Proceedings Series on Social Sciences & Humanities. Volume 20 Prosiding Pertemuan Ilmiah Bahasa & Sastra Indonesia (PIBSI XLVI) Universitas Muhammadiyah Purwokerto ISSN: 2808-103X Meningkatkan Literasi Digital dengan Menggunakan Karakter Wayang untuk Siswa Sekolah Dasar di Kabupaten Sukoharjo Veronika Unun Pratiwi1*. Farida Nugrahani1. Mukti Widayati1. Benedictus Sudiyana1. Nurnaningsih1. Ruswi Isnaini1 Universitas Veteran Bangun Nusantara ARTICLE INFO ABSTRACT Article history: Literasi digital untuk siswa sekolah dasar memainkan peran penting dalam metode pembangunan karakter siswa sekolah dasar. Demikian juga, peran pendidikan karakter sangat dibutuhkan oleh pemerintah sebagai dasar pendidikan di negara ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi identitas penokohan Punakawan dalam nilai-nilai kearifan lokal dalam bacaan siswa sekolah dasar di Kabupaten Sukoharjo. Metode yang digunakan adalah analisis deskriptif kualitatif dengan teknik analisis isi. Sumber informasi berasal dari buku bacaan digital untuk siswa sekolah dasar yang berjudul Wayangku Budayaku. Buku bacaan digital ini disusun oleh kementerian pendidikan dan kebudayaan. Terdapat empat pilihan unit area pada buku bacaan digital ini, yaitu unit area yang berkaitan dengan. pengertian, tokoh wayang, alat musik, dan kuis. Buku digital ini membahas tentang tokoh-tokoh pewayangan, khususnya Pandawa dan Punakawan. Peneliti memilih Punakawan agar siswa sekolah dasar dapat memahami karakter-karakter dalam wayang Punakawan secara lebih detail. Dari buku bacaan digital ini, informasi yang terkait dengan pengetahuan asli dapat diambil. Dengan adanya buku bacaan digital ini, diharapkan siswa sekolah dasar dapat mulai menyukai budaya daerah yang sudah diperkenalkan sejak awal saat mereka duduk di bangku sekolah dasar. DOI: 30595/pssh. Submitted: June 20, 2024 Accepted: November 10, 2024 Published: November 30, 2024 Keywords: Sekolah Dasar. Buku Bacaan Digital. Punakawan. Kearifan Lokal This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License. Corresponding Author: Veronika Unun Pratiwi Universitas Veteran Bangun Nusantara Jl. Letjend Sujono Humardani No. Gadingan. Sukoharjo. Jawa Tengah 57521. Indonesia Email: veronikaup@gmail. PENDAHULUAN Seiring dengan perkembangan masyarakat dari yang tradisional menjadi modern, pendidikan merupakan proses yang rumit dan tidak pernah berhenti mengalami penyesuaian dan perkembangan seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Prinsip-prinsip yang harus menjadi landasan dalam melaksanakan proses belajar mengajar di kelas dituangkan dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 65 Tahun 2013, yang di dalamnya terdapat peraturan mengenai penggunaan teknologi digital di kelas untuk memudahkan siswa mengakses informasi. Salah satu peraturan tersebut membahas tentang penggunaan teknologi informasi dan komunikasi untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi pembelajaran. Guru perlu menggunakan teknologi ini sebagai topik instruksional yang memiliki dampak penting terhadap arah proses pembelajaran, selain sekolah. Proceedings homepage: https://conferenceproceedings. id/pssh/issue/view/36 ISSN: 2808-103X Bahasa Indonesia merupakan salah satu mata pelajaran wajib yang diajarkan di tingkat sekolah dasar, dan pengajaran literasi digital telah dimulai di sana. Beberapa orang memiliki kesalahpahaman bahwa mengajarkan pembelajaran bahasa Indonesia itu menantang. Konsep ini muncul karena para pengajar hanya mengajar secara klasikal, dan tidak ada bantuan tambahan untuk belajar bahasa Indonesia, seperti media, bahan bacaan, dan literatur lainnya. Agar pembelajaran bahasa Indonesia lebih bermakna, pengajar harus berupaya untuk memberikan pembelajaran yang bermakna, seperti memasukkan alternatif bacaan lain selain buku Bacaan tambahan ini dapat dilakukan dengan menggunakan perangkat baca buku cerita bergambar Buku cerita bergambar adalah buku bacaan yang memiliki cerita yang disertai dengan gambar, dengan gambar yang mewakili latar cerita, yang dapat berupa dongeng, cerita rakyat, fabel, atau cerita binatang. Menurut Nurgiyantoro . , dengan adanya gambar cerita yang menarik yang ditawarkan, siswa akan membaca dengan penuh kesungguhan, mengikuti dan berusaha memahami alur cerita yang dilihatnya, dan gambar akan menjadi salah satu faktor pendorong dalam mengembangkan fantasi melalui imajinasi dan logika. Untuk alasan ini, gambar-gambar yang disediakan dalam teks juga sama pentingnya dalam buku-buku dongeng karena berfungsi sebagai bentuk komunikasi untuk anak-anak dan menyampaikan makna cerita. Perpaduan antara gambar dan kata-kata akan meningkatkan minat baca dan keingintahuan anak terhadap cerita yang ada di dalam buku bacaan. Kehadiran grafis yang cerah akan meningkatkan minat anak untuk membacanya. Buku cerita bergambar dapat digunakan untuk melengkapi pendidikan membaca di sekolah dasar. Buku cerita bergambar, menurut berbagai sudut pandang, adalah format komprehensif yang mengkomunikasikan sebuah kisah melalui kata-kata dan gambar. Buku cerita bergambar terdiri dari berbagai elemen, yang masing-masing sama pentingnya (Villarreal et al. , 2. Buku cerita bergambar untuk siswa di sekolah dasar harus dipilih yang menampilkan pengalaman dari kehidupan sehari-hari anak-anak. Penggunaan cerita yang sesuai dengan keseharian anak dapat membuat anak menjadi dekat dan merasa menjadi bagian dari cerita tersebut. Dalam Gay Su Pinnel dan Irene C. Fountas . 2, hlm. menyarankan untuk memilih cerita yang sederhana dan mudah diikuti dengan ilustrasi yang besar dan bersih. Selain itu, guru juga harus memilih teks informasi yang memiliki gambar yang besar dan jelas serta fokus pada topik yang familiar bagi siswa untuk Secara umum, berdasarkan berbagai pendapat, buku bergambar adalah cerita yang ditulis dengan gaya bahasa yang sederhana dan dilengkapi dengan gambar-gambar yang membentuk satu kesatuan yang utuh. Tema yang terkandung dalam buku bergambar juga sering kali berhubungan dengan pengalaman pribadi sehingga pembaca dapat dengan mudah mengidentifikasi diri mereka sendiri melalui perasaan dan tindakan mereka melalui karakter tokoh utama. Unsur-unsur cerita yang terdapat dalam buku cerita bergambar adalah alur cerita, tokoh, tema, moral, latar, ilustrasi, gaya bahasa dan format (Nurgiyantoro-Sugirin, 2. Menurut McCrindle dan Odendaal . aspek-aspek penting dalam buku cerita bergambar adalah karakter, alur, latar, tema, dan sudut pandang. Penelitian Fadhilah dan Rahmawati . tentang muatan kearifan lokal dalam buku bacaan yang diterbitkan oleh Kemendikbud menemukan bahwa terdapat lima muatan kearifan lokal dalam buku anak yang bertemakan: budaya, norma, etika, kepercayaan, dan adat istiadat. Penelitian lain oleh Santoso dkk. , . tentang buku cerita anak berbasis kearifan lokal perbatasan Tasikmalaya untuk Sekolah Dasar berfokus untuk memberikan gambaran dan merancang buku cerita anak berbasis kearifan lokal perbatasan Tasikmalaya yang digunakan sebagai bahan ajar untuk siswa kelas IV Sekolah Dasar, dengan konten didaktis tentang pengetahuan tentang seni bordir Tasikmalaya. Pratiwi dan Suwandi . meneliti efektivitas buku cerita bergambar berbasis kearifan lokal dalam meningkatkan tanggung jawab dan kepedulian sosial pada siswa sekolah dasar kelas IV dan menyimpulkan bahwa buku cerita bergambar layak digunakan berdasarkan hasil validasi dari ahli media dan ahli materi, serta uji coba di sekolah. Penelitian terdahulu dan penelitian ini memiliki kesamaan yaitu sama-sama menggunakan pendekatan analisis konten, namun penelitian terdahulu meneliti buku teks untuk siswa SMP dan SMA, sedangkan penelitian ini meneliti buku bacaan untuk siswa SD yang merefleksikan kearifan lokal di daerahnya. Perpustakaan sekolah dasar memiliki banyak sekali buku bacaan, termasuk cerita wayang, legenda, dan fabel termasuk Cerita Kancil. Peneliti memilih cerita wayang, khususnya Punakawan karena buku bacaan ini memiliki komponen kearifan lokal, khususnya yang dimiliki oleh masyarakat Jawa, khususnya Jawa Tengah. Oleh karena itu, tokoh Punakawan dipilih sebagai bahan penelitian. Sejarah pewayangan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari warisan bangsa dan tidak boleh hilang begitu saja jika tidak dilestarikan. Kurangnya media yang tersedia untuk memberikan informasi mengenai tokoh-tokoh pewayangan, seperti: Siapakah Punakawan? Apa itu Semar. Gareng. Petruk dan Bagong? Apa yang hebat tentangnya? Apa kontribusinya bagi masyarakat? Informasi ini diperlukan agar siswa sekolah dasar menyukai pertunjukan wayang. Salah satu cara untuk melestarikan kesenian wayang adalah dengan menyasar siswa sekolah dasar dengan tayangan cerita bergambar yang disebut dengan Wayang Punakawan digital. Dengan memilih buku cerita bergambar digital untuk memperluas pengetahuan anak-anak tentang cerita wayang melalui tokoh-tokoh Punakawan dan nilai- Proceedings homepage: https://conferenceproceedings. id/pssh/issue/view/36 ISSN: 2808-103X nilai moral serta patriotisme yang mereka tampilkan, dapat memperluas pengetahuan siswa sekolah dasar tentang kearifan lokal dan budaya luhur Jawa. Istilah Aukearifan lokalAy berasal dari dua kata: kearifan dan lokal. Kearifan lokal juga dikenal dengan istilah politik lokal, pengetahuan lokal, dan kecerdasan lokal . ocal geniu. Dalam situasi ini, pengetahuan lokal juga dikenal sebagai kearifan lokal karena Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah mengatakan bahwa frasa tersebut dapat digunakan sebagai konsep pembelajaran di sekolah untuk meningkatkan potensi lokal daerah-daerah di Indonesia. Tujuan dari mempertahankan kearifan lokal adalah untuk membantu siswa mengembangkan potensi mereka, terutama keterampilan kognitif, emosional, dan psikomotorik, untuk mempromosikan dan mendukung kesejahteraan lokal di Indonesia (Prasetyo, 2. Kearifan lokal terdiri dari dua kata: kearifan dan lokal. Lokal berarti setempat, dan kearifan sama dengan kebijaksanaan. Kearifan lokal adalah gagasan, nilai, atau pandangan setempat . yang masuk akal, cermat, dan bermanfaat yang dianut dan diterima oleh anggota masyarakat (Ayatrohaedi, 1986:18-. Dalam antropologi, kearifan lokal identik dengan local genius atau identitas budaya, khususnya identitas nasional atau kekhasan budaya, yang menuntun suatu bangsa untuk menyerap dan mengolah budaya asing sesuai dengan karakter dan keterampilannya sendiri. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 bertujuan untuk melindungi dan mengelola lingkungan hidup secara bertanggung jawab dengan memasukkan kearifan lokal dan nilai-nilai luhur ke dalam kehidupan masyarakat. Muthana . 1: . mendeskripsikan kearifan lokal sebagai kumpulan pengetahuan dan kebijaksanaan yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat dari sudut pandang spiritual, kosmologis, dan sosiologis. Ada banyak sebutan yang digunakan untuk menggambarkan kearifan lokal. Kearifan lokal, keunggulan, budaya, tradisi, dan kebijaksanaan. Menurut Puspowardojo (Rahyono, 2009:. , kearifan lokal, seperti halnya kecerdasan lokal . ocal geniu. , tahan terhadap pengaruh asing dan dapat berkembang di masa depan. Kemampuan kecerdikan lokal untuk melampaui keadaan eksternal menentukan kekhasan masyarakat. Kearifan lokal mencerminkan cita-cita masyarakat. Kearifan lokal terdiri dari nilai-nilai budaya masyarakat, termasuk norma dan standar. Kearifan lokal dapat ditemukan dalam lagu-lagu, peribahasa, sasanthi, petuah, semboyan, dan literatur lama yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Menurut Albantani dan Madkur . , bahasa dan budaya lokal merupakan contoh kearifan lokal yang dapat ditemukan di seluruh nusantara. Bahasa merupakan aspek penting dalam budaya. Masyarakat memiliki kearifan lokal yang dikenal sebagai bahasa. Kebiasaan, tradisi, nilai, dan budaya masyarakat didokumentasikan dalam bahasa lokal. Beberapa orang bangga dengan bahasa ibu Pengetahuan daerah terwakili dalam bahasa. Bahasa daerah mengandung nilai-nilai luhur yang bertujuan untuk meningkatkan kehidupan masyarakat. Kearifan linguistik lokal biasanya menggambarkan fenomena spesifik yang mendefinisikan komunitas kelompok tersebut. Misalnya. Aron Aron dari Krakong (Komunitas Jawa Tenga. Roe Lou Rantas Malang Putun Malang (Komunitas Jawa Timu. , dan Kiaine Jujur. Sesuai dengan manfaat pengetahuan gurune barokah uripe . , dan lain sebagainya (R. Sari dkk. Individu atau komunitas membawa local genius dari berbagai latar belakang etnis, serta kearifan lokal yang berasal dari tradisi Indonesia. Pergeseran budaya antargenerasi ini membutuhkan kehadiran generasi perantara yang memahami generasi yang lebih tua dan dapat berkomunikasi dengan bahasa yang mudah dimengerti oleh generasi berikutnya. Berdasarkan survei episodik terhadap kebutuhan guru dan siswa akan bahan ajar yang digunakan di sekolah dasar di Kabupaten Sukoharjo, penting untuk membuat bahan ajar berbasis kearifan lokal untuk mengajarkan bahasa Indonesia dengan menggunakan media gambar berantai. Baik guru maupun siswa membutuhkan sumber belajar yang deskriptif untuk membantu siswa memahami dan meningkatkan kemampuan berbahasa Indonesia. Untuk melestarikan nilai-nilai luhur kearifan budaya lokal di Sukoharjo, perlu dilakukan upaya-upaya antara lain dengan membaca buku-buku berbasis kearifan lokal dan mengintegrasikannya ke dalam bahan ajar bahasa Indonesia. Membaca buku yang sarat dengan kearifan lokal memungkinkan kita untuk memberikan informasi secara langsung kepada siswa sekolah dasar, oleh karena itu membaca menjadi bagian penting dalam pendidikan di sekolah dasar. Buku bacaan dengan kearifan lokal dapat merangkum materi, pendekatan, model, metode, strategi, media, dan penilaian pembelajaran yang menekankan perlunya memasukkan kearifan lokal ke dalam pendidikan (Faizah, 2. Bacaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah bacaan yang berkaitan dengan Wayang Punakawang . Peneliti belum menemukan buku bacaan terkait Punakawang yang sesuai untuk siswa sekolah dasar, yang digunakan berwarna, namun variasinya kurang karena hanya ada satu gambar. Bacaan ini memberikan materi dasar dan ide pelengkap untuk pengajaran bahasa Indonesia bagi siswa sekolah dasar di Kabupaten Sukoharjo. Bacaan ini dipilih karena sesuai dengan tingkat usia pembaca. Hal ini memungkinkan siswa untuk memahami, memiliki, dan mencintai kearifan budaya daerahnya sendiri. Siswa menjadi mengenal nilai-nilai luhur budayanya dan lebih luas lagi mengenal kearifan budaya lokal yang dapat menumbuhkan kecintaan pada nilai-nilai kebangsaan yang pada akhirnya memperkuat rasa nasionalisme dalam diri mereka. Proceedings homepage: https://conferenceproceedings. id/pssh/issue/view/36 ISSN: 2808-103X Materi yang menarik meningkatkan minat baca siswa. Hal ini sesuai dengan pendapat Feathers . yang menyatakan bahwa bahan ajar merupakan alat atau seperangkat sarana pembelajaran termasuk di dalamnya materi pembelajaran, metode, batasan-batasan, dan cara penilaiannya yang didesain secara sistematis dan Menurut Mayembe dan Nsabata . , bahwa bahan ajar meliputi materi yang harus dipelajari siswa dari media cetak atau melalui guru untuk mencapai tujuan tertentu. Lebih lanjut. Blomquist . menyatakan bahwa bahan ajar dengan berbagai jenis ilustrasi memegang peranan penting dalam bahan ajar. Ilustrasi yang menarik dipadukan dengan layout yang baik serta gambar yang berwarna dan kontekstual dapat membuat bahan ajar menjadi lebih menarik. Kearifan lokal, dengan kata lain kearifan lokal dapat dipahami sebagai gagasan-gagasan, nilai-nilai, pandangan-pandangan setempat yang bersifat arif, bijaksana, dan bernilai baik yang tertanam dan diikuti oleh anggota masyarakat. Melalui program pendidikan berbasis kearifan lokal, diharapkan akan tumbuh pengetahuan dan karakter masyarakat lokal yang peduli terhadap lingkungan dan mampu memanfaatkan potensi yang ada di Oleh karena itu, penulis meneliti tentang integrasi pendidikan karakter ke dalam pembelajaran bahasa Indonesia sekolah dasar di Sukoharjo melalui media edukasi bergambar berbasis budaya Jawa Tengah khususnya kearifan lokal Sukoharjo. Rumusan masalah yang dibahas dalam penelitian ini adalah sebagai Bagaimana deskripsi identitas tokoh Punakawan dalam nilai-nilai kearifan lokal? Penelitian ini bermanfaat bagi para pengarang dan penulis buku, khususnya guru, sebagai bahan evaluasi terhadap proses pembuatan buku pelajaran di Indonesia untuk meningkatkan kualitas buku. Sebagai buku utama maupun sebagai buku tambahan, sehingga dapat menjadi pedoman bagi guru dan siswa. Selain itu, diharapkan siswa sekolah dasar akan lebih termotivasi untuk belajar dengan mengetahui kualitas buku yang mereka pelajari. Bagi peneliti, adanya e-book karya Punakawang Wayan ini dapat digunakan sebagai tambahan wawasan penelitian dalam menganalisis kualitas bahan bacaan dan tulisan untuk diri sendiri. METODE PENELITIAN Penelitian ini menganalisis peran karakter Punakawan dalam nilai-nilai kearifan lokal di kalangan siswa sekolah dasar di Kabupaten Sukoharjo. Metode yang digunakan adalah analisis deskriptif kualitatif dengan teknik analisis isi. Informasi diambil dari Wayangku Budayaku, sebuah buku bacaan digital untuk siswa sekolah dasar. Buku bacaan digital ini dikembangkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Buku bacaan digital ini memiliki empat unit area yang dipilih: pemahaman, tokoh pewayangan, alat musik, dan kuis. HASIL DAN PEMBAHASAN Membaca Wayang Punakawan Menurut penelitian wayang punakawan ini, karakter punakawan jelas merupakan karakter wayang yang paling disukai oleh anak-anak. Dalam masyarakat Jawa, wayang merupakan seni pertunjukan yang tidak hanya sebagai hiburan tetapi juga sebagai sarana pendidikan. Pendidikan disampaikan melalui cerita dan karakter tokoh-tokohnya. Salah satu tokoh wayang yang terkenal adalah Punakawan. Punakawan adalah jelmaan para dewa yang terdiri dari Semar dan ketiga putranya. Garen. Petruk, dan Bagong. Dalam cerita pewayangan, kelompok ini dikenal sebagai penasihat spiritual, teman bicara, dan penghibur di saat-saat sulit, yang bertugas mengajak para kesatria yang berada di bawah asuhan mereka untuk selalu berbuat baik. 'teman'. Artinya, para badut bukan hanya sekedar pelayan atau bawahan, mereka sering kali memahami apa yang terjadi pada tuannya dan bertindak sebagai penasihat (Pamomon. Berbeda dengan ksatria yang selalu dikatakan sopan, santun, lemah lembut dan tegas, badut memiliki sifat yang humoris dan kocak sehingga selalu dinanti-nanti oleh para penonton, khususnya para pecinta wayang. Setiap karakter badut memiliki ciri-ciri fisik dan sifat yang memiliki makna tertentu. Berikut adalah penjelasan Dalam pewayangan. Semar berperan sebagai penjaga golongan ksatria. Semar diceritakan selalu tersenyum, namun matanya bengkak. Mengutip buku AuThe Pakubuwono ClubAy karya Agung Prabowo, penggambaran ini merupakan simbol suka dan duka. Semar memiliki wajah yang tua, namun gaya rambutnya kekanak-kanakan, melambangkan tua dan Meskipun dia laki-laki. Semar memiliki payudara yang kekanak-kanakan. Ini adalah simbol perlindungan bagi semua pria, wanita dan pria. Meskipun ia adalah penjelmaan Tuhan, ia hidup sebagai orang biasa yang melambangkan atasan dan bawahan. Nama lengkap karakter yang dikenal sebagai Gareng adalah Nara Gareng, yang mengacu pada hati yang kering. Gareng adalah seorang Punakawan yang tersandung. Hal ini merepresentasikan karakternya sebagai pemuda yang selalu berhati-hati. Gareng juga memiliki cacat tambahan seperti Ceko dan tangan yang Hal ini menggambarkan kesungguhan Gareng untuk tidak melanggar hak orang lain. Petruk memiliki penampilan yang tidak menarik namun selalu jujur dan baik hati. Kepribadiannya mengandung pesan untuk tidak menilai orang lain dari penampilannya. Petrok selalu mengatakan kebenaran apa adanya. Ia mengatakan apa yang ia yakini benar dan tidak terpengaruh oleh kekuatan apapun. Dalam sebuah cerita. Petrok digambarkan selalu mengatakan kebenaran dan Proceedings homepage: https://conferenceproceedings. id/pssh/issue/view/36 ISSN: 2808-103X kebaikan meskipun tidak membawa senjata. Bagong diciptakan dari bayangan Semar. Pada masa-masa awal di Bumi. Semar merasa sendirian sebagai penasihat manusia. Oleh karena itu, ia mendekati ayahnya. San Hyang Tunggal, dan meminta seorang pacar. Sang Hyang Tunggal pun menjalin persahabatan dengan bayangan Semar. Itulah sebabnya bentuk dan penampilan Bagong mirip dengan Semar. Dia memiliki perut yang membengkak, hidung yang kecil, dan pantat yang besar. Bagong memiliki kepribadian anak muda yang menakutkan sekaligus Dia jarang berbicara, tapi ketika dia berbicara, dia membuat orang tertawa. Bagong sering mengutuk dengan tajam perilaku buruk karakter wayang lainnya. Seperangkat kriteria yang didasarkan pada konteks buku bacaan yang didasarkan pada tiga faktor dalam memilih bahan bacaan sebagai sumber belajar: tingkat kesulitan, latar belakang budaya, dan daya tarik Ada tiga aspek yang harus diperiksa. Keterbacaan, . Daya tarik, dan . Relevansi (Reuter, 2. Teks yang tidak sesuai dengan kualitas siswa dapat membuat mereka frustasi dan bosan belajar. Kedua hal tersebut dapat muncul ketika literatur yang digunakan sebagai alat pembelajaran dianggap terlalu sederhana atau terlalu sulit bagi siswa. Salah satu jawaban dari tantangan di atas adalah dengan membaca buku-buku kearifan lokal dalam pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah dasar. Buku ini akan membantu siswa belajar dengan merangsang dan menantang motivasi belajar tanpa membuat mereka frustasi atau bosan belajar, serta meningkatkan kemampuan mereka dalam mengolah informasi sesuai dengan kompetensi yang dimiliki. Buku ini memberikan jawaban dan pemahaman terhadap berbagai masalah yang muncul dalam kehidupan sehari-hari. Membaca pemahaman disajikan sebagai bagian dari pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah dasar. Salah satunya ingin mempelajari dan memahami tulisan-tulisan yang berbasis kearifan lokal. Pembelajaran membaca merupakan salah satu cara untuk menyampaikan instruksi pemrograman yang tepat kepada guru sekaligus mengembangkan kemampuan membaca pemahaman siswa. Guru dapat menggunakan kegiatan pembelajaran membaca yang beragam untuk mengumpulkan informasi tentang tingkat kompetensi, merancang pengajaran dan penilaian yang sesuai, menganalisis hasil penilaian untuk pemrograman yang sedang berlangsung, dan meningkatkan perkembangan membaca siswa. Menurut Calkins . 4, p. , guru perlu memahami bahwa siswa yang membutuhkan bacaan yang dapat membangkitkan minat yang tinggi, siswa yang membutuhkan instruksi yang jelas dan eksplisit, dan belajar tentang proses dan keterampilan membaca. Koreksi mereka dan dia akan diberi kesempatan untuk mengomentari bacaan tersebut. Berdasarkan uraian di atas, membaca pemahaman memperkaya pengetahuan siswa, dan semakin banyak materi yang mereka baca, semakin kaya kosakata dan ide yang dapat mereka masukkan ke dalam komunikasi lisan dan tulisan mereka. Oleh karena itu, guru harus dapat menerapkan strategi dan bahan bacaan yang berbeda sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan siswa untuk mengembangkan kemampuan membaca dan pemrosesan informasi siswa. Pembelajaran Bahasa Indonesia untuk Anak Bahasa Indonesia sebenarnya sudah ada sejak lama karena merupakan mata pelajaran wajib di sekolah Pembelajaran bahasa Indonesia dalam kurikulum 2013 adalah pembelajaran berbasis teks. Teks merupakan ekspresi utuh dari pemikiran manusia, situasi dan konteks, pelaksanaan pembelajaran menggunakan pendekatan saintifik dengan model yang sesuai, dan pencapaian kompetensi dasar pada kelompok KI. 1 dan 2 ditentukan oleh pencapaian KD dalam kelompok KI. Bahasa ketiga dan keempat harus dilihat sebagai teks, bukan hanya kumpulan kata atau aturan argumen. Bahasa bersifat fungsional. Dengan kata lain, penggunaan bahasa tidak dapat dilepaskan dari konteks pemakai atau ideologi pemakainya, karena bentuk-bentuk bahasa yang digunakan mencerminkan gagasan, sikap, dan nilai. Kearifan lokal mencakup pengetahuan, kepercayaan, nilai, dan praktik-praktik dari komunitas yang berbeda, yang diperoleh dari pengalaman masa lalu dan saat ini dan dari kontak dengan komunitas dan budaya Buwono X . menyatakan bahwa kearifan lokal adalah jiwa manusia yang menggunakan akal budi . untuk bersikap dan bertindak terhadap sesuatu, objek, atau peristiwa yang terjadi dalam ruang tertentu. Kearifan lokal tidak hanya melandasi tindakan individu, tetapi juga dapat dilihat sebagai kearifan kolektif yang menggerakkan kehidupan masyarakat yang beradab. Kearifan lokal merupakan entitas yang mengandung unsur kecerdasan dan kreativitas kolektif karena mengatur harkat dan martabat manusia dalam suatu masyarakat untuk pengembangan peradaban bangsa (Asrial et al. , 2. Uraian berikut ini menjelaskan kearifan lokal dalam penokohan Punakawan yang terdapat dalam novel Pustaka Punakawan Satria Pringgodani karya Lustantini Septiningsih. Kearifan lokal yang dimaksud meliputi: Karakterisasi (Disposis. Karakterisasi harus mampu menciptakan citra karakter. Karena dari situlah cerita berasal. Menurut Sato . Penokohan adalah proses pengenalan karakter ke dalam peran tokoh dalam sebuah produksi teater. Penokohan harus mampu menciptakan citra karakter. Penokohan menggunakan metode yang berbeda-beda. Sifat-sifat tokoh dapat diekspresikan dengan cara-cara sebagai berikut: . tindakan, . ucapan, . pikiran, perasaan, dan keinginan, . penampilan, dan . pikiran tentang dirinya sendiri atau orang lain. Perasaan atau Keinginan. Sari . menegaskan bahwa tokoh dibaca dengan sungguh-sungguh pada garis-garisnya. Sifat dan warna garis mewakili kepribadian tokoh. Dalam pewayangan, tokoh-tokohnya sudah memiliki karakter Proceedings homepage: https://conferenceproceedings. id/pssh/issue/view/36 ISSN: 2808-103X yang jelas, juga didukung oleh bahasa tubuh, suara, panjang pendeknya dialog, jenis kalimat dan ekspresi yang Punakawan, dalam bahasa Indonesia, adalah pelayan rendah hati dari keluarga Pandawa dan penasihat spiritual para ksatria, yang selalu mengikuti tuannya ke mana pun ia pergi. Saya akan membahas secara terpisah tentang karakter boneka Punakawan ini. Dalam kisah Sadewa dari keluarga Pandawa, ia digambarkan sebagai pelayan dari tokoh utama. Selain sebagai pelayan. Semar juga sering memberikan nasihat-nasihat bijak kepada Pandawa. Semar digambarkan sebagai sosok yang sabar dan bijaksana, dengan kepala dan mata Semar yang mengarah ke atas, melambangkan kehidupan manusia yang selalu mengingat Yang Maha Kuasa. Kain yang digunakan Semar sebagai pakaian, kain Semar Parang Kusumo Rojo, merupakan perwujudan dari Memayu Hayuning Banowo atau menegakkan keadilan dan kebenaran di muka bumi. Semar kini dipandang sebagai simbol persatuan di antara para spiritualis Jawa (Pitana, 2. Fig. Wayang Punokawan Gareng, cerita pewayangan Jawa mengatakan bahwa Gareng adalah anak dari Genderuwo, roh yang diadopsi oleh Semar. Pancalpamor adalah nama lain dari Gareng yang berarti menolak godaan duniawi. Gareng lumpuh, sehingga ia harus selalu berhati-hati dalam bertindak. Gareng bertubuh pendek dan selalu menunduk. Ini adalah tanda untuk berhati-hati. Sudah kaya, tapi tetap waspada, matanya juling. Ini berarti dia benci melihat hal-hal yang buruk dan mengundang kejahatan. tangannya bengkok. Ini menunjukkan bahwa ia tidak mengambil hak orang lain. Petruk digambarkan sebagai orang yang suka bercanda dengan kata-kata dan tindakan. Ia adalah anak angkat kedua Semar. Nama lainnya adalah Kanton Boron yang berarti suka bersedekah. Sebagai seorang Punakawan, ia adalah orang yang peduli, merahasiakan masalah, pendengar yang baik, dan selalu berguna bagi orang lain. Bagong adalah putra ketiga Semar. Bagong dikisahkan sebagai manusia yang muncul dari bayangbayang. Suatu ketika Gareng dan Petruk meminta Semar untuk mencari teman. Kemudian Sang Hyang Tunggal berkata. AuKamu tahu, temanmu adalah bayang-bayangmu sendiri. Ay Kepribadian Bagong bertubuh pendek dan gemuk, namun dengan mata dan mulut yang besar, menunjukkan sifat yang menakutkan, jujur, dan kuat. dikenal sering menyelesaikan sesuatu dengan terburu-buru. Karena sifatnya yang tidak sabaran, ia mengajarkan Anda untuk memikirkan apa yang ingin Anda lakukan agar tidak seperti Bagong. Fig. Ilustrasi dari Punokawan Proceedings homepage: https://conferenceproceedings. id/pssh/issue/view/36 ISSN: 2808-103X Artikel ini menyajikan hasil penelitian yang menjelaskan identitas penokohan nilai-nilai kearifan lokal Punakawan yang bersumber dari berbagai teks bacaan dan pembacaan wayang berbahasa Punakawan. Hasil penelitian meliputi analisis data dan hasil wawancara dengan para narasumber. Aspek-aspek tersebut meliputi: Buku bacaan Wayang Punakawan berisi uraian tentang kekhasan wayang Punakawan. Dalam pewayangan Jawa. Punakawan digambarkan sebagai pendamping atau pamong yang selalu menyertai seseorang atau keluarga, tempat berbagi suka dan duka serta meminta nasihat ketika dibutuhkan. Indicators of Local Wisdom in Punakawan Reading Texts Indikator kearifan lokal ditemukan terutama dalam teks tajwid Punakawang. Hal ini tercermin dari tokoh utama wayang Punakawan, yaitu Kirula Semar yang merupakan badut utama dalam dunia pewayangan. Semar merupakan tokoh wayang dengan penampilan yang sangat sentral dan menawan sebagai pengawal para Pandawa. Tokoh wayang Semar memiliki nilai-nilai karakter yang berkaitan dengan nilai-nilai pendidikan karakter, menurut Kemendiknas. Nilai-nilai tersebut adalah: Religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, semangat kebangsaan, rasa ingin tahu, menghargai prestasi, gemar membaca, cinta tanah air, komunikatif, cinta damai, cinta lingkungan. Bahkan, tidak hanya Ki Lurah Semar, tokoh Gareng. Petruk, dan Bagong pun memiliki nilai-nilai seperti disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif, cinta damai, gemar Gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial. Patriotisme adalah pengakuan akan adanya tanah air yang nyata dan langsung, setara dengan semboyan sandang, pangan, dan papan saat ini (Santosa, 1987:. Patriotisme berasal dari kata Yunani patris yang berarti rumah. Istilah patriotisme adalah rasa kesetiaan dan kecintaan terhadap bangsa dan negara. Patriotisme juga dapat diartikan sebagai kekaguman dan kebanggaan terhadap adat istiadat bangsa, kebanggaan terhadap sejarah bangsa, dan pengabdian terhadap kepentingan Anak-anak sekolah dasar menyukai kamishibai karena membantu mereka mengidentifikasi masalah pribadi dan sosial ketika dihadapkan dengan masalah tersebut. Cerita bergambar merangsang imajinasi dan keingintahuan anak-anak tentang hal-hal gaib. Selain itu, ini juga memberikan anak-anak pelarian dari hiruk pikuk kehidupan sehari-hari, karena sebagian besar anak-anak saat ini menggunakan gadget secara berlebihan. Cerita bergambar Punakawan mudah dimengerti oleh anak-anak sekolah dasar, bahkan anak-anak yang belum pandai membaca dan menulis pun dapat memahami maksud dari gambar-gambar tersebut. Dalam Kamishibai, karakter-karakternya sering melakukan atau mengatakan hal-hal yang secara sadar dapat memotivasi anak-anak untuk bertindak dengan cara yang patriotik. Dikenal luas sebagai karakter dengan berbagai karakter, ia mencintai negaranya dan merupakan karakter heroik yang dapat dihubungkan dengan anak-anak. Gambargambar Kamishibai penuh warna dan cukup sederhana untuk dimengerti oleh anak-anak (McGowan, 2. Patriotisme adalah rasa persatuan yang mewakili negara dan bangsa. Patriotisme juga dapat dikatakan sebagai melindungi negara. Seperti yang diungkapkan oleh Purandina & Wedananta . yang menjelaskan bahwa konsep bela negara dirumuskan oleh para pembuat undang-undang dan pejabat negara yang mengungkapkan unsur patriotisme. Lebih lanjut mereka mengatakan bahwa sikap bela negara adalah tekad, sikap dan perilaku warga negara yang teratur, menyeluruh, terpadu dan berlanjut yang dilandasi oleh kecintaan pada tanah air. Bela negara pada hakikatnya adalah kesediaan seluruh warga negara untuk mengabdi kepada negaranya dan berkorban untuk melindunginya. Dari pendapat Purandina & Wedananta tersebut, kami menyimpulkan bahwa ciri-ciri patriotisme yaitu bertanggung jawab terhadap keutuhan dan keamanan negara, mencintai negara, mengabdi pada negara, dan rela berkorban untuk negara juga terdapat pada tokoh Punakawan (Nova Sulistiani et al. , 2022. Purandina & Wedananta, 2. Simbol Kerendahan Hati Punokawan juga berarti pelayan. Dalam dunia Wayan, dapat dibedakan antara abdi yang berkarakter baik dan abdi yang berkarakter buruk. Karakter abdi yang baik diwakili oleh Semar. Garen. Petruk, dan Bagon. Karakter Punokawan ditampilkan pada sesi rooling. Jika Anda perhatikan dengan seksama. Anda akan menemukan bahwa semua pertunjukan wayang memiliki kesamaan. Film asli India tidak memiliki nama karakter utama. Punokawan hanyalah sebuah manifestasi dari bahasa komunikasi yang diciptakan oleh para Sunan, atau Wali, yang menyebarkan agama Islam di Jawa. Punokawan diyakini berasal dari kata 'pana', yang berarti mengetahui dengan jelas, dan teman, yang berarti teman atau rekan. Punakawan mengacu pada seorang teman yang memiliki kemampuan untuk melihat, mengevaluasi, dan mencerna semua kejadian dan peristiwa alam, tidak hanya yang terjadi dalam kehidupan Punakawan juga dapat diartikan sebagai pengasuh, pembimbing yang memiliki kecerdasan intelektual, ketajaman batin, nalar, pemahaman yang luas, sikap yang arif, dan kebijaksanaan dalam segala ilmu pengetahuan, atau sebagai badut yang mengawal raja dan bangsawan. Punakawan dikenal dalam dunia seni sebagai Wayang baik untuk Wayang Orang maupun Wayang Kulit. Punakawan adalah tokoh dalam dunia pewayangan yang memiliki bentuk aneh dan menarik, seperti kepribadian dan tingkah lakunya. Sosok badut ini tidak ditemukan dalam Mahabharata atau mitologi Hindu asli. Tokoh-tokoh ini konon diciptakan oleh Sunan Kalijaga sebagai salah satu media penyebaran agama Islam di Proceedings homepage: https://conferenceproceedings. id/pssh/issue/view/36 ISSN: 2808-103X tanah Jawa. Punakawan terdiri dari Semar. Galen. Petruk dan Bagong. Karakter-karakter ini tidak lebih dari abdi dalem atau bangsawan, namun mereka sering menemukan solusi untuk masalah. Di balik karakter mereka yang unik dan menghibur, ada petuah bijak yang masih relevan hingga saat ini. Petuah ini menginspirasi para raja dan bangsawan dalam pewayangan untuk menyelesaikan masalah. Petuah ini masih menjadi pedoman masyarakat Jawa dalam kehidupan sehari-hari. Perilaku dan sikap badut adalah simbol kerendahan hati orang Jawa dan para Filosofi Karakter Wayang Punakawan Kepribadian Semar selalu rendah hati, tidak sombong, jujur dan penyayang kepada sesama. Kepribadian Semar adalah contoh karakter yang baik. Manfaat yang dikemas, tapi jangan lupa manfaat yang Anda miliki. Semar mengacungkan jari telunjuknya melambangkan KARSA/dorongan kreatif yang kuat. Menyipitkan mata melambangkan ketelitian dan keseriusan dalam berkarya. Manusia hanya berusaha, namun Tuhan yang menentukan hasil akhirnya. Seperti filosofi disabilitas-disabilitas yang tepat, cacat kaki menandakan bahwa orang perlu memperhatikan kehidupan, dan gangguan penglihatan menandakan bahwa orang perlu memahami realitas kehidupan. Semar memiliki anak kedua. Karena kegagalan mengembangbiakkan Gareng. Petruk lahir sebagai hak cipta dengan tangan dan kaki yang panjang, tubuh yang tinggi langsing, hidung yang mancung, dan rasa yang membuatnya tampak lebih tampan dengan banyak manfaat. Bentuk tubuh Bagong mencerminkan kebutuhan masyarakatnya untuk menjadi sederhana, sabar, dan tidak terbebani oleh cara hidup dunia. Anak ketiga dari Semar. Sosok KARYA dianggap sebagai manusia yang sebenarnya. Petruk penuh dengan keindahan dan kesempurnaan, namun dianggap sebagai manusia yang tidak sempurna karena ketidaksempurnaannya. KESIMPULAN Kajian nilai kearifan lokal pada pertunjukan Wayang Punakawan menunjukkan bahwa pertunjukan ini sangat menarik dari segi penokohan. Tokoh-tokoh, termasuk Punakawan yang muncul dalam buku cerita bergambar ini diperkenalkan dengan sangat detail. Salah satu gambaran detail tentang Punakawan adalah sikapnya yang sopan, rendah hati, pekerja keras, dan disiplin. Sikap Punakawan tersebut dapat diterapkan dalam pembelajaran bahasa Indonesia dimana pemahaman wacana diajarkan dengan membaca kutipan atau ringkasan teks bacaan wayang Punakawan. DAFTAR PUSTAKA