Vol. No. 1 Mei 2025 PERUBAHAN PARADIGMA INTERAKSI SOSIAL GENERASI Z DALAM KONTEKS GLOBALISASI Muh. Homsur Homang Ropu1. Muh. Syukur2 Universitas Negeri Makassar1,2 Email: Homsurhomangropu00@gmail. com1, muhammadsyukur@unm. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apa. dampak media sosial terhadap pembentukan identitas sosial di Generasi Z. Transormasi nilai-nilai sosial dalam era globalisasi, dan tantangan mental dan emosional dalam interaksi sosial generasi Z. Jenis penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan metode kajian literatur, pendekatan ini di pilih untuk mengevaluasi, mengidentifikasi dan mensintesis penelitian yang relevan terkait paradigma interaksi sosial di generasi Z dalam konteks globalisasi, data dikumpulkan dari beberapa artikel ilmiah yang dipublikasikan di database seperti Googke scholer, scopus, dan springer. Fokus utama dalam penelitian ini merupakan literatur yang diterbitkan dalam lima tahun terakhir. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa. Dampak Media Sosial terhadap Pembentukan Identitas Sosial Generasi Z, media sosial memfasilitasi eksplorasi dan tekanan sosial seperti standar kecantikan, validasi sosial, dan perbandingan diri. tekanan yang diberikan mempengaruhi Kesehatan mental seperti kecemasan sosial dan isolasi emosional. transformasi nilai-nilai dalam era globalisasi, yaitu . Generasi Z memanfaatkan media sebagai pembentukkan identitas sosial melalui Self-Presentasion. generasi Z lebih focus pada individualism dan nilai-nilai global dibandingkan budaya lokal. tantangan mental dan emosional dalam intraksi sosial generasi Z, yaitu . hilangnya keterkaitan pada budaya lokal. ketergantungan pada media sosial. Kata kunci: generasi z, globalisasi, interaksi sosial, media sosial, paradigma Abstract This study aims to find out what . the impact of social media on the formation of social identity in Generation Z, the transformation of social values in the era of globalization, and mental and emotional challenges in social interaction of generation Z. This type of research is a qualitative approach with a literature review method, this approach is chosen to evaluate, identify and synthesize relevant research related to the paradigm of social interaction in generation Z in the context of globalization, data was collected from several scientific articles published in databases such as Googke Scholer. Scopus, and Springer. The main focus in this study is the literature published in the last five years. The results of this study show that. The Impact of Social Media on the Formation of Social Identity of Generation Z, namely. social media facilitates social exploration and pressure such as beauty standards, social validation, and self-comparison. the stress exerted affects mental health such as social anxiety and emotional isolation. the transformation of values in the era of globalization, namely. Generation Z uses the media as a form of social identity through SelfPresentation. Generation Z focuses more on individualism and global values than local culture. mental and emotional challenges in the social injunction of Generation Z, namely. loss of relevance to local culture. dependence on social media. Keywords: generation z, globalization, social interaction, social media, paradigm Gen Z sendiri diyakini memiliki pemahaman akan teknologi dibandingkan generasi lainnya, mereka disebut sebagai penduduk digital karena sejak ussia dini telah disajikan oleh internet dan telepon PENDAHULUAN Generasi Z atau yang lebih dikenal Gen Z merupakan individu yang lahir pada tahun 1997 sampai 2012, karakter Jurnal Penelitian Pendidikan Sosial Humaniora Vol. No. 1 Mei 2025 genggam (Zis et al. , 2. karena kemudahan dalam mengakses sebuah informasi dan komunikasi melalui internet. Gen Z memiliki pandangan yang lebihn global. Mereka dapat terhubung dengan orang orang dari berbagai tempat yang ada di dunia dalam waktu singkat di berkomunikasi dan membentuk hubungan social berbeda dari generasi sebelumnya. Globalisasi sendiri merupakan proses integrasi dan juga interaksi yang intensif antara negara negara di seluruh belahan dunia, hal ini mencakup aspek ekonomi, budaya, teknologi dan politik. Menurut (Amini et al. , 2. dalam jurnalnya. Globalisasi adalah suatu proses tatanan masyarakat yang mendunia dan tidak mengenal batas wilayah, globalisasi pada hakikatnya adalah suatu proses dari gagasan yang dimunculkan, kemudian ditawarkan untuk diikuti oleh bangsa yang lain yang akhirnya sampai pada suatu titik kesepakatan bersama dan menjadi bersama bagi bangsa-bangsa diseluruh Dengan kemajuan teknologi antarnegara dan budaya bertukar informasi lebih cepat, bagi Gen Z sendiri ini berarti mereka tidak hanya terhubung dengan lingkungan mereka, tapi juga terhubung dengan dunia secara langsung. (Maharani et al. , 2. , dengan kemudahan akses tersebut, mereka lebih mudah mengakses berbagai informasi dan komunikasi dengan manusia lainnya di belahan dunia, mereka juga terlihat mengadopsi tren global tanpa ada Batasan, hal ini menjadi tantangan pada generasi Z karena diyakini akan terjadi penurunan kualitas hubungan social secara langsung dan juga diyakini mempengaruhi perkembangan social dan emosionalnya. Dalam hal ini penting dipahami bagaimana globalisasi dan teknologi dapat mengubah paradigma dalam interaksi social yang dilakukan oleh generasi Z, karena perubahan ini dapat mempengaruhi berbagai aspek pada kehidupan yang mereka jalani, seperti Pendidikan, pekerjaan, sampai kehidupan sosial Contoh, pada dunia Pendidikan, interaksi yang dilaksanakan oleh siswa dan guru atau mahasiswa dan dosen sering kali beralih ke platfrom digital seperti ZOOM, atau platfrom kampus seperti SYAM OK yang dilaksanakan pada kampus unm. Dan pada dunia kerja, interaksi yang dilakukan semakin mengandalkan aplikasi digital untuk berkomunikasi seperti email, whatsapp dan lainnya, yang dapat mengurangi interaksinya secara langsung. (Nizar et al. Usmani et al. , 2. Selain itu media social sangat memainkan peran yang besar dalam kehidupan gen Z, aplikasi seperti tiktok. Instagram, memungkinkan mereka berinteraksi dengan teman-teman, keluarga, dan bahkan orang yang tidak mereka kenal. Baik itu dalam bentuk pesan, gambar, video ataupun siaran langsung. Dalam hal ini terdapat pula dampak negatif yang perlu diperhatikan, seperti tekanan social, ketergantungan teknologi atau bahkan kecamasan social. Puspitarini & Nuraeni . Kajian ini dilakukan guna untuk Bagaimana interaksi sosial ini dapat mempengaruhi hubungan antarindividu, baik dari ruang lingkup pertemanan atau keluarga, maupun ruang lingkup yang lebih besar atau dinamika sosial dimasyakat. Oleh karena itu, kajian ini bertujuan untuk fenomena globalisasi dan media sosial telah merubah cara interaksi dan berkomunikasi di kalangan generasi Z. METODE Metode mengevaluasi, mengidentifikasi dan mensintesis penelitian yang relevan terkait paradigma interaksi sosial di generasi Z Jurnal Penelitian Pendidikan Sosial Humaniora Vol. No. 1 Mei 2025 dalam konteks globalisasi, data yang digunakan bersumber dari beberapa artikel jurnal ilmiah yang dipublikaskan di database seperti Google Scholer. Scopus, dan Springer, fokus utama pada penelitian ini adalah literatur yang diterbitkan dalam lima tahun terakhir untuk memastikan relevansi dengan perkemabangan terbaru. Pendekatan kuallitatif dalam bagaimana pemahaman yang mendalam terhadap makna dan konteks fenomena yang diteliti. Berbeda dengan pendekatan kuantitatif yang hanya focus pada pengukuran dan analisis statistic, pendekatan kualitatif memungkinkan pengalaman, persepsi, dan perspektif individua tau kelompok yang terlibat. Dalam hal ini, analisis dilakukan dengan cara mengidentifikasi tema-tema, pola, dan hubungan antar konsep yang muncul dari literatur yang dikaji. Dalam implementasinya, peneliti perlu mengikuti beberapa langkah penting. Pertama, menentukan fokus penelitian dan pertanyaan yang ingin dijawab. Setelah itu, peneliti harus melakukan pencarian sistematis terhadap literatur yang relevan dan mengumpulkan data dari sumbersumber tersebut. Selanjutnya, proses analisis dimulai dengan membaca dan mengelompokkan data berdasarkan tema, dan menginterpretasikan makna dari setiap tema yang ditemukan. Hasil dari kajian literatur dengan memberikan wawasan yang lebih mendalam tentang fenomena yang diteliti. Selain itu, penelitian ini juga dapat mengidentifikasi kesenjangan dalam membuka peluang untuk penelitian lebih Dengan demikian, metode ini tidak hanya berfungsi untuk menjawab pertanyaan penelitian, tetapi juga untuk menyumbangkan pengetahuan baru dan memperkaya diskursus akademik dalam bidang pendidikan informal khususnya dan pendidikan pada umumnya. HASIL DAN PEMBAHASAN 1 Dampak Media Sosial terhadap Pembentukan Identitas Sosial Generasi Z Media sosial telah berkembang pesat hal ini membuat media sosial menjadi salah satu factor yang berpengaruh pada pemebentukan identitas sosial generasi Z, yang terdiri dari individu yang lahir di era digital dan tumbuh dengan teknologi canggih dengan konektivitas internet. Aplikasi seperti Instagram, twitter, tiktok dan youtube memungkinkan gen Z ini mengendalikan bagaimana mereka ingin dilihat oleh orang lain atau memproyeksikan diri mereka dalam ruang sosial yang lebih luas yang mereka rangkai sendiri. Dalam konteks ini, sosial media tidak hanya berfungsi sebagai alat komhnikasi, tetapi dapat juga berfungsi sebagai panggung Dimana mereka dapat membangun dan mendefinisikan siapa mereka berdasarkan preferensi pribadi mereka. Hal ini berbeda dengan generasi-generasi sebelumnya seperti gen milenial atau dibawahnya yang hanya mengandalkan interaksi tatap muka dalam bentuk identitas sosial mereka. Pembentukan dilakukan oleh generasi Z memanfaatkan media sosial sebagai arena untuk Selfpresentation suatu konsep yang pertama kali di kemukakan oleh Ervin Goffman dalam The presentation of self in everyday Dimana mereka menampilkan diri dalam bentuk video, foto dan status yang mencerminkan berbagai aspek dari diri mereka seperti nilai, minat dan gaya Dolezal . Penelitian terbaru menunjukkan bahwa media sosial memberikan kesempatan bagi generasi Z menguatkan diri atau identitas mereka, baik itu dalam konteks sosial ataupun pribadi mereka. Sebuah penelitiann yang dilakukan oleh Humbertus et al. Jurnal Penelitian Pendidikan Sosial Humaniora Vol. No. 1 Mei 2025 dan Putra & Junita . menunjukkan bahwa media sosial memberi pengaruh signifikan terhadap identitas sosial pada generasi Z. Di mana mereka merasa lebih mudah untuk menunjukkan siapa mereka, bahkan terkadang itu berbeda dengan identitas yang ia tunjukkan di dunia nyata. Pengaruh media sosial pada pembentukan identitas tidak hanya berfokus pada penampilan eksternal, tetapi juga pada nilai dan pandangan Media sosial telah membawa generasi Z lebih dekat dengan nilai-nilai keberagaman dan keadilan sosial. Media sosial memiliki hal positif dimana gen Z memanfaatkan itu sebagai wadah eksplorasi identitas, melalui media sosial, study dari Suharyanti & Suharyanti . Menunjukkan bahwa media sosial dapat memberikan peluang bagi remaja untuk menciptakan dan memelihara hubungan sosial dan juga mengukur kehadiran mereka pada komunitas daring. Generasi Z juga menggunakan media sosial untuk mendukung isu sosial dan terlibat dalam aktivisme, seperti yang terlihaat dalam kampanye global terkait perubahan iklim dan keseteraan gender. Tidak hanya dampak positif media sosial juga membawa tantangan dalam pembentukan identitas sosial generasi Z. tekanan yang harus iya hadapi untuk membuat dirinya ideal di media sosial dan harus menyesuaikan dirinya dengan standar sosial yang ditentukan oleh tren di digital seperti yang terjadi saat ini terdapat istilah dengan AuStandar tiktokAy dimana mereka mengikuti standar yang berlebihan dari konten aplikasi tiktok, validasi sosial melalui like dan komentar menjadi bentuk baru pengakuan yang mempengaruhi konsep diri, hal ini dapat meningkatkan perbandingan sosial yang merugikan, menyebabkan penurunan harga diri bahkan ganggyan Kesehatan mental. Meskipun memberikan banyak manfaat, menciptakan lanskap identitas sosial yang komplek bagi generasi Z. dengan memahami dinamika ini. Pendidikan menekankan kesadaran kritis terhadap penggunaan media sosial menjadi Langkah yang penting untuk membantu generaasi Z dalam mengelolah sebuah tantangan. Pendidikan dapat mencakup pemahaman tentang dampak algoritma, keseimbangan antara dunia nyata dan dunia maya. 2 Transformasi Nilai-Nilai Sosial dalam era Globalisasi Globalisasi perubahan signifikan dalam nilai-nilai sosial yang dianut oleh gen Z. Nilai tradisional yang biasanya diwariskan dari keluarga dan kampung halaman kini menghadapi tantangan dan nilai-nilai global yang didapatkan melalui platfrom digital seperti tiktok. Instagram, twitter atau facebook, gen Z yang lahir di era ini, menjadi generasi pertama yang hidup pada Desa Global, yang dimana Batasan dari geografis dan budayanya semakin DIbrowski & oroda-Murawska Perubahan yang paling besar terjadi adalah berubahnya nilai yang (Kolektivism. (Individualism. Jika sebelumnya cenderung mementingkan kelompok, generasi Z kebanyakan kebebasan dirinya sendiri. Studi yang di Davies . Menunjukkan bahwa generasi Z lebih focus pada identitas personal mereka melalui media sosial dimana mereka menampilkan diri mereka sesuai dengan yang mereka inginkan. Hal ini sejalan dengan globalisasi yang memperkenalkan nilai-nilai universal seperti kebebasan berekspresi, hak individu dan otonomi Tekanan dalam mengikuti tren global juga sering kali membuat gen Z kehilangan keterikatan pada budaya lokal. Jurnal Penelitian Pendidikan Sosial Humaniora Vol. No. 1 Mei 2025 Sebagai contoh, tren gaya hidup atau cara berfikir diadopsi dari negara maju sering kali dianggap superior dibandingkan tradisi lokal, dalam hal ini, gen Z sering kali menghadapi konflik nilai antara menjaga budaya asli atau beradaptasi dengan standar global. Globalisasi juga mempengarhi cara gen Z dalam memandang hubungan membangun hubungan dengan orang luar melalui media sosial yang memungkinkan mereka berinteraksi dengan orang yang berlatar belakang berbeda dengan dirinya, ini menciptakan rasa hubungan global yang kuat, namun dapat mengurangi hubungannya dengan lingkungan sekitar. Untuk mengatasi tantangan ini, penting bagi generasi Z untuk memiliki literasi budaya yang baik, dimana mereka dapat menilai nilai global tanpa kehilangan identitas budaya lokal mereka. Pendidikan multicultural dan literasi digital dapat membantu untuk memahami dan menyeimbangkan nilai-nilai lokal dan Dengan pendekatan ini, generasi Z dapat menjadi agen perubahan yang mampu menjembatani kesenjangan antara tradisi lokal dengan modernitas global. Salah satu dampak utama dari dominasi interaksi digital adalah isolasi Meskipun memungkinkan Generasi Z untuk terhubung dengan lebih banyak orang koneksi yang dibangun melalui media sosial cenderung bersifat dangkal dan tidak memiliki kedalaman emosional. Penggunaan media sosial sering kali menyebabkan penurunan interaksi tatap muka, yang sangat penting untuk membangun hubungan yang autentik dan Generasi Z mungkin memiliki ribuan "teman" atau pengikut di media sosial, tetapi sering kali merasa kesepian karena kurangnya koneksi emosional yang Selain memperkenalkan tantangan baru berupa fenomena fear of missing out (FOMO), yang menjadi salah satu penyebab utama kecemasan sosial di kalangan Generasi Z. FOMO didefinisikan sebagai ketakutan akan kehilangan pengalaman penting yang dialami oleh orang lain. Platform media sosial seperti Instagram dan TikTok sering kali menampilkan gambaran kehidupan orang lain yang tampak lebih menarik, sukses, atau bahagia, yang dapat memicu perasaan iri hati dan ketidakpuasan terhadap kehidupan sendiri. Penelitian oleh Afrilia . menemukan bahwa paparan berlebihan terhadap konten semacam itu dapat memperburuk perbandingan sosial, yang berdampak negatif pada kesehatan mental individu. Tekanan untuk tampil sempurna di media sosial juga merupakan tantangan emosional yang signifikan bagi Generasi Algoritma media sosial sering kali memperkuat standar kecantikan dan kesuksesan yang tidak realistis, yang menciptakan tekanan bagi individu untuk memenuhi harapan tersebut. Validasi sosial yang diukur melalui likes, komentar, dan jumlah pengikut menjadi ukuran baru untuk menilai harga diri Dwistia et al. mencatat bahwa media sosial menciptakan "ruang 3 Tantangan Mental Dan Emosional Dalam Interaksi Sosial Generasi Z Generasi Z adalah generasi pertama yang lahir sepenuhnya dalam era digital, yang memungkinkan mereka berinteraksi dengan dunia secara lebih luas melalui teknologi. Media sosial telah menjadi salah satu alat utama bagi Generasi Z untuk berkomunikasi, berbagi pengalaman, dan membangun identitas Namun, di balik manfaatnya yang besar, media sosial juga membawa dampak yang signifikan terhadap kesehatan mental dan emosional generasi Ketergantungan pada interaksi digital telah menciptakan tantangan baru, seperti isolasi emosional, kecemasan sosial, dan ketidakpuasan terhadap diri sendiri, yang memengaruhi cara mereka membangun hubungan sosial dan memandang dunia. Jurnal Penelitian Pendidikan Sosial Humaniora Vol. No. 1 Mei 2025 pengawasan" di mana individu merasa selalu diamati, sehingga mereka harus terus-menerus menampilkan versi terbaik dari diri mereka. Hal ini dapat menyebabkan stres kronis, ketidakpuasan terhadap tubuh, dan gangguan pada konsep diri. Dampak negatif dari interaksi digital juga mencakup fragmentasi hubungan sosial di dunia nyata. Meningkatnya waktu yang dihabiskan di dunia digital sering kali mengurangi peluang Generasi Z untuk membangun hubungan interpersonal yang mendalam. Munira & Jaafar . menggambarkan fenomena ini sebagai "penurunan modal sosial," di mana keterlibatan sosial dalam komunitas lokal melemah akibat dominasi interaksi daring. Generasi Z yang lebih banyak berkomunikasi melalui media sosial cenderung kurang memiliki diperlukan untuk membangun hubungan tatap muka, yang pada akhirnya memperburuk isolasi sosial dan emosional Selain itu, kelebihan informasi yang diterima melalui media sosial juga dapat menjadi sumber stres bagi Generasi Platform digital sering kali menyajikan informasi secara terus-menerus tanpa jeda, yang dapat membanjiri pengguna dengan konten yang beragam, mulai dari berita global hingga masalah pribadi. Kondisi ini dikenal sebagai "overload informasi secara efektif. Fenomena ini diperburuk oleh algoritma media sosial yang cenderung menampilkan konten yang dirancang untuk menarik perhatian, sering kali memanfaatkan rasa takut atau kegelisahan pengguna. Namun, meskipun media sosial membawa banyak tantangan mental dan emosional, penting untuk dicatat bahwa dampaknya tidak sepenuhnya negatif. Media sosial juga dapat menjadi alat yang kuat untuk membangun solidaritas sosial, mengekspresikan diri, dan menemukan komunitas yang mendukung. Banyak Generasi Z yang menggunakan platform ini untuk berbicara tentang kesehatan mental mereka, berbagi pengalaman, dan mencari dukungan dari individu lain yang menghadapi tantangan serupa. Namun, manfaat ini hanya dapat dirasakan jika media sosial digunakan dengan bijaksana dan disertai kesadaran akan risiko yang mungkin ditimbulkan. Untuk mengatasi tantangan mental dan emosional yang ditimbulkan oleh meningkatkan literasi digital di kalangan Generasi Z. Literasi digital mencakup kemampuan untuk memahami cara kerja algoritma media sosial, mengenali konten yang manipulatif, dan mengelola waktu yang dihabiskan di platform digital. Selain itu, pendidikan tentang pentingnya keseimbangan antara dunia digital dan dunia nyata dapat membantu Generasi Z mengurangi tekanan emosional yang timbul dari ketergantungan pada media Dukungan dari keluarga, sekolah, dan komunitas juga penting dalam membantu Generasi Z mengembangkan hubungan yang lebih sehat dengan teknologi digital. Dalam jangka panjang, tantangan ini menyoroti pentingnya mengintegrasikan teknologi ke dalam kehidupan sosial Generasi Z. Dengan pendekatan yang tepat, media sosial dapat pengalaman sosial tanpa mengorbankan kesehatan mental dan emosional individu. KESIMPULAN penelitian ini menunjukkan bahwa generasi Z, sebagai generasi yang tumbuh di era digital dan globalisasi, mengalami transformasi signifikan dalam interaksi sosial mereka. Media sosial menjadi alat utama dalam membentuk identitas sosial self-presentation, meskipun di sisi lain memunculkan kecemasan, dan isolasi emosional. Jurnal Penelitian Pendidikan Sosial Humaniora Vol. No. 1 Mei 2025 Globalisasi juga membawa perubahan nilai sosial, di mana generasi Z lebih cenderung mengadopsi nilai-nilai global mengorbankan keterikatan pada budaya Perubahan ini menciptakan tantangan dalam menjaga keseimbangan antara dunia digital dan nyata serta antara nilai lokal dan global. Untuk mengatasi dampak negatif tersebut, diperlukan multikultural yang mampu membantu generasi Z memahami dan mengelola penggunaan teknologi secara bijak, sehingga mereka dapat menghadapi tantangan era digital tanpa kehilangan identitas budaya dan keseimbangan sosial Dwistia. Sajdah. Awaliah. , & Elfina. Pemanfaatan Media Sosial Sebagai Media Pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Ar-Rusyd: Jurnal Pendidikan Agama Islam, 1. , 81Ae99. Https://Doi. Org/10. 61094/Arrusyd. Humbertus. Jayanti. Cuo, , & Laumanto. Kecenderungan Pembentukan Inauthentic Self-Presentation Pengguna Instagram. Jurnal Pendidikan Dan Konseling (Jpd. , 4, 1812Ae1826. Maharani. Priyandari. , & Indrawan. Strategi Optimalisasi Komunikasi Intrapersonal Dan Interpersonal Di Kalangan Gen Dalam Pembangunan Menuju Era Industri Prosiding Pekan Ilmiah Pelajar (Pila. , 3, 328Ae336. Munira. , & Jaafar. On-Line Networks. Social Capital And Social Integration: A Case Study Of OnLine Communities In Malaysia. Nizar. Saputra. Rahellita. Al Ayubbi. Hamsyah. Ardiansyah. Habib Zakaria, . Radianto. Studi. Peerpipaan. Perkapalan. , & Surabaya. Analisis Pengaruh Teknik Digital Dalam Interaksi Sosial Dalam Era Digital. Visa: Journal Of Visions And Ideas, 3. , 552. Puspitarini. , & Nuraeni. Pemanfaatan Media Sosial Sebagai Media Promosi (Studi Deskriptif Pada Happy Go Lucky Hous. Jurnal Common | (Vol. Putra. , & Junita. Realitas Keterlibatan Gen Z Dalam Media Sosial Tiktok Perspektif Sosiokultural. , 33Ae55. Suharyanti. , & Suharyanti. Kampanye Generasi Berencana (Genr. Sikap Generasi Z Di Jakarta. Dan Penetrasi Media Sosial DAFTAR PUSTAKA