Bilancia: Jurnal Ilmiah Akuntansi Vol. 9 No. September 2025 . e-ISSN: 2685-5607 DOES A SYNERGY OF ENVIRONMENTAL CULTURE AND GREEN PRACTICES STRENGTHEN FIRM VALUE? Alfurkaniati1. Burhanuddin2. Dian Saputra3*. Yovan Allif Ananda4, dan Fajrio Dwi Rahmalan5 1,2,3,4,5 Universitas Islam Riau Email: saputradian@eco. *Corresponding author DOI: https://doi. org/10. 35145/bilancia. Received: 14/08/2025. Revised: 10/09/2025. Accepted: 10/09/2025 ABSTRACT Increased attention to sustainability encourages companies to implement environmental strategies to increase Firm Value. This study examines the effect of Environmental Organizational Culture. Green Accounting. Gender Diversity, and Eco-Efficiency on Firm Value in the non-primary consumer goods sector. The research method uses a quantitative approach with panel data regression on 100 companies listed on the Indonesia Stock Exchange during 2021-2022. The results show that Environmental Organizational Culture and Eco-Efficiency negatively affect Firm Value, while Green Accounting and Gender Diversity have no significant effect. The implications of these findings suggest that sustainability strategies should be tailored to industry characteristics to be effective in increasing Firm Value. This study contributes to the ESG literature in emerging markets and provides a reference for managers designing sustainability policies that impact firm performance. Keywords: firm value, environmental organizational culture, green accounting, gender diversity, ecoefficiency APAKAH SINERGI ANTARA BUDAYA LINGKUNGAN DAN PRAKTIK RAMAH LINGKUNGAN MEMPERKUAT NILAI PERUSAHAAN? ABSTRAK Peningkatan perhatian terhadap keberlanjutan mendorong perusahaan menerapkan strategi lingkungan untuk meningkatkan nilai perusahaan. Penelitian ini bertujuan menguji pengaruh Budaya Organisasi Lingkungan. Akuntansi Hijau. Keragaman Gender, dan Eko-Efisiensi terhadap nilai perusahaan pada sektor barang konsumsi non-primer. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan regresi data panel terhadap 100 perusahaan terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama 2021Ae2022. Hasil menunjukkan bahwa Budaya Organisasi Lingkungan dan Eko-Efisiensi berpengaruh signifikan negatif terhadap nilai perusahaan, sementara Akuntansi Hijau dan Keragaman Gender tidak memiliki pengaruh signifikan. Implikasi dari temuan ini menunjukkan bahwa strategi keberlanjutan harus disesuaikan dengan karakteristik industri agar efektif dalam meningkatkan nilai Penelitian ini berkontribusi pada literatur ESG di pasar negara berkembang dan memberikan acuan bagi manajer dalam merancang kebijakan keberlanjutan yang berdampak nyata terhadap kinerja perusahaan. Kata kunci: nilai perusahaan, budaya organisasi lingkungan, akuntansi hijau, keragaman gender, efisiensi Bilancia: Jurnal Ilmiah Akuntansi--- Vol. 9 No. September 2025 http://w. id/ojs32/index. php/BILANCIA/index e-ISSN: 2685-5607 PENDAHULUAN Dalam beberapa tahun terakhir, perhatian global terhadap isu keberlanjutan semakin meningkat, ditandai dengan berkembangnya prinsip Environmental. Social, and Governance (ESG) sebagai standar baru dalam menilai kinerja dan daya tarik perusahaan. Tekanan dari investor institusional maupun individu agar perusahaan menerapkan praktik bisnis yang berkelanjutan telah mendorong transformasi besar dalam strategi korporasi, meskipun pada dasarnya setiap perusahaan memiliki tujuan yang berbeda-beda dalam merespons tuntutan keberlanjutan tersebut. Perusahaan memiliki sejumlah tujuan yang harus dipenuhi, termasuk memaksimalkan keuntungan dan memajukan kepentingan pemegang sahamnya (Mohamad & Rachmat, 2. Nilai perusahaan, yang dibentuk oleh tujuan perusahaan, merupakan salah satu pertimbangan terpenting bagi investor dalam menilai investasi mereka. Nilai perusahaan mencerminkan persepsi pasar terhadap bisnis secara keseluruhan dan berfungsi sebagai indikator keberhasilan perusahaan di mata pemegang saham (Choirul et al. , 2. Selain itu, potensi dan prospek perusahaan untuk mempertahankan dan mengembangkan operasinya di masa depan akan tercermin dalam Pemilik bisnis juga ingin perusahaan mereka memiliki nilai yang tinggi karena hal tersebut mengindikasikan kemakmuran pemegang saham yang tinggi (Aldi et al. , 2. Keinginan pihak manajemen untuk mencapai nilai perusahaan yang tinggi mendorong terjadinya fenomena dalam penilaian terhadap perusahaan tersebut. Dalam berita yang ditulis oleh Ajib Syahrian . Pada tahun 2018, perusahaan apparel Nike mengumumkan kerjasama dengan sebuah startup teknologi hijau untuk mengurangi limbah dan emisi karbon dari proses produksinya. Nike mengungkapkan bahwa 75% dari pakaian dan sepatu mereka terbuat dari bahan yang dapat didaur ulang. Senjata utamanya adalah lini yang dibuat dengan bantalan udara (Air Sol. Menurut Nike, setiap sepatu dengan bantalan udara terbuat dari 50% bahan daur ulang. Nike Air Vapormax terbuat dari 75% bahan daur ulang, dan Nike Air Max 270 terdiri dari setidaknya 70%. Plastik daur ulang juga digunakan sebagai pengganti plastik poliester. Kebijakan ini memungkinkan 95 persen bahan produksi dapat digunakan kembali. Nike bertujuan untuk mencapai penjualan sepenuhnya di seluruh dunia pada tahun 2025 dan di Amerika Serikat pada tahun 2019. Studi Haque & Ntim . menemukan bahwa perusahaan yang menerapkan praktik keberlanjutan seperti ini menunjukkan peningkatan nilai pasar hingga 18%. Nike menjalin kemitraan yang fokus pada penggunaan bahan daur ulang dan penerapan metode produksi yang lebih efisien dalam hal energi. Hal ini dilakukan untuk memenuhi kebutuhan konsumen yang semakin peduli dengan masalah lingkungan. Langkah ini dilakukan untuk menekankan pada pengintegrasian isu-isu lingkungan ke dalam strategi bisnis untuk meningkatkan nilai perusahaan. Di samping kemitraan strategis yang dijalankan Nike melalui penggunaan bahan daur ulang dan produksi yang hemat energi, keberhasilan tersebut juga mencerminkan bagaimana budaya organisasi yang mengutamakan isu-isu lingkungan dapat memberikan dampak positif terhadap nilai perusahaan. Budaya Organisasi Lingkungan menjadi konsep yang semakin penting dalam keberlanjutan dan tanggung jawab sosial perusahaan. Hal ini juga diungkapkan oleh Syarifuddin et al. yang menunjukkan bahwa budaya organisasi yang baik dapat berkontribusi pada pengelolaan sumber daya manusia yang lebih efektif, yang pada gilirannya akan meningkatkan pencapaian target lingkungan organisasi. Dengan mengintegrasikan prinsip-prinsip keberlanjutan ke dalam budaya organisasi, perusahaan tidak hanya memenuhi tanggung jawab sosialnya tetapi juga dapat meningkatkan nilai perusahaan (Habiba & Wulandari, 2. Menurut Atriksa dan Murwaningsari . yang menunjukkan bahwa budaya organisasi lingkungan dan kepemimpinan lingkungan dapat menciptakan keunggulan kompetitif yang berkelanjutan, dengan membangun inovasi hijau dan proses ramah lingkungan yang pada akhirnya berkontribusi terhadap nilai perusahaan. Sedangkan, penelitian yang dilakukan oleh Susanty & Pangestuti . menunjukkan bahwa faktor lain, seperti likuiditas dan efisiensi modal kerja, lebih berpengaruh terhadap nilai perusahaan daripada Budaya Organisasi Lingkungan. Seiring dengan berkembangnya budaya organisasi yang berfokus pada keberlanjutan lingkungan, penerapan Green Accounting yang melibatkan indikator biaya lingkungan semakin penting untuk memastikan bahwa perusahaan tidak hanya memperhatikan aspek ekonomi, tetapi juga dampak ekologis dari setiap keputusan bisnis yang diambil. Penerapan akuntansi hijau berfungsi sebagai alat untuk mencatat dampak lingkungan dan sebagai strategi yang dapat meningkatkan nilai perusahaan melalui transparansi yang lebih baik dan manajemen risiko yang lebih efektif. Penelitian tentang keberlanjutan dan tanggung jawab sosial perusahaan banyak menyoroti akuntansi hijau, yang mencakup pencatatan, penilaian, dan pengungkapan dampak operasi perusahaan terhadap lingkungan (Dianty, 2022. Saputra & Zidan Dwinanda, 2. Akuntansi hijau dapat mempengaruhi nilai perusahaan melalui peningkatan transparansi dan manajemen risiko lingkungan (Hossain & M. , 2. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa penggunaan Green Accounting meningkatkan nilai perusahaan (Saputra & Zidan Dwinanda, 2. , beberapa penelitian menunjukkan hasil yang tidak konsisten. Sebagai contoh, penelitian Wulandari et al. menyatakan bahwa penerapan Green Accounting tidak selalu memberikan kontribusi yang signifikan terhadap nilai perusahaan di sektor barang konsumsi non primer. Hasil yang bervariasi juga mengindikasikan bahwa faktor-faktor lain yang mempengaruhi nilai perusahaan perlu Salah satu faktor yang tak kalah penting adalah penerapan eko-efisiensi, yang berfokus pada Apakah Sinergi antara Budaya Lingkungan dan Praktik Ramah Lingkungan Memperkuat Nilai Perusahaan? (Alfurkaniati. Burhanuddin. Dian Saputra. Yovan Allif Ananda, dan Fajrio Dwi Rahmala. Bilancia: Jurnal Ilmiah Akuntansi e-ISSN: 2685-5607 peningkatan efisiensi sumber daya dan pengurangan dampak lingkungan, yang dapat memperkuat strategi keberlanjutan perusahaan secara keseluruhan. Keberlanjutan perusahaan telah menjadi perhatian utama dalam dunia bisnis, sehingga kemampuan perusahaan untuk mengelola keberlanjutan menjadi sangat penting. Eco-Efficiency bisa menjadi faktor utama dalam keberlanjutan dengan berfokus pada peningkatan efisiensi sumber daya dan pengurangan dampak Eko-efisiensi dapat diterapkan sebagai sistem manajemen lingkungan untuk mengelola sumber daya Konsep ini bertujuan untuk menciptakan nilai ekonomi sambil mengurangi kerusakan lingkungan, yang biasanya diukur dengan membandingkan output ekonomi dengan input ekologi (Huppes & Ishikawa, 2005. Putra & Saputra, 2. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Noor et al . Eco-Efficiency berkontribusi positif terhadap nilai perusahaan melalui pengurangan biaya dan peningkatan citra, sedangkan penelitian oleh Lestari . menyatakan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara Eco-Efficiency terhadap nilai perusahaa. Selain penerapan eko-efisiensi untuk mendukung keberlanjutan perusahaan, keberagaman gender juga memainkan peran penting dalam memperkuat strategi bisnis berkelanjutan, karena dapat membawa berbagai perspektif dalam pengambilan keputusan dan mendorong terciptanya inovasi yang lebih ramah lingkungan. Keberagaman gender mengacu pada keragaman jenis kelamin dalam suatu organisasi, termasuk keterwakilan perempuan dan laki-laki di berbagai posisi, terutama di tingkat manajerial . com, n. Menurut penelitian Anisa . Gender Diversity dapat meningkatkan nilai perusahaan melalui inovasi dan keputusan yang lebih baik. Selain meningkatkan nilai perusahaan. Keberagaman Gender juga berperan penting dalam menciptakan suasana inklusif di tempat kerja, yang pada akhirnya dapat memperluas jaringan dan relasi bisnis yang beragam (Anisa. , 2021. Firdaus et al. , 2. Namun, penelitian Budi . justru menunjukkan bahwa Gender Diversity terhadap nilai perusahaan tidak berhubungan secara signifikan satu sama lain. Penelitian ini menawarkan kontribusi baru dengan mengkaji hubungan antara Environmental Organizational Culture (EOC) dan nilai perusahaan, khususnya dalam sektor barang konsumsi bukan primer pada tahun 2021-2022. Meskipun banyak penelitian sebelumnya telah mengidentifikasi pentingnya budaya organisasi terhadap kinerja perusahaan, sedikit yang mengeksplorasi bagaimana budaya organisasi yang berfokus pada lingkungan (EOC) dapat mempengaruhi nilai perusahaan secara langsung. Sebagian besar penelitian terdahulu lebih memfokuskan perhatian pada faktor-faktor eksternal seperti likuiditas, efisiensi modal kerja, dan keputusan operasional, yang seringkali mengabaikan peran EOC dalam membentuk strategi perusahaan yang mendukung Hal ini menciptakan kekosongan dalam literatur, di mana pengaruh EOC terhadap nilai perusahaan masih belum sepenuhnya dipahami dan diukur. Dalam banyak penelitian sebelumnya, pentingnya nilai-nilai yang berfokus pada keberlanjutan . ustainability-driven value. yang diterapkan melalui EOC sering kali diabaikan, padahal nilai-nilai ini berpotensi meningkatkan efisiensi jangka panjang, reputasi, dan keberlanjutan yang pada gilirannya akan berkontribusi pada nilai perusahaan. Dengan demikian, ada kebutuhan untuk meneliti bagaimana kombinasi dari keempat variabel tersebut: Keragaman Gender. Budaya Organisasi Berwawasan Lingkungan. Green Accounting, dan Eko-Efisiensi dapat berdampak sinergis terhadap nilai perusahaan. Studi yang lebih mendalam dalam konteks sektor barang konsumsi non-primer akan memberikan kontribusi yang signifikan terhadap literatur yang ada dan memberikan panduan praktis bagi perusahaan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji bagaimana nilai perusahaan dalam industri produk konsumen non-primer dipengaruhi oleh budaya organisasi lingkungan, akuntansi hijau, keragaman gender, dan efisiensi lingkungan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk lebih memahami bagaimana karakteristikkarakteristik ini meningkatkan nilai perusahaan dan menyelidiki bagaimana mereka berinteraksi satu sama lain dalam kaitannya dengan keberlanjutan dan kinerja perusahaan. Sebagai konsekuensinya, diharapkan temuan ini dapat membantu para manajer dan pemangku kepentingan lainnya untuk mengadopsi taktik yang lebih berhasil dalam meningkatkan nilai perusahaan. Penelitian ini memberikan kontribusi signifikan terhadap keilmuan dengan memperkaya literatur mengenai pengaruh budaya organisasi yang peduli lingkungan. Green Accounting. Eco-Efficiency, dan keberagaman gender terhadap nilai perusahaan, khususnya di sektor barang konsumsi non-primer. Temuan ini memperdalam pemahaman tentang bagaimana faktor-faktor keberlanjutan berinteraksi dengan tujuan finansial perusahaan di pasar negara berkembang. Dari sisi praktis, penelitian ini memberikan wawasan bagi manajer perusahaan untuk merancang strategi yang mengintegrasikan keberlanjutan secara lebih efektif. Meskipun beberapa inisiatif keberlanjutan seperti Eco-Efficiency dan budaya organisasi lingkungan dapat berdampak negatif pada nilai perusahaan dalam jangka pendek, hasil jangka panjang dalam hal efisiensi operasional dan reputasi perusahaan dapat memberikan manfaat besar. Hal ini membantu perusahaan untuk menyeimbangkan keberlanjutan dengan kinerja finansial, terutama dalam pasar yang sangat kompetitif. Bilancia: Jurnal Ilmiah Akuntansi--- Vol. 9 No. September 2025 e-ISSN: 2685-5607 TINJAUAN PUSTAKA Teori Pemangku Kepentingan Stakeholder Theory menawarkan perspektif yang relevan dalam mengelola pengaruh budaya organisasi terhadap nilai perusahaan. Stakeholder theory adalah pendekatan manajemen yang menekankan pentingnya memperhatikan semua pihak yang berkepentingan dengan suatu organisasi (Freeman & McVea, 1. Dalam bukunya "Pengawasan Strategis: A Pendekatan Pemangku Kepentingan". Freeman dan McVea mempopulerkan gagasan bahwa bisnis harus bertanggung jawab kepada semua orang yang terkena dampak dari operasi mereka, termasuk pemegang saham dan vendor. Gagasan ini menekankan betapa pentingnya mempertimbangkan kepentingan banyak pemangku kepentingan ketika membuat pilihan bisnis untuk mencapai keberlanjutan dan kesuksesan jangka panjang. Gagasan ini menyoroti bahwa keuntungan finansial dan pengaruh operasi perusahaan terhadap berbagai kelompok merupakan indikator utama keberhasilan (Harrison et al. , 2. Penerapan teori pemangku kepentingan dalam konteks budaya organisasi yang peduli lingkungan semakin dianggap penting dalam memenuhi tuntutan berbagai pihak berkepentingan, tidak hanya untuk kepentingan internal tetapi juga untuk manfaat sosial dan lingkungan yang lebih luas. Dalam konteks ini, organisasi diharapkan untuk menanggapi kebutuhan dan harapan pemangku kepentingan dengan fokus pada Berbagai penelitian menunjukkan bahwa praktik Manajemen Sumber Daya Manusia Hijau (GHRM) memainkan peran penting dalam integrasi konsep keinginan ke dalam budaya organisasi. Vasilev et al . menjelaskan bahwa GHRM tidak hanya mematuhi peraturan perundang-undangan lingkungan tetapi juga mendorong budaya organisasi yang bertanggung jawab terhadap lingkungan dan keanekaragaman. Lebih lanjut. Abbas & Khan . menyoroti hubungan positif antara manajemen pengetahuan hijau dan inovasi hijau, yang menunjukkan bahwa mengembangkan budaya organisasi yang mendukung kesejahteraan dapat meningkatkan kinerja perusahaan hijau. Hal ini menegaskan bahwa budaya organisasi yang mendukung inovasi berkelanjutan mampu memenuhi tuntutan pemangku kepentingan yang semakin memperhatikan faktor-faktor lingkungan. Secara keseluruhan, teori penerapan pemangku kepentingan dalam budaya organisasi yang peduli lingkungan dapat memberikan perspektif yang signifikan dalam menyelaraskan kepentingan internal dan eksternal. Pemahaman akan sinergi antara budaya, kepemimpinan, dan keinginan menjadi kunci untuk memenuhi tantangan yang dihadapi perusahaan di era modern ini. Teori agensi Seiring dengan pentingnya memperhatikan hubungan dengan pemangku kepentingan, faktor internal yang lebih mendalam juga perlu dipertimbangkan dalam konteks pengelolaan perusahaan. Salah satunya adalah hubungan antara pemilik modal dan manajemen perusahaan, yang dapat mempengaruhi keputusan-keputusan strategis, termasuk yang berhubungan dengan keberlanjutan. Dalam hal ini. Agency Theory memberikan wawasan tentang dinamika antara pemilik modal sebagai prinsipal dan manajemen perusahaan sebagai agen dijelaskan oleh teori keagenan (Lesmono & Siregar, 2. Teori keagenan yang diperkenalkan oleh Michael C. Jensen dan William Meckling pada tahun . ini menjelaskan bagaimana pemilik, atau prinsipal, dan manajer, atau agen, berinteraksi ketika membuat keputusan dan mengalokasikan sumber daya. Gagasan ini menarik perhatian pada kemungkinan konflik kepentingan antara agen dan prinsipal yang dapat berdampak pada efektivitas organisasi. Dalam konteks lingkungan dan budaya organisasi, penerapan prinsip-prinsip teori keagenan dapat meningkatkan nilai perusahaan dengan mendorong para manajer untuk mengadopsi praktik-praktik berkelanjutan dan inovasi ramah lingkungan, yang dapat meningkatkan kinerja lingkungan dan reputasi perusahaan. Penelitian menunjukkan bahwa budaya organisasi yang mendukung praktik-praktik hijau berkontribusi positif terhadap nilai perusahaan (Rosiliana & Dewi, 2. Dalam konteks Budaya Organisasi Lingkungan, teori ini dapat dikaitkan dengan bagaimana nilai-nilai lingkungan yang diadopsi oleh perusahaan dapat mempengaruhi keputusan manajerial dan pada akhirnya nilai perusahaan (Kamelia & Fitriya, 2. Pengaruh Environmental Organizational Culture terhadap Nilai Perusahaan Menurut StipiN . , dalam kapitalisme modern, perusahaan tidak hanya perlu fokus pada keuntungan, tetapi juga pada masalah sosial dan lingkungan, serta memiliki tanggung jawab untuk mendukung keberlanjutan global. Environmental Organizational Culture (EOC) mencerminkan kesadaran dan komitmen perusahaan terhadap pelestarian lingkungan yang tercermin dalam nilai, kebijakan, dan perilaku organisasi. Budaya ini mendorong perusahaan untuk menjalankan praktik ramah lingkungan, seperti efisiensi energi, pengurangan emisi, dan penggunaan bahan berkelanjutan, yang pada akhirnya dapat menjadi keunggulan strategis. Berdasarkan teori stakeholder, perusahaan yang memperhatikan kepentingan pihak-pihak terkait seperti konsumen, masyarakat, regulator, dan investor berpotensi meningkatkan reputasi dan kepercayaan publik. Salah satu aspek penting dari EOC adalah keterlibatan pemangku kepentingan, yang sangat penting untuk mencapai dan melestarikan keberlanjutan (Gonzalez-porras et al. , 2. Para pemangku kepentingan, termasuk pelanggan, pemerintah, dan komunitas lokal, memainkan peran kunci dalam mendorong perusahaan untuk mengambil langkah yang lebih proaktif dalam mengadopsi praktik ramah lingkungan (Haleem et al. , 2. Penerapan EOC menunjukkan kepedulian perusahaan terhadap isu lingkungan yang kini menjadi perhatian utama para stakeholder. Apakah Sinergi antara Budaya Lingkungan dan Praktik Ramah Lingkungan Memperkuat Nilai Perusahaan? (Alfurkaniati. Burhanuddin. Dian Saputra. Yovan Allif Ananda, dan Fajrio Dwi Rahmala. Bilancia: Jurnal Ilmiah Akuntansi e-ISSN: 2685-5607 Komitmen ini dapat memperkuat hubungan dengan stakeholder, menarik investor berbasis ESG, dan berkontribusi terhadap peningkatan nilai perusahaan. H1: Budaya Organisasi Lingkungan berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan. Pengaruh Green Accounting terhadap Nilai Perusahaan Seiring dengan penerapan EOC yang menunjukkan komitmen perusahaan terhadap isu lingkungan, pendekatan lain yang turut mendukung tujuan ini adalah akuntansi hijau. Penerapan akuntansi hijau tidak hanya mendukung transparansi perusahaan, tetapi juga memperkuat hubungan dengan stakeholder yang semakin peduli terhadap keberlanjutan lingkungan. Tujuan dari akuntansi hijau adalah untuk mengukur dan melaporkan bagaimana operasi perusahaan mempengaruhi lingkungan, yang diyakini dapat meningkatkan transparansi dan akuntabilitas Menurut Anggita et al. pengungkapan emisi karbon dan praktik akuntansi hijau berhubungan langsung dengan nilai perusahaan, karena membantu mengurangi "legitimacy gap" antara nilai perusahaan dan masyaraka (Anggita et al. , 2. Dengan menerapkan prinsip-prinsip Green Accounting, perusahaan dapat menunjukkan komitmennya terhadap kelestarian lingkungan, meningkatkan reputasi perusahaan dan menarik minat investor yang semakin peduli terhadap isu-isu lingkungan. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Adedeji et al . , yang mengatakan bahwa perusahaan yang menerapkan praktik akuntansi lingkungan cenderung memiliki nilai pasar yang lebih tinggi karena adanya pengakuan dari para pemangku kepentingan terhadap upaya mereka dalam menjaga keberlanjutan. Dalam kerangka teori agensi, terdapat potensi konflik kepentingan antara manajer . dan pemilik perusahaan . , terutama terkait informasi yang asimetris. Pengungkapan ini membantu mengurangi perbedaan informasi yang sering kali terjadi di pasar, di mana manajemen memiliki akses lebih banyak terhadap informasi yang relevan daripada investor (Swari & Sari, 2. Penerapan Green Accounting dapat mengurangi asimetri informasi dengan menyajikan data lingkungan yang relevan dan dapat dipercaya kepada investor dan Hal ini meningkatkan keterpercayaan pemangku kepentingan terhadap informasi yang disampaikan dan memungkinkan mereka untuk membuat keputusan yang lebih baik berdasarkan data yang akurat (Lusia & Effriyanti, 2. Dengan meningkatkan transparansi dan akuntabilitas. Green Accounting dapat memperkuat mekanisme pengawasan dan meningkatkan kepercayaan investor terhadap manajemen, yang pada akhirnya berdampak pada peningkatan nilai perusahaan. H2: Akuntansi hijau berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan. Pengaruh Eco-Efficiency terhadap Nilai Perusahaan Eko-efisiensi adalah upaya untuk memaksimalkan hasil ekonomi sambil meminimalkan dampak lingkungan yang dapat meningkatkan reputasi dan daya saing perusahaan di pasar (Al Murad et al. , 2. Dengan menerapkan praktik-praktik Eko-Efisiensi, perusahaan kemungkinan akan mencapai kinerja keuangan yang lebih baik karena konsumen dan investor semakin mempertimbangkan keberlanjutan dalam pengambilan keputusan mereka (Al Murad et al. , 2. Dengan demikian, peningkatan efisiensi lingkungan berkontribusi pada pelestarian lingkungan dan meningkatkan nilai perusahaan di mata pemangku kepentingan. Dalam perspektif teori agensi, praktik Eco-Efficiency dapat berfungsi sebagai sinyal bahwa manajemen menjalankan tanggung jawabnya secara efektif kepada pemilik perusahaan. Hal ini penting karena transparansi dalam penggunaan sumber daya menjadi salah satu sinyal positif bagi investor dan pemangku kepentingan, yang pada gilirannya dapat memperkuat kepercayaan mereka terhadap perusahaan (Xia et al. , 2. Dengan mengelola sumber daya secara efisien dan transparan, manajemen mengurangi potensi konflik kepentingan serta meningkatkan akuntabilitas terhadap penggunaan dana dan aset perusahaan. Hal ini dapat memperkuat kepercayaan investor dan stakeholder, sehingga berkontribusi terhadap peningkatan nilai perusahaan. H3: Eco-Efficiency berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan. Pengaruh Gender Diversity terhadap Nilai Perusahaan Kehadiran perempuan di posisi strategis, seperti manajer dan anggota dewan direksi, membawa perspektif baru yang dapat mendukung tujuan perusahaan dalam menciptakan nilai lebih. Gender Diversity, khususnya pada tingkat manajemen dan dewan direksi, mencerminkan keberagaman perspektif dan peningkatan kualitas pengambilan keputusan dalam perusahaan. Penelitian menunjukkan bahwa kehadiran perempuan dalam posisi manajerial dan dewan direksi dapat membawa perspektif yang berbeda, meningkatkan inklusivitas, serta mendorong inovasi (Galletta et al. , 2. Dalam kerangka teori agensi, keberagaman gender berperan sebagai mekanisme pengawasan yang membantu mengurangi konflik kepentingan antara manajer dan pemilik. Sebuah studi yang dilakukan oleh Souitaris et al. menemukan bahwa perusahaan dengan dewan direksi yang lebih beragam gender biasanya memiliki profitabilitas yang lebih tinggi, yang meningkatkan nilai perusahaan. Hal ini menjadi kunci dalam menciptakan lingkungan kerja yang inklusif dan responsif terhadap kebutuhan berbagai pemangku kepentingan. Penelitian menunjukkan bahwa kepemimpinan perempuan cenderung lebih kolaboratif, yang mendukung keterlibatan semua pihak dalam proses pengambilan Keputusan (Diniarsa & Batu, 2. Selain itu, sifat empati Bilancia: Jurnal Ilmiah Akuntansi--- Vol. 9 No. September 2025 e-ISSN: 2685-5607 dan sensitivitas yang dimiliki oleh pemimpin perempuan memungkinkan mereka untuk lebih peka terhadap isu etika dan kepentingan sosial, yang sangat penting dalam konteks organisasi saat ini (Dolphina et al. , 2. Hal ini disebabkan oleh kemampuan perempuan dalam memberikan perspektif yang lebih beragam, pendekatan kepemimpinan yang lebih kolaboratif, serta sensitivitas yang lebih tinggi terhadap etika dan kepentingan pemangku kepentingan. Kebijakan keberagaman dan inklusivitas yang diusulkan oleh pemimpin perempuan dapat memberikan kontribusi pada peningkatan kinerja perusahaan dalam konteks permintaan dan efisiensi sumber daya (Siahaan et al. , 2. Dengan perspektif yang beragam dan sensitivitas terhadap isu sosial serta lingkungan, pemimpin perempuan dapat memimpin perusahaan untuk tidak hanya mencapai hasil ekonomi yang optimal, tetapi juga menjaga kelestarian lingkungan. H4: Gender Diversity berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan. Gambar 1. Kerangka Konseptual METODE PENELITIAN Studi ini menerapkan metodologi kuantitatif. Teknik yang digunakan adalah analisis data sekunder dari Bursa Efek Indonesia (BEI). Data ini termasuk data keuangan dan laporan tahunan perusahaan yang terdaftar di sektor tersebut pada tahun 2021-2022. Penelitian ini menggunakan teknik purposive sample untuk memilih perusahaan yang melaporkan konsistensi dan relevansi dengan variabel yang diteliti. Variabel dependen . ilai perusahaan yang ditentukan oleh Tobin's Q) dan faktor independen . udaya organisasi yang ramah lingkungan, akuntansi ramah lingkungan, keragaman gender, dan efisiensi lingkunga. akan dievaluasi melalui regresi data panel. Studi ini menggunakan Sampel 157 perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2021Ae Untuk mengukur variabel penelitian ini, validitas dan relevansinya dipertimbangkan. Indikator yang sering digunakan untuk mengukur nilai perusahaan adalah Tobin's Q, yang menunjukkan potensi kinerja jangka panjang dan prospek pertumbuhan perusahaan dengan membandingkan nilai pasar perusahaan dengan biaya penggantian aset fisiknya. Metrik ini telah dikutip dalam literatur ilmiah karena relevansinya dalam mengevaluasi kinerja perusahaan, menunjukkan korelasi dengan hasil keuangan perusahaan, sehingga menggarisbawahi kegunaannya dalam penilaian Perusahaan (Magsi et al. , 2. Selanjutnya, budaya organisasi lingkungan (Environmental Organizational Cultur. diukur dengan 18 item yang mencakup berbagai dimensi perilaku organisasi terhadap isu Penggunaan instrumen terperinci seperti skala 18-item tidak hanya meningkatkan keandalan dan validitas dalam menilai budaya lingkungan organisasi tetapi juga menjelaskan implikasinya terhadap kinerja (BagieAnska &, 2. Untuk mengukur akuntansi hijau (Green Accountin. , penelitian ini menggunakan variabel dummy yang membedakan antara perusahaan yang memiliki komponen biaya lingkungan . dan yang tidak . Pemilihan dummy variable ini memberikan pengukuran yang jelas dan objektif mengenai apakah perusahaan mengakui dan mengalokasikan biaya lingkungan dalam laporan keuangannya (Andi Yuliana, 2. Indikator ekoefisiensi diukur dengan menggunakan sertifikasi ISO 14001 yang diakui secara global sebagai standar untuk sistem manajemen lingkungan serta menunjukkan komitmen perusahaan terhadap pengelolaan dampak lingkungan yang berkelanjutan (Sam & Song, 2. Terakhir, keberagaman gender diukur dengan rasio jumlah direksi perempuan terhadap total jumlah direksi. Indikator ini valid karena memberikan gambaran jelas tentang representasi gender di tingkat manajerial, yang dapat mempengaruhi pengambilan keputusan dan mendorong inovasi (Blyde, 2. Secara keseluruhan, semua indikator yang digunakan telah terbukti valid dalam penelitian sebelumnya, memiliki Apakah Sinergi antara Budaya Lingkungan dan Praktik Ramah Lingkungan Memperkuat Nilai Perusahaan? (Alfurkaniati. Burhanuddin. Dian Saputra. Yovan Allif Ananda, dan Fajrio Dwi Rahmala. Bilancia: Jurnal Ilmiah Akuntansi e-ISSN: 2685-5607 dasar teoretis yang kuat, dan relevan dengan tujuan penelitian untuk mengukur pengaruh faktor-faktor ini terhadap nilai perusahaan. Table 1. Sampel Penelitian Kriteria Perusahaan di sektor CC yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada periode 20212022. Perusahaan yang tidak menerbitkan laporan tahunan dan laporan keberlanjutan pada periode 2021-2022. Perusahaan yang menjadi Sampel Tahun Observasi . Jumlah data observasi Sumber:Data Olahan . Tabel 2. Operasional Variabel Variabel Dependent Firm Value Indikator ycE= ycAycOya ya ycNya Total Referensi (Dzahabiyya et , 2. (Desmiza, 2. Keterangan: Q = Tobin's Q MVE = Nilai pasar saham (Jumlah saham biasa perusahaan yang beredar dikali dengan harga penutupan saha. D = Nilai Buku total hutang TA = Total Assets Independent Environmental Organizational Culture Green Accounting Eco-Efficiency yaycCya = ycNycuycycayco ycnycyceycoyc yccycnycycaycoycuycyceycc ycnycu yceycaycaEa yceycoyceycoyceycuyc y 100% ycNEayce ycycuycycayco ycuycycoycayceyc ycuyce ycnycyceyco ycnycu yceycaycaEa yceycoyceycoyceycuyc Ada enam komponen yang dapat digunakan untuk mengevaluasi budaya organisasi Perusahaan memperhatikan pengetahuan tentang pengelolaan dan perlindungan pengelolaan dan perlindungan lingkungan. pengelolaan dan perlindungan lingkungan Perusahaan memperhatikan daya tanggap pengelolaan dan perlindungan lingkungan Perusahaan memperhatikan visi pengelolaan dan perlindungan lingkungan. Indikator dalam penerapan Green Accounting dalam penelitian ini diukur dengan menggunakan Variabel Dummy dengan kriteria sebagai berikut: 1 = Perusahaan yang memiliki komponen biaya 0 = Perusahaan yang tidak memiliki komponen biaya lingkungan 1 = perusahaan yang memilikisertifikat ISO Bilancia: Jurnal Ilmiah Akuntansi--- Vol. 9 No. September 2025 (Rachmawati, 2. , (Chen, (Salim et al. , (Susanti et al. , 2. (Yuliandhari et ,(Damas et , 2. e-ISSN: 2685-5607 Variabel Indikator 0 = perusahaan yang tidak memiliki sertifikat ISO Gender Diversity yayceycuyccyceyc yaycnycyceycycycnycyc ycAycycoycayceyc ycuyce yayceycoycaycoyce ycAyceycoycayceycyc ycnycu ycEayce yaAycuycaycycc ycuyce yaycnycyceycaycycuyc y 100% ycNycuycycayco ycAycycoycayceyc ycuyce yaycnycyceycaycycuyc ycAyceycoycayceycyc Referensi