ISSN : 2460-9684 [VOLUME: 02 Ae NOMOR 02 Ae April 2. EVALUASI PROSES PENGEMBANGAN DAN PENERAPAN CLINICAL PATHWAY KASUS STROKE ISKEMIK AKUT DI RUMAH SAKIT ANUTAPURA KOTA PALU Diah Mutiarasari1. Rizaldy Taslim Pinzon2. Gunadi3 1 Program Pascasarjana Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada 2Bagian Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Duta Wacana 3Bagian Bedah Anak Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada Korespondensi: ms. diah@yahoo. ABSTRAK Latar belakang: Stroke memiliki angka kematian dan kecacatan yang tinggi. Stroke menjadi penyebab nomor 1 admisi pasien ke rumah sakit. Penggunaan clinical pathway dapat mengurangi variasi dalam tindakan medis untuk kondisi klinis yang sama sehingga meningkatkan kualitas pelayanan stroke. Penelitian mengenai pengembangan clinical pathway sesuai Integrated Clinical Pathway Appraisal Tools (ICPAT) di Indonesia masih sangat terbatas. Tujuan: Penelitian ini bertujuan mengevaluasi proses pengembangan dan penerapan clinical pathway kasus stroke iskemik akut di RS Anutapura Kota Palu. Metode: Rancangan Penelitian ini adalah action research. Pengumpulan data dilakukan dengan triangulasi metode melalui wawancara terstruktur, diskusi kelompok terarah, survei, observasi, dan telaah dokumen. Integrated Clinical Pathway Appraisal Tools (ICPAT) digunakan sebagai alat ukur. Subyek penelitian sebanyak 25 responden terdiri dari petugas kesehatan RS Anutapura dan tim clinical pathway, 1 responden keluarga pasien dan 30 responden pasien yang dirawat inap di bagian saraf RS Anutapura yang memenuhi kriteria eligibilitas. Hasil: Pada proses pengembangan hasil evaluasi dengan ICPAT menunjukkan dimensi 1 terpenuhi persyaratan secara keseluruhan. Dimensi 1 memberikan kepastian bahwa dokumen yang dikembangkan merupakan clinical Pada proses penerapan clinical pathway dilakukan evaluasi uji coba clinical pathway stroke iskemik akut sejak pasien masuk RS sampai pasien diijinkan keluar RS. Indikator proses pelayanan yang dinilai adalah pemeriksaan EKG sebesar 100%, penilaian kemampuan menelan sebesar 100%, pemberian antiplatelet . spirin 80mg atau clopidogrel 75m. diberikan 24-48 jam sejak masuk RS sebesar 100%, pemberian anti platelet . spirin 325mg atau clopidogrel 300m. diberikan 24-48 jam sejak masuk RS sebesar 46,7 % dan penilaian status gizi dan diet seawal mungkin sebesar 100%. Kepatuhan pengisian clinical pathway dokter dan case manager mencapai 80%. Kesimpulan: Berdasarkan evaluasi CP baru stroke iskemik akut menunjukkan kesesuaian dengan ICPAT. Sinergi seluruh manajemen RS, clinical champion, dokter spesialis saraf dan tim multidisiplin menjadi kunci keberhasilan pengembangan dan penerapan clinical pathway. Kata Kunci: clinical pathway. ICPAT, stroke, action research. Berkala Ilmiah Kedokteran Duta Wacana https://doi. org/10. 21460/bikdw. [VOLUME: 02 Ae NOMOR 02 Ae April 2. ISSN : 2460-9684 CLINICAL PATHWAY IMPLEMENTATION OF ACUTE ISCHEMIC STROKE CASES IN ANUTAPURA MUNICIPAL HOSPITAL PALU Diah Mutiarasari1. Rizaldy Taslim Pinzon2. Gunadi3 1 The Graduate School of Medical Faculty of Gadjah Mada University 2 Medical Faculty of Duta Wacana Christian University 3Surgery Departement of Medical Faculty of Gadjah Mada University Correspondence: ms. diah@yahoo. ABSTRACT Background: Stroke has high mortality and disability rates. Stroke is the number one cause of death in hospital admission. The usage of clinical pathway can reduce variation in medical action for similar clinical condition, thus improving the quality of stroke treatment. Study on the development of clinical pathway by Integrated Clinical Pathway Appraisal Tools (ICPAT) in Indonesia is very limited. Aim: This study was aimed to evaluate development and implementation processes of clinical pathway of acute ischemic stroke cases in RS Anutapura of Palu. Method: The research design was action research. Data collection was performed by triangulation method using structures interview, focused group discussion, survey, observation, and document analysis. Integrated Clinical Pathway Appraisal Tools (ICPAT) used as a measuring tool. The research subjects were 25 respondents from health workers of RS Anutapura and clinical pathway team, 1 respondent from patientAos family, and 30 patients hospitalized in the neurological department of RS Anutapura, who met eligibility criteria. Result: The development process of evaluation result using ICPAT showed dimension 1 met overall requirements. Dimension 1 gave certainty that the developed document was clinical pathway. In the implementation process of clinical pathway, an evaluation of clinical pathway trial on acute ischemic stroke since patient was admitted to hospital until patient was released from hospital. The assessed indicators of service process 100% EKG examination, 100% ability to swallow, 100% administration of antiplatelet . mg aspirin or 75 mg clopidogre. 24-48 hours since admission to hospital, 46,7% administration of antiplatelet . mg aspirin or 300 mg clopidogre. 24-48 hours since admission to hospital and 100% nutritional status assessment and stroke diet. Compliance to fill the clinical pathway of doctors and case managers was 80%. Conclusion: Based on new clinical pathway evaluation of acute ischemic stroke, there was compliance with ICPAT. The synergy of the entire hospital management, clinical champion, neurologists and multidisciplinary team was the key to successful development and implementation of clinical pathway. Keywords: clinical pathway. ICPAT, stroke, action research. Berkala Ilmiah Kedokteran Duta Wacana https://doi. org/10. 21460/bikdw. ISSN : 2460-9684 [VOLUME: 02 Ae NOMOR 02 Ae April 2. PENDAHULUAN Era Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) ditunjuk menyelenggarakan sistem pelayanan kesehatan dengan kerangka kendali mutu dan kendali biaya sehingga menghasilkan pelayanan kesehatan yang bermutu dengan biaya yang Salah satu program mutu pelayanan di rumah sakit dengan safety yang mengacu pada standar Joint Commicion International (JCI), yakni dengan menggunakan clinical pathway untuk meningkatkan mutu dan keselamatan pasien. Clinical didefinisikan sebagai pendekatan multidisiplin berbasis bukti yang tahapanAetahapan penting dalam memberikan pelayanan terhadap pasien. 3 Penerapan clinical pathway dapat meningkatkan kualitas pelayanan, sehingga diharapkan di setiap rumah sakit dapat melaksanakan clinical pathway yang sesuai standar yaitu clinical pathway yang disusun dengan menggunakan Integrated Clinical Pathway Appraisal Tools (ICPAT). Pemberlakuan ternyata mampu menurunkan lama rawat inap, menurunkan angka proses dokumentasi, dan menurunkan biaya perawatan. 4 Mengevaluasi dampak clinical pathway, maka terlebih dahulu melakukan standarisasi terhadap formulir clinical Pemilihan topik untuk sebuah clinical pathway haruslah sebuah kondisi klinik yang memiliki syarat sebagai berikut: high volume/ kasus terbanyak, high risk/ pelayanan berisiko tinggi, high cost/ berbiaya multidisciplinary/ melibatkan banyak bagian yang terlibat aktif dalam penanganan pasien. 6 Penyakit stroke dipilih karena mendukung syaratsyarat clinical pathway. Stroke kecacatan yang tinggi. Di Negara maju stroke menjadi penyebab nomor 1 admisi pasien ke rumah sakit, dengan proporsi kematian sebanyak dalam 28 hari pertama 7 Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesda. Tahun 2013 bahwa prevalensi stroke di Sulawesi Tengah sebesar 16,6A lebih tinggi dibandingkan prevalensi stroke di Indonesia 12,1A . Penelitian ini bertujuan untuk untuk melakukan evaluasi terhadap proses pengembangan dan penerapan clinical pathway dengan menggunakan instrumen yang sesuai standar dan telah divalidasi yaitu Integrated Clinical Pathway Appraisal Tools (ICPAT), sehingga diharapkan clinical pathway yang dijalankan bukan hanya sesuai standar, namun juga dengan kualitas terbaik dan dapat memberikan kontribusi yang bermakna terhadap peningkatan indikator mutu proses pelayanan di RS Anutapura untuk mewujudkan sistem pelayanan stroke yang terorganisir dan berkualitas sehingga memenuhi kepuasaan pasien. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan disain penelitian action research. Disain penelitian ini dipilih karena Penelitian melibatkan secara aktif subyek pengembangan dan penerapan clinical pathway stroke iskemik akut. Pada penelitian ini, peneliti berfungsi sebagai fasilitator bagi tim multidisiplin Studi dilaksanakan di RS Anutapura Kota Palu pada bulan April - September 2016. Pengumpulan data dilakukan dengan triangulasi metode melalui Berkala Ilmiah Kedokteran Duta Wacana [VOLUME: 02 Ae NOMOR 02 Ae April 2. kelompok terarah, survei, observasi, dan telaah dokumen. Penilaian kesesuaian clinical pathway pada proses pengembangan dan penerapan dengan menggunakan instrumen Integrated Clinical Pathway Appraisal Tools (ICPAT). Subyek penelitian sebanyak 25 responden petugas kesehatan RS Anutapura yang terdiri dari Wakil Direktur Pelayanan. Kepala Bidang Pelayanan Medis. Kepala Bidang Anggaran dan Program. Kepala Bidang Keperawatan. Ketua Komite Medik. Kepala Instalasi IGD dan tim keluarga pasien dan 30 responden pasien yang dirawat inap di bagian saraf RS Anutapura berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Kriteria Inklusi adalah: . pasien baru dengan diagnosis utama stroke iskemik onset < 24 jam, . usia pasien > 18 tahun, . pasien yang dirawat inap dengan penggunaan clinical pathway dan . pasien dengan serangan pertama. Kriteria Eksklusi adalah . pasien rujukan, . pasien pulang paksa, dan . pasien dirawat di Intensive Care Unit (ICU). Pengambilan sampel dilakukan dengan cara pengambilan sampel non probabilistik yakni purposive sampling. Analisis data pada penelitian ini dilakukan dengan menggunakan analisis kualitatif dan analisis kuantitatif. ISSN : 2460-9684 HASIL PENELITIAN Responden kualitatif pada penelitian ini terbagi 2 kelompok Anutapura sebanyak 22 orang dan sebanyak 31 orang. Responden kualitatif petugas kesehatan RS Anutapura terdiri dari laki-laki 5 . ,7%) dan perempuan 17 . ,3%). Berdasarkan usia, jumlah terbanyak responden berusia 31Ae50 tahun, . ,6%). Responden kualitatif pasien atau keluarga pasien terdiri dari laki-laki 9 . %) dan perempuan 22 . %). Berdasarkan usia, jumlah terbanyak responden berusia 46Ae60 tahun, yaitu 16 responden . ,6%). Responden kuantitatif adalah petugas kesehatan RS Anutapura Palu sebanyak 10 orang yang akan disurvei menggunakan kuesioner dengan tujuan untuk mengetahui tingkat pemahaman dan penerimaan Responden kesehatan RS Anutapura terdiri laki-laki . %) perempuan 7 . %). Berdasarkan usia, jumlah terbanyak responden berusia 31-50 tahun, yaitu 6 . %). Responden penelitian selain petugas kesehatan, tedapat 30 orang pasien rawat inap di bagian saraf RS Anutapura yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi, dimana pasien tersebut terlibat pada proses pengembangan dan penerapan clinical pathway baru stroke iskemik akut. Tabel 1. Karakteristik pasien stroke iskemik akut yang dirawat inap dengan menggunakan clinical pathway Karakteristik Penerapan clinical pathway . n (%) Jenis kelamin Laki-laki 17 . Perempuan 13 . Kelompok usia 18 Ae 45 tahun 2 . 46 Ae 60 tahun 17 . Berkala Ilmiah Kedokteran Duta Wacana ISSN : 2460-9684 [VOLUME: 02 Ae NOMOR 02 Ae April 2. Karakteristik 61 Ae 80 tahun > 80 tahun Penurunan kesadaran Composmentis (GCS : . Somnolen (GCS : 13-. Sopor (GCS : 9-. Onset < 3 jam 3 - 6 jam 6 - 12 jam 12 Ae 24 jam Wajah perot Tidak Afasia/disatria Tidak Parese anggota gerak Kanan Kiri Tidak ada parese Faktor risiko Hipertensi Diabetes Merokok Dislipidemia Penyakit jantung Obesitas Kelas perawatan VVIP/VIP i Penerapan clinical pathway . n (%) 10 . Tabel menunjukkan jumlah karakteristik pasien stroke iskemik akut berdasarkan jenis kelamin terbanyak adalah laki-laki, yaitu 17 responden . ,7%). Berdasarkan usia, jumlah terbanyak responden berusia 46-60 tahun, yaitu 17 responden . ,7%). Kesesuaian Clinical Pathway Stroke Iskemik Akut dengan ICPAT Integrated Care Clinical Pathways Appraisal Tools (ICPAT) merupakan instrumen yang digunakan peneliti untuk menilai kesesuaian clinical pathway stroke iskemik akut yang telah diterapkan di RS Anutapura. Hasil evaluasi dapat dilihat sebagai berikut: Berkala Ilmiah Kedokteran Duta Wacana [VOLUME: 02 Ae NOMOR 02 Ae April 2. Tabel 2. Dimensi ICPAT Clinical Pathway Lama Konten (%) Mutu (%) Dimensi 1 Dimensi 2 Dimensi 3 Dimensi 4 Dimensi 5 Dimensi 6 Dimensi 1: Apakah benar clinical pathway? Berdasarkan hasil evaluasi terhadap clinical pathway lama yang telah diterapkan sejak tahun 2013 di RS Anutapura dengan menggunakan ICPAT pada dimensi 1 tentang identifikasi clinical pathway didapatkan bahwa hasil perbandingan clinical pathway lama dan clinical pathway baru terdapat peningkatan kesesuaian konten clinical pathway lama 40% menjadi 100% pada clinical pathway baru, sedangkan kesesuaian mutu terdapat peningkatan clinical pathway lama 0% menjadi 100% pada clinical pathway baru. Dimensi Dokumentasi clinical pathway. Berdasarkan hasil evaluasi terhadap clinical pathway dengan menggunakan ICPAT pada dimensi 2 tentang dokumentasi clinical pathway didapatkan bahwa hasil perbandingan clinical pathway lama dan clinical pathway baru terdapat peningkatan kesesuaian konten clinical pathway lama 0% menjadi 95,6% pada clinical pathway baru, sedangkan kesesuaian mutu pathway lama 0% menjadi 100% pada clinical pathway baru. Dimensi Proses Berdasarkan hasil evaluasi terhadap clinical pathway dengan mengguna kan ICPAT pada dimensi 3 tentang pathway didapatkan bahwa hasil perbandingan clinical pathway lama dan clinical pathway baru terdapat Berkala Ilmiah Kedokteran Duta Wacana ISSN : 2460-9684 Clinical Pathway Baru Konten (%) Mutu (%) clinical pathway lama 7,7% menjadi 100% pada clinical pathway baru, sedangkan kesesuaian mutu terdapat peningkatan clinical pathway lama 0% menjadi 94,1% pada clinical pathway baru. Dimensi 6: Peran organisasi terhadap clinical pathway. Berdasarkan hasil evaluasi terhadap clinical pathway dengan menggunakan ICPAT pada dimensi 6 tentang peran organisasi terhadap clinical pathway didapatkan bahwa hasil perbandingan clinical pathway lama dan clinical pathway baru terdapat clinical pathway lama 33,3% menjadi 100% pada clinical pathway baru, sedangkan kesesuaian mutu terdapat peningkatan clinical pathway lama 8,3% menjadi 91,6% pada clinical pathway baru. Proses Pengembangan Penerapan Clinical Pathway Proses pengembangan clinical Proses pengembangan Panduan Praktik Klinis (PPK) dan clinical pathway kasus stroke iskemik akut diselesaikan dalam jangka waktu 4 minggu, dimana peneliti berperan sebagai fasilitator. Panduan Praktik Klinis (PPK) dan clinical pathway disusun tim multidisiplin yang Komite Medis. Tahapan proses pengembangan diawali dengan adanya keputusan pimpinan RS Anutapura untuk mengembangkan PPK dan clinical pathway yang ISSN : 2460-9684 [VOLUME: 02 Ae NOMOR 02 Ae April 2. Clinical champion berperan sebagai pengembangan clinical pathway baru kasus stroke iskemik akut adalah kepala SMF saraf. Koordinator tim tersebut bertugas membentuk tim pengembang clinical pathway yang memiliki komitmen pada proses perubahan, memotivasi, mendukung evidence based best practice, dan pengembangan clinical pathway. Tim pathway tersebut terdiri dari dokter perawat, apoteker/ farmasi klinik. Melaksanakan workshop pengembangan dan penerapan clinical pathway yang dihadiri oleh manajemen RS Anutapura dan tim pengembangan clinical pathway dan dilakukan dengan beberapa kali menghasilkan draft sementara PPK dan clinical pathway. Konsensus dilakukan dengan seluruh tim clinical pathway di ruang rapat komite medik selama A 5 jam. Hasil konsensus tersebut menghasilkan PPK dan penerapan uji coba. Pada proses pengembangan clinical pathway baru stroke iskemik akut melibatkan perwakilan salah satu keluarga pasien untuk mereview clinical pathway dalam hal memastikan kerahasiaan pasien. Proses penerapan uji coba clinical pathway Pada proses penerapan clinical pathway dilakukan uji coba untuk melihat kemampuan pelaksanaan clinical pathway. Sosialisasi dilakukan peneliti sebelum uji coba penerapan clinical pathway. Hasil sosialisasi adalah respon positif dari semua pihak yang terlibat, juga terdapat masukan yang diberikan dalam hal tekhnis untuk penerapan uji coba. Edukasi juga dilakukan peneliti saat uji coba dengan cara mendatangi langsung ke IGD atau ruang perawatan pasien stroke iskemik akut yang menggunakan clinical pathway. Clinical pathway stroke iskemik akut di bagian saraf RS Anutapura menjalani masa penerapan uji coba sejak bulan Mei sampai September 2016 dengan jumlah sampel uji coba sebanyak 30 pasien dan selama proses uji coba pelaksanaannya dibantu oleh case manager. Dokter spesialis saraf berperan sebagai pelayanan asuhan medis pasien stroke iskemik akut yang disebut Dokter Penanggung Jawab Pelayanan (DPJP). Pada penerapan uji coba clinical pathway stroke iskemik. DPJP, case manager, perawat, dan pelayanan sejak pasien masuk RS sampai pemulangan. Penerapan clinical pathway dapat digunakan sebagai salah satu alat evaluasi penilaian variasi dalam rangka meningkatkan mutu dan Selama penerapan uji coba clinical pathway, terdapat variasi dalam pelayanan. Analisis variasi dilakukan oleh peneliti dan tim clinical pathway pada saat penerapan uji coba. Evaluasi Clinical Pathway Proses pelayanan Indikator proses pelayanan yang dinilai pada pelayanan pasien stroke iskemik sejak pasien masuk ke IGD sampai ke ruang perawatan. Berkala Ilmiah Kedokteran Duta Wacana [VOLUME: 02 Ae NOMOR 02 Ae April 2. ISSN : 2460-9684 Tabel 3. Indikator proses pelayanan penerapan clinical pathway baru Penerapan clinical pathway . Indikator Proses n(%) EKG dikerjakan pada saat masuk RS Penilaian kemampuan menelan pada saat masuk RS Anti platelet (Aspirin 80mg atau Clopidogrel 75m. diberikan 24-48 jam sejak masuk RS Anti platelet (Aspirin 325mg atau Clopidogrel 300m. diberikan 24-48 jam sejak masuk RS Penilaian status gizi dan diet stroke seawal mungkin 30 . Luaran pasien Saat dilakukan audit outcome pasien yang harus dicapai. Sebelum pasien keluar dari RS berupa penilaian defisit neurologis dengan National Institute of Health Stroke Scale (NIHSS), penilaian status fungsional (Modified Rankin Scal. dan lama hari rawat. Tabel 4. Indikator luaran penerapan clinical pathway baru (%) Penerapan clinical Indikator Luaran pathway . n(%) National Institutes of Health Stroke Scale (NIHSS) < 5 . efisit neurologi ringa. 6 Ae 14 . efisit neurologi sedan. 15 Ae 24 . efisit neurologi bera. > 25 . efisit neurologi sangat bera. Modified Rankin Scale (MRS) Tidak ada gejala Tidak ada disabilitas, terdapat gejala minimal 12 . Disabilitas ringan Disabilitas sedang 1 . Disabilitas sedang berat Disabilitas berat Meninggal Lama hari rawat < 7 hari 15 . 7 hari 6 . > 7 hari 9 . Lama hari rawat merupakan salah satu indikator luaran pasien. Rerata lama hari rawat adalah 6,7 hari A 2,5 hari . entang 3-16 har. untuk keseluruhan pasien stroke iskemik yang menggunakan clinical pathway. Kepatuhan pengisian clinical Kepatuhan pengisian clinical pathway pada penelitian ini adalah penilaian kelengkapan pengisian clinical pathway baru stroke iskemik Berkala Ilmiah Kedokteran Duta Wacana akut sesuai Panduan Praktik Klinis (PPK) oleh dokter dan case manager. Berdasarkan hasil penelitian bahwa tingkat kepatuhan pengisian clinical pathway baru pada pasien stroke iskemik akut di bagian saraf RS Anutapura sebesar 80%, adapun tidak patuh sebesar 20% karena adanya variasi yang timbul selama proses perawatan pasien. ISSN : 2460-9684 [VOLUME: 02 Ae NOMOR 02 Ae April 2. Faktor hambatan dan faktor pendukung pengembangan dan penerapan clinical pathway Pada penelitian ini terdapat pengembangan dan penerapan clinical Faktor hambatan adalah belum optimalnya management system belum diterapkan dengan baik, ketersediaan sumber daya masih kurang, dan belum adanya program pelatihan komprehensif terkait penggunaan clinical pathway sehingga mempengaruhi lancarnya proses pengembangan dan penerapan uji coba clinical pathway stroke iskemik di RS Anutapura. Faktor pendukung dalam proses pengembangan dan penerapan uji coba clinical pathway baru stroke iskemik akut adalah dukungan pihak dukungan clinical champion RS sebagai koordinator tim clinical pathway serta tim multidisiplin clinical pathway sehingga sangat mempengaruhi perubahan budaya Anutapura khususnya pada bagian saraf. Pada clinical pathway mempunyai banyak manfaat jika diterapkan dengan baik di pelayanan, utamanya dapat sehingga dapat mengubah persepsi dokter mengenai clinical pathway dan tidak menolak untuk menggunakan clinical pathway mutu pelayanan dan keselamatan kepercayaan masyarakat terhadap Anutapura. Disain pathway yang dibuat tidak terlalu pathway, cara pengisian dengan menambah beban kerja petugas. PEMBAHASAN Kesesuaian Clinical Pathway Stroke Iskemik Akut dengan ICPAT Hasil evaluasi clinical pathway baru stroke iskemik dengan ICPAT berdasarkan hasil self assessment dimensi 1 dapat dipastikan bahwa dokumen clinical pathway yang dikembangkan bagian saraf RS Anutapura adalah benar sebuah clinical pathway. Temuan penelitian Whittle yang menyatakan bahwa clinical pathway seyogyanya dimensi 1 karena dianggap dokumen Temuan ini memiliki implikasi yang penting bagi banyak lembaga layanan kesehatan yang telah menggunakan clinical pathway secara terencana guna mewujudkan perawatan teratur, efektif, berbasis bukti dan berkesinambungan. Proses Pengembangan Penerapan Clinical Pathway Pengembangan Rumah sakit dalam melaksanakan fungsinya, sebaiknya dapat meminimalkan risiko yang mungkin terjadi selama proses pelayanan kesehatan berlangsung sehingga pelayanan bermutu tinggi sebagai salah satu tujuan utama dari sistem kesehatan nasional dapat tercapai. Upaya peningkatan mutu di RS dapat dilaksanakan secara efektif melalui clinical governance, yang meliputi adanya komitmen, meningkatkan mutu pelayanan dan asuhan pasien secara berkesinambungan, memberikan pelayanan dengan pendekatan yang berfokus pada pasien, dan mencegah clinical medical error. Mengurangi adanya variasi dalam tindakan medis untuk kondisi klinis yang sama merupakan cara yang Berkala Ilmiah Kedokteran Duta Wacana [VOLUME: 02 Ae NOMOR 02 Ae April 2. paling efektif dalam meningkatkan mutu pelayanan di RS. Pelayanan kesehatan dengan clinical governance mempertahankan dan meningkatkan mutu pelayanan, namun dapat dilakukan ketika infrastruktur RS memberikan dukungan kuat baik aspek klinis maupun non klinis. 10,11,12 Clinical pathway baru stroke iskemik akut telah melewati 7 dari 8 tahapan dalam proses pengembangan clinical pathway. Tahapan yang belum dilakukan pada penelitian ini berdasarkan guideline menurut Davis et al yaitu melakukan review clinical pathway secara teratur ketika penerapan penuh telah dilakukan. Pengembangan PPK dan clinical pathway merupakan proses panjang dan intensif yang disusun berdasarkan bukti ilmiah dan disesuaikan dengan kondisi RS. Temuan ini sesuai dengan penelitian Siebens et al bahwa pengembangan clinical pathway merupakan proses yang melelahkan dan rutin dimana petugas kesehatan yang heterogen berpartisipasi aktif dan mengubah praktik pelayanan yang ada. Pengembangan clinical pathway baru stroke iskemik melibatkan tim multidisiplin RS Anutapura. Penelitian Roymeke dan Stummer bahwa pengembangan clinical pathway oleh penyedia layanan melibatkan banyak kelompok profesional yakni dokter, perawat, terapis dan staf lainnya. Penelitian Huang et al menunjukkan memberikan koordinasi pelayanan bagi pengguna clinical pathway dengan tujuan untuk memiliki AyorangAy yang tepat, melakukan hal yang benar, melakukan tindakan dengan tahapan yang benar, pada waktu yang tepat, di tempat yang tepat, dengan hasil yang tepat. Berkala Ilmiah Kedokteran Duta Wacana ISSN : 2460-9684 Penerapan clinical pathway Pelaksanaan pengembangan dan penerapan clinical pathway dengan melibatkan staf klinis dan manajemen merupakan salah satu kunci keberhasilan sebelum melakukan proses penerapan clinical pathway yang 1 Clinical pathway sebaiknya dapat mengakomodir adanya variasi dalam penerapan clinical pathway, sehingga clinical pathway sebaiknya bersifat fleksibel dalam Sebuah pathway harus mampu mengantisipasi timbulnya variasi 20-40% dari populasi pasien. Variasi dalam penerapan clinical pathway dapat digunakan sebagai alat untuk melakukan audit medis dan manajemen sehingga dapat menjaga dan meningkatkan mutu Evaluasi Clinical Pathway Proses pelayanan Evaluasi clinical pathway dalam penerapan clinical pathway sebaiknya dilakukan secara rutin dan Clinical merupakan instrumen manajemen strategis yang berfungsi sebagai alat pengendalian biaya dan dapat berkontribusi dalam transparansi melakukan penyediaan layanan. Sistem pelayanan kesehatan yang baik dapat melakukan pemantauan . secara berkala. Clinical pathway menunjukkan bahwa adanya perbaikan dalam proses pelayanan sehingga mempengaruhi luaran pasien stroke. Proses yang baik meliputi visite oleh dokter konsultan < 24 jam pasca admisi, pemeriksaan CT Scan dalam waktu 24 jam pasca admisi, fisioterapi dalam waktu 72 jam pasca admisi, pasien yang datang dengan onset kurang dari 4 jam dirawat di unit stroke multidisiplin, pemberian antiplatelet sesegera mungkin dan ISSN : 2460-9684 [VOLUME: 02 Ae NOMOR 02 Ae April 2. esesmen fungsi menelan dan kebutuhan nutrisi. Luaran Pasien Luaran klinis pasien stroke akut National Institutes of Health Stroke Scale (NIHSS). Indikator luaran pasien stroke umumnya digambarkan pada status fungsional pasca serangan, angka kematian dan lama hari perawatan pasien stroke. Status fungsional dinilai dengan skala Rankin yang dimodifikasi. Beberapa penelitian membuktikan efektif dan efisien sebuah clinical pathway dalam memperbaiki luaran klinis sebagai kondisi penyakit. Penerapan clinical pathway dapat menurunkan angka kematian pada 7 hari perawatan di RS (OR=0,10, 95%CI: 0,01-0,. Rata-rata lama hari perawatan pada penelitian ini adalah 6,7 hari untuk keseluruhan clinical pathway. Penelitian Huang et al menyatakan bahwa rerata lama hari perawatan menggunakan clinical pathway lebih dibandingkan dengan pasien yang dirawat inap tanpa menggunakan kepuasaan pasien terlihat lebih tinggi pada pasien yang meng-gunakan clinical pathway. Kepatuhan pengisian clinical Kepatuhan dokter dan case manager dalam melakukan pengisian clinical pathway baru stroke iskemik di RS Anutapura mencapai 80%. Pencapaian ini berhasil karena profesi . okter, case manager, perawat, dan staf pendukung lai. Case manager diharapkan membantu kelancaran pengisian clinical clinical pathway, dan memudahkan analisis varian dan proses audit. Case manager mempunyai peran sangat penting dalam mengawasi jalanya clinical pathway. 10,19 Faktor hambatan dan faktor pengembangan dan penerapan clinical pathway Pada penelitian ini didapatkan faktor hambatan yang berhubungan dengan penerapan uji coba clinical pathway adalah belum optimalnya management system belum diterapkan dengan baik, ketersediaan sumber daya masih kurang, dan belum adanya program pelatihan komprehensif terkait penggunaan clinical pathway sehingga mempengaruhi lancarnya proses pengembangan dan penerapan uji coba clinical pathway. Temuan hasil Cheah sebagai fasilitator dan evaluator yang berperan untuk melakukan pengawasan ketat dalam pengisian dan penerapan clinical pathway pada masa uji coba. 10 Temuan hasil penelitian Evans-Lacko et al bahwa kunci keberhasilan dalam uji coba manager yang memastikan clinical pathway dapat berjalan dengan baik. Sumber daya penggunaan pathway, pergantian staf RS, kurangnya kesadaran, kurangnya evaluasi dan feedback implementasi care pathway. Faktor pendukung dalam proses pengembangan dan penerapan uji coba clinical pathway baru stroke iskemik akut adalah sinergi seluruh manajemen RS, adanya clinical champion RS dan keterlibatan aktif tim multidisiplin. Temuan hasil penelitian Evans-Lacko, et al bahwa kunci keberhasilan dalam penggunaan clinical pathway ini terletak Berkala Ilmiah Kedokteran Duta Wacana [VOLUME: 02 Ae NOMOR 02 Ae April 2. secara lintas disiplin ilmu. KESIMPULAN Evaluasi clinical pathway baru stroke iskemik akut me-nunjukkan kesesuaian dengan dimensi pada ICPAT. Sinergi seluruh manajemen RS, clinical champion, dokter spesialis saraf dan tim multidisiplin menjadi kunci ke-berhasilan pengembangan dan penerapan clinical pathway. DAFTAR PUSTAKA