DAWUH DaAowah & Education Journal Tindakan Moral Sebagai Dasar Etika Eksistensialisme Religius Muhammad Iqbal Hawasi Fakultas Sastra dan Budaya Universitas Gunadarma hawasi@staff. Abstract In Muhammad IqbalAos system of thought, the discussion of ethical values does not have serious attention from scholars. It can be understood when the discussion is reduced to the fact that Iqbal was not a thinker of ethics in strict sense and he did not write the books of ethics. But. Iqbal Aos emphasis on the virtue of manAos action and freedom, as found in his Reconstruction and poems, can categorize him as one of muslim thinkers of ethics in broad sense. This paper argues that IqbalAos ethical view is based on his interpretation of Islam which stresses on action. In addition. IqbalAos respect to existential freedom of man does not alienate his ethical view from GodAos freedom. Therefore, in one side. Iqbal shares his idea with a religious existentialist like Kierkegaard. In the other side, he critizes ethical view as voiced by Nietzsche. Keywords: Moral Action. Freedom, existentialism, religious ethics, co-creator of God. Abstrak Dalam sistem pemikiran Muhammad Iqbal, pembahasan nilai-nilai etika tidak mendapat perhatian serius dari para ulama. Hal ini dapat dipahami ketika diskusi direduksi menjadi fakta bahwa Iqbal bukanlah pemikir etika dalam arti sempit dan ia tidak menulis buku-buku etika. Tapi, penekanan Iqbal pada keutamaan tindakan dan kebebasan manusia, seperti yang ditemukan dalam Rekon-struksi dan puisinya, dapat mengkategorikannya sebagai salah satu pemikir etika Muslim dalam arti luas. Tulisan ini berpendapat bahwa pandangan etis Iqbal didasarkan pada penafsirannya terhadap Islam yang menekankan pada tindakan. Selain itu, penghormatan Iq-bal terhadap kebebasan eksistensial manusia tidak mengasingkan pandangan etisnya dari kebebasan Tuhan. Oleh karena itu, di satu sisi. Iqbal berbagi idenya dengan seorang eksistensialis religius seperti Kierkegaard. Di sisi lain, ia mengkritisi pandangan etis seperti yang disuarakan oleh Nietzsche. Kata Kunci: Tindakan Moral. Kebebasan, eksistensialisme, etika agama, salah satu pencipta Tuhan. Hawasi : Tindakan Moral Sebagai Dasar A | 105 PENDAHULUAN Problem moral menjadi perbincangan publik yang menarik untuk dielaborasi lebih lanjut. Mengapa hal tersebut menjadi penting? Salah satu jawabannya adalah karena moralitas memiliki dampak yang serius bagi umat manusia, baik secara individual maupun secara kolektif. Pada tingkat global Bassam Tibi (Tamara & Taher, 1996: . menilai bahwa hak asasi yang dilandasi oleh lintas budaya merupakan moralitas internasional yang paling menjanjikan sebagai titik temu atas berbagai macam perbedaan pandangan agama dan budaya. Selanjutnya. Tibi melihat bahwa Islam dan Baratlah yang memiliki cara pandang yang universalitas sehingga memiliki peran yang sangat strategis dalam menciptakan perdamaian dunia dengan menunjukkan bukti-bukti historisadanya interaksi kedua kebudayaan tersebut baik berupa konflik maupun damai (Tamara & Taher, 1996: , . ihat juga Hadi WM, 2000: 241-. Alwi Shihab . 9: . menilai bahwa hak asasi manusia yang berkembang di Barat, seperti yang tertuang dalam The Universal Declaration of Human Rights merupakan produk dari satu masa yang banyak dipengaruhi oleh latar belakang sejarah, ideologi, dan intelektual sekular Barat yang berkembang setelah Perang Dunia Kedua yang tak dilandasi oleh agama. Ali SyariAoati menjelaskan bahwa krisis multidimesi yang menjangkiti Barat berakar pada paham humanisme materialistikyang menyebar di berbagai ideologi, yaitu kapitalisme. Marxisme, serta eksistensialisme. Bagi SyariAoatitidak ada jalan lain selain agama . aca Isla. yang mampu mengangkat derajat manusia pada posisi yang mulia (SyariAoati, 1. Himbauan Hans Kung, sebagaimana dikutip Shihab, tentang pentingnya satu etika global (Global Ethi. ternyata belum memberikan dampak yang positif bagi keadilan dan hak asasi dunia. Hal itu ditandai dengan banyaknya pelanggaran hak asasi seperti yang terjadi di Bosnia. Palestina, dan lain-lain. Kasus-kasus tersebut, menurut Shihab . 9: . merupakan ujian dan tantangan moral bagi komunitas etika global yang dibentuk pada 1993 di Amerika Serikat tersebut untuk memberi solusi. Oleh karena, sikap kritis dengan sekaligus memberikan satu prinsip etis tentang hak asasi global yang sarat prinsip universal agama mutlak diperlukan. Dalam konteks Islam. Tibi meyakini bahwa: Au A. selalu ada tempat bagi etika Islam yang sesungguhnya dalam moralitas internasional berdasarkan landasan lintas budaya. Moralitas ini, jika dikembangkan, menjanjikan menutup jurang antara peradaban Barat dan IslamAy Tibi dalam Tamara & Taher, 1996: . Keyakinan religius diyakin mampu memberi motivasi yang lebih mendalam terhadap tindakan-tindakan yang benar. Keyakinan terhadap agama mampu memberi inspirasi tambahan dan harapan-harapan dalam bertindak secara moral sehingga menyertakan pandangan-pandangan etika (Zubair, 1997: . Problem moralitas adalah problem etika yang berhubungan dengan Aocara berpikirAo sehingga berkaitan dengan filsafat (Abdullah, 2004: . Etika mencakup sikap moralitas manusia sekaligus ilmu kritis tentang moralitas termasuk ungkapan-ungkapan moral (Bertens, 1999: 11-. Etika sebagai kajian aksiologi memiliki implikasi yang strategis, yaitu pada tindakan sehingga tidak berhenti pada ranah pemikiran rasional-spekulatif. Inilah letak kedalaman Iqbal ketika mengkritik pengaruh filsafat Yunani dalam bangunan filsafat Islam klasik. Iqbal berusaha mengumandangkan semangat Al-QurAoan yang antiklasik untuk mengakhiri AuperdebatanAy yang berlarut-larut yang pernah mewarnai sejarah filsafat kalam dalam Islam antara Al-Ghazai dan Ibnu Rusyd. Dalam konteks ini, menurut Ahmad SyafiAoi MaAoarif . 4: . , bisa dimaklumi kritik Ibnu Taymiyah terhadap filsafat . Mengapa Etika Kebudayaan Islam? Ada beberapa pertimbangan yang diambil untuk mengangkat tema tentang etika kebudayaan Islam: Pertama, langkanya kajian filsafat moral dalam penelitian kebudayaan Islam seperti yang dicatat oleh Ahmad Mahmud Subhi sehingga Ibnu Khaldunpun tidak memberi perhatian secara khusus terhadap filsafat moral ketika membuat klasifikasi ilmu pengetahuan (Abdullah, 2004: . Terlebih lagi pada konsep hierarki keilmuan Al-Ghazali yang dikotomis tidak ditemukan 106 | Dawuh : Vol. No. November 2021 kajian kritis teradap masalah moral (Bakar, 1998: 179-. Hal tersebut akibat fatwa Al-Ghazali yang AomengharamkanAo filsafat membuat tradisi intelektual-kritis, termasuk kajian terhadap masalah moral dalam Islam lumpuh seperti yang digambarkan oleh M. Amin Abdullah: AuSetuju atau tidak, paradigm pemikiran Al-Gazhali, cepat atau lambat, akan mengalami perubahan atau goncangan. Tampak benang merah yang teranyam dalam Tahafut. MiAoyar, al-Iqtisad, maupun IhyaAo yang menjelaskan bahwa Al-Ghazali sangat minim menekankan pendidikan intelek dalam arti yang sesungguhnya, dan kurang melatih akal pikiran manusia untuk bertindak aktif, dinamis dan kreatif Au (Abdullah, 2004: 137-. Maka, di era globalisasi informasi, ilmu pengetahuan dan teknologi diperlukan satu Auetika keberagamaan Islam yang lebih fresh, dialogis, pluralitis, challenging dan applicable dalam masyarakat kontemporerAy (Abdullah, 2004: . Kedua, tidak dilibatkannya ilmu-ilmu kemanusiaan termasuk agama yang menekankankan pada nilai-nilai etis dan metaetika sebagai pendekatan dalam membangun dunia. Kritik yang sekarang gencar dialamatkan pada pendekatan ideologi, politik, dan ekonomi berusaha menunjukkan adanya krisis multidimensi yang tidak dapat diselesaikan dengan pendekatan parsial tersebut. Munculnya era postmodern mempertanyakan proyek modernsme yang masih menyisakan kesenjangan Barat-Timur, kesenjangan ekonomi, krisis lingkungan, dan terorisme global. Maraknya gerakan keagamaan berupa tarekat dan sufisme kota . rban sufis. menjadi petunjuk tentang hausnya manusia modern terhadap nilai-nilai spiritual . ihat Bruinessen & Howell (Ed. ), 2. Ketiga, menguatnya gerakan fundamentalisme dan konservatisme agama . aca Islamism. menunjukkan ketidaksiapan Islamisme . undamentalis dan konservati. merespons perubahan global yang sedang terjadi, meskipun Islamisme yang diterapkan di berbagai negara Muslim dianggap telah gagal sebagaimana ditunjukkan oleh Olivier Roy. Ada empat faktor yang dicatat oleh Roy tentang kegagalan Islamisme, yaitu: kegagalan paradigma, kegagalan aksi-aksi kekerasan, kebuntuan ideologi, dan petro Islam Arab Saudi (Naharong,2009: . Keempat, gagasan Iqbal tentang pentingnya rekonstruksi pemikiran keagamaan sehingga kaum agamawan mampu menjawab perubahan global akibat modernism dan postmodernisme. Penguasaan Iqbal yang mendalam terhadap khazanah keilmuan Barat dan Timur ditambah lagi dengan pengalaman langsung Iqbal dengan denyut modernitas Barat serta ketertinggalan Timur yang ia rasakan menjadi pertimbangannya bahwa agamalah satu-satunya jawaban terhadap krisis manusia kontemporer. Seperti diketahui bahwa, setelah runtuhnya hegemoni abad pertengahan yang didukung gereja, muncullah peradaban modern yang menekankan pada manusia sebagai subjek yang otonom yang melepaskan ikatannya dari nilai-nilai agama. Otonomi manusia yang sekularistik tersebut disuarakan oleh Rene Descartes lewat diktumnya yang terkenal. Cogito Ergo Sum (Aku berpikir maka aku ad. sebagai bentuk rasionalisme modern. Rasionalisme modern yang AumendewakanAy akal tersebut menjadi pondasi dalam proyek kebudayaan modern yang cenderung positivistik dan materialistik. Van Peursen menyebut gejala modernisme tersebut sebagai paradigma AufungsionalismeAy yang berimplikasi hilangnya pertimbangan-pertimbangan etis dalam kebudayaan modern . ihat Peursen, 1. Oleh karena itu, diperlukan satu paradigma baru dalam melihat modernitas, semacam Aua new modernityAy sebagai cara pandang alternatif yang mampu untuk melakukan refleksi ke dalam tentang kekurangan modernitas, kelenturan untuk membuka batas-batas identitas yang kaku, kesadaran untuk melakukan hibriditas dan perpaduan budaya, serta pembudayaan pandangan kosmopolitan dalam kehidupan dunia yang kompleks (Schreither, 2005:. Bagi penganut agama perubahan paradigma atau cara pandang lebih merupakan penggalian solidaritas yang sama tentang pentingya universalitas nilai-nilai religius yang berlaku kapanpun bagi semua orang sebagai common concern (Sugiharto, 2005: . Dalam konteks Islam sedang tumbuh kelompok yang memiliki kesadaran yang disebut oleh Gilles Kepel sebagai post-Islamisme yang memperjuangkan hak-hak asasi manusia serta menerima beberapa nilai-nilai Barat, seperti kebebasan berekspresi dan emansipasi perempuan (Naharong, 2009: . Hawasi : Tindakan Moral Sebagai Dasar A | 107 Salah satu sastrawan-filosof Muslim yang terkenal dengan gagasannya dalam AupenyegaranAy kembali pemikiran keagamaan . aca sufism. dalam Islam adalah Muhammad Iqbal. Gagasan Iqbal tentang sufisme tercermin dalam bukunya. The Reconstruction of Religious Thought in Islam dan puisi-puisinya seperti terangkum dalam Asrar-i Khudi. Rumuz-i Bekhudi. Javid Namah. Message from The East. Tulip of Sinai, dan lain-lain. Karya sastra Iqbal bersifat profetik karena memiliki misi humanistik yang dilandasi nilai-nilai religius sebagaimana yang diungkapkannya: AuApabila pandangan kita terarahka pada sejarah kebudayaan Islam, maka menurut saya bahwa seni Islam . usik, seni lukis, bahkan saja. AA. dimaksudkan agar manusia bersifatkan sifat-sifat Allah, dan yang akan terus-menerus memberi ilham padanya, dan terealisasikannya kekhilafatan Allah di atas bumi AubaginyaAy (AoAzzam, 1985: . Dalam penelitian terakhir tercatat bahwa Iqbal lahir pada 9 November 1877 dari keluarga keturunan Brahmana yang pada masa Dinasti Moghul nenek moyangnya telah memeluk Islam (Lihat AoAzzam, 1985: . Setelah menderita sakit untuk beberapa lama Iqbal meninggal dunia pada 21 April Oleh karena itu, menurut Ahmad SyafiAoi MaAoarif . 8: x. dalam pengantarnya terhadap karya Iqbal, peringatan hari lahir Iqbal harus merujuk kepada data terakhir tersebut dan bukan pada 22 Februari 1873. Sebagai penyair sekaligus filosof par excellence, pemikiran dan karya sastranya telah banyak dikaji baik di Barat maupun di Timur. Beberapa penelitian yang membahas tentang Iqbal adalah sebagai berikut:IqbalAos Educational Philosophy oleh K. Saiyidain . Filsafat dan Puisi Iqbal oleh AoAbdul Wahhab AoAzzam . Pengantar ke Pemikiran Iqbal oleh Miss Luce-Maitre . Epistemologi dalam Tasawuf Iqbal oleh Danusiri . Eksistensialisme Mohammad Iqbal oleh Hawasi . Metafisika Iqbal oleh Ishrat Hasan Enver . Agama dan Aktualisasi Diri: Perspektif Filsafat Muhammad Iqbal oleh Mustofa Anshori Lidinillah . Mohammad Iqbal on Religious Experience: An Epistemological Study oleh Hawasi . , dan beberapa penelitian lainnya. Artikel ini mencoba menelusuri spirit dekonstruksi yang terkandung dalam gagasan-gagasan Iqbal, terutama dalam sajak-sajaknya. Ketika mengapresiasi dan menanggapi gagasan Iqbal. Ahmad SyafiAoi MaAoarif . 8: xi. AuAIqbal telah mengarahkan hampir seluruh energinya dengan tujuan tunggal: reorientasi nilai-nilai kemanusiaan. Timur dan Barat, dengan landasan tauhid yang teramat kukuh. Peradaban Barat, sekalipun dalam beberapa segi dikaguminya, dalam perspektif moral transendental sudah sangat jauh meluncur ke jurang berbahaya. Sementara Timur yang terpasung dalam spiritualisme, telah lama pula dalam keadaan steril tanpa dinamika. Lalu untuk membangun sebuah peradaban baru yang anggun dan segar diusulkannya agar Barat dan Timur dipertautkan dengan mengawinkan penalaran . dan cinta (Aoisy. Ay Penafsiran Iqbal bahwa pandangan Al-QurAoan lebih menekankan pada amal daripada gagasan (Iqbal, 2004: xx. , menunjukkan minat Iqbal pada masalah-masalah etis. Meskipun sulit menemukan dalam karya-karya Iqbal sistematika etika namun secara implisit gagasan etikanya terkandung dalam sajak-sajaknya. Gagasan Iqbal yang sangat futuristik tersebut sangat relevan untuk dikaji lebih mendalam dalam perspektif Kajian Budaya (Cultural Studie. , terutama studi postkolonialisme. Kajian postkolonialisme tentu saja berkaitan dengan masalah-maslah etis sebagai akibat kolonialisme serta pascakolonialisme. Namun, untuk mengetahui gagasan Iqbal, baik dalam filsafat maupun sajak-sajaknya, terlebih dahulu harus mengetahui aspek historis terjadinya kolonialisme di anak benua India, termasuk Pakistan tempat Iqbal lahir dan tumbuh serta pengalamannya selama studi dan melakukan beberapa kunjungan di Eropa. Munculnya gagasan modern dalam Islam seperti yang dilakukan oleh Iqbal merupakan implikasi dari keadaan umat Islam akibat kolonialisme Inggris di anak benua India yang terjadi pada abad ke-18 atau paling awal pada abad ke-19 (Ali, 1993: Iqbal mengalami kehidupan yang penuh dengan keprihatinan akibat ketegangan dan konflik 108 | Dawuh : Vol. No. November 2021 sebagai minoritas Muslim di India yang didominasi oleh mayoritas Hindu serta hegemoni kolonialis Inggris (KhuzaAoi, 2007: . Iqbal, bagi Murthadha Muthahhari . 1: 68-. , merupakan pemikir yang mampu melihat Barat dari dekat sehingga secara kritis menilai secara objektif kelebihan dan kelemahan Barat, mampu mengajak generasi Timur untuk menggali ilmu-ilmu yang berkembang di Barat tanpa kehilangan identitasnya sebagai seorang Muslim sambil menunjukkan sebab-sebab hilangnya spirit kebudayaan Islam di tubuh umat Islam. Salah satu faktor yang mengakibatkan krisis tersebut adalah ajaran dan praktik sufisme yang menyimpang dari spirit kebudayaan Islam. Setelah melihat berbagai krisis yang terjadi di balik kemajuan material Eropa serta kemunduran umat Islam akibat mistisisme yang menyimpang di Timur. Iqbal berusaha untuk melakukan rekonstruksi terhadap sufisme yang sesuai dengan semangat modern. Majid Fakhry . 3: . menyebut Iqbal sebagai satu-satunya filosof Muslim modern yang berusaha menafsirkan Islam dalam istilah-istilah . modern sebagaimana pernah dilakukan oleh Al-Kindi dan Ibnu Rusyd. Bahkan Ishrat Hasan Enver mencatat bahwa pada abad dua puluh Iqbal merupakan pemikir yang paling konsisten untuk mendamaikan antara agama dan filsafat (Enver, 2004: . Sufisme Iqbal merupakan satu dekonstruksi terhadap ajaran tasawuf pasif yang menjadi salah satu penyebab kemunduran umat Islam. Iqbal membawa orientasi dan pemahaman baru terhadap sufisme atau tasawuf . ihat Danusiri, 1. yang aktif dengan penekanan terhadap pentingnya pengkayaan kesadaran dan pengalaman batin yang disertai dengan formasi ilmiah dan amaliah yang nyata sehingga mampu merubah dunia dengan semangat solidaritas (Lidinillah,2005: . Manusia yang mampu menyerap sifat-sifat Tuhan akan mampu mewujudkan nilai-nilai Tuhan di muka bumi tidak hanya berpikir belaka namun mewujudkannya dengan daya dan upaya yang tak kenal lelah dan berani mengarungi penderitaan (Mahmood dalam Khayal, 1944: . Sufisme Iqbal tersebut dibangun oleh kombinasi antara visi dan kekuatan sebagai pendorong spiritual manusia secara ekspansif. Visi yang tidak didukung oleh kekuatan hanya meningkatkan moral namun tidak mampu menciptakan kebudayaan yang abadi. Sebaliknya, kekuatan tanpa visi akan menciptakan kerusakan dan tirani. Oleh karena itu, cita-cita etis dibangun oleh visi dan organisasi politik Islam yang mampu mewujudkan gagasan etis tersebut (Ahmad dalam Khayal, 1944: 228-. Iqbal dan Kritik Postkolonial Kritik tajam Edward Said yang terangkum dalam beberapa karya monumentalnya. Orientalism. Culture and Imperialism, dan Covering Islam merupakan bentuk penyuaraan the others terhadap dampak negatif dari hegemoni kolonialisme yang telah dan sedang dipraktikkan Barat terhadap terhadap Timur. Namun, upaya yang dilakukan Said dirasa terlalu AureaktifAy dan belum mampu memberikan jalan keluar yang strategis bahkan dapat mengarah pada menambah masalah baru berupa munculya fundamentalisme kebudayaan (Lihat Abshar-Abdalla. AuEdward Said dan Masalah OrientalismeAy dalam Kompas, 5 Oktober 2. Kekhawatiran tersebut dapat dimengerti karena Said hanya memberikan dua pembongkaran terhadap hegemoni kolonialisme, yaitu pada ranah epistemologis dan ontologis. Secara epistemologis. Said berusaha membongkar dan menyingkap kebusukan kultural kolonialisme yang diklaim ilmiah oleh kolonialisme. Secara ontologis. Said berhasil menggugat penyebab akhir . paham kekuasaan kolonialisme yang imperialistik dan dan berujung pada antikemanusiaan (Cahyadi, 2004: . Edward Said seolah-olah belum menemukan jalan keluar sebagai cara agar the others dan membiarkannya dalam AuketeganganAy. Dalam perspektif postkolonial pergulatan eksistensial antara Barat dan Timur, penjajah dan terjajah dalam praktik kebudayaan terjadi dalam bentuk resiprokal dan saling mewarnai. Oleh karena itu, cara pandang oposisi biner yang mempertentangkan secara dikotomis kehilangan relevansinya. Pertanyaan yang muncul adalah: bagamana mencari format ruang dialogis sebagai jalan untuk menghindari oposisi biner menjadi mungkin? Pada posisi inilah gagasan Homi Bhaba sangat relevan untuk memberi jalan atau ruang alternatif untuk keluar dari Aujalan buntuAy yang ditinggalkan Edward Said. Bhaba merupakan pemikir postkolonial yang banyak dipengaruhi oleh pemikir poststrukturalis, sehingga ia banyak terinspirasi oleh dekonstruksi Derrida, psikoanalisis Jacques Lacan, dan teori pengetahuan dan kuasa Hawasi : Tindakan Moral Sebagai Dasar A | 109 Michel Foucault. Ulasan-ulasan Homi Bhaba dalam bukunya. The Location of Culture berusaha untuk mendamaikan paradigma dikotomis yang ditinggalkan oleh Said. Secara epistemologis dan ontologis. Bhaba berusaha untuk tidak terjebak pada penyederhanaan . dalam menginterpretasi realitas karena ia sadar bahwa menyederhanakan masalah bahwa Barat-kolonial adalah musuh Timur akan berimplikasi secara performatif dan etis karena menerima yang satu dan menegasikan yang lain. Oleh karena itu, setelah mengkritik Said yang dianggap masih terjebak pada oposis biner (Bhaba, 1994: . Bhaba menawarkan satu ruang antara . n- betwee. atau Ruang Ketiga yang memiliki dampak tidak hanya secara epistemologis dan ontologis, namun juga secara etis. Melalui Ruang Ketiga. Bhaba membangun suasana diskursif tentang pentingnya pembongkaran kesatuan primordial atau kepastian makna dan simbol budaya melalui proses reinterpretasi, rehistori . embacaan ulang sejara. , dan pembacaan secara dinamis: AuIt is that Third Space, though unrepresentable in itself, which constitutes the discursive conditions of enunciation that ensure that the meaning and symbols of culture have no primordial unity or fixity. that even the same signs can be appropriated, translated, rehistoricized and read Ay (Bhaba, 1994: . Namun, strategi tersebut ternyata menghasilkan satu efek kompromi ironis yang ambigu dan kontradiktif karena tidak asli lagi. Dalam mimikii terjadi suatu proses hibriditasi yang bersifat diskursif yang disebut Bhaba sebagai almost the same, but not quite . erupa tapi tak sam. yang mentransformasikan ketidakpastian (Bhaba, 1994: . yang tak bisa dikontrol oleh subjektiftas kolonial secara ketat. Tanpa disadari oleh penjajah, mimicry . dan mockery . mampu menggerogoti eksistensi hegemoni penjajah. Bhaba meyakini bahwa tidak kebudayaan yang benar-benar murni ketika telah berinteraksi dalam Ruang Ketiga. Kebudayaan tersebut akan selalu mencair dan menjadi heterogen akibat hibriditasi yang pada akhirnya akan menjaga jarak dari kebudayaan kolonial akibat interaksinya dengan kebudayaan terjajah yang bersifat ambigu dan ambivalen. Gagasan Ruang Ketiga dari Homi K. Bhaba dapat menginspirasi demi terwujudnya ruang bersama bagi tumbuhnya nilai-nilai kemanusiaan yang setara, dengan tanpa sekat parokial dan Jika teori liminalitas sebagai Ruang Ketiga Bhaba dikaitkan dengan gagasan kebudayaan Iqbal, seperti tercermin dalam puisi-puisinya tentang pentingnya toleransi dan solidaritas serta kritik tajamnya terhadap segala bentuk penindasan, termasuk bahaya imperialisme. AuNayalakan api yang tersembunyi dalam debumu sendiri Sebab cahaya orang lain tak lah berarti (Maitre, 1996: . Iqbal menolak pandangan rasialis sambil mengatakan dalam sajaknya: Bukan Afghan. Turki, dan Putera Tartar. Namun sebuah kebun dan sebuah pohon Ialah kita A. Kita semua anak asuhan musim semi Apakah tujuan akhir Alam. Dan apa maksud batini Islam? Ialah persaudaraan universal manusia Dan melimpahnya cinta. Hancurkanlah berhala-berhala keturunan. Warna dan ras. Dan lenyapkan dirimu dalam komunitas Hapuskan semua perbedaan Antara Tartar. Persia dan Afghan. Ketamakan telah memisahkan manusia Dalam kelompok-kelompok yang Berperang. 110 | Dawuh : Vol. No. November 2021 Maka berbicaralah dalam bahasa cinta dan ajarkanlah persaudaraan. Apakah perbedaan orang India. Afghan Tartar dan Khurasan? Kalian terikat dengan pantai dan terjumlah ke dalam kemerdekaan yang luas tak mengenal batas Sayap kalian tertutup oleh debu kepercayaan dan warna Hai burung Tanah Haram! Kibaskan sayapmu Sebelum terbang! (Maitre, 1996. Sebagai manusia yang pernah mengalami pahit dan getirnya penjajahan Inggris di India, maka sangat manusiawilah ketika ia mengecam secara emosional tentang bahaya kolonialisme. Dalam sajaknya Iqbal berusaha mengungkap karakter Barat yang imperialistik: AuMatanya tak mengenal air mata Karenanya pengetahuan jadi malapetaka bagi dunia Dalam masyarakatnya Jibril menjadi Iblis Hikmah Barat dalam sebilah pedang terhunusAy (Hadi W. , 2000: . Dalam sajaknya yang lain Iqbal berujar: AuJika ketempat lain kita arahkan pandangan Akan tampak: Tiran sedang lahir di mana-mana Apa tak kau lihat pemerintahan demokrasi di Barat Yang kelihatan cerah itu? Jiwa mereka Sebenarnya jauh lebih kejam dari Jenghis KhanAy (Hadi W. , 2000: . Hukum Barat yang bersifat materialistik dan positivistik tidak luput dari kritikan Iqbal. Ideologi kapitalisme merupakan manifestasi berhala materialisme abad modern dan postmodern sehingga perlu didekonstruksi: AuHukum Barat tak diragukan lagi Menghalalkan serigala mengunyah-ngunyah kambing Tatanan baru harus dibangun di dunia Tak ada lagi harapan para pencuri bangkaiAy (Hadi W. , 2000: . Spirit yang dibangun oleh peradaban Barat adalah materialisme sehingga kering terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Akumulasi kapital dan keuntungan menjadi segala-galanya hingga tanpa ampun menghalalkan segala cara dengan munculnya kolonialisme di berbagai negara-negara selama berabad-abad. Landasan demokrasi Barat yang materialistik, bagi Iqbal, merupakan perangkap yang tidak kalah bahayanya. Dalam sajaknya yang berjudul. Schopenhauer dan Nietzsche Iqbal melukiskan secara metaforis kegelisahan manusia di Barat sebagai korban modernisme: Schopenhauer dan Nietzsche AuIapun lepas dari sangkarnya dan berjalan di taman bunga Iapun tercocok duri dari bunga-bunga Taman bunga itu dan masapun dicaci makinya Dengan tidak mengenal lelah burung-burung dan dirinya Hawasi : Tindakan Moral Sebagai Dasar A | 111 Dalam sakitnya penderitaan kepalsuan dilihatnya Arca bunga hanyalah tipu daya dan fata morgana belaka Katanya bahwa pada kepalsuan yang didirikan ia mengitari dari pagi hingga senja hari Iapun merintah hingga dari melodi-melodinya meneteskan darah bagaikan air mata mengalir dengan derasnya ____________ Rintihan itu terdengar oleh Hudhud dan iapun ditolongnya diambilnya duri itu dari sayapnya yang terluka katanya AuLapaskan . epaskan-pen. ] dirimu dari segala kerugian kan beruntung Koyaklah dada mawar bagi orang yang lalu Jadikanlah lukamu sebagai obat kan tenteram hatimu Jinakkan sang duri seluruh taman kan jadi hidanganmuAy (AoAzzam, 1985: 174-. Pengamatan Iqbal secara langsung ketika mengunjungi Eropa sangat berkesan baginya. Kemajuan Eropa yang menghargai kerja akal serta dinamika kebudayaannya tidak menghalangi Iqbal untuk mengambilnya sebagai AuobatAy bagi bangsanya yang terpuruk akibat penjajahan dan dampak sufisme dan cara penafsiran agama dogmatis yang melemahkan daya hidup. Namun, pada saat yang sama Iqbal temukan pula bahaya peradaban Eropa yang hanya ditopang oleh rasio sedangkan di Timur agama, sesungguhnya mampu menjadi oase kekeringan spiritual manusia modern. Oleh sebab itu. Iqbal merindukan Barat dan Timur saling berbagi untuk menemukan AuDunia BaruAy. AuDi Barat. Akal sumber kehidupan Di Timur. Cinta basis kehidupan Melalui Cinta Akal mengenal Realitas Dan Akal memberi ketenangan Pada Cinta yang bekerja. Bangkitlah! Dan letakkan dasar-dasar Dunia Baru Dengan mengawinkan Akal dan CintaAy (Maitre, 1996: . Sekali lagi. Iqbal menunjukkan upaya serius dalam AumenyembuhkanAy krisis kebudayaan yang Iqbal lihat telah menjangkiti baik Barat maupun Timur. Iqbal menyebut Barat mengidap penyakit AuhatiAy sebagai representasi krisis spiritual sedangkan Timur menderita penyakit AuakalAy sebagai representasi krisis intelektual. Upaya AuijtihadAy, semacam pembaruan Iqbal yang tak kenal lelah ia buktikan baik secara teori maupun praxis hingga iapun menulis: AuLebih dari dua puluh tahun saya telah menelaah filsafat dunia dan dalam usaha saya untuk mengemukakan pendapat ini, saya telah berusaha untuk melepaskan diri dari fanatisme. Begitu juga saya berusaha mengeritik peristiwa-peristiwa yang terjadi di dunia ini tanpa memihakAy (AoAzzam, 1985: . Hasil AuijtihadAy Iqbal tersebut dalam upaya agar manusia tidak terjebak dalam polarisasi Barat atau Timur sehingga mampu secara kritis menyikapi apa yang diberikan oleh Barat dan Timur. Dalam sajak berikut Iqbal mengingatkan: Untuk cita-cita yang luhur tersebut, yaitu menciptakan AuDunia BaruAy Iqbal tanpa kompromi segala bentuk AuberhalaAy, baik itu atas nama agama, ras, idelogi, dan sejenisnya: AuBerbagai bangsa telah menyembah tanah air mereka Dari garis keturunan mereka dirikan bangunan yang ada 112 | Dawuh : Vol. No. November 2021 Benarkah tanah air landasan bangsa-bangsa Bumi disembah bagaikan arca? Garis keturunan itu kan kebanggan si tolol Hukumnya dalam tubuh dan tubuh kan sirna Bagi kita poros lain nan terkandung dalam hati kita Dari ikatan dan batasan telah lepas kita Kalbu kita dalam kegaiban, karena kita dalam kejelasan (AoAzzam, 1985: . Dalam satu suratnya kepada Abdul Wahhab AoAzzam. Iqbal menuliskan: AuTugas yang dihadapi seorang Muslim modern tidaklah bertara. Ia, harus memikirkan kembali keseluruhan sistem Islam tanpa sepenuhnya memutuskan hubungan dengan masa lampauAy (AoAzzam, 1985: . Jalan yang ditempuh Iqbal dapat diposisikan sebagai Aujalan tengahAy dari tiga kelompok yang ada, yaitu: pertama, kaum orientalis yang menyangsikan Islam menjadi modern, kedua kaum Islam konservatif yang menolak untuk meminjam konsep-konsep Barat, serta yang ketiga, kalangan Islam modern berusaha untuk menerima secara selektif kemajuan yang terjadi di Barat untuk memperkaya dan memperkuat kebudayaan Islam sehingga diharapkan mampu menjadi kekuatan alternatif (Shihab, 1999: . Semangat mengambil Aujalan tengahAy tersebut tercermin dari pernyataannya dalam The Reconstruction of Religious Thought in Islam berikut: AuThe more genuine school of Sufism have, no doubt, done ood work in shapping and directing the evolution of religious experience in Islam. but their latter-day representatives, owing to their ignorance of the modern mind, have become absolutely incapable of receiving any fresh inspiration from modern thought and experience. They are perpetuating methods which were created for generations possessing a cultural outlook differing, in important respects, from our ownAy (Iqbal, 2004: xx. Gaung universalisme gagasan Iqbal, termasuk dalam menyuarakan Islam sebagai agama yang cinta damai mendapat tanggapan yang positif dari William O. Douglas dari Mahkamah Agung Amerika Serikat sebagaimana dikutip oleh Ahmad SyafiAoI MaAoarif berikut: AuIqbal adalah sosok dari Timur yang menemukan denominator yang sama dengan Barat dan telah membantu terciptanya sebuah komunitas universal yang berlapang dada terhadap semua perbedaan ras, agama, dan bahasa. Sekalipun Iqbal putra Pakistan, kami bangsa Amerika juga mengakuinyaAy (MaAoarif dalam Pengantar buku Iqbal, 2008: x. Oleh karena itu Iqbal berusaha meluruskan kesalahpahaman yang selama ini diidap orang Eropa terhadap Islam sebagai Auagama pedangAy ketika menjawab surat Dixon yang ditujukan kepada Iqbal: AuBesar dugaan. Tuan Dixon masih dalam tawanan ilusi lama. Ilusi orang-orang Eropa bahwa Islam menyeru pada peperangan dan penumpahan darah. Benar, kekuasaan Allah di atas bumi, tidak hanya khusus bagi kaum Muslimin saja. Tetapi bisa juga meliputi seluruh umat manusia. hendaknya mereka meninggalkan penyembahan terhadap arca, baik arca keturunan, arca warna, arca bangsa, dan arca tanah air. Perjanjian perdamaian. Liga Bangsa-Bangsa (Perserikatan BangsaBangsa Aepen. ), dan perintah-perintah raja tidak akan membahagiakan orang, kecuali dengan adanya pengakuan terhadap kebebasan orang dan persamaan mereka, tanpa memandang keturunan dan tanah air merekaAy (AoAzzam, 1985: . Surat Iqbal yang ditujukan kepada Dixon tersebut menunjukkan sikap kritis Iqbal untuk mencari Ruang Ketiga yang bermakna tidak Barat dan tidak Timur atau bisa kedua-keduanya selama mampu memberikan kemajuan umat manusia. Sikap Iqbal tersebut menjadikan ia digolongkan sebagai pemikir yang progresif, sebagaimana disebutkan oleh K. Saiyidain . 4: 47-. , karena keyakinannya pada kebaikan yang mutlak dari sifat manusia, pandangan yang cosmopolitan dan Hawasi : Tindakan Moral Sebagai Dasar A | 113 simpatik yang melampaui agama, ras, dan geografis, serta identitas diri yang aktif demi keadilan Dalam beberapa segi, kritik tajam Iqbal terhadap imperialisme sejalan dengan gagasan-gagasan Edward W. Said yang membongkar hegemoni Barat terhadap Islam sebagaimana tercermin dalam karyanya. Covering Islam: How the Media and the Experts Determine How We See the Rest of the World. Dalam bukunya tersebut Said menulis: AuDalam banyak contoh. AuIslamAy telah menerima bukan saja perlakuan yang tidak tepat, melainkan juga ekspresi etnosentrisme yang melampaui batas, kebencian kultural bahkan rasial serta permusuhan mendalam yang secara paradoksikal mengalir bebasAy (Said, 2002: vi. Sufisme atau tasawuf merupakan ajaran dalam Islam yang tidak luput dari kritikan Iqbal. Menurut Iqbal, ajaran sufisme atau tasawuf yang pernah mewarnai umat Islam adalah sufisme yang tidak lagi secara konsisten bersumber kepada ajaran Islam, namun banyak dipengaruhi filsafat Plato. Plotinus, serta paham monisme yang bersifat panteistik. Akibat selanjutnya, daya juang umat menjadi pasif dan cenderung menjauhi dunia . Selain itu, sufisme telah pula menjadi ajang komersialisme spiritual oleh para pemimpin spiritual yang mencari keuntungan dari kepatuhan membabi buta para pengikutnya. Sebagai alternatif. Iqbal menawarkan jenis tasawuf yang bersifat rasional transendental yang tidak melebur dan lulu dalam kesadaran Tuhan namun tetap mampu mempertahankan eksistensi diri manusia yang bebas. Iqbal berhasil keluar dari kecenderungan eksistensialisme Barat yang atheistik, seperti yang dianut Nietzsche dan Sartre menuju eksistensialisme religius (Hawasi: 2. Dalam sufisme semacam ini manusia tidak terserap dalam Tuhan melainkan menyerap sifat-sifat Tuhan dalam dirinya. Manusia tetap memiliki kediriannya . yang berbeda dengan Ego Absolut (Tuha. sehingga transendensi lebih ditekankan daripada imanensi Tuhan (Enver, 2004: 105. Uji pragmatisnya tercermin dalam kemampuannya untuk tidak mengasingkan diri dan menjauhi dunia namun melalui afirmasi terhadap dunia dengan terlibat secara aktif dalam kehidupan berupa kreatifitas, kehalalan, cinta, keberanian, toleransi, dan mandiri (Danusiri, 1996: . Dalam bahasa modern, pemamahan Iqbal terhadap sufisme lebih pada kontekstualisasi peran agama yang bersifat humanistik-fungsional daripada sekadar teologis-ideologikal (Lidinillah, 2005: . AuSaya tidak menolak pikiran-pikiran baru dalam baju lama. Tetapi saya menguraikan realitasrealitas lama di bawah cahaya pikiran-pikiran baruAy (AoAzzam, 1985: . Iqbal mampu dengan jernih dan objektif dalam menanggapi kolonialisme, sehingga kemarahannya terhadap imperalisme Inggris di India tak menghalanginya untuk menerima beberapa segi yang positif akibat dibukanya pendidikan modern oleh kolonialis Inggris . an Iqbal salah satu hasil pendidikan moder. Pada saat yang sama, kondisi pendidikan modern di India jauh tertinggal, baik dari segi kuantitas maupun kualitas. Abdul Hadi W. mencatat dalam tulisannya. Iqbal dan Renaisans Asia tentang kondisi Asia pada saat itu: AuAsia pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 ditandai oleh dua hal yang mencolok yang belum pernah terjadi sepanjang sejarahnya. Pertama, kemunduran dan kemerosotan yang melanda hamper semua lapangan hidup bangsa Asia sebagai akibat kolonialime. Kedua, kian intesnya interaksi kebudayaan Asia dengan kebudayaan Barat, khususnya sebagai akibat diterapkannya system Eropa dalam bidang pendidikan dan semakin berpengaruhnya kegiatan kaum orientalis. Ay (Hadi W. , 2000: . Pendidikan modern yang dimiliki Iqbal semakin melengkapi cara pandangnya terhadap kondisi Barat dan Timur. Karena Iqbal meyakini bahwa kemampuan akal tak mampu menembus jantung hakikat kehidupan, maka Iqbal menyandarkan diri agar akalnya dibimbing oleh hati . aca agam. sebagai mutiara dari Timur: AuDari rohku api kutiup menderu Dalam pelukan Timur menjadi bangkit kalbuku Buminya telah menjadi bara api diriku 114 | Dawuh : Vol. No. November 2021 Bagaikan Guntur dalam sifatnya dibangun akuAy (AoAzzam, 1985: . Menjunjung tinggi toleransi dan melarang cinta kepada suku secara berlebihan juga terlihat dalam sajak Iqbal berikut: AuIt is wrong to utter a bad word The infidel as well as the faithfull are GodAos creation Humanity consist in respect for man So acquaint thy self with the dignity of man The man of love takes his guidance from God And is kind the infidel and the faithful alike (Danusiri, 1996: . Dalam sajak di atas Iqbal menunjukkan bahwa cara pandang yang sempit dalam menghayati agama dapat menimbulkan sikap tidak menghormati nilai kemanusiaan universal ketika hanya sekadar perbedaan keyakinan dan aliran keyakinan. Keyakinan atau fanatisme yang membabi buta tersebut merupakan musuh kemanusiaan. Sikap toleransi dan aseptansi terhadap yang berbeda sebagai nilai-nilai yang dijunjung oleh Iqbal yang ia yakini sebagai bagian integral dari perintah Tuhan. Salah satu AuberhalaAy yang tidak kalah berbahayanya, menurut Iqbal, adalah sukuisme yang Dalam sekala global kebanggaan terhadap ras dan etnis ini mampu menjelma menjadi alat setan dalam menghancurkan nilai kemanusiaan dengan pernah munculnya fasisme Nazi. Zionisme. Arabisme, dan berbagai variannya. Dalam sekala nasional AuberhalaAy tersebut menjelma dalam nepotisme di berbagai sector. Oleh karena itu Iqbal benar bahwa: AuTo be proud of ancestry is a mistake Ancestry relates to body, a body is ephemeral One community has different basis The secret, of which is in our heartAy (Danusiri, 1996: . AuBerhalaAy abad modernpun bisa muncul atas nama Tuhan melalui ideologi agama dan aliran Di dalamnya manusia dapat melakukan persekutuan dan menghimpun kekuatan destruktif berupa fundamentalisme dan konservatisme. Kelompok keagamaan semacam itu akan berbangga-banggan atas nama kelompoknya dan mengkafirkan kelompok yang lain atas nama Tuhan. Agama direduksi hanya semata-mata bersifat ritual. Cara beragama semacam ini, bagi Iqbal, tidak akan menciptakan sejarah. Kepada para imam/mullah diri tergantung secara membabi-buta sehingga Iqbal menyebutnya cara Auberagama tumbuh-tumbuhanAy sehingga tidak akan melahirkan manusia merdeka: AuHanya gereja, kuil, masjid, rumah berhala Kau bangun Ae lambing-lambang penghambaanmu Tak pernah dalam hati kau bangun dirimu Karena itu kau tak bisa jadi utusan merdekaAy (Hadi W. , 2000: . Iqbalpun menolak sistem keagamaan yang beku dari dinamisme sehingga mengubur hiduphidup pentingnya membuka pintu ijtihad. karena manusia terbelenggu dalam pemujaan dan kultus individu: AuAgama sejati tenggelam Kalah kepada bukan agama Bagi para muallah agama ialah kesibukan Mengecam orang sebagai kafir Hawasi : Tindakan Moral Sebagai Dasar A | 115 Bagi si kafir agama ialah mengatur Siasat dan menimbun kekayaan Bagi para muallah agama ialah bagaimana Mendatangkan kesulitan atas nama TuhanAy (Hadi W. , 2000: . SIMPULAN Membincangkan etika kebudayaan Islam merupakan satu diskursus yang urgen di tengah menguatnya Islam ideologi dan politik di negara-negara Timur Tengah serta di Indonesia. Etika sebagai cabang filsafat, yaitu aksiologi merupakan salah satu cara . ika bukan salah satuny. yang paling strategis dalam mendekonstruksi untuk selanjutnya merevitalisasi teori serta terutama praktik kebudayaan. Lewat kebudayaan, maka cara keberagamaan, sebagai salah satu praktik kebudayaan dapat dimaknai secara bersama . hared meanin. sebagaimana dikatakan oleh Stuart Hall. Pemaknaan tersebut bersifat plural dan tidak melulu bersifat kognitif, namun melibatkan perasan, emosi, dan identitas. Pembongkaran tersebut perlu untuk membuka kedok Auatas namaAy agama . odifikasi agam. sehingga penafsiran yang dinamis terhadap agama, lagi-lagi menjadi agenda umat Islam. Pembongkaran ala Foucouldian terhadap motif-motif ideologis akibat relasi pengetahuan dan kuasa . elation of Knowledge and powe. perlu dilakukan karena proses operasi ideologi, menurut McCarthy beroperasinya sudah bersifat menyebar . tidak lagi terpusat pada kelas berkuasa namun sudah merambah ke seluruh lini kehidupan (Huda, 2004: , termasuk pada agama yang telah dan sedang mengalami komodifikasi. Dengan demikian, upaya dekonstruksi sekaligus revitalisasi Iqbal terhadap wacana keagamaan dalam Islam merupakan langkah maju. Iqbal merupakan sedikit dari pemikir Muslim modern yang mencoba menggunakan pendekatan yang sekarang dikenal sebagai metode dekonstruksionisme dan poststrukturalisme dalam Kajian Budaya (Cultural Studie. Berkembangnya Kajian Budaya di Barat kontemporer merupakan tantangan bagi munculnya respons Kajian Budaya yang berdasarkan pada paradigm Islam. DAFTAR PUSTAKA