menyatakan bahwa desain tersebut memungkinkan peneliti mengevaluasi perbedaan hasil antara kelompok yang diberi perlakuan . dan kelompok yang tidak . untuk menilai efektivitas suatu model pembelajaran. Pemilihan desain ini didasarkan pada kemampuannya dalam memberikan perbandingan yang langsung dan objektif terhadap hasil belajar kedua kelompok. Populasi dalam penelitian ini mencakup seluruh siswa kelas X MA Al-Falah Sukabumi pada tahun ajaran 2024Ae2025. Sampel yang digunakan terdiri dari 40 siswa yang dipilih melalui teknik purposive sampling, yakni metode pemilihan sampel berdasarkan kriteria tertentu yang relevan dengan tujuan penelitian. Dari jumlah tersebut, 20 siswa ditempatkan dalam kelompok eksperimen dan 20 siswa lainnya dalam kelompok kontrol. Pemilihan didasarkan pada kesamaan karakteristik untuk menjamin kesetaraan awal antar kelompok serta meningkatkan validitas hasil Teknik pengumpulan data didalam penelitian ini meliputi: . modul ajar, . observasi, . tes, dan . Modul ajar disusun berdasarkan sintaks model pembelajaran PBL yang dilengkapi dengan media seperti TikTok sebagai bahan ajar. Modul mencakup tujuan pembelajaran, contoh teks eksposisi, dan video TikTok sebagai stimulus diskusi. Siswa dibagi dalam kelompok kecil untuk meningkatkan partisipasi dan kolaborasi dalam proses menulis. Observasi dilakukan selama kegiatan pembelajaran untuk mengamati keterlibatan guru dan siswa, kesiapan pembelajaran, penggunaan media, serta proses diskusi kelompok. Tes digunakan untuk mengukur keterampilan menulis siswa sebelum dan sesudah perlakuan. Pretest diberikan sebelum pembelajaran, dan posttest setelah pembelajaran berlangsung. Sementara itu, angket diberikan untuk mengetahui persepsi siswa terhadap pembelajaran berbasis PBL dan penggunaan TikTok. Angket disusun dalam bentuk skala Likert dengan indikator minat, motivasi, kenyamanan, keterlibatan, dan efektivitas media. 80 Dinamika: Jurnal Bahasa. Sastra, dan Pembelajarannya Volume 9 . Februari 2026, halaman 76-85 Analisis data dilakukan dengan menggunakan dua pendekatan, yaitu kuantitatif dan Data hasil tes diolah menggunakan perangkat lunak SPSS versi 25 melalui beberapa tahapan, meliputi pemberian skor, penyusunan tabel, uji normalitas, uji homogenitas, serta uji-t Uji normalitas bertujuan untuk mengetahui apakah data berdistribusi normal, sementara uji homogenitas digunakan untuk mengevaluasi kesamaan varians antara kelompok. Adapun uji-t independen diterapkan guna mengidentifikasi signifikansi perbedaan hasil antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Data hasil observasi dianalisis secara deskriptif menggunakan skala Guttman dan disajikan dalam bentuk tabel serta uraian naratif. Sementara itu, data dari angket diolah secara kuantitatif deskriptif dengan menghitung nilai rata-rata pada setiap indikator. Seluruh data yang terkumpul kemudian dikombinasikan untuk memberikan gambaran yang komprehensif terkait efektivitas penerapan model Problem Based Learning yang didukung oleh media TikTok dalam meningkatkan kemampuan menulis teks eksposisi siswa kelas X di MA Al-Falah Sukabumi. PEMBAHASAN Penelitian ini dimaksudkan untuk mengkaji efektivitas penerapan model Problem Based Learning (PBL) yang didukung oleh media TikTok dalam upaya meningkatkan kemampuan menulis teks eksposisi. Untuk menjawab tujuan tersebut, peneliti menggunakan empat instrumen: modul ajar, observasi, tes, dan angket. Setiap instrumen menghasilkan data yang saling melengkapi dan memperkuat temuan bahwa penggunaan model PBL berbantuan TikTok berdampak positif terhadap pembelajaran menulis. Persiapan Pembelajaran (Modul Aja. Modul ajar yang dikembangkan peneliti telah disusun berdasarkan sintaks model PBL dan dikontekstualisasikan dengan pemanfaatan media TikTok. Hasil observasi pada tahap persiapan menunjukkan bahwa guru mampu menyiapkan perangkat pembelajaran secara lengkap dan sesuai dengan prinsip Kurikulum Merdeka. Langkah-langkah pembelajaran mencakup pengenalan masalah, kerja kelompok, investigasi, pembuatan produk berupa teks dan video, hingga refleksi. Video TikTok sebagai media digunakan untuk membangun minat belajar dan sebagai sarana siswa mengekspresikan pemahamannya terhadap materi. Pemanfaatan TikTok sebagai bagian dari modul ajar membantu siswa memahami struktur dan kebahasaan teks eksposisi secara visual, serta meningkatkan daya tarik terhadap materi. Keterpaduan antara model PBL dan media digital ini membuat dan menciptakan suasana belajar yang lebih interaktif dan kreatif, sejalan dengan kebutuhan pembelajaran abad ke-21. Tabel 1. Data Persiapan Pembelajaran (Modul Aja. Aspek Keterangan Kesesuaian dengan sintaks PBL Sesuai Pemanfaatan media TikTok Digunakan secara aktif Kelengkapan tujuan dan materi Lengkap Eriska Febrianty, dkk. : Penggunaan Model PBL Berbantuan Media TikTok dalam A Kesesuaian dengan Kurikulum Merdeka Sesuai Temuan pada tahap persiapan pembelajaran ini sejalan dengan pendapat Trianto . yang menyatakan bahwa keberhasilan model Problem Based Learning sangat ditentukan oleh kesiapan perangkat pembelajaran yang disusun berdasarkan sintaks PBL. Kesesuaian modul ajar dengan Kurikulum Merdeka dalam penelitian ini juga menunjang hasil penelitian Siti et al. yang menekankan pentingnya perencanaan pembelajaran kontekstual dalam meningkatkan keterampilan menulis teks eksposisi. Dengan demikian, hasil penelitian ini tidak bersifat kontradiktif, melainkan memperkuat temuan penelitian sebelumnya bahwa perencanaan pembelajaran berbasis masalah yang terstruktur merupakan fondasi penting dalam pembelajaran Data Observasi Observasi dilaksanakan selama kegiatan pembelajaran berlangsung, meliputi tahap persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi. Hasil observasi menunjukkan bahwa guru mampu menjalankan pembelajaran sesuai dengan skenario yang dirancang dalam modul ajar. Guru bertindak sebagai fasilitator yang membimbing siswa menyelesaikan permasalahan secara Pada kelompok eksperimen, siswa terlihat lebih aktif dalam berdiskusi, bertanya, dan juga menyampaikan pendapat. Mereka juga lebih antusias saat membuat konten TikTok untuk menyajikan hasil tulisan eksposisi. Kegiatan belajar menjadi kolaboratif, dan siswa menunjukkan peningkatan dalam berpikir kritis serta penggunaan struktur dan bahasa eksposisi yang tepat. Sementara itu, kelompok kontrol menunjukkan keterlibatan yang lebih rendah karena pembelajaran dilakukan secara konvensional dan cenderung bersifat satu arah. Tabel 2. Data Hasil Observasi Guru dan Siswa Indikator Kelompok Eksperimen Kelompok Kontrol Kesiapan Guru Tinggi Cukup Keterlibatan Siswa Sangat Aktif Kurang aktif Penggunaan Media Optimal Minimal Refleksi dan Diskusi Dilakukan Tidak dilakukan Hasil observasi yang menunjukkan tingginya keterlibatan siswa pada kelompok eksperimen memperkuat temuan Syahbaniar . yang menyatakan bahwa model Problem Based Learning mampu meningkatkan keaktifan dan partisipasi siswa dalam pembelajaran Selain itu, keterlibatan siswa dalam diskusi dan pembuatan konten TikTok juga menunjang penelitian Arifin . yang menegaskan bahwa suasana pembelajaran yang interaktif dapat meningkatkan motivasi belajar siswa. Dengan demikian, temuan penelitian ini 82 Dinamika: Jurnal Bahasa. Sastra, dan Pembelajarannya Volume 9 . Februari 2026, halaman 76-85 konsisten dengan penelitian terdahulu dan menunjukkan bahwa integrasi PBL dengan media digital mampu memperkuat keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran. Data Tes (Pretest dan Post-tes. Hasil pengujian menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan dalam kemampuan menulis teks eksposisi, khususnya pada kelompok eksperimen. Nilai rata-rata pretest pada kelompok ini adalah 80,20 dan mengalami peningkatan menjadi 98,00 saat posttest. Sementara itu, kelompok kontrol hanya mengalami kenaikan dari 77,80 menjadi 83,40. Uji-t independen menghasilkan nilai signifikansi sebesar 0,000 (< 0,. , yang mengindikasikan adanya perbedaan yang signifikan antara hasil belajar kedua kelompok tersebut. Secara rinci, aspek kesesuaian konten dan struktur serta kebahasaan mendapatkan nilai rata-rata tinggi pada kedua kelompok, yaitu 20. Namun, aspek kreativitas dan kualitas video menunjukkan perbedaan yang mencolok. Kelompok eksperimen mendapatkan nilai rata-rata 20, sementara kelompok kontrol hanya 9. Hal ini menunjukkan bahwa integrasi video TikTok mendorong kreativitas siswa dalam mengekspresikan pemahamannya terhadap teks eksposisi secara menarik dan relevan. Tabel 3. Rata-rata Nilai Pretest dan Post-test Kelompok Pretest Post-test Eksperimen 80,20 98,00 Kontrol 77,80 83,40 Peningkatan hasil tes pada kelompok eksperimen memperkuat hasil penelitian Nabila et al. dan Siti et al. yang menyimpulkan bahwa penerapan model Problem Based Learning efektif dalam meningkatkan keterampilan menulis teks eksposisi. Perbedaan peningkatan yang signifikan antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol juga menunjukkan bahwa pemanfaatan media TikTok memberikan kontribusi tambahan terhadap efektivitas model PBL. Temuan ini menunjang penelitian Nugroho . yang menyatakan bahwa TikTok mampu meningkatkan kreativitas dan keterlibatan siswa dalam pembelajaran Dengan demikian, hasil penelitian ini tidak bersifat kontradiktif, melainkan memperluas temuan penelitian sebelumnya melalui integrasi media sosial dalam pembelajaran Data Angket Angket digunakan untuk menilai persepsi siswa terhadap metode pembelajaran yang diterapkan menggunakan model PBL melalui media Tiktok. Hasil angket menunjukkan bahwa seluruh siswa dalam kelompok eksperimen memberikan tanggapan yang sangat positif terhadap pembelajaran ini. Sebanyak 20 siswa . %) menyatakan Sangat Setuju pada seluruh pernyataan yang diajukan dalam angket. Siswa merasa bahwa pembelajaran dengan bantuan media TikTok meningkatkan minat belajar, memberikan kenyamanan dalam mengikuti pembelajaran, serta meningkatkan keterlibatan mereka dalam proses pembelajaran. Selain itu, penggunaan TikTok sebagai media Eriska Febrianty, dkk. : Penggunaan Model PBL Berbantuan Media TikTok dalam A pembelajaran dianggap sangat efektif dalam membantu pemahaman materi, mempermudah proses penulisan teks eksposisi, serta meningkatkan motivasi, kreativitas, dan semangat siswa. Tanggapan yang positif ini menunjukkan bahwa aspek afektif dan motivasional siswa meningkat secara signifikan. Pembelajaran menjadi lebih menyenangkan, siswa lebih fokus, lebih aktif berdiskusi, serta lebih percaya diri dalam menyampaikan pendapat. Hal ini membuktikan bahwa integrasi media sosial seperti Tiktok didalam pembelajaran berbasis masalah dapat menciptakan pengalaman belajar yang bermakna dan relevan dengan dunia remaja saat ini. Tabel 4. Hasil Angket Persepsi Siswa terhadap Penggunaan Model PBL Berbantuan Media TikTok Indikator Rata-rata Skor Kategori Minat belajar Sangat Baik Keterlibatan siswa dalam Sangat Baik Kenyamanan dalam proses Sangat Baik Ketertarikan terhadap media Sangat Baik Pemahaman materi Sangat Baik Fokus dan perhatian selama Sangat Baik Aktivitas berdiskusi dan bertanya Sangat Baik Kelancaran dalam menulis Sangat Baik Kreativitas dan pengembangan Sangat Baik Motivasi dalam menulis teks Sangat Baik Semangat menyelesaikan tugas Sangat Baik Efektivitas penggunaan media TikTok Sangat Baik Respons positif siswa terhadap pembelajaran berbasis PBL berbantuan media TikTok menunjang temuan Arifin . yang menyatakan bahwa pembelajaran yang menyenangkan dan interaktif dapat meningkatkan motivasi serta kenyamanan belajar siswa. Selain itu, hasil angket ini juga memperkuat pendapat Nugroho . bahwa penggunaan TikTok sebagai media pembelajaran mampu meningkatkan minat, fokus, dan kepercayaan diri siswa. Dengan demikian, temuan penelitian ini selaras dengan penelitian terdahulu dan menunjukkan bahwa 84 Dinamika: Jurnal Bahasa. Sastra, dan Pembelajarannya Volume 9 . Februari 2026, halaman 76-85 integrasi media sosial dalam pembelajaran berbasis masalah memberikan dampak positif terhadap aspek afektif dan motivasional siswa. PENUTUP Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan, dapat disimpulkan bahwa penggunaan model Problem Based Learning (PBL) yang didukung media TikTok terbukti efektif dalam meningkatkan kemampuan menulis teks eksposisi pada siswa kelas X MA AlFalah Sukabumi. Proses persiapan dan pelaksanaan pembelajaran di kelompok eksperimen menunjukkan pencapaian yang tinggi, baik dari sisi kinerja guru maupun partisipasi aktif siswa. Hasil tes memperlihatkan peningkatan signifikan antara nilai pretest dan posttest siswa di kelompok eksperimen, yaitu dari rata-rata 80,20 menjadi 98,00. Selain itu, hasil angket menunjukkan bahwa seluruh siswa memberikan respons yang sangat positif terhadap metode pembelajaran yang digunakan, dengan tingkat persetujuan mencapai 100% pada setiap indikator. Temuan ini mengindikasikan bahwa model PBL yang terintegrasi dengan media digital seperti TikTok mampu meningkatkan keterlibatan, kreativitas, serta motivasi belajar siswa secara Penelitian ini memberikan beberapa rekomendasi sebagai berikut: . Pihak sekolah disarankan untuk mendukung penggunaan media sosial yang bersifat edukatif dalam kegiatan pembelajaran, termasuk dengan menyediakan fasilitas digital dan menyelenggarakan pelatihan bagi guru. Guru diharapkan mampu memadukan model Problem Based Learning dengan media yang sesuai dengan karakteristik dan keseharian siswa, guna menciptakan pembelajaran yang lebih menarik dan bermakna. Siswa perlu menggunakan media pembelajaran secara cermat serta berperan aktif dalam pembelajaran berbasis proyek. Peneliti selanjutnya disarankan untuk menjajaki penggunaan media sosial lainnya atau mengadaptasi pendekatan ini pada keterampilan berbahasa yang berbeda, sehingga hasil penelitian menjadi lebih komprehensif dan bervariasi. DAFTAR PUSTAKA