Original Research HIJP : HEALTH INFORMATION JURNAL PENELITIAN Hubungan Dukungan Keluarga dengan Tingkat Keparahan Gejala pada Pasien Gagal Jantung The Relationship Between Family Support and Severity of Symptoms in Heart Failure Patients Oktaviana Nur Latifah1. Beti Kristinawati2* 1Mahasiswa Keperawatan. Program Studi Keperawatan. Fakultas Ilmu Kesehatan. Universitas Muhammadiyah Surakarta 2Departemen Keperawatan Medikal Bedah. Program Studi Keperawatan. Fakultas Ilmu Kesehatan. Universitas Muhammadiyah Surakarta *Korespondensi e-mail: bk115@ums. Kata kunci: Dukungan Keluarga. Tingkat keparahan gejala. Gagal Jantung Keywords: Family Support. Symptoms Appearing. Heart Failure Poltekkes Kemenkes Kendari. Indonesia ISSN : 2085-0840 ISSN-e : 2622-5905 Periodicity : Bianual vol. 17 no. jurnaldanhakcipta@poltekkes-kdi. Received : 06 Oktober 2025 Accepted : 20 November 2025 Funding source: DOI : 10. 36990/hijp. URL : https://myjurnal. id/index. php/HIJP Contract number: - Abstrak: Latar belakang: Gagal jantung menimbulkan penurunan fungsi tubuh yang berdampak pada kualitas hidup pasien. Dukungan keluarga terbukti memengaruhi manajemen diri pada penyakit kronis, namun bukti empiris pada gagal jantung di Indonesia masih Tujuan: Menganalisis hubungan dukungan keluarga dengan tingkat keparahan gejala pada pasien gagal jantung. Metode: Penelitian deskriptif-korelatif pendekatan cross-sectional melibatkan responden di Poliklinik Jantung RS Universitas Sebelas Maret yang diseleksi melalui purposive sampling. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner Family Support Scale (FSS) dan Heart Failure Somatic Perception Scale (HFSPS). Hasil: Uji korelasi Spearman rank menghasilkan p-value 0,000 dan koefisien korelasi 0,775, menunjukkan korelasi negatif kuat yang berarti peningkatan dukungan keluarga secara signifikan menekan persepsi gejala. Simpulan: Dukungan keluarga berperan penting dalam menurunkan tingkat keparahan gejala pada pasien gagal jantung. Saran: Diperlukan intervensi berbasis keluarga dalam edukasi dan perawatan berkelanjutan untuk optimalisasi manajemen gejala gagal jantung. Abstract: Background: Heart failure causes a decrease in bodily function which has an impact on the patient's quality of life. Family support has been shown to influence self-management in chronic diseases, but empirical evidence on heart failure in Indonesia is limited. Objective: To analyze the relationship between family support and symptom severity in heart failure patients. Methods: A descriptive-correlative study with a cross-sectional approach involved 317 respondents at the Heart Polyclinic of Sebelas Maret University Hospital who were selected through purposive sampling. The instruments used were the Family Support Scale (FSS) questionnaire and the Heart Failure Somatic Perception Scale (HFSPS). Results: The Spearman rank correlation test yielded a p-value of 0. 000 and a correlation coefficient of -0. indicating a strong negative correlation meaning increased family support significantly suppressed symptom perception. Conclusion: Family support plays an important role in reducing the severity of Health Information: Jurnal Penelitian, 2025, vol. 17, no. September Ae Desember. ISSN: 2085-0840/2622-5905 Page | 302 symptoms in heart failure patients. Suggestion: Family-based interventions in education and ongoing care are needed for optimised management of heart failure symptoms. PENDAHULUAN Gagal jantung (Heart Failure/ HF) merupakan gangguan kesehatan yang serius di masyarakat dan menjadi penyebab utama orang lanjut usia masuk ke rumah sakit untuk rawat inap, diperkirakan 64,3 juta orang di seluruh dunia (Groenewegen et al. , 2. Menurut Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesda. , prevalensi gagal jantung di Indonesia mengalami peningkatan dari 0,5% pada tahun 2013 menjadi 1,5% pada tahun 2018. Kondisi gagal jantung yang kronis disertai gejala yang berulang dapat mempengaruhi kualitas hidup dan meningkatkan keperahan gejala pasien. Kondisi gagal jantung dimana kebutuhan oksigen pada organ dan jaringan menjadi tidak mencukupi dikarenakan aliran darah yang diperlukan tidak lancar disebabkan oleh keadaan jantung yang tidak dapat memompa darah dengan baik (Onohara et al. , 2. Ventrikel kiri jantung mengalami kesulitan dalam mengisi darah selama fase diastolik akibat otot jantung yang lebih kaku (Guazzi & Naeije, 2. Dari kondisi tersebut muncul gejala seperti kelelahan, sesak nafas, orthopnea, anoreksia, mual, pembengkaan, kelemahan, dan nocturia (Butler et al. , 2020. Harding et , 2. Manajemen diri yang rendah seperti ketidakpatuhan dalam menjalani pengobatan, kurangnya pemantauan gejala, pola makan yang tidak teratur, serta aktivitas fisik yang tidak sesuai, dapat memperburuk beban gejala yang dialami (Siallagan, 2021. Banudi et al. , 2. Selain itu, tingkat stres emosional yang tinggi juga berkontribusi terhadap peningkatan beban gejala, terutama melalui peningkatan kecemasan, yang dapat memperburuk kondisi fisik maupun mental individu (Zhang et , 2. Gejala- gejala tersebut bisa muncul secara bersamaan pada pasien gagal jantung sehingga kombinasi gejala ini dapat memperburuk kondisi fisik pasien, mengurangi kemampuan mereka dalam menjalani aktivitas sehari- hari, serta berdampak pada kualitas hidupnya (Hu et al. , 2. Dalam menghadapi tekanan emosional dan kompleksitas gejala yang dialami, pasien gagal jantung membutuhkan sistem dukungan yang kuat dari lingkungan terdekat, terutama dari keluarga. Dukungan ini tidak hanya berperan sebagai penopang emosional, tetapi juga sebagai faktor penting dalam membantu pasien mengelola kondisi secara fisik dan psikologis. Proses perawatan pasien gagal jantung memerlukan dukungan dari pihak lain, seperti bantuan dari keluarga. Dukungan keluarga didefinisikan sebagai bentuk bantuan yang diberikan oleh anggota keluarga kepada pasien gagal jantung, sehingga membuat mereka merasa diperhatikan dan dihargai. hal ini dapat meningkatkan rasa berguna serta memotivasi pasien untuk menjalani terapi yang bertujuan meredakan beban gejala (Nursalam et al. , 2. Jenis dukungan keluarga yang diberikan mencakup dukungan emosional, informasional, penilaian, serta instrumental (Izzuddin et al. , 2. Keterlibatan keluarga juga dapat memperkuat mekanisme coping, penerimaan terhadap kondisi penyakit, serta kepatuhan terhadap pengobatan dan perubahan pola hidup. Keterlibatan keluarga secara aktif dapat membantu pasien dalam memantau gejala dan mendorong tindakan dini, sehingga dapat menekan peningkatan keperahan gejala gagal jantung. Pasien gagal jantung dengan dukungan keluarga yang kuat cenderung mengalami gejala lebih ringan, lebih mampu mengelola stres melalui coping yang efektif, memiliki kualitas hidup emosional dan fisik yang lebih baik, serta menunjukkan penurunan signifikan dalam angka rawat inap berulang. (Ali et al. , 2. Dukungan keluarga yang baik tidak hanya meningkatkan perilaku perawatan mandiri, tetapi juga mendorong pasien untuk lebih disiplin dalam mematuhi pengobatan, mengikuti anjuran medis, serta melakukan perubahan gaya hidup yang berkelanjutan (Rogers & Bush, 2. Health Information: Jurnal Penelitian, 2025, vol. 17, no. September Ae Desember. ISSN: 2085-0840/2622-5905 Page | 303 Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa dukungan keluarga berkorelasi kuat dengan peningkatan kualitas hidup, pemaparan efek samping obat, perilaku perawatan diri, dan kepatuhan pengobatan . humairoh et al. , 2023. Sugiyanti et al. , 2020. Susanto et al. , 2022. Yoyoh et al. , 2. Selain itu, pada kondisi gagal jantung manifestasi gejala yang timbul juga akan berdampak signifikan terhadap kualitas hidup individu, sehingga diperlukan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai modalitas dukungan keluarga yang paling efektif dalam manajemen gejala gagal jantung tersebut. Selain itu kurangnya dukungan keluarga atau keadaan keluarga yang tidak harmonis dapat memperburuk kondisi pasien. Dengan demikian, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara dukungan keluarga dan tingkat keparahan gejala pada pasien gagal jantung. METODE Jenis Penelitian Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif korelatif dengan pendekatan cross sectional. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Sakit Universitas Sebelas Maret (UNS) yang berlangsung pada 20 Maret sampai 29 April 2025. Populasi dan Sampel Populasi penelitian adalah seluruh pasien gagal jantung yang menjalani kontrol di Poliklinik Jantung RS Universitas Sebelas Maret selama periode JanuariAeDesember 2024 (N=1. Sampel dihitung menggunakan rumus slovin dengan tingkat kesalahan 5% sehingga diperoleh 317 responden. Teknik purposive sampling digunakan dengan kriteria inklusi pasien berusia Ou18 tahun, terdiagnosis gagal jantung, tinggal bersama keluarga, dan bersedia berpartisipasi melalui informed consent. Pengumpulan Data Instrumen penelitian terdiri dari tiga kuesioner, yaitu data demografi responden. Family Support Scale (FSS) untuk menilai tingkat dukungan keluarga, dan Heart Failure Somatic Perception Scale (HFSPS) untuk mengukur keparahan gejala. FSS terdiri dari 20 item dengan skor Likert, dan reliabilitas CronbachAos Alpha 0. 871 (Werdani & Prasetiani, 2. HFSPS memiliki 18 item berbasis persepsi gejala fisik dengan reliabilitas CronbachAos Alpha 0. 83 (Okviasanti et al. , 2. Kedua kuesioner telah divalidasi, tersedia dalam versi bahasa Indonesia dan dapat digunakan secara gratis. Pengolahan dan Analisis Data Analisis univariat digunakan untuk mendeskripsikan karakteristik responden, sedangkan hubungan antara dukungan keluarga dan tingkat keparahan gejala diuji dengan Spearman rank correlation karena data berdistribusi tidak normal . asil uji KolmogorovAeSmirnov, p < 0,. Nilai p < 0,05 dianggap signifikan dengan penentuan arah dan kekuatan korelasi berdasarkan nilai koefisien r. Penelitian ini telah memperoleh persetujuan etik dari Rumah Sakit Universitas Sebelas Maret (UNS) pada tanggal 17 Januari 2025 denganNo. : 017/UN27. 46/TA. 19/KEP/EC/2025. Health Information: Jurnal Penelitian, 2025, vol. 17, no. September Ae Desember. ISSN: 2085-0840/2622-5905 Page | 304 HASIL Karakteristik Responden Data karakteristik responden disajikan pada tabel 1. Tabel 1. Karakteristik Responden Karakteristik Usia . >65 Jenis Kelamin Laki- laki Perempuan Pendidikan Tidak Sekolah SMP SMA Di Sarjana Pasca Sarjana Pekerjaan Tidak Bekerja Petani Buruh PNS Wiraswasta Pegawai Swasta Pensiunan Penyakit Penyerta Hipertensi Diabetes Melitus Hipertensi&Diabetes Melitus Lama Menderita . Kelas Fungsional Gagal Jantung NYHA I NYHA II NYHA i Frekuensi Persentase(%) Mean A SD 49 A 0. 44 A 0. 62 A 1. 85 A 2. 56 A 0. 17 A 0. 88 A 0. Karakteristik umur responden menunjukkan sebagian besar penderita gagal jantung berusia 5665 tahun yaitu sebanyak 128 responden . 4%), jenis kelamin sebagian besar yaitu laki-laki dengan 178 responden . 2%), berpendidikan SMA yaitu 115 responden . 3%), pekerjaan sebagian besar adalah tidak bekerja sebanyak 169 responden . 3%), hipertensi menjadi penyakit penyerta tertinggi dengan 101 responden . 5%), sebagian besar menderita selama >3 tahun sebanyak 134 responden Health Information: Jurnal Penelitian, 2025, vol. 17, no. September Ae Desember. ISSN: 2085-0840/2622-5905 Page | 305 . 3%), dan kelas fungsional gagal jantung sebagian besar pada kelas NYHA II sebanyak 109 responden . 9%). Dukungan Keluarga Data dukungan keluarga disajikan pada tabel 2. Tabel 2. Dukungan Keluarga Dukungan Keluarga Kurang Cukup Baik Total Frekuensi Persentase (%) Mean A SD 55 A . Dukungan keluarga pada pasien gagal jantung menunjukkan sebagian besar pasien memiliki dukungan yang baik yaitu sebanyak 184 responden . %), kemudian dilanjut dukungan cukup 125 responden . 4%), dan sisanya 8 responden . 5%) memiliki dukungan kurang. Tingkat keparahan gejala Data tingkat keparahan gejala disajikan pada tabel 3. Tabel 3. Tingkat keparahan gejala Tingkat keparahan Ringan Sedang Berat Total Frekuensi Persentase (%) Mean A SD 94 A . Tingkat keparahan gejala pada pasien gagal jantung menunjukkan sebagian besar pasien memiliki gejala sedang yaitu sebanyak 190 responden . 9%), kemudian dilanjut gejala baik sebanyak 72 responden . 7%), dan sisanya 55 responden . 4%) memiliki gejala berat. Hubungan dukungan keluarga dengan tingkat keparahan gejala pada pasien gagal jantung Hasil uji normalitas disajikan pada tabel 4. Tabel 4. Uji Normalitas Variabel Dukungan Keluarga Tingkat keparahan gejala Statistic Kolmogorov smirnov Sig Data kedua variabel tidak berdistribusi normal . <0,. , sehingga digunakan uji korelasi Spearman. Hasil uji sperman rank korelasi antara dukungan keluarga dengan tingkat keparahan gejala pada tabel 5. Health Information: Jurnal Penelitian, 2025, vol. 17, no. September Ae Desember. ISSN: 2085-0840/2622-5905 Page | 306 Tabel 5. Hubungan dukungan keluarga dengan tingkat keparahan gejala pada pasien gagal jantung Tingkat keparahan gejala Ringan Sedang Berat Ket. Dukungan Kurang 0 Keluarga Cukup Baik Total 72 22. 7 190 59. 9 55 17. Total p-value Pasien gagal jantung yang mendapatkan dukungan keluarga baik menunjukkan gejala yang sedang yaitu sebanyak 114 responden . %). Hasil uji bivariat dengan metode Spearman rank memperlihatkan nilai p-value sebesar 0. < 0. , sehingga hipotesis nol (H. ditolak dan hipotesis alternatif (H. Hal ini menunjukkan adanya hubungan antara dukungan keluarga dengan gejala yang timbul pada pasien gagal jantung. Koefisien korelasi yang bernilai negatif, yakni 0. 775, mengindikasikan kekuatan korelasi kuat dan arah hubungan negatif antara kedua variabel Artinya, semakin meningkat dukungan keluarga, maka tingkat keparahan gejala pada pasien cenderung menurun. Koefisien negatif menunjukkan bahwa peningkatan dukungan keluarga secara signifikan menurunkan persepsi gejala yang dialami pasien, mendukung teori adaptasi yang menyatakan bahwa dukungan sosial memperkuat mekanisme koping penderita penyakit kronis. PEMBAHASAN Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar pasien gagal jantung berusia 56-65 tahun. Hal ini berkaitan dengan semakin bertambahnya usia, semakin berkurang jumlah dan efisiensi miosit jantung, sementara kematian sel . ekrosis dan apoptosi. meningkat dan kemampuan regeneratif sel progenitor jantung menurun (Donsu et al. , 2. Keadaan ini menyebabkan jantung mengalami perubahan struktural yaitu peningkatan ukuran atrium, penebalan dinding jantung, dan penurunan Perubahan ini dapat mengganggu fungsi jantung dan berkontribusi pada gagal jantung (Tromp et al. , 2. Dalam penelitian ini, responden penderita gagal jantung didominasi oleh laki-laki dibandingkan Kecenderungan pria untuk menerapkan pola hidup tidak sehat, seperti kebiasaan merokok dan konsumsi alkohol berlebih, dapat menaikkan risiko berbagai penyakit lebih tinggi daripada perempuan (Groenewegen et al. , 2. Di samping itu, pria sering kali menderita komorbiditas yang lebih tinggi, termasuk penyakit jantung iskemik sebagai penyebab paling umum gagal jantung (Pramesti & Kristinawati, 2. Selain itu wanita memiliki hormon estrogen yang melindungi kesehatan jantung, sedangkan laki-laki tidak memiliki perlindungan hormonal yang sama, membuat mereka lebih rentan terhadap aterosklerosis (Kusumajaya & Permatasari, 2. Pendidikan responden mengindikasikan bahwa mayoritas di antaranya telah menyelesaikan pendidikan tingkat menengah atas (SMA). Secara umum, tingkat pendidikan memberikan pengaruh yang substansial terhadap pola perilaku individu dalam kehidupan sehari-hari. Orang-orang dengan jenjang pendidikan yang lebih tinggi biasanya lebih peka dalam menyerap informasi baru dan mengintegrasikannya ke dalam kebiasaan serta pola hidup harian mereka (Ramadhana & Meitasari. Pendidikan juga berkontribusi pada peningkatan kemampuan kognitif, keterampilan pemecahan masalah, efisiensi proses pembelajaran, penguasaan diri, serta akses terhadap sumber daya finansial. Dengan demikian, tingkat pendidikan yang rendah berpotensi membatasi akses terhadap pelayanan kesehatan yang memadai, mengakibatkan tingkat kepatuhan yang lemah terhadap regimen pengobatan. Health Information: Jurnal Penelitian, 2025, vol. 17, no. September Ae Desember. ISSN: 2085-0840/2622-5905 Page | 307 dan pada akhirnya memperparah kondisi gejala yang dialami (Amilatusholiha & Kristinawati, 2. Mayoritas responden dalam penelitian ini tidak bekerja. Jenis pekerjaan yang dilakukan seseorang memiliki keterkaitan yang kuat dengan tingkat aktivitas fisik, kadar stres, serta pola istirahatnya, yang keseluruhannya berpotensi memengaruhi kondisi kesehatan jantung. Hal ini disebabkan oleh faktorfaktor seperti beban kerja yang berlebihan, durasi kerja yang panjang, atau tekanan pekerjaan yang tinggi, yang dapat mengakibatkan waktu istirahat yang terbatas, peningkatan stres berkelanjutan, serta pola hidup yang tidak seimbang (Panahian et al. , 2. Namun, tidak bekerja pun dapat menjadi sumber stres tersendiri bagi individu, karena mereka yang hanya tinggal di rumah sering kali terjebak dalam pikiran tentang masalah rumah tangga, yang memicu perasaan cemas dan kekhawatiran terhadap berbagai persoalan (Izzuddin et al. , 2. Di sisi lain, ketidakaktifan dalam dunia kerja juga memberikan kesempatan bagi pasien untuk lebih fokus pada perawatan diri, mengikuti program rehabilitasi jantung, dan mengelola gejala penyakit dengan lebih baik (Liu et al. , 2. Penyakit penyerta hipertensi menjadi penyakit penyerta tertinggi pada penelitian ini. Hipertensi menjadi faktor risiko utama gagal jantung dibandingkan penyakit penyerta lainnya karena secara terusmenerus memaksa jantung bekerja terlalu keras, yang mengakibatkan penebalan dan kekakuan jantung, hingga akhirnya melemah dan tidak mampu memompa darah dengan efektif, berujung pada gagal jantung (Gallo & Savoia, 2. Pada penderita hipertensi, tekanan yang berlebihan dapat memicu perkembangan hipertrofi ventrikel kiri, yang selanjutnya menyebabkan peningkatan tekanan saat pengisian ventrikel kiri dan dapat berujung pada terjadinya gagal jantung (Slivnick & Lampert, 2. Mayoritas responden sudah menderita gagal jantung selama >3 tahun. Pasien dengan gagal jantung yang berdurasi lebih dari tiga tahun, mengalami penurunan kondisi klinis yang signifikan, ditandai dengan gejala yang lebih berat, keterbatasan fisik, dan kebutuhan perawatan medis kompleks. Durasi penyakit yang panjang mencerminkan kerusakan miokard parah, disfungsi ventrikel progresif, dan keterlibatan organ lain, yang memperburuk prognosis, meningkatkan risiko rawat inap, menurunkan kualitas hidup (Sugiura et al. , 2. Menurut klasifikasi fungsional gagal jantung dari New York Heart Association (NYHA), sebagian besar pasien masuk dalam kategori NYHA II. Kelas NYHA II dicirikan oleh keterbatasan ringan pada aktivitas fisik, di mana pasien merasa nyaman ketika beristirahat, tetapi aktivitas fisik sehari-hari dapat memunculkan gejala gagal jantung (Heidenreich et al. , 2. Gejala yang timbul saat melakukan aktivitas fisik mencakup kelelahan, palpitasi, sesak napas, serta nyeri dada (Bozkurt et al. , 2. Pasien dengan kelas NYHA II lebih cenderung menjalani pemeriksaan kontrol di rumah sakit dibandingkan pasien pada kelas NYHA I yang tidak mengalami gejala sama sekali dan merasa tidak perlu melakukan pemeriksaan secara rutin. Dukungan keluarga pada pasien gagal jantung menunjukkan sebagian besar pasien memiliki dukungan yang baik. Dukungan keluarga membuat individu merasa diperhatikan, dihargai, dan dicintai sehingga dapat memberinya kekuatan baru, meningkatkan kesejahteraanya, dan harapan positif dalam hidupnya sehingga dapat meningkatkan kesehatan mereka dalam kehidupan sehari- hari (Izzuddin et , 2. Dukungan keluarga mencakup aspek emosional, instrumental, informasional, maupun Dukungan emosional berupa perhatian, kasih sayang, dan motivasi dari anggota keluarga dapat membantu menurunkan kecemasan dan stres yang dialami pasien. Secara fisiologis, penurunan tingkat stres akan mengurangi aktivasi sistem saraf simpatis yang berpengaruh pada berkurangnya gejala sesak napas, kelelahan, serta palpitasi. Pasien yang merasa didukung juga cenderung memiliki semangat lebih tinggi untuk patuh pada pengobatan dan menjaga gaya hidup sehat. Selain itu, dukungan instrumental seperti mengingatkan jadwal minum obat, membantu kontrol rutin, mengatur pola makan rendah garam, hingga mendampingi pasien dalam aktivitas sehari-hari terbukti sangat berpengaruh terhadap stabilitas kondisi kesehatan pasien gagal jantung. Dukungan informasional, misalnya melalui edukasi tentang tanda bahaya dan cara mengelola gejala, memungkinkan keluarga mendeteksi perburukan kondisi lebih dini sehingga dapat segera dilakukan tindakan medis. Adapun dukungan penghargaan dalam bentuk pujian atau pengakuan atas usaha pasien dalam menjaga kesehatannya juga memberikan dampak positif pada motivasi dan kepercayaan diri pasien (Susanto et al. , 2. Health Information: Jurnal Penelitian, 2025, vol. 17, no. September Ae Desember. ISSN: 2085-0840/2622-5905 Page | 308 Dukungan dari keluarga yang berkelanjutan dan penuh perhatian memainkan peran krusial dalam aspek kesehatan, karena dapat mempercepat proses pemulihan, meningkatkan mutu kehidupan, serta mencegah terjadinya komplikasi yang lebih parah. Keluarga juga mampu menyediakan motivasi positif dan meringankan tingkat stres melalui berbagai interaksi yang menyenangkan (Alberta et al. , 2. Keluarga secara aktif terlibat dalam pengawasan kesehatan, pemilihan makanan, serta pengenalan gejala yang dialami pasien, sambil juga bersedia mendukung proses perawatan gagal jantung, seperti menemani selama sesi kontrol rutin (Prameswari & Kristinawati, 2. Ketiadaan dukungan dari keluarga dapat menyebabkan pasien merasa semakin kesepian dan terasing. Kondisi tersebut berpotensi mempertinggi kadar stres, kecemasan, serta kemungkinan mengalami depresi. Keadaan mental yang negatif ini mampu memperlambat proses pemulihan, memperburuk kesehatan fisik, dan memperpanjang masa penyembuhan (Iriantika et al. , 2. Tingkat keparahan gejala pada pasien gagal jantung menunjukkan sebagian besar pasien memiliki gejala sedang. Hal tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar pasien gagal jantung berada dalam kondisi gejala yang belum parah, namun tetap memerlukan perhatian medis yang intensif untuk mencegah perburukan kondisi mereka. Sementara itu, pasien dengan gejala ringan mungkin tidak menyadari kondisi mereka atau merasa tidak perlu untuk mendapatkan perawatan, maupun pasien bergejala berat yang sering kali membutuhkan perawatan intensif atau rawat inap. (DAoSouza et al. , 2. Kondisi gejala sedang biasanya mendorong pasien untuk mencari perawatan lebih lanjut, karena keluhan yang muncul sudah cukup mengurangi kualitas hidup meskipun belum sampai mengancam keselamatan secara langsung. Pasien dengan gejala sedang umumnya lebih termotivasi untuk rutin melakukan kontrol, menjalani pemeriksaan, serta mematuhi terapi yang diberikan (Jarab et al. , 2. Tingginya persentase pasien yang mengalami gejala sedang mungkin dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk kepatuhan terhadap pengobatan, manajemen gaya hidup yang baik, serta akses yang memadai terhadap layanan kesehatan. Kontrol rutin memungkinkan dokter untuk memantau gejala seperti sesak napas, kelelahan, dan pembengkakan. Dengan pemantauan yang tepat, dokter dapat menilai apakah gejala tersebut memburuk atau membaik (Nurkhalis & Juliar, 2. Penting untuk menerapkan pendekatan individual dalam penanganan pasien gagal jantung. Ini mencakup pemantauan rutin untuk mengevaluasi perkembangan gejala, edukasi kesehatan yang berkelanjutan untuk meningkatkan pemahaman pasien tentang kondisi mereka, serta penyesuaian terapi yang diperlukan berdasarkan respons pasien terhadap pengobatan (Liu et al. , 2. Dengan pendekatan yang komprehensif dan terintegrasi, diharapkan dapat meningkatkan kualitas hidup pasien dan mengurangi risiko komplikasi yang lebih serius. Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan antara dukungan keluarga dengan tingkat keparahan gejala pada pasien gagal jantung. Dukungan keluarga memegang peran krusial dalam memengaruhi perjalanan gejala pada pasien gagal jantung, baik secara fisik maupun psikologis. Secara psikologis, dukungan emosional dari keluarga membantu mengurangi kecemasan dan depresi yang sering memperburuk gejala sekaligus menurunkan aktivasi sistem saraf simpatis yang membebani jantung (Budhiana et al. , 2. Dari aspek klinis, keterlibatan keluarga dalam memantau asupan cairan, kepatuhan terhadap pengobatan, dan pengawasan tingkat kekambuhan pasien gagal jantung memiliki dampak yang sangat positif terhadap hasil kesehatan pasien (Iriantika et al. , 2024. Sari et al. , 2023. Sugiyanti et al. , 2. Hal ini membuktikan bahwa dukungan keluarga bukan hanya berperan dalam aspek psikologis, tetapi juga memiliki implikasi klinis terhadap stabilitas kesehatan pasien. Oleh karena itu, intervensi dalam perawatan gagal jantung sebaiknya tidak hanya berfokus pada pasien, tetapi juga melibatkan keluarga sebagai bagian integral dari proses manajemen penyakit. Keterlibatan keluarga memiliki pengaruh yang signifikan terhadap perilaku perawatan diri pasien, yang mencakup berbagai aspek penting seperti pemeliharaan kesehatan, persepsi gejala, dan manajemen perawatan diri (Permana et al. , 2. Selain itu, keluarga yang terlatih dalam memantau gejala dapat mendeteksi tanda-tanda perburukan kondisi secara dini, sehingga mencegah deteriorasi kualitas hidup akibat rawat inap berulang (Damrongratnuwong et al. , 2. Semakin baik kualitas dukungan yang diterima pasien dari keluarganya, semakin ringan gejala yang dirasakan, baik berupa sesak napas, kelelahan, maupun keluhan lain yang membatasi aktivitas sehari-hari. Dengan demikian Health Information: Jurnal Penelitian, 2025, vol. 17, no. September Ae Desember. ISSN: 2085-0840/2622-5905 Page | 309 dukungan keluarga terhadap pasien gagal jantung dinilai sebagai strategi efektif untuk optimasi manajemen gejala dan kesejahteraan pasien. KESIMPULAN DAN SARAN Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan negatif yang kuat antara dukungan keluarga dan gejala gagal jantung, yang berarti semakin tinggi dukungan keluarga, semakin ringan gejala yang dialami pasien. Temuan ini menegaskan pentingnya peran keluarga dalam membantu pasien mengelola kondisi kronis. Dalam praktik klinik, tenaga kesehatan perlu melibatkan keluarga secara aktif melalui edukasi dan pendampingan untuk meningkatkan kepatuhan serta kualitas hidup pasien. Dari sisi kebijakan, penguatan program berbasis keluarga dan dukungan sosial komunitas sangat diperlukan agar perawatan pasien gagal jantung lebih berkelanjutan. Penelitian selanjutnya disarankan menggunakan desain longitudinal atau mixedmethod dengan jumlah responden lebih besar dan pendekatan observasi agar pemahaman tentang hubungan dukungan keluarga dan kondisi klinis pasien lebih mendalam. REKOMENDASI Implementasi pendekatan mixed-method yang mengombinasikan data kuantitatif dan kualitatif sangat direkomendasikan. Metode kualitatif melalui wawancara mendalam dengan pasien dan keluarga dapat mengeksplorasi dimensi psikososial dukungan keluarga, hambatan dalam memberikan dukungan, serta strategi koping yang efektif dalam manajemen gejala sehari-hari. PERNYATAAN Ucapan Terimakasih Ucapan terimakasih kepada Universitas Muhammadiyah Surakarta, pimpinan serta semua staff Rumah Sakit Umum di Surakarta, dan responden yang telah berpartisipasi dan mendukung berlangsungnya penelitian ini. Pendanaan Pendanaan dalam penelitian ini dilakukan secara mandiri Kontribusi Setiap Penulis Conseptualization (Oktaviana Nur Latifah & Beti Kristinawat. Data curation (Oktaviana Nur Latifa. Formal analysis (Oktaviana Nur Latifah & Beti Kristinawat. Investigation (Oktaviana Nur Latifah & Beti Kristinawat. Methodology (Oktaviana Nur Latifah & Beti Kristinawat. Project administration (Oktaviana Nur Latifa. Resource (Oktaviana Nur Latifa. Supervision (Beti Kristinawat. Validation (Beti Kristinawat. Writing-original draft (Oktaviana Nur Latifah & Beti Kristinawat. Writing-review & editing (Beti Kristinawat. Pernyataan Konflik Kepentingan Penulis tidak memiliki konflik kepentingan apapun dalam penelitian ini. Health Information: Jurnal Penelitian, 2025, vol. 17, no. September Ae Desember. ISSN: 2085-0840/2622-5905 Page | 310 DAFTAR PUSTAKA