JURNAL BANUA OGE TADULAKO Vol. : 74-84. Mei 2025 ISSN: 2828-2353 Meningkatkan Hasil Belajar Peserta Didik Kelas 2 Menggunakan Model Discovery Learning dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia di SD Inpres 1 Talise Improving the Learning Outcomes of Class 2 Students Using the Discovery Learning Model in Learning Indonesian at SD Inpres 1 Talise Ijirana. Hidayat. Laumara. Program Studi Pendidikan Profesi Guru FKIP Universitas Tadulako 1,2,3 *) email : mtaufikh094@gmail. orresponding autho. Abstract This research aims to improve student learning outcomes in Indonesian language subjects through the application of the Discovery Learning model in class II of SD Inpres 1 Talise. This research uses the Classroom Action Research (PTK) method which is carried out in two cycles, each consisting of planning, implementation, observation and reflection stages. The subjects of this research were 25 class II students. Data is collected through tests, observation and documentation, then analyzed descriptively to see improvements in student learning outcomes. The indicator of the success of this research is the achievement of completeness by students who achieve a score of 75 above the KKM (Minimum Completeness Criteri. The research results show a significant increase in student learning outcomes after implementing the Discovery Learning model. The average percentage of completeness of student learning outcomes increased from 36% in the pre-cycle, to 72% in the first cycle, and reached 92% in the second cycle. These findings show that the Discovery Learning model can improve student learning outcomes by encouraging students to be more active in discovering learning concepts independently. It is recommended that the application of the Discovery Learning model in learning continue to be developed and adapted to student needs in order to achieve optimal learning outcomes. Keywords: discovery learning, learning outcomes, indonesian language (KKM) 75 yang ditetapkan sekolah. Dari 25 siswa yang PENDAHULUAN mengikuti ujian, hanya 35% yang mencapai nilai di atas Pendidikan dasar merupakan fondasi penting dalam KKM. Hal ini menunjukkan bahwa mayoritas siswa pembentukan keterampilan dasar peserta didik, terutama mengalami kesulitan dalam mencapai kompetensi dasar yang dalam penguasaan kemampuan literasi, seperti membaca, diharapkan dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia. Beberapa menulis, dan berbahasa . Dalam konteks pembelajaran faktor yang berkontribusi terhadap rendahnya hasil belajar Bahasa Indonesia, kemampuan berbahasa yang baik sangat siswa antara lain metode pembelajaran yang masih cenderung berperan dalam membentuk keterampilan komunikasi dan konvensional dan kurangnya keterlibatan aktif siswa dalam berpikir kritis siswa sejak dini (Febrianti, 2. Namun, proses belajar-mengajar. realitas di lapangan menunjukkan bahwa kemampuan Ada beberapa faktor utama yang menyebabkan rendahnya berbahasa Indonesia siswa kelas II, terutama di SD Inpres 1 hasil belajar siswa dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di Talise, masih jauh dari yang diharapkan. Salah satu SD Inpres 1 Talise. Salah satunya adalah penggunaan metode indikatornya adalah rendahnya hasil belajar siswa dalam pembelajaran yang cenderung teacher-centered atau berpusat pada guru. Pembelajaran yang terlalu mengandalkan ceramah Bahasa Indonesia, dan pemberian tugas tanpa melibatkan siswa secara aktif pemahaman bacaan, menulis, maupun berkomunikasi lisan. Hasil observasi yang dilakukan pada awal tahun ajaran dalam proses eksplorasi, penemuan, dan pemecahan masalah 2023/2024 di SD Inpres 1 Talise, ditemukan kondisi rata-rata menyebabkan kurangnya minat siswa dalam belajar. Menurut nilai siswa kelas II dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia masih berada di bawah standar Kriteria Ketuntasan Minimal http://jurnal. id/index. php/jbot Gafur JBOT 4 . : 74-84. Mei 2025 Ijirana, et al informasi dari guru tanpa melibatkan siswa secara aktif Discovery Learning mendorong siswa untuk lebih aktif cenderung membuat siswa pasif dan kurang memahami materi berpikir dan terlibat dalam proses belajar, sehingga hasil pelajaran secara mendalam. belajar mereka meningkat secara signifikan. Penyebab lain rendahnya hasil belajar juga yaitu Meski banyak penelitian yang menunjukkan efektivitas kurangnya penggunaan media dan model pembelajaran yang Discovery Learning dalam meningkatkan hasil belajar siswa, menarik serta relevan dengan kebutuhan siswa. Menurut masih terdapat kekosongan dalam konteks penerapannya di Piaget . dalam teori perkembangan kognitifnya, anak- tingkat sekolah dasar, khususnya pada pembelajaran Bahasa anak pada usia sekolah dasar berada pada tahap operasional Indonesia di kelas II. Sebagian besar penelitian sebelumnya konkret, yang berarti mereka cenderung lebih mudah lebih berfokus pada mata pelajaran eksakta, seperti matematika dan sains, sementara penerapan model Discovery pengalaman langsung dan interaksi dengan lingkungan . Learning dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di kelas Namun, di SD Inpres 1 Talise, pembelajaran Bahasa Indonesia rendah masih terbatas. Selain itu, penelitian yang secara lebih banyak dilakukan secara abstrak tanpa melibatkan siswa khusus mengevaluasi bagaimana Discovery Learning dapat dalam aktivitas yang konkret dan kontekstual. Hal ini kemampuan literasi siswa di SD Inpres 1 Talise belum banyak menghubungkan materi yang dipelajari dengan kehidupan Kondisi ini menunjukkan adanya celah atau sehari-hari mereka, sehingga hasil belajar mereka tidak kekosongan penelitian yang perlu dijawab, yaitu bagaimana Untuk mengatasi permasalahan tersebut, penerapan penerapan model Discovery Learning dapat diadaptasi dalam model pembelajaran yang berpusat pada siswa dan mendorong konteks pembelajaran Bahasa Indonesia di kelas II, khususnya siswa untuk aktif dalam menemukan pengetahuan sendiri di SD Inpres 1 Talise, yang memiliki tantangan spesifik, menjadi solusi yang relevan. Salah satu model pembelajaran seperti rendahnya motivasi belajar siswa dan keterbatasan yang dianggap efektif adalah Discovery Learning. Menurut sarana pembelajaran yang mendukung. konsep-konsep Kelana Kelana et al. Discovery Learning adalah suatu Penelitian ini menawarkan kebaruan dalam beberapa pendekatan pembelajaran yang memungkinkan siswa untuk Pertama, penelitian ini difokuskan pada pengembangan menemukan konsep, prinsip, atau generalisasi melalui dan penerapan model Discovery Learning yang disesuaikan eksplorasi dan investigasi. Dalam model ini, guru berperan dengan konteks pembelajaran Bahasa Indonesia di kelas II. sebagai fasilitator yang membimbing siswa untuk menemukan Hal ini jarang dilakukan, mengingat kebanyakan penelitian pengetahuan melalui berbagai aktivitas seperti pengamatan. Discovery Learning lebih banyak diterapkan pada mata eksperimen, dan diskusi. pelajaran sains. Penelitian ini juga akan memberikan Penelitian . kontribusi terhadap pemahaman tentang bagaimana model menunjukkan bahwa penerapan Discovery Learning dapat pembelajaran ini dapat meningkatkan hasil belajar siswa meningkatkan hasil belajar siswa dalam berbagai mata dalam aspek literasi, khususnya di sekolah dasar yang pelajaran, termasuk Bahasa Indonesia. Dalam penelitian memiliki keterbatasan fasilitas dan sumber belajar. Kedua, tersebut, siswa yang belajar menggunakan model Discovery penelitian ini berupaya untuk menjawab tantangan spesifik Learning menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam yang dihadapi oleh SD Inpres 1 Talise, yaitu rendahnya hasil kemampuan pemahaman bacaan, menulis, dan berpikir kritis belajar siswa dalam pembelajaran Bahasa Indonesia. Dengan dibandingkan dengan siswa yang belajar menggunakan mengimplementasikan Discovery Learning, penelitian ini metode konvensional. Temuan ini sejalan dengan penelitian akan mengeksplorasi bagaimana model tersebut dapat yang dilakukan oleh Kadri . yang menyatakan bahwa diterapkan secara efektif untuk meningkatkan kemampuan http://jurnal. id/index. php/jbot Patandung JBOT 4 . : 74-84. Mei 2025 Ijirana, et al siswa dalam memahami teks, menulis, dan berkomunikasi Wawancara dilakukan dengan beberapa siswa untuk Dalam konteks ini, penelitian ini akan memberikan menggali lebih dalam pengalaman mereka selama mengikuti pembelajaran, serta untuk mengetahui bagaimana model pembelajaran di sekolah dasar yang dapat meningkatkan hasil pembelajaran ini membantu mereka dalam memahami materi. belajar siswa. Dokumentasi berupa foto dan catatan harian digunakan untuk Rendahnya hasil belajar siswa dalam pembelajaran Bahasa melengkapi data observasi dan memberikan gambaran lebih Indonesia di SD Inpres 1 Talise merupakan tantangan yang jelas mengenai proses pembelajaran. perlu segera diatasi. Penggunaan metode pembelajaran yang Analisis data dalam penelitian ini dilakukan secara konvensional dan kurang melibatkan siswa dalam proses deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Analisis kualitatif belajar-mengajar menjadi salah satu penyebab utama bertujuan untuk menggambarkan respons siswa terhadap rendahnya hasil belajar. Untuk itu, penerapan model penerapan model Discovery Learning, khususnya dalam hal Discovery Learning dianggap sebagai solusi yang relevan. keterlibatan dan aktivitas belajar. Sementara itu, analisis Dengan melibatkan siswa secara aktif dalam proses eksplorasi kuantitatif digunakan untuk mengukur peningkatan hasil dan penemuan, diharapkan hasil belajar siswa dapat belajar siswa dengan membandingkan nilai hasil belajar dari Penelitian ini juga menawarkan kebaruan dengan prasiklus hingga siklus II. Hasil kuantitatif ini dihitung dalam mengadaptasi model Discovery Learning untuk pembelajaran bentuk persentase untuk melihat sejauh mana siswa berhasil Bahasa Indonesia di kelas II, sehingga dapat memberikan mencapai KKM yang telah ditetapkan. Indikator keberhasilan kontribusi signifikan dalam memperbaiki hasil belajar siswa. penelitian ini adalah meningkatnya hasil belajar siswa, yang ditandai dengan minimal 75% siswa mencapai nilai di atas METODE KKM, serta adanya peningkatan dalam aktivitas belajar siswa selama proses pembelajaran berlangsung. Penelitian ini menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK), yang menurut Kemmis dan McTaggart . Subjek penelitian ini adalah siswa kelas II SD Inpres 1 merupakan suatu proses penelitian yang dilakukan secara Talise yang berjumlah 25 orang. Siswa kelas ini dipilih karena sistematis oleh pendidik untuk memecahkan masalah praktis hasil observasi awal menunjukkan bahwa hasil belajar mereka di kelas serta meningkatkan kualitas praktik pembelajaran. dalam pembelajaran Bahasa Indonesia masih rendah. PTK dipilih karena pendekatan ini memungkinkan peneliti Pembelajaran di kelas tersebut masih menggunakan metode untuk langsung menangani masalah nyata yang dihadapi konvensional, di mana guru cenderung mendominasi proses dalam proses pembelajaran, khususnya terkait rendahnya hasil pembelajaran, dan siswa kurang terlibat aktif. Kondisi ini belajar siswa. Dengan siklus yang meliputi perencanaan, berdampak pada rendahnya minat belajar siswa dan hasil pelaksanaan, observasi, dan refleksi. PTK memberikan ruang belajar yang belum mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal bagi guru untuk melakukan perbaikan secara berkelanjutan (KKM) yang telah ditetapkan oleh sekolah, yaitu 75. selama penelitian berlangsung. Penelitian ini bertujuan untuk HASIL DAN PEMBAHASAN meningkatkan hasil belajar siswa kelas II di SD Inpres 1 Talise dalam pembelajaran Bahasa Indonesia melalui penerapan Penelitian yang dilaksanakan di kelas II SD Inpres 1 Talise model Discovery Learning. Untuk mengumpulkan data, dengan jumlah 25 siswa yang terdiri dari 11 orang siswa laki- penelitian ini menggunakan beberapa teknik, yaitu, tes hasil laki dan 14 orang siswa perempuan. Penelitian dilakukan belajar, wawancara, dan dokumentasi. Tes dilakukan pada dalam 2 siklus pada mata pelajajaran bahasa Indonesia. setiap akhir siklus untuk mengukur peningkatan hasil belajar http://jurnal. id/index. php/jbot JBOT 4 . : 74-84. Mei 2025 Ijirana, et al Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa masih mengalami kesulitan dalam memahami materi siswa menggunakan model pembelajaran discovery learning. pembelajaran bahasa Indonesia sebelum diterapkannya model pembelajaran Discovery Learning. Pra Siklus Berdasarkan Proses pelaksanaan penelitian ini menggunakan beberapa perbandingan antara persentase siswa yang tuntas dan belum tahapan, tahap pra-siklus, tahap siklus 1 dan tahap siklus 2. tuntas pada tahap prasiklus. Grafik tersebut memberikan Pada prasiklus peneliti belum melakukan tindakan yaitu visualisasi yang jelas, di mana kolom "Tuntas" menunjukkan menerapkan model pembelajaran discovery learning dalam angka lebih rendah dibandingkan dengan kolom "Tidak pembelajaran bahasa indonesia untuk meningkatkan hasil Tuntas". Kolom Tuntas 36% menggambarkan bahwa sebagian belajar siswa kelas II di SD Inpres 1 Talise. Adapun hasil kecil siswa telah mampu memenuhi KKM. Kolom Tidak belajar siswa digambarkan pada tabel berikut. Tuntas 64% menggambarkan bahwa sebagian besar siswa Tabel 1. Hasil Belajar Siswa Prasiklus Keterangan Jumlah Siswa Presentase belum berhasil mencapai standar minimal pembelajaran yang Tuntas Ketidakseimbangan antara jumlah siswa yang Belum Tuntas tuntas dan belum tuntas memperjelas bahwa terdapat Total Jumlah Siswa permasalahan dalam metode atau proses pembelajaran sebelum adanya penerapan model pembelajaran Discovery Learning. Hal ini mengindikasikan bahwa strategi atau Hasil Prasiklus pendekatan yang digunakan sebelum siklus tidak efektif dalam mendukung pencapaian akademik siswa. Berdasarkan data prasiklus ini, terlihat jelas bahwa sebagian besar siswa mengalami kesulitan dalam mencapai target pembelajaran yang diharapkan. Beberapa faktor yang mungkin berkontribusi terhadap rendahnya hasil belajar siswa pada tahap ini dapat mencakup Kurangnya keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran: Metode pembelajaran yang digunakan sebelum siklus mungkin kurang melibatkan siswa Tuntas Tidak Tuntas secara aktif. Minimnya penggunaan model pembelajaran yang Gambar 1. Hasil Prasiklus Sebelum dilakukan intervensi, model pembelajaran Penelitian ini dilakukan untuk meningkatkan hasil belajar yang digunakan kurang efektif dalam membantu siswa siswa kelas II pada mata pelajaran Bahasa Indonesia di SD memahami materi pelajaran. Serlanjutnya adalah keterbatasan Inpres 1 Talise dengan menggunakan model pembelajaran media atau sarana belajar, faktor ini juga menjadi alasan Discovery Learning. Sebelum peneliti melakukan intervensi rendahnya hasil belajar siswa pada tahap ini. pada tahap siklus, data prasiklus dikumpulkan untuk Tahap prasiklus ini penting dalam penelitian tindakan mengetahui tingkat pencapaian siswa secara awal tanpa kelas karena memberikan gambaran kondisi awal sebelum adanya tindakan. Berdasarkan tabel 1 mengenai hasil belajar intervensi diterapkan. Data prasiklus digunakan sebagai acuan siswa pada tahap prasiklus menunjukkan bahwa dari total 25 untuk menilai keberhasilan atau perkembangan setelah siswa, hanya 9 siswa 36% yang mencapai kriteria ketuntasan penerapan model pembelajaran Discovery Learning pada minimal (KKM). Sedangkan 18 siswa 64% lainnya belum siklus-siklus selanjutnya. Jika hasil dari siklus 1 dan 2 mencapai ketuntasan. Hal ini menandakan bahwa mayoritas http://jurnal. id/index. php/jbot menunjukkan peningkatan yang signifikan dibandingkan JBOT 4 . : 74-84. Mei 2025 Ijirana, et al dengan hasil prasiklus ini, maka dapat dikatakan bahwa Hasil Siklus I intervensi yang dilakukan berhasil meningkatkan hasil belajar Dengan hasil prasiklus yang menunjukkan rendahnya pencapaian siswa, peneliti akan melanjutkan penelitian dengan menerapkan model pembelajaran Discovery Learning pada siklus 1. Diharapkan pada tahap selanjutnya, model meningkatkan keterlibatan siswa, dan memperbaiki hasil belajar mereka secara signifikan. Secara keseluruhan, data prasiklus ini menunjukkan adanya kebutuhan mendesak untuk meningkatkan metode pembelajaran di kelas. Mayoritas siswa Tidak Tuntas . %) belum mencapai ketuntasan, sehingga penerapan model Tuntas Gambar 2. Hasil Siklus I pembelajaran inovatif seperti Discovery Learning diharapkan Pada siklus I, peneliti telah menerapkan intervensi berupa mampu memberikan solusi terhadap permasalahan ini dan modul ajar yang mengintegrasikan Discovery Learning, meningkatkan hasil belajar siswa di siklus-siklus berikutnya. dengan harapan siswa dapat lebih aktif, partisipatif, dan Siklus 1 memperoleh hasil belajar yang lebih baik dibandingkan Pada tahap ini, peneliti menyiapkan berbagai perangkat dengan prasiklus. Berdasarkan data yang disajikan pada tabel pembelajaran seperti modul ajar yang mengintegrasikan 2 dan grafik 2, terdapat peningkatan yang signifikan pada hasil Proses belajar siswa setelah penerapan model Discovery Learning pembelajaran dilaksanakan dengan beberapa strategi oleh pada siklus I. Jika dibandingkan dengan prasiklus, di mana peneliti agar siswa mampu mengerjakan soal-soal dalam hanya 36% siswa yang tuntas, pada siklus I jumlah siswa yang Bahasa Indonesia dengan baik. Selain itu, guru juga mencapai ketuntasan meningkat dua kali lipat menjadi 72%. merancang evaluasi sebagai tes yang diberikan kepada siswa. Sebaliknya, jumlah siswa yang belum tuntas menurun dari Selama siklus I, peneliti berusaha untuk menerapkan model 64% pada prasiklus menjadi 28% pada siklus I. Hal ini pembelajaran Discovery Learning ke dalam pembelajaran menunjukkan dampak positif dari penerapan Discovery dengan baik. Hal ini dilakukan agar siswa dapat antusias Learning dalam proses pembelajaran. Discovery Learning. dalam pembelajaran. Adapun hasil observasi selama proses Berdasarkan gambar 2 di atas menunjukkan perbedaan pembelajaran pada siklus , aktif dan partisipatif dalam yang jelas antara persentase siswa yang tuntas dan belum Kolom "Tuntas" menunjukkan peningkatan signifikan Adapun hasil belajar siswa pada siklus I dapat hingga 72%, sementara kolom "Tidak Tuntas" menurun dilihat dalam tabel berikut menjadi 28%. Peningkatan ini mengindikasikan bahwa Tabel 2. Hasil Belajar Siswa Siklus I Keterangan Jumlah Siswa mayoritas siswa telah mampu memahami materi pembelajaran Presentase dengan baik melalui strategi pembelajaran yang diterapkan. Tuntas Model pembelajaran Discovery Learning yang diterapkan Belum Tuntas Total Jumlah Siswa pada siklus I berperan penting dalam meningkatkan hasil belajar siswa. Menurut Akbar . Discovery Learning adalah proses belajar di mana siswa didorong untuk menemukan konsep dan prinsip secara mandiri melalui eksplorasi dan http://jurnal. id/index. php/jbot JBOT 4 . : 74-84. Mei 2025 Ijirana, et al Dalam konteks ini, peneliti menggunakan menjadi lebih aktif dan partisipatif. Keterlibatan siswa dalam beberapa strategi seperti modul ajar yang mengintegrasikan diskusi dan eksplorasi materi membuat mereka lebih terlibat metode ini, yang memungkinkan siswa lebih aktif dalam dalam proses belajar, yang berdampak pada peningkatan hasil pembelajaran dan lebih bertanggung jawab atas proses belajar belajar mereka. Observasi ini memperkuat temuan bahwa mereka sendiri. Discovery Learning mempengaruhi hasil belajar secara positif. Hasil siklus I menunjukkan bahwa penerapan Discovery Learning telah memberikan dampak positif terhadap hasil belajar siswa, dengan peningkatan signifikan pada jumlah siswa yang tuntas. Namun, masih ada 28% siswa yang belum tuntas, sehingga perlu dilakukan perbaikan dan penyesuaian pada siklus selanjutnya. Pada siklus II, peneliti dapat lebih Gambar 3. Penerapan Model Discovery Learning Siklus 1 mengoptimalkan penerapan strategi Discovery Learning Temuan di atas juga menunjukkan bahwa model dengan memberikan bimbingan yang lebih intensif kepada Discovery Learning membantu siswa berperan aktif dalam siswa yang masih kesulitan, sehingga diharapkan semua siswa menemukan pengetahuan baru. Siswa tidak hanya menjadi dapat mencapai ketuntasan. Siswa yang belum tuntas mungkin penerima informasi, tetapi juga pencari pengetahuan. Hal ini memerlukan bimbingan tambahan. Guru dapat memberikan sesuai dengan pendapat Farhin . yang menyatakan bahwa perhatian lebih pada siswa yang mengalami kesulitan agar keterlibatan aktif siswa dalam proses pembelajaran dapat mereka dapat mengikuti pembelajaran dengan lebih baik meningkatkan pemahaman dan retensi materi. Selain itu. Selain itu. Guru bisa mencoba variasi lain dalam Discovery model Discovery Learning juga mendorong siswa untuk Learning, seperti penggunaan alat bantu visual atau berpikir kritis dan kreatif . Siswa didorong untuk multimedia untuk mendukung pemahaman konsep yang lebih memecahkan masalah dan menjawab pertanyaan sendiri, yang Dengan demikian, penerapan Discovery Learning meningkatkan rasa ingin tahu dan motivasi belajar mereka. pada siklus I telah terbukti efektif dalam meningkatkan hasil Hal ini juga sejalan dengan penelitian Yuliati . bahwa belajar siswa, dan perbaikan lebih lanjut diharapkan dapat ketika siswa menemukan pengetahuan sendiri, pemahaman meningkatkan hasil yang lebih optimal pada siklus II. mereka terhadap konsep yang dipelajari menjadi lebih kuat. Siklus 2 Mereka lebih mungkin mengingat informasi yang mereka Pada tahap ini, peneliti melaksanakan prosedur yang sama temukan melalui proses eksplorasi dan penemuan daripada seperti pada siklus sebelumnya, tetapi dengan perbaikan yang informasi yang disampaikan secara pasif oleh guru. Berdasarkan hasil penelitian di atas, sejalan dengan Pada siklus I, hasil belajar peserta didik belum penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa Discovery memenuhi standar ketuntasan yang diharapkan, dengan Learning dapat meningkatkan hasil belajar siswa secara persentase keberhasilan hanya mencapai 72%, yang masih Penelitian oleh Fadillah . menemukan bahwa kurang dari KKM 75. Hal ini menunjukkan bahwa perlu ada penerapan Discovery Learning dalam pembelajaran sains perubahan dalam tindakan untuk meningkatkan hasil belajar meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa dan hasil di siklus II. Untuk itu, peneliti melakukan modifikasi modul belajar mereka secara keseluruhan. Selain itu. Selama proses ajar dan memberikan perhatian lebih pada siswa yang pembelajaran pada siklus I, peneliti mengamati bahwa siswa http://jurnal. id/index. php/jbot JBOT 4 . : 74-84. Mei 2025 Ijirana, et al pembelajaran dengan lebih baik. Selain itu, peneliti mencoba ketuntasan, sedangkan 28% sisanya belum memenuhi Kriteria variasi lain dalam Discovery Learning, seperti penggunaan Ketuntasan Minimal (KKM) yang telah ditetapkan, yaitu 75. alat bantu visual atau multimedia untuk mendukung Oleh karena itu, pada siklus II peneliti melakukan beberapa pemahaman konsep yang lebih mendalam sehingga akan perbaikan, termasuk modul ajar. Modul ajar diperbarui untuk berpengaruh pada hasil lebih mendukung kebutuhan siswa yang kesulitan memahami memperbaiki tes evaluasi yang akan diberikan agar siswa Selain itu, penggunaan metode yang lebih bervariasi mampu mencapai ketuntasan yang dicapai. Adapun hasil melalui alat bantu visual dan multimedia bertujuan untuk meningkatkan pemahaman konsep siswa. Siswa yang belajar siswa. Peneliti Bahasa Indonesia digambarkan dalam tabel 3 berikut. Keterangan mengalami kesulitan diberikan perhatian lebih, termasuk Tabel 3. Hasil Belajar Siswa Siklus II Jumlah Siswa Presentase Tuntas Belum Tuntas Total Jumlah Siswa melalui bimbingan tambahan agar mereka dapat lebih mudah mengikuti pembelajaran. Berdasarkan perbaikan tersebut, hasil penelitian pada dibandingkan dengan siklus I. Peningkatan dari 72% pada siklus I menjadi 92% pada siklus II menunjukkan keberhasilan Hasil Siklus II perbaikan yang dilakukan oleh peneliti. Siswa yang belum tuntas juga berkurang secara signifikan, dari 28% pada siklus I menjadi hanya 8% pada siklus II. Berdasarkan Grafik 3 hasil Siklus II menunjukkan hampir seluruh siswa . %) telah mencapai ketuntasan, sementara hanya sebagian kecil siswa . %) yang belum tuntas. Ini merupakan pencapaian yang luar biasa, di mana mayoritas siswa mampu memahami dan menerapkan konsep yang diajarkan dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia. Perbaikan yang dilakukan oleh peneliti pada siklus II mencerminkan pentingnya fleksibilitas dan adaptasi dalam pembelajaran. Berikut adalah beberapa faktor Tidak Tuntas kunci yang mempengaruhi peningkatan hasil belajar siswa. Tuntas Penggunaan alat bantu visual dan multimedia telah terbukti Gambar 4. Hasil Siklus II Berdasarkan data hasil penelitian Siklus II, pembahasan ini dapat meningkatkan pemahaman siswa, terutama pada materi akan mencakup analisis hasil yang lebih baik dibandingkan yang lebih abstrak. Menurut Efendi . multimedia learning dengan siklus sebelumnya serta upaya perbaikan yang memberikan kesempatan bagi siswa untuk memahami materi dilakukan oleh peneliti. Pada siklus II, peneliti melanjutkan lebih baik melalui penggabungan elemen visual dan verbal. prosedur yang sama seperti siklus sebelumnya namun dengan Yolanda . menyatakan bahwa siswa yang terlibat aktif modifikasi yang dirancang untuk mengatasi kekurangan yang ditemukan pada siklus I. Dengan menggunakan model pemahaman konsep yang lebih mendalam dan lebih mampu Discovery Learning yang telah dioptimalkan, diharapkan hasil mengingat materi. Pada siklus II, keterlibatan aktif siswa belajar siswa dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia dapat dalam menemukan solusi dan konsep melalui pembelajaran meningkat, dan mencapai ketuntasan yang lebih tinggi. Siklus mandiri didukung oleh pendekatan visual yang lebih I menunjukkan bahwa hanya 72% siswa yang mencapai http://jurnal. id/index. php/jbot . JBOT 4 . : 74-84. Mei 2025 Ijirana, et al kesulitan dan meningkatkan pemahaman mereka terhadap Walaupun hasil pada siklus II sudah sangat baik, masih ada ruang untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, terutama bagi 8% siswa yang belum mencapai ketuntasan. Berdasarkan nilai rata-rata pada siklus II yang mencapai 92%, menandakan keberhasilan pembelajaran, khususnya penerapan model Discovery Learning dalam meningkatkan Gambar 5. Penerapan Model Discovery Learning Siklus 2 hasil belajar siswa pada pembelajaran bahasa Indonesia. Hal Penerapan Discovery Learning dengan modifikasi yang ini mengindikasikan bahwa pembelajaran hanya dilakukan lebih adaptif pada siklus II berhasil meningkatkan hasil belajar sampai pada siklus II, karena pada siklus II sudah mencapai siswa secara signifikan. Persentase siswa yang tuntas Kriteria Ketuntasan Maksimal yaitu 75. Berdasarkan uraian di meningkat dari 72% pada siklus I menjadi 92% pada siklus II. atas, dapat diketahui bahwa model Discovery Learning dapat Hal ini menunjukkan bahwa modifikasi pembelajaran yang meningkatkan hasil belajar siswa kelas II SD Inpres 1 Talise. mencakup penggunaan alat bantu visual, multimedia, dan Adapun perbandingan hasil belajar siswa mulai dari pratindakan, siklus I dan siklus II sebagai berikut: bimbingan intensif berhasil membantu siswa yang mengalami Kriteria Ketercapaian Tidak Tuntas Tuntas Jumlah Tabel 4. Hasil Perbandingan Hasil Belajar Prasiklus. Siklus I, dan Siklus II Prasiklus Siklus I Siklus II Jumlah Presentase Jumlah Presentase Jumlah Siswa Siswa Siswa O 75 Ou 75 KKM Presentase Hasil Perbandingan Hasil Belajar Prasiklus. Siklus I, dan Siklus II Prasiklus Siklus I Siklus II Tuntas Tidak Tuntas Gambar 6. Perbandingan Hasil Belajar Semua Siklus Berdasarkan hasil perbandingan hasil belajar siswa dari Siklus II menunjukkan bahwa penerapan model Discovery prasiklus. Siklus I, dan Siklus II, yang diukur berdasarkan Learning telah secara signifikan meningkatkan hasil belajar kriteria ketercapaian KKM (Kriteria Ketuntasan Minima. Penerapan model Discovery Learning telah terbukti terlihat peningkatan yang signifikan dalam hasil belajar siswa efektif dalam meningkatkan hasil belajar siswa. dari prasiklus hingga Siklus II. Peningkatan rata-rata hasil Berdasarkan hasil penelitian di atas, dapat disimpulkan belajar siswa dari 36% pada prasiklus menjadi 92% pada bahwa penerapan model Discovery Learning secara efektif http://jurnal. id/index. php/jbot JBOT 4 . : 74-84. Mei 2025 Ijirana, et al dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas 2 di SD Inpres 1 dan mandiri, yang berkontribusi terhadap peningkatan hasil Talise dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia. Perbaikan belajar mereka. Penemuan ini konsisten dengan hasil yang dilakukan pada siklus II, seperti modifikasi modul ajar, penelitian di SD Inpres 1 Talise, di mana siswa menunjukkan penggunaan alat bantu visual dan multimedia, serta bimbingan intensif, terbukti berkontribusi secara signifikan terhadap diterapkannya model ini. peningkatan hasil belajar. Pada siklus I, persentase siswa yang Discovery Learning, sebagaimana dijelaskan oleh Jerome tuntas hanya mencapai 72%, tetapi setelah perbaikan pada Bruner, menekankan pembelajaran melalui penemuan. Dalam siklus II, persentase ini meningkat menjadi 92%. Hal ini pendekatan ini, siswa didorong untuk melakukan eksplorasi menunjukkan bahwa model Discovery Learning, jika diterapkan dengan baik dan disesuaikan dengan kebutuhan pengamatan dan pemecahan masalah. Hal ini berbeda dengan siswa, dapat menjadi metode yang efektif untuk meningkatkan hasil belajar. Dengan Discovery Berdasarkan hasil penelitian di atas, menunjukkan bahwa Learning, siswa menjadi lebih mandiri dan aktif dalam proses model Discovery Learning dapat meningkatkan hasil belajar belajar, sementara guru bertindak sebagai fasilitator yang Temuan di atas juga menunjukkan bahwa pembelajaran memberi arahan ketika diperlukan. Beberapa karakteristik yang berbasis penemuan mendorong siswa untuk lebih terlibat utama dari model ini adalah eksplorasi aktif, fokus pada proses secara aktif dalam proses belajar. Siswa tidak hanya menerima belajar, dan peran guru sebagai fasilitator yang mendorong informasi secara pasif, tetapi juga dilibatkan dalam proses siswa untuk berpikir kritis dan menyelesaikan masalah. eksplorasi dan pemecahan masalah. Ini selaras dengan teori Dampak positif Discovery Learning terhadap hasil belajar Constructivism dari Vygotsky . , yang menyatakan siswa terwujud dalam beberapa mekanisme yang signifikan. bahwa pembelajaran terjadi secara efektif ketika siswa Pertama, model ini meningkatkan keterlibatan dan motivasi mengkonstruksi pengetahuan baru melalui interaksi dengan Dengan belajar aktif, siswa lebih terlibat dalam proses lingkungannya Hidayat . Hal ini juga sejalan dengan penemuan, sehingga materi yang dipelajari dapat dipahami pendapat Dari . menyatakan bahwa pembelajaran berbasis dengan lebih mendalam dan diingat lebih lama. Beberapa penemuan dapat meningkatkan keterlibatan siswa dalam penelitian mendukung hal ini, seperti penelitian Puri . yang pembelajaran dan mendorong mereka untuk berpikir kritis. menunjukkan bahwa motivasi dan keterlibatan siswa Hal ini sejalan dengan temuan dalam penelitian ini, di mana meningkat dengan penggunaan Discovery Learning. Kedua, penerapan Discovery Learning mendorong siswa untuk lebih model ini mengembangkan keterampilan berpikir kritis siswa. aktif dan terlibat dalam pembelajaran Bahasa Indonesia. Ketika siswa dihadapkan dengan masalah untuk dipecahkan. Penelitian yang dilakukan oleh Susmiati . mendukung mereka dilatih untuk menganalisis, menyusun hipotesis, dan temuan ini. Dalam penelitian mereka, penerapan Discovery menemukan solusi. Penelitian Haeruman et al. Learning terbukti dapat meningkatkan hasil belajar siswa menemukan bahwa Discovery Learning secara signifikan dalam mata pelajaran bahasa, terutama dalam keterampilan meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa, yang juga memahami teks. Hal ini menunjukkan bahwa model ini sangat meningkatkan pemahaman konseptual mereka. Selain itu, efektif dalam pembelajaran bahasa, termasuk Bahasa Discovery Learning juga terbukti efektif dalam meningkatkan Indonesia. Selain itu, penelitian yang dilakukan oleh Nafisa et pemahaman konsep. Melalui proses penemuan, siswa tidak . juga menunjukkan bahwa Discovery Learning hanya belajar fakta, tetapi juga memahami hubungan antar membantu siswa mengembangkan keterampilan berpikir kritis konsep yang dipelajari. Hal ini diperkuat oleh teori konstruktivisme Jean Piaget, yang menyatakan bahwa http://jurnal. id/index. php/jbot JBOT 4 . : 74-84. Mei 2025 Ijirana, et al Pelajaran 2017/2018,Ay JISIP (Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidika. , vol. 2, no. Mar. 2018, doi: 58258/jisip. pengetahuan dibangun di atas pengetahuan yang sudah ada. Pada penelitian di SD Inpres 1 Talise, penerapan Discovery Learning mampu meningkatkan persentase ketuntasan siswa dari 72% pada siklus pertama menjadi 92% pada siklus kedua, . Suryana. Pendidikan Anak Usia Dini Teori dan Praktik Pembelajaran. Jakarta: Prenada Media, 2021. [Onlin. Available: https://books. id/books?id=gWNHEaQ BAJ Kelana and D. Wardani. MODEL PEMBELAJARAN IPA SD. Cirebon: Edutrimedia Indonesia, [Onlin. Available: https://books. id/books?id=kxAeEaQB . Patandung. AuPengaruh model discovery learning terhadap peningkatan motivasi belajar IPA Siswa,Ay Journal of Educational Science and Technology (EST), vol. 3, no. 1, p. Apr. 2017, doi: 26858/est. Kadri and M. Rahmawati. AuPENGARUH MODEL PEMBELAJARAN DISCOVERY LEARNING TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI POKOK SUHU DAN KALOR,Ay JURNAL IKATAN ALUMNI FISIKA, vol. 1, no. 1, p. Oct. 2015, doi: 10. 24114/jiaf. Akbar. AuPENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN DISCOVERY LEARNING UNTUK MENINGKATKAN RASA INGIN TAHU PADA PEMBELAJARAN TEMATIK,Ay UNPAS, . Farhin. Setiawan, and E. Waluyo. AuPeningkatan hasil belajar siswa sekolah dasar melalui penerapan Aoproject based-learning,AoAy Jurnal Penelitian Tindakan Kelas, vol. 1, no. Sep. 2023, doi: 61650/jptk. Eriansyah and I. Baadilla. AuModel Discovery Learning Untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Pada Muatan Pelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah Dasar,Ay Edukasiana: Jurnal Inovasi Pendidikan, vol. 2, no. 3, pp. 151Ae158. Jul. 2023, doi: 56916/ejip. Yuliati. AuMISKONSEPSI SISWA PADA PEMBELAJARAN IPA SERTA REMEDIASINYA,Ay Jurnal Bio Educatio, vol. 2, no. 2, pp. 50Ae58, 2017. Fadillah. Ramadhani, and A. Kuswidyanarko. AuTHE EFFECTIVENESS OF THE DISCOVERY LEARNING MODEL IMPROVING STUDENTAoS CRITICAL THINKING ABILITY IN menunjukkan peningkatan pemahaman yang signifikan. Secara keseluruhan. Discovery Learning terbukti efektif dalam meningkatkan hasil belajar siswa. Dengan penerapan yang tepat, model ini dapat menjadi alternatif pembelajaran yang tidak hanya meningkatkan hasil belajar, tetapi juga mengembangkan keterampilan berpikir kritis, kolaboratif, serta pemahaman konseptual siswa. KESIMPULAN Penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan model Discovery Learning secara signifikan meningkatkan hasil belajar siswa di SD Inpres 1 Talise. Berdasarkan data dari prasiklus, siklus I, dan siklus II, terdapat peningkatan yang Rata-rata persentase hasil belajar siswa meningkat dari 36% pada prasiklus menjadi 72% pada siklus I, dan mencapai 92% pada siklus II. Hal ini menunjukkan bahwa penerapan model Discovery Learning telah terbukti efektif dalam meningkatkan hasil belajar siswa. Selain itu, model ini memberikan kesempatan bagi siswa untuk mengembangkan pemahaman konseptual yang lebih dalam melalui proses penemuan, yang berdampak pada peningkatan kualitas Penelitian menunjukkan bahwa pemahaman siswa terhadap konsepkonsep yang diajarkan lebih kuat ketika mereka menemukan sendiri pengetahuan tersebut, berbeda dengan pembelajaran tradisional yang bersifat pasif. REFERENSI