Vol. No. 2 Juni 2025 JOMPA ABDI: Jurnal Pengabdian Masyarakat https://jurnal. com/index. php/jpabdi e-ISSN: 2828-819X p-ISSN: 2828-8424 Pelatihan Anak Pesisir Melalui Kerajinan Daur Ulang Botol Plastik Di Pulau Baai Kampung Bahari Hewi Sulastari1*. Lestri Yulita2. Elizabet Juliana Sitanggang3. Dian Susanti4. Miranti Anggria Putri5 . Heni Nopianti6 1,2,3,4,5 Universitas Bengkulu/Mahasiswa. Bengkulu Universitas Bengkulu/Dosen. Bengkulu Email: sulastarihewi@gmail. com 1* Abstrak Tim Sosiologi Universitas Bengkulu mengadakan kegiatan pengabdian masyarakat di Kampung Bahari RT 13. Kota Bengkulu, dengan fokus memberdayakan anak-anak pesisir. Anak-anak di wilayah ini sering menghadapi kendala dalam pendidikan dan pengembangan keterampilan akibat kondisi ekonomi, budaya nikah muda, dan kurangnya perhatian orang tua terhadap pendidikan. Melalui pelatihan kerajinan daur ulang botol plastik, anak-anak diajarkan membuat celengan dari botol bekas. Ini bertujuan untuk menumbuhkan kreativitas, kesadaran lingkungan, dan memperkenalkan keterampilan kewirausahaan sejak dini. Kegiatan ini berupa sosialisasi yang bersifat partisipatif dan disambut dengan sangat baik oleh anak-anak serta tokoh masyarakat Hasilnya, anak-anak berhasil membuat produk kerajinan dan memahami pentingnya kebersihan serta pengelolaan sampah plastik. pelatihan ini berfokus pada kerajinan dari botol plastik dengan menekankan pentingnya kebersihatan serta pemanfaatan sampah plastik sebagai bahan untuk membuat celengan yang bernilai ekonomis. Program ini diharapkan dapat menjadi fondasi awal untuk pemberdayaan ekonomi dan sosial yang berkelanjutan bagi masyarakat pesisir. Keywords: Kerajinan. Pemberdayaan. Pengabdian masyarakat PENDAHULUAN Masyarakat pesisir merupakan sekumpulan manusia yang tinggal secara bersamaan menduduki wilayah pesisir, sehingga mereka memiliki kebudayaan khas yang berkaitan pada ketergantungan pada penggunaan sumberdaya juga lingkungan pesisir. Wilayah pesisir merupakan wilayah peralihan antara daratan dengan laut (Yistiarani, 2. Masyarakat pesisir merupakan masyarakat yang bertempat tinggal di sekitar pantai. Bila diamati dari segi pengembangan masyarakat . ommunity developmen. , masyarakat pesisir merupakan sekumpulan masyarakat yang bertempat tinggal pada wilayah pesisir yang kondisi ekonominya masih tertinggal. Pada umumnya pembangunan sumber daya kelautan dan perikanan selalu diposisikan sebagai lini wilayah yang dipinggirkan . eripheral secto. pada pembangunan ekonomi nasional. Walaupun sebagian luas wilayah Indonesia sebesar 70% merupakan lautan. Bentang perairan laut Indonesia diperhitungkan hingga luas 5,8 juta kmA yang terdiri dari 0,3 juta kmA laut teritorial, 2,8 juta kmA perairan dan 2,7 juta kmA perairan Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE). Target sentral dari kebijakan pembangunan ekonomi nasional tidaklah di bagian kelautan sebagai pusat pembangunan sektor perikanan, pariwisata bahari, pertambangan laut, industri maritim serta jasa-jasa kelautan. Potensi kelautan yang Vol. No. 2 Juni 2025 JOMPA ABDI: Jurnal Pengabdian Masyarakat https://jurnal. com/index. php/jpabdi e-ISSN: 2828-819X p-ISSN: 2828-8424 dimiliki wilayah pesisir begitu melimpah ruah, namun akan tetap justru tingkatan sosial ekonomi pada wilayah pesisir sangatlah rendah merupakan sesuatu yang sangat biasa terjadi di lingkungan kehidupan nelayan wilayah pesisir, sehingga apabila dibandingkan dengan sektor lain seperti halnya, pertanian, misalnya, nelayan tradisional bisa dikategorikan ke dalam masyarakat sosial yang miskin. Pada masyarakat pesisir biasanya bermata pencaharian sebagai nelayan. Profesi sebagai nelayan ini menjadi salah satu mata pencaharian yang dapat menunjang kehidupann masyarakat pesisir. Para masyarakat yang berprofesi sebagai nelayan ini sangat bergantung dengan kondisi alam pada saat ingin mencari ikan. Ketergantungan nelayan pada alam inilah yang menentukan penghasilan mereka. Pada saat sedang musim hujan ataupun badai, maka para nelayan harus berhenti melaut selama masih musim hujan atupun badai. Kondisi ini menjadi salah satu faktor yang memicu kemiskinan pada masyarakat pesisir (Sabarisman. Lingkaran kemiskinan pada wilayah pesisir dipicu oleh faktor yang sangat kompleks, ketergantungan pola pekerjaan, sebab hakekatnya nelayan membatasi jenis pekerjaan lain, perubahan musim ikan, keterbatasan SDM, kurangnya modal, hingga akses CV perdagangan ikan yang mengeksploitasi nelayan sebagai produsen membuat daya tawar barang yang teramat rendah, dan yang paling penting, semakin menurunnya pendapatan namun kebutuhan pokok rumah tangga juga melambung tinggi. Secara spesifik permasalahan yang dihadapai masyarakat pesisir terdapat di bidang pengetahuan, ketrampilan, permodalan, penguasaan teknologi serta peranan lembaga pemerintah dan non pemerintah yang mendampingi. Masyarakat pesisir merupakan sekelompok orang yang tinggal di daerah dengan Pantai dan sumber utama mata pencaharian mereka bergantung pada sumber daya laut dan pesisi yang ada. Pengertian ini dapat diperluas lebih jauh sebab pada dasarnya banyak orang yang hidupnya bergantung pada sumberdaya laut. Mereka terdiri dari nelayan pemilik, buruh nelayan, pembudidaya ikan dan organisme laut lainnya, pedagang ikan, pengolah ikan, supplier faktor sarana produksi perikanan. Sebagian besar masyarakat nelayan pesisir merupakan pengusaha berskala kecil dan menengah. Namun sebagian dari mereka banyak yang bersifat subsisten, menjalani usaha untuk menghidupi keluarganya sendiri, usaha yang dilakukan biasanya berskala sangat kecil sehingga hasilnya hanya dapat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja (Rajab et al. , 2. Masyarakat pesisir seringkali dikenal sebagai masyarakat yang dekat dengan Kebutuhan dasar manusia seperti pangan, sandang dan papan pun tak jarang sulit untuk di penuhi secara sehat apalagi sempurna. Tidak hanya itu, tingkat pendidikan dan kesehatan juga sangat jauh dari kata kesempurnaan. Kemiskinan, rendahnya kesadaran Vol. No. 2 Juni 2025 JOMPA ABDI: Jurnal Pengabdian Masyarakat https://jurnal. com/index. php/jpabdi e-ISSN: 2828-819X p-ISSN: 2828-8424 masyarakat pesisir untuk mengenyam pendidikan tinggi dan pengetahuan menjadi permasalah yang sudah umum terjadi pada masyarakat pesisir. Pada kampung hari pulau baii, masih banyak anak-anak yang ada disana yang masih acuh terhadap pentingnya pendidikan bagi Tidak hanya itu, para orang tua disana juga masih berfikir bahwa pendidikan tidaka dapat menjaminn kesuksesan bagi anak-anak mereka. Jadi darai pada membuang- buang waktu dan materi, lebih baik anak-anak mereka bekerja yang sudah pasti akan mendapatkan uang dan dapat memenuhi kebutuhan keluarga mereka (Yistiarani, 2. Adanya program pemberdayaan pendidikan yang diperuntukkan anak-anak pesisir biasanya juga tidak jauhjauh terlepas dari pemberdayaan masyarakat pesisir juga. Jika berbicara perihal pendidikan tentu tidak akan terlepas dari kemiskinan yang terus mencekik masyarakat pesisir. Anak merupakan generasi penerus bagi kelangsungan hidup keluarga, bangsa dan negara di masa Sebab itulah, perlunya dilakukan pemberdayaan anak-anak putus sekolah. Menurut Edi Suharto, pemberdayaan menunjuk kepada kemampuan orang, khususnya kelompok rentan dan lemah, agar mereka dapat memiliki kekuatan atau kemampuan sendiri dalam (Afriansyah et al. , 2. Mampu memenuhi kebutuhan dasarnya sendiri sehingga mereka memiliki kebebasan (Freedo. , yang membebaskan mereka dari kelaparan, kebodohan, dan kesakitan. Mencapai sumber-sumber meningkatkan hasil pendapatannya dan memperoleh barang serta jasa yang di perlukan. Dengan pendidikan mereka dapat berpartisipasi dalam proses pembangunan serta keputusan yang nantinya akan mempengaruhi kebutuhan mereka. Istilah masyarakat dalam konteks pemberdayaan masyarakat dapat diartikan sebagai sekelompok orang yang menetap di suatu wilayah dengan geografis tertentu dan satu sama lainnya saling berinteraksi untuk mencapai tujuan hidupnya. Menurut Shardlow, seperti dikutip Isbandi Rukminto, pada intinya pemberdayaan membahas bagaimana individu, kelompok ataupun komunitas yang berusaha mengontrol kehidupan mereka sendiri dan mengusahakan untuk membentuk masa depan sesuai dengan keinginan mereka (Tri et al. Daerah Pulau Baai tepatnya di Kampung Bahari RT 13 yang mana tempat ini merupakan salah satu wilayah terpencil atau desa dibilang masyarakat pesisir ujung Bengkulu, dari informasi Ibu RT setempat sampaikan bahwasannya wilayah ini sangat membutuhkan bimbingan akan pengetahuan dan sosialisasi untuk membangun kesadaran penuh agar masyarakatnya dapat melakukan akan banyaknya potensi yang dapat di olah supaya masyarakat pesisir kampung Bahari dapat berdaya dan mandiri. Tidak hanya itu Vol. No. 2 Juni 2025 JOMPA ABDI: Jurnal Pengabdian Masyarakat https://jurnal. com/index. php/jpabdi e-ISSN: 2828-819X p-ISSN: 2828-8424 kurangnya pengetahuan orang tua juga memberikan pengaruh yang besar dalam mengajarkan dan memberikan contoh untuk anak-anaknya. Kurangnya pengetahuan dari peran orang tua itu sendiri disebabkan oleh banyaknya remaja yang putus sekolah yang disebabkan oleh faktor ekonomi, pergaulan, serta budaya patriarki yang mendorong mereka untuk lebih memilih menikah mudah dan menjadi sosok orang tua di usia muda yang mana kesiapannya dalam menjalani kehidupan rumah tangga yang jauh dari kata stabil. Faktor internal dan eksternal inilah yang mendorong siklus lingkaran setan yang sulit diubah. Dari kemiskinan dapat menimbulkan berbagai masalah yang merugikan anak-anak yang ada dipeisisir mulai dari minimnya pengetahuan anak-anak akibat dari ketidak melekan masayarakat pesisir mengenai pentingnya pendidikan bagi anak-anak. Kurangnya edukasi mengenai pendidikan membuat banyak anak yang ada di kampung bahari pulau baii memilih untuk menikah muda. Menikah muda menjadi jalan pintas suapaya bisa ditanggung biaya hidupnya tanpa mempertimbangkan dampak yang akan terjadi apabila seorang perempuan menikah diusia muda dan masih memiliki emosional yang belum stabil (Lena Sri Diniyati, 2. Dengan adanya permasalah yang dihadapi masyarakat pesisir dikampung bahari pulau baii ini sudah seharusnya para pemerintah dan peran serta mahasiswa dalam memberikan sosialisasi mengenai pentingnya pendidikan bagi anak-anak (Sonia & Susilawati, 2. Peran pendidikan dalam kehidupan anak dapat menjadi benteng pertahanan mereka dalam menghadapi tantangan perubahan sosial yang teruus bergerah seiring waktunya. Dengan pendidkan ini dapat mencegah adanya pernikah dini pada anak-anak diwilayah pesisir. Berkurangnya angkah pernikahna ini dapat menjadi salah satu indikator bahwa masyarakat pesisir dapat terlepas dari belenggu kemiskinan dengan memeiliki masyarakat yang berpengetahuan, sehingga mereka tidak hanya terpaku pada profesi sebagai nelayan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka. Anak-anak yang bertempat tinggal di kawasan pesisir Pulau Baai Kampung Bahari RT 13 menghadapi beberapa kesulitan yang cukup rumit. Mereka sering mengalami keterbatasan dalam mengakses pendidikan, kurang memiliki keterampilan yang dapat digunakan untuk bekerja, dan belum banyak yang menyadari pentingnya menjaga kebersihan dan kelestarian Kondisi ini diperparah karena masyarakat pesisir umumnya memiliki tingkat pendidikan yang lebih rendah dibandingkan dengan masyarakat di kota, maka anak-anak di sana sering terperangkap dalam kemiskinan dan sulit mendapatkan peluang yang lebih baik. Selain itu, lingkungan pesisir di Pulau Baai Kampung Bahari RT 13 juga rawan mengalami pencemaran dan kerusakan karena kurangnya kebiasaan hidup bersih dan pengelolaan sampah Vol. No. 2 Juni 2025 JOMPA ABDI: Jurnal Pengabdian Masyarakat https://jurnal. com/index. php/jpabdi e-ISSN: 2828-819X p-ISSN: 2828-8424 yang baik. Hal ini berdampak buruk bagi kesehatan warga dan juga merusak ekosistem laut serta pantai yang sangat penting bagi kehidupan mereka. Keadaan yang ada saat ini menunjukkan bahwa anak-anak di Pulau Baai Kampung Bahari RT 13 belum mendapatkan akses yang memadai dan pengetahuan yang luas untuk mengembangkan potensi mereka secara kreatif dan produktif. Beberapa anak yang putus sekolah atau hanya menyelesaikan pendidikan dasar karena harus membantu ekonomi keluarga dan juga informasi dari ibu RT mengatakan banyak remaja di kampung bahari yang menikah dini dari pada bersekolah beserta banyaknya pemuda pemudi enggan untuk melanjutakan sekolah kejenjang yang lebih tinggi dikarenakan faktor ekonomi, kurangnya pengetahuan, dukungan keluarga, dan pegaulan, dan itu menyebabkan mereka tidak memiliki keterampilan yang dapat meningkatkan kesejahteraan secara mandiri. Sementara itu, keadaan yang seharusnya adalah memberikan ruang dan kesempatan bagi anak-anak pesisir untuk belajar dan berkreasi, terutama melalui kegiatan yang dapat memberdayakan mereka secara ekonomi sekaligus menanamkan nilai-nilai pelestarian lingkungan (Tri et al. , 2. Untuk mewujudkan harapan tersebut maka kami Tim pelaksanan pengabdian Kepada Masyarakat Sosiologi UNIB berupaya untuk memberikan pelatihan dan pengetahuan bagi anak-anak pesisir di Jl. Kampung Bahari RT 13 RW 03. Kelurahan Teluk Sepang. Kecamatan Kampung Melayu. Kota Bengkulu dalam pengembangan keterampilan dan penegtahuan. Dari hasil wawancara ibu RT 13 setempat yang mana wilayah ini sangat butuh akan pengetahuan keterampilan dan sosialisasi dari berbagai pihak karena di Kampung Bahari ini kurangnya pengetahuan orang tua untuk mengajarkan kepada anak-anak mereka , mengapa orang tuanya kurangnya pengetahuan karena banyaknya orang tua diakmpung Bahari ini putus sekolah karena beberapa faktor yang kami ketahui seperti ekonomi, pernikahan dini, dan kurangnya pengetahuan jadi memilih bekerja di sekitaran panatai dari pada bersekolah. Hasil dari wawancara Ibu RT 13 RW 03. Kelurahan Teluk Sepang. Kecamatan Kampung Melayu. Kota Bengkulu menunjukkan bahwa Kampung Bahari RT 13 jumlah anak-anak di Kampung Bahari banyak dikarenakan banyaknya perempuan disanan yang menikah dini, disanan banyaknya anak muda yang putus sekolah dan memutuskan untuk menikah, disana ada yang seharusnya masih mengejar mimpi nya dan melanjutkan sekolahnya tetapi sudah harus mengurus dua anak. Hal ini adlah potensi untuk dilakukan intervensi program pelatiahan dan sosilaisasi khususnya anak-anak yang Bersekolah Dasar agar mereka memeiliki pengetahuan dan kemampuan. Berdasarkan pemaparan diatas Kami dari TIM Pelaksanan Pengabdian Kepada Masyarakat Sosiologi UNIB mengadakan Pelatihan kerajinan daur ulang botol plastik dan Vol. No. 2 Juni 2025 JOMPA ABDI: Jurnal Pengabdian Masyarakat https://jurnal. com/index. php/jpabdi e-ISSN: 2828-819X p-ISSN: 2828-8424 sosialisasi edukasi hidup bersih, kami memeilih kerajinan daur ulang botol plastik karena memiliki alasan utama. Yaitu kerajinan daur ulang memberikan kesempatan bagi anak-anak untuk mengubah limbah menjadi produk yang bisa di jual, sehingga mereka memiliki sumber pendapatan baru, sehingga mengurangi ketergantungan pada mata pencaharian tradisional yang rentan dan meningkatkan kemandirian ekonomi mereka. Kedua. Pelatihan anak pesisir melalui kerajinan botol plastik penting dilaksanakan karena dapat memberdayakan ekonomi masyarakat sejak usia dini dengan memberikan keterampilan wirausaha, sekaligus menumbuhkan kesadaran lingkungan melalui pemanfaatan limbah plastik. Kegiatan ini juga mendorong kreativitas anak dalam menciptakan produk bernilai guna, mengurangi pencemaran di wilayah pesisir, serta meningkatkan keterampilan hidup seperti kerja sama, ketekunan, dan tanggung jawab (Nurmaisyah & Susilawati, 2. METODE KEGIATAN Kegiatan di rancang dalam bentuk pelatihan kreatif daur ulang botol plastik yang dilaksakan di RT 13 RW 03. Kelurahan Teluk Sepang. Kecamatan Kampung Melayu. Kota Bengkulu. Dimulai dari tim pengabdian masyarakat survei tempat dan menemui ketua RT setempat untuk menyampaikan tujuan tim pengabdian masyarakat, setelah direspon positif oleh ketua RT dan kami memilih RT 13 RW 03. Kelurahan Teluk Sepang, dan anak-anak sebagai target kami, setelah itu tim pelaksana mulai mengumpulkan alat dan bahan yang akan di perlukan saat membuat kerajinan daur ulang botol plastik menjadi celengan atau tabungan, pada tanggal 11 Mei 2025 tim melaksanakan pelatihan kerajinan dan pengetahuan tentang kebersihan yang dikaitkan dengan botol plastik, setelah itu dilakukan praktik langsung. Sasaran atau khalayak sasaran dilih berdasarkan informasi dari ketua RT yang menyampaikan bahwa banyaknya anak-anak sekolah dasar yang berada di RT 13 Kampung Bahari, jadi tim pengabdian masyarakat memilih anak-anak usia sekolah dasar yang tidak memiliki kegiatan pengembangan diri. Alasan mengapa tim pengabdian masyarakat memilih tabungan atau celengan menjadi bahan kerajinan karena bahan dan alat-alatnya mudah ditemukan dan terjangkau untuk dibeli, bahan dan alat yang digunakan untuk membuat tabungan yaitu . Botol plastik . Kertas kado . Kardus . lem tembak, gunting, cutter, korek api, lem kertas, double tip. Bahan dan alat ini merupakan bahan dan alat yang sering ditemukan dan harga yang terjangkau. Kinerjanya dinilai dari ketepatan, kerapian, dan kreativitas anak-anak dalam menyelesaikan Vol. No. 2 Juni 2025 JOMPA ABDI: Jurnal Pengabdian Masyarakat https://jurnal. com/index. php/jpabdi e-ISSN: 2828-819X p-ISSN: 2828-8424 Kegiatan dilaksanakan dalam metode sosialisasi, pre-test dan pos-test, pelatihan peserta yang diberikan bahan juga dan mereka praktekkan dengan mengikuti cara tim mengajarkan dengan durasi waktu 10 menit. sosialisasi adalah keseluruhan proses dan factor yang membantu individu untuk menyesuaikan diri dengan kehidupan bermasyarakat. dianggap berhasil bersosialisasi bila ia tidak hanya memperhatikan kebutuhannya sendiri, tetapi juga memahami kepentingan seperti harapan orang lain. selain peran keluarga, sosialisasi juga terjadi melalui sekolah, teman sebaya, media massa, institusi keagamaan, tetangga, lingkungan sekitar. semua elemen berkontribusi dalam membentuk cara pandang seseorang terhadap dunia dan membingnya dalam membedakan perilaku yang dianggap sesuai atau tidak sesuai (Normina, 2. Pelatihan merupakan suatu proses strategis yang berperan penting dalam menigkatkan kapasitas dan potensi sumberdaya manusia, khususnya diwilayah pesisir. Dalam menghadapi berbagai tantangan sosial dan ekonomi yang kompleks, pelatihan menjadi saranah kunci untuk memperluas akses terhadap peluang dan solusi. Meskipun wilayah pesisir memiliki potensi ekonomi yang tinggi berkat kekayaan alamnya, masyarakat didaerah ini sering kali dihadapkan pada tekanan lingkungan dan ketidak pastian Oleh karena itu, pelatihan menjadi instrumen penting dalam memberdayakan masyarakat pesisir agar mampu beradaptasi dan berkembang secara berkelanjutan (KaidaAo & Toban, 2. Simulasi adalah salah satu pendekatan pembelajaran yang cocok diterapkan ditingkat sekolah dasar karena sesuai dengan karakteristik usia anak-anak yang identik dengan dunia Melalui simulasi, siswa dapat berpura-pura menjadi tokoh lain, bukan dirinya sendiri, sehingga membantu mereka memahami sudut pandang orang lain. Aktivitas ini bertujuan untuk mengembangkan keterampilan sosial melalui pengalaman berinteraksi dengan orang lain (Yistiarani, 2. Pre-test adalah alat evaluasi yang digunakan untuk mengukur tingkat pengetahuan, keterampilan, atau pemahaman peserta sebelum mengikuti suatu program pelatihan atau intervensi. Pre-test bertujuan untuk mendapatkan baseline data yang menggambarkan seberapa jauh peserta memahami materi yang akan diajarkan. Dengan menggunakan pre-test, pelatih dapat mengidentifikasi area yang perlu diperbaiki dan menyesuaikan metode pengajaran agar lebih efektif. Post-test, di sisi lain, adalah evaluasi yang dilakukan setelah peserta menyelesaikan program pelatihan atau intervensi. Tujuannya adalah untuk mengukur peningkatan pengetahuan, keterampilan, atau pemahaman peserta setelah menerima pendidikan atau pelatihan. Hasil dari post-test dibandingkan dengan hasil pre-test untuk menentukan efektivitas program pelatihan. Dengan demikian, post-test memberikan gambaran tentang sejauh mana peserta telah berhasil menginternalisasi informasi Vol. No. 2 Juni 2025 JOMPA ABDI: Jurnal Pengabdian Masyarakat https://jurnal. com/index. php/jpabdi e-ISSN: 2828-819X p-ISSN: 2828-8424 dan keterampilan yang diajarkan (Pari, 2. Pre-tes dan pos-tes yang dilakukan oleh tim pengabdian memakan waktu 10 menit pertes. Jadi, mulai dari pre-test, sosialisai, simulasi, pos-test memakan waktu sebayak 1 jam dari jam 14. 00Ae15. HASIL DAN PEMBAHASAN Kegiatan pengabdian Masyarakat ini dimulai dengan langah survei ke Pulau Baai bersama Tim kegiatan pengabdian masyarakat, setelah survei tim mendapatkan dua Lokasi yaitu yang pertama Lokasi yang pertama Kampung Mangrub Lokasi kedua yaitu Kampung Bahari RT 13, tetapi setelah berkomunukasi dengan Tim kami memutuskan mengambil pengabdian di Kampung Bahari RT 13, alasan Tim memilih Kampung Bahari karena melihat banyaknya anak-anak di Kampung Bahari 13. Tim langsung saja mengunjungi tempat ketua RT Kampung Bahari 13. Setelah berbicara dan menyampaikan maksud kedatangan Tim PPM maka Ibu Ketua RT 13 langsung menyambut denagan baik dan senang kedatangan tim PPM, sebelumnya dijelaskan inu RT 13 bahwa kurangnya sosialisasi dan secara pengetahuan, karena di RT 13 anak-anak sudah banyak putus sekolah, dan minimnya pendidikan. Ibu ketua RT 13 Kampung Bahari yang bernama Susi adalah Ibu Ketua RT yang ramah dan sangat baik dengan sifatnya yang selalu antusias, ibu Susi sudah menjadi ketua RT sudah berjalan 4 tahu, berkomunikasi dnegan Ibu RT tak terasa sudah hampir satu jam lebih tim PPM berkomunikasi santai, dengan banyaknya cerita ibu RT tentang jarangnya sosialisasi dan pemberdayaan di RT 13 Kampung Bahari ini, bu RT juga sudah lumayan banyak mengajukan beberapa anggota KKN supaya ada yg KKN di Kampung Bahari agar adanya pengetahuan lebih dari para mahasiswa, tetapi sampai saat ini tidak pernah ada anak KKN di Kmapung Bahari RT 13, dengan mendengar maksud dan tujuan kami bu RT sangat senang dan antusias mendengar penjelasan dari Tim PPM karena akan diadakan pelatihan kepda anak-anak. Sesudah di respon baik oleh Bu RT maka kami langsung membahas lebih lanjut mengenai ketika kegiatan bisa diselenggarakan. Ibu RT meminta kami untuk mengingatkan kembali kapan akan dilaksanakan kegiatan pelatihan ini, karena soal anak-anak mudah di ajak saat hari-hari libur dan juga jangan pagi tetapi siang menurut bu RT, agar kami dapat mengingatkan bu RT maka kami meminta bertukar no Telephone dengan ibu RT, setelah itu tim PPM masih melanjutkan obrolan dengan bu RT setelah itu tim PPM berpamitan pulang. Dua mingu berlalu tim PPM sudah berdiskusi hasil dari kesepakatan bersama kapan akan dilaksanakan pelatihan, kami mengambil tanggal 11 Mei 2025, dua hari sebelum dilakukan pelatihan dan sosialisasi kami menghubungi atau mengonfirmasi bu RT bahwa pada minggu 11 Mei pada jam 02. 00WIB kami akan melaksanakan kegiatan pelatihan dan Vol. No. 2 Juni 2025 JOMPA ABDI: Jurnal Pengabdian Masyarakat https://jurnal. com/index. php/jpabdi e-ISSN: 2828-819X p-ISSN: 2828-8424 sosialisasi, bu RT dengan respon antusiasnya dan bu RT akan menyiapkan anak-anak, kegiatan pelatihan kerajinan akan di selenggarakan di rumah bu RT karena mengingat kurangnya pembangunan wilayah kampung Bahari. Gambar 1. Berdiskusi Dengan Ketua RT 13 Sesudah mendapat waktu yang tepat untuk melaksanakan kegiatan pelatihan dari tim ppm, dan setelahnya tim ppm saling berkomunikasi atau berbicara bagaimana struktur pelatihannya membuat rondonya, dan menyiapkan pelatihannya dan juga tim PPM menyiapkan bahan-bahan yang akan digunakan untuk pelatihan. Sebelum dilakukan pelatihan tim PPM berdiri dari 4 anggota melaksanakan pelatihan atau praktek langsung kerajinan dari botol plastik supaya mereka bisa mempraktekkan dengan mudah kerajinan tersebut. Gambar 2. Kerajinan yang Akan di Buat Pada kegiatan pelatihan yang di selenggarakan pada 11 Mei 2025 yang dimulai pukul 00 WIB. Tim PPM terlebih dahulu membuka acara seperti menyapa anak-anak, dan langsung di lanjutkan pre-test kepada anak-anak, setelah itu dilanjutkan dengan agenda sosialisasi dengan materi tentang Pengarahan kepada anak-anak pesisir mengenai kebersihan lingkungan melalui pengelolaan sampah botol plastik menjadi kerajinan. Materi ini di sampaikan oleh Hewi Sulastari dan Elizabet Juliana Sitanggang, dalam materi ini dijelaskan bahwa pentingnya menjaga kebersihan lingkungan, guna mencegah penyakit terhadap masyarakat dan cara pengolahan sampah botol plastik menjadi kerajinan yang berguna, pada kesimpulanya materi ini memaksudkan agar peserta dapat memahami tentang cara pembuatan kerajinan dari daur ulang sampah botol plastik, dan mengajarkan kemandirian anak-anak Vol. No. 2 Juni 2025 JOMPA ABDI: Jurnal Pengabdian Masyarakat https://jurnal. com/index. php/jpabdi e-ISSN: 2828-819X p-ISSN: 2828-8424 sejak dini, meningkatkan kreativitas anak-anak agar lebih terampil, supaya memahami dan memanfaatkan kegiatan keterampilan yang akan sisampaikan dalam penyelenggaraan kegiatan oleh tim pengabdian masyarakat. Gambar 3. Perkenalan Tim Pelaksana Gambar 4. Pelaksanaan Pree-Test Gambar 5. Penyampaian Materi Setelah penyampaian sosialisasi kurang lebih 10 menit, tim pelaksana melanjutkan dengan pelatihan yang mana pembuatan kerajinan di praktekkan oleh tim pengabdian masyarakat agar anak-anak dapat melihat dan meniru dan bisa membuat kerajinan botol plastik, setelah itu agenda selanjutnta simulasi yang mana setiap anak diberikan bahan dan alat untuk membuat kerajinan botol plastik menjadi sebuah tabungan atau celengan, dilanjutkan dengan agenda tanya jawab kepada peserta dengan 6 orang tercepat yaang bisa menjawab pertanyaan dari tim pelaksana. Selanjutnya tim pelaksanaan melakukan kegiatan yang pertama, melalui pree-test dan Pos-test untuk mengukur keberhasilan sosialisasi dengan materi yang telah disampaikan. Dari hasil diperoleh dengan banyaknya ank-anak peserta yaitu 20 orang yang bisa membaca 5 orang belum bisa membaca, jadi kami membagikan pre-test dan pos-test sebnayak 20 anak, dengan rat-rata nilai jawaban pree-tes 62,5 dan nilai rata-rata post-test 98, seperti tabel di bawah ini. Dari hasil pelatihan yang di selenggarakan oleh tim sosiologi pengabdian masyarakat yang berada di pulau Baai kampung bahari, hasil pelatihan yaitu berjalan lancar dan sukses karena dari hasil pelatihan yang diadakan anak-anak atau peserta sudah mampu membuat celengan dari bahan botol plastik yang mana anak-anak sudah mampu menghasilkan satu orang satu kerajinan celengan. Dari hasil pre/post-tes yang sudah dilakukan, pre test dengan hasil menunjukkan bahwa anak-anak belum sepenuhnya tau tentang materi yang sudah di ajarkan, terlihat di dalam tabel yang sudah kamu buat. Dari hasil post-tes menunjukkan bahwa setelah pelatihan, sosialisasi, simulasi anak-anak atau peserta sudah paham akan yang kami ajarkan dilihat dari hasil nilai tabel. Vol. No. 2 Juni 2025 JOMPA ABDI: Jurnal Pengabdian Masyarakat https://jurnal. com/index. php/jpabdi e-ISSN: 2828-819X p-ISSN: 2828-8424 Tabel 1. Nilai Hasil Pre-Test Dan Post-Test Nama Nilai Rata-Rata Nilai Pre-Test Nilai Post-Test Hasi pree-test dan post-test menunjukkan bahwa adanya peningkatan pengetahuan peserta dilihat dari pree-test dengan rata-rata 62,5 dan post-test 98, dapat disimpulkan bahwa peserta dapat atau sudah memahami materi yang sudah disampaikan. Kedua, yaitu mengukur keberhasilan anak-anak dengan setiap anak-anak harus menghasilkan kerajinan tabungan satu orang satu kerajinan. Dampak terhadap anak-anak atau peserta yang sudah mengikuti pelatihan kami yaitu mereka mendapatkan pengetahuan tentang hidup bersih dan juga mengetahui cara membuat celengan dari bahan botol plastik, dan juga anak-anak mengetahui bahwa sampah itu bisa jadi nilai jual atau dapat digunakan untuk kepentingan kita kalau kita dapat berkreativitas dan menumbuhkan kewirausahaan mereka sejak dini. Terjadinya peningkatan interpretasi karena adanya pelatihan sosialisasi, pelatihan, simulasi yang dilakukan oleh tim sosiologi pengabdian masyarakat. KESIMPULAN Kesimpulan dalam kegiatan pengabdian ini yaitu: Pelatihan yang dilakukan merupakan pelatihan kerajinan botol plastik, dan materi tentang pentingnya menjaga keberhasilan dan juga menyampaikan bahwa sampah plastik juga dapat menjadi bahan nilai jual. Dari hasil pelatihan yang di selenggarakan oleh tim Vol. No. 2 Juni 2025 JOMPA ABDI: Jurnal Pengabdian Masyarakat https://jurnal. com/index. php/jpabdi e-ISSN: 2828-819X p-ISSN: 2828-8424 sosiologi pengabdian masyarakat yang berada di pulau Baai kampung bahari, hasil pelatihan yaitu berjalan lancar dan sukses karena dari hasil pelatihan yang diadakan anakanak atau peserta sudah mampu membuat celengan dari bahan botol plastik yang mana anak-anak sudah mampu menghasilkan satu orang satu kerajinan celengan. Peserta dan Ketua RT sangat antusias dalam mengikuti rangkaian kegiatan yang dilaksanakan oleh pelaksana. Peserta pelatihan sudah mampu membuat satu orang satu kerajinan botol plastik dijadikan tabungan atau celengan. peserta sudah memahami dan mengetahui apa yang disampaikan oleh tem pengabdian masyarakat dilihat dari hasil pree-test dengan rata-rata 62,5 dan post-test 98, dapat disimpulkan bahwa materi kebersihan dapat dipahami atau dimengerti oleh peserta UCAPAN TERIMAKASIH Penulis mengucapkan terimakasih kepada pihak yang telah memberikan dukungan terhadap pelaksanaan kegiatan sehingga seluruh rangkaian program dapat berjalan dengan lancar dan dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Kami ucapkan terimakasih Kepada ibu ketua RT 13 Ibu Susi yang telah mewadahi jalan pengabdian masyarakat ini, yang telah berkontribusi agar pengabdian masyarakat ini berjalan dengan lancar sebagaimana mestinya, dan juga kami mengucapkan terimakasih kepada peserta pelatihan yaitu kepada anak-anak pesisir di kampung Bahari RT 13 yang sudah bersedia mengikuti pelatihan yang kami laksanakan sehingga kegiatan ini berjalan sebaimana mestinya, dan juga kami Ucapkan Terimakasih kepada Dosen pengampu mata kuliah Sosiologi Masyarakat Pesisir yaitu Ibu Heni Nopianti S. DAFTAR PUSTAKA