Jurnal Pendidikan West Science Vol. No. Januari 2026, pp. Implementasi Nilai Nilai Pendidikan Islam dalam Budaya Sekolah di SDN Setiakarya Muhammad Ali An Naba1. Hasan Basri2 Tarbiyah dan Keguruan. Program Studi Pendidikan Agama Islam. UIN Sunan Gunung Djati Bandung dan muhaliannaba@gmail. 2 Tarbiyah dan Keguruan. Program Studi Pendidikan Agama Islam. UIN Sunan Gunung Djati Bandung dan hasanbasri@gmail. Article Info ABSTRAK Article history: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi nilai-nilai pendidikan Islam dalam budaya sekolah di SDN Setiakarya. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi langsung, wawancara semiterstruktur dengan guru dan kepala sekolah, serta studi dokumentasi. Subjek penelitian melibatkan siswa kelas IV sampai dengan kelas VI. Nilai pendidikan Islam yang dianalisis meliputi akhlak Islami, ibadah dan spiritualitas, amanah dan tanggung jawab, sabar dan syukur, serta toleransi . Data dianalisis secara deskriptif dengan dukungan statistik sederhana berupa persentase keterlaksanaan untuk memperkuat temuan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai pendidikan Islam telah terimplementasi dalam budaya sekolah dengan tingkat keterlaksanaan yang bervariasi. Nilai akhlak Islami dan amanah merupakan nilai yang paling dominan dan konsisten diterapkan oleh siswa, sedangkan nilai yang bersifat afektifinternal seperti sabar, syukur, dan toleransi menunjukkan tingkat keterlaksanaan yang relatif lebih rendah. Implementasi pendidikan Islam di SDN Setiakarya lebih menekankan pada pembiasaan moral dan pendekatan kultural dibandingkan pendekatan ritual-formal. Penelitian ini menegaskan bahwa budaya sekolah, keteladanan guru, serta dinamika sosial siswa berperan penting dalam keberhasilan internalisasi nilai-nilai pendidikan Islam di sekolah dasar. Received Jan, 2026 Revised Jan, 2026 Accepted Jan, 2026 Kata Kunci: Pendidikan Islam. Budaya Sekolah. Nilai Islami. Karakter Siswa. Sekolah Dasar Keywords: Islamic Education. School Culture. Islamic Values. Student Character. Elementary School ABSTRACT This study aims to analyze the implementation of Islamic educational values within school culture at SDN Setiakarya. The research employed a descriptive qualitative approach, with data collected through direct observation, semi-structured interviews with teachers and the school principal, and documentation of school cultural activities. The research subjects consisted of fourth- to sixth-grade students. The Islamic educational values examined in this study included Islamic morality . khlak Islam. , worship and spirituality, trustworthiness and responsibility, patience and gratitude, and tolerance . Data were analyzed descriptively and supported by simple statistical measures in the form of implementation percentages to strengthen the qualitative findings. The results indicate that Islamic educational values have been integrated into the school culture, although the level of implementation varies across values. Islamic morality and trustworthiness were found to be the most dominant and consistently practiced values among students, while affective-internal values such as patience, gratitude, and tolerance demonstrated relatively lower Journal homepage: https://wnj. westscience-press. com/index. php/jpdws/index A 2 Jurnal Pendidikan West Science levels of implementation. The implementation of Islamic education at SDN Setiakarya emphasizes moral habituation and a cultural approach rather than a ritual-formal approach. This study highlights the significant role of school culture, teacher role modeling, and studentsAo social dynamics in the successful internalization of Islamic educational values at the elementary school level. This is an open access article under the CC BY-SA license. Corresponding Author: Name: Muhammad Ali An Naba Institution: Tarbiyah dan Keguruan. Program Studi Pendidikan Agama Islam. UIN Sunan Gunung Djati Bandung Email: muhaliannaba@gmail. PENDAHULUAN Pendidikan Islam merupakan upaya sistematis untuk menanamkan pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai moral yang sesuai dengan ajaran Islam pada peserta didik (Zalsabella et al. , 2. Salah satu aspek penting dari pendidikan Islam adalah pembentukan karakter melalui internalisasi nilai-nilai seperti disiplin, tanggung jawab, kejujuran, dan gotong royong. Budaya sekolah sendiri merujuk pada pola perilaku, norma, dan praktik yang berlaku dalam lingkungan sekolah, yang membentuk identitas serta perilaku komunitas sekolah. Integrasi nilai-nilai pendidikan Islam dalam budaya sekolah merupakan strategi penting untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang kondusif bagi pengembangan karakter peserta didik (Ramadania et , 2. Di SDN Setiakarya, berbagai program telah diterapkan untuk menanamkan nilai-nilai Islam, seperti doa pagi bersama, pembiasaan etika dalam pembelajaran, serta kegiatan ekstrakurikuler berbasis sosial. Namun, implementasi nilai-nilai tersebut masih menghadapi beberapa masalah, antara lain belum meratanya penerapan di seluruh kegiatan sekolah, perbedaan pemahaman guru, keterbatasan sarana, dan kurangnya dokumentasi mengenai dampak nilai-nilai tersebut terhadap budaya sekolah (Zahro, 2. Beberapa solusi telah dicoba, seperti pembiasaan harian, pembinaan guru, dan kegiatan sosial, namun cakupannya masih terbatas sehingga perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk menganalisis implementasi nilai-nilai Islam secara komprehensif dan memberikan dasar penguatan budaya sekolah. Penelitian sebelumnya banyak membahas nilai pendidikan Islam secara umum atau karakter siswa secara parsial, tetapi jarang mengkaji implementasi nilai-nilai Islam secara spesifik dalam budaya sekolah di satu sekolah tertentu. Penelitian ini mencoba mengisi gap tersebut dengan fokus pada praktik nyata di SDN Setiakarya. Beberapa penelitian terdahulu memberikan landasan teoritis bagi penelitian ini. Faizah . menekankan pentingnya pembiasaan nilai-nilai Islam di sekolah dasar untuk membentuk karakter, sementara Riswadi et al. menyoroti integrasi nilai pendidikan Islam dengan metode pembelajaran aktif. Penelitian Susanti . , menunjukkan efektivitas kegiatan sosial dan ekstrakurikuler dalam menanamkan nilai gotong royong dan tanggung jawab, namun penelitian tersebut bersifat umum dan belum memetakan implementasi secara lengkap di satu sekolah Keterbatasan cakupan dan kurangnya analisis faktor penghambat maupun pendukung Vol. No. Januari 2026, pp. Jurnal Pendidikan West Science A 4 implementasi menjadi celah yang coba diisi oleh penelitian ini melalui studi kasus di SDN Setiakarya, menelusuri praktik implementasi nilai pendidikan Islam secara menyeluruh dan menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi keberhasilan maupun hambatan pelaksanaannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi bentuk implementasi nilai-nilai pendidikan Islam di SDN Setiakarya serta menjelaskan faktor pendukung dan penghambat implementasinya. Diharapkan penelitian ini memberikan kontribusi dengan menyajikan gambaran sistematis mengenai praktik nilai pendidikan Islam dalam budaya sekolah, menjadi referensi bagi guru dan kepala sekolah, serta menambah literatur terkait integrasi pendidikan Islam dengan budaya sekolah dasar di Indonesia. Hasil penelitian diharapkan menunjukkan bahwa implementasi nilai-nilai pendidikan Islam yang konsisten melalui pembiasaan dan kegiatan sosial mampu membentuk budaya sekolah yang positif, meningkatkan disiplin, tanggung jawab, kejujuran, dan gotong royong Selain itu, implikasi penelitian ini diharapkan bersifat praktis, membantu sekolah merancang program pembiasaan dan kegiatan yang lebih terstruktur, serta bersifat teoretis, menambah literatur mengenai integrasi pendidikan Islam dan budaya sekolah. Secara garis besar, artikel ini tersusun dari beberapa bagian, yaitu pendahuluan yang memaparkan definisi topik, masalah, telaah literatur, tujuan, dan kontribusi penelitian. penelitian yang menjelaskan desain penelitian, subjek, teknik pengumpulan dan analisis data. penelitian yang menyajikan data observasi, wawancara, dan dokumentasi. pembahasan yang menganalisis hasil dan mengaitkan dengan literatur sebelumnya. serta kesimpulan dan saran yang menyimpulkan temuan utama dan memberikan rekomendasi untuk penguatan implementasi nilainilai pendidikan Islam di sekolah. TINJAUAN PUSTAKA Nilai pendidikan Islam mencakup aspek moral, etika, dan akhlak yang harus ditanamkan pada peserta didik untuk membentuk karakter yang Islami (Muharram, 2. Nilai-nilai utama yang sering dikaji meliputi disiplin, tanggung jawab, kejujuran, dan gotong royong. Munawwarah . menekankan bahwa internalisasi nilai-nilai tersebut sebaiknya dilakukan melalui pembiasaan harian, interaksi sosial, dan penguatan karakter dalam pembelajaran. Pembiasaan nilai secara konsisten dapat membantu siswa menginternalisasi perilaku Islami dalam kehidupan sehari-hari, sehingga membentuk fondasi karakter yang kuat sejak dini. Budaya sekolah merupakan kumpulan norma, kebiasaan, dan praktik yang membentuk identitas serta perilaku komunitas sekolah (Sandi et al. , 2. Budaya sekolah yang mendukung nilai-nilai Islami dapat memengaruhi pola perilaku siswa, meningkatkan motivasi belajar, dan menciptakan lingkungan yang kondusif bagi pembentukan karakter. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa penguatan budaya sekolah melalui kegiatan ekstrakurikuler dan pembiasaan harian dapat meningkatkan kedisiplinan, tanggung jawab, dan kerjasama antar siswa. Dengan kata lain, budaya sekolah berperan sebagai media utama untuk menanamkan nilai-nilai pendidikan Islam secara praktis. Penelitian sebelumnya terkait implementasi nilai pendidikan Islam di sekolah dasar umumnya bersifat parsial. Rahayu . menekankan pentingnya pembiasaan nilai-nilai Islam, namun fokusnya lebih pada aspek disiplin dan akhlak tanpa menganalisis faktor pendukung atau hambatan implementasi secara menyeluruh. Prakoso et al. menyoroti integrasi pendidikan Islam dengan metode pembelajaran aktif, namun penelitian tersebut masih bersifat teoritis dan belum diterapkan dalam konteks budaya sekolah secara spesifik. Budiono et al. menunjukkan Vol. No. Januari 2026, pp. A 5 Jurnal Pendidikan West Science efektivitas kegiatan sosial dan ekstrakurikuler dalam menanamkan nilai gotong royong dan tanggung jawab, namun penelitian mereka bersifat umum dan belum memetakan implementasi secara rinci di satu sekolah tertentu. Karya-karya terkini menunjukkan kemajuan dalam pemahaman praktik pendidikan Islam di sekolah, namun tetap memiliki batasan, antara lain cakupan penelitian yang luas tanpa fokus studi kasus, kurangnya dokumentasi tentang praktik sehari-hari, dan minimnya analisis terhadap faktor penghambat maupun pendukung implementasi. Penelitian ini berupaya mengisi gap tersebut dengan melakukan studi kasus di SDN Setiakarya, menelusuri praktik implementasi nilai pendidikan Islam secara menyeluruh, serta menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi keberhasilan maupun hambatan pelaksanaannya. Dengan demikian, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi baru berupa gambaran empiris tentang integrasi nilai-nilai pendidikan Islam ke dalam budaya sekolah dasar, sekaligus menjadi referensi bagi guru dan kepala sekolah untuk memperkuat pembentukan karakter siswa. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi kasus, karena bertujuan untuk menganalisis secara mendalam implementasi nilai-nilai pendidikan Islam dalam budaya sekolah di SDN Setiakarya. Fokus penelitian ini adalah praktik nyata penerapan nilainilai seperti disiplin, tanggung jawab, kejujuran, dan gotong royong, serta faktor-faktor yang memengaruhi keberhasilan maupun hambatan pelaksanaannya. Lokasi penelitian adalah SDN Setiakarya yang memiliki program pembiasaan nilai-nilai Islami melalui doa pagi, kegiatan ekstrakurikuler, dan pembiasaan etika di kelas. Karakteristik sekolah ini mencakup lingkungan belajar yang aktif, guru yang berpengalaman, dan partisipasi siswa yang tinggi dalam kegiatan sosial. Sumber data penelitian berasal dari guru kelas, guru agama, kepala sekolah, dan siswa kelas 4Ae6. Populasi penelitian meliputi seluruh warga sekolah, sedangkan teknik sampling menggunakan purposive sampling, yaitu memilih informan yang dianggap paling memahami dan mengalami langsung implementasi nilai-nilai pendidikan Islam di sekolah. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur dengan guru dan kepala sekolah, observasi partisipatif terhadap kegiatan pembiasaan di kelas dan ekstrakurikuler, serta dokumentasi sekolah, seperti jadwal kegiatan, program pembiasaan, dan laporan kegiatan ekstrakurikuler. Variabel penelitian diukur secara kualitatif melalui frekuensi, konsistensi, dan kualitas implementasi nilai-nilai Islam dalam praktik sehari-hari, serta persepsi guru dan siswa terhadap pengaruh nilai-nilai tersebut pada budaya sekolah. Analisis data dilakukan menggunakan analisis tematik, yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Pendekatan ini memungkinkan peneliti untuk menafsirkan data secara sistematis dan menyeluruh, serta mengidentifikasi tema-tema utama yang muncul dari praktik implementasi nilai-nilai pendidikan Islam. Dalam penelitian ini, tidak digunakan prosedur statistik karena fokusnya pada analisis deskriptif kualitatif. Selama penelitian, beberapa kesulitan yang ditemui antara lain variasi pemahaman guru mengenai nilai-nilai Islam, keterbatasan dokumentasi kegiatan, dan waktu pengamatan yang Meskipun demikian, metode studi kasus kualitatif memberikan keunggulan dibandingkan penelitian lain karena mampu menghasilkan gambaran rinci dan kontekstual tentang praktik implementasi nilai-nilai pendidikan Islam, termasuk faktor pendukung dan penghambatnya, yang sering tidak terekam dalam penelitian kuantitatif atau survei umum. Dengan demikian, metode Vol. No. Januari 2026, pp. A 6 Jurnal Pendidikan West Science penelitian ini memungkinkan peneliti untuk memperoleh pemahaman mendalam tentang budaya sekolah yang berbasis nilai-nilai Islam di SDN Setiakarya, sekaligus memberikan dasar empiris yang kuat untuk pembahasan dan rekomendasi penguatan implementasi nilai-nilai pendidikan Islam di lingkungan sekolah. HASIL DAN PEMBAHASAN 1 Hasil Penelitian Hasil penelitian ini diperoleh melalui observasi langsung terhadap aktivitas keseharian siswa kelas IV sampai dengan kelas VI SDN Setiakarya, yang secara keseluruhan berjumlah 72 siswa, terdiri atas 24 siswa kelas IV, 25 siswa kelas V, dan 23 siswa kelas VI. Data juga diperkuat melalui wawancara semi-terstruktur dengan guru kelas dan kepala sekolah, serta dokumentasi kegiatan budaya sekolah. Observasi dilakukan pada berbagai situasi pembelajaran dan non-pembelajaran, seperti kegiatan awal masuk kelas, proses pembelajaran, waktu istirahat, kegiatan piket kelas, dan aktivitas penutup sekolah. Nilai pendidikan Islam yang dianalisis dalam penelitian ini meliputi akhlak Islami, ibadah dan spiritualitas, amanah dan tanggung jawab, sabar dan syukur, serta toleransi . Setiap nilai dioperasionalkan ke dalam indikator perilaku yang dapat diamati secara langsung. Selama proses observasi, perilaku siswa dicatat berdasarkan keterlibatan aktif dan konsistensi siswa dalam menunjukkan indikator nilai tersebut. Persentase keterlaksanaan diperoleh dari jumlah siswa yang menunjukkan perilaku sesuai indikator dibandingkan dengan jumlah keseluruhan siswa yang Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai pendidikan Islam telah diimplementasikan dalam budaya sekolah, meskipun dengan tingkat keterlaksanaan yang berbeda antar nilai. Nilai akhlak Islami menjadi nilai yang paling dominan, di mana 65 dari 72 siswa secara konsisten menunjukkan perilaku sopan santun, mengucapkan salam kepada guru, serta menjaga etika berbicara di kelas, sehingga menghasilkan tingkat keterlaksanaan sebesar 90%. Temuan ini terlihat merata di ketiga jenjang kelas, meskipun siswa kelas VI menunjukkan konsistensi yang lebih tinggi dibandingkan kelas IV. Nilai ibadah dan spiritualitas ditunjukkan melalui kebiasaan doa bersama sebelum dan sesudah pembelajaran. Berdasarkan hasil observasi, sebanyak 61 siswa secara rutin mengikuti kegiatan doa dengan sikap yang relatif tertib dan khusyuk, sementara sebagian kecil siswa masih perlu diingatkan oleh guru. Hal ini menghasilkan persentase keterlaksanaan sebesar 85%. Variasi keterlibatan lebih terlihat pada siswa kelas IV dibandingkan kelas V dan VI. Nilai amanah dan tanggung jawab tercermin dalam pelaksanaan tugas piket kelas, penyelesaian tugas tepat waktu, serta kejujuran saat evaluasi pembelajaran. Hasil observasi menunjukkan bahwa 63 siswa menjalankan tanggung jawab tersebut secara konsisten, sedangkan sisanya masih menunjukkan ketergantungan pada arahan guru, sehingga nilai ini mencapai persentase keterlaksanaan sebesar 88%. Nilai sabar dan syukur menunjukkan tingkat keterlaksanaan yang lebih rendah dibandingkan nilai lainnya. Sebanyak 58 siswa mampu menunjukkan kesabaran dalam proses pembelajaran, seperti menunggu giliran berbicara dan menerima hasil belajar tanpa protes Namun, masih ditemukan beberapa siswa yang mudah menunjukkan emosi negatif ketika mengalami kesulitan belajar. Persentase keterlaksanaan nilai ini mencapai 80%. Vol. No. Januari 2026, pp. A 7 Jurnal Pendidikan West Science Nilai toleransi . ditunjukkan melalui sikap saling menghargai dalam diskusi kelompok, kerja sama antar siswa, serta perilaku tidak mengejek teman. Hasil observasi menunjukkan bahwa 59 siswa mampu menerapkan sikap toleransi secara konsisten, sementara sebagian kecil siswa masih memerlukan pembinaan dalam menghargai perbedaan pendapat. Persentase keterlaksanaan nilai toleransi mencapai 82%. Berdasarkan temuan tersebut, dapat disimpulkan bahwa nilai akhlak Islami dan amanah merupakan nilai yang paling kuat terinternalisasi dalam budaya sekolah SDN Setiakarya. Sebaliknya, nilai yang bersifat afektif-internal seperti sabar, syukur, dan toleransi menunjukkan tingkat keterlaksanaan yang lebih rendah dan bervariasi antar kelas. Selain itu, penelitian ini tidak menemukan pelaksanaan ibadah formal terprogram seperti shalat dhuha berjamaah secara rutin, yang menunjukkan bahwa implementasi pendidikan Islam di sekolah ini lebih menekankan pada pembiasaan moral dan sosial. Temuan yang tidak diharapkan adalah adanya pengaruh kelompok teman sebaya yang cukup kuat terhadap konsistensi perilaku Islami siswa dalam situasi tertentu. Tabel 1. Indikator Implementasi Nilai Nilai Pendidikan Islam dalam Budaya Sekolah No. Nilai Pendidikan Islam Akhlak Islami Ibadah dan Spiritualitas Amanah dan Tanggung Jawab Sabar dan Syukur Toleransi (Tasamu. Sumber: Data Diolah . Indikator Perilaku Teramati Mengucapkan salam saat bertemu guru, berbicara sopan di kelas, menghormati guru dan staf sekolah Mengikuti doa bersama sebelum dan sesudah pembelajaran, sikap khusyuk saat berdoa Melaksanakan piket kelas sesuai jadwal, menyelesaikan tugas tepat waktu, bersikap jujur saat evaluasi Menunggu giliran berbicara, menerima hasil belajar tanpa protes berlebihan, mengendalikan emosi saat Menghargai perbedaan pendapat, bekerja sama dalam kelompok, tidak mengejek teman Persentase Keterlaksanaan 2 Pembahasan Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi nilai-nilai pendidikan Islam di SDN Setiakarya telah terintegrasi dalam budaya sekolah, meskipun dengan tingkat keterlaksanaan yang berbeda antar nilai. Temuan ini pada dasarnya konsisten dengan penelitian terdahulu yang menyatakan bahwa budaya sekolah merupakan media strategis dalam internalisasi nilai pendidikan Islam, khususnya pada jenjang sekolah dasar (Purnawarman, 2. Dominannya nilai akhlak Islami dalam perilaku siswa memperkuat pandangan bahwa pendidikan Islam pada anak usia sekolah dasar lebih efektif ketika difokuskan pada pembiasaan adab dan keteladanan dalam interaksi sosial sehari-hari (Ningsih et al. , 2. Tingginya keterlaksanaan nilai akhlak Islami dan amanah dalam penelitian ini dapat dijustifikasi melalui peran guru sebagai model perilaku . ole mode. bagi siswa. Berdasarkan hasil wawancara, guru secara konsisten menanamkan nilai sopan santun, tanggung jawab, dan kejujuran melalui penguatan verbal maupun nonverbal dalam kegiatan pembelajaran. Justifikasi personal peneliti terhadap temuan ini adalah bahwa nilai yang bersifat perilaku eksternal lebih mudah diamati, ditiru, dan dibiasakan oleh siswa dibandingkan nilai yang bersifat internal-afektif. Dengan demikian, keberhasilan implementasi nilai akhlak Islami bukan hanya disebabkan oleh program sekolah, tetapi juga oleh konsistensi keteladanan guru dalam keseharian (Subardi et al. , 2. Vol. No. Januari 2026, pp. A 8 Jurnal Pendidikan West Science Sebaliknya, nilai sabar, syukur, dan toleransi menunjukkan tingkat keterlaksanaan yang lebih rendah. Temuan ini tidak sepenuhnya bertentangan, namun justru melengkapi hasil penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa nilai afektif memerlukan waktu yang lebih panjang untuk terinternalisasi secara mendalam (Maemunah, 2. Interpretasi lain yang memungkinkan terhadap temuan ini adalah bahwa tahap perkembangan emosional dan sosial siswa sekolah dasar turut memengaruhi kemampuan mereka dalam mengendalikan emosi, menerima perbedaan, dan mensyukuri hasil belajar. Oleh karena itu, rendahnya persentase pada nilai tersebut tidak dapat dimaknai sebagai kegagalan pendidikan Islam, melainkan sebagai proses pembentukan karakter yang masih berlangsung. Temuan lain yang menarik adalah tidak ditemukannya pelaksanaan ibadah formal terprogram, seperti shalat dhuha berjamaah secara rutin. Hasil ini menunjukkan bahwa implementasi pendidikan Islam di SDN Setiakarya lebih menekankan pada pendekatan kultural dan moral dibandingkan pendekatan ritual-formal. Interpretasi peneliti terhadap temuan ini adalah bahwa sekolah berupaya menanamkan nilai Islam secara kontekstual dan inklusif, sehingga nilainilai tersebut dapat diterima dan dipraktikkan oleh seluruh siswa dalam kehidupan sehari-hari, bukan hanya pada kegiatan keagamaan tertentu. Temuan yang tidak diharapkan dalam penelitian ini adalah adanya pengaruh signifikan dari kelompok teman sebaya terhadap konsistensi perilaku Islami siswa. Dalam beberapa situasi, siswa yang sebelumnya menunjukkan perilaku disiplin dan berakhlak baik cenderung menyesuaikan diri dengan perilaku kelompoknya. Hal ini sejalan dengan teori perkembangan sosial anak yang menyatakan bahwa lingkungan sebaya memiliki pengaruh kuat terhadap pembentukan sikap dan perilaku (Densius et al. , 2. Temuan ini memberikan pemahaman baru bahwa keberhasilan implementasi nilai pendidikan Islam tidak hanya ditentukan oleh program sekolah dan keteladanan guru, tetapi juga oleh dinamika sosial antar siswa. Batasan penelitian ini terletak pada ruang lingkup penelitian yang hanya dilakukan pada satu sekolah serta penggunaan desain penelitian deskriptif dengan analisis statistik sederhana. Batasan tersebut dapat memengaruhi kekuatan generalisasi temuan penelitian. Meskipun demikian, hasil penelitian ini tetap memiliki validitas eksternal yang cukup kuat untuk konteks sekolah dasar negeri dengan karakteristik sosial dan budaya yang relatif serupa, khususnya dalam penerapan pendidikan Islam berbasis budaya sekolah. Implikasi praktis dari penelitian ini adalah perlunya penguatan implementasi nilai pendidikan Islam yang bersifat afektif melalui program pembiasaan yang lebih terstruktur, refleksi antara sekolah dan orang Selain itu, sekolah dapat mempertimbangkan pengembangan kegiatan keagamaan yang bersifat partisipatif tanpa mengabaikan pendekatan kultural yang telah berjalan. Penelitian lanjutan diperlukan untuk mengkaji efektivitas implementasi nilai pendidikan Islam pada konteks sekolah yang lebih beragam serta menelusuri dampak jangka panjangnya terhadap pembentukan karakter siswa. KESIMPULAN Penelitian ini menyimpulkan bahwa nilai-nilai pendidikan Islam telah diimplementasikan dalam budaya sekolah di SDN Setiakarya melalui pembiasaan perilaku sehari-hari, keteladanan guru, serta interaksi sosial antar warga sekolah. Nilai akhlak Islami dan amanah menjadi nilai yang paling dominan dan konsisten diterapkan oleh siswa, sedangkan nilai yang bersifat afektif-internal Vol. No. Januari 2026, pp. Jurnal Pendidikan West Science A 9 seperti sabar, syukur, dan toleransi menunjukkan tingkat keterlaksanaan yang relatif lebih rendah dan bervariasi antar kelas. Perbedaan tingkat keterlaksanaan antar nilai menunjukkan bahwa implementasi pendidikan Islam di sekolah dasar lebih efektif pada aspek yang bersifat perilaku eksternal dibandingkan aspek afektif yang memerlukan proses internalisasi jangka panjang. Temuan ini mengindikasikan bahwa pendidikan Islam berbasis budaya sekolah tidak cukup hanya mengandalkan pembiasaan rutin, tetapi juga membutuhkan penguatan reflektif dan konsistensi keteladanan yang berkelanjutan. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa implementasi nilai pendidikan Islam di SDN Setiakarya lebih menekankan pada pendekatan moral dan kultural dibandingkan pendekatan ritualformal. Pendekatan tersebut berkontribusi positif terhadap pembentukan karakter Islami siswa dalam kehidupan sehari-hari, namun masih perlu diimbangi dengan strategi yang lebih terstruktur untuk memperkuat nilai-nilai afektif dan spiritual. Secara keseluruhan, penelitian ini memberikan kontribusi pemahaman bahwa keberhasilan pendidikan Islam di sekolah dasar sangat dipengaruhi oleh budaya sekolah, peran guru sebagai teladan, serta dinamika sosial siswa. Oleh karena itu, pengembangan budaya sekolah yang konsisten dan kolaboratif menjadi kunci dalam mengoptimalkan implementasi nilai-nilai pendidikan Islam di lingkungan sekolah dasar. DAFTAR PUSTAKA