JURNAL AGROSAINS VOL 17 N0 2 2024 ISSN: 1693-5225 Penerapan Theory Of Planned Behavior pada Penerimaan Teknologi Pengembunan dan Pasteurisasi Jamur Tiram di Kabupaten Jember Robiatul Adawiyah. , dan Julian Adam Ridjal. * 1,2* Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Jember * Email korespondensi : adam. faperta@unej. atul12321@gmail. Abstract Jember Regency is an area that is less suitable for oyster mushroom cultivation when considering the temperature of the cultivation, but this can be overcome by using condensation and pasteurization technology that farmers can do for farming in the Jember Regency Region. The researcher's aim is to find out how the characteristics of oyster mushroom farmers in the Jember Regency Region, how the influence of attitudes, subjective norms, and behavioral control on the acceptance behavior of condensation and pasteurization technology on oyster mushroom farming in Jember Regency. Determination of the research area using purposive method. The research method uses descriptive and analytical methods. The research sample used purposive sampling method. Data analysis using descriptive analysis methods. Structural Equation Modeling (SEM). The results of the analysis showed: . the characteristics of oyster mushroom farmers in Jember Regency: the gender of oyster mushroom farmers is dominated by male farmers . %). The age of oyster mushroom farmers is dominated by farmers aged 31-50 years. The dominating education of oyster mushroom farmers is high school . 5%). Experience or length of farming is dominated by >4 years . %). The farming scale is that all respondents have a farming scale of O7000 baglogs. Attitude variables have a significant effect on farmers' acceptance intentions of condensation and pasteurization technology on oyster mushroom farms in Jember Regency . Subjective norm variables do not have a significant effect on farmers' acceptance intentions of condensation and pasteurization technology on oyster mushroom farms in Jember Regency . Behavior control variables do not have a significant effect on farmers' acceptance intentions of condensation and pasteurization technology on oyster mushroom farms in Jember Regency. Keywords: Oyster Mushroom. Sem-PLS. Theory of Planned Behavior PENDAHULUAN Hortikultura sayur merupakan produk yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat secara berkelanjutan dikarenakan sayuran merupakan salah satu kebutuhan pangan dengan permintaan yang cukup tinggi dalam masyarakat. Menurut Lianah, . Jamur merupakan salah satu jenis tanaman hortikutura yang banyak dikembangkan oleh masyarakat dikarenakan jumlah peminatnya yang bertambah. Menurut data Badan Pusat Statistik tahun 2020, menunjukkan bahwa komoditas jamur merupakan komoditas dengan jumlah kontribusi terbesar di wilayah Kabupaten Jember. Kontribusi jamur memiliki nilai hingga sebesar 58,64% yang artinya separuh kontribusi tanaman hortikultura di Kabupaten Jember adalah jamur. Kegiatan budidaya jamur sendiri terutama pada jamur tiram perlu memperhatikan beberapa hal yakni perubahan suhu, perkembangan jamur pengkontaminan dalam baglog, hama, serta proses pemeliharaan (Mulyanto & Susilawati, 2. Kegiatan budidaya jamur tiram dapat optimal apabila tumbuh dengan keadaan suhu yang optimal, dimana suhu optimal untuk pertumbuhan jamur pada fase inkubasi yakni suhu 22-28 oC dengan kelembapan 60-80% dan pada fase pertumbuhan bibit suhu yang optimal yakni 16-22 oC dengan kelembapan 80-90%. Kabupaten Jember berdasarkan prakiraan cuaca harian BMKG menunjukkan bahwa suhu rerata harian yakni 23-32oC dengan kelembapan sekitar 65-90%. Salah satu solusi yang diterapkan petani yakni dengan memaksimalkan teknologi yang dapat membantu mempertahankan suhu kumbung jamur agar jamur dapat tumbuh dengan normal. Teknologi yang digunakan yakni teknologi pengembunan dimana petani melakukan penyempotan air pada baglog jamur didalam Faktor lain yang perlu diperhatikan dalam kegiatan budidaya tanaman jamur yakni tingkat sterilisasi bibit serta media tanam yang dilakukan dengan teknik pasteurisasi untuk memastikan bahwa tanaman jamur dapat tumbuh dengan baik (Djuwendah & Septiarini, 2. JURNAL AGROSAINS VOL 17 N0 2 2024 ISSN: 1693-5225 Kegiatan budidaya dapat mengalami kegagalan apabila petani tidak dapat menerima adanya teknologi yang dapat membantu kegiatan budidaya tersebut. Pendekatan yang dapat dilakukan untuk menilai tingkat penerimaan petani terhadap teknologi yakni pendekatan sosial, ekonomi, dan psikologi. Pendekatan secara psikologi mengenai penerimaan petani terhadap teknologi dapat dilakukan dengan menggunakan Teori Perilaku Berencana atau Theory of Planned Behavior (TPB). TPB merupakan teori perluasan dari teori TRA atau Theory of Reasoned Action. Teori Perilaku Beralasan atau disebut Theory of Planned Behavior (TPB) menjelaskan bahwa suatu perilaku terjadi dikarenakan adanya minat untuk melakukan perilaku. Dalam teori ini terjadi penambahan satu variabel yaitu kontrol perilaku sehingga minat berperilaku dalam TPB ditentukan oleh tiga faktor utama yakni sikap terhadap perilaku atau attitude toward behavior, norma subjektif atau subjective norm, dan presepsi kontrol perilaku atau perceived control behavior. Penelitian ini fokus menggunakan Theory of Planned Behavior (TPB) untuk mengetahui minat atau niat penerimaan petani jamur tiram dalam penerimaan teknologi pengembunan dan pasteurisasi yang akan dianalisis menggunakan tiga variabel yakni sikap dimana berisi mengenai penting tidaknya teknologi pengembunan dan pasteursasi bagi petani jamur tiram, norma subjektif yang berisi mengenai tekanan sosial atau pendapat individu lain terhadap penerimaan teknologi pengembunan dan pasteurisasi bagi petani jamur tiram, dan kontrol perilaku yakni persepsi mengenai kemudahan atau kesulitan teknologi pengembunan dan pasteurisasi bagi petani jamur tiram. Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, tujuan penelitian ini adalah . untuk mengetahui bagaimana karakteristik petani jamur di Kabupaten Jember, . untuk mengetahui bagaimana pengaruh sikap terhadap perilaku penerimaan teknologi pengembunan dan pasteurisasi pada usahatani jamur tiram di Kabupaten Jember, . untuk mengetahui bagaimana pengaruh norma subjektif terhadap perilaku penerimaan teknologi pengembunan dan pasteurisasi pada usahatani jamur tiram di Kabupaten Jember, dan . untuk mengetahui bagaimana pengaruh kontrol perilaku terhadap perilaku penerimaan teknologi pengembunan dan pasteurisasi pada usahatani jamur tiram di Kabupaten Jember. METODE PENELITIAN Penentuan daerah penelitian adalah dengan menggunakan metode purposive . urposive Daerah penelitian ini dipilih dengan pertimbangan bahwa daerah tersebut merupakan daerah dengan kontribusi produksi terbesar di Kabupaten Jember. Berdasarkan pertimbangan tersebut maka didapatkan empat wilayah yakni Kecamatan Rambipuji. Kecamatan Ajung. Kecamatan Panti dan Kecamatan Wuluhan, dimana masing-masing wilayah tersebut memiliki kontribusi produksi jamur tiram pada tahun 2019 sebesar 82,9%, 11,36%, 2,41%, dan 1, 37%. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dan analitis. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif untuk menjawab rumusan masalah pertama terkait dengan karakteristik petani petani jamur. Metode analitis digunakan untuk menganalisis mengenai pengaruh komponen dalam pendekatan Theory of Planned Behavior terhadap perilaku penerimaan teknologi pengembunan dan pasteurisasi dalam budidaya jamur tiram. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini yakni menggunakan observasi . yang dilakukan secara sengaja dan terencana sistematis terkait suatu fenomena yang dilakukan dengan mengamati dan mencatat untuk mengetahui bagaimana kegiatan budidaya atau usahatani jamur tiram di Kabupaten Jember, interview . dilakukan dengan tanya jawab secara langsung dengan menggunakan kuisioner telah dipersiapkan peneliti dengan bantuan skala likert untuk mendapatkan data yang dibutuhkan oleh peneliti, dan studi dokumentasi untuk memperoleh data primer dan data sekunder yang dibutuhkan dalam penelitian. Metode pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling. Pengambilan sampel dilakukan pada empat wilayah yang dijadikan daearah penelitian yakni wilayah dengan jumlah kontribusi terbesar produksi jamur yang terdiri atas Kecamatan Rambipuji. Kecamatan Ajung. Kecamatan Panti, dan Kecamatan Wuluhan dengan masing-masing 10 petani jamur sebagai sampel dalam setiap wilayahnya, sehingga dalam penelitian ini akan menggunakan 40 petani jamur tiram sebagai sampel yang berasal dari empat wilayah tersebut. JURNAL AGROSAINS VOL 17 N0 2 2024 ISSN: 1693-5225 Analisis data yang dilakukan dalam penelitian ini disesuaikan dengan rumusan permasalahan yang telah dituliskan sebelumnya. Rumusan masalah yang pertama mengenai karakteristik petani jamur tiram di Kabupaten Jember dianalisis menggunakan metode analisis deskriptif. Analisis deskriptif yang dilakukan dengan melakukan wawancara terhadap responden yakni petani jamur tiram untuk mengetahui apa saja karakeristik dari petani jamur tiram yang ada di Kabupaten Jember. Rumusan masalah yang kedua, ketiga, dan keempat terkait penerimaan petani pada teknologi pengembunan dan pasteurisasi terhadap theory of planned behavior dianalisis menggunakan SEMPLS dengan bantuan software Smart PLS 3. Model yang dihasilkan oleh software smartpls dan yang akan digunakan dalam penelitian adalah sebagai berikut: Gambar 1. Konstruk model penelitian Berdasarkan konstruk tersebut maka hipotesis yang akan digunakan dalam penelitian adalah sebagai berikut. Variabel sikap berpengaruh secara langsung terhadap niat penerimaan petani terhadap teknologi pengembunan dan pasteurisasi dalam budidaya jamur tiram Variabel norma subjektif berpengaruh secara langsung terhadap niat penerimaan petani terhadap teknologi pengembunan dan pasteurisasi dalam budidaya jamur tiram Variabel kontrol perilaku berpengaruh secara langsung terhadap niat penerimaan petani terhadap teknologi pengembunan dan pasteurisasi dalam budidaya jamur tiram Analisis SEM-PLS memiliki dua sub model yakni model pengukuran . easurement mode. atau disebut outer model dan model struktural . tructural mode. atau disebut juga outer model. Outer Model Model pengukuran ini berisi mengani gambaran bagaimana variabel observasi mempresentasikan variabel laten model pengukuran ini digunakan untuk melakukan penilaian terhadap validitas dan reabilitas model. Korelasi antara skor indikator dengan skor variabel dapatt digunakan untuk menilai convergent validity. Suatu indikator dalam penelitian dianggap valid apabila memiliki nilai AVE (Average Variance Extracte. diatas 0,5 atau dapat memperlihatkan bahwa keseluruhan outer loading dimensi variabel memiliki nilai loading Ou 0,5 sehingga dapat disimpulkan bahwa kriteria validitas konvergen terpenuhi. Uji reabilitas dapat dilihat melalui nilai cronbach alpha dan nilai composite reability. Suatu item dinyatakan reliabel apabila nilai cronbach alpha harus > 0,6 dan nilai composite reability Ou 0,7 (Abdillah & Jogiyanto, 2. Penelitian ini menggunakan empat variabel laten yakni sikap, norma subjektif, dan persepsi kontrol perilaku dan niat juga menggunakan 11 variabel teramati seperti yang terdapat dalam Variabel laten serta variabel teramati ini memiliki hubungan yang berkaitan. Hubungan yang dimiliki yakni notasi A1,A2,dan A3 sebagai variabel teramati dari variabel laten sikap. Notasi SN1, dan SN2 sebagai variabel teramati dari variabel laten norma subjektif. Notasi CB1. JURNAL AGROSAINS VOL 17 N0 2 2024 ISSN: 1693-5225 CB2, dan CB3 sebagai variabel teramati dari variabel laten kontrol perilaku. Kemudian yang teraakhir yakni notasi BD1. BD2, dan BD3 merupakan variabel teramati dari variabel laten niat. Inner Model Iner model digunakan untuk menggambarkan hubungan antara variabel laten yang digunakan dalam model penelitian. Model struktural yang digunakan dievaluasi dengan RSquare untuk konstruk dependen dan uji t serta signifikasi dari koefisien parameter jalur Nilai Adjusted R2 sebesar 0,67 menunjukkan bahwa model tersebut kuat, apabila nilai Adjusted R2 sebesar 0,33 menunjukkan bahwa model termasuk kedalam model moderan, dan jika nilai Adjusted R2 menujukkan nilai sebesar 0,19 menunjukkan bahwa model tersebut termasuk kedalam kategori lemah (Chin 1998 dalam Syahrir. Danial. Yulinda, & Yusuf . Pengujian hipotesis dilakukan dengan menggunakan uji t. Nilai P-value juga dapat digunakan pada program PLS untuk pengambilan keputusan uji statistik dengan menggunakan perbandingan pada nilai alpha () = 5% atau 0,05 sehingga nilai t tabel yang dapat digunakan sebagai acuan sebesar 1,96. Kriteria yang diperoleh dari perbandingan tersebut yakni: Nilai P-Value O menunjukkan nilai yang berpengaruh signifikan antara variabel laten eksogen dengan variabel laten enndogen sehingga hipotesis dapat diterima. sedangkan Nilai P-Value > menunjukkan nilai yang tidak berpengaruh signifikan antara variabel laten eksogen dengan variabel laten enndogen sehingga hipotesis ditolak. HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa mengenai karakteristik Petani Jamur Tiram di Kabupaten Jember dilihat berdasarkan beberapa aspek. Aspek-aspek tersebut yang akan digunakan antara lain: . jenis kelamin, . usia, . pendidikan formal, . pengalaman, dan . skala usaha. Karakteristik Responden berdasarkan Jenis Kelamin Menurut Badan Pusat Statistik . Jenis kelamin merupakan perbedaan secara biologis manusia semenjak dilahirkan. Perbedaan biologis tersebut membagi manusia menjadi laki-laki dan perempuan. Hal tersebut membuat peneliti membagi karakteristik berdasarkan jenis kelamin menjadi dua sesuai perbedaan biologisnya yakni: . laki-laki dan . Berikut merupakan jumlah responden petani jamur tiram berdasarkan jenis kelami : Tabel 2. Responden berdasarkan Jenis Kelamin di Kabupaten Jember Jenis Kelamin Jumlah Presentase (%) Laki-laki Perempuan Total Sumber : Data Primer diolah,2021 Responden petani jamur tiram yang berada di Kabupaten Jember antara laki-laki dan perempuan lebih didominasi oleh petani jamur tiram laki-laki. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa petani laki-laki lebih memiliki potensi serta ide yang dapat diterapkan dalam usahatani jamur tiram sehingga dengan hal ini diharapkan dapat meningkatkan niat penerimaan petani terhadap teknologi pengembunan dan pasteurisasi usahatani jamur tiram di Kabupaten Jember. Karakteristik Responden berdasarkan Usia Menurut KBBI usia atau umur merupakan lama waktu hidup manusia sejak dilahirkan yang dihitung dengan satuan tahun. Usia sendiri dapat dibagi menjadi usia produktif yakni pada usia 15-65 tahun dan usia diluar itu disebut dengan usia non produktif. Pembagian usia tersebut menyebabkan peneliti membagi usia menjadi 3 rentang usia yakni : . 17-30 tahun, . 31-50 tahun, dan . 51 tahun keatas. Berikut merupakan jumlah responden di Kabupaten Jember berdasarkan usia. JURNAL AGROSAINS VOL 17 N0 2 2024 ISSN: 1693-5225 Tabel 3. Responden berdasarkan Usia di Kabupaten Jember Usia Jumlah Presentase (%) 17-30 tahun 31-50 tahun >51 tahun Total Sumber : Data Primer diolah,2021 Usia responden yang berada di Kabupaten Jember terbanyak berada pada usia 31-50 tahun, dimana jumlah respondennya mencapai 28 orang atau 70% dari jumlah responden yang Hasil ini menunjukan bahwa rata-rata petani jamur tiram telah memasuki usia dewasa dan telah berada dalam usia yang produktif yang lebih mudah menerima informasi, wawasan, serta teknologi yang dapat memudahkan kegiatan usahatani sehingga diharapkan hal ini dapat mendukung niat penerimaan petani terhadap teknologi pengembunan dan pasteurisasi pada usahatani jamur tiram di Kabupaten Jember. Karakteristik Responden berdasarkan Pendidikan Pendidikan bisa didapatkan melalui pendidikan formal yakni melalui lembaga pendidikan seperti sekolah dan perguruan tinggi maupun pendidikan non-formal yang berarti diluar lembaga pendidikan seperti pengalaman diri. Pendidikan formal merupakan pilihan peneliti dalam membagi pendidikan responden menjadi beberapa tingkatan yakni . SD, . SMP, . SMA, . Diploma, dan . Strata 1. Berikut merupakan jumlah responden di Kabupaten Jember berdasarkan pendidikan. Tabel 4. Responden berdasarkan Pendidikan di Kabupaten Jember Pendidikan Jumlah Presentase (%) SMP SMA Diploma Strata 1 Total Sumber : Data Primer diolah,2021 Hasil ini menunjukkan bahwa Pendidikan yang ditempuh petani jamur tiram sudah cukup tinggi dengan didominasi oleh petani lulusan SMA, sehingga diharapkan dapat meningkatkan niat petani dalam melakukan penerimaan terhadap teknologi pengembunan dan pasteurisasi pada usahatani jamur tiram di Kabupaten Jember dikarenakan tingkat pendidikan yang cukup tinggi lebih mudah untuk menerima informasi dan wawasan baru. Karakteristik Responden berdasarkan Pengalaman berusahatani jamur tiram Menurut Getol. Pengalaman merupakan segala hal yang pernah dialami oleh Peneliti disini membagi pengalaman dalam berusahatani jamur tiram menjadi . pengalaman O4 tahun dan pengalaman >4 tahun. Berikut merupakan jumlah responden di Kabupaten Jember berdasarkan pengalaman dalam berusahatani jamur tiram. Tabel 5 Responden berdasarkan Pengalaman Berusahatani Jamur Tiram di Kabupaten Jember Pengalaman Jumlah Presentase (%) O4 tahun >4 tahun Total Sumber : Data Primer diolah,2021 Responden yang memiliki pengalaman berusahatani selama lebih dari 4 tahun berjumlah sebanyak 30 orang dengan total presentase sebanyak 75% dari total keseluruhan responden yang berada di Kabupaten Jember. Hasil ini menunjukkan bahwa petani jamur tiram telah cukup berpengalaman dalam kegiatan usahatani jamur tiram, sehingga diharapkan dapat terus berinovasi dengan melakukan penerimaan teknologi pengembunan dan pasteurisasi pada JURNAL AGROSAINS VOL 17 N0 2 2024 ISSN: 1693-5225 usahatani jamur yang dapat membantu meningkatkan kualitas serta produktivitas usahatani jamur tiram di Kabupaten Jember. Karakteristik Responden berdasarkan Skala Usaha Besar kecilnya skala usaha dalam usahatani jamur tiram sendiri dapat diukur dari banyaknya jumlah baglog yang digunakan dalam satu kali kegiatan produksi yang dilakukan. Dalam penelitian ini peneliti membagi skala usahatani jamur tiram menjadi . O7000 baglog dan . >7000 baglog. Berikut merupakan jumlah responden di Kabupaten Jember berdasarkan skala usahatani jamur tiram. Tabel 6. Responden berdasarkan Skala Usaha di Kabupaten Jember Skala Usaha Jumlah Presentase (%) O7000 baglog >7000 baglog Total Sumber : Data Primer diolah,2021 Skala usaha responden petani jamur tiram yang ada di wilayah Kabupaten Jember menunjukkan bahwa keseluruhan responden memiliki skala usaha kurang dari sampai dengan 7000 baglog dengan presentase mencapai sebesar 100%, dimana artinya tidak ada responden petani jamur tiram yang ada di wilayah Kabupaten Jember yang memiliki skala usaha dengan produksi baglog melebihi 7000 baglog. Kegaiatan usahatani jamur tiram apabila menerapkan teknologi pasteurisasi yakni dengan melakukan produksi baglog secara pribadi memerlukan biaya sebagai berikut : Bahan baku perbaglog Serbuk kayu = Rp 240. Cincin karet plastik = Rp 150,3. Katul = Rp 240,4. Bibit = Rp 150,5. Kapur = Rp 300,6. Biaya steam . = Rp 150,7. Plastik = Rp 200,8. Tenaga kerja = Rp 700,Total biaya bahan baku perbaglog sebesar Rp. 2140,Biaya penyusutan alat pasteurisasi berupa drum bekas dengan umur ekonomis satu tahun yakni : Harga perolehan : harga residu = Rp. 000 : 12 bulan = Rp. Sehingga diperlukan biaya sebesar Rp. 2140 untuk biaya perbaglog dengan penyusutan alat produksi sebesar Rp. 500/bulan. Dibandingkan dengan biaya pembelian baglog siap pakai dimana biaya diperlukan sebesar Rp. Hasil ini menunjukkan bahwa semakin besar jumlah baglog produksi maka semakin besar pula biaya produksi yang perlu diperhatikan, sehingga diharapkan hal ini menjadi salah satu pertimbangan petani dalam niat penerimaan petani terhadap teknologi pengembunan dan pasteurisasi pada usahatani jamur tiram di Kabupaten Jember. Pengaruh Atribut Perilaku Terhadap Niat Petani dalam Penerimaan Teknologi Pasteurisasi dan Pengembunan dalam Usahatani Jamur Tiram Analisis yang dapat digunakan untuk mengetahui pengaruh atribut perilaku terhadap niat petani dalam penerimaan teknologi pasteurisasi dan pengembunan dalam usahatani jamur tiram yakni menggunakan analisis Struktural Equation Model-Partial Least Square. Penggunaan analisis ini dapat dilakukan dengan cara melakukan analisis model pengukuran . uter mode. dan model pengukuran . nner mode. Outer Model (Model Pengukura. Pengukuran outer model dilakukan dengan menggunakan uji validitas dan reliabilitas. Uji validitas sendiri dibagi menjadi validitas konvergen dan validitas diskriminan. Validitas konvergen digunakan dengan tujuan untuk mengetahui validitas setiap hubungan antara indikator dengan konstruk atau variabel latennya. Validitas diskriminan digunakan dengan tujuan untuk memastikan bahwa konsep dari masing-masing model berbeda dengan variabel JURNAL AGROSAINS VOL 17 N0 2 2024 ISSN: 1693-5225 Kedua validitas ini dapat dihitung menggunakan beberapa parameter. Parameter pengukuran yang digunakan untuk mengukur validitas konvergen yakni menggunakan parameter loading faktor dan Average Variance Extracted (AVE), sedangkan validitas diskiriminan dapat diukur menggunakan parameter discriminant validity dan cross loading. Pengujian data untuk menguji validitas akan dilakukan dengan menggunakan metode PLS Algorithm pada software SmartPLS 3. validitas konvergen akan di uji dengan perhitungan loading faktor. Loading faktor ini akan menunjukkan berapa besar hubungan antara indikator dengan variabel latennya. Indikator akan dinyatakan memiliki korelasi dengan variabel latennya apabila memiliki nilai loading faktor Ou0. Tabel berikut merupakan hasil analisis penelitian yang akan menunjukkan indikator mana saja yang memiliki nilai loading faktor Ou0. Tabel 7. Uji Validitas dengan Parameter Loading Faktor Kontrol Niat Norma Sikap Perilaku Subjektif PCB1 PCB2 PCB3 SN2 Sumber : Data Primer Diolah, 2023 Tabel 7 menunjukkan bahwa seluruh indikator telah sesuai yakni memiliki nilai loading faktor Ou 0,50. Hal ini menunjukkan bahwa seluruh indikator pada model pengukuran dinyatakan valid dikarenakan telah memenuhi nilai loading faktor. Akan tetapi terdapat satu indikator yang dikeluarkan dari model dikarenakan memiliki nilai loading factor O 0,50. Indikator yang dikeluarkan dari model adalah SN1. Indikator lain yang telah memenuhi nilai loading faktor Ou 0,50 yakni A1. A2. A3. I1. I2. I3. PCB1. PCB 2. PCB 3, dan SN2. Berikut merupakan gambar path diagram dalam model pengukuran dalam penelitian. Gambar 2. Tampilan Output Model Pengukuran Gambar 2 menunjukkan bahwa pada tampilan output model pengukuran terdapat beberapa indikator yang digunakan untuk mengukur variabel di dalam model. Atribut perilaku memiliki JURNAL AGROSAINS VOL 17 N0 2 2024 ISSN: 1693-5225 beberapa variabel yakni sikap, norma subjektif dan kontrol perilaku yang di dalamnya terdapat indikator A1,A2,A3. SN2. PCB1. PCB2, dan PCB3. Indikator-indikator tersebut memiliki nilai loading faktor Ou 0,50 yang menunjukkan bahwa indikator tersebut merupakan indikator yang tepat untuk digunakan dalam pengukuran variabel dari atribut perilaku. Variabel niat dalam penerimaan teknologi pasteurisasi dan pengembunan pada usahatani jamur tiram terdiri dari indikator I1. I2, dan I3 yang memiliki nilai loading faktor Ou 0,50 yang berarti bahwa indikator tersebut merupakan indikator yang tepat dalam mengukur variabel niat pada penerimaan teknologi pasteurisasi dan pengembunan pada usahatani jamur tiram di Kabupaten Jember. Perhitungan validitas konvergen selanjutnya dilakukan untuk mengetahui nilai AVE (Average Variance Extracte. dimana suatu indikator dikatakan valid apabila memiliki nilai AVE Ou 0,50. Berikut merupakan hasil analisis penelitian yang akan ditunjukkan dalam bentuk Tabel 8. Nilai Average Variance Extracted (AVE) Average Variance Extracted (AVE) Kontrol Perilaku Niat Norma Subjektif Sikap Sumber : Data Primer 2023, diolah Tabel 8 diatas menunjukkan bahwa bahwa variabel laten yang digunakan dalam penelitian yakni kontrol perilaku, niat, norma subjektif, dan sikap memiliki nilai AVE Ou 0,50. Nilai ini menunjukkan bahwa indikator yang digunakan dalam penelitian merupakan alat ukur yang tepat untuk digunakan dalam mengukur niat pada penerimaan teknologi pasteurisasi dan pengembunan pada usahatani jamur tiram sehingga seluruh variabel yang digunakan dalam penelitian dinyatakan valid. Pengujian selanjutnya yang akan dilakukan yakni pengujian validitas diskiriminan yang akan dilakukan menggunakan dua cara yakni menggunakan parameter Fornell-Lacker Cliterion dan Cross Loading. Fornell-Lacker Criterion dikenal pula dengan sebutan akar kuadrat AVE ini akan menunjukkan bahwa suatu indikator memenuhi validitas diskriminan apabila memiliki nilai Fornell-Lacker Criterion yang lebih besar dari koefisien antar variabel laten. Berikut merupakan hasil analisis Fornell-Lacker Criterion yang disajikan dalam bentuk tabel. Tabel 9. Nilai Fornell-Lacker Criterion Kontrol Norma Niat Sikap Perilaku Subjektif Kontrol Perilaku Niat Norma Subjektif Sikap Sumber : Data Primer Diolah, 2023 Berdasarkan tabel 9 didapatkan nilai Fornell-Lacker Criterion yang memiliki nilai yang lebih besar dibandingkan dengan koefisien antar variabel laten. Variabel dari atribut perilaku yakni sikap, norma subjektif, dan kontrol perilaku memiliki nilai Fornell-Lacker Criterion yang lebih besar dibandingkan dengan koefisien antar variabel lainnya. Begitupula dengan nilai Fornell-Lacker Criterion yang terdapat pada variabel niat pada penerimaan teknologi pasteurisasi dan pengembunan pada usahatani jamur tiram yang memiliki nilai lebih besar dari pada koefisien antar variabel lainnya. Nilai Fornell-Lacker Criterion ini menunjukkan bahwa secara validitas diskriminan penelitian bernilai bagus/valid. Pengukuran validitas diskriminan selanjutnya dilakukan menggunakan parameter cross Indikator dalam suatu penelitian akan dikatakan memenuhi validitas diskriminan apabila nilai cross loading indikator terhadap variabelnya merupakan nilai yang paling besar JURNAL AGROSAINS VOL 17 N0 2 2024 ISSN: 1693-5225 dibandingkan variabel lainnya. Berikut merupakan nilai cross loading yang disajikan dalam bentuk tabel. Tabel 10. Nilai Cross Loading Kontrol Norma Niat Sikap Perilaku Subjektif PCB1 PCB2 PCB3 SN2 Sumber : Data Primer Diolah, 2023 Nilai Cross Loading pada Tabel 10 menunjukkan bahwa masing-masing indikator memiliki nilai paling besar terhadap variabelnya dibandingkan variabel lainnya. Indikator pada variabel sikap yakni A1. A2, dan A3 memiliki nilai yang paling besar terhadap variabel lainnya. Indikator pada variabel niat pada penerimaan teknologi pasteurisasi dan pengembunan pada usahatani jamur tiram yaitu I1. I2, dan I3 memiliki nilai yang palig besar dibandingkan variabel Indikator kontrol perilaku yakni PCB1. PCB2, dan PCB3 memiliki nilai yang paling besar dibandingkan dengan variabel lainnya. Begitupun dengan indikator norma subjektif yakni SN2 yang memiliki nilai paling besar dibandingkan dengan variabel lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa nilai validitas diskriminan dalam penelitian tersebut bagus/valid. Pengujian validitas yang telah dilakukan akan dilanjutkan dengan pengujian reliabilitas. Uji reliabilitas digunakan untuk mengetahui konsistensi alat ukur, dimana dalam penelitian ini uji reablitas diukur menggunakan parameter cronbachAos alpha sebesar Ou 0,6 dan composite reliability dengan nilai Ou 0,7. Tabel 11. Nilai Reliabilitas Cronbach's Alpha Composite Reliability Kontrol Perilaku Niat Norma Subjektif Sikap Sumber : Data Primer Diolah, 2023 Tabel 11 menunjukkan nilai reliabilitas yang menunjukkan hasil uji cronbachAos alpha dan composite reliability. Variabel dalam penelitian yakni kontrol perilaku, niat, norma subjektif dan kontrol perilaku memiliki nilai cronbachAos alpha yang memenuhi. Nilai cronbachAos alpha pada variabel penelitian yakni kontrol perilaku . , niat . , norma subketif . , dan sikap . yang artinya indikator tersebut baik untuk digunakan dalam mengukur niat pada penerimaan teknologi pasteurisasi dan pengembunan pada usahatani jamur Sedangkan untuk composite reliability yang memiliki nilai Ou 0,7 diketahui bahwa seluruh variabel yang digunakan dalam penelitian yakni kontrol perilaku, niat, norma subjektif dan nilai, dimana artinya variabel tersebut memiliki nilai reliabilitas yang baik dan memiliki nilai konsistensi dari alat ukur yang digunakan dalam penelitian serta dapat dipertanggung jawabkan. Inner Model (Model Struktura. Inner model atau model struktural digunakan untuk mengetahui hubungan sebab-akibat atau pengaruh langsung-tidak langsung antar variabel di dalam model. Pengujian inner model atau model struktural dilakukan dengan bantuan prosedur bootstrapping dalam SMART PLS untuk mendapatkan nilai adjusted R-Square dan uji signifikasi. Nilai R-square dikatakan semakin baik JURNAL AGROSAINS VOL 17 N0 2 2024 ISSN: 1693-5225 apabila mendekati angka 1. Nilai R-Square yang didapatkan berdasarkan pengolahan data adalah sebagai berikut. Tabel 12. Nilai R-Square R Square R Square Adjusted Niat Sumber : Data Primer Diolah, 2023 Musyaffi. Khairunnisa, dan Respati . nilai R-Square dapat digunakan untuk menilai pengaruh variabel laten independen terhadap variabel laten dependen terkait ada tidaknya pengaruh yang bersifat substansial. Diketahui pada tabel 12 nilai R-Square sebesar 0,299. Selain itu tabel 12 juga menunjukkan nilai Adjustes R-Square pada variabel niat pada penerimaan teknologi pasteurisasi dan pengembunan pada usahatani jamur tiram yakni sebesar 0,241 atau sebesar 24,1 %, dimana sisanya yakni sebesar 75,9% dijelaskan oleh variabel lain di luar model. Berikut merupakan gambar path diagram dalam model struktural. Gambar 3. Tampilan Output Model Struktural Gambar 3 menunjukkan tampilan output model struktural. Model pada gambar menunjukkan bahwa terdapat beberapa indikator yang digunakan untuk mengukur suatu variabel, dimana di dalamnya diketahui bahwa terdapat hubungan antar variabel yang diukur menggunakan tstatistik, nilai t-statistik yang semakin tinggi menunjukkan bahwa semakin dominan suatu indikator tersebut dalam mengukur variabel yang digunakan. Variabel sikap menggunakan beberapa indikator, akan tetapi indikator yang paling dominan merupakan indikator A1 dengan nilai t-statistik sebesar 7. 032 yang berisi pernyataan bahwa sikap terhadap penerimaan teknologi merupakan suatu ide yang bagus. Variabel selanjutnya yakni kontrol perilaku memiliki indikator PCB2 yang merupakan indikator paling dominan dengan nilai t-statistik sebesar 4. 211 dengan pernyataan mudah bagi petani dalam melakukan penerimaan teknologi. Pada variabel niat sendiri indikator I1 merupakan indikator paling dominan dengan nilai t-statistik sebesar 10. 854 yang berisi pernyataan bahwa petani berniat melakukan penerimaan teknologi. Pengujian hipotesis dilakukan dengan menggunakan software SmartPLS 3 dengan metode Bootstrapping, dimana pengujian ini dilakukan untuk mengetahui adanya hubungan antara variabel laten. Pengujian hipotetsis menggunakan nilai t-statistik dan P-value. Nilai t-statistik akan dibandingkan dengan nilai t-tabel, dimana dalam penelitian ini menggunakan tingkat keyakinan sebesar 95% (=5%). Nilai t-tabel yang digunakan sebagai acuan yakni sebesar 1,96 sehingga jika nilai t-statistik lebih besar dari nilai t-tabel maka variabel akan dinyatakan JURNAL AGROSAINS VOL 17 N0 2 2024 ISSN: 1693-5225 berpengaruh signifikan. Sedangkan nilai path coefficient menunjukkan bahwa suatu variabel memiliki suatu pengaruh dengan menunjukkan nilai positif atau negative. Berikur merupakan hasil nilai path coefficient model struktural. Tabel 13. Path Coefficient Model Struktural Original T Statistic P Values Sample (O) (|O/STDEV) Kontrol Perilaku 0. > Niat Norma Subjektif 0. > Niat Sikap -> Niat Sumber : Data Primer Diolah, 2023 Berdasarkan tabel 4. 15 didapatkan nilai original sample, nilai t-statustik, dan nilai P-value. Apabila nilai P-value O maka hipotesis diterima dan sebaliknya apabila nilai P-value > maka hipotesisi ditolak. Hasil uji hipotesis penelitian menggunakan metode bootstrapping menunjukkan hasil sebagai berikut: Kontrol perilaku terhadap niat Hasil uji variabel kontrol perilaku terhadap niat memperoleh nilai p-value sebesar 0,412 > 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel harga tidak berpengaruh secara signifikan terhadap niat pada penerimaan teknologi pasteurisasi dan pengembunan pada usahatani jamur Norma subjektif terhadap niat Hasil pengujian variabel norma subjektif terhadap niat memperoleh nilai p-value sebesar 0,577 > 0,05 sehingga diperoleh kesimpulan bahwa variabel norma subjektif tidak berpengaruh secara signifikan terhadap niat pada penerimaan teknologi pasteurisasi dan pengembunan pada usahatani jamur tiram. Sikap terhadap niat Hasil pengujian variabel sikap terhadap niat memperoleh nilai p-value sebesar 0,007 < 0,05 sehingga diperoleh kesimpulan bahwa variabel norma subjektif berpengaruh positif dan signifikan terhadap niat pada penerimaan teknologi pasteurisasi dan pengembunan pada usahatani jamur tiram. Hasil analisis yang didapatkan menunjukkan bahwa terdapat beberapa variabel yang berpengaruh dan tidak berpengaruh terhadap niat penerimaan teknologi pasteurisasi dan pengembunan pada usahatani jamur tiram. Beberapa variabel yang tidak berpengaruh yakni kontrol perilaku dan norma subjektif, sedangkan variabel yang berpengaruh yaitu sikap. Kontrol perilaku Hasil analisis pada model struktural menunjukkan bahwa variabel kontrol perilaku memiliki nilai original sample sebesar 0,156 dan nilai p-value sebesar 0,412. Nilai 0,412 > 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa kontrol perilaku tidak berpengaruh secara signifikan terhadap niat pada penerimaan teknologi pasteurisasi dan pengembunan pada usahatani jamur tiram. Kontrol perilaku dalam penelitian ini berisi mengenai kemudahan maupun kesulitan dalam penerimaan teknologi pengembunan dan pasteurisasi dalam usahatani jamur tiram yang ada di Kabupaten Jember. Kontrol perilaku dalam penelitian yang mengukur bagaimana petani merasa memiliki kemampuan dan pehamahaman dalam menerima teknologi pengembunan dan pasteurisasi pada usahatani jamur tiram di Kabupaten Jember. Kontrol perilaku yang berisi bagaimana kemampuan dan pemahaman petani mengenai penerimaan teknologi pengembunan dan pasteurisasi tidak mempengaruhi secara signifikan niat petani dalam menggunakan teknologi tersebut. Artinya meskipun petani memiliki pemahaman maupun kemampuan tentang teknologi tersebut tidak serta merta meningkatkan niat petani dalam menggunakan teknologi pasteurisasi dan pengembunan dalam usahataninya. Norma subjektif JURNAL AGROSAINS VOL 17 N0 2 2024 ISSN: 1693-5225 Hasil analisis pada model struktural menunjukkan bahwa variabel norma subjektif memiliki nilai original sample sebesar 0,104 dan nilai p-value sebesar 0,577. Nilai 0,577 > 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa norma subjektif tidak berpengaruh secara signifikan terhadap niat pada penerimaan teknologi pasteurisasi dan pengembunan pada usahatani jamur tiram. Norma subjektif pada penelitian ini yang berisi mengenai bagaimana persepsi mengenai pendapat atau pemikiran individu dapat mempengaruhi niat petani dalam menerima teknologi pengembunan dan pasteurisasi dalam budidaya jamur tiram di Kabupaten Jember. Penelitian ini menggunakan dua variabel dalam norma subjektif dimana pendapat pihak internal . eluarga dan keraba. dapat mempengaruhi penerimaan petani terhadap teknologi pengembunan dan pasteurisasi dan bagaimana pendapat pihak eksternal . ekan serta tetangg. terhadap penerimaan teknologi pengembunan dan pasteurisasi. Pendapat pihak internal dan eksternal memberikan pendapat yang positif terhadap pengembunan dan pasteurisasi bagi petani akan tetapi hal ini tidak mempengaruhi secara signifikan terhadap niat penerimaan petani terhadap teknologi pengembunan dan pasteurisasi pada petani jamur tiram di Kabuapten Jember. Hal ini berarti bahwa pendapat orang lain dan keluarga tidak serta merta meningkatkan niat petani dalam menggunakan teknologi pengembunan dan pasteurisasi pada usahatani jamur tiram. Sikap Hasil analisis pada model struktural menunjukkan bahwa variabel sikap memiliki original sample sebesar 0,433 dan nilai p-value sebesar 0,007. Nilai 0,007 < 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa sikap berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap niat pada penerimaan teknologi pasteurisasi dan pengembunan pada usahatani jamur tiram. Sikap dalam penelitian ini membahas mengenai bagaimana penting tidaknya teknologi pengembunan dan pasteurisasi dalam usahatani jamur tiram di Kabupaten Jember. Komponen sikap dalam penelitian ini dibagi menjadi tiga variabel yakni bagaimana adanya teknologi pengembunan dan pasteurisasi merupakan suatu ide yang bagus bagi petani, bagaimana teknologi pengembunan dan pasteurisasi bermanfaat bagi petani, dan bagaimana teknologi pengembunan dan pasteurisasi penting untuk kegiatan budidaya jamur tiram bagi petani. Adanya teknologi pengembunan dan pasteurisasi dianggap sebagai sebuah ide yang bagus, bermanfaat serta penting dalam kegiatan usahatani jamur tiram bagi petani jamur tiram di Kabupaten Jember dikarenakan dapat membantu memecahkan permasalahan ketidaksesuaian suhu yang ada dalam tempat budidaya. Manfaat teknologi pengembunan dan pasteurisasi yang ada dapat membantu petani menyesuaikan suhu kumbung tempat budidaya dan meminimalisir tingkat tumbuhnya mikroorganisme yang dapat meningkatkan terjadinya kegagalan panen sehingga ide adanya teknologi ini dirasa penting bagi kegiatan budidaya jamur tiram bagi Teknologi ini dirasa dapat membantu petani nantinya dalam meningkatkan kualitas serta produktivitas dalam kegiatan budidaya jamur tiram bagi petani jamur tiram di Kabupaten Jember. Hal ini menunjukkan bahwa manfaat dan kepentingan penggunaan teknologi pasteurisasi dan pengembunan pada usahatani jamur tiram berpengaruh dalam meningkatkan niat petani dalam menggunakan teknologi tersebut. Artinya semakin besar manfaat dalam teknologi pasteurisasi dan pengembunan yang akan dilakukan, maka akan semakin besar pula niat petani dalam melakukan penerimaan terhadap teknologi pasteurisasi dan pengembunan dalam usahatani jamur tiram. Ini menunjukkan bahwa manfaat dari suatu teknologi yang akan dilakukan dalam usahataninya akan sangat mempengaruhi niat petani dalam menerima teknologi tersebut. Kesimpulan Karakteristik petani jamur tiram di Kabupaten Jember yang digunakan dalam penelitian ini adalah berdasarkan jenis kelamin, usia, pendidikan terakhir, pengalaman berusahatani dan skala Jenis kelamin petani jamur tiram di Kabupaten Jember didominasi oleh petani dengan jenis kelamin laki-laki dengan presentase sebesar 90%. Usia petani jamur tiram di Kabupaten Jember yang mendominasi yakni berkisar pada usia 31-50 tahun dengan presentase sebesar Pendidikan terakhir petani jamur tiram di Kabupaten Jember didominasi oleh lulusan JURNAL AGROSAINS VOL 17 N0 2 2024 ISSN: 1693-5225 SMA dengan presentase sebesar 77,5%. Pengalaman berusahatani petani jamur tiram di Kabupaten Jember didominasi oleh pengalaman berusahatani >4 tahun dengan presentase sebesar 75%. Skala usaha petani jamur tiram di Kabupaten Jember yang mendominasi memiliki skala usaha <7000 dengan presentase sebesar 100%. Variabel atribut perilaku yang memiliki pengaruh signifikan terhadap niat pada penerimaan teknologi pasteurisasi dan pengembunan pada usahatani jamur tiram adalah variabel niat, sedangkan variabel yang tidak berpengaruh secara signifikan adalah variabel norma subjektif dan variabel kontrol perilaku. UCAPAN TERIMAKASIH Terima kasih kepada Bapak Julian Adam Ridjal selaku dosen pembimbing yang telah membantu peneliti dalam penyusunan artikel penelitian, dan terimakasih kepada pihak-pihak yang membantu dalam pelaksanaan penelitian yang dilakukan oleh peneliti. REFERENSI