ISSN 1907-5839 E-ISSN 2599-0403 Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol. 19 No. 1, 31 Mei 2024 Hubungan antara Pola Komunikasi Penyuluh Pertanian Lapangan dan Efektivitas Kelompok Tani Correlation between Agricultural Extension Communication Pattern and The Effectiveness of Farmer Group Mita Arlia Nurfa*. Helvi Yanfika. Tubagus Hassanudin. Dewangga Nikmatullah Program Studi Penyuluhan Pertanian. Fakultas Pertanian. Universitas Lampung Raja Basa. Kota Bandar Lampung. Lampung 35145. Indonesia Email korespondensi: mitaarlia20@gmail. Diterima: 23-11-2023 Direvisi: 27-05-2024 Disetujui terbit: 30-05-2024 ABSTRACT Agricultural extension activity is an effort to change farmers' attitudes, knowledge, and behavior. Developing farmer capabilities can be done through effective communication with farmer group. This purpose of this study was to identify the communication patterns used by Field Agricultural Extension Officers (AEO) and analyze the relationship between AEO communication patterns and the effectiveness of farmer group. The data in this study were analyzed using descriptive and correlation analysis using the Kendall's-tau rank method. The research results show that AEO in Tanjung Raja District. North Lampung Regency implements communication with one-way, two-way and multi-way The two-way communication pattern is the most effective pattern between AEO and farmer groups in Tanjung Raja District. North Lampung Regency. The results of testing the Kendall's-tau rank hypothesis show that there is a relationship between the communication patterns used by AEO and the effectiveness of farmer groups in Tanjung Raja District. North Lampung Regency. The effectiveness of farmer group and extension communication has a strong relationship and influence each other. These findings implay that two-way and multi-way communication patterns supported by increasing the frequency and intensity of counseling are the key to achieving farmer group Keywords: Agricultural extension, communication patterns, effectiveness of farmerAos group ABSTRAK Kegiatan penyuluhan pertanian merupakan upaya untuk dapat mengubah sikap, pengetahuan, dan perilaku petani. Pengembangan kemampuan petani dapat dilakukan melalui komunikasi yang efektif terhadap kelompok tani. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola komunikasi yang dilakukan oleh Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) dan menganalisis hubungan antara pola komunikasi PPL dan efektivitas kelompok tani. Data pada penelitian ini dianalisis menggunakan analisis deskriptif dan analisis korelasi dengan metode Rank KendallAos-tau. Hasil penelitian menunjukan bahwa PPL di Kecamatan Tanjung Raja Kabupaten Lampung Utara menerapkan komunikasi dengan pola satu arah, dua arah dan multi arah. Pola komunikasi dua arah merupakan pola yang paling efektif diantara PPL dan kelompok tani di Kecamatan Tanjung Raja Kabupaten Lampung Utara. Hasil pengujian hipotesis rank KendallAos-tau menunjukkan terdapat hubungan nyata antara pola komunikasi yang dilakukan oleh PPL dengan efektivitas kelompok tani di Kecamatan Tanjung Raja Kabupaten Lampung Utara. Efektivitas kelompok tani dan komunikasi penyuluh memiliki hubungan yang erat dan saling Implikasi dari temuan ini adalah pola komunikasi dua arah dan multi arah yang didukung dengan peningkatan frekuensi dan intensitas penyuluhan menjadi kunci dalam mencapai efektivitas kelompoktani. Kata kunci: Penyuluh pertanian, pola komunikasi, efektivitas kelompok tani Available online at https://jurnal. polbangtan-bogor. id/index. php/jpp ISSN 1907-5839 E-ISSN 2599-0403 Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol. 19 No. 1, 31 Mei 2024 PENDAHULUAN Upaya pembangunan pertanian erat kaitannya dengan pengembangan sumber daya manusia, khususnya petani. Daya adaptasi terhadap perubahan teknologi harus dimiliki oleh petani karena dapat mendorong petani untuk memiliki karakter mandiri dan berdaya saing. Kegiatan penyuluhan pertanian dilakukan untuk mendukung daya adaptasi petani tersebut. Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) adalah orang yang berada di bawah naungan Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) yang memiliki tugas membantu para petani peningkatkan nilai produknya agar lebih inovatif, mendorong petani untuk belajar dan memperbaiki cara mereka bekerja agar Berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian Nomor 9 Tahun 2023. Penyuluh Pertanian evaluasi, dan pengembangan metode penyuluhan pertanian. Undang-Undang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani Nomor 19 Tahun 2013 mensyaratkan bahwa idealnya satu orang penyuluh pertanian membina satu desa, karena peranan penyuluh pertanian sangat penting dalam mengawal dan mendampingi petani secara intensif untuk memastikan adopsi teknologi maju yang kemitraan usaha, akses permodalan, peluang pasar, serta prasarana dan sarana. Satu orang Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) idealnya ditugaskan untuk membina satu desa. Wilayah binaan yang melebihi satu desa akan berdampak pada kurang efektif dan optimalnya kegiatan Dalam pelaksanaan tugas pembinaan petani, pola komunikasi yang baik tentunya harus diketahui oleh seorang penyuluh sehingga tujuan penyuluhan dapat tercapai. Efektivitas kelompok tani dapat dipengaruhi oleh pola komunikasi yang diterapkan oleh penyuluh dengan kelompok tani karena hal tersebut mengenai informasi yang disampaikan. Pada kelompok tani. Suwito. Syarief dan Hasanuddin, . telah menemukan bahwa perilaku komunikasi petani dan tingkat adopsi inovasi budidaya padi memiliki hubungan yang nyata. Nurlugina . juga telah mengamati pola komunikasi penyuluh Kecamatan Air Kumbang Kabupaten Banyuasin Provinsi Sumatera selatan. Hasilnya menunjukkan bahwa pola komunikasi penyuluh pertanian dengan kelompok tani di Kecamatan Air Kumbang sangat tidak efektif dikarenakan kurangnya tenaga penyuluh. Pada penelitian yang dilakukan oleh Widyaningrum. Jamaludin dan Kurniasih . , dikemukakan bahwa tingkat penerapan teknik budidaya sawi komunikasi satu arah, namun mempunyai hubungan yang kuat dan positif dengan pola komunikasi dua arah dan multiarah. Penelitian ini bertujuan untuk dilakukan oleh Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) dan menganalisis hubungan antara pola komunikasi PPL dengan efektivitas kelompok tani di Kecamatan Tanjung Raja Kabupaten Lampung Utara. Komunikasi yang baik menjadi kunci bagi seorang penyuluh yang dalam hal ini berperan sebagai sumber penerimaan informasi diantara petani. Untuk itu kajian mengenai hubungan antara pola komunikasi PPL dan efektivitas kelompok tani penting untuk dilakukan. Dengan diketahuinya pola komunikasi yang baik, pendampingan yang dilaksanakan oleh penyuluh dapat berjalan efektif dan efisien sehingga tujuan dari pendampingan tersebut dapat tercapai. Available online at https://jurnal. polbangtan-bogor. id/index. php/jpp ISSN 1907-5839 E-ISSN 2599-0403 Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol. 19 No. 1, 31 Mei 2024 METODE PENELITIAN Penelitian ini dilaksanakan di BPP Kecamatan Tanjung Raja Kabupaten Lampung Utara. Pemilihan lokasi penelitian ditentukan dengan menggunakan metode purposive sampling, dengan pertimbangan kelompok tani tingkat lanjut dengan setiap desa binaan masing-masing penyuluh. Populasi pada penelitian ini sebanyak sembilan Kelompok tani dengan jumlah 255 anggota kelompok tani yang tersebar di desa. Jumlah sampel responden ditentukan menggunakan rumus slovin, pada Persamaan 1. ycA ycu = 1 ycAyce 2 = Ukuran sampel/jumlah responden = Ukuran populasi = Persentase kelonggaran ketelitian kesalahan pengambilan sampel yang masih bisa ditolerir. e= 0,1. Berdasarkan Persamaan 1 diperoleh sampel sebanyak 72 responden petani. Padapenelitian ini metode yang digunakan Umur Ou 65 Jumlah HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Responden Umur Umur adalah usia individu terhitung mulai dari awal dilahirkan hingga sampai penelitain dilaksanakan. Badan Pusat Statistik mengkategorikan usia sebagai berikut: Usia O 14 tahun : Usia muda / usia belum produktif . Usia 15-64 tahun : Usia dewasa / usia kerja/usia produktif . Usia Ou 65 tahun : Usia tua/ usia tidak produktif/ usia jompo. Sebaran responden berdasarkan umur disajikan pada Tabel 1. Tabel 1. Umur responden Jumlah . Klasifikasi Tabel 1 menunjukkan bahwa seluruh umur petani responden pada penelitian ini berada pada kategori produktif, yaitu sebesar100%, yang artinya mampu bekerja dengan memaksimalkan potensi yang dimiliki oleh petani, hingga dalam umur yang produktif seseorang dapat memiliki kemampuan dan perilaku yang baik dalam mengelola Para petani dengan umur yang lebih produktif akan memiliki kemampuan fisik serta suatupola pikir yang baik untuk bisa menyerap suatu informasi dan inovasi adalah metode survey. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan metode wawancara yang berpatokan dengan Data dianalisis secara deskriptif dan juga dilakukan uji non parametrik menggunakan uji korelasi KendallAos-tau (Sugiyono, 2010. Creswell, 2. belum produkti Produktif tidak produktif Persentase (%) baru, serta menggunakannya dalam kehidupan sehari hari. Menurut. Samun. Rukmana dan Syam . , fisik petani pada umur yang produktif memiliki potensi yang baik dalam mendukung kegiatan usaha tani, dinamis, kreatif, dan cepat dalam menerima inovasi teknologi. Sidul. Lubis dan Amanah . menambahkan bahwa umur merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi keberhasilan petani dalam mengelola usahatani karena umur mempengaruhi kemampuan kerja fisik dan kematangan psikologis. Available online at https://jurnal. polbangtan-bogor. id/index. php/jpp ISSN 1907-5839 E-ISSN 2599-0403 Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol. 19 No. 1, 31 Mei 2024 Tingkat Pendidikan Tingkat pendidikan merupakan suatu proses pembelajaran dengan prosedur yang dilakukan secara sistematis dan terorganisir dalam jangka panjang yang berkaitan dengan pola pikir dan pengetahuan seseorang. Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menjelaskan bahwa pendidikan terdiri dari tiga klasifikasi yaitu dasar, menengah dan tinggi. Sebaran pendidikanya disajikan pada pada Tabel 2. Tabel 2. Tingkat pendidikan responden petani Tingkat Pendidikan Dasar Menengah Tinggi Jumlah Jumlah Tabel 2 menunjukkan bahwa 47 orang petani sebanyak . ,30%) memiliki tingkat pendidikan menengah yaitu SMA, artinya responden sudah cukup mampu menyerap informasi dan menggunakan teknologi baru. Pada kenyataannya, tingkat SDM Petani khususnya tingkat pendidikan sangat mempengaruhi tingkat penerimaan informasi dan adopsi teknologi yang disalurkan oleh penyuluh pertanian (Marita et al. , 2. Bachri. Lubis dan Harahap . menyatakan bahwa Persentase (%) 22,20 65,30 2,50 seseorang, maka semakin cepat tanggap terhadap perkembangan teknologi. Luas Lahan Luas lahan adalah salah satu aspek produksi yang penting untuk diperhatikan ketika akan berusaha tani. Luas lahan yang dimiliki petani dan jumlah produksi yang dihasilkan berbeda-beda sehingga akan mempengaruhi pendapatan petani hingga tingkat kesejahteraan petani. Sebaran responden berdasarkan luas lahan respondendisajikan pada Tabel 3. Tabel 3. Luas lahan responden petani Luas lahan (Hekta. Kategori Jumlah (Oran. 0,25-0,83 0,84-1,42 1,43 -2 Jumlah Sempit Sedang Luas Berdasarkan Tabel 3 di atas Sebagian . %) mempunyai luas lahan yang termasuk ke kategori sedang, responden yang memiliki lahan dengan kategori sempit yaitu 25%, dan responden yang memiliki lahan dengan kategori luas Rata-rata luas lahan yangdimiliki petani dalam menjalankan usahatani yaitu 1 hektar. Petani yang mempunyai lahan yang luas dapat memiliki kemudahan dalam mencoba berbagai macam inovasi dalam Persentase (%) sebagian kecil lahannya dan jika berhasil maka petani akan melakukan inovasi teknologi pada keseluruhan lahan. Petani yang memiliki lahansempit atau sedikit maka akan sulit menerimainovasi atau menerapkan hal baru tersebut karena petani khawatir akan kegagalan yang dialami (Bachri. Lubis dan Harahap, 2. oleh karena itu diperlukan pola komunikasi yang lebih mudah diterima oleh petani agar petani dengan luas lahan yang sedikit mau menerapkan inovasi terkini. Available online at https://jurnal. polbangtan-bogor. id/index. php/jpp ISSN 1907-5839 E-ISSN 2599-0403 Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol. 19 No. 1, 31 Mei 2024 Pola Komunikasi Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Pola Komunikasi Penyuluh Satu Arah Pola komunikasi satu arah adalah salahsatu cara untuk menyampaikan informasi baik secara langsung maupun tidak langsung, dengan menyampaikan informasi kepada komunikan tanpa adanya timbal balik. Berikut ini merupakan persepsi petani terhadap pola komunikasi penyuluh satu arah di Kecamatan Tanjung Raja. Hasil analisis persepsi petani pada pola komunikasi PPL pada Tabel 4. Tabel 4. Persepsi petani terhadap pola komunikasi PPL satu arah Pernyataan Sikap yang disampaikan penyuluh Saluran dan media yang digunakan penyuluh Isi pesan yang disampaikan penyuluh melalui media komunikasi satu arah Efek / dampak setelahmelakukan komunikasi satu arah Ksategori Tabel komunikasi satu arah termasuk kedalam kategori cukup baik. Berdasarkan keadaan di Kecamatan Tanjung Raja, penyuluh memiliki sikap yang cukup baik dalam menyampaikan pesan satu arah kepada kelompok tani. Pola komunikasi satu arah, brosur, pamflet, leaflet dan white board sebagai media. Pesan disampaikan tanpa adanya interaksi atau hubungan timbal balik antara penyuluh dengan petani. Menurut Jandu. Bahal dan Cordanis . dan Giovana Anastasya. Muhammad Massyat . media cetak yang digunakan oleh penyuluh dapat mempermudah tersampaikannya informasi kepada petani karena media tersebut dapat dibaca ulang oleh petani. Meskipun dinilai cukup baik, hasil pemahaman yang diperoleh petani tidak mendengarkan informasi tanpa ada Hal tersebut didukung oleh penelitian Jandu. Bahal dan Cordanis . , yang mengemukakan bahwa petani menganggap pola komunikasi satu arah tidak efektif karena petani tidak dapat saling Skor (Modu. Persentase(%) 44,44 51,39 Cukup Baik berkomunikasi apabila ada kebingungan Komunikasi penting untuk menghasilkan pemahaman yang sama antara pengirim informasi dengan para penerima informasi. Pola Komunikasi Penyuluh Dua Arah Pola komunikasi dua arah adalah komunikator dan komunikan dalam menyampaikan pesan, bersifat timbal balik atau saling tukar informasi. Menurut Sutrisno, . Proses pada komunikasi dua arah biasanya memerlukan waktu yang lama namun hasil yang didapatkan lebih cermat. Proses yang lambat disebabkan karena komunikan memiliki kesempatan untuk memberi umpan balik, ada nterupsi, ungkapan perasaan, komunikan akan lebih memahami Pada pola komunikasi dua arah, ada timbal balik diantara penyuluh dan petani saat sedang berlangsungnya diksusi untuk memecahkan masalah (Anang dan Setiawan, 2. Available online at https://jurnal. polbangtan-bogor. id/index. php/jpp ISSN 1907-5839 E-ISSN 2599-0403 Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol. 19 No. 1, 31 Mei 2024 Pola komunikasi dua arah merupakan alur yang telah sering dilaksanakan oleh para penyuluh pada saat penyuluhan terhadap kelompok tani di Kecamatan Tanjung Raja. Adanya forum yang berlangsung antara PPL dengan setiap ketua dan anggota kelompok. Pertemuan pada tahap ini dilakukan kepada masing- masing kelompok yang terdapat di satu dusun, lalu dikumpulkan pada satu tempat dan biasanya di rumah ketua kelompok atau yang bersedia. Pertemuan dilaksanakan dengan frekuensi 1-2 kali dalam satu bulan. Persepsi petani terhadap pola komunikasi dua arah di Kecamatan Tanjung Raja disajikan pada Tabel 5. Tabel 5. Persepsi petani terhadap pola komunikasi PPL dua arah Pernyataan Skor (Modu. Persentase(%) Sikap yang disampaikanpenyuluh Saluran dan media yang digunakan penyuluh Isi pesan yang disampaikan penyuluh melalui media komunikasi dua arah 44,44 45,83 Efek / dampak setelahmelakukan komunikasi dua arah Kategori 47,22 Baik Berdasarkan Tabel 5 diketahui bahwa arah komunikasi, isi pesan dan dampak setelah komunikasi dua arah dalam kategori baik. Penyuluh menyampaikan pesan kepada kelompok tani yang telah dibinanya baik menggunakan bantuan media maupun tanpa perantara media, dengan adanya umpan balik dari kelompok tani binaan. Komunikasi yang dilakukan oleh PPL dianggap penting dalam melakukan kegiatan informasi kepada petani karena baik PPL dan komunikasi yang baik sehingga dapat menimbulkan adanya tukar pemikiran dan pendapat yang bisa berguna dalam mengefektifkan informasi. Kegiatan yang dilakukan penyuluh berupa pelatihan, anjangsana dan juga Selain itu, pada pola komunikasi ini terdapat forum antara PPL dengan para ketua dan anggota kelompok. Pertemuan dengan kegiatan ini telah dilakukan kepada masing- masing kelompok tani yang terdapat di dalam suatu dusun yang ada pada satu dusun, dan dikumpulkan pada satu tempat dan biasanya di rumah ketua kelompok atau dirumah para anggota Kegiatan dilaksanakan dengan frekuensi 1-2 kali dalam satu bulan. Hasil penelitian ini sejalan dengan Jandu. Bahal dan Cordanis, . yang mengemukakan bahwa pola komunikasi dua arah dinilai lebih efektif karena penyuluh dan petani berkomunikasi dengan baik sehingga dapat menghindari Diperkuat Widyaningrum. Jamaludin dan Kurniasih, . yang menyatakan bahwa pola komunikasi komunikasi yang tinggi karena petani diberi kesempatan untuk menanggapi pesan yang disampaikan penyuluh sehingga petani lebih dapat memahami Komunikasi dua arah mengacu pada aliran informasi dan dialog untuk Komunikasi ini ditandai dengan kredibilitas, keterbukaan, umpan balik, negosiasi, dan strategi penyelesaian konflik untuk memberikan yang terbaik bagi organisasi (Rabiul et al. , 2. Available online at https://jurnal. polbangtan-bogor. id/index. php/jpp ISSN 1907-5839 E-ISSN 2599-0403 Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol. 19 No. 1, 31 Mei 2024 Pola Komunikasi Penyuluh Multi Arah Pola merupakan model komunikasi yang melibatkan antara pemberi informasi atau komunikator dengan penerima informasi atau komunikan, hanya saja informasi yang diberikan tidak terputus sampai di komunikan saja, parakomunikan juga bisa menyampaikan informasi sesuai dengan apa yang didapatkan dalam kegiatan penyuluhan tersebut. Komunikasi yang berlangsung ini biasanya dalam bentuk saling bertukar pikiran secara dialogis yang dikarenakan adanya lawan bicara atau teman diskusi kelompok (Hastasari. Setiawan dan Aw, 2. Sebaran persepsi responden terhadap pola komunikasi multi arah pada Tabel 6. Tabel 6. Persepsi petani dengan pola komunikasi PPL multi arah Pernyataan Skor (Modu. Persentase (%) Sikap yang disampaikan penyuluh. 56,94 Saluran dan media yang digunakan Isi pesan yang disampaikan penyuluh 59,72 melalui media komunikasi multi arah Efek / dampak setelahmelakukan 47,22 komunikasi multi arah Kategori Cukup baik Tabel 6 menunjukkan bahwa sikap yang disampaikan penyuluh, saluran dan media yang digunakan penyuluh, isi pesan, dan dampak setelah melakukan komunikasi multiarah termasuk dalam kategori cukup Komunikasi multiarah yang dilakukan oleh penyuluh adalah dengan cara dikoordinir orang satu orang dan diberi tanggungjawab untuk menyusun jadwal pertemuan dengan anggota lainnya. Kegiatan penyuluhan yang dijadwalkan ini sudah dilakukan dengan frekuensi 1 kali dalam sebulan. Pada pertemuan ini penyuluh menggali permasalahan yang ada, dan memberikan informasi secara Komunikasi yang berlangsung memberikan informasi, bertukar fikiran secara dialog dikarenakan adanya lawan bicara atau teman diskusi dalam bentuk Aktivitas rutin yang dilaksanakan oleh kelompok tani menjadi forum bagi ketua kelompok untuk berkomunikasi dan (Prasetyo. Safitri dan Hidayat, 2. Dalam penyuluh memberikan informasi sesuai dengan apa yang menjadi masalah petani, tidak lepas juga dengan kunjungan lapangan yang tetap dilakukan apabila petani membutuhkan bantuan bimbingan. Dalam kegiatan penyuluhan para penyuluh menyampaikan informasi kepada petani, dalam kegiatan ini pun terjadi pola komunikasi satu arah dan duaarah, setelah menyampaikan apa yang mereka dapatkan dalam kegiaan tersebut sehingga informasi yang petani dapatkan tidak putus di mereka. Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan Jandu. Bahal dan Cordanis . Widyaningrum. Jamaludin Kurniasih, . yang menunjukkan bahwa pola komunikasi Multi Arah merupakan pola yang paling efektif diantara 3 pola yang ada karena menurut petani, pada pola ini penyuluh dapat membuka pikiran petani karena musyawarah dihadiri oleh banyak pihak serta tokoh setempat. Hal ini diduga disebabkan oleh frekuensi pertemuan yang hanya 1 kali dalam sebulan, sedangkan pada penelitian Widyaningrum. Jamaludin dan Kurniasih, . , komunikasi dengan Available online at https://jurnal. polbangtan-bogor. id/index. php/jpp ISSN 1907-5839 E-ISSN 2599-0403 Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol. 19 No. 1, 31 Mei 2024 pola multi arah melalui penyuluhan dilakukan sebanyak 4 kali dalam sebulan. Hubungan Pola Komunikasi Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) dengan Efektivitas Kelompok Tani di Kecamatan Tanjung Raja Kuesioner dirancang untuk dapat dan efektivitas Data menggunakan uji korelasi Rank KendallAos. Data Hasil pengujian hipotesis hubungan antara pola komunikasi Penyuluh Pertanian Lapangan dengan efektivitas kelompok tani di Kecamatan Tanjung Raja Kabupaten Lampung Utara dapat dilihat pada Tabel 7. Tabel 7. Hubungan antara Pola Komunikasi PPL dengan efektivitas kelompok tani Variabel Y Variabel Z Koefisien Korelasi Sig . - taile. Pola komunikasi PPL Efektivitas kelompok tani Berdasarkan Tabel 7 hasil pengujian hipotesis menggunakan uji Korelasi Rank KendallAos tau antara pola komunikasi PPL (Y) dengan efektivitas kelompok tani (Z) diperoleh nilai koefisien korelasi dari . sebesar 0,246 yang termasuk dalam kategori rendah. Tingkat signifikansi antara variabel Y dan Z sebesar 0,005, artinya lebih kecil dari . pada taraf kepercayaan 99%, sehingga keputusan yang dapat diambil ialah H0 ditolak, yaitu terdapat hubungan yang nyata antara pola komunikasi yang dilakukan oleh PPL terhadap efektivitas kelompok tani di Kecamatan Tanjung Raja. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Widyaningrum. Jamaludin dan Kurniasih . yang juga menemukan bahwa terdapat hubungan yang nyata antara pola komunikasi penyuluh baik satu arah, dua arah, ataupun multi arah dengan tingkat penerapan teknik budidaya. Efektivitas kelompok tani dan komunikasi penyuluh memiliki hubungan yang erat dan saling mempengaruhi. Komunikasi penyuluhan adalah proses penyampaian informasi, pengetahuan, dan panduan kepada petani atau anggota kelompok tani dengantujuan meningkatkan keterampilan pertanian, meningkatkan hasil panen, dan memajukan kehidupan Pola komunikasi yang terjalin baik antara 0,246** 0,005 penyuluhmaupun petani merupakan salah satu kunci dalam berjalannya suatu efektivitas kelompok tani. Dalam proses diseminasi inovasi pertanian kepada petani, komunikasi memegang peranan penting (Sarah Ridwan. Putri Maulina dan Yuhdi Fahrimal, 2. Diperkuat oleh Jailan dan Hasim . yang menyatakan bahwa komunikasi merupakan hal yang paling krusial dalam kehidupan. Pola komunikasi perlu diketahui agar tujuan tercapai, dan pola komunikasi bertumpu pada moral dan nilai-nilai yang berlaku di Berdasarkan data yang telah diperoleh di lapangan bentuk dari kegiatan penyuluh dengan kelompok tani yang telah diketahui berdasarkan fungsinya yaitu sebagai kelas belajar, wahana kerjasama dan unit produksi dapat terjalin baik antara PPL dengan kelompok tani dikarenakan pertemuan yang cukup sering dilakukan, dengan kegiatan yang berupa anjangsana, demplot, rapat, dan penyebaran brosur Efektivitas kelompok tani akan lebih tinggi jika terjadi dialog yang intens diantara pemangku kepentingan dan berbagai jaringan professional ataupun Pada saat dialog, peserta didorong untuk berbagi pemikiran dan refleksi (Kent dan Lane, 2. Dalam kegiatan perkumpulan, para kelompoktani. Available online at https://jurnal. polbangtan-bogor. id/index. php/jpp ISSN 1907-5839 E-ISSN 2599-0403 Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol. 19 No. 1, 31 Mei 2024 PPL dapat membuka akses pikiran petani dalam melaksanakan kegiatan diskusi Masalah yang telah ada akan sehingga memperoleh solusi yang terbaik tanpamembuat suatu permasalahan yang Petani pun akan dapat memahami beberapa materi ataupun informasi yang telah diberikan oleh PPL dengan ataupun tanpa media, selain itu, bagi para petani juga mereka cukup puas atas kegiatan penyuluh sehingga komunikasi berjalan lancar dan efektif. SIMPULAN DAN SARAN Efektivitas kelompok tani ditentukan oleh pola komunikasi penyuluh. Pola komunikasi yang paling efektif antara PPL dengan kelompok tani di Kecamatan Tanjung Raja yaitu pola komunikasi dua arah. Terdapat hubungan yang nyata antara pola komunikasi penyuluh dengan efektivitas kelompok tani di Kecamatan Tanjung Raja. Frekuensi dan intensitas pertemuan perlu ditingkatkan agar pemahaman terhadap pesan yang disampaikan dapat dipahami secara optimal oleh kelompoklitani. DAFTAR PUSTAKA