Sci-Tech Journal Volume 4 Nomor 2 . 184 Ae 191 E-ISSN 2830-6759 DOI: 10. 56709/stj. Pengaruh Penggunaan Ankle Foot Orthosis terhadap Kualitas Cara Berjalan pada Pasien Stroke Taqiyya Nasyiatunnisa1. Ari Budiati Sri Hidayati2. Yuni Pratiwi3 Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Gamping taqiyyana26@gmail. com1, aribudi. umy@gmail. com2, pratiwiyuni456@gmail. ABSTRACT Stroke is the main cause of motor disability, one of which is walking disorders due to This study aims to determine the effect of using Ankle Foot Orthosis (AFO) on walking quality in non-hemorrhagic stroke patients. The method used is a case study on a 58-year-old female patient with left hemiparesis. The intervention in the form of using AFO was carried out for five consecutive days, once a day, with daily evaluation of walking quality using observation sheets and recording walking time of 5 meters. The results showed an improvement in walking after using AFO. the first day before use, the patient walked draggingly and needed 27 seconds to cover a distance of 5 After using AFO, there was an improvement in posture, stability, and lifting of the left leg when Walking time also continued to improve during the five days of intervention. In conclusion, the use of AFO in stroke patients in the acute phase can help improve walking quality significantly. This intervention is effective as part of early mobilization efforts to prevent further decline in function and increase patient independence. Keywords : stroke, hemiparesis, ankle foot orthosis, walking. ABSTRAK Stroke merupakan penyebab utama kecacatan motorik, salah satunya gangguan berjalan akibat hemiparesis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan Ankle Foot Orthosis (AFO) terhadap kualitas berjalan pada pasien stroke non hemoragik. Metode yang digunakan adalah studi kasus dengan intervensi pada satu pasien perempuan usia 58 tahun dengan hemiparesis Intervensi berupa penggunaan AFO dilakukan selama lima hari berturut-turut, satu kali per hari, dengan evaluasi harian terhadap kualitas berjalan menggunakan lembar observasi dan pencatatan waktu tempuh berjalan sejauh 5 meter. Hasil menunjukkan adanya perbaikan cara berjalan setelah penggunaan AFO. Pada hari pertama sebelum penggunaan, pasien berjalan menyeret dan membutuhkan waktu 27 detik untuk menempuh jarak 5 meter. Setelah penggunaan AFO, terjadi perbaikan postur, kestabilan, dan pengangkatan kaki kiri saat melangkah. Waktu tempuh berjalan pun terus membaik selama lima hari intervensi. Kesimpulannya, penggunaan AFO pada pasien stroke dapat membantu meningkatkan kualitas berjalan secara signifikan. Intervensi ini efektif sebagai bagian dari upaya mobilisasi dini guna mencegah penurunan fungsi lebih lanjut dan meningkatkan kemandirian pasien. Kata kunci : stroke, hemiparesis, ankle foot orthosis, cara berjalan. PENDAHULUAN Stroke merupakan penyakit yang menyerang bagian otak dan sangat berbahaya karena otak merupakan organ penting yang mengatur semua fungsi tubuh. Stroke dapat mengganggu sistem motorik tubuh manusia (Sutejo et al. , 2. Stroke merupakan salah satu penyebab utama kecacatan dan kematian di seluruh dunia. Berdasarkan mekanisme patologinya, stroke diklasifikasikan menjadi dua jenis utama, yaitu stroke iskemik . on- 184 | Volume 4 Nomor 2 2025 Sci-Tech Journal Volume 4 Nomor 2 . 184 Ae 191 E-ISSN 2830-6759 DOI: 10. 56709/stj. dan stroke hemoragik. Stroke iskemik terjadi akibat sumbatan pada pembuluh darah otak, sementara stroke hemoragik disebabkan oleh pecahnya pembuluh darah di otak yang menyebabkan perdarahan (Campbell et al. , 2. Stroke iskemik merupakan jenis yang paling umum, mencakup sekitar 85% dari seluruh kasus stroke, sementara stroke hemoragik, meskipun lebih jarang, cenderung menyebabkan gangguan neurologis yang lebih berat (Feigin et al. , 2. Penyakit stroke masih menjadi penyebab kematian nomor dua diperingkat kedua, dan gabungan penyebab kematian dan kecacatan nomor tiga. Negara berpenghasilan rendah atau menengah ke bawah (LMIC) menanggung Sebagian besar beban stroke di seluruh dunia dari tahun 1990 hingga 2019 dengan 86,0% kematian dan 89,0% usia disabilitas yang disesuaikan (Feigin et al, 2. Stroke mengakibatkan kerusakan pada otak yang muncul mendadak, progresif dan cepat akibat gangguan peredaran darah otak non traumatic. Gangguan tersebut secara mendadak menimbulkan gejala antara lain kelumpuhan sesisi wajah atau anggota badan, bicara tidak lancar, bicara tidak jelas . , perubahan kesadaran, gangguan penglihatan (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2. Salah satu dampak fungsional yang paling signifikan dari stroke baik iskemik maupun hemoragik adalah gangguan pada cara berjalan . ait disorde. Gangguan ini dapat disebabkan oleh kelemahan otot, spastisitas, gangguan propriosepsi, serta hilangnya koordinasi dan keseimbangan akibat kerusakan sistem saraf pusat (Park et al. Akibatnya, pasien stroke sering mengalami kesulitan dalam melakukan mobilisasi mandiri, yang berdampak pada penurunan kualitas hidup dan peningkatan ketergantungan terhadap orang lain. Penggunaan Ankle Foot Orthosis (AFO) telah menjadi salah satu intervensi yang umum digunakan untuk mengatasi gangguan berjalan pada pasien stroke. AFO adalah alat ortotik yang dirancang untuk menstabilkan pergelangan kaki dan kaki bagian bawah, serta memperbaiki posisi kaki selama fase ayun dan tumpuan dalam siklus berjalan (Lee et al. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa penggunaan AFO dapat meningkatkan kestabilan, kecepatan berjalan, serta efisiensi energi selama berjalan pada pasien stroke (Wang et al. , 2. Efektivitas AFO dapat bervariasi tergantung pada jenis stroke, tingkat keparahan, jenis AFO yang digunakan, serta durasi pemakaian (Choi et al. , 2. Dalam praktik klinis. AFO direkomendasikan untuk memperbaiki keterbatasan gaya berjalan pada pasien stroke. Pasien stroke sering mengalami gangguan berjalan seperti kecepatan lambat, langkah pendek, dan peningkatan goyangan tubuh. Kelemahan dorsifleksi pergelangan kaki dapat menyebabkan gaya berjalan steppage dan gerakan sirkumduksi tungkai. Penelitian menunjukkan bahwa AFO dapat meningkatkan fungsi berjalan . eperti kecepatan, panjang langkah, irama, dan keseimbanga. serta memperbaiki parameter kinematik, termasuk sudut pergelangan kaki dan lutut selama siklus berjalan. AFO bekerja dengan mendukung dorsifleksi dan membatasi plantarfleksi serta inversi untuk mengoreksi kelainan gaya berjalan (Choo & Chang, 2. Berdasarkan latar belakang diatas, penggunaan AFO dapat mempengaruhi kualitas cara berjalan pasien stroke melalui peningkatan stabilitas, posisi kaki, serta dukungan terhadap fungsi dorsifleksi. Sehingga peneliti tertarik untuk mengetahui pengaruh 185 | Volume 4 Nomor 2 2025 Sci-Tech Journal Volume 4 Nomor 2 . 184 Ae 191 E-ISSN 2830-6759 DOI: 10. 56709/stj. penggunaan AFO terhadap kualitas cara berjalan pada pasien stroke. TINJAUAN LITERATUR Stroke Stroke merupakan kondisi medis yang terjadi akibat gangguan aliran darah ke otak, yang dapat menyebabkan kerusakan pada jaringan otak dan gangguan pada berbagai fungsi tubuh. Secara umum, stroke dibagi menjadi dua jenis utama: stroke iskemik dan stroke hemoragik. Stroke iskemik terjadi karena adanya penyumbatan pembuluh darah yang mengalirkan darah ke otak, sedangkan stroke hemoragik disebabkan oleh pecahnya pembuluh darah yang menyebabkan perdarahan (Thrift et al. Gangguan aliran darah ini menyebabkan hilangnya fungsi otak secara permanen atau sementara, dengan gejala yang bervariasi tergantung pada area otak yang Stroke sering kali mempengaruhi kemampuan motorik pasien, dengan salah satu dampak paling umum adalah kelemahan atau kelumpuhan pada satu sisi tubuh yang dikenal dengan istilah hemiparesis. Hemiparesis ini mengganggu berbagai aspek kehidupan pasien, terutama dalam melakukan aktivitas motorik kasar, seperti berjalan, berdiri, atau bahkan bergerak di sekitar rumah. Selain itu, pasien pasca-stroke berisiko tinggi mengalami komplikasi lainnya, termasuk gangguan pada pernapasan, keseimbangan, dan mobilitas (Nakamura et al. , 2. Berdasarkan data global, stroke merupakan salah satu penyebab utama kematian dan kecacatan di seluruh dunia. Oleh karena itu, pengelolaan stroke menjadi sangat penting, baik untuk meningkatkan kualitas hidup pasien maupun untuk mengurangi dampak jangka panjang dari gangguan motorik yang ditimbulkan (Gorelick et al. , 2. Gaya Berjalan Gaya berjalan adalah pola gerakan yang digunakan oleh tubuh manusia saat Pada pasien stroke, gaya berjalan sering mengalami gangguan yang disebabkan oleh kelemahan otot, ketidakseimbangan, dan gangguan koordinasi motorik. Gaya berjalan pada pasien stroke biasanya tidak simetris, dengan perbedaan antara sisi tubuh yang terkena dan sisi yang tidak terkena stroke. Hal ini sering kali menambah kesulitan pasien dalam bergerak secara mandiri. Beberapa gangguan gaya berjalan yang umum ditemukan pada pasien stroke meliputi foot drop, yang menyebabkan pasien tidak dapat mengangkat bagian depan kaki, steppage gait, di mana pasien mengangkat kaki lebih tinggi untuk mengimbangi kaki yang menyeret, dan circumduction, yaitu gerakan melingkar saat mengangkat kaki yang terkena (Mann et al. , 2. Gangguan-gangguan ini tidak hanya menghambat mobilitas pasien, tetapi juga meningkatkan risiko jatuh yang dapat menyebabkan cedera lebih lanjut. Pada pasien stroke, kemampuan berjalan yang buruk sering kali berhubungan dengan ketidakmampuan untuk mengontrol pergelangan kaki, terutama pada fase swing ketika kaki diangkat. Masalah utama yang ditemukan adalah dorsiflexi pergelangan kaki yang lemah, yang mengakibatkan kaki tertarik ke bawah dan menyebabkan foot drop (Suk et al. , 2. Hal ini menyebabkan pasien mengalami kesulitan dalam mengangkat kaki dengan efisien, yang pada gilirannya memperburuk kualitas gaya berjalan dan memperlambat proses rehabilitasi. 186 | Volume 4 Nomor 2 2025 Sci-Tech Journal Volume 4 Nomor 2 . 184 Ae 191 E-ISSN 2830-6759 DOI: 10. 56709/stj. Ankle Foot Orthosis Ankle Foot Orthosis (AFO) adalah alat ortotik yang digunakan untuk memberikan dukungan pada pergelangan kaki dan kaki bagian bawah. AFO bertujuan untuk membantu pasien dengan gangguan pergerakan, terutama yang disebabkan oleh stroke, untuk memulihkan gaya berjalan mereka. Fungsi utama AFO adalah memberikan dukungan pada dorsifleksi pergelangan kaki, mencegah foot drop, serta meningkatkan stabilitas dan kontrol pada pergelangan kaki dan sendi bawah kaki selama fase stance dan swing (Lee et , 2. Penggunaan AFO terbukti membantu memperbaiki kecepatan berjalan, panjang langkah, keseimbangan, dan simetri gaya berjalan pasien stroke (Lim et al. , 2. Dengan memberikan dukungan pada dorsifleksi dan membatasi gerakan plantarfleksi serta inversi yang berlebihan. AFO memungkinkan pasien berjalan dengan lebih stabil dan efisien (Scholtes et al. , 2. AFO juga membantu mengurangi risiko jatuh dan meningkatkan kepercayaan diri pasien dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Efektivitasnya dapat meningkat jika disesuaikan dengan kebutuhan individual pasien (Wong et al. , 2. METODE PENELITIAN Metode penelitian ini menggunakan desain laporan kasus . ase repor. dengan Pemilihan kasus dilakukan secara acak menggunakan kriteria khusus yaitu pasien stroke non hemoragik dengan hemiparesis. Sampel penelitian adalah seorang perempuan berusia 58 tahun yang sedang dirawat di ruang rawat inap RS PKU Muhammadiyah Gamping. Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 15 Ae 19 April 2025. Pengumpulan data dilakukan dengan memberikan intervensi berupa penggunaan AFO pada kaki yang mengalami kelemahan anggota gerak yaitu ekstremitas kiri. Sebelum intervensi, cara berjalan pasien masih kesulitan dan menyeret. Selanjutnya intervensi pertama penggunaan AFO diberikan pada malam hari pukul 18. 30, selama 5 hari berturut Ae turut dengan perbedaan jam yang tidak tentu setiap harinya tergantung jadwal shift jaga. Peneliti melakukan pengkajian, intervensi, dan evaluasi. Penilaian kualitas cara berjalan dilakukan menggunakan lembar monitoring observasi. Data selama 5 hari dikumpulkan dan dianalisis untuk mengevaluasi pengaruh penggunaan AFO pada kualitas cara berjalan pada pasien HASIL DAN PEMBAHASAN Studi kasus ini dilakukan pada pasien Ny. S dengan diagnosis medis stroke non hemoragik hemiparesis sinistra dengan hipertensi (HT) yang dirawat di ruang rawat inap RS PKU Muhammadiyah Gamping. Dari hasil pengkajian, diketahui bahwa Ny. S datang ke IGD dengan keluhan lemas pada anggota gerak kiri, terasa berat, serta mengalami kesulitan dalam menggenggam dan berjalan. Pasien berjalan dengan menyeret kaki kiri dan memerlukan bantuan orang lain. Riwayat hipertensi pada pasien terkontrol dengan pengobatan rutin. Hasil pemeriksaan kekuatan otot menunjukkan pada grade 3/5, yang berarti pasien mampu menggerakkan anggota gerak melawan gravitasi tetapi tidak melawan tahanan luar. Sebelum intervensi dilakukan, penulis memberikan lembar informed consent kepada pasien dan keluarga, masalah keperawatan yang muncul pada kasus ini adalah gangguan mobilitas fisik yang disebabkan karena penurunan kekuatan 187 | Volume 4 Nomor 2 2025 Sci-Tech Journal Volume 4 Nomor 2 . 184 Ae 191 E-ISSN 2830-6759 DOI: 10. 56709/stj. Implementasi dilakukan sesuai dengan intervensi yang sudah ditetapkan yaitu penggunaan AFO pada kaki yang mengalami kelemahan yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas cara berjalan pada pasien. Penggunaan ini diberikan 1 kali pertemuan dalam sehari sealam 5 hari berturut-turut. Pada hari pertama sebelum penggunaan AFO pasien berjalan dengan pola yang menyeret dan tidak stabil. Setelah penggunaan AFO pada hari yang sama, terjadi perbaikan postural dan stabilitas kaki kiri, pasien mampu mengangkat kaki kiri lebih baik saat melangkah. Ini menunjukkan respons awal positif terhadap intervensi. Dihari berikutnya peneliti melakukan tindak lanjut untuk melakukan evaluasi harian terhadap cara berjalan setelah penggunaan AFO. Tabel 1. Perkembangan kualitas cara berjalan pasien stroke dengan penggunaan Ankle Foot Orthosis Hari Simetris Foot 5MWT FAC Komentar / Langkah Clearance . Score Observasi Sangat Menyeret Cara berjalan tidak . ebelum stabil, sulit AFO) mengayun kaki Asimetris Kaki mulai Ada perbaikan . esudah kecepatan dan AFO) Sedikit Lebih baik Stabilitas mulai Hampir Terangkat Cara berjalan lebih efisien dan percaya Simetris Terangkat Langkah mulai stabil Simetris Cara berjalan Sumber : Gamping, 19 April 2025 Setelah diberikan intervensi penggunaan AFO selama lima hari berturut-turut, terjadi perubahan yang signifikan pada cara berjalan pasien dengan stroke. Pada hari pertama sebelum penggunaan AFO, langkah pasien terlihat sangat asimetris dan masih menyeret kaki kiri. Waktu tempuh untuk berjalan sejauh 5 meter tercatat 27 detik, dengan skor FAC 2, yang menunjukkan pasien masih memerlukan bantuan fisik ringan dari orang lain untuk menjaga keseimbangan. Setelah AFO digunakan pada hari pertama, terjadi peningkatan stabilitas dan kemampuan mengangkat kaki kiri. Waktu tempuh turun menjadi 21 detik, dan FAC meningkat menjadi 3, yang berarti pasien sudah mulai mampu berjalan dengan bantuan minimal dan pengawasan. Pada hari kedua, pasien menunjukkan kemajuan lebih lanjut. Langkah menjadi lebih ritmis dan waktu tempuh membaik menjadi 18 detik, dengan skor FAC tetap di level Pasien mampu mempertahankan postur tegak saat berjalan dengan dukungan alat Perbaikan berlanjut pada hari ketiga dan keempat, di mana pasien menunjukkan 188 | Volume 4 Nomor 2 2025 Sci-Tech Journal Volume 4 Nomor 2 . 184 Ae 191 E-ISSN 2830-6759 DOI: 10. 56709/stj. peningkatan dan kepercayaan diri saat berjalan. Waktu tempuh masing-masing adalah 15 detik dan 13 detik, dengan skor FAC naik ke level 4, menunjukkan pasien dapat berjalan secara mandiri namun masih dalam pengawasan. Pada hari kelima, waktu tempuh pasien mencapai 12 detik, menunjukkan peningkatan kecepatan dan efisiensi berjalan. Pasien mampu berjalan dengan lebih baik dan langkah menjadi lebih simetris. Skor FAC tetap di level 4, mengindikasikan bahwa meskipun pasien belum sepenuhnya mandiri, kemajuan menuju kemandirian berjalan sudah signifikan. Hasil intervensi penggunaan AFO pada pasien stroke dalam studi ini menunjukkan peningkatan bertahap terhadap kualitas berjalan, yang meliputi kecepatan, simetri langkah, serta kemandirian fungsional berjalan. Penurunan waktu tempuh dari 27 detik menjadi 12 detik dalam jarak 5 meter mencerminkan peningkatan cara berjalan. Selain itu, peningkatan skor FAC dari level 2 ke 4 menunjukkan penurunan ketergantungan pasien terhadap bantuan orang lain dalam aktivitas berjalan. Hasil tersebut sejalan dengan temuan darI yang melakukan meta-analisis terhadap efektivitas AFO pada pasien stroke. Mereka menemukan bahwa penggunaan AFO secara signifikan meningkatkan kecepatan berjalan, panjang langkah, dan level kemandirian, dengan efek yang paling nyata pada pasien dengan gangguan dorsifleksi (Choo & Chang Penelitian ini juga menyimpulkan bahwa penggunaan AFO memberikan efek positif baik pada fase akut maupun kronik pasca stroke. Penelitian lain yang mendukung temuan tersebut dengan menyatakan bahwa AFO mampu memperbaiki sudut dorsifleksi pergelangan kaki selama fase ayun . wing phas. , yang merupakan salah satu faktor kunci dalam efisiensi berjalan (Wada et al. , 2. Penggunaan AFO juga terbukti mengurangi kompensasi yang tidak efisien pada ekstremitas bawah dan memperbaiki kualitas langkah, sehingga pasien dapat bergerak dengan lebih efisien dan aman. Dari perspektif neuromuskular, menunjukkan bahwa AFO dapat memodulasi aktivitas otot, khususnya meningkatkan kontraksi otot tibialis anterior dan mengurangi aktivitas otot gastrocnemius yang tidak perlu pada sisi paretik (Zhang et al. , 2. Dalam studi kasus ini, temuan tersebut terefleksi melalui perbaikan langkah kaki kiri yang sebelumnya sangat terbatas dan menyeret. Selain itu, pasien menjadi lebih percaya diri dalam melangkah, yang mempercepat pemulihan fungsi motorik secara keseluruhan. AFO juga berperan penting dalam meningkatkan kestabilan lateral selama berjalan, yang sangat penting bagi pasien dengan hemiparesis (Kim et al. , 2. Stabilitas lateral yang membaik berkontribusi terhadap pengurangan risiko jatuh serta peningkatan rasa aman dalam aktivitas ambulasi. Perbaikan inilah yang tampaknya menjadi faktor pendukung utama peningkatan skor FAC dalam kasus ini. Secara keseluruhan, peningkatan performa berjalan pada pasien ini mencerminkan keberhasilan intervensi jangka pendek AFO dalam memfasilitasi pemulihan mobilitas fungsional. Penggunaan AFO selama lima hari secara berturut-turut tidak hanya memberikan efek biomekanik terhadap posisi dan gerakan kaki, tetapi juga membantu dalam proses rehabilitasi neuroplastik yang berperan penting dalam pemulihan pasien stroke. Intervensi ini, jika dikombinasikan dengan pendekatan terapi fisik yang konsisten, dapat mempercepat pencapaian kemandirian dalam mobilitas dan 189 | Volume 4 Nomor 2 2025 Sci-Tech Journal Volume 4 Nomor 2 . 184 Ae 191 E-ISSN 2830-6759 DOI: 10. 56709/stj. meningkatkan kualitas hidup pasien secara menyeluruh. KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil analisa dan pembahasan yang dilakukan pada studi kasus dengan judul AuPengaruh Penggunaan Ankle Foot Orthosis terhadap Kualitas Cara Berjalan pada Pasien StrokeAy dapat disimpulkan bahwa pengkajian asuhan keperawatan telah dilaksanakan secara menyeluruh sehingga didapatkan masalah keperawatan yang muncul dari analisa data dengan diagnose keperawatan gangguan mobilitas fisik yang disebabkan karena penurunan kekuatan otot. Hasil intervensi penggunaan AFO pada pasien stroke nonhemoragik dengan hemiparesis menunjukkan hasil yang positif dalam peningkatan kualitas cara berjalan meskipun pasien masih berada di ruang rawat inap. Intervensi selama lima hari secara berturut-turut membantu pasien mengurangi gaya berjalan menyeret, memperbaiki kestabilan, dan mempercepat waktu tempuh dalam berjalan sejauh 5 meter. Peningkatan skor Functional Ambulation Category (FAC) juga menunjukkan peningkatan kemampuan berjalan dengan pengawasan minimal, meskipun pasien belum sepenuhnya Hal ini menunjukkan bahwa intervensi seperti penggunaan AFO dapat memberikan manfaat signifikan. Diharapkan kedepannya penggunaan AFO dapat dijadikan intervensi awal yang efektif dalam penanganan mobilitas pasien stroke di ruang rawat inap, terutama pada pasien yang memiliki kekuatan otot minimal grade 3/5 dan menunjukkan ketidakmampuan dorsifleksi kaki. AFO dapat dipertimbangkan lebih awal sebagai alat bantu stabilisasi kaki untuk mendukung mobilisasi dini yang aman, mencegah komplikasi akibat imobilisasi, dan memberikan dasar yang baik untuk fase rehabilitasi berikutnya. Tenaga kesehatan perlu melakukan penilaian fungsional harian dan edukasi singkat kepada pasien serta keluarga tentang penggunaan AFO agar pemanfaatannya lebih optimal sejak dini. DAFTAR PUSTAKA