IMPLEMENTASI PROGRAM JUMPA BERKAH UNTUK MEMBENTUK KARAKTER DISIPLIN DAN TANGGUNG JAWAB PADA SISWA DI MIM NGADIREJAN Putri Purmitasari. Itsnaini Muslimati Alwi Institut Studi Islam Muhammadiyah Pacitan Email: putripurmitasari1912@gmail. com, itsnaini. alwi@gmail. Abstract: This study aims to analyze the implementation of the Jumpa Berkah Program in shaping students discipline and responsibility at MIM Ngadirejan. The research uses a qualitative descriptive approach through field study. The subjects include the principal. Islamic Education teachers, and upper-grade students selected through purposive and snowball sampling techniques. Data were collected through observation, interviews, and documentation, and analyzed using the Miles and Huberman model. The results show that the Jumpa Berkah Program, which is routinely carried out through activities such as congregational dhuha prayer, recitation of Asmaul Husna, short surah recitation, and charity . , is able to build positive habits among students. Students become more disciplined in participating in activities and more responsible in carrying out tasks without constant reminders. In addition, the program also fosters studentsAo religious practices and social awareness. The success of the program is supported by the active role of teachers as role models and institutional support, although there are still challenges related to limited Overall, this program is effective as a habituation-based approach to character building. ARTICLE HISTORY Received: April 2026 Revised : April 2026 Accepted : April 2026 KEYWORDS Jumpa Berkah. Character Education. Discipline. Responsibility. Habituation. KATA KUNCI Jumpa Berkah. Pendidikan Karakter. Disiplin. Tanggung Pembiasaan. Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi Program Jumpa Berkah dalam membentuk karakter disiplin dan tanggung jawab siswa di MIM Ngadirejan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis deskriptif melalui studi lapangan. Subjek penelitian meliputi kepala madrasah, guru Pendidikan Agama Islam, dan siswa kelas atas yang dipilih dengan teknik purposive dan snowball sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Program Jumpa Berkah yang dilaksanakan secara rutin melalui kegiatan sholat dhuha secara berjamaah, pembacaan asmaul husna, pembacaan surat-surat pendek dan infak mampu membentuk kebiasaan positif pada siswa. Siswa menjadi lebih disiplin dalam mengikuti kegiatan dan lebih bertanggung jawab dalam menjalankan tugas tanpa harus selalu diingatkan. Selain itu, program ini juga menumbuhkan kebiasaan ibadah serta kepedulian sosial siswa. Keberhasilan program didukung oleh peran aktif guru sebagai teladan dan dukungan madrasah, meskipun masih terdapat kendala berupa keterbatasan fasilitas. Secara keseluruhan, program ini efektif sebagai sarana pembiasaan dalam pembentukan karakter siswa. AL IBTIDAIYAH. Vol. No. 02, . PENDAHULUAN Pendidikan karakter merupakan salah satu aspek penting dalam proses pendidikan, khususnya dalam membentuk kepribadian peserta didik yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki sikap dan perilaku yang baik (Handayani. Adinda, & Febriyola, 2. Pendidikan tidak cukup hanya menekankan pada penguasaan materi pelajaran, melainkan juga harus mampu membentuk karakter yang kuat sebagai bekal dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam konteks ini, sekolah memiliki tanggung jawab yang besar dalam menanamkan nilai-nilai moral dan sosial kepada peserta didik sejak usia dini (Zahro, 2. Oleh karena itu, penguatan nilai-nilai karakter menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari keseluruhan proses pendidikan, karena keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari aspek akademik, tetapi juga dari kualitas kepribadian siswa. Dalam konteks pendidikan Islam, pembentukan karakter memiliki kedudukan yang sangat penting karena berkaitan langsung dengan pembentukan akhlak peserta didik. Pendidikan Islam tidak hanya berorientasi pada aspek kognitif, tetapi juga menekankan keseimbangan antara pengetahuan, sikap, dan perilaku (Yasin, 2. Hal ini sejalan dengan tujuan pendidikan Islam yang tidak hanya mencetak individu yang berilmu, tetapi juga berakhlak mulia. Nilai-nilai seperti disiplin dan tanggung jawab menjadi bagian penting yang harus ditanamkan sejak dini agar siswa mampu menjalankan kewajibannya dengan baik dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan sekolah, keluarga, maupun Dengan demikian, pendidikan Islam memiliki peran strategis dalam membentuk generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki integritas moral yang kuat (Rosita. Sutisnawati, & Uswatun, 2. Namun demikian, dalam praktiknya, pembentukan karakter siswa masih menghadapi berbagai tantangan. Salah satu permasalahan yang sering dijumpai adalah rendahnya kedisiplinan dan tanggung jawab siswa, baik dalam mengikuti kegiatan di sekolah maupun dalam kehidupan sehari-hari (Rahmah. Suriansyah, & Cinantya, 2. Masih terdapat siswa yang kurang tepat waktu, kurang mematuhi aturan, serta kurang memiliki kesadaran dalam menjalankan kewajiban. Kondisi ini menunjukkan bahwa proses penanaman nilai karakter belum berjalan secara optimal dan masih memerlukan upaya yang lebih efektif dan berkelanjutan. Permasalahan ini tidak hanya menjadi tanggung jawab guru, tetapi juga menjadi tanggung jawab seluruh komponen pendidikan, termasuk lingkungan sekolah dan keluarga. Selain itu, proses pembelajaran yang cenderung berfokus pada aspek kognitif sering kali belum mampu memberikan dampak yang signifikan terhadap pembentukan sikap dan perilaku siswa. Siswa mungkin mampu memahami konsep secara teoritis, namun belum tentu mampu mengimplementasikannya dalam tindakan nyata (Azzahra. Dewi. Mutia. Syahirman, & Asna, 2. Hal ini menunjukkan adanya kesenjangan antara pengetahuan dan praktik yang perlu dijembatani melalui pendekatan pembelajaran yang lebih kontekstual dan aplikatif. Oleh karena itu, diperlukan strategi yang mampu mengintegrasikan nilai-nilai karakter ke dalam kegiatan nyata yang dapat dialami langsung oleh siswa. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah melalui penerapan pendidikan karakter berbasis pembiasaan. Pendekatan ini menekankan pada kegiatan yang dilakukan secara berulang dan konsisten, sehingga nilainilai yang ditanamkan dapat tertanam secara mendalam dan menjadi bagian dari kebiasaan AL IBTIDAIYAH. Vol. No. 02, . Pembiasaan memiliki keunggulan karena memberikan pengalaman langsung kepada siswa dalam menerapkan nilai-nilai yang dipelajari, sehingga pembelajaran tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga praktis dan bermakna. Melalui pembiasaan, siswa dilatih untuk melakukan tindakan positif secara terus-menerus hingga akhirnya menjadi bagian dari karakter mereka (Hakim, 2. Dalam lingkungan madrasah, pembiasaan nilai-nilai karakter sering diintegrasikan melalui kegiatan keagamaan. Kegiatan religius tidak hanya berfungsi sebagai bentuk ibadah, tetapi juga sebagai sarana pendidikan karakter yang efektif (Hakim, 2. Melalui kegiatan seperti sholat berjamaah, membaca doa, serta kegiatan sosial seperti sedekah, siswa dilatih untuk disiplin dalam waktu, bertanggung jawab terhadap kewajiban, serta memiliki kepedulian terhadap sesama. Pembiasaan yang dilakukan secara rutin akan membentuk pola perilaku yang positif dan berkelanjutan. Salah satu bentuk implementasi pendekatan tersebut adalah Program Jumpa Berkah yang dilaksanakan di MIM Ngadirejan. Program ini merupakan kegiatan rutin yang dilaksanakan setiap hari Jumat dan melibatkan seluruh siswa dalam berbagai aktivitas religius dan sosial, seperti sholat dhuha berjamaah, pembacaan doa, tadarus surat pendek, serta kegiatan infak. Melalui kegiatan tersebut, siswa tidak hanya dibiasakan untuk menjalankan ibadah secara teratur, tetapi juga dilatih untuk memiliki kepedulian sosial dan tanggung jawab terhadap lingkungan sekitarnya. Program ini menjadi salah satu bentuk nyata integrasi antara pendidikan karakter dan nilai-nilai keislaman dalam kehidupan sehari-hari di madrasah. Menariknya, program ini tidak hanya berfokus pada kegiatan seremonial, tetapi juga menekankan pada proses pembiasaan yang berkelanjutan. Siswa didorong untuk aktif berpartisipasi dalam setiap kegiatan, sehingga mereka tidak hanya menjadi objek, tetapi juga subjek dalam proses pembelajaran. Dengan demikian, nilai-nilai yang ditanamkan melalui program ini memiliki peluang yang lebih besar untuk diinternalisasi dalam diri Berdasarkan uraian tersebut, penelitian ini menjadi penting untuk dilakukan guna memperoleh gambaran yang lebih mendalam mengenai bagaimana implementasi Program Jumpa Berkah dalam membentuk karakter disiplin dan tanggung jawab siswa. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk mengidentifikasi peran guru dan madrasah dalam pelaksanaan program, faktor-faktor yang mendukung dan menghambat, serta dampak yang ditimbulkan terhadap perubahan perilaku siswa. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam pengembangan strategi pendidikan karakter yang lebih efektif, khususnya di lingkungan madrasah. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis deskriptif yang bertujuan untuk memperoleh pemahaman secara mendalam mengenai implementasi Program Jumpa Berkah dalam membentuk karakter disiplin dan tanggung jawab siswa di MIM Ngadirejan. Pendekatan ini dipilih karena mampu menggali makna, pengalaman, serta interaksi sosial yang terjadi secara langsung di lingkungan madrasah, sehingga penelitian tidak hanya berfokus pada hasil, tetapi juga pada proses pelaksanaan program secara Subjek penelitian merupakan individu yang terlibat langsung dalam pelaksanaan Program Jumpa Berkah, yang ditentukan menggunakan teknik non-probability sampling. AL IBTIDAIYAH. Vol. No. 02, . yaitu purposive sampling dan snowball sampling. Purposive sampling digunakan untuk memilih informan yang memiliki pemahaman mendalam, seperti kepala madrasah dan guru Pendidikan Agama Islam (PAI), sedangkan snowball sampling digunakan untuk memperoleh informan tambahan berdasarkan rekomendasi. Selain itu, siswa kelas atas juga dilibatkan sebagai subjek penelitian dengan pertimbangan kemampuan berpikir dan komunikasi yang lebih matang, sehingga mampu memberikan informasi yang lebih komprehensif terkait pengalaman mengikuti program. Penelitian ini dilaksanakan melalui studi lapangan dengan tahapan persiapan, pelaksanaan, pengumpulan data, analisis data, hingga penarikan kesimpulan. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data menggunakan model interaktif Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan dan verifikasi. Melalui proses tersebut, diperoleh gambaran yang komprehensif mengenai implementasi Program Jumpa Berkah, peran guru dan madrasah, faktor pendukung dan penghambat, serta dampaknya dalam membentuk karakter disiplin dan tanggung jawab siswa. HASIL DAN PEMBAHASAN Pelaksanaan Program Jumpa Berkah Program Jumpa Berkah menjadi salah satu kegiatan unggulan di MIM Ngadirejan yang dilaksanakan secara konsisten sebagai bentuk pembiasaan keagamaan bagi siswa. Kegiatan ini tidak hanya dipandang sebagai rutinitas mingguan semata, tetapi memiliki tujuan yang lebih luas, yaitu sebagai sarana menanamkan nilai-nilai karakter melalui pengalaman langsung. Dengan kata lain, siswa tidak hanya diajak untuk memahami nilainilai kebaikan secara teoritis, tetapi juga dilatih untuk mempraktikkannya secara nyata dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan madrasah. Pelaksanaan program Jumpa Berkah melibatkan seluruh siswa dengan pendampingan dari wali kelas serta guru Pendidikan Agama Islam (PAI). Keterlibatan guru dalam kegiatan ini tidak hanya sebatas mengawasi jalannya kegiatan, tetapi juga berperan sebagai pembimbing sekaligus teladan bagi siswa. Guru hadir di tengah-tengah siswa, ikut serta dalam kegiatan, dan memberikan contoh nyata bagaimana bersikap disiplin, khusyuk dalam beribadah, serta bertanggung jawab dalam menjalankan setiap rangkaian kegiatan (Ulfah. Hidayat. Komara, & Kusman, 2. Kehadiran guru yang aktif ini membuat suasana kegiatan menjadi lebih hidup dan terarah, sehingga siswa merasa didampingi dan termotivasi untuk mengikuti kegiatan dengan sungguh-sungguh. Program ini telah berlangsung selama kurang lebih lima tahun dan secara perlahan menjadi bagian dari budaya religius yang melekat di lingkungan madrasah. Konsistensi pelaksanaan program menunjukkan adanya komitmen yang kuat dari pihak madrasah dalam membangun kebiasaan positif bagi siswa (Ahda. Sujarwo, & Garum, 2. Seiring berjalannya waktu, kegiatan ini tidak lagi dipandang sebagai kewajiban yang harus dilakukan, tetapi mulai dirasakan sebagai kebutuhan oleh siswa. Banyak siswa yang mulai terbiasa datang lebih awal, mempersiapkan diri, dan mengikuti kegiatan tanpa harus selalu Hal ini menunjukkan bahwa nilai-nilai yang ditanamkan melalui program mulai terinternalisasi dalam diri siswa. Adapun kegiatan yang dilaksanakan dalam program ini meliputi sholat dhuha berjamaah, pembacaan asmaul husna, pembacaan surat-surat pendek, serta kegiatan infak. Setiap kegiatan memiliki peran masing-masing dalam membentuk karakter siswa. Sholat AL IBTIDAIYAH. Vol. No. 02, . dhuha melatih kedisiplinan waktu dan kekhusyukan, pembacaan doa dan surat pendek membangun kebiasaan religius, sementara kegiatan infak menumbuhkan rasa empati dan kepedulian sosial. Seluruh rangkaian kegiatan tersebut dilaksanakan secara terstruktur dan terkoordinasi dengan baik, sehingga menciptakan suasana religius yang kondusif dan mendukung proses pembentukan karakter. Melalui kegiatan yang dilakukan secara berulang dan konsisten, siswa secara perlahan terbiasa untuk menjalankan ibadah tanpa merasa terbebani. Pembiasaan ini menjadi kunci utama dalam proses pembentukan karakter, karena nilai-nilai yang ditanamkan tidak hanya dipahami, tetapi juga dialami dan dirasakan langsung oleh siswa (Sari. Ismail, & Afgani, 2. Dengan demikian. Program Jumpa Berkah tidak hanya berfungsi sebagai kegiatan keagamaan, tetapi juga sebagai media pendidikan karakter yang efektif dalam membentuk disiplin, tanggung jawab, serta kepedulian sosial siswa. Pembentukan Karakter Disiplin Dan Tanggung Jawab Program Jumpa Berkah dirancang sebagai upaya sistematis dalam menanamkan nilai-nilai karakter melalui kegiatan yang dilakukan secara rutin dan berkelanjutan. Pendekatan pembiasaan yang digunakan dalam program ini memberikan ruang bagi siswa untuk mengalami secara langsung nilai-nilai yang ditanamkan, sehingga tidak berhenti pada pemahaman teoritis semata. Dengan cara ini, siswa tidak hanya mengetahui apa itu disiplin dan tanggung jawab, tetapi juga belajar bagaimana menerapkannya dalam aktivitas seharihari, baik di lingkungan madrasah maupun di luar madrasah (Rois & Erlangga, 2. Tujuan utama dari program Jumpa Berkah adalah membentuk karakter disiplin dan tanggung jawab siswa melalui perpaduan kegiatan religius dan sosial (Renaldi & Wiza. Kegiatan religius seperti sholat dhuha berjamaah, pembacaan asmaul husna dan surat-surat pendek berperan dalam membangun kebiasaan ibadah yang teratur dan penuh Sementara itu, kegiatan sosial seperti infak menjadi sarana untuk menumbuhkan kepedulian terhadap sesama. Perpaduan antara kedua aspek tersebut menjadikan program ini tidak hanya berorientasi pada penguatan spiritual, tetapi juga pada pembentukan karakter sosial yang lebih luas. Selain sebagai sarana pembentukan karakter, program ini juga memberikan dampak nyata terhadap lingkungan madrasah. Kegiatan infak yang dilakukan secara rutin tidak hanya melatih siswa untuk bertanggung jawab secara pribadi, tetapi juga menumbuhkan rasa memiliki terhadap madrasah. Siswa mulai menyadari bahwa kontribusi kecil yang mereka lakukan memiliki manfaat bagi kepentingan bersama. Dari sini, muncul rasa peduli dan tanggung jawab sosial yang tidak dipaksakan, tetapi tumbuh dari kesadaran diri (Khofi, 2. Jika dilihat lebih jauh, program Jumpa Berkah menunjukkan bahwa pembentukan karakter tidak selalu harus melalui metode yang kompleks. Justru melalui kegiatan sederhana yang dilakukan secara konsisten, nilai-nilai karakter dapat tertanam dengan lebih kuat. Pembiasaan yang dilakukan setiap minggu memberikan kesempatan bagi siswa untuk mengulang perilaku positif hingga akhirnya menjadi bagian dari kebiasaan mereka. Dalam proses ini, karakter tidak dibentuk secara instan, melainkan melalui tahapan yang Kaitannya dengan pembentukan disiplin, program ini memberikan dampak yang cukup terlihat pada perubahan perilaku siswa. Kegiatan yang terjadwal menuntut siswa untuk hadir tepat waktu dan mengikuti rangkaian kegiatan dengan tertib. Secara bertahap. AL IBTIDAIYAH. Vol. No. 02, . siswa mulai terbiasa untuk mengatur waktu dan mematuhi aturan yang berlaku. Kebiasaan datang lebih awal, mengikuti kegiatan tanpa disuruh, serta menjaga ketertiban selama kegiatan berlangsung menjadi indikator bahwa nilai disiplin mulai tumbuh dalam diri Perubahan tersebut tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan melalui proses pembiasaan yang dilakukan secara konsisten dalam jangka waktu tertentu (Hasan. Nirwana, & Fitri, 2. Pengulangan kegiatan yang sama setiap minggu membuat siswa semakin terbiasa dan memahami pentingnya peraturan. Dalam hal ini, disiplin tidak lagi dipandang sebagai aturan yang membatasi, tetapi sebagai kebutuhan yang membantu mereka menjalankan aktivitas dengan lebih teratur dan terarah. Di sisi lain, pembentukan karakter tanggung jawab juga terlihat dari keterlibatan aktif siswa dalam setiap rangkaian kegiatan. Siswa tidak hanya hadir sebagai peserta, tetapi juga dilibatkan dalam berbagai peran, seperti mempersiapkan kegiatan, mengikuti dengan tertib, hingga menjaga suasana tetap kondusif. Keterlibatan ini memberikan pengalaman langsung kepada siswa bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi dan nilai, sehingga mereka belajar untuk bertanggung jawab atas peran yang dijalankan. Kegiatan infak menjadi salah satu contoh nyata dalam menumbuhkan rasa tanggung Siswa dibiasakan untuk menyisihkan sebagian uangnya secara sukarela tanpa adanya paksaan. Kebiasaan ini melatih siswa untuk bertanggung jawab terhadap kewajiban sosialnya, sekaligus menumbuhkan kesadaran bahwa berbagi merupakan bagian penting dalam kehidupan bermasyarakat. Dari kegiatan sederhana ini, siswa belajar bahwa tanggung jawab tidak hanya berkaitan dengan diri sendiri, tetapi juga dengan orang lain (Khofi, 2. Selain itu, sikap tanggung jawab juga tercermin dari kesungguhan siswa dalam mengikuti kegiatan dari awal hingga akhir. Mereka mulai menunjukkan keseriusan dalam beribadah, menjaga ketertiban, serta menghargai jalannya kegiatan (Aliyyani. Kusrina, & Basukiyatno, 2. Hal ini menunjukkan bahwa nilai tanggung jawab tidak hanya dipahami secara konsep, tetapi sudah mulai terinternalisasi dalam perilaku sehari-hari. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa Program Jumpa Berkah memiliki peran yang cukup signifikan dalam membentuk karakter disiplin dan tanggung jawab siswa. Melalui pembiasaan yang dilakukan secara konsisten, siswa tidak hanya belajar memahami nilai-nilai tersebut, tetapi juga menghidupkannya dalam tindakan nyata. Program ini menjadi bukti bahwa pendidikan karakter dapat berjalan secara efektif ketika dilakukan melalui pengalaman langsung yang berulang dan bermakna. Perubahan Positif Terhadap Perilaku Siswa Program Jumpa Berkah tidak hanya berfungsi sebagai kegiatan rutin mingguan, tetapi juga menjadi sarana pembentukan karakter yang memberikan dampak nyata terhadap perubahan perilaku siswa. Pembiasaan yang dilakukan secara konsisten dari waktu ke waktu secara perlahan membentuk pola sikap dan kebiasaan baru dalam diri siswa (Ilahi. Siregar, & Safitri, 2. Perubahan tersebut tidak muncul secara instan, melainkan melalui proses yang berkelanjutan, sehingga nilai-nilai yang ditanamkan dapat tertanam lebih kuat dan bertahan dalam jangka panjang. Perubahan perilaku siswa setelah mengikuti program ini dapat diamati dalam berbagai aspek kehidupan madrasah. Salah satu perubahan yang paling terlihat adalah meningkatnya kedisiplinan siswa. Hal ini tampak dari kebiasaan siswa yang mulai datang AL IBTIDAIYAH. Vol. No. 02, . lebih tepat waktu, mempersiapkan diri sebelum kegiatan dimulai, serta mengikuti setiap rangkaian kegiatan dengan tertib. Jika sebelumnya siswa masih perlu diingatkan secara berulang, kini sebagian besar siswa sudah menunjukkan kesadaran untuk mengikuti kegiatan tanpa harus selalu diarahkan oleh guru. Perubahan ini menunjukkan bahwa nilai disiplin mulai tumbuh dari dalam diri siswa, bukan sekadar karena adanya aturan. Selain disiplin, sikap tanggung jawab siswa juga mengalami perkembangan yang cukup signifikan. Siswa mulai menunjukkan kesungguhan dalam menjalankan setiap kegiatan, mulai dari awal hingga akhir. Mereka tidak hanya hadir secara fisik, tetapi juga terlibat secara aktif dalam kegiatan yang berlangsung. Tanggung jawab ini terlihat dari kesediaan siswa untuk mengikuti aturan, menjaga ketertiban, serta menyelesaikan setiap aktivitas dengan baik (Rizaldo. Kudsiah, & Wardani, 2. Perubahan ini menjadi indikator bahwa siswa mulai memahami makna tanggung jawab sebagai bagian dari perilaku seharihari. Dalam aspek ibadah, program ini juga memberikan pengaruh yang cukup kuat terhadap kebiasaan religius siswa. Siswa menjadi lebih terbiasa melaksanakan sholat dhuha secara berjamaah dengan tertib dan khusyuk. Selain itu, kemampuan siswa dalam membaca doa dan surat-surat pendek juga mengalami peningkatan. Hal ini terjadi karena adanya pengulangan yang dilakukan secara rutin, sehingga siswa semakin terbiasa dan percaya diri dalam melaksanakan ibadah. Kebiasaan ini tidak hanya berhenti di lingkungan madrasah, tetapi juga mulai terbawa dalam kehidupan sehari-hari (Yufarika. Supriyatno, & Zuhriyah. Tidak hanya pada aspek religius dan kedisiplinan, program Jumpa Berkah juga berkontribusi dalam menumbuhkan sikap empati dan kepedulian sosial siswa. Melalui kegiatan infak, siswa dilatih untuk berbagi secara sukarela tanpa adanya paksaan. Dari kegiatan ini, siswa belajar bahwa sebagian dari apa yang mereka miliki dapat bermanfaat bagi orang lain. Selain itu, kebersamaan dalam menjalankan kegiatan juga memperkuat rasa kebersamaan, saling menghargai, dan saling membantu antar siswa. Nilai-nilai ini menjadi dasar penting dalam membentuk karakter sosial yang lebih peduli terhadap lingkungan Jika dilihat secara keseluruhan, perubahan perilaku siswa yang muncul merupakan hasil dari proses pembiasaan yang dilakukan secara konsisten dan terstruktur. Program Jumpa Berkah memberikan pengalaman nyata kepada siswa dalam menerapkan nilai-nilai karakter, sehingga mereka tidak hanya memahami secara konsep, tetapi juga mampu mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari. Proses ini menunjukkan bahwa pembentukan karakter tidak dapat dilakukan secara instan, tetapi membutuhkan waktu, konsistensi, dan lingkungan yang mendukung. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa Program Jumpa Berkah memberikan dampak positif yang signifikan terhadap perkembangan perilaku siswa. Program ini tidak hanya memperkuat aspek religius, tetapi juga membentuk kedisiplinan, tanggung jawab, serta kepedulian sosial siswa secara menyeluruh. Perubahan yang terjadi menjadi bukti bahwa pendidikan karakter yang dilakukan melalui pembiasaan yang berkelanjutan mampu menghasilkan perubahan nyata dalam sikap dan perilaku siswa. Peran Guru Dan Pihak Madrasah Keberhasilan suatu program pendidikan pada dasarnya tidak dapat dilepaskan dari keterlibatan berbagai pihak yang memiliki peran dan tanggung jawab masing-masing. AL IBTIDAIYAH. Vol. No. 02, . Dalam pelaksanaan Program Jumpa Berkah, guru dan pihak madrasah menjadi dua unsur utama yang saling melengkapi dalam memastikan program berjalan secara konsisten, terarah, dan sesuai dengan tujuan yang telah direncanakan. Tanpa adanya keterlibatan aktif dari kedua pihak tersebut, program yang telah dirancang dengan baik tidak akan memberikan dampak yang maksimal terhadap pembentukan karakter siswa (Suyatno. Silalahi, & Syah, 2. Peran guru, khususnya guru Pendidikan Agama Islam (PAI), dalam program ini sangat menonjol. Guru tidak hanya berfungsi sebagai penyampai materi, tetapi juga sebagai penggerak utama dalam pelaksanaan kegiatan. Dalam praktiknya, guru berperan sebagai koordinator yang mengatur jalannya kegiatan, memastikan setiap rangkaian program berjalan sesuai dengan jadwal, serta mengarahkan siswa agar mengikuti kegiatan dengan tertib (Masinambow. Wakerkwa, & Jacobus, 2. Selain itu, guru juga memberikan bimbingan secara langsung kepada siswa, terutama dalam pelaksanaan ibadah seperti sholat dhuha, pembacaan asmaul husana dan pembacaan surat pendek, sehingga siswa tidak hanya sekadar mengikuti, tetapi juga memahami tata cara yang benar. Lebih dari itu, peran guru sebagai teladan menjadi aspek yang sangat penting dalam keberhasilan program ini. Sikap disiplin, tanggung jawab, dan kesungguhan yang ditunjukkan oleh guru selama kegiatan berlangsung secara tidak langsung memberikan pengaruh terhadap perilaku siswa. Siswa cenderung meniru apa yang mereka lihat, sehingga keteladanan guru menjadi salah satu faktor yang memperkuat proses pembentukan karakter. Ketika guru mampu menunjukkan konsistensi dalam bersikap, siswa akan lebih mudah menginternalisasi nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Selain guru, pihak madrasah juga memiliki peran strategis dalam mendukung keberlangsungan Program Jumpa Berkah. Dukungan yang diberikan tidak hanya berupa persetujuan terhadap pelaksanaan program, tetapi juga diwujudkan dalam bentuk kebijakan yang mendukung, pengawasan yang berkelanjutan, serta keterlibatan seluruh tenaga pendidik. Kepala madrasah, misalnya, memiliki peran dalam memberikan arahan, memastikan program berjalan sesuai dengan tujuan, serta mendorong guru untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan (Shobri, 2. Dengan adanya dukungan struktural ini, program dapat dilaksanakan secara lebih terorganisir dan berkelanjutan. Lingkungan madrasah yang kondusif juga menjadi faktor pendukung yang tidak kalah penting (Yufarika et al. , 2. Ketika seluruh warga madrasah memiliki komitmen yang sama dalam menjalankan program, maka suasana yang tercipta akan mendukung proses pembiasaan siswa. Keterlibatan semua pihak, baik guru maupun tenaga kependidikan, menciptakan suasana kebersamaan yang membuat siswa merasa bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari budaya sekolah, bukan sekadar kegiatan Sinergi antara guru dan pihak madrasah menjadi kunci utama dalam keberhasilan pelaksanaan Program Jumpa Berkah. Kerja sama yang terjalin dengan baik memungkinkan setiap kegiatan dapat dilaksanakan secara terstruktur, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi. Dengan adanya koordinasi yang jelas, setiap pihak memahami perannya masing-masing, sehingga pelaksanaan program menjadi lebih efektif dan efisien. Secara keseluruhan, peran aktif guru dan pihak madrasah tidak hanya memastikan keberlangsungan program, tetapi juga berkontribusi secara langsung dalam mencapai tujuan utama, yaitu membentuk karakter disiplin dan tanggung jawab siswa (Sujarwo. AL IBTIDAIYAH. Vol. No. 02, . Keterlibatan yang konsisten, keteladanan yang diberikan, serta dukungan lingkungan yang positif menjadi faktor penting yang memperkuat keberhasilan program dalam membentuk perilaku siswa yang lebih baik. Evaluasi Program Evaluasi merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari pelaksanaan suatu program pendidikan, karena melalui evaluasi dapat diketahui sejauh mana tujuan yang telah direncanakan mampu tercapai (Ridho et al. , 2. Dalam konteks Program Jumpa Berkah, evaluasi tidak hanya dipandang sebagai kegiatan penilaian semata, tetapi juga sebagai proses refleksi untuk melihat perkembangan siswa sekaligus memperbaiki kekurangan yang mungkin terjadi selama pelaksanaan program. Dengan adanya evaluasi yang dilakukan secara berkelanjutan, pihak madrasah memiliki gambaran yang lebih jelas mengenai efektivitas program dalam membentuk karakter disiplin dan tanggung jawab Dalam pelaksanaannya, madrasah memanfaatkan kartu kendali dan buku harian siswa sebagai bagian dari sistem SKUA (Standar Kecakapan Ubudiyah dan Akhlakul Karima. Instrumen ini digunakan untuk mencatat berbagai aktivitas siswa, khususnya yang berkaitan dengan ibadah dan perilaku sehari-hari. Setiap siswa memiliki tanggung jawab untuk mengisi catatan tersebut secara rutin, sehingga mereka secara tidak langsung dilatih untuk jujur dan bertanggung jawab terhadap aktivitas yang mereka lakukan. Pencatatan yang dilakukan secara terstruktur ini memudahkan guru dalam memantau perkembangan siswa dari waktu ke waktu. Kartu kendali dan buku harian tersebut kemudian diperiksa oleh wali kelas secara berkala, yaitu sebanyak dua kali dalam satu minggu. Melalui pemeriksaan ini, guru dapat mengetahui sejauh mana siswa menjalankan kegiatan yang telah dibiasakan dalam program Jumpa Berkah. Tidak hanya melihat dari sisi keteraturan, guru juga dapat menilai kesungguhan siswa dalam melaksanakan ibadah serta kedisiplinan dalam mengisi catatan Jika ditemukan adanya ketidaksesuaian atau penurunan dalam pelaksanaan kegiatan, guru dapat segera memberikan arahan dan pembinaan kepada siswa yang Proses evaluasi yang dilakukan tidak bersifat menghakimi, melainkan lebih menekankan pada pembinaan dan pendampingan (Sinaga et al. , 2. Guru berusaha memberikan umpan balik yang membangun agar siswa dapat memperbaiki kekurangan yang ada. Dengan pendekatan seperti ini, siswa tidak merasa tertekan, tetapi justru terdorong untuk menjadi lebih baik. Evaluasi menjadi sarana komunikasi antara guru dan siswa dalam membangun kesadaran akan pentingnya disiplin dan tanggung jawab. Selain itu, evaluasi juga berfungsi sebagai alat kontrol bagi pihak madrasah dalam memastikan bahwa program berjalan sesuai dengan perencanaan. Melalui hasil evaluasi, pihak madrasah dapat mengidentifikasi faktor-faktor yang mendukung maupun menghambat pelaksanaan program. Informasi ini kemudian dapat digunakan sebagai dasar dalam melakukan perbaikan atau pengembangan program ke depan, sehingga program Jumpa Berkah dapat terus berjalan secara optimal dan berkelanjutan. Dengan adanya sistem evaluasi yang dilakukan secara rutin dan terstruktur, perkembangan ibadah dan perilaku siswa dapat dipantau secara berkelanjutan. Hal ini memberikan dampak positif terhadap keberlangsungan program, karena setiap perubahan yang terjadi pada siswa dapat segera diketahui dan ditindaklanjuti. Evaluasi yang konsisten AL IBTIDAIYAH. Vol. No. 02, . juga memperkuat fungsi program tidak hanya sebagai kegiatan rutin, tetapi sebagai sarana pendidikan karakter yang benar-benar memberikan dampak nyata. Secara keseluruhan, evaluasi dalam Program Jumpa Berkah memiliki peran yang sangat penting dalam menjaga kualitas pelaksanaan program sekaligus mendukung proses pembentukan karakter siswa. Melalui evaluasi yang berkesinambungan, program ini tidak hanya berjalan sebagai rutinitas, tetapi menjadi bagian dari proses pembelajaran yang membantu siswa berkembang menjadi pribadi yang lebih disiplin, bertanggung jawab, dan berakhlak baik. Faktor Pendukung dan Kendala Keberhasilan pelaksanaan suatu program pendidikan tidak terlepas dari adanya dukungan dari berbagai pihak, terutama dari lingkungan madrasah itu sendiri. Dukungan tersebut tidak hanya berupa kebijakan formal, tetapi juga mencakup komitmen, keterlibatan aktif, serta konsistensi dalam menjalankan program. Ketika seluruh komponen madrasah memiliki pemahaman dan tujuan yang sama, maka program yang dilaksanakan akan lebih mudah berjalan secara terarah dan berkelanjutan. Hal ini juga terlihat dalam pelaksanaan Program Jumpa Berkah yang didukung oleh berbagai pihak di lingkungan madrasah (Taufik, 2. Salah satu faktor pendukung utama dalam program ini adalah peran kepala madrasah yang memberikan dukungan penuh terhadap keberlangsungan kegiatan (Shobri. Dukungan tersebut tidak hanya berupa persetujuan terhadap pelaksanaan program, tetapi juga diwujudkan melalui kebijakan yang mendukung serta pengawasan terhadap jalannya kegiatan. Kepala madrasah juga berperan dalam memberikan arahan kepada guru agar program dapat dilaksanakan secara konsisten dan sesuai dengan tujuan yang telah Dengan adanya dukungan dari pimpinan, program memiliki landasan yang kuat untuk terus dijalankan dan dikembangkan. Selain itu, peran guru juga menjadi faktor pendukung yang sangat penting. Guru tidak hanya bertugas sebagai pelaksana kegiatan, tetapi juga sebagai pembimbing dan teladan bagi siswa. Keteladanan yang ditunjukkan oleh guru dalam bersikap disiplin, bertanggung jawab, serta konsisten dalam mengikuti kegiatan memberikan pengaruh yang besar terhadap perilaku siswa. Siswa cenderung meniru apa yang mereka lihat, sehingga sikap positif yang ditunjukkan oleh guru menjadi salah satu faktor yang memperkuat keberhasilan program. Dengan demikian, keberadaan guru menjadi kunci dalam proses pembentukan karakter siswa (Masinambow et al. , 2. Dukungan dari lingkungan madrasah yang kondusif juga turut memperkuat pelaksanaan program. Keterlibatan seluruh warga madrasah dalam kegiatan menciptakan suasana kebersamaan yang mendukung proses pembiasaan (Taufik, 2. Ketika kegiatan dilakukan secara bersama-sama dan menjadi bagian dari budaya sekolah, siswa akan lebih mudah menerima dan menjalankannya tanpa merasa terbebani. Hal ini menunjukkan bahwa lingkungan yang mendukung memiliki peran penting dalam keberhasilan program pendidikan karakter. Namun demikian, dalam pelaksanaannya. Program Jumpa Berkah juga menghadapi beberapa kendala yang memengaruhi kelancaran kegiatan. Salah satu kendala utama yang dihadapi adalah keterbatasan sarana dan prasarana, khususnya belum tersedianya mushola sebagai tempat pelaksanaan ibadah. Ketiadaan fasilitas ini menjadi tantangan tersendiri, mengingat kegiatan utama dalam program ini berkaitan dengan ibadah yang seharusnya AL IBTIDAIYAH. Vol. No. 02, . dilakukan di tempat yang lebih representatif. Akibat belum adanya mushola, kegiatan sholat dhuha harus dilaksanakan di halaman madrasah. Meskipun kegiatan tetap dapat berjalan, kondisi ini membuat pelaksanaan menjadi kurang optimal. Faktor cuaca menjadi kendala yang cukup signifikan, terutama ketika hujan turun. Pada saat kondisi tersebut terjadi, kegiatan tidak dapat dilaksanakan sebagaimana mestinya, sehingga mengganggu kelangsungan program yang seharusnya dilakukan secara rutin dan terjadwal. Kendala tersebut berdampak pada konsistensi pelaksanaan program. Kegiatan yang idealnya dilakukan setiap minggu terkadang harus ditunda atau bahkan tidak dilaksanakan karena kondisi yang tidak memungkinkan. Hal ini menunjukkan bahwa keberhasilan suatu program tidak hanya ditentukan oleh perencanaan dan pelaksanaan, tetapi juga sangat bergantung pada ketersediaan fasilitas yang memadai. Meskipun demikian, pihak madrasah tetap berupaya menjalankan program dengan kondisi yang ada. Komitmen dari guru dan pihak sekolah menjadi faktor yang membantu program tetap berjalan meskipun menghadapi keterbatasan. Hal ini menunjukkan bahwa semangat dan kerja sama antar pihak dapat menjadi kekuatan dalam mengatasi berbagai kendala yang muncul. Secara keseluruhan, faktor pendukung dan kendala yang ada memberikan gambaran bahwa pelaksanaan Program Jumpa Berkah dipengaruhi oleh berbagai aspek, baik internal maupun eksternal. Dukungan dari kepala madrasah, peran aktif guru, serta lingkungan yang kondusif menjadi kekuatan utama dalam keberhasilan program. Sementara itu, keterbatasan fasilitas menjadi tantangan yang perlu segera diatasi agar pelaksanaan program dapat berjalan lebih optimal di masa mendatang. Dengan adanya perhatian terhadap faktor-faktor tersebut, program Jumpa Berkah diharapkan dapat terus berkembang dan memberikan dampak yang lebih besar dalam pembentukan karakter Efektivitas Program Efektivitas Program Jumpa Berkah dapat dilihat dari perubahan perilaku siswa yang menunjukkan adanya peningkatan dalam aspek disiplin dan tanggung jawab. Perubahan ini tidak hanya terlihat pada saat kegiatan berlangsung, tetapi juga tercermin dalam keseharian siswa di lingkungan madrasah. Melalui kegiatan yang dilakukan secara rutin dan berulang, siswa tidak hanya memahami nilai-nilai tersebut secara konseptual, tetapi juga mulai membiasakan diri untuk menerapkannya dalam tindakan nyata. Hal ini menunjukkan bahwa pendekatan pembiasaan yang digunakan dalam program ini mampu memberikan dampak yang lebih mendalam dibandingkan dengan pembelajaran yang bersifat teoritis Jika dilihat dari aspek kedisiplinan, efektivitas program dapat diamati dari meningkatnya kesadaran siswa dalam mengatur waktu dan mematuhi aturan (Srianita. Saputri. Rizkiah, & Novianti, 2. Siswa mulai terbiasa datang tepat waktu, mengikuti kegiatan dengan tertib, serta menunjukkan kesiapan dalam menjalankan setiap rangkaian Perubahan ini menunjukkan bahwa nilai disiplin tidak lagi dipandang sebagai kewajiban yang harus dipenuhi, tetapi mulai menjadi bagian dari kebiasaan yang dilakukan secara sadar. Sementara itu, dalam aspek tanggung jawab, efektivitas program terlihat dari keterlibatan aktif siswa dalam kegiatan yang dilaksanakan. Siswa tidak hanya hadir sebagai AL IBTIDAIYAH. Vol. No. 02, . peserta, tetapi juga menunjukkan kesungguhan dalam mengikuti kegiatan dari awal hingga Mereka mulai memahami bahwa setiap kegiatan yang diikuti memiliki nilai dan tujuan, sehingga muncul kesadaran untuk menjalankannya dengan baik. Kebiasaan seperti mengikuti kegiatan tanpa harus diingatkan serta menjaga ketertiban selama kegiatan berlangsung menjadi indikator bahwa sikap tanggung jawab mulai berkembang dalam diri Selain itu, efektivitas program juga dapat dilihat dari meningkatnya kualitas kebiasaan religius siswa. Siswa menjadi lebih terbiasa dalam melaksanakan sholat dhuha berjamaah, membaca asmaul husna, membaca surat-surat pendek serta berinfak. Pembiasaan yang dilakukan secara konsisten membuat siswa lebih percaya diri dan terbiasa dalam menjalankan ibadah. Hal ini menunjukkan bahwa program tidak hanya berdampak pada aspek karakter, tetapi juga pada penguatan praktik keagamaan siswa. Dari sisi sosial, kegiatan infak yang menjadi bagian dari program juga memberikan kontribusi dalam menumbuhkan kepedulian siswa terhadap sesama. Siswa mulai terbiasa untuk berbagi secara sukarela dan memahami pentingnya membantu orang lain. Kebiasaan ini menjadi salah satu indikator bahwa program mampu menanamkan nilai tanggung jawab sosial yang penting dalam kehidupan bermasyarakat. Secara keseluruhan, hasil penelitian menunjukkan bahwa Program Jumpa Berkah mampu memberikan kontribusi yang nyata dalam pembentukan karakter siswa. Keberhasilan tersebut tidak terlepas dari konsistensi pelaksanaan program yang dilakukan secara berkelanjutan. Kegiatan yang dilakukan secara rutin memberikan kesempatan bagi siswa untuk terus mengulang perilaku positif, sehingga nilai-nilai yang ditanamkan dapat tertanam lebih kuat dalam diri mereka. Selain itu, dukungan dari berbagai pihak di lingkungan madrasah juga menjadi faktor penting dalam menentukan efektivitas program. Peran aktif guru sebagai pembimbing dan teladan memberikan pengaruh yang besar terhadap keberhasilan pembentukan karakter siswa. Di sisi lain, keterlibatan pihak madrasah dalam memberikan kebijakan, arahan, dan pengawasan menciptakan lingkungan yang mendukung pelaksanaan program secara optimal. Meskipun demikian, efektivitas program ini belum sepenuhnya maksimal karena masih terdapat beberapa kendala yang perlu menjadi perhatian. Keterbatasan sarana dan prasarana, seperti belum tersedianya mushola, menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kelancaran pelaksanaan kegiatan. Kondisi ini menyebabkan kegiatan tidak selalu dapat berjalan sesuai dengan rencana, terutama ketika cuaca tidak mendukung. Oleh karena itu, diperlukan upaya perbaikan dan pengembangan agar program Jumpa Berkah dapat berjalan lebih optimal di masa mendatang. Penyediaan fasilitas yang memadai, peningkatan koordinasi antar pihak, serta penguatan sistem evaluasi menjadi langkah penting yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kualitas program. Dengan adanya perbaikan tersebut, diharapkan Program Jumpa Berkah dapat memberikan dampak yang lebih luas dan berkelanjutan dalam membentuk karakter disiplin dan tanggung jawab KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa Program Jumpa Berkah di MIM Ngadirejan berhasil diimplementasikan sebagai bentuk pembiasaan yang efektif dalam membentuk karakter disiplin dan tanggung jawab siswa. Pelaksanaan AL IBTIDAIYAH. Vol. No. 02, . program yang dilakukan secara rutin melalui kegiatan sholat dhuha berjamaah, pembacaan asmaul husna, pembacaan surat-surat pendek, serta infak memberikan pengalaman langsung kepada siswa dalam menerapkan nilai-nilai karakter dalam kehidupan seharihari. Melalui pembiasaan yang konsisten, siswa menunjukkan perubahan perilaku yang positif, seperti meningkatnya kedisiplinan dalam mengikuti kegiatan, kesadaran dalam menjalankan tugas, serta tumbuhnya rasa tanggung jawab tanpa harus selalu diingatkan. Keberhasilan program ini didukung oleh peran aktif guru sebagai pembimbing dan teladan, serta dukungan penuh dari pihak madrasah dalam bentuk kebijakan dan Lingkungan madrasah yang kondusif juga turut memperkuat proses pembentukan karakter siswa. Namun demikian, masih terdapat kendala yang dihadapi, terutama keterbatasan sarana dan prasarana seperti belum tersedianya mushola, yang memengaruhi kelancaran pelaksanaan program. Berdasarkan temuan tersebut, disarankan agar pihak madrasah terus meningkatkan kualitas pelaksanaan program, khususnya melalui penyediaan fasilitas yang lebih memadai serta penguatan sistem evaluasi. Selain itu, penelitian selanjutnya diharapkan dapat mengkaji lebih mendalam mengenai efektivitas program serupa di konteks yang berbeda atau mengembangkan model pembiasaan yang lebih inovatif dalam pendidikan karakter, sehingga dapat memberikan kontribusi yang lebih luas dalam pengembangan pendidikan karakter di sekolah. DAFTAR PUSTAKA