SJURNAL E STEOLOGI DAN PENDIDIKAN KRISTEN VOLUME 6. NO 2 JUNI 2025 Availble at: http://sttsabdaagung. Article Histori: Submited Reviewed Acepted Published : 16/01/2025 : 18/03/2025 : 07/06/2025 : 27/06/2025 PERAN ORANG TUA DALAM PEMBENTUKAN KARAKTER ANAK USIA DINI DI LINGKUNGAN KELUARGA Phidolija Tamonob Sekolah Tinggi Agama Kristen Arastamar Soe Email korespondensi: phidolijatamonobabrt@gmail. Abstract Early childhood character building is an important foundation in creating individuals with good personality and ethics. This study aims to analyze the role of parents in early childhood character building in the family environment. The research method used is descriptive qualitative with data collection through interviews, observations, and documentation studies of parents and early childhood. The results showed that parents have a central role in shaping children's character through the application of parenting, effective communication, and exemplary behavior. Children who grow up in a loving, disciplined, and consistent family environment tend to show positive character traits such as honesty, responsibility, and respect. The study concludes that parents should play an active and consistent role in guiding early childhood through a balanced approach of affection and discipline. This effort not only creates a harmonious family environment but also shapes children's character in facing future challenges. Keywords: role of parents, character building, early childhood, family environment. Abstrak Pembentukan karakter anak usia dini merupakan fondasi penting dalam menciptakan individu yang berkepribadian baik dan beretika. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran orang tua dalam pembentukan karakter anak usia dini di lingkungan keluarga. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan studi dokumentasi terhadap orang tua dan anak usia Hasil penelitian menunjukkan bahwa orang tua memiliki peran sentral dalam membentuk karakter anak melalui penerapan pola asuh, komunikasi yang efektif, dan keteladanan dalam perilaku. Anak yang tumbuh dalam lingkungan keluarga yang penuh kasih sayang, disiplin, dan konsistensi cenderung menunjukkan karakter positif seperti kejujuran, tanggung jawab, dan rasa hormat. Penelitian ini menyimpulkan bahwa orang tua harus berperan aktif dan konsisten dalam membimbing anak usia dini melalui pendekatan yang seimbang antara kasih sayang dan disiplin. Upaya ini tidak hanya menciptakan lingkungan keluarga yang harmonis tetapi juga membentuk karakter anak dalam menghadapi tantangan di masa depan. Kata Kunci: peran orang tua, pembentukan karakter, anak usia dini, lingkungan keluarga, pola asuh. CopyrightA 2025. SESAWI: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen. PENDAHULUAN Orang tua memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk karakter anak, baik melalui pengasuhan, keteladanan, maupun pola interaksi sehari-hari. Pembentukan karakter anak usia dini di lingkungan keluarga tidak hanya mencakup penanaman nilai-nilai moral, seperti kejujuran, tanggung jawab, dan rasa hormat, tetapi juga melibatkan pengembangan keterampilan sosial dan emosional. Proses ini memerlukan pendekatan yang seimbang antara kasih sayang, disiplin dan konsistensi dalam pengasuhan. Namun, berbagai tantangan muncul dalam praktiknya, seperti kesibukan orang tua, kurangnya pemahaman tentang pengasuhan yang efektif, serta pengaruh teknologi dan media sosial yang semakin besar dalam kehidupan keluarga. Lingkungan keluarga yang harmonis, penuh kasih sayang, dan mendukung dapat memberikan dampak positif yang signifikan terhadap pembentukan karakter anak. Sebaliknya, keluarga yang kurang memberikan perhatian atau tidak konsisten dalam pengasuhan dapat menyebabkan anak mengalami kesulitan dalam menginternalisasi nilainilai moral. Karakter adalah nilai-nilai moral dan etika yang tercermin dalam perilaku seseorang. Karakter tidak hanya menentukan bagaimana seseorang berinteraksi dengan lingkungan sosialnya, tetapi juga bagaimana ia menghadapi tantangan dalam kehidupan. Dalam konteks anak usia dini, karakter mencakup sikap disiplin, tanggung jawab, kejujuran, kasih sayang, serta sikap sosial yang baik. Anak yang memiliki karakter baik akan lebih mudah mengenali dirinya sendiri, memahami emosinya, serta mengetahui bagaimana cara bersikap di berbagai situasi. Karakter yang kuat akan membantu anak dalam membangun kepercayaan diri dan rasa tanggung jawab. Anak yang dibentuk dengan nilai-nilai karakter yang baik akan tumbuh menjadi pribadi yang jujur, bertanggung jawab, dan peduli terhadap sesama. Hal ini sangat penting dalam membangun masyarakat yang harmonis dan bermoral. Pembentukan karakter pada anak usia dini sangat penting karena menjadi dasar bagi perkembangan kepribadian, sosial, akademik, dan moral mereka di masa depan. Dengan membentuk karakter yang baik sejak dini, anak akan tumbuh menjadi pribadi yang kuat, percaya diri, serta mampu berinteraksi dengan lingkungan secara positif. Oleh karena itu, orang tua memiliki peran yang sangat besar dalam membimbing dan menanamkan nilainilai karakter kepada anak-anak sejak usia dini. Anak usia dini merupakan fase krusial dalam perkembangan individu, di mana fondasi karakter, nilai-nilai moral, dan kebiasaan hidup mulai terbentuk. Pada masa ini, anak belajar dari lingkungan terdekat, yaitu keluarga, yang menjadi tempat pertama mereka mendapatkan pendidikan informal. Anak usia dini merupakan anak yang berada pada kisaran usia 0-6 tahun, umumnya mereka akan mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang pesat sehingga usia ini adalah usia yang sangat menentukan dalam pembentukan karakter dan kepribadian seorang anak, oleh karena itu anak membutuhkan pola asuh dan didikan yang tepat. Keluarga merupakan forum pendidikan yang pertama dan utama dalam sejarah hidup sang anak yang menjadi dasar penting dalam pembentukan karakter dan kebiasaan-kebiasaan . abit formatio. yang positif bagi anak. 1Masa usia dini adalah Salwiah Salwiah and Asmuddin Asmuddin. AuMembentuk Karakter Anak Usia Dini Melalui Peran Orang Tua,Ay Jurnal Obsesi : Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini 6, no. : 2929Ae35. CopyrightA 2025. SESAWI: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen. periode emas . olden ag. dalam perkembangan seorang anak. Pada fase ini, anak mengalami perkembangan yang pesat dalam aspek kognitif, emosional, sosial, dan spiritual. Karakter yang ditanamkan sejak usia dini akan membentuk dasar kepribadian anak di masa Oleh karena itu, penelitian ini fokus pada peran orang tua dalam pembentukan karakter anak usia dini di lingkungan keluarga. Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana pola asuh, komunikasi, dan keteladanan orang tua berkontribusi terhadap perkembangan karakter anak. Diharapkan hasil penelitian ini dapat memberikan wawasan bagi orang tua, pendidik, dan masyarakat umum dalam menciptakan lingkungan keluarga yang mendukung pembentukan karakter anak secara optimal. Kemajuan teknologi telah membawa perubahan signifikan dalam kehidupan manusia, termasuk dalam pola asuh dan interaksi antara orang tua dan anak. Di era digital saat ini, anak-anak tumbuh dalam lingkungan yang dipenuhi dengan teknologi, seperti perangkat elektronik, internet, dan media sosial, yang dapat memengaruhi pembentukan karakter mereka secara positif maupun negatif. Orang tua, sebagai pendidik utama dan pertama bagi anak, menghadapi tantangan yang semakin kompleks dalam membimbing dan membentuk karakter anak di tengah derasnya arus informasi dan pengaruh teknologi. Pembentukan karakter anak mencakup penanaman nilai-nilai moral, etika, tanggung jawab, disiplin, dan empati. Proses ini sangat bergantung pada peran aktif orang tua dalam menciptakan lingkungan keluarga yang kondusif dan memberikan teladan yang baik. Namun, tantangan muncul ketika teknologi mulai menggantikan peran interaksi langsung dalam keluarga, menyebabkan komunikasi yang kurang efektif, pengawasan yang minim, serta paparan anak terhadap konten yang tidak sesuai dengan usia atau nilai-nilai keluarga. Meski demikian, teknologi juga memiliki potensi positif jika digunakan dengan bijak. Orang tua dapat memanfaatkan teknologi sebagai alat edukasi dan sarana komunikasi yang mendukung pembentukan karakter anak. Hal ini memerlukan keterampilan orang tua untuk menyeimbangkan penggunaan teknologi dengan pola asuh yang sesuai, sehingga teknologi menjadi pendukung, bukan penghambat, dalam pembentukan karakter anak. Karakter anak, banyak ditemui fakta-fakta yang menggambarkan adanya masalah dalam pembentukan karakter anak. Masalah-masalah ini dapat ditemukan dalam berbagai konteks, mulai dari keluarga, sekolah, hingga lingkungan sosial tempat anak berinteraksi diantaranya, terdapat peningkatan kasus perilaku agresif di sekolah yakni banyak anak yang menunjukkan perilaku agresif baik secara fisik maupun verbal terhadap temanteman sebayanya. Perilaku ini sering terjadi akibat kurangnya pengendalian emosi atau pemahaman mengenai cara menyelesaikan konflik secara damai. Di beberapa sekolah, kasus perundungan . juga meningkat, yang menunjukkan kurangnya karakter empati dan toleransi di antara anak-anak. Fakta ini mencerminkan pentingnya pendidikan karakter yang menekankan nilai-nilai kasih sayang, persahabatan, dan pengendalian diri. Ketergantungan pada gadget dan media sosial seiring dengan perkembangan teknologi, banyak anak yang menunjukkan ketergantungan yang tinggi pada gadget dan media sosial. Mereka lebih banyak menghabiskan waktu untuk bermain game atau berselancar di dunia maya dibandingkan dengan berinteraksi secara langsung dengan teman sebaya atau keluarganya. Ini berdampak pada keterampilan sosial anak yang menurun, seperti kesulitan berkomunikasi secara langsung dan berkurangnya rasa empati terhadap orang lain. Selain itu, ada kekhawatiran tentang konten negatif yang mudah diakses oleh anak-anak, yang dapat mempengaruhi pola pikir dan perilaku mereka. CopyrightA 2025. SESAWI: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen. Banyak orang tua yang mengeluhkan bahwa anak-anak mereka kurang disiplin dalam menjalankan tugas sehari-hari. Contohnya, anak seringkali menunda-nunda pekerjaan rumah atau tidak memiliki rutinitas yang teratur. Di sekolah, anak-anak juga sering kali tidak menyelesaikan tugas tepat waktu atau tidak menunjukkan rasa tanggung jawab terhadap kewajiban mereka. Ini menunjukkan bahwa pendidikan karakter yang mengajarkan pentingnya disiplin dan tanggung jawab masih sangat dibutuhkan. Krisis kejujuran dan integritas di beberapa kasus, anak-anak cenderung berbohong atau menipu untuk menghindari hukuman atau mendapatkan keuntungan pribadi. Misalnya, mereka bisa saja menyontek saat ujian atau berbohong tentang perilaku mereka di rumah atau sekolah. Kurangnya pemahaman tentang nilai-nilai kejujuran dan integritas ini menunjukkan adanya kelemahan dalam pembentukan karakter anak di lingkungan keluarga dan pendidikan. Kurangnya empati dan kepedulian sosial banyak anak yang masih kesulitan untuk memahami dan merasakan apa yang dirasakan orang lain. Hal ini terlihat dalam perilaku mereka yang sering kali egois, tidak peduli dengan kondisi teman-teman mereka, atau bahkan tidak merasa perlu untuk membantu orang lain. Contoh nyata adalah anak-anak yang tidak mau berbagi atau bekerja sama dalam kegiatan kelompok di sekolah. Kurangnya empati ini dapat mengarah pada pembentukan karakter yang kurang baik dalam masyarakat. Gangguan dalam pengelolaan emosi banyak anak yang masih kesulitan mengelola emosi mereka, terutama dalam menghadapi kegagalan. Sebagian anak bisa menunjukkan reaksi emosional yang berlebihan, seperti marah atau menangis tanpa kendali. Ini sering terjadi ketika mereka tidak mendapatkan dukungan yang cukup dalam mengelola stres atau perasaan mereka. Tanpa pembelajaran yang tepat tentang pengelolaan emosi, anakanak dapat berkembang menjadi individu yang mudah tersinggung atau tidak mampu menghadapi tantangan hidup dengan tenang. Banyak orang tua yang terjebak dalam rutinitas pekerjaan dan kurang memberikan perhatian atau pendidikan karakter yang memadai kepada anak-anak mereka. Beberapa anak mengalami kurangnya bimbingan dalam membentuk nilai-nilai moral dan etika, yang seharusnya ditanamkan sejak dini di rumah. Selain itu, ada juga masalah terkait dengan pengasuhan yang kurang konsisten, misalnya perbedaan dalam cara orang tua mendidik anak yang menyebabkan kebingungannya dalam memahami nilai-nilai yang Pengaruh lingkungan yang tidak mendukung menyebabkan beberapa anak tumbuh dalam lingkungan sosial yang tidak mendukung pembentukan karakter positif. Misalnya, lingkungan sekitar yang terpapar pada kekerasan, pergaulan bebas, atau perilaku negatif lainnya, yang mempengaruhi cara pandang anak terhadap norma dan nilai-nilai moral. Anak-anak yang hidup di lingkungan seperti ini cenderung meniru perilaku negatif dan kesulitan untuk membentuk karakter yang baik. Fakta-fakta di atas menunjukkan bahwa pembentukan karakter anak masih menghadapi berbagai tantangan. Hal ini menuntut keterlibatan aktif dari orang tua, guru, dan masyarakat dalam memberikan pendidikan karakter yang terarah, konsisten, dan berbasis nilai moral yang kuat. Penguatan pembelajaran tentang disiplin, empati, tanggung jawab, kejujuran, dan pengelolaan emosi perlu dilakukan secara intensif agar anak-anak dapat tumbuh menjadi individu yang memiliki karakter yang baik dan dapat menghadapi CopyrightA 2025. SESAWI: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen. tantangan kehidupan dengan bijak Karakter akan terbentuk bila aktivitas dilakukan berulang-ulang secara rutin hingga menjadi suatu kebiasaan, yang akhirnya tidak hanya menjadi suatu kebiasaan saja tetapi sudah menjadi suatu karakter2. Pembentukan karakter anak dimulai sejak dini bahkan sejak janin berada dalam kandungan ibunya. Orang tua menjadi faktor utama untuk membentuk karakter anak karena orang tua adalah orang pertama yang mengenal dan memahami sifat baik dan buruknya anak. Terdapat banyak faktor yang dapat membentuk karakter anak. Salah satunya adalah orang tua yang lebih sering menghabiskan waktu bersama anak. Karakter akan terbentuk bila aktivitas dilakukan berulang-ulang secara rutin hingga menjadi suatu kebiasaan, yang akhirnya tidak hanya menjadi suatu kebiasaan saja tetapi sudah menjadi suatu karakter. Orang tua sebagai pendidik pertama anak di keluarga sangat penting adanya karena pendidikan yang diterima dari orang tua akan menjadi dasar pembinaan karakter sejak dini bagi anak, oleh sebab itu orang tua harus berpartisipasi aktif dan bertanggung jawab dalam mengawasi dan mendukung pertumbuhan serta pendidikan anak. Pada dasarnya manusia terlahir di dunia ini memiliki karakter baik semua. Pada dasarnya manusia terlahir di dunia ini memiliki karakter baik semua. Karakter manusia itu akan berubah ketika manusia itu mulai beradaptasi dengan kelaurganya atau lingkungan skitarnya. Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdikna. Nomor 20 tahun 2003 yang menyatakan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Keluarga memegang peranan yang sangat penting dalam berlangsungnya proses pendidikan dan pembentukan perilaku anak yang sesuai dengan nilai karakter yang ada di dalam masyarakat. Peranan utama pendidikan karakter terletak pada ayah dan ibu. Anak memerlukan figur ibu dan figur ayah secara komplementatif bagi pengembangan Pendidikan dalam sebuah keluarga akan sangat memengaruhi proses pembentukan karakter di masyarakat. Keberhasilan keluarga dalam menanamkan nilainilai karakter pada anak sangat tergantung pada jenis pola asuh yang diterapkan orang tua pada anaknya. Melalui pola asuh yang dilakukan oleh orang tua, anak belajar tentang banyak hal, termasuk karakter. Cinta dan kasih sayang dari orang tua menjadi kekuatan utama dalam menunjang keberhasilan mendidik karakter anak-anaknya. Seorang ayah tidak hanya berkewajiban sebagai kepala keluarga dengan tugas untuk mencari nafkah untuk menghidupi keluarga, sedangkan seorang ibu hanya mendidik anak serta mengurusi pekerjaan rumah tangga, tapi seharusnya ayah dan ibu harus dapat berkerja sama untuk mendidik anak-anaknya. Inayah Adhani Khoirroni et al. AuPendidikan Karakter: Tingkat Anak Sekolah Dasar Di Era Digital Inayah,Ay Jupetra 02, no. : 269Ae79. Khoirroni et al. Presiden Republik Indonesia et al. AuPresiden Republik IndonesiaAy 2010, no. : 1Ae5. Nisfbania Tokolang. Herson Anwar, and Febry Rizki Susanti Kalaka. AuPeranorang tua Dalam Pembentukan Karakter Anak,Ay Educator (Directory of Elementary Education Journa. 3, no. CopyrightA 2025. SESAWI: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen. Peran sebagai orang tua dalam mempengaruhi karakter anak tidak lagi dibebankan kepada ibu. Peran ayah dalam pembentukan karakter anak juga sangat besar, ayah tetap wajib ikut menjaga dan berinteraksi dengan anaknya, seperti mengajaknya berbicara, bercanda, dan bermain. Jika seorang anak menerima penguatan positif dari keluarganya, dia akan berkembang secara normal. Aktifitas dan pola pembinaan di dalam keluarga akan mempengaruhi tumbuh dan pembentukan karakter pada manusia. Dalam konteks keluarga, tujuan dari pendidikan karakter itu adalah karakter positif atau akhlak pada diri anak. Melalui pendidikan karakter ini, anak diharapkan mampu memahami nilai-nilai positif/terpuji dan menginternalisasikannya dalam prilaku sehari-hari. Pendidikan yang diterima dalam keluarga inilah yang akan digunakan oleh anak sebagai dasar untuk bersosialisasi dalam masyarakat. Peran sebagai orang tua dalam mempengaruhi pola pikir, sikap dan karakter anak tidak lagi dibebankan kepada ibu. Peran ayah dalam pembentukan karakter anak juga sangat besar, ayah tetap wajib ikut menjaga, memantau dan berinteraksi dengan anaknya, seperti mengajaknya berbicara, bercanda, berdiskusi dan bermain. Jika seorang anak secara rutin menerima bimbingan dan penguatan positif dari keluarganya, maka dia akan bertumbuh dan berkembang secara normal baik psikis maupun fisiknya. Aktifitas dan pola pembinaan di dalam keluarga akan memengaruhi tumbuh dan pembentukan karakter pada manusia. Dalam konteks keluarga, tujuan dari pendidikan karakter itu adalah menghasilkan karakter positif atau akhlak terpuji pada diri anak. Melalui pendidikan karakter ini, anak diharapkan mampu memahamu nilai-nilai positif/terpuji dan menginternalisasikannya dalam prilaku kehipan sehari-harinya. Pendidikan, nasihat dan ajaran yang diterima dalam keluarga inilah yang akan digunakan oleh anak sebagai dasar untuk bersosialisasi dalam kehidupan Peran keluarga memang tidak bisa disepelehkan karena mempunyai pengaruh yang besar terhadap perkembangan keimanan seorang anak, sehingga sangat penting untuk memulainya sejak dini. Keluarga merupakan bagian terpenting dalam pendidikan agama dan pembinaan keimanan anak. Keluarga hendaknya memimpin dengan memberi teladan, motivasi dan contoh dalam perannya sehingga anak-anak mereka dapat meniru teladan baik itu kemudian dapat mengapikasikan itu dalam keberlangsungan kegidupan mereka. Orang tua berkewajiban dan bertanggung jawab untuk: mengasuh, memelihara, mendidik dan melindungi anak. Bagi seoarang anak tempat ternyaman dan aman berada di lingkungan keluarga. Orang tua tidak boleh melupakan peran sebagai pemikul amanat dan tanggung jawab terhadap anak-anak yang berada di bawah pengawasannya sehingga orang tua juga dituntut untuk lebih kreatif dan membant umengarahkan anak untuk belajar akan karakter-karakterbaik dan menasihati apabila anak berperilaku yang tidak baik6. Orang tua berkewajiban dan bertanggung jawab penuh untuk: mengasuh, memelihara, merawat, mendidik dan melindungi anak. Bagi seoarang anak tempat ternyaman dan aman ketika berada di antara lingkungan keluarga yang harmonis. Adanya keseringan dalam berkomunikasi dan interaksi yang selalu terjadi dalam kehidupan keseharian keluarga, maka proses pendidikan karakter dapat berlangsung dalam beragam bentuk dan cara. orangtua, baik ibu maupun ayah dapat secara langsung menegur, menyapa, bertanya. Salwiah Salwiah and Asmuddin Asmuddin. AuMembentuk Karakter Anak Usia Dini Melalui Peranorang tua,Ay Jurnal Obsesi : Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini 6, no. : 2929Ae2935. CopyrightA 2025. SESAWI: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen. bersosialisasi, memberi pujian, atau menjadikan dirinya sebagai teladan agar anaknya dapat berbuat sesuatu yang baik dan benar dalam kehidupannya. Diamnya seorang ibu atau ayah menandakan ketidaksetujuan atas sikap atau perilaku dan bermanfaat untuk meluruskan kekeliruan atau ketimpangan yang dilakukan anak, asalkan hal tersebut dilakukan pada saat yang tepat. Hal demikian merupakan implikasi dari pengaruh langsung lingkungan keluarga terhadap perilaku dan perkembangan karakter anak. Penelitian serupa pernah dilakukan oleh Nadia Dwi Rahmadina Putri1 dkk. , dengan judul Literature Review: Peran Keluarga dalam Pembentukan Karakter Moral Anak di Era Digital, tujuan dari penelitian ini adalah memberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai dinamika dan peranan orang tua dalam pembentukan karakter dan moral anak di tengah perkembangan teknologi yang cepat dengan metode yang digunakan dalam menyusun penelitian ini adalah literature review dengan menggunakan database dari Google Scholar. Penelitian lain juga dilakukan oleh Septi Irmalia. Peran Orang Tua dalam Pembentukan Karakter Anak Usia Dini, tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjabarkan kewajiban orang tua terhadap pendidikan anak. Kajian dalam tulisan ini menggunakan metode studi kepustakaan . ibrary researc. Hal yang membedakan penelitian terdahulu dengan penelitian ini adalah pada tujuan penelitian dan metode penelitian. Tujuan penelitian kali ini lebih pada menganalisis peran orang tua dalam pembentukan karakter anak usia dini di lingkungan keluarga. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan studi dokumentasi terhadap orang tua dan anak usia dini. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif, yang bertujuan untuk memahami secara mendalam bagaimana peran orang tua dalam pembentukan karakter anak usia dini dalam lingkungan keluarga. Pendekatan ini dipilih karena sesuai untuk menggali pengalaman, pandangan, dan praktik yang dijalani orang tua dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam hal penanaman nilai-nilai karakter seperti kejujuran, tanggung jawab, kedisiplinan, dan empati kepada anak-anak mereka. Informan dalam penelitian ini dipilih secara purposif, yakni orang tua yang memiliki anak usia 0Ae6 tahun dan dianggap mampu memberikan informasi yang relevan sesuai dengan fokus Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi langsung terhadap interaksi orang tua dan anak, serta dokumentasi pendukung seperti catatan harian atau foto kegiatan keluarga. Seluruh data yang terkumpul dianalisis menggunakan metode analisis tematik, dengan tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Untuk memastikan keabsahan data, digunakan teknik triangulasi sumber dan metode, serta konfirmasi kepada informan . ember chec. , sehingga interpretasi data mencerminkan makna yang sebenarnya dari pengalaman para informan. HASIL DAN PEMBAHASAN Peran Orang Tua Dalam Pendidikan Karakter Pada Anak Menjaga keutuhan keluarga adalah keinginan setiap orang, termasuk memiliki keluarga yang bahagia. Dalam praktiknya keluarga memiliki peran penting dalam kehidupan seseorang, yang pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup Itu artinya seseorang butuh orang lain untuk dipercaya dan menjadi tumpuan atau CopyrightA 2025. SESAWI: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen. sandaran ketika kita sedang lelah atau kesulitan. Keluarga merupakan pusat pendidikan yang pertama dan terpenting, karena timbulnya peradaban manusia sampai sekarang keluarga selalu mempengaruhi pertumbuhan budi pekerti tiap-tiap manusia. Pada lingkungan keluarga pula seorang anak menerima ajaran-ajaran dan didikan dari orang tuanya, sehingga hal tersebut secara tidak langsung akan mempengaruhi perilaku anak7. Lingkungan keluarga . rang tu. merupakan pusat pendidikan pertama dan utama bagi seorang anak. Keluarga merupakan proses penentu dalam keberhasilan belajar. Orang tua sebagai pendidik pertama karena orang tualah yang pertama mendidik anaknya sejak dan sebagai pendidik utama karena pendidikan yang diberikan orang tua merupakan dasar dan sangat menentukan perkembangan anak selanjutnya. Pembentukan karakter anak dimulai sejak usia dini, mulai dari lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Namun di antara ketiga faktor tersebut, keluargalah yang paling besar pengaruhnya terhadap perkembangan kepribadian anak. orang tua yang menyadari betapa pentingnya mendidik anak di rumah akan memandang anak sebagai anugerah dan makhluk rasional yang ingin berkembang dengan wajar dan sehat, memiliki passion, dan mengeksplorasi segala sesuatu di sekitarnya dengan baik. Oleh karena itu, paraorang tua pun harus merasa terpanggil untuk mendidik anaknya sejak dini, agar dapat mengembangkan segala potensi yang masih terpendam dalam dirinya. Kenyataan menunjukkan banyakorang tua yang lalai dan pelupa serta tidak tahu bagaimana cara mengemban tugas mendidik dan membentuk kepribadian anaknya. Keluarga memegang peranan yang sangat penting dalam berlangsungnya proses pendidikan dan pembentukan perilaku anak yang sesuai dengan nilai karakter yang ada di dalam masyarakat. Pendidikan keluarga, khususnya pendidikan anak tentunya membutuhkan peran orang tua yang sangat besar. Anak yang umumnya berusia antara 0 sampai 12 tahun sangat membutuhkan arahan, bimbingan, nasihat dan tuntunan dari orang tua dalam menumbuhkan dan mengembangkan suatu dasar kepribadian yang kokoh, seimbang, utuh dan selaras sesuai dengan nilai- nilai kehidupan, sehingga anak tidak hanya mengetahui nilai karakter dalam tatanan kehidupan masyarakat, tetapi juga mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Orang tua merupakan pendidik terpenting dan pertama bagi anak. Karena anak memperoleh pendidikan pertamanya dari orang tuanya. Oleh karena itu, bentuk pendidikan yang pertama adalah di rumah, karenaorang tua adalah guru pertama dan terbaik bagi orang tua bertanggung jawab mendidik, mendidik, dan membimbing anaknya sehingga mencapai tahap kesiapan tertentu dalam kehidupan bermasyarakat. 10 Orang tua harus menjadi pengawas dan pembimbing yang baik untuk anak-anak dalam mendapat informasi, apalagi dengan usia anak-anak yang masih belum mampu membedakan bahkan Siti Roini. AuPeran Pola Asuh Orang Tua Terhadap Pembentukan Karakter Pada AnakAy 12, no. 21Ae32. Sri Reskia. AuPengaruh Tingkat Pendidikan Orang Tua Terhadap Prestasi Belajar Siswa Di Sdn Inpres 1 Birobuli,Ay Elementary School of Education 2, no. : 82Ae93, http://jurnal. id/jurnal/index. php/ESE/article/view/2830. Salwiah and Asmuddin. AuMembentuk Karakter Anak Usia Dini Melalui Peran Orang Tua. Ay Amin. AuSikap Remaja Dalam Prinsip-Prinsip Komunikasi Islam Terhadap Orang Tua Di Desa Jaharun Kecamatan Galang. Ay CopyrightA 2025. SESAWI: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen. menyaring mana hal yang baik dan tidak baik. Pendidikan karakter pada anak berawal dari usia dini, apabila sejak kecil sudah diarahkan bersikap baik maka anak akan terbiasa juga untuk bersikap baik. Namun sebaliknya apabila anak tidak diarahkan untuk bersikap baik maka anak akan bersikap yang tidak baik juga. Hal ini menunjukkan bahwa diperlukan peran orang tua dalam mendidik, membimbing anaknya sejak dini sehingga dapat dijadikan pedoman untuk masa depannya11. Peranan pendidikan keluarga adalah agar anak memiliki bekal dalam mempersiapkan perkembangannya kelak dalam kehidupan dengan masyarakat. Sebab pada dasarnya manusia mempunyai keinginan untuk meningkatkan dan mengembangkan potensi sesuai dengan nilai karakter yang tumbuh bersama masyarakat. Keluarga memiliki peranan utama dalam mengasuh anak, disegala norma dan etika yang berlaku di dalam lingkungan masyarakat, dan budayanya dapat diteruskan dariorang tua kepada anaknya dari generasigenerasi yang disesuaikan dengan perkembangan masyarakat. Keluarga memiliki peranan penting dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia pendidikan moral dalam keluarga perlu ditanamkan pada sejak dini pada setiap individu. Anak merupakan aset yang sangat berharga bagi setiap orang tua. Sebagai orang tua tentu menginginkan anak tumbuh dan berkembang dengan baik, mendapatkan pendidikan yang dapat mengembangkan potensi bakat, keterampilan yang dimilikinya secara orang tua juga menginginkan anaknya untuk mendapatkan pendidikan akhlak, moral dan budi pekerti yang baik dan bermanfaat bagi keluarga serta lingkungan masyarakat dimana ia tinggal. Apa yang dilakukan orang tua untuk memberikan keteladanan prilaku pada anak akan selalu diserap oleh anak. Anak merupakan peniru ulung yang hebat. Sebagai contoh ketika anak belajar lagu-lagu barat atau meniru sikap orang tua, maka anak seringkali memproduksi secara instan tingkah laku yang mereka lihat. Anak dapat memiliki tingkah laku baru hanya dengan melalui pengamatan. Oleh karena itu pengasuhan orang tua lebih menekankan untuk memberikan contoh yang baik kepada Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Peran Orang Tua Dalam Pembentukan Karakter Anak Keluarga merupakan salah satu elemen penting yang dapat memengaruhi baik buruknya karakter atau perilaku seorang anak baik di lingkungan keluarga maupun Dari lingkungan keluarga yang kecil inilah proses di mana terbentuknya karakter/kepribadian anak. Orang tua yaitu ayah dan ibu sebagai pendidik utama bagi anak. Berhubungan dengan pembentukan karakter anak,orang tua . yah dan ib. idealnya dapat mendedikasikan waktu lebih untuk mengayomi dan memperhatikan keluarganya. Orang tua merupakan pendidik utama dan pertama bagi anak. Pada umumnya pendidikan dalam keluarga tidak lahir secara terstruktur dan kesadaran mendidik melainkan karena secara kodrati memberikan secara alamai membangun situasi pendidikan13 Hubungan orang tua dengan anak ibarat kaca. Anak-anak akan menerima segala Arsyia Fajarrini and Aji Nasrul. AuDampak Fatherless Terhadap Karakter Anak Dalam Pendidikan Islam,Ay ABATA: Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini 3, no. : 20Ae28. D A N Manajemen Ekonomi. Neni Komalasari, and Sendi Tresa Utami. AuJURNAL PENDIDIKAN Asma Nur and Rusli Malli. AuPeran Orang Tua Dalam Pembentukan Karakter Anak Usia Dini Di Desa Bontoala Kecamatan Pallangga Kabupaten Gowa,Ay Islamic Journal: Pendidikan Agama Islam 1, no. : 83Ae97. CopyrightA 2025. SESAWI: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen. pertimbangan dari orang tuanya. Jika mereka menerima bahwa kemarahan tidak identik dengan kekerasan, mereka akan menggunakannya dalam kehidupan mereka dan sebaliknya. Jika mereka menerima bahwa kemarahan identik dengan kekerasan, jangan heran jika mereka menggunakannya dalam kehidupan mereka. Karena anak hampir selalu menirukan apa yang dilakukan orangtuanya, ayah dan ibu dianjurkan untuk memberi contoh yang baik pada anak. Dengan menjadi orangtua yang sering berperilaku ramah, baik dan penuh toleransi, ayah dan ibu secara tidak langsung sedang mengajarkan anak untuk mengembangkan perilaku yang sama. Jika orang tua dapat memberikan waktu yang berkualitas untuk kehidupan keluarganya, maka orang tua dapat memberikan perhatian khusus dan memberikan contoh yang tepat untuk anaknya. Karakter anak merupakan hasil dari suatu pendidikan secara umum baik informal yang berlangsung di keluarga dengan bentuk pembiasaan hal-hal yang baik, etika, dan budaya, maupun pendidian formal yang diperoleh di sekolah. Pendidikan informal yang dilakukan oleh keluarga sangat membantu anak dalam mempersiapkan dirinya menghadapi pergaulan bebas seiring berkembangnnya perkembangan teknologi orang tua/keluarga yang peka terhadap perkembangan teknologi tentunya akan membekali anaknya dengan baik dengan memberikan pembinaan dan perhatian lebih sehingga anak tidak salah dalam bersikap. Ada beberapa hal yang mempengaruhi peraorang tua dalam membentuk karakter anak. Pertama. Tingkat Pendidikan Orang Tua. Tugas dan peran orang tua keluarga adalah unit pertama dan institusi pertama di dalam masyarakat disebut unit pertama karena anak akan belajar banyak hal dimulai dari keluarga. Perkembangan individu terbentuk tahap demi tahap mulai dari awal perkembangan, mulai berinteraksi dan Anak akan memperoleh pengetahuan, keterampilan, minat dan sikap dalam hidup. Dalam keluarga orang tua sangat berperan sebab dalam kehidupan anak waktunya sebagian besar dihabiskan dalam lingkungan keluarga apalagi anak masih di bawah pengasuhan atau anak usia sekolah dasar, terutama peran seorang ibu. Demikianlah keluarga atau orang tua menjadi faktor penting untuk mendidik anak anaknya baik dalam sudut tinjauan agama, sosial kemasyarakatan maupun tinjauan individu. Jadi jelaslah orang tua mempunyai peranan penting dalam tugas dan tanggung jawabnya yang besar terhadap semua anggota keluarga yaitu lebih bersifat pembentukan watak dan budi pekerti, latihan keterampilan dan ketentuan rumah tangga, dan sejenisnya. Orang tua sudah selayaknya sebagai panutan atau model yang selalu ditiru dan dicontoh anaknya. Kendati demikian, tingkat pendidikan orang tua merupakan sesuatu yang besar pengaruhnya terhadap perkembangan dan pembentukan karakter anak. Tingkat Pendidikan orang tua ini berkorelasi positif dengan cara mereka mengasuh anak, sementara pengasuhan anak berhubungan dengan perkembangan anak. Hal ini berarti makin tinggi pendidikan terakhir orang tua akan makin baik pula cara pengasuhan anak dan akibatnya perkembangan anak terpengaruh berjalan secara positif. Sebaliknya makin rendah tingkat pendidikanorang tua akan kurang baik dalam mengasuh anak, sehingga perkembangan anak berjalan kurang menguntungkan. Sikap yang terbentuk dalam diri setiap individu berbeda-beda tergantung pada setiap jenjang pendidikan baik itu formal dan non formal atau pada lulusan sekolah dasar, lulusan sekolah menengah pertama, lulusan sekolah menengah atas, dan lulusan perguruan tinggi dari orang tua. Tingkat pendidikan orang tua menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi cara orang tua membimbing, melatih, mengarakhan dan mempersiapkan anaknya dalam CopyrightA 2025. SESAWI: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen. masa pertumbuhannya. Tingkat pendidikan orang tua yang rendah akan cenderung sempit wawasannya terhadap pola asuh dan pembentukan karekter anaknya. Sedangkan tingkat pendidikan orang tua yang tinggi akan lebih luas wawasannya terhadap pemantauan dan didikan dalam mengasuh dan membiasakan praktik-praktik baik dalam kehidupan anak yang tentunya akan berdampak pada perkembangan dan pengembangan karakter anak tersebut, orang tua yang mempunyai tingkat pendidikan tinggi mempunyai bekal pengetahuan dan pengalaman yang baik dan terukur dalam hal mendidik anaknya. Masih banyak orang tua yang belum paham bagaimana cara agar anaknya memiliki karakter baik. Ketikaorang tua mempunyai tingkat pendidikan yang rendah atau tidak mengenyam pendidikan baik di lembaga pendidikan formal atau nonformal sama sekali, maka pengetahuan dan pengalamannya dalam mendidik, mengasuh dan membesarkan anak pun terbatas, sehingga tidak mampu mengembangkan karakter anak secara maksimal dan orang tua tidak memahami apa yang diperlukan untuk mendukung pengembangan karakter anaknya. Jarang sekali orang tua mendampingi, membimbing, atau menyemangati anaknya dalam belajar dan bermain sehingga menurunkan keinginan anak untuk belajar dan melatih mental anaknya yang kemudian akan berpengaruh terhadap pembentukan karakter Sejatiinya, pendiidkan yang diberikan orang tua merupakan dasar dan sangat menetukan perkembangan anak selanjutnya. Faktor tingkat pendidikan orang tua merupakan sesuatu yang besar pengaruhnya dalam pembentukan karakter anak. Tingkat pendidikan orang tua ini sangat berkaitan erat dengan cara mereka membimbing dan mendidik anak, sementara pengasuhan anak berhubungan langsung dengan pembentukan karakter anak. Artinya bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan orang tua akan makin baik pula pola pembentukan karakter pada anak, yang berdampak pada perkembangan karakter anak. Sebaliknya makin rendah tingkat pendidikan orang tua akan berdampak pada lemahnya pola bimbimbing dan penanaman karakter anak, sehingga pembentukan karakter anak berjalan kurang baik atau tidak normal. Masalah kurangnya perhatian oleh orang tua, pada umumnya disebabkan karena rendahnya tingkat pendidikan yang dimiliki orang tua sehingga mereka tidak memahami bagaimana membimbing dan membantu anak agar lebih berhasil dalam mempersiapkan Sehingga dapat dikatakan bahwa tingkat pendidikan orang tua sangat berpegaruh pada perkembangan ataupun pembentukan karakter anak. Orang tua yang berpendidikan tinggi memiliki kesempatan dan kemampuan untuk memperoleh materi yang lebih besar yang diperlukan untuk menyediakan fasilitas dan saran belajar yang memadai bagi anak, selain itu dengan pengetahuan yang dimiliki orang tua yang berpendidikan tinggi pada umumnya bersikap terbuka dan mampu memperlakukan anak secara positif. Mereka memberikan perhatian yang besar terhadap penanaman karakter yang positif pada anak. Kedua. Tingkat Kesibukan Orang Tua. Keluarga merupakan lingkungan terpenting bagi perkembangan kepribadian anak. Hal ini dikarenakan anak mulai mengetahui dan belajar tentang berbagai hal dalam kehidupan, dan ketika beranjak dewasa ia mampu memahami dan mengambil keputusan. Dalam keluarga orang tua sangat berperan sebab dalam kehidupan anak waktunya sebagian besar dihabiskan dalam lingkungan keluarga. Pengaruh orang tua sangat besar dalam membentuk kepribadian anak. Sebab keteladanan dari orang tua mampu melahirkan pribadi-pribadi yang berakhlak dan berkarakter. Adanya kecenderungan para orang tua baik atah maupun ibu yang semakin sibuk dalam pekerjaannya yang berakibat semakin berkurangnya perhatian pada anak yang secara tidak CopyrightA 2025. SESAWI: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen. langsung akan berpengaruh pada rendahnya pertumbuhan dan perkembangan karakter anak. Rendahanya perhatian orangtua memngakibatkan anak menjadi tidak terurus secara psikologis, hal ini akan sangat berdampak pada tumbuh kembang anak itu. Orang tua yaitu ayah dan ibu bekerja dari pagi hingga malam untuk menafkahi anak sehingga mereka cenderung tidak mempunyai waktu yang cukup untuk anak dalam belajar, bermain, ataupun mendidik anak. Anak hanya dititipkan kepada pengasuh hal tersebut membuat anak merasa kurangnya perhatian dari orang tua. Anak sehari-hari hanya dengan pengasuh tidak dengan orang tua atau keluarga. Berdasarkan hal tersebut anak mencari pelampiasan untuk mencari perhatian orang tua dan lingkungannya. Anak yang orang tuanya terlalu sibuk dengan bekerja membuat anak tidak memiliki perilaku yang baik karena didikan dari orang tua yang masih kurang. Dapat dilihat anak cenderung berbuat sesukanya bermain hp sesukanya entah apa yang dilihat kita tidak tahu karena sebagai orang tua tidak pernah mengecek karena terlalu sibuk dalam bekerja. Orang tua diharapkan selalu meluangkan waktu untuk bisa membimbing dan mengawasi anaknya dalam berkomunikasi dan berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya serta mempengaruhi pemecahan masalah. Namun semua itu belum berjalan karena orang tua masih banyak mereka larut dengan kesibukannya dalam perkerjaan dan kehidupan sosialnya, sehingga tanpa mereka sadari, mereka telah menelantarkan anaknya sehingga dalam pembentukan karakter tidak dapat terkontrol. Banyak orang tua tidak mempermasalahkan perilaku anaknya sehingga banyak menimbulkan konflik antar orang tua atau lingkungan sehingga anak menjadi korban. Pada usia sebelum anak-anak mengenal pendidikan di luar keluarga seperti sekolah, maka yang mengenalkan mereka dengan pendidikan adalah orang tua. Pada saat ini kepribadian dan moral yang ada dalam diri anak-anak bisa dikatakan masih murni artinya sifat-sifat mereka tidak akan jauh berbeda dengan sifat kedua orang tuanya. Namun, setelah mengenal dunia luar sifat mereka akan cenderung dipengaruhi oleh lingkungan pendidikan dan lingkungan bermain. Tingkah laku mereka harus terus dipantau dan dibimbing oleh orang tua karena pada masa-masa ini mereka memiliki keingintahuan yang tinggi terhadap lingkungan di sekitarnya. Selain penerapan moral,orang tua juga perlu memberi pedoman dan pegangan hidup bagi seorang anak agar nantinya mereka dapat mengerti hal yang baik dan yang buruk, serta bagaimana seharusnya bersikap. Banyak sekali orang tua yang hanya mampu memberikan dukungan praktis atau finansial kepada anaknya. Orang tua hanya terfokus untuk memenuhi kebutuhan finansial anaknya seperti memberikan fasilitas-fasilitas untuk menunjang pendidikan anaknya, tetapi mereka lupa bahwa seorang anak juga membutuhkan dukungan secara emosianal, sehingga banyak anak dibiarkan tumbuh sendiri tanpa mendapatkan bimbingan dari orang tuanya. Padahal seorang anak sangat membutuhkan perhatian, kasih sayang serta rasa nyaman dari orang tuanya. Terkadang orang tua tidak menyadari hal tersebut mungkin karena mereka terlalu sibuk atau tidak memahami apa yang sebenarnya anak mereka butuhkan. Sebagai orang tua harus lebih memperhatikan anak, memperbaiki komunikasi dengan anak sehingga anak tahu apa sebenarnya anak inginkan. Anak adalah karunia terbesar yang diberikan oleh Allah, maka saat itu orang tua diberikan tanggung jawab yang besar untuk membesarkan dan mendidikan anaknya dengan penuh kasih sayang agar dapat berkembang dengan baik. Orang tua tidak hanya sekedar memberikan anak sebuah pakaian dan makanan saja tetapi juga perhatian, kasih sayang, rasa aman dan kepercayaan kepada anak. CopyrightA 2025. SESAWI: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen. Orang tua merupakan orang yang pertama dan paling utama atau orang terpenting dalam proses pembentukan kepribadian dan karakter seorang anak. Orang tua menentukan ke mana anak itu akan bertumbuh. Anak masih sangat menggantungkan diri, meminta isi, bekal, cara berpikir dan bertindak dariorang tuanya . yah dan ib. Namun, tak bisa dipungkiri, dalam kehidupan di sebuah keluarga sudah banyak berubah. Banyak orang tua yang dua-duanya berkarier sehingga mereka sibuk dengan pekerjaan/bisnis/usahanya sampai kadang-kadang mereka lupa akan tugas dan tanggung jawabnya sebagai orang tua dalam mendidik dan mengasuh anak. Anak sering merasa kurang perhatian dan kasih sayang dari orang tuanya tersebut. Banyak keluarga menjadi tidak harmonis akibat orang tua yang terlalu sibuk mengurusi pekerjaan dan melalaikan tugasnya sebagaiorang tua. Banyak anak akhirnya menggantungkan dirinya kepada orang lain yang dianggapnya bisa memberikan kasih sayang dan perhatian hingga anak pergi dari rumah guna melampiaskan kekesalannya karena kurangnya perhatian dan kasih sayang orang tua yang terlalu sibuk dengan Orang tua yang sibuk dengan pekerjaannya setiap hari terkadang tidak punya waktu yang cukup untuk bermain dan berbagi bersama dengan anak-anak, sehingga anak-anak menjadi bebas melakukan segala sesuatu sesuai keinginannya. Anak akan melakukan apa saja yang ia mau meskipun hal yang itu lakukan itu terkadang bertentangan dengan normanorma yang berlaku di masyarakat. Pendidikan dalam keluarga ditengarai berpengaruh terhadap perkembangan moral dan karakter seorang anak. Peran, situasi, kondisi, dan aturan-aturan dalam sebuah keluarga sangat berpengaruh dalam membentuk kepribadian seorang anak. Karenanya, pembentukan sifat dan kepribadian seseorang pada waktu dewasa, ditentukan oleh pembentukan kepribadiannya di waktu kecil. Anak yang dibesarkan dengan penuh perhatian, dan kasih sayang yang tulus dari otang tua akan terlihat berbeda dengan anak seusianya. Hal itu dapat kita lihar dari bagaimana dia bersikap, bertutur kata, cara dia mengahargai teman bermain, dan cara dia mersepon Peran orang tua memang sangat dominan bagi perkembangan keberagamaan Seseorang anak yang dibesarkan dalam keluarga yang religius akan lebih besar kemungkinannya berkembang menjadi lebih religius dibandingkan dengan yang tidak Mekanisme psikologis kehidupan beragama pada masa kanak-kanak yang sangat menonjol adalah mekanisme imitasi. Seperti perkembangan aspek-aspek psikologis dan kemampuan anak yang lain yang berkembang lewat proses peniruan, pada mulanya anak beragama karena meniru orang tua nya. Dengan demikian jika anak-anak melakukan suatu ibadah . ergi ke masjid, gereja, kuil atau biar. semua itu dilakukan hanya karena meniru orang tuanya saja. Nuraini. AuPeranorang tua Dalam Penerapan Pendidikan Agama Dan Moral Bagi Anak,Ay Jurnal MUADDIB 03, no. : 63Ae86, http://download. org/article. php?article=391150&val=8577&title=PERAN orang tua DALAM PENDIDIKAN ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS. A Subandi. Psikologi Agama dan Kesehatan Mental. Pustaka Pelajar. Yogyakarta, 2013,41. CopyrightA 2025. SESAWI: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen. KESIMPULAN Berdasarkan hasil pembahasan maka dapat disimpulkan bahwa orang tua sangat berperan penting dalam pembentukan karakter anak. Pertumbuhan dan pembentukan karakter pada diri anak tidak hanya terbentuk dengan sendirinya baik dan buruknya karakter anak merupakan pengaruh besar yang harus diperhatikan oleh orang tua . yah dan Sebagai orang tua harus berperan aktif dalam tumbuh kembang anak, seorang ibu merupakan guru dan teladan pertama yang dapat memberi pengaruh sangat besar terhadap anak-anaknya, karena apa saja yang orang tua lakukan akan diguguh, ditiru dan didengar dan dilaukan oleh anak. Pada dasarnya sifat anak adalah meniru jadi sebagai orang tua perlu berhati-hati dalam bertindak dan melakukan sesuatu di hadapan anak, apabilaorang tua melakukan hal baik/memberi contoh yang baik maka akan berdampak baik pula terhadap perkembangan karakter anak begitu pula sebaliknya jika yang dilakukan orang tua adalah tindakan yang tidak terpuji maka hal itu pulalah yang akan dilakuakan oleh anak. Sebagai orang tua tentunya kita menginginkan agar anak dapat tumbuh dan berkembang dengan baik, mendapatkan pendidikan yang dapat mengembangkan potensi bakat, keterampilan yang dimilikinya secara maksimal. Orang tua juga menginginkan anaknya untuk mendapatkan pendidikan akhlak, moral dan budi pekerti yang baik dan bermanfaat bagi keluarga serta lingkungan masyarakat dimana ia tinggal. Sebagai orang tua perlu membekali diri dengan sejumlah pengetahuan tantang pentingnya membimbing dan mengarahkan anak pada waktu kecil serta menyediakan waktu yang cukup agar bisa berbagi denga nanak agar anak merasa diperhatikan karena anak butuh perhatian yang Hal ini akan sangat menolong anak dalam menapaki kehidupan selanjutnya. DAFTAR PUSTAKA