P-ISSN 1412-0380 E-ISSN 2615-272X PRABANGKARA Jurnal Seni Rupa dan Desain Volume 23 Nomor 1. Juni 2019 Konsep Patung Padas Batu Belah Di Lepang Klungkung I Made Jana1. I Wayan Sujana2. I Ketut Muka3 Program Studi Kriya Seni. Fakultas Seni Rupa dan Desain. Institut Seni Indonesia Denpasar ketutmuka@isi-dps. Penelitian ini bertujuan mengetahui rancangan konsep patung padas batu belah lebih dalam. Permasalahan yang dirumuskan dalam permasalahan ini adalah ingin mengetahui rancangan konsep patung padas batu belah (PPBB) lebih dalam? Ingin mengetahui medium padas apa saja yang digunakan dalam mengimplentasikan konsep pola drawing?. Kemudian latar pemahat apakah mempengaruhi bentuk dan gaya patung padas?. Penelitian ini dijabarkan dengan interpretative kualitatif sebagai penelitian seni budaya dengan pendekatan seni murni. Pengumpulan data melalui observasi, implementasi, dan studi kepustakaan. Model analisis data disajikan secara formal dan informal. Hasil penelitian menunjukkan patung-patung padas batu belah merevitalisasi patung tradisional, imajinattif inovatif, bersifat personal, lepas dari tuntutan fungsinya sebagai benda magis, atau sebagai sarana upacara agama Hindu. Kata kunci : konsep, pola drawing, patung padas This study aims to find out the concept design of the statue of Padas Batu Belah into deeper description. The problem that was formulated in this problem was to find out more about the draft concept of the Padas Batu Belah Stone (PPBB). This study explored what mediums were used in implementing the concept of drawing patterns. Then the sculptorAos background part gave the affect for the shape and style of the statue. Data collection was interpreted with qualitative interpretations as studies with a pure approach. Data collection was used observation, implementation, and literature. Data analysis models were presented formally and informally. The results showed sculptures that have revitalized traditionally, imaginatively, innovatively, personaly, non-functional functions as magic, or various Hindu rituals. Keywords : concept, drawing pattern, padas stone Proses review : 1 - 20 Juni 2019, dinyatakan lolos 21 Juni 2019 I Made Jana (Konsep Patung. PENDAHULUAN Patung padas komunitas Batu Belah dihadirkan ke ruang publik melalui pameran-pameran. Dua tahun ini sudah tiga kali dipamerkan, di berbagai tempat yakni di Bentara Budaya Bali, galeri Sumardjo, dan di Jepang. 25 Mei 2019 mendatang rencananya akan di pamerkan di Art Bali Nusa Dua Bali. Selain bentuk dan ekspresi yang sangat khas, patung padas komunitas batubelah mengusung konsep dan perspektif yang unik. Digagas oleh Wayan Sujana Suklu, kemudian mengajak masyarakat disekitarnya terlibat dalam proses implementasi konsep patung padas. Ratusan patung padas yang sudah di hasilkan oleh pematung di pajang di Batu Belah Art Space (BBAS). BBAS memfasilitasi berbagai aktivitas seni seperti: art lab, workshop, art project, art support and promote, documenting, artist resident, dan art community . emberdayaan masyaraka. Sudah 10 tahun BBAS melakukan aktivitas seni secara intens, tepatnya 29 Desember 2019 silam. Datang ke BBAS, akan ditemukan karya-karya visual dengan berbagai medium diantara rindang pepohonan dan suara gemercik air dari sungai yang membelah pematang. Komunitas Lukis Kaca adalah salah satu kelompok seni yang diikuti anak-anak sekitaran Dusun Lepang yang di payungi oleh BBAS selain komunitas patung Pada tahun 2019 ini mendapat support dari dosen seni rupa murni Ibu Sri Supriyatini FSRD ISI Denpasar melalui ibah pengabdian masyarakat. Di Bali patung batu padas di buat berdasarkan fungsi interior-ekterior tradisional, konsep dan bentuk sudah jelas mengacu pada kebutuhan bangunan-bangunan suci serta taman tradisional. Sejalan perkembangan pariwisata Bali, hotel-hotel dan villa-villa dalam mengembangan sector bangunan serta ekterior-interior memanfaatkan patung padas serta reliefnya. Sebagian besar patung padas masih menggunakan konsep visual tradisional dan modifikasi. Patung padas dengan konsep visual yang khas, unik, personal sangat minim ditemukan hari-hari Padahal awal abad ke-20 di Bali dapat di jumpai patung-patung serta relief batu padas yang sangat unik salah satunya relief menaiki sepeda di Pura Maduwe Karang Buleleng. Konsep patung padas yang dihasilkan komunitas Batu Belah ini berdasarkan pola drawing yang dihasilkan Sujana Suklu. Pola drawing tersebut adalah hasil dari cara me-drawing dengan konsep mengkontruksi bawah sadar. pola drawing yang dihasilkan berupa garis-garis intuistif cendrung berbentuk alam dihadirkan imajinatif. Bentuk pola iajinatif inilah disodorkan pada pematung untuk dijadikan pemantik dalam membuat patung padas. Apa yang dikatakan Volume 23. Nomor 1. Juni 2019 Sunarto bahwa konsep elaborasi konseptual terhadap rancangan artistic yang terwujud dalam model (Sunarto, 2013 : . Konsep pada patung padas komunitas Batu Belah merupakan elaborasi drawing yang dibuat oleh Sujana Suklu . ine art artis. kemudian di interpretasi oleh pematung. Sinergi antara seniman akademis . dengan pematung otodidak . , maka terjadilah proses observasi partisipatoris dalam melahirkan konsep patung padas. Project seni dengan konsep partisipatori ini menemukan berbagai kisah dalam implementasinya, karena selain konsep yang elaborative menggunakan medium padas yang unik. Pematung yang mengerjakan datang dari berbagai latar belakang yang berbeda antara lain: pematung tradisional, pelukis yang mencoba mematung, dan masyarakat desa yang tak pernah Dari awal dapat dipaparkan keunikan latar project ini antara lain: konsep, medium, dan Project eksperimental ini sangat menantang untuk diamati, sebagai upaya menjawab kelesuan dan minimnya patung padas yang khas dan unik. mengimbangi kehadiran teknologi cetak patung yang menggunakan gips . laster of Pari. yang berdampak menghilangnya inovasi penciptaan patung itu sendiri. I Wayan Sujana . ebih akrab dipanggil Sukl. , lahir di Klungkung 6 Februari 1967 sangat membantu dalam meliterasi praktek implementasi patung padas batu belah ini. Pengalamanya berkesenian lebih kurang tiga puluh tahun, sebagai dosen yang aktif menuliskan penciptaannya membantu dalam penulisan ini. Pengalaman-pengalaman selama proses perwujudan konsep pola drawing dengan pemahat . selama lima tahun melahirkan rekomendasi teori penciptaan. Masing-masing latar pemahat memiliki cara atau perspektif yang berbeda-beda dalam menginterpretasi pola drawing yang dipilih sebagai pemantik. Penelitian ini ingin mengetahui rancangan konsep patung padas batu belah (PPBB) lebih dalam. Ingin mengetahui medium padas apa saja yang digunakan dalam mengimplentasikan konsep pola drawing. Kemudian latar pemahat apakah mempengaruhi bentuk dan gaya patung padas. Ketiga hal ini menjadi perhatian dalam penulisan. METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan interpretatif kualitatif dan dirancang sebagai penelitian seni budaya dengan pendekatan seni murni. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan instrumen utamanya adalah peneliti sendiri dilengkapi dengan pedoman Model analisis data yang digunakan ada- Volume 23. Nomor 1. Juni 2019 lah model analisis interaktif (Miles dan Huberman dalam Sutopo, 1996: . Pengumpulan data dilakukan reduksi dan sajian data. Selanjutnya penyusunan sajian data secara sistematis. PEMBAHASAN Hasil penelusuran menunjukkan konsep patung padas batu belah adalah perjalanan yang cukup panjang, di dalamnya merupakan pemikiran-pemikiran Sujana Suklu dalam konteks sosiol patung batu padas Dia melakukan eksperimental ekspoloratif pola bentuk bawah sadar dengan intensitas yang Setiap hari mengasilkan pola drawing 200 buah pada setiap lembar novel bekas. Ribuan pola drawing inilah yang dipilih oleh pemahat dijadikan pola konsep visual. Perwujudan bentuk patung tersebut mengacu pada pola drawing on novel, dilalui proses evaluasi untuk pencapaian kualitas yang baik. Melalui tahapan-tahapan metodik karya-karya seni patung siap pada tahap penyajian, mempublikasikan ke publik dan masyarakat seni. Masyarakat dan medan sosial seni menjadi apresian menguji kwalitas konsep patung padas secara langsung. Sujana Suklu berujar: keberadaan seni di era globalisasi pada saat ini khususnya, seni patung menjadi kebanggaan dan diplomasi bangsa di mata dunia internasional. Secara tradisional seni patung ini, mampu memberikan makna estetik dan falsafah kearifan lokal yang berguna dalam pendidikan anak bangsa. Dengan terjaganya nilai-nilai falsafah lokal . ilai-nilai kebhinekaan, tradisi, dan kebangsaa. tersebut diharapkan dapat mengantisipasi nilai-nilai negatif dari luar. Pemahat secara langsung dapat merasakan dan menemukan keyakinannya sebagai pematung yang memiliki jati Di pendahuluan sudah disinggung metoda serta alur terciptanya konsep patung padas batu belah melalui elaborasi seniman fine art (Sujana Sukl. dengan pemahat . elukis memahat, pemahat tradisional, dan masyarakat yang belum pernah memaha. Implementasi dan penerapan konsep patung padas diterapkan melalui partisipatori dengan metode PRA pada penciptaan seni. Metode penelitian ini adalah metode penciptaan seni partisipatori yang mana pengembangan konsep berkesenian inovatif dan mengakar pada hasil penelitian. Partisipatory Rural Appraisal (PRA) adalah pendekatan atau metode yang memungkinkan masyarakat untuk saling berbagi, meningkatkan dan menganalisis pengetahuan mereka tentang kondisi dan kehidupan desa dalam membuat rencana dan tindakan nyata (Chambers. Rochdyanto mengatakan beberapa prinsip dasar yang harus dipenuhi dalam metode PRA an- PRABANGKARA Jurnal Seni Rupa dan Desain tara lain saling belajar dan berbagi pengalaman, keterlibatan semua anggota kelompok dan informasi, orang luar sebagai fasilisator, konsep triangulasi, serta optimalisasi hasil, orientasi praktis dan keberlanjutan program (Rochdyanto, 2. Hal tersebut untuk menghasilkan rancangan program yang lebih sesuai dengan hasrat dan keadaan masyarakat. Pemberdayaan masyarakat telah berhasil yaitu pengambangan kemampuan dalam mengkaji keadaan mereka sendiri, selanjutnya melakukan perencanaan dan Selain itu melalui pendekatan ini, tercapai kesesuaian dan ketepatgunaan program dengan kebutuhan masyarakat sehingga berkelanjutan . program dapat terjamin. Lima tahun Sujana Suklu menggali kemungkinan-kemungkinan patung inovatif, menjadi landasan terapan seni patung. Sekarang sudah tahun ke dua terapan patung padas dengan metode modeling dengan ukuran zise besar. Tahun pertama sudah berhasil menerapkan pola drawing dengan size kecil-kecil berjumlah 165 buah. Tahun pertama dan tahun ke dua memiliki konsep yang sama berdasarkan pola drawing, dan konsep yang berbeda bahan padasnya. Di bawah ini skema penciptaan konsep patung padas Gambar 1. Skema proses konsep penciptaan patung padas tahun pertama Patung padas yang dihasilkan pada tahun pertama melalui tahapan-tahapan penemuan ide atau gagasan novel bekas. Novel yang sudah terbaca di manfaatkan Sujana Suklu sebagai media dalam mengungkapkan gagasan terkait bahasa visual bawah Novel bekas ratusan halaman tersebut dalam 30 menit sudah terpenuhi dengan pola-pola drawing dengan berbagai bentuk-bentuk tertentu. Pola drawing ini lalu dipilih pemahat melalui seleksi dan pengamatan, pada proses ini pemahat menentukan pilihan dipengaruhi oleh pertama: 1. Bentuk pola Bentuk batu padas. Konsep bentuk dalam pikiran pemahat. Setelah tahapan pertama pemahat mulai melakukan tahapan kedua: 1. Bentuk. Alur narasi. Komposisi. Tahapan ketiga pembentukan patung padas penyelarasan akhir yakni: 1. Pengamatan menyeluruh bakalan patung. Penegasan bentuk dan motif. Penyelesaian akhir menerapkan gimik, karakter tekstur yang diinginkan. Setiap tahapan dari aras awal sampai akhir ada I Made Jana (Konsep Patung. hal-hal dan kemungkinan-kemungkinan perubahan persesuaian antara pola, bahan, dan keinginan. Gambar 2. Skema proses konsep penciptaan tahun Konsep penciptaan tahun kedua didahului dengan memcetak serbuk batu padas dengan mencampurkan dengan semen dulu. Proses mencetak melalui eksperimen bentukan mokap Styrofoam disela-sela cetakan plat. Suklu sendiri mengontrol dan membentuk. Proses kedua pola drawing dipilih pemahat, kemungkinan menggunakan lebih dari satu pola drawing sesuai kebutuhan, pada proses ini pemahat menentukan pilihan dipengaruhi oleh: 1. Bentuk pola Bentuk batu padas. Konsep bentuk dalam pikiran pemahat. Kemudian tahapan ketiga: 1. Bentuk. Alur narasi. Komposisi. Tahapan akhir pembentukan patung padas penyelarasan akhir yakni: 1. Pengamatan menyeluruh bakalan patung. Penegasan bentuk dan motif. Penyelesaian akhir menerapkan gimik, karakter tekstur yang diinginkan. Patung padas batu belah merupakan mozaik ungkapan seni yang memadukan tradisi dan non tradisi. Berbagai unsur motif yang terekspresikan dalam penciptaan patung padas tersebut tumbuh dari akar seni yang terpendam di masa lampau . otif nusantar. Tentu saja hal ini memiliki hubungan antara seni tradisi dengan seni modern, merupakan suatu jalinan yang positif, bahwa seni rupa modern mengambil sejumlah elemen tradisional dan atau seni pra-sejarah. Selain skill yang sudah dimiliki, pematung dengan sadar menggunakan motif-motif lama dalam ekspresi padasnya. Peminjaman ini menunjukkan kesadaran identitas sekaligus pelestarian kelokalan yang dimiliki. Memperhatikan objek yang menjadi garapan karya seni dalam konteks berpikir tradisi dan modern, sejalan dengan pandangan Umar Kayam dalam Umar Kayam dan Jaring Semiotik . 8: . , tradisi dan modern, bukanlah dua konsep yang berhadapan secara dikotomis, melainkan berkesinambungan dan Volume 23. Nomor 1. Juni 2019 mengandung berbagai kemungkinan perpaduan unsur antara keduanya. Senada dengan hal tersebut Kusnadi mengatakan bahwa, ekspresi dalam karyakarya seni rupa baru ini mencerminkan kehalusan perasaan, kekayaan intuisi dan ide yang disalurkan melalui bentuk-bentuk kreativitas artistik yang lama maupun baru, sebagai nilai kemanusiaan yang berharga untuk dihayati (Kusnadi 1979: . Karya seni kontemporer Indonesia diwujudkan dalam berbagai thema, melalui pengolahan gaya, medium lama maupun baru. Karya-karya seni patung padas batu belah, hubungannya dengan kreativitas didasari oleh konsep visual melalui pola drawing on novel dan keunikan dari material/bahan batupadas sebagai medium yang bentuknya tidak teratur, dikembangkan menjadi karya-karya seni . ususnya seni patun. memiliki originalitas dan nilai-nilai fungsi yang baru. Ciri-ciri yang kuat dari pendekatan ini, terlihat adanya keberanian dan kepekaan yang kuat dalam meresepsi dan menginterpretasi pola-pola atau bentuk goresan yang terdapat dalam novel kemudian ditransfer ke dalam material batu padas. Proses kreatif yang ditunjukan oleh komunitas batu belah memberikan hawa segar bagi perkembangan seni patung dimasa mendatang, dengan penampilan yang sangat khas, unik, melakukan inovasi menonjolkan bentuk motif penggabungan dari motif tradisional Bali dengan motif yang ada di daerah lain di Nusantara. Karya patung padas komunitas batu bela, menampilkan ekspresi bentuk lebih lugas dan nayf, bakat-bakat ornamentiknya sangat kental memperlihatkan ciri khas Bali dan elaborasi motif-motif nusantara. Rupanya dalam proses partisipatori suklu mengawali dengan memberi pengetahuan terkait ornament dan patung-patung primitive nusantar, serta menunjukkan karya-karya pada pematung. Patung-patung tersebut seperti, pahatan dari Papua/Asmat. Sulawesi. Nias dan daerah lain di Indonesia. Gairah mencipta penuh kebebasan, tidak ada paksaan sehingga mampu menghasilkan karya seni patung bentuk yang Patung-patung yang tercipta, terlihat/mengingatkan pada patung pada zaman batu, di Pasemah di Sumatra, yang memiliki bentuk dasar bongkahan batu, seluruh bidangnya dipahatkan tokoh prajurit menunggangi gajah. Pahatan berupa relief tanpa mengubah bentuk dasar bongkahan batu tersebut menghasilkan bentuk patung yang menyimpang dari kebenaran bentuk alami. Patung padas batu belah menunjukkan distorsi bentuk dan sikap mengikuti struktur batu dalam membangun narasi bentuk seni Patung-patung padas batu belah merevitalisasi patung tradisional, imajinattif inovatif, bersifat per- Volume 23. Nomor 1. Juni 2019 sonal, lepas dari tuntutan fungsinya sebagai benda magis, atau sebagai sarana upacara agama Hindu di Bali. Hasil yang tampak, dengan aura tradisi, merupakan hasil kreativitas untuk membangun vitalitas bentuk-bentuk ekspresi sebagai tuntutan seniman masa Dengan cara seperti ini dapat dicapai, bahwa ia sangat akrab dengan tradisinya dan menyadari pula ada nilai-nilai dalam tradisi yang mampu memperkaya bahasa bentuk patung yang diciptakan. Berikut karya-karya patung padas batu belah, yang mengacu pada pola drawing on novel. PRABANGKARA Jurnal Seni Rupa dan Desain DAFTAR RUJUKAN Kusnadi, dkk . : Sejarah Seni Rupa Indonesia. Projek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah DEPDIKBUD Sunarto. Bambang. : Epistemologi Penciptaan Seni. IDEA Press Yogyakarta. Salam. Aprinus . : Umar Kayam dan Jaring Semiotik. Pustaka Pelajar Yogyakarta.