Journal of Divinity. Peace and Conflict Studies Volume 4 Nomor 3 (September-Desember 2. Kebenaran Itu Terus Berkembang Analisis Konstruksi Kebenaran di Era Post-Truth Melalui Filsafat Proses Whitehead Vinny Febri Setiawati Bria Universitas Kristen Duta Wacana. Yogyakarta vinnyftsbria@gmail. DOI: 10. 21460/aradha. Abstract This paper explores the dynamics of truth construction in the post-truth era through an analysis of Alfred North WhiteheadAos process philosophy. In an age where truth is often obscured by emotions, opinions, and social narratives. Whitehead offers an approach that views truth as a dynamic and continuously evolving process. By emphasizing creativity, relationality, and evolution, this paper examines how shifts in digital communication and technology impact the perception of truth. The analysis highlights the importance of critical thinking, ethical values, and reflection in navigating truth construction amid complex information flows. Its aim is to foster a more ethically aware and critically engaged approach to addressing post-truth Keywords: truth construction, post-truth era, process philosophy. Whitehead, creativity. Abstrak Makalah ini membahas dinamika konstruksi kebenaran di era post-truth melalui analisis filsafat proses Alfred North Whitehead. Dalam era di mana kebenaran seringkali dikaburkan oleh emosi, opini, dan narasi sosial. Whitehead menawarkan pendekatan yang menempatkan kebenaran sebagai suatu proses dinamis yang terus berkembang. Dengan menekankan kreativitas, relasionalitas, dan evolusi, makalah ini mengeksplorasi bagaimana perubahan Kebenaran Itu Terus Berkembang: Analisis Konstruksi Kebenaran di Era Post-Truth Melalui Filsafat Proses Whitehead Volume 4 Nomor 3 (September-Desember 2. dalam komunikasi digital dan teknologi berpengaruh terhadap pemahaman kebenaran. Analisis ini menyoroti pentingnya kritisitas, nilai etika, dan refleksi dalam menyikapi konstruksi kebenaran di tengah arus informasi yang kompleks. Tujuannya adalah untuk membangun kesadaran yang lebih etis dan kritis dalam menghadapi fenomena post-truth. Kata-kata kunci: konstruksi kebenaran, era post-truth, filsafat proses. Whitehead, kreativitas. Pendahuluan Era Aupost-truthAy menandai periode di mana karakteristik dan dinamika masyarakat mengalami transformasi signifikan. Istilah Aupost-truthAy sendiri dimunculkan pertama kali pada tahun 1992 oleh seorang penulis berkebangsaan Amerika Serikat. Steve Tesich, dalam tulisannya di majalah The Nation. Dalam tulisan itu ia menyebutkan: Aukita sebagai manusia bebas, punya kebebasan menentukan bahwa kita ingin hidup di dunia post-truthAy. Pernyataan ini mencerminkan pandangan kritisnya terhadap realitas politik dan kebenaran pada masa itu, terutama dalam konteks peristiwa Perang Teluk dan kasus Iran. Pada waktu itu. Perang Teluk dan kasus Iran merupakan peristiwa yang memiliki dampak besar terhadap opini publik. Tesich mungkin merasa bahwa fakta-fakta dan kebenaran terkait peristiwa-peristiwa ini telah menjadi kabur atau terdistorsi oleh narasi politik dan media. 1 Dengan menggunakan istilah Aupost-truthAy. Tesich ingin menggambarkan bahwa masyarakat telah memasuki suatu fase di mana kebenaran objektif atau fakta sudah sulit diidentifikasi atau diakses dengan jelas akibat adanya manipulasi informasi dan retorika politik sehingga kebenaran menjadi relatif atau bahkan terdistorsi. Kebebasan di era Aupost-truthAy membuat masyarakat dapat memilih untuk menerima realitas yang dibentuk oleh narasi politik atau media, tanpa terlalu mempertanyakan kebenaran di baliknya. Ini mencerminkan keadaan di mana masyarakat lebih menerima narasi yang sesuai dengan keyakinan atau kepentingan mereka daripada mencari kebenaran objektif. Seiring waktu, terjadi perubahan signifikan dalam cara informasi disebarkan dan diterima oleh masyarakat. Pada masa lalu, propaganda atau wacana dapat menyebar secara bertahap dan relatif lama, melibatkan proses yang memakan waktu dan melibatkan lapisan generasi sebelum suatu opini publik diterima secara luas. Hal ini terjadi karena keterbatasan instrumen komunikasi dan informasi serta teknologi yang belum secanggih sekarang. Namun saat ini, kemajuan teknologi informasi dan komunikasi membuat penyebaran informasi terjadi AuPost-truth. Internet, dan Politik,Ay GEOTIMES. February 26, 2019, https://geotimes. id/opini/post-truthinternet-dan-politik/. Vinny Febri Setiawati Bria Journal of Divinity. Peace and Conflict Studies dengan sangat cepat dan masif. Internet, media sosial, dan teknologi 5G menciptakan arus informasi yang dapat menyebar dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Penetrasi internet yang mencapai lebih dari 50% dari populasi global dan penggunaan media sosial yang mencapai miliaran akun menjadi indikator yang signifikan dari transformasi ini. Dengan demikian, suatu informasi dapat diterima secara meluas sebagai kebenaran, terlepas dari sejauh mana informasi tersebut sesuai dengan realitas objektifnya. Namun tantangan muncul ketika informasi diterima tanpa adanya kontra wacana yang berarti. Hal ini dapat terjadi karena kecepatan arus informasi yang dapat membuat orang menerima informasi tanpa pertimbangan kritis terhadap kebenaran atau validitasnya. Karena itu era Aupost-truthAy sangat berisiko diisi oleh kebohongan dan sekedar propaganda mengingat cepat dan mudahnya penyebaran informasi di era kecanggihan teknologi informasi ini. Tidak heran, penyebaran informasi palsu atau hoaks menjadi ciri khas utama di masa kini. Media sosial atau platform-platform daring seperti Facebook. Instagram. Twitter. TikTok dan lain sebagainya Ae memainkan peran kunci dalam mendukung dinamika ini. Tren ini memberikan dampak signifikan terhadap dinamika emosionalitas masyarakat, di mana keputusan dan pandangan cenderung dipengaruhi oleh aspek emosional daripada pertimbangan rasional. Akibatnya polarisasi semakin memecah masyarakat menjadi kelompok-kelompok dengan pandangan yang sangat berbeda, menciptakan ketidaksepakatan dan konflik yang meresahkan. Ketidakpercayaan terhadap lembaga dan media tradisional semakin meluas di tengah masyarakat, yang cenderung mencari informasi dari sumber-sumber alternatif atau media sosial yang memverifikasi pandangan mereka sendiri. Hal ini menciptakan ketidakpastian dan kecemasan, sebab masyarakat sulit menentukan arah kebijakan dan kebenaran dan terpapar hanya pada pandangan yang sejalan dengan keyakinan mereka. Sebaliknya, masyarakat lebih mudah digiring oleh pengaruh ketokohan yang pandai membentuk opini publik dan memengaruhi pengambilan keputusan masyarakat. Para tokoh, dengan segala kompetensinya, memanfaatkan teknologi untuk mengarahkan pesan dan iklan kepada kelompok-kelompok target, memanipulasi preferensi dan pandangan yang sudah. Di bidang politik misalnya, para politikus atau tokoh masyarakat yang mampu membangkitkan emosi seringkali lebih sukses dalam memengaruhi opini publik. Dampaknya terhadap proses demokrasi tidak bisa diabaikan. Pemilih dapat membuat keputusan berdasarkan emosi mereka, bukan hanya berdasarkan informasi yang faktual atau rasional. Hal ini akan mempengaruhi kualitas keputusan yang diambil selama proses pemilihan. Proses ini tentu saja menghasilkan pemilihan yang tidak selaras dengan kepentingan atau kebutuhan masyarakat secara objektif. Alhasil, demokrasi terancam karena masyarakat tidak membuat keputusan yang tercermin dari kebenaran atau kepentingan umum. AuPost-truth. Internet, dan Politik. Ay Kebenaran Itu Terus Berkembang: Analisis Konstruksi Kebenaran di Era Post-Truth Melalui Filsafat Proses Whitehead Volume 4 Nomor 3 (September-Desember 2. Gambaran-gambaran ini yang berlaku di era post-truth dan dapat dianggap sebagai konsekuensi dari perubahan. 3 Kebenaran yang dihasilkan pun melibatkan dinamika proses yang kompleks, di mana informasi, emosi, dan nilai-nilai saling terkait satu sama lain. Gambaran konstruksi kebenaran ini sejalan dengan pandangan Whitehead tentang fakta sebagai suatu proses yang terus berkembang. Dengan filsafat proses Whitehead, penulis ingin menjelajahi bagaimana aspek-aspek dinamis, interkonektivitas persepsi dan nilai-nilai memainkan perannya dalam menentukan kebenaran. Analisis ini diarahkan untuk mendorong kritisitas dan kesadaran etis dalam menyikapi informasi di era post-truth, merangsang pertimbangan etis terhadap proses konstruksi kebenaran dan mengenali potensi manipulasi atau distorsi. Setidaknya hal ini mampu berkontribusi dalam membentuk kecakapan menyikapi berbagai narasi dan informasi, termasuk mengidentifikasi tantangan etika yang muncul seiring dengan konstruksi kebenaran di era post-truth. Kebenaran di Era Post-Truth: Dinamika Proses Di era post-truth, media sosial dan platform-platform daring memainkan peran kunci dalam menentukan kebenaran karena sejumlah faktor yang menciptakan dinamika unik dalam persebaran informasi dan pembentukan opini. Hal ini terjadi bukan tanpa alasan, sebab dalam kehidupan manusia modern telah terjadi migrasi besar-besaran dari Aujagad nyataAy ke Aujagad mayaAy. Pilliang mengatakan bahwa perkembangan teknologi informasi telah menciptakan sebuah Auruang baruAy yang bersifat artifisial dan maya, yaitu cyberspace. Dalam perkembangannya, cyberspace telah menjadi substansi artifisial yang menggantikan berbagai kegiatan manusia, termasuk yang bersifat politik, sosial, ekonomi, kultural, spritual, dan seksual. 4 Oleh karena itu, segala sesuatu yang awalnya hanya dilakukan di dunia nyata, kini dapat diwujudkan dalam bentuk artifisial di dalam dunia maya cyberspace. Peralihan aktifitas ke ruang-ruang digital berdampak luas bagi kehidupan manusia. melalui kemajuan teknologi, manusia kini memiliki kemampuan baru untuk berekspresi dan mengakses arus informasi dengan leluasa. Ruang digital yang luas menciptakan lanskap virtual mahakaya, di mana berbagai situs web, surel, dan kisah daring dapat diakses dengan mudah. Ribuan orang menjajaki fakta dan kisah setiap detiknya, membentuk keragaman informasi dalam ekosistem digital. Dalam kerangka ini, pemahaman manusia tentang hidupnya juga mengalami perubahan signifikan. Dari hal-hal remeh hingga pertanyaan mendasar tentang jati diri, relasi, dan keamanan identitas diri, ruang digital membawa tantangan baru. Pertumbuhan luar biasa Cevi Mochamad Taufik & Nana Suryana. MEDIA. KEBENARAN. DAN POST-TRUTH (Bandung: Widina Bhakti Persada, 2. Yasraf Amir Pilliang. AuMASYARAKAT INFORMASI DAN DIGITAL: Teknologi Informasi Dan Perubahan Sosial,Ay Jurnal Sosioteknologi. Edisi 27, 2012. Vinny Febri Setiawati Bria Journal of Divinity. Peace and Conflict Studies dalam interaksi daring dan pertemuan dengan orang-orang baru di platform digital mengubah cara kita menjalin hubungan dan merencanakan perjalanan. Namun di balik keberlimpahan informasi dan peluang tersebut, muncul pertanyaan kritis tentang keaslian dan keamanan identitas diri. Ruang digital menjadi panggung di mana manusia dapat merancang dan mempresentasikan diri sekaligus menimbulkan tantangan baru terkait dengan kebenaran dan autentisitas. Kebenaran dibentangkan pada samudera keniscayaan yang tidak peduli pada konfirmasi keotentikannya. Wera berpendapat bahwa era digital adalah era di mana ketakjuban orang bukan lagi soal esensi tapi eksistensi. Ada pergeseran nilai dan preferensi masyarakat dalam hal ini, sebab yang paling diutamakan adalah penampilan dan pesona, dengan aksesoris dan kehidupan selebritis sebagai standar gaya hidup modern. Hal yang dianggap kritis dan serius dihindari karena dianggap kaku dan Sebaliknya, sesuatu yang punya pesona selalu genit dan sensitif untuk menarik perhatian publik. 5 Di Indonesia misalnya, popularitas tidak harus dikejar dengan pencapaianpencapaian substansial. Dalam sebuah postingan di instagram beberapa waktu lalu, seorang pengguna media sosial berujar tentang viralnya seorang mahasiswi di salah satu universitas karena jargon AubercyandyaAy yang kemudian diundang banyak stasiun televisi hingga menerima Hal ini tidak berlaku bagi seorang siswa SMA asal Propinsi Nusa Tenggara Timur yang namanya tercantum dalam publikasi ilmiah internasional karena menemukan spesies serangga Nesiophasma sobesonbaii. 6 Ini salah satu bukti yang dimaksudkan oleh Wera, bahwa kita sedang hidup di era di mana kemasan dan pesona menjadi sorotan utama. Kebenaran mungkin terabaikan demi penampilan yang menarik. Keseluruhan gambaran ini mencerminkan penerimaan masyarakat terhadap realitas di mana nilai-nilai tradisional dan substansial dapat tergeser oleh tampilan dan daya tarik dalam menghadapi perubahan era digital yang cepat. Konsep Filsafat Proses Whitehead Filsafat proses, yang diperkenalkan filsuf Alfred North Whitehead menekankan bahwa realitas bukanlah sesuatu yang statis atau mandeg, tetapi terus bergerak dan berubah dalam suatu proses yang tak kunjung henti. Pandangan ini menekankan bahwa yang paling mendasar dalam realitas adalah proses AumenjadiAy, di mana segala sesuatu dan setiap entitas terlibat dalam dinamika proses yang terus-menerus. Proses tidak hanya menjadi hasil dari proses sebelumnya, tetapi juga berfungsi sebagai sumber daya penyebab bagi kemunculan proses5 Marz Wera. AuMeretas Makna Post-Truth: Analisis Kontekstual Hoaks. Emosi Sosial. Dan Populisme Agama,Ay Jurnal Agama Dan Masyarakat Volume 07. No. 1 (April 2. AuKenapa Bisa Seperti Itu Ya? [CERITA PENEMUAN SPESIES SERANGGA BARU] Pada Tahun 2021 Saat Davis Marthin Damaledo Baru Saja Masuk SMAA | Instagram,Ay accessed December 29, 2023, https://w. com/p/C1ZN8m9xx7e/. Kebenaran Itu Terus Berkembang: Analisis Konstruksi Kebenaran di Era Post-Truth Melalui Filsafat Proses Whitehead Volume 4 Nomor 3 (September-Desember 2. proses berikutnya. Konsep aktualisasi dan potensi menunjukkan bahwa setiap entitas memiliki potensi untuk mengalami perubahan, dan melalui proses aktualisasi, potensi-potensi ini menjadi nyata, menciptakan aliran yang terus berubah. Pengalaman subjektif dan objektif memperlihatkan keterkaitan antara entitas dalam proses yang dinamis, dengan setiap entitas memberikan kontribusi pada pengalaman entitas lain. Lebih jauh, konsep ini menekankan relasionalitas dan interkonektivitas sebagai aspek integral dari realitas. AuApa dan siapa sesuatu atau seseorang itu amat ditentukan oleh bagaimana ia secara aktif menjalin relasi dengan seluruh kenyataan yang ikut mempengaruhi dan membentuk dirinyaAy Ae begitulah kutipan Sudarminta menggambarkan konsep Whitehead ini. 7 Dengan kata lain, identitas atau individu tidak dapat dipisahkan dari cara aktifnya menjalin relasi dan berinteraksi dengan seluruh kenyataan. Setiap entitas atau individu juga berperan aktif dalam membentuk dirinya sendiri melalui interaksi dan relasinya dengan konteks sekitarnya. Pandangan ini memandang dunia sebagai suatu jaringan proses yang saling terkait, di mana setiap proses AumenjadiAy merupakan bagian tak terpisahkan dari realitas yang terus berubah dan bergerak. Perubahan itu digerakkan oleh sebuah prinsip dasar yang disebut Whitehead dengan istilah AukreativitasAy. Sudarminta menyebut kreativitas menurut Whitehead sebagai prinsip yang mendasari terjadinya proses konkresi yang melahirkan satu satuan aktual baru dari banyak satuan aktual lain yang sudah komplit atau sudah mencapai kepenuhan . Proses mengalami Aupemadaman sementaraAy dan langsung berekonstruksi ke fase berikutnya di mana entitas tersebut mengalami Dengan kata lain, kreativitas adalah prinsip kebaruan, suatu daya dinamis dalam alam semesta yang memungkinkan terjadinya proses perubahan terus-menerus dan yang menjelaskan mengapa setiap satuan aktual selalu terlibat di dalamnya. 8 Prinsip kreativitas ini membuka ruang bagi inovasi, memandang kebenaran sebagai hasil dari interaksi setiap entitas . ubjektivitas, objektivitas, dan dinamika pertumbuhan pengetahua. Subjek dan objek saling berinteraksi, menciptakan dinamika yang membentuk makna. Konsep ini menggambarkan bahwa pengetahuan tidak memiliki batasan tetap, tetapi terus tumbuh seiring waktu melalui momen-momen baru yang membawa potensi inovasi dan pemahaman yang lebih mendalam. Dalam hubungan dengan prinsip kreativitas, elemen kunci yang terkait erat dengannya adalah apa yang Whitehead sebut dengan istilah AuprehensiAy. Istilah AuprehensiAy (Latin: dimaksudkan untuk menggambarkan suatu aktivitas atau kegiatan mengambil atau mencerap unsur-unsur dari lingkungan dalam proses pembentukan diri setiap satuan Sudarminta J. Filasafat proses: sebuah penghantar sistematik filasafat Alfred North Whitehead (Yogyakarta: Kanisius, 1. Sudarminta J. Vinny Febri Setiawati Bria Journal of Divinity. Peace and Conflict Studies Perasaan atau prehensi menjadi cara di mana setiap entitas merespon dan merasakan entitas lain, menciptakan jaringan hubungan emosional dalam realitas. Whitehead memandang semua entitas sebagai bagian dari suatu organisme yang terlibat dalam proses, menciptakan dinamika kolektif dalam realitas. 9 Pandangan ini membuka ruang bagi entitas untuk membentuk pemahaman baru, ide, atau konsep yang tidak hanya terbatas pada pengalaman langsung tetapi juga melibatkan elemen kreatif. Kreativitas muncul karena entitas tidak hanya menerima informasi tetapi juga memberikan kontribusi uniknya dalam proses ini. Konsep ini mencerminkan sifat evolusioner dan dinamis dari realitas, menolak pandangan bahwa realitas bersifat statis. Dengan mengangkat konsep sifat evolusioner dan dinamis, kita mengakui bahwa realitas selalu berada dalam keadaan berubah dan berkembang. Setiap entitas, kendati mungkin mengalami pemadaman sementara, memiliki peran dan dampaknya sendiri dalam membentuk dinamika keseluruhan dari proses evolusioner tersebut. Pemahaman ini menegaskan bahwa setiap entitas berpartisipasi dalam membentuk arah dan perkembangan realitas, menciptakan keterkaitan yang kompleks antara entitas-entitas. Lebih lanjut, konsep ini mencerminkan sifat perubahan yang melekat dalam realita sebagai manifestasi dari keberlanjutan proses evolusioner. Berdasarkan rujukan filsafat proses Whitehead, fakta dianggap sebagai suatu proses yang terus berkembang, menciptakan pandangan dinamis terhadap realitas. Konsep ini didasarkan pada ide aktualisasi dan potensi, di mana setiap entitas memiliki potensi yang dapat diwujudkan melalui proses aktualisasi. Dalam konteks ini, fakta bukanlah suatu keadaan yang statis, tetapi hasil dari evolusi kreatif yang terus berlanjut. Prinsip kreativitas memainkan peran sentral dalam pandangan Whitehead. Fakta sebagai suatu proses mencerminkan kemampuan setiap entitas untuk berpartisipasi dalam penciptaan yang Tidak ada determinisme yang kaku, sebaliknya, terdapat kebebasan dan inovasi dalam dinamika fakta yang terus berkembang. Pemahaman subjektivitas dan objektivitas menjadi aspek penting dalam konsep ini. Fakta subjektif adalah pengalaman individual, sementara fakta objektif adalah kontribusi terhadap realitas yang lebih luas. Keduanya saling terkait dalam suatu proses yang kompleks dan saling mempengaruhi. Konsep fakta sebagai suatu proses juga mencerminkan pengaruh pemikiran pragmatisme, di mana relevansi dan kegunaan diukur berdasarkan konsekuensi praktisnya. Whitehead berusaha menyatukan elemen-elemen empiris dan spekulatif, menciptakan suatu pandangan yang komprehensif terhadap realitas. Dengan demikian, pandangan Whitehead menawarkan gambaran realitas sebagai suatu proses yang tak berkesudahan, membuka ruang untuk kreativitas, kebebasan, dan inovasi dalam evolusi fakta yang terus berkembang. Sudarminta J. Kebenaran Itu Terus Berkembang: Analisis Konstruksi Kebenaran di Era Post-Truth Melalui Filsafat Proses Whitehead Volume 4 Nomor 3 (September-Desember 2. Konstruksi Kebenaran di Era Post-Truth dan Eksplorasinya dengan Pandangan Whitehead Dalam konteks modernitas, terdapat prestasi besar terkait keyakinan pada fakta sebagai representasi kebenaran. Artinya, dalam periode modernitas, muncul kepercayaan kuat bahwa fakta, yang dapat diuji dan diverifikasi secara empiris, merupakan fondasi dari apa yang dianggap sebagai kebenaran. Namun kebenaran yang diproduksi di era modernitas tidak terpaku secara eksklusif pada validasi melalui metode ilmiah dan pengamatan empiris. Hardiman menyatakan bahwa konsep kebenaran modernitas melibatkan dimensi yang lebih kompleks dan bervariasi. Pemikiran dan pandangan tentang kebenaran bisa lebih luas, mencakup aspek-aspek seperti interpretasi, nilai-nilai, dan pengalaman subjektif. Tidak hanya itu, keyakinan awal bahwa manusia adalah sumber pemikirannya sendiri juga telah berubah. Sebelumnya, berpikir dianggap sebagai kemampuan memilih dari berbagai kemungkinan, dengan kesadaran kritis sebagai pilihan utama. Prinsip cogito ergo sum mencerminkan pemahaman ini, bahwa kemampuan untuk membedakan antara realitas, nilai, dan keandalan berpikir dianggap penting. Tapi dalam perkembangannya, kekaburan semakin intensif dan rumit melalui teknologi komunikasi. Artinya, meskipun manusia seharusnya memiliki kesadaran kritis dan kemampuan memilah informasi, tapi saat ini kekaburan semakin meningkat. Pesan dalam komunikasi digital menjadi sumber pemikiran yang lebih dominan daripada subjek individu. 11 Dengan kata lain, pengaruh pesan dalam dunia digital telah menggeser peran kesadaran kritis manusia, sehingga kejelasan dalam berpikir menjadi kurang menonjol. Ciri ini menguat di era post-truth, di mana konstruksi kebenaran lebih sering didasarkan pada elemen subjektif daripada pada fakta objektif. Aspekaspek subjektif seperti opini, emosi, dan narasi yang sedang populer cenderung memainkan peran kunci dalam membentuk persepsi tentang kebenaran. Dalam konteks ini, kebenaran tidak lagi dianggap sebagai entitas yang tetap dan berdasarkan pada fakta yang dapat diperiksa secara objektif, melainkan cenderung bersifat variabel dan rentan terhadap interpretasi yang dipengaruhi oleh faktor-faktor emosional dan sosial. Perubahan ini mencerminkan pergeseran paradigma dari penekanan pada fakta objektif menuju pemahaman yang lebih subjektif dan terkait dengan pengalaman pribadi atau kelompok. Narasi yang mendukung kepentingan tertentu atau memenuhi keinginan kelompok atau individu dapat memiliki pengaruh besar dalam membentuk pandangan terhadap kebenaran. Dalam pandangan Whitehead, kebenaran dipahami sebagai fakta yang terus berkembang melalui proses kreatif dan evolusi. Fokusnya tidak hanya pada faktor subjektif, tetapi juga pada Budi Hardiman. KEBENARAN DAN PARA KRITIKUSNYA. Mengulik Idea Besar Yang Memandu Zaman Kita (Yogyakarta: Kanisius, 2. 19, 24-25. Budi Hardiman. Aku Klik Maka Aku Ada. Manusia Dalam Revolusi Digital, (Yogyakarta: Kanisius, 2. Vinny Febri Setiawati Bria Journal of Divinity. Peace and Conflict Studies keseimbangan antara fakta subjektif dan objektif. Whitehead menekankan peran kreativitas sebagai inti dari proses yang membentuk realitas, membedakannya dari pendekatan post-truth yang seringkali didorong oleh narasi dan opini. Perbedaan mendasar terletak pada sumber kebenaran dan pentingnya fakta. Era post-truth cenderung menempatkan kebenaran sebagai hasil konstruksi sosial yang dipengaruhi oleh opini dan emosi, sementara Whitehead menekankan keberadaan fakta objektif yang memberikan landasan pada realitas. Kreativitas, evolusi, dan pemahaman mendalam menjadi fokus dalam pandangan Whitehead, sementara era posttruth cenderung lebih terfokus pada narasi yang menarik perhatian. Pentingnya evaluasi kritis terhadap informasi juga muncul sebagai perbandingan. Dalam era post-truth, kritisitas terhadap informasi seringkali terabaikan, sementara Whitehead mendorong untuk mempertimbangkan faktor-faktor objektif dan subjektif dalam proses pemahaman terhadap fakta. Whitehead melihat realitas sebagai rangkaian proses yang saling terkait. Ini berarti bahwa kebenaran bukanlah entitas yang statis melainkan realitas yang terus bergerak dan Dalam eksplorasi etika kebenaran, kita diundang untuk memahami bahwa setiap momen dalam proses kebenaran membawa potensi untuk memperbaiki dan memperdalam pemahaman kita tentang kebenaran itu sendiri. Setiap saat, informasi baru, pengalaman, atau konteks dapat muncul dan hal ini dapat mempengaruhi cara kita melihat dan memahami Proses seperti ini juga menyiratkan keterbukaan terhadap perubahan dalam cara pandang terhadap kebenaran. Dengan memahami bahwa setiap momen membawa peluang baru, kita dapat lebih terbuka terhadap pergeseran paradigma, pembelajaran, dan evolusi pemahaman kita. Penekanan terhadap nilai-nilai yang mendasari kebenaran tidak dapat dipisahkan dari konteks fakta atau realitas objektif. Nilai yang kita pegang memainkan peran penting dalam membentuk cara kita melihat dan memahami kebenaran. Nilai-nilai ini dapat mencakup keyakinan, prinsip moral, atau pandangan dunia yang membentuk kerangka interpretatif kita terhadap informasi. Meskipun nilai-nilai dapat memainkan peran dalam membentuk pandangan, pandangan tersebut tetap terkait dengan realitas dan fakta-fakta yang ada di dunia. Jadi, hubungan antara nilai dan fakta bersifat timbal balik. Tidak hanya nilainilai yang membentuk pandangan terhadap kebenaran, tetapi pandangan tersebut juga dapat mempengaruhi cara kita melihat nilai-nilai tersebut. Whitehead mengusulkan pandangan panentheistik, yaitu bahwa Tuhan hadir dalam setiap proses alamiah. Ia mewujud bersama satuan-satuan aktual lainnya. Ia menjadi perwujudan asali . rimordial actualisatio. kreativitas sekaligus prinsip dasar dari proses munculnya satuan aktual 12 Eksplorasi etika kebenaran dalam konteks ini mungkin melibatkan pertimbangan terhadap dimensi spiritualitas dan etika dalam pencarian kebenaran. Integrasi nilai-nilai spiritual dalam pembentukan kebenaran melibatkan pengakuan bahwa aspek spiritualitas dapat Sudarminta J. Filasafat proses. 37,40. Kebenaran Itu Terus Berkembang: Analisis Konstruksi Kebenaran di Era Post-Truth Melalui Filsafat Proses Whitehead Volume 4 Nomor 3 (September-Desember 2. memberikan pandangan yang mendalam dan bermakna terhadap kehidupan dan kebenaran. ketika seseorang secara cermat dan hati-hati mencari kebenaran, ia dapat menganggap proses tersebut sebagai bentuk penyelidikan spiritual. Ketelitian dalam pencarian kebenaran menjadi bentuk penghormatan terhadap dimensi spiritual yang hadir dalam setiap aspek kehidupan. Dengan demikian, panentheisme Whitehead juga mencakup gagasan bahwa Tuhan tidak hanya hadir dalam dunia, tetapi juga melampaui dan melibatkan realitas transendental. Dalam pembentukan kebenaran, seseorang dapat mempertimbangkan nilai-nilai transendental, seperti kebenaran mutlak atau keadilan yang bersumber dari dimensi spiritual. Ini dapat memberikan landasan moral dan etis dalam pembentukan pandangan kebenaran. Hal berikut yang ditekankan Whitehead adalah kreativitas, sebagai aspek fundamental dalam proses. Dalam pencarian kebenaran, nilai-nilai spiritual seperti inspirasi, pencerahan, dan kreativitas dapat diintegrasikan. Seseorang mungkin merasa terinspirasi oleh dimensi spiritual untuk menciptakan ide-ide baru atau memahami kebenaran dengan cara yang lebih mendalam. Nilai-nilai etika yang seringkali bersumber dari ajaran spiritual dapat dijadikan panduan dalam membentuk pandangan tentang sisi etisnya berhubungan dengan tanggung jawab terhadap sesama, keadilan, keberlanjutan, yang semuanya dapat dihubungkan dengan nilai-nilai spiritual yang diakui dalam perspektif panentheistik. Dalam kerangka panentheistik, semua entitas saling terkait dan berkontribusi dalam proses evolusi dan kreativitas. Pemahaman akan keterkaitan ini dapat menjadi dasar bagi nilai-nilai spiritual seperti kasih sayang, saling menghormati, dan perdamaian yang dapat diintegrasikan dalam pembentukan kebenaran. Whitehead juga menyoroti bahwa realitas dipahami sebagai serangkaian proses yang melibatkan kreativitas. Pencarian kebenaran tidak hanya merupakan upaya analitis atau rasional, tetapi juga melibatkan kreativitas sebagai elemen penting. Dalam pandangan ini, setiap individu dapat aktif berpartisipasi dalam menciptakan pemahaman baru dan menggali kebenaran melalui proses kreatif. Pada satu sisi, nilai-nilai estetika, seperti keindahan dan harmoni, diakui sebagai faktor penting dalam pencarian kebenaran. Whitehead meyakini bahwa kebaikan itu merupakan prinsip moralitas yang indah atau selaras. Baginya keindahan dan keselarasan baik dalam seni maupun dalam moral muncul kalau ada kesatuan dari keanekaragaman dalam suatu pola tertentu yang memadukan unsur-unsurnya tanpa menghilangkan keunikan masing-masing. Ia yakin bahwa estetika bukanlah bidang yang melulu tergantung dari selera. Estetika memiliki dasar objektif, dengan pesannya tersendiri yakni mengungkapkan dan mewujudkan keindahan yang benar . rutful beaut. 13 Ini menunjukkan bahwa pencarian kebenaran tidak hanya tentang menemukan fakta atau informasi yang benar, tetapi juga melibatkan penciptaan pemahaman yang indah dan seimbang. Estetika memberikan nilai tambah pada proses pencarian kebenaran. Dalam konteks etika kebenaran. Sudarminta J. Vinny Febri Setiawati Bria Journal of Divinity. Peace and Conflict Studies pemahaman ini juga mengandung makna bahwa kreativitas membawa dimensi kemanusiaan ke dalam pencarian kebenaran. Seseorang tidak hanya menjadi pemaksa informasi, tetapi juga pencipta pemahaman yang unik. Aspek ini menegaskan bahwa kebenaran tidak hanya bersifat objektif, tetapi juga memiliki dimensi subjektif yang dipengaruhi oleh kreativitas individu. Dengan mengakui nilai-nilai estetika, pemahaman kebenaran dianggap sebagai bagian dari realitas yang lebih besar. Estetika memberikan pandangan holistik terhadap proses pencarian kebenaran, di mana setiap elemen Ae baik rasionalitas, kreativitas maupun keindahan Ae dipandang sebagai kontributor penting dalam membentuk keseluruhan pemahaman. Dalam pandangan etika kebenaran menurut Whitehead, kebaikan atau kebenaran bukan pertama-tama ditentukan dari ditaati-tidaknya peraturan-peraturan tertentu, melainkan oleh kesetiaan setiap individu dalam tanggung jawabnya menjadi pribadi sebaik mungkin dalam setiap situasi konkrit yang dihadapinya. Tanggung jawab individu dalam pencarian dan pembentukan kebenaran memunculkan beberapa elemen kunci. Pertama, seseorang perlu memahami dan mengakui sifat kreatif dalam proses kebenaran. Ini mengharuskannya untuk berperan aktif dalam proses yang dinamis dan terus berkembang. Selanjutnya, tanggung jawab melibatkan pengakuan nilai-nilai yang membentuk pandangan individu terhadap kebenaran, sebab dalam konstruksi kebenaran, berbagai nilai memainkan peran penting dalam membentuk kebenaran yang inklusif. Pertama-tama, ketepatan menjadi nilai dasar yang mengukur sejauh mana informasi mencerminkan fakta dan realitas objektif. Keadilan ikut mempengaruhi pembentukan kebenaran dengan menilai dampaknya dalam konteks keadilan sosial dan etika. Selanjutnya, ketidakberpihakan menjadi nilai yang memastikan bahwa pandangan atau informasi yang disajikan bersifat objektif dan bebas dari bias. Tanggung jawab juga memainkan perannya, menilai apakah pihak yang menyampaikan informasi bertanggung jawab atas kebenaran yang mereka sampaikan. Keterbukaan menjadi nilai penting dalam memastikan bahwa informasi atau sumber kebenaran dapat diakses dan diverifikasi oleh pihak lain. Kehormatan mencerminkan integritas dan kejujuran dalam penyampaian informasi, memastikan bahwa kebenaran tidak terdistorsi atau dimanipulasi. Kebenaran pribadi diakui sebagai nilai yang mengakui dimensi personal dan subjektif dalam konstruksi kebenaran. Sementara itu, pluralitas nilai mencerminkan penghargaan terhadap keragaman nilai dan perspektif dalam konstruksi kebenaran. Kesetaraan menilai dampak kebenaran terhadap kesetaraan dan keadilan dalam masyarakat. Keberlanjutan menjadi nilai yang mempertimbangkan dampak kebenaran terhadap keberlanjutan lingkungan dan sosial. Semua nilai ini tidak berdiri sendiri, melainkan saling terkait dan berkonstribusi pada pembentukan pandangan terhadap kebenaran. Kompleksitas dalam konstruksi kebenaran mencerminkan peran nilai-nilai ini dalam berbagai konteks sosial, politik, dan budaya. Jadi, nilainilai ini menjadi landasan dalam memahami bagaimana kebenaran dibentuk dan dinilai dalam Kebenaran Itu Terus Berkembang: Analisis Konstruksi Kebenaran di Era Post-Truth Melalui Filsafat Proses Whitehead Volume 4 Nomor 3 (September-Desember 2. Kritisitas dan Kesadaran Etis Kritisitas dalam menyikapi informasi menjadi semakin penting di era post-truth. Pada era ini, kita dihadapkan dengan arus informasi yang sangat cepat, luas, dan mudah diakses melalui berbagai platform media terutama media sosial. Beberapa alasan utama mengapa kritisitas sangat diperlukan dalam menghadapi tantangan di era post-truth dapat diuraikan sebagai Penyebaran Informasi Palsu (Hoak. dan Manipulasi Opini Publik Dalam era post-truth, kebenaran seringkali terdistorsi oleh informasi palsu yang disebarkan dengan maksud tertentu. Kritisitas membantu kita untuk meragukan informasi sebelum menerima dan menyebarkannya, sehingga mengurangi risiko penyebaran hoaks. Konsep ini dijelaskan Hardiman dengan istilah dalam filsafat Descarets. Augenius malignumAy . oh/jin jaha. Ae sebagai konsep entitas yang menjadi bagian dari pertimbangan skeptis Descartes ketika ia mencoba membangun dasar pengetahuannya melalui keraguan metodologis. Ide ini digunakan sebagai alat untuk menciptakan landasan yang kukuh bagi kebenaran dan pengetahuan yang pasti dalam pemikiran Descartes. Dari istilah ini. Hardiman mengkonfirmasi hal yang penting bahwa kemampuan untuk memilah antara kecohan . nformasi yang salah atau tidak bena. dan fakta . nformasi yang akurat, teruj. bukanlah sesuatu yang baru melainkan telah menjadi bagian dari intuisi manusia sejak lama. Pernyataan ini menjadi kerangka optimistis Hardiman dan juga manusia di era post-truth untuk memulihkan kewarasan publik di tengah-tengah kelimpahan informasi,14 terutama berhadapan dengan fenomena manipulasi opini publik oleh para aktor politik. Kritisitas membantu masyarakat untuk lebih berhati-hati terhadap upaya memanipulasi opini melalui informasi yang disajikan. Filter Buble dan Echo Chamber Teknologi modern cenderung menciptakan filter bubble dan echo chamber di mana seseorang terpapar pada pandangan dan informasi yang sejalan dengan kepercayaan Filter bubble merujuk pada situasi di mana algoritma dalam platform digital seperti media sosial, menyajikan informasi yang didasarkan pada preferensi, riwayat penelusuran, dan perilaku online individu. Efek filter bubble biasanya membuat individu cenderung terpapar pada informasi yang sejalan dengan pandangan mereka sendiri, sehingga membentuk AugelembungAy informasi yang membatasi keragaman Algoritma ini bisa menyebabkan pikiran kita terbiasa dimanjakan dengan Budi Hardiman. Aku Klik Maka Aku Ada. Manusia Dalam Revolusi Digital,. Vinny Febri Setiawati Bria Journal of Divinity. Peace and Conflict Studies konten kesukaan yang telah membuat kita nyaman, sehingga pada akhirnya membuat orang jadi menutup mata akan dunia diluar topik tersebut. Sedangkan echo chamber merujuk pada kondisi di mana seseorang terpapar pada pandangan dan opini yang sejalan dengan pandangan mereka sendiri melalui interaksi dan pembicaraan di dalam kelompok sosial atau komunitas daring. Fenomena echo chamber akan menjadi nyata ketika mereka mengemukakan pendapat mereka secara terus menerus, dan mereka percaya bahwa itu benar, padahal apa yang mereka kemukakan hanya berputar-putar saja di lingkup mereka sendiri. Mirisnya, sistem bahkan membantu mereka untuk menghilangkan atau menyembunyikan topik yang bertentangan dengan apa yang mereka sukai. 15 Mereka yang mengalami hal ini memiliki interaksi yang terbatas pada kelompok dengan pandangan serupa sehingga memperkuat keyakinan yang sudah ada dan menghambat pertukaran ide yang beragam. Kritisitas membantu melibatkan individu dalam rangkaian informasi yang lebih beragam dan berimbang. Desensitisasi terhadap Informasi Penyebaran informasi yang sangat cepat dan luas menyebabkan seseorang menjadi kurang peka atau kurang perhatian . terhadap infromasi yang mereka Ini bisa terjadi juga karena banyaknya informasi yang diterima sehingga perhatian seseorang menurun. Namun kritisitas atau kemampuan untuk menilai dan mempertimbangkan informasi dengan cermat membantu menjaga tingkat ketelitian dan perhatian seseorang terhadap informasi yang diterima. Dengan cara ini, orang yang kritis tetap mampu memilah informasi yang penting dan relevan, sehingga tidak terlalu terpengaruh oleh desensitisasi yang mungkin timbul akibat banyaknya informasi yang Penyebaran Ujaran Kebencian dan Disinformasi Media sosial sering menjadi tempat penyebaran pidato, tulisan, atau komunikasi lainnya yang mengekspresikan ujaran kebencian terhadap individu atau kelompok berdasarkan karakteristik tertentu, seperti suku, agama, etnis, orientasi seksual, gender, atau atribut sosial lainnya. Ujaran kebencian dapat mencakup ancaman, penghinaan, atau provokasi kekerasan sehingga berpotensi merugikan dan melukai serta menciptakan lingkungan yang tidak aman atau perlakuan yang diskriminatif terhadap individu atau kelompok yang disasar. Kritisitas dapat mengajarkan individu untuk tidak hanya menerima informasi tanpa pertimbangan, tetapi juga untuk mengidentifikasi dan melawan konten yang merugikan tersebut. Virani Wulandari. Gema Rullyana. Ardiansah. AuPengaruh Algoritma Filter Bubble Dan Echo Chamber Terhadap Perilaku Penggunaan Internet,Ay Berkala Ilmu Perpustakaan Dan Informasi Vol. 17 No. 1 (June 2. Kebenaran Itu Terus Berkembang: Analisis Konstruksi Kebenaran di Era Post-Truth Melalui Filsafat Proses Whitehead Volume 4 Nomor 3 (September-Desember 2. Beberapa hal di atas menunjukkan bahwa dalam menghadapi konstruksi kebenaran di era post-truth, penguatan kemampuan analitis melalui kritisitas menjadi kunci utama. Individu yang mampu menggunakan kritisitasnya dapat lebih cermat dalam memahami dan mengevaluasi informasi. Ini mencakup kemampuan untuk memilah fakta dari opini, mengidentifikasi sumber yang dapat dipercaya, dan menganalisis konteks informasi dengan lebih mendalam. Lebih lanjut, kritisitas juga memberdayakan individu untuk tidak hanya melihat transformasi budaya dan perubahan sosial yang terjadi akibat kemajuan teknologi, tetapi juga mampu mempertimbangkan implikasi etis dari perubahan tersebut. Kritisitas memberikan perspektif yang lebih holistik terhadap bagaimana teknologi membentuk pandangan dan nilainilai dalam masyarakat. selain itu, kritisitas mendukung pembentukan opini yang didasarkan opada informasi yang akurat dan seimbang. Dalam konteks partisipasi demokratis misalnya, seseorang yang menggunakan kritisitasnya dapat memberikan kontribusi yang lebih berharga dalam pengambilan keputusan. Mereka tidak hanya menjadi konsumen pasif informasi tetapi juga aktor yang aktif dalam membentuk opini dan pandangan yang berdampak pada tatanan Kritisitas dalam konteks ini, tidak hanya diartikan sebagai sikap skeptis atau ketidakpercayaan semata. Lebih dari itu, kritisitas melibatkan kemampuan untuk memahami konteks, mengevaluasi bukti dengan bijaksana, dan membentuk pandangan yang lebih informasional dan kontekstual. Oleh karena itu, dalam lanskap informasi yang kompleks dan dinamis di era post-truth, kritisitas berfungsi sebagai pondasi kuat yang membimbing individu dalam menghadapi tantangan konstruksi kebenaran yang serba kompleks. Tanggung Jawab Kolektif dalam Menciptakan Kebenaran Filsafat proses Whitehead menekankan kreativitas dan dinamika proses sebagai elemen kunci dalam realitas. Analisis ini dapat membantu masyarakat memahami bahwa kebenaran tidaklah statis, melainkan terus berkembang dan dipengaruhi oleh faktir-faktor dinamis. Dengan pemahaman ini, masyarakat dapat mengembangkan keterbukaan terhadap setiap perubahan. Hidup di era post-truth membuat masyarakat perlu mengadopsi sikap dan prinsip-prinsip yang mencerminkan keterbukaan terhadap perkembangan, evolusi, dan dinamika dalam realitas digital, terutama dalam konteks informasi dan teknologi. Keterbukaan terhadap perubahan menunjukkan fleksibilitas mental dalam menghadapi dinamika realitas digital. Keterbukaan ini tercermin dalam kemampuan untuk beradaptasi dengan cepat terhadap ide-ide baru, konsep, dan teknologi yang terus berkembang. Sikap pembelajaran berkelanjutan menjadi landasan, memotivasi masyarakat modern untuk aktif mencari pengetahuan baru, mengikuti tren teknologi, dan memahami evolusi digital. Selain itu, keterlibatan dalam komunitas digital menjadi aspek penting dalam terbuka terhadap perubahan. Dengan terlibat dalam forum. Vinny Febri Setiawati Bria Journal of Divinity. Peace and Conflict Studies grup diskusi, dan jaringan sosial, masyarakat digitalis dapat mengikuti perkembangan terkini, bertukar ide, dan membagikan pengetahuan terkait perubahan yang terjadi. Responsif terhadap umpan balik dari pengguna lain atau perkembangan dunia digital adalah ciri lain dari keterbukaan terhadap perubahan. Sementara itu, kesadaran akan etika digital menjadi bagian integral dalam sikap terbuka ini. Seseorang yang terbuka terhadap perubahan akan mempertimbangkan implikasi etis dari teknologi baru dan berusaha untuk mengadopsi praktik yang bertanggung jawab. Kemampuan berkolaborasi juga menjadi faktror penting, memungkinkan mereka untuk bekerja sama dengan orang lain dalam mengatasi tantangan dan memanfaatkan peluang yang muncul. Sikap ini membantu menciptakan lingkungan yang dinamis, inovatif, dan beretika di dalam realitas digital yang terus berkembang. Konsep interkonektivitas nilai dan fakta dalam filsafat proses Whitehead juga memungkinkan masyarakat untuk mengadopsi pendekatan yang lebih kritis terhadap Konsep ini memungkinkan mereka untuk memilah fakta dari opini dengan lebih cermat sebab fakta cenderung dilihat setara dengan opini. Dalam proses ini, masyarakat dapat mengidentifikasi nilai-nilai yang mendasari suatu narasi, mengembangkan kemampuan untuk menguraikan konteks nilai tersebut, dan menilai dampaknya terhadap pembentukan kebenaran. dalam melihat interkonektivitas antara nilai dan fakta, masyarakat dapat mempertimbangkan konteks nilai-nilai tersebut saat mengevaluasi informasi, menghindari jebakan distorsi atau manipulasi informasi. Penanaman sikap kritis dalam pengambilan keputusan menjadi esensial saat masyarakat tidak hanya menerima informasi begitu saja melainkan mempertimbangkan sumber informasi, nilai-nilai yang terlibat, dan implikasi informasi pada pandangan mereka. Hal ini dapat memberdayakan masyarakat untuk menjadi agen yang lebih aktif dalam membentuk persepsi dan kebenaran mereka, menghadapi kompleksitas realitas digital dengan kesadaran akan hubungan yang kompleks pula antara nilai dan fakta. Dalam era post-truth yang bergelimpangan informasi dan narasi, prinsip penerimaan terhadap kritik dalam filsafat Whitehead memungkinkan individu untuk lebih terbuka terhadap pluralitas pandangan sehingga terdorong untuk melakukan pertimbangan dari sudut pandang yang berbeda. Refleksi diri dalam konteks filsafat Whitehead dapat membantu individu mengidentifikasi potensi bias atau informasi palsu dalam suatu narasi. Dengan menerima kritik terhadap informasi yang tidak akurat, ia dapat secara proaktif menyaring informasi dan memastikan bahwa kebenaran yang lebih akurat ditemukan. Penerimaan kritik dapat mendorong pembentukan kebenaran yang lebih transparan dan terbuka terhadap evaluasi nilai-nilai. Ketika menerima kritik sebagai bagian dari proses kreatif, maka dengan sendirinya ada peningkatan dialog dan kolaborasi dalam masyarakat. Dalam era post-truth, di mana konflik informasi merajalela, refleksi diri dan penerimaan kritik dapat menciptakan budaya komunikasi yang lebih sehat dan mempromosikan pertukaran ide yang produktif. Kebenaran Itu Terus Berkembang: Analisis Konstruksi Kebenaran di Era Post-Truth Melalui Filsafat Proses Whitehead Volume 4 Nomor 3 (September-Desember 2. saat realitas objektif diperdebatkan bahkan diabaikan, masyarakat justru dapat memahami batasan perspektif mereka sendiri dan mencari kebenaran yang lebih mendekati realitas Bagi Whitehead, proses ini bukanlah tanggung jawab moral yang berat. Menurutnya, keputusan untuk menghadapi tanggung jawab dalam membangun kebenaran relatif di tengah kompleksitas informasi dan pandangan yang beragam merupakan pencapaian AukepuasanAy atau AukenikmatanAy sebagai suatu proses. Dalam konteks kebenaran di era post-truth, pencapaian AukepuasanAy ini selaras dengan usaha mencapai keselarasan, intensitas, kebenaran, dan keindahan dalam konstruksi kebenaran oleh individu atau masyarakat. 16 Konsep ini mengundang masyarakat untuk tidak hanya mempertimbangkan aspek relatif kebenaran tetapi juga mencari pencapaian nilai-nilai positif dalam prosesnya. Masyarakat menjadi lebih fleksibel dan adaptif dalam menghadapi perubahan pandangan dan informasi. Penghargaan terhadap keindahan dalam konstruksi kebenaran dapat meredakan polarisasi dan konflik dalam masyarakat, membuka ruang untuk dialog yang lebih terbuka dan inklusif. Jika kultur ini dikembangkan sebagai tanggung jawab sosial terhadap dampak informasi yang diterima dan disebar maka akan menciptakan kesadaran akan tanggung jawab kolektif dalam menciptakan kebenaran yang adil dan berkelanjutan. Ada partisipasi aktif dan kerja sama dalam membentuk narasi yang lebih komprehensif dan akurat. Jika setiap individu menyadari bahwa mereka adalah bagian dari proses kebenaran kolektif maka mereka akan lebih berhati-hati dalam menyebarkan informasi, mengurangi risiko penyebaran hoaks, mampu menghindari penyempitan pandangan dan memecah pola pikir tertutup serta berkontribusi pada pembentukan narasi yang lebih dapat dipercaya. Kolaborasi dalam komunitas dapat menjadi benteng pertahanan terhadap manipulasi dan propaganda. Komunitas yang kuat dapat mengurangi dampak dari upaya memanipulasi opini publik yang sering terjadi dalam era post-truth. Penulis yakin bahwa tahapan ini akan memungkinkan pencapaian keseimbangan yang sehat antara hak individu dan kepentingan bersama. Komunitas yang berbasis pada nilainilai etis dapat menjadi motor penggerak kesadaran etis dalam menyikapi informasi. Hal-hal ini merupakan instrumen penting dalam membentuk narasi yang lebih dapat dipercaya dan kebenaran yang lebih inklusif. Simpulan Kebenaran di era post-truth bersifat subjektif dan relatif. Kebenaran tidak lagi dianggap sebagai sesuatu yang mutlak atau objektif, melainkan sebagai hasil dari penafsiran manusia yang dapat bervariasi sesuai dengan nilai dan interpretasi subjektif. Meskipun diakui sebagai interpretasi John B. Cobb. JR. and David Ray Griffin. PROCESS THEOLOGY An Introductory Exposition (Philadelphia: The Westminster Press, 1. Vinny Febri Setiawati Bria Journal of Divinity. Peace and Conflict Studies manusia yang relatif, ketika disebarkan secara konsisten Ae terlebih melalui teknologi digital yang makin canggih Ae maka nilai kebenaran ini dapat membentuk persepsi masyarakat sebagai suatu AukebenaranAy yang dianggap benar. Dalam konteks ini, kontribusi filsafat proses Whitehead dapat memberikan pemahaman yang mendalam terhadap dinamika proses konstruksi kebenaran di era post-truth. Pandangan Panentheistik Whitehead dapat merangsang refleksi etis dan tanggung jawab dalam membangun kebenaran. Konsep proses yang terus berkembang menggambarkan bahwa kebenaran bukanlah entitas statis, melainkan dinamis dan terbentuk oleh proses evolusioner. Oleh karena itu, melalui pemahaman ini, dapat dihasilkan kesadaran akan kompleksitas kebenaran relatif dan urgensi untuk mempertimbangkan nilai etika dalam proses konstruksinya. Dengan pemahaman bahwa kebenaran bukan entitas mutlak, maka sikap refleksi diri dan penerimaan terhadap kritik tidak bisa diabaikan. Kelenturan ini mesti dilihat sebagai peluang untuk memaksimalkan tanggung jawab individu di era post-truth untuk berkontribusi pada dialog dan kolaborasi dalam mencari kebenaran. Bertanggung jawab terhadap dampak keputusan adalah elemen penting lainnya. Setiap individu harus memahami dan menerima konsekuensi dari pandangan atau tindakan mereka terhadap kebenaran, dan jika perlu, mereka harus mengambil langkah-langkah untuk memperbaiki atau memodifikasi dampak tersebut. Ada keterlibatan kesadaran akan diri sebagai bagian dari proses yang lebih besar. Dengan demikian, masyarakat digitalis menyadari bahwa kontribusi mereka, seberapa kecil pun, memiliki dampak dalam pembentukan kebenaran yang lebih besar. Dengan mengintegrasikan elemen-elemen ini, tanggung jawab individu dalam etika kebenaran akan menjadi agen kreatif yang sadar, reflektif, dan aktif dalam pencarian kebenaran yang terus berkembang. Daftar Pustaka