STIKes Mitra Keluarga Jurnal Mitra Kesehatan (JMK) p-ISSN 2580-3379. ,e-ISSN 2716 0874 . Vol. No. Juni 2026. Hal. 78 Ae 87 Research / Review Article ANALISIS KECEMASAN DAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN CANCERRELATED FATIGUE PADA PASIEN KANKER YANG MENJALANI RADIOTERAPI ANALYSIS OF ANXIETY AND FAMILY SUPPORT WITH CANCERRELATED FATIGUE AMONG CANCER PATIENTS UNDERGOING RADIOTHERAPY Ika Juita Giyaningtyas1*. Primalova Septiavy Estiadewi1 Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Mitra Keluarga. Kota Bekasi. Jawa Barat. Indonesia *ika. juita@stikesmitrakeluarga. INFORMASI ARTIKEL Article history Submitted: 29 Ae 11 Ae 2025 Accepted: 21 Ae 04 Ae 2026 Published: 30 Ae 06 Ae 2026 DOI : https://doi. org/10. 47522/jm Kata Kunci: cancer-related fatigue. dukungan keluarga. pasien kanker. Keywords : cancer patients. cancerrelated fatigue. family support. ABSTRAK Pendahuluan: Cancer-Related Fatigue merupakan gejala paling umum dan melemahkan pada pasien kanker yang dapat menurunkan kualitas hidup secara signifikan. Faktor psikologis seperti kecemasan dan dukungan keluarga diduga berperan dalam munculnya cancer-related fatigue. Namun bukti empirisnya masih terbatas, terutama pada pasien yang menjalani radioterapi. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis hubungan antara kecemasan dan dukungan keluarga terhadap cancer-related fatigue pada pasien yang menjalani radioterapi. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain crosectional yang dilakukan di Radiotherapy Center RS X Bekasi pada Juli 2025. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah teknik consecutive sampling. Kriteria inklusi pada penelitian ini yaitu pasien kanker yang sedang menjalani radioterapi. Sedangkan, kriteria eksklusi adalah pasien yang mengalami gangguan kognitif. Instrumen yang digunakan State-Trait Anxiety Inventory (STAI) untuk kecemasan, kuesioner dukungan keluarga, dan Brief Fatigue Inventory (BFI) untuk cancer-related fatigue. Analisis menggunakan uji SpearmanAos rho. Hasil: Jumlah responden pada penelitian adalah 34 pasien dengan usia rata-rata 48,18 tahun, jenis kelamin perempuan . ,2%), dan riwayat pasien menderita kanker Ou 1 tahun . ,8%). Sebagian besar mengalami kecemasan sedang . ,9%), dukungan keluarga baik . ,5%), dan kelelahan tidak berat . ,1%). Hasil analisis menunjukkan tidak terdapat hubungan signifikan antara kecemasan dengan Cancer-Related Fatigue . = 0,092. r = -0,. maupun antara dukungan keluarga dengan cancer-related fatigue . = 0,267. r = -0,. Kesimpulan: Tidak ditemukan hubungan signifikan antara kecemasan dan dukungan keluarga dengan cancer-related fatigue pada pasien kanker yang menjalani radioterapi. Faktor lain seperti kondisi fisiologis, stadium kanker, status nutrisi, dan mekanisme koping Jurnal Mitra Kesehatan (JMK) Vol. No. , pp. 78 Ae 87 individu kemungkinan berpengaruh lebih besar terhadap tingkat kelelahan pasien. ABSTRACT Introduction: Cancer-Related Fatigue is the most common and debilitating symptom experienced by cancer patients, significantly reducing their quality of life. Psychological factors such as anxiety and family support are thought to contribute to the development of CRF. however, empirical evidence remains limited, particularly among patients undergoing radiotherapy. This study aimed to analyze the relationship between anxiety and family support with cancer-related fatigue among patients receiving radiotherapy. Methods: This quantitative study employed a cross-sectional design conducted at the Radiotherapy Center of X Hospital. Bekasi, in July Samples were selected using consecutive sampling. The inclusion criteria were cancer patients currently undergoing radiotherapy, while patients with cognitive impairments were Data were collected using the State-Trait Anxiety Inventory (STAI) to measure anxiety, a family support questionnaire, and the Brief Fatigue Inventory (BFI) to assess cancer-related fatigue. Data were analyzed using SpearmanAos rho correlation test. Results: A total of 34 respondents participated, with a mean age of 48. 18 years. The majority were female . 2%) and had been diagnosed with cancer for Ou1 year . 8%). Most participants experienced moderate anxiety . 9%), good family support . 5%), and mild fatigue . 1%). The analysis showed no significant correlation between anxiety and CRF . = 0. r = Ae0. or between family support and CRF . = 0. r = Ae0. Conclusion: There was no significant relationship between anxiety and family support with cancer-related fatigue among cancer patients undergoing Other factors such as physiological condition, cancer stage, nutritional status, and individual coping mechanisms may have a greater influence on patientsAo fatigue levels. PENDAHULUAN Kanker merupakan penyakit yang berdampak signifikan terhadap kualitas hidup Salah satu gejala yang paling umum dan melemahkan adalah cancer-related fatigue, yaitu kelelahan yang berkepanjangan dan tidak dapat dijelaskan sepenuhnya oleh aktivitas fisik atau kondisi medis lainnya, dan tidak membaik dengan istirahat. Cancer-related fatigue dapat mengganggu kemampuan pasien untuk menjalani aktivitas sehari-hari, berinteraksi sosial, dan bahkan mengikuti pengobatan yang direkomendasikan, sehingga menurunkan kualitas hidup secara drastis. Studi mengenai cancer-related fatigue pada pasien kanker paru, menunjukkan angka kelelahan yang tinggi dan kompleksitas gejala, serta perlunya pendekatan integratif untuk meringankan gejalanya (Bade et al. , 2. Diagnosis kanker dan perjalanan pengobatannya memicu dampak psikologis yang signifikan. Sebuah studi mengidentifikasi pada pasien kanker mengalami berbagai gangguan kesehatan mental , salah satunya kecemasan yang paling sering ditemukan (Shalata et al. , 2. Respons emosional yang umum pada pasien kanker. Jurnal Mitra Kesehatan (JMK) Vol. No. , pp. 78 Ae 87 terutama saat menjalani pengobatan seperti radioterapi merupakan kecemasan. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa tingkat kecemasan yang tinggi dapat meningkatkan keparahan persepsi kelelahan pada pasien. Kecemasan dapat dipicu oleh diagnosis, proses pengobatan yang berat, dan ketidakpastian masa depan. Hal tersebut menjadi faktor kunci yang memperburuk gejala cancer-related fatigue, (DSilva. Singh & Javeth, 2. Selain kecemasan, dukungan keluarga merupakan faktor kunci dalam mengatasi masalah yang dihadapi pasien kanker. Dukungan keluarga memiliki peran penting dalam membantu pasien kanker mengatasi masalah fisik dan emosional selama pengobatan. Bentuk dukungan tersebut meliputi dukungan emosional, instrumental, informasi, dan penghargaan. Dukungan keluarga yang kuat dapat mengurangi kecemasan, meningkatkan kepatuhan pengobatan, dan meningkatkan kualitas hidup pasien kanker (Maziyya. Rahayuwati & Yamin, 2. Namun, jika pasien tidak mendapatkan dukungan keluarga, hal ini dapat memperburuk kondisi pasien, terutama dalam menghadapi cancer-related fatigue. Pengaruh dukungan keluarga dalam meningkatkan kualitas hidup pasien kanker sangat diperlukan (Pluchino & DAoAmico, 2. Terapi pada pasien kanker terdapat beberapa metode, yaitu pembedahan, kemoterapi, imunoterapi, targeted therapy, terapi hormon, transplantasi sel induk dan Salah satu terapi penting non bedah untuk pengobatan kanker adalah radioterapi atau terapi radiasi (Fitriatuzzakiyyah. Sinuraya & Puspitasari, 2. Meskipun radioterapi masih belum banyak digunakan dan masih terbatas, radioterapi memiliki beberapa dampak psikologis dan dibutuhkan dukungan keluarga yang baik, karena biasanya radioterapi dilakukan dengan siklus yang panjang. Penelitian yang secara khusus meneliti hubungan antara kecemasan dan dukungan keluarga terhadap cancer-related fatigue pada pasien kanker yang menjalani radioterapi masih terbatas. Selain itu, melihat dampak yang signifikan cancer-related fatigue terhadap kualitas hidup pasien kanker, diperlukan pengkajian lebih lanjut mengenai faktor-faktor psikososial, seperti kecemasan, dan dukungan keluarga dalam konteks pasien kanker yang menjalani radioterapi. METODE PENELITIAN Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain penelitian crosectional. Penelitian dilakukan di Radiotherapy Center RS X Kota Bekasi pada bulan Juli Teknik pengambilan sampel yang digunakan peneliti adalah teknik consecutive Kriteria inklusi adalah pasien kanker dan sedang menjalani radioterapi, sedangkan kriteria eksklusinya merupakan pasien yang mengalami gangguan kognitif. Jumlah responden dalam penelitian ini sebanyak 34 pasien. Instrumen yang digunakan meliputi Brief Fatigue Inventory (BFI) untuk menilai tingkat kelelahan atau cancerrelated fatigue yang dialami pasien (Paramita et al. , 2. State-Trait Anxiety Inventory (STAI) untuk mengukur tingkat kecemasan (Hafsah, 2. , serta kuesioner dukungan keluarga untuk menilai tingkat dukungan yang diterima pasien dari keluarga (Rusmiati & Maria, 2. Data dianalisis menggunakan SpearmanAos rho untuk menguji hubungan Jurnal Mitra Kesehatan (JMK) Vol. No. , pp. 78 Ae 87 antara kecemasan dan dukungan keluarga dengan cancer-related fatigue. Uji ini dipilih karena jumlah sampel relatif kecil kurang dari 50, sehingga sering kali sulit memenuhi asumsi parametrik. Penggunaan uji non-parametrik seperti SpearmanAos rho lebih aman, stabil, dan menghindari bias. Penelitian ini telah memperoleh persetujuan etik dengan nomor KEPK/UMP/244/VI/2025. HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Responden Penelitian ini didapatkan responden berjumlah 34 pasien yang masuk dalam kriteria inklusi. Berikut adalah karakteristik responden dalam penelitian ini: Tabel 1. Tendensi Sentral Usia Pasien Kanker yang Menjalani Radioterapi Variabel Mean Median Modus Min-Max Usia 48,18 Sumber: Data Primer. Hasil analisis deskriptif terhadap usia pasien kanker yang menjalani radioterapi diperoleh rata-rata usia sebesar 48,18 dengan rentang usia 28 Ae 70 Tabel 2. Gambaran Jenis Kelamin. Pendidikan Terakhir. Lama Menderita Kanker dan Jenis Kanker Pasien Kanker yang Menjalani Radioterapi Karakteristik Responden Frekuensi . Persentase (%) Jenis Kelamin Laki-laki 11,8% Perempuan 88,2% Total Pendidikan Terakhir 20,6% 2,9% 8,8% SMA 20,6% SMK 5,9% SMP 14,7% 26,5% Total Lama Menderita Kanker < 1 tahun 38,2% Ou 1 tahun 61,8% Total Jenis Kanker Ca Esofagus 2,9% Ca Lymphosarcoma 2,9% Ca Mamae 76,5% Ca Mandibula 2,9% Ca Nasofaring 2,9% Ca Paru meta tulang 2,9% Ca Serviks 8,8% Total Sumber: Data Primer . Jurnal Mitra Kesehatan (JMK) Vol. No. , pp. 78 Ae 87 Berdasarkan data yang disajikan pada tabel 2, menunjukkan bahwa sebagian besar pasien kanker yang menjalani radioterapi berjenis kelamin perempuan sebanyak 30 orang . ,2%). Berdasarkan tingkat pendidikan, sebagian besar responden merupakan lulusan SD yaitu sebanyak 9 orang . ,5%). Berdasarkan lama menderita kanker, sebagian besar responden menderita kanker sudah Ou 1 tahun yaitu sebanyak 21 orang . ,8%). Sementara itu, berdasarkan jenis kanker, sebagian besar responden mengalami Ca mamae, yaitu sebanyak 26 orang . ,5%). Gambaran Kecemasan Pada Pasien Kanker yang Menjalani Radioterapi Kecemasan merupakan salah satu masalah psikososial yang sering muncul pada individu dengan masalah fisik. Kecemasan dikategorikan menjadi kecemasan ringan, kecemasan sedang, dan kecemasan berat (Hafsah, 2. Berikut adalah gambaran kecemasan pasien kanker yang menjalani radioterapi di Radiotherapy Center RS X Bekasi: Tabel 3. Gambaran Kecemasan Pasien Kanker yang Menjalani Radioterapi Tingkat Kecemasan Frekuensi . Persentase (%) Ringan 20,6% Sedang 55,9% Berat 23,5% Total Sumber: Data Primer. Berdasarkan tabel 3, dapat dilihat bahwa sebagian besar responden mengalami kecemasan sedang, yaitu sebanyak 19 orang . ,9%). Kecemasan pada pasien kanker muncul sebagai reaksi terhadap ketidakpastian yang berkaitan dengan proses pengobatan, perubahan kondisi fisik, rasa takut akan masa depan dan kemungkinan kematian. Tingkat kecemasan ini berbeda-beda pada setiap individu, tergantung pada kondisi medis, pengalaman hidup, dan dukungan sosial yang dimiliki (Grassi et al. , 2. Kecemasan pasien kanker tidak hanya dipengaruhi oleh diagnosis awal, tetapi juga dapat bertahan atau muncul kembali seiring berjalannya waktu, terutama jika pasien tidak menerima dukungan psikososial dan spiritual yang memadai (Abu Khait & Lazenby. Kecemasan yang berlangsung dalam jangka waktu yang lama tanpa penanganan yang tepat, hal ini dapat berkembang menjadi depresi pada pasien kanker, serta berdampak pada penurunan kualitas hidup pasien, seperti berkurangnya semangat untuk menjalani terapi, gangguan tidur, serta munculnya masalah psikologis lainnya (Grassi et al. , 2023. Hafiza. Nauli & Dilaruri, 2. Gambaran Dukungan Keluarga Pada Pasien Kanker yang Menjalani Radioterapi Kanker merupakan penyakit kronis dengan proses pengobatan yang panjang dan kompleks. Oleh karena itu, pasien tidak hanya membutuhkan penanganan medis, tetapi juga dukungan dari orang-orang terdekat, khususnya keluarga. Jurnal Mitra Kesehatan (JMK) Vol. No. , pp. 78 Ae 87 Dukungan keluarga memiliki peran penting dalam memberikan semangat, rasa aman, dan motivasi kepada pasien agar tetap menjalani pengobatan dengan optimis dan penuh harapan. Keluarga menjadi sumber kekuatan utama yang membantu pasien tetap kuat secara mental dan emosional. Dukungan tersebut dapat berupa perhatian emosional, bantuan dalam kehidupan sehari-hari, kehadiran saat pasien membutuhkan, serta dorongan spiritual dan motivasi positif yang sangat berarti bagi pasien. Dukungan keluarga dikategorikan meliputi dukungan keluarga kurang, dukungan keluarga cukup, dan dukungan keluarga baik (Rusmiati & Maria, 2. Berikut gambaran dukungan keluarga yang didapatkan pasien kanker yang menjalani radioterapi di Radiotherapy Center RS X Bekasi: Tabel 4. Gambaran Dukungan Keluarga Pasien Kanker yang Menjalani Radioterapi Dukungan Keluarga Frekuensi . Persentase (%) Cukup 23,5% Baik 76,5% Total Sumber: Data Primer. Berdasarkan tabel 4, dapat dilihat bahwa sebagian besar responden mendapatkan dukungan keluarga dalam kategori baik, yaitu sebanyak 26 orang . ,5%). Hasil penelitian ini didukung oleh penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa sebanyak 67% pasien kanker merasakan dampak positif dari dukungan keluarga selama menjalani pengobatan, sementara 33% lainnya menyebutkan bahwa motivasi, baik dari diri sendiri maupun dorongan dari lingkungan sekitar, menjadi pendorong utama dalam menghadapi penyakit (Fudiariyanti. Saudah & Dewi, n. Dukungan keluarga tidak hanya membantu pasien secara fisik, tetapi juga berperan dalam meningkatkan harga diri pasien yang mungkin menurun akibat perubahan fisik, sosial, atau emosional selama sakit. Tantangan selama proses pengobatan membutuhkan dukungan keluarga sebagai wujud dari perhatian, kasih sayang, dan keterlibatan aktif keluarga dalam mendampingi pasien. Semakin besar dan berkualitas dukungan keluarga yang diterima pasien, maka semakin tinggi motivasi dan harapan mereka untuk sembuh (Silaban & Ritonga, 2021. Fitri. Indra & Saputra, 2. Gambaran Cancer-Related Fatigue Pada Pasien yang Menjalani Radioterapi Cancer-related fatigue merupakan salah satu gejala paling umum dan signifikan yang dialami oleh pasien kanker. Berbeda dengan kelelahan biasa, cancerrelated fatigue bersifat menetap, berat, dan tidak membaik meskipun dengan istirahat atau tidur yang cukup. Kondisi ini dapat muncul sebelum, selama, maupun setelah terapi kanker, dan memengaruhi berbagai aspek kehidupan pasien secara fisik, emosional, serta kognitif (Sulistyarini et al. , 2. Berikut adalah gambaran kelelahan kanker pada pasien yang menjalani radioterapi di Radiotherapy Center RS X Bekasi: Jurnal Mitra Kesehatan (JMK) Vol. No. , pp. 78 Ae 87 Tabel 5. Gambaran Cancer-Related Fatigue Pasien Kanker yang Menjalani Radioterapi CRF Frekuensi . Persentase (%) Kelelahan Berat 2,9% Kelelahan Tidak Berat 97,1% Total Sumber: Data Primer. Berdasarkan tabel 5, dapat dilihat bahwa sebagian besar responden mengalami kelelahan tidak berat, yaitu sebanyak 33 orang . ,1%). Cancer-related fatigue dapat menyebabkan penurunan energi, motivasi, dan kemampuan pasien dalam menjalankan aktivitas sehari-hari, sehingga berdampak langsung pada penurunan kualitas hidup. Menurut laporan lebih dari 70% pasien kanker mengalami cancer-related fatigue. Kondisi ini juga menyebabkan gangguan konsentrasi, perasaan tidak berdaya, serta kecenderungan untuk menarik diri dari lingkungan sosial (Sulistyarini et al. , 2. Sedangkan secara fisiologis, cancerrelated fatigue berkaitan erat dengan stres yang memicu pelepasan hormon Corticotropin Releasing Factor dari hipotalamus. Hormon ini berdampak pada sistem imun, kualitas tidur, dan kestabilan emosi, sehingga memperkuat persepsi lelah individu (Larasati & Noni, 2. Hubungan Antara Kecemasan dengan Cancer-Related Fatigue Kecemasan merupakan salah satu faktor psikologis yang diduga berkontribusi terhadap munculnya kelelahan akibat kanker atau cancer-related fatigue. Berikut adalah hasil analisis yang membuktikan hubungan antara kedua variabel tersebut: Tabel 6. Hubungan Kecemasan Dengan Cancer-Related Fatigue Variabel P-value Kecemasan -0,293 0,092 Sumber: Data Primer. Uji SpearmanAos rho Berdasarkan analisis dengan uji korelasi Spearman rho diperoleh p-value sebesar 0,092 > 0,05, sehingga AuHo gagal ditolakAy yang artinya tidak terdapat hubungan signifikan antara kecemasan dengan cancer-related fatigue pada pasien kanker yang menjalani radioterapi di RS X Bekasi. Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian sebelumnya. Sebagian besar penelitian menunjukkan bahwa kecemasan memiliki hubungan yang cukup signifikan dengan cancer-related fatigue. Pasien yang mengalami kecemasan, depresi, dan stres cenderung menunjukkan tingkat cancer-related fatigue yang lebih tinggi, karena faktor psikologis tersebut secara bersamaan memengaruhi kondisi fisik dan emosional pasien (Werdani. Lilyana & Putri, 2. Namun, kecemasan tidak selalu menjadi kondisi yang menyebabkan pasien mengalami cancer-related Terjadinya cancer-related fatigue dapat dipengaruhi oleh faktor biologis kanker itu sendiri, kondisi fisik individu, proses pengobatan, maupun faktor fisik dan psikologis lainnya (Menga. Lilianty & Irwan, 2. Perbedaan hasil penelitian Jurnal Mitra Kesehatan (JMK) Vol. No. , pp. 78 Ae 87 juga dapat disebabkan karena perbedaan respons pasien terhadap kecemasan yang Ada pasien yang mengalami kecemasan, namun tidak mengalami cancer-related fatigue, karena mekanisme kopingnya adaptif dan kondisi psikologis pasien baik (Retnaningsih et al. , 2. Hubungan Antara Dukungan Keluarga dengan Cancer-Related Fatigue Dukungan keluarga berperan penting dalam membantu pasien kanker menghadapi efek samping pengobatan, termasuk kelelahan akibat kanker . ancer related fatigu. Berikut adalah hasil analisis yang membuktikan hubungan antara kedua variabel tersebut: Tabel 7. Hubungan Dukungan Keluarga Dengan Cancer-Related Fatigue Variabel P-value Dukungan Keluarga -0,196 0,267 Sumber: Data Primer. Uji SpearmanAos rho Berdasarkan analisis dengan uji korelasi Spearman rho diperoleh p-value sebesar 0,267 > 0,05, sehingga AuHo gagal ditolakAy yang artinya tidak terdapat hubungan signifikan antara dukungan keluarga dengan cancer-related fatigue pada pasien kanker yang menjalani radioterapi di RS X Bekasi. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Fitri et al. , 2024, yang menunjukkan secara statistik tidak ditemukan hubungan yang signifikan antara tingkat dukungan keluarga dengan tingkat kelelahan . = 0,. , meskipun dukungan keluarga tinggi, hal tersebut tidak selalu berbanding lurus dengan penurunan kelelahan (Fitri. Indra & Saputra, 2. Dukungan keluarga bukan merupakan satu-satunya hal yang memengaruhi keparahan kelelahan yang dirasakan pasien. Hubungan antara dukungan keluarga dengan cancer-related fatigue tidak selalu bersifat langsung. Hal ini disebabkan karena kelelahan pasien kanker dipengaruhi oleh berbagai aspek, baik fisiologis, psikologis, maupun sosial. Dukungan keluarga sering kali dianggap sebagai salah satu faktor yang mampu meningkatkan resiliensi dan motivasi pasien. Bentuk dukungan ini mencakup dimensi instrumental, informatif, penilaian, dan emosional yang dapat memberikan rasa diperhatikan, menumbuhkan semangat, serta memperkuat kemampuan pasien dalam menghadapi efek samping pengobatan dan stres (Fitri. Indra & Saputra. Selain itu, aspek psikologis seperti stres, kecemasan, dan depresi turut memperburuk intensitas kelelahan. Selain itu, kondisi klinis pasien, seperti stadium dan tingkat keparahan kanker, juga menjadi faktor yang mempengaruhi kelelahan/ cancer-related fatigue. Pasien dengan stadium lanjut umumnya mengalami kelelahan yang lebih berat dan menetap akibat beban penyakit yang tinggi dan terapi yang lebih agresif. Faktor lain seperti status nutrisi, kondisi mental, serta kemampuan individu dalam beradaptasi turut memengaruhi persepsi dan intensitas Dengan demikian, meskipun dukungan keluarga memiliki peranan Jurnal Mitra Kesehatan (JMK) Vol. No. , pp. 78 Ae 87 penting dalam proses perawatan dan pemulihan pasien, hal tersebut tidak bisa secara langsung menurunkan tingkat kelelahan pasien (Fitri. Indra & Saputra, 2. Hasil analisis menunjukkan tidak terdapat hubungan signifikan antara kedua variabel . ecemasan dan dukungan keluarg. dengan cancer-related fatigue yang dapat disebabkan oleh adanya faktor lain yang lebih dominan, seperti kondisi fisiologis, stadium kanker, efek pengobatan, status nutrisi, serta mekanisme koping individu dalam menghadapi penyakit. Sehingga, penelitian selanjutnya disarankan untuk menggunakan jumlah sampel yang lebih besar dan mempertimbangkan variabel lain seperti tingkat depresi, status nutrisi, mekanisme koping, stadium kanker, serta jenis terapi yang dijalani. Penggunaan metode longitudinal juga dapat memberikan gambaran yang lebih mendalam mengenai perubahan kecemasan dan kelelahan selama periode pengobatan. KESIMPULAN Hasil penelitian mengenai hubungan kecemasan dan dukungan keluarga dengan cancerrelated fatigue pasien kanker yang menjalani radioterapi di RS X Bekasi, dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat kecemasan dengan cancer-related fatigue . = 0,092. r = -0,. Hal ini menunjukkan tingkat kecemasan tidak menunjukkan hubungan yang signifikan dengan tingkat cancer-related fatigue pada pasien kanker yang menjalani radioterapi. Selain itu, tidak terdapat hubungan yang signifikan antara dukungan keluarga dengan cancer-related fatigue . = 0,267. r = -0,. Berdasarkan hasil penelitian, meskipun dukungan keluarga memiliki peran penting dalam aspek psikologis pasien, faktor tersebut tidak menunjukkan hubungan yang signifikan dengan tingkat cancer-related fatigue pada pasien kanker yang menjalani radioterapi. UCAPAN TERIMA KASIH Terima kasih ditujukan kepada Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Mitra Keluarga yang telah memberikan dukungan berupa pendanaan dan administratif lainnya, sehingga penelitian ini dapat dilaksanakan. DAFTAR PUSTAKA