Publish by UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu ISSN: P 2527-6875 | E 2684-9569 Vol. No. June 2025 | Pages. This Article is licensed under a Creative Commons Attribution 4. Interntional Lincese Al-Bahtsu Jurnal Penelitian Pendidikan Islam Nilai-Nilai Pendidikan Karakter dalam Novel Merindu Cahaya De Amstel Nova Diana SMP Negeri 01 Seluma diananova625@gmail. Abstract Character has a crucial role in maintaining the existence of a nation in the eyes of the world. Even though efforts have been made to instill the values of character education, the hope that young students from among students have good emotional intelligence is actually broken by deviant phenomena that still often occur. Responding that more efforts are needed beyond formal education in instilling character education values, this progressive era has paved the way for students to easily recognize and absorb character education values from various media. Novel is part of literature which also aims to educate people's lives. One novel that contains character education values and is considered to have a positive impact on instilling character values among adolescents is the novel Merindu Cahaya de Amstel by Arumi Ekowati. This type of research is library research . ibrary researc. The data collection technique that the authors use in this study uses the documentation method. The results of this study indicate that in the novel Merindu Cahaya de Amstel there are values of character education including religious values, fond of reading, independence, hard work, creativity, and tolerance. The relevance of character education values in the lives of today's youth can be found in family, school and community life. Keywords: Character Education Values. Novels. Today's Teenagers. How to cite this article: Diana. Nilai-Nilai Pendidikan Karakter dalam Novel Merindu Cahaya De Amstel. AlBahtsu: Jurnal Penelitian Pendidikan Islam, 10. , 1-7. Received: 1/4/2025 Revised: 4/4/2025 Accepted: 4/24/2025 2 | Nova Diana PENDAHULUAN Karakter memiliki peranan yang krusial dalam mempertahankan eksistensi bangsa dimata dunia. Hal ini dikarenakan kekuatan dan kebesaran suatu bangsa mengacu pada kekuatan karakternya yang menjadi tulang punggung bagi setiap bentuk kemajuan lahiriah bangsa tersebut. Kendatipun telah dilakukan upaya penanaman nilai-nilai pendidikan karakter, harapan bahwa para remaja dari kalangan peserta didik memiliki kecerdasan emosi yang baik justru terpatahkan dengan fenomena menyimpang yang masih kerap terjadi. Era berkemajuan ini telah membuka jalan untuk peserta didik dapat dengan mudah mengenali dan menyerap nilai-nilai pendidikan karakter dari berbagai media salah satunya novel. Salah satu novel yang berisikan nilai-nilai pendidikan karakter dan dianggap dapat memberikan dampak positif terhadap penanaman nilai-nilai karakter dikalangan remaja adalah novel Merindu Cahaya de Amstel karya Arumi Ekowati. Pendidikan karakter diyakini sebagai aspek penting dalam peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM), karena turut menentukan kemajuan suatu bangsa. Hal ini disebabkan pendidikan karakter adalah upaya membentuk citra dan jati diri bangsa yang berlandaskan Pancasila. Pendidikan karakter ini merupakan proses penanaman nilai-nilai karakter yang membuat peserta didik memiliki budi pekerti dan moral yang baik sehingga peserta didik dapat menjadi manusia seutuhnya. Dalam dunia pendidikan Indonesia, pendidikan karakter adalah upaya mewujudkan pendidikan yang tidak hanya berfokus dalam mencerdaskan peserta didik dari aspek pengetahuan semata. Upaya ini diharapkan dapat memberi dampak peningkatan mutu penyelenggaraan dan hasil pendidikan yang berujung pada terbentuknya karakter positif dan akhlak mulia dalam diri peserta didik. Dengan begitu diharapkan peserta didik mampu secara mandiri meningkatkan dan mempersonalisasikan nilai-nilai karakter dan akhlak mulia sehingga terwujud dalam perilaku sehari-hari. Tujuan dari pendidikan karakter adalah membangun generasi yang jujur, cerdas, tangguh, dan peduli. Pendidikan karakter bertujuan untuk menjadikan seseorang menjadi dirinya sendiri yang tumbuh sejalan dengan bakat, watak, kemampuan, dan hati nuraninya secara utuh. Hal ini dikarenakan pendidikan karakter adalah upaya mendidik anak-anak agar dapat mengambil keputusan dengan bijak dan mempraktikannya dalam kehidupan sehari-hari sehingga mereka dapat memberikan kontribusi yang positif kepada Meningkatnya mutu hasil dari pendidikan yang mengarah pada pencapaian pembentukan karakter positif dan akhlak mulia secara utuh, terpadu, dan seimbang dapat dicapai apabila pendidikan karakter telah berlangsung dengan baik. Dalam rangka lebih memperkuat pelaksanaan pendidikan karakter pada satuan pendidikan, telah teridentifikasi 18 nilai yang bersumber dari agama. Pancasila, budaya, dan tujuan pendidikan nasional, diantaranya : religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggungjawab. Novel sebagai salah satu dari karya sastra ini adalah cerita atau rekaan . , disebut juga teks naratif . arrative tex. atau wacana naratif . arrative discours. Novel Publish by UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu Vol. No. June 2025 | Pages. 1-7 | 3 merupakan salah satu bentuk karya sastra yang menghadirkan berbagai gambaran kehidupan manusia yang dituangkan oleh pengarang dalam bentuk tulisan. Novel adalah salah satu bentuk karya sastra yang kerap kali melalui karya sastra seorang pengarang mengungkapkan problema kehidupan. Namun, novel hanya menceritakan salah satu segi kehidupan sang tokoh yang benar-benar istimewa, yang mengakibatkan terjadinya perubahan nasib. Novel sebagai karya fiksi menawarkan sebuah dunia yang berisi model kehidupan yang diidealkan, dunia imajinatif yang dibangun melalui berbagai unsur intrinsiknya seperti peristiwa, plot, tokoh dan penokohan, latar dan sudut pandang yang kesemuanya bersifat imajinatif, walaupun semua yang direalisasikan pengarang sengaja dianalogikan dengan dunia nyata tampak seperti sungguh ada, hal ini terlihat sistem koherensinya Novel memiliki unsur-unsur pembentuk sebagaimana karya sastra yang lain. Novel memiliki unsur intrinsik dan ekstrinsik. Unsur intrinsik pada novel terdiri dari tema, latar, amanat, alur, penokohan, sudut pandang, dan gaya bahasa. Adapun unsur ekstrinsik novel adalah sejarah atau biografi pengarang, situasi dan kondisi, serta nilai-nilai dalam METODE Pendekatan yang digunakan peneliti adalah kajian pustaka atau yang dikenal juga library research. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif, yaitu penelitian yang menganalisis suatu permasalahan secara sistematis dan akurat mengenai fakta dan objek Pemaparan dalam penelitian ini mengarah pada penjelasan deskriptif sebagai ciri khas penelitian kualitatif. Sumber data primer dalam penelitian ini adalah novel berjudul Merindu Cahaya de Amstel karya Arumi Ekowati. Sedangkan, sumber sekunder berupa makalah, jurnal, artikel dan karya ilmiah yang berkaitan dengan nilai-nilai pendidikan karakter. Teknik pengumpulan data yang penulis gunakan dalam penelitian ini menggunakan metode dokumentasi, yaitu untuk mencari dan mengumpulkan data melalui penelusuran dan penelaahan terhadap sumber-sumber data. Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah bentuk analisis isi. Analisis isi atau content analysis adalah teknik penelitian yang berfokus pada konteks . untuk membuat kesimpulan yang ditiru dan data yang valid. HASIL DAN PEMBAHASAN Tinjauan Novel Merindu Cahaya de Amstel Merindu Cahaya de Amstel adalah novel karya Arumi E yang dicetak pertama kali pada September 2016. Buku dengan nomor ISBN 978-602-03-2010-6 ini terdiri dari 23 bab dengan total 280 halaman. Novel yang bertema religi ini memiliki alur campuran . dengan sudut pandang orang ketiga serba tahu. Novel ini memiliki kisah berlatar dua negara, yakni Belanda dan Indonesia. Latar Belanda cukup mendominasi cerita didalamnya menjadikan novel ini memiliki latar waktu berupa empat musim, yakni gugur, dingin, semi, dan panas. Dikemas dalam latar suasana yang beragam menjadikan kisah novel Merindu Cahaya de Amstel berkesan. Novel Merindu Cahaya de Amstel melibatnya banyak tokoh di dalamnya yang memiliki karakter berbeda-beda. Menjadi novel yang This Article is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 Interntional Lincese 4 | Nova Diana bertema religi menjadikan novel ini menyisakan pesan bernuansa islam, salah satunya tentang keistiqomahan yang dicerminkan oleh tokoh utama bernama Khadija. Nilai-Nilai Pendidikan Karakter dalam Novel Merindu Cahya de Amstel Setelah dilakukan penelitian ditemukan bahwa Novel Merindu Cahaya de Amstel memuat nilai-nilai pendidikan karakter. Ada enam nilai-nilai pendidikan karakter dalam novel ini diantaranya : karakter religius, gemar membaca, kreatif, kerja keras, mandiri, dan Nilai karakter religius sendiri memiliki beberapa indikator diantaranya menutup aurat, shalat, bersyukur, puasa, mengucapkan salam, dan iman kepada malaikat-malaikat Allah SWT. Religius Karakter religius yang dimiliki oleh tokoh utama bernama Khadija ini dapat dibuktikan dengan adanya indikator yang menguatkan seperti menutup aurat, shalat, bersyukur, mengucapkan salam, puasa, dan iman kepada malaikat-malaikat Allah SWT. Gemar Membaca Keberadaan karakter gemar membaca dalam novel Merindu Cahaya de Amstel dapat terlihat dari narasi-narasi penulis yang menggambarkan Khadija sebagai tokoh yang gemar membaca buku sembari menikmati sore di Museumplein. Bahkan. Khadija selaku tokoh utamanya juga mengakui hal tersebut dengan menyatakan AuAku senang membaca. Mala. Aku tahu Aceh disebut sebagai Serambi Mekkah dan itu bikin aku penasaran kenapa disebut begitu. Ay Mandiri Karakter mandiri dalam novel Merindu Cahaya de Amstel dimiliki oleh tokoh Mala dan Nico yang keduanya sama-sama tinggal jauh dari keluarga dan mendapatkan beasiswa di bangku kuliah. Keduanya sama-sama menjalani kehidupan di Belanda dengan kuliah sembari bekerja. Kemandirian tokoh Nico secara jelas dinyatakan sebagaimana berikut ini. AuUntuk kebutuhan hidup dan menyewa kamar apartemen, dia tanggung sendiri. Sejak berusia delapan belas tahun, dia berlatih hidup mandiri. Ay Sementara itu, karakter mandiri yang dimiliki oleh Mala dapat disimpulkan dari narasi berikut ini. AuAda sedikit uang saku, dan dia masih menambah penghasilannya dari mengajar menari dan sesekali tampil di pertunjukan seniAy Kerja Keras Karakter kerja keras yang ditemukan dalam novel Merindu Cahaya de Amstel ini tergambar dari tokoh Mala dan Nico dengan kemandirian masing-masing. Keduanya sama-sama kuliah sembari bekerja. Kerja keras Nico adalah dengan menjadikan hobi memotretnya sebagai sumber penghasilan. Sebagaimana kutipan berikut. AuDia tak membatasi pekerjaannya. Apapun tawaran yang datang padanya, tak segan dia terima selama itu bisa menghasilkan uangAy Sedangkan. Mala bekerja keras dengan kemampuannya dalam mengajar menari tarian Indonesia. Bukti karakter kerja keras pada diri Mala juga dapat terlihat dalam kutipan berikut. Publish by UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu Vol. No. June 2025 | Pages. 1-7 | 5 AuDia juga giat mengajar menari. Terkadang saat ada yang membutuhkannya sebagai pengasuh anak, dia lakukan juga. Apapun pekerjaan halal yang ditawarkan teman atau kenalan temannya, dia kerjakanAy Kreatif Karakter kreatif dalam novel Merindu Cahaya de Amstel ditunjukkan oleh Mala yang dapat menciptakan tarian dengan judul Come into the light yang filosofinya adalah seseorang yang awalnya berada dalam kegelapan, kehilangan arah dan tujuan. Merasa bagai tersesat dan hidupnya tak keruan. Sampai akhirnya dia menemukan secercah cahaya, dia berusaha masuk ke cahaya itu, dan di sana dia menemukan tujuan hidupnya dan merasakan kedamaian yang sebelumnya dia cari. Toleransi Karakter toleransi dalam novel Merindu Cahaya de Amstel ini tampak pada tokoh Tante Mirthe sebagai satu-satunya anggota keluarga yang menerima Khadija setelah Khadija memutuskan menjadi mualaf. Meskipun dia tidak memahami keputusan Khadija, tapi dia tidak pernah mendebat dan tetap menerima Khadija untuk berkunjung ke Bahkan, toleransinya ini diuji saat Pieter sebagai anak laki-lakinya memutuskan menjadi mualaf mengikuti jejak Khadija. Ini tampak dalam kutipan berikut. AuPerasaannya campur aduk. Di satu sisi dia mendukung toleransi, dia menghargai hak tiap orang untuk memilih jalan hidupnya sendiri. Tapi. Pieter putranya, dia berharap bisa bersama dalam jalan hidup yang sama dengan Pieter. Ay Relevansi Nilai-Nilai Pendidikan Karakter dalam Novel Merindu Cahaya de Amstel dengan Kehidupan Remaja Saat Ini Setelah dilakukan penelitian ditemukan bahwa Novel Merindu Cahaya de Amstel memuat nilai-nilai pendidikan karakter. Ada enam nilai-nilai pendidikan karakter dalam novel ini diantaranya : karakter religius, gemar membaca, kreatif, kerja keras, mandiri, dan Nilai-nilai pendidikan karakter tersebut relevan dengan kehidupan remaja saat ini, sebagaimana berikut. Religius Karakter religius yang dimiliki oleh tokoh utama bernama Khadija ini dapat dibuktikan dengan adanya indikator yang menguatkan seperti menutup aurat, shalat, bersyukur, mengucapkan salam, puasa, dan iman kepada malaikat-malaikat Allah SWT ini relevan dengan kehidupan remaja saat ini. Saat ini, masih dapat ditemui remaja yang menutup aurat, mengerjakan shalat, bersyukur, mengucapkan salam, berpuasa, serta percaya dan yakin bahwa malaikat itu ada. Sebagai salah satu contohnya adalah kutipan tentang menutup aurat berikut. AuGadis itu mengenakan kerudung panjang, gaun panjang lebar, juga kemeja berlengan panjangAy Hal ini relevan dengan kehidupan remaja saat ini. Masih dapat ditemui dalam keseharian muslimah yang menggunakan busana demikian. Gemar Membaca Berdasarkan data Perpustakaan Nasional (Perpusna. , tingkat kegemaran membaca (TGM) masyarakat Indonesia sebesar 63,9 poin pada 2022. Skor tersebut meningkat 7,4% This Article is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 Interntional Lincese 6 | Nova Diana dibandingkan setahun sebelumnya yang sebesar 59,52% poin. Hal ini menunjukkan adanya relevansi nilai karakter gemar membaca dalam novel Merindu Cahaya de Amstel dengan kehidupan remaja saat ini. Mandiri Karakter mandiri yang dimiliki oleh Mala dan Nico dengan hidup jauh dari keluarga terbukti relevan dengan kehidupan remaja saat ini khususnya kalangan mahasiswa/i dan tenaga kerja yang merantau. Kerja Keras Karakter kerja keras yang juga dimiliki oleh Mala dan Nico terlihat lantaran keduanya sama-sama kuliah sembari bekerja. Hal ini relevan dengan kehidupan remaja saat ini yang tak jarang memiliki pekerjaan paruh waktu . art tim. dengan menjadi guru les privat anak sekolah, menjadi ojek online, bahkan sampai berwirausaha dengan jualan makanan/minuman, berjualan pakaian, sampai produk handmade seperti membuat hampers dan buket bunga. Kreatif Karakter kreatif yang dimunculkan pada tokoh Mala dalam novel Merindu Cahaya de Amstel ini relevan dengan remaja saat ini yang memiliki daya kreativitas tinggi dalam platform digital. Tak jarang kreativitas remaja ini menjadikannya sebagai seorang content creator, youtuber, selebgram, dan sejenisnya. Toleransi Karakter toleransi yang dimiliki oleh Tante Mirthe dalam novel Merindu Cahaya de Amstel ini relevan dengan kehidupan remaja saat ini sebab pola pikir yang dewasa melahirkan kebijaksanaan dalam menjalani hidup atau menyikapi suatu persoalan. KESIMPULAN Berdasarkan hasil kajian yang dilakukan peneliti maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : Adapun nilai-nilai pendidikan karakter yang terkandung dalam novel Merindu Cahaya de Amstel ada tujuh, diantaranya nilai religius, gemar membaca, mandiri, kerja keras, kreatif, dan toleransi. Adapun nilai-nilai pendidikan karakter yang ditemukan dalam novel Merindu Cahaya de Amstel ini masih relevan dengan kehidupan remaja saat ini. Baik dalam kehidupan keluarga, di sekolah, ataupun ditengah-tengah masyarakat. DAFTAR PUSTAKA