PARADOKS Jurnal Ilmu Ekonomi Vol. 9 No. 1, 2026 e-ISSN : 2622-6383 Analisis Pengaruh Teknologi Informasi. Investasi, dan Upah terhadap Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja di Pulau Jawa Tahun 2017Ae2023 Syafi Rijal Alana 1*. Reikha Habibah Yusfi 2 alana998@gmail. Program Studi Ekonomi Pembangunan. Universitas Negeri Semarang. Indonesia 1*,2 Abstrak Pembangunan ekonomi di Pulau Jawa membutuhkan keterlibatan optimal tenaga kerja sebagai penggerak utama pertumbuhan, namun tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) di wilayah ini masih berada di bawah rata-rata nasional. Fenomena tersebut menunjukkan adanya ketidakseimbangan antara potensi ekonomi dan tingkat keterlibatan tenaga kerja. Berdasarkan kondisi tersebut, penelitian ini secara khusus bertujuan untuk menganalisis pengaruh pembangunan teknologi informasi dan komunikasi (PTIK), pembentukan modal tetap bruto (PMTB), dan upah minimum provinsi (UMP) terhadap TPAK di enam provinsi di Pulau Jawa selama periode 2017Ae2023. Desain penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode regresi data Seluruh provinsi dijadikan sampel menggunakan teknik sensus, dengan data sekunder bersumber dari publikasi Badan Pusat Statistik (BPS). Pemilihan model terbaik dilakukan melalui uji Chow dan uji Hausman, yang menunjukkan bahwa Fixed Effect Model (FEM) paling sesuai Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara simultan ketiga variabel independen berpengaruh signifikan terhadap TPAK. Secara parsial. PMTB dan UMP berpengaruh positif dan signifikan, sedangkan PTIK berpengaruh negatif namun tidak signifikan. Nilai RA sebesar 0,9698 menandakan kemampuan model dalam menjelaskan variasi TPAK yang sangat kuat. Implikasi dari temuan ini menegaskan pentingnya kebijakan peningkatan investasi produktif dan penetapan upah layak untuk memperkuat partisipasi tenaga kerja, serta perlunya penguatan kompetensi digital agar tenaga kerja mampu beradaptasi dengan transformasi teknologi yang cepat. Penelitian mendatang disarankan untuk memasukkan variabel makroekonomi tambahan dan memperluas periode observasi guna memperoleh hasil yang lebih komprehensif. Kata Kunci: partisipasi angkatan kerja. teknologi informasi dan komunikasi. upah minimum. This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License. Pendahuluan Proses pembangunan ekonomi merupakan sebuah usaha yang memerlukan berbagai peran dari seluruh faktor produksi, salah satunya adalah tenaga kerja (Hartati. Peran tenaga kerja adalah sebagai subjek utama yang bertindak sebagai produsen sekaligus konsumen dari proses pembangunan itu sendiri (Saputra et al. , 2. Seiring meningkatnya jumlah penduduk, ketersediaan jumlah angkatan kerja juga mengalami peningkatan. Namun demikian, besarnya jumlah penduduk tidak dapat dijadikan indikator untuk meningkatkan partisipasi angkatan kerja, karena kondisi tersebut juga berpotensi dalam menambah beban dalam pembangunan ekonomi. Kondisi ini disebabkan beberapa faktor yang memungkinkan seseorang tidak masuk dalam pasar kerja. Meningkatnya tenaga kerja jika tidak diiringi dengan ketersediaan lapangan pekerjaan akan menimbulkan permasalahan baru, seperti pengangguran (Lee & Parasnis, 2. Indikator untuk melihat kondisi tenaga kerja di suatu wilayah adalah tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK). TPAK mengukur proporsi penduduk bekerja yang aktif bekerja atau sedang mencari pekerjaan sebagai persentase dari jumlah penduduk (Lestari & Nilasari, 2. Pulau Jawa merupakan wilayah dengan jumlah penduduk terbesar di Indonesia Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9. | 293 sekaligus pusat kegiatan ekonomi nasional, sehingga ketersediaan tenaga kerja menjadi faktor krusial dalam mendukung pertumbuhan ekonominya (Rahmah et al. , 2. Kondisi ini bertolak belakang dengan realita yang terjadi di lapangan. Tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) merupakan salah satu indikator untuk melihat kondisi tenaga kerja di suatu wilayah (Syamsuddin et al. , 2. Berdasarkan gambar 1, tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) di Pulau Jawa dalam tujuh tahun terakhir konsisten mencatatkan TPAK yang lebih rendah dibandingkan wilayah lain seperti Sumatera. Kalimantan, bahkan kawasan Sunda Kecil. Rata-rata TPAK Pulau Jawa selama tujuh tahun terakhir hanya sebesar 67,49%, lebih rendah dari rata-rata nasional yakni sebesar 68,58%. Keadaan tersebut mengindikasikan bahwa tingginya kegiatan ekonomi dan infrastruktur belum cukup untuk mendorong partisipasi kerja secara merata di Pulau Jawa . Sumatera Jawa Sunda Kecil Kalimantan Sulawesi Papua dan Maluku Gambar 1. Perkembangan TPAK Pulau di Indonesia Tahun 2017-2023 Sumber: Badan Pusat Statistik Indonesia . Rendahnya TPAK mengindikasikan bahwa sebagian penduduk usia kerja belum terlibat secara optimal dalam pasar tenaga kerja. Selain itu terbatasnya lapangan TPAK ketidakseimbangan pasar tenaga kerja (Flyrez & Gymez, 2. Kondisi ini terjadi karena ketidaksesuaian antara kebutuhan pasar dengan keterampilan yang dimiliki tenaga kerja yang menyebabkan menurunnya minat dalam mencari pekerjaan. Dinamika faktor ekonomi juga menjadi salah satu yang memengaruhi keputusan individu untuk masuk ke pasar kerja. Faktor ekonomi seperti rendahnya tingkat upah yang ditawarkan, terbatasnya arus investasi yang menghambat penciptaan lapangan kerja produktif, serta belum optimalnya pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi turut melemahkan motivasi penduduk usia kerja untuk masuk ke pasar tenaga kerja. Oleh karena itu, variabel-variabel seperti tingkat upah, investasi, dan pembangunan teknologi informasi dan komunikasi layak diteliti dalam mempengaruhi dinamika TPAK di suatu Pembangunan teknologi informasi dan komunikasi (PTIK) turut berperan dalam memperluas akses terhadap informasi pasar kerja, pelatihan daring, dan peluang kerja berbasis digital (Purba et al. , 2. Peningkatan penetrasi PTIK mendorong inklusi digital yang memungkinkan individu lebih mudah terhubung dengan dunia kerja, baik dalam sektor formal maupun informal berbasis teknologi. Berdasarkan data BPS, perkembangan PTIK di Pulau Jawa merupakan yang tertinggi di Indonesia. Tingginya PTIK ini mengindikasikan pembangunan teknologi di Pulau Jawa berkembang pesat dan sudah diterima oleh kalangan umum. Menurut Keynes dalam penelitian (Strawn, 2. menyatakan teknologi dipandang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan produktivitas tenaga kerja, namun di sisi lain terjadi peningkatan potensi technological unemployment, kondisi ketika inovasi teknologi menggantikan peran manusia lebih cepat daripada kemampuan ekonomi menyerap tenaga kerja baru. Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9. | 294 Penggunaan teknologi dapat memperluas peluang kerja dalam jangka panjang, tanpa kebijakan penyesuaian yang tepat, teknologi justru dapat menurunkan partisipasi angkatan kerja dalam jangka pendek (Szaby-Szentgryti et al. , 2. Penelitian Suhaib & Kartiasih . menemukan bahwa akses internet berpengaruh positif dan signifikan terhadap partisipasi angkatan kerja karena memudahkan mereka dalam memperoleh informasi, peluang kerja, serta menjalankan aktivitas ekonomi secara daring. Selain itu, internet juga mendukung fleksibilitas kerja seperti work from home, yang memungkinkan pekerja tetap produktif tanpa harus meninggalkan peran Sedangkan penelitian Acemoglu & Restrepo . menemukan bahwa teknologi berpengaruh negatif dan signifikan terhadap partisipasi pekerja. Temuan pada penelitian ini menunjukkan bahwa otomatisasi pada pekerjaan rutin dan skill menengah ke bawah menyebabkan menurunnya angka partisipasi pekerja. Kondisi tersebut menyebabkan sebagian pekerja dengan keterampilan rendah tersingkir atau memilih keluar dari pasar kerja. Keputusan individu untuk menawarkan tenaga kerjanya juga dipengaruhi oleh pertimbangan rasional terhadap manfaat ekonomi yang akan diterima dari aktivitas Semakin besar kompensasi yang diperoleh, semakin tinggi kecenderungan individu untuk memasuki pasar tenaga kerja. Upah merupakan salah satu faktor yang menentukan partisipasi pekerja untuk masuk kedalam pasar tenaga kerja (Beverly et al. Upah di Indonesia umumnya diatur dalam kebijakan Upah Minimum, yang terdiri dari Upah Minimum Provinsi (UMP) dan Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK). Regulasi mengenai upah minimum diatur dalam Undang-Undang Ketenagakerjaan Nomor 13 Tahun 2003 serta diperkuat oleh Peraturan Pemerintah Nomor 36 Tahun 2021 tentang Pengupahan sebagai turunan dari Undang-Undang Cipta Kerja. Tujuan utama penetapan upah minimum ini adalah untuk melindungi pekerja dari upah yang terlalu rendah, menjamin penghasilan layak, dan sekaligus meningkatkan kesejahteraan tenaga kerja. Berdasarkan teori upah efisiensi dari Mankiw menjelaskan bahwa pemberian upah yang lebih tinggi dari tingkat ekuilibrium pasar dapat meningkatkan produktivitas tenaga kerja melalui beberapa mekanisme, antara lain mengurangi perputaran tenaga kerja, meningkatkan motivasi dan usaha kerja, menarik pekerja yang lebih berkualitas, serta memperbaiki kesehatan pekerja sehingga kapasitas kerjanya lebih optimal (Mankiw, 2. Peningkatan upah dapat memberikan insentif bagi individu untuk masuk atau tetap berada dalam angkatan kerja, sehingga berimplikasi pada peningkatan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK). Penelitian oleh Iwasaki et al . menunjukkan bahwa upah menjadi faktor penting dalam menentukan respon pasar tenaga kerja. Kondisi upah yang kaku, menyebabkan pekerja cenderung terdorong untuk masuk pasar tenaga kerja . dded worker effec. Temuan ini memperkuat bahwa kebijakan pengupahan memiliki pengaruh signifikan terhadap dinamika partisipasi angkatan kerja. Sedangkan penelitian Ariesti & Asmara . menunjukkan hubungan upah dengan TPAK adalah negatif dan Hasil ini menunjukkan bahwa kenaikan upah mendorong pengusaha untuk beralih pada penggunaan teknologi, sehingga kebutuhan tenaga kerja berangsur digantikan oleh barang modal. Dalam kondisi upah yang tinggi, pengusaha cenderung lebih memilih tenaga kerja dengan tingkat produktivitas yang lebih tinggi. Pembangunan ekonomi memerlukan aliran modal untuk meningkatkan kapasitas produksi dan mendorong aktivitas ekonomi. Investasi merupakan unsur penting yang mencerminkan pergerakan modal dalam memperkuat struktur produksi dan pertumbuhan ekonomi (Nguyen et al. , 2. Investasi merupakan pengeluaran yang dilakukan perusahaan untuk membeli barang modal dan peralatan produksi, agar kapasitas perekonomian dalam menghasilkan barang dan jasa dapat meningkat yang memiliki peran strategis dalam menciptakan lapangan kerja baru (Regiyati & Rusli, 2. Aliran modal yang mengalir diharapkan dapat mendorong pembentukan tenaga kerja melalui investasi pada sektor padat karya (Latifunisa & Nihayah, 2. Pembentukan Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9. | 295 Modal Tetap Bruto (PMTB) mencerminkan bertambahnya investasi fisik yang mampu memperkuat kapasitas produksi dan memperluas kegiatan ekonomi. Kondisi tersebut berpotensi menciptakan lapangan kerja baru sehingga tejadi peningkatan tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK). Berdasarkan data BPS. Pulau Jawa merupakan daerah dengan penerimaan investasi terbesar di Indonesia. Perolehan investasi dalam jumlah besar memungkinkan dilakukannya ekspansi usaha yang berpotensi menciptakan lapangan kerja. Menurut Dunning dalam penelitian (Djokoto, 2. menyatakan investasi langsung meningkatkan TPAK melalui pembentukan industri baru. Ketika investasi meningkat, maka aktivitas produksi dan ekspansi usaha cenderung berkembang, sehingga permintaan terhadap tenaga kerja juga bertambah. Oleh karena itu, investasi menjadi salah satu determinan utama dalam meningkatkan penyerapan tenaga kerja, yang pada akhirnya berkontribusi terhadap peningkatan TPAK. Berdasarkan penelitian Amin dkk. , . menunjukkan hasil bahwa investasi memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap peningkatan partisipasi tenaga kerja di 33 negara dunia. Investasi berperan dalam membentuk industri padat karya yang mampu menciptakan lapangan pekerjaan baru. Penelitian Nguyen dkk. mengungkapkan bahwa investasi asing memberikan peluang kerja baru melalui pendirian kantor atau pabrik yang membutuhkan tenaga kerja lokal. Sedangkan penelitian Jude & Silaghi . menunjukkan hasil bahwa hubungan investasi terhadap TPAK adalah negatif dan signifikan. Hasil ini dipengaruhi oleh kecenderungan investor untuk menaruh investasi terhadap proyek berbasis padat modal, disisi lain penggunaan mesin canggih menggeser pekerja yang mempunyai skill rendah. Berdasarkan latar belakang diatas penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh masing-masing variabel independen upah, investasi, dan Perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi terhadap Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) di Pulau Jawa tahun 2017-2023. Adapun hipotesis dalam penelitian ini yakni. Ha1: PTIK berpengaruh negatif terhadap TPAK pada Provinsi di Pulau Jawa tahun 2017-2023. Ha2: upah berpengaruh positif terhadap TPAK pada Provinsi di Pulau Jawa tahun 2017-2023. Ha3: Investasi berpengaruh positif terhadap terhadap TPAK pada Provinsi di Pulau Jawa tahun 2017-2023. Kebaruan dari penelitian ini terletak pada rentang tahun yang terbaru yaitu tahun 2017-2023 selain itu, penelitian ini mencoba menggabungkan sejumlah variabel makroekonomi yang belum banyak diteliti secara bersama-sama dalam konteks partisipasi angkatan kerja. Urgensi penelitian ini yaitu mengingat Indonesia tengah berada dalam momentum bonus demografi khususnya Pulau Jawa yang memiliki populasi terbesar, apabila tidak diiringi dengan peningkatan partisipasi angkatan kerja secara optimal, justru dapat menjadi beban pembangunan jangka panjang. Di sisi lain, partisipasi angkatan kerja merupakan salah satu indikator penting dalam mencerminkan kualitas dan kapasitas SDM, sekaligus menjadi penopang utama dalam penggerak ekonomi nasional. Metode Analisis Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif yang bertujuan menguji hipotesis teori secara empiris. Penelitian kuantitatif bertujuan untuk menguji hipotesis, mengumpulkan data empiris, dan evaluasi statistik dalam penyajian secara sistematis. Data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data sekunder yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS) untuk periode 2017Ae2023. Dataset tersebut mencakup indikator Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja, upah, investasi, dan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. Populasi dalam penelitian ini mencakup seluruh Provinsi di Pulau Jawa yang berjumlah 6 wilayah administratif. Penelitian ini menggunakan data panel dengan tiga pendekatan model digunakan, yaitu Common Effect Model (CEM). Fixed Effect Model (FEM), dan Random Effect Model (REM). Pemilihan model data panel dilakukan menggunakan Uji Chow. Uji Hausman, dan Uji Lagrange Multiplier (LM). Uji Chow digunakan untuk membandingkan Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9. | 296 CEM dan FEM, dengan cara membaca nilai probabilitas untuk melihat apakah terdapat perbedaan antar unit. Uji Hausman digunakan untuk memilih antara FEM dan REM dengan melihat ada tidaknya korelasi antara efek individual dan variabel independen. Sementara itu. Uji LM digunakan untuk menentukan apakah model yang sesuai adalah CEM atau REM berdasarkan ada tidaknya efek acak dalam data. Ketiga uji ini membantu peneliti memilih model panel yang paling tepat sesuai karakteristik data. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah regresi linier Pendekatan ini digunakan untuk mengetahui sejauh mana variabel independen, yaitu Pembangunan Teknologi Informasi dan Komunikasi (PTIK). Penanaman Modal Tetap Bruto (PMTB), dan Upah Minimum Provinsi (UMP), memengaruhi variabel dependen, yaitu Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) di enam provinsi di Pulau Jawa selama periode 2017Ae2023. Persamaan model ekonometrika yang digunakan sebagai berikut: TPAKt = yu1 PTIKti yu2 Log(PMTB)ti yu3 Log(UMP)ti eti Keterangan: : Intersep yu1, yu2, yu3 : Koefisien regresi variabel independen : Error term Tabel 1. Informasi Variabel Variable Kode Satuan Sumber Tingkat Partisipasi Tenaga Kerja Upah Pembentuk Modal Tetap Bruto Pembangunan Teknologi Informasi TPAK UMP PMTB PTIK Persen Rp (Rupia. Miliar Rupiah Poin BPS BPS BPS BPS Hipotesis Statistik Ho1: Variabel PTIK tidak berpengaruh negatif terhadap TPAK pada Provinsi di Pulau Jawa Tahun 2017-2023. Ha1: Variabel PTIK berpengaruh negatif terhadap TPAK pada Provinsi di Pulau Jawa Tahun 2017-2023. Ho2: Variabel PMTB tidak berpengaruh positif terhadap TPAK pada Provinsi di Pulau Jawa Tahun 2017-2023. Ha2: Variabel PMTB berpengaruh positif terhadap TPAK pada Provinsi di Pulau Jawa Tahun 2017-2023. Ho3: Variabel UMP tidak berpengaruh positif terhadap TPAK pada Provinsi di Pulau Jawa Tahun 2017-2023. Ha3: Variabel UMP berpengaruh positif terhadap TPAK pada Provinsi di Pulau Jawa Tahun 2017-2023. Hasil dan Pembahasan Hasil Penelitian Sebelum menentukan model data panel yang digunakan, dilakukan tiga pengujian utama yaitu Uji Chow. Uji Hausman, dan Uji Lagrange Multiplier (LM). Ketiga uji ini berfungsi untuk membandingkan model Common Effect. Fixed Effect, dan Random Effect sehingga dapat ditetapkan model yang paling sesuai dengan karakteristik data penelitian. Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9. | 297 Tabel 2. Hasil Uji Chow dan Hausman Uji Chow Effects Test Statistic Prob. Cross-section F Cross-section Chi-Square 92,604370 112,293506 . 0,0000 0,0000 Chi-Sq. Prob. 0,0002 Uji Hausman Test Summary Cross-Section random Sumber: data diolah. Eviews 10 Chi-Sq. Statistic 19,771923 Berdasarkan hasil pengujian yang disajikan pada Tabel 2. Uji Chow digunakan untuk menentukan apakah model yang lebih tepat digunakan adalah CEM atau FEM. Nilai probabilitas pada statistik F maupun Chi-Square tercatat sebesar 0,0000, yang berada di bawah 0,05. Dengan demikian, model CEM ditolak dan FEM lebih sesuai untuk Selanjutnya. Uji Hausman dilakukan untuk membandingkan antara model FEM dan REM. Hasil pengujian menunjukkan nilai probabilitas sebesar 0,0002 yang berada di bawah 0,05, sehingga model FEM menjadi model yang paling sesuai. Oleh karena itu. FEM ditetapkan sebagai model utama dalam analisis, karena dinilai mampu menangkap perbedaan karakteristik antarwilayah secara lebih akurat, dan konsisten. Berdasarkan analisis melalui regresi linear berganda pada tabel 3, maka diperoleh persamaan sebagai berikut: TPAK = -125,5632 -1,174608 PTIK 8,996053 LOG(PMTB) 6,142803 LOG(UMP) eti Berikut merupakan interpretasi dari hasil estimasi model tersebut: n Apabila variabel PTIK. PMTB, dan UMP diasumsikan konstan atau bernilai nol, maka nilai konstanta sebesar Ae125,56 menunjukkan bahwa tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) diperkirakan berada pada level tersebut dalam kondisi ceteris paribus. Berdasarkan nilai probabilitas model sebesar 0,000000 (< 0,. n Apabila PTIK mengalami peningkatan 1% maka tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) menurun 1,17% dengan asumsi cateris paribus. n Apabila Log (PMTB) mengalami peningkatan 1% maka tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) meningkat 8,99% dengan asumsi cateris paribus. n Apabila Log (UMP) mengalami peningkatan 1% maka tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) meningkat 6,14% dengan asumsi cateris paribus. Tabel 3. Hasil Regresi Berganda Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob. PTIK LOG(PMTB) LOG(UMP) -1,174608 8,996053 6,142803 -125,5632 0,738793 2,846252 2,199128 39,21087 -1,589901 3,160666 2,793290 -3,202253 0,1217 0,0034 0,0087 0,0031 R-squared Adjusted R-squared Jarque-Bera 0,969898 F-statistic 0,962372 Prob(F-statisti. Normality test: Jarque-Bera Test 0,752144 Probability 128,8802 0,000000 0,686553 Sumber: data diolah. Eviews 10 Uji Statistik Uji F Uji F dilakukan untuk menilai apakah seluruh variabel independen secara bersamasama memiliki pengaruh yang signifikan terhadap variabel dependen. Suatu model Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9. | 298 dikatakan signifikan secara simultan apabila nilai probabilitas F-statistik lebih kecil dari tingkat signifikansi 0,05. Berdasarkan hasil analisis, diperoleh nilai probabilitas F-statistik sebesar 0,0000, yang lebih kecil dari 0,05. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa variabel PTIK. PMTB, dan UMP secara simultan berpengaruh signifikan terhadap tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) di Pulau Jawa. Uji t Uji t digunakan untuk mengukur seberapa besar pengaruh masing-masing variabel independen terhadap variabel dependen secara parsial. Berdasarkan hasil uji T statistik, diperoleh hasil berikut: n Variabel PTIK memiliki probabilitas sebesar 0,1217 > 0. 05, sehingga secara statistik variabel ini tidak berpengaruh negatif terhadap Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja. n Variabel PMTB menunjukkan probabilitas sebesar 0,0034 < 0. 05, sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel ini berpengaruh positif terhadap Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja. n Variabel UMP memiliki probabilitas sebesar 0,0087 < 0. 05, yang mengindikasikan bahwa variabel ini berpengaruh positif terhadap Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja. Koefisien determinasi Koefisien determinasi digunakan untuk mengukur sejauh mana variabel independen mampu menjelaskan variasi dari variabel dependen. Semakin tinggi nilai RA, semakin kuat kemampuan model dalam menggambarkan hubungan antarvariabel. Berdasarkan hasil estimasi, nilai RA diperoleh sebesar 0,9698, yang berarti 96,98% variasi dalam TPAK dapat dijelaskan oleh variabel PTIK. PMTB, dan UMP, sedangkan sisanya sebesar 3,02% dijelaskan oleh faktor lain di luar model. Uji Asumsi Klasik Uji Normalitas Uji normalitas bertujuan untuk memastikan apakah data residual dalam model regresi berdistribusi normal. Model dapat dikatakan berdistribusi normal apabila nilai probabilitas JarqueAeBera lebih besar dari 0,05. Berdasarkan hasil pengujian yang ditampilkan pada Tabel 3, diketahui bahwa model memenuhi asumsi normalitas, karena nilai probabilitas JarqueAeBera sebesar 0,686 lebih besar dari 0,05. Dengan demikian, residual pada model ini terdistribusi secara normal. Uji Heteroskedastisitas Uji heteroskedastisitas dilakukan untuk mengidentifikasi ada atau tidaknya ketidaksamaan varians residual antar pengamatan. Apabila nilai probabilitas Obs RA lebih besar dari 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa model tidak mengalami heteroskedastisitas dan bersifat homoskedastis. Berdasarkan hasil pengujian, diperoleh nilai probabilitas Obs RA sebesar 0,0681, yang lebih besar dari 0,05. Oleh karena itu, model ini dinyatakan bebas dari gejala heteroskedastisitas, dan varians dari residual antar pengamatan dapat dianggap konstan. Kondisi ini menunjukkan bahwa model regresi memiliki stabilitas varians yang baik dan hasil estimasi yang dihasilkan tidak bias. Tabel 4. Hasil Uji Heterokedastisitas Heteroskedasticity Test: Breusch-Pagan-Godfrey F-statistic Obs*R-squared Scaled explained SS 2,191666 15,94332 11,50525 Prob. Prob. Chi-Square. Prob. Chi-Square. 0,0508 0,0681 0,2427 Sumber: data diolah. Eviews 10 Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9. | 299 Uji Multikolinearitas Uji multikolinearitas bertujuan untuk mengetahui ada atau tidaknya hubungan linear yang kuat antarvariabel independen. Model dapat dikatakan bebas dari multikolinearitas apabila nilai Variance Inflation Factor (VIF) masing-masing variabel independen lebih kecil dari 10. Berdasarkan hasil uji, nilai centered VIF untuk variabel PTIK sebesar 4,219, untuk variabel PMTB sebesar 2,447, dan untuk variabel UMP sebesar 5,224. Seluruh nilai tersebut berada di bawah angka 10, sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat gejala multikolinearitas pada model ini. Artinya, masing-masing variabel independen memiliki kontribusi yang berbeda dalam menjelaskan variasi TPAK, tanpa adanya hubungan kuat yang saling mendistorsi antarvariabel. Tabel 5. Hasil Uji Multikolinearitas Variable Coefficient Variance Uncentered VIF Centered VIF PTIK LOG(PMTB) LOG(UMP) 1,076110 0,370774 7,161585 794,4265 246,0797 328,8330 8776,720 4599,571 4,219421 2,447061 5,224146 Sumber: data diolah. Eviews 10 Pembahasan Pengaruh Pembangunan Teknologi Informasi Terhadap Tingkat Partisipasi Tenaga Kerja Variabel Pembangunan Teknologi Informasi dan Komunikasi (PTIK) menunjukkan arah pengaruh negatif terhadap Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) meskipun tidak signifikan secara statistik. Hasil ini menerima Ho1 yang menyatakan perkembangan teknologi di Pulau Jawa belum secara langsung mendorong peningkatan partisipasi tenaga kerja. Hasil ini selaras dengan penelitian Grigoli et al. yang menunjukkan peningkatan penggunaan teknologi menimbulkan dampak pada menurunnya partisipasi tenaga kerja di negara-negara maju. Teknonologi menggantikan peran pada pekerjaan yang berulang. Efek teknologi akan memperkecil peluang kerja pada pekerja dengan keterampilan teknologi mimim. Pergeseran ini memicu pertumbuhan lapangan pekerjaan baru di bidang data. IOT dan informasi yang berbasis pada pengetahuan Hasil penelitian ini didukung oleh penelitian Acemoglu & Restrepo . menegaskan bahwa perkembangan teknologi dan otomatisasi cenderung menggantikan pekerjaan rutin serta menekan permintaan terhadap tenaga kerja berkemampuan rendah. Kondisi ini menyebabkan sebagian pekerja tersisih dari pasar kerja karena tidak memiliki keterampilan digital yang memadai untuk beradaptasi dengan kebutuhan industri baru. Konsistensi ini menunjukkan bahwa adopsi teknologi tanpa kesiapan kompetensi dapat melemahkan partisipasi angkatan kerja. Kondisi ini mengindikasikan bahwa kemajuan teknologi cenderung menekan keterlibatan tenaga kerja di sektor-sektor yang mulai terdigitalisasi. Namun, karena hubungan tersebut tidak signifikan, dapat disimpulkan bahwa dampak teknologi terhadap pasar kerja masih lemah dan belum merata. Sehingga mencerminkan bahwa transformasi digital di Pulau Jawa belum diiringi dengan kesiapan sumber daya manusia yang memadai, sehingga efeknya terhadap partisipasi kerja belum terasa secara nyata. Otomatisasi yang terjadi mengurangi kebutuhan terhadap pekerjaan berkemampuan rendah, terutama pada sektor industri dan jasa yang telah mengadopsi sistem berbasis Kondisi tersebut menunjukkan bahwa adopsi teknologi tanpa peningkatan keterampilan tenaga kerja dapat menimbulkan ketimpangan dalam penyerapan tenaga kerja. Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9. | 300 Pengaruh PMTB Terhadap Tingkat Partisipasi Tenaga Kerja Penanaman Modal Tetap Bruto (PMTB) berpengaruh positif dan signifikan terhadap Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) di Pulau Jawa. Hasil ini menerima Ha2 yang menunjukkan bahwa peningkatan investasi mampu memperluas kesempatan kerja melalui ekspansi kegiatan ekonomi produktif. Secara empiris, provinsi dengan tingkat investasi tinggi seperti Jawa Barat dan Banten menunjukkan peningkatan partisipasi tenaga kerja yang lebih besar dibandingkan daerah lain. Temuan ini menegaskan bahwa investasi menjadi salah satu faktor utama yang menggerakkan dinamika pasar kerja di wilayah dengan basis industri yang kuat. Sejalan dengan penelitian Gyk & yunlyolu . yang menjelaskan bahwa arus investasi dapat memengaruhi tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) di suatu negara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa FDI memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap partisipasi angkatan kerja di negara-negara berkembang, karena pembukaan lapangan kerja baru dengan di sektor padat karya. Hasil penelitian ini konsisten dengan studi Amin et al. , . , yang menunjukkan bahwa peningkatan investasi mampu mendorong penciptaan lapangan kerja melalui ekspansi kapasitas produksi dan pembentukan sektor-sektor padat karya. Investasi berperan sebagai katalis pertumbuhan ekonomi yang selanjutnya meningkatkan permintaan tenaga kerja. Kesesuaian ini menegaskan bahwa aliran investasi yang produktif dapat menjadi instrumen penting dalam memperluas kesempatan kerja dan meningkatkan partisipasi angkatan kerja. Peningkatan PMTB tidak hanya menambah stok modal, tetapi juga menciptakan permintaan terhadap tenaga kerja baru di sektor konstruksi, manufaktur, dan jasa. Oleh karena itu, hasil penelitian ini memperkuat pandangan bahwa kebijakan yang berfokus pada peningkatan investasi produktif dapat menjadi instrumen strategis untuk mendorong peningkatan partisipasi tenaga kerja dan memperkuat struktur ekonomi Pengaruh Upah Terhadap Tingkat Partisipasi Tenaga Kerja Upah Minimum Provinsi (UMP) berpengaruh positif dan signifikan terhadap Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) di Pulau Jawa. Hasil ini menunjukkan bahwa kenaikan upah minimum dapat mendorong masyarakat untuk memasuki pasar kerja karena meningkatnya insentif ekonomi yang diterima. Dengan demikian, penelitian ini menerima Ha3 yang menyatakan bahwa peningkatan UMP berperan dalam memperluas partisipasi tenaga kerja. Secara empiris, provinsi dengan penyesuaian UMP yang lebih tinggi, seperti Jawa Timur dan Jawa Tengah, cenderung menunjukkan peningkatan TPAK selama periode penelitian. Hasil ini sejalan dengan Penelitian oleh Siregar . menunjukkan bahwa kenaikan upah minimum membuat lebih banyak orang ikut masuk ke pasar kerja di daerah yang menaikkan upah, sehingga meningkatnya TPAK di Pulau Jawa. Temuan ini memperkuat bahwa kebijakan pengupahan memiliki pengaruh signifikan terhadap dinamika partisipasi angkatan kerja. Hasil penelitian konsisten dengan temuan Iwasaki et al. , . yang mengungkapkan bahwa struktur upah memiliki peran penting dalam menentukan dinamika partisipasi tenaga kerja. Ketika upah bersifat kaku, sebagian rumah tangga terdorong masuk ke pasar kerja sebagai respons terhadap tekanan ekonomi, menghasilkan added worker effect. Temuan tersebut memperlihatkan bahwa perubahan tingkat upah tidak hanya memengaruhi keputusan perusahaan dalam menyerap tenaga kerja, tetapi juga memengaruhi keputusan rumah tangga dalam menawarkan tenaga kerja. Peningkatan upah akan menarik lebih banyak individu untuk bekerja. Namun, dampak positif tersebut perlu diimbangi dengan peningkatan produktivitas agar tidak menimbulkan tekanan bagi sektor usaha. Efektivitas kebijakan upah minimum sangat bergantung pada struktur ekonomi dan kapasitas industri di tiap wilayah. Secara Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9. | 301 keseluruhan, peningkatan UMP terbukti mampu memperkuat partisipasi kerja di wilayah dengan produktivitas tinggi dan sektor formal yang dominan. Simpulan dan Saran Temuan utama dari penelitian ini menunjukkan bahwa Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) dan upah berpengaruh positif dan signifikan terhadap TPAK. PMTB mendorong pertumbuhan TPAK karena investasi dalam pembangunan mesin, infrastruktur, dan teknologi meningkatkan kapasitas produksi berbagai lini sektor padat UMP berkontribusi positif terhadap TPAK karena upah yang memadai meningkatkan produktivitas dan daya beli tenaga kerja. Sebaliknya. PTIK menunjukkan pengaruh negatif namun tidak signifikan terhadap TPAK, yang kemungkinan disebabkan oleh persebaran teknologi, inovasi yang belum optimal. Disisi lain transformasi digital dan otomatisasi yang terjadi cenderung mengurangi kebutuhan terhadap pekerjaan berkemampuan rendah, terutama pada sektor yang mulai terdigitalisasi sehingga pengaruhnya terhadap TPAK negatif tetapi tidak signifikan. Penelitian ini menyoroti pentingnya PMTB dan kebijakan upah dalam memperkuat TPAK sebagai indikator kinerja sektor serta menekankan perlunya kesiapan tenaga kerja untuk memanfaatkan inovasi teknologi. Temuan dalam penelitian diharapkan mampu memberikan kontribusi ilmiah dalam memperluas literatur mengenai determinan pertumbuhan TPAK. Keterbatasan dalam penelitian meliputi cakupan data yang terbatas dan belum memasukkan variabel eksternal lain yang mungkin memengaruhi TPAK, seperti kondisi makroekonomi atau kebijakan fiskal. Oleh karena itu, penelitian selanjutnya disarankan untuk memperluas periode waktu, memasukkan variabel tambahan, atau menggunakan metode yang lebih komprehensif agar pemahaman mengenai faktorfaktor yang memengaruhi TPAK dapat lebih mendalam. Ucapan Terimakasih Penulis menyampaikan apresiasi kepada seluruh civitas akademika Prodi Ekonomi Pembangunan. Fakultas Ekonomika dan Bisnis. Universitas Negeri Semarang atas dukungan akademik yang berkesinambungan, penyediaan lingkungan ilmiah yang kondusif, serta kontribusi keilmuan yang sangat berarti dalam proses penyusunan artikel Fasilitas dan dukungan yang diberikan telah memungkinkan penulis untuk memperluas pemahaman, mengembangkan analisis secara sistematis, dan menyelesaikan penelitian ini dengan lebih terstruktur dan mendalam. Referensi