Jurnal Intervensi Sosial dan Pembangunan (JISP) Volume 5. Nomor 2. September 2024 ISSN 2721 Ae 4311 DOI: https://doi. org/10. 30596/jisp. Intervensi Assessment Masalah dalam Film AuCek Toko SebelahAy Problem Assessment Intervention in the Movie "Cek Toko SebelahAy Wahyu Pratama Tamba1*. Fentiny Nugroho2 1,. Program Doktor Ilmu Kesejahteraan Sosial. FISIP. Universitas Indonesia. Indonesia *E-mail: wahyu. pratama32@ui. Abstrak Penelitian ini menganalisis intervensi masalah keluarga Koh Afuk di dalam film AuCek Toko SebelahAy, berfokus pada tahapan assessment atau penilaian masalah klien mengembalikan keberfungsian sosialnya. Penelitian ini bertujuan untuk memahami penyebab masalah yang dihadapi keluarga Koh Afuk, dengan mengidentifikasi dan menilai situasi dari level mikro dan mezzo, hingga menemukan potensi kekuatan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif untuk menggambarkan dan memahami fenomena kemudian mendeskripsikan melalui kata dan bahasa. Metode pengumpulan data menggunakan teknik dokumentasi yaitu konten film AuCek Toko SebelahAy yang juga sebagai sumber data penelitian didukung penelitian terdahulu dan sumber lainnya. Teknik analisa data merujuk pada konten film untuk memperoleh gambaran masalah, selanjutnya diinterpretasi dan dianalisa secara kualitatif. Tahap assessment didukung empat sublangkah meliputi identifikasi klien, tahap penilaian situasi klien dari level mikro menunjukkan harapan Koh Afuk agar Erwin meneruskan usahanya namun Erwin lebih fokus pada karir sedangkan Yohan berkeinginan melanjutkan usaha Ayahnya. Pada level keluarga menunjukkan. Yohan dan Erwin diperlakukan berbeda oleh Ayahnya, di mana Yohan tidak mendapat kepercayaan sehingga menyebabkan perselisihan dalam relasi keluarga. Namun terdapat potensi kekuatan, yaitu sikap Erwin yang menginginkan kondusifitas keluarga dan berinisiatif meminta maaf pada Yohan dan Ayahnya, dan kontribusi Ayu yang menenangkan Yohan, mencari solusi dan menopang ekonomi keluarga. Penelitian ini menekankan pentingnya tahapan assessment dalam proses intervensi sosial dan menemukan potensi kekuatan individu dalam memecahkan masalah. Kata Kunci: Intervensi Sosial. Assesment. Film AuCek Toko SebelahAy. Keberfungsian Sosial. Abstract This research analyzes Koh Afuk's family problem intervention in the film AuCek Toko SebelahAy, focusing on the assessment stage of the client's problem to restore his social functioning. This research aims to understand the causes of the problems faced by Koh Afuk's family, by identifying and assessing the situation from the micro and mezzo levels, to find potential strengths. This research uses a qualitative approach to describe and understand phenomena then describe through words and language. The data collection method uses documentation techniques, namely the content of the movie AuCek Toko SebelahAy which is also a source of research data supported by previous research and other Data analysis techniques refer to film content to obtain an overview of the problem, then interpreted and analyzed qualitatively. The assessment stage is supported by four sub-steps including client identification, the client situation assessment stage from the micro level shows Koh Afuk's desire for Erwin to continue his business but Erwin is more focused on his career while Yohan wants to continue his father's business. At the family level. Yohan and Erwin are treated differently by their father, where Yohan does not get trust, causing discord in family relations. However, there are potential strengths, namely Erwin's attitude that wants family conduciveness and takes the initiative to apologize to Yohan and his father, and Ayu's contribution to calm Yohan, find solutions and support the family This research emphasizes the importance of the assessment stage in the social intervention process and finding the potential strengths of individuals in solving problems. Keywords: Social Intervention. Assessment. AuCek Toko SebelahAy Movie. Social Functioning Cara citasi : Tamba. Wahyu Pratama. Nugroho. Fentiny. Intervensi Assessment Masalah dalam Film AuCek Toko SebelahAy. Jurnal Intervensi Sosial dan Pembangunan (JISP) Vol 5 No 2 September 2024. Jurnal Intervensi Sosial dan Pembangunan (JISP). Volume 5. Nomor 2. September 2024: 120-134 PENDAHULUAN Kehidupan masyarakat sebagai individu, sekumpulan individu dan komunitas tidak lepas dari masalah yang dihadapinya. Pengertian sederhana tentang masalah, merupakan suatu kendala atau hambatan yang dialami manusia dan perlu untuk dilakukan pemecahan menggunakan cara yang tepat dan sesuai. Masalah bisa muncul karena terjadinya ketidaksesuaian antara harapan yang diinginkan dengan kondisi kenyataan yang dihadapi. Lebih lanjut mengenai masalah sosial. Mills . dalam Tangdilintin . membedakan masalah personal dengan keresahan umum berdasarkan tiga dimensi. Pertama, keresahan yang muncul telah mencerminkan suatu masalah berkaitan dengan kesadaran moral anggota masyarakat. Kedua, keresahan umum diartikan bahwa di dalam masyarakat telah terbentuk persamaan persepsi terhadap ancaman yang ditimbulkan dari suatu masalah, di mana ancaman akan berdampak terhadap kestabilan/ kondisi normal, dan nilai-nilai moral masyarakat. Masalah sosial berkaitan dengan kestabilan kehidupan, nilai-nilai dan harapan luhur bersama di dalam masyarakat. Ketiga, mulai terbangunnya kesadaran bahwa suatu masalah tidak dapat diatasi sendiri, namun membutuhkan kerjasama di antara anggota masyarakat. Definisi masalah sosial menurut Leon-Guerrero . adalah suatu kondisi sosial atau pola perilaku yang memiliki konsekuensi negatif bagi individu, dunia sosial, atau dunia fisik manusia yang berdampak negatif terhadap kehidupan, kesehatan dan kesejahteraan invidu, kelompok dan masyarakat. Contoh masalah sosial seperti pengangguran, pelecehan seksual, penyalahgunaan narkotika dan HIV/AIDS. Sementara itu. Taftazani . mengungkapkan kompleksitas penyebab masalah sosial karena berkaitan dengan berbagai dimensi, diantaranya dimensi pola tingkah laku dan pola interaksi, perubahan sosial, konflik pertentangan nilai, kondisi ketidakadilan, pengabaian hak asasi manusia dan kerusakan ekologi. Lebih lanjut. Holmes & Mooney . menjelaskan dua elemen penting masalah sosial yaitu elemen objektif dan elemen subjektif. Pertama, elemen objektif dari masalah sosial mengacu pada keberadaan kondisi sosial secara nyata misalnya krisis keuangan, pengangguran, tunawisma. Kondisi tersebut ada secara independen dari persepsi dan pandangan manusia sebagai individu. Kedua, elemen subjektif dalam masalah sosial, artinya bahwa pengakuan suatu kondisi sebagai masalah sosial tidak hanya bergantung pada fakta objektif kondisi tersebut, namun juga bergantung pada penilaian dan Tamba. Wahyu Pratama. Nugroho. Fentiny. Intervensi Assessment Masalah dalam Film keyakinan masyarakat terhadap kondisi tersebut. Dengan kata lain, suatu kondisi sosial dianggap sebagai masalah sosial ketika ada elemen masyarakat yang merasa bahwa kondisi tersebut merugikan kualitas hidup manusia. Berdasarkan penjelasan pendefinisian, penyebab dan elemen masalah sosial tersebut, dapat ditarik suatu pandangan penting, bahwa tidak semua masalah bisa disebut sebagai masalah sosial, karena akan menyesuaikan pada konteks faktual objektif dan interpretasi subjektif yang berkembang di tengah kehidupan masyarakat. Hal lain yang juga penting, untuk mengatasi masalah sosial dibutuhkan intervensi untuk mengupayakan penyelesaian masalah dan masalah sosial. Intervensi dimaknai sebagai bentuk tindakan untuk memberikan bantuan yang dimaksudkan untuk mengatasi masalah yang dihadapi, baik itu individu, kelompok, komunitas dan masyarakat. Lebih lanjut, intervensi pekerjaan sosial dimaksudkan untuk membantu korban atau klien untuk mendapatkan alternatif solusi penyelesaian masalah yang dihadapinya. Alamsyah . menyoroti penekanan makna intervensi sebagai suatu bentuk usaha dalam membantu seseorang atau beberapa orang manusia yang menghadapi masalah gangguan internal dan gangguan eskternal yang mengakibatkan orang tersebut tidak bisa menjalankan peran sosial dengan baik. Konsekusi dari suatu intervensi yang dilakukan Pekerja sosial menurut Adi . 4: 57-. , akan memunculkan perubahan pada aspek pengetahuan . , keyakinan . , sikap . , dan niat individu . Proses perubahan dari aspek pengetahuan hingga menjadi niat individu menunjukkan adanya proses penyadaran. Hasil penelitian Zulham & Martunis . menunjukkan intervensi sosial yang dilakukan pihak Pemerintah Kabupaten Bireun dalam menangani Covid-19 di Desa Mon Ara. Kecamatan Makmur dengan melakukan mobilisasi peningkatan sebaran vaksinasi dan protokol kesehatan dan distribusi bantuan langsung tunai bagi masyarakat setempat. Penelitian Schwartz et al . menjelaskan intervensi terhadap mahasiswa tingkat pertama dalam rangka peningkatan kapital sosial di lingkungan kampus meliputi pembentukan jaringan maupun hubungan yang dapat mendukung kesuksesan secara akademik dan profesional. Bentuk intervensinya melalui lokakarya terstruktur, pengembangan keterampilan sosial, mentoring, dan simulasi praktik. Hasilnya intervensi tersebut mampu meningkatkan sikap proaktif, membangun hubungan sosial dan meningkatkan prestasi akademik mahasiswa tingkat pertama. Jurnal Intervensi Sosial dan Pembangunan (JISP). Volume 5. Nomor 2. September 2024: 120-134 Berikutnya penelitian Moreno et al . menggambarkan pelaksanaan program intervensi Connecting Provider to Home oleh tim pekerja sosial . ocial worke. dan pekerja kesehatan masyarakat . ommunity health worke. untuk mendukung pasien lansia yang mengalami masalah kesehatan dan sosial di California Selatan. Hasilnya menunjukkan bahwa program tersebut secara signifikan mampu mengurangi tingkat rawat inap rumah sakit dan layanan Instalasi Gawat Darurat (IGD). Berdasarkan tinjauan penelitian terdahulu, intervensi disertai program intervensi dimaksudkan untuk menciptakan atau meningkatan keberfungsian sosial masyarakat, baik individu, kelompok maupun komunitas. Oleh karena itu, setiap tindakan atau bantuan intervensi yang diberikan merupakan bentuk aktivitas pekerjaan sosial. Secara terminologi, keberfungsian sosial adalah bagaimana seseorang menjalani kehidupan sosial mereka yang berbeda dan unik, termasuk berpartisipasi dalam kegiatan, menjalin hubungan dengan orang lain, dan berkontribusi pada peran sosial (Madrigal et , 2. , kemudian menurut Hlongwane & Lawrence . , keberfungsian sosial adalah perilaku yang sesuai atau prososial yang ditunjukkan seseorang di depan orang lain disebut keberfungsian sosial. Pandangan segitiga keberfungsian sosial Skidmore et al . dalam Huripah . Elfirda & Astanto . Yasin & Apsari . menekankan tiga hal yang menjadi penanda pokok dalam keberfungsian sosial diantaranya, rasa puas di dalam peran kehidupan . atisfied with roles in lif. , perasaan harga diri . eelings of self-wort. , dan hubungan positif dengan orang lain di sekitar . ositive relationship with other. Perasaan puas di dalam peran kehidupan Keberfungsian Sosial Perasaan harga diri Hubungan positif dengan orang lain Gambar 1 Segitiga Keberfungsian Sosial Sumber. Olahan Peneliti . Untuk menjaga dan meningkatkan keberfungsian sosial dibutuhkan peran intervensi aktivitas pekerjaan sosial, pelaksananya disebut Pekerja sosial . ocial worke. Zastrow . mendefinisikan pekerjaan sosial sebagai bentuk aktivitas profesional Tamba. Wahyu Pratama. Nugroho. Fentiny. Intervensi Assessment Masalah dalam Film untuk membantu individu, keluarga, kelompok, organisasi dan komunitas untuk meningkatkan atau mengembalikan kapasitas fungsi sosial dan mendukung klien dalam mencapai tujuan kesejahteraannya. Lebih lanjut. Adi . mengungkapkan, pekerjaan sosial sebagai suatu ilmu memfokuskan intervensinya pada proses interaksi antara manusia . dan lingkungannya, dengan mengutamakan teori-teori perilaku manusia dan sistem sosial, guna meningkatkan taraf hidup . uman well-bein. Lebih lanjut menurut NASW . dalam DuBois dan Miley . terdapat sejumlah tujuan pekerjaan sosial diantaranya: meningkatkan fungsi sosial individu, keluarga, kelompok, organisasi, dan masyarakat, menghubungkan sistem klien dengan sumber daya yang dibutuhkan, meningkatkan jaringan pemberian layanan sosial dan mempromosikan keadilan sosial melalui pengembangan kebijakan sosial. Penelitian ini mengangkat film AuCek Toko SebelahAy sebagai objek kajian dari perspektif Ilmu Kesejahteraan Sosial untuk menganalisis masalah yang diangkat pada film menggunakan konsep dan teori intervensi sosial. Menurut Effendy . dalam Tunziyah & Ri'aeni . , film adalah media audio visual yang berfungsi sebagai media massa yang sangat penting untuk menyampaikan suatu pesan kepada sekelompok orang yang berkumpul di suatu tempat tertentu. Tunziyah & RiAoaeni . menambahkan, film sebagai media komunikasi massa dapat menyampaikan berbagai pesan, tergantung pada tujuan film tersebut. Namun secara umum, film dapat menyampaikan berbagai pesan, seperti informasi, hiburan, atau pendidikan. Film "Cek Toko Sebelah" menceritakan tentang seorang ayah bernama Koh Afuk (Chew Kin Wa. yang telah ditinggal istrinya dan memiliki dua anak laki-laki. Dion Wiyoko berperan sebagai Yohan . nak sulun. , dan Ernest Prakasa berperan sebagai Erwin . nak bungs. Selain berperan sebagai Aktor. Ernest Prakasa juga berperan sebagai Sutradara film AuCek Toko SebelahAy yang telah tayang pada Desember 2016 lalu. Cerita film menggambarkan konflik antar para pemain, namun diramu dengan penggunaan bahasa dan dialog yang humor. Oleh karena itu, dibutuhkan kejelian untuk menangkap masalah utama yang relevan dianalisa dari sudut pandang intervensi sosial dalam pemecahan Menurut Kogawa dkk. , film AuCek Toko SebelahAy mengangkat suatu isu sensitif namun tetap dibawa dengan sopan dan dikemas menjadi drama komedi. Film AuCek Toko SebelahAy merupakan kisah nyata yang dibangun berdasarkan kehidupan sehari-hari Ernest Prakasa, utamanya bagaimana gambaran kehidupan keluarga dalam etnis Tionghoa di Indonesia. Latar belakang pembuatan film dimulai dari usaha toko Jurnal Intervensi Sosial dan Pembangunan (JISP). Volume 5. Nomor 2. September 2024: 120-134 kelontong yang dibangun orangtuanya sejak Tahun 1985, memunculkan ide tentang anggota di dalam suatu keluarga Tionghoa yang sudah lulus kuliah dari luar negeri ujungujungnya disuruh orangtua untuk meneruskan toko keluarga. Hasil penelitian Mulyana & Zen . mengungkapkan bagaimana ekspresi mendalam Koh Afuk saat berbicara dengan Erwin . nak bungs. untuk menyampaikan permintaannya agar Erwin mau meneruskan toko kelontong keluarganya. Kalimat verbatim Koh Afuk kepada anaknya, sebagai berikut Aupapah, pengen kamu jadi penerus papah nerusin toko, kamu maukanAy. Ekspresi komunikasi tersebut ditandai dengan mata sayu Koh Afuk dan menatap Erwin dengan fokus, yang menggambarkan harapannya agar Erwin mau menerima permintaan Ayahnya. Pada dasarnya, assesment merupakan suatu rangkaian tahapan dalam upaya pemecahan masalah pada Klien. Disisi Klien, misalnya level keluarga. Katsama . mengungkapkan kehidupan keluarga penuh dengan krisis yang berurutan karena setiap tahap perkembangan anak menuntut cara-cara baru untuk meresponnya dari pihak orang tua. Pola asuh positif mengatakan bahwa orang tua harus mengendalikan emosi dan mengkomunikasikan perasaannya secara positif dan efektif untuk membangun hubungan yang sehat dan meyakinkan dengan anak-anak mereka. Oleh karena itu, kajian penelitian ini bersandar pada konten . film AuCek Toko SebelahAy dengan melakukan assessment sebagai langkah awal dalam proses intervensi keluarga Koh Afuk . erperan sebagai Ayah dalam fil. Intervensi tersebut berkaitan dengan beberapa hal pokok, meliputi masalah-masalah yang muncul berikut dengan alasan munculnya masalah. Singkatnya, permasalahan terjadi pada diri atau hidup Klien karena ketidaksesuaian antara keinginan atau harapan Aktor pada film dengan kondisi nyata yang terjadi. Hal pokok lainnya yaitu mengenai potensi kekuatan Klien yang dapat didayagunakan dalam melakukan proses tahapan intervensi. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif untuk menggambarkan dan memahami fenomena yang terjadi dengan cara mendeskripsikan melalui kata-kata dan Hal tersebut sejalan dengan pandangan Rubin & Babbie . , bahwa penelitian kualitatif berusaha untuk menggali makna yang mendalam dari pengalaman manusia hingga menghasilkan data kualitatif secara teoritis yaitu melalui observasi yang kaya akan informasi dan data tidak mudah diubah menjadi angka. Selanjutnya jenis penelitian studi pustaka dilakukan untuk mengumpulkan bahan referensi dengan membaca. Tamba. Wahyu Pratama. Nugroho. Fentiny. Intervensi Assessment Masalah dalam Film mencatat dan mengelola bahan penelitian. Penelusuran kepustakaan dari berbagai sumber relevan agar menghasilkan suatu tulisan penelitian yang layak (Harahap, 2. Metode dalam pengumpulan data menggunakan teknik dokumentasi, yang bentuknya berupa tulisan, gambar, karya-karya monumental, dokumen berbentuk tulisan seperti film, video, foto, biografi dan lain-lain (Sugiyono, 2. Teknik dokumentasi yang digunakan yaitu tayangan film AuCek Toko SebelahAy. Untuk itu, sumber data utama penelitian ini diperoleh dari sumber konten film AuCek Toko SebelahAy didukung tinjauan penelitian terdahulu, buku dan sumber lainnya. Sumber penelitian terdahulu merupakan terbitan publikasi sepuluh tahun terakhir yang terdokumentasi google scholar dan juga penggunaan perpustakaan digital . igital librar. Universitas Indonesia untuk mengakses berbagai jurnal penelitian internasional. Penggunaan referensi artikel ilmiah berbasis google scholar telah menjadi basis data yang terbesar digunakan oleh para peneliti (Poerwanti et. , 2. Demikian juga untuk teknik analisa data merujuk pada konten . rangkaian cerita pada film untuk memperoleh suatu gambaran masalah dari film AuCek Toko SebelahAy secara jelas, untuk selanjutnya diinterpretasi dan dianalisa secara kualitatif. Creswell . menekankan proses analisa data secara keseluruhan merupakan usaha memaknai data, baik berupa data teks maupun gambar. HASIL DAN PEMBAHASAN Tahapan Intervensi Pemecahan Masalah KirstAshman & Hull . mengungkapkan tujuh tahapan pemecahan diantaranya . , . , . , implementation . , evaluation . , termination . , dan follow-up . Tahap engagement/melibatkan sistem klien, berorientasi pada masalah Klien dan mulai membangun komunikasi serta hubungan harmonis dengan klien dan pihak lain yang terlibat dalam menangani masalah. Pada tahap engagement dibutuhkan keterampilan dalam berinteraksi baik melalui komunikasi verbal . maupun komunikasi non-verbal meliputi kontak mata, ekspresi wajah dan gestur tubuh, kemampuan menyampaikan kehangatan, empati dan keaslian yang dapat meningkatkan Pada tahap ini Pekerja sosial memperkenalkan diri, menjelaskan tujuan dan peran kehadiran seorang pekerja sosial, serta menyiapkan setting pertemuan awal. Sikap tersebut dalam pertemuan awal sangat mempengaruhi proses engagement. Jurnal Intervensi Sosial dan Pembangunan (JISP). Volume 5. Nomor 2. September 2024: 120-134 Langkah assessment sebagai tahap kedua merupakan upaya penyelidikan dan menentukan variabel yang mempengaruhi masalah/isu yang diidentifikasi dari perspektif mikro, mezzo dan makro agar dapat membuat keputusan untuk penanganan Terdapat empat sub langkah di dalam tahap assessment diantaranya: mengidentifikasi Klien, menilai Klien dalam situasi dari sudut pandang mikro, mezzo, makro, dan keberagaman, dan menilai informasi tentang masalah, kebutuhan dan mengidentifikasi kekuatan Klien. Tahap ketiga, planning, merupakan tahapan perumusan rencana untuk proses intervensi, di dalamnya berlangsung proses menentukan strategi khusus yang spesifik untuk suatu tindakan, merujuk pada penilaian dalam proses pemecahan masalah. Bahwa penilaian itu menentukan tahapan intervensi dan menentukan hal apa yang harus Perencanaan melibatkan delapan sub-langkah antara lain: bekerja dengan Klien, memprioritaskan masalah, menerjemahkan masalah ke dalam kebutuhan, melakukan evaluasi tingkat intervensi . ndividu, keluarga, kelompok, organisasi, dan komunita. , menetapkan tujuan yang disepakati bersama dengan Klien, menentukan tujuan, menentukan langkah tindakan, meresmikan kontrak dengan Klien. Tahap keempat, mengimplementasikan rencana selama proses intervensi. Klien dan Pekerja sosial mengikuti rencana mereka sebelumnya dalam rangka mencapai tujuan Kondisi kemajuan selama implementasi perlu untuk dipantau dan dinilai. Pada kondisi tertentu, masalah, situasi dan kondisi baru mengharuskan untuk mengubah rencana yang sudah ada. Tahap kelima, melakukan evaluasi hasil dan efektivitas. Tahapan ini merupakan proses menentukan efektivitas intervensi. Hal ini sebagai upaya menunjukkan bahwa intervensi Pekerja sosial memberikan manfaat atau keuntungan. Setiap tujuan dinilai menggunakan sejauh mana telah berhasil. Selanjutnya, keputusan harus dibuat apakah kasus harus dihentikan atau dinilai kembali untuk menetapkan tujuan baru. Tahap keenam, terminasi menandai berakhirnya proses intervensi perubahan yang Pada tahap ini hubungan profesional Klien dan Pekerja sosial berakhir. Berbagai cara untuk mengakhiri intervensi yaitu disaat telah tercapainya tujuan utama, atau adanya kondisi yang tidak terduga. Dilain pihak, karena sejumlah alasan Klien mungkin keluar dari proses perawatan dan tidak kembali lagi. Klien mungkin merasa intervensi tidak berhasil, tidak lagi merasakan ketidaknyamanan. Keluarga pindah atau tidak lagi termotivasi untuk kembali. Penghentian yang paling efektif yaitu mengikuti Tamba. Wahyu Pratama. Nugroho. Fentiny. Intervensi Assessment Masalah dalam Film kemajuan yang konsisten dan direncanakan. Sebelum terjadi secara tiba-tiba, pekerja sosial harus menyadari bahwa suatu proses hampir berakhir. Mereka harus mendorong klien untuk berbicara tentang perasaannya tentang pemutusan hubungan intervensi, dan pada gilirannya mereka harus berbicara tentang perasaannya sendiri. Selain itu, praktisi harus menunjukkan kemajuan apa pun. Tahap ketujuh, tindak lanjut yaitu memeriksa kembali situasi dan kemajuan yang dibuat dan dicapai. Tujuan pemeriksaan untuk memantau dampak intervensi yang sedang berlangsung. Seringkali langkah ini paling sulit untuk dilakukan karena beban masalah kasus terlalu berat dan krisis. Pekerja mungkin teralihkan oleh masalah dan tuntutan lain sehingga informasi tindak lanjut sulit didapatkan. Tindak lanjut merupakan langkah penting dalam proses intervensi dengan melakukan pengecekan untuk mengetahui apakah Klien telah mempertahankan kemajuan dan masih berfungsi dengan baik pada diri mereka sendiri, atau apakah klien perlu dievaluasi kembali untuk intervensi lain. Sejalan dengan pandangan KirstAshman & Hull . Greene & Lee . mengungkapkan pendekatan yang berfokus pada solusi untuk intervensi krisis terdiri dari enam langkah, diantaranya mengembangkan hubungan kolaboratif dengan klien. mendengarkan cerita Klien dan mendefinisikan masalah utama yang muncul serta mengidentifikasi upaya-upaya yang tidak berhasil untuk menyelesaikan masalah . erubahan tingkat pertam. mendapatkan definisi klien tentang tujuan hasil yang mengidentifikasi dan memperkuat pola solusi . engecualian terhadap mengembangkan dan menerapkan rencana tindakan yang melibatkan tugas disela-sela sesi. serta mengakhiri dan menindaklanjuti. Pada seluruh tahapan tersebut membutuhkan kerjasama diantara Pekerja sosial dan Klien, dimulai dari membangun dan mengembangkan hubungan kolaborasi hingga tahap terminasi dan tindaklanjut sebagai langkah terakhir. Kedua pandangan dari KirstAshman & Hull . dan Greene & Lee . menegaskan pentingnya tahapan assessment. KirstAshman & Hull menekankan assessment sebagai upaya untuk mengidentifikasi sekaligus menilai masalah dan variabel yang menyebabkan masalah pada Klien serta mengidentifikasi kebutuhan dan kekuatan Klien. Sementara itu. Greene dan Lee menekankan tentang masalah utama yang dihadapi Klien dan mengidentikasi upaya apa saja yang sudah pernah dilakukan namun gagal dalam upaya penyelesaian masalah Klien. Jurnal Intervensi Sosial dan Pembangunan (JISP). Volume 5. Nomor 2. September 2024: 120-134 Dalam tahap proses intervensi, beberapa hal yang dapat dilakukan Pekerja sosial untuk masalah yang muncul pada film AuCek Toko SebelahAy diantaranya: mengubah pola pikir dan cara pandang Koh Afuk sebagai Ayah, yang sebelumnya dominan menjadi penentu dalam setiap pengambilan keputusan agar lebih membuka diri untuk mempertimbangkan keinginan anggota keluarganya. Selain itu, membangun sikap saling percaya . diantara keluarga, utamanya dalam setiap proses pengambilan keputusan yang mengutamakan komunikasi untuk mendapatkan respon masukan. Terakhir, membangun komitmen anggota keluarga untuk saling memaafkan atas tindakan dan peristiwa dimasa lalu, dan hanya fokus untuk perbaikan dan kemajuan saat ini hingga masa depan. Masalah-masalah di dalam Film AuCek Toko SebelahAy Penyebab terjadinya masalah pada film AuCek Toko SebelahAy karena adanya kesenjangan atau ketidaksesuaian antara kebutuhan harapan dengan kondisi faktual. Koh Afuk selaku Ayah, memiliki keinginan agar toko kelontongnya tetap diteruskan oleh anggota keluarganya karena ia berharap usaha toko yang sudah dirintis bersama mendiang Istrinya dapat dipertahankan oleh anaknya. Selain itu, adanya tanggung jawab moral Koh Afuk terhadap karyawan, pelanggan, dan ekonomi sekitarnya. Dari sisi kedua anaknya. Yohan ingin mendapatkan pengakuan dan kepercayaan dari Ayahnya. Ia ingin membuktikan kepada Ayahnya bahwa dia mampu mengelola toko meskipun memiliki masa lalu yang kelam dan tidak disukai Ayahnya. Sementara itu Erwin ingin mendapatkan kebebasan untuk menentukan karirnya sendiri, dan juga sesuai dengan apa yang diharapkan oleh kekasihnya (Natali. Merujuk empat sub langkah pada tahap assessment, hasil assessment dalam Film AuCek Toko SebelahAy, diawali dengan mengidentifikasi Klien agar penilaian dan intervensinya benar dan tepat yaitu Koh Afuk (Aya. Yohan (Anak Sulun. dan Erwin (Anak Bungs. Selanjutnya, sub langkah kedua hingga keempat meliputi upaya menilai Klien dalam situasi dari sudut pandang mikro, mezzo, makro, dan keberagaman, mengidentifikasi dan menilai informasi tentang masalah dan kebutuhan klien serta mengidentifikasi kekuatan klien. Seorang praktisi Pekerja sosial akan melakukan penilaian setelah sistem klien dikonfigurasi. Penilaian di dalam ketiga sub langkah tersebut mencakup upaya pemeriksaan keadaan klien, menemukan masalah, dan menekankan kekuatan. Tamba. Wahyu Pratama. Nugroho. Fentiny. Intervensi Assessment Masalah dalam Film Penilaian situasi Klien di dalam Film AuCek Toko SebelahAy mencakup situasi pada level keluarga dan individu. Pada level keluarga tampak kondisi kedua anak Koh Afuk (Yohan dan Erwi. yang berbeda. Yohan tidak mendapat kepercayaan dari Ayahnya, sedangkan Erwin mendapat kepercayaan namun ia lebih memprioritaskan urusan karir Relasi di dalam keluarga mengalami masalah yang dipicu oleh keinginan Koh Afuk agar toko kelontongnya diteruskan oleh Erwin. Selanjutnya situasi pada level individu cukup beragam, di mana Koh Afuk yang usianya semakin tua berkeinginan agar anaknya (Erwi. meneruskan mengelola toko kelontongnya. Respon Erwin tidak antusias karena ia lebih memprioritaskan masa depan karirnya, ditambah dengan besarnya dukungan dari Natalie, kekasih Erwin, namun Erwin tetap berusaha menuruti permintaan ayahnya dengan menjaga toko selama satu bulan. Sementara itu. Yohan sebagai anak sulung merasa berkecil hati karena tidak dipercaya untuk meneruskan toko, ia dianggap sebagai pribadi dengan jiwa pemberontak, gagal menyelesaikan studi dan pernah dipenjara atas kasus narkotika. Selain itu, situasi yang dihadapinya sendiripun cukup pelik karena kondisi keluarga dan pekerjaan yang belum mapan. Rumah tangga bersama istrinya (Ay. sejak awal tidak mendapat persetujuan dari orangtuanya karena seringnya berbeda pandangan antara Ayu dan orangtua Yohan. Potensi Kekuatan pada Film AuCek Toko SebelahAy Selain mengidentifikasi masalah, identifikasi potensi kekuatan menjadi hal substansial di dalam tahapan assessment. Adapun potensi kekuatan yang tampak dari Film AuCek Toko SebelahAy antara lain: Pertama, sikap Erwin yang berusaha menuruti permintaan Ayahnya untuk menjaga toko selama satu bulan, sebelum ia berangkat ke Singapura, kemudian disaat berselisih dengan Yohan ia berusaha meminta maaf terlebih Hal itu sebagai bentuk sikap penghormatan terhadap Ayahnya dan Kakaknya. Kedua, keberadaan Ayu sebagai istri Yohan-Menantu Koh Afuk, menunjukkan pribadi solutif yang aktif mencarikan solusi, menenangkan pasangan dan meredam amarah Yohan, bahkan berkontribusi menopang ekonomi keluarga dengan usaha toko kue. Ketiga, kedekatan Koh Afuk sebagai pemilik toko dengan para karyawannya, menggambarkan sosok pribadi yang humble, rendah hati, diterima dan dicintai para Pekerjanya. Keempat, di dalam akhir cerita, terbangun komunikasi yang baik di antara anggota keluarga Koh Afuk termasuk dengan Natalie, kekasih Erwin. Kelima, menunjukkan sikap kerjasama antara Yohan dan Erwin ketika berupaya mengembalikan kepemilikan toko yang sempat beralih kepada Robert. Keenam, film ini memuliakan Jurnal Intervensi Sosial dan Pembangunan (JISP). Volume 5. Nomor 2. September 2024: 120-134 sosok almarhumah Istri Koh Afuk yang telah berjuang bersama sejak awal membangun toko kelontong keluarga dan sosok Ibu yang telah merawat dan mendidik kedua anaknya. Potensi kekuatan di dalam diri Klien yang berhasil diidentifikasi akan berguna bagi Pekerja sosial (Social worke. untuk didayagunakan sebagai upaya pemecahan masalah. Tercapainya tujuan intervensi ditandai dengan adanya solusi atas penanganan masalah yang dihadapi Klien, yang juga akan mengembalikan kondisi keberfungsian sosial Klien yang sebelumnya terganggu. Proses ini tentunya melibatkan aktivitas pengakuan, dukungan, dan pemanfaatan potensi kekuatan dari Klien untuk menghadapi masalah. Hal ini didukung oleh pandangan KirstAshman & Hull . mengenai tujuh tahapan pemecahan masalah, di mana salah satu tahap yakni assessment . merupakan tahapan penting dalam rangka mengidentifikasi, menggali dan memanfaatkan kekuatan yang ada di dalam diri Klien. Selanjutnya kondisi keberfungsian sosial Klien bisa dilihat secara faktual merujuk pada segitiga keberfungsian sosial yang diungkapkan Skidmore. Thackeray dan Farley . , yang ditandai dengan tiga faktor kondisi Klien meliputi adanya rasa puas atas peran Klien di dalam hidupnya, memiliki rasa harga diri dan keterhubungan positif Klien dengan orang lain di sekitarnya. Konstruksi keberhasilan tahapan penilaian . masalah yang digambarkan pada film AuCek Toko melalui SebelahAy dalam rangka intervensi sosial, ditandai dengan keberhasilan dalam beberapa hal, diantaranya, mampu mengidentifikasi klien berikut dengan perannya masing-masing, yakni keluarga Koh Afuk beserta kedua anaknya. Erwin dan Yohan, dan Ayu istri Yohan. Selanjutnya telah melakukan pemeriksaan situasi klien dan menemukan masalah. Proses penilaian situasi individu dan keluarga memberikan gambaran jelas tentang sesuatu hal yang diharapkan Koh Afuk justru bertentangan dengan Erwin yang lebih memikirkan kepentingan karirnya. Demikian juga Erwin dan Yohan mendapatkan perlakuan berbeda dari ayahnya, serta harapan Koh Afuk. Penilaian situasi tersebut telah membantu dalam mengidentifikasi masalah yang spesifik dan Berikutnya tahap penilaian/ assessment telah mampu mengidentifikasi dan menemukan potensi kekuatan klien, tergambar dengan adanya upaya Erwin untuk menjalin kembali hubungan dengan Yohan, meminta maaf pada Yohan dan Koh Afuk, serta adanya kontribusi Ayu dalam mendukung ekonomi keluarga, yang turut berkonribusi memperbaiki hubungan dan memulihkan situasi dan peran dalam kerangka keberfungsian sosial. Tamba. Wahyu Pratama. Nugroho. Fentiny. Intervensi Assessment Masalah dalam Film Namun demikian, terdapat beberapa hal kekurangan dalam assessment dimaksud. Pertama, kemungkinan penilaian assessment yang kurang mempertimbangkan konteks sosial budaya yang lebih luas dan dapat mempengaruhi hubungan interaksi dan dinamika keluarga, misalnya pola pengambilan keputusan, karakteristik kehidupan keluarga Tionghoa, dan norma sosial. Kedua, secara prinsip, meskipun hasil assessment menunjukkan adanya perbaikan hubungan keluarga, namun belum sepenuhnya mencerminkan assessment intervensi sosial karena ketiadaan hubungan interaktif dan kolaboratif antara pekerja sosial . ocial worke. dengan klien dalam mencari dan menemukan solusi atas masalah yang dihadapi klien, mengingat analisa studi ini lebih berbasis pada konten film. SIMPULAN Penelitian ini menganalisa intervensi pada masalah keluarga Koh Afuk dalam film AuCek Toko SebelahAy berfokus pada proses assessment untuk memahami dan menentukan penyebab masalah keluarga. Evaluasi dilakukan melalui identifikasi anggota keluarga, yaitu Ayah Koh Afuk, anak pertama Yohan, dan anak bungsu Erwin, serta penilaian situasi individu dan keluarga. Masalah utama terletak pada pertentangan antara apa yang diinginkan Koh Afuk yaitu, agar Erwin melanjutkan toko kelontongnya namun Erwin lebih berambisi pada kepentingan karirnya. Selain itu. Yohan dan Erwin menghadapi situasi pembedaan perlakuan dari Ayah mereka. Kekuatan yang muncul termasuk upaya Erwin untuk memperbaiki hubungan dengan Yohan. Selain itu, kontribusi Ayu, istri Yohan, dalam mencari solusi dan menopang ekonomi keluarga. Pada akhir cerita Film, situasi keluarga membaik saat Yohan mendapatkan kepercayaan dari Ayahnya untuk melanjutkan usaha toko kelontong dan memodifikasi toko kelontong menjadi usaha toko kue bersama Ayu. Kondisi tersebut menggambarkan keberfungsian sosial yang ditandai dengan adanya hubungan positif di dalam keluarga Koh Afuk, rasa puas dan memiliki perasaan harga diri setiap anggota keluarganya di dalam menjalani perannya masing-masing, sebagai ayah, anak sulung, anak bungsu, suami-istri, serta DAFTAR PUSTAKA