Volume 11, nomor . September, 2025 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 INSTITUT AGAMA ISLAM PANGERAN DIPONEGORO NGANJUK http://ejurnal. iaipd-nganjuk. KRITIK TERHADAP EPISTEMOLOGI BARAT: UPAYA ISLAMISASI ILMU PENGETAHUAN MENURUT SYED MUHAMMAD NAQUIB AL-ATTAS Gastiadirrijal Raja Mauliddyan UIN Sunan Ampel Surabaya Email: gastiaraja1@gmail. Iskandar Dzulkarnain UIN Sunan Ampel Surabaya Email: ini. iskandardzulkarnain@gmail. Info Artikel Submit : 10 Juli 2025 Revisi : 15 Agustus 2025 Diterima : 11 September 2025 Publis : 22 Oktober 2025 Abstrak Dalam pandangan dunia Barat, aliran epistemologi yang dianut hanyalah rasionalisme yang menekankan pada akal dan empirisisme yang menekankan pada pengalaman indera. Orang-orang Barat hanya meyakini bahwa tolak ukur kebenaran ialah akal dan data empris. Kemudian, setelah datangnya Auguste Comte dengan filsafat positivismenya, yang menyatakan bahwa pengetahuan harus berlandaskan data-data valid melalui observasi empirik. Semua itulah yang akhirnya menjadi sistem dalam ilmu pengetahuan. Karena itulah ilmu pengetahuan mendapatkan banyak kritik dari berbagai kalangan. Ilmu pengetahuan dinilai sangat kering dari aspek spiritual. Karena ia hanya memandang objek-objek fisik dan menolak metafisika. Padahal substansi didunia terdiri dari dunia fisik dan metafisik. Oleh karena itu, dalam artikel penelitian ini akan menguraikan konsep Islamisasi Syed Muhammad Naquib Al-Attas dan kritiknya terhadap epistemologi Barat. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan library research. Konsep Islamisasi yang digagas oleh Syed Muhammad Naquib AlAttas merupakan suatu trobosan baru dan suatu bentuk upayah besar yang begitu visioner yang mana mencoba mengalih pandangkan atas segala bentuk doktrinal atau cara pandang intelektual Barat terhadap ilmu pengetahuan menjadi pengetahuan islam hakiki dalam prespektif kajian keislaman yang lebih mengedepankan aspek kemanusiaan dan mempercayai bentuk transendental ilmu pengetahuan yang dapat dijangkau sebagai intuisi atau suatu hidayah dari Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf. Volume 11, nomor . September, 2025 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 Allah SWT. Al-Attas mengkritik epistemologi Barat karena misi sekularisasi yang tersembunyi di dalamnya. Ilmu pengetahuan Barat dengan metode ilmiahnya, hanya memandang hal-hal fisik dan menolak metafisik. Dengan demikian, ilmu pengetahuan Barat perlahan-perlahan akan menarik umat beragama, lebih khusus umat Islam untuk melepas nilai-nilai keagamaanya. Kata kunci Islamisasi. Ilmu Pengetahuan. Barat. Al-Attas Pendahuluan Perjalanan sejarah dunia diisi dan dipenuhi oleh pemikiran-pemikiran manusia dari waktu ke waktu hingga akhirnya mendekati puncak kesempurnaan. Begitulah menurut Hegel dalam filsafat sejarahnya. Segala sistem kehidupan yang dianut di zaman sekarang ini, baik pendidikan, sosial, ekonomi, politik, dan lain sebagainya merupakan hasil akumulasi dari pemikiran-pemikiran terdahulu. Semua itu tidak diterima begitu saja, melainkan melewati proses panjang yang dipenuhi dengan pertengkaran ide-ide dan gagasan. Peradaban sejarah Barat yang menjadi AukiblatAy kebudayaan dewasa ini dimulai oleh para filsuf Yunani Kuno hinnga abad pertengahan dan sampai pada abad modern dan sekarang ini, telah melalui proses yang sangat panjang hingga mencapai kejayaan teknologi-teknologi yang canggih dewasa ini. Tidak hanya dalam bidang teknologi, sistem ilmu pengetahuan, khususnya pada aspek epistemologi dengan metode ilmiahnya yang hampir diakui dan dianut secara konvensional di seluruh dunia. Namun, apa yang dibawa kebudayaan Barat ternyata tidak semuanya memberikan solusi untuk kemashlahatan manusia dewasa ini. Sebaliknya, di samping kemudahan-kemudahan yang disajikan oleh teknologi-teknologi yang canggih itu, ternyata juga menimbulkan beberapa kerusakan baik pada semesta ataupun manusia. Menurut Heidegger, teknologi modern memberikan kerangka berpikir baru bagi manusia yang menjadikannya memandang segala sesuatu baik semesta maupun manusia sendiri dalam kaca mata function dan eksploitatif. 1 Heidegger mengistilahkannya dengan AuGastellAy atau sering diterjemahkan dengan enframing . 2 Fenomena krisis iklim yang melanda seluruh individu bahkan dunia dewasa ini, tidak lain merupakan 1 Oktarizal Drianus. AuManusia Di Era Kebudayaan Digital: Interpretasi Ontologis Martin Heidegger,Ay Mawaizh : Jurnal Dakwah dan Pengembangan Sosial Kemanusiaan 9, no. 2 (December 20, 2. : 178Ae199. 2 Ibid. Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf. Volume 11, nomor . September, 2025 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 salah satu akibat dari AupembingkaianAy tersebut. Selain itu, kebudayaan Barat yang cenderung bahkan sekuler menjadi salah satu faktor dehumanisasi. Selain bidang teknologi, aspek yang paling penting dari kebudayaan Barat ialah ilmu pengetahuan modern, secara khusus epistemologi Barat. Corak Epistemologi Barat memiliki dua arus utama. Descartes . 6-1650 M) sebagai pionir dari aliran rasionalisme yang menitikberatkan kepada akal . sebagai sumber pengetahuan, dan John Locke . 2-1704 M) sebagai perwakilan dari aliran empirisisme yang mensyaratkan pengalaman inderawi sebagai sumber pengetahuan. Dua aliran utama epistemologi tersebut yang menitikberatakan pada akal dan pengalaman inderawi, dan kemudian disambung oleh filsafat positivisme Auguste Comte dengan kebenaran ilmiahnya yang menjadi pionir dalam perkembangan ilmu pengetahuan, akhirnya menciptakan sistem ilmu pengetahuan yang bersifat sekuler yang hendak menjauhkan manusia dari aktivitas-aktivitas religius. Dengan metodologinya yang hanya menilai dan meyakini objek-objek fisik dan menolak selainnya, menjadikan manusia kehilangan sisi Sistem tersebut yang kemudian dianut di dalam lembaga pendidikan secara konvensional mendidik secara perlahan untuk menjauhkan manusia dari tuhan dan segala aspek agama dari diri seseorang. Dari uraian di atas, artikel penelitian ini akan menguraikan pemikiran filsuf Muslim kontemporer. Syed Muhammad Naquib Al-Attas . 1- sekaran. yang mengkritik epistemologi Barat dan menawarkan konsep Islamisasi pengetahuan. Secara sekilas menurut Al-Attas, ilmu pengetahuan yang dikembangkan oleh Barat membawa serta kebudayaannya yang bersifat sekuler. Dan ketika hal itu diaplikasikan oleh seluruh dunia, lebih-lebih oleh masyarakt yang menganut agama ataupun nilai-nilai spiritualitas atau relligiusitas tertentu, maka ilmu pengetahuan itu akan merusak nilai-nilai tersebut. Dalam konteks hubungannya dengan masyarakat Muslim, maka ilmu pengetahuan itu menjadi tantangan bagi umat Islam. Oleh karena itu, di samping mengkritik ilmu pengetahuan yang diproduksi oleh Barat. Al-Attas juga merumuskan konsep Islamisasi ilmu pengetahuan untuk ditawarkan kepada masyarakat-masyarakat Muslim. Adapun sebagai artikel penelitian, telah terdapat penelitian-penelitian sebelumya yang juga telah mengkaji pemikiran Syed Muhammad Naquib Al-Attas . Muttaqien . dengan judul AuPandangan Syed Muhammad Naquib AlAttas tentang Islamisasi IlmuAy menyimpulkan bahwa konsep Islamisasi ilmu pengetahuan Al-Attas menggunakan metode meyatukan . Hal itu dikarenakan Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf. Volume 11, nomor . September, 2025 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 Islam memandang segala realitas dan kebenaran sebagai kajian metafisis terhadap dunia empiris dan non-empiris. Karena orientasi Islam tidak hanya di dunia saja, melainkat akhirat sebagai tujuan final. 3 Senada dengan Muttaqien. Siraj . juga mengkaji dengan judul AuIslamisasi Ilmu Perspektif Syed Muhammad Naquib Al-AttasAy. Dalam penelitiannya. Siraj menyimpulkan bahwa garis besar pandangan Al-Attas ialah mengembalikan nilai Islam sebagai world view . andangan duni. , mengeluarkan Islam dari belenggu westernisasi dan sekularisasi, serta mengintegasikan ilmu-ilmu keislaman dengan sains. 4 Taqiyuddin . juga menulis dengan judul AuHubungan Islam dan Sains: Tawaran Syed Muhammad Naquib Al-AttasAy. Ia menyimpulkan bahwa paradigma integrasi merupakan tahapan awal yang terjadi karena bertemunya Islam dengan peradaban lain. Adapun kajian integrasi Islam dan sains merupakan kegiatan mutakhir dalam peradaban Islam yang dilakukan oleh intelektual-intelektual kreatif Muslim. Dalam tema yang sama. Fahrudin dkk. , dengan judul AuIslamisasi Ilmu Sebagai Identitas Keagamaan (Telaah Kritis Syed Naquib Al-Atta. Ay. Dalam tulisannya itu. Fahrudin dkk. menyatakan bahwa Islamisasi ilmu pengetahuan Syed Naquib AlAttas merupakan respon akademis untuk mengkritisi ilmu pengetahuan modern yang diproduksi dari Barat. Menurut Al-Attas, pandangan dunia Barat yang mendewakan rasional-empiris menjadikan mereka tidak percaya terhadap hal gaib atau yang tidak dapat diindera. Dan hal itulah yang merusak tatanan kehidupan secara fundamental. Senada dengan di atas. Auni . juga menulis dengan judul Au Telaah Kritis Aksiologi Sains Modern Perspektif Naquib Al-Attas dan Implementasinya dalam Komunitas IlmiahAy. Dari kajiannya. Auni menyimpulkan bahwa ilmu pengetahuan, khususnya sains lahir dari pondasi-pondasi yang telah disusun oleh ilmuwan-ilmuwan Islam. Sehingga paradigma yang harus dibangun ialah yang mengacu pada paradigma yang berlandaskan worldview Islam yang menyatakan bahwa tujuan dan makna hidup manusia ialah sebagai khalifah di bumi. Dengan demikian paradigma tersebut harus menjadi prinsip 3 Ghazi Abdullah Muttaqien. AuPANDANGAN SYED MUHAMMAD NAQUIB AL-ATTAS TENTANG ISLAMISASI ILMU,Ay Jaqfi: Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam 4, no. 2 (August 24, 2. : 93Ae 4 Diffa Cahyani Siraj. AuIslamisasi Ilmu Persfektif Syed Muhammad Naquib Al-AttasAy 1, no. 5 Muhammad Taqiyuddin. AuHubungan Islam dan Sains: Tawaran Syed Muhammad Naquib Al-Attas,Ay Islamadina : Jurnal Pemikiran Islam 22, no. 1 (April 18, 2. : 81Ae104. 6 Fahrudin Fahrudin. Henki Desri Mulyadi, and Ahmad Shofiyuddin Ichsan. AuISLAMISASI ILMU SEBAGAI IDENTITAS KEAGAMAAN (TELAAH KRITIS SYED NAQUIB AL-ATTAS),Ay Alfuad: Jurnal Sosial Keagamaan 4, no. 1 (June 17, 2. : 67Ae79. Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf. Volume 11, nomor . September, 2025 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 komunitas ilmiah untuk mencegah kerusakan alam dan bencana bagi manusia. 7 Afif . dalam tulisannya yang berjudul AuEpistemologi Islamisasi Ilmu Syed Muhammad Naquib Al-Atta. menyimpulkan tiga hal: . sumber pengetahuan berasal dari Tuhan . Indera, akal, dan intuisi merupakan instrument untuk memperoleh pengetahuan tersebut . Validasi kebenaran ialah jika pengetahuan tersebut terbebas dari keraguan san sesuai dengan worldview Islam. Adapun perbedaan penelitian ini dengan sebelum-sebelumnya ialah penekanan pada kritik Al-Attas terhadap epistemologi Barat, konsep Islamisasi ilmu pengetahuan perspektif Al-Attas, serta implikasinya terhadap ilmu pengetahuan modern. Dari itu, maka pembahasan dalam artikel ini dibagi menjadi tiga bagian: Pertama, konsep Islamisasi ilmu pengetahuan menurut Al-Attas. Kedua, implikasi epistemologi Islam dalam pengembangan ilmu pengetahuan modern. Ketiga, kritik Al-Attas terhadap epistemologi Barat. Metode Penelitian Artikel penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan filosofis, berfokus pada penelitian pustaka . ibrary researc. untuk mengeksplorasi tinjauan filosofis Al-Attas terkait konsep Islamisasi ilmu pengetahuan dan kritiknya terhadap epistemologi Barat. Sumber data utama dalam penelitian ini meliputi buku, artikel jurnal, dan publikasi ilmiah yang memberikan wawasan teoritis mengenai konsep Islamisasi ilmu pengetahuan. Teknik akumulasi data melibatkan studi pustaka untuk mengumpulkan dan menilai literatur yan relevan, serta katalogisasi sumber untuk memudahkan analisis lebih lanjut. Teknik analisis data mencakup analitis tematik untuk mengidentifikasi dan mengelompokkan tema utama yang muncul, analisis kritis terhadap argument filosofis yang terkait, serta sintesis literatur untuk membangun gambaran yang menyeluruh tentang konsep Islamisasi ilmu pengetahuan. Dengan pendekatan ini, penelitian ini bertujuan untuk memberikan pemahaman yang mendalam 7 Azrul Kiromil Enri Auni. AuTELAAH KRITIS AKSIOLOGI SAINS MODERN PERSPEKTIF NAQUIB AL-ATTAS DAN IMPLEMENTASINYA DALAM KOMUNITAS ILMIAH,Ay Prosiding Konferensi Integrasi Interkoneksi Islam dan Sains 3 (March 1, 2. : 64Ae70. 8 Muh Bahrul Afif. AuEPISTEMOLOGI ISLAMISASI ILMU SYED MUHAMMAD NAQUIB ALATTAS,Ay J-Alif : Jurnal Penelitian Hukum Ekonomi Syariah dan Budaya Islam 7, no. 2 (May 13, 2. : 107Ae Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf. Volume 11, nomor . September, 2025 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 tentang konsep Islamisasi ilmu pengetahuan menurut Syed Muhammad Naquib AlAttas dan kritiknya terhadap epistemologi Barat. Pembahasan Konsep Islamisasi Ilmu Pengetahuan menurut Al-Attas Bila kita analisis lebih lanjut konsep yang ditawarkan oleh Syed Muhammad Naquib Al-Attas merupakan suatu gagasan yang terbilang begitu visioner, hal tersebut tergambar pada konsep utamanya yang menyebutkan pentingnya Islamisasi ilmu. Bila kita selami lebih dalam konsep utama naquib al-attas secara tidak langsung memberikan pandangan baru, bagaimana beliau mulai mengenalkan suatu gagasan baru yang melibatkan spektrum keislaman pada ilmu pengetahuan. Gagasan tersebut mulai banyak dikenal khalayak ramai, akan tetapi terkadang memberikan prespektif yang kurang tepat bahkan juga tidak sesuai dengan apa yang dimaksud Islamisasi pada konsepnya. Merujuk pada KBBI Islamisasi adalah proses pengislaman yang mulanya merujuk pada akar kata AuislamAy dan secara rinci dapat diartikan sebagai suatu upayah pengislaman atau proses menjadikan islam. Kurang lebih konsep yang dikenalkan dan diusung oleh Syed Muhammad Naquib Al-Attas berbeda dan sangat berbanding terbalik dalam artian Maksud dari Islamisasi menurut Al-Attas adalah suatu upayah untuk membebaskan manusia daripada doktrin Barat yang mulai mencemari atau bahkan mulai diakuisisi oleh produk Barat9. Dengan demikian Islamisasi yang dimaksud adalah upayah dan cita-cita untuk menginterpretasikan ontologis dan epistemologis dalam lingkup ilmu pengetahuan dengan lebih ekspilist. Itulah mengapa konsep yang ditawarkan begitu visioner yang mana mencoba mereformulasikan segala bentuk pemahaman dan mengembangkan pandangan baru tentang dinamika pengetahuan. Latar belakang yang menjadikan misi utama mengapa Al-Attas mulai memperkenalkan konsep Islamisasi ilmu pengetahuan adalah budaya intelektual Barat yang mulai menstimulasi masyarakat global, yang berdampak pada stigma yang berkembang pada masyarakat adalah hasil produk pemikiran Barat . Dan para intelektual Barat tak lain cenderung menetralkan ilmu pengetahuan, maksudnya adalah konsep ilmu pengetahuan yang berkembang diBarat seluruhnya merupakan konstruk dari pemikiran Barat. Adanya pandangan tentang ilmu pengetahuan bebas nilai yang mulai untuk dikembangkan oleh intelektual Barat juga sangat kontroversial. 9 Muhammad Naquib Al-Attas. Islam And Secularisme (Penerbit ABIM Malaysia, 1. 10 Khudori Sholeh. Filsafat Islam: Dari Klasik Hingga Kontemporer (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2. Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf. Volume 11, nomor . September, 2025 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 Padahal menurut Syed Muhammad Naquib Al-Attas, ilmu pengetahuan adalah sebuah makna yang datang ke dalam jiwa manusia dengan perantara hidayah Allah SWT yang kemudian interpretasi manusia adalah bentuk curahan yang bergantung pada sebuah hidayah yang diberikan oleh Allah SWT11. oleh karena itu ilmu pengetahuan adalah sebuah hasil interpretasi dari manusia, bagaimana pemikiran tersebut muncul adalah sebuah hasil dari kontemplasi serta karakter yang melekat pada seorang intelektualis. Dengan demikian syed Naquib Al-Attas mengusung konsep Islamisasi ilmu pengetahuan juga tak lain merujuk pada dua unsur utama yaitu jiwa dan hidayah Allah SWT. Bagaimana ilmu pengetahuan itu muncul bersumber dari anugerah atau ilham yang turun karena Allah SWT, yang kemudian manusia menginternalisasi serta menginterpretasikan segala pemahamannya dengan rinci. Itulah mengapa terkadang ilmu pengetahuan yang muncul dalam nalar kritis dapat diterima dengan rasionalitas kita, akan tetapi yang menjadi permasalahan adalah terkadang ketidak sesuaian pada aspek spritual kita sehingga apapun yang timbul dan muncul secara garis besar haruslah menelisik lebih dalam latar belakang penulis intelektualis. Menurut Al-Attas jiwa manusia cenderung memiliki dua aspek yaitu, aspek penerima dan aspek pemberi efek, maka dengan itu jiwa mengalami penerimaan atas ilmu pengetahuan 12. Jiwa merupakan manifestasi dari tubuh, yang mana menyerupai genus yang terbagi menjadi tiga bagian yaitu, jiwa vegetatif, jiwa hewani dan jiwa insani 13. Dalam pembagian disetiap kriteria memiliki dampak terhadap tubuh manusia, yang mana jiwa vegetatif memiliki fungsi sebagai kekuatan pertumbuhan, nutrisi dan reproduksi, disamping itu jiwa hewani juga memiliki fungsi sebagai penggerak tubuh, sedangkan jiwa insani berfungsi sebagai kekuatan intelek kongnitif dan jiga intelek aktif . Dengan demikian jiwa memiliki keterkaitan dan tanggung jawab atas tubuh sepenuhnya. Jiwa akan selalu aktif dan berkaitan satu sama lain, berkat menyatunya ketiga unsur fundamental tersebut15. 11 Muhammad Naquib Al-Attas. Islam And The Philosophy Of Science ((Kuala Lumpur 1. : Penerbit ABIM, 1. 12 Muhammad Naquib al-Attas. Prolegomena To The Metaphysies Of Islam (Kuala Lumpur: ISTAC: ISTAC, 13 Naquib Al-Attas. Islam And The Philosophy Of Science. 14 Ibid. 15 Andri Sutrisno. AuISLAMISASI ILMU PENGETAHUAN PERSPEKTIF M. NAQUIB AL-ATTAS,Ay Ar-Risalah: Media Keislaman. Pendidikan dan Hukum Islam 19, no. 1 (April 22, 2. : 001. Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf. Volume 11, nomor . September, 2025 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 Dalam pandangan Syed Naquib Al-Attas konsep Islamisasi ilmu merupakan kajian yang patut direnungi serta perlunya pemahaman mendalam, karena memang konsep Islamisasi ilmu pengetahuan sangat begitu substantif dan melibatkan kajian ilmu pengetahuan fundamental. Tidak hanya itu proses purifikasi dari pada ketergantungan pada produk pemikiran Barat yang cenderung bebas nilai juga mencoba diberantas yang mana mulai merasuki nilai karakter seseorang. Terlebih pekatnya pandangan Barat yang sangat kolot adalah bentuk tantangan spesifik pada kandungan setiap visi konsep Islamisasi ilmu yang dikemukakan oleh Al-Attas. Adapun beberapa bentuk upaya AlAttas sebagai misi purifikasi atas produk pemikiran Barat adalah pembagian klasifikiasi menjadi dua konsepsi penting. Pertama, proses pembrantasan atas keterkaitan dengan produk pemikiran Barat dengan mengeluarkan segala bentuk kosepsi-konsepsi doktrin Barat dalam merumuskan segala ilmu pengetahuan yang lebih spesifik. Kedua, merumuskan konstruk interpretasi ilmu pengetahuan berdasarkan kajian keislaman dan menjadi dasar inti daripada konsep yang diusung oleh Al-Attas16. Landasan yang dipakai dalam pemamparan tentang Islamisasi ilmu pengetahuan adalah dengan menggunakan pendekatan epistemologis yang mana mencoba mengkaji sebuah konsep dan tetap berpegang teguh pada prespektif islam17. Dalam Islamisasi hanya menyisipkan/memasukkan ayat-ayat Al-QurAoan ilmu pengetahuan memberikan sebuah Akan pengetahuan . alue boun. Melekatnya nilai islam sehingga dalam dinamika ilmu pengetahuan kajian keislaman turut partisipatif adalah sebuah bentuk harapan yang ingin dicapai oleh Al-Attas. Dan yang sebenarnya ingin diungkapkan oleh Al-Attas adalah bentuk ilmu pengetahuan yang bebas nilai tidaklah benar dan perlu dikritisi. Perlu adanya kajian lebih lanjut bagaimana problematika yang terjadi agar nilai keislaman mampu mendominasi doktrin Barat yang berkembang pesat akhir-akhir ini. Implikasi Epistemologi dalam Pengembangan Ilmu Pengetahuan Modern Islamisasi ilmu pengetahuan dalam gagasan Syed Naquib Al-Attas merupakan gagasan stabil yang dapat diterapkan dalam setiap aspek linimasi ilmu pengetahuan, baik ilmu pengetahuan modern maupun ilmu pengetahuan yang cenderung kultural. Karena 16 Naquib Al-Attas. Islam And Secularisme. 17 Muhammad Naqaib al Attas. Aims and Objectives of Islamic Education (London, 1. 18 Sutrisno. AuISLAMISASI ILMU PENGETAHUAN PERSPEKTIF M. NAQUIB AL-ATTAS. Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf. Volume 11, nomor . September, 2025 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 menelisik daripada konsepsi yang dirancang oleh Al-Attas adalah suatu bentuk interpretasi multikondisional yang mana secara substantif mengandung prinsip yang kental akan purifikasi bentuk pandangan yang telah mencemari khazanah ilmu Karena betapa pentingnya gagasan tersebut menjadi tameng dan yang menjadi counter atas pengakuan intelektual Barat yang menyatakan adanya ilmu pengetahuan . yang memiliki unsur bebas nilai . alue fre. Dalam sebuah misi yang terbilang begitu berat, yang menjadi salah satu cita-cita atas lahirnya konsep Islamisasi ilmu pengetahuan adalah lahirnya ilmu pengetahuan orisinil produk pemikiran intelektual islam yang terhidar dari budaya westrenisasi. Aspek utama serta menjadi rujukan dalam setiap dinamika yang ada pastinya selalu berpegang teguh pada iman dan taqwa, yang kemudian berimplikasi pada pengaruh besar dalam bentuk tidakan keagamaan aktif. Dalam pandangan tentang pentingnya lingkup pengetahuan secara universal mengutip daripada karya Feyerabend yang menyatakan, ilmu pengetahuan modern yang berkembang di Barat cenderung terlalu memaksakan kehendak untuk menormalisasi produk yang dihasillkannya20. Dengan begitu pengetahuhan yang berbasis local knowledge menjadi terpinggirkan dan teralihkan pada produk yang dihasilkan oleh intelektual Barat, tak lain ungkapan tersebut bukan hanya bernilai pada aspek pengetahuan saja melainkan juga demi nilai kemanusiaan yang mulai rapuh karena dominasi Barat. Pandangan nilai pengetahuan Barat begitu pesatnya yang terkadang menimbulkan efek destruktif secara garis besar, tercermin dengan berbagaimacam perpaduan ilmu pengetahuan yang datangnya dari Barat sehingga timbul formula dengan output senjata pemusnah paling ampuh yang mengenyampingkan nilai kemanusiaan. Sepertihalnya program neuralink yang ingin menghilangkan entitas manusia secara kodrati. Selain menabrak aspek nilai kemanusiaan disamping itu juga dapat menghilangkan sisi spiritual yang tidak lagi bergantung pada dogma agama. Setidaknya upayah Al-Attas menjadi sarana untuk menjadikan lebih manusiawi dan tidak menerobos pada nilai nilai yang dianggap sakral atau substantif sebagai ruh manusia. Tidak berhenti pada aspek tersebut misi utama Syed Muhammad Naquib Al-Attas juga kembali menanamkan serta 19 Dendy Wahyu Anugrah and Muhammad Endy Fadlullah. AuEPISTEMOLOGI ISLAMISASI PENGETAHUAN SYED M. NAQUIB AL-ATTAS DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PEMIKIRAN ISLAM DI INDONESIAAy . 20 Mohamad Nur Wahyudi. AuEpistemologi Islam di Era Modern: Studi Analisis Pemikiran Feyerabend tentang Anarkisme Epistemologi,Ay Alhamra Jurnal Studi Islam 2, no. 2 (September 25, 2. : 134. Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf. Volume 11, nomor . September, 2025 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 menstimulasi dalam aspek tertentu yang secara umum tidak terlepas dari syariAoat dan kajian agama21. Fenomena tersebut akan menjadi suatu hal yang dominan bilamana dielaborasikan dengan konsep yang mulai diperkenalkan oleh Naquib Al-Attas, karena secara substantif konsep Islamisasi ilmu pengetahuan akan mulai mengenalkan aspek utama religiusitas, dan cenderung memiliki batasan atas perlakuan ilmu pengetahuan Barat yang berbasis value free. Implikasi daripada Islamisasi ilmu pengetahuan secara garis besar memiliki dampak dan pengaruh besar terhadap perkembangan ilmu pengetahuan modern, salah satunya terciptanya suatu ajaran kurikulum yang mengedepankan nilai keislaman sepertihalnya konsep taAodib, yang mana bertujuan untuk melahirkan intelektual berkualitas atau insan kamil yang beriman dan tetap berpegang teguh pada nilai keislaman. Bangunan kurikulum islam menurut Al-Attas adalah yang berangkat dari pandangan manusia yang bersifat dualistik, yang mana memiliki tanggung jawab atas dua pemenuhan yaitu. Pertama, pemenuhan atas kebutuhan yang berdimensi spritual . ardhu AoAi. dan kedua, pemenuhan atas kebutuhan material-emosional . ardhu kifaya. Dalam prespektif Islamisasi ilmu pengetahuan salah satu keinginan yang paling mendasar adalah adanya dimensi penanaman adab yang menjadi pondasi atas segala perlakuan dan berbagaimacam perpaduan ilmu pengetahuan yang berkembang yang seharusnya diutamakan. Relevansi pengutamaan aspek taAodib dengan ilmu pengetahuan begitu spesifik disamping mengandung proses intelektualisasi, taAodib juga mengandung proses inkulturasi nilai luhur yang sangat dalam 23. Secara umum implikasi Islamisasi ilmu yang ditimbulkan terhadap pengetahuan modern sesuai dengan segala harapan atau cita-cita utama Islamisasi ilmu pengetahuan yang tidak melampaui akan nilai nilai kemanusian dan tetap berkiblat pada syariAoat Disamping itu penanaman akan nilai religiusitas yang sangat ditekankan yang nantinya akan mendorong dan sebagai penunjang terciptanya intelektual islami atau insan kamil sembari tetap tercakupi pada mekanisme kurikulum yang tidak jauh dari konsep taAodib, taAolim dan tarbiyah. 21 Anugrah and Fadlullah. AuEPISTEMOLOGI ISLAMISASI PENGETAHUAN SYED M. NAQUIB AL-ATTAS DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PEMIKIRAN ISLAM DI INDONESIA. Ay 22 Irma Novayani. AuISLAMISASI ILMU PENGETAHUAN MENURUT PANDANGAN SYED M. NAQUIB AL-ATTAS DAN IMPLIKASI TERHADAP LEMBAGA PENDIDIKAN INTERNATIONAL OF ISLAMIC THOUGHT CIVILIZATION (ISTAC)Ay Volume I No. 1 Tahun 2017 . : 12. 23 Ibid. Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf. Volume 11, nomor . September, 2025 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 Kritik Al-Attas terhadap Epistemologi Barat Menurut Syed Muhammad Naquib Al-Attas, ilmu pengetahuan tidak pernah bersifat netral ataupun bebas nilai. Setiap ilmu membawa nilai-nilai budaya, ideologi, dan kepercayaan yang dianut oleh konteks tempat lahirnya ilmu tersebut. Dengan demikian. Al-Attas mengatakan bahwa di dalam tubuh ilmu pengetahuan Barat sangat sarat dengan budaya, ideologi, ataupun kepercayaan Barat yang tentu beberda dengan peradaban Islam. Pada peradaban Barat, arus besar aliran epistemologi dipelopori oleh Descartes dengan rasionalismenya, dan John Locke dengan empirisismenya. Descartes mengatakan bahwa sumber pengetahuan ialah rasio melalui metode keraguannya, dan John Locke meyakini bahwa pengalaman indera adalah sumber pengetahuan yang dia ungkap melalui teorinya Tabula Rasa . apan koson. Hal ini tentu berbeda dengan peradaban Islam yang meyakini bahwa wahyu adalah sumber pengetahuan di samping Selain itu. Al-Attas mengatakan bahwa ilmu pengetahuan Barat sangat sarat dengan misi sekularisasi. 24 Al-Attas mendefinisikan sekularisasi berbeda dengan Menurutnya sekularisasi adalah pembebasan manusia dari agama serta unsur-unsurnya, metafisika, nilai-nilai religius dan lain sebagainya. 25 Hal itu berarti bahwa sekularisasi hendak menarik manusia dari dunia metafisika. Manusia tidak lagi percaya pada takdir, mitos, hal-hal supranatural, keramat, lambang-lambang suci, dan pada akhirnya meninggalkan tuhan-tuhan yang diimaninya. Unsur-unsur sekularisasi adalah peniadaan hal-hal yang keramat, desakralisasi politik, dan dekonsekrasi nilai-nilai. Sekularisasi juga bermakna penghapusan nilai-nilai yang telah dianggap absolut ataupun Hal ini tentu berbeda dengan sekularisme, meski pada beberapa bagian terlihat Sekularisme dianggap sebagai ideologi yang memiliki nilai-nilai pasti, absolut, ataupun final. 26 Dengan demikian, hal ini sangat berbeda dengan semangat dan prinsip sekularisasi yang tidak meyakini nilai-nilai absolut . elativisme histori. Paradigma ilmu pengetahuan Barat dibangun berlandaskan filsafat positivisme Auguste Comte. 27 Filsafat positivisme ialah aliran pemikiran filosofis yang menekankan pada metode ilmiah dan pengamatan empiris untuk memahami dunia dan fenomena di 24 Syed Muhammad Al-Naquib Al-Attas. Islam and Secularism (Kuala Lumpur: ABIM, 1. 25 Ibid. 26 Ibid. 27 Zidan Abid Maulana. AuKONSEP FILSAFAT POSITIVISME PERSPEKTIF AUGUSTE COMTEAy 7, no. Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf. Volume 11, nomor . September, 2025 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 Tolak ukur kebenaran dalam filsafat postivisme ialah fakta dan data empiris dari hasil analisis dan observasi lapangan. Ilmu yang sah ialah ilmu yang melalui pendekatan ilmiah yang rasional dan berdasarkan bukti. Segala pengetahuan yang tidak berlandaskan metode ilmiah, tidak memiliki data-data empiris, non-objektif, tidak diterima dalam filsafat positivisme. Dengan demikian, ilmu-ilmu yang diyakini dan diterima oleh Auguste Comte hanyalah ilmu yang dapat diukur, dianalisis dengan datadata, dibuktikan dengan fakta empiris seperti matematika, astronomi, fisika, biologi, dan Ilmu-ilmu agama yang sarat dengan unsur-unsur metafisika tidak termasuk dalam kategori ilmu menurut filsafat positivisme. Hal inilah yang menjadikan Al-Attas berpendapat bahwa ilmu pengetahuan Barat sangat sarat dengan misi sekularisasi. Ilmu pengetahuan Barat berupaya menjadikan manusia meninggalkan agamanya. Tidak lagi bernalar dengan landasan metafisika. Hal itulah yang menurut Al-Attas ilmu pengetahuan Barat tidak cocok dan sesuai dengan ajaran-ajaran Islam. Islam memiliki kebudayaan dan nilai-nilai sendirii yang berbeda dengan Barat. Pandangan Barat sekuler meyakini bahwa tidak ada nilai yang absolut atau pasti, semuanya bersifat relatif, dan pandangan Barat sangat bersifat antroposentris yang memandang manusia segala-galanya dan tolak ukur kebenaran. Pandangan dunia Barat . estern worldvie. memandang akal . sebagai sarana utama dalam menilai kebenaran. 28 Dan hal inilah yang menurut Al-Attas melahirkan kerusakan dan kekacauan pemikiran. Ini berbeda dengan worldview Islam yang berlandasakan prinsip tauhid, di mana segala sesuatu dilibatkan kepada Allah swt. Di dalam Islam tolak ukur kebenaran ialah wahyu dan bukan manusia. Selanjutnya, satu hal yang sangat ditekankan dalam kritik Al-Attas terhadap ilmu pengetahuan Barat ialah hilangnya adab. 29 Hal itu merupakan akibat dari pandangan Barat yang bersifat individulisme. 30 Salah satu adab yang disinggung oleh Al-Attas ialah perihal otoritas. Menurutnya, dalam pandangan dunia . Islam terdapat AuhierarkiAy yang memiliki otoritas dalam penyampaian pengetahuan tentang Islam. Dan otoritas yang sah dan berada di puncak yang paling tinggi ialah Rasulullah saw. pembawa risalah Allah swt. dan kemudian orang-orang setelahnya yang telah dialui 28 Muhammad Ilham Fadhlurrahman. Tata Oktaviani Wiriastuti, and Rizki Amrillah. AuAnalisis Islamic Worldview Dalam Sudut Pandangan Syech Muhammad Naquib Al-Attas,Ay An Najah (Jurnal Pendidikan Islam dan Sosial Keagamaa. 3, no. 4 (July 4, 2. : 263Ae273. 29 Al-Attas. Islam and Secularism. 30 Ibid. Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf. Volume 11, nomor . September, 2025 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 kecerdasan, spiritual, dan kebajikannya. Dengan demikian, menurut Al-Attas, setiap umat Islam harus menghormati dan menghargai otoritas tersebut. Hal ini tentu berbeda dengan pandangan Barat yang bersifat individualisme. Sehingga ketika ilmu pengetahuan Barat itu diadopsi dalam Islam, maka akan menimbulkan benih-benih individualisme kepada masyarakat Islam. Paham individualisme itu akan mengantarkan seseorang menyangkal otoritas dan merasa dirinya mampu menyampaikan sesuatu, padahal sejatinya belum cukup. Hilangnya adab yang disebabkan oleh paham individualisme tersebut merambat kepada penyamarataan, dan akhirnya pada kebingungan dan ketidakjelasan pengetahuan tentang dunia Islam. Hal ini menurut AlAttas, dikarenakan setiap Muslim tidak lagi mengenal otoritas yang sah. Kesimpulan Islamisasi ilmu pengetahuan bukanlah konsep biasa, melainkan sebuah upayah revolusioner serta fundamental untuk kemudian membebaskan pengetahuan dari belenggu pemikiran Barat yang sekular dan cenderung bebas nilai. Ditengah arus globalisasi yang melanda. Al-Attas menelisik bahwasannya produk pengetahuan Barat telah tercabut dari segala aspek yang berbau dengan dogma agama atau aspek spritual. Produk intelektual Barat yang dinilai netral ternyata membawa maksud tersirat yang mana mencoba untuk mengasingkan manusia dari dimensi transendental dan berkaitan dengan ekstase. Salah satu muatan konsep Islamisasi yang terkendung dalam upayah besar Al-Attas adalah perumusan bahwasannya ilmu pengetahuan bukanlah sekedar muatan data dan berbagai macam rumus, akan tetapi juga ada proses yang lahir dari hidayah ilahi dan masih ada sangkut pautnya dengan ilmu berbasis intuisi. Strategi AlAttas terkait konsep Islamisasi ilmu pengetahuan adalah, membangun ulang kerangka atau konstruk epistemologi Barat berdasarkan pandangan dunia islam, kemudian mencoba membedah ulang serta membongkar pemikiran Barat yang netral. Gagasan konsep Islamisasi ilmu oengetahuan bukan hanya berhenti dalam ranah konsep saja, tetapi juga mengandung seruan peradaban untuk mengembalikan martabat ilmu pengetahuan kepada fitrah yang suci sebagai luasnya khazanah ilmu pengetahuan. Dalam prespektif Islamisasi ilmu pengetahuan salah satu keinginan yang paling mendasar adalah adanya dimensi penanaman adab yang menjadi pondasi atas segala perlakuan dan berbagaimacam perpaduan ilmu pengetahuan yang berkembang yang seharusnya diutamakan. Relevansi pengutamaan aspek taAodib dengan ilmu pengetahuan Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf. Volume 11, nomor . September, 2025 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 begitu spesifik disamping mengandung proses intelektualisasi, taAodib juga mengandung proses inkulturasi nilai luhur yang sangat dalam. Setidaknya gagasan Islamisasi yang diusung oleh Syed Naquib Al-Attas adalah sebuah kritik maupun counter yang menjadi penawar terhadap gempuran ilmu pengetahuan Barat yang bersifat netral. Al-attas dengan berbagai upayah kerasnya mencoba menjelaskan dalam kurikulum yang dalam muatanya terdapat nilai spritual yang juga memiliki dampak terhadap lini ilmu pengetahuan juga, tidak serta merta ilmu pengetahuan hanya sebatas tentang konsep dan rumus saja, tetapi dibalik itu semua adanya peran spirtual transendental yang tak mempunyai wujud namun memiliki gagasan menarik sebagai penunjang perwujudan interpretasi ilmu pengetahuan. Bangunan kurikulum islam menurut Al-Attas adalah yang berangkat dari pandangan manusia yang bersifat dualistik, yang mana memiliki tanggung jawab atas dua pemenuhan yaitu. Pertama, pemenuhan atas kebutuhan yang berdimensi spritual . ardhu AoAi. dan kedua, pemenuhan atas kebutuhan materialemosional . ardhu kifaya. Menurut Naquib Al-Attas, pandangan dunia Barat sangat tidak sesuai dengan pandangan dunia Islam. Hal itu dikarenakan pandangan dunia Barat sangat sarat dengan sifat sekularisasi. Begitu juga dengan ilmu pengetahuan yang diadopsi dari Barat. Karena menurut Al-Attas, ilmu pengetahuan tidak pernah bersifat netral. Ia selalu melekat dengan nilai-nilai yang diadopsi oleh tempat lahirnya ilmu tersebut. Dan begitulah yang tercermin dari ilmu pengetahuan Barat. Ilmu pengetahuan Barat mengadopsi paham positivisme Auguste Comte yang menekankan kebenaran ilmiah dalam melahirkan sebuah pengetahuan. Menurutnya pengetahuan hanyalah dianggap jika ia memiliki landasan data-data valid yang melalui observasi empiris. Dengan demikian, ilmu pengetahuan hanyalah mengakui objek-objek fisik . dan menolak objek-objek Oleh karena itu, ilmu pengetahuan akan menanamkan kepada umat beragama, lebih khususnya umat Islam dari kehidupan agamanya. Dan ini merupakan tantangan yang besar bagi umat Islam. Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf. Volume 11, nomor . September, 2025 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 DAFTAR PUSTAKA