TaAodiban: Journal of Islamic Education Volume 5 No 2 Januari-Juni 2025, 75-88 e issn 2797-5886 DOI: https://doi. org/10. 61456/tjie. Website: https://ojs. id/index. php/tadibanjournals Potret Penerapan Pendidikan Karakter di Aceh: Studi Penguatan Nilai Kearifan Lokal di Era Globalisasi Muhammad Habibi MZ1*. Laitani Fauzani2. Khalid Muddatstsir3. Yusrizal4 1,2,3,4Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh *Email Korespondensi : mhabibi. fsh@ar-raniry. Info Artikel Diterima Direvisi Diterbitkan Abstrak : 21 April 2025 : 12 Juni 2025 : 29 Juni 2025 Kata Kunci: Pendidikan Karakter. Kearifan Lokal. Integrasi Nilai. Aceh. Globalisasi Cara merujuk artikel ini: MZ. , dkk. Potret Penerapan Pendidikan Karakter di Aceh: Studi Penguatan Kearifan Lokal di Era Globalisasi. TaAodiban: Journal of Islamic Education. , h. Pendidikan karakter berbasis kearifan lokal di Aceh menjadi fokus penelitian ini sebagai respons terhadap tantangan degradasi moral dan krisis identitas di era globalisasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi pendidikan karakter berbasis kearifan lokal di Aceh, mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi efektivitas integrasi nilai-nilai tradisional dan modern, serta mengeksplorasi potensi model pendidikan karakter Aceh untuk konteks global. Metode penelitian yang digunakan adalah kajian kepustakaan dengan analisis konten terhadap karya-karya ilmiah Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan karakter di Aceh berhasil mengintegrasikan nilai-nilai kearifan lokal dan keislaman dengan pendekatan holistik, melibatkan peran lembaga pendidikan, kebijakan pemerintah, serta partisipasi masyarakat. Namun, tantangan seperti pengaruh globalisasi dan minimnya pemahaman masyarakat tentang kearifan lokal masih perlu diatasi. Temuan ini menegaskan bahwa model pendidikan karakter Aceh memiliki potensi untuk dijadikan inspirasi global, terutama dalam menghadapi tantangan pendidikan di era modern. Rekomendasi penelitian lanjutan mencakup studi kuantitatif, komparatif, dan eksplorasi peran teknologi informasi dalam pendidikan karakter. Abstract Character education based on local wisdom in Aceh is the focus of this research as a response to the challenges of moral degradation and identity crisis in the era of globalization. This study aims to analyze the implementation of character education based on local wisdom in Aceh, identify factors influencing the effectiveness of integrating traditional and modern values, and explore the potential of Aceh's character education model for a global context. The research method used is a literature review with content analysis of selected scholarly works. The results show that character education in Aceh successfully integrates local and Islamic values through a holistic approach, involving educational institutions, government policies, and community participation. However, challenges such as the influence of globalization and the lack of public understanding of local wisdom still need to be addressed. These findings affirm that Aceh's character education model has the potential to serve as a model for global education systems, particularly in facing contemporary educational Recommendations for further research include quantitative studies, comparative studies, and exploration of the role of information technology in character education. Keywords: Character Education. Local Wisdom. Value Integration. Aceh. Globalization This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. TaAodiban: Journal of Islamic Education Volume 5 No 2 Januari-Juni 2025, 75-88 e issn 2797-5886 DOI: https://doi. org/10. 61456/tjie. Website: https://ojs. id/index. php/tadibanjournals PENDAHULUAN Beberapa pendidikan karakter telah menjadi fokus utama dalam dunia pendidikan, terutama sebagai respons terhadap tantangan (Mujiburrahman. Fenomena degradasi moral, krisis identitas, dan pengaruh negatif teknologi informasi telah mengembangkan sistem pendidikan yang tidak hanya menekankan aspek kognitif, (Zulkhairi, 2. Di Indonesia, khususnya di Aceh, pendidikan karakter berbasis kearifan lokal telah menjadi salah satu upaya strategis untuk membentuk generasi yang berakhlak mulia dan beridentitas kuat (Sri Astuti A. Samad, 2. Aceh, dengan kekayaan budaya dan keislamannya, menawarkan model pendidikan karakter yang unik, di mana nilai-nilai lokal dan agama diintegrasikan ke dalam sistem pendidikan modern (Saiful et al. , 2. Namun, meskipun telah banyak upaya karakter di Aceh masih menghadapi berbagai tantangan, seperti minimnya pemahaman masyarakat tentang pentingnya kearifan lokal dan pengaruh globalisasi yang semakin kuat (Muhammad AR et al. , 2. Sehingga penting mengkaji secara serius, mendalam terkait integrasi kearifan lokal dan modernitas dalam implementasi pendidikan karakter di era globalisasi. Sejauh pendidikan karakter berbasis kearifan lokal di Aceh telah banyak dilakukan, namun masih terdapat beberapa keterbatasan (Azimah, 2. Pertama, sebagian besar penelitian cenderung fokus pada aspek tradisional tanpa mempertimbangkan integrasi dengan nilai-nilai modern. Misalnya, penelitian oleh Samad . dan Saiful . banyak membahas peran dayah dan nilai-nilai keislaman, tetapi kurang mengeksplorasi bagaimana nilainilai tersebut dapat diadaptasi dalam konteks modern (Khairiah et al. , 2. Kedua, penelitian-penelitian seringkali bersifat deskriptif dan kurang memberikan analisis kritis tentang faktorfaktor yang memengaruhi efektivitas integrasi nilai-nilai tradisional dan modern (Fajri et al. , 2. Ketiga, masih sedikit penelitian yang membahas bagaimana model pendidikan karakter Aceh dapat dijadikan inspirasi untuk konteks global (Adlani, 2. Kekurangan-kekurangan ini menunjukkan adanya celah literatur yang perlu diisi dengan penelitian yang lebih komprehensif dan holistik (Munirah. Begitu juga di tingkat global, kajian tentang pendidikan karakter telah banyak dilakukan, namun mayoritas penelitian universal yang kurang mempertimbangkan konteks lokal (Bahri & Musanna, 2. Banyak kajian yang membahas nilai-nilai universal seperti kejujuran, tanggung jawab, dan empati, tetapi kurang memperhatikan bagaimana nilai-nilai tersebut dapat diintegrasikan dengan kearifan lokal (Idris & Suroto, 2. Selain penelitian-penelitian seringkali mengabaikan peran budaya dan agama dalam pembentukan karakter, padahal kedua elemen ini memiliki pengaruh yang signifikan, terutama di masyarakat yang kuat dengan identitas budaya dan keagamaan seperti Aceh (Srimulyani, 2. Kekurangan ini menunjukkan pentingnya posisi artikel ini, yang tidak hanya membahas integrasi nilai-nilai tradisional dan modern dalam konteks lokal, tetapi juga mengeksplorasi bagaimana model pendidikan karakter Aceh dapat dijadikan inspirasi untuk konteks global (Munawwarah & Sri, 2. Dengan demikian, artikel ini diharapkan dapat memberikan kontribusi baru dalam literatur pendidikan karakter, baik di tingkat nasional maupun global (Oviana et , 2. This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. TaAodiban: Journal of Islamic Education Volume 5 No 2 Januari-Juni 2025, 75-88 e issn 2797-5886 DOI: https://doi. org/10. 61456/tjie. Website: https://ojs. id/index. php/tadibanjournals Oleh karena itu, tujuan dari pengkajian ini adalah untuk menganalisis model pendidikan karakter Aceh dapat dijadikan inspirasi untuk konteks global (Sari et al. , 2. Untuk mencapai tujuan penelitian: . Bagaimana implementasi pendidikan karakter berbasis kearifan lokal di Aceh dalam konteks tradisional dan modern? . Faktor-faktor apa saja yang memengaruhi efektivitas integrasi nilainilai tradisional dan modern dalam pendidikan karakter di Aceh? . Bagaimana pendidikan karakter berbasis kearifan lokal di Aceh dapat dijadikan model untuk konteks global? Dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, temuannya diharapkan dapat memberikan wawasan baru tentang pendidikan karakter berbasis kearifan lokal serta menawarkan model yang relevan dan adaptif untuk menghadapi tantangan pendidikan di era globalisasi. Demi diharapkan, uraian masalah didasarkan pada tiga teori relevan untuk menganalisis berbasis kearifan lokal di Aceh, yaitu teori fungsionalisme struktural, teori hybriditas budaya, dan teori pendidikan karakter. Teori fungsionalisme struktural Durkheim . digunakan untuk menjelaskan bahwa setiap elemen dalam masyarakat (Bulgaru, 2. Dalam konteks penelitian ini, pendidikan karakter berbasis kearifan lokal di Aceh berfungsi sebagai mekanisme untuk mempertahankan nilai-nilai lokal sekaligus mengadaptasi nilai-nilai global. Teori ini membantu menjelaskan proses nilai-nilai tradisional seperti kejujuran dan gotong royong . erja sam. dapat diintegrasikan ke dalam sistem pendidikan modern tanpa menghilangkan identitas budaya (Sri Astuti A. Samad, 2. Namun, teori ini memiliki keterbatasan karena cenderung mengabaikan konflik dan perubahan sosial yang mungkin terjadi nilai-nilai tradisional dan modern. Misalnya, globalisasi seringkali membawa nilai-nilai asing yang bertentangan dengan nilai-nilai lokal, sehingga menimbulkan ketegangan sosial (Muhammad AR et al. , 2. Keterbatasan tersebut kemudian di atasi dengan penggunaan teori hybriditas budaya Bhabha . Teori menekankan bahwa integrasi nilai-nilai tradisional dan modern dapat menciptakan bentuk budaya baru yang dinamis dan adaptif (Furqon & Busro, 2. Dalam konteks penelitian ini, teori tersebut digunakan untuk menjelaskan proses nilainilai kearifan lokal Aceh, seperti peusijuek . pacara ada. , meugang . radisi memasak daging sebelum Ramada. , malee . asa mal. diadaptasi ke dalam sistem pendidikan modern tanpa kehilangan esensinya (Srimulyani, 2. Keunggulan teori ini adalah kemampuannya untuk transformasi budaya dalam konteks Berikutnya, menekankan pentingnya pendekatan yang mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik dalam pendidikan karakter (Zulkhairi, 2. Dalam konteks penelitian ini, konsep ini digunakan untuk karakter di Aceh tidak hanya berfokus pada aspek akademik, tetapi juga pada pembentukan nilai-nilai moral dan sosial melalui metode pembelajaran yang holistik, seperti halaqah . iskusi kelompo. dan muhafazah . (Firdaus & Aisyah, 2. Keunggulannya karena mampu untuk menjelaskan pentingnya kolaborasi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat dalam membentuk karakter Elaborasi ketiga teori tersebut dalam penelitian ini ketika teori untuk menganalisis peran pendidikan This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. TaAodiban: Journal of Islamic Education Volume 5 No 2 Januari-Juni 2025, 75-88 e issn 2797-5886 DOI: https://doi. org/10. 61456/tjie. Website: https://ojs. id/index. php/tadibanjournals karakter dalam menjaga keseimbangan sosial di Aceh. Sedangkan teori hybriditas budaya digunakan untuk menjelaskan proses integrasi nilai-nilai tradisional dan modern dalam pendidikan karakter. Sementara teori pendidikan karakter digunakan untuk menganalisis efektivitas pendekatan holistik dalam pendidikan karakter berbasis kearifan lokal. Dengan ketiga teori ini, temuannya berhasil dianalisis dengan komprehensif terkait berbasis kearifan lokal di Aceh, serta menawarkan model yang relevan untuk konteks global. METODE PENELITIAN Artikel ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan konseptual (Arifin, 2. Penelusuran data dilakukan dengan cara studi kepustakaan . ibrary researc. untuk menganalisis berbasis kearifan lokal di Aceh (Mohamad Maulidin Alif Utama et al. , 2. Pendekatan kualitatif dipilih karena mampu menggali makna mendalam dari fenomena sosial dan budaya yang kompleks, serta memungkinkan peneliti untuk memahami konteks lokal secara holistik melalui kajian literatur (Satori & Komariah. Sedangkan Jenis penelitian kepustakaan digunakan karena fokus penelitian adalah pada analisis teks dan dokumen yang relevan dengan integrasi nilai-nilai tradisional dan modern dalam pendidikan karakter di Aceh (Sitorus, 2. Sumber data dalam penelitian ini terdiri dari 38 dokumen yang mencakup artikel jurnal ilmiah, buku akademik, laporan penelitian, serta dokumen resmi pemerintah yang berkaitan dengan pendidikan karakter dan kearifan lokal di Aceh. Dokumen-dokumen diperoleh melalui penelusuran sistematis di berbagai basis data daring seperti Google Scholar. DOAJ, dan portal jurnal nasional, dengan menggunakan kata kunci seperti Aupendidikan karakter,Ay Aukearifan lokal,Ay AuAceh,Ay dan Aukurikulum berbasis Ay (Mohamad Maulidin Alif Utama et al. , 2. Proses seleksi dokumen didasarkan pada kriteria inklusi, yaitu relevansi substansi dengan topik penelitian, rentang waktu penerbitan antara tahun 2010 hingga 2024, serta penggunaan bahasa Indonesia atau Inggris. Sementara itu, dokumen yang tidak memiliki dasar ilmiah yang kuat atau tidak relevan dengan konteks lokal Aceh dikeluarkan dari analisis (Bahri & Musanna, 2. Teknik analisis data menggunakan analisis isi . ontent analysi. dengan tahapan pengkodean, kategorisasi, dan interpretasi data (Rangkuti, 2. Data berdasarkan tema-tema yang muncul, seperti nilai-nilai kearifan lokal, integrasi kurikulum, dan tantangan implementasi (Abubakar, 2. Justifikasi pemilihan metode ini terletak pada kemampuannya untuk menggali data yang kaya dan mendalam dari sumber-sumber tertulis, penelitian yang bersifat eksploratif dan HASIL DAN PEMBAHASAN Implementasi Pendidikan Karakter di Aceh Pendidikan kearifan lokal di Aceh telah menjadi salah satu upaya strategis dalam membentuk berintegritas, dan berdaya saing di era Aceh, sebagai wilayah yang kaya akan nilai-nilai budaya dan keislaman, memiliki potensi untuk mengintegrasikan kearifan lokal ke dalam sistem pendidikan karakter. Implementasi pendidikan karakter di Aceh tidak hanya bertumpu pada nilai-nilai universal, tetapi juga mengakar pada tradisi dan budaya lokal yang telah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat. Hal ini menjadikan Aceh sebagai contoh menarik dalam This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. TaAodiban: Journal of Islamic Education Volume 5 No 2 Januari-Juni 2025, 75-88 e issn 2797-5886 DOI: https://doi. org/10. 61456/tjie. Website: https://ojs. id/index. php/tadibanjournals memadukan pendekatan tradisional dan modern dalam pendidikan karakter. Konteks tradisional: kearifan lokal sebagai fondasi Kearifan Aceh, tercermin dalam adat istiadat, nilai-nilai keislaman, dan tradisi masyarakat, menjadi fondasi utama dalam pendidikan karakter. Menurut Mujiburrahman . , pendidikan karakter berbasis kearifan lokal di Aceh tidak hanya menekankan pada pembentukan akhlak mulia, tetapi juga pada penguatan identitas budaya dan Misalnya, tradisi peusijuek . pacara ada. dan meugang . radisi memasak daging sebelum Ramada. tidak hanya menjadi ritual budaya, tetapi juga sarana untuk menanamkan nilai-nilai kebersamaan, kepedulian, dan rasa syukur. Nilai-nilai ini kemudian diintegrasikan ke dalam kurikulum pendidikan, baik formal maupun non-formal, sebagai upaya untuk membentuk karakter siswa yang berakar pada budaya lokal. Selain itu, peran dayah . esantren tradisiona. sebagai lembaga pendidikan Islam tradisional di Aceh juga signifikan. Dayah tidak hanya berfungsi sebagai pusat pembelajaran agama, tetapi juga sebagai wadah pembentukan karakter berbasis nilai-nilai keislaman dan kearifan lokal. Saiful . menegaskan bahwa dayah menanamkan nilai-nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, dan kesederhanaan melalui metode pembelajaran yang khas, seperti halaqah . iskusi kelompo. dan muhafazah . Model pendidikan karakter di dayah ini telah terbukti efektif dalam membentuk generasi muda Aceh yang berkarakter kuat dan berakhlak Integrasi nilai-nilai lokal dalam pendidikan modern Pengaruh globalisasi membawa nilai-nilai asing yang sering kali bertentangan dengan nilai-nilai lokal dan keislaman yang dianut masyarakat Aceh. Oleh karena itu, integrasi nilai-nilai kearifan lokal ke dalam sistem pendidikan Zulkhairi . menekankan bahwa pendidikan karakter di Aceh harus mampu mengadaptasi nilai-nilai lokal ke dalam Misalnya, nilai kejujuran yang menjadi salah satu pilar utama dalam Aceh. Sehingga diintegrasikan ke dalam pembelajaran melalui metode pembelajaran berbasis proyek . roject-based learnin. yang melibatkan siswa dalam kegiatan nyata di Salah satu contoh konkret integrasi kearifan lokal dalam pendidikan modern adalah penerapan kurikulum muatan lokal di sekolah-sekolah Aceh. Adlani . menjelaskan bahwa kurikulum muatan lokal Gayo di Aceh Tengah telah berhasil mengintegrasikan nilai-nilai budaya Gayo, seperti gotong royong dan penghormatan terhadap alam, ke dalam pembelajaran. Hal ini tidak hanya memperkaya pengetahuan siswa tentang budaya lokal, tetapi juga menanamkan nilai-nilai karakter yang relevan dengan kehidupan Selain itu, ekstrakurikuler seperti tari tradisional Ratoeh Jaroe juga menjadi sarana efektif untuk menanamkan nilainilai karakter seperti disiplin, kerja sama, dan rasa bangga terhadap budaya lokal (Zuryaningsih & Yanti, 2. Strategi dan sistematisasi Implementasi pendidikan karakter di Aceh tidak hanya mengandalkan pendekatan tradisional, tetapi juga memerlukan strategi dan sistematisasi yang terencana. Djalil dan Megawangi . menyarankan pendekatan holistik dalam pendidikan karakter, di mana nilainilai karakter tidak hanya diajarkan melalui mata pelajaran tertentu, tetapi juga diintegrasikan ke dalam seluruh aspek kehidupan sekolah. Misalnya, program Gerakan Sayang Anak (GERSANK) di This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. TaAodiban: Journal of Islamic Education Volume 5 No 2 Januari-Juni 2025, 75-88 e issn 2797-5886 DOI: https://doi. org/10. 61456/tjie. Website: https://ojs. id/index. php/tadibanjournals Aceh Tamiang sistematis untuk membentuk karakter anak melalui pendekatan kolaboratif antara sekolah, keluarga, dan masyarakat (Pasaribu et al. , 2. Program ini tidak hanya menekankan pada pembentukan karakter individu, tetapi juga pada penciptaan lingkungan yang mendukung perkembangan karakter siswa. Selain itu, peran guru sebagai teladan juga menjadi kunci keberhasilan pendidikan karakter. Maulidah dan Nasution . menegaskan bahwa guru tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga sebagai pembimbing dan teladan bagi siswa. Dalam konteks Aceh, guru-guru di sekolah Islam terpadu (SIT) mengintegrasikan nilai-nilai keislaman dan kearifan lokal ke dalam pembelajaran sehari-hari. Misalnya, melalui mata pelajaran Aqidah Akhlak, guru tidak hanya mengajarkan teori-teori moral, tetapi juga memberikan contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari. Tantangan dan solusi implementasi Meskipun memiliki banyak potensi, berbasis kearifan lokal di Aceh juga menghadapi berbagai tantangan. Salah satu tantangan utama adalah minimnya pemahaman dan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pendidikan karakter berbasis kearifan lokal. Idris dan Suroto . mencatat bahwa masih banyak orang tua dan guru yang lebih fokus pada pembentukan karakter. Untuk mengatasi hal ini, diperlukan sosialisasi dan pelatihan yang intensif bagi para pemangku kepentingan pendidikan, termasuk orang tua, guru, dan masyarakat. Tantangan pengaruh globalisasi yang semakin kuat, terutama di kalangan generasi muda. Munawwarah dan Astuti . mencatat bahwa generasi muda Aceh semakin terpapar nilai-nilai asing melalui media sosial dan teknologi informasi. Hal ini dapat mengikis nilai-nilai lokal dan keislaman yang telah diwariskan secara turun-temurun. Untuk mengatasi hal ini, diperlukan upaya untuk memperkuat literasi media dan teknologi informasi di kalangan siswa, sehingga mereka dapat menyaring nilai-nilai yang sesuai dengan budaya dan agama mereka. Berdasasrkan hasil di atas, maka pendidikan karakter berbasis kearifan lokal di Aceh merupakan upaya strategis untuk membentuk generasi yang berkarakter kuat dan berakhlak mulia di era globalisasi. Melalui integrasi nilai-nilai lokal dan keislaman ke dalam sistem pendidikan modern. Aceh telah menunjukkan bahwa pendidikan karakter tidak hanya dapat dilakukan melalui pendekatan tradisional, tetapi juga melalui inovasi dan adaptasi terhadap tantangan zaman. Meskipun masih menghadapi berbagai tantangan, upaya sistematis dan kolaboratif antara sekolah, keluarga, dan masyarakat dapat menjadi kunci keberhasilan pendidikan karakter di Aceh. Dengan demikian. Aceh tidak hanya menjadi contoh dalam mempertahankan kearifan lokal, tetapi juga dalam mengintegrasikannya ke dalam konteks modern untuk membentuk generasi yang siap menghadapi tantangan Faktor Efektivitas Integrasi Nilai dalam Pendidikan Karakter di Aceh Integrasi nilai-nilai tradisional dan modern dalam pendidikan karakter di Aceh merupakan upaya yang kompleks dan multidimensi. Keberhasilan integrasi ini dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berkaitan, mulai dari faktor budaya, sosio-ekonomi. Berdasarkan penelusuran, faktor-faktor tersebut dapat diklasifikasikan ke dalam beberapa kategori dan memiliki peran yang signifikan dalam menentukan efektivitas integrasi nilai-nilai tradisional This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. TaAodiban: Journal of Islamic Education Volume 5 No 2 Januari-Juni 2025, 75-88 e issn 2797-5886 DOI: https://doi. org/10. 61456/tjie. Website: https://ojs. id/index. php/tadibanjournals dan modern dalam pendidikan karakter di Aceh. Faktor kultural Faktor kultural merupakan salah satu elemen paling unik dalam konteks Aceh. Kearifan lokal yang kaya dan beragam, seperti nilai-nilai keislaman, adat istiadat, dan tradisi masyarakat, menjadi fondasi utama dalam pendidikan karakter. Menurut Samad . , kearifan lokal Aceh, seperti tradisi peusijuek dan meugang, tidak hanya menjadi ritual budaya, tetapi juga sarana untuk menanamkan nilai-nilai kebersamaan, kepedulian, dan rasa syukur. Nilai-nilai ini kemudian diintegrasikan ke dalam kurikulum pendidikan, baik formal maupun non-formal, sebagai upaya membentuk karakter siswa yang berakar pada budaya lokal. Namun, efektivitas integrasi nilainilai kultural ini sangat dipengaruhi oleh sejauh mana masyarakat dan lembaga pendidikan memahami dan menghargai kearifan lokal tersebut. Idris dan Suroto pemahaman dan kesadaran masyarakat tentang pentingnya kearifan lokal dapat menjadi penghambat utama dalam integrasi nilai-nilai tradisional ke dalam pendidikan modern. Oleh karena itu, upaya untuk meningkatkan literasi budaya dan kesadaran masyarakat tentang pentingnya kearifan lokal menjadi kunci keberhasilan integrasi ini. Faktor Struktural Faktor struktural meliputi peran lembaga pendidikan dan kebijakan pemerintah dalam mendukung integrasi nilai-nilai tradisional dan modern. Saiful . menegaskan bahwa lembaga Islam memerlukan dukungan struktural lebih optimal, agar terciptanya kurikulum yang terstruktur dan sumber daya manusia yang Di sisi lain, kebijakan pemerintah juga memainkan peran penting dalam mendukung integrasi nilai-nilai tradisional dan modern. Misalnya, kurikulum muatan lokal di sekolahsekolah Aceh telah menjadi langkah strategis untuk mengintegrasikan nilainilai budaya lokal ke dalam pendidikan modern (Adlani, 2. Namun, efektivitas kebijakan ini sangat bergantung pada kepentingan, termasuk guru, orang tua, dan masyarakat. Faktor pedagogis Faktor metode pembelajaran dan peran guru nilai-nilai Metode kontekstual menjadi kunci keberhasilan integrasi nilai-nilai kearifan lokal ke dalam pendidikan modern. Misalnya. Zulkhairi . menyarankan penggunaan metode pembelajaran berbasis proyek . roject-based learnin. yang melibatkan siswa dalam kegiatan nyata di masyarakat. Metode ini memperkaya pengetahuan siswa tentang budaya lokal, dan juga menanamkan nilainilai karakter yang relevan dengan kehidupan modern. Peran guru sebagai teladan juga menjadi faktor kritis dalam efektivitas integrasi nilai-nilai tradisional dan Maulidah dan Nasution (Pokhrel, 2. menegaskan bahwa guru tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga sebagai pembimbing dan teladan bagi Dalam konteks Aceh, guru-guru di sekolah Islam terpadu (SIT) dan madrasah telah berhasil mengintegrasikan nilai-nilai keislaman dan kearifan lokal ke dalam sehari-hari. Namun, efektivitas peran guru ini sangat bergantung pada kualitas pelatihan dan dukungan yang diberikan kepada mereka. Faktor eksternal Faktor eksternal, seperti pengaruh globalisasi dan teknologi informasi, juga memengaruhi efektivitas integrasi nilai- This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. TaAodiban: Journal of Islamic Education Volume 5 No 2 Januari-Juni 2025, 75-88 e issn 2797-5886 DOI: https://doi. org/10. 61456/tjie. Website: https://ojs. id/index. php/tadibanjournals nilai tradisional dan modern dalam pendidikan karakter di Aceh. Globalisasi membawa nilai-nilai asing yang seringkali bertentangan dengan nilai-nilai lokal dan keislaman yang dianut masyarakat Aceh. Munawwarah dan Astuti (Munawwarah & Sri, 2. mencatat bahwa generasi muda Aceh semakin terpapar nilai-nilai asing melalui media sosial dan teknologi Hal ini dapat mengikis nilainilai lokal dan keislaman yang telah diwariskan secara turun-temurun. Untuk mengatasi tantangan ini, diperlukan upaya untuk memperkuat literasi media dan teknologi informasi di kalangan siswa. Misalnya, program mengintegrasikan penggunaan teknologi informasi, seperti aplikasi pembelajaran berbasis budaya lokal, dapat menjadi solusi efektif untuk menghadapi pengaruh globalisasi (Afriyani et al. , 2. Selain itu, kolaborasi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat juga menjadi kunci untuk Faktor sosio-ekonomi Faktor sosio-ekonomi, dukungan keluarga dan masyarakat, juga memengaruhi efektivitas integrasi nilainilai tradisional dan modern. Keluarga sebagai unit terkecil dalam masyarakat menanamkan nilai-nilai karakter sejak dini. Yunita . menegaskan bahwa peran ayah dalam pembinaan karakter anak, education di Aceh, telah menunjukkan hasil yang signifikan. Namun, efektivitas peran keluarga ini sangat bergantung pada tingkat pendidikan dan kesadaran orang tua tentang pentingnya pendidikan Di sisi lain, dukungan masyarakat juga menjadi faktor kritis dalam nilai-nilai tradisional dan modern. Program-program seperti Gerakan Sayang Anak (GERSANK) di Aceh Tamiang menunjukkan bahwa kolaborasi antara sekolah, keluarga, dan perkembangan karakter siswa (Pasaribu et , 2. Namun, efektivitas program ini sangat bergantung pada partisipasi aktif dan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pendidikan karakter. Sehingga, dari uraian tersebut terlihat bahwa efektivitas integrasi nilainilai tradisional dan modern dalam pendidikan karakter di Aceh dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berkaitan. Dengan memahami dan mengoptimalkan faktor-faktor ini. Aceh dapat menjadi contoh sukses dalam mengintegrasikan nilai-nilai tradisional dan modern dalam generasi yang berkarakter kuat dan siap menghadapi tantangan global yang dapat dipraktikkan secara meluas. Pendidikan Karakter Berbasis Kearifan Lokal di Aceh sebagai Model Global Pendidikan kearifan lokal di Aceh memiliki potensi besar untuk dijadikan model dalam konteks global. Keunikan Aceh terletak pada kemampuannya mengintegrasikan nilai-nilai budaya lokal dan keislaman ke menciptakan pendekatan yang holistik dan Dalam era globalisasi, di mana nilai-nilai universal seringkali bertabrakan dengan identitas lokal, model pendidikan karakter Aceh menawarkan solusi yang relevan dan berkelanjutan. Berdasarkan penelitian yang ada, ada beberapa aspek unik yang pendidikan karakter berbasis kearifan lokal di Aceh layak dijadikan model global. Mengintegrasikan nilai keislaman dan kearifan lokal Salah satu keunikan pendidikan karakter di Aceh adalah integrasi nilai-nilai keislaman dengan kearifan lokal. Aceh, sebagai wilayah yang dikenal dengan This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. TaAodiban: Journal of Islamic Education Volume 5 No 2 Januari-Juni 2025, 75-88 e issn 2797-5886 DOI: https://doi. org/10. 61456/tjie. Website: https://ojs. id/index. php/tadibanjournals sebutan AuSerambi Mekah,Ay memiliki tradisi keislaman yang kuat. Nilai-nilai seperti iman . , taqwa . , dan . pendidikan, baik di sekolah formal maupun di dayah . esantren tradisiona. Saiful . mencatat bahwa dayah telah menggabungkan nilai-nilai keislaman dengan kearifan lokal, menciptakan generasi yang berkarakter kuat dan berakhlak mulia. Model ini dapat dijadikan inspirasi bagi negara-negara dengan mayoritas penduduk Muslim atau komunitas Muslim di negara-negara Barat. Misalnya, nilainilai keislaman seperti kejujuran dan tanggung jawab dapat diintegrasikan ke dalam kurikulum pendidikan karakter di sekolah-sekolah Islam di Eropa atau Amerika. Selain itu, pendekatan holistik yang digunakan di dayah, seperti halaqah . , dapat diadaptasi untuk mengembangkan metode pembelajaran yang lebih interaktif dan mendalam. Pendekatan kontekstual Pendidikan karakter di Aceh tidak hanya berfokus pada aspek kognitif, tetapi juga pada aspek afektif dan psikomotorik. Pendekatan holistik ini menjadikan pendidikan karakter di Aceh unik dan relevan dalam konteks global. Menurut Djalil dan Megawangi (Munirah, 2. , melibatkan seluruh aspek kehidupan siswa, termasuk keluarga, sekolah, dan Misalnya, program Gerakan Sayang Anak (GERSANK) di Aceh Tamiang melibatkan kolaborasi antara sekolah, membentuk karakter anak (Pasaribu et al. Pendekatan ini dapat dijadikan model untuk mengembangkan program pendidikan karakter yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan di tingkat Selain itu, pendekatan kontekstual yang digunakan dalam pendidikan karakter di Aceh juga menjadi keunggulan yang dapat diadaptasi secara global. Misalnya, pembelajaran berbasis proyek . roject-based learnin. yang melibatkan siswa dalam kegiatan nyata di masyarakat telah terbukti efektif dalam menanamkan nilai-nilai karakter (Zulkhairi, 2. Metode ini dapat diadaptasi oleh sekolah-sekolah di negara lain untuk mengembangkan program pendidikan karakter yang lebih relevan dengan konteks lokal. Adaptasi terhadap tantangan global Salah satu tantangan terbesar dalam pendidikan karakter di era globalisasi adalah pengaruh nilai-nilai asing yang seringkali bertentangan dengan nilai-nilai lokal. Aceh telah menunjukkan kemampuan untuk mengadaptasi nilainilai global tanpa kehilangan identitas Misalnya, program pendidikan karakter yang mengintegrasikan teknologi informasi, seperti aplikasi pembelajaran berbasis budaya lokal, telah berhasil mengatasi pengaruh negatif globalisasi (Afriyani et al. , 2. Model ini dapat dijadikan inspirasi bagi negara-negara lain yang menghadapi tantangan serupa. Selain itu. Aceh juga telah berhasil mengintegrasikan nilai-nilai global seperti toleransi dan pluralisme ke dalam pendidikan karakter berbasis kearifan Misalnya, program pendidikan karakter di sekolah-sekolah Aceh telah berhasil menanamkan nilai-nilai toleransi melalui pembelajaran tentang budaya dan agama lain (Mayasari et al. , 2. Pendekatan ini dapat dijadikan model pendidikan karakter yang inklusif dan menghargai keragaman di tingkat global. Kolaborasi multisektoral Keberhasilan pendidikan karakter berbasis kearifan lokal di Aceh tidak lepas dari kolaborasi multisektoral antara This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. TaAodiban: Journal of Islamic Education Volume 5 No 2 Januari-Juni 2025, 75-88 e issn 2797-5886 DOI: https://doi. org/10. 61456/tjie. Website: https://ojs. id/index. php/tadibanjournals keluarga, dan masyarakat. Misalnya, program Gerakan Sayang Anak (GERSANK) melibatkan partisipasi aktif dari semua pemangku kepentingan dalam membentuk karakter anak (Pasaribu et al. , 2. Model kolaborasi ini dapat dijadikan contoh pendidikan karakter yang melibatkan seluruh elemen masyarakat di tingkat Selain itu, peran pemerintah dalam mendukung pendidikan karakter juga menjadi faktor kritis. Kebijakan seperti penerapan kurikulum muatan lokal dan dukungan finansial untuk program pendidikan karakter telah berhasil meningkatkan efektivitas integrasi nilainilai tradisional dan modern (Adlani. Model ini dapat diadaptasi oleh pemerintah di negara lain untuk mendukung pendidikan karakter berbasis kearifan lokal. Berdasarkan disimpulkan bahwa pendidikan karakter Aceh menawarkan model yang unik dan ilmiah untuk konteks global. Keunikan Aceh mengintegrasikan nilai-nilai budaya lokal dan keislaman ke dalam sistem pendidikan modern, menciptakan pendekatan yang holistik dan kontekstual. Model ini dapat diadaptasi oleh negara-negara lain yang menghadapi tantangan serupa dalam mengintegrasikan nilai-nilai lokal dan Dengan kolaborasi multisektoral globalisasi, pendidikan karakter berbasis kearifan lokal di Aceh dapat menjadi inspirasi bagi dunia dalam membentuk generasi yang berkarakter kuat dan berakhlak mulia. Hasil dijelaskan di atas menggambarkan beberapa hal penting. Pertama, pendidikan karakter berbasis kearifan lokal di Aceh nilai-nilai pendekatan holistik dan kontekstual. Kedua, integrasi nilai-nilai keislaman dengan kearifan lokal menciptakan model pendidikan karakter yang unik dan relevan, tidak hanya untuk konteks lokal tetapi juga global. Ketiga, kolaborasi multisektoral antara pemerintah, lembaga pendidikan, keluarga, dan masyarakat menjadi kunci keberhasilan implementasi pendidikan karakter di Aceh. Hal yang tidak terduga dari hasil penelitian ini adalah betapa efektifnya pendidikan karakter melalui nilai-nilai kearifan lokal, seperti kejujuran dan kerja sama, dapat diintegrasikan ke dalam sistem pendidikan modern. Temuan ini berbeda dengan penelitian terdahulu yang nilai-nilai Menurut teori hybriditas budaya (Bhabha, 1. , integrasi nilai-nilai tradisional dan modern dapat menciptakan bentuk budaya baru yang dinamis dan Dalam konteks Aceh, nilai-nilai lokal tidak hanya dipertahankan, tetapi kebutuhan pendidikan modern. Hal ini menunjukkan bahwa kearifan lokal bukanlah penghalang, melainkan fondasi yang kuat untuk membangun pendidikan karakter yang relevan di era globalisasi. Dari sana, temuan penelitian ini menggambarkan dua hal penting. Pertama, pendidikan karakter berbasis kearifan lokal di Aceh dapat menjadi tanda adanya suatu kenyataan sosial di mana nilai-nilai tradisional dan modern dapat hidup berdampingan secara harmonis. Hal ini sejalan dengan teori functionalism (Bulgaru, 2. , yang menekankan bahwa setiap elemen dalam masyarakat memiliki fungsi untuk menjaga keseimbangan sosial. Dalam konteks Aceh, pendidikan karakter berfungsi sebagai mekanisme untuk mempertahankan nilai-nilai lokal sekaligus mengadaptasi nilai-nilai global. Kedua, temuan ini juga menunjukkan adanya disfungsi dalam sistem pendidikan global This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. TaAodiban: Journal of Islamic Education Volume 5 No 2 Januari-Juni 2025, 75-88 e issn 2797-5886 DOI: https://doi. org/10. 61456/tjie. Website: https://ojs. id/index. php/tadibanjournals yang terlalu mengandalkan nilai-nilai konteks lokal. Aceh, dengan model pendidikannya, menawarkan solusi untuk mengatasi disfungsi ini. Temuan penelitian ini dapat menjadi awal . bagi sesuatu yang bakal terjadi, terutama dalam konteks globalisasi yang semakin intensif. Model pendidikan karakter Aceh dapat menjadi peringatan bagi negara-negara lain untuk tidak mengabaikan nilai-nilai lokal dalam Selain itu, temuan ini juga mengembangkan kebijakan pendidikan yang lebih inklusif dan kontekstual. Misalnya, negara-negara keragaman budaya yang tinggi dapat multisektoral seperti yang dilakukan di Aceh untuk mengintegrasikan nilai-nilai lokal ke dalam sistem pendidikan nasional. Mengapa hasil seperti itu terjadi? Secara historis. Aceh memiliki tradisi keislaman dan budaya yang kuat, yang telah menjadi bagian integral dari identitas Secara masyarakat Aceh memiliki struktur sosial yang kohesif, di mana nilai-nilai lokal dan keislaman dijunjung tinggi. Secara antropologis, kearifan lokal Aceh telah terbukti mampu bertahan dan beradaptasi Secara psikologis, pendidikan karakter berbasis kearifan lokal memberikan rasa bangga dan identitas yang kuat bagi generasi muda Aceh. Kombinasi faktor-faktor ini menjelaskan mengapa model pendidikan karakter Aceh berhasil dan dapat dijadikan inspirasi global. Terdapar pentingyang dapat diambil dari hasil penelitian ini. Pertama, pentingnya mengintegrasikan nilai-nilai lokal ke dalam menciptakan generasi yang berkarakter kuat dan beridentitas jelas. Kedua, keluarga, dan masyarakat adalah kunci keberhasilan implementasi pendidikan Pelajaran ini dapat menjadi dasar bagi perubahan dalam membangun sistem dan struktur pendidikan yang lebih baik, tidak hanya di Aceh tetapi juga di tingkat KESIMPULAN Sebagai pendidikan karakter berbasis kearifan lokal di Aceh telah menunjukkan keberhasilan nilai-nilai Pertama, pendidikan karakter di Aceh berhasil memadukan nilai-nilai kearifan lokal, seperti kejujuran dan kerja sama, dengan nilai-nilai menciptakan model pendidikan yang holistik dan kontekstual. Kedua, faktorfaktor seperti peran lembaga pendidikan . ekolah, madrasah, dan daya. , dukungan kebijakan pemerintah, serta partisipasi aktif keluarga dan masyarakat menjadi kunci keberhasilan integrasi nilai-nilai Ketiga, model pendidikan karakter Aceh memiliki potensi untuk dijadikan inspirasi global, terutama dalam menghadapi tantangan degradasi moral dan krisis identitas di era globalisasi. Hasil diskusi menunjukkan bahwa keunikan pendidikan karakter Aceh terletak pada kemampuannya untuk menjaga keseimbangan antara nilai-nilai tradisional dan modern, serta pendekatan Namun, tantangan seperti pengaruh globalisasi dan tentang pentingnya kearifan lokal masih perlu diatasi. Temuan ini sejalan dengan teori hybriditas budaya, yang menekankan pada adaptasi nilai-nilai lokal dalam konteks global serta pendekatan holistik dalam pendidikan karakter. Namun, penelitian ini masih perlu lanjutannya, keterbatasan ini terletak pada fokusnya yang hanya pada konteks Aceh. This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. TaAodiban: Journal of Islamic Education Volume 5 No 2 Januari-Juni 2025, 75-88 e issn 2797-5886 DOI: https://doi. org/10. 61456/tjie. Website: https://ojs. id/index. php/tadibanjournals sehingga generalisasi temuan ke konteks global memerlukan penelitian lebih lanjut. Selain itu, penelitian ini lebih banyak mengandalkan data kualitatif, sehingga perlu dilengkapi dengan data kuantitatif untuk memperkuat validitas temuan. Rekomendasi untuk penelitian lanjutan adalah melakukan studi komparatif antara Aceh karakteristik budaya yang serupa, serta mengembangkan instrumen pengukuran yang lebih komprehensif untuk menilai efektivitas pendidikan karakter berbasis kearifan lokal di masa depan. REFERENSI