TIME JOURNAL: Journal of Islamic Taransformation and Education Management https://journal. id/index. php/time/index Vol 2. No 1, 2025 | Page . PENGARUH PROBLEM-BASED LEARNING TERHADAP PEMAHAMAN KONSEP TASAWUF PADA MAHASISWA PAI Hamdan Robbani *1. Solchan Ghozali 2 1, 2 Universitas Sunan Giri Surabaya. Indonesia 1uO robbanihamdan@gmail. com, 2uO solchanghozali99@gmai. Abstract This study aims to analyze the effect of the Problem-Based Learning (PBL) method on the ability to understand the concept of Sufism of students at the Islamic Religious Education Study Program. Sunan Giri University. Surabaya. The background of this study is based on the problem that abstract and philosophical Sufism learning is often difficult for students to understand if it is only taught through conventional lecture methods. This study uses a quantitative approach with a quasi-experimental method and a nonequivalent control group pretest-posttest design. The research sample consisted of 60 students who were divided into an experimental group with PBL learning and a control group with conventional Data collection instruments were in the form of a Sufism concept understanding test, observation sheets, and student response questionnaires. The results of the analysis showed that the application of PBL significantly increased the average score of understanding the concept of Sufism compared to conventional methods with a calculated F value of 28. 74 and an effect size of 0. Observation and questionnaire data also support that PBL encourages active participation and helps students relate the concept of Sufism to contemporary spiritual problems. The implications of this study indicate that PBL can be an alternative effective learning method to ground Sufism teachings in Islamic higher education In addition to being relevant in Indonesia, the PBL model has the potential to be adapted in various international and cross-cultural contexts to support more contextual, reflective, and applicable spiritual learning. Keywords: Problem-Based Learning. Sufism. Islamic Religious Education History Articles Received 7/4/2025 Revised 27/5/2025 Accepted 25/6/2025 Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh metode Problem-Based Learning (PBL) terhadap kemampuan pemahaman konsep tasawuf mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam Universitas Sunan Giri Surabaya. Latar belakang penelitian ini berangkat dari permasalahan bahwa pembelajaran tasawuf yang bersifat abstrak dan filosofis sering kali sulit dipahami mahasiswa apabila hanya diajarkan melalui metode ceramah konvensional. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode eksperimen kuasi dan desain pretest-posttest nonequivalent control group. Sampel penelitian berjumlah 60 mahasiswa yang dibagi menjadi kelompok eksperimen dengan pembelajaran PBL dan kelompok kontrol dengan pembelajaran konvensional. Instrumen pengumpulan data berupa tes pemahaman konsep tasawuf, lembar observasi, dan angket respon mahasiswa. Hasil analisis menunjukkan bahwa penerapan PBL secara signifikan meningkatkan rata-rata skor pemahaman konsep tasawuf dibandingkan metode konvensional dengan nilai F hitung 28,74 dan effect size 0,67. Data observasi dan angket juga mendukung bahwa PBL mendorong partisipasi aktif serta membantu mahasiswa mengaitkan konsep tasawuf dengan masalah spiritual kontemporer. Implikasi penelitian ini menunjukkan bahwa PBL dapat menjadi alternatif metode pembelajaran yang efektif untuk membumikan ajaran sufistik di lingkungan pendidikan tinggi Islam. Selain relevan di Indonesia, model PBL berpotensi diadaptasi di berbagai konteks internasional dan lintas budaya untuk mendukung pembelajaran spiritual yang lebih kontekstual, reflektif, dan Kata Kunci: Problem-Based Learning. Tasawuf. Pendidikan Agama Islam How to Cite: Robbani. , & Ghozali. The Influence of Problem-Based Learning on Understanding the Concept of Sufism in Islamic Religious Education Students: Pengaruh Problem-Based Learning Terhadap Pemahaman Konsep Tasawuf Pada Mahasiswa PAI. Transformation of Islamic Management and Education, 2. , 10Ae17. Doi: https://doi. org/10. 65663/timejournal. INTRODUCTION Pendidikan Agama Islam di perguruan tinggi tidak hanya bertujuan untuk membekali mahasiswa dengan pengetahuan dasar keislaman, tetapi juga mengasah kemampuan berpikir kritis dan memperdalam pemahaman mahasiswa terhadap nilaiPage | 10 nilai spiritual dan moralitas. Salah satu cabang ilmu yang memiliki peran strategis dalam menginternalisasi nilai-nilai tersebut adalah tasawuf. Ilmu tasawuf memberikan dasardasar spiritualitas melalui ajaran pensucian jiwa . azkiyah al-naf. dan pengamalan akhlak mulia yang menjadi fondasi pembentukan karakter Muslim sejati (Muvid, & Kholis. Rahman, et al. , 2. Meskipun demikian, sifat tasawuf yang kontemplatif dan filosofis sering menimbulkan tantangan tersendiri dalam proses pembelajarannya. Mahasiswa kerap merasa kesulitan untuk memahami konsep-konsep abstrak seperti maqamat, ahwal, dan mahabbah karena penyampaiannya yang cenderung teoritis dan minim praktik reflektif (Sariyar, 2024. Nasser, 2022. Ni'am, 2. Di Universitas Sunan Giri Surabaya, tasawuf diajarkan sebagai mata kuliah wajib dalam kurikulum PAI. Namun, hasil observasi awal dan wawancara dengan beberapa dosen menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa belum mampu menguasai substansi tasawuf secara mendalam. Kendala ini semakin diperparah oleh pola pembelajaran yang masih dominan menggunakan metode ceramah satu arah, sehingga mahasiswa lebih sering menjadi penerima informasi pasif dan jarang dilibatkan dalam diskusi kritis serta pemecahan masalah nyata yang relevan dengan kehidupan spiritual kontemporer (Burbules, 2020. Marshall, 2024. Dami, et al. , 2. Berbagai studi di ranah pendidikan Islam telah mengindikasikan bahwa metode Problem-Based Learning (PBL) efektif dalam mendorong pemahaman konseptual dan keterampilan berpikir tingkat tinggi mahasiswa. PBL, yang menekankan pemecahan masalah kontekstual dan kolaborasi aktif, terbukti dapat menjembatani kesenjangan antara teori dan praktik, sebagaimana diungkapkan oleh Hussein. Sukack, et , . , serta Galdames-Calderyn, et al. , . Meskipun demikian, penelitianpenelitian tersebut sebagian besar terfokus pada bidang teologi atau kajian hukum Islam, sedangkan implementasi PBL pada domain pembelajaran tasawuf masih jarang disentuh, baik di Indonesia maupun di lingkup perguruan tinggi Islam di dunia Islam pada Kekosongan kajian ini menjadi celah riset yang perlu diisi untuk menjawab tantangan aktual pembelajaran tasawuf yang menuntut metode inovatif dan kontekstual. Penelitian ini hadir untuk memberikan kontribusi empiris dalam memperkaya literatur mengenai penerapan PBL dalam ranah sufisme, dengan fokus pada bagaimana PBL dapat memfasilitasi mahasiswa PAI dalam memahami konsep-konsep tasawuf secara lebih mendalam dan aplikatif. Penelitian ini juga mengeksplorasi sejauh mana mahasiswa merespons pendekatan PBL ketika dihadapkan pada kasus-kasus spiritual kontemporer yang relevan dengan dinamika kehidupan mereka. Diharapkan hasil penelitian ini tidak hanya memberikan sumbangan teoretis dengan menambah perspektif baru terkait pengembangan metode pembelajaran inovatif dalam studi Islam, khususnya tasawuf, tetapi juga menawarkan rekomendasi praktis bagi para pendidik untuk merancang pembelajaran tasawuf yang lebih interaktif, reflektif, dan mampu membumikan nilai-nilai spiritual ke dalam kehidupan sehari-hari mahasiswa. Dengan demikian, upaya pengembangan PAI di perguruan tinggi dapat semakin relevan dan berdampak pada pembentukan karakter mahasiswa yang berakhlak mulia sesuai dengan cita-cita pendidikan Islam. RESEARCH METHODS Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode eksperimen kuasi yang mengadopsi desain pretest-posttest nonequivalent control group design sebagaimana direkomendasikan oleh Bamrungsin, dan Khampirat, . Pendekatan ini dipilih karena memungkinkan peneliti untuk membandingkan dua kelompok mahasiswa, yaitu kelompok eksperimen yang memperoleh perlakuan berupa penerapan ProblemBased Learning (PBL) dan kelompok kontrol yang tetap menggunakan metode konvensional berupa ceramah dan diskusi, dengan kondisi kelas yang sudah terbentuk sehingga randomisasi penuh tidak dimungkinkan, sesuai pertimbangan Li, dkk. , . Populasi penelitian ini mencakup seluruh mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam Universitas Sunan Giri Surabaya yang terdaftar pada mata kuliah Tasawuf pada semester genap tahun akademik 2024/2025 dengan jumlah keseluruhan enam puluh mahasiswa. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik purposive sampling, dengan mempertimbangkan kesetaraan kemampuan awal mahasiswa yang diukur melalui pretest serta rekomendasi dari dosen pengampu sebagaimana diuraikan oleh Magnone, dan Yezierski, . Dari populasi tersebut, dua kelas ditetapkan sebagai kelompok penelitian, yakni tiga puluh mahasiswa sebagai kelompok eksperimen yang Page | 11 mendapatkan pembelajaran dengan PBL dan tiga puluh mahasiswa lainnya sebagai kelompok kontrol yang mengikuti pembelajaran dengan metode ceramah dan diskusi Variabel bebas dalam penelitian ini adalah metode pembelajaran berbasis masalah, sedangkan variabel terikatnya adalah kemampuan pemahaman mahasiswa terhadap konsep-konsep tasawuf yang meliputi maqamat, ahwal, dan mahabbah. Untuk memperoleh data yang valid dan reliabel, penelitian ini menggunakan tiga jenis Instrumen utama berupa tes pemahaman konsep yang dirancang dalam bentuk soal uraian untuk mengevaluasi pemahaman mendalam mahasiswa mengenai materi tasawuf. Validitas tes dijamin melalui validitas isi yang diperiksa oleh dua ahli tasawuf dan satu pakar metodologi pendidikan. Uji reliabilitas dilakukan dengan teknik CronbachAos Alpha yang menghasilkan koefisien sebesar 0,85, menunjukkan tingkat konsistensi internal yang tinggi (Jahrami, et al. , 2023. Cerri, et al. , 2. Selain tes, peneliti juga menggunakan lembar observasi untuk memantau aktivitas mahasiswa selama pembelajaran berlangsung, mencakup partisipasi dalam diskusi kelompok, kontribusi dalam penyelesaian masalah, dan kemampuan mengaitkan kasus dengan konsep tasawuf, sebagaimana diuraikan oleh Ardiansyah, dkk . Instrumen ketiga berupa angket respon mahasiswa menggunakan skala Likert dengan rentang satu sampai lima untuk menggali persepsi, minat, serta hambatan yang mereka alami selama mengikuti pembelajaran PBL. Prosedur pelaksanaan penelitian diawali dengan pelaksanaan pretest pada kedua kelompok untuk memastikan adanya kesetaraan kemampuan awal. Setelah itu, kelompok eksperimen diberikan perlakuan berupa pembelajaran berbasis masalah dengan cara menghadirkan studi kasus aktual yang relevan dengan problematika spiritual kontemporer, seperti pengaruh media sosial terhadap kualitas spiritualitas. Mahasiswa kemudian didorong untuk bekerja secara kolaboratif dalam kelompok kecil untuk menganalisis kasus tersebut menggunakan teori dan konsep tasawuf, sesuai pendekatan pembelajaran aktif yang direkomendasikan oleh Ahmad, . Sementara itu, kelompok kontrol melaksanakan pembelajaran dengan metode ceramah interaktif dan diskusi terstruktur tanpa diberikan studi kasus mendalam. Setelah rangkaian perlakuan selama delapan kali pertemuan, posttest dilaksanakan pada kedua kelompok untuk mengukur peningkatan pemahaman konsep tasawuf. Dalam rangka menjaga kualitas penelitian dan mengendalikan potensi bias, beberapa langkah mitigasi dilakukan. Peneliti memastikan bahwa soal pretest dan posttest dikembangkan secara paralel untuk menghindari bias pengukuran. Penilaian jawaban mahasiswa dilakukan dengan prinsip blind marking, di mana identitas mahasiswa disembunyikan agar penilai tidak terpengaruh oleh faktor subjektif. Selain itu, peneliti menjaga konsistensi kondisi pembelajaran pada kedua kelompok agar perlakuan hanya berbeda pada metode pembelajarannya saja. Variabel luar seperti motivasi belajar dan kehadiran dikendalikan melalui monitoring ketat di setiap pertemuan. Analisis data dilakukan melalui beberapa tahap. Data hasil tes diuji normalitasnya dengan Shapiro-Wilk dan homogenitasnya dengan LeveneAos Test sebagaimana diuraikan oleh de Souza, dkk . Apabila data memenuhi asumsi normalitas, perbedaan peningkatan pemahaman antara kelompok eksperimen dan kontrol dianalisis menggunakan Independent Sample t-test sesuai panduan Fiandini, dkk . Jika asumsi normalitas tidak terpenuhi, maka analisis dilakukan dengan Mann-Whitney U Test. Sementara itu, data hasil observasi aktivitas mahasiswa dan respon angket dianalisis secara deskriptif tematik dengan metode analisis isi sebagaimana disarankan oleh Xu, dan Zammit, . untuk menggali pola-pola tema yang muncul. Penelitian ini dilaksanakan dengan memperhatikan prinsip etika penelitian. Sebelum pengumpulan data, peneliti mengurus persetujuan resmi dari pihak fakultas dan menyampaikan informed consent kepada seluruh peserta penelitian. Mahasiswa diberikan penjelasan mengenai tujuan penelitian, prosedur perlakuan, hak untuk menarik diri kapan saja, serta jaminan kerahasiaan identitas dan data pribadi mereka. Segala proses pelaksanaan penelitian dilaksanakan sesuai dengan kode etik akademik dan ketentuan penelitian manusia yang berlaku di lingkungan perguruan tinggi Islam. FINDINGS AND DISCUSSION Berdasarkan hasil analisis deskriptif (Tabel . , terlihat adanya peningkatan skor belajar pada kedua kelompok, baik eksperimen maupun kontrol. Pada kelompok eksperimen yang menggunakan pendekatan Problem-Based Learning (PBL), nilai rataPage | 12 rata pretest adalah 58,7 dengan standar deviasi 7,2, meningkat secara signifikan menjadi 81,3 pada posttest dengan standar deviasi 5,9. Sementara itu, kelompok kontrol yang menggunakan metode konvensional menunjukkan peningkatan dari rata-rata pretest 57,9 (SD = 6,. menjadi 68,4 pada posttest (SD = 6,. Data ini menunjukkan bahwa meskipun kedua kelompok mengalami peningkatan hasil belajar, kelompok yang menggunakan pendekatan PBL menunjukkan peningkatan yang lebih besar baik dari segi nilai maupun konsistensi . erlihat dari penurunan standar devias. Tabel 1. Hasil Analisis Deskriptif Kelompok Jenis Tes Rata-rata Standar Deviasi (SD) Pretest Eksperimen (PBL) Posttest Pretest Kontrol (Konvensiona. Posttest Selanjutnya, hasil analisis inferensial yang ditampilkan pada Tabel 2 menunjukkan bahwa data dari kedua kelompok berdistribusi normal berdasarkan uji Shapiro-Wilk . > 0,. , dan varian data antara kelompok dinyatakan homogen berdasarkan hasil uji Levene . = 0,. Hal ini memenuhi asumsi dasar untuk dilakukan uji lanjut menggunakan ANCOVA. Hasil uji ANCOVA menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil belajar kelompok eksperimen dan kontrol setelah mengontrol nilai pretest, dengan F hitung sebesar 28,74 lebih besar dari F tabel . , dan nilai signifikansi p = 0,000 < 0,05. Selain itu, nilai effect size sebesar A = 0,67 menunjukkan pengaruh yang besar dari penggunaan model PBL terhadap peningkatan hasil belajar. Dengan demikian, pendekatan PBL terbukti secara statistik lebih efektif dibandingkan metode pembelajaran Tabel 2. Hasil Analisis Inferensial Jenis Uji Hasil Normalitas (Shapiro-Wil. Data berdistribusi normal . > 0,. Homogenitas (LeveneAo. Varian homogen . = 0,. F hitung = 28,74 > F tabel = 4,00 . = 0,000 < 0,. ANCOVA Efek ukuran (A) = 0,67 . ategori besa. Ada perbedaan signifikan antara kelompok PBL dan Kesimpulan Penelitian ini mengungkap pengaruh signifikan metode Problem-Based Learning (PBL) terhadap kemampuan pemahaman konsep tasawuf pada mahasiswa Pendidikan Agama Islam. Data kuantitatif menunjukkan bahwa skor rata-rata pretest pada kelompok eksperimen adalah 58,7 dengan standar deviasi 7,2, sedangkan pada kelompok kontrol sebesar 57,9 dengan standar deviasi 6,8. Setelah perlakuan, rata-rata posttest pada kelompok eksperimen meningkat secara substansial menjadi 81,3 dengan standar deviasi 5,9, sedangkan pada kelompok kontrol hanya mencapai rata-rata 68,4 dengan standar deviasi 6,3. Gambar 1. Perbandingan Skor rata-rata Pemahaman Konsep Tasawuf Page | 13 Visualisasi hasil tersebut dapat dilihat pada grafik di atas, yang memperlihatkan adanya gap peningkatan skor yang lebih tinggi pada kelompok PBL dibandingkan kelompok kontrol. Uji normalitas Shapiro-Wilk menunjukkan distribusi data yang normal dengan nilai p lebih besar dari 0,05, sedangkan uji homogenitas LeveneAos Test menghasilkan nilai p sebesar 0,312 yang mengindikasikan homogenitas varian antar Analisis inferensial melalui ANCOVA menghasilkan F hitung sebesar 28,74 yang jauh melebihi F tabel sebesar 4,00, dengan nilai signifikansi p sebesar 0,000 yang lebih kecil dari 0,05. Nilai effect size sebesar 0,67 mengindikasikan besaran pengaruh yang tergolong kuat, menunjukkan bahwa penerapan PBL secara signifikan lebih efektif dalam meningkatkan pemahaman konsep tasawuf dibandingkan pembelajaran Data kualitatif mendukung temuan kuantitatif tersebut. Hasil observasi di kelas menunjukkan bahwa sebesar 85 persen mahasiswa pada kelompok eksperimen terlibat aktif dalam diskusi dan kolaborasi, serta 78 persen menunjukkan kemampuan menganalisis kasus tasawuf dengan argumentasi mendalam. Dari wawancara, 87 persen mahasiswa menyatakan bahwa pendekatan PBL memudahkan mereka memahami aplikasi konsep tasawuf ke dalam konteks nyata, meskipun 65 persen mengakui mengalami kesulitan pada tahap awal analisis kasus yang kompleks. Hasil ini selaras dengan teori konstruktivisme Vygotsky yang menekankan pembelajaran bermakna melalui interaksi sosial dan pemecahan masalah(Alkhudiry. Penemuan ini juga mengkonfirmasi temuan Arends yang menyatakan bahwa PBL mendorong mahasiswa untuk membangun pengetahuan melalui pengalaman belajar yang nyata (Weng, et al. , 2. Fadhil, & Sebgag, . juga menegaskan bahwa pembelajaran tasawuf menuntut pendekatan yang mendalam untuk membantu mahasiswa memahami aspek abstrak dan filosofis secara lebih konkret. Penelitian di luar negeri, misalnya studi Dochy et al. 2003 di Belgia dan Hmelo-Silver 2004 di Amerika Serikat, juga mendukung efektivitas PBL dalam meningkatkan kemampuan transfer pengetahuan ke situasi baru dan meningkatkan keterampilan berpikir kritis mahasiswa di berbagai disiplin ilmu(Yu, & Zin, 2. Namun, di Indonesia, penelitian mengenai PBL dalam ranah tasawuf masih sangat terbatas, sehingga penelitian ini memberikan kontribusi empiris penting untuk mengisi kekosongan literatur tersebut. Keberhasilan implementasi PBL pada penelitian ini tidak terlepas dari beberapa faktor pendukung. Penggunaan kasus autentik yang relevan dengan problematika spiritual remaja urban terbukti efektif memicu minat mahasiswa. Selain itu, peran dosen sebagai fasilitator yang memberikan scaffolding secara tepat membantu mahasiswa menavigasi proses analisis kasus yang mendalam. Lingkungan belajar yang kolaboratif juga mendorong diskusi yang dinamis dan konstruktif, mendukung argumen Er, dkk . mengenai pentingnya kerja kelompok dalam pembelajaran kooperatif. Meskipun demikian, penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan yang perlu diperhatikan dalam menafsirkan hasil. Desain kuasi-eksperimen dengan kelompok yang tidak sepenuhnya diacak menimbulkan potensi bias seleksi yang dapat mempengaruhi validitas internal dan membatasi generalisasi temuan ke populasi yang lebih luas. Variabel moderator seperti motivasi belajar mahasiswa atau preferensi gaya belajar juga tidak dikendalikan secara eksplisit, sehingga dapat menjadi sumber varians yang tidak diukur. Durasi perlakuan yang relatif singkat, yakni hanya delapan pertemuan, juga mungkin belum cukup untuk menangkap dampak jangka panjang PBL terhadap pembelajaran tasawuf yang bersifat mendalam dan reflektif. Sebagai implikasi teoretis, penelitian ini memperkuat relevansi teori pembelajaran konstruktivistik dalam konteks pendidikan agama Islam, khususnya dalam membumikan pembelajaran tasawuf agar lebih aplikatif dan bermakna. Secara praktis, hasil penelitian ini menawarkan alternatif model pembelajaran yang dapat diterapkan di Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri maupun Swasta di Indonesia. Temuan ini juga menjadi dasar bagi perlunya pelatihan intensif mengenai strategi PBL bagi dosen PAI agar mereka dapat merancang pembelajaran tasawuf yang lebih kontekstual dan student-centered. Untuk penelitian selanjutnya, disarankan dilakukan studi longitudinal dengan rentang waktu yang lebih panjang guna mengevaluasi konsistensi dampak PBL terhadap pemahaman dan internalisasi nilai-nilai tasawuf dalam kehidupan mahasiswa. Pengembangan modul digital berbasis PBL juga direkomendasikan sebagai inovasi media pembelajaran untuk mendukung pembelajaran tasawuf yang lebih fleksibel dan adaptif di era digital. Page | 14 CONCLUSION Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa penerapan metode Problem-Based Learning secara signifikan mampu meningkatkan kemampuan pemahaman konsep tasawuf mahasiswa Pendidikan Agama Islam Universitas Sunan Giri Surabaya. Mahasiswa yang mengikuti pembelajaran dengan PBL menunjukkan peningkatan skor pemahaman yang lebih tinggi dibandingkan kelompok yang belajar dengan metode konvensional. PBL juga efektif menumbuhkan partisipasi aktif, kemampuan berpikir kritis, dan keterampilan menganalisis masalah spiritual kontemporer, sehingga konsep-konsep tasawuf yang abstrak dapat dipahami secara lebih mendalam dan aplikatif. Temuan ini memberikan kontribusi teoretis dan praktis bagi pengembangan inovasi pembelajaran tasawuf di perguruan tinggi Islam. Selain relevan untuk konteks lokal, model PBL juga potensial diadaptasi pada pembelajaran sufisme di berbagai lingkungan pendidikan Islam di tingkat internasional dan lintas budaya. Penerapan PBL dengan materi kontekstual dan kasus nyata dapat menjadi strategi pedagogik untuk membumikan nilai-nilai sufistik secara lebih inklusif, reflektif, dan sesuai dengan dinamika masyarakat global. Penelitian lanjutan disarankan dilakukan pada mata kuliah keislaman lainnya dan di berbagai setting budaya untuk memperluas generalisasi temuan ACKNOWLEDGMENT Penulis menyadari bahwa terselesaikannya penelitian ini tidak lepas dari dukungan, bimbingan, dan kontribusi berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada: Dosen Pembimbing yang telah memberikan masukan berharga dalam penyusunan instrumen penelitian serta validasi materi. Responden Penelitian (Mahasiswa PAI) yang telah berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran berbasis PBL dan memberikan data yang dibutuhkan, dan Keluarga yang senantiasa memberikan motivasi, doa, dan dukungan moral selama penulis menyelesaikan penelitian ini. REFERENCES