Jurnal Muara Pendidikan Vol. 10 Issue 2,Desember 2025 https://doi. org/10. 52060/mp. E-ISSN 2621-0703 P-ISSN 2528-6250 FAKTOR Ae FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KESIAPAN KERJA SISWA SMK JURUSAN KOMPETENSI KEAHLIAN AKUNTANSI KEUANGAN LEMBAGA Maria Ayu Trivena1. Supri Wahyudi Utomo2. Farida Styaningrum3 Program Studi Pendidikan Akuntansi. Universitas PGRI Madiun. Indonesia e-mail: 1maria_2102106030@mhs. id, 2supri@unipma. id, 3*faridastyaningrum@unipma. ABSTRACT The open unemployment rate among vocational high school graduates remains a serious problem, even though vocational schools are designed to produce work-ready graduates. This phenomenon indicates a gap between the needs of the workforce and the competencies of graduates. This study aims to identify and analyze factors that influence the work readiness of Grade XI students majoring in Financial Accounting at SMKN 1 Gemarang. This study used a quantitative approach with an ex post facto type, involving 49 students as respondents, and data were collected through a Likert-scale questionnaire. The analysis was carried out through instrument testing . alidity and reliabilit. , classical assumption tests . ormality, linearity, multicollinearity, and heteroscedasticit. , and inferential statistical tests . artial t-test and coefficient of determinatio. The results showed that work readiness was significantly influenced by Field Work Practice. Meanwhile, family environment, accounting competency, selfefficacy, and motivation did not significantly influence work readiness. This finding emphasizes the importance of optimizing the Field Work Practice program as a means of improving students' readiness to enter the workforce. Keywords: Work Readiness. Field Work Practice. Accounting Competence. Self-Efficacy. Work Motivation. Family Environment ABSTRAK Tingkat pengangguran terbuka lulusan SMK masih menjadi persoalan serius meskipun sekolah kejuruan dirancang untuk menghasilkan lulusan yang siap kerja. Fenomena ini menunjukkan adanya kesenjangan antara kebutuhan dunia kerja dan kompetensi lulusan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi serta menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi kesiapan kerja siswa kelas XI Kompetensi Keahlian Akuntansi Keuangan Lembaga di SMKN 1 Gemarang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis ex post facto, melibatkan 49 siswa sebagai responden, dan data dikumpulkan melalui angket berbasis skala Likert. Analisis dilakukan melalui uji instrumen . aliditas dan reliabilita. , uji asumsi klasik . ormalitas, linearitas, multikolinearitas, dan heteroskedastisita. , serta uji statistik inferensial . ji t parsial dan koefisien determinas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesiapan kerja terbukti dipengaruhi secara signifikan oleh Praktik Kerja Lapangan (PKL). Sedangkan lingkungan kelurga, kompetensi akuntansi, efikasi diri dan motivasi tidak berpengaruh signifikan terhadap kesiapan kerja. Temuan ini menegaskan pentingnya optimalisasi program PKL sebagai sarana peningkatan kesiapan siswa untuk memasuki dunia kerja. Kata kunci: Kesiapan Kerja. Praktik Kerja Lapangan. Kompetensi Akuntansi. Efikasi Diri. Motivasi Kerja. Lingkungan Keluarga PENDAHULUAN Data tahun 2024 menunjukkan bahwa Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Indonesia mencapai 9,01%, melampaui TPT lulusan SMA. Diploma, dan Sarjana. Ini masih relatif tinggi dibandingkan dengan lulusan jenjang pendidikan lainnya. Kondisi ini menunjukkan bahwa lulusan SMK tidak siap untuk bekerja dengan baik. Ini menimbulkan perbedaan antara tujuan pendidikan kejuruan dan keadaan pasar kerja. Salah satu strategi utama untuk mengatasi masalah ini adalah praktik kerja lapangan (PKL). PKL tidak hanya mengajarkan keterampilan teknis, tetapi juga keterampilan nonteknis seperti disiplin, kerja tim, komunikasi, dan adaptasi. Perspektif Human Capital Theory menekankan bahwa peningkatan pendidikan PKL, meningkatkan kompetensi dan produktivitas siswa, meningkatkan daya saing di dunia kerja. Selain keterampilan teknis dan soft skills, faktor psikososial juga memengaruhi kesiapan Menurut Social Cognitive Career Theory (SCCT), keyakinan siswa tentang mengambil keputusan karir dan menghadapi tantangan kerja dipengaruhi oleh efikasi diri, motivasi, dan dukungan sosial keluarga. Efikasi diri membuat siswa lebih percaya diri dalam melakukan tugas, dan motivasi dapat mendorong mereka untuk berprestasi. Dukungan sosial keluarga juga dapat membantu siswa menjadi lebih optimis dan siap menghadapi dunia kerja. Studi sebelumnya telah menunjukkan bahwa siswa jurusan Akuntansi Keuangan Lembaga (AKL) tidak melakukan banyak Ini karena peran PKL, efikasi diri, memengaruhi kesiapan kerja siswa SMK. Namun, agar siswa dapat beradaptasi dengan https://ejournal. id/index. php/mp This is an open access article under the cc-by license | 351 Jurnal Muara Pendidikan Vol. 10 Issue 2. Desember . kebutuhan profesi akuntansi, jurusan ini menuntut kedua keterampilan teknis dan soft skills akuntansi. Oleh karena itu, penting untuk melakukan penelitian tambahan tentang caracara ini memengaruhi kesiapan kerja siswa SMK, terutama yang berkaitan dengan Studi ini menyelidiki variabel yang memengaruhi kesiapan kerja siswa jurusan Akuntansi Keuangan Lembaga (AKL) di SMK Negeri 1 Gemarang. Penelitian ini secara bagaimana praktik kerja lapangan, lingkungan keluarga, keterampilan akuntansi, kepercayaan diri, dan motivasi kerja mempengaruhi kesiapan siswa untuk bekerja. Selain itu, penelitian ini menguji pengaruh kelima variabel tersebut secara parsial. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang komponen internal dan eksternal yang berperan dalam meningkatkan kesiapan kerja siswa akuntansi di sekolah menengah kejuruan. Hipotesis yang diajukan adalah bahwa kesiapan kerja siswa lebih baik dengan praktik kerja lapangan karena pengalaman kerja langsung di dunia industri dapat meningkatkan soft skills dan keterampilan teknis. Diduga lingkungan keluarga berpengaruh positif karena dukungan emosional dan sosial dari keluarga mampu meningkatkan rasa percaya diri dan motivasi siswa. Selain itu, diduga bahwa memiliki keahlian akuntansi akan berpengaruh positif karena siswa akan lebih mudah beradaptasi di dunia kerja jika memiliki keterampilan teknis yang relevan. Karena keyakinan siswa terhadap kemampuan mereka dapat meningkatkan kesiapan mereka untuk menghadapi tantangan kerja, efikasi diri diperkirakan memberikan dampak positif. Karena ada dorongan internal yang kuat yang mendorong siswa untuk berprestasi di dunia berpengaruh positif. Akhirnya, penelitian ini juga mengusulkan hipotesis bahwa kelima variabel ini PKL, lingkungan keluarga, keahlian akuntansi, efikasi diri, dan motivasi kerja secara parsial memengaruhi kesiapan kerja siswa di jurusan Akuntansi Keuangan Lembaga di SMK Negeri 1 Gemarang. Pendidikan merupakan sarana penting keterampilan, dan keahlian yang diperlukan dalam kehidupan bermasyarakat. Perannya sangat besar dalam membentuk kecerdasan seseorang agar mereka dapat hidup. dengan baik, karena latar belakang pendidikan adalah faktor utama yang menentukan daya saing seseorang di dunia kerja dan memungkinkan seseorang untuk memenuhi E-ISSN: 2621-0703 P-ISSN: 2528-6250 Untuk mendapatkan pekerjaan, harus memiliki keterampilan, keterampilan, keahlian, dan pengalaman kerja. Akibatnya, semua orang harus terus belajar untuk meningkatkan kapasitas mereka. Calon pekerja perlu harus memiliki pengetahuan, kemampuan, dan kompetensi yang sesuai dengan tuntutan akan memiliki kemampuan lebih baik dalam menghadapi berbagai kesulitan dan persaingan di tempat kerja. Pendidikan yang ideal tidak hanya membekali dengan pengetahuan tetapi juga dengan keterampilan dan kemampuan yang diperlukan di dunia kerja. Banyak orang, pentingnya meningkatkan kemampuan ini. Pendidikan dapat diikuti mulai dari tingkat dasar, menengah, hingga perguruan tinggi, dengan jalur formal dan nonformal. Pendidikan tidak hanya memberi informasi, tetapi juga membangun karakter dan sumber daya manusia yang bersaing di tempat kerja. Pada saat ini, arah pendidikan difokuskan untuk menghasilkan calon tenaga kerja profesional yang mampu berkiprah di berbagai sektor. Salah satu jalur pendidikan yang memiliki peran strategis adalah Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Sekolah berfungsi sebagai wadah bagi siswa dapat memperoleh kompetensi untuk berhasil di dunia kerja. Harapannya adalah siswa akan menjadi tenaga terampil di berbagai bidang (Wulandari. Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) menitikberatkan pengembangan keterampilan guna menjawab tuntutan industri akan sumber daya manusia yang memiliki keterampilan Proses pembelajaran di sekolah kejuruan dikombinasikan dengan pelatihan melalui sistem pendidikan ganda (PSG), yang Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2010 menetapkan bahwa SMK adalah bentuk sekolah formal di tingkat jenis pendidikan formal di tingkat menengah yang menawarkan pendidikan kejuruan sebagai kelanjutan dari jenjang SMP/MTs atau Pendidikan kejuruan berfokus pada pembelajaran vokasional yang dirancang untuk Berdasarkan Tujuan pendidikan kejuruan, menurut Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, adalah membekali siswa dengan kemampuan yang sesuai bidang keahliannya sehingga dapat bersaing di sektor pekerjaan. Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) memegang peranan penting dalam menghasilkan dalam https://ejournal. id/index. php/mp | 352 Jurnal Muara Pendidikan Vol. 10 Issue 2. Desember . pembentukan sumber daya manusia yang mampu bersaing di seluruh dunia. Di SMK, pembelajaran lebih menekankan pada aspek praktis untuk untuk membentuk kesiapan kerja sesuai kompetensi peserta didik, sehingga diharapkan dapat menghasilkan performa kerja yang optimal. Berbeda dengan SMA, kurikulum SMK menggabungkan teori, praktik, dan pengalaman langsung di lapangan, sehingga lulusan diharapkan memiliki kesiapan kerja Penyelenggaraan pendidikan di SMK saat ini diperkuat melalui program PSG yang mencakup kegiatan nyata kerja dimana menggabungkan pendidikan di sekolah dengan pengalaman kerja nyata di dunia industri sesuai bidang keahlian masingmasing (Khoiroh, 2. Melalui kegiatan tersebut, siswa tidak hanya mendapatkan keterampilan kerja praktis, tetapi juga mendukung mereka menyikapi tantangan pekerjaan setelah lulus. SMK Negeri 1 Gemarang menawarkan tiga bidang pendidikan yang relevan dengan dunia kerja. Sekolah ini menyelenggarakan program kerja langsung selama enam bulan untuk melatih keterampilan dalam persiapan kerja siswa dengan bekerja sama dengan berbagai instansi sebagai mitra pelaksanaan Praktik Kerja Lapangan (PKL). Melalui program ini, siswa memiliki kemampuan yang diperoleh dari pengalaman praktik nyata sesuai bidang keahlian masing-masing. SMK memainkan peran penting dalam memenuhi kebutuhan industri dan bisnis terhadap tenaga kerja tingkat menengah yang siap pakai. diharapkan dapat membantu menekan angka Namun, realitasnya bahwa jumlah pengangguran di Indonesia masih terdiri dari lulusan SMK. Dibandingkan dengan lulusan jenjang pendidikan lain, proporsinya tetap lebih Idealnya. SMK berfungsi mencetak tenaga kerja yang sesuai dengan kebutuhan pasar, namun tidak semua lulusan mampu memenuhi tuntutan tersebut (Fajriah, 2. Menurut data yang dikumpulkan dari tahun 2015 hingga 2024 oleh secara konsisten tinggi dalam pengangguran terbuka. Pada tahun 2024, tercatat TPT lulusan SMK mencapai 9,01%, angka yang jauh melampaui tingkat pengangguran lulusan SMA. Diploma, maupun Sarjana. Kondisi ini menunjukkan bahwa tingkat kesiapan kerja lulusan SMK masih belum mencapai hasil yang diharapkan. Sebagian lulusan mengalami kesulitan bersaing atau mendapatkan pekerjaan karena keterbatasan kesiapan yang dimiliki. Faktor internal dan E-ISSN: 2621-0703 P-ISSN: 2528-6250 eksternal dapat memengaruhi kesiapan kerja. Beberapa alasan mengapa siswa kelas XI harus memiliki kemampuan keahlian akuntansi keuangan lembaga di SMKN 1 Gemarang tidak siap untuk pekerjaan adalah antara lain kurangnya dukungan keluarga, minimnya rasa percaya diri, serta lemahnya motivasi. Kesiapan kerja sendiri didefinisikan sebagai ketika seseorang memiliki kemampuan fisik, mental, dan pengalaman yang diperlukan untuk beradaptasi dengan lingkungan kerja sehingga mampu memikul tanggung jawab pekerjaan (Muspawi, 2. Keikutsertaan siswa dalam kerja langsung yaitu memadukan pembelajaran di sekolah dengan pengalaman langsung di tempat kerja, yang berperan dalam membentuk keterampilan teknis serta sikap profesional. Oleh karena itu, praktik kerja menjadi unsur penting dalam meningkatkan wawasan, keterampilan, dan kesiapan siswa agar mampu memasuki dunia kerja setelah menyelesaikan Sukma, . mengungkapkan bahwa berkontribusi positif program ini tidak hanya membuat siswa memperoleh keterampilan teknis tetapi juga keterampilan nonteknis yang membantu mereka mempersiapkan diri untuk memasuki dunia kerja. Program ini dapat membantu siswa memperoleh keterampilan teknis dan keterampilan nonteknis . oft skill. saat mereka mempersiapkan diri untuk menghadapi tantangan dunia kerja. Selain praktik kerja, dukungan sosial keluarga juga dapat berpengaruh. Sebagai tempat pertama bagi siswa untuk belajar, keluarga memiliki peran besar dalam membentuk karakter, menanamkan nilai, dan sikap kerja. Semangat, rasa percaya diri, dan kesiapan siswa untuk bekerja di dunia kerja dapat dipengaruhi oleh dukungan orang tua, lingkungan rumah, hubungan keluarga, dan keadaan ekonomi. Lingkungan keluarga yang kondusif mampu meningkatkan rasa percaya diri pada siswa dalam praktik kerja maupun proses persiapan menuju pekerjaan. Penelitian oleh (Al Fauzi, 2. hasil riset menjelaskan mempengaruhi kesiapan kerja baik secara individual . maupun bersamaan . Faktor lain yang tidak kalah penting adalah kompetensi keahlian. Siswa yang memiliki kemampuan sesuai bidangnya akan lebih siap beradaptasi dan bersaing di dunia Studi sebelumnya menunjukkan bahwa kemampuan akuntansi meningkatkan kesiapan yang mencakup keterampilan teknis dan nonteknis yang relevan dengan tuntutan profesi di bidang akuntansi. Studi sebelumnya https://ejournal. id/index. php/mp | 353 Jurnal Muara Pendidikan Vol. 10 Issue 2. Desember . (Yulianti, 2. menemukan bahwa keahlian akuntansi meningkatkan kesiapan kerja. Untuk melakukan harus memiliki keahlian akuntansi untuk menyelesaikan tugas-tugas akuntansi di Akuntansi kemampuan teknis dan non-teknis yang diperlukan untuk memahami akuntansi secara Selain itu, efikasi diri mempengaruhi kesiapan kerja. Studi sebelumnya oleh (Andina, 2. menerangkan jika efikasi dapat mempengaruhi tingkat siap kerja. Mereka yang percaya pada kemampuan mereka lebih mampu menghadapi tantangan, membuat keputusan, dan bekerja sendiri. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa efikasi diri kesiapan kerja, sejalan dengan pandangan bahwa efikasi diri mencerminkan kepercayaan seseorang terhadap keberhasilannya dalam menyelesaikan tugas. Selain itu, motivasi kerja juga menjadi faktor penting. Motivasi kerja adalah dorongan kuat untuk bekerja. Individu dengan tingkat motivasi tinggi biasanya melaksanakan pekerjaan serta mampu bekerja sama untuk mencapai tujuan. Hasil penelitian berpengaruh positif terhadap kesiapan kerja Hasil penelitian menunjukkan bahwa motivasi kerja berdampak positif pada kesiapan kerja siswa. Penelitian Yamsih . menunjukkan bahwa motivasi kerja berdampak positif pada kesiapan kerja siswa dalam kemampuan akuntansi. Dengan melihat variabel yang memengaruhi kesiapan kerja siswa SMK, penelitian ini diharapkan memberikan kontribusi teoritis untuk kemajuan ilmu di bidang pekerjaan siswa SMK. Individu yang sangat percaya diri juga cenderung memiliki optimisme dan keyakinan yang kuat kontribusi secara praktis, yaitu saran untuk pembelajaran dan pembinaan karier siswa secara lebih efektif dan efisien. Rumusan hipotesis pada penelitian ini sebagai berikut: H1: Praktik (PKL) berpengaruh signifikan terhadap kesiapan kerja siswa. H2: Lingkungan keluarga berpengaruh signifikan terhadap kesiapan kerja H3: Kompetensi berpengaruh signifikan terhadap kesiapan kerja siswa. H4: Efikasi diri berpengaruh signifikan terhadap kesiapan kerja siswa. E-ISSN: 2621-0703 P-ISSN: 2528-6250 H5: Motivasi kerja berpengaruh signifikan terhadap kesiapan kerja siswa. METODE SMK Negeri 1 Gemarang. Kabupaten Madiun, yang menerima program PSG melalui Praktik Kerja Lapangan (PKL), adalah tempat penelitian ini dilakukan. Sekolah ini dipilih karena memiliki keahlian dalam akuntansi keuangan yang relevan dengan fokus penelitian dan telah bekerja sama dengan industri secara aktif. Penelitian berlangsung dari Maret hingga Juli 2025, dimulai dengan proses perizinan, pembuatan instrumen, distribusi angket, dan analisis data. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain ex post facto. Metode ini digunakan untuk menyelidiki hubungan sebabakibat perlakuan apa pun, hanya melihat peristiwa yang sudah terjadi. Ada lima variabel bebas dan satu variabel terikat dalam penelitian ini. Variabel bebas adalah Praktik Kerja Lapangan (PKL), lingkungan keluarga, kompetensi keahlian akuntansi, efikasi diri, dan motivasi kerja. Kesiapan kerja siswa adalah variabel terikat. Praktik Kerja Lapangan adalah pengalaman belajar siswa di lingkungan bisnis yang terstruktur, dengan indikator kedisiplinan, kemampuan teknis, pemecahan masalah, dan sikap profesional. Di lingkungan keluarga, ada dukungan moral, tempat belajar, dan hubungan harmonis dalam rumah tangga. Penguasaan keterampilan teknis akuntansi seperti mencatat menggunakan software akuntansi dikenal sebagai keahlian akuntansi. Efikasi diri adalah keyakinan seseorang pada kemampuan mereka sendiri yang ditunjukkan oleh sikap percaya diri, optimisme, dan ketekunan. Orientasi tujuan, kebutuhan prestasi, dan aktualisasi diri adalah dorongan internal yang digunakan untuk mengukur motivasi kerja. Kesiapan kerja siswa didefinisikan sebagai kondisi mental dan fisik serta keterampilan yang diperlukan untuk beradaptasi dengan lingkungan kerja. https://ejournal. id/index. php/mp | 354 Jurnal Muara Pendidikan Vol. 10 Issue 2. Desember . E-ISSN: 2621-0703 P-ISSN: 2528-6250 Tabel. Definisi Operasional Variabel Variabel PKL (X. Definisi Operasional Kegiatan konsep pelajaran yang di lakukan di pengalaman kerja kejuruan (SMK). Indikator . Kesungguhan peserta didik saat . Kemampuan kerja, . Pengalaman . Penyelesaian masalah kerja. Jumlah Butir Contoh Butir Skala . Ae. Saya bersungguhsungguh saat kegiatan PKL. 1 = STS s. 4 = SS Contoh Pembalikan Saya kegiatan PKL Lingkungan Keluarga (X. kondisi sosial dan emosional dalam . Cara orang tua Relasi Suasana rumah, . Keadaan ekonomi Suasana terlalu berisik untuk belajar. 1Ae4 Suasana rumah dan mendukung (LK7 Ae Kompetensi Akuntansi (X. kemampuan siswa keterampilan, dan bidang akuntansi. Pengetahuan, . Pemahaman, . Keterampilan, . Sikap Saya dasar-dasar seperti jurnal 1Ae4 Saya dasar-dasar dan buku besar. Efikasi Diri (X. keyakinan individu menghadapi tugas . Level, . Generality . uas bidang perilak. , . Strength . ekuatan Saya percaya 1Ae4 Saya merasa ragu dan tidak tugas yang sulit Motivasi Kerja (X. muncul dari dalam diri siswa untuk aktif dan produktif dalam mencapai tujuan karier. Kebutuhan . Kebutuhan . Kebutuhan sosial, . Kebutuhan Saya untuk bekerja 1Ae4 Saya dorongan yang bekerja untuk hidup saya. Kesiapan Kerja (Y) keadaan di mana siswa sudah siap mental,termotivasi, . Atribut Keterampilan, . Sikap Saya memiliki positif dalam dunia kerja. 1Ae4 Saya merasa pesimis dunia kerja. Kuesioner diberikan secara langsung di kelas dan berlangsung sekitar tiga puluh hingga empat puluh menit. Peneliti hadir langsung bersama guru untuk memantau pengisian, memberikan petunjuk, dan memastikan bahwa siswa memahami pertanyaan khusus. Siswa diingatkan bahwa jawaban mereka tidak akan memengaruhi nilai akademik mereka dan dijamin bahwa jawaban mereka akan tetap rahasia untuk mengurangi bias sosial. Item balik juga ditambahkan untuk mengurangi tanggapan yang terlalu normatif. Kegiatan penelitian dilakukan di SMK Negeri 1 Gemarang. Kabupaten Madiun, yang memiliki program PSG melalui PKL. Sekolah dipilih sebagai tempat penelitian karena memiliki kompetensi keahlian Akuntansi Keuangan Lembaga yang sesuai dengan fokus penelitian dan telah aktif menjalin kerja sama dengan dunia industri. Waktu pelaksanaan penelitian berlangsung sejak Maret hingga Juli 2025, dimulai dari tahap perizinan, penyusunan instrumen, penyebaran angket, hingga analisis Penelitian kuantitatif dengan pendekatan ex post facto digunakan. Pendekatan ini tidak memeriksa dan mengkaji variabel independen atau dependen secara langsung, tetapi meneliti hubungan sebab-akibat antar kedua jenis https://ejournal. id/index. php/mp | 355 Jurnal Muara Pendidikan Vol. 10 Issue 2. Desember . variabel tersebut. Peneliti hanya mengamati gejala yang telah terjadi dan menganalisis Berikut penelitian yang digunakan dalam studi ini. Praktik Kerja Lapangan (X. Lingkungan Keluarga (X. Kompetensi Keahlian Akuntansi (X. Kesiapan kerja (Y) Efikasi Diri (X. Motivasi Kerja (X. Gambar 1. Desain Penelitian Penelitian menentukan bagaimana hubungan antar variabel dapat mempengaruhi kesiapan kerja. Hipotesis dalam penelitian ini kembangkan menjadi lima hipotesis yaitu Hipotesis H1 mengatakan bahwa praktik kerja langsung mempengaruhi siap kerja. Hipotesis H2 mengatakan bahwa lingkungan sosial keluarga mempengaruhi kesiapan kerja siswa. Hipotesis H3 mengatakan bahwa kemampuan akuntansi siswa meningkatkan kesiapan kerja mereka. Hipotesis H4 mengatakan bahwa efisiensi diri meningkatkan kesiapan kerja mereka. Hipotesis H5 mengatakan bahwa semangat dalam diri dalam bentuk motivasi dapat meningkatkan kesiapan kerja siswa. Penelitian ini melibatkan semua siswa akuntansi. di mana Sampel penelitian terdiri dari seluruh populasi sebanyak 49 siswa. Metode pengumpulan data digunakan dengan mengirimkan angket tertutup atau kuesioner berbasis skala Likert kepada semua Indikator untuk masing-masing variabel digunakan untuk membuat angket. Alat ini menggunakan skala Likert dengan empat opsi. Instrumen penelitian berupa kuesioner, yang dapat diisi secara online melalui link gform dengan pengawasan langsung dari peneliti di kelas yang dievaluasi Pengumpulan data akhir menggunakan alat yang valid dan dapat Data penelitian ini dianalisis dengan program IBM SPSS 22. Analisis meliputi analisis deskriptif, uji instrumen . aliditas dan reliabilita. , dan analisis statistik inferensial. E-ISSN: 2621-0703 P-ISSN: 2528-6250 Analisis kecenderungan data untuk masing-masing berdasarkan standar deviasi dan nilai rata-rata. Untuk memastikan kelayakan model regresi, uji asumsi klasik dilakukan. Plot Kolmogorov-Smirnov digunakan untuk menguji Uji hubungan linier antara variabel bebas dan Nilai residual standar dan nilai prediksi setelah asumsi klasik Pengaruh masing-masing variabel secara individu ditentukan melalui uji parsial . ji Di sisi lain, besarnya pengaruh total ditentukan melalui koefisien determinasi (R. Penelitian ini juga memperhatikan aspek etika penelitian. Izin pengumpulan data diperoleh terlebih dahulu dari pihak sekolah. Responden diberikan informasi yang jelas tentang tujuan penelitian dan hak untuk partisipasi sukarela. Identitas dan jawaban responden dijamin kerahasiaannya, dan data yang dikumpulkan hanya digunakan untuk kepentingan ilmiah. Peneliti memastikan bahwa pengisian angket dilakukan secara objektif tanpa tekanan dan disertai bimbingan agar peserta memahami isi kuesioner secara HASIL DAN PEMBAHASAN Uji Instrumen Uji Validitas Berdasarkan hasil uji validitas terhadap instrumen penelitian secara keseluruhan, yang mencakup enam variabel, kesiapan kerja (Y), praktik Ada kemungkinan bahwa sebagian besar item pertanyaan atau pernyataan yang terkait dengan masing-masing variabel memenuhi kriteria validitas. Dengan 49 siswa yang menjawab. Hasilnya menunjukkan nilai r tabel sebesar 0,281 pada taraf signifikansi 5%, dan item dinyatakan valid. Hasil pengujian semua faktor yang terkait Namun, item LK7, variabel lingkungan keluarga, dianggap tidak valid dan tidak digunakan dalam analisis lanjutan. Namun, sebelas variabel tambahan masih berlaku. Secara keseluruhan, alat penelitian dianggap layak untuk digunakan karena hampir semua Ini menunjukkan bahwa pengukuran variabel yang diteliti dalam penelitian ini dapat dipercaya. Hasil pengujian validitas total variabel ditunjukkan di sini. https://ejournal. id/index. php/mp | 356 Jurnal Muara Pendidikan Vol. 10 Issue 2. Desember . E-ISSN: 2621-0703 P-ISSN: 2528-6250 Tabel 1. Uji Validitas Jumlah Butir Variabel Praktik Kerja Lapangan (X. Lingkungan Keluarga (X. Kompetensi Keahlian Akuntansi (X. Efikasi Diri (X. Motivasi Kerja (X. Kesiapan Kerja (Y) JButir Valid Uji Reliabilitas Berdasarkan hasil perhitungan nilai reliabel untuk masing-masing variabel menggunakan teknik cronbach's alpha, diperoleh nilai yang menunjukkan di atas 0,70 yang berarti memenuhi kriteria reliabilitas instrumen menurut standar yang umum yang di gunakan dalam penelitian sosial. Variabel kesiapan kerja memiliki nilai reliabilitas sebesar 0,879, pertama sebesar 0,890, dan kedua sebesar Butir Tidak Valid Keterangan Semua butir valid 1 butir pernyataan tidak valid Semua butir valid Semua butir valid Semua butir valid Semua butir valid 0,737. Sementara itu, kompetensi keahlian akuntansi, dan seluruh nilai nya 0,917, 0,860, dan 0,912. Nilai tersebut menerangkan bahwa instrumen dalam penelitian ini dapat di andalkan dengan pasti dan sangat konsisten. Dengan pertanyaan atau pernyataan pada setiap variabel di nyatakan reliabel dan layak di gunakan untuk analisis selanjutnya. Tabel 2. Uji Reliabilitas Variabel Praktik Kerja Lapangan (X. Lingkungan Keluarga (X. Kompetensi Keahlian Akuntansi (X. Efikasi Diri (X. Motivasi Kerja (X. Kesiapan Kerja (Y) Jumlah Butir Analisis Statistik Deskriptif Uji dilakukan terhadap enam variabel penelitian, dapat disimpulkan bahwa secara umum seluruh variabel menunjukkan rata-rata skor yang berada pada kategori tinggi hingga sangat tinggi berdasarkan skala Likert. Variabel dengan skor rata-rata tertinggi adalah motivasi kerja . , yang masuk kategori sangat tinggi, dorongan dan semangat yang kuat untuk mempersiapkan diri untuk kehidupan kerja. Variabel kesiapan kerja . , yang masuk Mean/Item 3,56 3,45 3,09 3,18 3,52 3,27 Nilai CronbachAos Alpha 0,890 0,737 0,917 0,860 0,912 0,879 Keterangan Reliabel Reliabel Reliabel Reliabel Reliabel Reliabel kategori sangat tinggi, praktik kerja lapangan . , dan lingkungan keluarga . juga berada pada kategori sangat tinggi, yang mengindikasikan bahwa pengalaman PKL, dukungan keluarga, dan kesiapan individu sudah berada pada tingkat yang optimal. Sementara itu, kompetensi keahlian akuntansi . dan efikasi diri . berada pada kategori tinggi, yang berarti responden memiliki kemampuan teknis dan keyakinan diri yang baik, meskipun masih terdapat ruang untuk Tabel 3. Hasil Analisis Statistik Deskriptif Kategori Skor Likert Rasio Std. Deviasi Sangat Tinggi 29,50% Sangat Tinggi 24,31% Tinggi 21,31% Relatif Kecil 27,46% Relatif Kecil 29,02% Sangat Tinggi 26,67% Dari sisi sebaran data, seluruh variabel memiliki rasio standar deviasi terhadap rentang nilai di bawah 30%, sehingga dapat dikategorikan homogen. Hal ini menunjukkan seragam dan konsisten pada masing-masing variabel, tanpa adanya perbedaan yang signifikan antar individu. Dengan demikian, hasil ini menggambarkan bahwa siswa secara Kriteria Ou 0,60 Ou 0,60 Ou 0,60 Ou 0,60 Ou 0,60 Ou 0,60 Kategori Sebaran Homogen Homogen Homogen Homogen Homogen Homogen umum memiliki kesiapan kerja yang sangat baik, ditopang oleh motivasi yang kuat, pengalaman PKL yang positif, dukungan keluarga, kompetensi teknis, dan efikasi diri yang memadai, sehingga layak dianggap siap Tabel 4. Uji Statistik Deskriptif Variabel Praktik Kerja Lapangan (X. Lingkungan Keluarga (X. Kompetensi Keahlian Akuntansi (X. Minimum Maksimum Mean 42,6735 41,4082 46,3469 Std. Deviation 4,12506 3,40293 5,75381 https://ejournal. id/index. php/mp | 357 Jurnal Muara Pendidikan Vol. 10 Issue 2. Desember . Efikasi Diri (X. Motivasi Kerja (X. Kesiapan Kerja (Y) Tabel 4 menunjukkan hasil uji statistik deskriptif, yang menunjukkan distribusi data yang mungkin, yaitu: Dapat di simpulkan bahwa secara keseluruhan, nilai rata setiap variabel berada pada tingkat yang baik hingga sangat tinggi. Variabel motivasi kerja menunjukkan rata-rata tertinggi, sementara efikasi diri memiliki ratarata paling rendah, meskipun masih tergolong tinggi dalam kategori skala Likert. Dari sisi penyebaran data, seluruh variabel memiliki standar deviasi yang tergolong rendah . , yang menunjukkan konsistensi tanggapan responden. Tidak terdapat variabel dengan sebaran data yang sangat besar, sehingga hasil dapat dianggap stabil dan E-ISSN: 2621-0703 P-ISSN: 2528-6250 28,5918 52,8163 39,2041 3,0202 5,80472 3,99989 Normalitas residual yang baik ini penting karena menjamin bahwa hasil estimasi koefisien regresi bersifat tidak bias dan dapat di andalkan secara statistik. Uji normalitas kemudian di lanjutkan melalui p-plot. Hasil pengujian menunjukkan Pada grafik tersebut, titik - titik residual terstandarisasi di plot terhadap garis diagonal yang merepresentasikan distribusi normal Berdasarkan visualisasi grafik, terlihat bahwa titik mengikut pola maka dapat di artikan bahwa residual dalam model ini cenderung Tidak penyimpangan pola yang signifikan, seperti lengkungan sistematis atau penyebaran yang jauh dari garis diagonal, yang dapat mengindikasikan pelanggaran terhadap asumsi Uji Asumsi Klasik Uji Normalitas Uji diawali melalui grafik histogram. Berdasarkan grafik histogram yang di tampilkan, terlihat bahwa distribusi residual membentuk pola menyerupai kurva normal . ell-shape. dengan sebaran data yang simetris pada daerah nilai nol. Pernyataan ini di perkuat oleh nilai pada rata Ae rata residual yang dekat dan mendekati nol yaitu . ean = -1. dan standar deviasi sebesar 0,946, yang menunjukkan bahwa penyebaran residual berada dalam batas wajar. Grafik 3. Uji Normalitas P-Plot Setelah pengujian normalitas secara visual dengan histogram dan plot PAeP, uji statistik dilakukan terhadap nilai residual yang tidak terstandarisasi Tabel 4. Uji Normalitas Kolmogorov Smirnov Normal Parametersa,b Most Extreme Differences Mean Std. Deviation Absolute Positive Negative Grafik 2. Uji Normalitas (Histogra. Tidak tampak adanya . ekstrem atau bentuk distribusi yang miring berat ke satu sisi, sehinggadistribusi residual dapat di katakan berdistribusi normal. Dapat di simpulkan jika asumsi normalitas residual pada model regresi telah terpenuhi, yang berarti ini layak di gunakan untuk analisis regresi lebih Unstandardized Residual Test Statistic Asymp. Sig. -taile. Hasil uji menghasilkan nilai sesuai kriteria, yang secara statistik menunjukkan bahwa residual berdistribusi nilai secara normal sesuai dengan aturan umum, yaitu = 0,05. https://ejournal. id/index. php/mp | 358 Jurnal Muara Pendidikan Vol. 10 Issue 2. Desember . Ada kemungkinan bahwa data residual dari penelitian ini memenuhi asumsi normalitas, yang merupakan syarat penting untuk analisis regresi linear berganda, berdasarkan uji normalitas yang dilakukan melalui metode statistik dan visual. Hasil pengamatan awal melalui histogram menunjukkan bahwa distribusi residual membentuk pola menyerupai kurva normal . ell-shape. dengan sebaran simetris di sekitar nilai rata-rata, tanpa adanya penyimpangan signifikan atau outliers ekstrem. Hasilnya diperkuat oleh plot normal PAeP. Pada grafik ini, sebagian besar titik residual terstandarisasi berada di garis normal yang menunjukkan secara visual bahwa distribusi residual selaras dengan distribusi normal. Selanjutnya, pengujian formal dengan metode KolmogorovAeSmirnov (KAeS) menghasilkan nilai lebih dari 0,05. Dengan demikian, distribusi residual aktual dan distribusi normal teoretis tidak berbeda secara statistik. Oleh karena itu, model regresi yang digambarkan baik secara visual maupun statistik melibatkan seluruh Kondisi ini menunjukkan bahwa estimasi parameter regresi yang dihasilkan dapat dipercaya, bebas dari bias, dan layak digunakan untuk penarikan kesimpulan inferensial secara akurat, sehingga model regresi siap untuk digunakan pada tahap analisis lanjutan. E-ISSN: 2621-0703 P-ISSN: 2528-6250 Uji Linearitas Menurut hasil uji linearitas yang dilakukan terhadap setiap pasangan variabel independen dengan variabel dependen kesiapan kerja, diperoleh bukti empiris yang konsisten bahwa seluruh hubungan bersifat linier. Hal ini ditunjukkan oleh nilai signifikansi pada baris linearity Adanya hubungan linier signifikan ditunjukkan oleh setiap pasangan variabel yang nilai signifikansinya berada di bawah batas signifikansi 0,05. Di sisi lain, nilai signifikansi pada baris yang menyimpang dari hubungan linier seluruhnya, yang ada jenis simpangan garis lurus. Oleh karena itu, pola hubungan antara variabel dapat digambarkan dengan tepat oleh model regresi linear tanpa adanya indikasi hubungan non-linier yang lebih Temuan ini mengonfirmasi bahwa asumsi linearitas dalam analisis regresi linear terpenuhi sepenuhnya, karenanya model ini di nyatakan valid baik secara teoritis maupun empiris. Pemenuhan asumsi ini memberikan dasar yang kuat bahwa estimasi parameter yang dihasilkan akan lebih akurat, interpretasi hubungan antar variabel akan lebih tepat, dan kesimpulan yang diambil dari model akan memiliki tingkat kepercayaan yang tinggi untuk menggambarkan kondisi sebenarnya di lapangan. Tabel 5. Uji Linearitas Variabel Bebas Sig. Linearitas Praktik Kerja Lapangan (X. Lingkungan Keluarga (X. Kompetensi Keahlian Akuntansi (X. Efikasi Diri (X. Motivasi Kerja (X. < 0,05 < 0,05 < 0,05 < 0,05 < 0,05 Berdasarkan hasil uji linearitas yang di lakukan terhadap seluruh pasangan variabel independen, yaitu praktik kerja lapangan (PKL) dan yang lainnya, dapat di simpulkan bahwa seluruh hubungan antar variabel menunjukkan pola hubungan yang bersifat linear. Hasil ini di perkuat berdasarkan nilai sig linearitas pada setiap pasangan beberapa variabel berada di bawah batas signifikansi yang di tentukan, sementara nilai deviasi dari linearitas justru lebih tinggi serta nilai deviasi dari linearitas yang lebih besar. Dengan kata lain, tidak di temukan penyimpangan signifikan dari pola hubungan linier pada kelima variabel bebas yang diuji terhadap variabel terikat. Artinya, data menunjukkan bahwa hubungan antar variabel dapat di representasikan secara tepat melalui garis regresi linear. Hal ini memperkuat kelayakan model regresi linier untuk tahap analisis selanjutnya, karena telah memenuhi Sig. Deviasi dari Linearitas > 0,05 > 0,05 > 0,05 > 0,05 > 0,05 Kriteria Kesimpulan Linear Linear Linear Linear Linear Hubungan linear Hubungan linear Hubungan linear Hubungan linear Hubungan linear salah satu asumsi klasik penting, yaitu asumsi Uji Multikolonieritas Setelah uji lainnya selesai termasuk tes reliabilitas, linearitas, multikolinearitas, dan normalitas, instruksi penelitian telah digunakan memenuhi semua persyaratan untuk analisis regresi linear berganda. nilai alfa Cronbach konsisten dan dapat diandalkan sebagai alat Baik secara visual dengan histogram dan plot PAeP maupun secara statistik dengan KolmogorovAeSmirnov, memastikan bahwa residual terdistribusi Uji linearitas menunjukkan bahwa hubungan antara setiap variabel independen dengan variabel dependen kesiapan kerja bersifat linier tanpa variasi yang signifikan https://ejournal. id/index. php/mp | 359 Jurnal Muara Pendidikan Vol. 10 Issue 2. Desember . Namun, menunjukkan bahwa tidak ada korelasi tinggi antar variabel bebas. setiap variabel independen memiliki nilai toleransi di atas 0,10 VIF Setelah semua asumsi dipenuhi, model regresi E-ISSN: 2621-0703 P-ISSN: 2528-6250 penelitian dianggap layak digunakan untuk analisis tambahan sehingga hasil estimasi yang diperoleh dapat dipercaya, akurat, dan valid untuk menggambarkan hubungan antara variabel yang diteliti bagi kesiapan siswa Tabel 6. Uji Multikolonieritas Variabel Praktik Kerja Lapangan (X. Lingkungan Keluarga (X. Kompetensi Keahlian Akuntansi (X. Efikasi Diri (X. Tolerance > 0,10 > 0,10 > 0,10 > 0,10 VIF < 10 < 10 < 10 < 10 Uji Heretoskedastisitas Dengan menggunakan metode scatterplot untuk menguji heteroskedastisitas, hasil menunjukkan bahwa titik-titik data menyebar secara acak di atas dan di bawah garis horizontal . umbu X) tanpa membentuk pola apa pun, baik itu garis lurus, kurva, sistematis lainnya. Variasi residual model mungkin konstan atau homogen, seperti yang ditunjukkan oleh pola sebaran yang acak ini. sehingga tidak ditemukan indikasi adanya masalah heteroskedastisitas. Kondisi ini estimasi parameter regresi menjadi kurang efisien meskipun tetap tidak bias, yang pada akhirnya mempengaruhi ketepatan hasil Karena asumsi homoskedastisitas terpenuhi, model regresi yang digunakan dalam penelitian ini menunjukkan bahwa itu memenuhi salah satu persyaratan asumsi Oleh karena itu, layak digunakan untuk olah data lebih lanjut. Batas Kriteria Tidak multikolinear Tidak multikolinear Tidak multikolinear Tidak multikolinear Kesimpulan Tidak terjadi multikolinearitas Tidak terjadi multikolinearitas Tidak terjadi multikolinearitas Tidak terjadi multikolinearitas Grafik 4. Uji Heroskedastisitas Scatterplot Analisis Regresi Linier Berganda Uji T (Parsia. Hasil uji memberikan bahwa hanya satu variabel yang di analisis memberi pengaruh, menurut hasil pengujian uji t parsial. Nilai sig memperkuat hal ini yang menunjukkan < dari 0,05, sehingga pengalaman praktis yang di PKL mempengaruhi tingkat kesiapan. Tabel 7. Uji T (Parsia. Variabel Bebas Praktik Kerja Lapangan (X. Lingkungan Keluarga (X. Kompetensi Keahlian Akuntansi (X. Efikasi Diri (X. Motivasi Kerja (X. Nilai Sig. 0,006 > 0,05 > 0,05 > 0,05 > 0,05 Namun, variabel lingkungan keluarga, kemampuan akuntansi, dan lainnya tidak dipengaruhi parsial terhadap siap kerja, karena sig di nyatakan > dari 0,05. Meskipun variabel variabel tersebut secara teoritis di anggap berkontribusi, namun pada pengujian ini pengaruhnya belum cukup kuat secara Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa dalam penelitian ini, variabel lingkungan keluarga, kemampuan akuntansi, dan lainnya tidak dipengaruhi secara langsung perlu menjadi perhatian utama dalam upaya meningkatkan kesiapan mereka memasuki dunia kerja. Dengan demikian, dapat di simpulkan bahwa dalam konteks penelitian ini, praktik kerja lapangan merupakan satu - satunya faktor Batas Signifikansi < 0,05 Tidak signifikan Tidak signifikan Tidak signifikan Tidak signifikan Kesimpulan Berpengaruh signifikan Tidak berpengaruh signifikan Tidak berpengaruh signifikan Tidak berpengaruh signifikan Tidak berpengaruh signifikan yang secara parsial memengaruhi kesiapan kerja siswa adalah praktik kerja lapangan, dan perlu menjadi perhatian utama dalam upaya meningkatkan kesiapan mereka memasuki dunia kerja. Koefisien Determinasi (R. Ini dependen mengalami variasi sebesar 57,9%, dengan nilai R 0,761 dan nilai R persegi 0,579 berdasarkan hasil uji dapat dijelaskan variabel Sementara itu, sisanya sebesar 42,1% dapat di paparkan oleh faktor lain yang ada di luar konteks penelitian ini . Nilai adjusted R square sebesar 0,530 juga mengindikasikan bahwa model regresi tetap stabil dan tidak mengalami overfitting setelah di sesuaikan https://ejournal. id/index. php/mp | 360 Jurnal Muara Pendidikan Vol. 10 Issue 2. Desember . dengan jumlah variabel prediktor yang di Oleh Penelitian menggunakan model regresi yang dianggap cukup untuk menjelaskan hubungan antara variabel bebas dan kesiapan kerja. Beberapa variabel independen, termasuk kompetensi akuntansi, lingkungan keluarga, efikasi diri, motivasi kerja, dan praktik kerja lapangan (PKL), memengaruhi kesiapan kerja, seperti yang ditunjukkan oleh hasil uji koefisien determinasi. Dengan nilai adjusted RA yang cukup tinggi, model juga dinilai stabil dan tidak terpengaruh secara berlebihan oleh jumlah prediktor yang di gunakan. Artinya, model ini tidak hanya mampu menjelaskan fenomena yang di teliti, tetapi juga memiliki potensi yang baik untuk di gunakan dalam konteks prediktif atau penerapan di luar sampel yang di teliti. Namun demikian, masih terdapat porsi variasi yang tidak di jelaskan oleh model, yang kemungkinan berasal dari yang lain. Intinya model regresi dalam penelitian ini dapat di anggap layak dan representatif untuk menggambarkan pengaruh beberapa faktor terhadap kesiapan kerja siswa. Tabel. 8 Uji Koefisien Determinasi R2 Model Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate 0,761 0,579 0,530 2,744 Nilai R adalah 0,761, dan nilai R persegi adalah 0,579, menurut hasil Ini menerangkan bahwa yang menentukan 57,9% variasi dari variabel dependen, yaitu kesiapan kerja. Sementara itu, sisanya sebesar 42,1% dapat di paparkan oleh konteks lain. pada penelitian ini mengisyaratkan bahwa model regresi tetap stabil dan tidak mengalami overfitting setelah di sesuaikan dengan jumlah variabel prediktor yang di gunakan. Pembahasan Pengaruh Praktik Kerja Lapangan terhadap Kesiapan Kerja Hasil penelitian menunjukkan bahwa Praktik Kerja Lapangan (PKL) memberikan kontribusi nyata terhadap kesiapan kerja Keefektifan PKL terlihat dari kesungguhan siswa dalam bekerja, profesional yang terbentuk. Melalui keterlibatan langsung di dunia industri, sebenarnya, serta mengembangkan sikap profesional dan rasa percaya diri, maka siswa akan lebih siap menghadapi dunia E-ISSN: 2621-0703 P-ISSN: 2528-6250 Temuan ini konsisten dengan Yogaswara . Faridah . , dan Santi . yang menegaskan bahwa PKL pendidikan dan industri. Namun, perlu dicatat bahwa pengaruh ini mungkin dipengaruhi oleh dukungan keluarga sebagai faktor moderasi. Dukungan orang tua dapat memperkuat dampak positif PKL dengan memberikan motivasi tambahan dan rasa percaya diri. Dengan demikian. PKL keterampilan teknis, tetapi juga berinteraksi dengan faktor sosial dalam menentukan kesiapan kerja. Pengaruh Lingkungan Keluarga terhadap Kesiapan Kerja Lingkungan keluarga berperan dalam membentuk kedisiplinan, sikap, dan motivasi siswa. Namun, hasil penelitian memperlihatkan bahwa pengaruh keluarga secara parsial tidak signifikan. Kondisi ini sejalan dengan Al Fauzi . dan Zulhijah . , yang menemukan bahwa pengaruh keluarga lebih bersifat tidak Nasution, . menegaskan keluarga berkontribusi positif terhadap kesiapan kerja jika dipadukan dengan faktor pengalaman dan pembelajaran Salah satu kemungkinan adalah keluarga berfungsi sebagai moderator dalam hubungan antara PKL dan kesiapan Siswa dari keluarga suportif cenderung lebih optimal memanfaatkan pengalaman PKL. Ketidakbermaknaan parsial juga dapat disebabkan oleh multikolinearitas samar dengan variabel lain . isalnya motivas. , atau karena efek nyata lingkungan keluarga relatif kecil sehingga sulit terdeteksi pada sampel dengan ukuran terbatas. Pengaruh Kompetensi Keahlian Akuntansi terhadap Kesiapan Kerja Kompetensi keahlian akuntansi terbukti penting sebagai fondasi keterampilan Namun, pengaruh langsung terhadap kesiapan kerja tidak signifikan. Hal ini konsisten dengan temuan Eliyani . dan Ismoyo . , yang mengindikasikan bahwa kompetensi akuntansi lebih berperan secara tidak langsung melalui efikasi diri. Andika, . menyimpulkan bahwa penguasaan materi akuntansi saja tidak cukup menjamin kesiapan kerja tanpa didukung pengalaman industri yang Artinya, kesiapan kerja baru terbentuk ketika https://ejournal. id/index. php/mp | 361 Jurnal Muara Pendidikan Vol. 10 Issue 2. Desember . mereka percaya diri untuk menerapkannya di situasi nyata. Pengaruh Efikasi Diri Kesiapan Kerja Efikasi diri memiliki korelasi positif dengan kesiapan kerja, sejalan dengan temuan Pratiwi . Rahayu . , dan Merida . Namun, kekuatan hubungan ini tampak bervariasi dan tidak selalu Merida . menambahkan bukti bahwa efikasi diri kesiapan kerja, meskipun secara parsial tidak signifikan. Salah satu alasannya adalah efikasi diri mungkin hanya cukup memengaruhi persepsi kesiapan, tetapi tanpa pengalaman kerja nyata, dampaknya Di sisi lain, keterbatasan desain ex post facto membuat kita tidak bisa memastikan arah kausalitas: bisa jadi efikasi diri meningkatkan kesiapan, atau justru pengalaman PKL yang membentuk efikasi diri. Pengaruh Motivasi Kerja terhadap Kesiapan Kerja Motivasi kerja menunjukkan hubungan positif secara linier, namun hasil parsial tidak signifikan. Hal ini mendukung temuan Mutiara . bahwa motivasi generasi Z tidak selalu berujung pada kesiapan kerja yang lebih baik. Non-signifikansi ini bisa muncul karena: . efek nyata motivasi relatif kecil, . tumpang tindih dengan variabel sikap lain . fikasi, dukungan keluarg. , atau . ukuran sampel . kurang kuat untuk mendeteksi efek kecilAe Motivasi tetap penting, tetapi perlu dikombinasikan dengan pengalaman nyata seperti PKL untuk berdampak kuat pada kesiapan kerja (Khoiroh, 2018. Utami. Mutiara, . menemukanbahwa berpengaruh terhadap kesiapan kerja mereka, menegaskan pentingnya sinergi motivasi dengan pengalaman praktis untuk membentuk kesiapan kerja. KESIMPULAN Praktik (PKL) berpengaruh secara signifikan baik secara parsial maupun linier. Hal ini menunjukkan bahwa ketika melakukan PKL yang mencakup kesungguhan dalam bekerja, kemampuan kerja, pengalaman, dan penyelesaian masalah, mereka lebih siap untuk bekerja. Untuk sementara, variabel lingkungan keluarga, kompetensi keahlian akuntansi, namun memiliki pengaruh secara linier. Artinya, faktorfaktor tersebut tetap berperan dalam membentuk kesiapan kerja ketika bersinergi E-ISSN: 2621-0703 P-ISSN: 2528-6250 dengan pengalaman nyata seperti PKL. Kondisi ini menegaskan bahwa pengalaman langsung di dunia industri menjadi faktor dominan yang memicu kesiapan kerja, sedangkan variabel lain cenderung berfungsi kesiapan tersebut ketika diintegrasikan. Secara keseluruhan, hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa kesiapan kerja siswa lebih efektif terbentuk melalui kombinasi antara penguatan faktor internal maupun lingkungan. rekomendasi meliputi: . Siswa diharapkan lebih aktif dan berpartisipasi dalam PKL. membangun efikasi diri, motivasi kerja, dan kompetensi keahlian akuntansi. guru dan PKL pengarahan maksimal, meningkatkan praktik pembelajaran, serta memotivasi siswa. pihak sekolah diharapkan memperluas sama menyelenggarakan pembinaan soft skills. orang tua diharapkan menciptakan keluarga yang kondusif dan memberi dukungan penuh terhadap kegiatan belajar dan praktik siswa. Diharapkan bahwa peneliti akan menambahkan variabel tambahan atau menggunakan pendekatan kualitatif dan Penelitian ini menggunakan desain ex post facto, sehingga kesimpulan yang dihasilkan bersifat asosiatif, bukan kausal. Dengan kata lain, hasil hanya menunjukkan hubungan, tetapi tidak dapat dipastikan arah sebab-akibatnya. Selain itu, ukuran sampel terbatas . mungkin menurunkan kekuatan uji statistik untuk mendeteksi efek kecil. Multikolinearitas samar antar variabel sikap juga berpotensi melemahkan signifikansi Implikasi Praktis dapat dimulai dari Sekolah/Komite PKL untuk melakukan kurasi mitra industri, merancang job description yang jelas, serta melaksanakan evaluasi kinerja PKL berbasis rubrik terstandar. Guru BK/Produktif perlu memperkuat coaching soft skills, menyediakan logbook reflektif PKL, dan menyelenggarakan simulasi wawancara kerja. Orang Tua: penting memberikan dukungan emosional dan instrumental . isalnya biaya transportasi, motivasi mora. selama siswa menjalani PKL. Industri Mitra: disarankan menunjuk supervisor yang aktif memberikan mentoring, umpan balik berkala, dan menyediakan sertifikat kompetensi mikro sebagai bukti pencapaian siswa. https://ejournal. id/index. php/mp | 362 Jurnal Muara Pendidikan Vol. 10 Issue 2. Desember . DAFTAR PUSTAKA