PENETAPAN KADAR FLAVONOID TOTAL EKSTRAK DAUN PARE METODE KOMPLEKS KOLORIMETRIDENGAN PENGUKURAN ABSORBANSI SECARA SPEKTROFOTOMETRI Agung Nur Cahyanta cahyanta@gmail. Jurusan Farmasi STIKES BHAMADA Slawi Jl. Cut Nyak Dien. Desa Kalisapu . 3317706 Abstrak Secara empiris daun pare (Momordicacharanti. sangat berpotensi untuk dijadikan sediaan obat Untuk itu perlu dikembangkan metode standardisasi sediaan obat tradisional, salah satunya adalah dengan penetapan kadar salah satu kandungan senyawa aktif dalam daun pare. Penelitian sebelumnya menyebutkan bahwa daun pare memiliki kandungan senyawa flavonoid sehingga dapat dilakukan penentuan kadar flavonoid total ekstrak etanol daun pare secara kolorimetri komplementer dengan aluminium klorida untuk menentukan golongan flavon dan flavonol. Dari hasil penelitian diperoleh kandungan flavonoid total dalam daun pare sebesar 8,30% b/b. Kata Kunci : Pare. Flavonoid Pendahuluan Keanekaragaman hayati tumbuhan tropis Indonesia merupakan sumber kekayaan yang potensial. Indonesia dikenal sebagai Negara pemilik hutan tropis terbesar di dunia, menempati urutan ke-3 setelah Brazil dan Zaire. 1Secara empiris daun pare digunakan sebagai penyubur rambut. India, seluruh bagian tanaman pare dipakai sebagai obat, mulai dari akar, daun, buah, dan bijinya. Akarnya dipakai untuk mengobati penyakit mata. daunnya untuk memperlancar buang air besar, kulit terbakar, obat cacing, memperbanyak air susu ibu, menambah nafsu makan dan sebagai obat luar untuk menyuburkan 3 Flavonoid yang terdapat dalam daun pare diduga mempunyai aktivitas sebagai bakterisid dan antivirus yang dapat menekan pertumbuhan bakteri dan virus sehingga dapat mempercepat pertumbuhan rambut dan mencegah kerontokan. 4 Untuk itu perlu dikembangkan metode yang dapat digunakan untuk standarisasi simplisia salah satunya dengan penetapan kadar salah satu kandungan senyawa. Dari penelitian sebelumnya diketahui bahwa daun pare (Momordicacharanti. memiliki kandungan senyawa flavonoid. Penentuan jumlah flavonoid total ekstrak etanol daun daun Pare komplementer alumunium klorida untuk menentukan golongan flavon dan flavonol. Metode Penelitian C Bahan Bahankimiayang digunakanantaralainetanol96%. Aluminium klorida. Standart Kuersetin. Natrium Nitrit. Natrium Hidroksida. C Alat Thermostat Water bath HH-6,rotary evaporator Heidolph, moisture analyzer halogen Shimadzu MOC63u. UV Mini 1240 spektrofotometer Shimadzu, oven drying Getra. C Pembuatan Simplisia Daun pare yang sudah dideterminasi di diperoleh dari daerah Surodadi kabupaten Tegal disortasi dari bahan-bahan pengotor. Dilakukan pencucian dengan air mengalir hingga bersih ditiriskan kemudian dirajang dan dikeringkan dengan menggunakan oven drying pada suhu kurang dari 600C selama 8 jam. Simplisia kemudian digiling dan diayak dengan pengayak mesh 60 menjadi serbuk dengan ukuran yang homogen dan disimpan pada wadah yang kering tertutup rapat dalam ruangan yang terlindung dari cahaya matahari. C Ekstraksi Pembuatan ekstrak etanol daun pare, cairan penyari digunakan etanol 96%. Maserasi dengan merendamserbuk simplisia 200gram dalam 2 literetanol 96%, kemudiandikocok selama 6 jam menggunakan shaker dan didiamkan selama 18 jam. Maserat disaring menggunakan penyaring vakum kemudian Ampas dimaserasi ulang dan disaring kembali sebanyak 2kali dengan cara yang sama. Semua maserat dikumpulkan dipekatkan dengan rotary evaporator suhu 500C dengan kecepatan 50 rpm, selanjutnya ekstrak cair diuapkan dengan waterbath pada suhu 500C, sampai terbentuk ekstrak kental yang tidak bisa dituang. C Penentuan Flavonoid Total Penentuan flavonoid total dalam ekstrak dilakukan untuk mengetahui prosentase kandungan flavonoid total dalam ekstrak Pare C Pembuatan Kurva Standar Kuersetin Kuersetin 10,0 mg dilarutkan dalam labu takar 10 mL dengan pelarut etanol hingga tanda . adar kuersetin menjadi 1mg/mL atau 1000AAg/mL). Lalu larutan induk 1000AAg/mL diambil sebanyak 1 mL dilarutkan dalam labu takar 10 mL dengan pelarut etanol hingga tanda . adar kuersetin menjadi 100AAg/m. Dibuat kurva baku dari larutan induk 100AAg/ml dengan cara memipet 0,5 . 1,0 . 1,5 dan 2,0 mL, dilarutkan ke dalam 10 mL dengan pelarut etanol . adar larutan standart menjadi 5 . dan 20 AAg/mL). Sebanyak 0,5 mL dari masing-masing konsentrasi larutan direaksikan dengan 2 ml akuades dan 0,15 ml NaNO2 5 % kemudian didiamkan selama 6 menit. Menambahkan sebanyak 0,15 mL AlCl3 10% kedalam larutan, kemudian didiamkan kembali selama 6 Larutan direaksikan dengan 2 mL NaOH 4%, kemudian diencerkan dengan akuades hingga volume total 5 mL dan didiamkan 15 menit. Diukur absorbansi larutan standart pada panjang gelombang 510 nm dengan spektrofotometer UV-Vis. Kurva standart diperoleh dari hubungan antara konsentrasi kuersetin (AAg/m. dengan C Absorbansi Ekstrak Sebanyak 10,0 mg ekstrak dilarutkan dalam labu takar 10 ml dengan pelarut etanol hingga tanda . adar ekstrak menjadi 1mg/mL atau 1000AAg/mL). Lalu larutan induk 1000AAg/mL diambil sebanyak 0,5 mL direaksikan dengan 2 ml akuades dan 0,15 ml NaNO2 5 % kemudian didiamkan selama 6 menit. Sebanyak 0,15 mL AlCl3 10% ditambahkan kedalam larutan, kemudian didiamkan kembali selama 6 Larutan direaksikan dengan 2 mL NaOH 4%, kemudian diencerkan dengan akuades hingga volume 5 mL dan didiamkan 15 menit. Diukur absorbansi larutan pada panjang gelombang 510 nm dengan spektrofotometer UV-Vis. Hasil dan Pembahasan Data morfologi dari daun Pare menunjukkan daun berwarna Hijau, tunggal, bertangkai, berbentuk menjari membulat dengan pangkal bentuk jantung. Gambar daun PareAo Gambar 1. Morfologi daun Pare Tabel 1. Morfologi daun pare Spesifikasi Warna Permukaan Ukuran rata-rata Keterangan Hijau Agak kasar. Panjang 12 cm, lebar 10 cm Ujung daun Menyirip Pangkal daun Seperti jantung Tepi daun Berombak Bertulang Jumlah helai Bentuk Tunggal Menjari Ekstrak etanol yang dihasilkan dari daun Pare adalah ekstrak kental warna hijau pekat dengan berat 46,20 gr dengan rendemen 15,4% . Tabel 2. Hasil Uji susut pengeringan Simplisia Daun Pare Simp Botol . otol s . otol s Susut Perse impli- implisi- penge . bobot rin- susut setelah gan penge sebelum penetapa . ringan n . (%) n . 32,338 33,430 33,36 32,465 33,561 33,49 32,385 33,424 33,36 Rata-rata masih tinggi dapat mendorong enzim kandungan kimia yang ada dalam bahan menjadi produk lain yang mungkin tidak lagi memiliki efek farmakologi seperti senyawa aslinya. Sesuai dengan Peraturan Ka. BPOM RI No. 12 Tahun 2014 tentang Persyaratan Mutu Obat Tradisional kadar air untuk simplisia yang dipergunakan sebagai obat adalah O 10%. Tabel 3 Konsentrasi dan absorbansi dari Kuersetin Konsentr Absorbansi pada 510 Ratarata (AAg/mL) (%) 0,00 0,00 0,00 0,000 0,07 0,07 0,07 0,072 0,13 0,13 0,13 0,136 0,19 0,19 0,19 0,192 0,25 0,25 0,25 0,252 Susut pengeringan memberikan batasan besarnya senyawa yang hilang pada saat proses pengeringan, dari hasil pengujian diperoleh bahwa nilai susut pengeringan untuk simplisia daun pare sebesar 5,792 % yang berarti jumlah senyawa yang hilang pada saat proses pengeringan sebesar 5,792%. Pengujian kadar air tidak dilakukan karena hasil susut pengeringan < 10 %, dan bahan simplisia yang digunakan tidak mengandung minyak atsiri hal ini sesuai dengan literatur bahwa dalam hal khusus . ika bahan tidak mengandung minyak atsiri dan sisa pelarut organik mengua. susut pengeringan identik dengan kadar air. 14 Jika kadar air dalam bahan Absorbansi Susunan tulang y = 0. RA = 0. 10Konsentrasi 20 AAg/mL Gambar 1. Kurva Kalibrasi Kuersetin Tabel 4 Absorbansi dan Total Flavonoid Ekstrak Daun Pare Ekstrak Daun Pare Vol. Samp (AA. Abs 0,10 0,10 0,10 Total Flavo (%) Ratarata (%) 8,16 8,50 8,30 8,25 Penentuan konsentrasi flavonoid dari ekstak etanol daun pare dilakukan dengan kompleks kolorimetri AlCl3 yang mempunyai prinsip pengukuran berdasarkan pembentukan warna. Metode ini dapat digunakan untuk menentukan jumlah flavonoid golongan flavon dan flavonol. Prinsip penetapan flavonoid dengan metode kolorimetri AlCl3 adalah terbentuknya kompleks antara AlCl3 dengan gugus keto pada atom C-4 dan juga dengan gugus hidroksi pada atom C-3 atau C-4 yang bertetangga dari flavon dan flavonol. Pada pembuatan kurva kalibrasi digunakan kuersetin sebagai pembanding dimana kuersetin merupakan flavonoid golongan flavonol yang mempunyai gugus keto pada C-4 dan memiliki gugus hidroksi pada atom C-3 atau C-5 yang bertetangga dari flavon Panjang maksimum yang dihasilkan dari pengukuran kuersetin adalah 510 nm. Pada metode AlCl3 jumlah flavonoid flavon dan flavonol diperoleh 8,30% b/b. Hutan Tropika Indonesia. Bogor. IPB Ae LATIN. DalimarthaS. dan Soedibyo. Perawatan Rambut dengan Tumbuhan Obat dan Diet Suplemen. Jakarta. Swadaya. h 36-40. Subahar TSS. Khasiat dan Manfaat Pare. Si Pahit Pembasmi Penyakit. Jakarta: TimLenteraAgromediaPustaka, h 5-8. Achmad. AS,HakimEH,MakmurL. Flavonoiddan Fitomedika. Kegunaan dan Prospek. Jakarta: Phyto-Medika, 1990, 25-29. Chang C. Yang M. Wen H. Chern J. Estimation of total flavonoid content in propolis by two complementary colorimetric methods. Food Drug Analaysis, 200210: 178-182 . Departemen KesehatanRepublikIndonesia& Direktorat JenderalPengawasan ObatdanMakanan. Parameter StandarUmum Ekstrak Tumbuhan Obat. Jakarta: BaktiHusada. Kesimpulan Simplisia daun pare memiliki rendemen terhadap ekstrak etanol sebesar 15,4%, dengan susut pengeringan sebesar 5,792% dan konsentrasi flavonoid total dalam bentuk flavon dan flavonol sebesar 8,30% b/b. Daftar Pustaka