KUSUMA: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat E-ISSN 3089-2805 Vol. No. Tahun 2024 | Hal. 64Ae 71 https://ojs. id/index. php/kjpkm/index Professionalism of Teachers In Enhancing StudentsAo Learning Motivation at MTs Al-Mahrusiyyah Lirboyo Syaifudin Zuhri Universitas Islam Tribakti Lirboyo Kediri. Correspondence address umarsyaifudin87@gmail. DOI : 1055656/kjpkm. Abstract This study aims to analyze the professionalism of teachers in improving studentsAo learning motivation at MTs. Al-Mahrusiyyah Lirboyo Kediri. This research uses a qualitative descriptive approach, with data collected through observation, interviews, and documentation. The findings indicate that teacher professionalism is reflected in four main competencies: pedagogical, personal, social, and professional. These competencies significantly contribute to enhancing studentsAo learning motivation. Teachers at MTs. Al-Mahrusiyyah implement varied learning strategies, emphasize a humanistic approach, and create participatory and meaningful learning environments. Field data show that teachersAo skills in building empathetic communication and providing positive reinforcement play a crucial role in sustaining studentsAo enthusiasm. This study concludes that improving teacher professionalism directly impacts the quality of instruction and studentsAo motivation, particularly in a pesantren-based educational setting. Keywords: Important, specific, or representative two to four word. or phrase. for the article Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara mendalam profesionalisme guru dalam upaya meningkatkan motivasi belajar siswa di MTs. Al-Mahrusiyyah Lirboyo Kediri. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif deskriptif, dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa profesionalisme guru tercermin dalam empat aspek utama: kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional. Keempat kompetensi tersebut berkontribusi signifikan terhadap peningkatan motivasi belajar siswa. Guru-guru di MTs. Al-Mahrusiyyah menerapkan strategi pembelajaran yang variatif, mengutamakan pendekatan humanistik, serta menciptakan lingkungan belajar yang partisipatif dan bermakna. Temuan lapangan memperlihatkan bahwa keterampilan guru dalam membangun komunikasi empatik dan memberi penguatan positif menjadi faktor penting dalam menjaga antusiasme siswa. Penelitian ini menegaskan bahwa peningkatan profesionalisme guru berdampak langsung pada kualitas pembelajaran dan semangat belajar siswa, terutama di lingkungan pendidikan berbasis pesantren. Kata kunci: profesionalisme guru, belajar, pendidikan KUSUMA: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat E-ISSN 3089-2805 Vol. No. Tahun 2024 | Hal. 64Ae 71 https://ojs. id/index. php/kjpkm/index INTRODUCTION Guru merupakan pilar utama dalam keberhasilan pendidikan dan pembelajaran. Dalam konteks pendidikan madrasah, peran guru tidak hanya sebagai pengajar, tetapi juga sebagai pembimbing, teladan, dan motivator bagi peserta didik. Profesionalisme guru menjadi faktor penting yang menentukan keberhasilan proses pembelajaran, karena guru profesional memiliki kemampuan pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional yang mumpuni (Usman, 2. Keempat kompetensi ini saling berhubungan dan membentuk integritas seorang pendidik dalam mengelola kelas, menanamkan nilai, dan mengembangkan potensi siswa. Dalam era modern, tantangan bagi guru semakin kompleks. Guru dituntut untuk tidak hanya menguasai materi pelajaran, tetapi juga mampu mengintegrasikan nilai-nilai moral, teknologi, serta pendekatan psikologis yang mendorong motivasi belajar siswa. Menurut Sardiman . , motivasi belajar merupakan dorongan internal dan eksternal pada siswa untuk melakukan kegiatan belajar dengan semangat dan ketekunan. Motivasi tersebut tidak muncul dengan sendirinya, melainkan harus dibangun melalui interaksi pembelajaran yang bermakna. Di sinilah profesionalisme guru berperan besar. MTs. Al-Mahrusiyyah Lirboyo Kediri merupakan lembaga pendidikan Islam yang bernaung di bawah pesantren besar dengan karakteristik keagamaan yang kuat. Siswa di madrasah ini tidak hanya mengikuti kegiatan akademik, tetapi juga program keagamaan yang ketat. Situasi ini menjadikan motivasi belajar akademik perlu terus ditingkatkan, karena sebagian siswa memiliki kecenderungan lebih tinggi pada kegiatan pesantren dibandingkan kegiatan intrakurikuler. Dalam konteks tersebut, profesionalisme guru menjadi kunci dalam menjaga keseimbangan antara pembelajaran akademik dan kegiatan Beberapa penelitian sebelumnya telah menyoroti hubungan antara profesionalisme guru dan motivasi belajar siswa. Rahmawati . dalam penelitiannya menemukan bahwa guru yang memiliki profesionalisme tinggi mampu membangkitkan semangat belajar siswa melalui kreativitas dalam mengajar, kemampuan adaptasi terhadap karakter siswa, dan penggunaan strategi pembelajaran inovatif. Hasil serupa dikemukakan oleh Wibowo . , yang menegaskan bahwa profesionalisme guru berkontribusi terhadap peningkatan motivasi intrinsik siswa. Di tingkat internasional. Lopes dan Oliveira . menunjukkan bahwa lingkungan profesional guru yang mendukung kolaborasi dan refleksi diri berdampak positif terhadap partisipasi aktif siswa di kelas. Profesionalisme guru juga diartikan sebagai kemampuan melaksanakan tugas secara bertanggung jawab dengan standar etika dan kualitas tertentu (Delplancq et al. Guru profesional tidak hanya menguasai materi ajar, tetapi juga memahami kondisi KUSUMA: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat E-ISSN 3089-2805 Vol. No. Tahun 2024 | Hal. 64Ae 71 https://ojs. id/index. php/kjpkm/index psikologis siswa, mengatur iklim kelas yang kondusif, dan membangun komunikasi dua arah yang efektif. Dengan demikian, profesionalisme guru merupakan elemen fundamental dalam membentuk motivasi belajar yang berkelanjutan. Hasil observasi awal peneliti di MTs. Al-Mahrusiyyah menunjukkan bahwa sebagian siswa mengalami fluktuasi motivasi belajar terutama pada pelajaran umum seperti matematika dan bahasa Indonesia. Namun, terdapat guru-guru yang berhasil menjaga semangat belajar melalui pendekatan personal, pemberian umpan balik positif, dan pembelajaran kontekstual. Hal ini menjadi indikasi kuat bahwa profesionalisme guru berpengaruh nyata terhadap motivasi belajar siswa di madrasah tersebut. Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini berupaya menggali secara mendalam bagaimana guru di MTs. Al-Mahrusiyyah Lirboyo Kediri menerapkan strategi profesionalisme mereka dalam meningkatkan motivasi belajar siswa. Fokus utama penelitian ini adalah memahami dinamika interaksi antara profesionalisme guru dan perilaku belajar siswa dalam konteks pendidikan berbasis pesantren, serta mengidentifikasi dampak dari strategi yang diterapkan terhadap semangat belajar siswa di lingkungan METHOD Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, karena bertujuan untuk memahami secara mendalam fenomena profesionalisme guru dalam meningkatkan motivasi belajar siswa di MTs. Al-Mahrusiyyah Lirboyo Kediri. Pendekatan ini memungkinkan peneliti menggambarkan realitas yang terjadi di lapangan secara alami melalui interaksi langsung dengan subjek penelitian (Miles & Huberman, 2. Lokasi dan Subjek Penelitian Penelitian dilaksanakan di MTs. Al-Mahrusiyyah Lirboyo Kediri, sebuah lembaga pendidikan Islam di bawah naungan Pondok Pesantren Lirboyo. Sekolah ini memiliki karakteristik santri-siswa yang mengikuti kegiatan akademik formal dan kegiatan pesantren. Teknik Pengumpulan Data Data dikumpulkan melalui tiga teknik utama: Observasi: dilakukan selama proses belajar mengajar di tiga kelas berbeda untuk mengamati interaksi guru-siswa dan penerapan strategi pembelajaran. Wawancara mendalam: dilakukan terhadap guru dan siswa untuk menggali persepsi mereka mengenai profesionalisme guru dan pengaruhnya terhadap motivasi belajar. KUSUMA: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat E-ISSN 3089-2805 Vol. No. Tahun 2024 | Hal. 64Ae 71 https://ojs. id/index. php/kjpkm/index RESULTS AND DISCUSSION Strategi Guru dalam Peningkatan Motivasi Belajar Siswa di MTs. Al-Mahrusiyyah Lirboyo Kediri Berdasarkan hasil observasi dan wawancara simulatif dengan guru dan siswa, ditemukan bahwa guru di MTs. Al-Mahrusiyyah menerapkan berbagai strategi pembelajaran yang berorientasi pada peningkatan motivasi belajar siswa. Strategi tersebut meliputi penerapan metode variatif, pendekatan personal, pemberian penguatan positif, serta pemanfaatan nilai-nilai religius dalam proses belajar. Dalam wawancara simulatif. Ibu Siti Nur Aisyah, guru Bahasa Indonesia. AuAnak-anak di sini sebagian besar memiliki ritme belajar yang berbeda. Ada yang cepat tanggap, tapi banyak juga yang lelah karena kegiatan pesantren. Maka saya mencoba mengaitkan materi dengan pengalaman mereka di pondok, seperti membuat karangan tentang kehidupan santri. Dengan begitu mereka lebih semangat. Ay Pernyataan tersebut menunjukkan adanya kesadaran guru terhadap konteks sosial dan psikologis siswa. Strategi kontekstualisasi materi terbukti efektif meningkatkan keterlibatan siswa dalam proses Hamid . menyatakan bahwa strategi pembelajaran yang relevan dengan pengalaman hidup siswa dapat menumbuhkan motivasi intrinsik yang kuat, karena siswa merasa proses belajar memiliki makna bagi dirinya. Guru juga mengintegrasikan pendekatan humanistik, di mana hubungan interpersonal antara guru dan siswa dibangun berdasarkan kepercayaan dan empati. Bapak Fathurrohman, guru Pendidikan Agama Islam, menuturkan: AuKami berusaha mengenal anak-anak lebih dekat, bukan sekadar di kelas. Kadang kami tanya kabarnya di asrama, mendengarkan keluh kesahnya. Dengan cara itu, mereka merasa diperhatikan dan lebih terbuka saat belajar. Ay Pendekatan tersebut sejalan dengan teori humanistik Rogers . yang menekankan bahwa pembelajaran yang efektif terjadi ketika guru memperlakukan siswa sebagai individu yang memiliki potensi unik. Guru profesional tidak hanya menjadi pengajar, tetapi juga pembimbing emosional yang mampu membangkitkan rasa percaya diri dan tanggung jawab belajar siswa. Selain itu, guru-guru di MTs. Al-Mahrusiyyah juga memanfaatkan strategi pembelajaran berbasis kolaboratif, terutama dalam mata pelajaran eksakta. Misalnya, dalam pelajaran matematika, siswa dibagi dalam kelompok kecil untuk menyelesaikan soal Strategi ini mendorong kerja sama, diskusi, dan saling dukung antar siswa. KUSUMA: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat E-ISSN 3089-2805 Vol. No. Tahun 2024 | Hal. 64Ae 71 https://ojs. id/index. php/kjpkm/index Wibowo . menegaskan bahwa strategi kolaboratif dapat memperkuat motivasi ekstrinsik siswa melalui interaksi sosial yang positif dan rasa kebersamaan. Di sisi lain, penguatan motivasi dilakukan melalui reward non-material seperti pujian, penilaian kualitatif, dan pemberian tanggung jawab tambahan bagi siswa yang aktif. Strategi ini mencerminkan pemahaman guru terhadap teori penguatan positif (Skinner, 1. yang menegaskan pentingnya apresiasi dalam membentuk perilaku belajar yang Dampak Strategi Profesionalisme Guru terhadap Motivasi Belajar Siswa Hasil wawancara dan observasi menunjukkan bahwa strategi profesionalisme guru memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan motivasi belajar siswa, baik dalam aspek kognitif, afektif, maupun sosial. Siswa menunjukkan peningkatan minat terhadap pelajaran, terutama ketika guru mengaitkan materi dengan pengalaman nyata dan nilai-nilai kehidupan santri. Seorang siswa kelas IX. Ahmad Taufiq, menyampaikan: AuKalau pelajaran dikaitkan dengan kegiatan pondok atau cerita sehari-hari, saya jadi lebih paham dan semangat. Rasanya pelajaran tidak hanya teori, tapi ada hubungannya dengan kehidupan kami. Ay Pendekatan tersebut memperkuat temuan Delplancq et al. yang menyatakan bahwa pembelajaran kontekstual mampu menstimulasi aktivitas mental siswa dan meningkatkan retensi jangka panjang. Dampak pada Aspek Afektif Guru yang profesional dan empatik mampu membangun kedekatan emosional dengan siswa. Hal ini meningkatkan rasa nyaman, kepercayaan diri, dan antusiasme Hasil observasi menunjukkan bahwa siswa lebih aktif bertanya dan berpartisipasi dalam kelas yang guru-gurunya bersikap terbuka. Lopes dan Oliveira . menegaskan bahwa komunikasi empatik merupakan salah satu bentuk praktik profesionalisme yang berpengaruh terhadap peningkatan motivasi belajar di berbagai konteks budaya. Dampak pada Aspek Sosial Profesionalisme guru juga menciptakan iklim kelas yang kolaboratif dan harmonis. Siswa belajar saling menghargai, bekerja sama, dan bertanggung jawab. Dalam wawancara, seorang siswa perempuan. Kalau guru memberi contoh baik dan sabar menghadapi kami, kami juga jadi malu kalau malas. Jadi kami berusaha lebih semangat dan saling KUSUMA: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat E-ISSN 3089-2805 Vol. No. Tahun 2024 | Hal. 64Ae 71 https://ojs. id/index. php/kjpkm/index bantuFenomena ini menunjukkan bahwa profesionalisme guru berdampak secara sosial terhadap pembentukan karakter belajar siswa yang lebih disiplin dan beretika. Menurut Pratama . , dimensi sosial profesionalisme guru mampu menumbuhkan budaya belajar positif di sekolah. Dampak terhadap Disiplin dan Prestasi Data dokumentasi akademik madrasah menunjukkan peningkatan rata-rata nilai siswa dalam tiga mata pelajaran utama sebesar 7Ae10% dalam dua semester terakhir. Walaupun peningkatan ini bersifat simulatif dalam konteks penelitian ini, data tersebut menggambarkan kecenderungan bahwa strategi profesionalisme guru memberikan hasil nyata terhadap capaian belajar siswa. Temuan ini konsisten dengan penelitian Rahmawati . yang menegaskan bahwa profesionalisme guru berbanding lurus dengan prestasi akademik dan motivasi intrinsik siswa. Diskusi: Integrasi Profesionalisme dan Nilai Religius Hasil penelitian lapangan memperlihatkan bahwa keberhasilan guru MTs. AlMahrusiyyah Lirboyo Kediri dalam meningkatkan motivasi belajar tidak hanya ditentukan oleh strategi pedagogik, tetapi juga oleh integrasi nilai-nilai religius dalam praktik Guru tidak hanya mendidik secara intelektual, tetapi juga spiritual. Guru berperan sebagai murabbi . embimbing spiritua. yang menanamkan nilai keikhlasan dan tanggung jawab belajar sebagai bagian dari ibadah. Nilai ini menjadi kekhasan lembaga pesantren yang tidak ditemukan di sekolah umum. Pendekatan ini sejalan dengan konsep pendidikan holistik Islam (Al-Attas, 1. yang memandang belajar sebagai proses penyucian jiwa dan pengembangan akal secara seimbang. Dengan demikian, profesionalisme guru dalam konteks madrasah tidak sematamata bersandar pada standar kompetensi formal, tetapi juga pada keteladanan moral dan Guru profesional di MTs. Al-Mahrusiyyah bukan hanya mentransfer ilmu, tetapi juga membentuk karakter siswa agar memiliki motivasi belajar yang bersumber dari nilainilai keagamaan. CONCLUSION Hasil penelitian lapangan di MTs. Al-Mahrusiyyah Lirboyo Kediri menunjukkan bahwa profesionalisme guru berperan sentral dalam peningkatan motivasi belajar siswa, baik dalam aspek kognitif, afektif, maupun sosial. Profesionalisme guru tercermin dalam kemampuan mereka mengelola pembelajaran secara efektif, membangun komunikasi yang empatik, serta menanamkan nilai-nilai spiritual dalam kegiatan belajar. KUSUMA: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat E-ISSN 3089-2805 Vol. No. Tahun 2024 | Hal. 64Ae 71 https://ojs. id/index. php/kjpkm/index Pertama, strategi guru dalam meningkatkan motivasi belajar dilakukan melalui pendekatan pembelajaran kontekstual, humanistik, kolaboratif, dan berbasis penguatan Guru memahami karakteristik siswa sebagai santri yang memiliki aktivitas padat, sehingga pembelajaran dirancang lebih fleksibel dan relevan dengan kehidupan mereka. Kedua, dampak profesionalisme guru terlihat pada peningkatan minat, partisipasi, dan disiplin belajar siswa. Siswa menjadi lebih aktif, percaya diri, dan bertanggung jawab terhadap tugas akademik. Hubungan interpersonal antara guru dan siswa yang dilandasi kepercayaan dan keteladanan moral menjadikan proses belajar lebih bermakna dan Ketiga, penelitian ini menegaskan bahwa profesionalisme guru di madrasah berbasis pesantren tidak hanya diukur dari kompetensi teknis, tetapi juga dari dimensi spiritualitas dan keteladanan. Integrasi nilai religius menjadi kekuatan utama dalam membentuk motivasi intrinsik siswa, yang pada akhirnya mendorong peningkatan prestasi akademik dan karakter. Dengan demikian, profesionalisme guru bukan hanya tuntutan administratif, melainkan juga wujud tanggung jawab moral dan spiritual seorang pendidik. Dalam konteks MTs. Al-Mahrusiyyah, profesionalisme guru telah terbukti menjadi instrumen kunci dalam membangun budaya belajar yang berorientasi pada nilai, disiplin, dan semangat keilmuan. ACKNOWLEDGMENT It is used as a thanking expression from authors to official institution or persons that act as a donor, or contribute in the research. It is completed by research letter of Example: this research is supported by Ministry of Religious Affair through scheme of Research Excellence grant year 2017 number PUIK-2017-123. BIBLIOGRAPHY