Jurnal AssyifaAo Ilmu Kesehatan. Vol. NoAA. April 20AA Jurnal AssyifaAo Ilmu Kesehatan. Vol. ISSN 2528-3391 (Prin. ISSN 2776-3153 (Onlin. DOI: http://doi. org/10. Tersedia online di https://jurnalassyifa. Hubungan Dukungan Keluarga Dengan Kepatuhan Melakukan Kontrol Rutin Pada Penderita Diabetes Melitus Di Puskesmas Mon Geudong Kota Lhokseumawe RELATIONSHIP BETWEEN FAMILY SUPORT AND COMPLIANCE WITH ROUTINE CONTROL IN DIABETES MELLITUS SUFFERERS Zawiatul Farah Naz1. Desna Maulinda1. Affuadi1 STIKes Muhammdiyah Lhokseumawe *Corespondence. Desnam190992@gmail. ABSTRAK Salah satu faktor yang mempengaruhi kepatuhan kontrol rutin adalah dukungan Hal ini merupakan aspek penting untuk mempertahankan kesehatan penderita Diabetes Melitus dan mencegah komplikasi. Seseorang dikatakan patuh apabila melakukan pemeriksaan kadar gula darah, konseling tentang Diabetes Melitus dan pengambilan obat minimal sekali dalam satu bulan pada tiga bulan Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan dukungan keluarga dengan kepatuhan melakukan kontrol rutin di Puskesmas Mon Geudong kota Lhokseumawe. Penelitian ini menggunakan desain analitik korelasional dengan teknik pendekatan cross sectional. Pengumpulan data menggunakan kuesioner Dukungan Keluarga dan Kepatuhan Kontrol Rutin. Populasi penelitian ini adalah seluruh penderita yang sedang menjalani pengobatan ke puskesmas Mon Geudong Kota Lhokseumawe dari periode Februari hingga Juli 2022 berjumlah 192 penderita. Pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling dengan jumlah sampel sebanyak 66 orang menggunakan kuesioner dan analisa data yang digunakan adalah analisa univariat dan bivariat. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya hubungan dukungan keluarga dengan kepatuhan melakukan kontrol rutin pada penderita Diabetes Melitus dengan P-value sebesar 0,000< = 0,05. Diharapkan bagi penelitian selanjutnya untuk mencari faktor lain yang memiliki hubungan dengan kepatuhan melakukan kontrol rutin pada penderita Diabetes Melitus seperti pendidikan, pengetahuan, usia, dan modifikasi lingkungan. Kata Kunci : Dukungan Keluarga. Kepatuhan. Diabetes Melitus ABSTRACT One of the factors that influence routine control adherence is family support. This is an important aspect to maintain the health of people with Diabetes Mellitus and Jurnal AssyifaAo Ilmu Kesehatan. Vol. NoAA. April 20AA prevent complications. A person is said to be compliant if he checks blood sugar levels, provides counseling about Diabetes Mellitus and takes medication at least once a month in the last three months. The purpose of this study was to determine the relationship between family support and adherence to routine control at the Mon Geudong Community Health Center. Lhokseumawe City. This study used a correlational analytic design with a cross sectional approach. Data collection using the Family Support and Routine Control Compliance questionnaire. The population in this study were all patients who were undergoing treatment at the Mon Geudong Health Center in Lhokseumawe City from February to July 2022 totaling 192 Sampling using purposive sampling technique with a total sample of 66 The measuring instrument used was the questionnaire and the data analysis used was univariate and bivariate analysis. The results of this study indicate that there is a relationship between family support and adherence to routine control in people with Diabetes Mellitus with a P-value of 0. 000 < = 0. It is hoped that further research will look for other factors that have a relationship with adherence to routine control of people with Diabetes Mellitus such as education, knowledge, age, and environmental modifications. Keywords: Family Support. Compliance. DM Management. Diabetes Melitus PENDAHULUAN Diabetes Melitus (DM) merupakan induk dari berbagai penyakit seperti hipertensi, stroke, gagal ginjal, kebutaan, hingga terjadinya perlukaan ekstremitas. Diabetes Melitus dapat dikendalikan apabila penderita melakukan kontrol secara rutin sehingga dapat mengurangi kemungkinan komplikasi. Diabetes melitus merupakan penyakit dimana kadar gula dalam meningkat dalam tubuh (Balyan. Menurut International Diabetes Federation (IDF) . Perawatan ini dapat meningkat ke perawatan primer dengan mengintervensikan pengobatan, konseling kesehatan, gaya hidup, dan pendidikan. Fungsi psikososial dan koping individu dapat dipengaruhi oleh dukungan keluarga. Kurangnya dukungan keluarga membuat koping menjadi negatif, sehingga dapat mempengaruhi kepatuhan kontrol Keluarga memiliki peran aktif dalam tercapainya kepatuhan dan keberhasilan pengobatan Diabetes Melitus. Sementara Perawat dapat berperan sebagai Care Provider dengan melakukan pengkajian untuk mengetahui sumber dukungan keluarga dan penghalang yang dapat muncul dalam pemberian dukungan keluarga (Choirunnisa, 2. Dalam upaya pelaksanan kontrol rutin perlu adanya pelayanan kesehatan yang sesuai standar. Pemerintah telah memberikan sarana pelayanan kesehatan sesuai standar kepada seluruh penderita Diabetes Melitususia 15 tahun ke atas sebagai upaya pencegahan sekunder dalam kurun waktu satu tahun. Dengan pengukuran glukosa darah minimal satu kali sebulan di fasilitas pelayanan kesehatan, edukasi perubahan gaya hidup/ nutrisi dan rujukan jika diperlukan, serta terapi farmakologi (Riskesdas, 2. Organisasi IDF . , memperkirakan sedikitnya terdapat 483 juta orang pada usia 20-79 tahun di dunia menderita diabetes pada tahun 2019 atau setara Jurnal AssyifaAo Ilmu Kesehatan. Vol. NoAA. April 20AA dengan angka prevalensi sebesar 9,3% dari total penduduk pada usia yang sama. Berdasarkan jenis kelamin. IDF memperkirakan prevalensi DM di tahun 2019 yaitu 9% pada perempuan dan 9,65% pada laki-laki. Prevalensi DM diperkirakan meningkat seiring pertambahan penduduk menjadi 19,9% atau 111,2 juta orang pada umur 65-79 tahun. Angka diprediksi terus meningkat mencapai 578 juta di tahun 2030 dan 700 juta di tahun 2045 (Infodatin, 2. Data Kemenkes RI . , menyatakan bahwa persentase penyakit tidak menular mencapai angka 69,91%. Berdasarkan data dari Riskesdas . , menunjukkan bahwa prevalensi penyakit tidak menular mengalami peningkatan. Salah satunya adalah DM dari 6,9% menjadi 8,5%. Dari sepuluh besar negara dengan penyakit DM. Indonesia menduduki peringkat keempat, dengan prevalensi 8,6% dari total populasi terhadap kasus DM tipe 2 (Infodatin, 2. Penderita DM tahun 2019 adalah 138. 291 jiwa, sedangkan yang mendapat pelayanan sesuai standar sebanyak 95. 005 jiwa atau 69%. Aceh Utara menempati peringkat pertama dengan kejadian mencapai 29. 703 dan Banda Aceh menempati urutan kedua dengan angka kejadian mencapai 14. 052 jiwa. Sedangkan Lhokseumawe menempati peringkat kesepuluh dengan prevalensi DM mencapai 359 jiwa, dengan penerima pelayanan kesehatan sesuai standar sebanyak 3. atau 73% (Dinkes Aceh, 2. Menurut penelitian Rahayu & Cicilia . , menunjukan adanya hubungan antara dukungan keluarga dengan kepatuhan kontrol rutin pada pasien Diabetes Melitus di Poliklinik Penyakit dalam RSUD Bayu Asih Purwakarta . = 0,. Dari hasil analisis diperoleh pula nilai OR= 6,443, artinya responden dengan dukungan keluarga kurang mempunyai peluang 6,443 kali untuk tidak patuh kontrol rutin dibanding responden dengan dukungan keluarga yang baik. Menurut data dari Puskemas Mon Geudong, jumlah kunjungan penderita DM pada tahun 2021 adalah 1. 223 kunjungan, sedangkan dari bulan Januari sampai Juli 2022, jumlah kunjungan penderita DM sebanyak 1. 020 kunjungan. Hasil studi yang dilakukan oleh peneliti di Puskesmas Mon Geudong, pada tanggal 11-15 Agustus 2022, dari 847 kunjungan dalam 6 bulan terakhir terdapat 430 penderita yang harus melakukan kontrol rutin, namun hanya 192orang yang melakukan kontrol Maka dapat disimpulkan bahwa hanya 44% penderita yang melakukan kontrol rutin ke puskesmas. Selebihnya akan melakukan kontrol rutin hanya saat ada keluhan ketidakseimbangan glukosa darah. Hal ini tidak sesuai dengan target dikatakan kontrol rutin yaitu sebesar 90%. Salah satu cara menilai dukungan keluarga adalah dengan melihat peran keluarga dalam pelaksan kontrol rutin ke Puskesmas. Berdasarkan survey awal yang dilakukan pada 10 penderita DM yang menjalani pengobatan di Puskesmas Mon Geudong didapatkan 6 orang mengatakan keluarga mereka tidak menyediakan waktu untuk keperluan pengobatannya, mereka hanya melakukan kontrol rutin ke puskesmas kurang dari 3 kali dalam 3 bulan Organisasi IDF . , memperkirakan sedikitnya terdapat 483 juta orang pada usia 20-79 tahun di dunia menderita diabetes pada tahun 2019 atau setara dengan angka prevalensi sebesar 9,3% dari total penduduk pada usia yang sama. Berdasarkan jenis kelamin. IDF memperkirakan prevalensi DM di tahun 2019 yaitu 9% pada perempuan dan 9,65% pada laki-laki. Prevalensi DM diperkirakan meningkat seiring pertambahan penduduk menjadi 19,9% atau 111,2 juta orang pada umur 65-79 tahun. Jurnal AssyifaAo Ilmu Kesehatan. Vol. NoAA. April 20AA Angka diprediksi terus meningkat mencapai 578 juta di tahun 2030 dan 700 juta di tahun 2045 (Infodatin, 2. Data Kemenkes RI . , menyatakan bahwa persentase penyakit tidak menular mencapai angka 69,91%. Berdasarkan data dari Riskesdas . , menunjukkan bahwa prevalensi penyakit tidak menular mengalami peningkatan. Salah satunya adalah DM dari 6,9% menjadi 8,5%. Dari sepuluh besar negara dengan penyakit DM. Indonesia menduduki peringkat keempat, dengan prevalensi 8,6% dari total populasi terhadap kasus DM tipe 2 (Infodatin, 2. Penderita DM tahun 2019 adalah 138. 291 jiwa, sedangkan yang mendapat pelayanan sesuai standar sebanyak 95. 005 jiwa atau 69%. Aceh Utara menempati peringkat pertama dengan kejadian mencapai 29. 703 dan Banda Aceh menempati urutan kedua dengan angka kejadian mencapai 14. 052 jiwa. Sedangkan Lhokseumawe menempati peringkat kesepuluh dengan prevalensi DM mencapai 359 jiwa, dengan penerima pelayanan kesehatan sesuai standar sebanyak 3. atau 73% (Dinkes Aceh, 2. Terakhir sedangkan 4 responden orang mengatakan keluarga mereka menjelaskan tentang cara minum obat yang benar sesuai intruksi dokter, mengingatkan untuk mengontrol Glukosa darah dan melaksanakan kunjungan rutin ke puskesmas setiap 1 bulan sekali. Dari data tersebut menunjukan bahwa keluarga yang memberikan dukungan terhadap pasien DM masih sangat rendah. Berdasarkan permasalahan di atas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul AuHubungan Dukungan Keluarga dengan Kepatuhan Melakukan Kontrol Rutin Pada Penderita Diabetes Melitus Di Puskesmas Mon Geudong Kota LhokseumaweAy. METODELOGI Penelitian ini menggunakan desain Analitik Korelasional dengan pendekatan Cross Sectional yang menekankan waktu pengukuran atau observasi data variabel independen dan variabel dependen yang dilakukan satu kali dalam satu Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dukungan keluarga dengan kepatuhan melakukan Kontrol Rutin pada penderita DM Di Puskesmas Mon Geudong Kota Lhokseumawe. Populasi target dalam penelitian ini adalah penderita Diabetes Melitus yang sedang menjalani pengobatan ke puskesmas Mon Geudong Kota Lhokseumawedari periode Februari hingga Juli 2022 berjumlah192 penderita, teknik yang digunakan untuk pengambilan sampel adalah Purposive Sampling dengan perhitungan besar sampel dapat ditentukan dengan menggunakan rumus Slovin yaitu sebanyak 66 responden. Berdasarkan Tabel 1 di atas dapat diketahui bahwa distribusi frekuensi tertinggi umur berada pada 66-74 tahun sebanyak 33 responden . %). Mayoritas jenis kelamin yaitu perempuan sebanyak 51 responden . ,3%). Mayoritas lama menderita Diabetes Melitus lebih dari 2 tahun sebanyak 37 responden . ,1%). Mayoritas berpendidikan menengah sebanyak 29 responden . ,9%). Dengan mayoritas tidak bekerja sebanyak 21 responden . ,8%). Dan persentase anggota keluarga yang mendukung terbanyak adalah anak dengan 21 responden . ,8%). Jurnal AssyifaAo Ilmu Kesehatan. Vol. NoAA. April 20AA HASIL PENELITIAN Data Demografi Tabel 1. Distribusi Frekuensi Data Demografi Responden Di Puskesmas Mon Geudong Kota Lhokseumawe . = . Kategori Umur 45-54 tahun 55-65 tahun 66-74 tahun Total Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Total Lama Menderita DM (<2 tahu. (>2 tahu. Total Pendidikan Dasar Menengah Tinggi Total Pekerjaan Tidak bekerja Pedagang Petani PNS Nelayan Total Anggota Keluarga paling mendukung pengobatan Suami/istri Ibu Ayah Saudara Anak Teman Lainnya Tidak merasakan duk. Total . (%) Jurnal AssyifaAo Ilmu Kesehatan. Vol. NoAA. April 20AA Berdasarkan Tabel 1 di atas dapat diketahui bahwa distribusi frekuensi tertinggi umur berada pada 66-74 tahun sebanyak 33 responden . %). Mayoritas jenis kelamin yaitu perempuan sebanyak 51 responden . ,3%). Mayoritas lama menderita Diabetes Melitus lebih dari 2 tahun sebanyak 37 responden . ,1%). Mayoritas berpendidikan menengah sebanyak 29 responden . ,9%). Dengan mayoritas tidak bekerja sebanyak 21 responden . ,8%). Dan persentase anggota keluarga yang mendukung terbanyak adalah anak dengan 21 responden . ,8%). Analisa Univariat Dukungan Keluarga Tabel 2. Distribusi Frekuensi Dukungan Keluarga Pada Responden Di Puskesmas Mon Geudong Kota Lhokseumawe . = . Dukungan Keluarga Baik Kurang Baik Total . (%) Berdasarkan Tabel 2 di atas dapat diketahui bahwa mayoritas responden memiliki dukungan keluarga baik sebanyak 39 responden . ,1%) dibandingkan responden yang memilki dukungan keluarga kurang sebanyak 27 responden . ,9%). Kepatuhan Kontrol Rutin Tabel 3. Distribusi Frekuensi Kepatuhan Melakukan Kontrol Rutin Pada Responden Di Puskesmas Mon Geudong Kota Lhokseumawe . = . Kepatuhan Kontrol Rutin Patuh Tidak Patuh Total . (%) Berdasarkan Tabel 3 di atas dapat diketahui bahwa mayoritas responden patuh dalam melakukan kontrol rutin sebanyak 41 responden . ,1%) dibandingkan dengan responden yang tidak patuh dalam melakukan kontrol rutin sebanyak 25 responden . ,9%). Analisa Bivariat Hubungan Dukungan Keluarga Dengan Kepatuhan Melakukan Kontrol Rutin Tabel 4. Hubungan Dukungan Keluarga Dengan Kepatuhan Melakukan Kontrol Rutin Pada Penderita DM Di Puskesmas Mon Geudong Kota Lhokseumawe . = . Dukunfan Keluarga Kepatuhan Melakukan Kontrol Rutin Patuh Tidak Total Jurnal AssyifaAo Ilmu Kesehatan. Vol. NoAA. April 20AA 1 Baik 3 Kurang baik Total Patuh 0,05 0,000 Berdasarkan Tabel 4. diatas, dapat diketahui bahwa responden yang memiliki dukungan keluarga baik dengan melakukan kontrol rutin secara patuh sebanyak 36 responden . ,5%) dibandingkan dengan responden yang memilki dukungan keluarga kurang baik dan tidak patuh melakukan kontrol rutin sebanyak 22 responden . ,3%). Berdasarkan hasil uji statistik didapatkan P_ value sebesar 0,000 < 0,05 yang artinya ada hubungan dukungan keluarga dengan kepatuhan melakukan kontrol rutin pada penderita Diabetes Melitus Di Puskesmas Mon Geudong Kota Lhokseumawe. PEMBAHASAN Berdasarkan hasil uji statistik diketahui bahwa p-value . Dengan demikian p-value < 0,05 hal ini menunjukkan bahwa ada hubungan dukungan keluarga dengan kepatuhan melakukan kontrol rutin pada penderita Diabetes Melitus Di Puskesmas Mon Geudong Kota Lhokseumawe. Hasil penelitian ini didukung oleh penelitian Chairunnisa . dengan judul Auhubungan dukungan keluarga dengan kepatuhan kontrol rutin pada penderita Diabetes Melitus di SurabayaAy diperoleh hasil uji statistik p-value = 0,000 . -value < = 0,. dengan demikian diperoleh kesimpulan ada hubungan yang bermakna antara dukungan keluarga dengan tingkat kepatuhan melakukan kontrol rutin pada penderita Diabetes Melitus. Penelitian ini juga diperkuat oleh penelitian Keumalahayati . , dengan judul Hubungan Dukungan Keluarga Dengan Kepatuhan Melakukan Kontrol Rutin Pada Penderita Diabetes Melitus Di Wilayah Kerja Puskesmas Babah Buloh Kecamatan Sawang Kabupaten Aceh Utara berdasarkan uji Chi Square didapatkan nilai p = 0,000 . <0,. sehingga dapat disimpulkan bahwa ada hubungan dukungan keluarga dengan kepatuhan kontrol rutin pada penderita Diabetes Melitus di Wilayah Kerja Puskesmas Babah Buloh Kecamatan Sawang Kabupaten Aceh Utara. Penelitian ini juga ikut diperkuat oleh pendelitian Nurleli, dikutip dalam Fatimah . ,dengan judul dukungan keluarga dengan kepatuhan pasien Diabetes Melitus dalam menjalani pengobatan di BLUD RSUZA Banda Aceh diperoleh hasil uji statistik p-value = 0,000 . -value < = 0,. dengan demikian diperoleh kesimpulan ada hubungan yang bermakna anatara dukungan keluarga dengan kepatuhan penderita Diabetes Melitus dalam menjalani pengobatan. Penelitian ini juga ikut diperkuat oleh pendelitian Arif . dengan judul hubungan dukungan keluarga dengan kepatuhan kontrol rutin di ruang poli penyakit dalam RSUD DR. Achmad Mochtar Bukit Tinggi berdasarkan uji Chi Square didapatkan nilai p-value = 0,002 . < 0,. sehingga dapat disimpulkan bahwa ada hubungan dukungan keluarga dengan kepatuhan kontrol rutin di ruang poli penyakit dalam RSUD DR. Achmad Mochtar Bukit Tinggi. Jurnal AssyifaAo Ilmu Kesehatan. Vol. NoAA. April 20AA Menurut Friedman, dikutip dalam Syamsuddin . , dukungan keluarga adalah tindakan penerimaan keluarga terhadap anggota keluarga, berupa dukungan informasi, penilaian, instrumental dan emosional. Menurut Ayuni . , dukungan keluarga adalah ketika anggota keluarga memandang anggota keluarga yang lain sebagai pendukung dan selalu siap memberikan bantuan jika diperlukan. Menurut Setiadi, dikutip dalam Kirawan & Diah . Dukungan keluarga adalah proses hubungan keluarga dengan lingkungan sehingga mampu meningkatkan kesehatan dan adaptasi kehidupan sosial. Menurut Niven dalam Choirunnisa . dukungan keluarga dapat menjadi faktor yang sangat berpengaruh dalam menentukan keyakinan dan nilai kesehatan individu serta dapat juga menentukan tentang program pengobatan yang dapat mereka terima. Menurut Waluyo, dalam Fatimah . , dukungan keluarga yang diberikan merupakan suatu dorongan untuk membangkitkan semangat hidup, menyadarkan penderita Diabetes Melitus bahwa masih ada orang yang peduli sehingga memberi pengaruh dalam kepatuhan mengikuti kontrol rutin. Kepatuhan kontrol rutin adalah suatu kepatuhan pasien terhadap pengobatan yang telah ditentukan oleh tenaga pelayanan kesehatan. Penderita yang patuh berobat selalu melakukan pengobatan ke pelayanan kesehatan setidaknya 1 bulan sekali (Permenkes RI, dikutip dalam Choirunnisa, 2. Menurut Suparyanto dalam Toulasik . , faktor lain yang mempengaruhi kepatuhan terhadap pengobatan antara lain pendidikan, pengetahuan, modifikasi faktor lingkungan sosial, perubahan model terapi, meningkatkan interaksi professional kesehatan dengan pasien dan usia. Peneliti berasumsi bahwa dukungan keluarga sangat berperan terhadap kepatuhan melakukan kontrol rutin. Penderita Diabetes Melitus yang didukung dengan baik oleh keluarganya akan menambah rasa percaya diri, motivasi untuk sembuh, menurunkan stress dan ada keinginanuntuk menjalani pengobatan secara Seseorang dengan dukungan keluarga yang baik memungkinkan lebih berhasil menghadapi dan menjalankan program pengobatan dibandingkan yang tidak memiliki dukungan keluarga yang baik. Oleh karena itu semakin baik dukungan keluarga penderita Diabetes Melitus maka akan semakin patuh penderita Diabetes Melitus untuk melakukan kontrol rutin. Kontrol rutin yang dilakukan dengan patuh dapat mencegah terjadinya komplikasi. Berdasarkan pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa penderita Diabetes Melitusdi Puskesmas Mon Geudong Kota Lhokseumawe, memiliki dukungan keluarga baik dengan melakukan kontrol rutin secara patuh sebanyak 36 responden . ,5%) serta dari hasil uji statistik di dapat P-value sebesar 0,000 < 0,05 yang artinya ada dukungan keluarga dengan kepatuhan melakukan kontrol rutin pada penderita Diabetes Melitus Di Puskesmas Mon Geudong Kota Lhokseumawe. SIMPULAN Terdapat hubungan yang bermakna antara dukungan keluarga dengan kepatuhan melakukan kontrol rutin pada penderita Diabetes Melitus di Puskesmas Mon Geudong kota Lhokseumawe dengan p-value = 0,000 < = 0,05. SARAN Jurnal AssyifaAo Ilmu Kesehatan. Vol. NoAA. April 20AA Bagi keluarga diharapkan dapat menambah informasi dan pengetahuan keluarga sebagai acuan dalam dukungan terhadap keluarga sehubungan dengan kepatuhan melakukan control rutin pada penderita diabetes melitus serta masalah yang dapat ditimbulkannya. DAFTAR PUSTAKA