VOL. NO. : AL ILMU : JURNAL KEAGAMAAN DAN ILMU SOSIAL URL : https://jurnal. id/index. php/AIJKIS/index E-ISSN: 2528-2697 P-ISSN: 2723-4452 UPAYA TEUNGKU DAYAH DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMBACA AL-QUR`AN SANTRI BARU DAYAH IHDAL ULUM AL-AZIZIYAH Musrizal. Musafirul Hadi. Dea Anita Institut Agama Islam (IAI) Al-Aziziyah Samalanga Email. teuku187@gmail. com, musafirulhadi@gmail. deaanita1610@gmail. ABSTRACT Dayah is a non-formal educational institution that focuses on educating children. Therefore, dayah is very important for a child, especially in terms of reading the Qur'an. Dayah Ihdal Ulum Al-Aziziyah also focuses on learning the Qur'an. Al-Qur'an learning becomes the main learning even the teachers in the dayah also teach the reading of the Qur'an to the students in However, in reality there are still some students in the Ihdal Ulum Al-Aziziyah Dayah who do not understand about reading the Qur'an both in terms of recitation, makharijul letters and so on. Key Words : Teungku Dayah. Read Al-QurAoan. Santri ABSTRAK Dayah merupakan salah satu lembaga pendidikan nonformal yang menfokuskan untuk mendidik anak-anak. Oleh sebab itu dayah sangat berperan penting bagi seorang anak apalagi dalam hal membaca Al-Qur`an. Dayah Ihdal Ulum Al-Aziziyah juga menitik beratkan pembelajaran Al-Qur`an. Pembelajaran Al-Qur`an menjadi pembelajaran pokok bahkan guru yang ada di dayah tersebut juga mengajarkan bacaan Al-Qur`an kepada santri secara khusus. Namun demikian, pada kenyataannya masih ada sebagian santri di dayah Ihdal Ulum AlAziziyah yang belum memahami tentang bacaan Al-Qur`an baik dari segi tajwid, makharijul huruf dan lain sebagainya. Kata Kunci : Teungku Dayah. Baca Al-QurAoan. Santri Pendahuluan Pendidikan adalah salah satu pijakan penting dalam kehidupan, baik dalam lingkup kehidupan personal maupun sosial. Menurut Hasan Langgulung, pendidikan adalah suatu proses yang mempunyai tujuan yang biasanya diusahakan pola-pola tingkah laku tertentu pada kanak-kanak atau orang yang dididik dan setiap suasana pendidikan mengandung tujuan, kandungan dan metode. Menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi setiap manusia, terutama umat muslim, baik pria maupun wanita. Menuntut ilmu adalah jalan lurus untuk dapat membedakan antara hak dan batil. Pada dasarnya manusia diciptakan tidak mengetahui apa-apa. Hal ini dinyatakan dalam firman Allah SWT Surat An-Nahl Ayat 78 yang berbunyi: Hasan Langgulung. Manusia dan Pendidikan. Suatu Analisis Psikologis Filsafat dan Pendidikan, (Jakarta: Pustaka Al-Husna Baru, 2. , h. VOL. NO. : AL ILMU : JURNAL KEAGAMAAN DAN ILMU SOSIAL URL : https://jurnal. id/index. php/AIJKIS/index E-ISSN: 2528-2697 P-ISSN: 2723-4452 a aAcEEa a e a aEa eI acI e eI aa eO acI a acIN acEa eI aE a eEa aI eOIA aA aO eaEa eaia o a EaaEacEa eI a eEa a eOIA ca AOeAUi o acO aa aE EaEaIa EA AaO NA a a a A eI a aO eaEa eA Artinya: Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam Keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu . l-Nahl . : . Sejalan dengan ayat tersebut, maka menuntut ilmu adalah hal yang sangat penting karena tanpa tanpa ilmu manusia akan buta dalam mengarungi kehidupan. Menuntut ilmu dapat memberikan manfaat bagi manusia itu sendiri nantinya akan bermanfaat bagi orang lain, baik di dunia maupun di akhirat. Salah satu ilmu yang bermanfat adalah ilmu Al-Qur`an . Al-Qur`an merupakan pedoman hidup manusia yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sehari-hari. Allah telah memerintahkan Rasulullah SAW untuk mengajarkan AlQur`an pada umatnya. Begitu pula sesama umat muslim harus saling mengajar Al-Qur`an sebagaimana firman Allah SWT dalam surat WAqiAoah ayat 77: AacIacN EaCa e UI aE ac eO o UIA Artinya: Sesungguhnya Al-Qur`an ini adalah bacaan yang sangat mulia. (Al-WAqiAoah . Di dalam Al-Qur`an terkumpul wahyu ilahi yang menjadi petunjuk, pedoman dan pelajaran bagi orang yang membaca, mempelajari, mengimani dan mengamalkannya. samping itu Al-Qur`an juga berfungsi sebagai sumber ajaran Islam serta sebagai dasar petunjuk di dalam berpikir, berbuat dan beramal sebagai khalifah dimuka bumi. Agar dapat memahami fungsi Al-Qur`an tersebut, maka setiap manusia yang beriman harus berusaha belajar, mengenal, membaca dengan fasih dan benar sesuai dengan aturan membacanya . lmu tajwi. , makharijul huruf dan mempelajari baik yang tersurat maupun yang tersirat serta mengamalkan isi kandungan Al-Qur`an dalam kehidupan sehari-hari sebagaimana janji Allah dalam Al-Qur`an surat al-Qamar ayat 22 yang bunyinya: A eIa eECa e Ia acE acE eE ac Aa aN eE acI eI acIac acEA ca aOEaCae OA Artinya: Dan Sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Qur`an untuk pelajaran. Maka Adakah orang yang mengambil pelajaran?. l-Qamar . : . Ayat tersebut di atas dapat dipahami bahwa wajib hukumnya bagi setiap muslim yang beriman kepada Allah dan kitab-kitabnya untuk mempelajari isi kandungan Al-Qur`an dengan baik dan benar. Namun yang terjadi dewasa ini, masih banyak generasi muda Islam yang belum mampu membaca Al-Qur`an, padahal Al-Qur`an termasuk juga bacaan dalam shalat. Kegagalan umat Islam bukanlah datang dari orang lain tetapi dari umat Islam itu sendiri karena kurangnya pengetahuan mereka dalam memahami Al-Qur`an sehingga terjadilah bermacam-macam pendapat yang keliru dalam suatu masalah. Oleh sebab itulah dengan membaca dan mempelajari isi kandungan Al-Qur`an kita akan mengetahui mana yang Departemen Agama RI. Al-Qur`an dan Terjemahannya, (Jakarta: Darus Sunnah, 2. , h. Departemen Agama RI. Al-Qur`an dan Terjemahannya. , h. Departemen Agama RI. Al-Qur`an dan Terjemahannya. , h. VOL. NO. : AL ILMU : JURNAL KEAGAMAAN DAN ILMU SOSIAL URL : https://jurnal. id/index. php/AIJKIS/index E-ISSN: 2528-2697 P-ISSN: 2723-4452 benar dan mana yang salah. Allah SWT selalu memperingatkan hamba-Nya yang beriman, apabila timbul perbedaan pendapat tentang suatu masalah supaya kembali kepada Al-Qur`an dan sunnah. Realita sekarang terkesan bagi para remaja, membaca Al-Qur`an merupakan hal yang mudah dan gampang, padahal kalau dikaji dan dipelajari secara khusus tentang Al-Qur`an banyak yang harus diperhatikan. Pemandangan lain yang cukup memprihatinkan adalah akhir-akhir ini dirasakan kecintaan membaca Al-Qur`an di kalangan umat Islam sendiri semakin menurut, bahkan sudah jarang sekali terdengar bacaan Al-Qur`an di rumah orang Pendidikan Agama Islam merupakan salah satu pendidikan yang bertujuan untuk meningkatkan keimanan, penghayatan, dan pengalaman santri tentang agama Islam sehingga menjadi manusia muslim yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT serta berakhlak mulia dalam kehidupan pribadi, masyarakat, berbangsa dan bernegara dan mengantarkan manusia kepada manusia yang berkualitas. Dayah merupakan salah satu lembaga pendidikan nonformal yang menfokuskan untuk mendidik anak-anak. Oleh sebab itu dayah sangat berperan penting bagi seorang anak apalagi dalam hal membaca Al-Qur`an. Dayah Ihdal Ulum Al-Aziziyah Samalanga merupakan salah satu dayah yang ada di gampong Muliek Kecamatan Samalanga saat ini banyak mengalami kemajuan semenjak didirikan. Semua itu bisa dilihat dari jumlah santri yang semakin bertambah setiap harinya. Dayah Ihdal Ulum Al-Aziziyah juga menitik beratkan pembelajaran Al-Qur`an. Pembelajaran Al-Qur`an menjadi pembelajaran pokok bahkan guru yang ada di dayah tersebut juga mengajarkan bacaan Al-Qur`an kepada santri secara khusus. Dua malam dalam seminggu santri belajar Al-Qur`an khusus bagi santri yang sudah mahir dalam membaca Al-Qur`an tidak seperti malam-malam biasanya belajar Al-Qur`an dan kitab, santri yang datang tidak hanya berasal dari gampong setempat tetapi juga dari luar Gampong Pembahasan Pengertian Kemampuan Membaca Al-Qur`an Kemampuan adalah kapasitas seorang individu untuk melakukan beragam tugas dalam suatu pekerjaan. Dalam arti lain, kemampuan adalah sebuah penilaian terkini atas apa yang dapat dilakukan seseorang. Pada dasarnya kemampuan terdiri atas apa yang dapat dilakukan Kemampuan intelektual (Intelectual abilit. yaitu kemampuan yang dibutuhkan untuk melakukan berbagai aktifitas mental, berfikir, menalar dan memecahkan Kemampuan fisik (Physical abilit. yaitu kemampan melakukan tugas-tugas yang menuntut stamina, ketrampilan, kekuatan, dan karakteristik serupa. Tolak ukur ideal dari kemampuan membaca al-Qur`an adalah santri bisa membaca huruf hijaiyah secara urut dan benar. Begitu juga dengan menghafal bunyi bacaannya. Misalnya taril, benar makhrajnya dan cara melafalkannya. Kemampuan adalah kapasitas individu untuk mengerjakan berbagai tugas suatu pekerjaan. Kemampuan berasal dari kata mampu yang berarti kuasa . isa, sanggup melakukan sesuat. Kemudian kata mampu tersebut mendapat awalan ke dan akhiran - an, jadi kemampuan. Kemampuan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah kesanggupan, kecakapan dan kekuatan. Menurut Gordon, seperti yang dikutip oleh Ramayulis kemampuan . adalah Ramayulis. Metodologi Pendidikan Agama Islam (Jakarta: Kalam Mulia, 2. , h. Depdikbud. Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka,2. , h. VOL. NO. : AL ILMU : JURNAL KEAGAMAAN DAN ILMU SOSIAL URL : https://jurnal. id/index. php/AIJKIS/index E-ISSN: 2528-2697 P-ISSN: 2723-4452 sesuatu yang dimiliki oleh individu untuk melakukan tugas atau pekerjaan yang dibebankan Misalnya kemampuan pendidik dalam memilih dan membuat alat peraga sederhana untuk memberikan kemudahan belajar kepada peserta didik. Al-QurAoan adalah firman Allah SWT yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui malaikat Jibril yang merupakan mukjizat terbesar sepanjang sejarah manusia. Dan bagi siapa saja yang membaca al-QurAoan sekalipun tidak memahami maknanya terhitung sebagai ibadah dan mendapatkan ganjaran pahala yang sangat besar. Menurut Syekh Ash Shabuni yang dikutip Ahmad Lutfi bahwa al-QurAoan adalah kalam Allah yang mengandung mukjizat, diturunkan kepada nabi dan rasul terakhir dengan perantara malaikat Jibril, tertulis pada mushaf yang diriwayatkan kepada umatnya secara mutawatir dan membacanya bernilai ibadah yang dimulai dari surat al-Fatihah dan di akhiri dengan surat an-Nas. Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa kemampuan membaca alQurAoan berarti mampu mengucapkan atau melafalkan apa yang tertulis dalam al-QurAoan yang berisi firman Allah SWT yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui perantara malaikat Jibril, kemudian diamalkan sebagai petunjuk pedoman hidup bagi umat manusia. Adab Membaca al-QurAoan Al-QurAoan sebagai kitab suci, wahyu Ilahi, mempunyai adab-adab tersendiri bagi orang-orang yang membacanya. Adab-adab itu sudah diatur dengan sangat baik untuk penghormatan dan keagungan al-QurAoan, tiap-tiap orang harus berpedoman kepadanya dalam Segala perbuatan yang dilakukan manusia memerlukan etika dan adab untuk melakukannya, apalagi membaca Al-QurAoan yang memiliki nilai yang sangat sakral dan beribadah agar mendapat ridha dari Allah yang ditujukan dalam ibadah tersebut. Membaca Al-QurAoan tidak sama seperti membaca koran atau buku-buku lain yang merupakan kalam atau perkataan manusia belaka. Membaca Al-QurAoan adalah membaca firman-firman Tuhan dan berkomunikasi dengan Tuhan, maka seseorang yang membaca Al-QurAoan seolah-olah berdialog dengan Tuhan. Oleh karena itu, diperlukan adab yang baik dan sopan dihadapanNya. Diantara adab-adab membaca al-QurAoan yang terpenting, ialah: Disunatkan membaca al-QurAoan sesudah berwudhu, dalam keadaan bersih sebab yang dibaca adalah wahyu Allah karena al-QurAoan merupakan sebaik-baik bentuk zikir dan bermunajat kepada Allah SWT. Kemudian mengambil al-QurAoan hendaknya dengan tangan kanan sebaiknya memegangnya dengan kedua belah . Disunatkan membaca al-QurAoan di tempat yang bersih yang sesuai dengan kemuliaan al-QurAoan, seperti di rumah, di surau, di mushalla, dan di tempat-tempat lain yang dianggap bersih. Tapi yang paling utama dan mulia ialah masjid sebagai tempat untuk membaca al-QurAoan. Disunatkan membaca al-QurAoan menghadap kiblat, membacanya dengan khusyuAo. Ramayulis. Metodologi Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 2. , h. Tim PenyusunLembaga Bahasa dan Budaya IAIN Mataram. Pintu Cahaya al-QurAoan (Mataram: IAIN Mataram, 2. , h. Ahmad Lutfi. Pembelajaran Al-QurAoan dan Hadits, (Jakarta: Departemen Agama RI, 2. , h. Zainal Abidin. Seluk Beluk Al-QurAoan, (Jakarta: Rineka Cipta, 1. , h. VOL. NO. : AL ILMU : JURNAL KEAGAMAAN DAN ILMU SOSIAL URL : https://jurnal. id/index. php/AIJKIS/index E-ISSN: 2528-2697 P-ISSN: 2723-4452 dan tenang sebaliknya dengan berpakaian yang pantas, sopan dan bersih. Disunatkan membaca al-QurAoan dengan tartil, yaitu dengan bacaan yang pelanpelan dengan tenang. Bagi orang yang sudah mengerti arti dan maksud ayat-ayat al- QurAoan, disunatkan membacanya dengan penuh perhatian dan pemikiran tentang ayat-ayat yang dibacanya itu dan maksudnya . Sedapat-dapatnya membaca al-QurAoan janganlah diputuskan hanya karena hendak berbicara dengan orang lain. Hendaknya pembacaan diteruskan sampai ke batas yang telah ditentukan, barulah disudahi. Juga dilarang tertawa-tawa, bermain-main dan lain-lain yang semacam itu ketika sedang membaca al-QurAoan. Keutamaan Membaca Al QurAoan Membaca al-QurAoan merupakan pekerjaan yang utama, yang mempunyai berbagai keistimewaan dan kelebihan dibandingkan dengan membaca yang lain. Sesuai dengan arti alQurAoan secara etimologi adalah bacaan karena al-QurAoan merupakan bacaan istimewa yang menjamin pembacanya membaca dengan menyebut nama Allah SWT dan al-QurAoan diturunkan memang untuk dibaca. Orang mukmin seharusnya tidak buta huruf al-QurAoan dan senantiasa membacanya agar mendapat petunjuk serta rahmat dari Allah SWT. Diantara keutamaan-keutamaan membaca al-QurAoan menurut Abdul Majid Khon adalah sebagai . Menjadi manusia yang terbaik Orang yang membaca al-QurAoan adalah manusia yang terbaik dan manusia yang paling utama. Tidak ada manusia di atas bumi ini yang lebih baik dari pada orang yang mau belajar dan mengajarkan al-QurAoan. Dengan demikian profesi pengajar al-QurAoan, jika dimasukkan sebagai profesi adalah profesi yang terbaik di antara sekian banyak profesi. Mendapat kenikmatan tersendiri Membaca al-QurAoan adalah kenikmatan yang luar biasa. Seseorang yang sudah merasakan kenikmatan membacanya tidak akan bosan sepanjang malam dan siang. Bagaikan nikmat harta kekayaan ditangan orang shaleh adalah merupakan kenikmatan yang besar karena dibelanjakan kejalan yang benar dan tercapai apa yang diinginkan. Derajat yang tinggi Seorang mukmin yang membaca al-QurAoan dan mengamalkannya adalah mukmin sejati harum lahir batin, sesamanya. Maksudnya orang tersebut mendapat derajat yang tinggi baik disisi Allah maupun sisi manusia. Bersama para malaikat Orang membaca al-QurAoan dengan fashih dan mengamalkannya, akan bersama dengan para malaikat yang mulia derajatnya. Derajat orang tersebut sangat dekat kepada Allah seperti Jika seseorang itu dekat dengan Allah tentu segala dosa dan hajatnya dikabulkan oleh Allah SWT. Faktor Yang Mempengaruhi Kemampuan Membaca Al-Qur`an Dalam kegiatan belajar mengajar mata pelajaran pendidikan agama Islam khususnya materi tentang Al-Qur`an dan hadis, haruslah memperhatikan beberapa faktor. Diharapkan keberadaan faktor-faktor ini akan sangat menentukan dan memberi pengaruh terhadap kelancaran proses pembelajaran. Zainal Abidin. Seluk Beluk Al-QurAoan. , h. VOL. NO. : AL ILMU : JURNAL KEAGAMAAN DAN ILMU SOSIAL URL : https://jurnal. id/index. php/AIJKIS/index E-ISSN: 2528-2697 P-ISSN: 2723-4452 Secara umum faktor-faktor yang mempengaruhi kemampuan membaca Al-Qur`an adalah sebagai berikut: Faktor siswa/murid. Faktor guru/ustadz. Faktor alat dan sarana/media pembelajaran. Faktor lingkungan keluarga, masyarakat, dan pergaulan. Secara rincinya mengenai faktor-faktor tersebut adalah sebagai berikut: Faktor siswa/murid/santri Ada beberapa prinsip mendasar yang perlu diperhatikan saat proses kegiatan belajar mengajar berlangsung, yang berhubungan dengan santri sebagai berikut: Adanya persiapan untuk belajar. Kesiapan anak merupakan modal dasar bagi berlangsungnya proses belajar mengajar. Namun perlu disadari banyak hal yang menjadikan anak didik tidak secepatnya menyiapkan segala sesuatu baik fisik maupun mental untuk belajar, sehingga proses belajar mengajar tidak berlangsung dengan sempurna. Kesiapan fisik yang dimaksud adalah sarana dan prasarana yang diperlukan dalam belajar. Sedangkan kesiapan mental dalam bentuk pengarahan segenap perhatian untuk menerima pelajaran Al-Qur`an. Karena keteraturan adalah pangkal Adanya minat yang besar untuk belajar Kesiapan peserta didik terhadap pelajaran ditunjang oleh adanya minat anak terhadap suatu pelajaran. Minat belajar membaca Al-Qur`an dapat timbul dari berbagai sumber antara lain dari perkembangan insting, fungsi-fungsi intelektual, pengaruh lingkungan, pengalaman, kebiasaan, pendidikan dan sebagainya. 12 Minat merupakan salah satu penentu lancar tidaknya proses kegiatan belajar mengajar (KBM) khususnya pelajaran agama Islam materi Al-Qur`an dan hadis. Karena minat merupakan suatu yang mampu membangkitkan semangat dan motivasi untuk belajar. Adanya keaktifan dalam belajar Untuk melibatkan anak dalam KBM, juga perlu dipupuk sikap anak dalam bentuk belajar yang menimbulkan semangat yang disertai perasaan senang. Pada sisi lain dapat dikatakan bahwa belajar hanya dapat berhasil apabila melalui berbagai macam kegiatan. Kegiatan tersebut dapat digolongkan menjadi keaktifan jasmani dan rohani. Jadi, masalah keaktifan dan keterlibatan siswa dalam KBM sangat besar peranannya. Karena itu guru harus memberi kesempatan kepada murid untuk mengembangkan kemampuan yang dimilikinya. Rendahnya kadar perhatian anak terhadap materi yang diberikan banyak ditentukan oleh penilaian anak terhadap materi pelajaran berdasarkan kepentingan mereka. Sering terjadi seorang anak kurang menaruh perhatian pada pelajaran tertentu, karena mereka tidak mendapatkan sesuatu kepentingan buat mereka. Materi pelajaran yang diterima sering hanya berupa informasi yang tidak mampu menyentuh perhatian dan kecenderungan anak didik, terkadang ditemui anak yang dengan tenang duduk di dalam kelas, namun perhatian dan pemikiran mereka jauh menerawang keluar ketika pelajaran berlangsung atau biasa disebut dengan drof out relatif. Adanya kepentingan diri anak sendiri tentang bahan yang dipelajari Dewa Ketut Sukardi. Bimbingan Konseling, (Bandung: Bina Aksara, 1. , h. VOL. NO. : AL ILMU : JURNAL KEAGAMAAN DAN ILMU SOSIAL URL : https://jurnal. id/index. php/AIJKIS/index E-ISSN: 2528-2697 P-ISSN: 2723-4452 Salah satu jalan yang dapat dilakukan untuk menolong santri agar merasa berkepentingan dalam proses KBM adalah memperkenalkan tujuan yang akan mereka terima. Kemampuan guru untuk menghubungkan tujuan pelajaran dimaksud dengan pemenuhan kebutuhan anak itu sendiri. Disamping itu juga guru dituntut dapat menghubungkan pelajaran yang sedang berlangsung dengan realitas sehari-hari di lingkungan tempat tinggal anak didik. Adanya kemampuan dan kemauan untuk membaca Tingkat kemampuan seseorang dalam membaca juga merupakan faktor penentu sukses tidaknya ia dalam belajar. Anak didik yang lancar membaca berarti ia tidak banyak mengalami kesulitan dalam pekerjaan sekolah. Oleh karena itu keberhasilan seorang anak dalam studi tidak akan tercapai dengan baik, apabila ia tidak mampu membaca dengan baik. Jadi pada prinsipnya, kemampuan dan kemauan membaca merupakan modal dasar yang harus dimiliki setiap murid yang sedang belajar, terutama yang dikehendaki disini adalah belajar membaca Al-Qur`an. Faktor Guru/Ustadz Guru adalah salah satu fator penting dalam suatu proses belajar mengajar. Karena tidak akan terjadi suatu kegiatan pendidikan tanpa adanya guru. Menurut Hamzah B. Uno, guru adalah orang dewasa yang secara sadar bertanggungjawab dalam mendidik, mengajar, dan membimbing santri. Orang yang disebut guru adalah orang yang memiliki kemampuan merancang program pembelajaran serta mampu menata dan mengolah kelas agar santri dapat belajar dan pada akhirnyaa dapat mencapai tingkat kedewasaan sebagai tujuan akhir dari proses pendidikan. Adapun untuk menjadi seorang guru, beberapa pemikir pendidikan berpendapat diperlukan beberapa persyaratan, adapun dalam pemikiran Burhan untuk menjadi seorang guru diperlukan syarat-syarat sebagai berikut: Syarat yang bersifat professional . Memiliki pengetahuan di bidang keguruan . lmu pendidikan, didaktik, metodik, ilmu jiwa dan lain-lai. Adanya ketrampilan . dalam mengajar . enguasaan metodologi Syarat yang bersifat personal . Sehat jasmani dan rohani sebagai satu kesatuan yang stabil. Memiliki kepribadian dewasa dan bertanggung jawab. Syarat yang bersifat morality Seorang guru dituntut sanggup berbuat dan bertindak dan bertingkah laku di atas etika Syarat yang bersifat religiosity Yaitu sanggup berbuat dan bertingkah laku tidak bertentangan dengan ajaran agama dan selalu taat dan patuh dalam melaksanakan ajarannya. Syarat formal Seorang guru dituntut memiliki surat keputusan (SK) dari suatu instansi yang berwenang untuk mengangkat sebagai seorang guru. Hamzah B. Uno. Profesi Kependidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2. , h. Hamzah B. Uno. Profesi Kependidikan. , h. VOL. NO. : AL ILMU : JURNAL KEAGAMAAN DAN ILMU SOSIAL URL : https://jurnal. id/index. php/AIJKIS/index E-ISSN: 2528-2697 P-ISSN: 2723-4452 Faktor Sarana / Media Dewasa ini pengertian alat-alat pendidikan sudah berkembang sesuai dengan majunya ilmu pengetahuan dan teknologi yang dahulu hanya mengenal sebatas apa yang dapat dipergunakan dalam proses belajar mengajar saja. Tetapi sekarang orang mengenalnya dengan istilah media pendidikan dan alat peraga, misalnya papan tulis, radio, film atau gambar hidup, televisi pendidikan dan sebagainya. Hal yang demikian sering disebut Audio Visual, yaitu mencakup segala alat yang dapat membantu kelancaran proses belajar mengajar. Guru yang menguasai metode mengajar dan mempunyai dedikasi yang tinggi . erpanggil untuk mengaja. akan lebih lancar dalam pengajaran apabila dilengkapi dengan alat atau sarana pengajaran yang cukup memadai. 15 Alat yang dimaksud diantaranya adalah: Alat-alat lama yang masih dapat digunakan, papan tulis, kapur, buku tulis, bangku belajar, buku pelajaran Al-Qur`an dan hadis. Alat-alat baru yang diusahakan: seperti kaset, alat peraga huruf hijaiyah. OHP (Over Head Proyekto. Alat-alat administrasi. seperti buku absent, buku hasil evaluasi dan lain-lain. Demikian juga sarana penunjang dalam mempermudah pencapaian tujuan pendidikan atau belajar al-Qur`an seperti kitab suci al-Qur`an, ruang belajar yang lengkap dengan meja kursi serta lampu penerang perpustakaan dan sebagainya. Faktor Lingkungan Pada faktor lingkungan masyarakat inipun juga ikut mempengaruhi dan perlu mendapat perhatian karena kondisi obyektif masyarakat sangat menentukan pertumbuhan dan perkembangan anak. Anak didik adalah bagian dari masyarakat tersebut kebiasaan itu yang bersifat positif atau sesuai ajaran Al-Qur`an dan ada juga yang negatif atau bertentangan dengan ajaran Al-Qur`an. Oleh karena itu, perlu diciptakan suasana masyarakat yang membantu kelancaran pencapaian tujuan pendidikan. Pengenalan anak terhadap alam lingkungan sekitarnya dimulai setelah ia pandai berjalan dan telah menguasai bahasa. Alam sekitar bagi diri anak seolah-olah merupakan tantangan untuk melakukan eksplorasi atau penjelajahan. Dengan akan menambah kekayaan pengetahuan mengenai berbagai benda yang berlainan jenis, warna, bentuk dan sifatnya. Lingkungan masyarakat yang religius dan patuh menjalankan sunah-sunah Rasullah SAW akan sangat mendukung bagi perkembangan pengetahuan dan kepribadian anak. Oleh karena itu, masyarakat di mana diselenggarakan pengajian Al-Qur`an perlu dibuat demam Al-Qur`an. Metodologi Penelitian Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah field reseach . enelitian lapanga. dengan menggunakan jenis penelitian kualitatif yaitu sebuah pendekatan dimana penelitian tersebut dilakukan melalui tahapan pemikiran kritis ilmiah, yang mana seorang peneliti memulai berpikir secara menangkap berbagai fakta atau fenomena-fenomena sosial melalui pengamatan di lapangan, kemudian menganalisisnya dan berupaya melakukan teori berdasarkan yang di amati. 16 Dapat disimpulkan bahwa jenis penelitian kualitatif adalah jenis penelitian yang menghasilkan suatu penemuan yang tidak dapat dicapai dengan menggunakan proses statistik atau dengan cara kuantitatif . engan pengukura. Pendekatan yang dipakai dalam penelitian ini adalah pendekatan fenomenologi. Fenomenologi berasal dari bahasa Yunani dengan asal suku kata pahainomenon . ejala atau fenomen. Hamzah B. Uno. Profesi Kependidikan. , h. Burhan Bungin. Penelitian Kualitatif. Cet. I, (Jakarta: Kencana, 2. , h. VOL. NO. : AL ILMU : JURNAL KEAGAMAAN DAN ILMU SOSIAL URL : https://jurnal. id/index. php/AIJKIS/index E-ISSN: 2528-2697 P-ISSN: 2723-4452 Fenomenologi merupakan strategi penelitian di mana di dalamnya peneliti mengidentifikasi hakikat pengalaman manusia tentang suatu fenomena tertentu. Memahami pengalamanpengalaman hidup manusia menjadikan filsafat fenomenologi sebagai suatu metode penelitian yang prosedur-prosedurnya mengharuskan peneliti untuk mengkaji sejumlah subjek dengan terlibat secara langsung dan relatif lama di dalamnya untuk mengembangkan pola-pola dan relasi-relasi makna. Dalam proses ini, peneliti mengesampingkan terlebih dahulu pengalaman-pengalaman pribadi agar peneliti dapat memahami pengalaman-pengalaman partisipan yang sedang diteliti. Hasil Penelitian dan Pembahasan Upaya Teungku Dayah dalam Meningkatkan Kemampuan Membaca Al-Qur`an Santri Baru Dayah Ihdal Ulum Al-Aziziyah Teungku dayah merupakan kelompok sosial yang pertama dalam kehidupan dayah yang mampu membimbing Santri dalam menghadapi pertentangan tersebut, dimana Santri tersebut belajar agama khususnya Al-Qur`an sebagai wadah untuk pembentukan moral Santri Di dalamnya ia belajar mengetahui apa yang dikehendaki dan diinginkan oleh agama terhadap dirinya yang kemudian pada akhirnya menimbulkan kesadaran akan kebenaran yang dikehendaki oleh masyarakat sekitarnya. Sedangkan tentang masalah kemapuan membaca AlQur`an terdiri dari bermacam-macam, ada yang sudah bisa semenjak belajar di balai pengajian di kampung halamannya ada juga yang belum bisa sama sekali. Dari fenomena tersebut penulis mendapati data berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa responden tentang upaya Teungku dayah dalam meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur`an Santri Baru Dayah Ihdal Ulum Al-Aziziyah. Mengajarkan materi hukum bacaan ataupun ilmu tajwid Berdasarkan penuturan salah satu guru yang mengajar di Dayah Ihdal Ulum AlAziziyah. Aykemampuan membaca Al-Qur`an santri yang ada di dayah ini masih kurang terutama mengenai hukum-hukum bacaan, dalam hal ini kami mengupayakan dengan mengenalkan atau mengajarkan terlebih dahulu tentang pengenalan hukum bacaan melalui kitab tajwidAy. Sistem Pembagian Kelas Belajar Sistem pembagian kelas ini dilakukan untuk memisahkan antara santri yang senior dan santri junior. Di Dayah Ihdal Ulum Al-Aziziyah terdapat tiga tingakatan kelas di antaranya Kelas Juz Amma Santri-santri yang belajar adalah santri-santri pemula yang baru belajar AlQur`an. Santri-santri yang belajar di sini adalah santri yang duduk di bangku Sekolah Dasar dan Taman Kanak-Kanak. Meskipun santri-santri ini tidak belajar kitab tapi setiap malamnya guru mengarjakan tentang ilmu tauhid seperti iAotikad 70 dan juga tarikh kepada santri-santri ini. Kelas Al-Qur`an Beserta Kitab arab Jawi Pada kelas ini santri-santri yang belajar adalah santri yang duduk dibangku Sekolah Dasar dan juga Sekolah Menengah Pertama. Selain belajar Al-Qur`an mereka juga belajar kitab yaitu kitab Masailai dan Zammon. Kelas Al-Qur`an Beserta kitab Arab Santri-santri yang belajar pada kelas ini adalah santri senior. Kebanyakan santrisantri ini telah menduduki bangku Sekolah Menengah Pertama dan juga Sekolah Menengah Atas bahkan ada santri yang telah duduk di bangku perkuliahan. Kitab yang diajarkan kepada santri senior ini adalah kitab Bajuri. Ianatutthalibin bahkan kitab Mahalli. VOL. NO. : AL ILMU : JURNAL KEAGAMAAN DAN ILMU SOSIAL URL : https://jurnal. id/index. php/AIJKIS/index E-ISSN: 2528-2697 P-ISSN: 2723-4452 Sistem Belajar Halaqah Berdasarkan hasil observasi, sistem pembelajaran yang digunakan di Dayah Ihdal Ulum Al-Aziziyah masih menggunakan sistem halaqah, dimana santri duduk mengelilingi Santri duduk menurut tingkatan masing-masing dimana santri laki-laki dan perempuan tidak digabungkan. Selain belajar Al-Qur`an dan kitab, santri yang ada di Dayah Ihdal Ulum Al-Aziziyah juga menghafal Al-Qur`an. Menghafal Al-Qur`an hanya bagi santri yang mampu dan berkeinginan tidak diwajibkan dan setiap minggunya santri menyetor membacanya kepada Selain itu, setiap tahun saat memperingati hari kelahiran Nabi Dayah Ihdal Ulum AlAziziyah mengadakan perlombaan guna untuk memotivasikan santri agar lebih giat dan rajin dalam belajar. Adapun mengenai pembelajaran al-Qur`an yang dilaksanakan di Dayah Ihdal Ulum Al-Aziziyah yaitu setiap malam kecuali malam sabtu dan minggu. Malam sabtu dan rabu mereka tidak belajar Al-Qur`an seperti malam-malam biasanya karena sabtu dan minggu hanya kitab-kitab yang lain sesuai dengan kurikulum yang ada yaitu belajar fiqh ataupun kitab Penggunaan metode yang bervariasi Dalam proses pembelajaran, metode mempunyai peranan yang sangat penting dalam upaya pencapaian tujuan pembelajaran Al-Qur`an. Di Dayah Ihdal Ulum Al-Aziziyah terdapat beberapa metode yang diterapkan oleh guru bagi santri baru yang ada di Dayah Ihdal Ulum Al-Aziziyah untuk meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur`an santri diantaranya yaitu metode ceramah, metode tanya jawab dan metode diskusi. Metode ceramah merupakan cara mengajar yang paling tradisional dan tidak asing lagi yang telah lama dijalankan dalam sejarah pendidikan cara ini terkadang membosankan, maka dalam pelaksanaannya memerlukan keterampilan tertentu, agar penyajiannya tidak membosankan dan dapat menarik perhatian santri namun kita masih mengakui bahwa metode ceramah ini tetap penting dengan tujuan agar anak didik mendapatkan informasi tentang suatu pokok masalah atau persoalan tertentu dengan metode ini Teungku memberikan penjelasan kepada santri-santri dengan cara menjelaskan secara lisan tentang permasalahan yang berhubungan dengan Al-Qur`an yaitu tentang ilmu tajwid. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan pada bab sebelumnya, maka dapat disimpulkan bahwa Upaya teungku dayah dalam meningkatkan kemampuan membaca AlQur`an santri baru Dayah Ihdal Ulum Al-Aziziyah yaitu guru memberikan materi yang berhubungan dengan hukum-hukum bacaan. Sistem Pembagian Kelas Belajar, dengan menggunakan Sistem Belajar Halaqah dan dengan penggunaan metode yang bervariasi dan Kendala teungku dayah dalam meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur`an santri baru dayah Ihdal Ulum Al-Aziziyah yaitu keadaan santri mudah lupa, terbatas baktu, kurangnya minat dalam belajar al-qur`an, kurang tenaga pengajar khusus yang mampu mengajar alqurAoan secara maksimal dan kurangnya partisipasi orang tua dalam ikut serta dalam memotivasi anaknya belajar Al-Qur`an. Daftar Pustaka