Vol. 6, No. 1, Juni 2025, pp 80-89 https://doi.org/10.36590/jagri.v6i1.1296 http://salnesia.id/index.php/jagri jagri@salnesia.id, e-ISSN: 2746-802X Penerbit: Sarana Ilmu Indonesia (salnesia) ARTIKEL PENGABDIAN Pelatihan Kemampuan Public Speaking Anak Asuh di UPT Rumah Pengasuhan Anak Wiloso Projo Public Speaking Skills Training for Foster Children at UPT Wiloso Projo Child Care Home Arini Sabrina1*, Ajar Pradika Ananta Tur2 1 Program Studi Budidaya Tanaman Perkebunan, Politeknik LPP Yogyakarta, Yogyakarta, Indonesia 2 Program Studi Sastra Inggris, Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta, Indonesia Abstract This training activity aimed to enhance the self-confidence and public speaking skills of foster children at the Wiloso Projo Child Care Center through an interactive introduction to English idioms by lecturers and students from LPP Yogyakarta Polytechnic in collaboration with Ahmad Dahlan University. The activity was part of the CHAIN (Chemical Engineering in Action) event series and served as a program of the Community Service Division of HIMATEKIM (Chemical Engineering Student Association) of LPP Yogyakarta Polytechnic. It aimed to improve communication confidence as a vital asset for foster children in pursuing their future, especially considering the current trend that views English communication as prestigious. The training utilized lecture methods and picture-guessing games to enhance participants' understanding of idioms and their pronunciation. The results showed that participants were enthusiastic, actively responded, and demonstrated increased motivation to speak. Ultimately, this activity was expected to inspire similar contributions from academics in other fields. Keywords: idiom, training, foster care Article history: PUBLISHED BY: Sarana Ilmu Indonesia (salnesia) Address: Jl. Dr. Ratulangi No. 75A, Baju Bodoa, Maros Baru, Kab. Maros, Provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia Submitted 18 Oktober 2024 Revised 22 Juni 2025 Accepted 23 Juni 2025 Email: info@salnesia.id, jagri@salnesia.id Phone: +62 85255155883 80 Jurnal Abmas Negeri (JAGRI) Vol. 6, No. 1, Juni 2025 Abstrak Kegiatan pelatihan ini bertujuan meningkatkan kepercayaan diri dan kemampuan public speaking anak asuh di UPT Rumah Pengasuhan Anak Wiloso Projo melalui pengenalan idiom Bahasa Inggris secara interaktif oleh para dosen dan mahasiswa dari Politeknik LPP Yogyakarta yang berkolaborasi dengan Universitas Ahmad Dahlan. Kegiatan yang masuk dalam rangkaian acara CHAIN (Chemical Engineering in Action) dan merupakan program Divisi Pengabdian Masyarakat HIMATEKIM (Himpunan Mahasiswa Teknik Kimia) Politeknik LPP Yogyakarta ini bertujuan untuk meningkatkan kepercayaan diri dalam berkomunikasi sebagai modal penting bagi para anak asuh meraih masa depan, apalagi ditambah dengan tren saat ini yang memandang komunikasi dengan Bahasa Inggris sarat akan kuis. Metode ceramah dan permainan tebak gambar digunakan untuk meningkatkan pemahaman peserta terhadap idiom dan pelafalannya. Hasilnya menunjukkan bahwa peserta antusias, aktif menjawab, dan menunjukkan peningkatan motivasi berbicara. Pada akhirnya, kegiatan ini diharapkan dapat menginspirasi kontribusi serupa oleh akademisi di bidang lainnya. Kata Kunci: idiom, pelatihan, pengasuhan *Penulis Korespondensi: Arini Sabrina, email: arini@polteklpp.ac.id This is an open access article under the CC–BY license Highlight: • • Pelatihan ini menunjukkan respons positif dari peserta yang aktif, antusias, dan berani menjawab kuis serta mempraktikkan idiom yang diajarkan. Hal ini mencerminkan indikasi awal peningkatan kepercayaan diri dan keterampilan berbicara. Pendekatan kontekstual berbasis gambar dan relevansi idiom dengan kehidupan sehari-hari membuat materi mudah dipahami. Peserta menunjukkan antusiasme tinggi, berpartisipasi aktif dalam kuis, dan mengalami peningkatan motivasi berbicara di depan umum. PENDAHULUAN Pengabdian kepada masyarakat merupakan bagian dari Tri Dharma Perguruan Tinggi yang wajib dilaksanakan dosen, salah satunya melalui pelatihan. Hal ini pulalah yang kemudian dilakukan oleh dosen di Politeknik LPP Yogyakarta yang berkolaborasi dengan para mahasiswa. Dalam hal ini, sasaran kegiatan adalah anak-anak usia 10–17 tahun di UPT Rumah Pengasuhan Anak Wiloso Projo. Usia tersebut merupakan masa transisi penting untuk membangun fondasi mental, termasuk keterampilan berbicara di depan umum (public speaking). Para anak asuh ini, yang sebagian besar merupakan korban kekerasan atau pola asuh yang kurang baik, memerlukan dukungan khusus dalam pengembangan pribadi agar mampu menghadapi masa depan dengan lebih baik, salah satunya lewat program pelatihan yang ditawarkan kali ini. Kemampuan berbicara di depan umum seringkali menimbulkan kecemasan. Penelitian oleh Raja dalam Sabrina et al. (2023) menunjukkan bahwa 75% mahasiswa merasa cemas saat tampil di depan publik, dan 90% di antaranya menyatakan perlunya 81 Sabrina & Tur Vol. 6, No. 1, Juni 2025 pelatihan. Turistiati dalam Anggriani, Hamima, Azka, dan Umara (2022) juga menekankan pentingnya pelatihan sejak dini untuk memperkuat soft skills. Kegiatan serupa sebelumnya telah dilakukan oleh beberapa pihak, termasuk Gulö et al. (2021), yang menyasar anak-anak panti asuhan untuk menumbuhkan semangat mereka kembali. Dampak dari pola asuh yang keliru atau kekerasan dapat mempengaruhi kondisi emosional anak hingga dewasa. Penelitian oleh Kurniasari (2019) dan Margareta dan Jaya (2020) memperlihatkan bahwa anak bisa mengisolasi diri, mengalami depresi, bahkan berperilaku menyimpang. Ariani dan Asih (2022) serta Çelik dan Odaci (2020) mengaitkan hal ini dengan rendahnya harga diri. Melalui pelatihan public speaking, para peserta dapat dibekali dengan kemampuan komunikasi yang penting di era global, termasuk penggunaan bahasa Inggris yang umum digunakan dalam interaksi sosial maupun profesional. Ananda (2023) menunjukkan bahwa kemampuan berbahasa dapat mendukung tampil percaya diri di depan umum. Temuan serupa juga dipaparkan oleh Prayoga dan Khatimah (2019), Hernanda et al. (2022), dan Siregar (2023), yang menyatakan bahwa kemampuan berbahasa Inggris berperan besar dalam membuka akses sosial, ekonomi, dan bisnis. Pelatihan ini diharapkan dapat membekali para anak asuh di UPT Rumah Pengasuhan Anak Wiloso Projo dengan keterampilan yang membantu mereka berkembang. Hal ini semakin ditopang dengan kota bertumbuh mereka yaitu Yogyakarta yang kaya potensi dan terbuka pada dunia internasional. METODE Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan pada hari Minggu, 30 Juni 2024 di UPT Rumah Pengasuhan Anak Wiloso Projo yang bertempat di Jl. Gowongan lor JT III No. 211, Gowongan Jetis, Sosromenduran, Gedong Tengen, Gowongan, Jetis, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55232 dalam rangkaian acara CHAIN (Chemical Engineering in Action) yang merupakan program Divisi Pengabdian Masyarakat HIMATEKIM (Himpunan Mahasiswa Teknik Kimia) mahasiswa Program Studi Teknologi Rekayasa Kimia Industri (TRKI) D-IV Politeknik LPP Yogyakarta. Dengan adanya divisi ini, para mahasiswa terbantu untuk bisa membantu sesama dan sekaligus melaksanakan salah satu pilar tri dharma perguruan tinggi, yaitu pengabdian kepada masyarakat. Pengabdian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif yang menggunakan data-data deskriptif seperti gambar hingga perilaku subjek untuk menyimpulkan fenomena yang terjadi (Syahputra dan Putra, 2020). Dalam pelaksanaannya, pelatihan dilakukan dengan metode ceramah interaktif (Savira, Fatmawati, Rozin dan Eko, 2018) yang menggabungkan ceramah langsung di depan peserta dengan penjelasan terkait hubungan materi dengan fenomena kehidupan sehari-hari agar peserta bisa lebih mudah dalam pemahaman materinya. Materi yang diberikan yaitu 10 English idioms serta bagaimana cara pengucapan secara benar sekaligus diselipi dengan penyampaian beberapa trik supaya para peserta pelatihan menjadi lebih percaya diri dalam berkomunikasi di muka publik. Kuantitas serta pemilihan idiom didasarkan pada potensi kemudahan frase untuk bisa diserap, frekuensi penggunaan idiom sehari-hari, serta usia peserta pelatihan. Instrumen evaluasi yang digunakan pada kegiatan pengabdian ini yaitu kuis serta pengamatan secara langsung. Kuis dilaksanakan di akhir pelatihan dengan mekanisme seluruh peserta diminta menebak langsung secara lisan idiom berbahasa Inggris dari arti harfiah dalam Bahasa 82 Jurnal Abmas Negeri (JAGRI) Vol. 6, No. 1, Juni 2025 Indonesia yang sebelumnya telah dijelaskan. Pengamatan secara langsung selama kuis juga dilaksanakan untuk melihat seberapa antusias dan aktif para peserta dalam menjawab pertanyaan. Masing-masing peserta di fase ini memiliki kesempatan yang sama untuk menebak, namun akan dipilih perwakilan peserta yang bisa menebak dengan waktu tercepat. Sebagai apresiasi, para peserta terpilih ini kemudian mendapatkan hadiah yang dibagikan langsung setelah kuis selesai dilaksanakan. Peserta kegiatan ini adalah delapan belas (18) anak asuh UPT Rumah Pengasuhan Anak Wiloso Projo dengan usia bervariasi dari usia SD hingga lulus SMA. Di rentang usia ini, para anak memiliki kemampuan yang masih besar untuk menyerap ilmu, terutama dalam meningkatan kepercayaan diri dan public speaking yang diharapkan menjadi pondasi bagi keberhasilan mereka di masa depan. HASIL DAN PEMBAHASAN Pelatihan public speaking yang diselenggarakan untuk anak-anak UPT Rumah Pengasuhan Anak Wiloso Projo memperlihatkan keterlibatan aktif dari peserta, tercermin melalui keberanian beberapa di antara mereka dalam mempraktikkan idiom Bahasa Inggris yang baru saja dipelajari selama sesi berlangsung. Respons ini menunjukkan bahwa materi yang diberikan berhasil menciptakan ruang partisipatif, di mana peserta tidak hanya menjadi pendengar pasif, tetapi juga berupaya mengimplementasikan secara langsung apa yang telah mereka serap. Fokus pelatihan ini diarahkan pada fenomena linguistik yang berkembang di kalangan remaja, yaitu penggunaan campuran Bahasa Indonesia dan Inggris dalam komunikasi sehari-hari. Fenomena ini bukan sekadar gaya berbahasa, tetapi mencerminkan pergeseran sosialbudaya dalam praktik komunikasi generasi muda yang semakin terbuka terhadap pengaruh global. Dengan menjadikan tren ini sebagai pintu masuk pembelajaran, pelatihan secara tidak langsung mengakomodasi konteks aktual peserta, sehingga materi terasa relevan dan mudah diakses. Secara lebih luas, kemampuan untuk memahami dan menggunakan idiom dalam dua bahasa menjadi keterampilan yang tidak hanya meningkatkan kecakapan berbahasa, tetapi juga memperkuat aspek afektif seperti rasa percaya diri, identitas diri, dan kapasitas sosial peserta. Pelatihan ini tidak hanya menyasar penguasaan struktur linguistik, tetapi juga membangun motivasi intrinsik peserta agar mampu menyimpan informasi secara jangka panjang dan menerapkannya dalam berbagai situasi sosial. Dalam konteks pendidikan informal seperti ini, aspek afektif dan motivasional sering kali menjadi faktor penentu keberhasilan, terutama ketika menyasar kelompok sasaran yang rentan secara psikososial. Sebagai bagian dari program tahunan CHAIN (Chemical Engineering in Action) yang diinisiasi oleh Divisi Pengabdian Masyarakat HIMATEKIM Politeknik LPP Yogyakarta, kegiatan ini dirancang untuk bisa memberikan dampak bagi masyarakat umum tiap tahunnya. Pada tahun 2024, program ini diintegrasikan dengan bentuk pengabdian lainnya, seperti penyuluhan kesehatan oleh tim medis dari Klinik Politeknik LPP dan distribusi bantuan sosial yang difasilitasi melalui kerja sama dengan Universitas Ahmad Dahlan. Sinergi ini menegaskan pendekatan holistik dalam pemberdayaan anak asuh, yang tidak hanya menekankan pada penguatan kapasitas kognitif, tetapi juga memperhatikan aspek kesehatan fisik dan kesejahteraan sosial. Dalam pelatihan idiom, pemateri memilih pendekatan pedagogis yang dimulai dengan penyajian definisi dan contoh idiom dalam Bahasa Indonesia. Strategi ini ditujukan untuk membangun keterhubungan antara materi pelatihan dengan pengalaman 83 Sabrina & Tur Vol. 6, No. 1, Juni 2025 linguistik sehari-hari peserta, sekaligus memperkenalkan konsep idiom sebagai entitas yang juga eksis dalam bahasa nasional mereka. Dengan demikian, peserta tidak merasa asing terhadap materi meskipun konten selanjutnya disampaikan dalam Bahasa Inggris. Pendekatan ini mempermudah proses transisi dari pemahaman pasif ke penggunaan aktif bahasa, serta memperluas wawasan linguistik peserta terhadap bentuk-bentuk ekspresi idiomatik yang selama ini mungkin mereka gunakan tanpa disadari. Pelatihan ini pada akhirnya memperkuat peran bahasa sebagai alat pemberdayaan dan ekspresi diri, terutama bagi anak-anak yang sedang membangun kembali kepercayaan dan identitas diri mereka dalam lingkungan pengasuhan alternatif. Salah satu contoh materi yang diberikan dapat dilihat pada Gambar 1. Gambar 1. Pengenalan materi idiom Pelatihan kemudian dilanjutkan dengan pemberian materi inti yaitu beberapa contoh idiom dalam Bahasa Inggris. Untuk membuat peserta pelatihan menjadi lebih fokus dan tertarik pada materi yang dibawakan, penyampaian materi dibuat dalam sesi tebak gambar. Penggunaan gambar dalam pembelajaran vocabulary baru juga terbukti efektif membuat peserta lebih mudah menangkap dan memahami materi yang disampaikan (Meidipa et al., 2022). Gambar 2. Contoh materi idiom Pada kesempatan kali ini, tiap idiom disajikan dalam bentuk beberapa gambar menarik yang merepresentasikan tiap kata yang diajarkan. Peserta pelatihan kemudian diajak untuk menebak bersama apa istilah idiom yang diramu dari kumpulan gambar tersebut. Di sinilah peran peserta sangat dibutuhkan. Peserta tidak hanya dituntut untuk menjadi antusias, namun juga harus bisa berupaya menerjemahkan gambar dalam bahasa Inggris sesuai dengan kemampuan mereka. Beberapa contoh kumpulan gambar idiom tersaji pada Gambar 2. 84 Jurnal Abmas Negeri (JAGRI) Vol. 6, No. 1, Juni 2025 Pemateri di sini tidak hanya menyampaikan makna dari idiom tersebut, namun juga menekankan bagaimana cara pelafalan idiom-idiom tersebut dengan benar. Hal ini sangat penting karena pada kenyataannya pronunciation sering menjadi momok dalam pembelajaran Bahasa Inggris, khususnya bagi pelajar di Indonesia (Sholeh et al., 2015). Terbukti, saat pemateri meminta beberapa peserta membaca kata dari idiom tertentu, peserta banyak yang melafalkan kata-kata tersebut dengan kurang tepat. Hasil observasi selama pelatihan menunjukkan bahwa pemahaman kosakata dasar dalam Bahasa Inggris, termasuk terjemahan literal maupun makna idiomatik, masih terbatas di kalangan peserta. Hal ini tampak dari ketidaktahuan mereka terhadap arti kata-kata umum seperti sack (karung) atau weather (cuaca), yang dalam konteks pendidikan dasar seharusnya sudah termasuk dalam kosakata pasif yang dikenal. Kondisi ini mengindikasikan adanya celah dalam pemerolehan bahasa yang perlu dijembatani melalui pendekatan pembelajaran yang lebih kontekstual dan aplikatif. Selain itu, minimnya pemahaman terhadap makna idiom menunjukkan bahwa peserta belum terbiasa dengan bentuk-bentuk ekspresi non-literal dalam Bahasa Inggris, yang justru menjadi ciri khas kompetensi komunikatif dalam bahasa asing. Dalam konteks pembelajaran Bahasa Inggris sebagai bahasa kedua, idiom memegang peran penting karena mencerminkan kedalaman penguasaan budaya dan struktur bahasa yang tidak bisa dicapai hanya melalui pembelajaran gramatikal semata. Oleh karena itu, penyampaian idiom dalam pelatihan ini tidak hanya berfungsi sebagai materi tambahan, tetapi juga sebagai alat untuk meningkatkan kompetensi pragmatik peserta. Pemateri menggarisbawahi bahwa penguasaan idiom bukan sekadar menambah kosakata, melainkan membuka ruang bagi peserta untuk mengembangkan keluwesan dalam berkomunikasi serta meningkatkan rasa percaya diri dalam situasi sosial yang menuntut penggunaan Bahasa Inggris. Implikasi dari temuan ini adalah pentingnya menempatkan idiom sebagai bagian dari kurikulum pengajaran Bahasa Inggris untuk pemula. Ketika peserta berhasil memahami dan mengimplementasikan idiom yang diajarkan, mereka tidak hanya belajar bahasa dalam arti teknis, tetapi juga membangun representasi diri yang lebih positif, yang esensial dalam membentuk kepercayaan diri dan kapasitas untuk berpartisipasi dalam ruang sosial yang lebih luas. Gambar 3. Suasana pelatihan public speaking Pemilihan sepuluh idiom dalam pelatihan public speaking yang dilaksanakan mempertimbangkan efektivitas penyampaian materi dalam konteks waktu yang terbatas serta heterogenitas kegiatan dalam rangkaian program (Gambar 3). Dalam konteks pendidikan nonformal yang berlangsung dalam satu sesi singkat, pemilihan materi menjadi krusial agar terjadi keseimbangan antara kedalaman pembahasan dan 85 Sabrina & Tur Vol. 6, No. 1, Juni 2025 keterjangkauan pemahaman oleh peserta. Jumlah idiom yang diajarkan tidak semata ditentukan oleh kapasitas penyampaian pemateri, melainkan juga oleh prinsip cognitive load, yaitu beban informasi yang dapat diproses secara optimal oleh peserta dalam satu kali pertemuan. Dengan membatasi jumlah idiom, pemateri secara tidak langsung memfasilitasi pemrosesan yang lebih mendalam terhadap tiap idiom yang diajarkan, memungkinkan peserta untuk mengaitkan idiom tersebut dengan konteks kehidupan sehari-hari mereka secara lebih konkret. Idiom A piece of cake Hit the books Apple to apple Break a leg On the ball Hit the sack Up in the air No pain no gain Under the weather Old school Tabel 1. Penjelasan materi idiom Makna Sangat mudah Belajar dengan keras Sebanding Semangat Siap dan reaktif Istirahat atau tidur Belum/ tidak jelas Ada usaha, ada hasil Kurang/ tidak enak badan Kuno Selain itu, pemilihan idiom didasarkan pada dua pertimbangan utama: frekuensi penggunaan dalam konteks sehari-hari dan kedekatan kosakata idiom dengan jenjang pendidikan peserta. Dalam perspektif pemerolehan bahasa, kosakata yang memiliki kemiripan dengan pengetahuan sebelumnya (prior knowledge) lebih mudah dipahami dan diingat. Oleh karena itu, idiom-idiom yang mengandung kata-kata yang telah dikenal peserta sejak jenjang SD hingga SMA dipilih untuk memaksimalkan transfer makna dan mempercepat proses internalisasi bahasa. Strategi ini sejalan dengan prinsip scaffolding, yaitu pemberian dukungan belajar yang disesuaikan dengan kemampuan peserta agar mereka dapat naik ke tingkat pemahaman berikutnya. Dengan demikian, pemilihan sepuluh idiom bukan sekadar bentuk penyederhanaan konten, tetapi merupakan bentuk intervensi pedagogis yang didasarkan pada strategi diferensiasi dan relevansi konteks belajar. Adapun materi idiom yang dibawakan disajikan pada Tabel 1. Gambar 4. Pemberian hadiah kuis Sebagai salah satu bagian penutup pelatihan dan juga sebagai salah satu tolok ukur pemahaman peserta pelatihan terhadap materi yang telah diajarkan, pemateri memberikan kuis dengan menanyakan idiom Bahasa Inggris apa yang sesuai dengan arti Bahasa Indonesia yang ditanyakan. Sebagian besar peserta pelatihan pun terlihat antusias karena telah memahami materi yang disampaikan ditambah dengan kejutan dari 86 Jurnal Abmas Negeri (JAGRI) Vol. 6, No. 1, Juni 2025 pemateri berupa hadiah yang disiapkan untuk para pemenang. Empat peserta yang dapat menjawab pertanyaan paling cepat kemudian dipilih untuk menerima bingkisan dari Politeknik LPP Yogyakarta sebagai bantuan pengabdian masyarakat oleh para dosen. Bingkisan yang diberikan juga menjadi bukti nyata bahwa Politeknik LPP Yogyakarta selalu berupaya aktif dalam optimalisasi realisasi Tri Dharma Perguruan Tinggi baik yang dilaksanakan oleh dosen maupun oleh mahasiswa (Gambar 4). Setelahnya, terdapat sesi acara pemberian bingkisan yang merupakan bantuan dari Politeknik LPP Yogyakarta serta Universitas Ahmad Dahlan. Universitas Ahmad Dahlan yang kali ini diinisiasi oleh Fakultas Sastra, Budaya, dan Komunikasi (FSBK) turut berkolaborasi dengan kampus perkebunan ini dengan mengambil peran dalam penyaluran dua puluh (20) mushaf Al Qur’an yang merupakan sumbangan dari para mahasiswa yang dikelola oleh kampus untuk berbagai kegiatan sosial (Gambar 5). Sesi pemberian bingkisan dalam rangkaian pelatihan tidak hanya berfungsi sebagai bentuk apresiasi terhadap peserta, tetapi juga merepresentasikan sinergi konkret antara institusi pendidikan tinggi dalam menjalankan fungsi sosialnya. Kegiatan ini pun berjalan dengan lancar dan ditutup dengan game oleh panitia mahasiswa yang lebih menghidupkan suasana. Gambar 5. Penyerahan Al-Quran dan bingkisan Sebagai hasil evaluasi melalui kuis serta hasil pengamatan langsung, walaupun sebagian besar peserta telah aktif dan mampu menjawab pertanyaan dengan tepat, kegiatan pelatihan ini masih memiliki kekurangan yaitu durasi pelatihan yang terbatas. Jadi, sebagai upaya rencana tindak lanjut, jika terdapat pelatihan serupa, durasi bisa diperpanjang dan dilakukan tidak hanya satu kali, dengan harapan evaluasi juga dapat dilaksanakan secara bertahap untuk bisa melihat perkembangan kemampuan para peserta pelatihan. Selain itu, dalam pelatihan juga bisa diadakan sesi praktik selama beberapa kali untuk bisa menjadi ajang latihan serta evaluasi untuk bisa mendapatkan feedback langsung dari pemateri. KESIMPULAN Pelatihan public speaking dengan fokus pada pengenalan idiom Bahasa Inggris di UPT Rumah Pengasuhan Anak Wiloso Projo bertujuan meningkatkan kemampuan komunikasi sekaligus menumbuhkan rasa percaya diri anak asuh, yang mayoritas memiliki latar belakang pengasuhan yang kurang ideal. Lebih dari sekadar pengajaran bahasa, kegiatan ini menjadi bentuk kepedulian dosen dalam membangun ketangguhan mental anak-anak tersebut. Metode interaktif seperti tebak gambar digunakan untuk 87 Sabrina & Tur Vol. 6, No. 1, Juni 2025 mempermudah pemahaman idiom, pelafalan, serta penerapan kosakata baru dalam komunikasi sehari-hari. Antusiasme peserta terlihat dari partisipasi aktif mereka dalam kuis setelah pemaparan materi, menunjukkan bahwa metode ini efektif dan menyenangkan. Kegiatan ini bukan hanya dilakukan sekali, tetapi rutin hampir setiap tahun dengan menyasar anak-anak panti maupun masyarakat secara umum di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta yang membutuhkan pendampingan dalam mengasah kemampuan berbicara, khususnya dalam Bahasa Inggris. Diharapkan, tulisan ini dapat menginspirasi civitas akademika lainnya untuk turut berperan aktif dalam kegiatan serupa sesuai dengan bidang keahlian masing-masing UCAPAN TERIMA KASIH Penulis menyampaikan apresiasi tertinggi bagi Politeknik LPP Yogyakarta, Panitia Kegiatan CHAIN HIMATEKIM, Fakultas Sastra, Budaya, dan Komunikasi (FSBK) Universitas Ahmad Dahlan, serta para pengurus dan anak asuh UPT Rumah Pengasuhan Anak Wiloso Projo atas terselenggaranya kegiatan pelatihan ini. DAFTAR PUSTAKA Ananda, E.P., 2023. Daya Minat dalam Penggunaan Bahasa Inggris dan Pengaruhnya terhadap Komunikasi Masyarakat Indonesia. Multidisciplinary Journal of Social Sciences 2(1), 172-184. https://doi.org/10.62668/hypothesis.v2i01.664 Anggriani, D., Hamima, N.W., Azka, K.F.L., Umara, N.S., 2022. Mengembangkan Keterampilan Berbicara dan Rasa Percaya Diri melalui Public Speaking bagi Anak Panti Asuhan Wisma Karya Bakti. Prosiding Seminar Nasional Pengabdian Masyarakat 1(1), 1-6. Ariani, N.W.T., Asih, K.S., 2022. Dampak Kekerasan pada Anak. Jurnal Psikologi Mandala 6(1), 69-78. https://jurnal.undhirabali.ac.id/index.php/mandala/article/view/1833 Çelik, Ç.B., Odaci, H., 2020. Does Child Abuse Have an Impact on Self-Esteem, Depression, Anxiety, and Stress Conditions of Individuals? International Journal of Social Psychiatry 66(2), 171-178. https://doi.org/10.1177/0020764019894618 Gulö, I., Setiawan, D.B., Prameswari, S.R., Putri, S.R., 2021. Meningkatkan Kepercayaan Diri Anak-Anak Panti Asuhan dalam Berbicara Bahasa Inggris. Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat 5(1), 23-28. http://dx.doi.org/10.24269/adi.v5i1.3746 Hernanda, V.A., Azzahra, A.Y., Alfarisy, F., 2022. Pengaruh Penerapan Bahasa Asing dalam Kinerja Pendidikan. Jurnal Indonesia Sosial Sains 3(1), 88-95. https://jiss.publikasiindonesia.id/index.php/jiss/article/view/514 Kurniasari, A., 2019. Dampak Kekerasan pada Kepribadian Anak. Sosio Informa 5(1), 15-24. https://ejournal.poltekesos.ac.id/index.php/Sosioinforma/article/view/1594 Margareta, T.S., Jaya, M.P.S., 2020. Kekerasan pada Anak Usia Dini (Studi Kasus pada Anak Umur 6-7 Tahun di Kertapati). Jurnal Ilmu Kependidikan 18(2), 171-180. Meidipa, L.F., Harahap, N., Syahfitri, D., 2022. Efektivitas Penggunaan Media Gambar pada Pembelajaran Vocabulary Bahasa Inggris di Institut Teknologi dan Kesehatan Sumatera Utara Kota Padangsidimpuan. Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat 1(1), 39-42. https://jurnal.radisi.or.id/index.php/JurnalKALANDRA/article/view/112 88 Jurnal Abmas Negeri (JAGRI) Vol. 6, No. 1, Juni 2025 Prayoga, R.A., Khatimah, H., 2019. Pola Pikir Penggunaan Bahasa Inggris pada Masyarakat Perkotaan di Jabodetabek. Simulacra 2(1), 39-52. https://journal.trunojoyo.ac.id/simulacra/article/view/5520/0 Sabrina, A., Pamungkas, S.S.T., Tur, A.P.A., 2023. Public Speaking untuk Santri Gerakan Sedekah Sampah di Panti Asuhan Dewi Masyithoh. Indonesian Journal of Community Services 5(2), 139-146. https://jurnal.unissula.ac.id/index.php/ijocs/article/view/31318 Savira, A.N., Fatmawati, R., Rozin, M., Eko, M., 2018. Peningkatan Minat Belajar Siswa dengan Menggunakan Metode Ceramah Interaktif. Journal Focus Action of Research Mathematic 1(1), 43-56. Sholeh, A., Agus, A., Muhaji, U., 2015. Pronunciation Difficulties Encountered by EFL Students in Indonesia: Sebuah Studi Kasus pada Mahasiswa Kelas Integrated Course Semester 1 FKIP Bahasa Inggris Universitas Kanjuruhan Malang. Jurnal Inspirasi Pendidikan 5(2), 698-707. https://repository.unikama.ac.id/156/ Siregar, U.D., 2023. Bahasa Inggris sebagai Bahasa Komunikasi Bisnis di Era Globalisasi: Persepsi Pebisnis dan Karyawan. Jurnal Bahasa dan Sastra Indonesia 3(1), 29-135. https://jurnal.itscience.org/index.php/jbsi/article/view/2608 Syahputra, A., Putra, H.R., 2020. Persepsi Masyarakat terhadap Kegiatan Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM). Jurnal Ilmiah Prodi Komunikasi Penyiaran Islam 11(1), 1-20. https://ejournal.staindirundeng.ac.id/index.php/tanzir/article/view/349 89