Journal of Learning and Educational Technology Vol. 1 No. 1 September . | 44-51 e-ISSN: x-x p-ISSN: x-x DOI: x Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Jigsaw Pada Mata Pelajaran IPS Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas IV SD Negeri Kuripan Luk Luk Atul Masfufah1. Ichwan2 Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Universitas Terbuka. Indonesia Riwayat Artikel: Diterima : 2 Agustus 2024 Disetujui : 2 September 2024 Diterbitkan : 4 September 2024 Korespondensi: Nama : Luk Luk Atul Masfufah Afiliasi : Universitas Terbuka Email : luklukatulmasfufah@gmail. Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) melalui penerapan model pembelajaran kooperatif Jigsaw. Metode yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilaksanakan dalam dua siklus, masing-masing terdiri atas tiga pertemuan. Setiap siklus melibatkan tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, pengamatan, evaluasi, dan refleksi. Data dikumpulkan melalui tes hasil belajar siswa dan observasi aktivitas selama pembelajaran berlangsung. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar siswa di setiap siklus. Pendekatan Jigsaw berhasil meningkatkan pemahaman materi, keterlibatan siswa dalam pembelajaran, dan persentase ketuntasan klasikal. Kendala seperti kurangnya partisipasi aktif siswa dan gangguan selama proses pembelajaran berhasil diatasi melalui refleksi dan perbaikan pada siklus berikutnya. Berdasarkan hasil ini, model pembelajaran Jigsaw direkomendasikan untuk diterapkan sebagai alternatif dalam meningkatkan hasil belajar dan keterlibatan siswa secara aktif pada pembelajaran IPS. Kata Kunci: Hasil Belajar. Jigsaw. Pembelajaran Kooperatif. Penelitian Tindakan Kelas Abstract: This study aims to improve students' learning outcomes in Social Studies (IPS) through the implementation of the cooperative learning model Jigsaw. The research employed Classroom Action Research (PTK) conducted in two cycles, each consisting of three meetings. Each cycle included the stages of planning, action implementation, observation, evaluation, and reflection. Data were collected through student learning outcome tests and observations of classroom activities. The findings revealed an improvement in students' learning outcomes across cycles. The Jigsaw approach effectively enhanced students' comprehension of the material, engagement in learning activities, and the percentage of students achieving the minimum mastery criteria. Challenges such as limited active participation and disruptions during group activities were addressed through reflections and adjustments in subsequent cycles. Based on these results, the Jigsaw learning model is recommended as an alternative to enhance student learning outcomes and active engagement in Social Studies. Keywords: Classroom Action Research. Cooperative Learning. Jigsaw. Learning Outcomes PENDAHULUAN Pendidikan memiliki peran sentral dalam mendorong pembangunan bangsa dan negara. Seperti yang dijelaskan oleh Ningsih et al. , kecerdasan dan kompetensi sumber daya manusia merupakan elemen penting untuk mendukung kemajuan nasional melalui peningkatan kualitas pendidikan, terutama bagi peserta didik. Pendidikan bertanggung jawab dalam menjaga, mengembangkan, dan memperkuat kemampuan individu serta mendukung potensi prestasi peserta didik. Proses pendidikan dilakukan melalui aktivitas belajar-mengajar, yang melibatkan interaksi antara pendidik dengan peserta didik, antarpeserta didik, serta peserta didik dengan sumber belajar dalam lingkungan pendidikan (Jahantab, 2. Interaksi ini dirancang untuk membangun pengetahuan siswa secara aktif dan mandiri, memungkinkan mereka untuk Masfufah & Ichwan - Penerapan Model A JLET | Vol. 1 Ae No. September 2024 | Hal 44-51 mengembangkan keterampilan yang sesuai dalam aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik, yang penting untuk pembangunan bangsa yang berkelanjutan (Upadhyay, 2. Salah satu mata pelajaran yang diajarkan di sekolah dasar adalah IPS. Sebagai ilmu terapan. IPS dirancang untuk memberikan pemahaman kepada peserta didik tentang kehidupan sosial dan nilai-nilai yang relevan dalam kehidupan masyarakat (Ningsih et al. , 2. Tujuan dari pembelajaran IPS adalah untuk membekali peserta didik dengan keterampilan-keterampilan penting yang memungkinkan mereka berkembang sesuai dengan minat, bakat, dan lingkungan Hal ini membantu peserta didik membangun kepekaan sosial yang diperlukan untuk memahami dan berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sekitarnya (Upadhyay, 2. Dengan pendekatan ini, pembelajaran IPS tidak hanya meningkatkan kemampuan akademik, tetapi juga mendorong peserta didik menjadi individu yang responsif terhadap kebutuhan masyarakat di era modern (Jahantab, 2. Dalam proses pembelajaran IPS, siswa kelas IV SD N Kuripan menghadapi sejumlah kendala berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada 8 Mei 2023. Salah satu permasalahan utama adalah rendahnya minat dan motivasi siswa, yang disebabkan oleh persepsi bahwa IPS hanya merupakan mata pelajaran hafalan sehingga dianggap membosankan (Ningsih et al. , 2. Selain itu, siswa mengalami kesulitan dalam memahami konsep pembelajaran karena metode pembelajaran yang diterapkan berpusat pada guru, membuat siswa menjadi pasif selama kegiatan belajar berlangsung (Upadhyay, 2. Model pembelajaran yang diterapkan, yaitu ceramah dan latihan, juga kurang mampu meningkatkan antusiasme siswa dalam mengikuti pelajaran, yang pada akhirnya berdampak negatif terhadap hasil belajar mereka karena proses pembelajaran tidak berjalan secara efektif maupun efisien (Jahantab, 2. Hasil belajar siswa dipengaruhi oleh dua kategori utama faktor, yaitu internal dan eksternal. Faktor internal mencakup elemen-elemen dalam diri siswa yang memengaruhi proses belajar mereka, seperti kesehatan, kecerdasan, kesiapan, minat, bakat, dan motivasi belajar (Sobandi & Nurlatifah, 2. Sementara itu, faktor eksternal meliputi aspek di luar diri siswa, seperti metode penyampaian materi pembelajaran, kepribadian guru, suasana pembelajaran, dan dukungan dari lingkungan keluarga maupun masyarakat (Li & Xue, 2. Kombinasi yang baik antara faktor internal dan eksternal sangat diperlukan untuk menciptakan hasil belajar yang optimal bagi siswa (Supriyatin et al. , 2. Peningkatan dalam pembelajaran diperlukan untuk mengevaluasi sejauh mana hasil belajar siswa dapat diperbaiki. Salah satu pendekatan yang efektif untuk meningkatkan hasil belajar adalah dengan memilih model pembelajaran yang sesuai selama proses pembelajaran berlangsung (Metekohy et al. , 2. Dalam penelitian ini, model pembelajaran kooperatif Jigsaw dipilih sebagai metode, karena model ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas pembelajaran tanpa menimbulkan rasa bosan atau kejenuhan pada siswa (Kurniawan et al. Dengan penerapan yang tepat, model ini memiliki potensi besar untuk menciptakan suasana belajar yang interaktif dan mendukung pencapaian tujuan pendidikan secara efektif (Arigiyati et al. , 2. Dalam model pembelajaran kooperatif, guru berperan sebagai fasilitator yang membantu siswa menghubungkan pemahaman mereka dengan konsep yang lebih mendalam dan Guru juga berfungsi untuk memotivasi siswa dalam proses pembelajaran, memberikan bimbingan, serta mengarahkan mereka untuk mengembangkan pengetahuan secara mandiri (Kurniawan et al. , 2. Selain itu, guru memainkan peran penting dalam membina suasana pembelajaran yang kondusif, sehingga siswa dapat aktif berpartisipasi dalam proses membangun pengetahuan di dalam pikiran mereka (Arigiyati et al. , 2. Dengan pendekatan ini, model pembelajaran kooperatif mampu mendorong keterlibatan siswa secara lebih mendalam dan meningkatkan efektivitas pembelajaran (Li & Xue, 2. Penerapan model pembelajaran kooperatif Jigsaw mendorong partisipasi aktif siswa dalam kelompok kecil, di mana setiap siswa dalam kelompok diberikan materi atau tugas yang berbeda Masfufah & Ichwan - Penerapan Model A JLET | Vol. 1 Ae No. September 2024 | Hal 44-51 untuk dipelajari. Siswa berperan sebagai anggota dalam dua jenis kelompok, yaitu kelompok asal dan kelompok ahli, dengan kelompok ahli yang memfokuskan pembelajaran pada topik tertentu (Li & Xue, 2. Dalam topik "jual beli" pada kegiatan ekonomi, siswa mempelajari konsep utama seperti aktivitas ekonomi meliputi produksi, distribusi, dan konsumsi, yang menjadi bagian dari Modul Ajar IPS BAB 7 Kelas 4 (Kurniawan et al. , 2. Pendekatan ini tidak hanya memperdalam pemahaman siswa tentang materi, tetapi juga mengembangkan keterampilan kolaborasi melalui pembagian peran dalam proses belajar (Arigiyati et al. , 2. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif Jigsaw. Pendekatan ini dirancang untuk mendorong keterlibatan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran, sehingga mereka dapat memahami materi dengan lebih baik (Kurniawan et al. , 2. Dengan model Jigsaw, siswa memiliki kesempatan untuk berkolaborasi dalam kelompok ahli dan asal, yang memungkinkan transfer pengetahuan secara lebih mendalam dan efektif (Arigiyati et al. , 2. Diharapkan melalui metode ini, siswa tidak hanya mencapai hasil belajar yang lebih baik tetapi juga meningkatkan keterampilan sosial mereka (Li & Xue, 2. METODE Penelitian ini menerapkan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilaksanakan dalam dua siklus, yaitu siklus 1 dan siklus 2. Setiap siklus terdiri dari tiga pertemuan yang dirancang untuk melibatkan empat tahapan tindakan: tahap perencanaan ( pla. , tahap pelaksanaan tindakan . , tahap pengamatan atau observasi, dan tahap evaluasi, yang diakhiri dengan tahap refleksi. Tahapan-tahapan ini memungkinkan peneliti untuk terus memperbaiki proses pembelajaran berdasarkan temuan selama siklus sebelumnya. Penelitian tindakan kelas ini dirancang sebagai upaya sistematis untuk meningkatkan hasil belajar siswa dengan melibatkan mereka secara aktif dalam pembelajaran kooperatif (Sobandi & Nurlatifah, 2. Gambar 1. Action Research Model (Lewin, 1. Dalam penelitian ini, terdapat dua variabel utama yang diteliti. Variabel bebasnya adalah model pembelajaran kooperatif Jigsaw (X), yang diterapkan untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran, khususnya pada mata pelajaran IPS. Variabel terikatnya adalah hasil belajar siswa (Y) kelas IV SD Negeri Kuripan, yang diukur untuk mengevaluasi keberhasilan pendekatan yang Model pembelajaran Jigsaw dipilih karena pendekatannya yang berbasis kolaborasi, yang memungkinkan siswa untuk memahami materi lebih mendalam sambil mengembangkan Masfufah & Ichwan - Penerapan Model A JLET | Vol. 1 Ae No. September 2024 | Hal 44-51 keterampilan sosial. Penelitian ini dirancang untuk mengidentifikasi sejauh mana penerapan model pembelajaran ini dapat meningkatkan hasil belajar siswa melalui pengulangan siklus yang terus disempurnakan (Li & Xue, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Pada bagian ini akan dijelaskan bagaimana penerapan model pembelajaran kooperatif Jigsaw secara efektif mampu meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS kelas IV di SD Negeri Kuripan. Penelitian ini dilaksanakan pada semester genap tahun pelajaran 2022/2023 dan dirancang untuk mengidentifikasi pengaruh positif dari pendekatan Jigsaw terhadap keterlibatan siswa dalam pembelajaran, pemahaman materi, serta pencapaian hasil belajar mereka. Prasiklus Tabel 1. Data Hasil Prasiklus Nilai Jumlah Rerata Frekuensi NxF 65,24 Tahap prasiklus dilakukan sebelum pelaksanaan tindakan, tepatnya pada tanggal 8 Mei Pada tahap ini, dilakukan pengamatan terhadap proses pembelajaran mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) di kelas IV SD N Kuripan. Data mengenai hasil belajar siswa dikumpulkan melalui tes yang terdiri dari soal pilihan ganda dan uraian. Dari 21 siswa yang mengikuti tes, hanya 8 siswa . ,1%) yang mencapai nilai di atas Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yaitu 70, sedangkan 13 siswa lainnya . ,9%) mendapatkan nilai di bawah KKM. Nilai rata-rata kelas pada tahap ini tercatat sebesar 65,24, yang masih berada di bawah target pencapaian yang diharapkan. Rendahnya hasil belajar siswa disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, siswa cenderung menganggap IPS sebagai pelajaran yang berorientasi pada hafalan sehingga minat dan motivasi belajar mereka menurun. Hal ini sejalan dengan temuan Maryani & Suparno . , yang menyebutkan bahwa banyak siswa kurang berminat terhadap mata pelajaran IPS karena pendekatan pembelajaran yang kurang menarik. Kedua, siswa mengalami kesulitan dalam memahami konsep-konsep yang diajarkan. Menurut Setianingrum . , pendekatan pembelajaran tradisional sering kali tidak cukup membantu siswa memahami materi secara mendalam, sehingga berdampak pada rendahnya hasil belajar. Selain itu, pendekatan pembelajaran yang digunakan guru, yaitu metode ceramah dan latihan, kurang memberikan ruang bagi siswa untuk berperan aktif dalam proses belajar. Hal ini didukung oleh penelitian Rumalag et al. , yang menunjukkan bahwa metode pembelajaran konvensional cenderung membuat siswa pasif dan kurang termotivasi. Akibatnya, siswa menjadi pasif, merasa jenuh, dan kehilangan antusiasme untuk belajar. Penelitian lain oleh Maryani & Suparno . juga menyebutkan bahwa pendekatan yang tidak melibatkan siswa secara aktif dapat menurunkan motivasi belajar siswa secara signifikan. Kondisi ini menunjukkan perlunya perubahan strategi pembelajaran yang lebih melibatkan siswa secara aktif untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar mereka, seperti yang didukung oleh hasil penelitian berbagai model pembelajaran aktif termasuk Jigsaw (Setianingrum, 2. Masfufah & Ichwan - Penerapan Model A JLET | Vol. 1 Ae No. September 2024 | Hal 44-51 Siklus 1 Tabel 2. Data Hasil Siklus 1 Nilai Jumlah Rerata Frekuensi NxF 73,10 Pelaksanaan tindakan kelas pada siklus 1 terdiri atas tiga pertemuan yang berlangsung dari tanggal 15 hingga 20 Mei 2023. Pada pertemuan pertama, materi yang disampaikan adalah "Aku dan Kebutuhanku," dilanjutkan dengan pertemuan kedua yang membahas "Bagaimana Aku Memenuhi Kebutuhanku. " Pertemuan ketiga digunakan untuk melaksanakan penilaian akhir Berdasarkan hasil dari siklus ini, rata-rata nilai siswa kelas IV mencapai 73,10, dengan tingkat ketuntasan sebesar 71,43% . siswa tuntas belaja. Namun, sebanyak 28,57% siswa . belum mencapai ketuntasan belajar. Rendahnya tingkat pemahaman materi pada beberapa siswa disebabkan oleh beberapa Misalnya, peserta didik kurang memahami konsep pembelajaran, yang sejalan dengan temuan Setianingrum . bahwa pendekatan pembelajaran konvensional sering kali tidak cukup membantu siswa memahami materi secara mendalam. Hal ini diperparah dengan perilaku beberapa siswa yang mengajak teman sebangku untuk bercerita selama pembelajaran berlangsung, seperti yang juga dicatat oleh Rumalag et al. , bahwa kurangnya keterlibatan aktif siswa dapat mengakibatkan ketidakseriusan dalam mengikuti pembelajaran. Selain itu, partisipasi siswa dalam diskusi kelompok masih rendah, dan terdapat anggota kelompok yang mengganggu teman dari kelompok lain, mencerminkan kurangnya pengelolaan kelompok belajar yang efektif, seperti yang disoroti dalam penelitian Maryani & Suparno . mengenai pentingnya struktur kerja kelompok yang jelas dalam pembelajaran kooperatif. Ketika proses penggabungan atau perpindahan kelompok dilakukan, siswa cenderung ramai, sehingga fokus terhadap pembelajaran menurun, mengindikasikan perlunya pendekatan yang lebih terstruktur untuk menjaga ketertiban dan fokus siswa selama aktivitas pembelajaran berlangsung (Setianingrum, 2. Hasil ini menunjukkan perlunya perbaikan pada siklus 2 untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran dan mencapai hasil belajar yang lebih baik. Siklus 2 Tabel 3. Data Hasil Siklus 2 Nilai Jumlah Rerata Frekuensi NxF 80,71 Masfufah & Ichwan - Penerapan Model A JLET | Vol. 1 Ae No. September 2024 | Hal 44-51 Pelaksanaan tindakan kelas pada siklus 2 dilakukan dalam tiga pertemuan yang berlangsung antara tanggal 25 hingga 27 Mei 2023. Pada pertemuan pertama, materi yang dibahas adalah "Kegiatan Jual Beli sebagai Salah Satu Pemenuhan Kebutuhan. " Pertemuan kedua berfokus pada pembahasan rencana pelaksanaan proyek market day, sedangkan pertemuan ketiga digunakan untuk penilaian akhir siklus 2. Hasil dari tindakan kelas pada siklus ini menunjukkan peningkatan, dengan rata-rata nilai siswa kelas IV mencapai 80,71. Tingkat ketuntasan pembelajaran juga meningkat menjadi 85,71%, dengan 18 siswa mencapai nilai di atas Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Namun, sebanyak 14,29% siswa . masih belum mencapai ketuntasan belajar. Meskipun terjadi peningkatan hasil belajar, terdapat beberapa kendala yang memengaruhi efektivitas pembelajaran. Beberapa siswa tidak mempersiapkan diri dengan mempelajari materi yang akan dibahas, sehingga partisipasi mereka dalam kegiatan pembelajaran menjadi kurang optimal. Hal ini sesuai dengan temuan Rumalag et al. yang menyebutkan bahwa keterlibatan siswa dalam pembelajaran kooperatif dapat terhambat apabila persiapan awal tidak dilakukan dengan baik. Selain itu, selama proses penggabungan atau perpindahan kelompok, suasana kelas cenderung ramai, yang mengganggu kelancaran pembelajaran. Menurut Aminah . , dinamika kelompok yang tidak terkelola dengan baik dalam pembelajaran kooperatif dapat menyebabkan distraksi dan mengurangi fokus siswa terhadap tugas pembelajaran. Kendala ini menjadi catatan penting untuk evaluasi lebih lanjut agar pembelajaran dapat berjalan lebih efektif di masa mendatang. Perkembangan Hasil Belajar pada Prasiklus. Siklus 1, dan Siklus 2 Tabel 4. Perkembangan Hasil Belajar Nilai Prasiklus Rerata 65,24 Nilai Terendah Nilai Tertinggi Ketuntasan Klasikal 38,10 Siklus 1 73,10 71,43 Siklus 2 80,71 85,71 Berdasarkan tabel perkembangan hasil belajar, terlihat bahwa nilai terendah pada tahap prasiklus adalah 55, meningkat menjadi 60 pada siklus 1, dan mencapai 65 pada siklus 2. Sementara itu, nilai tertinggi pada prasiklus tercatat sebesar 80, meningkat menjadi 90 pada siklus 1, dan mencapai 100 pada siklus 2. Rata-rata nilai juga menunjukkan peningkatan yang konsisten, dari 65,24 pada prasiklus, menjadi 73,1 pada siklus 1, dan akhirnya mencapai 80,71 pada siklus Selain itu, persentase ketuntasan klasikal meningkat secara signifikan, yaitu dari 38,1% pada prasiklus, menjadi 71,43% pada siklus 1, dan mencapai 85,71% pada siklus 2. Hasil penelitian tindakan kelas ini menunjukkan peningkatan hasil belajar siswa di setiap tahap. Dari prasiklus hingga siklus 2, target ketuntasan klasikal sebesar 75% berhasil terlampaui dengan persentase ketuntasan mencapai 85,71%. Dengan pencapaian ini, penelitian tindakan kelas dianggap berhasil mencapai tujuan yang telah ditetapkan, sehingga dihentikan pada siklus 2. Peningkatan hasil belajar yang terjadi dari prasiklus hingga siklus 2 mencerminkan keberhasilan implementasi strategi pembelajaran yang lebih efektif dan berpusat pada siswa. Sejalan dengan penelitian oleh Setianingrum . yang menunjukkan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw mampu meningkatkan hasil belajar siswa secara signifikan, terutama pada kelas yang sebelumnya memiliki kesulitan belajar. Peningkatan nilai terendah dari 55 pada prasiklus menjadi 65 pada siklus 2 menunjukkan bahwa siswa dengan kemampuan awal yang rendah mampu meningkatkan pemahaman mereka secara bertahap melalui pendekatan yang diterapkan. Hal ini diperkuat oleh Rumalag et al. , yang menemukan bahwa model Jigsaw membantu siswa dengan kemampuan rendah untuk lebih memahami materi melalui diskusi kelompok. Nilai tertinggi yang mencapai 100 pada siklus 2 juga mengindikasikan bahwa Masfufah & Ichwan - Penerapan Model A JLET | Vol. 1 Ae No. September 2024 | Hal 44-51 metode yang digunakan memberikan kesempatan kepada siswa untuk mencapai potensi Maryani & Suparno . menyebutkan bahwa strategi pembelajaran aktif seperti Jigsaw memberikan peluang bagi siswa berprestasi tinggi untuk lebih berkembang melalui proses berbagi pengetahuan dengan teman kelompoknya. Selain itu, peningkatan rata-rata nilai dari 65,24 pada prasiklus menjadi 80,71 pada siklus 2 menunjukkan adanya perbaikan signifikan dalam pemahaman materi secara keseluruhan di Penelitian Aminah . juga menunjukkan bahwa model kooperatif seperti Jigsaw mampu meningkatkan rata-rata hasil belajar siswa dengan menciptakan suasana pembelajaran yang aktif dan kolaboratif. Persentase ketuntasan klasikal yang melampaui target sebesar 75% pada siklus 2 . encapai 85,71%) menjadi indikator keberhasilan kolektif kelas, di mana mayoritas siswa mampu memenuhi atau melampaui Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Peningkatan ketuntasan klasikal ini konsisten dengan hasil penelitian Harahap et al. , yang menemukan bahwa pendekatan pembelajaran Jigsaw secara signifikan meningkatkan ketuntasan belajar siswa melalui pembagian peran dan tanggung jawab dalam kelompok. Keberhasilan ini menunjukkan bahwa strategi pembelajaran berbasis kolaboratif yang diterapkan, seperti model kooperatif tipe Jigsaw, efektif dalam meningkatkan partisipasi aktif siswa, meningkatkan motivasi belajar, dan mengoptimalkan hasil belajar mereka. PENUTUP Penelitian ini membuktikan bahwa model pembelajaran kooperatif Jigsaw efektif dalam meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Penerapan model ini tidak hanya meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi, tetapi juga memotivasi mereka untuk berpartisipasi lebih aktif dalam proses pembelajaran. Pendekatan ini memungkinkan siswa untuk belajar secara kolaboratif, berbagi tanggung jawab dalam kelompok, dan mengembangkan keterampilan sosial mereka. Selain itu, perubahan metode pembelajaran dari yang sebelumnya pasif menjadi lebih interaktif memberikan dampak positif terhadap suasana kelas yang lebih kondusif. Sebagai rekomendasi, guru dapat terus menerapkan model pembelajaran yang melibatkan siswa secara aktif, seperti Jigsaw, dengan tetap memperhatikan pengelolaan kelas yang baik. Pendekatan ini juga dapat dikombinasikan dengan metode lain untuk memberikan variasi dalam pembelajaran. Dukungan tambahan bagi siswa yang kurang memahami materi juga penting agar mereka dapat mengikuti pembelajaran dengan optimal. Dengan langkah-langkah ini, kualitas pendidikan dapat terus ditingkatkan. DAFTAR PUSTAKA