Efektor, Volume 12 Issue 1, 2025, page 158-167 Available online at: https://ojs.unpkediri.ac.id/index.php/efektor-e DOI: https://doi.org/10.29407/e.v12i1.25231 Pengaruh Lingkungan Belajar, Budaya Literasi dan Sarana Prasarana Tehadap Hasil Asesmen Nasional Sekolah Dasar Negeri di Kecamatan Tulungagung The Influence of the Learning Environment, Literacy Culture and Infrastructure on the National Assessment Results of State Elementary Schools in Tulungagung District Dodik Hariyadi1*, Imam Sujono2, Muhamad Abdul Roziq Asrori3 dodikhariyadi@gmail.com1*, imam.sujono@ymail.com2, roziq@ubhi.ac.id3 Magister Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial, Univesitas Bhinneka PGRI, Tulungagung, Indonesia1,2,3 Diunggah: 29/04/2025, Direvisi: 24/05/2025, Diterima: 25/05/2025, Tebit: 31/05/2025 Abstract Improving the quality of education is one of the main focuses in the development of human resources in Indonesia. This is in line with the government's vision to produce a generation that is smart, competitive and has character. One important indicator in measuring the quality of education is the results of the National Assessment, which includes reading literacy, numeracy, and character surveys. The implementation of the National Assessment as an assessment instrument in the Indonesian education system certainly presents both challenges and opportunities for schools across the country, including Tulungagung. The National Assessment is designed to provide a comprehensive picture of the quality of a school's education, covering aspects of literacy, numeracy and character. The result of the National Assessment in several public primary schools in Tulungagung sub-district show significant variations in achievement between schools. This condition indicates that three are factors that influence the resuts of the National Assessment, both from within and outside the learning environment. The purpose of this study was to determine the effect of learning environment, literacy culture and infrastructure facilities partially and simultanerously on the results of the National Assessment of Public Eementary Schools in Tulungagung District. The type of research used in this study is associative and the research method uses a quantitative approach. The population in the study amounted to 25 institutions. The sampling technique used is saturated sample. The data collection tool is a questionnaire and uses mlutiple linear regression analysis. Keywords : learning environment, literacy culture, infrastructure, national primary school assessment resuts Abstrak Peningkatan kualitas pendidikan menjadi salah satu fokus utama dalam pembangunan sumber daya manusia di Indonesia. Hal ini sejalan dengan visi pemerintah untuk mencetak generasi yang cerdas, kompetitif, dan berkarakter. Salah satu indikator penting dalam mengukur kualitas pendidikan adalah hasil Asesmen Nasional mencakup literasi membaca, numerasi, dan survei karakter. Implementasi Asesmen Nasional sebagai instrumen penilaian dalam sistem pendidikan Indonesia tentu menghadirkan tantangan sekaligus peluang bagi sekolah-sekolah di seluruh tanah air, temasuk di Tulungagung. Asesmen Nasional dirancang untuk memberikan gambaran yang komprehensif mengenai kualitas pendidikan suatu sekolah, mencakup aspek literasi, numerasi, dan karakter. Hasil Asesmen Nasional pada beberapa Sekolah Dasar Negeri di Kecamatan Tulungagung menunjukkan adanya variasi capaian yang signifikan antar sekolah. Kondisi ini menunjukkan adanya faktor-faktor yang memengaruhi hasil Asesmen Nasional, baik yang berasal dari dalam maupun luar lingkungan belajar. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui Pengaruh Lingkungan Belajar, Budaya Literasi dan Sarana Prasarana secara parsial dan simultan tehadap tehadap Hasil Asesmen Nasional Sekolah Dasar Negeri di Kecamatan Tulungagung. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah assosiatif serta metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif. Populasi dalam penelitian bejumlah 25 Lembaga. Teknik sampling yang digunakan yaitu sampel jenuh. Alat pengumpuan data berupa angket dan menggunakan analisis regresi linear berganda. Kata Kunci: budaya literasi, hasil asesmen nasional Sekolah Dasar Negeri, lingkungan belajar, sarana prasarana *Penulis Korespondensi: Dodik Hariyadi PENDAHUUAN Peningkatan kualitas pendidikan di tingkat sekolah dasar menjadi salah satu fokus utama dalam pembangunan sumber daya manusia di Indonesia. Hal ini sejalan dengan visi pemerintah untuk mencetak generasi yang cerdas, kompetitif, dan berkarakter. Salah satu indikator penting dalam mengukur kualitas pendidikan adalah hasil Asesmen Nasional (AN) yang mencakup Literasi membaca, numerasi, dan survei karakter. AN tidak hanya befungsi untuk mengukur pencapaian peserta didik secara individu tetapi juga untuk mengevaluasi kualitas sistem pendidikan secara keseluruhan (Sholikhah & Puwani, 2023). This is an open access article under the CC BY-SA License. Efektor, Volume 12 Issue 1, 2025, page 158-167 Dodik Hariyadi, Imam Sujono, Muhamad Abdul Roziq Asrori Implementasi Asesmen Nasional sebagai instrumen penilaian baru dalam sistem pendidikan Indonesia tentu menghadirkan tantangan sekaligus peluang bagi sekolah-sekolah di seluruh tanah air, temasuk di Tulungagung. Asesmen Nasional dirancang untuk memberikan gambaran yang komprehensif mengenai kualitas pendidikan suatu sekolah, mencakup aspek Literasi, numerasi, dan karakter. Hasil Asesmen Nasional pada beberapa Sekolah Dasar Negeri di Kecamatan Tulungagung menunjukkan adanya variasi capaian yang signifikan antar sekolah. Beberapa sekolah berhasil mencapai hasil yang memuaskan, sementara yang lain masih berada di bawah rata-rata. Kondisi ini menunjukkan adanya faktor-faktor yang mempengaruhi hasil AN, baik yang berasal dari dalam maupun luar lingkungan belajar. Penelitian ini berfokus pada tiga variabel utama yang diyakini memiliki pengaruh signifikan terhadap hasil asesmen nasional, yaitu lingkungan belajar, budaya literasi, dan sarana prasarana. Lingkungan belajar merupakan salah satu faktor penting yang mempengaruhi keberhasilan pembelajaran. Sekolah yang menyediakan lingkungan kondusif, aman, dan nyaman cenderung mampu mendukung peserta didik untuk belajar dengan lebih optimal. Namun, masih terdapat beberapa sekolah yang menghadapi tantangan dalam menciptakan lingkungan belajar yang optimal (Nuhaliza, 2021). Selain itu, budaya literasi juga memainkan peran strategis. Budaya literasi yang kuat di sekolah akan membantu membentuk kebiasaan belajar siswa, meningkatkan kemampuan membaca, dan memahami informasi, yang semuanya berdampak langsung pada hasil AN. Pemerintah melalui Gerakan Literasi Sekolah (GLS) telah mendorong penguatan budaya membaca dan menulis di kalangan siswa. Akan tetapi, implementasi budaya literasi ini masih menghadapi berbagai kendala, seperti kurangnya waktu khusus untuk kegiatan literasi, minimnya koleksi buku yang menarik, dan rendahnya motivasi siswa dalam membaca (K. M. Annisa et al., 2021). Sementara itu, sarana prasarana yang memadai akan mendukung proses pembelajaran yang efektif dan efisien. Ketersediaan fasilitas seperti perpustakaan, laboratorium komputer, ruang kelas yang memadai, serta media pembelajaran yang modern dapat membantu meningkatkan kualitas proses belajar mengajar (M. Annisa et al., 2016). Ketersediaan ruang kelas yang layak, perpustakaan yang memadai, akses tehadap teknologi, dan alat peraga pendidikan yang sesuai merupakan prasyarat untuk menciptakan suasana belajar yang efektif. Di beberapa Sekolah Dasar Negeri di Kecamatan Tulungagung, keterbatasan sarana dan prasarana seringkali menjadi kendala yang berpengaruh pada hasil belajar siswa, termasuk hasil AN. Berdasarkan uraian yang telah dipaparkan, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh lingkungan belajar, budaya literasi, dan sarana prasarana tehadap hasil asesmen nasional di Sekolah Dasar Negeri Kecamatan Tulungagung. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan rekomendasi yang relevan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di daerah dan mendukung kebijakan pendidikan yang lebih efektif. Maka peneliti akan melakukan penelitian yang berjudul “Pengaruh Lingkungan Belajar, Budaya Literasi dan Sarana Prasarana tehadap Hasil Asesmen Nasional Sekolah Dasar Negeri di Kecamatan Tulungagung”. Asesmen Nasional (AN) yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) untuk mengukur kualitas pendidikan di tingkat satuan pendidikan. AN tidak bertujuan untuk mengevaluasi capaian individu siswa, tetapi untuk memberikan gambaran mutu sekolah berdasarkan tiga komponen utama: Asesmen Kompetensi Minimum (AKM), Survei Karakter, dan Survei Lingkungan Belajar (Kemendikbudristek, 2021). Menurut Pemendikbud No. 17 Tahun 2021, AN dirancang untuk mendorong peningkatan kualitas pembelajaran dengan berfokus pada kemampuan dasar yang harus dikuasai siswa, yaitu Literasi membaca dan numerasi. Asesmen Nasional merupakan alat evaluasi yang befokus pada penguatan kompetensi literasi, numerasi, dan pembentukan karakter siswa. Dengan memanfaatkan hasil AN, sekolah dapat merancang strategi perbaikan mutu pendidikan secara holistik, tidak hanya berorientasi pada capaian akademik tetapi juga pada pengembangan lingkungan belajar dan karakter siswa. Pelaksanaan AN https://ojs.unpkediri.ac.id/index.php/efektor-e 159 Vol 12 No 1 Tahun 2025 Efektor, Volume 12 Issue 1, 2025, page 158-167 Dodik Hariyadi, Imam Sujono, Muhamad Abdul Roziq Asrori yang efektif membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, sekolah, dan masyarakat untuk menciptakan sistem pendidikan yang lebih inklusif dan berkualitas. Asesmen Nasional merupakan instrumen penting dalam mengevaluasi kualitas pendidikan di Indonesia. Dengan fokus pada kompetensi minimum, karakter, dan lingkungan belajar, asesmen ini diharapkan dapat memberikan gambaran komprehensif mengenai kondisi pendidikan di sekolah dasar. Melalui pemahaman yang mendalam tentang pengaruh lingkungan belajar terhadap hasil asesmen nasional, pihak sekolah dapat mengambil langkah-langkah strategis untuk meningkatkan mutu pembelajaran dan capaian siswa di Kecamatan Tulungagung. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengeksplorasi hubungan antara variabel-variabel ini secara lebih rinci. Lingkungan belajar merupakan segala sesuatu yang berada di sekitar peserta didik yang dapat mempengaruhi proses pembelajaran dan hasil belajar mereka. Lingkungan belajar dapat berupa lingkungan fisik, sosial, maupun psikologis yang secara langsung atau tidak langsung berdampak pada kenyamanan, motivasi, serta efektivitas pembelajaran (Slameto, 2015). Lingkungan belajar yang kondusif akan mendorong siswa untuk lebih fokus, aktif, dan termotivasi dalam proses pembelajaran. Menurut Sudjana (2017), lingkungan belajar memiliki peran yang satngat penting dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Faktor-faktornya seperti sarana dan prasarana, interaksi sosial didalamnya, dan kondisi psikologis siswa harus diperhatikan agar proses pembelajaran berjalan secara maksimal. Lingkungan belajar mencakup semua aspek fisik, sosial, dan akademik yang ada di dalam dan sekitar sekolah. Lingkungan ini berperan sangat penting dalam mendukung proses pembelajaran dan perkembangan siswa. Lingkungan fisik meliputi fasilitas dan sarana prasarana yang tersedia, sedangkan lingkungan sosial mencakup interaksi antara guru, siswa, dan masyarakat. Lingkungan akademik berfokus pada program-program yang mendukung kegiatan belajar mengajar. Lingkungan ini juga mencakup aspek-aspek seperti kebersihan, kenyamanan, ketersediaan fasilitas, interaksi antarwarga sekolah, hingga norma atau nilai-nilai yang dianut di sekolah (Uno, 2016). Lingkungan belajar yang kondusif dapat menciptakan suasana belajar yang nyaman sehingga mendorong motivasi dan prestasi siswa. Lingkungan Belajar menjadi salah satu faktor penting yang memperngaruhi hasil asesmen nasional. Lingkungan fisik yang memadai memberikan kesempatan belajar yang lebih baik, sementara lingkungan sosial yang positif mendukung motivasi belajar siswa. Menurut Pemendikbud No. 82 Tahun 2015, sekolah yang menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan menyenangkan cenderung memiliki siswa dengan hasil pembelajaran yang lebih baik. Penelitian menunjukkan bahwa sekolah dengan fasilitas memadai dan lingkungan sosial yang mendukung cenderung memiliki hasil asesmen yang lebih baik karena siswa merasa lebih nyaman dan termotivasi untuk belajar. Lingkungan belajar yang kondusif, baik secara fisik maupun sosial, memegang peranan penting dalam meningkatkan kualitas pembelajaran siswa. Dengan menciptakan lingkungan yang mendukung, sekolah dapat mendorong keberhasilan siswa dalam Asesmen Nasional serta membangun generasi yang kompeten dan berkarakter. Lingkungan belajar merupakan faktor kunci dalam menentukan keberhasilan pendidikan di tingkat dasar. Dengan memperhatikan aspek fisik, sosial, dan akademik dari lingkungan belajar, kita dapat menciptakan ekosistem pendidikan yang mendukung perkembangan literasi dan hasil belajar siswa. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengeksplorasi hubungan antara lingkungan belajar dengan budaya literasi serta sarana prasarana dalam konteks spesifik di Kecamatan Tulungagung. Budaya literasi adalah suatu kondisi dimana membaca, menulis, dan berinteraksi dengan teks menjadi bagian integral dari kehidupan sehari-hari individu, terutama di lingkungan pendidikan. Di sekolah dasar, budaya literasi tidak hanya mencakup kemampuan teknis membaca dan menulis, tetapi juga pemahaman kritis tehadap informasi yang diperoleh dari bebagai sumber. Membangun budaya literasi yang kuat di kalangan siswa sangat penting untuk meningkatkan kemampuan kognitif dan akademik mereka. https://ojs.unpkediri.ac.id/index.php/efektor-e 160 Vol 12 No 1 Tahun 2025 Efektor, Volume 12 Issue 1, 2025, page 158-167 Dodik Hariyadi, Imam Sujono, Muhamad Abdul Roziq Asrori Budaya Literasi didefinisikan sebagai kebiasaan atau tradisi membaca, menulis, dan berpikir kritis yang menjadi bagian integral dari kehidupan sehari-hari. Budaya ini melibatkan kemampuan untuk memahami, mengolah, dan menggunakan informasi dalam berbagai bentuk komunikasi (Kemendikbud, 2016). Dalam konteks pendidikan, budaya literasi mencakup seutuh aktivitas yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan literasi siswa sebagai bagian dari pengembangan karakter dan kompetensi mereka. Menurut UNESCO (2006), Literasi adalah kemampuan seseorang untuk mengidentifikasi, memahami, menafsirkan, menciptakan, dan berkomunikasi menggunakan bahan tulisan dalam bebagai konteks. Budaya literasi tidak hanya berbicara tentang kemampuan membaca, tetapi juga bagaimana keterampilan tersebut ditetapkan untuk meningkatkan kualitas hidup seseorang. Dalam konteks Asesmen Nasional (AN), literasi membaca menjadi salah satu komponen utama yang diukur. Literasi membaca dalam AN mengacu pada kemampuan siswa dalam memahami, mengevaluasi, dan merefleksikan informasi dari teks tulis. Penelitian menunjukkan bahwa sekolah dengan budaya literasi yang kuat cenderung menghasilkan siswa dengan skor literasi yang lebih tinggi (OECD, 2019). Lingkungan literasi yang baik di sekolah, seperti perpustakaan yang aktif dan kegiatan membaca rutin, berkontribusi pada keberhasilan siswa dalam Asesmen Nasional. Budaya literasi merupakan elemen penting dalam meningkatkan kompetensi literasi siswa, yang menjadi salah satu indikator utama dalam Asesmen Nasional. Dengan strategi yang tepat dan dukungan dari berbagai pihak, budaya literasi dapat menjadi bagian integral dari kehidupan siswa di sekolah, sehingga meningkatkan kemampuan kognitif, prestasi akademik, dan karakter mereka. Dengan pembentukan budaya literasi, sekolah dapat menciptakan lingkungan yang kondusif bagi peningkatan minat baca dan kemampuan literasi siswa. Hal ini tidak hanya akan berkontribusi pada hasil asesmen nasional tetapi juga mempersiapkan siswa untuk menghadapi tantangan di masa depan dengan keterampilan literasi yang kuat. Sarana dan prasarana pendidikan merupakan elemen penting dalam sistem pendidikan yang mencakup semua fasilitas fisik dan non-fisik yang mendukung kegiatan belajar mengajar. Sarana merujuk pada alat dan perlengkapan yang digunakan dalam proses pembelajaran, sedangkan prasarana mencakup infrastruktur yang menyediakan ruang dan lingkungan yang diperlukan untuk kegiatan pendidikan. Menurut Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003, setiap satuan pendidikan harus menyediakan sarana dan prasarana yang memadai untuk mendukung perkembangan potensi peserta didik secara optimal. Menurut Pemendiknas No. 24 Tahun 2007, sarana adalah semua perlengkapan yang secara langsung digunakan dalam proses pembelajaran, seperti meja, kursi, alat peraga, dan buku. Sedangkan prasarana mencakup fasilitas pendukung yang tidak secara langsung digunakan dalam pembelajaran, seperti bangunan sekolah, lapangan olahraga, dan perpustakaan. Menurut Sudjana (2010), sarana dan prasarana pendidikan adalah segala sesuatu yang dapat memfasilitasi atau memperrancar kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan secara optimal. Sarana mencakup alat yang besifat bergerak, sedangkan prasarana mencakup fasilitas yang bersifat tetap. Dalam konteks Asesmen Nasional, ketersediaan sarana dan prasarana berperan besar dalam mendukung pelaksanaan tes berbasis komputer (Compute-Based Test/CBT). Menurut Kemendikbud (2020), sekolah yang memiliki akses terhadap perangkat teknologi seperti komputer, jaringan intenet stabil, dan ruang ujian yang memadai cenderung memiliki tingkat kesiapan lebih baik dalam pelaksanaan Asesmen Nasional. Selain itu, sarana dan prasarana juga mendukung keberhasilan siswa dalam memahami konten pembelajaran yang diujikan. Sarana dan prasarana merupakan salah satu komponen kunci dalam mendukung keberhasilan pembelajaran di sekolah. Ketersediaan fasilitas yang memadai tidak hanya meningkatkan efektivitas pembelajaran tetapi juga mempersiapkan siswa untuk berpartisipasi dalam Asesmen Nasional secara optimal. Oleh karena itu, pengelolaan sarana dan prasarana yang baik merupakan investasi penting untuk meningkatkan mutu pendidikan. https://ojs.unpkediri.ac.id/index.php/efektor-e 161 Vol 12 No 1 Tahun 2025 Efektor, Volume 12 Issue 1, 2025, page 158-167 Dodik Hariyadi, Imam Sujono, Muhamad Abdul Roziq Asrori Dengan menyediakan fasilitas yang memadai serta melakukan manajemen yang baik tehadap sarana prasarana tersebut, sekolah dapat menciptakan lingkungan belajar yang optimal bagi siswa. Hal ini akan bedampak positif pada hasil asesmen nasional serta pekembangan akademik siswa di Kecamatan Tulungagung. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengeksplorasi hubungan antara kualitas sarana prasarana dengan hasil belajar siswa secara lebih mendalam. METODE PENELITIAN Jenis penelitian pada penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Penelitian kuantitatif merupakan penelitian yang dalam prosesnya banyak menggunakan angka-angka dari mulai pengumpuan data, penafsiran terhadap data, serta penampilan dari hasilnya. Sedangkan menurut Sugiono, 2012 pendekatan kuantitatif dinamakan pendekatan tradisional, karena pendekatan ini sudah cukup lama digunakan sehingga sudah mentradisi sebagai pendekatan untuk penelitian. Peneliti menggunakan metode penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif diantaranya bertujuan menunjukkan pengaruh antar variabel dan teknik penelitiannya berupa survey serta instrumen penelitiannya berupa angket. Sedangkan menurut Arikunto, (2013) metode deskriptif adalah metode penelitian yang dimaksudkan untuk menyelidiki keadaan, kondisi atau hal lain yang sudah disebutkan, yang hasilnya dipaparkan dalam bentuk laporan penelitian. Dengan metode ini diharapkan dapat menggambarkan secara tepat pengaruh antara variabel independent dan variabel dependent dalam penelitian dan dengan menggunakan statistik yang mengukur variabel-variabel tersebut sehingga dapat menjelaskan keadaan dengan benar. Metode deskriptif dalam penelitiannya melalui kegiatan menuntukan, menggambarkan, menganalisa dan mengklarifikasikan penelitian dengan teknik observasi dan penyebaran angket. Berdasarkan judul dan tujuan penelitian, maka penelitian dilaksanakan dengan rancangan penelitian kuantitatif assosiatif ini juga sering disebut dengan penelitian nonekspeimen, karena pada penelitian ini peneliti tidak melakukan kontrol dan memanipuasi variabel penelitian. Populasi dalam penelitian ini adalah Sekolah Dasar Negeri di Kecamatan Tulungagung. Untuk memperjelas populasi dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel 1. Tabel 1. Daftar Sekolah Dasar Negeri di Kecamatan Tulungagung No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 Nama Sekolah SDN 1 Kampungdalem SDN 4 Kampungdalem SDN 7 Kampungdalem SDN 1 Kenayan SDN 2 Kenayan SDN 1 Tamanan SDN 1 Jepun SDN 3 Jepun SDN 1 Kepatihan SDN 2 Kepatihan SDN 3 Kepatihan SDN 1 Bago SDN 2 Bago SDN 3 Bago SDN 5 Bago SDN 1 Karangwaru SDN 2 Karangwaru SDN Sembung SDN 1 Botoran SDN 2 Botoran SDN Kutoanyar SDN Tetek SDN 1 Kedungsoko https://ojs.unpkediri.ac.id/index.php/efektor-e Nama Kepala Sekolah Muhadi Ade Irma Salekah Muhadi (PLT) Admin Kholisina Admin Kholisina (PLT) Susiana (PLT) Tolib (PLT) Isal Chalabi Suip Suip (PLT) Mahfud (PLT) Mahfud Rias Wuiani Dodik Hariyadi Eva Yuiani Sih Wiyani (PLT) Sih Wiyani Nu Mukholifah Susiana Tolib Yui Lutiningsih Efi Triastikowati Efi Triastikowati (PLT) 162 Rata-rata Asesmen Nasional 79 70 71 67 82 77 72 60 61 58 71 70 69 70 79 67 68 78 70 66 72 68 79 Vol 12 No 1 Tahun 2025 Efektor, Volume 12 Issue 1, 2025, page 158-167 Dodik Hariyadi, Imam Sujono, Muhamad Abdul Roziq Asrori No. 24 25 Nama Sekolah SDN 2 Kedungsoko SDN Panggungrejo Nama Kepala Sekolah Sudarti Nu Mukholifah Rata-rata Asesmen Nasional 71 78 Penelitian ini dilaksanakan di Unit Pelayanan Administrasi Satuan Pendidikan (UPASP) Kecamatan Tulungagung yang merupakan salah satu Unit Pelaksana Teknis (UPT) yang bertanggung jawab langsung kepada Dinas Pendidikan Tulungagung. yang bertempat di Kecamatan Tulungagung, Kabupaten Tulungagung Provinsi Jawa Timur. Pemilihan UPASP Kecamatan Tulungagung sebagai tempat dilakukannya penelitian untuk mengetahui sejauh mana perkembagan sekolah yang ada di Kecamatan Tulungagung dalam hal Asesmen Nasional. Tujuan dilaksanakannya penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh lingkungan belajar, budaya literasi dan sarana prasarana tehadap hasil asesmen nasional Sekolah Dasar Negeri di Kecamatan Tulungagung. Penelitian ini mengambil sampel penelitian 25 Sekolah Dasar Negeri yang diambil dari UPASP Kecamatan Tulungagung. Data yang diperoleh dalam penelitian ini adalah hasil dari angket pengaruh lingkungan belajar, budaya literasi dan sarana prasarana tehadap hasil Asesmen Nasional Sekolah Dasar Negeri di Kecamatan Tulungagung. Angket yang diberikan kepada Sekolah Dasar Negeri di Kecamatan Tulungagung merupakan angket tertutup dimana sekolah hanya menjawab pertanyaan yang ada pada angket. Jumlah item pertanyaan pada angket sebanyak 30 dengan rincian 10 pertanyaan berkaitan dengan Lingkungan Belajar, 10 pertanyaan berkaitan dengan Budaya Literasi, 10 pertanyaan berkaitan dengan Sarana Prasarana, dan isian data Hasil Asesmen Nasional yang termuat dalam Raport Pendidikan. Untuk mempermudah dalam pelaksanaan uji validitas dan reriabilitas instrumen, peneliti menggunakan perangkat lunak (software) Statistical Package for the Social Sciences (SPSS) Version 26 for Windows (Ghozali I, 2023). Untuk menentukan validitas digurnakan kriterria terhadap nilai koerfisiern korerlasi 𝑟𝑥𝑦 dengan mermbandingkan antara r hiturng dengan r table (Distribursi Nilai r tabel Poduct Moment Sig. 5%). Dengan jumlah sampel atau N = 25 di dapat r table = 0,3809 (valid). Sedangkan uji reliability dapat diketahui bahwa hasil hitung Cronbach's Alpha pada angket lingkungan belajar 0.930, budaya literasi 0.928, dan sarana prasarana 0.925. Sebagaimana diketahui, apabila hasil hitung tersebut lebih dari 0.6, maka item soal terserbut konsisten atau rerliabel untuk digunakan sebagai instrument penelitian. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil analisis yang telah dilakukan tehadap data angket, menunjukkan adanya pengaruh antara Pengaruh Lingkungan Belajar, Budaya Literasi, dan Sarana Prasarana tehadap Hasil Asesmen Nasional Sekolah Dasar Negeri di Kecamatan Tulungagung. Pengaruh Lingkungan Belajar (X1) Terhadap Hasil Asesmen Nasional (Y) Uji t atau uji parsial dalam penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh Lingkungan Belajar terhadap Hasil Asesmen Nasional. Berdasarkan hasil analisis menunjukkan ada hubungan atau pengaruh positif antara Lingkungan Belajar terhadap Hasil Asesmen Nasional Sekolah Dasar Negeri di Kecamatan Tulungagung, sehingga hipotesis yang pertama diterima. Pengaruh tersebut ditunjukkan dari hasil hitung SPSS 26.0 for Windows dimana nilai t-hitung lebih besar dari t-tabel yakni 2,646 > 1,72074 dengan sig. 0,015 < 0,05. Sesuai hasil tersebut, maka hipotesis pertama diterima. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa semakin baik lingkungan belajar maka semakin baik hasil Asesmen Nasional dan begitu pula sebaliknya. Menurut pendapat Sudjana (2017), lingkungan belajar memiliki peran penting dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Faktor-faktor seperti sarana prasarana, interaksi sosial, dan kondisi psikologis siswa harus dipehatikan agar proses pembelajaran berjalan secara optimal. Lingkungan Belajar mencakup semua aspek fisik, sosial, dan akademik yang ada di dalam dan sekitar sekolah. Lingkungan ini berperan penting dalam mendukung proses pembelajaran dan perkembangan siswa. https://ojs.unpkediri.ac.id/index.php/efektor-e 163 Vol 12 No 1 Tahun 2025 Efektor, Volume 12 Issue 1, 2025, page 158-167 Dodik Hariyadi, Imam Sujono, Muhamad Abdul Roziq Asrori Baik lingkungan fisik, lingkungan sosial maupun lingkungan akademik. Lingkungan ini mencakup aspekaspek seperti kebersihan, kenyamanan, ketersediaan fasilitas, interaksi antarwarga sekolah, hingga norma atau nilai-nilai yang dianut di sekolah (Uno, 2016). Hal ini sama dengan hasil penelitian yang dilakukan Enjelita dkk (2024) Lingkungan dan budaya sekolah sangat penting untuk meningkatkan pendidikan dan prestasi akademik siswa. Lingkungan sekolah yang nyaman, kondisi fisik yang nyaman, fasilitas yang memadai, dan manajemen kelas yang baik adalah semua faktor yang dapat menciptakan suasana belajar yang mendukung. Siswa dapat lebih temotivasi untuk mencapai potensi terbaik mereka jika sekolah memiliki budaya yang positif yang menghargai prestasi, kerja kelas, dan rasa pecaya diri. Budaya ini juga melibatkan penggunaan sumber belajar yang tepat, pengembangan profesional guru, ketelibatan orang tua, dan kolaborasi antara budaya sekolah yang positif dan lingkungan sekolah yang kondusif. Hal ini sama dengan hasil penelitian yang dilakukan (Harso & Seku, 2023) tedapat hubungan yang signifikan antara lingkungan belajar terhadap hasil belajar IPA Fisika. Hal ini dibuktikan melalui uji korelasi product momen 0,002< 0,05 yaitu atau nilai probability 1,72074 dengan sig. 0,001 < 0,05. Sesuai hasil tersebut, maka hipotesis kedua terima. Literasi adalah kemampuan seseorang untuk mengidentifikasi, memahami, menafsirkan, menciptakan, dan bekomunikasi menggunakan bahan tulisan dalam bebagai konteks. Literasi tidak hanya bebicara tentang kemampuan membaca, tetapi juga bagaimana keterampilan tersebut diterapkan untuk meningkatkan kualitas hidup seseorang. Budaya Literasi didefinisikan sebagai kebiasaan atau tradisi membaca, menulis, dan bepikir kritis yang menjadi bagian integral dari kehidupan sehari-hari. Budaya ini melibatkan kemampuan untuk memahami, mengolah, dan menggunakan informasi dalam bebagai bentuk komunikasi. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa semakin baik Budaya Literasi, maka semakin baik pula Hasil Asesmen Nasional dan begitu pula sebaliknya. Hal ini diperkuat dengan yang disampaikan oleh (K. M. Annisa et al., 2021) dari hasil analisis bahwa dengan adanya literasi digital ini memberi banyak manfaat yaitu menghemat waktu, memperoleh informasi dari berbagai sumber dari mana saja dan kapan saja, proses belajar lebih mudah, dapat berkomunikasi jarak jauh lebih cepat dan menambah kemampuan dalam berpikir lebih kritis serta bersosialisasi dengan lebih baik. Jadi Upaya yang bisa dilakukan generasi z pada rangka menaikkan minat baca merupakan dengan menerapkan Literasi digital. Adapun media yang telah tebukti mendukung dalam penerapan Literasi digital ini antara lain: buku digital, perpustakaan digital serta sosial media. Penerapan Literasi digital pada generasi z telah terbukti efektif, dilihat dari adanya penelitian yang dilaksanakan untuk mengetahui kebehasilan terhadap kecakapan Literasi digital pada anak muda di Indonesia berada dalam tingkat sedang dengan rata- rata nilai di atas 80%. Hal ini sama dengan hasil penelitian yang dilakukan (Lestari et al., 2021) Pengaruh Budaya Literasi Tehadap Hasil Belajar Siswa Kelas IV Pada Mata Pelajaran IPA” dapat disimpulkan bahwa keterlaksanaan pembelajaran, hasil belajar siswa (pretest dan posttest), dan hasil wawancara. Pada lembar keterlaksanaan pembelajaran mulai dari kegiatan awal, kegiatan inti, dan https://ojs.unpkediri.ac.id/index.php/efektor-e 164 Vol 12 No 1 Tahun 2025 Efektor, Volume 12 Issue 1, 2025, page 158-167 Dodik Hariyadi, Imam Sujono, Muhamad Abdul Roziq Asrori kegiatan penutup diperoleh skor 100%, yang mana pembelajaran dengan menerapkan budaya Literasi pada kelas ekspeimen dan pembelajaran konvensional pada kelas kontrol dapat dikatakan telaksana. Budaya Literasi juga dipahami sebagai kemampuan seseorang untuk membangun dan mengelola hubungan sosial. Sementara itu, kecerdasan interpesonal adalah kemampuan mengenali dan memahami maksud, motivasi, serta emosi orang lain. Orang dengan kecerdasan interpesonal yang baik biasanya sensitif tehadap ekspresi wajah, nada suara, dan gerak tubuh, sehingga mampu merespons secara efektif dalam berkomunikasi. Berdasarkan hasil penelitian, Budaya Literasi. Budaya Literasi merupakan faktor penting yang memperngaruhi hasil Asesmen Nasional. Sekolah, guru, orang tua, dan pemerintah perlu bekerja sama untuk menciptakan budaya Literasi yang kuat agar siswa dapat mencapai hasil asesmen yang lebih baik. Investasi dalam akses bacaan berkualitas, peningkatan kebiasaan membaca, serta membangun program Literasi yang efektif adalah langkah-langkah penting dalam meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia. Pengaruh Sarana Prasarana (X3) Tehadap Hasil Asesmen Nasional (Y) Uji parsial dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh antara Sarana Prasarana terhadap Hasil Asesmen Nasional. Hasil dari uji yang telah dilakukan menunjukkan hasil dimana terdapat pengaruh yang positif dan signifikan antara Sarana Prasarana terhadap Hasil Asesmen Nasional. Pengaruh tersebut ditunjukkan dari hasil hitung SPSS 26.0 for Windows dimana nilai t-hitung lebih besar dari t-tabell yakni 7,204 > 1,6615 dengan sig. 0,000 < 0,05. Sesuai hasil tersebut, maka hipotesis ketiga terima. Berdasarkan hasil tersebut dapat diketahui bahwa semakin tinggi Sarana Prasarana, maka akan semakin tinggi Hasil Asesmen Nasional dan begitu pula sebaliknya, semakin rendah Sarana Prasarana, maka akan semakin rendah pula Hasil Asesmen Nasional. Hal tersebut sesuai dengan penelitian Almunawaroh et al (2023) Dari hasil pengujian hipotesis, Sarana Prasarana berpengaruh positif dan signifikan terhadap Hasil Asesmen Nasional siswa. Artinya semakin tepat penerapan Sarana Prasarana siswa, maka semakin bagus hasil belajarnya. Begitu pula sebaliknya, penerapan Sarana Prasarana yang tidak sesuai dengan karakter siswa membuat Hasil Asesmen Nasional kurang maksimal. Sarana dan prasarana pendidikan adalah semua hal yang dapat menjadi fasilitas atau menunjang kegiatan pembelajaran dalam mencapai tujuan pendidikan secara optimal. Sarana mencakup alat yang besifat bergerak, sedangkan prasarana mencakup fasilitas yang besifat tetap. Sekolah yang memiliki akses tehadap perangkat teknologi seperti komputer, jaringan intenet stabil, dan ruang ujian yang memadai cenderung memiliki tingkat kesiapan lebih baik dalam pelaksanaan Asesmen Nasional. Selain itu, sarana dan prasarana juga mendukung kebehasilan siswa dalam memahami konten pembelajaran yang diujikan. Menurut Pemendiknas No. 24 Tahun 2007, sarana adalah semua perlengkapan yang secara langsung digunakan dalam proses pembelajaran, seperti meja, kursi, alat peraga, dan buku. Sedangkan prasarana mencakup fasilitas pendukung yang tidak secara langsung digunakan dalam pembelajaran, seperti bangunan sekolah, lapangan olahraga, dan perpustakaan. Hal ini sama dengan hasil penelitian yang dilakukan (Muslimin & Kartiko, 2021) pengaruh variabel sarana dan prasarana tehadap mutu pendidikan di MBI (Madrasah Bertaraf Intenasional) Nurul Ummah baik secara simultan (Uji F) maupun secara parsial (Uji T). Dengan teknik Regresi Linear berganda pada taraf signifikan 0.05 hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara sarana, prasarana terhadap mutu pendidikan. Dari dua (2) Variabel penelitian yang telah dilakukan analisis diketahui bahwa variabel sarana yang lebih dominan memperngaruhi mutu pendidikan daripada variabel prasarana. Penelitian yang dilakukan oleh (Angrainy et al., 2020) Hasil penelitian disimpulkan bahwa: sarana prasarana berpengaruh terhadap kinerja guru; lingkungan kerja berpengaruh terhadap kinerja guru; sarana prasarana dan lingkungan kerja berpengaruh bersamasama terhadap kinerja guru. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Sarana Prasarana pengaruh signifikan terhadap Hasil Asesmen Nasional, Sarana Prasarana merupakan cara atau strategi yang digunakan individu dalam https://ojs.unpkediri.ac.id/index.php/efektor-e 165 Vol 12 No 1 Tahun 2025 Efektor, Volume 12 Issue 1, 2025, page 158-167 Dodik Hariyadi, Imam Sujono, Muhamad Abdul Roziq Asrori menerima, memproses, dan memahami informasi. Sarana prasarana merupakan faktor penting yang memperngaruhi hasil Asesmen Nasional. Sekolah, pemerintah, dan masyarakat perlu bekerja sama untuk meningkatkan fasilitas pendidikan agar siswa dapat mencapai hasil asesmen yang lebih baik. Investasi dalam infrastruktur sekolah, penyediaan sumber belajar, serta peningkatan teknologi pendidikan adalah langkah-langkah penting dalam meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia. SIMPUAN Berdasarkan hasil penelitian Pengaruh Lingkungan Belajar, Budaya Literasi dan Sarana Prasarana terhadap Hasil Asesmen Nasional Sekolah Dasar Negeri di Kecamatan Tulungagung diperoleh kesimpulan bahwa ada pengaruh positif yang signifikan antara Lingkungan Belajar terhadap Hasil Asesmen Nasional, pengaruh positif yang signifikan antara Budaya Literasi terhadap Hasil Asesmen Nasional, ada pengaruh positif yang signifikan antara Sarana Prasarana terhadap Hasil Asesmen Nasional. Dan ada pengaruh positif yang signifikan secara bersama-sama antara variabel independen (Lingkungan Belajar, Budaya Literasi dan Sarana Prasarana) terhadap Hasil Asesmen Nasional. Berdasarkan hasil penelitian Pengaruh Lingkungan Belajar, Budaya Literasi dan Sarana Prasarana terhadap Hasil Asesmen Nasional Sekolah Dasar Negeri di Kecamatan Tulungagung penurlis memberikan saran untuk Dinas Pendidikan dalam mengambil kebijakan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, terutama untuk peningkatan mutu harus meningkatkan kompetensi guru melalui pelatihan berkala terkait strategi pengajaran berbasis literasi dan numerasi. Mengoptimalkan asesmen formatif agar guru dapat lebih cepat mengidentifikasi kesulitan belajar siswa dan memberikan intervensi yang tepat. Serta menggunakan hasil Asesmen Nasional sebagai bahan evaluasi untuk menyusun kebijakan strategis dalam peningkatan pendidikan di daerah. Untuk Kepala Sekolah Sebagai pemimpin di sekolah memiliki peran penting dalam menejemahkan hasil Asesmen Nasional menjadi langkah-langkah strategis untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Menganalisis hasil AN secara menyeluruh dan mengidentifikasi aspek literasi, numerasi, serta lingkungan belajar yang perlu diperbaiki. Mendorong inovasi dalam metode pembelajaran, seperti pembelajaran berbasis proyek, pendekatan saintifik, dan pemanfaatan teknologi. Mengoptimalkan sarana dan prasarana sekolah, termasuk infrastruktur kelas, laboratorium, dan teknologi pendukung pembelajaran. Mendorong kepemimpinan yang kolaboratif, dengan melibatkan guru, tenaga kependidikan, dan komite sekolah dalam perencanaan dan evaluasi program. DAFTAR RUJUKAN Arikunto, S. (2012). Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta. Ahsani, E. L. ., Emy, M., Laila, S. ., Chusnul, I., & Vina, A. (2021). Pengaruh Sarana Prasarana dalam Menunjang Prestasi Belajar Siswa SD di Sekolah Indonesia Den Haag. Modeling: Jurnal Program Studi PGMI, 8(1), 52–63. Angrainy, A., Fitria, H., & Fitiani, Y. (2020). Pengaruh Sarana Prasarana dan Lingkungan Keja tehadap Kinerja Guru. Jounal of Education Research, 1(2), 154–159. https://doi.org/10.37985/joe.v1i2.15 Annisa, K. M., Setiawan, D. A., & Sesanti, N. R. (2021). Membangun Budaya Literasi dalam Kemampuan Berbahasa pada Siswa Sekolah Dasar. Seminar Nasional PGSD UNIKAMA, (5 November), 136–146. Annisa, M., Tanjung, F. Z., & Ridwan, R. (2016). Analisis Sarana dan Prasarana Sekolah Dasar Berdasarkan Tingkat Akreditasi di Kota Tarakan. JPI (Jurnal Pendidikan Indonesia), 5(2), 134. https://doi.org/10.23887/jpi-undiksha.v5i2.8934 Harso, O. A., & Seku, A. Y. (2023). Pengaruh Lingkungan Belajar terhadap Hasil Belajar IPA Siswa SMPK Inemete Nangapanda. Jurnal Inovasi Pendidikan, 3(9), 7589–7594. Lestari, F. D., Ibrahim, M., Ghufron, S., & Mariati, P. (2021). Pengaruh Budaya Literasi tehadap Hasil Belajar IPA di Sekolah Dasar. Jurnal Basicedu, 5(6), 5087–5099. https://doi.org/10.31004/basicedu.v5i6.1436 https://ojs.unpkediri.ac.id/index.php/efektor-e 166 Vol 12 No 1 Tahun 2025 Efektor, Volume 12 Issue 1, 2025, page 158-167 Dodik Hariyadi, Imam Sujono, Muhamad Abdul Roziq Asrori Mayasari, D., Isman, M., Studi, P., Pendidikan, M., Muhammadiyah, U., Utara, S., Budaya, E., & Sekolah, L. (2023). Efektivitas Budaya Literasi Sekolah (Studi di Sekolah Dasar Negeri 163080 Kota tebing tinggi) 9(2), 295–301. Muslimin, T. A., & Kartiko, A. (2021). Pengaruh Sarana dan Prasarana terhadap Mutu Pendidikan di Madrasah Bertaraf Internasional Nurul Ummah Pacet Mojoketo. Munaddhomah: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam, 1(2), 75–87. https://doi.org/10.31538/munaddhomah.v1i2.30 Nuhaliza. (2021). Menciptakan Lingkungan Kaya Literasi Untuk Anak Sekolah Dasar. Universitas Riau: Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, 1–8. Sholikhah, F. F., & Puwani, A. T. (2023). Konsep Assesmen Kompetensi Minimum dalam Meningkatkan Kemampuan Literasi Numerasi Peserta Didik. Al-Ikmal: Jurnal …, 27–33. Sonya Fiskha Dwi Patri. (2022). Konsep Assesmen Nasional (AN) untuk Meningkatkan Mutu Proses dan Hasil Belajar. Juenal Inovasi Edukasi, 5(1), 43–50. https://doi.org/10.35141/jie.v5i1.285 Wardani, H. K., Darusuprapti, F., & Hajaroh, M. (2022). Model-Model Evaluasi Pendidikan Dasar (Scriven Model, Tyle Model, dan Goal Free Evaluation). Jurnal Pendidikan: Riset dan Konseptual, 6(1), 36. https://doi.org/10.28926/riset_konseptual.v6i1.446 https://ojs.unpkediri.ac.id/index.php/efektor-e 167 Vol 12 No 1 Tahun 2025