Abdi Seni Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat pISSN: 2087-1759 eISSN: 2723-2468 PELATIHAN BATIK DENGAN MOTIF JAGAD PACITAN SEBAGAI UPAYA PENGEMBANGAN EKONOMI KREATIF DI DUSUN NGETEP DESA NGROMO KECAMATAN NAWANGAN KABUPATEN PACITAN A BATIK TRAINING WITH JAGAD PACITAN MOTIF TO DEVELOP THE CREATIVE ECONOMY IN NGETEP. NGROMO VILLAGE. NAWANGAN DISTRICT. PACITAN REGENCY Prima Nugroho1. Rahayu Adi Prabowo2 Institut Seni Indonesia Surakarta primanugroho123@gmail. com, 2adiaetnika7@gmail. ABSTRAK Kegiatan pengabdian masyarakat dengan judul AuPelatihan Batik dengan Motif Jagad Pacitan sebagai Upaya Mengembangkan Ekonomi Kreatif di Dusun Ngrotep. Desa Ngromo. Kecamatan Nawangan. Kabupaten PacitanAy kegiatan ini berfokus pada peningkatan keterampilan masyarakat Dusun Ngetep melalui pelatihan di bidang seni rupa. Program tersebut dilakukan dalam rangka mengembangkan ekonomi kreatif di Dusun Ngetep. Kegiatan ini juga sebagai upaya menghadirkan kegiatan seni yang dapat membangun brand image Dusun Ngetep. Selain sebagai upaya peningkatan keterampilan, pelatihan membatik juga bertujuan untuk menumbuhkan kecintaan masyarakat, khususnya generasi muda, terhadap salah satu warisan budaya Indonesia, yaitu batik. Dengan adanya pelatihan ini, diharapkan munculnya kegiatan-kegiatan seni yang dilakukan oleh masyarakat dan dapat berkembang menjadi sumber pendapatan masyarakat di bidang seni rupa. Metode yang digunakan dalam kegiatan pelatihan membatik ini adalah metode ceramah plus, demonstrasi, praktik, dan juga menggabungkan dengan metode penciptaan seni dimana peserta diajak untuk berkreasi dalam motif yang akan dibuat menjadi batik. Pelatihan ini dilaksanakan dengan 5 tahap kerja, yaitu pengenalan alat dan bahan, pemaparan materi tentang batik, demonstrasi proses pembuatan batik, praktik pembuatan desain motif, dan praktik pembuatan batik. Kata kunci: Batik. Jagad Pacitan. Ekonomi Kreatif. Pelestarian Budaya ABSTRACT Community service activities entitled AuBatik-making Training of Jagad Pacitan Motifs as an Effort to Develop Creative Economy in Ngetep. Ngromo Village. Nawangan District. Pacitan RegencyAy focus on improving the skills of the Ngetep community through training in visual arts. The program was carried out to develop the creative economy in Ngetep. This activity is also an effort to present artistic activities that can build the brand image of Ngetep. Besides improving skills, this batik-making training also aims to grow the love of the community, especially the younger generation, for one of IndonesiaAos cultural heritages, namely batik. With this training, it is expected that the emergence of artistic activities carried out by the community can develop into a source of community income through visual arts. The method used in this batik training activity is the lecturing plus method, demonstration, and It also combines with the art creation method, inviting participants to make motifs into batik creatively. This training was carried out with 5 stages of work, namely the introduction of tools and materials, presentation of material about batik, demonstration of the batik-making process, the practice of motif design creation, and practice of making batik. Keywords: Batik. Jagad Pacitan. Creative Economy. Cultural Preservation Volume 15 No. 1 Juni 2024 Prima Nugroho dan Rahayu Adi Prabowo: Pelatihan Batik dengan Motif Jagad Pacitan . PENDAHULUAN Analisis Situasi Kabupaten Pacitan merupakan salah satu wilayah di Provinsi Jawa Timur yang memiliki potensi sektor pariwisata yang unggul. Selain potensi alam yang memukau, daya tarik seni yang dimiliki seperti Wayang Beber dan batik khas Pacitan adalah salah satu magnet untuk menarik wisatawan datang. Hal ini menunjukkan keberadaan seni di suatu daerah merupakan salah satu hal yang berpengaruh di berbagai sektor terutama sektor ekonomi kreatif. Dusun Ngetep. Desa Ngromo. Kecamatan Nawangan, merupakan salah satu daerah yang berada di Kabupaten Pacitan Provinsi Jawa Timur. Wilayah Dusun Ngetep berada pada kawasan pegunungan dengan kontur alam yang berbukit. Masyarakat Dusun Ngetep mayoritas sebagai petani, namun tidak sedikit juga yang berwirausaha. Terdapat berbagai aktivitas kesenian di Dusun Ngetep seperti Ludruk. Tari Remo. Rontek, dan beberapa seni pertunjukan lainnya. Keberadaan kesenian di Dusun Ngetep yang sampai saat ini masih terjaga membuktikan kecintaan masyarakatnya terhadap seni budaya yang ada. Namun keberadaan aktivitas kesenirupaan di Dusun Ngetep belum banyak terlihat. Peningkatan keterampilan masyarakat khususnya dibidang seni rupa dapat menjadi salah satu ekspresi yang mana bisa menunjukkan eksistensi dibidang Hal ini dapat berdapak pada brand image Dusun Ngetep yang juga dapat berpengaruh terhadap perkembangan ekonomi masyarakatnya. Stimulus berupa pelatihan keterampilan di bidang seni rupa dibutuhkan untuk masyarakat Dusun Ngetep agar dapat membantu mengembangkan aktivitas pada sektor ekonomi kreatif yang berkelanjutan sehingga dapat berdampak pada kesejahteraan masyarakatnya. Kegiatan pelatihan dengan tujuan peningkatan keterampilan dibidang seni rupa adalah salah satu hal yang penting untuk diadakan. Motif batik Jagad Pacitan merupakan salah satu motif batik khas Kabupaten Pacitan. Motif ini diperoleh dari kegiatan lomba desain batik tahun 2021 dengan tema AuGemebyar Pesona PacitanAy yang diselenggarakan oleh Dinas Perindustrian Dan Perdagangan Kabupaten Pacitan dan Dewan Kerajinan Nasional Daerah Kabupaten Pacitan serta menetapkan motif batik Gumregah Pacitan sebagai juara pertama . aat ini telah ditetapkan dengan nama motif AuJagad PacitanAy yang menjadi batik khas daerah dengan surat keputusan bupati nomor 004. 5/107/408/22/2. Dalam kehidupan orang Jawa batik merupakan hal penting, salah satunya yaitu motif-motif yang memiliki makna filosofi yan mengandung arti tentang kehidupan dan alam semesta (Jagad ray. 1 Begitu juga dengan motif batik Jagad Pacitan. Motif batik ini terinspirasi dari kekayaan alam dan kebudayaan yang menjadi daya tarik di kota Pacitan serta menggambarkan tunas-tunas generasi yang dapat memberikan perubahan menuju kehidupan masyarakat yang lebih baik. Pada motif batik Jagad Pacitan ini, terdapat bentuk bentuk stilasi yang merupakan sebuah hasil eksplorasi pencipta karya. Pertama adalah stilasi bentuk ombak yang dibuat menyerupai kedua tangan menengadah, dimaknai sebuah panjatan doa yang terus dilantukan sehingga membawa keberkahan khususnya untuk masyarakat Pacitan. Stilasi bentuk ombak pada motif ini merepresentasikan sebuah sikap untuk terus semangat, konsisten, terus memberikan kebermanfaatan serta tidak mudah putus asa. Keindahan motif ombak merupakan sebuah gambaran kota Pacitan yang kaya akan pantainya dan gambaran dari laut sebagai salah satu sumber mata pencaharian masyarakat di kota Pacitan. Berikutnya terdapat stilasi stalaktit dan stalagmit yang dibuat dengan ketinggian yang berbeda-beda, diartikan dengan adanya sebuah perbedaan bukan merupakan sebuah permasalahan, namun akan lahir ideide baru atau inovasi yang memukau seperti halnya stalaktit dan stalagmit yang memunculkan keindahan Volume 15 No. 1 Juni 2024 Abdi Seni Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat pISSN: 2087-1759 eISSN: 2723-2468 yang khas. Stalakmit dan stlagtit juga menggambarkan sebuah benda yang sangat keras dapat berkurang atau terpengaruhi ketika terjadi sebuah tetesan air yang terus menerus, artinya masalah apapun dapat diatasi dengan kerja keras dan doa yang selalu di panjatkan. Selain itu, stalaktit dan stalagmit dipilih karena menjadi gambaran untuk sebutan Pacitan yaitu kota seribu satu goa. Selanjutnya adalah stilasi bentuk karang yang merupakan suatu gambaran untuk tekadt yang kuat dan teguh dalam pendirian, karang-karang ini juga merupakan bagian dari pantai pantai yang ada di Kabupaten Pacitan. Stilasi berikutnya adalah bentuk mahkota yang terinspirasi dari aksesoris kesenian tari Kethek Ogleng sebagai salah satu kesenian tradisional yang berasal dari kota Pacitan. Stilasi bentuk mahkota dimaknai dengan kecerdasan yang akan memunculkan gagasan baru dan pola pikir yang semakin baik. Stilasi terakhir adalah stilasi tunas. Stilasi tunas diartikan generasi baru yang dapat memberikan perubahan baik untuk Motif Jagad Pacitan ini menggunakan beberapa warna, warna pertama yaitu warna biru, biru mewakili langit, laut atau ruang terbuka, warna biru dapat memberikan nuansa ketenangan, kebebasan berfikir, dan memberikan pandangan bahwasnya tidak ada batasan untuk berkreasi seperti halnya laut dan langit yang Warna ini juga menggambarkan laut di Pacitan yang memukau. Berikutnya adalah warna coklat, warna ini mengandung unsur bumi yang memberikan kesan kuat, hangat, serta melambangkan sebuah pondasi yang kokoh dan kekuatan hidup. Permasalahan Sektor Ekonomi Kreatif di Dusun Ngetep Aktivitas kesenian masyarakat Dusun Ngetep lebih tertuju ke arah seni pertunjukan utamanya Seni Ludruk. Kesenian ludruk menjadi salah satu unggulan yang mana paguyubannya sudah berdiri cukup lama. Kesenian ini juga sangat digandrungi masyarakat dan terus dilestarikan. Pagelaran seni ludruk juga masih sering digelar dalam acara-acara seperti pada saat khitanan, acara peringatan hari kemerdekaan, pernikahan dan beberapa acara lainnya sehingga aktivitasnya dapat dengan mudah dijumpai. Namun berbanding terbalik dengan aktivitas kesenirupaan yang masih sulit ditemukan. Hal ini tentu berpengaruh terhadap sektor ekonomi kreatif di daerah ini. Sebagai salah satu upaya mengembangkan ekonomi kreatif di Dusun Ngetep, perlu adanya aktivitas kesenirupaan yang berkelanjutan sekaligus dapat mengembangkan sektor ekonomi kreatif di wilayah Dusun Ngetep Akan tetapi tentunya diperlukan sebuah strategi yang tepat agar kegiatan yang diselenggarakan dapat berkelanjutan serta memiliki dampak yang baik bagi masyarakat Dusun Ngetep. Solusi yang ditawarkan Berpijak pada latar belakang permasalahan yang ada, kegiatan yang dapat meningkatkan keterampilan di bidang kesenirupaan diperlukan dalam rangka mengembangkan sektor ekonomi kreatif di Dusun Ngetep. Dipilihlah kegiatan pelatihan batik yang mana membidik para generasi muda Dusun Ngetep. Kegiatan pelatihan dirancang mampu memberikan keterampilan baru dibidang seni rupa serta menjadi dorongan untuk masyarakat menjalankan aktivitas kesenirupaan ke depannya. Pelatihan membatik juga dipilih dalam rangka ikut serta menumbuhkembangkan industri batik di Kabupaten Pacitan. Generasi muda menjadi komponen penting dalam pembangunan nasional. Perlu adanya pembekalan untuk para generasi muda agar dapat berperan aktif di masyarakat. Hal itu menjadi salah satu alasan yang kuat memilih para pemuda sebagai peserta dalam Volume 15 No. 1 Juni 2024 Prima Nugroho dan Rahayu Adi Prabowo: Pelatihan Batik dengan Motif Jagad Pacitan . Selain karena pengembangan sektor ekonomi kreatif di Dusun Ngetep yang perlu dikembangkan, kegiatan pelatihan ini penting dilakukan dalam rangka pelestarian batik melalui regenerasi kepada generasi METODE Tinjauan Kajian Ilmiah Kegiatan pelatihan batik ini dilakukan dengan menggunakan beberapa metode yaitu metode ceramah plus, demontrasi, latihan, dan juga menggabungkan dengan metode penciptaan seni yang mana peserta diajak untuk berkreasi pada motif yang akan dibatik. Metode ceramah plus yaitu metode yang bertujuan memberikan pengetahuan dan petunjuk-petunjuk dimana terdapat audien yang berperan sebagai pendengar. Pada saat metode ceramah plus juga diselingi dengan tanya jawab agar audien dapat berinteraksi dengan pemateri. Metode yang kedua yaitu demontrasi yang bertujuan agar audien mendapatakan gambaran dari penjelasan yang disampaikan. Metode demonstrasi adalah metode mengajar dengan cara memperagakan barang, aturan, dan urutan melakukan suatu kegiatan, baik secara langsung maupun melalui penggunaan media pengajaranyang relevan dengan pokok bahasan atau materi yang sedang disajikan. 3 Metode ketiga yaitu latihan atau praktik secara langsung. Metode ini bertujuan agar peserta dapat memperoleh pengalaman membuat batik secara Yang keempat menggunakan sebuah metode yang berisi tentang tahap-tahap penciptaan sebuah karya seni. Penulis menggunakan metode yang dijelaskan oleh SP. Gustami dalam buku berjudul butir-butir mutiara estetika timur menyatakan bahwa untuk melahirkan sebuah karya seni kriya secara metodologi melalui tiga tahapan utama yaitu eksplorasi, perencanaan, dan perwujudan. Proses penciptaan karya dapat dilakukan secara intuitif tetapi juga dapat ditempuh melalui metode ilmiah yang direncanakansecara seksama, analitis dan sistematis. Selain itu metode ini mempermudah implementasi ide dan pengaplikasian secara Adapun tiga tahap menurut SP. Gustami dalam penciptaan karya kriya yang diterapkan adalah: Eksplorasi Tahap eksplorasi mencakup proses penggalian ide yang mana pada pelatihan kali ini peserta diajak melakukan pengumpulan data potensi sumber daya alam yang ada di Pacitan untuk selanjutnya digunakan untuk mengkreasikan motif batik yang akan dibuat. Perancangan Hasil dari tahap eksplorasi kemudian dilanjutkan dengan membuat kreasi motif Jagad Pacitan dalam bentuk desain yang nantinya akan dijadikan acuan pada tahap perwujudan karya. Perwujudan Desain yang sudah dibuat kemudian diwujudkan dalam bentuk karya batik. Tahap Pelatihan Batik Mengacu pada metode yang digunakan maka dirancanglah tahapan-tahapan yang akan dilalui yaitu sebagai berikut Pengenalan alat dan bahan Dalam tahap pengenalan alat dan bahan, peserta akan diperkenalkan dengan peralatan yang akan dibutuhkan selama proses pelatihan berlangsung dan juga media yang akan digunakan. Pengenalan ini bermaksud agar peserta memiliki pengetahuan mengenai kegunaan masing-masing alat sebelum melakukan Volume 15 No. 1 Juni 2024 Abdi Seni Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat pISSN: 2087-1759 eISSN: 2723-2468 proses pembuatan batik sehingga akan mempermudah pada tahap berikutnya. Selain itu pemahaman mengenai alat maupun media yang akan digunakan juga merupakan aspek penting dalam pembuatan suatu karya karena dapat berpengaruh terhadap hasil karya yang akan dibuat. Pemaparan materi mengenai batik Setelah melalui tahap pengenalan mengenai alat dan bahan yang digunakan, penting juga peserta memiliki pemahaman mengenai batik. Materi mengenai batik yang menunjang proses pelatihan ini disampaikan dengan tujuan agar peserta memiliki bekal pemahaman terkait dengan proses pembuatan batik. Demonstrasi proses pembuatan batik Setelah peserta memiliki bekal teori mengenai batik kemudian peserta akan dihadapkan dengan demonstrasi proses pembuatan batik. Hal ini bertujuan agar peserta memiliki gambaran dari materi yang telah dijelaskan. Dengan adanya pemeragaan proses pembuatan sehingga peserta dapat benar-benar memahami proses pembuatan batik serta proses pelatihan akan lebih menarik. Praktik kreasi desain motif Dalam tahap pembuatan kreasi motif batik peserta akan dihadapkan dengan proses pembuatan motif sebelum dibatik. Tahap ini merupakan salah satu bagian penting dan membutuhkan kecermatan sebab motif yang dibuat tidak bisa terlalu kecil ataupun terlalu rumit karena akan berpengaruh terutama pada tahap pencantingan, terlebih pada pelatihan kali ini peserta baru pertama kali akan menggunakan canting. Tahap ini bertujuan agar peserta dapat memahami proses pembuatan batik secara sepenuhnya. Praktik pembuatan batik Setelah melalui tahap-tahap sebelumnya peserta akan mulai melakukan proses pemindahan motif dari kertas ke kain, pencantingan sampai dengan penguncian warna dan pelorodan. HASIL DAN PEMBAHASAN Proses Pembuatan Batik Pelaksanaan pelatihan diawali dengan pengenalan alat dan bahan yang akan digunakan kepada para peserta pelatihan. adapun alat dan bahan yang digunakan dalam pelatihan ini yaitu, kain primisima, pewarna remasol, spons, water glass, malam, canting, kompor, ember, pensil, penggaris, dan kertas A3. Tahap selanjutnya yaitu penyampaian teori pembuatan batik sehingga peserta dapat mengerti proses pembuatan batik dari awal sampai dengan tahap akhir secara runtut. Berikutnya adalah demonstrasi proses pembuatan batik yang mana pemateri melakukan pemeragaan proses pembuatan batik sengga peserta dapat langsung mengamati sebelum praktik sendiri secara langsung. Volume 15 No. 1 Juni 2024 Prima Nugroho dan Rahayu Adi Prabowo: Pelatihan Batik dengan Motif Jagad Pacitan . Gambar 1. Demonstrasi Proses Pembuatan Batik (Foto: Prima Nugroho, 2. Selanjutnya yaitu proses pembuatann batik. Proses pembuatan batik pada pelatihan ini diuraikan sebagai berikut: Pembuatan kreasi motif batik Pada tahap ini peserta diarahkan untuk membuat kreasi dari motif Jagad Pacitan pada kertas dengan menggunkan pensil kemudian ditebalkan dengan menggunakan drawing pen untuk mempermudah proses pemindahan desain yang sudah jadi ke kain. sebelum melakukan proses pembuatan rancangan gambar, peserta melakukan eksplorasi, perancangan, dan perwujudan desain yang mana nantinya akan dijadikan acuan dalam proses pembuatan batik. Pembuatan kreasi motif memuat motif utama sampai dengan isian. Saat tahap ini berlangsung, beberapa peserta masih kesulitan dalam membuat kreasi motif, hal ini dikarenakan peserta baru pertama kali membuat motif untuk dibatik, namun setelah dilakukan pendampingan peserta akhirnya mampu membuat kreasi motifnya masing-masing. Peserta pelatihan seringkali cenderung membuat kreasi motif yang terlalu kecil pada setiap objeknya yang mana akan mempersulit proses penorehan malam terlebih untuk tahap pemula, akan tetapi setelah diarahkan lagi peserta dapat dapat membuat rancangan gambar dengan baik. Volume 15 No. 1 Juni 2024 Abdi Seni Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat pISSN: 2087-1759 eISSN: 2723-2468 Gambar 2 dan 3. Pembuatan Kreasi Motif Jagad Pacitan Untuk di Batik (Foto: Prima Nugroho, 2. Pada tahap ini peserta diarahkan untuk membuat kreasi dari motif Jagad Pacitan pada kertas dengan menggunkan pensil kemudian ditebalkan dengan menggunakan drawing pen untuk mempermudah proses pemindahan desain yang sudah jadi ke kain. Sebelum melakukan proses pembuatan rancangan gambar, peserta melakukan eksplorasi, perancangan, dan perwujudan desain yang mana nantinya akan dijadikan acuan dalam proses pembuatan batik. Pembuatan kreasi motif memuat motif utama sampai dengan isian. Pemindahan desain motif batik ke kain Desain kreasi motif Jagad Pacitan yang pada awalnya dikertas dipindahkan ke kain. Sebelum tahap ini berlangsung, kain harus dipastikan sudah dicuci untuk menghilangkan kanji dengan tujuan untuk memudahkan proses pelorodan ditahap akhir. Pemindahan desain dilakukan dengan cara kain diletakkan di atas kertas desain yang telah dibuat, selanjutnya peserta melakukan pemindahan motif dengan menggunakan pensil 6B untuk memperjelas goresan pada kain. saat pemindahan motif dari kertas ke kain berlangsung, peserta pelatihan mengalami kendala seperti posisi kain yang seringkali bergeser dari desain dikertas, namun hal itu dapat diatasi dengan menancapkan jarum ke kain pada setiap sisi kertas desain. Gambar 4 dan 5. Proses Pemindahan Motif Dari Kertas ke Kain Primisima (Foto: Prima Nugroho, 2. Volume 15 No. 1 Juni 2024 Prima Nugroho dan Rahayu Adi Prabowo: Pelatihan Batik dengan Motif Jagad Pacitan . Desain kreasi motif Jagad Pacitan yang pada awalnya dikertas dipindahkan ke kain. Sebelum tahap ini berlangsung, kain harus dipastikan sudah dicuci untuk menghilangkan kanji dengan tujuan untuk memudahkan proses pelorodan ditahap akhir. Pemindahan desain dilakukan dengan cara kain diletakkan di atas kertas desain yang telah dibuat, selanjutnya peserta melakukan pemindahan motif dengan menggunakan pensil 6B untuk memperjelas goresan pada kain. Pencantingan malam pada kain Setelah melalui proses pemindahan desain dari kertas ke kain kemudian masuk ke tahap penorehan malam pada kain. Proses pencantingan menggunakan malam dengan suhu panas yang terjaga sehingga malam dapat menembus ke sisi kain sebaliknya. Hal ini bertujuan agar warna tidak bocor ke bagian lain pada saat proses pewarnaan. Saat penorehan malam pada kain juga diusahakan untuk menghindari keretakan pada malam yang mana hal ini juga akan berpengaruh saat tahap pewarnaan. Pada pelatihan ini proses pencantingan memuat dari tahap nglowongi sampai pemberian isen- isen. Kendala yang dialami peserta yaitu malam yang seringkali menetes ke kain, namun hal ini dapat teratasi dengan mengoreskan bagian bawah canting pada kain setelah peserta mengambil malam panas dari wajan. Selain itu seringkali malam yang ada dalam canting terlanjur tidak panas karena terlalu lama saat penorehan malam ke kain, akan tetapi hal ini dapa diatasi dengan mengambil malam dari kompor sedikit demi sedikit. Gambar 6 dan 7. Proses Penorehan Malam ke Kain (Foto: Prima Nugroho, 2. Setelah melalui proses pemindahan desain dari kertas ke kain kemudian masuk ke tahap penorehan malam pada kain. Proses pencantingan menggunakan malam dengan suhu panas yang terjaga sehingga malam dapat menembus ke sisi kain sebaliknya. Hal ini bertujuan agar warna tidak bocor ke bagian lain pada saat proses pewarnaan. Saat penorehan malam pada kain juga diusahakan untuk menghindari keretakan pada malam yang mana hal ini juga akan berpengaruh saat tahap pewarnaan. Pada pelatihan ini proses pencantingan memuat dari tahap nglowongi sampai pemberian isen- isen. Pewarnaan dengan pewarna remasol Proses pewarnaan dimulai dari pencampuran bubuk pewarna, pengikat, dan air, cairan yang sudah jadi kemudian diaplikasikan pada kain menggunakan potongan spons berukuran kecil untuk dapat menjangkau bagian-bagian kecil pada motif. Pada pelatihan ini menggunakan warna biru dan coklat dengan beberapa Volume 15 No. 1 Juni 2024 Abdi Seni Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat pISSN: 2087-1759 eISSN: 2723-2468 tone pada setiap warna. Saat tahap pewarnaan diperlukan kecermatan agar warna tidak menyebar ke bagian lain yang mana dapat mengakibatkan warna tercampur dan hasil yang didapatkan menjadi kurang Pada saat proses pewarnaan menggunakan remasol, cara pengaplikasian dapat berpengaruh terhadap kepekatan warna, ini menjadi salah satu hal yang perlu diperhatian oleh peserta pelatihan. Gambar 8, 9. Proses Pewarnaan Menggunakan Pewarna Remasol (Foto: Prima Nugroho, 2. Proses pewarnaan dimulai dari pencampuran bubuk pewarna, pengikat, dan air, cairan yang sudah jadi kemudian diaplikasikan pada kain menggunakan potongan spons berukuran kecil untuk dapat menjangkau bagian-bagian kecil pada motif. Pada pelatihan ini menggunakan warna biru dan coklat dengan beberapa tone pada setiap warna. Saat tahap pewarnaan diperlukan kecermatan agar warna tidak menyebar ke bagian lain yang mana dapat mengakibatkan warna tercampur dan hasil yang didapatkan menjadi kurang Pada saat proses pewarnaan menggunakan remasol, cara pengaplikasian dapat berpengaruh terhadap kepekatan warna, ini menjadi salah satu hal yang perlu diperhatian oleh peserta pelatihan. Kendala yang dialami peserta pelatihan saat proses pengaplikasian, para peserta pelatihan seringkali kesulitan untuk menjangkau bagian-bagian kecil yang akan diwarna, namun hal itu dapat diatasi dengan membuatakan alat untuk mencolet berukuran kecil sehingga memudahkan untuk menjangkau bagian bagian yang rumit. Penguncian warna dengan water glass dan pelorodan Penguncian warna menggunakan water glass dan melakukan pelorodan. Setelah dilakukan pewarnaan menggunakan remasol, tahap selanjutnya yaitu peserta pelatihan memasuki tahap penguncian warna dengan menggunakan water glass. Pada pelatihan ini, proses penguncian warna dimulai dengan pencelupan kain yang telah diwarna pada cairan water glass yang sudah dituangkan pada ember. Kain yang sudah berwarna harus dipastikan terkena cairan water glass. Volume 15 No. 1 Juni 2024 Prima Nugroho dan Rahayu Adi Prabowo: Pelatihan Batik dengan Motif Jagad Pacitan . Gambar 10 dan 11. Proses Penguncian Warna dan Pelorodan Malam (Foto: Prima Nugroho, 2. Setelah kain dipastikan terkena cairan water glass sepenuhnya kemudian dikeringkan dengan cara diangin-anginkan. Setelah kain yang sudah di water glass kering kemudian dilakukan pelorodan untuk menghilangkan malam. Pada tahap ini dibutuhkan kecermatan supaya warna dari hasil akhr dapat sesuai dengan yang sudah direncanakan. Deskripsi Pelaksanaan Program Pelatihan Kegiatan ini terlaksana selama satu hari dan belokasi di tempat tinggal salah satu peserta pelatihan. Pelatihan diikuti 6 peserta dimana semua masih berstatus pelajar yang juga aktif di organisasi masyarakat salah satunya di karang taruna dusun. Selama proses pembuatan batik peserta juga mampu mepraktikannya dengan baik meskipun dibeberapa tahap perlu dicontohkan beberapa kali terlebih dahulu. Seperti halnya pada tahap penorehan malam pada kain, seringkali malam menetes ke kain mengakibatkan bagian yang seharusnya tidak tertutup malam menjadi tertutup. Gambar 12. Peserta Pelatihan (Foto: Prima Nugroho, 2. Volume 15 No. 1 Juni 2024 Abdi Seni Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat pISSN: 2087-1759 eISSN: 2723-2468 Namun hal seperti ini adalah hal yang lumrah dalam tahap belajar pertama kali. Pada saat pencantingan juga ada peserta yang mampu sampai dengan memberikan isian pada motifnya, namun beberapa peserta melalukan sampai dengan tahap nglowongi dan dilanjut tahap pewarnaan. Ketika proses pewarnaan berlangsung, peserta melakukan dengan baik meskipun di beberapa bagian terdapat warna yang bocor akibat proses penorehan malam yang belum bisa menembus sisi sebaliknya. Pada proses penguncian warna dan pelorodan dilakukan bersama-sama tanpa mengalami hambatan yang berarti. Meskipun dalam kurun waktu yang singkat, semua peserta pelatihan dapat menyelesaikan karyanya dan mampu melakukan setiap proses pembuatan batik dengan baik. KESIMPULAN Keberadaan aktivitas kesenian di suatu daerah memiliki pengaruh besar terhadap sektor ekonomi Melalui pelatihan batik ini diharapkan muncul aktivitas kesenirupaan yang berkelanjutan dan juga memberikan dampak baik bagi perkembangan sektor ekonomi kreatif di Dusun Ngetep. Pelatihan batik dipilih dalam rangka menumbuhkan kecintaan generasi muda pada salah satu warisan budaya Indonesia, selain itu pelatihan batik juga sebagai upaya menumbuhkan industri batik di Kabupaten Pacitan. Dengan adanya kegiatan ini, peserta pelatihan diharapkan dapat terus mengembangkan pengetahuannya mengenai batik serta mau membagikan ilmu yang didapat kepada masyarakat khususnya di Dusun Ngetep sehingga mampu memunculkan aktivitas-aktivitas kesenirupan yang dapat berpengaruh pada sektor ekonomi kreatif di Dusun Ngetep. Melalui pelatihan ini juga diharapkan untuk Dusun Ngetep terus ikut serta menjaga keberlanjutan kegiatan sehingga aktivitas-aktivitas kesenirupaan yang ada terus meningkat. DAFTAR PUSTAKA