156 INSIGHT: Indonesian Journal of Social Studies and Humanities Vol. No. 1, 2026 Hubungan Fear of Missing Out (FOMO) terhadap Perilaku Phubbing pada Mahasiswa Universitas Negeri Makassar Sitti Murdiana1. Faradillah Firdaus2. Abd Wahid Zulfikar3. Muh Fais Ahmad Yani Hafid4 Psikologi. Universitas Negeri Makassar1,2,3,4 Email: st. murdiana@unm. Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara fear of missing out (FOMO) terhadap perilaku phubbing pada mahasiswa Universitas Negeri Makassar. Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa Univesitas Negeri Makassar yang memiliki smartphone dan pernah memainkannya saat sedang melakukan percakapan secara langsung dengan orang lain. Responden dalam penelitian ini seluruhnya berjumlah 380 orang yang terdiri dari laki-laki (N=. dan Perempuan (N=. Penelitian ini menggunakan metode korelasional dengan teknik pengambilan sampel menggunakan non - probability sampling. Fear of Missing Out diukur menggunakan aspek dari Przybylski. Murayama. DeHaan dan Gladwell . dan skala Phubbing disusun menggunakan aspek dari Karadeg. Tostuntas. Erzen. Buru. Bostan. Sahin. Culha & Babadag . yang kedua skala tersebut telah melalui proses adaptasi. Data penelitian dianalisis dengan menggunakan korelasi Spearman dengan bantuan SPSS 21 for windows. Hasil analisis data menunjukkan bahwa besarnya kekuatan hubungan antara variabel adalah r = 0,293, dengan dilai signifikansi p = 0,000 < 0,05. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan antara Fear of Missing Out (FOMO) terhadap perilaku phubbing pada mahasiswa Universitas Negeri Makassar. Penelitian ini juga menemukan bahwa perbedaan jenis kelamin tidak memiliki pengaruh terhadap perilaku phubbing. Kata Kunci: Fear of Missing Out. Phubbing, dan Smartphone This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4. International License. Hubungan Fear of Missing Out (FOMO) terhadap Perilaku Phubbing 157 PENDAHULUAN Teknologi informasi dan komunikasi yang berkembang pesat telah memberi dampak besar dalam kehidupan manusia, terutama melalui penggunaan smartphone. Smartphone tidak hanya digunakan untuk melakukan panggilan, tetapi juga untuk membaca berita, mengirim pesan, melakukan transaksi, mengakses email, mengikuti perkuliahan, serta menggunakan media sosial. Laporan digital terbaru menunjukkan bahwa penggunaan perangkat bergerak dan media sosial di Indonesia masih sangat tinggi, sehingga smartphone menjadi perangkat yang melekat dalam aktivitas seharihari masyarakat, termasuk mahasiswa (DataReportal, 2025. APJII, 2. Smartphone dengan segala fungsinya mampu menghubungkan pengguna dengan keluarga, teman dekat, atau orang lain yang berada jauh tanpa mengenal ruang dan Salah satu fitur yang membuat perangkat ini menonjol adalah kemampuannya dalam mengakses internet dan ukurannya yang relatif kecil sehingga sangat mudah untuk dibawa kemana saja. Alasan tersebutlah yang menyebabkan penggunaan smartphone menjadi pilihan nomor satu dalam membantu rutinitas harian penggunannya dibandingkan perangkat lainnya. Smartphone bagi sebagian orang menjadi perangkat yang pertama kali disentuh ketika bangun tidur dan yang terakhir dilihat sebelum tidur. Kondisi ini sejalan dengan laporan DataReportal . yang menunjukkan bahwa koneksi seluler aktif di Indonesia mencapai 356 juta pada awal tahun 2025 atau setara dengan 125% dari total APJII . juga melaporkan bahwa jumlah pengguna internet Indonesia mencapai 221 juta orang dengan tingkat penetrasi internet 79,5%. Data tersebut menunjukkan bahwa internet dan smartphone telah menjadi bagian penting dari rutinitas sosial, akademik, dan hiburan masyarakat Indonesia. Mahasiswa merupakan kelompok yang dekat dengan penggunaan smartphone karena berada pada rentang usia produktif dan banyak menggunakan internet untuk kebutuhan akademik maupun sosial. Pada kelompok mahasiswa, smartphone berfungsi sebagai sarana komunikasi, pencarian informasi perkuliahan, koordinasi kegiatan, hiburan, dan akses media sosial. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa penggunaan smartphone yang intensif pada mahasiswa dapat berkaitan dengan masalah regulasi diri, adiksi smartphone, dan kecenderungan mengabaikan interaksi tatap muka ketika perangkat digunakan secara berlebihan (Bajwa et al. , 2023. BarbedCastrejyn et al. , 2. Smartphone bagi mahasiswa pada akhirnya telah menjadi satu bagian yang tidak Survei yang dilakukan peneliti kepada 93 mahasiswa di Universitas Negeri Makassar telah menunjukkan bahwa 72% mahasiswa merasa tidak lengkap tanpa adanya smartphone. Sebanyak 86% mengaku bahwa smartphone selalu berada dalam jangkauan penggunanya, bahkan 81,7% menjadikan notifikasi pada smartphone sebagai yang pertama diperiksa ketika bangun tidur. Menggunakannya untuk selalu berkomunikasi dengan temannya serta mengetahui informasi atau kegiatan terbaru sebanyak 53%. Penggunaan smartphone dikalangan mahasiswa sebanyak 43% juga dilakukan bahkan saat sedang berinteraksi dengan orang lain dan 57% mengaku selalu memperhatikan smartphone walaupun sedang bersama orang lain. 158 INSIGHT: Indonesian Journal of Social Studies and Humanities Vol. No. 1, 2026 Penggunaan smartphone pada akhirnya tidak hanya memberi dampak positif, tetapi juga menimbulkan dampak negatif pada kehidupan sehari-hari. Salah satu fenomena yang sering dijumpai adalah kecenderungan mengalihkan perhatian dari percakapan tatap muka ke smartphone. Kajian literatur terbaru menunjukkan bahwa perilaku tersebut dapat menurunkan kualitas interaksi, menimbulkan perasaan diabaikan, dan mengganggu kelekatan sosial antarpersonal (Capilla Garrido et al. Maftei & MEirean, 2. Studi pendahuluan yang dilakukan peneliti pada 74 mahasiswa juga menunjukkan bahwa sebanyak 71% responden merasa penggunaan smartphone saat interaksi langsung dapat memunculkan perasaan terabaikan atau tidak dihargai. Dampak lainnya menunjukkan 4% merasa bosan, 9% merasa sakit hati atau kecewa, dan hanya 12% menganggap kondisi tersebut sebagai hal biasa. Melihat dampak yang ditimbulkannya, penggunaan smartphone saat sedang berinteraksi dengan orang lain menjadi hal yang perlu dicermati lebih jauh. Perilaku tersebut dikenal dengan istilah phubbing. Chotpitayasunondh dan Douglas . menjelaskan bahwa phubbing merupakan gabungan dari kata phone dan snubbing, yaitu tindakan mengabaikan orang lain dalam situasi sosial karena lebih memperhatikan smartphone. Dalam interaksi sosial, individu yang melakukan phubbing disebut phubber, sedangkan individu yang menerima perlakuan tersebut disebut phubbee. Definisi ini tetap digunakan karena menjadi salah satu rujukan konseptual awal dalam kajian phubbing. Perilaku phubbing mudah dijumpai dalam kehidupan sehari-hari dan berbagai studi terbaru menunjukkan bahwa perilaku ini berdampak negatif pada kualitas interaksi Capilla Garrido et al. menjelaskan bahwa phubbing berkaitan dengan penggunaan smartphone yang tidak tepat dalam situasi sosial sehingga komunikasi langsung menjadi terganggu. Barbed-Castrejyn et al. juga menemukan bahwa perilaku phubbing cukup banyak muncul pada pelajar dan mahasiswa serta berhubungan dengan penggunaan internet yang bermasalah dan rendahnya harga Dengan demikian, phubbing tidak hanya dipahami sebagai kebiasaan menggunakan smartphone, tetapi juga sebagai perilaku sosial yang dapat mengganggu kualitas relasi interpersonal. Penelitian terbaru juga menunjukkan bahwa phubbing dapat berdampak pada kualitas hubungan. Maftei dan MEirean . menemukan bahwa pengalaman diabaikan karena pasangan atau lawan bicara menggunakan smartphone dapat berkaitan dengan kesepian, tekanan psikologis, dan kepuasan hidup yang lebih Karaman. Yastba, dan Ekisu . juga menunjukkan bahwa phubbing dan adiksi media sosial dapat berperan dalam menurunkan kepuasan hubungan. Temuan tersebut memperkuat asumsi bahwa phubbing tidak hanya terjadi pada situasi santai, tetapi juga berpotensi memengaruhi kualitas hubungan sosial yang lebih dekat. Temuan lain menunjukkan bahwa phubbing dapat menimbulkan perasaan tidak dihargai, terabaikan, dan mengurangi kenyamanan dalam komunikasi langsung. Kajian bibliometrik dan literatur terbaru menegaskan bahwa phubbing semakin banyak diteliti karena berkaitan dengan kecanduan smartphone, nomophobia, kesepian, dan kesejahteraan psikologis (Capilla Garrido et al. , 2021. Cebollero-Salinas et al. , 2. Hubungan Fear of Missing Out (FOMO) terhadap Perilaku Phubbing 159 Oleh karena itu, fenomena phubbing menjadi penting untuk diteliti pada mahasiswa karena kelompok ini memiliki intensitas penggunaan smartphone yang tinggi. Perilaku phubbing dalam kehidupan sehari-hari dapat muncul saat seseorang sedang melakukan percakapan. Phubbing dapat diawali dengan kegelisahan ketika mendapatkan notifikasi, dorongan mengecek media sosial, atau keinginan mengetahui aktivitas terbaru orang lain. Fitur smartphone yang memungkinkan akses informasi secara cepat membuat individu semakin terdorong untuk tetap terhubung. Dalam konteks ini, fear of missing out (FOMO) menjadi salah satu faktor psikologis yang banyak dikaitkan dengan penggunaan smartphone berlebihan dan perilaku phubbing (Butt & Arshad, 2021. Bajwa et al. , 2. Menurut Przybylski. Murayama. DeHaan dan Gladwell . Fear of Missing Out (FOMO) dapat dimaknai sebagai ketakutan, kecemasan dan kehawatiran akan kehilangan momen berharga individu atau kelompok lain dimana orang tersebut tidak hadir didalamnya dan ditandai dengan keinginan untuk selalu terhubung dengan apa yang orang lain lakukan melalui internet atau dunia maya. Secara sederhana FOMO ini dapat dimaknai sebagai rasa takut tidak up to date. Fear of Missing Out (FOMO) juga dipahami sebagai bentuk kecemasan sosial yang berkembang seiring meningkatnya penggunaan media sosial. Studi terbaru menjelaskan bahwa FOMO berkaitan dengan dorongan untuk terus memeriksa media sosial, membandingkan diri dengan aktivitas orang lain, serta kekhawatiran tertinggal pengalaman sosial yang dianggap menyenangkan (Groenestein et al. , 2024. He et al. Individu dengan FOMO yang tinggi cenderung lebih sering memeriksa smartphone untuk memastikan dirinya tetap mengetahui informasi dan aktivitas terbaru dari lingkungan sosialnya. Apabila dorongan untuk tetap terhubung tersebut tidak terpenuhi, individu dapat mengalami rasa cemas, gelisah, atau tidak nyaman. Liu et al. menemukan bahwa FOMO berperan sebagai faktor risiko terhadap adiksi ponsel pada mahasiswa. Servidio et al. juga menjelaskan bahwa FOMO dapat menjadi mediator yang menghubungkan faktor psikologis dengan penggunaan smartphone bermasalah. Pada akhirnya, perasaan takut tertinggal informasi dapat mendorong individu untuk lebih sering mengakses smartphone, termasuk saat sedang melakukan interaksi tatap muka. Alasan tersebut sejalan dengan penelitian terbaru yang menunjukkan bahwa FOMO berkaitan dengan phubbing. Butt dan Arshad . menemukan bahwa FOMO dapat menjembatani hubungan antara kebutuhan psikologis dasar dan phubbing. Bajwa et . juga menunjukkan bahwa adiksi smartphone dan phubbing pada mahasiswa berkaitan dengan FOMO, perbandingan sosial, dan kesepian. Di Indonesia. Wahyuni et al. menemukan bahwa FOMO berpengaruh terhadap perilaku phubbing dengan adiksi smartphone sebagai mediator. Berdasarkan uraian tersebut, peneliti tertarik untuk meneliti hubungan Fear of Missing Out (FOMO) terhadap perilaku phubbing pada mahasiswa Universitas Negeri Makassar. Berangkat dari fenomena perilaku phubing dan dampaknya yang begitu banyak pada kehidupan sehari-hari, maka peneliti tertarik untuk meneliti Hubungan Fear of Missing Out (FOMO) terhadap Perilaku Phubbing pada Mahasiswa di Universitas Negeri Makassar. 160 INSIGHT: Indonesian Journal of Social Studies and Humanities Vol. No. 1, 2026 TINJAUAN PUSTAKA Smartphone dan Perilaku Digital Mahasiswa Smartphone merupakan perangkat komunikasi berbasis internet yang memiliki fitur canggih melebihi telepon genggam konvensional, mencakup akses media sosial, layanan pesan, email, hiburan digital, hingga transaksi daring. Kecanggihan fitur tersebut menjadikan smartphone sebagai perangkat yang paling banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Laporan DataReportal . menunjukkan bahwa koneksi seluler aktif di Indonesia pada awal tahun 2025 mencapai 356 juta, atau setara dengan 125% dari total populasi. Sementara itu. APJII . melaporkan bahwa jumlah pengguna internet Indonesia telah mencapai 221 juta orang dengan tingkat penetrasi sebesar 79,5%. Angka ini menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan pengguna internet terbesar di dunia. Data tersebut menegaskan bahwa smartphone dan internet telah menjadi bagian integral dari kehidupan sosial, akademik, dan hiburan masyarakat Indonesia. Mahasiswa merupakan kelompok yang paling dekat dengan penggunaan smartphone karena berada pada rentang usia produktif dan memiliki kebutuhan tinggi terhadap akses informasi, komunikasi, dan hiburan berbasis digital. Dalam kehidupan kampus, smartphone difungsikan untuk berkomunikasi dengan teman dan dosen, mengakses materi perkuliahan, mengikuti perkuliahan daring, serta menggunakan media sosial. Penggunaan yang intensif ini menjadikan smartphone sebagai perangkat yang melekat dan hampir tidak terpisahkan dari keseharian mahasiswa. Namun di balik manfaatnya, penggunaan smartphone yang berlebihan dapat menimbulkan dampak negatif pada regulasi diri, kesehatan mental, dan kualitas interaksi sosial. Bajwa et al. menemukan bahwa penggunaan smartphone yang intensif pada mahasiswa berkaitan dengan adiksi smartphone, perilaku phubbing, dan penurunan kualitas interaksi tatap muka. Barbed-Castrejyn et al. juga menemukan bahwa perilaku terkait penggunaan smartphone pada pelajar dan mahasiswa lebih berkaitan dengan penggunaan internet bermasalah dan faktor psikologis dibandingkan semata-mata perbedaan jenis kelamin. Fear of Missing Out (FOMO) Pengertian Fear of Missing Out (FOMO) Fear of Missing Out (FOMO) adalah konsep psikologis yang pertama kali dikonseptualisasikan secara ilmiah oleh Przybylski. Murayama. DeHaan, dan Gladwell . Mereka mendefinisikan FOMO sebagai suatu bentuk kekhawatiran yang bersifat persuasif bahwa orang lain mungkin memiliki pengalaman yang lebih memuaskan, yang disertai dengan keinginan untuk tetap terhubung secara terusmenerus dengan apa yang orang lain lakukan melalui internet atau dunia maya. Secara sederhana. FOMO dapat dipahami sebagai rasa takut untuk tidak up to date atau ketinggalan momen penting yang dialami oleh orang lain. Dalam perkembangan kajian psikologi digital. FOMO juga dipahami sebagai bentuk kecemasan sosial yang berkembang seiring meningkatnya penggunaan media sosial. Groenestein et al. menjelaskan bahwa FOMO berkaitan dengan dorongan untuk terus memeriksa media sosial, membandingkan diri dengan aktivitas orang lain, serta kekhawatiran tertinggal Hubungan Fear of Missing Out (FOMO) terhadap Perilaku Phubbing 161 pengalaman sosial yang dianggap menyenangkan. Sementara itu. He et al. menyatakan bahwa FOMO merupakan bentuk kecemasan yang muncul dari kemungkinan tidak hadir dalam peristiwa atau situasi yang dianggap menguntungkan bagi orang lain. Tufan . menambahkan bahwa FOMO tidak hanya berdampak pada perilaku digital individu, tetapi juga pada kerja sama sosial dan kepuasan hidup secara Individu yang mengalami FOMO tinggi cenderung lebih banyak menghabiskan waktu di media sosial, lebih sering memeriksa smartphone-nya, dan menunjukkan kesulitan dalam memisahkan diri dari perangkat digital mereka, bahkan dalam situasi interaksi tatap muka. Aspek-Aspek Fear of Missing Out (FOMO) Przybylski et al. mengidentifikasi dua aspek utama yang membentuk FOMO, yaitu: Kekhawatiran (Worryin. Aspek ini merujuk pada perasaan gelisah dan khawatir yang muncul ketika individu menyadari bahwa orang-orang di sekitarnya sedang menjalani pengalaman atau momen menyenangkan tanpa Kekhawatiran ini mendorong individu untuk terus memantau aktivitas orang lain melalui media sosial agar tidak merasa tersisih atau Keinginan untuk Selalu Terhubung (Need to Stay Connecte. Aspek ini mencerminkan dorongan kuat untuk terus terhubung dengan media sosial dan aktivitas orang lain. Individu dengan FOMO yang tinggi merasa tidak nyaman apabila tidak dapat memantau pembaruan informasi dari lingkungan sosialnya, sehingga selalu terdorong untuk mengakses smartphone kapan saja dan di mana saja. Kedua aspek ini berinteraksi satu sama lain dalam membentuk pola perilaku digital yang kompulsif, di mana kekhawatiran mendorong tindakan koneksi terusmenerus, dan ketidakmampuan untuk terhubung justru memperkuat kekhawatiran itu Faktor-Faktor yang Memengaruhi Fear of Missing Out (FOMO) Przybylski et al. merumuskan FOMO dalam kerangka teori kebutuhan dasar psikologis Self-Determination Theory (SDT) yang dikembangkan oleh Deci dan Ryan. Menurut kerangka ini, individu yang merasa kebutuhan dasarnya tidak terpenuhi, mencakup kebutuhan akan kompetensi, otonomi, dan keterhubungan, lebih rentan mengalami FOMO. Ketika individu merasa tidak puas dengan kehidupan sosialnya atau merasa tidak diterima oleh lingkungannya. FOMO hadir sebagai respons terhadap perasaan kekurangan tersebut. Groenestein et al. melalui tinjauan sistematis menemukan bahwa FOMO dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain: frekuensi penggunaan media sosial, tingkat kesepian, rendahnya harga diri, dan kecenderungan membandingkan diri dengan orang lain. Individu yang sering melakukan perbandingan sosial dan memiliki harga diri yang rendah cenderung lebih mudah mengembangkan FOMO karena mereka lebih sensitif terhadap perbedaan antara kehidupan mereka dan kehidupan orang lain yang terlihat di media sosial. 162 INSIGHT: Indonesian Journal of Social Studies and Humanities Vol. No. 1, 2026 Servidio et al. menambahkan bahwa kejelasan konsep diri . elf-concept clarit. yang rendah turut berperan dalam munculnya FOMO. Individu yang tidak memiliki pemahaman yang jelas tentang identitas dirinya cenderung lebih mudah terpengaruh oleh perbandingan sosial di media sosial, yang pada gilirannya dapat memperburuk FOMO. Liu et al. juga menemukan bahwa depresi dan kesepian berperan sebagai mediator dalam hubungan antara FOMO dan adiksi ponsel pada Dampak Fear of Missing Out (FOMO) FOMO memiliki berbagai dampak yang signifikan terhadap kesehatan mental dan perilaku digital individu. Groenestein et al. menemukan dalam tinjauan sistematis mereka bahwa FOMO berkorelasi negatif dengan kesejahteraan psikologis, termasuk kepuasan hidup yang lebih rendah, peningkatan kecemasan, dan penurunan kualitas tidur. Individu dengan FOMO yang tinggi cenderung menggunakan media sosial secara kompulsif sebagai upaya untuk mengurangi perasaan tertinggal, namun paradoksnya hal tersebut justru dapat memperburuk kondisi psikologis mereka. Liu et . menemukan bahwa FOMO berperan sebagai faktor risiko terhadap adiksi ponsel pada mahasiswa, dengan depresi dan kesepian sebagai mediator. Servidio et . juga menjelaskan bahwa FOMO dapat menjadi mediator yang menghubungkan faktor psikologis lainnya dengan penggunaan smartphone yang Tufan . menambahkan bahwa FOMO dapat memengaruhi kerja sama sosial dan kepuasan hidup mahasiswa secara negatif. Dalam konteks interaksi sosial. FOMO mendorong individu untuk lebih sering mengakses smartphone bahkan saat sedang berinteraksi tatap muka. Perasaan takut tertinggal informasi membuat individu merasa harus selalu memantau media sosial, yang pada akhirnya dapat mendorong munculnya perilaku phubbing (Butt & Arshad, 2021. Bajwa et al. , 2023. Wahyuni et al. , 2. Phubbing Pengertian Phubbing Phubbing merupakan istilah yang lahir dari penggabungan kata phone . dan snubbing . Chotpitayasunondh dan Douglas . mendefinisikan phubbing sebagai tindakan mengabaikan lawan bicara dalam situasi sosial karena lebih memperhatikan smartphone. Dalam interaksi sosial, individu yang melakukan phubbing disebut phubber, sedangkan individu yang menjadi korban dari perilaku tersebut disebut phubbee. Capilla Garrido et al. menjelaskan bahwa phubbing berkaitan dengan penggunaan smartphone yang tidak tepat dalam situasi sosial sehingga komunikasi langsung menjadi terganggu. Perilaku ini dapat termanifestasikan dalam berbagai bentuk, seperti melirik smartphone saat berbicara dengan orang lain, memutus percakapan untuk merespons pesan atau panggilan, membuka media sosial di tengah percakapan, atau tetap menggunakan smartphone meskipun sedang berada dalam situasi interaksi tatap muka. Cebollero-Salinas et al. melalui analisis bibliometrik menegaskan bahwa kajian mengenai phubbing terus berkembang secara signifikan dalam beberapa tahun Hubungan Fear of Missing Out (FOMO) terhadap Perilaku Phubbing 163 terakhir, mencerminkan besarnya perhatian peneliti terhadap dampak perilaku ini pada kehidupan sosial dan kesejahteraan psikologis individu. Phubbing tidak lagi dipandang sekadar kebiasaan menggunakan smartphone, melainkan sebagai perilaku sosial yang kompleks dengan berbagai determinan psikologis dan konsekuensi Aspek-Aspek Phubbing Karadag. Tosuntas. Erzen. Duru. Bostan. Sahin. Culha, dan Babadag . mengidentifikasi dua aspek utama yang membentuk perilaku phubbing, yaitu: Obsesi terhadap Telepon (Phone Obsessio. Aspek ini merujuk pada kecenderungan individu untuk menjadikan smartphone sebagai prioritas utama dalam berbagai situasi, termasuk saat berinteraksi dengan orang lain. Individu dengan obsesi tinggi terhadap telepon cenderung selalu mengecek perangkatnya, menjadikannya benda pertama yang dicari saat bangun tidur, dan merasa tidak nyaman apabila tidak dapat mengakses smartphone-nya. Gangguan dalam Komunikasi (Communication Disturbanc. Aspek ini mencerminkan dampak langsung perilaku phubbing terhadap kualitas komunikasi interpersonal. Ketika individu menggunakan smartphone saat berinteraksi, perhatian mereka terbagi sehingga muncul gangguan dalam alur percakapan, penurunan kualitas mendengarkan secara aktif, dan berkurangnya kehadiran emosional dalam interaksi tersebut. Kedua aspek ini saling berkaitan dan secara bersama-sama menggambarkan bagaimana ketergantungan pada smartphone tidak hanya merupakan persoalan individual, tetapi juga berimplikasi langsung pada kualitas relasi interpersonal. Faktor-Faktor yang Memengaruhi Phubbing Karadag et al. menemukan dalam penelitian seminal mereka bahwa phubbing merupakan akumulasi dari berbagai bentuk kecanduan virtual, mencakup adiksi internet, adiksi media sosial, adiksi game, dan nomophobia . etakutan tidak memiliki akses ke telepo. Artinya, individu yang memiliki kecenderungan adiksi terhadap berbagai layanan digital lebih berisiko menampilkan perilaku phubbing. Bajwa et al. menemukan bahwa adiksi smartphone dan phubbing pada mahasiswa berkaitan erat dengan FOMO, perbandingan sosial, dan kesepian. BarbedCastrejyn et al. juga menemukan bahwa phubbing cukup banyak muncul pada pelajar dan mahasiswa serta berhubungan dengan penggunaan internet bermasalah dan rendahnya harga diri. Karaman et al. menambahkan bahwa phubbing dan adiksi media sosial berperan dalam menurunkan kepuasan hubungan interpersonal. Butt dan Arshad . menemukan bahwa pemenuhan kebutuhan psikologis dasar yang tidak terpenuhiAikhususnya kebutuhan akan keterhubunganAiberkaitan dengan munculnya FOMO yang kemudian menjadi jembatan menuju perilaku phubbing. Wahyuni et al. dalam konteks Indonesia menemukan bahwa adiksi smartphone berperan sebagai mediator dalam hubungan antara FOMO dan perilaku phubbing. Dampak Phubbing Perilaku phubbing menimbulkan berbagai dampak negatif, baik pada individu yang melakukannya maupun pada pihak yang menjadi korban. Maftei dan MEirean . menemukan bahwa pengalaman diabaikan oleh lawan bicara karena 164 INSIGHT: Indonesian Journal of Social Studies and Humanities Vol. No. 1, 2026 smartphone berkaitan dengan peningkatan kesepian, tekanan psikologis, dan kepuasan hidup yang lebih rendah. Perasaan terabaikan yang muncul akibat phubbing dapat mengganggu kelekatan sosial dan menurunkan kualitas hubungan Karaman et al. menunjukkan bahwa phubbing dapat menurunkan kepuasan dalam hubungan interpersonal, terutama ketika dikombinasikan dengan adiksi media sosial. Cebollero-Salinas et al. juga menjelaskan bahwa phubbing memiliki kaitan dengan nomophobia, kesepian, dan kesejahteraan psikologis yang lebih rendah. Capilla Garrido et al. menegaskan bahwa phubbing mengganggu komunikasi langsung dan menurunkan kualitas interaksi sosial, yang dalam jangka panjang dapat melemahkan jaringan dukungan sosial individu. Tufan . menemukan bahwa phubbing berdampak negatif pada kerja sama sosial dan kepuasan hidup mahasiswa. Individu yang sering menjadi pelaku maupun korban phubbing cenderung melaporkan kepuasan yang lebih rendah terhadap kualitas hubungan sosial mereka. Dengan demikian, phubbing bukan sekadar persoalan etiket digital, melainkan sebuah fenomena psikososial yang memiliki konsekuensi nyata terhadap kesejahteraan individu dan kualitas relasi interpersonal. Hubungan Fear of Missing Out (FOMO) dengan Perilaku Phubbing Secara teoritis, hubungan antara FOMO dan phubbing dapat dijelaskan melalui mekanisme psikologis yang saling berkaitan. FOMO, sebagai bentuk kecemasan sosial yang mendorong individu untuk selalu terhubung dengan aktivitas orang lain (Przybylski et al. , 2. , secara logis berujung pada peningkatan intensitas penggunaan smartphone. Ketika dorongan untuk tetap terhubung ini terjadi di tengah situasi interaksi tatap muka, perilaku yang muncul adalah phubbing. Butt dan Arshad . secara empiris membuktikan bahwa FOMO dapat berperan sebagai mediator dalam hubungan antara ketidakterpenuhinya kebutuhan psikologis dasar dan perilaku Individu yang merasa kebutuhan akan keterhubungannya tidak terpenuhi dalam interaksi langsung cenderung beralih ke media sosial melalui smartphone-nya, yang kemudian termanifestasikan sebagai perilaku phubbing. Bajwa et al. memperluas pemahaman ini dengan menemukan bahwa FOMO, perbandingan sosial, dan kesepian secara bersama-sama berperan dalam menjelaskan hubungan antara adiksi smartphone dan perilaku phubbing pada Dalam model yang mereka kembangkan. FOMO berperan sebagai variabel yang memediasi hubungan antara faktor-faktor psikologis tersebut dengan intensitas Wahyuni et al. dalam konteks Indonesia menemukan pola serupa, di mana FOMO memengaruhi perilaku phubbing baik secara langsung maupun melalui adiksi smartphone sebagai mediator. Groenestein et al. dan He et al. menjelaskan bahwa individu dengan FOMO yang tinggi cenderung terdorong untuk terus memeriksa media sosial dan mengikuti aktivitas orang lain secara real-time. Dorongan ini tidak surut meskipun individu sedang berada dalam situasi interaksi sosial langsung, sehingga mereka tetap mengakses smartphone-nya dan mengabaikan lawan bicara. Przybylski et al. sendiri telah menemukan bahwa FOMO merupakan kekuatan pendorong utama di Hubungan Fear of Missing Out (FOMO) terhadap Perilaku Phubbing 165 balik penggunaan internet dan media sosial, yang secara langsung berimplikasi pada meningkatnya frekuensi phubbing. Tufan . memperkuat gambaran ini dengan menemukan bahwa adiksi smartphone, phubbing, dan FOMO secara bersama-sama memengaruhi kerja sama sosial dan kepuasan hidup mahasiswa. Hal ini menunjukkan bahwa ketiga konstruk tersebut saling berkaitan dalam satu ekosistem perilaku digital yang kompleks, di mana FOMO berperan sebagai salah satu faktor pendorong yang signifikan terhadap perilaku phubbing. Berdasarkan kajian teori dan penelitian terdahulu yang telah diuraikan, dapat disusun kerangka berpikir sebagai berikut. Mahasiswa sebagai pengguna smartphone yang intensif memiliki eksposur tinggi terhadap media sosial dan konten digital. Kondisi ini menciptakan situasi di mana individu secara terus-menerus dihadapkan pada informasi mengenai aktivitas, pengalaman, dan momen sosial yang dilalui oleh orang lain. Ketika individu merasa bahwa pengalaman orang lain lebih menarik atau memuaskan, dan ia tidak dapat hadir di dalamnya, muncul rasa khawatir dan cemas yang disebut sebagai FOMO. Rasa khawatir ini mendorong individu untuk selalu ingin terhubung dengan orang lain melalui media sosial dan smartphone-nya. Dorongan untuk selalu terhubung tersebut tidak berhenti meskipun individu sedang berada dalam situasi interaksi tatap muka. Akibatnya, individu dengan FOMO yang tinggi cenderung tetap mengakses smartphone-nya saat berbicara dengan orang lainAibaik dengan melirik layar, memeriksa notifikasi, membuka media sosial, maupun merespons pesanAiyang merupakan wujud nyata dari perilaku phubbing. Dengan demikian, dapat diasumsikan bahwa semakin tinggi tingkat FOMO yang dialami oleh mahasiswa, semakin tinggi pula kecenderungannya untuk menampilkan perilaku phubbing. METODE PENELITIAN Variabel bebas dalam penelitian ini adalah Fear of Missing Out (FOMO). FOMO adalah perasan takut, khawatir dan cemas karena anggapan bahwa kejadian, pengalaman atau pembicaraan yang dialami oleh orang lain lebih memuaskan dan tidak dapat hadir dialamnya sehingga terdorong untuk selalu terkoneksi melalui FOMO diukur menggunakan skala Fear of Missing Out Scale (FOMOAo. yang diadaptasi dari Przybylski et al. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah phubbing. Phubbing adalah perilaku memainkan smartphone saat sedang melakukan percakapan secara langsung dengan orang lain. Perilaku ini dapat berupa melirik smartphone, menerima panggilan, mengirim pesan, melakukan postingan atau hanya sekedar mengabaikan keberadaan lawan bicaranya. Selain itu perilaku Phubbing juga ditunjukkan dengan ketidak mampuannya untuk berada jauh dari smartphone miliknya bahkan saat sedang tidak melakukan percakapan. Phubbing diukur menggunakan skala Phubbing yang dibuat berdasarkan aspek dari Karadag. Tosuntas. Erzen. Duru. Bostan. Sahin. Culha & Babadag . 166 INSIGHT: Indonesian Journal of Social Studies and Humanities Vol. No. 1, 2026 Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa Universitas Negeri Makassar yang datanya dirilis BAAK pada tahun akademik 2018-2019 dengan rentang usia mulai dari 18-25 tahun. Jumlah total populasi sebanyak 24,467 orang. Berdasarkan tabel krejcie, kemudian diambil sebanyak 379 yang kemudian dibulatkan menjadi 380. Selanjutnya dibagi kedalam 9 fakultas secara proporsional. Pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan probability sampling. Pengujian pada penelitian ini menggunakan uji statistik korelasi rank spearman yang betujuan untuk melihat hubungan antara variable Fear of Missing Out dan Phubbing. HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini terdiri dari 380 orang mahasiswa yang terdiri dari 190 . %) orang berjenis kelamin laki-laki dan 190 . %) orang berjenis kelamin perempuan secara Subjek dadalm penelitian ini terdiri dari 9 fakultas di Universitas Negeri Makassar, yaitu Fakultas Psikologi 14 orang yang terdiri dari 7 Laki-laki dan 7 Perempuan. Fakultas Ilmu Sosial 43 orang yang terdiri dari 21 laki-laki dan 22 Fakultas Ekonomi berjumlah 41 orang yang terdiri dari 21 laki-laki dan 20 perempuan. Fakultas Keolahragaan berjumlah 50 orang yang terdiri dari 25 laki-laki dan 25 perempuan. Fakultas ilmu Pendidikan berjumlah 60 orang yang terdiri dari 30 laki-laki dan 30 perempuan. Fakultas Bahasa dan Sastra berjumlah 38 orang yang terdiri dari 19 laki-laki dan 19 perempuan. Fakultas Matematikan dan Ilmu Pengetahuan Alam berjumlah 54 yang terdiri dari 27 laki-laki dan 27 perempuan. Fakultas Teknik berjumlah 58 orang yang terdiri dari 29 laki-laki dan 29 perempuan. Fakultas Seni dan Desain berjumlah 22 orang yang terdiri dari 11 laki-laki dan 11 Subjek dalam penelitian ini melibatkan 190 laki-laki dan 190 perempuan secara berimbang. Berdasarkan usia, penelitian ini terdiri dari subjek berusia 18 tahun 11 . %)orang, 19 tahun 22 . %) orang, berusia 20 tahun 65 . %) orang, 21 tahun 101 . %) orang , 22 tahun sebanyak 98 . %) orang, 23 tahun sebanyak 49 . %) orang, usia 24 tahun sebanyak 24 . %) orang dan usia 25 tahun sebanyak 10 . %) orang. Berdasarkan hasil analisis deskriptif pada skala fear of missing out menunjukkan bahwa terdapat 52 . %) orang memiliki FOMO yang tinggi, sebanyak 270 . %) pada kategori sedang, dan terdapat sebanyak 58 . %) pada kategori rendah. Data ini menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa Universitas Negeri Makassar memilik tingkat FOMO yang Berdasarkan hasil analisis deskriptif pada skala phubbing menunjukkan bahwa terdapat 51 . %) orang subjek yang memiliki tingkat Phubbing yang tinggi, 269 . %) orang subjek memiliki tingkat phubbing sedang, dan sebanyak 60 . %) orang subjek memiliki tingkat phubbing yang rendah. Hasil tersebut memperlihatkan bahwa perilaku Phubbing pada sebagian besar mahasiswa UNM berada pada kategori tingkat sedang. Perilaku phubbing pada mahasiswa UNM dalam sehari, sebanyak 1 kali . , 2-3 Kali . , 3-5 . dan lebih dari 5 kali . dalam sehari. Secara umum dapat dilihat bahwa mahasiswa UNM lebih banyak melakukan Phubbing dalam sehari sebanyak 23 kali. Hubungan Fear of Missing Out (FOMO) terhadap Perilaku Phubbing 167 Gambaran Perilaku Fear of Missing Out Kategori sedang yang didapatkan dimungkinkan dapat terjadi karena subjek dalam penelitian ini memiliki keinginan untuk selalu terhubung dengan individu lainnya namun keinginan tersebut masih mampu untuk dikontrol. Berdasarkan interpretasi skala Fear of Missing Out, aspek Kehawatiran merupakan respon paling menonjol yang ditampakkan oleh subjek dibandingkan aspek lainnya. Rata-rata subjek melaporkan memiliki perasaan khawatir yang muncul saat mengetahui orang disekitarnya sedang bersenang-senang tanpa dirinya sehingga selalu terdorong untuk selalu memeriksa apa yang orang orang disekitarnya sedang lakukan meskipun dalam keadaan libur. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa individu dengan FOMO tinggi cenderung terdorong untuk memeriksa media sosial dan mengikuti aktivitas teman-temannya secara terus-menerus (Groenestein et al. , 2024. He et al. , 2. Hal tersebut sejalan dengan hasil penelitian ini, yaitu rata-rata subjek mengecek pembaruan aktivitas teman-temannya melalui media sosial. Data digital terbaru juga menunjukkan bahwa media sosial masih menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia (DataReportal, 2. Pengujian jenis kelamin terhadap perilaku FOMO pada mahasiswa Universitas Negeri Makassar juga menemukan hasil bahwa jenis kelamin tidak memberi pengaruh secara signifikan. Baik laki-laki maupun perempuan menunjukkan respon yang dominan terhadap perasaan terganggu ketika melewatkan rencana untuk berkumpul. Meskipun antara laki-laki dan perempuan tidak memiliki perbedaan dalam hal tingkat FOMO, namun laki-laki dan perempuan menyalurkan kecemasan yang dirasakan secara berbeda. Hasil yang ditemukan oleh peneliti menunjukkan bahwa perempuan lebih banyak mengakses Instagram dan Twitter sementara laki-laki lebih banyak mengakses whatsapp dan Line. Perbedaan jenis kelamin dalam penggunaan media sosial tidak selalu menunjukkan pola yang konsisten. Pada konteks penelitian ini, laki-laki dan perempuan sama-sama menunjukkan kecenderungan FOMO pada kategori sedang. Hal tersebut sejalan dengan temuan Barbed-Castrejyn et al. yang menunjukkan bahwa perilaku terkait penggunaan smartphone dan phubbing pada pelajar serta mahasiswa lebih berkaitan dengan penggunaan internet bermasalah dan faktor psikologis dibandingkan semata-mata perbedaan jenis kelamin. Gambaran Perilaku Phubbing Hasil analisis deskriptif pada Phubbing meliliki nilai Mean 33. 26 dengan standard deviasi sebesar 8. Subjek dalam penelitian ini berjumlah 380 yang terdiri dari 190 orang laki-laki dan 190 orang perempuan dengan perolehan nilai minum 5 dan nilai Subjek dalam penelitian ini yang memiliki phubbing yang tinggi berjumlah 51 . %) orang, 269 . %) orang subjek memiliki tingkat phubbing sedang, dan sebanyak 60 . %) orang subjek memiliki tingkat phubbing yang rendah. Hasil analisis membuktikan bahwa untuk variabel phubbing, subjek pada umumnya berada pada kategori sedang. Kategorisasi sedang yang ditunjukkan oleh subjek mengindikasikan bahwa perilaku phubbing yang ditampakkan adalah perilaku yang masih mampu untuk dikontrol, hal itu dibuktikan dengan rata-rata perilaku phubbing yang dilakukan dalam sehari 168 INSIGHT: Indonesian Journal of Social Studies and Humanities Vol. No. 1, 2026 sebanyak 2-3 kali. Berdasarkan interpretasi skala Phubbing, aspek phone obsession adalah respon paling menonjol yang ditampakkan oleh subjek. Subjek dalam penelitian ini rata-rata mengaku menjadikan smartphone sebagai yang pertama dicari saat bagun dari tidur. Secara sengaja menggunakan smartphone saat merasa jenuh dengan topik yang sedang dibicarakan, mengecek smartphone saat sedang berkuliah termasuk saat sedang berkomunikasi dengan teman-teman. Capilla Garrido et al. menjelaskan bahwa phubbing dapat berbentuk tindakan mengabaikan lawan bicara karena individu lebih memperhatikan smartphone. Perilaku ini dapat muncul dalam bentuk melirik smartphone saat berbicara, memutus percakapan untuk merespons pesan atau panggilan, membuka media sosial, atau tetap menggunakan smartphone ketika sedang berada dalam interaksi tatap muka. Bentuk perilaku tersebut sejalan dengan respons subjek dalam penelitian ini yang menunjukkan aspek phone obsession sebagai aspek paling menonjol. Pengujian jenis kelamin terhadap perilaku phubbing juga menunjukkan hasil bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara laki-laki maupun perempuan dalam hal melakukan phubbing. Kondisi ini dimungkinkan karena saat ini Smartphone menjadi satu bagian yang tidak terpisahkan bagi mahasiswa. Survei yang dilakukan peneliti kepada 93 mahasiswa telah menunjukkan bahwa 72% mahasiswa merasa tidak lengkap tanpa adanya smartphone. Sebanyak 86% mengaku bahwa smartphone selalu berada dalam jangkauan penggunanya, bahkan 81,7% menjadikan notifikasi pada smartphone sebagai yang pertama diperiksa ketika bangun tidur. Peneliti juga menemukan bahwa media sosial adalah hal yang paling banyak digunakan pada saat individu melakukan phubbing. Media sosial seperti Whatsapp . dan Instagram . merupakan media yang paling sering dimainkan oleh para pelaku Phubbing. Hubungan Fear of Missing Out dan Phubbing Hasil uji hipotesis dengan menggunakan teknik spearman menunjukkan bahwa nilai koefisien korelasi antara Fear of Missing Out (FOMO) dan Phubbing sebesar 0,293 . = 0,. dengan nilai signifikansi yaitu 0,000 . < 0,. Nilai koefisien korelasi dan dan nilai signifikansi tersebut menunjukkan bahwa ada hubungan yang sangat signifikan dan positif antara Fear of Missing Out (FOMO) dengan perilaku Phubbing pada mahasiswa Universitas Negeri Makassar. Hasil tersebut menjelaskan bahwa semakin tinggi tingkat FOMO yang dialami oleh mahasiswa maka semakin tinggi pula kecenderungannya untuk melakukan perilaku Phubbing. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian terbaru yang menunjukkan bahwa FOMO berhubungan dengan penggunaan smartphone bermasalah dan phubbing. Bajwa et al. menemukan bahwa FOMO, perbandingan sosial, dan kesepian berperan dalam hubungan antara adiksi smartphone dan perilaku phubbing pada mahasiswa. Wahyuni et al. juga menemukan bahwa FOMO dapat memengaruhi perilaku phubbing melalui adiksi smartphone sebagai mediator. FOMO dapat dipahami sebagai dorongan untuk selalu mengetahui aktivitas orang lain melalui media sosial, terutama ketika individu merasa khawatir tertinggal informasi atau pengalaman sosial yang dianggap penting (Przybylski et al. , 2013. Groenestein et , 2. Hubungan Fear of Missing Out (FOMO) terhadap Perilaku Phubbing 169 Kondisi ini dapat dimungkinkan karena dunia digital saat ini menjadi bagian dari kehidupan sosial individu. Ketika individu merasa tidak terhubung dengan media sosial atau tidak mengetahui aktivitas teman-temannya, muncul perasaan cemas dan takut He et al. menjelaskan bahwa FOMO merupakan bentuk kecemasan yang muncul dari kemungkinan tidak hadir dalam peristiwa atau situasi yang dianggap menguntungkan bagi orang lain. Perasaan tersebut dapat mendorong individu untuk lebih sering mengakses smartphone. Hasil uji pada penelitian ini juga menunjukkan perasaan khawatir memiliki kontribusi dalam memprediksi munculnya perilaku phubbing sebesar 0,300. Kehawatiran yang merupakan salah satu aspek dari FOMO termanifestasikan dengan munculnya perasaan khawatir saat mengetahui orang-orang disekitarnya sedang bersenang-senang tanpa dirinya sehingga terdorong untuk selalu mengetahui apa saja aktivitas terbaru orang-orang disekitarnya. Smartphone memungkinkan individu untuk selalu terhubung dengan individu lainnya tanpa mengenal ruang dan waktu. Orang-orang dengan FOMO yang tinggi akan terdorong untuk lebih sering mengecek media sosial pada smartphonenya agar tidak tertinggal informasi atau aktivitas terbaru dari teman termasuk rasa khawatir yang dialami. Pada akhirnya dari perasaan khawatir tersebut membuat orang-orang dengan FOMO yang tinggi akan cenderung lebih sering untuk mengakses smartphone termasuk saat sedang melakukan interaksi tatap Media sosial seperti whatsupp dan instagram ditemukan sebagai aplikasi yang paling banyak dimainkan oleh para pelaku phubbing. Hal tersebut sejalan dengan fakta yang ditemuakan oleh Przybylski. Murayama. DeHaan dan Gladwell . menemukan bahwa Fear of Missing Out (FOMO) merupakan kekuatan pendorong dibalik penggunaan internet dan media sosial. Hasil serupa juga ditemukan oleh Butt dan Arshad . Bajwa et al. , serta Wahyuni et al. yang menunjukkan bahwa FOMO memiliki keterkaitan dengan phubbing, baik secara langsung maupun melalui penggunaan smartphone bermasalah. Hasil penelitian ini menggambarkan pola yang sama, yaitu sebagian besar subjek yang melakukan phubbing mengakses media sosial seperti WhatsApp dan Instagram. Dengan demikian. FOMO dapat dipahami sebagai salah satu faktor psikologis yang mendorong mahasiswa tetap terhubung dengan smartphone meskipun sedang berada dalam interaksi tatap muka. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa besar kontribusi Fear of Missing Out terhadap perilaku phubbing adalah sebesar 15,4% (R2 = 0,. sedangkan sisanya disebabkan oleh variabel lain yang tidak dilibatkan dalam penelitian ini. Berdasarkan data tersebut. FOMO merupakan salah satu faktor yang menentukan perilaku phubbing pada mahasiswa Universitas Negeri Makassar. Selain uji hipotesis korelasi, peneliti juga menemukan dua temuan tambahan lainnya, sebagai berikut Tidak terdapat perbedaan Fear of Missing Out (FOMO) yang signifikan antara mahasiswa laki-laki dan perempuan pada Universitas Negeri Makassar. Hasil ini berbeda dengan temuan awal Przybylski et al. yang menyatakan bahwa lakilaki memiliki FOMO lebih tinggi. Namun, temuan penelitian ini dapat dipahami 170 INSIGHT: Indonesian Journal of Social Studies and Humanities Vol. No. 1, 2026 melalui konteks penggunaan digital saat ini, karena akses internet dan media sosial telah menjadi bagian umum dari kehidupan mahasiswa laki-laki maupun Data digital Indonesia juga menunjukkan tingginya penggunaan internet dan media sosial secara luas pada kelompok usia muda (APJII, 2024. DataReportal, 2. Tidak terdapat perbedaan perilaku phubbing yang signifikan antara mahasiswa lakilaki dan perempuan. Hasil ini berbeda dengan beberapa temuan awal mengenai phubbing, termasuk Karadag et al. , tetapi sejalan dengan pemahaman terbaru bahwa phubbing lebih dipengaruhi oleh intensitas penggunaan smartphone, regulasi diri, kesepian, dan penggunaan internet bermasalah daripada semata-mata jenis kelamin (Bajwa et al. , 2023. Barbed-Castrejyn et al. , 2. Kondisi ini dapat dimungkinkan karena smartphone saat ini telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan mahasiswa. KESIMPULAN Hasil uji hipotesis menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang sangat signifikan dan positif antara Fear of Missing Out (FOMO) dan perilaku Phubbing pada mahasiswa Universitas Negeri Makassar. Semakin tinggi tingkat FOMO maka semakin tinggi juga tingkat perilaku Phubbing pada mahasiswa. Penelitian ini juga menemukan hasil tambahan bahwa tidak terdapat perbedaan FOMO dan perilaku Phubbing pada mahasiswa laki-laki dan perempuan di Universitas Negeri Makassar. Hasil uji deskriptif juga menemukan hasil bahwa, media sosial seperti whatsapp dan instagram menjadi media yang paling banyak diakses oleh orang-orang saat sedang melakukan Phubbing. Hasil lainnya juga menunjukkan bahwa rata-rata Phubbing dilakukan sebanyak 2-3 kali dalam sehari. Hasil uji deskriptif juga menemukan hasil bahwa, media sosial seperti whatsapp dan instagram menjadi media yang paling banyak diakses oleh orang-orang saat sedang melakukan Phubbing. Hasil lainnya juga menunjukkan bahwa rata-rata Phubbing dilakukan sebanyak 2-3 kali dalam sehari. DAFTAR PUSTAKA