Junnal Fibonaci : Jurnal Pendidikan Matematika Volume: 6. Nomor: 1. Tahun: 2025 Doi. 24114/jfi. ISSN: 2746-3656 Penerapan Model Problem Based Learning Untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Matematis dan Self-Efficacy Peserta Didik Isnayeni Rambu Ipa1*. Mayun Erawati Nggaba2 Pendidikan Matematika. Universitas Kristen Wira Wacana Sumba. Sumba Timur. Indonesia *Coresponding Author: yeniipa107@gmail. Diterima 17 Juni 2025, disetujui untuk publikasi: 28 Juni 2025 Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas penerapan model Problem Based Learning (PBL) dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan self-efficacy siswa kelas Vi-C SMP Negeri 1 Nggaha Ori Angu pada semester genap tahun ajaran 2025/2026. Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan subjek seluruh peserta didik kelas ViC berjumlah 24 orang. Instrumen yang digunakan untuk mengukur kemampuan berpikir kritis dan self-efficacy meliputi lembar observasi, tes tertulis dengan 3 butir soal uraian, dan angket. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan kemampuan berpikir kritis dan self-efficacy dari pra siklus menuju siklus 1 dan siklus 2. Pada pra siklus, kemampuan berpikir kritis sebesar 25,13% dan self-efficacy 55,30%. Setelah perlakuan PBL pada siklus 1, kemampuan berpikir kritis meningkat menjadi 64,50% . ,37%) dan self-efficacy menjadi 61,70% . ,4%). Meskipun peningkatan pada siklus 1 belum signifikan, penulis melanjutkan ke siklus 2. Pada siklus 2, kemampuan berpikir kritis meningkat menjadi 85,70% . ,2%) dan self-efficacy menjadi 86,10% . ,4%). Kesimpulannya, penerapan model PBL efektif dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan selfefficacy peserta didik pada materi statistika Kata Kunci: Problem Based Learning. Kemampuan Berpikir Kritis. Self-Efficacy Citation : Ipa. , & Nggaba. Penerapan Model Problem Based Learning Untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Matematis dan Self-Efficacy Peserta Didik. Jurnal Fibonaci: Jurnal Pendidikan Matematika: 6. , hal. 29 Ae 37. hari (Trilling & Fadel, 2. Kemampuan ini Pendahuluan Matematika adalah ilmu dasar yang sangat mencakup proses berpikir reflektif seperti interpretasi, penting untuk dipelajari di setiap jenjang pendidikan, analisis, inferensi, evaluasi, dan penjabaran alasan, mulai dari taman kanak-kanak hingga sekolah yang dapat ditumbuhkan melalui pembelajaran yang menengah dan bahkan perguruan tinggi. Pembelajaran mendorong partisipasi aktif siswa. Berpikir kritis matematika tidak hanya sebatas pada angka, tetapi menuntut penerapan standar intelektual seperti juga mencakup berbagai kemampuan yang dapat kejelasan, akurasi, relevansi, dan logika dalam setiap dikembangkan dan bermanfaat dalam kehidupan proses pemikiran. Selain itu, pengembangan berpikir sehari-hari. Salah satu kemampuan tersebut adalah kritis sangat efektif jika dilakukan melalui strategi berpikir kritis (Afifah & Kusuma, 2. Kemampuan pembelajaran yang melibatkan siswa secara aktif berpikir kritis merupakan salah satu keterampilan dalam mengonstruksi, mengevaluasi, dan menjelaskan solusi terhadap permasalahan nyata. Oleh karena itu, dikembangkan melalui proses pendidikan, karena pendidikan harus dirancang bukan hanya untuk berkaitan langsung dengan kemampuan individu dalam menganalisis informasi, mengevaluasi argumen, membentuk cara berpikir yang logis, reflektif, terbuka dan mengambil keputusan secara rasional (Hardiyanto & Santoso, 2. Dalam konteks pembelajaran abad diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. ife ke-21, berpikir kritis menjadi bagian dari kompetensi Urgensinya kemampuan berpikir kritis dimiliki oleh peserta didik, namun faktanya, kemampuan tantangan global dan kompleksitas kehidupan sehari- berpikir kritis peserta didik masih rendah (Syafitri et Ipa. , & Nggaba. Penerapan Model Problem Based Learning untuk MeningkatkanA. Program Studi Pendidikan Matematika - Universitas Negeri Medan Junnal Fibonaci : Jurnal Pendidikan Matematika Volume: 6. Nomor: 1. Tahun: 2025 Doi. 24114/jfi. ISSN: 2746-3656 , 2. Menurut data dari Program for International tantangan pembelajaran, khususnya dalam mata Student Assessment (PISA) Indonesia menduduki pelajaran yang dianggap sulit seperti matematika. peringkat 64 dari 65 negara dengan skor literasi 382. Rendahnya self-efficacy ini berdampak pada PISA menunjukkan bahwa peserta didik di Indonesia sikap pasif dan mudsah menyerah saat menghadapi hanya mampu mencapai tingkat 1 dan 2 dari total 6 kesulitan belajar, serta menurunnya motivasi dan tingkat soal yang ada. Dengan demikian. PISA keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran. Sejalan menyimpulkan bahwa kemampuan berpikir siswa di dengan pandangan Afifah & Kusuma, . , self- Indonesia tergolong sangat rendah (Aurelia, 2. efficacy merupakan keyakinan peserta didik terhadap Data empirik lain yang menunjukkan kemampuan kemampuannya sendiri untuk mengatur tindakan berpikir kritis siswa Indonesia masih tergolong rendah. yang diperlukan guna mencapai keberhasilan belajar. Hasil TIMSS Chotima, dkk. , . juga menegaskan bahwa tanpa peringkat 45 dari 58 negara, dengan sebagian besar adanya keyakinan diri yang kuat, siswa cenderung siswa hanya mampu menjawab soal-soal pada level dasar dan mengalami kesulitan dalam menyelesaikan mempertahankan usaha saat menghadapi kesulitan. soal yang memerlukan penalaran tinggi. Temuan Oleh karena itu, penguatan kemampuan berpikir kritis serupa juga terlihat dalam Asesmen Nasional yang perlu diimbangi dengan strategi pembelajaran yang dilaksanakan oleh Kemendikbudristek, di mana juga mendukung peningkatan self-efficacy siswa, agar mayoritas siswa berada pada kategori Auperlu intervensi mereka mampu belajar secara mandiri, percaya diri, khususAy dalam aspek literasi dan numerasi, yang dan konsisten dalam menyelesaikan masalah secara Temuan ini menunjukkan pentingnya intervensi menempatkan Indonesia menganalisis, mengevaluasi, dan menarik kesimpulan. Sementara itu, hasil AKMI 2021 dari Kementerian memfasilitasi kedua aspek tersebut secara simultan. Agama menunjukkan bahwa hanya sebagian kecil Melihat permasalahan diatas, yaitu rendahnya siswa madrasah yang mampu menyelesaikan soal kemampuan berpikir kritis matematis dan self-efficacy numerasi kompleks, menandakan bahwa kemampuan peserta didik maka salah satu upaya yang dilakukan berpikir kritis siswa belum berkembang secara optimal oleh guru untuk meningkatkan kemampuan berpikir di berbagai jenjang pendidikan. kritis matematis dan self-efficacy peserta didik adalah Hasil observasi dan wawancara yang dilakukan dengan memilih serta menerapkan model atau metode peneliti pada tanggal 19 Maret 2025 di SMP Negeri 1 Nggaha Ori Angu kemampuan berpikir kritis peserta didik kelas ViC masih tergolong rendah. Kondisi ini memperkuat berbagai model pembelajaran. Salah satu model yang temuan dari studi internasional seperti PISA, yang efektif untuk ini adalah Problem Based Learning. menunjukkan bahwa siswa Indonesia umumnya Model Problem Based Learning (PBL) adalah mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal-soal suatu pendekatan pembelajaran yang berbasis pada masalah, dirancang untuk membantu peserta didik pengambilan keputusan berbasis analisis. Dari hasil mengembangkan kemampuan dalam memecahkan wawancara dengan guru mata pelajaran Matematika, masalah dengan menggunakan pengetahuan yang telah mereka miliki. Model ini menempatkan siswa mengaitkan konsep matematika dengan situasi nyata, sebagai pusat pembelajaran, sehingga mendorong serta mengalami hambatan dalam menyampaikan keterlibatan aktif dalam proses berpikir, diskusi, dan alasan logis atas solusi yang mereka pilih. Selain aspek pencarian solusi secara mandiri maupun kolaboratif. berpikir kritis, ditemukan pula bahwa tingkat self- Dengan efficacy siswa tergolong rendah, yang tercermin dari pengalaman belajar yang bermakna dan kontekstual kurangnya keyakinan mereka dalam menghadapi (Marlina et al. , 2. Keunggulan model ini telah PBL didukung oleh sejumlah hasil penelitian. Studi yang Ipa. , & Nggaba. Penerapan Model Problem Based Learning untuk MeningkatkanA. Program Studi Pendidikan Matematika - Universitas Negeri Medan Junnal Fibonaci : Jurnal Pendidikan Matematika Volume: 6. Nomor: 1. Tahun: 2025 Doi. 24114/jfi. ISSN: 2746-3656 dilakukan oleh Rahayu & Rachmadtullah . Model Problem Based Learning (PBL) memiliki menunjukkan bahwa penerapan PBL secara signifikan sejumlah karakteristik khas yang membedakannya dari pendekatan pembelajaran konvensional. Menurut kreativitas siswa dalam pembelajaran matematika. Adyana . , serta Huda . dan Intasari . Penelitian lain oleh Sari & Sukmawati . dalam (Malau, 2. , model ini berorientasi pada siswa menemukan bahwa siswa yang belajar melalui model . tudent-centered learnin. , di mana peserta didik PBL menunjukkan peningkatan self-efficacy yang lebih menjadi subjek aktif dalam proses belajar. Proses baik dibandingkan siswa yang belajar dengan pendekatan konvensional. Hal ini terjadi karena PBL . uthentic problem. yang menjadi titik awal dalam memberikan ruang bagi siswa untuk mengalami mengembangkan pengetahuan dan keterampilan. proses belajar yang menantang, namun didukung Informasi dengan struktur yang mendorong kepercayaan diri . elf-directed dan kemandirian. Dengan demikian, penerapan model terdorong untuk mencari dan mengelola sumber PBL tidak hanya meningkatkan hasil belajar, tetapi belajar secara otonom. Selain itu, kegiatan belajar juga mengembangkan aspek afektif yang penting berlangsung dalam kelompok kecil . mall group dalam pembelajaran abad ke-21. , yang memungkinkan terjadinya interaksi Tinjauan Teoretis sosial, kolaborasi, dan pertukaran ide secara efektif. Dalam proses ini, guru tidak bertindak sebagai sumber digunakan untuk menggambarkan proses belajar utama informasi, melainkan sebagai fasilitator yang mengajar dari awal hingga akhir. Model pembelajaran membimbing dan mengarahkan siswa dalam proses adalah pola atau rencana yang dapat digunakan untuk berpikir kritis dan pemecahan masalah. Model Adapun langkah-langkah pelaksanaan model membuat kurikulum . encana pembelajaran jangka PBL meliputi lima tahapan utama. Pertama, siswa mengarahkan pembelajaran di kelas atau tempat lain. Model pembelajaran berfungsi sebagai panduan bagi memaparkan suatu permasalahan kontekstual yang pendidik dalam merencanakan proses belajar di kelas. relevan dengan kehidupan nyata untuk membangun Hal ini mencakup persiapan berbagai perangkat rasa ingin tahu. Kedua, guru mengorganisasi siswa ke pembelajaran yang diperlukan (Mirdad & Pd, 2. Dalam penelitian ini, peneliti menerapkan model PBL untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan Tahap ketiga adalah membimbing self-efficacy peserta didik kelas ViC di SMP Negeri penyelidikan secara aktif, di mana siswa mencari Nggaha Ori Angu. informasi dan mengembangkan pemahaman melalui Model Problem Based Learning memfokuskan Keempat, penggunaan permasalahan sebagai perhatian utama mengembangkan hasil karya atau solusi terhadap untuk diselesaikan dengan berpikir kritis. Masalah masalah yang diberikan, baik dalam bentuk laporan, yang diangkat dalam model ini seringkali merupakan presentasi, atau produk lain. Terakhir, proses diakhiri isu aktual yang dapat dihadapi oleh masyarakat. Oleh dengan kegiatan analisis dan evaluasi, baik terhadap karena itu, penerapannya memberikan pengalaman hasil maupun proses pembelajaran, yang bertujuan nyata dan langsung kepada peserta didik, terutama dalam menangani tantangan-tantangan yang mungkin mengembangkan kemampuan berpikir kritis siswa peserta didik temui dalam kehidupan sehari-hari. secara berkelanjutan. Model ini mengajarkan peserta didik untuk berpikir Berpikir kritis merupakan sebuah proses yang kritis, memecahkan masalah, dan memahami konsep- terarah dan jelas yang digunakan dalam kegiatan konsep utama dari materi Pelajaran (Agustin & Adi mental seperti memecahkan masalah, mengambil Winanto, 2. keputusan, menganalisis asumsi, dan melakukan ilmiah(SuAoudah Ipa. , & Nggaba. Penerapan Model Problem Based Learning untuk MeningkatkanA. Program Studi Pendidikan Matematika - Universitas Negeri Medan Salama. Junnal Fibonaci : Jurnal Pendidikan Matematika Volume: 6. Nomor: 1. Tahun: 2025 Doi. 24114/jfi. ISSN: 2746-3656 Kemampuan berpikir kritis sangat dibutuhkan yaitu kemampuan untuk bekerja sama, berdiskusi, oleh peserta didik agar dapat menyelesaikan soal serta menerima masukan dari teman atau guru. matematika dengan baik dan terarah dilihat dari Terakhir, ketangguhan atau tidak mudah menyerah, bagaimana peserta didik mampu memahami masalah yang berarti siswa tetap gigih dan berusaha meskipun menghadapi kegagalan atau hambatan dalam proses masalah, dan mampu mengevaluasi dan memberikan Ketujuh indikator ini menjadi tolok ukur jawaban yang tepat. Sejalan dengan (Agnafia, 2. penting dalam menilai seberapa besar keyakinan diri mengatakan bahwa berpikir kritis memainkan peran siswa dalam menghadapi tantangan akademik dan yang sangat penting dalam mempersiapkan peserta didik untuk memecahkan masalah, menjelaskan alasan Metode Penelitian di balik suatu pendapat, serta melakukan evaluasi terhadap informasi yang diterima. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan pendekatan kuantitatif yang Adapun indicator kemampuan berpikir kritis dilaksanakan di SMP Negeri 1 Nggaha Ori Angu pada menurut (Khoirunnisa & Malasari, 2. yang menjadi semester genap tahun ajaran 2024/2025, tepatnya tolak ukur untuk mengukur dan melihat tingkat tanggal 19Ae31 Mei 2025, dengan subjek seluruh peserta kemampuan berpikir kritis peserta didik yaitu: . didik kelas ViC. Penelitian dilakukan dalam dua Memeriksa kebenaran pernyataan . Mengamati siklus berdasarkan model Kemmis dan McTaggart dengan seksama dan memberikan penjelasan atau yang mencakup tahapan perencanaan, pelaksanaan, alasan atas jawaban yang diberikan . Mengevaluasi observasi, dan refleksi. Model pembelajaran yang situasi matematis . Menganalisa dan membuat diterapkan adalah Problem Based Learning (PBL), pernyataan dari situasi. dengan instrumen berupa modul ajar. LKPD, lembar Self-efficacy observasi, angket self-efficacy sebanyak 30 butir, dan tes uraian tiga soal untuk mengukur kemampuan menunjukkan perilaku dalam situasi tertentu(Anita et berpikir kritis. Proses dimulai dengan observasi pra- , 2. Dalam konteks pendidikan, terutama dalam siklus untuk mengidentifikasi masalah, kemudian pembelajaran matematika, self-efficacy peserta didik dilanjutkan dengan pelaksanaan tindakan pada tiap menjadi salah satu faktor kunci yang mempengaruhi Data yang diperoleh dianalisis dan digunakan cara peserta didik mendekati proses belajar, mengatasi sebagai dasar perbaikan pembelajaran, sehingga tantangan, serta menghadapi kesulitan yang muncul peningkatan kemampuan berpikir kritis dan self- (Rahmawati & Nopriana, 2. Menurut Rahmawati efficacy siswa dapat dimonitor secara sistematis dan & Nopriana, . , terdapat tujuh indikator yang mencerminkan tingkat self-efficacy peserta didik. Keberhasilan penelitian ini dilihat dari empat Pertama, kemampuan mengatasi masalah, yaitu indikator utama yang mencerminkan perkembangan siswa secara menyeluruh. Pertama, kemampuan permasalahan yang dihadapi. Kedua, keyakinan akan berpikir kritis siswa diharapkan meningkat dari pra- keberhasilan diri, menggambarkan optimisme siswa siklus ke siklus berikutnya, dengan target mencapai Ketiga, nilai KKM . Kedua, self-efficacy siswa juga diukur keberanian menghadapi tantangan, yaitu kesiapan melalui angket, dengan harapan terjadi peningkatan mental siswa dalam menghadapi tugas-tugas yang skor minimal mencapai nilai 75 dari skala 100. Ketiga, pelaksanaan model Problem Based Learning (PBL) Keempat, mengambil risiko, menandakan bahwa siswa tidak takut mencoba strategi atau pendekatan baru dalam pembelajaran terlaksana sesuai rencana. Keempat, proses belajar. Kelima, kesadaran akan kekuatan dan keterlibatan aktif siswa menjadi indikator penting, di kelemahan diri, menunjukkan kemampuan reflektif mana minimal 80% siswa terlibat aktif dalam diskusi, untuk mengenali potensi dan keterbatasan pribadi. tanya jawab, maupun penyelesaian tugas. Keempat Keenam, kemampuan berinteraksi dengan orang lain, aspek ini menjadi tolok ukur penting dalam menilai Ipa. , & Nggaba. Penerapan Model Problem Based Learning untuk MeningkatkanA. Program Studi Pendidikan Matematika - Universitas Negeri Medan Junnal Fibonaci : Jurnal Pendidikan Matematika Volume: 6. Nomor: 1. Tahun: 2025 Doi. 24114/jfi. ISSN: 2746-3656 memfokuskan pertanyaan dengan tepat, peserta didik masalah dalam meningkatkan kualitas proses dan hasil Kategori ketercapaian kemampuan berpikir mencerminkan kesulitan dalam kritis dan self-efficacy dalam penelitian ini dibagi menjadi tiga, yakni tinggi (Ou75%), sedang . 74%), dengan benar memperoleh capaian 46,90%, yang dan rendah (<50%). Klasifikasi ini digunakan untuk meskipun sedikit lebih tinggi, tetap berada dalam menilai sejauh mana perkembangan kemampuan kategori rendah. Capaian pada indikator menentukan berpikir kritis dan self-efficacy peserta didik selama dan menjawab permasalahan dengan benar sangat proses pembelajaran berlangsung. rendah yaitu 14,20%, menandakan peserta didik belum Indikator 32,50%. Teknik analisis data yang digunakan dalam mampu menyusun strategi penyelesaian masalah yang penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif, yang Sementara itu, indikator membuat kesimpulan bertujuan untuk memberikan gambaran menyeluruh dari permasalahan dengan tepat hanya memperoleh terhadap hasil penelitian berdasarkan angka-angka 6,94%, menunjukkan bahwa sebagian besar peserta yang diperoleh dari instrumen yang digunakan. Data didik belum dapat menarik kesimpulan yang logis dari yang terkumpul kemudian diolah menggunakan suatu masalah. Temuan ini menegaskan bahwa secara Microsoft Excel guna menghitung nilai rata-rata dan keseluruhan, kemampuan berpikir kritis peserta didik sebelum tindakan pembelajaran masih berada pada kemampuan berpikir kritis dan self-efficacy peserta kategori rendah, sehingga diperlukan intervensi Analisis ini memungkinkan peneliti untuk pembelajaran yang lebih efektif untuk meningkatkan masing-masing keempat indikator tersebut. Sedangkan tingkat self- peningkatan terjadi pada kedua variabel tersebut efficacy pesderta didik pada kegiatan pra siklus dapat setelah diterapkan model pembelajaran Problem Based dilihat pada tabel berikut. Learning (PBL), serta memudahkan dalam menarik Tabel 2. tingkat self-efficacy peserta diidik pra siklus kesimpulan berdasarkan perbandingan antar-siklus Indikator Kemampuan mengatasi masalah Keyakinan akan keberhasilan diri Keberanian menghadapi tantangan Kesadaran akan kekuatan dan kelemahan Kemampuan berinteraksi dengan orang Total secara sistematis dan objektif. Hasil Penelitian Berdasarkan mengumpulkan data dari hasil tes kemampuan berpikir kritis dan juga hasil angket untuk mengetahui tingkat self-efficacy peserta didik, diperoleh bahwa ada peningkatan kemampuan berpikir kritis dan selfefficacy peserta didik setelah menerapkan model PBL. 55,30 Sedang Nilai total 55,30 menunjukkan bahwa tingkat self-efficacy peserta didik berada pada kategori sedang. Tabel 1 Kemampuan berpikir kritis pra siklus Indikator Menganalisis dan memfokuskan pertanyaan dengan tepat Mengidentifikasi pertanyaan dengan benar Menentukan dan menjawab permasalahan dengan benar Membuat kesimpulan dari permasalahan dengan tepat Rerata Skor Kategori 32,50 Hal ini berarti meskipun siswa sudah menunjukkan adanya kepercayaan diri dan kesadaran terhadap kemampuan dirinya, mereka belum sepenuhnya 46,90 14,20 menghadapi tantangan secara optimal. Indikator dengan nilai tertinggi adalah kesadaran akan kekuatan 6,94 dan kelemahan diri . , sedangkan yang terendah 25,11 Rendah pra siklus adalah kemampuan mengatasi masalah . Temuan menunjukkan bahwa kemampuan berpikir kritis mendorong refleksi diri, keberanian bertindak, dan peserta didik pada seluruh indikator masih tergolong interaksi aktifAiyang salah satunya dapat difasilitasi melalui model Problem Based Learning (PBL). Berdasarkan Pada Tabel ini mengindikasikan bahwa peserta didik masih memerlukan dukungan strategi pembelajaran yang Ipa. , & Nggaba. Penerapan Model Problem Based Learning untuk MeningkatkanA. Program Studi Pendidikan Matematika - Universitas Negeri Medan Junnal Fibonaci : Jurnal Pendidikan Matematika ISSN: 2746-3656 Volume: 6. Nomor: 1. Tahun: 2025 Doi. 24114/jfi. Melihat data pada prasiklus, pada siklus I. Pada siklus 2 pembelajaran, upaya peningkatan proses pembelajaran difokuskan pada penerapan kemampuan berpikir kritis dan self-efficacy siswa Model Problem Based Learning (PBL) yang terintegrasi difokuskan melalui strategi diskusi terstruktur, refleksi dengan strategi peningkatan self-efficacy siswa. Siswa terbimbing, serta penggunaan media kontekstual. dihadapkan pada masalah kontekstual nyata yang Siswa diajak menyelesaikan masalah, berdiskusi dekat dengan kehidupan sehari-hari dan menantang kelompok secara logis, dan menerima umpan balik secara intelektual, tetapi tetap dapat diselesaikan sesuai reflektif dari guru untuk memperkuat proses berpikir tingkat kemampuan mereka. Strategi ini dirancang Media visual dan soal kontekstual digunakan untuk menciptakan pengalaman keberhasilan awal untuk membantu siswa memetakan informasi dan . astery experienc. yang penting dalam membangun menarik kesimpulan secara sistematis. Secara paralel, kepercayaan diri siswa. Selama proses pemecahan pengembangan self-efficacy dilakukan melalui tugas masalah, guru menyisipkan pertanyaan-pertanyaan kolaboratif menantang, penerapan Challenge-Based tingkat tinggi (HOTS), seperti analisis, sintesis, dan Learning untuk mendorong pengambilan keputusan evaluatif, guna melatih kemampuan berpikir kritis mandiri, serta penyediaan role model sebagai sumber Evaluasi diri terbimbing turut digunakan mengajukan pertanyaan yang tepat, menyusun strategi untuk membantu siswa menilai perkembangan pribadi penyelesaian logis, serta menarik kesimpulan secara dan meningkatkan tanggung jawab terhadap proses belajar mereka. Sebagai bagian dari penguatan aspek afektif. Tabel 3 Kemampuan berpikir kritis guru memberikan umpan balik yang konstruktif dan semata hasil akhir. Pembelajaran juga dilengkapi dengan diskusi kelompok terstruktur yang memberi ruang aman bagi siswa untuk bertukar pendapat dan Di akhir sesi, siswa diajak melakukan refleksi tertulis guna mengevaluasi proses berpikir dan pengembangan diri Melalui strategi kognitif dan afektif ini, pembelajaran tidak Siklus Indikator reflektif, fokus pada proses dan usaha siswa, bukan Menganalisis dan memfokuskan pertanyaan dengan tepat Mengidentifikasi pertanyaan dengan benar Menentukan dan menjawab permasalahan dengan benar Membuat kesimpulan dari permasalahan dengan tepat Rerata hanya menumbuhkan keterampilan berpikir kritis, tetapi juga membangun kesadaran diri, keberanian kemampuan sendiri, yang semuanya merupakan bagian penting dari self-efficacy. Dampak dari tindakan yang dilakukan pada siklus I, diperoleh tingkat kemampuan berpikir kritis sebesar 64,50 atau kategori sedang, sedangkan untuk self-eficacy diperoleh 61,70 atau dikategorikan sedang. Kemudian untuk sesuaikan ketelaksaan PBL mencapai 80%, capaian ini juga belum memenuhi target yang Namun untuk indikator ketelibatan atau keaktifan siswa dalam pembelajaran sudah telah mencapai 82%, artinya melampaui dari indikator capaian penelitian. Tiga dari empat indikator belum tercapai, oleh karena itu perlu dilakukan tindakan pada siklus 2. 70,00 94,20 89,60 94,80 63,30 24,40 64,60 64,50 Sedang 85,70 Tinggi Pada siklus I, penerapan model Problem Based Learning (PBL) yang dikombinasikan dengan strategi self-efficacy perkembangan awal kemampuan berpikir kritis siswa. Rata-rata skor kemampuan berpikir kritis pada siklus I mencapai 64,50, yang berada pada kategori sedang. Secara rinci, indikator mengidentifikasi pertanyaan dengan benar memperoleh skor tertinggi yaitu 89,60%, diikuti oleh menganalisis dan memfokuskan pertanyaan dengan . ,00%) permasalahan dengan benar . ,30%). Sementara itu, indikator membuat kesimpulan masih tergolong rendah 24,40%, kemampuan reflektif dan evaluatif siswa perlu Ipa. , & Nggaba. Penerapan Model Problem Based Learning untuk MeningkatkanA. Program Studi Pendidikan Matematika - Universitas Negeri Medan Junnal Fibonaci : Jurnal Pendidikan Matematika ISSN: 2746-3656 Volume: 6. Nomor: 1. Tahun: 2025 Doi. 24114/jfi. Kemudian pada siklus II, yang melibatkan model Problem Based Learning (PBL) berbasis masalah diskusi terstruktur, refleksi terbimbing, dan penyajian kontekstual serta diberikan pertanyaan-pertanyaan visual kontekstual, terjadi peningkatan signifikan pada membangun pengalaman keberhasilan awal . astery meningkat menjadi 85,70, masuk dalam kategori experienc. , yang sangat penting untuk menumbuhkan Peningkatan paling menonjol terjadi pada kepercayaan diri. Diikuti dengan umpan balik reflektif indikator membuat kesimpulan, yang melonjak dari dan diskusi terbimbing, siswa mulai lebih percaya 24,40% menjadi 64,60%, menandakan keberhasilan terhadap kemampuannya. Rata-rata (HOTS). Strategi strategi dalam memperkuat kemampuan berpikir Kemudian pada siklus II, intervensi diperkuat evaluatif siswa. Indikator lain juga menunjukkan dengan aktivitas diskusi kelompok terstruktur, refleksi permasalahan dari 63,30% menjadi 89,20%, serta Selain itu, ditambahkan pula tugas menganalisis pertanyaan dari 70,00% menjadi 94,20%. kolaboratif tingkat lanjut, pembelajaran berbasis Hasil ini memperkuat bukti bahwa penerapan PBL tantangan . hallenge-based learnin. , dan praktik secara sistematis mampu meningkatkan kemampuan evaluasi diri terbimbing. Kombinasi intervensi ini berpikir kritis siswa secara signifikan dalam waktu relatif singkat. kemandirian, dan kesadaran diri, yang berkontribusi Tabel 4. Skor self-efficacy peserta diidik langsung pada peningkatan skor self-efficacy. Dengan Siklus Indikator Kemampuan mengatasi masalah Keyakinan akan keberhasilan diri Keberanian menghadapi Kesadaran akan kekuatan dan kelemahan diri Kemampuan berinteraksi dengan Total Berdasarkan Tabel demikian, dapat disimpulkan bahwa penerapan intervensi yang berjenjang dan terstruktur mampu peningkatan kemampuan berpikir kritis dan self eficacy Sedang Tinggi meningkatkan kepercayaan diri dan keyakinan belajar Secara pada setiap siklus dapat dilihat pada gambar 1. peningkatan signifikan skor self-efficacy peserta didik dari siklus I ke siklus II. Pada siklus I, total skor selfefficacy sebesar 61,7, yang termasuk dalam kategori Peningkatan ini menjadi sangat nyata pada siklus II, di mana skor keseluruhan mencapai 86,1, yang tergolong kategori tinggi. Peningkatan ini Gambar 1 Kemampuan berpikir kritis dan self-efficacy tercermin pada semua indikator. Misalnya, skor pada Pembahasan indikator kemampuan mengatasi masalah naik dari 12,3 menjadi 17,0, keyakinan akan keberhasilan diri dari 12,7 menjadi 17,2, keberanian menghadapi tantangan dari 12,4 menjadi 17,4, kesadaran akan kekuatan dan kelemahan diri dari 12,0 menjadi 17,2, serta kemampuan berinteraksi dengan orang lain dari 12,3 menjadi 17,3. Peningkatan intervensi yang diterapkan dalam dua tahap tindakan Pada siklus I, peserta didik diperkenalkan pada Pada siklus I, penerapan Problem Based Learning (PBL) dengan tambahan strategi peningkatan selfefficacy rata-rata kemampuan berpikir kritis sebesar 64,50% . ategori Ini Putri Cahyaningtyas & Sutarni . pada siswa kelas VII SMP Muhammadiyah 2 Jatinom, yang mencatat peningkatan keterampilan berpikir kritis dari 66% ke 82% setelah dua siklus tindakan PBL. Selain itu, model Ipa. , & Nggaba. Penerapan Model Problem Based Learning untuk MeningkatkanA. Program Studi Pendidikan Matematika - Universitas Negeri Medan Junnal Fibonaci : Jurnal Pendidikan Matematika Volume: 6. Nomor: 1. Tahun: 2025 Doi. 24114/jfi. ISSN: 2746-3656 PBL berbantuan media Quizizz juga menunjukkan peningkatan kemampuan kritis dari 62,9% ke 86,2% di menyelesaikan tugas. Penerapan model Problem Based SMAN 15 Medan. Indikator spesifik pada penelitian Learning (PBL) yang berfokus pada permasalahan AndaAiseperti peningkatan skor pada aspek analisis, nyata, ditambah dengan penggunaan pertanyaan identifikasi, dan pemecahan masalahAijuga sejalan tingkat tinggi (HOTS) dan umpan balik reflektif, dengan pola umum yang ditemukan pada studi-studi memberikan pengalaman belajar yang bermakna dan tersebut, yang menekankan pentingnya pertanyaan mendorong lahirnya mastery experience, sebagaimana tingkat tinggi (HOTS) dalam pembelajaran berbasis ditegaskan dalam penelitian oleh Fitriyani & Nurfauzi . yang menemukan bahwa self-efficacy meningkat Memasuki siklus II, intervensi lanjutan berupa ketika siswa berhasil menyelesaikan masalah dalam pembelajaran berbasis masalah. penggunaan media visual kontekstual membawa Pada siklus II, intervensi diperluas dengan lonjakan drastis pada skor rata-rata menjadi 85,70% strategi kolaboratif dan reflektif yang lebih kompleks, . ategori tingg. Peningkatan keterampilan berpikir seperti diskusi kelompok terstruktur, challenge-based 64,60%, learning, serta evaluasi diri terbimbing. Hasilnya mendemonstrasikan efektivitas rangkaian strategi memperlihatkan peningkatan pada indikator seperti yang komprehensif. Hasil ini sejalan dengan studi kesadaran diri dan keberanian menghadapi tantangan. Ilhamsyah Anwar et al. pada pelajaran IPA di Strategi ini selaras dengan penelitian nasional lainnya SMP, yang menunjukkan model PBL menghasilkan yang menyimpulkan bahwa keterlibatan aktif siswa effect size sebesar 1,87Ainilai yang menunjukkan efek dalam diskusi dan pengambilan keputusan bersama besar terhadap berpikir kritis siswa. Begitu pula dapat memperkuat dimensi self-efficacy, terutama dengan hasil Sari Devi Diyas . di SMP Negeri 5 dalam konteks pembelajaran matematika (Putri & Sleman dan Kurniahtunnisa dkk. , yang Yaniawati, 2021. Suryani & Kusnadi, 2. Oleh karena itu, penerapan PBL yang dirancang secara keterampilan berpikir kritis melalui PBL dalam bertahap, reflektif, dan kontekstual terbukti efektif berbagai materi IPA. dalam membentuk siswa yang lebih percaya diri, 24,40% Penerapan model PBL secara sistematisAi kontekstualAiberhasil tangguh, dan yakin pada kemampuannya sendiri HOTS, dalam menghadapi proses belajar. Penutup Hasil berpikir kritis siswa dari tingkat sedang ke tinggi. penerapan model Problem Based Learning (PBL) Temuan ini sangat konsisten dengan hasil penelitian secara bertahap dan terstruktur efektif meningkatkan nasional, yang menunjukkan bahwa pendekatan PBL kemampuan berpikir kritis dan self-efficacy peserta didik kelas ViC di SMP Negeri 1 Nggaha Ori Angu. pengembangan keterampilan berpikir kritis pada Kemampuan berpikir kritis meningkat dari 25,11% peserta didik Indonesia. pada pra siklus menjadi 64,50% . di Berdasarkan data Tabel 2, terlihat peningkatan siklus I, lalu mencapai 85,70% . di siklus II. yang signifikan pada skor self-efficacy siswa dari siklus I sementara self-efficacy meningkat dari 55,30% menjadi ke siklus II. Pada siklus I, skor total berada pada angka 86,10%. Peningkatan ini didukung oleh intervensi 61,7 . ategori sedan. , sementara pada siklus II melalui pembelajaran kontekstual, pertanyaan HOTS, meningkat menjadi 86,1 . ategori tingg. Peningkatan diskusi, refleksi, dan evaluasi diri. Oleh karena itu, terjadi merata di seluruh indikator, mulai dari guru disarankan menerapkan PBL secara konsisten, kemampuan mengatasi masalah hingga kemampuan sekolah perlu memberikan dukungan pelatihan, dan berinteraksi dengan orang lain. Hal ini menunjukkan siswa didorong aktif dalam pembelajaran kolaboratif. strategi yang diterapkan dalam proses pembelajaran memiliki dampak positif terhadap Ipa. , & Nggaba. Penerapan Model Problem Based Learning untuk MeningkatkanA. Program Studi Pendidikan Matematika - Universitas Negeri Medan Junnal Fibonaci : Jurnal Pendidikan Matematika ISSN: 2746-3656 Volume: 6. Nomor: 1. Tahun: 2025 Doi. 24114/jfi. Penelitian lanjutan dapat mengkaji efektivitas PBL pada jenjang atau mata pelajaran lain. Daftar Pustaka