p-ISSN 2548-8716 Jurnal Fisioterapi dan Rehabilitasi Vol. 9 No. 1 Jan 2025 e-ISSN 2599-2791 Halaman 86 Ae 92 https://jurnal-d3fis. id/index. php/akfis/article/view/372 DOI: 10. 33660/jfrwhs. Perbedaan Tingkat Aktivitas Fisik Terhadap Keluhan Muskuloskeletal dan Kualitas Hidup Wanita Menopause Differences In Physical Activity Levels On Musculoskeletal Disorder and Quality Of Life Of Menopause Women Ni LuhNopi Andayani. Ari Wibawa, *Indah Pramita. I Wayan Adi Wira Guna Universitas Udayana. Denpasar. Bali Email Korespondensi: indahpramita@unud. Dikirim: 28 Okt 2023 Ditinjau: 02 Nov 2023 Disetujui: 25 Okt 2024 Publikasi Online: 08 Jan 2025 ABSTRAK Semua wanita dalam hidupnya akan mengalami menopause. Menopause merupakan periode seorang wanita mengalami kejadian siklus menstruasi untuk terakhir kalinya. Menopause akan menyebabkan terjadinya menopausal symptoms yang berefek pada perubahan system tubuh serta aktivitas fisik seorang wanita. Perubahan system tubuh yang terjadi salah satunya system muskuloskeletal yang akan menyebabkan berbagai keluhan musculoskeletal seperti nyeri dan rasa tidak nyaman yang akan berpengaruh pada kualitas hidup seorang wanita. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan tingkat aktivitas fisik terhadap keluhan musculoskeletal dan kualitas hidup pada wanita menopause. Penelitian ini merupakan penelitian obervasional analitik dengan rancangan Cross Sectional. Populasi pada penelitian ini adalah wanita berusia 45-55 tahun yang telah mengalami menopause dalam periode waktu 12 bulan. Instrumen penelitian ini menggunakan kuesioner Global Physical Activity Questionnaire untuk mengukur tingkat aktivitas fisik. Nordic Body Map untuk mengukur keluhan muskuloskeletal dan WHOQOLBREF untuk mengukur tingkat kualitas hidup. Hasil penelitian ini didapatkan perbedaan signifikan pada tingkat aktivitas fisik dan kualitas hidup dengan nilai p = 0,002 . <0,. , namun tidak ditemukan adanya perbedaan yang signifikan antara tingkat aktivitas fisik dengan keluhan muskuloskeletal. Simpulan penelitian ini adalah adanya perbedaan tingkat aktivitas fisik terhadap kualitas hidup pada wanita menopause, sedangkan tidak ditemukan perbedaan yang bermakna antara tingkat aktivitas fisik dengan keluhan muskuloseletal pada wanita menopause. Kata kunci: aktivitasfisik, muskuloskeletal, kualitashidup, menopause ABSTRACT All women in their lives will experience menopause. Menopause is the period when a woman experiences her last menstrual cycle. Menopause will cause menopausal symptoms which have an effect on changes in a woman's body systems and physical activity. Changes in body systems that occur, one of which is the musculoskeletal system, will cause various musculoskeletal complaints such as pain and discomfort which will affect a woman's quality of life. This study aims to determine differences in physical activity levels on musculoskeletal disorder and quality of life in menopausal women. This research is an analytical observational research with a cross sectional design. The population in this study were women aged 45-55 years who had experienced menopause within a 12 month period. This research instrument uses the Global Physical Activity Questionnaire to measure physical activity levels, the Nordic Body Map to measure musculoskeletal disorder and the WHOQOL-BREF to measure quality of life levels. The results of this study showed significant differences in physical activity levels and quality of life with a value of p = 0. <0. , but no significant differences were found between physical activity levels and musculoskeletal The conclusion of this study is that there is a difference in the level of physical activity on the quality of life in menopausal women, whereas no significant difference was found between the level of physical activity and musculoskeletal disorder in menopausal women. Keyword:Physical activity, musculoskeletal disorder, quality of life, menopausal PENDAHULUAN Menopause merupakan salah satu perubahanan yang dirasakan wanita pada proses penuaan. Menopause adalah periode menstruasi terakhir sebagai hasil dari terhentinya siklus menstruasi, dan merupakan dampak dari berhentinya aktivitas dan fungsi reproduksi dari ovarian dan ini berlangsung permanen. Walaupun menopause merupakan peristiwa fisiologi tubuh yang terjadi secara normal dan alami akibat dari bertambahnya usia dan biasa terjadi pada wanita paruh baya, menopause sendiri memiliki implikasi kepada kesehatan. Dalam memasuki atau ketika berada Perbedaan Tingkat Aktivitas Fisik Terhadap Keluhan Muskuloskeletal dan KualitasA | Ni LuhNopi A dkk p-ISSN 2548-8716 Jurnal Fisioterapi dan Rehabilitasi Vol. 9 No. 1 Jan 2025 e-ISSN 2599-2791 Halaman 86 Ae 92 https://jurnal-d3fis. id/index. php/akfis/article/view/372 DOI: 10. 33660/jfrwhs. dalam fase menopause, banyak wanita akan mengalami beberapa gejala-gejala. Gejala menopause atau disebut dengan Menopausal Symptoms, berdasarkan MENQOL (MenopauseSpesific Quality of Lif. dikelompokan menjadi Vasomotor Symptoms. Physcosocial Symptoms. Physical Symptoms, dan Sexual Symptoms. 1 Penurunan tingkat hormon estrogen diduga berperan dalam munculnya Menopausal Symptoms, 80% wanita mulai merasakan gejala ini pada fase Perimenopause. Efek jangka panjang dari penurunan estrogen dapat bedampak pada perubahan sistem muskuloskeletal, seperti osteoporosis, penurunan masa dan kekuatan otot . , atrofi otot, dan nyeri sendi. Perubahan hormon estrogen disebutkan memiliki peran yang penting dalam menjaga integritas dari sistem muskuoloskeletal, oleh karena itu penurunan dari hormon ini disebutkan berhubungan dengan transisi menopause yang dapat mengarah kepada fungsi otot yang tidak sesuai, terutama pada masa postmenopause, dan biasanya akan menimbulkan gangguan berupa nyeri pada muskuloskeletal. Gangguan muskuloskeletal biasanya muncul dengan nyeri pada bagian-bagian tubuh Nyeri muskuloskeletal merupakan nyeri yang timbul akibat dari musculoskeletal disorders (MD. , istilah yang mendeskripsikan beberapa tipe dari penyakit yang berdampak pada bagianAe bagian tubuh seperti leher, punggung, ekstremitas atas, dan ekstremitas bawah. Penyakit ini berdampak pada jaringan seperti tendon, otot, ligamen, saraf, dan semua struktur penyangga sendi, dan akan menghasilkan gejala nyeri atau rasa ketidaknyamanan pada bagian tubuh yang terdampak. 2 Wanita menopause perlu mendapatkan perhatian di samping masalah kesehatan lainnya dikarenakan ketika seorang wanita yang memasuki usia menopause maka akan terjadi banyak perubahan pada dirinya. 3 Perubahan yang dimaksud yaitu wanita usia menopause akan mengalami beberapa perubahan baik fisik maupun psikis, seperti infeksi saluran kemih, diabetes, ginjal, hipertensi, masalah tidur, dan depresi. Adanya perubahan tersebut akan berdampak terhadap kualitas hidup wanita di masa menopause. Pada wanita menopause kualitas hidup dapat dipengaruhi oleh seberapa besar gejala-gejala menopause yang wanita tersebut alami. Tentunya gejala tersebut akan mengganggu kegiatan sehari-hari wanita menopause sehingga mengakibatkan perubahan dalam kualitas hidup. 5 Salah satu aspek yang dapat mempengaruhi kualitas hidup wanita menopause adalah tingkat aktivitas fisik yang dilakukan sehari-hari. Banyak bukti yang menunjukkan kebiasaan beraktivitas fisik seperti berolah raga berhubungan dengan status kesehatan dan kualitas hidup yang lebih baik. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Arini pada tahun 2018 yang menyatakan bahwa faktor aktivitas fisik menjadi salah satu aspek yang mempengaruhi kualitas hidup wanita menopause. Hal tersebut dikarenakan wanita menopause yang rutin melakukan aktivitas fisik di dapatkan memiliki kualitas hidup yang baik. Selain itu, aktivitas fisik juga dapat meningkatkan daya tahan tubuh dan dapat terhindar dari berbagai penyakit. Bukan hanya itu, aktivitas fisik juga membantu wanita dalam meningkatkan serta melancarkan sirkulasi darah yang akan mempengaruhi peningkatan produksi estradiol yang dapat memperlambat onset menopause pada wanita. Namun, jika seorang wanita menopause kurang dalam melakukan aktivitas fisik tentu hal tersebut tidak hanya dapat menempatkan wanita tersebut pada suatu risiko yang berhubungan dengan kesehatannya tetapi juga meningkatkan masalah menopause. 7 Oleh sebab itu, aktivitas fisik sangat berpengaruh dalam meningkatkan kualitas hidup khususnya wanita yang telah memasuki masa menopause. Perbedaan Tingkat Aktivitas Fisik Terhadap Keluhan Muskuloskeletal dan KualitasA | Ni LuhNopi A dkk p-ISSN 2548-8716 Jurnal Fisioterapi dan Rehabilitasi Vol. 9 No. 1 Jan 2025 e-ISSN 2599-2791 Halaman 86 Ae 92 https://jurnal-d3fis. id/index. php/akfis/article/view/372 DOI: 10. 33660/jfrwhs. Dilihat dari penjelasan di atas sudah jelas bahwa kualitas hidup khususnya pada wanita menopause layak mendapat perhatian khusus. Selain itu, pengkajian mengenai faktor yang berhubungan terhadap kualitas hidup wanita menopause perlu di kembangkan lagi khususnya di Indonesia. Penelitian yang sudah ada sebelumnya menyatakan salah satu faktor yang mempengaruhi kualitas hidup wanita menopause adalah aktivitas fisik. Namun, pada penelitian yang sudah ada masih belum terdapat penilaian secara spesifik mengenai tingkat aktivitas fisik yang berdampak terhadap kualitas hidup pada wanita menopause. Oleh sebab itu, peneliti ingin mengetahui lebih dalam mengenai hubungan tingkat aktivitas fisik terhadap wanita menopause di Desa Penarungan. METODE PENELITIAN Rancangan penelitian ini menggunakan metode observasional analitik dengan pendekatan cross sectional yang dilakukan di Desa Penarungan. Kecamatan Mengwi. Kabupaten Badung. Populasi wanita dengan usia 45-55 tahun yang sudah berhenti menstruasi minimal 12 bulan. Kreteria inklusi penelitian ini adalah Wanita berusia antara 45-55 tahun, tidak mengalami menstruasi minimal 12 bulan dan bersedia secara sukarela menjadi subjek penelitian dengan menandatangani informed consent yang disediakan peneliti. Kreteria ekslusi penelitian ini yaitu Wanita yang sedang dalam keadaan sakit kronis atau di bawah pengawasan oleh dokter, aanita yang pernah melakukan operasi ovarium atau operasi rahim. Total sampel penilitian didapatkan 54 orang yang telah memenuhi criteria inklusi dan ekslusiknp dengan teknik purposive sampling. Tingkat aktivitas fisik diukur dengan kuisioner GPAQ (Global Physical Activity Questionnair. yang dapat diselesaikan sendiri oleh seseorang atau tanyakan melalui sistem wawancara. Kualitas hidup diukur menggunakanWHOQOL-BREF dan keluhan musculoskeletal menggunakan Nordic Body Map yangmemiliki 28 pertanyaan tentang tingkat keluhan muskuloskeletal dari leher hingga ujung kaki. Penelitian ini telah mendapatkan persetujuan dari Komisi Etik Penelitian Fakultas Kedokteran Universitas Udayana dengan No: I 979AJN l4. Yll. l4lLT 12023. HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis Univariat Penyajian hasil distribusi frekuensi karakteristik responden penelitian. Tabel 1. Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden . sia, aktivitas fisik,kualitas hidup,keluhan musculoskeleta. Variabel Usia Frekuensi . Persentase (%) Perbedaan Tingkat Aktivitas Fisik Terhadap Keluhan Muskuloskeletal dan KualitasA | Ni LuhNopi A dkk p-ISSN 2548-8716 Jurnal Fisioterapi dan Rehabilitasi Vol. 9 No. 1 Jan 2025 e-ISSN 2599-2791 Halaman 86 Ae 92 https://jurnal-d3fis. id/index. php/akfis/article/view/372 DOI: 10. 33660/jfrwhs. Aktivitas Fisik Tinggi Sedang Rendah Kualitas Hidup Baik Sedang Buruk Keluhan Muskuloskeletal Sangat Tinggi Tinggi Sedang Rendah Hasil analisis univariat deskriptif distribusi responden berdasarkan usia, aktivitas fisik, kualitas hidup, dan keluhan mukuloskeletal. Usia responden yang terlibat dalam penilitian ini usia 45 Ae 55 tahun, dengan aktivitas fisik tinggi sejumlah 29 orang . 7%) dan kualitas hidup yang tinggi sebanyak 46 orang . 2%). Keluhan musculoskeletal sebagian besar tergolong rendah yaitu 51 responden . 4 %). Analisis Perbedaan Aktivitas fisik dengan Kualitas Hidup dan Keluhan Muskuloskeletal Tabel hasil uji analisis data Kruskal Wallis Test, nilai p yang signifikan akan dipertimbangkan ketika p kurang dari 0,05. Tabel 2. Perbedaan Aktivitas Fisik dengan Kualitas Hidup Kualitas Hidup Aktivitas Fisik Tinggi Sedang Rendah Total Jumlah (N) MeanRank p value 23,50 31,72 37,00 0,004 Hasil tabel 2 menunjukkan nilai probabilitas sebesar 0,004 atau p<0,05, bermakna bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara aktivitas fisik dengan kualitas hidup responden. Tabel 3. Perbedaan Aktivitas Fisik dengan Keluhan Muskuloskeletal Keluhan Muskuloskeletal Aktivitas Fisik Tinggi Sedang Rendah Total Jumlah (N) MeanRank p value Perbedaan Tingkat Aktivitas Fisik Terhadap Keluhan Muskuloskeletal dan KualitasA | Ni LuhNopi A dkk p-ISSN 2548-8716 Jurnal Fisioterapi dan Rehabilitasi Vol. 9 No. 1 Jan 2025 e-ISSN 2599-2791 Halaman 86 Ae 92 https://jurnal-d3fis. id/index. php/akfis/article/view/372 DOI: 10. 33660/jfrwhs. Hasil table 3 menunjukkan nilai probabilitas sebesar 0,123 atau p>0,05, bermakna bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara aktivitas fisik dengan keluhan muskuloskeletal pada responden. Hubungan Aktivitas Fisik dengan Kualitas Hidup Hasil analisis hubungan aktivitas fisik dengan kualitas hidup pada wanita menopause sebanyak 54 orang,disimpulkan bahwa terdapat perbedaan siginifikan. Kualitas hidup yang diukur dengan WHOQOL-BREF mengelompokkan kualitas hidup menjadi tiga ketegori, yaitu kualitas hidup buruk dengan skor O 45, kualitas hidup sedang dengan skor 46-65, dan kualitas hidup baik dengan skor > 65. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Kusumaningrum dan Hidayati tahun 2022, dimana wanita menopause dengan aktivitas fisik yang kurang seluruhnya memiliki kualitas hidup yang buruk. Hubungan ini bersifat positif . yang artinya semakin baik aktivitas fisik seseorang maka semakin tinggi kualitas hidupnya. Aktivitas fisik dapat menurunkan gejala vasomotor karena efeknya terhadap keseimbangan endokrin dalam sistem otonom dan pelepasan opioid endogen serta dapat meningkatkan produksi y-endorfin hipotalamus dan perifer. 9 Peningkatakn produksi akan membantu menstabilkan suhu tubuh, detak jantung dan pernapasan, meningkatkan sensitivitas terhadap rasa sakit, dan mengurangi risiko hot flashes. Aktivitas fisik yang teratur dikaitkan dengan peningkatan harga diri dan kualitas tidur yang lebih baik, penurunan keluhan menopause dan peningkatan kesejahteraan psikosomatis. Selain itu, aktivitas fisik dapat meningkatkan kehidupan seksual wanita dengan mengurangi kekeringan vagina dan meningkatkan lubrikasi, yang berpengaruh pada kualitas hidup yang lebih baik. 10 Aktivitas fisik akan menyebabkan tubuh bergerak, sehingga terjadi proses pengeluaran energi oleh tubuh yang berguna dalam pemeliharaan kesehatan mental dan fisik sehingga dapat mempertahankan kualitas hidup tetap Hubungan Aktivitas Fisik dengan Keluhan Muskuloskeletal Pada penelitian ini ditemukan hubungan aktivitas fisik dengan keluhan muskuloskeletal pada 54 orang wanita menopause, tidak adanya perbedaan signifikan dengan nilai p sebesar 123 dimana nilai p>0,05 pada hasiluji Kruskal-wallistest. Tingkat aktivitas fisik yang diukur menggunakan kuisioner GPAQ (Global Physical Activity Questionnair. memiliki tiga kategori Tinggi dengan nilai intensitas minimal 3000 METs/menit/minggu. Sedang dengan nilai intensitas minimal 600 METs /menit/minggu. Rendah dengan nilai intensitas kurang dari 600 METs/menit/minggu. Penelitian lain juga menemukan tingkat aktivitas fisik memiliki kemungkinan negative effect correlation terhadap wanita menopause terutama berkaitan dengan muscle strength dan power. Keluhan muskuloskeletal pada wanita menopause dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor yang dapat dimodifikasi diantaranya konsumsi alkohol, kebiaasaan merokok, indeks massa tubuh yang rendah, intake kalsium yang rendah, defisiensi vitamin D, kejadian jatuh, insufiensi aktivitas fisik, ergonomis, faktor psikososial dan pekerjaan. Faktor yang tidak dapat dimodifikasi diantaranya jenis kelamin, peningkatan usia , riwayat keluarga, kejadian fracture, ras/etnis, onset dari menopause dan adanya hysterectomy. 13 Kondisi hormon estrogen pada wanita menopause juga dapat memengaruhi dalam melakukan aktivitas fisik. Defisiensi estrogen pada wanita menopause memengaruhi kesehatan tulang, otot, ligament, kolagen pada tendon. Perbedaan Tingkat Aktivitas Fisik Terhadap Keluhan Muskuloskeletal dan KualitasA | Ni LuhNopi A dkk p-ISSN 2548-8716 Jurnal Fisioterapi dan Rehabilitasi Vol. 9 No. 1 Jan 2025 e-ISSN 2599-2791 Halaman 86 Ae 92 https://jurnal-d3fis. id/index. php/akfis/article/view/372 DOI: 10. 33660/jfrwhs. kartilago, membran synovial dan kapsul sendi. Hormon ini meningkatkan proteostasis pada otot dan regenerasi kolagen, berbanding terbalik pada tendon dan ligamen hormon ini dapat menurunkan stiffness jaringan tersebut. SIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan penelitian ini terdapat perbedaan yang siginifikan antara tingkat aktivitas fisik dengan kualitas hidup pada wanita menopause, sebaliknya antara tingkat aktivitas fisik dengan keluhan musculoskeletal tidak terdapat perbedaan bermakna. Pada penelitian selanjutnya perlu mempertimbangkan kembali terkait faktor yang dapat memengaruhi keluhan muskuloskeletal dan aktivitas fisik seperti indeks massa tubuh, onset menopause. Hal ini berperan penting sehingga dapat mengurangi risiko bias. DAFTAR PUSTAKA