PROGRES PENDIDIKAN Vol. No. Januari 2026, pp. p-ISSN: 2721-3374, e-ISSN: 2721-9348. DOI: 10. 29303/prospek. PENERAPAN METODE MENDONGENG BERBASIS ANIMASI DALAM UPAYA MENINGKATKAN KETERAMPILAN BERBICARA PADA KELAS IV SD NEGERI 097323 DOLOK HATARAN Melisa Nur Asima Sidabutar. Romaida Karo-Karo. Apriana Sari Desi Siboro Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Universitas Efarina Informasi Artikel ABSTRAK Riwayat Artikel: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keefektifan penerapan metode mendongeng berbasis animasi dalam meningkatkan keterampilan berbicara siswa Sekolah Dasar. Rendahnya keterampilan berbicara di kalangan siswa sekolah dasar merupakan masalah yang perlu dipecahkan. Metode yang dipakai dalam penelitian ini ialah pendekatan kuantitatif dengan metode preeksperimental one group pretest-posttest design. Dapat dijelaskan bahwa untuk melakukan langkah awal ialah melakukan validasi ke sekolah yang berbeda dan data diperoleh melalui tes pilihan berganda sebanyak 20 soal yang disebarkan pada siswa kelas IV SD Negeri 122381 Pematangsiantar yang terdiri dari 22 siswa. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah tes pilihan ganda yang berjumlah 16 soal setelah di validasi. Populasi dalam penelitian ini ialah siswa kelas IV SD Negeri 097323 Dolok Hataran, dengan sampel 13 siswa. Analisis data yang digunakan adalah Uji Normalitas. Uji Homogenitas. Uji T Berpasangan. Berdasarkan halis uji t, nilai t hitung sebesar 8,39>t tabel 1,7959. Dengan demikian, hipotesis alternatif (H. diterima yang menyatakan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara nilai pretest dan posttest siswa. Implikasi penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan metode mendongeng berbasis animasi dapat dijadikan sebagai alternatif strategi pembelajaran yang efektif untuk meningkatkan keterampilan berbicara siswa Sekolah Dasar. Dapat disimpulkan bahwa Ha menerima sedangkan Ho menolak, yaitu terdapat peningkatan keterampilan berbicara pada Kelas IV SD Negeri 097323 Dolok Hataran. Diterima: 21-11-2025 Direvisi: 07-01-2026 Dipublikasikan: 31-01-2026 Kata-kata kunci: Animasi Keterampilan berbicara Media pembelajaran This is an open access article under the CC BY-SA license. Penulis Korespondensi: Apriana Sari Desi Siboro Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Efarina. Jl. Pdt J Wismar Saragih. Indonesia Email : aprianasiboro111@gmail. PENDAHULUAN Kemampuan berbicara merupakan keterampilan berbahasa yang memiliki peran fundamental dalam kehidupan manusia, khususnya sebagai sarana utama dalam berinteraksi sosial. Melalui keterampilan berbicara, individu mampu menyampaikan gagasan, perasaan, serta informasi secara lisan sehingga tercipta proses komunikasi yang efektif dan bermakna. Dalam konteks pendidikan, keterampilan berbicara tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai indikator keberhasilan pemerolehan bahasa secara menyeluruh, karena keterampilan ini menuntut penguasaan kosakata, struktur bahasa, keberanian, serta kemampuan berpikir runtut (Susanto, 2. Namun, berbicara terutama di depan orang lain atau di depan public bukanlah keterampilan yang muncul secara otomatis. Kegiatan berbicara menuntut keberanian, rasa percaya diri, serta kemampuan mengelola pesan agar dapat dipahami oleh pendengar (Oktanisfia, 2. Oleh Journal homepage: http://prospek. id/index. php/PROSPEK PROGRES PENDIDIKAN p-ISSN: 2721-3374, e-ISSN: 2721-9348 karena itu, penguasaan keterampilan berbicara sejak jenjang sekolah dasar menjadi sangat penting sebagai fondasi bagi perkembangan akademik dan sosial peserta didik. Banyak peserta didik sekolah dasar mengalami hambatan dalam menyampaikan ide secara lisan karena keterbatasan kosakata, ketidakteraturan struktur kalimat, serta rasa takut melakukan kesalahan. Kondisi ini berdampak pada rendahnya partisipasi siswa dalam proses pembelajaran, khususnya pada mata pelajaran Bahasa Indonesia yang menuntut keterampilan komunikasi aktif. (Wea, 2. Permasalahan rendahnya keterampilan berbicara siswa tidak dapat dilepaskan dari praktik pembelajaran di kelas. Proses pembelajaran Bahasa Indonesia yang masih berpusat pada guru cenderung membuat siswa pasif dan hanya menjadi pendengar, sehingga kesempatan untuk melatih kemampuan berbicara menjadi sangat terbatas. Ketika siswa tidak diberi ruang untuk mengekspresikan ide secara lisan, keterampilan berbicara sulit berkembang secara Hal ini menegaskan bahwa kualitas pembelajaran Bahasa Indonesia sangat dipengaruhi oleh pemilihan metode, media, serta strategi pembelajaran yang digunakan guru (Sidabutar, 2. Media pembelajaran merupakan alat yang digunakan untuk menyampaikan pembelajaran sehingga sangat penting Metode storytelling atau bercerita diartikan juga menjadi cara yang diterapkan supaya membagikan cerita dengan cara yang menarik dan akurat, supaya ide yang ingin diutarakan bisa didapatkan dan dimengerti dengan baik oleh pendengar atau audiens (Maknun, 2. Bermacam metode bisa diterapkan, tergantung pada tujuan dan audiens yang ingin dijangkau. Keahlian bercerita bisa meningkatkan bakat berbahasa murid (Samosir, 2. Keahlian bercerita ialah kemampuan supaya membagikan cerita dengan cara yang menarik, konkrit, dan akurat, kemudian ide atau ide pada cerita bisa dimengerti dan didapatkan oleh pendengar (Mahfudza, 2. Keahlian ini melibatkan lebih dari sekadar mengucapkan kata-kata. itu berada pada bagaimana menyusun alur cerita, menerapkan ekspresi wajah dan bahasa tubuh, juga memilih kata-kata yang akurat supaya cerita menjadi hidup dan sanggup memengaruhi pendengar (Abdullah, 2. Seseorang yang berkomunikasi dan punya keterampilan berbicara yang bagus pasti terkait dengan pembicara dan si pendengar ketika berada dalam aktivitas aktif (Junaedi, 2. Keberhasilan dan proses pembelajaran akan dipengaruhi secara positif oleh penggunaan media dan metode pembelajaran yang tepat dan efektif, terutama dalam menghasilkan evaluasi pembelajaran yang baik (Adawiyah, 2. Namun melihat situasi saat ini, keberhasilan proses pembelajaran sangat bergantung pada kemampuan guru dalam mengembangkan keterampilan mengajar ke arah yang lebih kekinian (Sinaga, 2. Pemilihan jenis media dan strategi pembelajaran yang tepat sangatlah penting untuk keberhasilan proses pembelajaran, karena dengan memilih media dan strategi yang tepat maka hasil pembelajaran dapat mencapai tujuan (Erfan, 2. Hasil observasi atau pengamatan dan wawancara yang telah saya lakukan di SDN 097323 Dolok Hataran adalah guru belum melakukan inovasi baru dan tidak menggunakan teknologi ketika proses pembelajaran berlangsung sehingga beberapa peserta didik terlihat bosan dan tidak menarik selama proses Kemudian diketahui pemahaman peserta didik masih rendah. Hal tersebut dilihat dari hasil belajar siswa, diketahui bahwa rendahnya keterampilan berbicara peserta didik. Hal tersebut diperoleh dari 13 peserta didik hanya 3 peserta didik yang memperoleh nilai di atas KKM yaitu 75 , 2 peserta didik yang memperoleh nilai cukup yaitu 75, dan sisanya 8 peserta didik yang memperoleh nilai di bawah KKM. Permasalahan di atas menunjukkan bahwa proses pembelajaran perlu diperbaiki. Satu hal yang memungkinkan siswa bisa terlibat secara aktif dalam pembelajaran adalah melalui penerapan metode mendongeng berbasi animasi yang dapat meningkatkan keterampilan berbicara peserta didik (Hernawati. Pada konteks pendidikan, mendongeng bisa diterapkan supaya mengajarkan bermacam disiplin ilmu dengan cara yang menyenangkan. Bercerita atau mendongeng ialah salah satu cara menyenangkan yang sanggup mendorong murid terlibat aktif pada meningkatkan kemampuan berbicara dan membaca mereka (Krismayani, 2. Melalui metode mendongeng, siswa bisa menambah kosa-kata dan melatih keahlian pada membagikan ide atau berita. (Sitanggang, 2. Kemampuan tersebut juga menjadi dasar penting pada proses belajar mengajar Bahasa Indonesia, karena komunikasi yang baik mencerminkan pemerolehan bahasa secara menyeluruh (Ferlina, 2. Mendongeng . tory tellin. adalah aktivitas membagikan sebuah cerita secara lisan kepada orang lain dengan tujuan menghibur, membagikan pelajaran, atau menanamkan nilai-nilai kehidupan (Hernawati, 2. Cerita yang diutarakan biasanya bersifat imajinatif, seperti dongeng rakyat, fabel, legenda, atau kisah-kisah yang mengandung ide moral. Seorang pendongeng tidak hanya mengandalkan kata-kata, tetapi juga menerapkan ekspresi wajah, gerakan tubuh, intonasi suara, dan gaya bicara yang menarik supaya cerita menjadi lebih hidup dan mudah dimengerti oleh pendengar, terutama anak-anak. Cerita yang diutarakan dengan baik dan benar bisa menginspirasi sebuah tindakan, menolong meningkatkan apresiasi budaya, dan memperluas pengetahuan anak. Metode storytelling atau bercerita diartikan juga menjadi cara yang diterapkan supaya membagikan cerita dengan cara yang menarik dan akurat, supaya ide yang ingin diutarakan bisa didapatkan dan dimengerti dengan baik oleh pendengar atau audiens. Bermacam metode bisa diterapkan, tergantung pada tujuan dan audiens yang ingin dijangkau. Keahlian bercerita bisa meningkatkan bakat berbahasa murid. Sidabutar et al. Penerapan Metode Mendongeng . p-ISSN: 2721-3374, e-ISSN: 2721-9348 Memanfaatkan alat video animasi menumbuhkan lingkungan pendidikan yang memfasilitasi keterlibatan tindakan antara murid dengan pendidik (Anjasari, 2. Visual dan audio alat video animasi sangat menarik kemudian menumbuhkan semangat murid supaya memantau presentasi video (Utami, 2. Selain membuat kegiatan pendidikan menjadi menarik dan menyenangkan, efek lain dari film animasi ialah meningkatkan retensi murid pada materi yang ditawarkan karena suara yang menyertainya (Irawan, 2. Kemudian mampu memudahkan mereka supaya mengerti dan mengasimilasi informasi melalui visual yang dipamerkan (Khairani. Biasanya media ini dipakai dalam berbagai hal terutaman dalam pembelajaran supaya dapat menyampaikan materi dengan baik. Penelitian ini akan memakai metode storytelling audio visual dengan alat animasi dongeng. Dongeng tersimpan ide-ide moral yang diutarakan secara tersirat dan nilai nilai kearifan lokal bangsa Indonesia, karena pada dongeng tersimpan contoh orang bersikap dan berperilaku pada Dongeng juga membagikan keteladanan yang bisa diterapkan menjadi contoh supaya bersikap pada sesama dan menghadapi permasalahan. Proses pembelajaran Bahasa Indonesia di SD memiliki tujuan supaya membekali murid dengan kemampuan berbicara yang akurat dan efisien. Salah satu tujuan utamanya ialah supaya mereka bisa menghargai dan merasa senang menerapkan Bahasa Indonesia menjadi bahasa Murid diharapkan bisa mengerti Bahasa Indonesia dengan baik dan menerapkannya secara akurat juga kreatif pada bermacam situasi. Selain keterampilan berbahasa, pembelajaran Bahasa Indonesia juga memiliki tujuan supaya meningkatkan keahlian diri murid dan menolong mereka pada menggapai kematangan sosial emosional. Melalui pemahaman dan apresiasi pada karya sastra, murid bisa memperluas wawasan mereka, meningkatkan budi pekerti, juga mengasah keterampilan berbahasa mereka. Berbicara ialah proses membagikan ide atau ide secara lisan melalui suara atau bunyi, yang memungkinkan terjadinya komunikasi antara pembicara dan Setiap orang secara alami punya keahlian berbicara secara tulisan atau berbicara lisan, namun tidak semua orang secara otomatis memiliki keterampilan supaya berbicara dengan jelas. Keterampilan berbicara sangat penting pada komunikasi lisan, terutama bagi murid di tingkat sekolah dasar, karena kemampuan ini menjadi dasar pada meningkatkan kemampuan komunikasi mereka secara keseluruhan. Berdasarkan kajian pustaka dan hasil penelitian terdahulu, diketahui bahwa metode storytelling telah banyak diteliti dalam pembelajaran Bahasa Indonesia dan terbukti mampu meningkatkan kemampuan berbahasa siswa, khususnya pada aspek berbicara. Namun, sebagian besar penelitian sebelumnya masih berfokus pada storytelling konvensional tanpa dukungan media digital, atau hanya menggunakan media visual Selain itu, penelitian yang mengombinasikan metode mendongeng dengan media animasi audio visual secara terstruktur dan diujikan melalui pendekatan kuantitatif pre-eksperimental pada siswa sekolah dasar, khususnya di daerah Dolok Hataran, masih sangat terbatas. Kondisi pembelajaran di sekolah yang masih berpusat pada guru serta minimnya pemanfaatan teknologi juga belum banyak dikaji secara spesifik dalam konteks peningkatan keterampilan berbicara siswa sekolah dasar. Kebaruan . penelitian ini terletak pada penerapan metode mendongeng berbasis animasi audio visual sebagai inovasi pembelajaran Bahasa Indonesia untuk meningkatkan keterampilan berbicara siswa sekolah dasar. Penelitian ini mengintegrasikan unsur teknologi digital berupa animasi dongeng dengan aktivitas storytelling yang menekankan partisipasi aktif siswa, ekspresi lisan, dan keberanian berbicara. Selain itu, penelitian ini dilakukan pada konteks sekolah dasar yang belum memanfaatkan teknologi dalam pembelajaran, sehingga memberikan kontribusi empiris baru terkait efektivitas metode mendongeng berbasis animasi dalam meningkatkan keterampilan berbicara siswa kelas IV melalui desain pretestAeposttest. METODE PENELITIAN Desain Penelitian Jenis penelitian yang dipakai ialah kuantitatif serta metode yang digunakan adalah metode pre eksperimen dengan desain penelitian one group pretest-posttest yang hanya menggunakan satu kelompok saja (Sugiyono. Pada penelitian ini akan menerapkan satu metode yang mampu meningkatkan keterampilan berbicara siswa kelas IV. Metode yang akan diterapkan dan digunakan ialah metode mendongeng berbasis animasi. Oleh sebab itu, alasan peneliti menggunakan metode penelitian pre eksperimental yaitu ingin mengetahui metode mendongeng berbasis animasi ini dapat meningkatan keterampilan berbicara terhadap siswa Sekolah Dasar kelas IV. Dalam kegiatan penelitian ini memiliki tujuan yaitu menggambarkan bagaimana penerapan metode mendongeng berbasis animasi dalam meningkatkan keterampilan berbicara siswa kelas IV SD Negeri 097323 Dolok Hataran. Jl. Asahan KM 8. Kec. Siantar. Kabupaten Simalungun. Sumatera Utara. Partisipan Partisipan penelitian ini adalah seluruh peserta didik kelas IV di SD Negeri 097323 Dolok Hataran yang berjumlah 13 sisiwa dengan menggunakan teknik total sampling. Teknik Pengumpulan Data PROGRES PENDIDIKAN. Vol. No. Januari 2026: 40 - 45 PROGRES PENDIDIKAN p-ISSN: 2721-3374, e-ISSN: 2721-9348 Teknik pengumpulan data dilaksanakan dengan memakai teknik observasi, wawancara, dan tes. Instrumen penelitian melipiti tes pilihan berganda yang berjumlah 16 soal. Media ajar yang digunakan dalam proses pembelajaran selama penelititan adalah Animasi. Peneitian ini dilakukan selama 2 pertemuan. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik observasi, wawancara, dan tes. Teknik Analisis data yang digunakan ialah Uji Normalitas, . Uji T Berpasangan. Analisis Data Sebelum melakukan uji hipotesis, pengujian normalitas data harus dilakukan terlebih dahulu. Untuk menentukan apakah data tersebut terdistribusi normal atau tidak, peneliti memanfaatkan analisis Shapiro-Wilk dengan bantuan Microsoft Excel. Perhitungan yang dilakukan menunjukkan bahwa data dianggap berdistribusi normal jika nilai Sign lebih besar dari 0,05. Sebaliknya, jika nilai Sign kurang dari 0,05, maka data bisa dianggap tidak memiliki distribusi normal. Untuk mengevaluasi apakah ada pengaruh antara variabel independen (X) dan variabel dependen (Y), rumus uji t yang dikembangkan oleh ahli statistik William Sealy Gosset digunakan dengan bantuan Microsoft Excel. Dalam penelitian ini, uji t dimanfaatkan untuk mengukur seberapa besar variabel (X) penerapan metode mendongeng berbasis animasi berkontribusi terhadap peningkatan keterampilan berbicara siswa serta hasil belajar siswa (Y). Untuk menilai pengaruh dari masingmasing variabel, peneliti menerapkan uji t. HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini dilaksanakan di SD Negeri 097323 Dolok Hataran. Jl. Asahan. Kec. Siantar. Kabupaten Simalungun. Sumatera Utara. Sebelum memulai penelitian, peneliti terlebih dahulu menguji instrumen penelitian yang berupa pertanyaan untuk validasi kepada para ahli yang berstatus sebagai validator, kemudian soal yang sudah di validasi oleh validator ahli diuji ke sekolah lain yaitu UPTD SD Negeri 122381 Pematangsiantar untuk membuktikan kelayakan terhadap soal tersebut. Soal di sebar sebanyak item pertanyaan kepada 22 siswa yang ada di UPTD SD Negeri 122381 Pematangsiantar yang kemudian hasil dari soal akan diuji instrumen. Uji yang akan dilakukan ialah uji validitas. Setelah data valid, jumlah soal yang valid akan diuji kepada siswa kelas IV SD Negeri 097323 Dolok Hataran. Kemudian peneliti akan melakukan penelitian di SD Negeri 097323 Dolok Hataran, peneliti melakuka pretest sebelu diberi perlakukan . terhadap metode mendongeng berbasis animasi, dan postest setelah perlakuan . Pretest dilakukan di SD Negeri 097323 Dolok Hataran. Pretest dilakukan untuk melihat kondisi awal keterampilan berbicara siswa SD Negeri 097323 Dolok Hataran sebelum diberikan perlakuan, setelah pretest didapatkan hasil nilai rata-rata minat baca masih rendah, kemudian setelah dilakukannya pretest peneliti menerangkan dan mengajarkan secara langsung materi cerita dongeng dengan menggunakan media animasi dikelas sesuai dengan RPP yang telah disediakan dan sudah diperiksa terlebih dahulu oleh wali kelas. Setelah dilakukan perlakuan, peneliti memberikan posttest yaitu tes akhir untuk melihat keterampilan berbicara siswa setelah diberi perlakuan terhadap metode mendongeng berbasis animasi dalam meningkatkan keterampilan berbicara siswa. Penelitian dilakukan untuk mengetahui keefektifan metode mendongeng berbasis animasi dalam meningkatkan keterampilan berbicara pada kelas IV SD Negeri 097323 Dolok Hataran. Pemanfaatan media animasi terhadap keterampilan berbicara Adapun penjelasan yang didapat berdasarkan hasil observasi Pemanfaatan metode mendongeng berbasis animasi terhadap keterampilan berbicara yang dilakukan langsung oleh peneliti, bahwa metode mendongeng berbasis animasi sangat bermanfaat untuk meningkatkan keterampilan berbicara siswa. Dapat dilihat bahwa hasil observasi menunjukkan kelengkapan segala aspek yang diamati sehingga dapat dikategorikan sangat baik. Hal ini bisa dikatakan bahwa metode mendongeng berbasis animasi dapat meningkatkan keterampilan berbicara siswa. Maka dapat disimpulkan bahwa terdapat ke efektifan yang signifikan antara variabel independent terhadap variabel dependen. sehingga Ha2 diterima yang artinya efektifitas pemanfaatan metode mendongeng berbasis animasi dalam meningkatkan keterampilan berbicara siswa kelas IV SD Negeri 097323 Dolok Hataran, sementara Ho2 ditolak kebenarannya. Efektivitas Metode mendongeng berbasis animasi dalam meningkatkan keterampilan berbicara siswa. Berdasarkan hasil deskriptip pretest bahwa nilai rata-rata ialah 53,1 dan posttestnya 90, hal ini dapat dikatakan bahwa terdapat peningkatan. Kemudian hasil Uji Normalitas menunjukkan bahwa data berdistribusi normal terdapat ke efektifan yang positif dan signitifikasi antara penerapan metode mendongeng berbasis Hal ini dibuktikan dengan nilai Normalitas pretest 0,901 dan posttest sebesar 0. 871 yang artinya data dapat disebut distribusi normal ketika nilai taraf signifikansinya Ou 0,05, jadi bisa disimpulkan bahwasanya data ber distribusi normal ialah pretest 0,901 > 0,05 dan postest . 871> 0,05. Pada penelitian ini dalam uji hipotesis menggunakan uji paired sample t-test yang dipakai supaya dapat mengetahui perbedaan rata-rata sampel. Adapun persyaratan dalam uji paired sampel t-tes yaitu data harus harus berdistribusi normal. Berdasarkan hasil yang dilakukan terhadap data pretest dan posttest siswa, hasil uji t berpasangan menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara nilai pretest dan posttest. Uji hipotesis Sidabutar et al. Penerapan Metode Mendongeng . p-ISSN: 2721-3374, e-ISSN: 2721-9348 dilakukan dengan menggunakan tingkat signifikansi = 0,05 dan derajat kebebasan . =11. Berdasarkan perhitungan yang dilakukan, diperoleh nilai rata-rata selisih sebesar 35,92 dengan standar deviasi selisih sebesar 14,82. Statistik hasil uji t yang dihitung adalah nilai t hitung sebesar 8,39 > t tabel 1,7959. Maka demikian, hipotesis alternatif (H. diterima yang artinya terdapat perbedaan antara nilai pretest dan nilai posttest siswa. SIMPULAN Kesimpulan dari penelitian ini yaitu: Uji hipotesis dilakukan dengan uji t berpasangan dilihat dari Statistik uji t yang dihitung adalah 8,39. Nilai kritis t untuk df = 11. Karena nilai t yang diperoleh sebesar 8,39>t tabel 1,7959 maka dapat disimpulkan bahwa terdapat ke efektifan yang signifikan antara variabel independent terhadap variabel maka Ha diterima yang artinya ada ke efektifan penerapan metode mendongeng berbasis animasi dalam meningkatkan keterampilan berbicara pada kelas IV SD Negeri 097323 Dolok Hataran. Dalam kegiantan penelitian terlihat peningkatan yang signifikan dalam keterampilan berbicara siswa pada saat sudah diberikan perlakuan melalui metode mendongeng berbasis animasI. Berdasarkan grafik persentase ketercapaian aspek kebahasaan dan nonkebahasaan dalam setiap indikator keterampilan berbicara ini berada pada persentase yang tinggi. Pemberian perlakuan dengan metode mendongeng berbasis animasi sudah cukup efektif terhadap keterampilan berbicara dalam pembelajaran Bahasa Indonesia pada kelas IV SD egeri 097323 Dolok Hataran. Hal ini ditunjukkan dengan adanya perbedaan perolehan keterampilan berbicara dengan metode mendongeng berbasis animasi. Simpulan menyajikan ringkasan dari uraian mengenai hasil dan pembahasan, mengacu pada tujuan penelitian. Berdasarkan kedua hal tersebut dikembangkan pokokpokok pikiran baru yang merupakan esensi dari temuan penelitian. Selain itu, terdapat keterbatasan yang dihadapi pada penelitian ini, yaitu: Penelitian ini menggunakan desain pre-eksperimental one group pretestAeposttest tanpa kelompok kontrol, sehingga hasil penelitian belum sepenuhnya dapat mengontrol pengaruh variabel luar yang mungkin memengaruhi peningkatan keterampilan berbicara siswa. Sampel penelitian terbatas pada siswa kelas IV SD Negeri 097323 Dolok Hataran dengan jumlah yang relatif kecil, sehingga hasil penelitian belum dapat digeneralisasikan secara luas ke sekolah dasar lain dengan karakteristik yang berbeda. Penerapan metode mendongeng berbasis animasi dilakukan dalam waktu yang relatif singkat, sehingga peningkatan keterampilan berbicara yang diperoleh lebih mencerminkan hasil jangka pendek dan belum menggambarkan dampak jangka panjang. DAFTAR PUSTAKA