JUS TEKNO ( JURNAL SAINS DAN TEKNOLOGI ) https://journal. Evaluasi Postur Kerja Operator Bottom Tube Ae Welding dengan Analisis REBA di PT XYZ Agustinus Dwi Susanto1 Sekolah Tinggi Teknologi Duta Bangsa Jl. Kalibaru Timu Kel. Kalibaru Medan Satria Kota Bekasi Email : Agustinus. Id@gmail. AbstrakAi Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi postur kerja operator pada area Bottom Tube Ae Welding di PT XYZ dengan menggunakan metode Rapid Entire Body Assessment (REBA). Aktivitas pengelasan dan pemasangan tube ke mesin memerlukan posisi tubuh yang presisi namun berpotensi menimbulkan ketegangan muskuloskeletal akibat ketinggian objek kerja yang melebihi tinggi siku. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa posisi lengan atas operator sering terangkat di atas siku saat memasukkan tube ke mesin, dan keluhan utama yang dirasakan adalah nyeri pada pinggang bagian bawah. Berdasarkan hasil analisis REBA, diperoleh skor 5 yang termasuk kategori risiko sedang . edium Untuk mengurangi risiko tersebut, disarankan penggunaan pijakan kaki setinggi 15 cm agar tinggi kerja operator sejajar dengan tinggi siku, sehingga postur kerja menjadi lebih ergonomis dan risiko Musculoskeletal Disorders (MSD. dapat diminimalkan. Temuan ini menunjukkan pentingnya penerapan prinsip ergonomi dalam mendesain stasiun kerja pengelasan agar efisiensi dan keselamatan kerja dapat meningkat. 3 Batasan Masalah Agar penelitian lebih terarah, maka batasan masalah yang diterapkan adalah sebagai berikut: KeywordsAiErgonomi. REBA. Postur Kerja. Welding. Musculoskeletal Disorders PENDAHULUAN Latar Belakang Terdapat ketidaksesuaian antara tinggi objek kerja dan tinggi siku operator pada aktivitas Bottom Tube Ae Welding di PT XYZ. Posisi kerja operator saat memasang tube ke mesin mengharuskan lengan atas terangkat di atas siku, yang berpotensi menimbulkan ketegangan pada bahu dan punggung bagian bawah. Diperlukan analisis ergonomi menggunakan metode REBA (Rapid Entire Body Assessmen. untuk mengidentifikasi tingkat risiko postur kerja pada aktivitas Bottom Tube Ae Welding. PT XYZ merupakan perusahaan manufaktur yang bergerak di bidang otomotif dengan berbagai proses produksi yang melibatkan aktivitas manual. Salah satu proses penting adalah Bottom Tube Ae Welding, yaitu proses pengelasan dan pemasangan tube ke mesin yang memerlukan ketelitian tinggi. Namun, hasil pengamatan di lapangan menunjukkan adanya ketidaksesuaian antara tinggi objek kerja dan tinggi tubuh operator, di mana posisi kerja menyebabkan lengan atas terangkat di atas siku. Kondisi ini berpotensi menimbulkan ketegangan otot bahu dan punggung bagian bawah yang dapat berkembang menjadi gangguan Musculoskeletal Disorders (MSD. Ergonomi berperan penting dalam menciptakan keseimbangan antara manusia dan sistem kerja agar aktivitas dapat dilakukan secara nyaman, aman, dan efisien. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi postur kerja operator Bottom Tube Ae Welding dengan metode REBA guna mengidentifikasi tingkat risiko ergonomi dan memberikan rekomendasi perbaikan desain kerja yang sesuai. Penelitian hanya dilakukan pada aktivitas operator Bottom Tube Ae Welding di PT XYZ. Analisis difokuskan pada postur kerja saat pemasangan tube ke dalam mesin. Penilaian ergonomi dilakukan menggunakan metode REBA, tanpa membahas faktor lingkungan seperti pencahayaan, suhu, dan kebisingan. Pengambilan data dilakukan terhadap satu operator laki-laki yang memiliki ukuran tubuh mendekati ratarata populasi pekerja di area tersebut. 4 Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini dirumuskan dalam bentuk pertanyaan sebagai berikut: 2 Rumusan Masalah Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: Menganalisis kesesuaian antara tinggi objek kerja dan tinggi siku operator pada aktivitas Bottom Tube Ae Welding. Mengidentifikasi postur kerja yang berpotensi menimbulkan ketegangan otot bahu dan punggung bawah berdasarkan hasil pengamatan ergonomi. Menentukan tingkat risiko postur kerja menggunakan metode REBA serta memberikan rekomendasi tindakan korektif untuk menurunkan risiko Musculoskeletal Disorders (MSD. JUS TEKNO ( JURNAL SAINS DAN TEKNOLOGI ) https://journal. 5 Manfaat Penelitian REBA (Rapid Entire Body Assessmen. merupakan metode penilaian postur kerja yang dikembangkan oleh Hignett dan McAtamney . untuk mengevaluasi tingkat risiko gangguan muskuloskeletal akibat posisi tubuh yang tidak Metode ini menilai postur tubuh bagian leher, punggung, kaki, lengan, dan pergelangan tangan, serta mempertimbangkan beban eksternal, aktivitas, dan frekuensi Skor REBA yang diperoleh dikategorikan menjadi lima tingkat risiko, mulai dari diabaikan hingga sangat tinggi, yang masing-masing menunjukkan prioritas tindakan perbaikan. Manfaat yang diharapkan dari hasil penelitian ini adalah: Bagi perusahaan: menjadi dasar untuk memperbaiki desain fasilitas kerja agar lebih ergonomis dan aman bagi operator. Bagi operator: membantu mengurangi risiko keluhan muskuloskeletal dan meningkatkan kenyamanan kerja. Bagi pengembangan studi ergonomi, khususnya penerapan metode REBA pada industri manufaktur. Bagi masyarakat industri: meningkatkan kesadaran pentingnya penerapan ergonomi dan K3 dalam sistem kerja industri otomotif. Tabel berikut menggambarkan kategori risiko hasil skor REBA: II. LANDASAN TEORI Table 1Skor level resiko REBA Skor REBA 2Ae3 4Ae7 8Ae10 1 Ergonomi Ergonomi merupakan ilmu yang mempelajari hubungan antara manusia, peralatan, dan lingkungan kerja dengan tujuan menciptakan sistem kerja yang aman, nyaman, efisien, dan Penerapan prinsip ergonomi dalam industri bertujuan untuk menyesuaikan pekerjaan terhadap kemampuan dan keterbatasan manusia, bukan sebaliknya (Pheasant & Haslegrave, 2. Dalam konteks industri otomotif, aktivitas produksi sering kali menuntut postur kerja yang tidak alami dan berulang dalam jangka waktu lama. Kondisi tersebut dapat menyebabkan kelelahan otot serta meningkatkan risiko gangguan muskuloskeletal atau Musculoskeletal Disorders (MSD. Oleh karena itu, penerapan desain kerja yang ergonomis perlu dilakukan agar pekerja dapat mempertahankan postur tubuh yang netral dan menghindari beban berlebih pada otot dan sendi. Selain berdampak pada kesehatan pekerja, penerapan ergonomi yang baik juga dapat meningkatkan produktivitas, menurunkan tingkat absensi akibat cedera kerja, serta memperpanjang usia kerja operator (Sanders & McCormick, 1. Akhir Level Risiko Tindak Lanjut Diabaikan Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi Tidak diperlukan Mungkin diperlukan Diperlukan Diperlukan segera Diperlukan saat itu (Sumber: Hignett & McAtamney, 2. Kelebihan metode REBA adalah kemampuannya untuk mengevaluasi seluruh bagian tubuh secara menyeluruh dan cepat, sehingga sering digunakan dalam analisis postur kerja di sektor industri manufaktur dan otomotif. 4 Hubungan Antropometri dan REBA dalam Evaluasi Ergonomi Integrasi antara data antropometri dan analisis REBA memberikan pendekatan yang lebih komprehensif dalam evaluasi ergonomi di tempat kerja. 2 Antropometri Antropometri merupakan cabang ilmu ergonomi yang berfokus pada pengukuran dimensi tubuh manusia untuk mendukung perancangan fasilitas, alat, dan lingkungan kerja yang sesuai dengan ukuran tubuh pengguna. Data antropometri digunakan untuk menentukan ukuran ideal dari meja kerja, kursi, alat bantu, maupun posisi pengoperasian peralatan (Pheasant, 2. Menurut Sanders dan McCormick . , penerapan data antropometri harus mempertimbangkan variasi ukuran tubuh manusia berdasarkan populasi pekerja, jenis kelamin, dan postur kerja yang dilakukan. Dalam aktivitas pengelasan atau perakitan, dimensi tubuh seperti tinggi siku, tinggi bahu, dan jangkauan tangan menjadi faktor penting untuk menentukan tinggi objek kerja yang ergonomis. Kesesuaian antara data antropometri operator dan dimensi fasilitas kerja akan mengurangi risiko posisi kerja yang membungkuk atau menjangkau terlalu tinggi, sehingga dapat mencegah keluhan pada punggung dan bahu. Antropometri digunakan untuk memastikan bahwa rancangan fasilitas kerja sesuai dengan dimensi tubuh REBA digunakan untuk menilai sejauh mana postur kerja yang diterapkan sudah sesuai dengan prinsip Kombinasi kedua metode ini memungkinkan identifikasi faktor risiko secara fisik dan biomekanik yang dapat menyebabkan MSDs (Musculoskeletal Disorder. Dengan demikian, hasil analisis dapat digunakan sebagai dasar dalam menyusun rekomendasi desain kerja yang lebih ergonomis, adaptif, dan sesuai dengan karakteristik operator (Kustono. Leksono, & Puspitasari, 2. Dalam konteks penelitian ini, penerapan kedua pendekatan tersebut digunakan untuk menilai dan memperbaiki postur 3 Analisis REBA (Rapid Entire Body Assessmen. JUS TEKNO ( JURNAL SAINS DAN TEKNOLOGI ) https://journal. kerja pada area Bottom Tube Ae Welding di PT XYZ, sehingga pekerja dapat bekerja dengan lebih nyaman, aman, dan efisien. METODOLOGI PENELITIAN 1 Desain Penelitian Penelitian ini menggunakan metode observasional kuantitatif yang bertujuan untuk mengevaluasi postur kerja operator pada area Bottom Tube Ae Welding di PT XYZ. Fokus penelitian adalah menilai tingkat risiko ergonomi menggunakan metode REBA (Rapid Entire Body Assessmen. dan memberikan rekomendasi perbaikan postur kerja. Pengumpulan Data Data diperoleh melalui observasi langsung terhadap aktivitas operator saat memasang tube ke mesin las. Pengukuran dilakukan terhadap dimensi tubuh operator . dan dimensi fasilitas kerja, serta dokumentasi postur kerja menggunakan foto. Alat bantu yang digunakan meliputi meteran digital, jangka sorong, penggaris siku-siku, kamera digital, dan lembar penilaian REBA. Figure 1 Operator Bottom Tube Welding Analisis Data 2 Kesesuaian Antropometri dan Fasilitas Kerja Data yang diperoleh dianalisis menggunakan dua pendekatan utama, yaitu: Untuk mengetahui tingkat kesesuaian antara dimensi tubuh operator dan fasilitas kerja, dilakukan pengukuran data antropometri dan dimensi area kerja. Hasil pengukuran disajikan pada Tabel 2 berikut. Analisis Antropometri, untuk membandingkan dimensi tubuh operator dengan dimensi fasilitas kerja dan menilai tingkat kesesuaian postur kerja. Table 3 Kesesuaian Operator Bottom Tube Ae Welding Analisis REBA (Rapid Entire Body Assessmen. , untuk menilai tingkat risiko postur kerja berdasarkan posisi leher, punggung, kaki, lengan, dan pergelangan Dimensi Lebar Area Kerja Tinggi Dasar Objek Kerja Hasil analisis berupa skor REBA kemudian dikategorikan dalam tingkat risiko ergonomi . iabaikan, rendah, sedang, tinggi, dan sangat tingg. sebagai dasar penentuan tingkat bahaya postur kerja operator. Level Risiko Diabaikan Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi Antropometri 200 Lebar Bahu 80Ae122 Tinggi Sepatu Safety Jangkauan Depan Jangkauan Atas Tindak Lanjut Tidak diperlukan Mungkin Diperlukan Diperlukan segera Diperlukan saat itu juga Kesesuaian 40 Sesuai Tinggi Mata Tinggi Bahu Tinggi Pinggang Jarak Jangkauan dari Posisi Berdiri Ukuran . 2 Tinggi Badan Tinggi Siku Table 2 Pengkategorian level risiko hasil skor penilaian REBA Skor Akhir REBA Ukuran . Tidak sesuai untuk 103 jarak tertinggi objek 196 Sesuai Sumber: Pengukuran Faktor Ergonomi. PT XYZ . Berdasarkan tabel tersebut, dapat diketahui bahwa tinggi dasar objek kerja . Ae122 c. belum sesuai dengan tinggi siku operator . Hal ini mengakibatkan posisi kerja tidak ergonomis karena operator harus mengangkat lengan untuk menyesuaikan tinggi objek kerja. Sumber: Based on REBA: Level of MSD Risk 3 Analisis REBA (Rapid Entire Body Assessmen. Penilaian ergonomi dilakukan menggunakan metode REBA, untuk menilai tingkat risiko postur kerja operator berdasarkan posisi leher, punggung, kaki, lengan, dan pergelangan tangan. IV. HASIL DANPEMBAHASAN Hasil Observasi Berdasarkan hasil observasi di area Bottom Tube Ae Welding di PT XYZ, ditemukan bahwa aktivitas pemasangan tube ke Operator bekerja dengan lengan atas terangkat di atas tinggi siku karena tinggi objek kerja melebihi tinggi siku operator. Kondisi ini menyebabkan beban pada bahu dan punggung bawah, terutama saat posisi membungkuk atau menjangkau ke JUS TEKNO ( JURNAL SAINS DAN TEKNOLOGI ) https://journal. Dari tabel di atas diperoleh nilai REBA sebesar 5, yang menunjukkan bahwa tingkat risiko postur kerja termasuk dalam kategori sedang . edium ris. 4 Analisis Detail REBA Analisis REBA dilakukan dengan menilai posisi tubuh berdasarkan dua bagian utama, yaitu: Neck. Trunk, and Leg Analysis Neck score Trunk score Legscore Ie Nilai Tabel A : 4 Figure 2 Tabel A (Sumber: Based on Technical note: Rapid Entire Body Assessment (REBA). Hignett. McAtamney. Applied Ergonomics 31 . Arm and Wrist Analysis Upper arm score : 3 Lower arm score : 2 Wrist score Ie Nilai Tabel B Hasil Penggabungan (Tabel C) Nilai Tabel C Level Risiko Figure 3 Tabel B (Sumber: Based on Technical note: Rapid Entire Body Assessment (REBA). Hignett. McAtamney. Applied Ergonomics 31 . Table 5 Klasifikasi tingkat risiko berdasarkan skor REBA Skor Figure 4 Tabel C (Sumber: Based on Technical note: Rapid Entire Body Assessment (REBA). Hignett. McAtamney. Applied Ergonomics 31 . REBA Faktor Score Aktivitas Akhir Hasil Skor Neck. Trunk. Leg Load/Force . , 2, . Ae Medium risk Arm & Wrist Coupling . , 2, . Ae Medium risk Level of MSD Risk Keterangan Diabaikan Tidak diperlukan tindakan 2Ae3 Rendah Perubahan mungkin diperlukan 4Ae7 Sedang Perlu penyelidikan dan perubahan 8Ae10 Tinggi Perlu perbaikan segera Sangat Tinggi Perlu perbaikan saat itu juga 5 Pembahasan Table 4 Skor REBA Operator Bottom Tube Ae Welding Group : Medium Risk Berdasarkan hasil analisis REBA, aktivitas Bottom Tube Ae Welding termasuk kategori risiko sedang, yang berarti diperlukan tindakan korektif untuk memperbaiki postur kerja. Posisi lengan atas yang terangkat di atas siku dan postur sedikit membungkuk ke depan menjadi penyebab utama meningkatnya risiko. Level Risiko Hal ini sejalan dengan temuan Hignett dan McAtamney . bahwa posisi kerja dengan sudut lengan atas melebihi 60A Sumber: Hasil Analisis REBA. PT XYZ . JUS TEKNO ( JURNAL SAINS DAN TEKNOLOGI ) https://journal. terhadap tubuh dapat meningkatkan risiko Musculoskeletal Disorders (MSD. Daftar Pustaka Untuk mengurangi risiko, disarankan: Menyesuaikan tinggi objek kerja agar sejajar dengan tinggi siku operator, atau A Memberikan pijakan kaki setinggi A15 cm agar tinggi kerja sesuai dengan dimensi tubuh operator. Perbaikan tersebut diharapkan dapat menurunkan skor REBA dari medium risk menjadi low risk, serta meningkatkan kenyamanan dan efisiensi kerja operator. PENUTUP 1 Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan analisis ergonomi menggunakan metode REBA (Rapid Entire Body Assessmen. pada aktivitas Bottom Tube Ae Welding di PT XYZ, dapat disimpulkan bahwa: Postur kerja operator belum sesuai dengan prinsip ergonomi karena tinggi objek kerja melebihi tinggi siku operator, sehingga lengan atas harus terangkat selama proses kerja berlangsung. Hasil analisis REBA menunjukkan skor 5, yang termasuk dalam kategori risiko sedang . edium ris. , menandakan adanya potensi gangguan muskuloskeletal apabila tidak dilakukan perbaikan. Kesesuaian antropometri menunjukkan bahwa tinggi area kerja perlu disesuaikan agar sejajar dengan tinggi siku operator (A103 c. untuk mencapai postur kerja yang netral. Penerapan prinsip ergonomi dalam desain kerja terbukti dapat meningkatkan kenyamanan, efisiensi, dan keselamatan kerja operator di area Bottom Tube Ae Welding. 2 Saran