An Integrated Farming Model for Community Empowerment and Environmental Conservation in Kawasi Village Lukmanul Hakim1, Latif Supriadi2, Lusty Rahmatina3, Dian Nurcahya4 Article Info *Correspondence Author (1), (2), (3), (4), PT Trimegah Bangun Persada Tbk’s How to Cite: Hakim, L.., Supriadi, L., Rahmatina, L.., Nurcahya, D. (2025). An Integrated Farming Model for Community Empowerment and Environmental Conservation in Kawasi Village. Prospect: Jurnal Pemberdayaan Masyarakat, 4 (3) 2025, 103-113. Abstract This community service program aims to describe and analyze the implementation of the SALAM KAWASI Program (Kawasi Integrated Farming System) by PT Trimegah Bangun Persada Tbk (PT TBP) as a form of sustainable Corporate Social Responsibility (CSR). Located in Kawasi Village, Obi Island, the program was designed as an integrated farming model combining horticulture (PERTIKAT), freshwater aquaculture (BUDIKASI), and livestock. The implementation method utilized a participatory approach involving intensive mentoring, learning-by-doing training, and the establishment of a core community group. The results demonstrate that the program successfully enhanced the capacity and income of group members, with an average income increase of IDR 1,200,000 per month per member. A social innovation named KOPASKAT (Compost for Community Agriculture) emerged as a solution for converting organic waste into fertilizer, supporting the transition towards sustainable agriculture with a trend of reducing chemical fertilizer use from 70% (2023) to 50% (2025). The program's success was bolstered by effective multistakeholder collaboration and a process of local leadership regeneration. In conclusion, PT TBP's SALAM KAWASI Program has proven to be an effective empowerment model that emphasizes alignment with local needs, active participation, and ecological sustainability, serving as a potential benchmark for similar initiatives. Article History Submitted: 20 October 2025 Received: 21 October 2025 Accepted: 22 October 2025 Keywords Integrated Farming; Community Empowerment; Corporate Social Responsibility; Sustainability Correspondence E-Mail: lukmanul.hakim@haritan ickel.com Prospect: Jurnal Pemberdayaan Masyarakat Vol.4 No.3 (2025) pp. 103-113 https://doi.org/10/55381/jpm.v4i3.547 https://prospectpublishing.id/ojs/index.php/jpm/index p-ISSN: 2827-8224 | e-ISSN: 2828-0016 Creative Commons Share Alike CC-BY-SA: This work is licensed under a Prospect: Jurnal Pemberdayaan Masyarakat Creative Commons Attribution- Share-Alike 4.0 International License (http://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0/) which permits non-commercial use, reproduction, and distribution of the work without further permission provided the original work is attributed as specified on the Prospect: Jurnal Pemberdayaan Masyarakat and Open Access pages. Sebuah Model Pertanian Terpadu untuk Pemberdayaan Masyarakat dan Konservasi Lingkungan di Desa Kawasi Lukmanul Hakim1, Latif Supriadi2, Lusty Rahmatina3, Dian Nurcahya4 Article Info *Korespondensi Penulis (1), (2), (3), (4) PT Trimegah Bangun Persada Tbk Email Korespondensi: lukmanul.hakim@haritanickel.com Abstrak Program pemberdayaan masyarakat ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis implementasi Program SALAM (Belajar Bersama Pada Alam) KAWASI oleh PT Trimegah Bangun Persada Tbk (TBP) sebagai bentuk tanggung jawab sosial perusahaan (TJSL/CSR) yang berkelanjutan. Program yang berlokasi di Desa Kawasi, Pulau Obi, ini dirancang sebagai lokasi percontohan model pertanian terpadu yang mengintegrasikan budi daya tanaman melalui kegiatan PERTIKAT (Pertanian Hortikultura untuk Masyarakat), budidaya ikan air tawar melalui kegiatan BUDIKASI (Budi daya Ikan Air Tawar di Salam Kawasi), dan peternakan. Metode pelaksanaan menggunakan pendekatan partisipatif dengan pendampingan intensif, pelatihan learning by doing, dan pembentukan kelompok inti masyarakat. Hasil implementasi menunjukkan bahwa program ini berhasil meningkatkan kapasitas dan pendapatan anggota kelompok, dengan kenaikan rata-rata pendapatan sebesar Rp1.200.000 per bulan per anggota. Inovasi sosial KOPASKAT (Kompos untuk Pertanian Masyarakat) berhasil lahir sebagai solusi pengelolaan limbah organik menjadi pupuk, mendukung peralihan menuju pertanian berkelanjutan dengan tren pengurangan penggunaan pupuk kimia dari 70% (2023) menjadi 50% (2025). Keberhasilan program didukung oleh kolaborasi multi-stakeholder yang efektif dan proses regenerasi kepemimpinan lokal. Simpulan dari pengabdian ini adalah Program SALAM KAWASI PT TBP telah membuktikan diri sebagai model pemberdayaan yang efektif, yang menekankan kesesuaian dengan kebutuhan lokal, partisipasi aktif, dan keberlanjutan ekologis, sehingga dapat menjadi contoh bagi pengembangan program serupa. Kata Kunci: Pertanian Terpadu; Pemberdayaan Masyarakat; Tanggung Jawab Sosial Perusahaan; Keberlanjutan. 104 © Hakim et.al Pendahuluan Praktik Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) perusahaan telah mengalami pergeseran paradigma yang signifikan, dari sekadar aktivitas filantropi (charity) menuju pendekatan pemberdayaan masyarakat (community development) yang berkelanjutan (Bowen, 2013). Pergeseran ini didorong oleh kesadaran perusahaan bahwa kehadiran operasionalnya tidak hanya membawa dampak ekonomi, tetapi juga dampak sosial dan lingkungan yang perlu dikelola secara bertanggung jawab. Dalam konteks Indonesia, pendekatan pemberdayaan menjadi sangat krusial untuk membangun social license to operate, yaitu penerimaan dan dukungan dari masyarakat sekitar yang menjadi fondasi bagi kelancaran dan keberlanjutan operasi perusahaan (Swara & Simatupang, 2020). PT Trimegah Bangun Persada Tbk (PT TBP), sebagai perusahaan yang beroperasi di sektor pertambangan, menyadari betul pentingnya membangun hubungan yang harmonis dengan komunitas sekitar, khususnya masyarakat di Desa Kawasi, Pulau Obi. Desa Kawasi, sebagai wilayah yang berdekatan dengan area operasional PT TBP, memiliki karakteristik masyarakat dengan mata pencaharian utama sebagai petani rempah, petani kelapa, dan nelayan. Potensi pertanian, peternakan, dan perikanan di desa ini sebenarnya cukup besar, namun belum dimanfaatkan secara optimal akibat keterbatasan pengetahuan, keterampilan, dan akses terhadap metode pertanian modern. Program pemberdayaan yang efektif haruslah berbasis pada kebutuhan dan potensi lokal untuk membangun penghidupan yang berkelanjutan (Ahmad & Abu Talib, 2015). Berdasarkan pemetaan sosial (social mapping) yang dilakukan perusahaan, teridentifikasi kebutuhan akan program pemberdayaan yang dapat meningkatkan ketahanan pangan lokal dan membuka alternatif sumber pendapatan baru bagi masyarakat. Hasil pemetaan ini merekomendasikan program pemberdayaan berbasis pertanian rumah tangga dan ternak keluarga. Sebagai respons terhadap temuan di desa Kawasi, PT TBP merancang dan mengimplementasikan program SALAM KAWASI (Sistem Pertanian Terpadu Kawasi). Program ini merupakan perwujudan dari visi dan misi perusahaan serta unit Pengembangan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) untuk menjadi mitra strategis dalam membangun kemandirian masyarakat. Program ini berfokus pada pilar pengembangan ekonomi dan didesain sebagai sebuah model pertanian terpadu (integrated farming system) yang mengintegrasikan budidaya tanaman melalui kegiatan PERTIKAT (Pertanian Hortikultura untuk Masyarakat), budidaya ikan air tawar melalui kegiatan BUDIKASI (Budi daya Ikan Air Tawar di Salam Kawasi), dan peternakan dalam satu kawasan. Model ini telah terbukti efektif dalam meningkatkan ketahanan pangan dan pendapatan petani melalui pemanfaatan lahan secara efisien dan menciptakan siklus saling menguntungkan antar komoditas (Gill et al., 2009). Pendekatan ini sejalan dengan perkembangan berbagai inovasi pertanian berkelanjutan yang terbukti efektif meningkatkan produktivitas, seperti model pengendalian hama berbasis energi terbarukan (Ramadhan et al., 2022). Program SALAM KAWASI didesain dengan melibatkan partisipasi aktif masyarakat sejak awal, sebuah prinsip kunci yang diyakini menentukan keberhasilan dan keberlanjutan program pembangunan (Rosyida & Nasdian, 2011). Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan implementasi program SALAM KAWASI sebagai sebuah bentuk pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan oleh korporasi. Fokus analisis akan membahas bagaimana program ini tidak hanya sekadar menyalurkan bantuan, tetapi telah dirancang untuk memenuhi prinsip-prinsip pemberdayaan yang meliputi peningkatan kapasitas, partisipasi aktif masyarakat, dan keberlanjutan. Artikel ini akan mengkaji proses implementasi, keterlibatan multi-stakeholder, dampak yang dihasilkan terhadap peningkatan pendapatan anggota kelompok, serta inovasi sosial yang muncul dari program ini. 105 © Hakim et.al Diharapkan dengan adanya dokumentasi dalam bentuk artikel jurnal ini, program SALAM KAWASI dapat menjadi contoh praktik dalam implementasi program community development berbasis pertanian terpadu. Selain itu, temuan-temuan dari program ini dapat menjadi bahan pembelajaran dan rujukan bagi penggiat pemberdayaan masyarakat, pemerintah daerah, dan perusahaan lain yang ingin mengembangkan program serupa, khususnya di wilayah kepulauan dengan karakteristik sosial-ekonomi yang mirip dengan Desa Kawasi. Di mana berdasarkan data kajian social mapping di Desa Kawasi, sebanyak 18,75% kepala rumah tangga dan 10,34% istrinya bekerja sebagai petani. Bila dibandingkan desa lain di area Pulau Obi, Desa Kawasi bisa dikatakan cukup banyak yang bekerja sebagai petani. Metode Implementasi program SALAM KAWASI dilakukan melalui pendekatan partisipatif yang melibatkan masyarakat sejak dari tahap perencanaan, pelaksanaan, hingga monitoring dan evaluasi dengan mengadopsi prinsip-prinsip Participatory Rural Appraisal (PRA) (Chambers, 1994). Program ini dilaksanakan di Desa Kawasi dengan total luas area mencapai 13,38 Hektar, yang secara khusus dialokasikan untuk lahan pertanian, peternakan, budidaya ikan, dan infrastruktur seluas 4,5 Ha, serta lahan produktif lainnya seluas 1,8 Ha. Metode utama yang diterapkan adalah pendampingan secara intensif oleh tim Community Development PT TBP. Kegiatan diawali dengan sosialisasi program kepada masyarakat dan pemerintah desa untuk membangun pemahaman dan komitmen bersama. Selanjutnya, dibentuk kelompok inti penerima manfaat yang diberi nama "Kelompok SALAM KAWASI" yang beranggotakan 10 orang warga Desa Kawasi. Kelompok inilah yang menjadi aktor utama dalam pelaksanaan program SALAM Kawasi di area seluas 13,38 Ha, dengan lahan pertanian, peternakan, Budidaya ikan dan Infrastruktur seluas 4,5 Ha. Kemudian Lahan produktif seluas 1,8 Ha. Teknik pelaksanaan program mencakup berbagai metode pelatihan dan pembelajaran langsung sesuai dengan prinsip andragogi atau pembelajaran orang dewasa (Putri & Sunarti, 2023). Untuk kegiatan PERTIKAT, metode yang digunakan antara lain: (1) Demonstration Plot (Demplot): menciptakan area percontohan untuk budidaya tanaman sayuran (seperti kangkung, sawi, cabai, tomat, kacang panjang, mentimun, terong ungu) dan buah-buahan (durian, mangga, jambu air, nangka, kelengkeng, alpukat, rambutan); (2) Pelatihan dan Sekolah Ladang: pemberian materi teknis mengenai penyemaian, penanaman, perawatan tanaman, pengendalian hama, serta sistem pertanian terpadu; dan (3) Pendampingan Rutin: pemantauan perkembangan tanaman dan pemecahan masalah di lapangan. Sementara untuk BUDIKASI, metode yang diterapkan adalah pelatihan teknik budi daya ikan nila di kolam bundar, mulai dari pemilihan dan pengadaan bibit yang berkualitas, kegiatan aklimatisasi bibit ikan, manajemen pakan, pengelolaan kualitas air, hingga panen. 106 © Hakim et.al (A) (B) (C) (D) Gambar 1. Kegiatan Pengadaan barang kebutuhan pertanian dan penanaman benih. (A) Penanaman bibit buah (B) Penanaman tanaman sayuran (C) Pengadaan sarana dan prasarana pertanian (D) Pelatihan sistem pertanian terpadu / Sekolah ladang Sumber: Dokumentasi Perusahaan Pengumpulan data untuk keperluan monitoring dan evaluasi program dilakukan melalui beberapa teknik. Data pendukung diperoleh dari catatan administrasi kelompok, seperti daftar hadir peserta pelatihan, laporan keuangan sederhana, serta dokumentasi jumlah bibit yang ditanam dan hasil panen. Data pendukung selanjutnya dikumpulkan melalui observasi langsung oleh tim pendamping terhadap dinamika kelompok dan proses kegiatan, serta melalui diskusi kelompok terpumpun (Focus Group Discussion) dengan anggota kelompok dan perwakilan stakeholder untuk menggali tanggapan, kendala, dan masukan terkait implementasi program. Seluruh data ini dianalisis secara deskriptif untuk mengukur tingkat kesesuaian program dengan rencana kerja, capaian indikator, serta dampak awal yang dirasakan oleh masyarakat. Pembahasan A. Kesesuaian Program dengan Kebutuhan dan Potensi Lokal Program SALAM KAWASI menunjukkan tingkat kesesuaian yang tinggi dengan kebutuhan riil dan potensi lokal masyarakat Desa Kawasi, yang telah teridentifikasi melalui proses pemetaan sosial. Dokumen social mapping secara spesifik merekomendasikan "Pemberdayaan Masyarakat melalui Program Pertanian Rumah Tangga dan Ternak Keluarga untuk Ketahanan Pangan Lokal" sebagai salah satu program prioritas. Program ini hadir untuk menjawab tantangan tersebut dengan menyediakan sarana pembelajaran dan praktik langsung tentang pertanian modern yang sebelumnya belum banyak dikenal masyarakat. 107 © Hakim et.al Dengan memanfaatkan potensi lahan dan sumber daya manusia setempat, program ini berhasil mentransformasi lahan tidur menjadi area produktif yang menghasilkan komoditas pangan bernilai ekonomi. Gambar 2. Pembelajaran dan praktik langsung tentang pertanian modern Sumber: Dokumentasi Perusahaan Keterlibatan aktif masyarakat dalam setiap tahapan program menjadi kunci kesesuaian ini. Partisipasi aktif masyarakat ini tidak hanya menjamin kesesuaian program tetapi juga menjadi fondasi untuk pembelajaran berkelanjutan (sustainable agriculture) seperti yang ditekankan oleh Pretty (1995), di mana pengetahuan lokal dan proses belajar bersama menjadi kunci keberhasilan (Sukomardojo et al., 2023). Musyawarah yang dilakukan sebelum pengadaan sarana dan prasarana, seperti pemilihan jenis tanaman dan ikan yang akan dibudidayakan, memastikan bahwa program sesuai dengan selera dan pengetahuan lokal. Selain itu, program ini juga selaras dengan kebijakan pemerintah desa yang mendorong pengembangan pertanian kompos terpadu. Dengan demikian, SALAM KAWASI tidak hadir sebagai program yang terisolasi, tetapi terintegrasi dengan agenda pembangunan desa, sehingga memperkuat dukungan politik dan sosial bagi keberlanjutannya. Tingkat kesesuaian implementasi dengan rencana kerja tahunan juga sangat tinggi, mencapai 100% untuk sebagian besar kegiatan seperti penanaman, pengadaan bibit buah, dan budidaya ikan. Hal ini menunjukkan bahwa perencanaan yang matang berdasarkan analisis sosial telah diimplementasikan secara konsisten. Beberapa indikator capaian yang masih dalam tahap on progres, seperti pengujian kualitas tanah, menandakan bahwa program ini merupakan proses berkelanjutan yang membutuhkan waktu untuk mencapai hasil yang optimal. B. Peningkatan Kapasitas dan Pendapatan Kelompok Salah satu dampak nyata dari program SALAM KAWASI adalah peningkatan 108 © Hakim et.al kapasitas teknis dan ekonomi anggota kelompok. Data yang dihimpun hingga tahun 2025 menunjukkan adanya peningkatan pendapatan yang signifikan pada enam anggota kelompok inti. Sebelum mengikuti program, rata-rata pendapatan mereka berasal dari sektor tradisional seperti bertani rempah dan kelapa, dengan kisaran pendapatan Rp500.000 hingga Rp3.000.000 per bulan. Salah satu anggota bahkan sebelumnya tidak memiliki pekerjaan tetap. Berikut tabel peningkatan pendapatan kelompok sebelum dan sesudah mengikuti Program SALAM Kawasi: Tabel 1. Peningkatan pendapatan kelompok program SALAM Kawasi No Nama Pekerjaan 1 2 4 5 Beldi Cecene Rivaldo Ruhunlela Christina Martha Brayen Gilis Jekin Daeng 6 Beni Tidak Bekerja 3 Pendapatan Saat ini/bulan 4.200.000 2.030.000 Selisih (Dari Program) Kenaikan Petani Rempah Petani Kelapa Pendapatan Sebelum/b ulan 3.000.000 830.000 1.200.000 1.200.000 40% 144% Petani Rempah 3.000.000 4.200.000 1.200.000 40% Petani Kelapa Buruh 830.000 500.000 2.030.000 1.700.000 1.200.000 1.200.000 144% 240% 0 1.200.000 Sumber: Data Perusahaan 1.200.000 100% Setelah terlibat aktif dalam program, terjadi kenaikan pendapatan rata-rata sebesar Rp1.200.000 per bulan per anggota. Presentase kenaikan pendapatan bervariasi, mulai dari 40% hingga 240%. Peningkatan tertinggi dialami oleh anggota yang sebelumnya berstatus sebagai buruh atau tidak bekerja, menunjukkan bahwa program ini berhasil menciptakan lapangan kerja dan sumber penghidupan baru. Peningkatan ini bersumber dari penjualan hasil panen sayuran dan buah dari demplot kegiatan PERTIKAT, serta dari hasil budi daya ikan nila dari kegiatan BUDIKASI yang dipasarkan ke pasar lokal dan katering perusahaan. Peningkatan kapasitas tidak hanya berupa pendapatan materiil, tetapi juga berupa penguatan pengetahuan dan keterampilan. Melalui serangkaian pelatihan dan pendampingan, anggota kelompok kini telah mampu melakukan proses budi daya secara mandiri, mulai dari penyemaian, penanaman, perawatan, hingga panen. Mereka juga telah memahami konsep sistem pertanian terpadu, dimana limbah dari satu sub-sistem dapat dimanfaatkan untuk menguntungkan sub-sistem lainnya. Peningkatan kapasitas ini merupakan modal sosial yang sangat berharga untuk menjamin kemandirian kelompok di masa depan. Berikut bukti anggota kelompok program SALAM Kawasi dalam menerapkan pengetahuan dan keterampilannya: 109 © Hakim et.al Tabel 2. Penerapan pengetahuan dan keterampilan anggota kelompok Penerima Manfaat Beldi Cecene, Rivaldo Ruhunlela, Christina Marta Sipondak, Brayen Gilis Dailangi, Jekin Daeng, Beni Pengetahuan/Keterampilan Mampu melakukan perawatan pertanian dari pemberian pestisida Bukti Penerapan Mampu menerapkan pengetahuan dalam kegiatan pembibitan Dapat melakukan kegiatan monitoring dan perawatan tanaman. Sumber: Dokumentasi Perusahaan C. Inovasi Sosial dan Kelestarian Lingkungan: KOPASKAT Program SALAM KAWASI berhasil melahirkan inovasi sosial yang diberi nama KOPASKAT (Kompos untuk Pertanian Masyarakat). Inovasi ini muncul sebagai solusi atas permasalahan limbah organik yang dihasilkan dari kegiatan pertanian (sisa panen sayuran rusak) dan peternakan (kotoran kambing). Alih-alih menjadi sumber pencemaran, limbahlimbah tersebut diolah bersama dengan limbah organik yang dipasok oleh PT Gane Permai Sentosa menjadi pupuk kompos yang bernilai guna. KOPASKAT mengandung unsur kebaruan dalam hal pemanfaatan terpadu berbagai jenis limbah menjadi produk yang mendukung keberlanjutan sistem pertanian itu sendiri. Inovasi ini tidak hanya menyelesaikan masalah lingkungan dengan mengurangi timbunan limbah (rata-rata 50-100 kg/siklus panen dan 265 kg kotoran kambing/bulan), tetapi juga memenuhi kebutuhan sosial dengan menyediakan pupuk organik yang terjangkau dan ramah lingkungan. Hal ini mengurangi ketergantungan kelompok terhadap pupuk kimia yang harganya fluktuatif dan terkadang langka. Proses produksi kompos KOPASKAT mendorong perbaikan kapasitas individu dan kelompok. Anggota kelompok memperoleh keterampilan baru dalam mengelola limbah, sekaligus memperkuat hubungan sosial melalui kerja sama dan gotong royong dalam proses produksi. Inovasi KOPASKAT dapat dikategorikan sebagai inovasi sosial, yang didefinisikan sebagai gagasan baru yang memenuhi kebutuhan sosial secara lebih efektif daripada solusi 110 © Hakim et.al yang ada dan utamanya menciptakan hubungan dan kolaborasi sosial yang baru (Osburg & Schmidpeter, 2013). Keberhasilan inovasi ini tercermin dari data tren positif pengurangan penggunaan pupuk kimia oleh kelompok. Pada tahun 2023, penggunaan pupuk kimia sebesar 70% (1.320 kg) berbanding kompos 30% (580 kg). Kemudian, pada periode Januari-Agustus 2025, dilaporkan terjadi peningkatan signifikan dimana penggunaan pupuk kimia turun menjadi 50% (760 kg) dan seimbang dengan penggunaan kompos yang mencapai 50% (760 kg). Target jangka panjangnya adalah mencapai 100% penggunaan pupuk organik, yang menunjukkan komitmen tinggi kelompok terhadap pertanian berkelanjutan. D. Peran Multi-Stakeholder dalam Keberhasilan Implementasi Program SALAM KAWASI mencerminkan model kolaborasi Penta Helix iyang melibatkan akademisi (melalui pendampingan berbasis ilmu), bisnis (PT TBP dan PT GPS), pemerintah, komunitas, dan media (Halibas et al., 2017). Keberhasilan program SALAM KAWASI tidak lepas dari kolaborasi yang efektif antara berbagai pemangku kepentingan (multi-stakeholder). PT TBP berperan sebagai fasilitator utama yang menyediakan pendanaan, infrastruktur dasar, dan pendampingan teknis melalui tim Community Development-nya. Keterlibatan stakeholder internal perusahaan, mulai dari level foreman, supervisor hingga manager, memastikan adanya pengawasan dan dukungan kebijakan yang memadai. Peran pemerintah daerah setempat dan pemerintah desa sangat krusial dalam memberikan legitimasi dan dukungan administratif, sehingga program dapat diterima dan diintegrasikan dengan program pembangunan desa. Kolaborasi dengan perusahaan lain, yaitu PT Gane Permai Sentosa, dalam menyuplai limbah organik untuk kegiatan KOPASKAT merupakan contoh sinergi antar-korporasi yang memperkuat ekosistem ekonomi sirkular. Sementara itu, masyarakat, yang diwakili oleh Kelompok SALAM KAWASI, adalah aktor utama yang menjalankan program. Partisipasi aktif mereka dalam setiap kegiatan, mulai dari perencanaan hingga evaluasi, menjamin bahwa program benar-benar dimiliki oleh masyarakat, yang merupakan prinsip dasar dari pemberdayaan yang berkelanjutan. E. Regenerasi Kepemimpinan Lokal (Local Hero) Program pemberdayaan yang berkelanjutan harus mampu melahirkan dan meregenerasi pemimpin lokal (local hero) (Kushadajani & Permana, 2020). Dalam program SALAM KAWASI, figur seperti Beldi Cecene, sebagai Ketua Kelompok, telah menjadi motor penggerak yang efektif. Beldi tidak hanya menjadi jembatan komunikasi antara perusahaan dan masyarakat, tetapi juga menjadi teladan dalam hal komitmen dan ketekunan. Kepemimpinan Beldi berhasil mengkonsolidasikan anggota kelompok dan memastikan kegiatan berjalan sesuai rencana. Yang patut dicatat, program ini telah berhasil menciptakan proses regenerasi kepemimpinan. Rivaldo Ruhunlela, seorang pemuda Desa Kawasi, kini telah diposisikan sebagai Wakil Ketua Kelompok. Keikutsertaan generasi muda seperti Rivaldo sangat penting untuk menyuntikkan ide-ide segar dan memastikan estafet kepemimpinan serta semangat berwirausaha tetap hidup di kalangan masyarakat. Proses regenerasi ini menunjukkan bahwa program SALAM KAWASI tidak hanya berorientasi pada hasil jangka pendek, tetapi juga membangun fondasi kepemimpinan lokal yang kuat untuk menjaga keberlanjutan program bahkan setelah pendampingan intensif oleh perusahaan berakhir Kesimpulan Program SALAM KAWASI yang diimplementasikan oleh PT Trimegah Bangun Persada Tbk telah membuktikan diri sebagai model pemberdayaan masyarakat yang komprehensif dan berkelanjutan. Program ini yang berbasis pada sistem pertanian terpadu 111 © Hakim et.al tidak hanya berhasil menciptakan sumber pendapatan baru, namun juga mengintegrasikan budidaya tanaman melalui kegiatan PERTIKAT (Pertanian Hortikultura untuk Masyarakat), budidaya ikan air tawar melalui kegiatan BUDIKASI (Budi daya Ikan Air Tawar di Salam Kawasi), dan peternakan. Melalui program ini masyarakat dapat meningkatkan kesejahteraan dan peningkatan pendapatan dari 40% hingga 240%., tetapi juga telah meningkatkan kapasitas dan keterampilan masyarakat dalam mengelola usaha pertanian modern. Inovasi sosial KOPASKAT sebagai solusi atas permasalahan limbah organik yang dihasilkan dari kegiatan pertanian (sisa panen sayuran rusak) dan peternakan (kotoran kambing). Dengan adanya kompos tersebut kegiatan pertanian mengalami penghematan penggunaan pupuk kimia hingga 50%. Program ini menjadi bukti nyata kemampuan masyarakat dalam mengatasi permasalahan lingkungan sekaligus menciptakan nilai tambah secara ekonomi. Kolaborasi yang solid antara perusahaan, pemerintah, komunitas, dan pihak ketiga menjadi kunci keberhasilan implementasi program. Kesuksesan program ini menawarkan pelajaran berharga bahwa pendekatan community development yang efektif haruslah berbasis pada kebutuhan riil masyarakat (sesuai hasil social mapping), melibatkan partisipasi aktif masyarakat di semua tahapan, dan dirancang dengan prinsip keberlanjutan ekologi dan sosial. Kemunculan dan regenerasi local hero seperti Beldi Cecene dan Rivaldo Ruhunlela merupakan indikator penting dari keberhasilan pemberdayaan. Untuk itu, ke depan, penting untuk terus memperkuat kemandirian kelembagaan kelompok, mengembangkan strategi pemasaran yang lebih agresif untuk hasil produk, serta mendokumentasikan model program ini untuk dapat di replikasi atau diadaptasi di daerah lain dengan karakteristik serupa, sehingga manfaatnya dapat dirasakan secara lebih luas. Daftar Pustaka Ahmad, M. S., & Abu Talib, N. B. (2015). Empowering local communities: decentralization, empowerment and community driven development. Quality & Quantity, 49(2), 827838. Bowen, H. R. (2013). Social responsibilities of the businessman. University of Iowa Press. Chambers, R. (1994). Participatory rural appraisal (PRA): Analysis of experience. World Development, 22(9), 1253-1268. https://doi.org/https://doi.org/10.1016/0305750X(94)90003-5 Gill, M., Singh, J., & Gangwa, K. (2009). Integrated farming system and agriculture sustainability. Indian Journal of Agronomy, 54(2), 128-139. Halibas, A. S., Sibayan, R. O., & Maata, R. L. R. (2017). the Penta Helix Model of Innovation in Oman: an HEI Perspective. Interdisciplinary Journal of Information, Knowledge & Management, 12. Kushadajani, K., & Permana, I. A. (2020). Inovasi pemberdayaan masyarakat desa: peran kepemimpinan lokal dalam perspektif relasi antar aktor. JIIP: Jurnal Ilmiah Ilmu Pemerintahan, 5(1), 70-80. Osburg, T., & Schmidpeter, R. (2013). Social innovation. Solutions for a sustainable future, 18. Putri, A. E., & Sunarti, V. (2023). Pendekatan Andragogi Fasilitator Pelatihan Petani Milenial Di Balai Pelatihan Pertanian Sumatera Barat. Jurnal Family Education, 3(2), 154-164. Ramadhan, G. T., Sutopo, W., & Hisjam, M. (2022). A Sustainable Location-Allocation Model for Solar-Powered Pest Control to Increase Rice Productivity. Applied System Innovation, 5(2), 39. https://www.mdpi.com/2571-5577/5/2/39 112 © Hakim et.al Rosyida, I., & Nasdian, F. T. (2011). Partisipasi masyarakat dan stakeholder dalam penyelenggaraan program corporate social responsibility (csr) dan dampaknya terhadap komunitas perdesaan. Sodality: Jurnal Sosiologi Pedesaan, 5(1). Sukomardojo, T., Murthada, I., Ma’ruf, M. I., & Gymnastiar, I. (2023). Optimasi Praktik Pertanian di Komunitas Pedesaan Untuk Hasil Tanaman yang Berkelanjutan: Studi Keterlibatan Masyarakat. Jurnal Abdimas Peradaban, 4(2), 32-42. Swara, V. Y., & Simatupang, E. (2020). Getting out from the circle of CSR: Corporate social entrepreneurship in answering the challenge of social license to operate. Jurnal Sinergitas PkM & CSR Vol, 4(2). 113