Aflah Consilia : Jurnal Bimbingan dan Konseling Vol. No. 2, 2023 http://ejournal. id/index. php/aflah/index RESILIENSISANTRI KORBAN SEXUAL HARASSMENT OLEH PENGASUH PESANTREN (Analisis Dampak Psikologis Perempuan dalam Bingkai Pesantren dan Stereotype Patriark. A A UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta email:ayurahmawati956@gmail. Abstrak Pesantren banyak dijuluki sebagai sarang budaya patriarki oleh masyarakat. Karena memang model pesantren hampir seluruhnya satu arah dipimpin oleh pengasuh dan santri adalah eksekutor dari perintah pengasuh. beberapa faktor yang menimbulkan stereotype patriarki di pesantren adalah, karena fenomena interpretasi makna dari kitab kuning salah satunya, dimana dalam kitab kuning tidak terdapat pengarang yang berjenis kelamin perempuan, bahkan dalam kitab seperti contoh kitab uqudulijain terlihat nyata perbedaan hak dan kewajiban antara laki-laki dan perempuan yang dianggap lebih menguntungkan laki-laki dibandingkan perempuan. Dalam hal ini penulis mencoba menganalisis posisi perempuan yang ada di pesantren, dan juga mencoba mengulas bagaimana posisi perempuan yang terdeskriminasi di pesantren, serta bagaimana resiliensi santri yang mengalami deskriminasi dalam bentuk nyata oleh pengasuhnya sendiri. Metodologi penelitian dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan pendekatan kualitatif dengan penggalian data menggunakan observasi dan wawancara. Dengan fokus penelitian kami adalah kepada santri yang mengalami kekerasan sexual oleh pengasuhnya sendiri yang berada di salah satu pondok pesantren yang ada di Jawa Timur. Dari hasil penelitian kami, bahwasanya ada santri yang memiliki resiliensi tinggi sehingga setelah kejadian itu mereka berhasil bangkit dan tetap menanamkan nilai positif yang dapat diambil dari pembelajarannya selama di Pesantren. Akan tetapi ada juga dari informan kami yang mengarahkan kekecewaannya kepada hal yang negatif seperti merokok, minum minuman keras, dan lain sebagainya. Kata Kunci: Kekerasan Seksual. Resiliensi. Patriarki Abstract Many pesantren are dubbed as a hotbed of patriarchal culture by the community. Several factors that lead to patriarchal stereotypes in pesantren are, for example, the phenomenon of interpretation of the meaning of the yellowIslamic classic book, where in the yellowIslamic classic book there are no authors who are female, even in books such as the uqudulijain book, the differences in rights and obligations between men and women are evident, which are considered more favorable to men than In this case, the author tries to analyze the position of women in pesantren, and also tries to review how the position of women who are discriminated against in pesantren, and how the resilience of santri who experience discrimination in real form by their own caregivers. The research methodology in this study is to use a qualitative approach by extracting data using observation and With the focus of our research is on students who experience sexual violence by their own caregivers in one of the boarding schools in East Java. From the results of our research, that there are students who have high resilience so that after the incident they managed to get up and still instill positive values that can be taken from their learning while in the pesantren. However, there are also some of our informants who direct their disappointment to negative things such as smoking, drinking alcohol, and etc. Keywords : Sexual Harassment. Resilience. Patriarchy Ayu Rahmawati / Aflah Consilia : Jurnal Bimbingan dan Konseling PENDAHULUAN Secara umum pesantren adalah tempat menimbal ilmu para santri dengan tujuan mendapatkan hal yang lebih baik setelah keluar dari pesantren. Pesantren didirikan untuk menimba ilmu agama yang didirikan pula oleh banyak aliran, ada Muhammadiyah. NU. LDII bahkan aliran yang lainnya. Pesantren bukan hanya tempat untuk orang yang baik-baik, akan tetapi justru juga banyak orang yang awalnya nakal dan menjadikan pesantren sebagai alternatif orang tua untuk merubah sikap yang ada pada anaknya, sehingga sering diebut pesantren merupakan tempat pembuangan seseorang yang nakal. Akan tetapi herannya, banyak stereotype bahwa orang pesantren itu selalu baik dan sholeh, padahal banyak pula ditemukan orang tanpa mendalami ilmu pesantren juga banyak yang baik dan soleh. Berbicara tentang santri, santri identik dengan tirakat/wiraAoi, tawadhuAo dan manut/nderek opo jare kiai . pa kata kia. Tirakat secara bahasa berasal dari bahasa arab, yaitu thoriqoh, yang berarti sebuah jalan. Hal ini dapat dimaknai sebagai sebuah usaha yang dilakukan untuk menuju jalan kepada Allah SWT. Menurut versi lain, tirakat berasal dari kata taroka, yang berarti Ini berarti tirakat adalah meninggalkan segala sesuatu yang bersifat duniawi untuk menggapai tujuan ukhrawi. Pada intinya, tirakat adalah sebuah usaha seseorang dalam mengekang hawa nafsu untuk mendekatkan diri pada ilahi. (Sulasmono 2. Sehingga tidak heran, kalau pesantren pula dijuluki sebagai sarang budaya patriarki oleh Karena memang model pesantren hampir seluruhnya satu arah dipimpin oleh pengasuh dan santri adalah eksekutor dari perintah pengasuh tersebut. Akan tetapi tidak semua model pesantren seperti itu, ada pula yang sudah menyetarakan antara laki-laki dan perempuan. Menurut Alfian Rokhmansyah. di bukunya yang berjudul Pengantar Gender dan Feminisme, patriarki berasal dari kata patriarkat, berarti struktur yang menempatkan peran laki-laki sebagai penguasa tunggal, sentral, dan segala-galanya. Sistem patriarki yang mendominasi kebudayaan masyarakat menyebabkan adanya kesenjangan dan ketidakadilan gender yang mempengaruhi hingga ke berbagai aspek kegiatan manusia. (Sakina and A. Pembicaraan tentang santri dan patriarki sudah banyak dilakukan oleh peneliti sebelumnya, seperti halnya ada penelitian dari (Pesantren 2. yang menyatakan beberapa faktor yang menimbulkan stereotype patriarki di pesantren adalah, karena fenomena interpretasi makna dari kitab kuning salah satunya, dimana dalam kitab kuning tidak terdapat pengarang yang berjenis kelamin perempuan, bahkan dalam kitab seperti contoh kitab uqudulijain terlihat nyata perbedaan hak dan kewajiban antara laki-laki dan perempuan yang dianggap lebih menguntungkan laki-laki dibandingkan perempuan, bahkan kitab tersebut juga masih eksis di dunia pesantren pada saat ini. Vol. No. 2, 2023 Ayu Rahmawati / Aflah Consilia : Jurnal Bimbingan dan Konseling Bahkan tidak hanya itu, dominasi laki-laki dalam lingkup pesantren juga telah terpampang dengan nyata. Bahwa perempuan lebih banyak melakukan hal domestik yang ada di pesantren dibandingkan laki-laki yang banyak mengurus kegiatan diluar pesantren. Hal ini menimbulkan kecemburuan sosial tersendiri bagi kalangan santri perempuan, karena mereka seperti dikurung di penjara suci. Selanjutnya padahal mereka mendapatkan pengajaran yang sama dalam hal pembelajaran seperti terdapat pelajaran muhadhoroh dimana dalam kegiatan tersebut, santri perempuan maupun laki-laki akan tampil dengan menunjukkan bakat-bakatnya, seperti bakat dalam hadoh, pidato, membaca kitab, membaca alquran, dan bahkan ketrampilan kesenian yang lain. Tentu hal yang telah dupelajari ini juga ingi diusung dan diperkenalkan kepada masyarakat bahwa santri itu tidak hanya bisa dipandang sebelah mata, akan tetapi santri juga bisa melakukan hal selain Selain ketidaksamaan peran, kasus tentang deskriminasi perempuan yakni dengan kekerasan sexual yang dilakukan oleh pengasuh juga banyak ditemukan. Karena slogan Aygandulan sarunge kiaiAy yang dianalogikan sebagai pedang santri dalam menjalani peperangan. Tetapi tidak bisa dipungkiri, pedang itu juga bisa mengenai dirinya sendiri. Sehingga budaya patriarki di pesantren berakar pada interpretasi-interpretasi yang belum mengalami reinterpretasi makna yang baru, dan dianggap masih sangat konservatif. Lalu perbedaan peran tentu akan menimbulkan kecemburuan sosial yang dapat dianggap sebagai ketidakadilan yang berdampak pada pemahaman yang negatif dan bahkan diimplementasikan dalam sebuah tindakan, sebagai bentuk perlawanan yang dilakukan oleh santri perempuan. Dalam hal ini, menimbulkan pertanyaan apakah stereotype bahwa pesantren adalah sarang budaya patriarki itu benar? Lalu, apakah perempuan di pesantren yang dianggap termarjinalkan itu benar, dan apakah ada deskriminasi yang lain selain berkaitan dengan peran perempuan ? Lalu bagaimanadampak psikologis pada perempuan yang diakibatkan stereotype atau bahkan bentuk deskriminasi nyata itu?. Dari pertanyaan diatas penulis ingin mencoba menganalisis posisi perempuan yang ada di pesantren, dan juga mencoba mengulas bagaimana posisi perempuan yang terdeskriminasi di pesantren, serta bagaimana resiliensi santri yang mengalami deskriminasi dalam bentuk nyata oleh pengasuhnya sendiri. METODEPENELITIAN Metodologi penelitian dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Dengan fokus penelitian kami adalah kepada santri yang mengalami kekerasan sexual oleh pengasuhnya sendiri yang berada di salah satu pondok pesantren yang ada di Jawa Timur. Yang berumur kisaran 18-20 th yakni kelas 3 Sekolah Menengah Atas. Penelitian ini dilakuka untuk melihat dinamika psikologisnya yang fokus kami adalah resiliensi yang dialami informan yang juga dianalisis melalui pendekatan gender. Data yang kami ambil melalui Vol. No. 2, 2023 Ayu Rahmawati / Aflah Consilia : Jurnal Bimbingan dan Konseling observasi dan wawancara, observasi yang dilakukan penulis hanya sebatas pengamatan dalam wawancara karena keterbatasan dalam penggalian data. HASIL DAN PEMBAHASAN Pesantren merupakan tempat tinggal para orang yang ingin belajar agama. Menurut (Hidayat 2. pesantren berasal dari kata pe-santri-an yang berarti tempat tinggal santri atau yang dikenal sebagai murid. Pondok berasal dari kata funduuq dari bahasa arab yang berarti penginapan atau asrama. Sedangkan santri adalah orang yang menuntut ilmu agama dan sebagai pelaku yang tinggal di lingkup pesantren, meskipun ada juga yang dinamakan santri kalong, seorang yang mengikuti serangkaian kegiatan menuntut ilmu di pesantren akan tetapi tidak tinggal di pesantren, melainkan pulang kerumah. Menurut Nurkolish Majiddalam (Musayyadah 2. , etimologi kata AuSantriAy sendiri terdapat dua perspektif. Pendapat pertama menyatakan bahwa AusantriAy berasal dari AusastriAy, kata yang berasal dari bahasa Sansekerta, yang berarti Aumelek hurufAy'. Menurut Nurcholish Madjid, komentar tersebut tampaknya didasarkan pada kelas literasi Jawa di mana para santri berusaha mendalami agama melalui buku-buku yang tertulis dalam berbahasa Arab gundul seperti kitab-kitab kuning. Dalam penelitian yang berfokus pada informan santri ini, penulis mengambil tiga informan yang berasal dari salah satu Pondok Pesantren yang ada di Jawa Timur dengan korban kekerasan sexual oleh oknum pengasuh Pesantren. Berikut, uraian singkat tentang informan kami : Tabel. 1 Identitas Informan Inisial Nama Umur 19 th Kelas 3 SMA Status Pengurus APL 20 th 2 SMA 3 SMA Pengurus Non Pengurus Dari ketiga informan diatas adalah santri yang mondok di salah satu pesantren yang ada di Jawa Timur, ketiga nya berasal dari kota yang berbeda, 1 diantaranya adalah orang luar Jawa, dan kedua lainnya berasal dari Jawa Timur juga. Selain menjadi santri, mereka juga menjabat sebagai pengurus, pengurus adalah seorang santri yang menjabat sebagai seorang yang membantu Pengasuh dalam menjalankan kegiatan di Pesantren. Menurut (Ii 1. pengurus adalah sekelompok orang yang mengurus dan memimpin perkumpulan. Sekumpulan dalam hal ini adalah sekumpulan santri yang menetap di Pesantren. Pesantren. Stereotype Sarang Patriarki dan Otoritas Kepemimpinan Pesantren sejak zaman dahulu tetap mempertahankan tradisinya, yakni tidak meninggalkan kitab kuning atau kitab gundul yang berisi banyak penjelasan, entah tentang fiqih, tauhid, maupun tasawuf. Bahkan memang tidak bisa dipungkiri, bahwa penjelasan dari kitab kuning ketika dimaknai dengan nahwu shorof ataupun dimaknai oleh seorang Kyai yang sudah tinggi ilmunya, dengan gaya bahasa dan intonasi Jawa sebagai ciri khasnya sangat membantu para santri menjadi lebih faham. Pemaknaan kitab gundul bukan hanya berfokus pada konservatifnya para Kyai, namun memang kitab kuning mampu memberikan penjelasan terhadap alquran dan hadis yang dimana kita tidak bisa spontan memaknainya dengan bahasa kita sendiri tanpa melalui kajian yang Vol. No. 2, 2023 Ayu Rahmawati / Aflah Consilia : Jurnal Bimbingan dan Konseling Dominanya sosok kiai dalam tradisi sosial budaya pesantren merupakan representasi nyata atas menguatnya patriarki pesantren. Mengenai patriarki pesantren. Martin Van Bruineessen dalam studinya menemukan fakta, bahwa sepanjang sejarah keberlangsungan sosial pendidikan pesantren belum ditemukan sebuah kitab yang pengarangnya berasal dari kalangan perempuan. (Pesantren 2. Karena keberadaannya yang masih eksis di kalangan santri dan pemuka agama, kitab kuning juga memberikan efek yang lain pada kondisi tertentu pula. Seperti halnya, tanpa adanya reinterpretasi dari isi dan makna kitab kuning justru menimbulkan bias gender yang mengakar. Seperti contoh kitab Ghayah at-Taqrib kitab fiqh yang dipandang masih rigid, seperti contoh dalam hal perwalian, kesaksian. (Rangkuti 2. Tidak hanya itu, dalam kitab-kitab yang lain seperti kitab uqudullijain yang berisikan tentang hak dan kewajiban suami istri, juga dianggap sebagai objektifikasi perempuan, karena isinya kebanyakan adalah bagaimana istri harus melayani suami sepenuhnya, sehingga bagi masyarakat yang sudah memperjuangkan kesetaraan gender yang telah menyebar luas di Indonesia pula, akan merasa tidak puas dengan pemahaman itu. Sehingga dibutuhkan reinterpretasi makna didalamnya, karena memang sejatinya fiqh dan hukum harus disesuaikan dengan konteks dan tidak bersifat statis akan tetapi dinamis. Adanya keberadaan santri, suaru . , kitab gundul, kyai dan asrama merupakan dasar disebutnya sebuah Pesantren. Sehingga selain tentang kitab gundul, pengasuh pesantren atau kyai sangat berperan penting dalam sebuah berdirinya Pesantren. Tanpa adanya pengasuh, maka tidak akan pantas untuk disebut pesantren dan pembelajaran tentu akan diragukan. Dalam hal ini kyai atau pengasuh pesantren adalah orang yang berkuasa di Pesantren. Menurut (Dhofier, 1. dalam (Fanani 2. Kyai tidak hanya dikategorikan sebagai elite agama, tetapi juga sebagai elite di pesantren, yang memiliki otoritas tinggi dalam menyimpan dan menyebarkan pengetahuan keagamaan serta berkompeten mewarnain corak dan bentuk kepemimpinan yang ada di pondok Tidak semua pengasuh menggunakan otoritasnya sebagai seorang pemilik Pesantren, akan tetapi dalam beberapa hal mereka menggunakan otoritas kepemimpinannya. Hal tersebut dapat dilihat ketika tidak ada satupun yang berani dengan pengasuh, karena dianggap akan suul adab, karena pengasuh memiliki derajad yang tinggi disisi Tuhan yang disebabkan pengalaman spiritualnya yang lebih tinggi dibandingkan dengan santrinya. Bahkan, hal itu tidak hanya sampai pada pengasuhnya saja, bahkan keturunannya juga akan sedemikiannya dihormati. Karena dianggap sebagai dzurriyah orang sholeh yang pantas untuk dihormati. Bahkan meskipun pengalaman spiritual dan pemahaman agama belum dalam kategori tinggi. Seperti misalkan, ada santri yang bertemu dengan keturunan pengasuh yang lebih muda, atau bahkan anak kecil maka mereka akan bersalaman dan justru yang dicium adalah tangan dari keturunan pengasuh Sebenarnya, jika diamati dari sudut yang lain, maksud dari otoritas adalah juga tidak hanya bisa dipandang secara negatif, akan tetapi dalam kepercayaan barokah itu dipegang oleh santri, maka melayani pengasuh adalah sebuah bentuk pengabdian yang mengharapkan imbalan barokah dari Tuhan. Bukan pengasuh yang mau diagungkan, akan tetapi santri yang memilih mengagungkan pengasuh untuk mendapatkan keberkahan, karena sejatinya santri itu bersifat tawadhuAo. Sehingga tergantung kacamata pengamatnya, karena Vol. No. 2, 2023 Ayu Rahmawati / Aflah Consilia : Jurnal Bimbingan dan Konseling memiliki sisi negatif dan positifnya sendiri. Selanjutnya, mengenai hal tersebut tentu menimbulkan stereotype yang baru di kalangan masyarakat, banyak yang menyebutnya pesantren adalah sarang patriarki. Karena model kepemimpinannya yang memang membudaya sejak dahulu sama. Dimana yang mendominasi adalah pengasuh yang notabennya adalah laki-laki, serta dalam kegiatan apapun yang dominan diikutsertakan adalah laki-laki, seperti misalkan pengasuh ingin menghadiri acara keluar pasti yang nderek pengasuh adalah santri laki-laki, sehingga dalam hal ini dianggap sebagai marjinalisasi perempuan. Marjinalisasi Santri Perempuan Menyinggung marjinalisasi perempuan, (Rangkuti 2. adanya pengaruh pemahaman agama atas termarginalkannya kaum perempuan dalam sistem kepemimpinan pesantren sangat masuk akal, termasuk adanya bias gender dalam teori-teori penciptaan dalam Islam, yang mengatakan, perempuan tercipta dari tulang rusuk laki-laki (Ada. Pemahaman bahwa antara laki-laki dan perempuan selalu mendapatkan perlakuan yang sama, akan tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa hal tersebut pada bagian tertentu juga dapat dielakkan. Juga, tampaknya perempuan juga mendapatkan hak yang sama di Pesantren. Akan tetapi realitanya yang mendominasi keikutsertaan dalam kegiatan di luar lingkup pesantren adalah kaum laki-laki. Berikut contoh bentuk-bentuk pembagian peran perempuan di pesantren : Tabel 2. PotretPerbedaan Kegiatan Santri di Pesantren Kegiatan Memasak Perempuan A Laki-Laki Driving Lomba (Olahrag. Keluar Malam Urusan Keluar Pesantren RoAoan Luar Pengguna Transportasi ke Sekolah Perjodohan A A A A A A A A Dilihat dari tabel diatas, banyak hal yang meringankan peran perempuan dalam pekerjaan yang berat. Akan tetapi nyatanya, santri itu identik terkurung dalam penjara suci, sehingga dalam hal urusan keluar pesantren mereka sangat senang. Karena dianggap sebagai sarana self healing untuk dirinya. Meskipun dalam kasusnya, perempuan harus dijaga dan dilindungi. Akan tetapi di era modern ini, seharusnya juga dapat bijak dalam menyikapi persamaan hak dan kewajiban yang diterima oleh perempuan yang ada di Pesantren. Akan tetapi dari kasus ketiga informan kami, tentu hanya sebatas hal diatas. Dari kasus di salah satu Pesantren yang ada di Jawa Timur. Ada oknum pengasuh yang memanfaatkan otoritas kekuasaannya sebagai media marjinalisasi perempuan dengan bentuk pelecehan seksual. Dalam kasus ini, ketiga informan kami berasal dari pondok pesantren yang sama dan tinggal di pesantren yang sama. Ketiganya, merupakan siswa Vol. No. 2, 2023 Ayu Rahmawati / Aflah Consilia : Jurnal Bimbingan dan Konseling Sekolah Menengah Atas di pesantren tersebut. Kedua diantaranya berasal dari pengurus, dan satunya bukan dari Dalam hal ini, ketika santri menjadi pengurus maka tentu akan membantu proses berjalannya kegiatan yang ada di Pesantren. Sehingga, santri akan intensif bertemu dengan pengasuh untuk laporan, mendiskusikan rencana kegiatan atau sekedar memberi informasi. Sehingga dari informan kami menjelaskan bahwa mereka intensif bertemu 4-5x dalam seminggu, bahkan terkadang bisa saja setiap hari bertemu ketika memang ada hal untuk dibicarakan. Bahkan terkadang pengurus juga merangkap sebagai mbak ndalem, yang membantu kegiatan yang berkaitan dengan urusan momong anak dari pengasuhnya atau membantu memasak, karena sibuknya istri dari pengasuh dalam urusan mengaji dan lainnya, sehingga mbak ndalem dapat membantu urusan tersebut. Mbak ndalem merupakan santri yang ikutserta dalam membantu urusan rumah tangga pengasuhnya, tetapi berbeda dengan pembantu, mbak ndalem lebih mengutamakan dalam mencari barokah dengan melayani pihak ndalem . Akan tetapi hal itu, dimanfaatkan oleh pengasuh yang memiliki otoritas kepengasuhannya, sehingga terjadi pelecehan seksual. Pelecehan seksual adalah perilaku atau perhatian yang bersifat seksual yang tidak diinginkan dan tidak dikehendaki dan berakibat mengganggu diri penerima pelecehan. (Triwijati 2. Informan kami mengatakan bahwa mereka biasa bertemu dipanggil satu per satu dan pada jam tidak menentu. Akan tetapi, pertemuannya selalu dilakukan di tempat yang sepi, seperti misalkan rumah ndalem ketika dalam keadaan sepi, di kamar pengasuh tetapi pintu dibuka lebar, di kamar atas . ekas kamar santr. , atau bahkan di ruang tamu, dapur, dan ruang terbuka lainnya akan tetapi dalam keadaan sepi. Karena jarak ndalem dan asrama hanya berjarak 50 Awalnya pengasuh akan membicarakan tentang santri lainnya sebagai bentuk laporan atau diskusi basa Setelahnya pengasuh akan mendekatkan diri pada santri, dan santri pun akan kebingungan, karena posisinya adalah seorang murid yang didekati gurunya. Mereka kebingungan, apa yang akan terjadi dan bagaimana mereka menyikapinya. Pengasuh akan merayu dengan cara mengatasnamakan agama, seperti misalnya. Aysantri niku harus manut nggih, karena pados berkahAy dan langsung memulai melakukan kekerasan Kekerasan seksual yang dilakukan mulai dari yang ringan hingga berat. Setelah hal itu, informan kami mengatakan bahwa ia bingung, mau cerita ke siapa. Mau diceritakan tapi itu adalah aib gurunya, mau dipendam takut semakin meluas dan banyak korban. Akhirnya informan memilih diam, sehingga hal itu diulang beberapa kali. Namun, suatu ketika informan merasa benar-benar takut, informan 1 bercerita dengan informan 2 yang kebetulan adalah teman dekat, karena tinggal dalam satu kamar dan kebetulan sama-sama pengurus. Sehingga informan kedua kami juga menceritaka hal yang sama, dan langkah yang dilakukan oleh pengasuh pun sama, mendekati dengan dalih agama. Sehingga kedua informan ini mencoba menutupi dan mencoba mencari cara untuk melindungi diri satu sama lain, akan tetapi juga tetap ketika bertemu dengan pengasuhnya, mereka tidak berani melawannya. Resiliensi Santri Korban Sexual Harassment Resiliensi menurut Pidgeon dalam (Missasi and Izzati 2. merupakan kemampuan untuk merespon permasalahan dengan baik, kemampuan untuk berhasil dalam menghadapi kesengsaraan, serta mampu untuk Vol. No. 2, 2023 Ayu Rahmawati / Aflah Consilia : Jurnal Bimbingan dan Konseling memiliki harapan yang lebih dalam keadaan kesulitan. Sehingga resiliensi merupakan daya lentur seseorang dalam beradaptasi dengan kejadian yang dialaminya. Resiliensi adalah proses beradaptasi baik dalam situasi trauma, tragedi, ataupun kejadianlainnya yang mungkin dapat menimbulkan stres (Mahmood & Ghaffar, 2. dalam (Missasi and Izzati 2. Aspek-aspek dalam Resiliensi menurut (Reivich dan Shatte : 2. dalam (Rahmawati 2. Regulasi Emosi Regulasi emosi adalah kemampuan untuk tetap tenang di bawah kondisi yang menekan. Hasil penelitian terdahulu menyebutkan bahwa orang yang kurang memiliki kemampuan untuk mengatur emosi mengalami kesulitan dalam membangun dan menjaga hubungan dengan orang lain. Hal ini bisa disebabkan oleh berbagai macam faktor, di antara alasan yang sederhana adalah tidak ada orang yang mau menghabiskan waktu bersama orang yang marah, merengut, cemas, khawatir serta gelisah setiap Emosi yang dirasakan oleh seseorang cenderung berpengaruh terhadap orang lain. Semakin kita terasosiasi dengan kemarahan maka kita akan semakin menjadi seorang yang pemarah . Pengendalian Impuls Pengendalian impuls adalah kemampuan individu untuk mengendalikan keinginan, dorongan, kesukaan, serta tekanan yang muncul dari dalam diri. Individu yang memiliki kemampuan pengendalian impuls yang rendah, cepat mengalami perubahan emosi yang pada akhirnya mengendalikan pikiran dan perilaku mereka. Mereka menampilkan perilaku mudah marah, kehilangan kesabaran, impulsif, dan berlaku agresif. Tentunya perilaku yang ditampakkan ini akan membuat orang di sekitarnya merasa kurang nyaman sehingga berakibat pada buruknya hubungan sosial individu dengan orang lain. Optimisme Optimisme adalah ketika kita melihat bahwa masa depan kita cemerlang, individu yang resilien adalah individu yang optimis. Causal Analysis Causal Analysis merujuk pada kemampuan individu untuk mengidentifikasikan secara akurat penyebab dari permasalahan yang mereka hadapi. Individu yang tidak mampu mengidentifikasikan penyebab dari permasalahan yang mereka hadapi secara tepat, akan terus menerus berbuat kesalahan yang sama. Empati Seseorang yang memiliki kemampuan berempati cenderung memiliki hubungan sosial yang Ketidakmampuan berempati berpotensi menimbulkan kesulitan dalam hubungan sosial. Individu-individu yang tidak membangun kemampuan untuk peka terhadap tanda-tanda nonverbal tersebut tidak mampu untuk menempatkan dirinya pada posisi orang lain, merasakan apa yang dirasakan orang lain dan memperkirakan maksud dari orang lain. Self Efficacy Self-efficacy Self-efficacy merepresentasikan sebuah keyakinan bahwa kita mampu memecahkan masalah yang kita alami dan Vol. No. 2, 2023 Ayu Rahmawati / Aflah Consilia : Jurnal Bimbingan dan Konseling mencapai kesuksesan. Self-efficacy adalah perasaan kita bahwa kita efektif dalam dunia. Telah dihabiskan banyak waktu untuk mendiskusikan tentang self-efficacy, karena melihat betapa pentingnya hal tersebut dalam dunia nyata. Dalam pekerjaan, orang yang memiliki keyakinan terhadap kemampuan mereka untuk memecahkan masalah, muncul sebagai pemimpin, sementara yang tidak percaya terhadap kemampuan diri mereka menemukan diri mereka tertinggal dari orang lain. Mereka secara tidak sengaja memperlihatkan keraguan mereka, dan teman mereka mendengar, dan belajar untuk mencari nasehat dari yang lainnya. Reaching Out Reaching out adalah kemampuan individu meraih aspek positif atau mengambil hikmah dari kehidupan setelah kemalangan yang menimpa. Banyak individu yang tidak mampu melakukan reaching out, hal ini dikarenakan mereka telah diajarkan sejak kecil untuk sedapat mungkin menghindari kegagalan dan situasi yang memalukan. Mereka adalah individu-individu yang lebih memilih memiliki kehidupan standar dibandingkan harus meraih kesuksesan namun harus berhadapan dengan resiko kegagalan hidup dan hinaan masyarakat. Dari aspek resiliensi diatas, ketiga informan mengalami hal yang berbeda-beda, mulai dari proses regulasi emosi, mereka sering menangis tentunya, karena kebingungan ingin berbuat apa, melawan tidak berani, minta untuk keluar pesantren juga bingung dengan orang tua alasannya apa, mengingat beberapa dianatara mereka juga sudah kelas 3 SMA. Kebingungan-kebingungan itu hanya bisa mereka luapkan dengan menangis, dengan menyendiri, melamun dan seolah-olah bersikap seperti biasanya dan tidak terjadi apa-apa. Sehingga ketika mereka dijenguk orang tua, mereka tiba-tiba menangis kepada orang tua, dan jika ditanya kenapa jawabannya ingin pulang, padahal sebe. umnya tidak pernah meminta untuk pulang jika memang tidak libur Pada saat yang berbeda, informan ketiga sedang bersama pengasuh, dan kepergok perbuatan yang dilakukan pengasuh. Akan tetapi, disini yang disalahkan adalah santri, bukan menganalisis terlebih dahulu siapa yang memulai. Kejadian itu kepergok oleh ibu dari seorang pengasuh, dan juga istri dari pengasuh tersebut. Sehingga pada saat itu juga, informan kami ketiga langsung dikeluarkan begitu saja. Sedangkan kedua informan kami yang lain tidak berani membela siapapun, karena mereka juga malu ketika mereka mengungkapkan hal serupa dan memilih tidak membela temannya meskipun dalam batinnya mereka tidak membenarkan bahwa yang terjadi adalah bermula dari santri, karena realitanya berasal dari pengasuh. Informan kami yang ketiga sudah keluar pesantren, dan juga dikeluarkan secara tidak hormat dengan kabar bahwa Aysantri putri di asrama x menggoda pengasuhnyaAy. Dari kejadian itu, informan ketiga ini mulai dangat membenci pesantren, sudah tidak percaya lagi bahwa orang yang paham agama juga akan bisa sepenuhnya menerapkan pada dirinya. Ia merasa bahwa orang yang paham agama di pesantren hanya sbeatas teori tapi tidak bisa menjalankannya. Hal ini dipukul rata oleh informan kami. Bahkan ia pun mulai tidak menggunakan hijab atau kerudung dalam kehidupan sehari-harinya. Ia mulai mengkonsumsi rokok dan juga minuman keras. Ia sudah tidak terlihat bahwa ia adalah alumni pesantren, karena sebuah kekecewannya. Bahkan ia mencoba melaporkan perbuatan pengasuh tersebut, akan tetapi ia tidak memiliki pendukung yang kuat karena ia bukan dari kalangan putri pemmpin pesantren dan bukan putri dari seorang konglomerat. Vol. No. 2, 2023 Ayu Rahmawati / Aflah Consilia : Jurnal Bimbingan dan Konseling berulang kali melaporkan hal itu, tetapi selalu imbasnya dia yang menerima perlakuan tidak baik dari keluarga pesantren, justru ia yang terdeskriminasi. Sedangkan kedua informan kami lainnya, sudah tidak menerima perlakuan tersebut. Perlakuan tersebut berjalan selama 6 bulan . , dan bedanya kedua informan kami bercerita bahwa mereka tidak sampai melakukan hubungan intim. Dan mereka juga mengaku tidak tahu menahu bahwa kejadian itu juga menimpa temannya yang berinisial APL atau informan kami yang ketiga. Sehingga kedua infoman kami menyimpulkan bahwa jika masih ada orang lain selain ketiga orang tersebut yang dideskrimininasi atas otoritas kekuasaan pengasuh tersebut. Tetapi ia juga sudah tidak mau tahu, dan mulai menjalani hari-harinya seperti biasanya. Karena semenjak kejadian yang menghebohkan itu, pengasuh sudah tidak melakukan perbuatan itu lagi. Setelah infroman kami yang berinisial AK ini lulus, ia mulai mengurus beasiswa untuk melanjutkan perguruan tinggi, karena memang jenjang kelasnya berbeda dengan IA yang masih duduk di kelas 2 dan baru menginjak kelas 3 SMA. AK mulai melanjutkan kuliah di Luar Negeri dengan jurusan Studi Gender yang ada di University of Meilbourne. Alasannya mengambil jurusan tersebut, ia ingin mempelajari hal-hal yang ia alami Karena ia merasa bahwa ia perlu belajar mengenai itu, sejak dahulu AK memang sifatnya maskulin, dia sedikit tomboy dan pemberani, akan tetapi ketika di pesantren didalam dirinya tertanam sikap tawadhuAo yang sulit ia dobrak, karena ketidakberaniaannya terhadap pemuka agama. KESIMPULAN Dari kasus sexual harassment yang dilakukan oleh pengasuh pesantren ini menimbulkan banyak kontroversi batin. Dalam hal ini resiliensi informan kami berbeda-beda, ada yang masih sanggup untuk menjalani kehidupannya dan tidak banyak berdampak fatal pada psikologisnya, ada juga yang berani bangun untuk memulai kehidupannya yang baru. Akan tetapi ada juga dari informan kami yang justru lari kepada hal yang negatif, perbedaan keduanya karena memang perlakuan yang berbeda pula, pada infroman kami yang APL ia sudah sangat parah sampai berhubungan badan, sedangkan kedua lainnya tidak sampai pada hal itu. Sehingga ketahanan diri yang mereka terima juga berbeda. Dari hal diatas bahwasanya resiliensi seseorang akan berbeda ketika tergantung pada tingkat permasalahan yang dihadapi dan diterimanya. Semakin berat permasalahan, semakin rendah pula resiliensi nya karena tertimpa beban yang berat, dan juga Resiliensi Resiliensi Sexual Harassment Vol. No. 2, 2023 Sexual Harassment Ayu Rahmawati / Aflah Consilia : Jurnal Bimbingan dan Konseling DAFTAR PUSTAKA