Volume 3. Nomor 2. Juli 2026. Hal. Peningkatan Hasil Belajar Siswa pada Materi Perkalian melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD Agus Rizal Pratama1. Dewi Sartika2 1, 2 Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Universitas Terbuka *Corresponding Author e-mail: rizalputrakades102@gmail. Abstrak Rendahnya hasil belajar siswa kelas i SD pada materi perkalian menjadi latar belakang penelitian ini. Siswa cenderung pasif dan proses pembelajaran masih terlalu bergantung pada guru. Melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Student Teams Achievement Division (STAD), penelitian ini berupaya mendorong keterlibatan siswa secara langsung dalam proses belajar guna meningkatkan pemahamannya terhadap materi perkalian. Penelitian dilaksanakan menggunakn metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan model Kemmis dan McTaggart yang mencakup tahap perencanan, pelaksanaan, observasi serta refleksi dalam dua siklus. Subjek penelitian adalah 24 siswa kelas i SDN Plakpak 1 dengan data dikumpulkan melalui observasi, tes dan dokumentasi. Dari penelitian yang telah dilaksanakan, model STAD terbukti mampu meningkatkan hasil belajar siswa secara signifikan. Rata-rata nilai siswa naik dari 65 di siklus I menjadi 86 di siklus II dan persentase ketuntasan belajar meningkat dari 58% hingga mencapai 91%. Proses belajar yang tercipta pun lebih aktif dan menyenangkan sehingga pemahaman siswa terhadap materi perkalian ikut meningkat. Kata kunci: Hasil Belajar. Kooperatif tipe STAD. Matematika. Perkalian. Sekolah Dasar PENDAHULUAN Menurut Ismiadi. Patriasih, & Wijaya . mengemukakan bahwa pendidikan merupakan proses yang kompleks dan berkesinambungan yang bertujuan mengembangkan potensi manusia secara optimal, baik dalam aspek pengetahuan, keterampilan, maupun sikap. Sejalan dengan pernyataan Ardiansyah dkk, . bahwa pendidikan merupakan proses terstruktur dan disengaja yang bertujuan menciptakan lingkungan serta aktivitas pembelajaran, sehingga peserta didik dapat secara aktif mengembngkan potensi diri mencakup dimensi spiritual, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak, dan keterampilan yang esensial bagi kehidupannya di masyarakat. Agar para siswa dapat secara aktif mengembangkan potensi mereka dan memperoleh keterampilan yang dibutuhkan oleh diri mereka sendiri, masyarakat, negara, dan bangsa, serta kekuatan spiritual dan keagamaan, pengendalian diri, kepribadian yang seimbang, kecerdasan, dan akhlak yang mulia, para pendidik harus secara sengaja merencanakan dan menciptakan lingkungan serta P-ISSN 2775-3. E-ISSN 2775-3026 proses pembelajaran. (Saila. Hasanah, & Sulianti, 2. Dalam proses pendidikan di sekolah dasar, pembelajaran memiliki peranan penting dalam membentuk kemampuan dasar siswa, terutama pada mata pelajaran matematika. Karena matematika sangat erat kaitanya dengan pemikiran logis dan sistematis serta teknik pemecahan masalah yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari, mata pelajaran ini menjadi sangat pentig. Agar para siswa dapat sepenuhnya memahami konsep-konsep dasarnya, pengajaran matematika di sekolah dasar harus dilakukan dengan cara yang Menurut pendapat Nurannisa dkk, . mengemukakakn bahwa matematika adalah mata pelajaran yang diperlukan oleh semua siswa dengan tujuan untuk mengembangkan kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif, serta kemampuan bekerja sama. Pembelajarn matematika di sekolah dasar memiliki peranan penting dalam mengembngkan kemampuan berpikir logis, kritis, dan sistematis pada peserta didik. Weniarni dkk. mengemukakakn mengemukakan pendapat dalam bukunya matematika bagi siswa di SD berguna untuk kepentngan hidup pada lingkunganya, untuk mengembangkan pola pikirnya, dan untuk mempelajari ilmu-ilmu yang kemudian. Salah satu materi dasar yang harus dikuasai siswa kelas 3 sekolah dasar adalah perkalian. Materi perkalian menjadi landasan penting untuk mempelajari konsep matematika lainnya, seperti pembagian, pecahan, dan operasi hitung lanjutan. Indicator dari keberhasilan proeses pembelajaran adalah hasil belajar. Menurut Masitoh . menyatakan bahwa pengertian hasil belajar serangkaian kegiatan proses untuk menentukan nilai hasil belajar siswa melalui penilaian atau pengukuean Menurut Mufidah & Sartika . menjelaskan bahwa pentingnya hasil belajar ini dikarenakan hasil belajar menjadi salah satu tolak ukur dalam mengetahui perubahan pada siswa sebelum dan setelah mengikuti proses pembelajaran. Penilaian yang mencakup ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik digunakan untuk mengevaluasi hasil belajar, yang didasarkan pada keterampilan yang diperoleh siswa setelah mengikuti kegiatan pembelajaran (Wafa & Darmawan, 2. Hasil belajar matematika yang baik mencerminkan kemampuan siswa dalam memahami konsep sekaligus menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Sayangnya, keterlibatan siswa yang minim dalam proses belajar serta penggunaan model pembelajarn yang kurang menarik kerap menjadi penyebab rendahnya hasil belajar. Kondisi ini pula yang ditemukan di kelas i SDN Plakpak 1. Dari observasi awal yang dilakukan, sebagian besar siswa memperoleh nilai di bawah KKM pada materi Pembelajaran didominasi metode ceramah dan latihan individual sehingga interaksi antar siswa nyaris tidak berkembang dan siswa pun cepat merasa bosan. Keaktifan siswa di kelas sangat rendah. Penerapan model pembelajarn kooperatif tipe STAD dipilih sebagai upaya untuk memperbaiki kondisi tersebut. Sebagaimana dikemukakan oleh Wachidi . model pembelajaran koperatif tipe STAD merupakan pendekatan Cooperative Learning yang menekankan pada aktivitas dan interaksi diantara peserta didik untuk saling memotivasi dan saling membantu dalam menguasai materi pelajaran guna mencapai prestasi yang maksimal. Selain itu, menurut Octavia . Model Student Team Achievement Division (STAD) dimaksudkan agar siswa mampu dan terbiasa belajar secara kooperatif dan kerja sama antar teman. Oleh karena itu model pembelajarn ini P-ISSN 2775-3. E-ISSN 2775-3026 di terapkan untuk mendorong siswa memupuk jalinan solidaritas dalam menyelesaikan suatu permasalahan (Rahayu, 2. Dalam model ini, siswa belajar dalam kelompok kecil dan diberikan kesempatan untuk berdiskusi, bertukar pendapat, serta menyelesaikan tugas bersama. Dengan demikian, siswa tidak hanya belajar secara individu, tetapi juga belajar melalui interaksi sosial dengan teman Model pembelajaran STAD memiliki beberapa kelebihan. Kelebihn model pembelajaran STAD adalah sebagai berikut: Setiap peserta didik memiliki kesempatan untuk memberikan kontribusi yang subtansial kepada kelompok dan posisi anggota Menggalakan interaksi secara aktif dan positif sehingga bentuk kerjasama anggota kelompok yang menjadi lebih baik. Membantu peserta didik untuk memperoleh hubungan pertemnan lintas ras, suku, agama, gender, kemampuan akademis yang lebih banyak dan beragam (Abdurahman, 2023. Lebih lanjut, menurut Azzahra. Suntari & Hadi, . berpendapat bahwa adapun kekurangan model STAD antara lain: . Kurangnya kerja sama dapat menurunkan motivasi siswa . Siswa tertentu dapat menjadi lebih dominan jika tidak dikontrol dengan . Memerlukan keterampilan khusus dari guru dalam pelaksanaannya. Model STAD dipilih karena struktur belajarnya yang mendorong siswa untuk saling membantu dan bekerja sama dalam kelompok. Siswa yang lebih cepat memahami materi secara alami akan membantu temannya yang masih kesulitan. Sistem penghargaan kelompok dalam STAD juga terbukti efektif mendorong motivasi belajar sekaligus menciptakan suasana kelas yang lebih hidup dan menyenangkan. Penelitian ini pun dilakukan untuk melihat sejauh mana penerapan model tersebut mampu meningkatkan hasil belajar siswa kelas i SD pada materi perkalian. Tujuan penelitian ini mencakup dua hal yaitu meningkatkan hasil belajar siswa pada materi perkalian serta mengetahui peningkatan aktivitas guru dan siswa selama proses pembelajaran berlangsung. METODE Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Pahleviannur dkk. menjelaskan bahwa PTK merupakan penelitian yang bersifat reflektif melalui serangkaian tindakan tertentu guna memperbaiki danmeningkatkan kualitas praktik pembelajaran di kelas secara lebih profesional. Sejalan pendapat Hernwati . bahwa PTK menjadi alat penting bagi guru untuk memahami secara lebih mendalam bagaimana metode pembelajaran yang mereka gunakan mempengruhi hasil belajar siswa. Penelitian tindakan kelas dipilih karena bertujuan memperbaiki proses pembelajaran secara langsung di kelas serta meningkatkan hasil belajar siswa pada materi perkalian. Pelaksanaan penelitian mengacu pada model Kemmis dan McTaggart yang terdiri dari empat tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi serta refleksi. Keseluruhan proses berlangsung dalam dua siklus dan setiap siklus mencakup dua kali P-ISSN 2775-3. E-ISSN 2775-3026 Gambar 1. Desain Penelitian Tindakan Kelas Pendekatan yang digunakan bersifat campuran. Sisi kualitatif dipakai untuk menggambarkan aktivitas guru dan siswa selama pembelajaran berlangsung sedangkan sisi kuantitatif digunakan untuk mengukur seberapa besar peningkatan hasil belajar siswa melalui nilai tes. Penelitian dilaksanakan di SDN Plakpak 1 Kecamatan Pegantenan Kabupaten Pamekasan pada bulan Mei 2026 di semester genap tahun ajaran 2026/2027. Subjek penelitian adalah 24 siswa kelas i yang terdiri dari 13 siswa laki-laki dan 11 siswa Data dikumpulkan melalui tiga cara. Observasi digunakan untuk memantau aktivitas guru dan siswa selama proses pembelajarn dengan model STAD. Tes dipakai untuk mengukur hasil belajar siswa pada materi perkalian. Dokumentasi berupa foto kegiatan dan daftar nilai digunakan sebagai data pendukung. Instrumen penelitian yang digunakan meliputi: Lembar observasi aktivitas guru. Lembar observasi aktivitas siswa. Soal tes hasil belajar. Penggunaan instrumen tersebut bertujuan agar data yang diperoleh lebih lengkap dan akurat. Lembar observasi digunakan untuk melihat keterlaksanaan pembelajaran, sedangkan tes digunakan untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa terhadap materi perkalian. Teknik analisis data dilakukan secara deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Data hasil observasi dianalisis dengan menghitung persentase aktivitas guru dan siswa menggunakan rumus: ya ycE = y 100% ycA P-ISSN 2775-3. E-ISSN 2775-3026 Keterangan: A ycE= Persentase A ya= Frekuensi yang diperoleh A ycA= Jumlah skor maksimal Sedangkan hasil belajar siswa dianalisis menggunakan rata-rata nilai dan persentase ketuntasan belajar dengan rumus: OcycU ycUO = ycA Penelitian dinyatakan berhasil apabila: Minimal 80% siswa mencapai nilai di atas KKM. Aktivitas guru dan siswa mencapai kategori baik. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil Hasil Observasi Aktivitas Guru Penilaian aktivitas guru dilakukan menggunakan lembar observasi yang meliputi kegiatan pendahuluan, penyampaian materi, pengelolaan kelompok, pemberian motivasi, dan penutupan pembelajaran. Tabel 1. Hasil Observasi Aktivitas Guru Siklus 1 dan Siklus 2 Siklus Skor Perolehan Skor Maksimal Persentase Kategori Siklus I Baik Siklus II Sangat Baik Perhitungan persentase aktivitas guru menggunakan rumus: ya ycEO = ycu 100% ycA Perhitungan Siklus I ycEO = 25 ycu 100% = 72% Perhitungan Siklus II ycEO = ycu 100% = 92% Berdasarkan hasil tersebut, aktivitas guru mengalami peningkatan dari siklus I ke siklus II. Guru semakin mampu menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan baik. P-ISSN 2775-3. E-ISSN 2775-3026 Gambar 1. Grafik Persentase Hasil Observasi Aktivitas Guru Siklus 1 dan Siklus 2 Hasil Observasi Aktivitas Siswa Observasi aktivitas siswa dilakukan untuk mengetahui tingkat keaktifan siswa selama proses pembelajaran berlangsung, seperti keikutsertaan dalam diskusi kelompok, keberanian bertanya, kerja sama, dan kemampuan menyelesaikan tugas Tabel 1. Hasil Observasi Aktivitas Siswa Siklus 1 dan Siklus 2 Siklus Skor Perolehan Skor Maksimal Persentase Kategori Siklus I Cukup Siklus II Sangat Baik Perhitungan Siklus I ycEO = ycu 100% = 68% Perhitungan Siklus II ycEO = ycu 100% = 88% Hasil pengamatan tersebut menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam partisipasi siswa. Sejak menerapkan model STAD bersama anggota kelompok mereka, para siswa menjadi lebih aktif dalam percakapan dan kerja sama tim. P-ISSN 2775-3. E-ISSN 2775-3026 Siklus 1 Siklus 2 Gambar 1. Grafik Persentase Hasil Observasi Aktivitas Siswa Siklus 1 dan Siklus 2 Hasil Belajar Siswa Hasil belajar siswa didapatkan dari tes evaluasi yang dilakukan di setiap siklus. Dalam penelitian ini, ada 24 siswa yang ikut serta dengan Kriteria Ketuntasan Minimal Tabel 1. Hasil Belajar Siswa Siklus 1 dan Siklus 2 Siklus Jumlah Nilai Rata-rata Jumlah Siswa Tuntas Persentase Ketuntasan Siklus I 14 siswa Siklus II 22 siswa Perhitungan rata-rata nilai menggunakan rumus: OcycU ycUO = ycA Keterangan: ycUO = ycIycaycyca Oe ycycaycyca OcycU = Jumlah seluruh nilai siswa ycA = yaycycoycoycaEa ycycnycycyca Perhitungan Siklus I ycEO = ycu 100 = 65 Persentase ketuntasan: ycEO = ycu 100% = 58% Perhitungan Siklus II ycEO = ycu 100 = 86 Persentase ketuntasan: ycEO = ycu 100% = 91% P-ISSN 2775-3. E-ISSN 2775-3026 Berdasarkan hasil tersebut, hasil belajar siswa pada siklus I masih belum mencapai KKM dengan rata-rata nilai 65 dan ketuntasan belajar sebesar 58%. Hal ini terjadi karena siswa masih beradaptasi dengan model pembelajaran STAD dan belum terbiasa bekerja sama dalam kelompok. Setelah dilakukan perbaikan pembelajaran pada siklus II, hasil belajar siswa meningkat secara signifikan dengan rata-rata nilai mencapai 86 dan ketuntasan belajar sebesar 91%. Dengan demikian, indikator keberhasilan penelitian telah tercapai. Siklus 2 Siklus 1 Gambar 1. Grafik Persentase Hasil Belajar Siswa Siklus 1 dan Siklus Pembahasan Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD membawa peningkatan yang cukup nyata, baik dari sisi aktivitas guru maupun siswa serta hasil belajar di setiap siklusnya. Berdasarkan Tabel 1. 1 aktivitas guru naik dari 72% di siklus I menjadi 92% di siklus II. Di siklus I, pengaturan kelompok dan bimbingan diskusi masih menjadi kendala utama. Setelah refleksi dilakukan, guru terlihat jauh lebih siap dalam mengarahkan jalannya pembelajaran serta mengatur waktu dengan lebih baik sehingga kelas menjadi lebih aktif dan terarah. Peningkatan serupa juga terjadi pada aktivitas siswa. Tabel 2. 1 menunjukkan kenaikan dari 68% menjadi 88%. Pada siklus I siswa cenderung pasif dan belum terbiasa bekerja dalam kelompok. Di siklus II kondisi itu berubah siswa mulai aktif berdiskusi dan mengerjakan tugas bersama kelompoknya dengan lebih antusias. Kedua peningkatan tersebut turut berdampak pada hasil Rata-rata nilai siswa di siklus I tercatat 65 dengan ketuntasan hanya 58% atau 14 siswa yang mencapai KKM. Angka ini masih jauh dari target minimal ketuntasan yang ditetapkan yaitu 80%. Rendahnya hasil belajar pada siklus I disebabkan siswa P-ISSN 2775-3. E-ISSN 2775-3026 masih beradaptasi dengan model pembelajaran STAD dan belum memahami pembagian tugas dalam kelompok secara maksimal. Setelah dilakukan perbaikan pembelajaran pada siklus II, hasil belajar siswa meningkat secara signifikan. Rata-rata nilai siswa meningkat menjadi 86 dengan persentase ketuntasan mencapai 91% atau sebanyak 22 siswa mencapai KKM. Peningkatan ini sangat signifikan, karena sebelumnya rata-rata nilai hanya 65, dan sekarang meningkat menjadi 86. Ini menunjukkan bahwa ada peningkatan yang nyata. Selain itu, persentase ketuntasan belajar juga meningkat dari 58% menjadi 91%. Ini berarti bahwa lebih banyak siswa yang mencapai standar ketuntasan belajar. Hasil ini menunjukan bahwa penerapan model pembelajarn kooperatif tipe STAD sangat efektif dalam meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi perkalian. Peningkatan hasil belajar ini terjadi karena siswa diberi kesempatan untuk belajar secara aktif melalui diskusi kelompok. Siswa yang memiliki kemampuan lebih tinggi dapat membantu teman kelompok yang mengalami kesulitan, sehingga tercipta kerja sama yang baik dalam proses pembelajaran. Menurut Makawimbang. Nasrullah Firmansyah dengan cara ini, semua siswa dapat memahami materi dengan lebih baik. Tujuan utama model pembelajaran kooperatif tipe STAD adalah mengembangkan karakter siswa agar dapat saling memberikan motivasi, membantu dan bekerja sama dalam mengerjakan tugas secara berkelompok untuk mencapai tujuan pembelajaran. Sejalan dengan pendapat Alfiyah & Izza . menyatakan bahwa STAD juga terbukti mampu memperbaiki motivasi siswa, sehingga membuat mereka lebih terlibat dalam proses Peran model pembelajarn kooperatif tipe STAD ini memberikan Gambarn bahwa siswa berprsoses dalam sebuah ruang lingkup pembelajran yang berbasis kelompok tentunya siswa merasa di libatkan dalam sebuah siklus pembelajaran di kelas, model ini juga berpengruh dalam hasil belajar siswa yang awalnya mereka merasa kebingungn dengan materi yang di terima oleh guru menjadi paham tentang konsep perkalian. Menurut pendapata Sriana & Sujarwo . menjelaskan bahwa Peningkatan hasil belajar dikarenakn model pembelajaran kooperatif tipe STAD memiliki peran dalam mengatasi permasalahn utama pendidikan yang sering terjadi yaitu rendahnya hasil belajar siswa yang dapat disebbkan karena kurangnya keaktifan dan partispasi siswa, pembelajaran yang monoton, model yang digunakan kurang bervariasi atau masih menggunakn model ceramah, kesulitan siswa memahami materi pelajaran dan sebagainya. Penerapan dari model pembelajaran memiliki sebuah pola tersendiri yang dimana sudah tersusun dari kegiatan awal hingga akhir proses pembelajarn,. Hal ini bisa menjadi kemudahan seorang guru dalam melaksanakan proses pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif. Model pembelajaran kooperatif merupakan salah satu strategi pembelajaran yang melibatkan peran penting peserta didik dalam bekerjasama untuk mencapai tujuan pembelajaran. Pembelajaran kooperatif menjadi suatu upaya yang bisa dilakukan guru untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik dengan tugas yang terstruktur dengan baik. Melalui model pembelajaran kooperatif memiliki keunggulan yakni peserta didik mendapat kesempatanbelajar bersama dengan peserta didik lain yang beragam secara intelektual maupun emosional serta menjadi sumber belajar bagi peserta didik yang lain. Secara dasar model pembelajaran kooperatif ini berfokus pada diskusi atau kerja kelompok P-ISSN 2775-3. E-ISSN 2775-3026 dan saling berbagi pengalaman belajar satu sama lain. Sejalan dengan pendapat Saliana. Dhani & Siswoyo . menjelaskan bahwa Model STAD yang berfokus pada kolaborasi dalam kelompok,diskusi,dan penerapan langsung pengetahuan terbukti efektif dalam meningkatkan keterampilan berpiki rkritis,kreatif,serta kemampuan berkolaborasi siswa. Beberapa penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe STAD efektif dalam meningkatkan hasil belajar matematika siswa sekolah dasar. Sebagaimana penelitian yang dilakukan oleh (Wijayanti. dengan judul AuPeningkatan Kerjasama Dan Hasil Belajar Siswa Pada Materi Perkalian Melalui Model Cooperative Learning tipe STAD Bagi Siswa Kelas II SD Krapyak Wetan Kecamatan Sewon Kabupaten BantulAy. dapat disimpulkan bahwa penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe STAD sangat efektif dalam meningkatkan kerjasama dan hasil belajar siswa kelas II SD Krapyak Wetan pada tahun ajaran 2019/2020. Penelitian lain yang dilakukan oleh Chika Setyorini. Ngatman, dan Murwani Dewi Wijayanti pada tahun 2025 juga membahas tentang penerapan model kooperatif tipe STAD untuk meningkatkan hasil belajar matematika materi perkalian pada siswa kelas II SD. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan paradigma pembelajaran kooperatif STAD dengan benda-benda konkret meningkatkan hasil belajar siswa dalam tiga aspek, afektif, psikomotorik, dan kogniti Model pembelajaran kooperatif tipe STAD terbukti efektif dalam meningkatkan aktivitas guru, aktivitas siswa, dan hasil belajar siswa kelas i sekolah dasar pada materi perkalian secara optimal. Model pembelajaran ini dapat menjadi pilihan alternatif bagi guru untuk menciptakan pembelajaran matematika yang lebih aktif, menyenangkan, dan efektif. KESIMPULAN Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, model pembelajarn kooperatif tipe STAD dapat meningktkan hasil belajar siswa kelas i SD pada materi perkalian. Hal ini terlihat dari observasi aktivitas guru yang meningkat signifikan. Pada siklus I aktivitas guru mencapai 72%, kemudian meningkt menjadi 92% pada siklus II. Begitu juga dengan aktivitas siswa yang meningkat dari 68% menjadi 88%. Selain itu hasil belajar siswa juga mengalami peningkatan yang signifikan, yaitu rata-rata nilai siswa pada siklus I sebesar 65 dengan ketuntasn belajar 58% kemudian meningkat pada siklus II menjadi rata-rata 86 dengan ketuntasan belajar mencapai 91%. Peningkatan tersebut menunjukkan bahwa penerapan model STAD mampu menciptakan pembelajaran yang lebih aktif melalui kerja sama kelompok serta kegiatan diskusi dan interaksi antar siswa sehingga pemahaman siswa terhadap materi perkalian menjadi lebih baik. Guru disarankan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dalam pembelajaran matematika karena dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Selain itu, penelitian selanjutnya dapat menerapkan model STAD pada materi lain agar diperoleh hasil yang lebih luas dan bervariasi. P-ISSN 2775-3. E-ISSN 2775-3026 DAFTAR PUSTAKA