JURNAL JENDELA PENDIDIKAN Jurnal Jendela Pendidikan Volume 3 No. 04 November 2023 ISSN: 2776-267X (Prin. / ISSN: 2775-6181 (Onlin. The article is published with Open Access at: https://w. id/index. php/JJP Internalisasi Sikap Ilmiah Dalam Perwujudan Nilai Karakter Pada Pembelajaran PKn di Sekolah Dasar Prima Rias Wana A. Universitas Negeri Yogyakarta Puji Yanti Fauziah. Universitas Negeri Yogyakarta Lutfi Wibawa. Universitas Negeri Yogyakarta A primarias. 2022@student. Abstract: Character education can be interpreted as values education, character education, moral education, character education whose aim is to develop students' ability to make good and bad decisions, maintain what is good and realize that goodness in everyday life wholeheartedly. Instilling character values in education must start from an early age. One way to support success is to integrate character values in all subjects taught at school, including Civics learning. In essence. Civics learning has a cognitive dimension, a psychomotor dimension, and an attitude development dimension. accordance with the current spirit of character education, its implementation in Civics learning is none other than the implementation of the scientific attitude dimension. So, the integration of character values in Civics learning can be implemented by implementing Civics learning as a whole, not only in the cognitive domain, but also in developing students' scientific attitudes. Keywords: Scientific Attitude. Character Education. Civics Learning Abstrak: Pendidikan karakter dapat dimaknai sebagai pendidikan nilai, pendidikan budi pekerti, pendidikan moral, pendidikan watak yang tujuannya mengembangkan kemampuan peserta didik untuk memberikan keputusan baik-buruk, memelihara apa yang baik itu dan mewujudkan kebaikkan itu dalam kehidupan sehari-hari dengan sepenuh hati. Penanaman nilai-nilai karakter dalam pendidikan harus dimulai sejak usia dini. Salah satu cara untuk menunjang keberhasilannya adalah mengintegrasikan nilai-nilai karakter pada semua mata pelajaran yang diajarkan di sekolah, termasuk dalam pembelajaran PKn. Pada hakikatnya pembelajaran PKn memiliki dimensi kognitif, dimensi psikomotor, dan dimensi pengembangan sikap. Sesuai dengan semangat pendidikan karakter saat ini, implementasinya dalam pembelajaran PKn tidak lain adalah pelaksanaan dimensi sikap ilmiah. Jadi, integrasi nilai-nilai karakter dalam pembelajaran PKn dapat diimplementasikan dengan melaksanakan pembelajaran PKn secara utuh, tidak hanya ranah kognitifnya saja, tetapi juga pada pengembangan sikap ilmiah siswa. Kata kunci: Sikap Ilmiah. Pendidikan Karakter. Pembelajaran PKn Received 1 November 2023. Accepted 19 November 2023. Published 25 November 2023 Citation: Wana. Fauziah. , & Wibawa. Internalisasi Sikap Ilmiah Dalam Perwujudan Nilai Karakter Pada Pembelajaran PKn di Sekolah Dasar. Jurnal Jendela Pendidikan, 3 . , 469-477. Copyright A2023 Jurnal Jendela Pendidikan Published by CV. Jendela Edukasi Indonesia. This work is licensed under the Creative Commons Attribution-Non Commercial-Share Alike 4. 0 International License. Wana. Fauziah. Wibawa PENDAHULUAN Ciri khas pendidikan saat ini adalah adanya perubahan paradigma tentang pendidikan itu Pendidikan di sekolah tidak lagi cukup hanya dengan mengajar peserta didik membaca, menulis, dan berhitung, kemudian lulus ujian, dan nantinya mendapatkan pekerjaan yang baik. Sekolah harus mampu mendidik peserta didik untuk mampu memutuskan apa yang benar dan salah. Sekolah juga perlu membantu orang tua untuk menemukan tujuan hidup setiap peserta didik. Di tengah-tengah perkembangan dunia yang begitu cepat dan semakin kompleks dan canggih, prinsip-prinsip pendidikan untuk membangun etika, nilai, dan karakter peserta didik tetap harus dipegang. Akan tetapi perlu dilakukan dengan cara yang berbeda atau kreatif sehingga mampu mengimbangi perubahan kehidupan. Sebagaimana tertuang pada Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas, pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat,berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Sehubungan dengan hal tersebut, salah satu program utama Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam rangka meningkatkan mutu proses dan output pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah adalah pengembangan nilai-nilai pendidikan Kebutuhan akan pendidikan karakter ini dirasa sangat penting di tengah menurunnya nilai-nilai luhur di kalangan masyarakat. Dalam keseharian kita sering dihadapkan pada peristiwa-peristiwa dan berita-berita yang membuat kita prihatin. Kasus korupsi, sara, kenakalan remaja, narkoba, dan peristiwa lain yang tidak lagi menunjukkan harga diri sebagai bangsa. Yang lebih memprihatinkan lagi kejadian tersebut hampir merata di semua kalangan masyarakat dan pelakunya kadang adalah orang-orang yang terdidik. Berdasarkan hal tersebut banyak yang menilai ada sesuatu yang keliru dalam sistem pendidikan selama ini. Seharusnya melalui pendidikan akan membentuk manusia yang baik dan bukan sebaliknya. Oleh karena itu Kemendikbud mengangkat semangat pendidikan karakter dalam sistem pendidikan nasional dengan penyempurnaan kurikulum yang ada menjadi Kurikulum 2013. Penanaman nilai-nilai karakter dalam pendidikan harus dimulai sejak usia dini, sejak anak masih di sekolah dasar (SD). Keberhasilan pendidikan karakter pada masa SD akan menjadi pondasi untuk membangun kepribadian siswa pada jenjang pendidikan di atasnya dan juga pada kehidupan bermasyarakat pada umumnya. Untuk itu, peran SD saat ini menjadi penting dalam rangka keberhasilan pelaksanaan pendidikan Melalui semangat pendidikan karakter sekarang, salah satu cara untuk menunjang keberhasilannya adalah mengintegrasikan nilai-nilai pendidikan karakter pada semua mata pelajaran yang diajarkan di sekolah, termasuk dalam pembelajaran PKn. Dimensi pembelajaran PKn yang diharapkan dalam kurikulum pendidikan saat ini, yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik. Pembelajaran PKn, khususnya di SD selama ini masih banyak yang berorientasi pada produk saja atau pada aspek kognitifnya saja dan mengesampingkan ranah yang lain yaitu proses . dan sikap . Kondisi ini tentu tidak sesuai dengan konsep pembelajaran PKn sebagaimana yang diharapkan. Sesuai dengan semangat pendidikan karakter saat ini, implementasinya dalam pembelajaran PKn tidak lain adalah pelaksanaan dimensi sikap ilmiah. Jadi, integrasi nilai-nilai karakter dalam pembelajaran PKn dapat diimplementasikan dengan melaksanakan pembelajaran PKn secara utuh, tidak hanya ranah produknya saja, tetapi juga pada ranah proses dan mengembangkan sikap ilmiah siswa. Wana. Fauziah. Wibawa METODE Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas. Subjek pada penelitan ini adalah siswa Sekolah Dasar kelas 3 yang berjumlah 10 siswa. Instrumen yang digunakan adalah lembar observasi dan wawancara. Teknik analisis menggunakan trianggulasi waktu. HASIL PENELITIAN Pada saat pembelajaran secara intensif, guru mengamati perilaku . siswa selama proses belajar, dan memberikan umpan balik bagaimana seharusnya siswa bersikap dalam menghadapi masalah yang disodorkan dalam pembelajaran. Hal ini dilaksanakan mulai dari kegiatan awal, inti dan akhir. Pada tahap pelaksanaan ini harus diperhatikan bahwa pembelajaran yang baik mengikuti siklus belajar mulai dari eksplorasi, elaborasi, dan Selain itu dalam pembelajaran PKn juga harus memperhatikan pembelajaran yang mengarah pada keterampilan proses . cientific method. Tidak kalah pentingnya dalam tahap pelaksanaan ini perilaku guru sepanjang proses pembelajaran harus merupakan model pelaksanaan nilai-nilai bagi peserta didik, artinya guru harus senantiasa dapat menjadi tauladan perilaku berkarakter bagi peserta didiknya. Guru melakukan penilaian terhadap sikap-sikap yang ditunjukkan siswa atau dapat juga dari penilaian siswa sendiri dan teman. Aspek penilaian ini didasarkan pada indikator yang sudah ditetapkan dalam perencanaan pembelajaran. Karena dalam pembelajaran PKn lebih mengarah pada proses, maka penilaian ini juga sebaiknya berbasis aktivitas. Hasil penilaian ini seyogyanya didiskusikan untuk umpan balik bagi siswa. PEMBAHASAN Karakter adalah perilaku yang dilandasi oleh nilai-nilai berdasarkan norma agama, kebudayaan, hukum/konstitusi, adat istiadat, dan estetika. Pendidikan karakter adalah upaya yang terencana untuk menjadikan peserta didik mengenal, peduli, dan menginternalisasi nilai-nilai sehingga peserta didik berperilaku sebagai insan kamil. Pada pendidikan karakter, yang mau dibangun adalah karakter-budaya yang menumbuhkan kepenasaranan intelektual . ntellectual curiosit. sebagai modal untuk mengembangkan kreativitas dan daya inovatif yang dijiwai dengan nilai kejujuran dan dibingkai dengan kesopanan dan kesantunan (Dirjen Dikdas, 2. Pendidikan karakter dapat dimaknai sebagai pendidikan nilai, pendidikan budi pekerti, pendidikan moral, pendidikan watak yang tujuannya mengembangkan kemampuan peserta didik untuk memberikan keputusan baik-buruk, memelihara apa yang baik itu dan mewujudkan kebaikkan itu dalam kehidupan sehari-hari dengan sepenuh hati. Pendidikan karakter bukan hanya sekedar mengajarkan mana yang benar dan mana yang Lebih dari itu, pendidikan karakter adalah usaha menanamkan kebiasaan-kebiasaan yang baik . sehingga peserta didik mampu bersikap dan bertindak berdasarkan nilai-nilai yang telah menjadi kepribadiannya. Dengan kata lain, pendidikan karakter yang baik harus melibatkan pengetahuan yang baik . oral knowin. , perasaan yang baik atau loving good . oral feelin. dan perilaku yang baik . oral actio. sehingga terbentuk perwujudan kesatuan perilaku dan sikap hidup peserta didik (Puskur Balitbang, 2. Dalam rangka lebih memperkuat pelaksanaan pendidikan karakter pada satuan pendidikan telah teridentifikasi 18 nilai yang bersumber dari agama, pancasila, budaya, dan tujuan pendidikan nasional, yaitu: . religius, . jujur, . toleransi, . disiplin, . kerja keras, . kreatif, . mandiri, . demokratis, . rasa ingin tahu, . semangat kebangsaan, . cinta tanah air, . menghargai prestasi, . bersahabat/komunikatif, . cinta damai, . gemar membaca, . peduli lingkungan, . peduli sosial, dan . tanggung jawab (Pusat Kurikulum, 2. Meskipun telah dirumuskan 18 nilai pembentuk karakter bangsa. Wana. Fauziah. Wibawa namun satuan pendidikan dapat menentukan prioritas pengembangannya untuk melanjutkan nilai-nilai prakondisi yang telah dikembangkan. Pemilihan nilai-nilai tersebut beranjak dari kepentingan dan kondisi satuan pendidikan masing-masing, yang dilakukan melalui analisis konteks, sehingga dalam implementasinya dimungkinkan terdapat perbedaan jenis nilai karakter yang dikembangkan antara satu sekolah dan atau daerah yang satu dengan lainnya. Implementasi nilai-nilai karakter yang akan dikembangkan dapat dimulai dari nilai-nilai yang esensial, sederhana, dan mudah dilaksanakan, seperti: bersih, rapi, nyaman, disiplin, sopan dan santun. Kebijakan Pendidikan Karakter dalam Kurikulum Pendidikan Indonesia Berbicara tentang problematika karakter yang sedang terjadi di negara ini hampir tidak ada habis-habisnya. Mulai problem karakter yang menghinggapi para pemimpin sampai persoalan karakter yang dialami oleh masyarakat biasa. Melihat perkembangan karakter bangsa yang semakin parah, kementerian pendidikan dan kebudayaan sejak tahun 2011 mengeluarkan kebijakan tentang pendidikan karakter. Membangun karakter dan watak bangsa melalui pendidikan mutlak diperlukan. Pendidikan karakter tidak hanya di sekolah tetapi bisa dimulai dari lingkungan rumah tangga, masyarakat, dan khususnya di Selain itu yang tidak kalah pentih adalah adanya keteladanan para tokoh yang memang patut untuk dicontoh. Di lingkungan sekolah, guru, kepala sekolah dan tenaga pendukung kependidikan merupakan komunitas yang secara tidak langsung akan menjadi teladan bagi para siswa. Untuk itu sekolah memiliki peran yang lebih dalam mensukseskan pendidikan karakter. Melalui pendidikan karakter diharapkan terlahir generasi muda masa depan yang berilmu, berbudaya dan beradap di tengah-tengah era globalisasi. Indriyanto . secara lebih fokus menyebutkan tiga lapis sasaran pendidikan karakter. Ada tiga lapis . pendidikan karakter yang hendak dikembangkan yaitu, pertama, menumbuhkan kesadaran kita sebagai sesama makhluk Tuhan. Sebagai sesama makhluk, tidak pantas kalau kita itu sombong, seolah-olah merasa dirinya yang paling benar. Keutamaan kita justru terletak pada kemampuan untuk memberi manfaat bagi orang lain, termasuk memuliakan orang Kesadaran sebagai makhluk Tuhan akan menumbuhkan rasa saling menghargai dan Tentu juga menumbuhkan sifat jujur karena Tuhan Maha Mengetahui. tidak bisa berbohong. Kedua, membangun dan menumbuhkan karakter keilmuan. Karakter ini sangat ditentukan oleh keingintahuan . Penanaman logika ilmiah sejak pendidikan usia dini menjadi langkah penting untuk dilakukan. Dalam kerangka berpikir ilmiah, segala sesuatu harus diuji coba sebelum menjadi kesimpulan. Dari sinilah akan muncul kreativitas, inovasi, dan produktivitas yang sangat menentukan daya saing Ketiga, pendidikan harus mampu menumbuhkan karakter yang mencintai dan bangga sebagai bangsa Indonesia. Konsep Internalisasi Nilai Berdasarkan analisis hasil wawancara dan didukung oleh kajian teori yang ada maka konsep internalisasi nilai-nilai karakter pada dasarnya adalah proses merasuknya nilai karakter ke dalam diri seseorang sehingga nilai-nilai tersebut mendarah daging dalam dirinya, menjiwai pola pikir, sikap, dan perilakunya serta membangun kesadaran diri untuk mengaplikasikan nilai-nilai tersebut. Berdasarkan makna di atas, terdapat empat indikator yang terkandung dalam makna internalisasi, yaitu: Internalisasi merupakan sebuah proses Internalisasi merupakan suatu proses karena di dalamnya ada unsur perubahan dan Proses penanaman nilai memerlukan waktu yang terus menerus dan berkelanjutan sehingga seseorang akan menerima nilai-nilai yang telah ditanamkan pada dirinya dan akan memunculkan perilaku sesuai dengan nilai yang diperolehnya. Hal ini berarti ada perubahan dalam diri seseorang itu dari belum memiliki nilai tersebut menjadi memiliki. Wana. Fauziah. Wibawa atau dari sudah memiliki nilai tersebut tetapi masih lemah dalam mempengaruhi perilakunya menjadi memiliki nilai tersebut lebih kuat mempengaruhi perilakunya. Berdasarkan proses tersebut maka ada dua hal yang menjadi inti internalisasi, yaitu: . proses penanaman atau pemasukan sesuatu yang baru dari luar ke dalam diri seseorang, dan . proses penguatan sesuatu yang telah ada dalam diri seseorang sehingga membangun kesadaran dalam dirinya bahwa sesuatu tersebut sangat berharga. Mendarah daging Mendarah daging mempunyai makna bahwa sesuatu telah meresap dalam sanubarinya sehingga menjadi kebiasaan yang tidak bisa dilepaskan dari dirinya. Sebagai contoh dalam diri seseorang telah mendarah daging melakukan sholat Dhuha, maka orang tersebut akan melakukan sholat dhuha dengan sendirinya, tanpa perlu diingatkan, atau tanpa memerlukan pemaksaan dari orang lain, karena sholat dhuha sudah menjadi kebiasaan dalam dirinya. Jika dia tidak melakukan sholat dhuha maka dia akan merasakan ada sesuatu yang hilang dalam dirinya. Menjiwai pola pikir, sikap, dan perilaku Makna menjiwai dalam inter- nalisasi adalah bahwa nilai-nilai karakter menjadi dasar dalam pola pikir, sikap, dan perilaku. Nilai-nilai karakter yang telah tertanam dalam diri seseorang akan membangun pola pikir . dalam diri seseorang selanjutnya nilai tersebut akan menjadi dasar dalam bersikap dan berperilaku. Sebagai contoh seseorang telah berhasil menginternalisasi nilai kejujuran dalam dirinya sehingga menjiwai pola pikir, sikap, dan perilakunyan, maka dalam mindset seseorang akan terbangun pikiran bagaimana melakukan sesuatu secara jujur, tidak ada penipuan, kelicikan dan kecurangan, ada rasa takut untuk berbuat tidak jujur, karena dia telah memahami bagaimana manfaat jujur dan apa akibatnya bila dia tidak berbuat jujur. Karena kejujuran telah mendasari mindsetnya maka kejujuran tersebut dengan sendirinya akan mendasari sikap dan perilakunya. Pikiran yang jujur akan diterjemahkan dalam sikap yang jujur dan perilaku yang jujur pula. Membangun kesadaran diri untuk mengaplikasikan Kesadaran diri merupakan komponen kecerdasan emosional yang mengandung arti mempunyai pemahaman terhadap sesuatu dalam hal ini nilai yang menjadi sumber kekuatan dan pendorong diri untuk mengaplikasikan nilai-nilai tersebut. Kesadaran diri merupakan pemahaman seseorang akan nilai-nilai dan tujuan diri. Seseorang yang sadar diri tahu kemana arah yang akan ia tuju dan mengapa ia melakukannya. Keputusan yang diambil oleh orang dengan kesadaran diri tinggi akan cenderung selaras dengan nilai-nilai yang mereka anut sehingga membuat mereka berperilaku sesuai nilai-nilai yang dianutnya. Dengan internalisasi nilai akan terbangun kesadaran diri sehingga seseorang mengaplikasikan nilai-nilai yang telah diinternalisasikannya selaras dengan hatinya, ada ketulusan dalam mengaplikasikan nilai, tanpa ada kepurapuraan karena tujuan tertentu. Sebagai contoh orang yang telah berhasil menginternalisasi nilai sopan santun, maka orang tersebut secara tulus akan bersikap sopan pada orang lain, bukan karena mempunyai tujuan untuk mendapatkan pujian, penghargaan, dan lain-lain. Pembelajaran PKn di Sekolah Dasar Pendidikan kewarganegaraan adalah program pendidikan berdasarkan Nilai-nilai pancasila sebagai wahana untuk mengembangkan dan melestarikan nilai luhur dan moral yang berakar pada budaya bangsa yang diharapkan menjadi jati diri yang diwujudkan dalam bentuk prilaku dalam kehidupan sehari-hari para mahasiswa baik sebagai individu,sebagai calon guru/pendidik,anggota masyarakat dan ciptaan Tuhan Yang Maha Esa. Hakikat Pendidikan Kewarganegaran adalah merupakan mata pelajaran yang memfokuskan pada pembentukan diri yang beragam dari segi agama, sosio kultural, bahasa, usia, dan suku bangsa untuk menjadi warga negara yang cerdas, terampil, dan berkarakter yang dilandasi oleh Pancasila dan UUD1945. Secara paradigmatik Pendidikan Kewarganegaraan memiliki tiga domain, yakni . domain akademik. domain kurikuler. aktivitas sosial-kultural (Winataputra. Domain akademik adalah berbagai pemikiran tentang Pendidikan Kewarganegaraan yang berkembang di lingkungan komunitas keilmuan. Domain kurikuler adalah konsep dan Wana. Fauziah. Wibawa praksis pendidikan kewarganegaraan dalam lingkup pendidikan formal dan nonformal. Sedangkan domain sosial kultural adalah konsep dan praksis Pendidikan Kewarganegaraan di lingkungan masyarakat (Wahab dan Sapriya, 2. Ketiga komponen tersebut secara koheren bertolak dari esensi dan bermuara pada upaya pengembangan warga negara yang baik . ood citizen. , yang memiliki pengetahuan kewarganegaraan . ivic knowledg. , nilai, sikap dan watak kewarganegaraan . ivic dispositio. , dan keterampilan kewarganegaraan . ivic skil. Secara umum tujuan Pendidikan Kewarganegaraan adalah sebagai berikut: . Memberikan pengertian pengetahuan dan pemahaman tentang Pancasila yang benar dah sah, . Meletakkan dan membentuk pola piker yang sesuai dengan pancasila dan ciri khas serta watak ke-Indonesia. Sedangkan menurut Sapriya . , tujuan Pendidikan Kewarganegaraan adalah partisipasi yang penuh nalar dan tanggung jawab dalam kehidupan politik dari warga negara yang taat kepada nilai-nilai dan prinsip-prinsip dasar demokrasi konstitusional Indonesia. Partisipasi warga negara yang efektif dan penuh tanggung jawab memerlukan penguasaan seperangkat ilmu pengetahuan dan keterampilan intelektual serta keterampilan untuk berperan serta. Partisipasi yang efektif dan bertanggung jawab itu pun ditingkatkan lebih lanjut melalui pengembangan disposisi atau watak-watak tertentu yang meningkatkan kemampuan individu berperan serta dalam proses politik dan mendukung berfungsinya sistem politik yang sehat serta perbaikan masyarakat. Tujuan Pendidikan Kewarganegaraan di Sekolah Dasar: . Memberikan pengertian, pengetahuan dan pemahaman tentang Pancasila yang benar dan sah. Meletakkan dan membentuk pola pikir yang sesuai dengan Pancasila dan ciri khas serta watak ke-Indonesiaan. Menanamkan nilai-nilai moral Pancasila ke dalam diri anak didik. Menggugah kesadaran anak didik sebagai warga negara dan warga masyarakat Indonesia untuk selalu mempertahankan dan melestarikan nilai-nilai moral Pancasila tanpa menutup kemungkinan bagi diakomodasikannya nilai-nilai laindari luar yang sesuai dan tidak bertentangan dengan nilai-nilai moral Pancasila terutama dalam menghadapi arus globalisasi dan dalam rangka kompetisi dalam pasar bebas dunia. Memberikan motivasi agar dalam setiap langkah laku lampahnya bertindak dan berperilaku sesuai dengan nilai, moral dan norma Pancasila. Mempersiapkan anak didik utuk menjadi warga negara dan warga masyarakat Indonesia yang baik dan bertanggung jawab serta mencintai bangsa dan Materi pembelajaran pada mata pelajaran PKn terangkum dalam ruang lingkup mata pelajaran PKn yang terdiri dari beberapa aspek, meliputi: ruang lingkup persatuan dan kesatuan bangsa, ruang lingkup norma, hukum, dan peraturan, ruang lingkup HAM (Hak Asasi Manusi. , ruang lingkup kebutuhan dan konstitusi negara, ruang lingkup kekuasaan dan politik, ruang lingkup pancasila, serta ruang lingkup globalisasi. Sikap ilmiah sebagai perwujudan nilai-nilai karakter Ranah sikap dalam pembelajaran PKn merupakan perwujudan dari nilai-nilai karakter yang selama dikembangkan dalam pembelajaran. Sebagai suatu sikap. PKn terdiri dari berbagai sikap yang secara umum mengajarkan kepada siswa tentang berbagai sikap positif yang akan muncul manakala seseorang berinteraksi di lingkungan. Menurut Harlen, ada sembilan aspek sikap dari ilmiah yang dapat dikembangkan pada anak usia SD, yaitu: Sikap ingin tahu. Sikap ingin mendapatkan sesuatu yang baru. Sikap kerja sama. Sikap tidak putus asa. Sikap tidak berprasangka. Sikap mawas diri. Sikap bertanggung jawab. Sikap berpikir bebas. Sikap kedisiplinan diri. (Sulistyorini, 2. Sikap ilmiah ini bisa dikembangkan ketika siswa melakukan diskusi, percobaan, simulasi, atau kegiatan performance di lapangan. Kegiatan-kegiatan ini secara langsung atau tidak akan mendidik siswa dalam mengembangkan sikap ilmiahnya. Selama proses tersebut siswa akan terwadahi rasa ingin tahunya dengan bertanya kepada gurunya, temannya, atau kepada diri sendiri. Sehingga siswa akan termotivasi untuk mencari tahu sesuatu yang baru. Melalui kegiatan ini siswa juga dituntut untuk bekerja dengan orang lain, sehingga untuk melaksanakan pekerjaan bersama, antar siswa harus kompak bekerja sama, disiplin, tanggung jawab akan tugas yang diberikan, menghormati keputusan bersama. Wana. Fauziah. Wibawa menyampaikan pendapat dengan santun, menghormati pendapat teman yang berbeda, dan masih banyak sikap-sikap yang akan muncul selama proses pembelajaran. Sikap-sikap sebagaimana dicontohkan tersebut, tidak lain adalah nilai-nilai karakter yang ingin dikembangkan dalam proses pembelajaran. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa sikap ilmiah ini merupakan perwujudan nilai-nilai karakter yang diimplementasikan dalam pembelajaran PKn. Strategi Implementasi Nilai Karakter dalam Pembelajaran PKn di Sekolah Dasar Keberhasilan pendidikan karakter setidaknya harus di dukung melalui tiga cara, yaitu: pembelajaran, pembiasaan, dan pemodelan. Pendidikan karakter tidak untuk diajarkan tetapi harus ditanamkan dan dikembangkan pada diri siswa, sehingga tidak bisa hanya diberikan dalam proses pembelajaran saja. Hasil yang diharapkan dengan adanya pendidikan karakter ini adalah agar siswa terbiasa melakukan kegiatan sehari-hari dengan dilandasi nilai-nilai moral dan budi pekerti yang telah dilatihkan dalam pembelajaran. Selain itu yang tidak kalah pentingnya adalah adanya role model atau contoh dari semua pihak mengenai sikap-sikap yang menunjukkan nilai-nilai karakter. Implementasi pendidikan karakter melalui proses pembelajaran, khususnya pembelajaran PKn dapat dilaksanakan mulai dari perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian. Secara garis besar proses tersebut dapat diilustrasikan pada Gambar 1. Pada perencanaan pembelajaran, yaitu dengan memetakan nilai-nilai karakter yang akan dikembangkan dan setelah itu ditetapkan dalam indikator dan pembelajaran. Penetapan indikator harus mengacu pada ketiga ranah belajar . ognitf, afektif, dan psikomotori. Sikap ilmiah/nilainilai karakter yang akan dikembangkan ditetapkan pada ranah afektif. Pada penetapan indikator dan tujuan pembelajaran ini harus secara jelas dan tegas menunjukkan jenis sikap apa yang akan dikembangkan pada siswa, kemudian bagaimana kondisi dan langkah pembelajaran yang akan dilaksanakan untuk mencapai tujuan tersebut, dan teknik . penilaian apa yang sesuai untuk mengevaluasi tujuan tersebut. Perencanaan Pemetaan nilai scientific attitude (Sikap Ilmia. Perangkat Instrumen Indikat . Pelaksanaan Learning Cycle: Eksplorasi. Elaborasi. Konfirmasi Pendahulu Inti Penutup Diskusi, simulasi materi, kegiatan performance, dll Penilaian: Berbasis Aktivitas Umpan balik Gambar 1. Implementasi Nilai Karakter melalui Pelaksanaan Pembelajaran PKn Kedua, dalam pelaksanaan pembelajaran secara intensif guru mengamati perilaku . siswa selama proses belajar, dan memberikan umpan balik bagaimana seharusnya siswa bersikap dalam menghadapi masalah yang disodorkan dalam pembelajaran. Hal ini Wana. Fauziah. Wibawa dilaksanakan mulai dari kegiatan awal, inti dan akhir. Pada tahap pelaksanaan ini harus diperhatikan bahwa pembelajaran yang baik mengikuti siklus belajar mulai dari eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi. Selain itu dalam pembelajaran PKn juga harus memperhatikan pembelajaran yang mengarah pada keterampilan proses . cientific method. Tidak kalah pentingnya dalam tahap pelaksanaan ini perilaku guru sepanjang proses pembelajaran harus merupakan model pelaksanaan nilai-nilai bagi peserta didik, artinya guru harus senantiasa dapat menjadi tauladan perilaku berkarakter bagi peserta didiknya. Ketiga, guru melakukan penilaian terhadap sikap-sikap yang ditunjukkan siswa atau dapat juga dari penilaian siswa sendiri dan teman. Aspek penilaian ini didasarkan pada indikator yang sudah ditetapkan dalam perencanaan pembelajaran. Karena dalam pembelajaran PKn lebih mengarah pada proses, maka penilaian ini juga sebaiknya berbasis Hasil penilaian ini seyogyanya didiskusikan untuk umpan balik bagi siswa. SIMPULAN Pada bagian ini dipaparkan mengenai simpulan hasil penelitian. Simpulan disertai dengan Semangat pendidikan karakter saat ini harus diintegrasikan dalam pembelajaran di semua mata pelajaran di SD. Penanaman nilai-nilai karakter dalam pembelajaran PKn diimplementasikan dengan mengembangkan sikap ilmiah siswa antara lain: sikap ingin sikap ingin mendapatkan sesuatu yang baru. sikap kerja sama. sikap tidak putus asa. sikap tidak berprasangka. sikap mawas diri. sikap bertanggung jawab. sikap berpikir bebas. dan sikap kedisiplinan diri. Implementasi pendidikan karakter dalam pembelajaran PKn dengan mengoptimalkan sikap ilmiah tentu tidak bisa berjalan dengan tanpa kendala. Standar isi mata pelajaran PKn yang ada sekarang dirasa masih terlalu banyak untuk tingkat SD sedangkan waktu yang tersedia terbatas, ditambah lagi tuntutan mata pelajaran lain yang jumlahnya banyak untuk tingkat anak SD, akibatnya banyak guru yang lebih berorientasi untuk menghabiskan materi pelajaran karena selama ini hasil akhir dari pembelajaran PKn masih dinilai dari kognitifnya. Hal ini tentu mengesampingkan aspek afektif dan psikomotorik siswa. Berdasarkan hal tersebut perlu dikaji ulang beberapa hal, yaitu: . pengkajian beban kurikulum SD dengan banyaknya mata pelajaran, . standar isi untuk mata pelajaran PKn di SD agar tidak terlalu luas dan sebaiknya lebih disesuaikan dengan perkembangan siswa, dan . diperlukan sistem penilaian yang tidak hanya berstandar pada nilai kognitif sebagai batas ketuntasan siswa dalam belajar PKn, tetapi juga berorientasi pada afektif dan DAFTAR PUSTAKA