Available online at https://ejournal. id/ejournal/index. php/jkk Jurnal Kebidanan dan Keperawatan 'Aisyiyah, 16 . , 2020, 196-205 Pengaruh Parenting Class Terhadap Kesiapan Ibu Menghadapi Pubertas Anak Diah Nur Anisa1,*. Istinengtiyas Tirta Suminar2 Universitas AoAisyiyah Yogyakarta. Jalan Siliwangi No. 63 Nogotirto Gamping Sleman. Yogyakarta 55292. Indonesia nursediahanisa@gmail. 2tirtasuminar@yahoo. * corresponding author Tanggal Submisi: 1 Mei 2020. Tanggal Penerimaan: 10 Mei 2020 Abstrak Remaja membutuhkan dukungan serta arahan baik dari orang tua maupun dari guru di sekolah agar anak mampu melewati periode pubertas, salah satunya adalah dengan kegiatan kelas parenting bagi orangtua. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh parenting class terhadap kesiapan ibu menghadapi pubertas Penelitian ini menggunakan metode penelitian pre-eksperimen dengan desain one group pretest-posttest. Pengambilan data dalam penelitian ini menggunakan kuesioner kesiapan ibu menghadapi pubertas anak. Uji statistik menggunakan paired t-test. Hasil penelitian menunjukkan terdapat pengaruh parenting class terhadap kesiapan ibu menghadapi pubertas anak dengan nilai p value <0,000. Kata kunci: kelas parenting. kesiapan ibu. The Effect Of Parenting Class On The Readiness Of Mothers To Face Child Puberty Abstract Adolescents need support and direction from both parents and teachers at school so that children can pass the puberty period, one of which is through parenting class activities for parents. This study aims to determine the effect of parenting class on maternal readiness to face child puberty. This study used a preexperimental research method with one group pretest-posttest design. Retrieval of data in this study using questionnaires and the readiness of mothers to face child Statistical test using paired t-test. The results showed an effect of parenting class on mother's readiness to face child's puberty with a p-value <0. Keywords: Parenting class. Puberty. Readiness mother. Adolescent _______________________________________ PENDAHULUAN Remaja merupakan aset masa depan bangsa yang harus dipersiapkan dalam berbagai aspek. Pemerintah perlu meningkatkan sejak dini kualitas remaja baik dari segi pendidikan, kesehatan, maupun keterlibatan secara ekonomi. 31101/jkk. This is an open access article under the CCAeBY-SA license. Jurnal Kebidanan dan Keperawatan Aisyiyah, 16 . , 2020 Diah Nur Anisa. Istinengtiyas Tirta Suminar Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor HK. 02/MENKES/52/2015 tentang Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2015Ae2019, salah satu sasaran strategis yang akan dicapai kementerian kesehatan adalah pembinaan ketahanan remaja. Indikator keberhasilan diukur dari peningkatan persentase pengetahuan dan pemahaman remaja tentang kesehatan reproduksi sebesar 75%. Masa remaja akan dihadapkan dengan kematangan seksual yang disebut dengan fase pubertas. Remaja akan menghadapi perubahan baru dalam hidupnya. Hal ini membutuhkan penyesuaian secara mental. Perubahan bentuk tubuh dan kematangan seksual akan sangat berpengaruh pada kehidupan kejiwaan remaja. Penolakan biasa terjadi pada fase ini (Sulistioningsih, 2. Masa puber juga disebut sebagai fase negatif. Fase negatif ini seringkali lebih menonjol pada anak perempuan daripada anak laki-laki (Hurlock, 2. Pubertas merupakan periode rentang perkembangan transisi dari fase anakanak akhir beralih memasuki fase dewasa. Secara normal pubertas terjadi pada kisaran usia 10-15 tahun untuk anak laki-laki, sedangkan pada anak perempuan pubertas terjadi lebih cepat yaitu usia 9-14 tahun. Pada masa ini anak cenderung sering mengalami berbagai jenis gangguan emosional akibat perubahan hormonal Periode ini berlangsung sangat singkat yaitu antara dua sampai empat tahun sehingga peran orang tua dalam perkembangan sosial emosional anak sangat penting (Wong, et al. , 2. Remaja yang berada masa pubertas membutuhkan dukungan serta arahan baik dari orang tua maupun dari guru di sekolah agar anak mampu melewati periode pubertas serta bertumbuh kembang dengan normal. Hasil penelitian Nuraini . menunjukkan bahwa 60,6% remaja tidak siap menghadapi Hal ini didukung kurangnya dukungan orang tua pada anak pada masa Dukungan dapat berupa pemberian stimulasi pada otak sehingga dapat memproses segala sesuatu dengan optimal. Salah satunya adalah dengan kegiatan Parenting merupakan upaya pendidikan yang dilaksanakan oleh keluarga yang memanfaatkan sumber-sumber yang tersedia dalam lingkungan yang berbentuk kegiatan mandiri (Nuraini, 2. Hal ini sejalan dengan penelitian Grindal, et al. , . yang menyatakan bahwa dengan adanya parenting education memberikan kesempatan bagi orangtua untuk memberikan contoh dan pendidikan kesehatan kepada remaja, pada saat parenting education ini anak juga akan mencontoh setiap tindakan orangtua dalam melakukan perawatan kesehatan sehingga tahap parenting education ini diharapkan dapat membentuk karakter anak menjadi positif. Hasil penelitian Meilani et al. , . menunjukkan sebagian besar ibu belum menyampaikan kepada remaja tentang berbagai kejadian pada masa pubertas, seperti penyampaian masa pubertas . ,6%), tanda kematangan alat reproduksi . ,4%), perubahan fisik pada masa pubertas . ,2%), pengenalan dan fungsi organ reproduksi . ,8%), proses kejadian kehamilan . ,1%), masa subur . ,1%), tanda-tanda kehamilan . ,3%), aborsi . ,2%), maupun terkait cara Diah Nur Anisa. Istinengtiyas Tirta Suminar (Pengaruh Parenting Class Terhadap Kesiapan Ibu A) Copyright A 2020. Jurnal Kebidanan dan Keperawatan Aisyiyah ISSN 1858-0610 . | ISSN 2477-8184 Jurnal Kebidanan dan Keperawatan Aisyiyah, 16 . , 2020 Diah Nur Anisa. Istinengtiyas Tirta Suminar menghindari infeksi menular seksual (IMS) (>80%). Hal yang membuat ibu tidak siap menghadapi pubertas anak dapat terjadi disebabkan terbatasnya pengetahuan yang dimiliki orangtua tentang kesehatan reproduksi remaja, adanya rasa malu yang membuat orangtua malas menyampaikan informasi tentang kesehatan reproduksi remaja, norma-norma konservatif yang membuat pembicaraan mengenai reproduksi dianggap sebagai hal yang tabu (Meilani et al. , 2. Orang tua terutama ibu sebagai penyokong utama tumbuh kembang anak harus memiliki kesadaran bahwa mengasuh anak diperlukan berbagai macam pengetahuan dan kesiapan terutama dalam menghadapi anak pada masa pubertas. Kelas parenting merupakan metode yang tepat bagi orang tua dalam pembentukan karakter anak. Parenting bukan hanya sekedar mengasuh anak, namun orang tua juga harus mendidik, membimbing, serta melindungi setiap perkembangan anak. Manfaat yang dapat diperoleh dari kelas parenting adalah menambah wawasan serta pengetahuan orang tua dalam hal pengasuhan anak sesuai usia, karakter dan perkembangannya sehingga orang tua memiliki kesiapan yang baik dalam menghadapi anak dalam periode pubertas. Hasil studi pendahuluan yang dilakukan peneliti tanggal 26 Agustus 2020 di SD 2 Jambidan. Banguntapan. Bantul didapatkan bahwa 7 dari 9 ibu yang diwawancarai menyatakan belum siap menghadapi pubertas anaknya. Ibu mengatakan merasa malu dan bingung bagaimana menjelaskan masalah pubertas pada anaknya. Ibu juga mengatakan belum pernah mengikuti kelas parenting Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi pengaruh kelas parenting terhadap kesiapan ibu menghadapi pubertas anak di SD 2 Jambidan. Banguntapan. Bantul. METODE Rancangan penelitian ini menggunakan metode penelitian pre-eksperimen dengan desain one group pretest-posttest. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi pengaruh parenting class terhadap kesiapan ibu menghadapi pubertas anak di SD 2 Jambidan. Banguntapan. Bantul. Yogyakarta. Penelitian ini dilakukan pada bulan Oktober 2020. Populasi dalam penelitian ini adalah siswi VI tahun ajaran 2019/2020 SD 2 Jambidan. Banguntapan. Bantul. Yogyakarta sebanyak 30 orang dengan kriteria ibu yang mampu membaca dan menulis, bersedia menjadi responden. Pengambilan sampel dengan teknik total sampling yaitu mengambil dari keseluruhan populasi. Instrumen pengumpulan data yang digunakan terdiri dari 2 kuesioner, yaitu kuesioner A dan kuesioner B. Kuesioner A berisi pertanyaan tentang karakteristik responden . nisial, usia, pendidikan, pangalaman informasi pubertas, pekerjaa. Kuesioner B diadopsi dari Sitorus . yang berisi 20 pertanyaan tentang kesiapan ibu menghadapi Pubertas. Jawaban item pertanyaan menggunakan skala Gutman yang meliputi AuyaAy merupakan pernyataan ( ) diberi skor 1 dan AutidakAy pernyataan (-) diberi Kesiapan ibu menghadapi pubertas anak dibagi menjadi 3 dengan skala interval meliputi skor 16-20 . esiapan bai. , skor 13-15 . esiapan cuku. , dan skor <13 . esiapan kuran. Kuesioner B diberikan kepada responden saat sebelum dan sesudah dilakukan intervensi parenting class tentang pubertas. Analisis data yang Diah Nur Anisa. Istinengtiyas Tirta Suminar (Pengaruh Parenting Class Terhadap Kesiapan Ibu A) Copyright A 2020. Jurnal Kebidanan dan Keperawatan Aisyiyah ISSN 1858-0610 . | ISSN 2477-8184 Jurnal Kebidanan dan Keperawatan Aisyiyah, 16 . , 2020 Diah Nur Anisa. Istinengtiyas Tirta Suminar digunakan adalah analisis univariat berupa karakteristik responden . sia, pekerjaan, pengalaman informasi dan pendidika. kesiapan ibu dalam menghadapi pubertas anak, sedangkan analisis bivariat menggunakan uji kolmogorov smirnov untuk menguji normalitas data kemudian dilakukan uji paired t-test untuk melihat pengaruh parenting class tentang pubertas terhadap kesiapan ibu menghadapi pubertas anak di SD 2 Jambidan. Banguntapan. Bantul. Analisis hasil untuk penelitian ini akan menggunakan program SPSS versi 19. HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik responden dalam penelitian ini meliputi usia ibu, pekerjaan, pendidikan, keterpaparan informasi, sumber informasi. Tabel 1. Distribusi frekuensi karakteristik responden . Karakteristik Jumlah Presentase Usia Ibu Dewasa awal . -35 tahu. Dewasa akhir . -45 tahu. Lansia awal . -55 tahu. Pekerjaan Swasta Wirausaha Buruh IRT Pendidikan SMP SMA Perguruan Tinggi Keterpaparan Informasi Terpapar Belum terpapar Sumber Informasi Belum mendapat informasi Guru Media elektronik Media cetak Teman/saudara Tabel 1 menunjukkan bahwa karakteristik usia ibu berada pada tahap dewasa akhir . -45 tahu. sebanyak 12 . %) responden, dewasa awal 10 . ,3%) responden dan lansia awal 8 . ,7%) responden. Usia seorang ibu dapat mempengaruhi kesiapan ibu dalam menghadapi pubertas anak. Hal ini sejalan dengan penelitian Ratih et al. dimana sebagian besar ibu yakni 79,3% responden berusia 36-45 tahun memiliki upaya mempersiapkan masa pubertas anak dengan kategori baik sebanyak 38 . ,5%). Berdasarkan tabel 1 pada karakteristik pekerjaan ibu, sebagian besar ibu bekerja sebagai buruh sebanyak 13 orang . ,3%) dan ibu rumah tangga sebanyak Diah Nur Anisa. Istinengtiyas Tirta Suminar (Pengaruh Parenting Class Terhadap Kesiapan Ibu A) Copyright A 2020. Jurnal Kebidanan dan Keperawatan Aisyiyah ISSN 1858-0610 . | ISSN 2477-8184 Jurnal Kebidanan dan Keperawatan Aisyiyah, 16 . , 2020 Diah Nur Anisa. Istinengtiyas Tirta Suminar 12 orang . %). Pekerjaan ibu memiliki pengaruh besar terhadap kondisi ekonomi dan sosial yang ada dalam keluarga, serta pola pikir seorang ibu. Ibu yang bekerja secara finansial mampu mencukupi kebutuhan anaknya, namun di sisi lain tidak memiliki banyak waktu atau cenderung kurang peduli pada anaknya, sehingga anak kurang leluasa dalam bercerita maupun bertanya mengenai masa pubertas yang dialaminya. Ibu sebaiknya meluangkan sedikit waktu untuk anak karena ibu sebagai orangtua memiliki tanggung jawab untuk menjelaskan segala informasi yang dibutuhkan mengenai pubertas pada remaja sehingga anak lebih siap menghadapi masa pubertasnya (Mayangsari, 2. Agar lebih siap menghadapi berbagai pertanyaan seputar pubertas anak, ibu harus banyak membaca referensi terkait parenting agar menjadi bekal ibu dalam menjelaskan informasi kepada anak. Berdasarkan tabel 1 pada karakteristik pendidikan ibu paling banyak dengan tingkat pendidikan SMA sebanyak 10 orang . ,3%). SMP terdapat 9 orang . %). SD terdapat 9 orang . %). Pendidikan ibu yang berasal dari berbagai tingkatan akan mempengaruhi bagaimana cara ibu tersebut menjelaskan dan berbagi informasi terkait pubertas kepada anak. Dalam menjelaskan sesuatu, ibu dengan tingkat pendidikan tinggi lebih mudah menjelaskan suatu persoalan dibandingkan ibu yang memiliki tingkat pendidikan rendah sehingga informasi yang disampaikan lebih mudah dapat dipahami dan diterima oleh anak (Budiman & Riyanto, 2. Hal ini sejalan dengan penelitian Astutik & Indriyani . yang menyimpulkan bahwa pendidikan ibu menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi hubungan peran ibu dengan kesiapan menghadapi pubertas pada anak perempuan. Tingkat pendidikan menentukan adanya sumber informasi yang dimiliki oleh ibu untuk memberikan konseling terkait masa pubertas pada anak. Hal ini juga sejalan dengan Wuryanto . dimana ibu yang memiliki pendidikan yang baik maka akan memiliki pengalaman dan pengetahuan yang lebih juga dalam mengajarkan anak terkait pubertas. Ibu yang memiliki pendidikan dan pengetahuan yang tinggi akan lebih tanggap serta aktif dalam memberikan pemahaman dan informasi pada anak mengenai masa pubertas. Berdasarkan tabel 1 terkait paparan informasi responden paling banyak terdapat 22 orang . ,3%) sudah terpapar informasi mengenai pubertas dan sumber informasi yang paling banyak didapatkan dari media cetak . Menurut Naghshineh et al. , . menyatakan bahwa keterpaparan informasi pada orangtua mempunyai keterkaitan dengan sikap remaja dalam menghadapi masa pubertas, dengan adanya pengetahuan maka orangtua mampu untuk membekali anaknya terkait pubertas. Peneliti tersebut, menjelaskan bahwa ibu yang mempunyai peranan paling penting untuk mendidik anak terkait kondisi psikologis saat menghadapi pubertas. Penelitian ini menggunakan 200 partisipan ibu dengan usia 10-15 tahun dengan hasil penelitian terdapat hubungan antara pendidikan orangtua dengan pengetahuan anak terkait pengetahuan pubertas. Berikut ini merupakan gambaran kesiapan ibu menghadapi pubertas pada anak sebelum diberikan intervensi parenting class. Diah Nur Anisa. Istinengtiyas Tirta Suminar (Pengaruh Parenting Class Terhadap Kesiapan Ibu A) Copyright A 2020. Jurnal Kebidanan dan Keperawatan Aisyiyah ISSN 1858-0610 . | ISSN 2477-8184 Jurnal Kebidanan dan Keperawatan Aisyiyah, 16 . , 2020 Diah Nur Anisa. Istinengtiyas Tirta Suminar Tabel 2. Kesiapan ibu menghadapi pubertas anak sebelum intervensi parenting class tentang pubertas . Kesiapan Jumlah Persentase (%) Baik . kor 16-. Cukup . kor 13-. Kurang . kor <. Jumlah Berdasarkan tabel 2 dapat disimpulkan bahwa kesiapan ibu sebelum diberikan pendidikan kesehatan dalam kategori cukup sebanyak 12 responden . %). Kesiapan merupakan seluruh kondisi seseorang yang menjadikan siap dalam menghadapi suatu permasalahan. Kesediaan ini dapat juga timbul dari dalam diri seseorang yang mempunyai hubungan dengan tingkat kematangan dalam melakukan tindakan. Kondisi yang mencakup kesiapan diantaranya adalah kondisi fisik, kebutuhan dan tujuan seseorang dan ketrampilan yang dimiliki untuk melakukan tindakan (Meliala, 2. Pada tabel kesiapan sebelum diberikan intervensi menunjukan bahwa 12 responden mempunyai kesiapan dengan kategori cukup sebanyak 12 responden. Hal ini sejalan dengan penelitian Meliala . yang menunjukan bahwa 70% responden menunjukkan tidak siap dalam menghadapi pubertas karena tingkat informasi yang rendah. Seorang ibu dikatakan siap jika sudah mendapatkan informasi terkait pubertas sehingga ibu mampu untuk mendampingi dan memberikan konsultasi kepada anaknya. Tabel 3. Kesiapan ibu menghadapi pubertas anak sesudah intervensi parenting class tentang pubertas . Kesiapan Jumlah Persentase (%) Baik . kor 16-. Cukup . kor 13-. Kurang . kor <. Jumlah Berdasarkan Tabel 3 dapat simpulkan bahwa kesiapan ibu sesudah diberikan pendidikan kesehatan dalam kategori baik sebanyak 24 responden . %). Hasil dari skor post-test didapatkan bahwa terdapat peningkatan kesiapan ibu dalam menghadapi pubertas anak sebelum diberikan parenting class terdapat 9 responden dalam kategori kesiapan baik dan setelah diberikan pendidikan kesehatan terdapat 24 responden dalam kategori baik. Hal ini terjadi karena peningkatan pengetahuan ibu selama diberikan parenting class, sejalan dengan penelitian Arini et al. menjelaskan bahwa parenting class atau pendidikan kesehatan ditujukan untuk meningkatkan pengetahuan dan kesiapan ibu dalam menghadapi pubertas. Berikut merupakan langkah-langkah pendidikan kesehatan terdapat 4 fase yaitu, persiapan, fase orientasi, fase kerja dan fase terminasi. Pada fase-fase tersebut diharapkan dalam memberikan ketrampilan ibu dalam mendampingi anak menghadapi pubertas. Diah Nur Anisa. Istinengtiyas Tirta Suminar (Pengaruh Parenting Class Terhadap Kesiapan Ibu A) Copyright A 2020. Jurnal Kebidanan dan Keperawatan Aisyiyah ISSN 1858-0610 . | ISSN 2477-8184 Jurnal Kebidanan dan Keperawatan Aisyiyah, 16 . , 2020 Diah Nur Anisa. Istinengtiyas Tirta Suminar Tabel 4. Uji normalitas kesiapan ibu menghadapi pubertas anak . Kolmogorov-Smirnov Shapiro-Wilk Statistic Sig. Statistic Selisih Kesiapan Ibu sebelum dan sesudah 0,124 0,200 0,962 Parenting Class Sig. 0,354 Berdasarkan tabel 4 uji normalitas menggunakan uji Shapiro Wilk . diperoleh nilai signifikansi 0,354 . >0,. yang artinya data kesiapan ibu menghadapi pubertas anak berdistribusi normal sehingga selanjutnya untuk melihat perbedaan kesiapan ibu menghadapi pubertas anak sebelum dan sesudah intervensi parenting class dilakukan dengan uji Paired T-Test. Tabel 5. Distribusi perbedaan kesiapan ibu menghadapi pubertas anak sebelum dan sesudah intervensi parenting class tentang pubertas . Variabel Kesiapan Mean (SD) Selisih Mean (SD) IK 95% Nilai p Kesiapan ibu menghadapi pubertas 14,23 . anak sebelum Parenting Class Kesiapan ibu menghadapi pubertas 16,60 . 2,37 (-0,. 1,34-3,39 0,000 anak sesudah Parenting Class Tabel 5 menunjukkan bahwa terdapat perbedaan nilai rata-rata kesiapan antara pre-test dan post-test sebesar 2,37 dengan standar deviasi -0,5. Dari hasil estimasi interval dapat diyakini sebesar 95% selisih kesiapan sebelum intervensi parenting class dengan kesiapan ibu sesudah intervensi parenting class adalah antara 1,34 sampai 3,39. Hasil uji T berpasangan didapatkan nilai signifikansi sebesar 0,000 . <0,. artinya terdapat perbedaan yang bermakna antara kesiapan ibu sebelum dan sesudah intervensi parenting class tentang pubertas terhadap kesiapan ibu menghadapi pubertas anak. Berdasarkan tabel 5 didapatkan hasil terdapat peningkatan kesiapan ibu menghadapi pubertas anak setelah diberikan materi parenting class tentang Hal ini ditandai dengan adanya peningkatan rerata kesiapan ibu sebelum dan sesudah intervensi parenting class. Kesiapan ibu menghadapi pubertas anak merupakan kondisi ibu yang sudah siap untuk mendampingi dan membimbing anak yang akan memasuki masa pubertas. Proses mendampingi dan membimbing ini bisa diartikan sebagai memberikan pengetahuan terkait pubertas pada anak terkait cara menghadapi perubahan fisik maupun psikologis pada anak yang sedang menghadapi pubertas (Arini et al. , 2. Jika seorang remaja tidak diberikan pemahaman terkait pubertas, maka akan timbul perasaan menolak terhadap perubahan kondisi fisik dan psikologis pada anak tersebut (Mansyur, 2. Kesiapan menghadapi pubertas dapat dilakukan dengan memberikan infomasi dan perhatian kepada remaja dalam menghadapi masa pubertasnya, dengan demikian remaja akan lebih tenang dalam menjalani masa pubertas. Hidayah & Palila . menyatakan bahwa orangtua terutama ibu, mempunyai peran penting dalam memberikan penjelasan kepada anak terkait proses dari pubertas dan bagaimana cara menghadapi pubertas. Diah Nur Anisa. Istinengtiyas Tirta Suminar (Pengaruh Parenting Class Terhadap Kesiapan Ibu A) Copyright A 2020. Jurnal Kebidanan dan Keperawatan Aisyiyah ISSN 1858-0610 . | ISSN 2477-8184 Jurnal Kebidanan dan Keperawatan Aisyiyah, 16 . , 2020 Diah Nur Anisa. Istinengtiyas Tirta Suminar sehingga anak merasa lebih siap dan dapat mencegah pergaulan bebas yang menjadi resiko dari masa pubertas yang tidak dipersiapkan. Adanya peningkatan kesiapan ibu menghadapi pubertas anak setelah diberikan materi parenting class tentang pubertas menunjukkan bahwa terdapat faktor yang mempengaruhi kesiapan ibu dalam mendampingi anak masa pubertas, diantaranya adalah faktor pengetahuan ibu. Hal tersebut membuktikan bahwa dengan parenting class dapat meningkatkan kesiapan ibu dalam mendampingi anak selama pubertas. Parenting class merupakan metode yang tepat bagi orangtua dalam membentuk karakter anak, yang dimaksud parenting tidak hanya membimbing, namun orangtua harus mendidik anak dan memberikan contoh yang baik untuk memperbaiki karakter anak. Salah satu aspek penting dari peran orangtua dalam mengawasi remaja adalah menjadi aspek manajerial. Aspek pengawasan ini dapat tercermin dari gaya pengasuhan orangtua yang dijelaskan Santrock . yang menyatakan bahwa mayoritas orangtua menerapkan gaya otoritatif, dengan adanya perbedaan pengasuhan pada orangtua akan berdampak pada pembentukan kepribadian pada Anak yang dididik dengan otoritatif akan berpeluang menjadi pribadi yang mudah beradaptasi dengan perubahan yang terjadi, pada kondisi ini anak sedang mengalami masa pubertas, maka anak akan mampu beradaptasi dalam proses Pada masa pubertas, anak juga mengalami perubahan secara fisik, yang mengarah pada seksualitas remaja, hal ini sejalan dengan penelitian Ciptiasrini & Astarie . menyatakan bahwa orangtua juga mempunyai peran penting dalam melakukan pendidikan seksualitas pada anak sejak dini, pendidikan seksual meliputi identitas seksual anak, perubahan selama masa pubertas dan cara anak bergaul dengan lawan jenis, dengan pendidikan seksualitas diharapkan anak dapat menghindari resiko dari pergaulan negatif dan seksual yang menyimpang. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Lutfiya . yang menyatakan bahwa orangtua memiliki peranan khusus dalam mendidik anaknya untuk mempersiapkan masa pubertas, selain dari faktor pola asuh dan kesiapan ibu terdapat faktor lain yang mungkin mempengaruhi kesiapan anak dalam menghadapi pubertas salah satunya adalah pengetahuan remaja terhadap pubertas. Kondisi pubertas merupakan kondisi umum yang akan dijalani oleh seorang anak pada usia rentang 10-15 tahun. Terdapat beberapa perubahan yang mungkin terjadi pada anak diantaranya adalah perbahan fisik pada anak, perubahan emosional dan perubahan secara kognitif. Pada perubahan tersebut perlu adanya peran orang tua yang penting untuk mendampingi anak, diantaranya adalah menunjukan kasih sayang, memberikan dukungan terhadap perubahan emosional yang terjadi, lebih peka terhadap kondisi anak, menjadi role model bagi anak (Spellings, 2. Orangtua merupakan figur terdekat dari seorang anak sehingga orangtua harus memberikan kesempatan bagi anak untuk berbicara terkait Orangtua harus menjadi pendengar yang baik yang mampu membantu dalam menyelesaikan permasalahan anak. Perubahan yang terjadi selama periode pubertas mampu merubah kondisi psikologis dan emosional anak yang mungkin akan mempegaruhi pergaulan anak (Spellings, 2. Diah Nur Anisa. Istinengtiyas Tirta Suminar (Pengaruh Parenting Class Terhadap Kesiapan Ibu A) Copyright A 2020. Jurnal Kebidanan dan Keperawatan Aisyiyah ISSN 1858-0610 . | ISSN 2477-8184 Jurnal Kebidanan dan Keperawatan Aisyiyah, 16 . , 2020 Diah Nur Anisa. Istinengtiyas Tirta Suminar SIMPULAN Kesiapan ibu dalam menghadapi pubertas pada anak sebelum diberikan parenting class terdapat 12 reponden . %) tergolong dalam kesiapan cukup dan terdapat 9 responden . %) dengan kesiapan kurang. Setelah diberikan parenting class terdapat 24 responden . %) dengan kesiapan baik dan hanya terdapat 2 responden . ,7%) dengan kesiapan kurang. Dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan pre-test dan post-test dengan signifikasi <0,001 . <0,. yang artinya terdapat perbedaan yang bermakna antara kesiapan ibu sebelum dan sesudah intervensi parenting class tentang pubertas terhadap kesiapan menghadapi pubertas anak. DAFTAR PUSTAKA